Tag: wali songo

  • 5 Wisata Religi Terkenal di Surabaya buat Ramadan



    Surabaya

    Selain kaya akan wisata sejarah, Surabaya juga kaya akan wisata religi. Berikut 5 destinasi wisata religi di Surabaya yang bisa dikunjungi saat Ramadan.

    Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya menjadi saksi perjalanan panjang Bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam keberagaman masyarakat Surabaya yang begitu dinamis dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk keagamaan.

    Memasuki bulan suci ramadan, tak sedikit masyarakat berkunjung ke wisata-wisata religi di Surabaya. Tujuannya untuk berziarah dan mempelajari sejarah perjalanan ajaran umat muslim di kota ini.


    Kehadiran berbagai situs wisata religi, menjadi sebuah simbol toleransi dan keharmonisan antarumat beragama di Kota Surabaya.

    Berikut 5 Wisata Religi di Surabaya yang Bisa Dikunjungi saat Ramadan:

    1. Masjid Al-Akbar Surabaya

    Masjid nasional Al-Akbar merupakan salah satu masjid terbesar dan terindah di Indonesia. Berlokasi di Jalan Masjid Al-Akbar Timur Nomor 1, Pagesangan, Kecamatan Jambangan, masjid ini salah satu landmark dari Kota Pahlawan.

    Masjid ini memiliki luas bangunan sebesar 28.509 m2 dan dapat menampung hingga 36.000 jemaah. Masjid ini pun diproyeksikan sebagai Islamic Center dengan peran multidimensi yang mencakup misi religius, kultural, edukatif, dan wisata religi.

    Beberapa daya tarik dari Masjid Al-Akbar di antaranya kubah dengan bentuk unik yang menyerupai setengah telur, serta keindahan ukiran dan kaligrafi yang memenuhi dinding-dinding masjid.

    Harga Tiket: Rp10.000
    Jam Operasional: 08.00-12.00, 13.00-16.00 WIB (Senin-Jumat)

    2. Masjid Cheng Hoo

    Dibangun tahun 2001, masjid ini menghadirkan konsep akulturasi antara budaya Tionghoa dan Agama Islam yang sangat menarik. Masjid Cheng Hoo salah satu ikon wisata religi di Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Gading Nomor 02, Ketabang, Kecamatan Genteng.

    Ciri khas dari masjid ini adalah gaya arsitekturnya yang banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa klasik yang kental. Hal ini ditunjukkan dengan ornamen-ornamen seperti relief naga dan pagoda dengan lafaz Allah di puncaknya.

    Gaya arsitektur dan interior masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika semata, melainkan juga mengandung makna filosofi yang mendalam.

    Salah satunya, dikutip dari laman resmi Dunia Masjid, Ketiadaan pintu pada Masjid Cheng Hoo menyimbolkan keterbukaan. Bahwa masjid ini adalah tempat yang dapat digunakan oleh semua orang untuk beribadah tanpa memandang etnis apa pun.

    Harga Tiket: Gratis
    Jam Operasional: – 04.00-22.00 WIB (Senin-Minggu)

    3. Makam Sunan Ampel

    Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh dari Wali Songo, yakni 9 ulama yang memiliki kontribusi besar terhadap sejarah penyebaran ajaran Agama Islam di Indonesia.

    Sebagai sosok yang dihormati oleh masyarakat, Makam Sunan Ampel selalu ramai akan pengunjung yang hendak berziarah. Makam Sunan Ampel masih berada di kompleks yang sama dengan Masjid Ampel, salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan pada abad ke 15.

    Traveler yang tertarik untuk berkunjung, Makam Sunan Ampel berlokasi di Jalan Ampel Blumbang Nomor 2 A, Ampel.

    Harga Tiket: Gratis
    Jam Operasional: 24 jam (Senin-Minggu)

    4. Kampung Santri Ndresmo

    Kampung Santri Ndresmo dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan santri, dengan banyaknya kehadiran pondok pesantren dan kegiatan keagamaan yang berlangsung di sekitarnya sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda.

    Hingga saat ini, diketahui tidak hanya santri yang berasal dari Surabaya saja yang belajar di kampung ini, melainkan juga dari berbagai daerah di Indonesia.

    Sebagai kota yang dikelilingi oleh penduduk yang mayoritas menganut agama Muslim, Kampung Santri Ndresmo menjadi simbol penting yang menjaga identitas keislaman masyarakat d Surabaya.

    Di sini para pengunjung dapat menggali lebih dalam mengenai jejak perjalanan agama Islam di Surabaya, serta menilik peninggalan religi dan adat di Kampung Ndresmo.

    Alamat: Jl. Sidosermo III No.10A, Sidosermo, Kec. Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur.

    5. Makam Sunan Bungkul

    Sunan Bungkul atau yang memiliki nama asli Ki Ageng Supo merupakan salah satu tokoh yang juga berperan penting dalam penyebaran Agama Islam di Indonesia di akhir masa Kerajaan Majapahit.

    Sesuai namanya, Makam Sunan Bungkul berlokasi di belakang Taman Bungkul Surabaya. Meskipun Taman Bungkul sendiri dikenal dengan salah satu destinasi rekreasi baik untuk warga lokal maupun wisatawan.

    Tidak sedikit pula orang yang berkunjung ke taman ini untuk berziarah di Makam Sunan Bungkul, menikmati suasana religius dan sejarah yang ada di tempat tersebut.

    Harga Tiket: Gratis
    Jam Operasional: 24 jam (Senin-Minggu)

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Sunan Gresik, Wali Songo Pertama di Tanah Jawa



    Jakarta

    Proses masuknya Islam ke Indonesia tak lepas dari peran wali songo. Wali songo yang paling tua dan termasuk orang Islam pertama yang masuk tanah Jawa bernama Maulana Malik Ibrahim atau biasa dikenal dengan Sunan Gresik.

    Hal tersebut dikatakan dalam buku Sejarah Kelam Majapahit: Jejak-jejak Konflik Kekuasaan dan Tumbal Asmara di Majapahit karya Peri Mardiyono.

