Tag: volume

  • Analisa Volume Trading BTC, Bisa Deteksi Breakout dan Fakeout?

    Ternyata volume trading punya korelasi dengan pergerakan harga seperti breakout dan fakeout lho! Hal ini salah satunya terjadi karena volume perdagangan dapat mencerminkan seberapa besar partisipasi pasar di balik pergerakan harga.

    Penasaran bagaimana cara menggunakan volume untuk mendeteksi pergerakan tersebut? Yuk simak pembahasan dan contoh lengkapnya dalam artikel ini!

    Apa itu Breakout dan Fakeout?

    Breakout adalah istilah yang digunakan saat harga suatu aset mampu menembus level resistance, dan berpotensi untuk mengalami kenaikan yang berkelanjutan. 

    Di sisi lain…

    Fakeout merupakan istilah yang digunakan saat harga suatu aset terlihat akan menembus level resistance, namun kenaikannya tidak berkelanjutan dan berbalik arah kembali ke range level sebelumnya.

    Apa Hubungan Volume Trading dengan Breakout dan Fakeout?

    Volume trading bisa menjadi salah satu indikator untuk melihat apakah pergerakan harga saat suatu aset yang akan menembus level resistance, didukung oleh partisipasi pembeli atau penjual yang lebih kuat.

    Contohnya seperti ini:

    Breakout + volume tinggi → bisa jadi pertanda breakout karena didorong oleh partisipasi pasar, kemungkinan harga lanjut ke arah breakout jika volume beli mendominasi.

    Breakout + volume kecil → bisa jadi pertanda fakeout, karena pasar belum yakin dengan pergerakan tersebut.

    Perlu diingat, meskipun volume trading ini bisa jadi indikator yang bisa mendukung kamu dalam menganalisa pergerakan harga, volume harus tetap dilihat bersama konteks lain seperti struktur pasar, price action, dan sentimen secara keseluruhan ya!

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Studi Kasus Volume Trading dan Breakout Bitcoin (BTC)

    Seperti yang sudah dijelaskan di atas, biasanya suatu aset yang ingin terlepas dari level resistensi membutuhkan dukungan volume pembelian yang lebih tinggi daripada penjualan. Contoh kasusnya bisa kamu lihat pada grafik harga Bitcoin di bawah ini.

    Contoh analisa volume trading dan breakout Bitcoin (BTC) di time frame 1 hari.
    Contoh analisa volume trading dan breakout Bitcoin (BTC) di time frame 1 hari.

    Terlihat Bitcoin mengalami sideways yang cukup panjang sebelum akhirnya bisa menembus level resistance. Breakout sendiri bisa terjadi disaat volume trading harian melonjak tinggi dari volume trading harian biasanya— yakni lebih dari 2x lipat.

    Volume ini menunjukan minat beli pasar yang mendukung pergerakan harga, sehingga setelahnya Bitcoin bisa menembus level resistance setelah bounce dari garis 6-SMA (Simple Moving Averages).

    Baca juga: 4 Indikator Swing Trading Terbaik dan Mudah Digunakan Pemula

    Studi Kasus Volume Trading dan Fakeout Bitcoin (BTC)

    Fakeout atau sering juga disebut false breakout biasanya terjadi karena kurangnya minat pasar di level harga tertentu. Misalnya, pada grafik harga Bitcoin di bawah ini.

    Contoh analisa volume trading dan fakout Bitcoin (BTC) di time frame 1 jam.
    Contoh analisa volume trading dan fakout Bitcoin (BTC) di time frame 1 jam.

    Grafik harga di atas merupakan pergerakan harga Bitcoin pada time frame kecil, 1 jam. Terlihat bagaimana harga Bitcoin mengalami kesulitan menembus level resistance (ditandai dengan warna oranye), karena tidak di dukung oleh partisipasi pasar—volume trading kecil, bahkan jika dibandingkan dengan volume saat pantulan harga dari level support.

    Terjadi juga divergensi yang ditunjukan oleh indikator OBV (On-Balance Volume) dimana, harga terlihat naik, namun OBV menunjukan penurunan.

    Breakout dari revel resistance, baru bisa terjadi setelah fakeout dan pola harga membentuk double bottom dengan dukungan kenaikan volume trading yang lebih dari 2x rata-rata trading volume pada timeframe tersebut.

    Baca juga: Cara Menggunakan Sinyal Trading di Aplikasi Tokocrypto dengan Limit, Stop-Limit, OCO, dan Beli/Jual

    Terlanjur membeli saat pergerakan harga menunjukkan fakeout? Gunakan stop-loss untuk menghindari kerugian lebih dalam— caranya, kamu bisa pakai fitur OCO atau Stop-Limit yang ada di aplikasi Tokocrypto. Cobain fiturnya 👉 di sini.

