Tag: wall street

  • Wall Street Ungkap Kunci Sukses Ethereum yang Bikin Bitcoin Panik

    Startup Etherealize melihat momentum besar dalam dunia keuangan. Mereka percaya kebutuhan privasi di Wall Street akan menjadi pemacu utama adopsi teknologi privasi di Ethereum, khususnya zero-knowledge proofs (ZK proof).

    Menurut Danny Ryan, Co-Founder dan President Etherealize, lembaga keuangan tidak dapat beroperasi secara transparan seperti di blockchain publik.

    “Pasar tidak bisa, dan tidak akan bisa, berjalan sepenuhnya terbuka. Jika kita ingin melibatkan dunia dalam blockchain, ‘semua orang melihat semua trending’ tidak akan berhasil,” kata Danny sebagaimana dikutip dari Decrypt pada Minggu (7/9).

    Di sisi lain, Fishy, trading strategi dan operasi treasury institusional sering kali tidak ingin terlihat seluruhnya di publik, walau efisiensi blockchain terbukti lebih baik daripada sistem klasik.

    Baca Juga: Harga Ethereum Melonjak, Sinyal Bull Run Kripto?

    Etherealize Raih USD 40 Juta: Privasi Jadi Tengah Pembangunan

    Etherealize baru saja menutup pendanaan Seri A sebesar USD 40 juta, dipimpin oleh Electric Capital dan Paradigm, sebagai penguatan untuk membangun infrastruktur Ethereum kelas institusional: sistem privasi ZK, settlement engine, dan aplikasi untuk tokenisasi aset berbasis fixed-income.

    Menurut Ryan, pendanaan ini menjadi titik awal “Institutional Merge”—transformasi jalur keuangan tradisional menjadi lebih modern, aman, dan global lewat Ethereum.

    Efek Domino: Privasi Institusional Menuju Mainstream

    Ketika institusi menuntut privasi on-chain, arus perubahan akan menyasar pengguna ritel juga.

    Etherealize berharap bahwa teknologinya akan mempercepat adopsi privasi praktis dan sesuai regulasi di mainstream blockchain.

    Temuan dari komunitas Ethereum menguatkan hal itu. Mereka menilai bahwa ZK proofs adalah game changer yang dapat menyelesaikan masalah privasi.

    Dan perhatian lebih kepada teknologi ini dianggap bermanfaat untuk semua pengguna, bukan sekadar institusi.

    Privasi Tidak Hanya di Ethereum

    Ethereum mungkin berada di garis depan, tetapi beberapa proyek blockchain lain juga sudah merangkul privasi sebagai fitur dasar. Contohnya:

    • Tempo, blockchain hasil inkubasi Stripe & Paradigm.
    • Arc, layer-1 dari Circle, menghadirkan transaksi dan saldo terproteksi.

    Namun kehadiran institusional di Ethereum, ekosistem yang telah kuat dan terbuka, diprediksi dapat mempercepat adopsi privasi lintas platform dengan lebih cepat.

    Mengapa Ini Momen Penting untuk Ethereum

    1. Dorongan dari Pelaku Utama Keuangan
      Privasi kini menjadi kebutuhan utama, bukan tambahan. Ethereum akan lebih mudah diterima oleh institusi jika standar privasi terpenuhi.
    2. Peningkatan Standar Teknologi
      ZK proofs tak hanya ideal untuk privasi, tetapi juga skala—membuka jalan untuk aplikasi lebih kompleks di atas Ethereum.
    3. Normalisasi Privasi di Kalangan Ritel
      Ketika standar institusional lebih tinggi, pengguna ritel turut merasakan keuntungannya dalam keamanan dan kenyamanan.

    Baca Juga: Ethereum Kehabisan Napas? Cadangan Devisa ETH Terpuruk Dalam 3 Tahun

    Maka dari itu, Etherealize dengan kepercayaan penuh pada potensi Ethereum sebagai infrastruktur keuangan masa depan membawa “Privacy” bukan hanya sebagai konsep, melainkan sebagai jalan konkret menuju mainstream.

    Dengan dukungan dana USD 40M dan jaringan institusional yang luas, mereka meletakkan dasar untuk privasi skala besar, bukan sekadar untuk segelintir elit, tapi untuk seluruh ekosistem blockchain.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Menanti Upaya SEC Membuka Pintu Besar untuk Revolusi Kripto

    Pada awal September 2025, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menancapkan tonggak sejarah baru dalam regulasi aset digital.

    Dalam agenda regulasi terbaru mereka, SEC memperkenalkan serangkaian inisiatif yang tidak hanya akan menyederhanakan aturan, tapi juga membuka jalan bagi masuknya kripto ke perdagangan arus utama.