    Asal Muasal Sunan Gresik

    Masykur Arif dalam buku Wali Sanga: Menguak Tabir Kisah Hingga Fakta Sejarah menjelaskan bahwa Sunan Gresik memiliki sejumlah gelar atau nama lain. Misalnya, Maulana atau Syekh Maghribi karena ia dianggap berasal dari daerah Maroko, Afrika.


    Selain itu, dalam pengucapan orang Jawa, Maulana Maghribi disebut Maulana Gribig atau Sunan Gribig.

    Masyarakat setempat juga menjulukinya sebagai kakek bantal. Hal itu disebabkan ia menjadi tempat berkeluh kesah masyarakat, tempat istirahat di kala pikiran sedang kacau, tempat menyandarkan diri saat sedang tidak ada pegangan hidup.

    Selain itu, ada yang mengatakan bahwa nama Malik Ibrahim ialah Makdum Ibrahim Asmara. Kata “Asmara” merupakan pengucapan orang Jawa yang berasal dari kata Samarkand atau Asmarakandi.

    Hingga saat ini belum dapat dipastikan dari mana Maulana Malik Ibrahim berasal. Namun, para sejarawan sepakat bahwa ia bukanlah asli orang Jawa melainkan merupakan pendatang di tanah Jawa.

    Maulana Malik Ibrahim diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Menurut catatan Stamford Raffles dalam The History of Java, Maulana Malik Ibrahim adalah seorang ahli agama yang berasal dari Arab. Sementara J.P. Moquette memberikan keterangan bahwa Sunan Gresik berasal dari daerah Iran.

    Dakwah Sunan Gresik di Tanah Jawa

    Zulham Farobi dalam buku Sejarah Wali Songo menceritakan mengenai kisah Maulana Malik Ibrahim yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

    Pada saat itu, Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim datang untuk memberikan pandangan baru mengenai kasta masyarakat.

    Sesuai ajaran Islam, bahwa kedudukan tiap manusia itu sama. Allah SWT tidak pernah membeda-bedakan manusia, sebab bagi-Nya derajat manusia di mata-Nya itu sama.

    Maka ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim memberikan pandangan tersebut, masyarakat dari kasta sudra dan waisya banyak yang tertarik. Mereka mulai saling bergaul satu sama lain dan tidak membeda-bedakan.

    Beberapa tahun Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwah di Gresik, ia tidak hanya membimbing umat Islam untuk mengenal dan mendalami agama Islam, melainkan juga memberi pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat gresik menjadi lebih baik.

    Ia bahkan memiliki gagasan untuk mengalirkan air dari gunung untuk mengairi lahan pertanian penduduk. Dengan adanya sistem pengairan yang baik ini, lahan pertanian menjadi subur dan hasil panen pun berlimpah.

    Hampir sepanjang kisah hidup Sunan Gresik dihabiskan untuk menyebarkan dan mengenalkan agama Islam. Ia akhirnya wafat pada tahun 1419 M. Belum ada informasi yang jelas mengenai di mana ia wafat. Satu-satunya informasi yang didapatkan hanya tahunnya saja, yaitu 1419 M.

    Di samping itu, ada sumber lain yang menyebut Sunan Gresik adalah wali songo yang paling tua tetapi bukan orang Islam pertama yang masuk tanah Jawa. Ketika itu, sudah ada beberapa kelompok kecil umat Islam di pesisir utara Pulau Jawa.

    Rata-rata dari mereka adalah kaum saudagar yang mengadakan perjalanan dagang diiringi maksud menyebarkan agama Islam. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya makam seorang wanita yang bernama Fatimah binti Maimun, yang meninggal pada tahun 475 H atau 1082 M di Leran, Gresik.

    Selain itu, ditemukan beberapa batu nisan di Jawa Timur, yaitu di daerah Trowulan dan Troloyo, dekat situs Istana Majapahit, yang menunjukkan bahwa sebelum Maulana Malik Ibrahim menginjakkan kaki di Pulau Jawa, sudah ada umat Islam.

    Batu-batu nisan tersebut menunjukkan bahwa itu adalah kuburan umat Islam karena terdapat kutipan-kutipan dari Al-Qur’an dan rumus-rumus yang saleh.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Nama Ayah Sunan Ampel, Wali yang Dakwah di Tanah Jawa



    Jakarta

    Sunan Ampel adalah salah satu tokoh wali songo yang berdakwah di Pulau Jawa. Nama ayah Sunan Ampel adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim atau biasa dikenal dengan Sunan Gresik.

    Hal tersebut dijelaskan dalam buku Wali Sanga karya Masykur Arif. Sunan Gresik sendiri adalah tokoh wali songo pertama yang menyebarkan agama Islam di Jawa.

    Pendapat mengenai nama ayah Sunan Ampel tersebut bersandar pada beberapa teks sejarah, seperti Babad Tanah Jawi, Sejarah Dalem, dan Silsilah Sunan Kudus.


    Dikatakan, Sunan Ampel atau Raden Rahmat merupakan keturunan Ibrahim Asmarakandi, nama lain Sunan Gresik. Beberapa kitab turut menyebut bahwa jika dilihat dari silsilah ayahnya, Sunan Ampel bernasab dengan Nabi Muhammad SAW.

    Dalam buku Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Sunan Ampel karya Rizem Aizid diceritakan, pada masa kecilnya, Sunan Ampel dikenal dengan nama Raden Rahmat yang lahir di Campa pada tahun 1401 M.

    Nama “Ampel” diidentikkan dengan nama tempatnya bermukim dalam waktu yang lama yaitu di Ampel atau Ampeldenta yang kini menjadi salah satu bagian wilayah di Surabaya.

    Beberapa versi menyebutkan bahwa Sunan Ampel masuk ke Pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama dengan Sayyid Ali Mutadha yang merupakan adiknya. Sebelum ke Jawa mereka singgah terlebih dahulu di Palembang dan menetap selama tiga tahun.