    Tips Analisa Volume Trading

    • Gunakan Indikator Tambahan: Gabungkan analisa volume seperti batang volume trading, OBV, A/D Line atau VMA, dengan indikator lain seperti RSI, MACD, atau moving averages.
    • Amati Level Support dan Resistance: Pergerakan harga biasanya tidak hanya ditentukan oleh trading volume, namun juga level harga historis seperti support dan resistance.
    • Pantau Sentimen Pasar: Pastikan breakout didukung sentimen pasar dan bukan karena rumor atau berita tidak jelas. Pantau terus rumor terbaru dengan gabung komunitas Tokocrypto 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial

    Baca juga: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Jadi Apakah Analisa Volume Trading Bisa Deteksi Breakout dan Fakeout?

    Yap, analisa volume memang bisa membantu kamu untuk membedakan breakout dan fakeout, tapi bukan berarti bisa kamu gunakan untuk mengambil keputusan beli/jual sepenuhnya.

    Selalu lakukan Do Your Own Research sebelum melakukan investasi, trading atau aktivitas jual beli kripto ya!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hindari Kesalahan Pemula Fatal Membaca Volume Trading

    Volume trading bisa menjadi salah satu indikator penting saat melakukan trading atau investasi, tapi bagi pemula, banyak yang salah membaca dan menganggap bahwa volume trading bisa jadi satu-satunya indikator untuk mengambil keputusan beli atau jual, tanpa dilengkapi indikator lain.

    Selain salah membaca, ada juga kesalahan lain yang sering dilakukan oleh pemula dalam membaca volume trading lho! Simak lebih lengkapnya di bawah ini.

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Tidak Memperhatikan Kedalaman Order Book

    Kesalahan pertama adalah hanya fokus pada volume harian yang tinggi tanpa mengecek kedalaman order book (order book depth). Padahal order book ini bisa menunjukkan seberapa besar likuiditas yang benar-benar tersedia dan dicatat dalam permintaan beli (bid) atau jual (ask) yang siap dieksekusi di rentang harga terdekat tanpa mempengaruhi pergerakan harga secara signifikan.

    Order book ini bisa mencerminkan dua hal:

    • Kesehatan likuiditas: seperti yang disebutkan di atas, order book ini mencerminkan likuiditas di rentang harga terdekat, dan bisa jadi pertimbangan apakah trader bisa masuk/keluar posisi tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.
    • Kekuatan psikologis pasar: ekspektasi naik atau turunnya harga bisa tercermin dan dilihat langsung dari kedalaman sisi bid atau ask.

    Misalnya, jika harga jual (ask) BTC saat ini di $100.000 dan terdapat banyak permintaan beli dan jual antara $100.000-101.000 maka bisa kedalaman order book dianggap tinggi. Dan pasar dianggap memiliki likuiditas yang baik sehingga trader bisa dengan mudah melakukan jual beli dalam rentang harga tersebut tanpa menggeser harga secara signifikan.

    Sebaliknya jika terdapat permintaan beli dan jual yang sedikit kedalaman order book dianggap dangkal.

    Simpelnya, bayangkan kalau kedalaman order book ini seperti lapisan yang harus ditembus oleh roket (market order). Kalau lapisannya tebal, roket bakal lambat karena harus melewati banyak lapisan (harga tetap stabil karena banyak order yang siap dieksekusi). Tapi, kalau lapisannya tipis, roket bisa langsung melesat (harga bisa naik/turun drastis karena sedikit order yang siap dieksekusi).

    Pemula yang hanya memperhatikan volume trading tanpa membaca kedalaman order book bisa terjebak dalam manipulasi volume hingga mengalami perbedaan slippage yang cukup besar.

    Mengabaikan Gap dan Ketidakkonsistenan Volume

    Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak memperhatikan gap atau ketidakkonsistenan dalam volume trading. Volume yang tiba-tiba menghilang lalu muncul kembali secara tidak teratur bisa menjadi tanda:

    • Server exchange mengalami downtime.
    • Market maker menarik likuiditas secara tiba-tiba.
    • Ada pihak sengaja melakukan wash trading untuk menciptakan ilusi volume.

    Wash trading sendiri merupakan aktivitas jual beli aset yang sama oleh pihak yang sama untuk menciptakan ilusi seakan-akan memiliki volume yang tinggi. Tujuannya, tidak lain untuk membuat minat trader dan investor kembali atau masuk dengan perasaan FOMO.

    Agar membantu kamu terhindar dari wash trading, yuk gunakan platform terpercaya seperti Tokocrypto yang telah berizin resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kamu bisa mulai investasi atau trading dengan deposit mulai dari Rp20.000 aja lho! 👉 Daftar di sini.

    Tidak Melakukan Cross-Check Volume antar Exchange

    Pemula seringkali lupa untuk membandingkan volume trading antar exchange. Aktivitas volume yang tinggi di satu exchange bisa saja tidak didukung oleh exchange lain, yang bisa jadi indikasi manipulasi lokal.

    Cara Menghindari Kesalahan dalam Membaca Volume Trading

    • Gunakan Platform Analitik: Gunakan platform seperti CoinGecko, CoinMarketCap, atau CoinGlass untuk mendapatkan data komprehensif mengenai volume trading, dan kedalaman order book.
    • Gunakan Lebih dari Satu Sumber Data: Selalu gunakan lebih dari satu sumber data, karena adanya potensi manipulasi lokal.
    • Gunakan Indikator Volume Tambahan: Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan volume trading, gunakan indikator tambahan untuk membantu validasi analisis yang kamu miliki.