    Dari Penindakan ke Inovasi

    Ketua SEC, Paul Atkins, menegaskan bahwa ini adalah “hari baru” bagi lembaga tersebut, dengan fokus yang diperbarui pada mendukung inovasi, pembentukan modal, efisiensi pasar, dan perlindungan investor.

    Agenda musim semi 2025 ini menyoroti peraturan yang sedang dipertimbangkan terkait penawaran dan penjualan aset kripto, termasuk pemberian “safe harbors” dan pengecualian tertentu yang bertujuan memberikan kepastian hukum kepada pasar yang sebelumnya abu-abu.

    Baca Juga: Selamat! SEC Setujui ETF Kripto Multi‑Aset Untuk XRP, SOL, ADA

    Safe Harbor dan Deregulasi Broker-Dealer

    Salah satu perubahan radikal adalah usulan kerangka “safe harbor” yang mampu mengurangi beban regulasi bagi perusahaan kripto.

    Langkah ini memungkinkan startup kripto beroperasi dengan lebih leluasa: apakah dalam penawaran token seperti ICO, airdrop, atau reward jaringan—dengan kepastian hukum yang lebih besar.

    Selain itu, aturan broker-dealer dikaji ulang agar prosedur pelaporan dan kepatuhan tidak lagi membebani lembaga keuangan dalam domain kripto.

    Kripto di Bursa Terkurasi: ATS dan National Exchanges

    SEC tengah merancang perubahan terhadap Exchange Act, memungkinkan perdagangan aset kripto di sistem perdagangan alternatif (ATS) maupun bursa saham nasional.

    Ini akan menjadi perubahan fundamental: kripto tidak lagi hanya diperdagangkan di platform non-regulasi, tetapi bisa hadir di jalur resmi Wall Street.

    Reuters juga melaporkan bahwa agenda ini mencakup definisi baru penawaran digital aset serta potensi pengecualian atau safe harbor bagi perdagangan di bursa saham.

    Kolaborasi SEC dan CFTC: Klarifikasi di Zona Abu-Abu

    Pada 2 September 2025, SEC dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) mengumumkan inisiatif bersama: memperjelas aturan bagi transaksi kripto spot ritel yang memanfaatkan leverage, margin, atau pembiayaan.

    Tujuannya adalah kolaborasi lintas-regulator agar risiko pasar dapat dikelola dengan lebih baik dan melindungi investor dari praktik-perikatan yang tidak jelas.

    Project Crypto: Transformasi Besar Menuju Integrasi On-Chain

    Sebelumnya, pada 31 Juli 2025, melalui inisiatif “Project Crypto,” SEC di bawah pimpinan Atkins memperkenalkan visi futuristik: menjadikan pasar AS bergerak on-chain.

    Rencana ini mencakup klasifikasi aset kripto, menuju kecocokan regulasi untuk DeFi, ekosistem all-in-one (trading, staking, lending), serta tokenisasi aset tradisional seperti saham dan reksa dana.

    Pendekatan ini jelas menunjukkan dorongan kuat ke arah integrasi digital finance dan teknologi blockchain.

    Mendorong Inovasi, Mengurangi Beban

    Keseluruhan agenda ini mencakup upaya mengurangi beban kepatuhan, menyederhanakan jalur pengumpulan modal (capital formation), serta memperbarui mekanisme pengungkapan dan audit yang selama ini dirasa berlebihan.

    Reforma ini dapat mendorong arus masuk modal institusional dan mendorong lahirnya inovasi tanpa hambatan regulasi tak jelas.

    Kenapa Ini Begitu Vital?

    Kepastian hukum bagi startup dan investor menjadi krusial, safe harbor, menjawab itu. Akses ke bursa arus utama memberi likuiditas dan legitimasi baru untuk aset digital.

    Selain itu, sinergi SEC–CFTC menunjukkan bahwa pemerintah bergerak menuju koordinasi yang efektif dalam zona abu-abu.

    Adanya Project Crypto menandakan era baru di mana sistem keuangan tradisional dan blockchain semakin terintegrasi.

    Baca Juga: Bitcoin Ungguli Wall Street: $86 Miliar Cadangan Kripto Korporasi

    Risiko dan Tantangan

    Meski penuh harapan, ada tantangan nyata. Apakah institusi keuangan global siap menerima perdagangan kripto di bursa?

    Apakah keamanan dan perlindungan investor tetap menjadi prioritas? Masa transisi ini juga akan diuji kemampuan legislasi dan implementasi di level federal maupun negara bagian.

