Tag: wujud

  • Wajah Terkini Rumah Kentang-Gedong Setan, Urban Legend Bandung yang Dulu Seram



    Bandung

    Bandung punya beberapa Urban Legend yang terkenal angker. Tapi itu dulu, sekarang tempat-tempat itu sudah tidak seram lagi. Seperti apa penampakannya sekarang?

    Kota Bandung menyimpan sejumlah misteri yang menyelubungi sejumlah tempat-tempat bersejarah di sana. Cerita berbau mistis hidup dari masa ke masa melalui penuturan masyarakat yang tinggal di sekitar tempat tersebut.

    Cerita-cerita itu pun menjelma sebagai Urban Legend yang populer. Banyak wisatawan yang justru penasaran dengan cerita itu, lalu mendatangi tempat yang dimaksud.


    Tahun terus berganti, kini sejumlah situs sejarah tempat kemunculan urban legend tersebut mulai mengalami pemugaran. Bagaimana kondisinya sekarang?

    1. Rumah Kentang

    Rumah posisi hoek yang terletak di Jalan Banda nomor 18 ini sejak lama terkenal dengan nama “Rumah Kentang”. Nama tersebut muncul bukan tanpa alasan. Konon, masyarakat setempat kerap mencium aroma kentang yang menyeruak dari rumah tersebut di sore hingga malam hari.

    Cerita yang paling santer terdengar adalah bahwa bau kentang tersebut berasal dari anak orang Belanda yang tewas tercebur ke dalam kuali panas berisi kentang.

    Rumahnya yang sepi tampak tak berpenghuni, dipadukan dengan gaya bangunan khas era kolonial Belanda, menambah kesan misterius di benak orang yang melintasinya.

    Rumah Kentang berubah jadi restoranRumah Kentang berubah jadi restoran Foto: Putu Intan/detikcom

    Namun, mitos tragedi kuali kentang tersebut ternyata pernah dibantah oleh penjaga Rumah Kentang, Pramutadi.

    Melalui wawancaranya dengan Tim detikJabar dan Komunitas Aleut pada tahun 2020, ia mengatakan bau kentang tersebut berasal dari bau tanaman yang ditanam oleh penghuni rumah. Kala itu, dia menyebut bahwa rumah tersebut sempat dihuni oleh ahli botani.

    Di saat wawancara tersebut, rencana pemugaran Rumah Kentang telah mulai dilaksanakan. Hasilnya adalah sebuah kafe bernama sama, yakni “Roemah Kentang 1903”.

    Kafe tersebut diluncurkan di pengujung tahun 2020 dan masih beroperasi hingga saat ini. Bahkan, tempat ini kerap digunakan untuk berbagai acara seperti gathering hingga pernikahan.

    Berdasarkan pantauan di lokasi, kafe tersebut masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya. Sejumlah bagian bangunan seperti kusen jendela, beberapa daun pintu hingga ventilasi pun masih menggunakan apa yang sudah eksis di Rumah Kentang sebelumnya.

    Sang pemilik kafe, Arys Buntara mengaku tidak pernah mencium adanya aroma kentang dari rumah tersebut ketika proses pembangunan berlangsung hingga saat ini.

    “Enggak pernah cium ada bau kentang sih. Dari cerita penjaganya, memang dulu ada ahli botani yang suka menanam di sini. Katanya ada bunga yang baunya seperti kentang. Tapi enggak tahu juga bunganya yang mana,” ungkap Arys, Jumat (27/6/2025).

    Urban legend di Bandung.Rumah Kentang Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Namun, bukan berarti misteri sepenuhnya lenyap. Arys mengaku terdapat beberapa hal ‘di luar nalar’ yang terjadi saat renovasi berlangsung maupun saat operasional kafe sudah berjalan. Salah satunya adalah tukang bangunan yang tiba-tiba berpindah tempat saat tertidur.

    “Ada juga karyawan yang dia kekeuh bilang sedang ngobrol dengan karyawan lain di lantai atas. Eh, pas dilihat di CCTV, ternyata dia ngobrol sendiri,” ungkap Arys seraya tertawa.