    Kedatangan Sunan Ampel menurut Babad Gresik yaitu ketika Kerajaan Majapahit sedang dilanda perang saudara dan kekacauan terjadi di mana-mana membuat Prabu Sri Kertawijaya penguasa Majapahit saat itu mengundang Raden Rahmat atau Sunan Ampel untuk mengajarkan agama kepada penduduk Jawa.

    Di Kerajaan Majapahit, Sunan Ampel diberi kebebasan untuk mengajarkan agama Islam kepada penduduk Majapahit dengan syarat tanpa paksaan dan kekerasan. Selanjutnya, ia dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila atau putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban. Sejak saat itulah, ia terkenal dengan sebutan Raden Rahmat.

    Dalam versi yang lain ada pula yang mengatakan bahwa Sunan Ampel menikahi putri dari Adipati Tuban, Nyai Gede Nila.

    Dakwah Sunan Ampel

    Perjalanan Raden Rahmat atau Sunan Ampel menuju Ampeldenta yang saat ini masuk dalam wilayah Surabaya, mengandung banyak cerita sejarah dan dakwah.

    Masih dalam sumber yang sama, rute perjalanan rombongan Sunan Ampel itu melalui Desa Krian Wonokromo, terus memasuki Kembangkuning. Selama dalam perjalanan, Raden Rahmat menyempatkan diri berdakwah kepada penduduk setempat yang dilaluinya.

    Dakwah yang pertama kali dilakukannya cukup unik, yaitu membuat kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu yang dianyam bersama rotan.

    Kipas-kipas itu diberikan dengan cuma-cuma kepada penduduk alias tidak perlu membelinya. Namun, para penduduk yang diberi kipas cukup menukarnya dengan kalimat syahadat.

    Para warga yang menerima kipas itu merasa sangat senang. Lantaran kipas tersebut bukanlah sembarang kipas karena akar yang dianyam bersama rotan itu ternyata merupakan obat bagi mereka yang terkena penyakit batuk dan demam.

    Dari situ lah, pengikut Sunan Ampel mulai banyak jumlahnya. Sunan Ampel juga terkenal sebagai orang yang ramah dan berbudi pekerti yang baik kepada orang lain. Selain itu, ia juga mudah beradaptasi dengan masyarakat setempat.

    Ketika Sunan Ampel membangun tempat ibadah, ia menyesuaikan nama tempat tersebut dengan budaya dan kebiasaan orang Jawa. Ia tidak memberikan nama Arab pada tempat ibadah tersebut ia memberikan nama tempat ibadah tersebut dengan sebutan langgar.

    Ketika menyebut menyembah Allah SWT, ia juga tidak menggunakan bahasa Arab seperti salat melainkan ia menyebutnya dengan sembahyang yang berasal dari kata sembah dan hyang (Tuhan).

    Dengan demikian, di tangan Sunan Ampel Islam beradaptasi sesuai dengan kondisi masyarakat lingkungan setempat. Karena itulah, Islam mudah dimengerti dan gampang diterima oleh masyarakat.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Pesantren yang Didirikan Wali Songo, Dirintis Sejak Wali Pertama


    Jakarta

    Penyebaran Islam di Indonesia tak lepas dari peran wali songo. Pesantren yang didirikan oleh wali songo menjadi salah satu bukti keberhasilan wali songo dalam menyebarkan agama Islam khususnya di Pulau Jawa.

    Zulham Farobi dalam buku Sejarah Wali Songo menjelaskan bahwa hampir semua wali songo terlibat dalam segala perkembangan sejarah Islam di Nusantara. Sarana yang digunakan dalam dakwah salah satunya berupa pesantren-pesantren yang dipimpin oleh para wali songo.

    Selain itu, wali songo menyebarkan Islam melalui media kesenian, seperti wayang. Para wali di tanah Jawa ini memanfaatkan pertunjukan tradisional sebagai media dakwah Islam.


    Para wali songo ini menjadi pemimpin dalam menyebarkan agama Islam di daerah yang mereka tempati. Berkat perjuangan wali songo agama Islam menyebar ke seluruh penjuru Pulau Jawa.

    Di dalam bidang pendidikan, peran wali songo terlihat dari didirikannya pesantren. Misalnya saja pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel di Ampel Denta yang dekat dengan Surabaya ini menjadi pusat penyebaran Islam pertama di Pulau Jawa.

    Pesantren yang Didirikan Wali Songo

    Mengutip buku Budaya Pesantren karya Ahmad Hariandi dkk, pesantren yang pertama kali didirikan adalah hasil rintisan Syekh Maulana Malik Ibrahim, tokoh wali songo paling awal yang dikenal dengan Sunan Gresik. Namun demikian, tokoh wali songo yang paling berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

    Berikut selengkapnya.

    1. Pesantren Ampel Denta

    Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Abu Achmadi dan Sungarso, Sunan Ampel memulai merintis dakwahnya dengan mendirikan Pesantren Ampel Denta. Sunan Ampel kemudian dikenal sebagai Pembina Pondok Pesantren di Jawa Timur. Hingga pada akhirnya, seorang keturunan Sunan Ampel menjadi penerus dakwahnya.

    2. Pesantren Giri

    Merujuk dari buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida bahwa Sunan Giri mendirikan pesantren di sebuah dataran tinggi yang terletak di Desa Sidomukti, sebuah desa di wilayah Gresik, Jawa Timur.

    H. Abu Achmadi dan Sungarso dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam menjelaskan bahwa dalam berdakwah materi yang disampaikan oleh Sunan Giri adalah mengenai akidah dan ibadah dengan pendekatan fikih yang disampaikan secara lugas.

    Pesantren yang didirikan Sunan Giri pada mulanya tidak hanya digunakan sebagai sarana pendidikan, tetapi juga dijadikan sebagai pusat pengembangan masyarakat. Pesantren ini tumbuh dan berkembang sangat pesat. Hal tersebut dikarenakan banyaknya santri yang berdatangan dari berbagai daerah.

    3. Pondok Pesantren Sunan Drajat

    Sunan Drajat merupakan tokoh wali songo yang mengajarkan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat sebagai pengamalan agama Islam.