    Baca juga: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Masih bingung gimana baca volume trading? Yuk, gabung bareng ribuan trader lainnya di komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tips Deteksi Pergerakan Whale Lewat Volume dan Aktivitas Dompet

    Pergerakan whale dalam dunia kripto sering kali jadi penentu pergerakan harga aset kripto, terutama aset kripto dengan kapitalisasi pasar sedang hingga rendah. Untuk mengantisipasi ini, kamu bisa menggunakan indikator seperti trading volume sebagai analisa awal yang kamu kembangkan dengan pendekatan lainnya. 

    Artikel ini akan membahas cara mendeteksi pergerakan whale, apa saja ciri-cirinya, serta alat bantu yang bisa kamu manfaatkan untuk membaca pergerakan besar sebelum pasar bereaksi.

    Apa Itu ‘Whale?

    Dalam kripto, istilah whale merujuk pada individu, lembaga, atau dompet yang memegang jumlah aset sangat besar sehingga pergerakan mereka bisa mempengaruhi harga pasar secara signifikan.

    Aktivitas dari para whale ini biasanya akan tercermin dari volume trading, karena jumlah pembelian dan penjualan yang mereka lakukan berjumlah besar.

    Baca juga: Apa itu Volume Trading: Maksud dan Kegunaannya

    Tips Cara Deteksi Pergerakan Whale

    Lonjakan Volume

    Contoh pergerakan volume pergerakan whale melalui Whale Alert.
    Contoh pergerakan volume pergerakan whale melalui Whale Alert.

    Salah satu tanda paling awal dari aktivitas whale adalah munculnya volume yang tiba-tiba melonjak secara tidak biasa. Ini sering terjadi saat harga sedang stagnan atau hanya naik sedikit.

    Misalnya, jika volume trading tiba-tiba melonjak 2x hingga 3x dari rata-rata harian tanpa adanya berita besar, bisa jadi ada partisipasi dari whale yang sedang melakukan pembelian atau penjualan besar.

    Untuk mengetahui apakah lonjakan harga ini disebabkan oleh transaksi whale atau bukan, kamu bisa menggunakan beberapa platform whale tracker seperti: Whale Alert, Whale Map, atau CoinGlass.

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Divergensi Volume terhadap Harga

    Ilustrasi divergensi volume trading.
    Ilustrasi divergensi volume trading.

    Tanda lainnya adalah saat terjadi ketidaksesuaian antara pergerakan harga dan volume. Misalnya, harga terlihat stagnan atau sedikit menurun, namun volume terus meningkat. Kondisi ini bisa mengindikasikan adanya aktivitas di balik layar, di mana whale sedang melakukan akumulasi dalam jumlah besar. 

    Kondisi ini dikenal dengan sebutan stealth phase—fase akumulasi senyap yang dilakukan secara perlahan untuk menghindari lonjakan harga dan menarik perhatian pasar.

    Divergensi ini juga bisa dibaca dengan bantuan indikator teknikal seperti On-Balance Volume (OBV) atau Accumulation/Distribution Line, yang dapat menunjukkan tekanan beli yang tersembunyi meskipun harga belum bereaksi.

    Baca lebih lengkap di sini: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Transaksi Dompet ke Exchange

    Contoh aktivitas on-chain yang bisa dilacak melalui Arkham.
    Contoh aktivitas on-chain yang bisa dilacak melalui Arkham.

    Ketika whale mau menjual asetnya, mereka tidak langsung eksekusi di exchange. Biasanya, langkah awalnya adalah mengirim aset dari dompet pribadi (cold wallet) ke dompet exchange (hot wallet). Nah, peristiwa ini terjadi di jaringan blockchain (on-chain), dan bisa kamu amati sebelum aksi jualnya muncul di grafik candlestick.

    Contohnya:

    • Dompet menyimpan yang menyimpan sejumlah besar BTC mengirim  5.000 BTC ke salah satu centralized exchange → Ini bisa menjadi sinyal kuat akan adanya aksi jual besar dalam waktu dekat.

    Karena itu, melacak volume transaksi saja tidak cukup. Kita perlu melihat:

    • Dompet mana yang mentransfer aset
    • Tujuan transfer (exchange mana, DEX mana)
    • Jenis aset dan jumlahnya
    • Identitas dompet (apakah milik investor institusional, tim developer, VC, atau bahkan dompet hacker)

    Untuk melacaknya kamu bisa menggunakan platform seperti Arkham Intelligence yang memungkinkan kamu memantau pergerakan aset kripto secara on-chain dengan sangat detail—khususnya pergerakan dompet whale. Sehingga kamu bisa jadi “detektif on-chain” yang memantau gerakan whale sebelum pasar bereaksi. 