    Ia juga menuturkan bahwa Rumah Kentang sempat digunakan kelompok teosofi Freemasonry “Loji Hermes” di Kota Bandung untuk beraktivitas.

    Beberapa artefak peninggalan seperti dua pilar besar, jubah, hingga pedang yang identik dengan kegiatan kelompok Freemasonry ditemukan saat ia melakukan renovasi.

    “Sampai sekarang masih disimpan. Pilarnya sengaja kita pajang sebagai unsur sejarah tempat ini,” jelasnya.

    2. Hantu Ambulans Jalan Bahureksa

    Entah sudah berapa dekade sebuah ambulans tua terpakir di depan rumah di Jalan Bahureksa nomor 15. Yang jelas, cerita kengerian ambulans Mercy Rubor buatan tahun 1961 tersebut telah tersebar luas di masyarakat sejak lama.

    Salah satu versi cerita yang terkenal adalah bahwa ambulans tersebut sempat dipakai mengangkut satu keluarga yang seluruhnya tewas karena kecelakaan. Setelah digunakan untuk mengangkut jasad keluarga tersebut, ambulans kemudian diparkir di depan rumah Jalan Bahureksa nomor 15.

    Sejak saat itu, ambulans tersebut disebut berhantu dan tidak dapat dipindahkan ke manapun oleh orang lain. Ada juga versi yang menyebut bahwa ambulans kerap terlihat berkeliaran sendiri tanpa pengemudi di malam hari. Kisahnya bahkan sempat diangkat ke film layar lebar berjudul Hantu Ambulance di 2008.

    Urban legend di Bandung.Rumah Jalan Bahureksa 15 Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Rumah tua di Jalan Bahureksa nomor 15 bukan tidak berpenghuni. Beberapa kali rumah tersebut beserta area di sampingnya disewa untuk tempat komersial seperti distro, tempat fotokopi, hingga salon.

    Di tahun 2008, empat anak muda Kota Bandung menyewa rumah tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah distro yang dinamai “Ambulans Shop”.

    Di tahun 2012, salon khusus rambut gimbal bernama Dreadock Studio juga mulai beroperasi di area tersebut, masih dengan ambulans horor terparkir di depan toko mereka.

    Namun, mitos mistis soal ambulans tersebut akhirnya tumbang di tahun 2016. Kala itu, keluarga sang pemilik ambulans menjual ambulans tersebut ke Parung, Bogor. Sang Legenda yang konon tak bisa dipindah tersebut akhirnya berhasil diangkut ke kota lain, tanpa pernah kembali.

    Tahun berganti, saat ini kisah ambulans horor tak lagi menghantui Jalan Bahureksa. Rumah di Jalan Bahureksa nomor 15 sudah berubah menjadi sebuah restoran. Berdasarkan pantauan detikJabar, tak ada jejak keberadaan ambulans yang tersisa.

    Restoran yang dinamai “Republic” tersebut terlihat masih mempertahankan bentuk bangunan jadulnya, baik dari fasad luar maupun di bagian dalam bangunan.

    Terdapat tambahan area duduk dengan nuansa interior modern dan minimalis. Dengan situasi saat ini, agaknya tak ada yang menyangka bahwa pernah ada legenda mistis yang tersemat di tempat tersebut.

    3. ‘Gedong Setan’

    Gereja Katolik Bebas Santo Albanus adalah salah bangunan yang tak lepas dari cerita mistis warga Kota Bandung. Terletak hanya sekitar 300 meter dari Rumah Kentang, bangunan Gereja Anglikan ini memiliki julukan “Gedong Setan”.

    Usut punya usut, julukan tersebut muncul karena bentuk bangunan di Jalan Banda nomor 26 ini terkesan misterius. Desas-desus di antara warga pun menyebut bahwa sering terdengar suara radio transistor berbunyi keras dengan bahasa Belanda dari dalam gedung tersebut.