    Dengan agenda ini, SEC sedang menuntun kripto dari zona “divisi pengejaran hukum” ke “zona kolaborasi dan inovasi.”

    Jika ketentuan ini terealisasi, era baru integrasi kripto ke Wall Street kemungkinan besar akan terbuka lebar.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Wall Street Serbu Bitcoin dan Stablecoin

    Perdebatan Wall Street soal kripto resmi berakhir. Bank-bank terbesar dunia kini tidak lagi mempertanyakan legitimasi aset digital, melainkan berlomba membangun infrastruktur kripto mereka sendiri, mulai dari Bitcoin, stablecoin, hingga uang tunai berbasis blockchain (tokenized cash).

    Selama bertahun-tahun, industri perbankan memandang kripto sebagai risiko yang harus dikendalikan. Namun sikap itu berubah drastis. Alih-alih menjauh, bank-bank global kini aktif mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam layanan keuangan arus utama, baik melalui produk investasi teregulasi maupun sistem pembayaran digital.

    Perubahan ini tercermin dari serangkaian langkah strategis yang diambil JPMorgan, Morgan Stanley, Barclays, dan Bank of America dalam sepekan terakhir.

    JPMorgan dorong token dolar ke jaringan blockchain baru

    JP Morgan
    JP Morgan

    JPMorgan mengumumkan rencana memperluas token simpanan dolar AS miliknya, JPM Coin (JPMD), ke Canton Network, sebuah blockchain layer-1 yang berfokus pada privasi dan interoperabilitas.

    Melalui kerja sama dengan Digital Asset dan unit blockchain internalnya, Kinexys, JPM Coin akan memungkinkan perpindahan uang digital yang teregulasi antarjaringan blockchain. JPM Coin sendiri merupakan token simpanan dolar AS yang mewakili klaim langsung atas deposito JPMorgan dan dirancang untuk transaksi institusional yang lebih cepat dan aman.

    CEO Digital Asset, Yuval Rooz, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah nyata menuju sistem uang digital teregulasi yang dapat bergerak secepat pasar global.

    Morgan Stanley masuk pasar ETF kripto

    Morgan Stanley resmi memasuki persaingan exchange-traded fund (ETF) kripto dengan mengajukan dua produk baru ke otoritas pasar modal AS. Produk tersebut adalah Morgan Stanley Bitcoin Trust dan Morgan Stanley Solana Trust, yang memberikan eksposur pasif terhadap harga Bitcoin dan Solana.

    Jika disetujui, ETF ini berpotensi menjangkau lebih dari 19 juta klien divisi wealth management Morgan Stanley. Langkah ini menyusul kesuksesan besar ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, yang kini secara kolektif mengelola lebih dari 1,3 juta BTC dengan nilai mendekati US$120 miliar.

    Baca juga: Wall Street Menghijau, Saham Blockchain AS Melejit Tajam! Ini Pemicunya

    Barclays bertaruh pada infrastruktur stablecoin

    Dari Eropa, Barclays mencatatkan langkah penting dengan melakukan investasi pertamanya di sektor stablecoin. Bank asal Inggris tersebut menanamkan modal pada Ubyx, perusahaan clearing stablecoin berbasis di AS yang menghubungkan penerbit stablecoin teregulasi dengan lembaga keuangan.

    Barclays menyebut investasi ini sebagai bagian dari eksplorasi peluang uang digital baru, termasuk stablecoin. Langkah ini menandai perubahan sikap Barclays, yang sebelumnya dikenal vokal menyoroti risiko aset digital.

    Bank of America izinkan rekomendasi ETF Bitcoin

    Sementara itu, Bank of America semakin membuka pintu bagi kripto di layanan wealth management-nya. Bank tersebut telah mengizinkan penasihat keuangan di Private Bank dan Merrill Edge untuk merekomendasikan ETF Bitcoin spot kepada klien.

    Empat ETF yang disetujui berasal dari Bitwise, Fidelity, BlackRock, dan Grayscale, dengan total aset kelolaan lebih dari US$100 miliar. Sebelumnya, Bank of America juga menyarankan alokasi 1% hingga 4% portofolio ke aset digital bagi investor yang siap menghadapi volatilitas tinggi.

    Era baru perbankan dan kripto

    Serangkaian langkah ini menegaskan bahwa sektor perbankan global tidak lagi sekadar mengamati perkembangan kripto dari pinggir lapangan. Integrasi Bitcoin, stablecoin, dan uang digital teregulasi kini menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang Wall Street.