    Ia juga mendirikan Pondok Pesantren Sunan Drajat yang dijalankan secara mandiri sebagai wilayah pendidikan yang bertempat di Desa Drajat (sekarang masuk wilayah Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur).

    Tanah yang didirikan pesantren oleh Sunan Drajat merupakan hadiah pemberian Sultan Demak kepada Sunan Drajat atas jasanya menyebarkan agama Islam dan memerangi kemiskinan.

    4. Pesantren Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh wali songo yang dikenal dengan jiwanya yang begitu mudah berbaur dengan masyarakat, sebagaimana dijelaskan Wawan Hermawan dan Ading Kusdiana dalam buku Biografi Sunan Gunung Djati: Sang Penata Agama di Tanah Sunda.

    Ia dikenal dengan keluhuran akhlaknya, terlebih dengan penguasaan berbagai masalah keagamaan. Pendidikan yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati yakni menggabungkan antara keagamaan dengan seni.

    Oleh karena itu, dengan pendidikan tersebut gagasan pendidikan pesantren Sunan Gunung Jati sangat mudah untuk diterima oleh masyarakat.

    5. Pesantren Sunan Bonang

    Sunan Bonang merupakan salah satu wali songo yang juga mendirikan pesantren. Sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Cakrawala Budaya Islam oleh Abdul Hadi Wiji Muthari, Sunan Bonang mendirikan pesantren di sebuah desa kecil dekat kota Lasem, Jawa Tengah.

    Di atas sebuah bukit gersang nan sunyi, Watu Layar, Sunan Bonang pernah membangun sebuah tempat tafakkur, dan zawiyah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Wali Songo yang Ajarkan Falsafah Moh Limo



    Jakarta

    Wali songo memiliki pengaruh besar dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Dalam dakwahnya, ada salah satu tokoh wali songo yang mengajarkan falsafah Moh Limo.

    Wali songo yang mengajarkan falsafah Moh Limo adalah Sunan Ampel atau yang memiliki nama Raden Rahmat. Ia merupakan putra dari Sunan Gresik, tokoh wali songo pertama.

    Mengutip buku Wali Songo karya Noer Al, Raden Rahmat bersama dengan ayahnya Sunan Gresik menginjakkan kaki di tanah Jawa atas undangan Raja Majapahit.


    Prabu Brawijaya yang saat itu merupakan penguasa Majapahit menyambut hangat kedatangan Raden Rahmat bersama sang ayah. Prabu Brawijaya memberikan tugas untuk memperbaiki kehidupan masyarakat yang suka hidup bermewah-mewahan dan selalu berpesta pora kepada Raden Rahmat.

    Atas kesabaran dan kewibawaannya, Raden Rahmat berhasil mengatasi situasi Kerajaan Majapahit tersebut, sehingga ia diberikan hadiah oleh Raja Brawijaya.

    Akhirnya, Raden Rahmat dinikahkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Dewi Condrowati. Ia pun menjadi seorang pangeran karena menjadi menantu Prabu Brawijaya.

    Kemudian, Raden Rahmat pun melanjutkan mendidik dan menyadarkan para bangsawan dan adipati menuju ke jalan yang benar. Setelah berbagai cara dilakukan, akhirnya Raden Rahmat berhasil dan melanjutkan niatnya untuk berdakwah dalam masyarakat.

    Tentu Raden Rahmat diterima dengan baik oleh masyarakat. Di mana saat melaksanakan dakwah Raden Rahmat atau biasa dikenal dengan Sunan Ampel ini melakukannya dengan sangat singkat dan cepat.

    Salah satu ajaran falsafah yang diajarkan oleh Sunan Ampel adalah falsafah Moh Limo. Falsafah Moh Limo ini artinya tidak melakukan lima hal tercela. Falsafah Moh Limo ini menjadi salah satu kunci utama atau akar permasalahan merosotnya moral warga Majapahit ketika itu.

    Falsafah Moh Limo di antaranya,

    1. Moh Main (tidak mau berjudi)

    2. Moh Ngombe (tidak mau minum arak atau mabuk-mabukan)

    3. Moh Maling (tidak mau mencuri)

    4. Moh Madat (tidak mau menghisap candu seperti narkoba, ganja, dan lain-lain)

    5. Moh Madon (tidak mau berzina atau main perempuan yang bukan istrinya)

    Sunan Ampel dikenal memiliki kepekaan dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan sosial budaya setempat. Caranya dengan menerima siapa pun baik bangsawan maupun rakyat jelata untuk nyantri di Ampel Denta.

    Dalam kehidupan pesantren, meskipun Sunan Ampel menganut mazhab Hanafi, namun Sunan Ampel sangat toleran pada penganut mazhab yang lain.

    Para santrinya dibebaskan untuk mengikuti mazhab apa saja. Dengan cara pandang yang netral ini, tak heran bila pesantren di Ampel Denta mendapatkan banyak pengikut yang luas dari berbagai lapisan masyarakat.

    Masykur Arif dalam buku Wali Sanga: Menguak Tabir Kisah hingga Fakta Sejarah menambahkan mengenai kisah Sunan Ampel. Bahwa dalam berdakwah agar agama Islam mudah dimengerti oleh masyarakat Jawa, Sunan Ampel kemudian menciptakan huruf pegon atau tulisan Arab berbunyi bahasa Jawa.

    Melalui huruf pegon inilah, ia menyampaikan ajaran-ajarannya kepada murid-muridnya, huruf pegon yang diciptakan pertama kali oleh Sunan Ampel sampai sekarang masih tetap dipakai sebagai bahan pelajaran agama Islam di kalangan pesantren.

    Selain itu, Sunan Ampel juga terkenal dengan orator ulung dalam menyampaikan dakwah. Sesuatu yang disampaikannya dapat memikat orang yang mendengarnya. Ia pandai membuat aforisme yang mudah diingat dan menjadi pegangan hidup.

    Masykur Arif juga menyebutkan beberapa aforisme yang pernah diajarkan oleh Sunan Ampel, di antaranya:

    1. Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku durung weruh jatining Pangeran (Barang siapa hanya mengakui sesuatu yang terlihat oleh mata saja, itu berarti belum mengerti hakikat Tuhan).