    Baca juga: Tips Swing Trading untuk Pemula dengan Modal Kecil

    Apakah Semua Pergerakan Whale bisa Dideteksi dengan Trading Volume dan Data On-Chain?

    Tidak Semua Aktivitas Whale Terlihat di Pasar Terbuka

    Tidak semua whale melakukan transaksi secara langsung di bursa terbuka (spot exchange) atau dalam jumlah besar yang bisa terlihat di grafik volume. Beberapa dari mereka memiliki akses ke jalur transaksi alternatif, salah satunya adalah Over-the-Counter (OTC)—platform jual beli kripto yang dilakukan secara privat antara dua pihak, tanpa masuk ke order book publik.

    Transaksi OTC memungkinkan whale membeli atau menjual dalam jumlah besar tanpa mengganggu harga pasar secara langsung. Karena tidak melalui exchange, aktivitas ini tidak tercermin dalam volume trading dan tidak selalu bisa dilacak secara on-chain, kecuali terjadi perpindahan aset dari atau ke exchange setelah transaksi dilakukan.

    TOKOCRYPTO PRESTIG

    Buat  kamu memiliki aset besar dan volume transaksi tinggi, kamu bisa gunakan jual beli kripto seperti Tokocrypto Prestige yang dirancang khusus untuk para ‘whale’ serta trader VIP & Institusional. Lihat detailnya di sini 👉 Tokocrypto Prestige

    Batasan Data On-Chain

    Meskipun data on-chain memberi visibilitas ke aktivitas blockchain seperti transfer antar dompet, jumlah token, dan interaksi dengan smart contract, tidak semua dompet bisa diidentifikasi secara jelas. Banyak whale yang menggunakan dompet baru (fresh wallet), wallet mixing, atau protokol privasi untuk menyamarkan identitas dan pergerakan mereka.

    Selain itu, jika transaksi dilakukan langsung dalam lingkungan terdesentralisasi (misalnya antar smart contract), tidak semua sinyal tersebut bisa langsung dikaitkan dengan aksi jual-beli, kecuali disertai analisis tambahan.

    Volume Besar ≠ Selalu Whale

    Tidak semua lonjakan volume berarti whale sedang bergerak. Volume bisa saja disebabkan oleh trader ritel secara kolektif, bot trading, atau aktivitas manipulatif seperti wash trading— yakni membuat volume palsu untuk menarik trader ritel. 

    Karena itu, volume besar perlu dikonfirmasi dengan konteks harga, sentimen pasar, dan data on-chain yang relevan.

    Supaya kamu tidak ketinggalan dengan berita kripto dan data on-chain yang relevan, yuk gabung bareng ribuan trader lainnya di komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Artikel ini bertujuan membantu kamu mengenali kapan volume bisa menjadi sinyal beli atau jual yang akurat — Dalam prakteknya, volume trading tidak hanya bisa digunakkan sebagai sinyal awal (leading indicator) melainkan juga sebagai sinyal konfirmasi (lagging indicator). 

    Untuk mengetahui kapan volume trading bisa menjadi sinyal beli trading, simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini dengan mempelajari jenis indikator trading volume yang biasa digunakkan oleh para trader.

    Baca juga: Apa itu Volume Trading: Maksud dan Kegunaannya

    Volume sebagai Sinyal Awal (Leading Indicator)

    Sebagai leading indicator, volume dapat memberikan petunjuk awal tentang pergerakan pasar. Studi dari jurnal dengan judul “Bitcoin mempool growth and trading volumes” menunjukkan bahwa pertumbuhan volume trading sering kali mengiringi perubahan harga, tapi pertumbuhan trading volume ini sendiri tidak selalu diikuti oleh kenaikan, kadang malah diikuti oleh penurunan. Ini berarti volume bisa menjadi alarm dini bahwa tren besar akan terjadi.

    Contoh praktis: ketika aset sedang konsolidasi dan tiba-tiba muncul lonjakan volume—tanpa disertai pergerakan harga signifikan—ini bisa jadi disebabkan oleh aksi institusional atau whale yang mulai melakukan akumulasi. Dengan kata lain, candle kecil disertai volume besar bisa  menjadi pertanda smart money mulai masuk.

    Volume sebagai Konfirmasi (Lagging Indicator)

    Sebaliknya, volume juga sering digunakan sebagai indikator konfirmasi setelah breakout. Misalnya, saat harga menembus level resistance, tetapi volume tetap rendah, breakout tersebut rentan gagal. Sebaliknya, breakout disertai volume tinggi menunjukkan validitas dan kekuatan tren—bisa membantu trader memastikan sinyal beli.

    Salah satu contoh penggunaannya adalah dengan Volume Moving Average (VMA) yang merupakan hasil dari rata-rata volume dalam jangka waktu tertentu, misalnya 20 hari—untuk membantu memahami tren partisipasi pasar. VMA 20-hari ini akan merata-ratakan volume 20 hari terakhir dan menampilkannya sebagai garis pada chart. Saat volume  ini berada di atas garis VMA, maka dianggap sebagai konfirmasi, dan sebaliknya ketika volume trading berada di bawah garis VMA bisa menunjukkan kurangnya partisipasi pasar.