    Dengan bank-bank besar mulai membangun langsung di atas blockchain, batas antara keuangan tradisional dan aset digital semakin kabur, menandai fase baru dalam evolusi sistem keuangan global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Wall Street Menghijau, Saham Blockchain AS Melejit Tajam! Ini Pemicunya

    Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan 20 Desember, mendorong lonjakan signifikan pada saham-saham berbasis blockchain dan teknologi. Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif investor di tengah penguatan pasar secara luas, sebagaimana dilaporkan oleh Cailian Press.

    Dilaporkan Coincu, penguatan indeks saham AS terjadi seiring kenaikan mayoritas saham teknologi besar. Oracle tercatat melonjak lebih dari 6 persen, Nvidia naik hampir 4 persen, sementara Broadcom menguat lebih dari 3 persen. Kinerja positif saham-saham raksasa teknologi tersebut turut menjadi katalis bagi reli saham-saham berkonsep blockchain.

    Kenaikan Saham AS Memicu Lonjakan Teknologi Blockchain

    Seiring dengan penguatan sektor teknologi, saham blockchain di AS juga mencatatkan kenaikan yang menonjol. Pergerakan ini menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap perusahaan yang bergerak di teknologi transformatif, termasuk blockchain, meski tidak disertai dampak langsung pada harga aset kripto.

    Analis pasar menilai bahwa lonjakan saham blockchain kali ini sejalan dengan rotasi sektor yang terjadi di pasar, di mana investor mulai kembali melirik teknologi berorientasi masa depan. Secara historis, saham-saham blockchain kerap bergerak searah dengan tren pemulihan sektor teknologi yang lebih luas.

    Saham Blockchain Tetap Tangguh

    Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari regulator maupun pimpinan industri terkait penguatan saham-saham tersebut. Namun, para pengamat menilai kinerja saham blockchain banyak mencerminkan dinamika investasi di sektor teknologi secara umum.

    Kenaikan pasar saham AS dan reli saham blockchain ini dinilai dapat memengaruhi strategi investasi ke depan, terutama bagi investor yang menempatkan teknologi dan inovasi digital sebagai fokus utama portofolio mereka.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • NYSE Siapkan Settlement Blockchain: Era Baru Wall Street?

    New York Stock Exchange (NYSE) semakin serius menjajaki pemanfaatan teknologi blockchain dalam infrastruktur pasar modal.

    Namun berbeda dengan narasi disruptif yang sering melekat pada kripto, pendekatan yang diambil justru bersifat evolusioner: bukan mengganti sistem lama, melainkan “melapisinya” dengan teknologi baru.

    Berdasarkan laporan CoinDesk, NYSE tengah mengeksplorasi sejumlah inovasi penting, termasuk settlement real-time atau near real-time, perpanjangan jam perdagangan, hingga interoperabilitas antara aset yang ditokenisasi dengan sistem keuangan tradisional.

    Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma di level institusional. Jika sebelumnya pertanyaan utamanya adalah “apakah blockchain akan digunakan?”, kini bergeser menjadi “bagaimana blockchain diintegrasikan tanpa mengganggu sistem yang sudah berjalan.”

    Baca Juga: Cerita Pendek Bitcoin dengan Bakkt dan NYSE

    Integrasi, Bukan Disrupsi

    Alih-alih melakukan overhaul total terhadap infrastruktur keuangan, NYSE tetap mempertahankan komponen inti seperti clearing terpusat, perlindungan investor, serta kerangka regulasi yang sudah mapan. Blockchain diposisikan sebagai lapisan tambahan untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas.

    Langkah ini dianggap lebih realistis, mengingat kompleksitas sistem pasar modal global yang telah terbangun selama puluhan tahun. Integrasi bertahap memungkinkan inovasi tanpa memicu risiko sistemik yang besar.

    Salah satu fokus utama adalah settlement transaksi yang lebih cepat.

    Saat ini, proses penyelesaian transaksi saham masih membutuhkan waktu (T+1 atau lebih), sementara blockchain berpotensi memangkasnya menjadi hampir instan. Efisiensi ini bisa berdampak besar pada likuiditas dan pengurangan risiko counterparty.

    Tokenisasi Jadi Kunci

    Selain settlement, NYSE juga melihat potensi besar pada tokenisasi aset.

    Dengan mengubah aset tradisional menjadi token digital di blockchain, perdagangan bisa menjadi lebih fleksibel, transparan, dan bahkan dapat diakses di luar jam pasar konvensional.

    Interoperabilitas antara aset tokenized dan sistem lama menjadi aspek krusial. Ini memastikan bahwa inovasi tidak menciptakan fragmentasi, melainkan justru memperluas fungsi dari infrastruktur yang sudah ada.