    2. Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter jalaran manawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking (Jikalau engkau mempunyai ilmu yang menyebabkan banyak orang suka padamu, janganlah engkau merasa paling pandai. Sebab, kalau Tuhan mengambil kembali ilmu yang menyebabkan engkau tersohor, engkau menjadi tak berbeda seperti yang lain, bahkan nilainya menjadi di bawah nilai daun jati yang sudah kering).

    3. Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh welas kang luwih gedhe katimbang apa kang wis ditindakake (Barang siapa suka membuat senang orang lain, ia akan mendapat balasan yang lebih banyak daripada yang ia lakukan).

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Wali Songo dan Wilayah Penyebarannya di Pulau Jawa


    Jakarta

    Islam masuk dan berkembang di Indonesia melalui berbagai cara. Salah satu kelompok yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia adalah Wali Songo.

    Siapa saja Wali Songo? Di mana saja wilayah penyebarannya? Simak uraian berikut ini.

    Nama-nama Wali Songo

    Dikutip dari buku Wali Songo: 9 Sunan karya Noer Al, sembilan nama dari Wali Songo ini adalah Maulana Malik Ibrahim (Syekh Maghribi atau Sunan Gresik), Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.


    Peran Wali Songo di Indonesia

    Dikutip dari buku Sejarah Wali Songo karya Zulham Farobi, Wali Songo memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Peranan Wali Songo cukup dominan di bidang dakwah, baik dakwah melalui lisan.

    Para Wali Songo ini berkeliling dari satu daerah ke daerah lain dalam menyebarkan Islam. Mereka juga berhasil mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan dan dakwah.

    Selain dengan dakwah, para Wali ini juga menyebarkan Islam menggunakan pendekatan budaya dengan cara menyerap seni budaya lokal yang dipadukan dengan ajaran Islam, seperti wayang, tembang Jawa, gamelan, upacara-upacara adat yang digabungkan dengan makna-makna Islam dan sebagainya.

    Syekh Maulana Malik Ibrahim

    Masih mengutip dari buku Wali Songo: 9 Sunan karya Noer Al, Syekh Maulana Malik Ibrahim atau yang juga disebut Syekh Maghribi atau Sunan Gresik ini merupakan yang tertua dari sembilan wali.

    Syekh Maulana Malik Ibrahim menyebarkan Islam di wilayah Gresik, Jawa Timur. Beberapa desa yang ditujunya antara lain Desa Sembalo, Desa Tanggulangin, dan Leran.

    Ia menyebarkan ajaran Islam dengan cara mendekati masyarakat dengan budi bahasa yang santun dan akhlak mulia, tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan penduduk asli, serta adat istiadat mereka.

    Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan seorang tabib yang menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Selain itu, ia juga mengajarkan cara-cara baru dalam bercocok tanam.

    Sunan Ampel

    Sunan Ampel atau Sayyid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat) ini merupakan raja dari Kerajaan Majapahit. Dikutip dari buku Walisongo: Sebuah Biografi karya Asti Musman, Sunan Ampel menyebarkan Islam di wilayah Ampel (Surabaya).

    Sunan Ampel berdakwah dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya. Ia juga menginginkan agar masyarakat menganut keyakinan yang murni, dan adat istiadat Jawa dihilangkan karena merupakan bagian dari bid’ah.

    Sunan Bonang

    Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim menyebarkan Islam di daerah Tuban, Jawa Timur.

    Ia menyebarkan ajaran Islam dengan cara berdakwah, mendirikan pondok pesantren, menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa, serta menyisipkan Islam ke dalam cerita wayang dan musik gamelan.

    Sunan Giri

    Sunan Giri atau Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Giri (Gresik, Jawa Timur). Cara menyebarkan ajaran Islam oleh Sunan Giri yaitu dengan berdakwah, mendirikan pesantren, dan menjadi penasihat.

    Sunan Drajat

    Sunan Drajat atau Raden Qasim menyebarkan Islam di daerah Lamongan, Jawa Timur. Ia terkenal dengan jiwa sosial dan tema-tema dakwahnya yang selalu berorientasi pada gotong royong.

    Sunan Kalijaga

    Wilayah penyebaran ajaran Islam oleh Sunan Kalijaga atau Raden Mas Syahid ini tidak terbatas, Ia suka berkeliling dan memperhatikan keadaan masyarakat. Beliau menyebarkan ajaran Islam di sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

    Beliau berdakwah menggunakan berbagai media seni seperti wayang kulit, gamelan, suara, ukir, pahat, busana, dan kesusastraan.

    Sunan Kudus

    Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus, Jawa Tengah dengan berdakwah dan menciptakan cerita keagamaan yang berjudul Gending Maskumambang dan Mijil.

    Sunan Muria

    Sunan Muria atau Raden Umar Said ini menyebarkan ajaran Islam di daerah Gunung Muria, Kudus dan desa-desa terpencil lainnya. Objek dakwah yang digunakannya yaitu pedagang, nelayan, dan rakyat biasa. Beliau juga menciptakan tembang Sinom dan Kinanthi.

    Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah ini menyebarkan ajaran Islam di sejumlah wilayah di daerah Jawa Barat seperti Cirebon dan Banten.

    Cara berdakwahnya dilakukan dengan pendekatan struktural. Selain mendirikan pesantren, Sunan Gunung Jati juga mendirikan dan memimpin Kesultanan Cirebon dan Banten.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Metode Dakwah Sunan Muria yang Mudah Diterima Masyarakat


    Jakarta

    Wali songo adalah sembilan ulama penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Setiap dari mereka memiliki metode dakwah yang khas, begitu pula dengan Sunan Muria.

    Daerah dakwah Sunan Muria cukup luas dan tersebar mulai lereng-lerang Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juwana, sampai pesisir utara Jawa Tengah.