    Banner Beli Bitcoin Mulai dari Rp 1.600

    Indikator Trading Volume yang Bisa Digunakan untuk Mengetahui Sinyal Beli yang Valid

     On‑Balance Volume (OBV)

    Indikator On-Balance Volume atau OBV dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Indikator On-Balance Volume atau OBV dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    On-Balance Volume atau OBV merupakan indikator volume yang menunjukkan apakah aliran uang sedang masuk atau keluar. Cara kerjanya, OBV akan menambahkan volume pada hari di mana harga penutupan lebih tinggi (up day), dan mengurangkan volume pada hari ketika harga penutupan lebih rendah (down day).

    Ketika garis OBV terus naik, itu menandakan tekanan beli lebih kuat daripada tekanan jual, yang bisa menjadi sinyal tren naik (bullish). Sebaliknya, jika OBV menurun, itu menunjukkan tekanan jual yang dominan dan bisa mengindikasikan tren turun (bearish).

    Accumulation/Distribution Line (A/D Line)

    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) digunakan untuk mengukur aliran uang secara kumulatif yang masuk dan keluar. Cara kerjanya, indikator ini mempertimbangkan data harga dan volume sekaligus, sehingga bisa memberikan gambaran tekanan beli dan jual di balik pergerakan harga.

    Kalau garis A/D naik, artinya sedang terjadi akumulasi—pembeli mendominasi pasar. Tapi kalau garis A/D turun, itu menunjukkan distribusi—penjual sedang menguasai. 

    Indikator ini membantu trader menilai apakah pasar cenderung menyerap (accumulating) atau melepas (distributing), dan bisa jadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan entry atau exit.

    Baca juga: Cara Menentukan Harga Entry dan Exit dalam Swing Trading

    Chaikin Money Flow (CMF)

    Chaikin Money Flow (CMF) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Chaikin Money Flow (CMF) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    CMF memperkirakan arus uang (money flow) dalam periode tertentu—biasanya 21 hari—dengan membandingkan harga penutupan relatif terhadap kisaran harian dan volume, lalu hasilnya diberi bobot berdasarkan volume.

    Jika nilai CMF bernilai positif, itu menunjukkan adanya tekanan beli yang kuat. Sebaliknya, jika nilainya negatif, berarti tekanan jual sedang mendominasi.

    Volume Moving Average (VMA)

    Volume Moving Average (VMA) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
    Volume Moving Average (VMA) dan korelasinya dengan pergerakan harga.

    VMA adalah rata-rata volume selama periode tertentu (misalnya 20 hari), diplot sebagai garis pada grafik volume guna membantu mengenali tren.

    Kalau volume saat ini secara konsisten berada di atas garis VMA, itu menandakan minat beli yang kuat dan bisa mengonfirmasi tren harga yang naik. Sebaliknya, kalau volume berada di bawah garis VMA, ini mengisyaratkan lemahnya tekanan beli atau mulai munculnya tekanan jual.

    Jadi Kapan Volume Trading Jadi Sinyal Beli Trading Akurat?

    Menggunakan beberapa indikator trading volume di atas bisa menjadi sinyal beli yang akurat, terutama saat indikator-indikator tersebut menunjukkan arah yang sejalan dengan pergerakan harga. 

    Misalnya, ketika OBV menguat bersamaan dengan breakout harga, atau CMF menunjukkan arus uang positif yang konsisten, ini bisa menjadi indikasi kuat bahwa buyer mulai mendominasi pasar. Sebaliknya, jika volume melonjak namun harga mulai menurun dan A/D Line menunjukkan distribusi, itu bisa menjadi sinyal awal untuk bersiap melakukan aksi jual.

    Namun, akurasi sinyal—baik untuk beli maupun jual, tidak hanya ditentukan oleh satu indikator saja. Analisis yang efektif membutuhkan kombinasi antara indikator volume, pola pergerakan harga, zona support dan resistance, serta pemahaman terhadap kondisi pasar yang sedang berlangsung. Dengan pendekatan menyeluruh seperti ini, volume trading dapat berperan sebagai alat penting untuk membangun strategi entry dan exit yang lebih valid.

    Penutup

    Meskipun indikator volume sangat membantu untuk membaca kekuatan pasar dan mendeteksi sinyal beli, volume saja tidak cukup untuk membuat keputusan trading yang solid. Volume perlu dikonfirmasi dengan indikator lain seperti struktur harga, area support dan resistance, serta indikator momentum seperti RSI atau MACD.

    Selain itu, karena pasar kripto bergerak sangat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh berita-berita global yang bisa mengubah arah harga, penting bagi trader untuk terus memperbarui informasi dan terhubung dengan komunitas yang aktif.

    Salah satu cara terbaik untuk tetap mendapatkan insight terbaru adalah dengan bergabung bersama komunitas Tokocrypto. Kamu bisa berbagi pengalaman, mengikuti analisis harian, serta memantau pergerakan pasar bersama ribuan trader lainnya–GRATIS!

    Gabung di sini 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.