    Pendekatan ini juga membuka peluang untuk memperpanjang jam perdagangan, bahkan menuju pasar yang beroperasi hampir 24/7, tanpa harus membangun sistem baru dari nol.

    Perspektif Industri: Diam-Diam Tapi Signifikan

    Tim riset dari Tokocrypto menilai strategi ini sebagai bentuk adopsi institusional yang sangat signifikan, meski tidak terlihat revolusioner di permukaan.

    “Ini jelas adopsi level institusional karena pesan dari NYSE bukan lagi ‘apakah blockchain dipakai’, tapi ‘bagaimana blockchain dipasang tanpa merusak mesin Wall Street yang sudah berjalan.’ Pendekatan seperti ini jauh lebih berbahaya buat sistem lama justru karena ia tidak revolusioner di permukaan, tapi perlahan membuat tokenisasi terasa normal dan tak terhindarkan,” kata Tim Research Tokocrypto.

    Menurut mereka, pendekatan “diam-diam” ini justru berpotensi mempercepat normalisasi blockchain di dunia keuangan. Ketika teknologi diintegrasikan tanpa gesekan besar, resistensi dari pelaku industri cenderung lebih rendah.

    Dampak Jangka Panjang

    Jika strategi ini berhasil, dampaknya bisa sangat luas. Blockchain tidak lagi dipandang sebagai alternatif sistem keuangan, tetapi sebagai bagian integral dari infrastruktur yang ada.

    Hal ini juga bisa menjadi sinyal kuat bagi regulator dan institusi lain untuk mengikuti jejak serupa. Dengan tetap mempertahankan kerangka regulasi, adopsi blockchain bisa berjalan lebih harmonis tanpa menimbulkan ketidakpastian hukum.

    Di sisi lain, pendekatan ini juga memperkuat narasi bahwa masa depan keuangan bukanlah “tradisional vs kripto”, melainkan kombinasi keduanya.

    Baca Juga: NYSE Siap Tokenisasi Saham, Sinyal Bullish Besar untuk Kripto

    Langkah NYSE menunjukkan bahwa evolusi teknologi finansial tidak selalu harus bersifat disruptif. Integrasi bertahap blockchain ke dalam sistem lama justru bisa menjadi strategi paling efektif untuk mendorong adopsi massal.

    Dengan fokus pada efisiensi, interoperabilitas, dan stabilitas, NYSE tampaknya sedang membangun fondasi baru bagi pasar modal—tanpa harus meruntuhkan yang lama.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aset Tokenisasi Wall Street Masuk 165 Blockchain via LayerZero

    Protokol interoperabilitas LayerZero resmi mengintegrasikan Canton Network, menjadikannya sebagai protokol pertama yang aktif di jaringan blockchain institusional tersebut.

    Integrasi terbaru yang dilakukan LayerZero Labs dengan Canton Network menjadi salah satu langkah paling signifikan dalam evolusi industri kripto, khususnya di sektor tokenisasi aset dunia nyata (Real World Assets/RWA).

    Melalui integrasi ini, LayerZero resmi menjadi protokol interoperabilitas pertama yang aktif di Canton, membuka jalur bagi aset-aset tokenized untuk mengalir dari jaringan privat institusional ke lebih dari 165 blockchain publik.

    Baca Juga: LayerZero (ZRO) Melejit 31%, Sinyal Bullish Mulai Terbentuk

    Mendobrak Batas Interoperabilitas

    Sebagaimana dikutip dari Cryptobriefing, upaya yang dilakukan LayerZero ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis.

    Selama ini, Canton Network dikenal sebagai infrastruktur blockchain yang digunakan oleh institusi keuangan besar untuk mengelola aset seperti obligasi pemerintah (Treasuries), digital cash yang diterbitkan bank, hingga berbagai instrumen pasar modal on-chain.

    Namun, salah satu keterbatasan utama dari sistem ini adalah isolasi likuiditas, aset yang ada di dalamnya sulit mengakses pasar kripto yang lebih luas. Dengan hadirnya LayerZero sebagai jembatan interoperabilitas, batas tersebut mulai runtuh.

    Aset yang sebelumnya hanya beredar di lingkungan tertutup kini berpotensi diperdagangkan, digunakan sebagai jaminan (collateral), atau diintegrasikan ke dalam aplikasi DeFi di berbagai blockchain publik.

    Transformasi ini mencerminkan pergeseran besar dalam narasi industri. Jika sebelumnya kripto dan keuangan tradisional (TradFi) berjalan di jalur terpisah, kini keduanya mulai terhubung melalui infrastruktur yang lebih matang.