    Metode Dakwah Sunan Muria

    Dirangkum dari buku Sejarah Islam Indonesia karya Rizem Aizid dan buku Seri Jejak Para Wali: Sunan Kalijaga karya Lilis Suryani, Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Sunan Muria mengikuti jejak ayahnya sebagai juru dakwah di tanah Jawa. Ia juga adalah penyokong Kerajaan Demak Bintara yang setia dan juga berpartisipasi dalam pembangunan Masjid Agung Demak.


    Sunan Muria berdakwah dengan cara yang halus. Cara tersebut digunakannya dalam menyiarkan Islam di sekitar Gunung Muria.

    Metode dakwah Sunan Muria yaitu dengan menggunakan kesenian dan tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dina (tiga harian), sampai nyewu (seribu hari) yang tidak diharamkannya. Hanya tradisi yang berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau sholawat.

    Sunan Muria juga berdakwah dengan menggunakan gamelan dan wayang. Hal ini dilakukan oleh Sunan Muria sebagai upaya mempertahankan metode dakwah ayahnya terdahulu.

    Selain itu, Sunan Muria juga menciptakan beberapa tembang. Tembang Sunan Muria yang terkenal adalah tembang Sinom dan Kinanthi. Melalui lagu-lagu inilah Sunan Muria mengajak masyarakat untuk mengamalkan ajaran Islam.

    Cara dakwah yang dilakukan Sunan Muria tersebut membuatnya dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah “tapa ngeli”, yaitu dengan “dengan menghanyutkan diri” dalam masyarakat.

    Keterampilan Sunan Muria

    Disebutkan dalam buku Seri Jejak Para Wali: Sunan Kalijaga, Sunan Muria adalah wali yang sakti dan kuat. Keterampilan yang dimiliki oleh Sunan Muria adalah bercocok tanam, berdagang, dan melaut.

    Sunan Muria sering kali diminta menjadi penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan permasalahan yang sangat rumit sekalipun.

    Ajaran Sunan Muria yang Masih Dilestarikan

    Dirangkum dari buku Walisongo: Sebuah Biografi karya Asti Musman, ajaran Sunan Muria masih dilestarikan hingga saat ini. Beberapa di antaranya yaitu:

    1. Bidang Kesenian

    Sunan Muria menciptakan beberapa tembang. Di antara tembangnya yang terkenal yaitu tembang Kinanthi dan Sinom.

    2. Tradisi Bancakan

    Sunan Muria tidak menghilangkan tradisi masyarakat Jawa sebelumnya, justru ia memberikan warna Islam pada tradisi tersebut. Tradisi bancakan dan tumpeng yang biasa dipersembahkan ke tempat-tempat yang angker diubah menjadi kenduri, yaitu mengirim doa kepada leluhur.

    3. Tradisi Syukuran

    Colo Muria adalah salah satu tradisi syukuran sebagai bentuk rasa syukur kepada alam dan Tuhannya yang secara massal dilaksanakan oleh masyarakat Colo Muria. Tradisi tersebut ditujukan untuk menghormati dan mensyukuri dengan apa yang ada di bumi, khususnya untuk masyarakat sekitar Muria.

    4. Pantangan Bekerja Tiap Kamis Legi

    Pantangan bekerja setiap Kamis Legi merupakan tradisi dari masyarakat Colo yang masih berlaku hingga saat ini. Jika masyarakat Colo ingin melakukan pekerjaan atau hajat tertentu, maka mereka harus ziarah ke makam Sunan Muria dan melakukan selamatan agar tidak mendapatkan malapetaka maupun sesuatu yang tidak baik.

    5. Melestarikan Lingkungan

    Sunan Muria meninggalkan situs yang dikeramatkan seperti buah parijoto, kayu pakis haji, air gentong yang terdapat di lokasi pemakaman, ngebul bulusan, pohon kayu adem ati, serta pohon jati keramat.

    Sampai saat ini, situs tersebut masih dipercayai oleh masyarakat. Pengeramatan situs ini sebenarnya merupakan upaya Sunan Muria untuk mendukung kelestarian lingkungan.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Strategi Dakwah Sunan Gunung Jati saat Sebarkan Islam


    Jakarta

    Sunan Gunung Jati adalah satu dari sembilan wali songo yang berdakwah di wilayah Jawa. Setidaknya ada tiga strategi dakwah Sunan Gunung Jati yang pada akhirnya berhasil menarik minat masyarakat untuk masuk Islam.

    Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Maulana Syarif Hidayatullah. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memiliki nama lain yang terkenal seperti Fatahillah, Syekh Nuruddin Ibrahim bin Maulana Ismail, Said Kamil, dan Maulana Syekh Makhdum Rahmatullah, sebagaimana disebutkan dalam buku Metode Dakwah Masyarakat Multikultur karya Rosidi.

    Sunan Gunung Jati memiliki jasa yang sangat besar untuk agama Islam dan Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama salah satu universitas, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


    Perjalanan Hidup Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati merupakan seorang ulama dan kesatria yang memasuki kawasan Jawa Barat. Ia berhasil menaklukkan kerajaan Hindu Pajajaran dan mendirikan dua kerajaan Islam, yaitu Banten dan Cirebon.

    Sunan Gunung Jati juga adalah pendiri dari Jayakarta, yang kini menjadi Jakarta. Ia membentuk kerajaan itu demi melawan bangsa Portugis yang menjajah Indonesia.

    Saat sudah menginjak usia dewasa, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah pergi ke Makkah untuk menimba ilmu agama Islam secara detail selama tiga tahun.

    Tiga tahun kemudian, Ia merantau ke tanah Jawa, tepatnya di daerah Demak. Ia menikah dengan adik kandung Sultan Trenggono yang saat itu berkuasa dari 1521-1546.

    Kala itu, Belanda berniat untuk menginvasi Jawa Barat dan melancarkan rencana ekspansinya. Hal ini pun membuat Sultan Trenggono marah. Saat itulah, Sunan Gunung Jati diutus untuk membendung pasukan Portugis.

    Sunan Gunung Jati berhasil mengendalikan Sunda Kelapa pada tahun 1527. Kemudian beliau memindahkan Sunda Kelapa ke Cirebon. Kerajaan Banten diserahkan kepada putranya, Sultan Maulana Hasanuddin.