    Sumber:

    Truedata. “Volume Analysis and Volume Indicators“. 2024.

    Mikhaylova, et al. “Bitcoin mempool growth and trading volumes“. 2023.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Strategi Identifikasi Tren Harga dengan Trading Volume: On Balance Volume (OBV)

    On Balance Volume (OBV) merupakan salah satu indikator yang berdasarkan pada trading volume — Inikator ini bisa kamu gunakkan sebagai indikator tambahan saat melakukkan trading, baik itu saham atau pun crypto. On Balance Volume (OBV) sendiri bekerja dengan menggabungkan volume dan pergerakan harga untuk membantu kamu mendeteksi kekuatan beli atau jual yang ada di pasar.

    Mulai dari mengidentifikasi tren, divergence hingga mengidentifikasi bearish divergence bisa kamu lakukan dengan indikator OBV. Pelajari lebih lengkap pengertian hingga contoh penggunaannya di bawah ini.

    Apa Itu OBV dan Bagaimana Cara Kerjanya?

    On Balance Volume (OBV) adalah indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengukur tekanan beli dan jual berdasarkan volume perdagangan. 

    Indikator ini merupakan indikator kumulatif, cara kerjanya seperti ini—pada hari-hari di mana harga naik, volume hari tersebut akan ditambahkan ke total OBV kumulatif, namun jika harga turun, maka volume hari itu dikurangi dari total OBV.  Hasil perhitungan tadi lalu digambarkan dalam bentuk garis, yang dikenal dengan garis OBV.

    OBV ini sering dipakai untuk membantu melihat arah tren harga, atau memperkirakan apakah harga akan berbalik arah kalau ada perbedaan antara gerakan harga dan garis OBV.

    Baca juga: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    Kenapa OBV Dapat Mengidentifikasi Tren?

    Indikator OBV dapat membantu mengungkap pergerakan “smart money“—seperti investor besar atau institusi—yang sering kali masuk pasar sebelum harga bergerak signifikan. Saat harga dan OBV naik bersama, itu menunjukkan bahwa tekanan beli mendukung kenaikan harga, menunjukkan tren naik yang sehat.

    Namun, jika terjadi perbedaan arah—misalnya harga terus naik tapi OBV justru menurun—itu bisa menjadi sinyal peringatan. Artinya, volume tidak mendukung kenaikan harga, dan ada kemungkinan tren akan melemah atau berbalik arah.

    OBV juga berguna untuk memperkuat sinyal dari indikator teknikal lainnya. Tapi seperti alat analisis lainnya, OBV sebaiknya tidak digunakan sendirian. Digunakan bersama indikator lain, OBV dapat memberikan gambaran yang lebih solid dan membantu pengambilan keputusan yang lebih matang.

    Banner Beli Bitcoin Mulai dari Rp 1.600

    Sebelum mempelajari lebih lengkap mengenai cara menggunakan OBV, pastikan kamu menggunakan bursa terpercaya seperti Tokocrypto yang terdaftar resmi sebagai Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) di Bappebti, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Trading dengan deposit mulai dari Rp20.000 juga bisa lho!

    Contoh Penggunaan On Balance Volume (OBV)

    Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan OBV yang umum dilakukan trader untuk mengidentifikasi tren, mendeteksi divergence, dan mengenali potensi pembalikan arah harga.

    Sebagai Indikator untuk Mengidentifikasi Tren

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) untuk mengidentifikasi tren.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) untuk mengidentifikasi tren.

    OBV dapat digunakan untuk memastikan apakah tren harga saat ini memiliki dukungan dari volume. Jika harga bergerak naik dan OBV juga menunjukkan arah naik, ini mengindikasikan bahwa tekanan beli mendukung tren tersebut. Sebaliknya, jika harga turun dan OBV ikut turun, tekanan jual kemungkinan besar masih mendominasi pasar. Dengan kata lain, OBV membantu mengkonfirmasi kekuatan tren yang sedang berlangsung.

    Indikator Divergence

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai divergence untuk mengidentifikasi pergerakan harga.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai divergence untuk mengidentifikasi pergerakan harga.

    Salah satu kegunaan OBV adalah untuk dalam mengidentifikasi pola divergence—perbedaan arah antara harga dan volume. Ketika harga menunjukkan pola tertentu, tetapi OBV bergerak ke arah berbeda, itu bisa menjadi sinyal bahwa perubahan tren sudah dekat.

    Bearish OBV Divergence

    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai indikator untuk mengidentifikasi bearish divergence.
    Cara menggunkan indikator On Balance Volume (OBV) sebagai indikator untuk mengidentifikasi bearish divergence.

    Bearish divergence terjadi saat harga membentuk higher high (harga naik), tetapi OBV justru membentuk lower high (volume melemah). Ini menunjukkan bahwa meskipun harga naik, kekuatan pasar yang mendukung kenaikan tersebut mulai menurun. Kondisi ini sering kali menjadi tanda bahwa buyer mulai kehilangan minat, dan ada potensi koreksi harga atau bahkan pembalikan arah menjadi tren turun.