    Lebih Dekat dengan Public Chains

    LayerZero tidak lagi sekadar berperan sebagai protokol bridging antar chain kripto, melainkan mulai menempati posisi sebagai penghubung antara sistem keuangan teregulasi dan ekosistem blockchain terbuka.

    Tim Research Tokocrypto menilai perkembangan ini sebagai katalis penting bagi ekosistem LayerZero dan token ZRO.

    “Ini salah satu katalis paling serius buat ZRO karena arah LayerZero jelas bergeser dari sekadar bridging antar ekosistem kripto ke penyambung infrastruktur keuangan teregulasi dengan public chains. Kalau narasi ini benar-benar dieksekusi, ZRO bisa makin diposisikan sebagai middleware penting di era tokenisasi aset dunia nyata, bukan cuma token bridge biasa.”

    Dari sisi pasar, implikasinya cukup luas. Integrasi ini membuka peluang bagi masuknya likuiditas institusional ke dalam ekosistem kripto dengan cara yang lebih terstruktur dan compliant.

    Institusi keuangan yang sebelumnya ragu masuk ke DeFi karena faktor regulasi kini memiliki jalur yang lebih aman untuk berinteraksi dengan blockchain publik.

    Selain itu, investor kripto juga berpotensi mendapatkan akses yang lebih mudah terhadap instrumen keuangan tradisional dalam bentuk tokenized, seperti obligasi pemerintah atau produk fixed income lainnya. Ini menciptakan peluang diversifikasi baru tanpa harus keluar dari ekosistem on-chain.

    Baca Juga: Harga ZRO Hari Ini Melejit 18%, LayerZero Jadi Magnet Pasar Kripto

    Tantangan Dan Peluang

    Integrasi LayerZero dengan Canton Network menandai langkah besar dalam evolusi industri kripto, khususnya dalam menghubungkan aset dunia nyata dengan ekosistem blockchain publik.

    Dengan membuka akses ke lebih dari 165 jaringan, LayerZero tidak hanya memperluas fungsi interoperabilitasnya, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai penghubung utama antara keuangan tradisional dan digital.

    Meski demikian, proses adopsi tidak akan terjadi secara instan. Integrasi antara sistem privat yang sangat diatur dengan blockchain publik tetap menghadapi tantangan, terutama dari sisi regulasi, compliance, serta kebutuhan akan transparansi dan keamanan yang tinggi.

    Namun, arah yang ditunjukkan oleh langkah ini jelas: industri sedang bergerak menuju integrasi yang lebih dalam antara TradFi dan DeFi.

    Jika implementasi berjalan sesuai rencana, LayerZero berpotensi menjadi salah satu pemain kunci dalam era tokenisasi global.

    Dengan semakin banyaknya institusi yang mengeksplorasi tokenisasi dan kebutuhan akan likuiditas lintas jaringan, peran protokol interoperabilitas seperti LayerZero diperkirakan akan semakin krusial.

    Jika eksekusi integrasi ini berjalan sesuai rencana, LayerZero berpotensi menjadi salah satu infrastruktur inti dalam era baru keuangan digital, di mana aset dunia nyata tidak hanya ditokenisasi, tetapi juga dapat bergerak bebas di seluruh ekosistem blockchain global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Wall Street Serbu ETF Solana, Dana $540 Juta Mengalir ke SOL

    Investor institusional dari Wall Street dilaporkan mengalirkan lebih dari US$540 juta ke produk exchange-traded fund (ETF) Solana di Amerika Serikat pada kuartal keempat 2025. Data tersebut menunjukkan meningkatnya minat lembaga keuangan terhadap aset kripto alternatif di luar Bitcoin dan Ethereum.

    Informasi ini berasal dari analis ETF Bloomberg, James Seyffart, yang mengolah data dari laporan kepemilikan institusional (13F filings) yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC).

    Institusi Besar Jadi Pembeli Utama

    Menurut data tersebut, perusahaan modal ventura Electric Capital dan bank investasi Goldman Sachs menjadi dua pembeli terbesar ETF Solana.

    Dilaporkan Cointelegraph, Electric Capital tercatat memiliki eksposur sekitar US$137,8 juta, sementara Goldman Sachs memegang sekitar US$107,4 juta dalam produk ETF tersebut.

    Beberapa institusi lain yang juga masuk dalam lima besar pemegang ETF Solana termasuk Elequin Capital, SIG Holding, dan Multicoin Capital.

    Selain itu, lembaga keuangan besar seperti Morgan Stanley dan Citadel Advisors juga tercatat membeli ETF Solana setelah peluncuran produk tersebut di Amerika Serikat.