    Sunan Gunung Jati kemudian menetap di Cirebon untuk berdakwah menyiarkan agama Islam hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada tahun 1570 di Gunung Jati. Makanya, ia dijuluki sebagai Sunan Gunung Jati.

    Metode Dakwah Sunan Gunung Jati

    Terdapat beberapa macam metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati. Berikut adalah metode dakwah Sunan Gunung Jati.

    1. Pendekatan Budaya

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang pertama adalah dengan pendekatan kultural dan menghormati budaya lokal. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus dan murid-muridnya.

    Penghormatan terhadap budaya lokal dipraktikkan dengan membuat menara masjid yang menggabungkan seni arsitektur Islam dengan arsitektur budaya Jawa.

    Tak hanya dari segi arsitektur, metode dakwah Sunan Gunung Jati juga merambah pada pemanfaatan kesenian tradisional seperti wayang dan gamelan sebagai salah satu sarana menyentuh hati masyarakat sehingga mereka mau menerima ajaran Islam.

    Sunan Gunung Jati juga menciptakan tembang-tembang yang berisi nasihat agama yang bersumber dari kitab suci dan hadits nabi. Ada juga nasihat yang berisi etika kehidupan untuk menuju keselamatan dunia dan akhirat serta ridha Allah SWT.

    Penggunakan seni budaya sebagai wasilah atau media dakwah Islam bertujuan agar masyarakat bisa menyerap ajaran Islam dengan lebih mudah dan akhirnya bisa digunakan sebagai pedoman kehidupan.

    2. Toleransi Tinggi terhadap Agama Lain

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang kedua adalah dengan meninggikan toleransi dengan agama lain yang ada di lingkungan masyarakat. Di mana saat itu mayoritas orang Jawa beragama Hindu atau Buddha.

    Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus dan murid-muridnya, Sunan Gunung Jati juga menerapkan sikap toleransi yang tinggi terhadap ajaran atau hukum-hukum yang dianut oleh agama Hindu-Buddha.

    Toleransi ini ditunjukkan dengan perilaku tidak menyembelih dan memakan sapi karena sapi adalah binatang yang dihormati oleh para pemeluk Hindu.

    3. Dimulai dari Lingkup Terdekat lalu Meluas

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati yang ketiga adalah dengan memulai dakwah dari lingkup terkecil hingga meluas sampai luar daerah.

    Disebutkan dalam buku Islam Abangan & Kehidupannya karya Rizem Aizid, proses dakwah Sunan Gunung Jati di tanah Pasundan membutuhkan waktu yang lama.

    Pada periode awal, Sunan Gunung Jati memulai dakwahnya di kawasan tempat tinggalnya saja, yakni Cirebon. Ia menyebarkan agama Islam sekaligus menjadi guru agama.

    Saat itu, Sunan Gunung Jati menggantikan Syekh Datuk Kahfi sebagai guru agama dan mengambil tempat di Gunung Sembung, Pasambangan (dekat Giri Amparan Jati).

    Setelah sukses, Sunan Gunung Jati pun melanjutkan dakwahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari sana, yakni di Dukuh Babadan. Kemudian meluas lagi sampai daerah Banten.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Wali Songo yang Menyebarkan Agama Islam di Demak?



    Jakarta

    Wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Ajarannya mudah diterima oleh masyarakat Jawa karena sangat toleran pada budaya lokal. Bagaimana cara beliau dalam menyebarkan agama Islam? Berikut ulasannya.

    Kerajaan Demak dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Pendiri kerajaan ini adalah Raden Patah pada akhir Abad ke-15 di Bintoro,Demak. Hal ini bersumber dari buku Kanjeng Sunan Kalijaga, Jejak-Jejak Sang Legenda karya Conie Wishnu W.

    Dalam mengatur Kerajaan Demak, pemerintahan dibantu oleh Dewan Penasihat yang bernama Wali Songo. Dewan ini bertugas memberikan masukan kepada raja serta menyelesaikan persoalan di masing-masing bidangnya.


    Seluruh Wali Songo ini memiliki peran yang sangat besar untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa dan Demak. Berikut nama wali yang memperluas agama Islam di Demak.

    a. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

    b. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

    c. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim

    d. Sunan Drajat atau Raden Qasim

    e. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq

    f. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

    g. Sunan Kalijaga atau Raden Sahid

    h. Sunan Muria atau Raden Umar Said

    i. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah

    Salah satu wali yang paling banyak dibicarakan apabila membicarakan tentang perluasan agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Muria.

    Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Nana Supriatna dalam bukunya yang berjudul Sejarah untuk Kelas XI SMA Program Bahasa.

    Tulisan kali ini akan membahas tentang sosok Sunan Kalijaga sebagai salah satu wali yang paling berpengaruh di Demak. Lantas, bagaimana sosoknya dan cara dakwahnya?

    Sosok Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga memiliki nama kecil Raden Said. Beliau adalah seorang wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Hal ini sebagaimana dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas IX oleh Murodi.

    Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Arya Wilatikta, adipati Tuban. Nama lain beliau yang banyak diketahui adalah Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

    Mengenai nama Kalijaga ada banyak versi yang menjelaskannya. Ada yang berpendapat nama ini diambil dari hobinya berendam di sungai (kungkum kali), sehingga orang-orang menyebutnya “jaga kali” atau Kalijaga.

    Sebagian yang lain menyebutkan nama ini diambil dari istilah Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan Demak kala itu.

    Menurut catatan sejarah Indonesia, Sunan Kalijaga termasuk dalam jajaran wali yang popular di kalangan masyarakat khususnya Jawa. Peran dan cara penyebaran Islam yang menggunakan pendekatan budayalah yang menjadikannya banyak dikenal oleh masyarakat.

    Lantas, bagaimana cara dakwah Sunan Kalijaga sebagai wali yang memperluas agama Islam di Demak?

    Dakwah Sunan Kalijaga

    Salah satu wali yang memperluas agama Islam di Demak adalah Sunan Kalijaga. Dakwah yang dilakukannya tergolong mudah diterima oleh masyarakat sehingga bisa berkembang pesat.

    Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga mempunyai pola yang sama seperti guru sekaligus sahabat dekatnya, yaitu Sunan Bonang. Beliau memiliki paham keagamaan yang cenderung sufistik berbasis salaf.

    Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan budaya lokal untuk media berdakwah. Oleh sebab itu, beliau dinilai sebagai wali yang toleran pada budaya lokal.

    Sunan Kalijaga berpendapat, jika pendirian atau budaya yang sudah melekat pada mereka dihilangkan atau diserang, maka mereka tidak akan mau mempelajari agama Islam. Oleh karena itu, beliau menyebarkan ajaran Islam secara bertahap sambil terus mempengaruhi mereka.

    Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta suluk sebagai media dakwahnya. Beliau yakin, apabila masyarakat sudah mengerti tentang agama Islam, maka kebiasaan lama mereka akan hilang dengan sendirinya. Karena inilah, ajaran beliau terkesan sinikretis.

    Terdapat beberapa peninggalan Sunan Kalijaga yang masih ada sampai sekarang. Beliau merupakan perancang Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang Tatal yang ada di masjid merupakan kreasi beliau.

    Selebihnya, Sunan Kalijaga juga merupakan pencipta dari baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja, lanskap pusat kota berupa keratin, dan alun-alun dengan dua beringin serta masjid.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Nama Asli Sunan Ampel dan di Mana Wilayah Dakwahnya? Ini Jawabannya



    Jakarta

    Wali Songo adalah sembilan orang yang memiliki peran yang sangat penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Di antara sembilan Wali Songo, salah satunya bernama Sunan Ampel.

    Selain metode dakwah yang berbeda, setiap Wali Songo memiliki nama asli masing-masing, begitu pula dengan Sunan Ampel. Lantas, siapa nama asli Sunan Ampel? Ini jawabannya.

    Nama Asli Sunan Ampel

    Merujuk pada buku Wali Sanga oleh Masykur Arif, nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Sebutan “Sunan” merupakan gelar kewaliannya, dan “Ampel”, “Ampeldenta”, atau “Ngampel Denta” merupakan julukan yang dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, yaitu daerah di dekat Surabaya.


    Diperkirakan Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 M di Campa. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa Campa adalah satu negeri yang terletak di Kamboja. Sedangkan ahli sejarah yang lain berpendapat bahwa Campa adalah suatu daerah yang terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa.

    Ayah Sunan Ampel adalah Maulana Malik Ibrahim atau terkenal dengan sebutan Sunan Gresik, Syekh Maghribi, Maulana Maghribi, Ibrahim Asmarakandi, atau Kakek Bantal. Sedangkan ibu Sunan Ampel bernama Dewi Candrawulan, kakak Dyah Dwarawati, istri Raja Majapahit Prabu Brawijaya.

    Metode Dakwah Sunan Ampel

    Setiap Wali Songo memiliki metode dakwahnya masing-masing, begitu pula dengan Sunan Ampel. Berikut metode dakwah yang diterapkan Sunan Ampel:

    – Menggunakan cara yang ramah

    Sunan Ampel terkenal karena sikap ramah yang dimilikinya. Keramahannya telah menjadi metode tersendiri dalam menyebarkan Islam. Sebab sikapnya yang ramah ini, banyak orang tertarik untuk masuk Islam. Sikap ramah adalah budi pekerti yang baik kepada orang lain, seperti berkata-kata luhur, baik hati, budi bahasa yang menarik, menyenangkan ketika bergaul dengan orang lain, dan sebagainya.

    – Beradaptasi dengan masyarakat setempat

    Ketika berdakwah, penting untuk beradaptasi dengan masyarakat setempat. Sebab adaptasi menjadi salah satu cara untuk bisa bergaul dan bersahabat dengan masyarakat setempat.

    Sunan Ampel yang datang dari negeri sebrang tidak akan pernah diterima masyarakat Jawa jika beliau tidak mampu beradaptasi dengan masyarakat. Dalam proses dakwahnya, jika Sunan Ampel mendapati tradisi setempat yang jauh dari ajaran Islam, beliau akan melakukan perubahan.

    – Memberikan cendera mata

    Meskipun dalam perjalanan dari Kerajaan Majapahit ke Ampeldenta, Sunan Ampel tetap melakukan dakwah. Metode dakwah yang dilakukannya sangat unik, yaitu memberikan cendera mata kepada penduduk yang berupa kipas dari anyaman akar pepohonan dan rotan.

    Kipas ini sangat berguna karena mengandung obat untuk menyembuhkan suatu penyakit ketika akar pada kipas itu dicelupkan pada air, kemudian di minum. Cukup membaca syahadat, maka penduduk tersebut dapat mendapatkan kipas ini.

    – Membuat pusat pendidikan

    Membuat pusat pendidikan merupakan salah satu cara untuk menyebarkan agama Islam. Sunan Ampel menggunakan sarana tempat pendidikan untuk dakwah di Ampeldenta.

    – Dakwah secara langsung

    Sunan Ampel terjun langsung kepada masyarakat dalam menjalankan dakwahnya. Beliau datang langsung kepada masyarakat, baik dalam bentuk perorangan maupun kelompok.

    – Membangun kekerabatan dengan penguasa

    Selain melakukan dakwah secara langsung, Sunan Ampel juga melakukan dakwah melalui ikatan-ikatan kekerabatan lewat jalan pernikahan dengan keluarga para raja dan tokoh-tokoh masyarakat. Metode ini sangat efektif untuk mengembangkan agama Islam dan menjaga Islam agar tetap eksis dalam sistem kekuasaan.

    – Mengirim utusan

    Sunan Ampel melakukan metode dakwah ini dengan menyuruh Raden Fatah untuk membuka perkampungan atau kota baru yang letaknya di hutan Bintara. Setelah itu terbentuk perkampungan baru, lalu menjadi imam masyarakat baru nanti. Selain itu, Sunan Ampel juga mengirim utusan sebagai juru dakwah kepada raja-raja.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com