    Baca juga indikator lainnya: Kapan Volume Trading Bisa Jadi Sinyal Beli Agar Trading Lebih Akurat?

    Itu dia strategi untuk mengidentifikasi tren pergerakan harga pasar dengan menggunakan trading volume, On Balance Volume (OBV). Jangan lupa untuk kombinasikan OBV dengan analisa harga dan indikator teknikal lainnya supaya kamu bisa membuat strategi trading yang lebih akurat.

    Masih bingung cara baca volume trading? Yuk, tanya-tanya langsung sama trader aktif lain di Telegram komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.

    Sumber: Trading View. “Volume Keseimbangan / On Balance Volume (OBV)”.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Cara Menghitung Kompresi Motor dan Rentang Tekanan yang Baik


    Jakarta

    Menghitung kompresi motor merupakan salah satu langkah penting dalam memastikan kinerja optimal mesin kendaraan. Kompresi yang tepat berperan besar dalam efisiensi pembakaran bahan bakar dan daya yang dihasilkan oleh mesin.

    Dengan memahami cara menghitung kompresi, pemilik kendaraan bisa mengidentifikasi masalah potensial yang akan terjadi.

    Cara Menghitung Kompresi Motor

    Dilansir laman Astra Daihatsu, berikut merupakan rumus menghitung rasio kompresi mesin motor yaitu menggunakan volume silinder (V1) ditambah volume ruang bakar (V2), lalu dibagi volume ruang bakar (V2).


    Berikut rumusnya rasio kompresi mesin::

    CR = (V1 + V2) / V2

    Keterangan:
    CR = Rasio kompresi.
    V1 = Volume silinder.
    V2 = Volume ruang bakar.

    Sebagai contoh, diibaratkan motor berkapasitas 150 cc (tanpa ruang bakar) dengan volume ruang bakar 15 cc. Berikut adalah rasio perhitungan kompresi motornya:

    CR = (150 + 15) / 15 = 11

    Artinya, rasio kompresinya adalah 11 : 1 atau 11 banding 1 untuk motor tersebut.

    Berapakah tekanan kompresi motor yang baik? Rentang tekanan kompresi mesin yang baik adalah antara 9,5 hingga 15 bar.

    Nilai minimum kompresi mesin yaitu 7 bar. Jika, kompresi dalam silinder mesin (tanpa ruang bakar) berada di bawah 7, maka itu bisa disebabkan karena penuaan mesin maupun adanya karat di piston. Dengan mengetahui rasio kompresi mesin bermanfaat dalam pemilihan dan penyesuaian jenis BBM kendaraan.

    Menggunakan BBM yang sesuai dengan kompresi mesin bisa membuat performanya optimal. Tak cuma itu, mesin juga bisa jadi lebih panjang umur. Jika jenis BBM tak sesuai dengan rasio kompresi mesin berisiko membuat mesin rusak.

    (khq/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • HP Tidak Ada Suara Meski Volume Full, Ini Sebab dan Cara Mengatasinya

    Jakarta

    HP atau handphone telah menjadi kebutuhan sehari-hari sebagian besar orang. Terkadang masalah muncul pada HP, salah satunya adalah HP tidak mengeluarkan suara. Meski sudah menaikkan volume HP dengan tombol volume pun, HP bisa saja tidak mengeluarkan suara.

    Tentunya hal ini cukup mengganggu. Meski sebagian orang memilih HP berada dalam mode senyap atau tidak mengeluarkan suara, ada juga yang membutuhkan HP untuk mengeluarkan suara, khususnya suara notifikasi panggilan dan pesan. HP yang tidak bersuara, meski volume sudah penuh, bisa membuat pengguna melewatkan notifikasi panggilan atau pesan yang masuk.

    HP bisa tidak mengeluarkan suara meski volume full karena berbagai penyebab. Jangan khawatir, ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Simak di artikel berikut.


    Penyebab HP Tidak Mengeluarkan Suara Meski Volume Full

    Ada beberapa penyebab HP tidak mengeluarkan suara meski volume full.

    1. Volume Aplikasi Rendah

    Pertama, jika menggunakan HP dengan sistem operasi Android, detikers perlu mengetahui bahwa Android memiliki pengaturan suara yang berbeda-beda untuk tiap aplikasi. Mengutip Headphonesty, Android memiliki pengaturan volume untuk nada dering dan notifikasi, panggilan, alarm, serta media atau aplikasi yang sedang terbuka.

    Pengguna bisa mengatur volume untuk masing-masing aspek ini. Misalnya ketika sedang menelepon dengan seseorang, detikers bisa tetap bermain game. Volume aplikasi game bisa dikecilkan sementara volume panggilan dibiarkan sama atau dibesarkan.

    Bahkan jika volume utama HP disetel maksimal sekalipun, jika volume aplikasi diatur rendah atau mute, maka aplikasi tersebut tidak akan mengeluarkan suara. Begitu pula dengan volume notifikasi serta panggilan.