    Penasihat Investasi Dominasi Kepemilikan

    Jika dilihat berdasarkan kategori institusi, penasihat investasi menjadi kelompok investor terbesar dalam ETF Solana.

    Kelompok ini menguasai lebih dari US$270 juta dari total kepemilikan ETF. Sementara itu, manajer hedge fund berada di posisi kedua dengan nilai investasi sekitar US$186,4 juta.

    Perusahaan holding dan broker tercatat memegang sekitar US$59,5 juta dan US$20,3 juta. Sementara bank memiliki porsi yang lebih kecil dengan sekitar US$4,5 juta.

    Secara keseluruhan, kepemilikan ETF tersebut setara dengan sekitar 4,3 juta token SOL.

    Menurut Tim Research Tokocrrypto, secara onchain dan pasar, arus dana sebesar ini penting karena memperkuat kasus bahwa Solana mulai masuk radar alokasi institusional, bukan cuma tema retail dan ekosistem onchain.

    “Jika arus seperti ini berlanjut dan didukung aktivitas jaringan yang sehat, SOL bisa membangun fondasi valuasi yang lebih kuat, meski dalam jangka pendek harga tetap sensitif terhadap kondisi likuiditas dan rotasi pasar crypto secara keseluruhan,” katanya.

    Nilai Investasi Turun Seiring Harga SOL

    Meski minat institusional terlihat kuat, nilai pasar dari kepemilikan tersebut mengalami penurunan seiring melemahnya harga Solana.

    Sejak akhir kuartal keempat 2025, harga SOL dilaporkan turun lebih dari 30%, dari sekitar US$124,95 menjadi sekitar US$86 pada saat data terakhir dicatat.

    Penurunan harga ini otomatis mengurangi nilai pasar dari kepemilikan institusi dalam ETF tersebut.

    Arus Dana ETF Tetap Stabil

    Meski harga Solana melemah, arus dana ke ETF Solana tetap menunjukkan stabilitas.

    Analis ETF Bloomberg lainnya, Eric Balchunas, menyebut bahwa aliran dana ke produk ETF Solana tetap kuat dalam beberapa bulan terakhir.

    Sekitar 50% aset ETF Solana saat ini dimiliki oleh institusi yang wajib melaporkan kepemilikan mereka melalui dokumen 13F, yang menunjukkan bahwa basis investor produk tersebut didominasi oleh pelaku pasar profesional.

    Data dari Farside Investors juga menunjukkan bahwa sejak diluncurkan di Amerika Serikat pada Oktober 2025, ETF Solana telah mengumpulkan sekitar US$952 juta arus dana masuk secara kumulatif.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Menguat ke $70.682, Sentimen Pulih


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kripto Anjlok US$ 270 M, Bitcoin Sempat Jatuh ke Level US$ 54.000


    Jakarta

    Nilai pasar kripto secara keseluruhan anjlok pada hari Minggu kemarin hingga US$ 270 miliar atau sekitar Rp 4.347 triliun dalam jangka waktu 24 jam. Hal ini disebabkan karena investor berbondong-bondong menjual aset berisiko seperti bitcoin dan ether.

    Dikutip dari CNBC Internasional, Senin (5/8/2024), data CoinGecko menunjukkan, Bitcoin turun hingga 11% dan ether turun 21% dalam waktu 24 jam. Hal ini membuat nilai keseluruhan mata uang kripto anjlok sekitar US$ 270 miliar.

    Kondisi ini bertepatan dengan penurunan ekuitas di pasar Asia-Pasifik. Nikkei 225 Jepang anjlok hingga 7%, memperpanjang kerugian yang dimulai minggu lalu, setelah Bank of Japan mengumumkan akan menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 16 tahun.


    Lalu di Amerika Serikat (AS), Nasdaq merosot 3,4% minggu lalu ke wilayah koreksi, mengakhiri tiga minggu terburuk indeks yang sarat teknologi itu sejak September 2022. Saham Amazon dan Nvidia berkontribusi terhadap penurunan tersebut.

    “Penurunan saham minggu lalu sebagian terkait dengan laba yang mengecewakan, laporan pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, pengangguran yang lebih tinggi, dan sektor manufaktur yang menurun,” tulis CNBC.

    Di tengah kondisi tersebut, Federal Reserve AS memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil dan tidak menjanjikan penurunan suku bunga pada bulan September. Suku bunga yang lebih rendah cenderung berkorelasi dengan kinerja yang lebih baik untuk aset berisiko.