    2. HP Dalam Mode Silent atau Do Not Disturb

    Penyebab kedua HP tidak ada suara meski volume penuh adalah HP diatur dalam mode senyap atau jangan ganggu.

    Mengutip Guiding Tech, mode silent atau senyap mematikan suara semua bentuk notifikasi, baik itu notifikasi pesan, panggilan, maupun alarm. Sementara mode do not disturb atau jangan ganggu membuat semua panggilan telepon atau notifikasi pesan tidak muncul di layar HP agar tidak mengganggu pengguna.

    Jika detikers menggunakan mode silent, notifikasi dan panggilan tetap muncul di layar, hanya saja tidak ada suara. Sementara untuk do not disturb, bukan hanya tidak ada suara, notifikasi dan pemberitahuan panggilan pun tidak terlihat sampai mode ini dimatikan.

    3. Masalah Pada Software atau Hardware

    Kemungkinan ketiga HP tidak ada suara meski volume penuh adalah masalah pada perangkat keras maupun perangkat lunak HP.

    Gangguan sistem perangkat lunak bisa menyebabkan beberapa fungsi HP tidak bekerja dengan baik, salah satunya volume.

    Begitu pula dengan gangguan pada perangkat keras, misalnya speaker HP. Speaker yang rusak bisa membuat suara yang keluar menjadi lirih atau bahkan senyap, meski volume HP disetel maksimal.

    Cara Mengatasi HP Tidak Mengeluarkan Suara Meski Volume Full

    Setelah mengetahui penyebab pasti mengapa HP detikers tidak mengeluarkan suara padahal volume penuh, cara mengatasinya pun cukup mudah.

    1. Gunakan Volume Slider

    Hal pertama yang bisa dilakukan adalah mengecek volume slider di HP Android. Caranya adalah menekan tombol volume, lalu menekan logo titik tiga yang muncul. Volume slider akan terbuka dan menampilkan pengaturan volume untuk nada dering, panggilan, dan aplikasi-aplikasi lain yang sedang terbuka.

    2. Atur Volume Video di Aplikasi

    Jika HP tidak mengeluarkan suara hanya saat menonton video di aplikasi tertentu, kemungkinan besar video tersebut dalam kondisi mute. Aplikasi seperti YouTube, Instagram, X, dan Facebook memiliki tombol volume sendiri ketika memutar video.

    Untuk mengatur volumenya, cek logo speaker di bagian kiri atau kanan bawah video dan pastikan video tidak diputar dalam kondisi mute.

    3. Matikan Mode Silent dan Do Not Disturb

    Mode silent atau do not disturb mungkin jadi penyebab HP tidak mengeluarkan suara walau volume full. Usap layar dari atas ke bawah untuk membuka Quick Settings, lalu matikan kedua mode ini.

    4. Jangan Hubungkan HP dengan Perangkat Audio Eksternal

    HP bisa saja tidak mengeluarkan suara meski volume diatur maksimal karena HP terhubung ke perangkat audio seperti earphone atau speaker eksternal. Copot earphone dari HP atau matikan Bluetooh agar koneksi HP dengan perangkat earphone atau speaker wireless terputus. Dengan begitu, suara akan keluar dari speaker bawaan HP.

    5. Bersihkan Speaker dan Headphone Jack HP

    Speaker HP yang kotor bisa membuat suara HP lirih atau teredam. Headphone jack yang kotor dan tersumbat juga bisa memberikan tekanan, sehingga HP mengira ada headphone yang tercolok. Karena itu HP akan mengarahkan suara menuju headphone jack dan bukannya speaker.

    Cobalah membersihkan speaker dan headphone jack secara perlahan menggunakan cotton bud.

    6. Restart HP

    Kesalahan pada sistem perangkat lunak bisa menyebabkan HP tidak mengeluarkan suara. Cobalah merestart HP agar sistem kembali normal.

    7. Masuk ke Safe Mode

    Aplikasi atau file pihak ketiga bisa menimbulkan bug atau bahkan virus yang merusak fungsi volume. Masuk ke safe mode HP, kemudian tes volume HP. Safe mode menonaktifkan semua aplikasi yang diunduh, sehingga HP beroperasi hanya dengan software original.

    Safe mode bisa diakses dengan menekan lama tombol power pada HP. Lalu, tekan lama ikon Power Off hingga muncul opsi Safe Mode.

    8. Factory Reset

    Ini adalah cara terakhir untuk memperbaiki HP yang tidak bersuara. Mereset HP ke kondisi default akan memperbaiki semua masalah perangkat lunak, termasuk bug atau glitch yang mengakibatkan HP tidak mengeluarkan suara. Jika detikers memutuskan melakukan factory reset, pastikan memback up file-file yang terdapat pada HP.

    Jika cara-cara di atas tidak berhasil mengatasi masalah HP tidak ada suara meski volume penuh, bawalah HP ke service center terpercaya karena bisa jadi ada masalah hardware. Semoga membantu, detikers!

    (fds/fds)

    Sumber : inet.detik.com

    Alhamdulillah اللهم صل على رسول الله محمد teknologi
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Jannis Brandt