    Bitcoin Merosot ke Level US$ 54.000

    Sementara itu, harga Bitcoin telah mencapai level terendah sejak Februari. Mata uang kripto terbesar di dunia itu diperdagangkan sekitar US$ 54.000 atau sekitar Rp 869,4 juta. Meski demikian, harganya masih mencatatkan kenaikan hampir 23% tahun ini.

    Sedangkan harga ether, token asli yang menopang blockchain ethereum, turun menjadi sekitar US$ 2.300 atau setara Rp 37,03 juta dan telah menghapus keuntungannya untuk tahun ini. Token BNB Binance turun lebih dari 15% dan Solana diperdagangkan 10% lebih rendah.

    Kondisi hancurnya pasar kripto diproyeksikan akan segera dirasakan oleh basis investor yang lebih luas. Hal ini imbas atas Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menyetujui dana yang diperdagangkan di bursa spot baru atau ETF bitcoin spot untuk bitcoin dan ether.

    ETF telah melihat ratusan juta dolar mengalir ke koin tersebut. Pada hari Jumat lalu, CNBC melaporkan bahwa Morgan Stanley akan segera mengizinkan 15.000 penasihat keuangannya untuk menawarkan ETF bitcoin kepada kliennya. Ini merupakan langkah pertama di antara bank-bank besar Wall Street untuk mengadopsi kripto ke dalam portofolio investasinya.

    (shc/das)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tesla Diramal Bisa Cetak Laba Rp 1,33 T dari Aset Kripto


    Jakarta

    Produsen kendaraan listrik Tesla (TSLA.O) berpotensi membukukan laba sebesar US$ 80 juta atau setara Rp 1,33 triliun (kurs Rp 16.600) pada kuartal III 2025. Hal ini ditopang oleh kepemilikan aset kripto perusahaan dalam bentuk Bitcoin.

    Mengutip Coin Desk, Kamis (23/10/2025), Tesla masih memegang 11.509 BTC, senilai sekitar US$ 1,35 miliar pada akhir kuartal III 2025. Nilai aset tersebut naik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 1,24 miliar.

    Tesla tampaknya tidak melakukan perubahan apa pun dalam kepemilikan Bitcoin-nya selama kuartal III. Tetapi kenaikan harga Bitcoin selama tiga bulan tersebut memungkinkan perusahaan untuk membukukan laba US$ 80 juta.


    Sebagai perbandingan, EBITDA yang disesuaikan untuk kuartal tersebut adalah US$ 4,3 miliar. Lalu perusahaan memiliki total kas dan setara kas sebesar US$ 41,6 miliar pada akhir kuartal.

    Produsen kendaraan listrik ini melaporkan pendapatan kuartal III sebesar US$ 28,1 miliar, melampaui estimasi sebesar US$ 26,36 miliar. EPS yang disesuaikan (tidak termasuk keuntungan aset digital) sebesar US$ 0,50, lebih rendah dari perkiraan sebesar US$ 0,54.

    Untuk hasil operasional, Tesla melampaui estimasi pendapatan. Meski demikian, angka ini masih jauh dari konsensus Wall Street mengenai EPS yang disesuaikan.

    Berkat aturan FASB yang baru, Tesla kini harus mengakui keuntungan atau kerugian Bitcoin setiap kuartal. Sebelumnya, perusahaan diharuskan untuk menurunkan nilai kepemilikan mereka ke nilai terendah yang dicapai selama periode pelaporan.

    Sementara itu, saham sedikit melemah dalam perdagangan setelah jam kerja. Saham TSLA tercatat bertengger di posisi US$ 434.

    Lihat juga Video: Elon Musk Gandeng Samsung untuk Pasok Chip di Tesla

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Rencana Trump Caplok Greenland Bikin Harga Bitcoin Melorot!


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis US$ 90.000 atau sekitar Rp 1,52 miliar (kurs Rp 16.900) pada perdagangan Rabu (21/1). Penurunan bitcoin terjadi seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko.

    Pelemahan terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.

    Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$ 87.000 sebelum bergerak fluktuatif. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global.


    Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai. Menanggapi kondisi ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.

    “Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).

    Menurut Antony, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.

    “Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga,” lanjutnya.

    Ia menambahkan bahwa sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam seringkali beriringan dengan guncangan makro, terutama ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional.

    “Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” sebut Antony.

    Meski demikian, Antony menekankan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek.

    “Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” tutup Antony.

    Antony menekankan bahwa volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

    Tonton juga Video: Trump Kumpulkan Juragan Kripto di Gedung Putih, Apa Tujuannya?

    (ily/hns)



    Sumber : finance.detik.com