    Bahkan ada pula yang mengaku mendengar suara orang bercakap-cakap dalam Bahasa Eropa. Bangunan Gereja Santo Albanus sendiri dibangun pada tahun 1920, oleh seorang arsitek ternama Belanda Ir. F.J.L. Ghijsels.

    Urban legend di Bandung.Gedong Setan sekarang Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Serupa dengan Rumah Kentang, gereja ini salah satunya difungsikan oleh kelompok Freemasonry untuk beraktivitas. Penggunaan gedung ini sebagai markas Freemasonry hanya berlangsung hingga 1930an, sebelum akhirnya pindah ke Oclottpark yang sekarang jadi mal Bandung Indah Plaza.

    Gedung tersebut juga pernah menjadi tempat kursus Bahasa Belanda di era kolonial Belanda. Bangunan Gereja Santo Albanus saat ini terdaftar sebagai Cagar Budaya tipe A oleh Pemerintah Kota Bandung dalam Perda No. 19 tahun 2009.

    Oleh karena itu, proses pemugaran bangunan gereja yang masih berlangsung hingga saat ini sempat menuai protes dari masyarakat, khususnya pecinta sejarah.

    Setelah bertahun-tahun sempat terkesan terbengkalai dan digunakan sebagai parkir liar, saat ini pembangunan yang terbilang besar tengah berlangsung di kompleks gereja tersebut.

    Berdasarkan pantauan di lokasi, per 27 Juni 2025, sudah berdiri bangunan bertingkat berdinding kaca dan bernuansa modern di belakang fasad bangunan utama Gereja Santo Albanus.

    Area gereja sendiri masih dipagari seng mengingat pembangunan yang belum selesai. Wujud bangunan asli gereja di area depan tampak tak banyak berubah, meskipun tulisan “S. Albanus” Geredja Katholik Bebas yang sebelumnya terpatri di bagian muka bangunan saat ini tak lagi ada.

    Belum jelas bangunan apa yang akan dibangun dan dikembangkan di kompleks gereja tersebut. Namun, berdasarkan keterangan dari stempel Pemerintah Kota Bandung yang tertera di luar area pembangunan, proyek ini masih merupakan “Proyek Keagamaan”.

    Proyek ini terdaftar dengan Nomor Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) SK-PBG-327309-12072022-001 tertanggal 12 Juli 2022. Bangunan yang direnovasi termasuk ke dalam golongan Bangunan Tidak Sederhana, dengan jumlah lantai mencapai enam lantai.

    Akankah pemugaran Gereja Santo Albanus ini sekaligus perlahan mengikis cerita-cerita mistis yang menyertainya?

    ———

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menelusuri ‘Candi Prambanan’ yang Ada di Lampung


    Jakarta

    Tak perlu jauh-jauh ke Yogyakarta untuk bisa menikmati kemegahan Candi Prambanan. Di Lampung, terdapat sebuah bangunan berupa replika Candi Prambanan yang didesain mirip dengan bentuk aslinya.

    Lokasinya berada di kawasan wisata Cakat Raya, Kecamatan Menggala Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Selain replika Candi Prambanan, kawasan wisata ini juga menampilkan replika bangunan dari berbagai suku dan daerah yang ada di Indonesia.

    Sejarah Cakat Raya

    Melansir situs traveling, Kabupaten Tulang Bawang dikenal sebagai daerah yang kaya akan keberagaman suku dan budaya. Sebagai salah satu daerah tujuan transmigrasi di Lampung, Tulang Bawang tumbuh menjadi kawasan yang dinamis dengan penduduk dari berbagai latar belakang.


    Seiring waktu, daerah ini berkembang pesat hingga akhirnya resmi berdiri secara administratif sebagai kabupaten pada tahun 1977. Wujud penghargaan dari keberagaam tersebut tercermin dari pembangunan kawasan wisata Cakat Raya.

    Dari tempat ini, wisatawan tidak hanya melihat keunikan arsitektur tradisional, tetapi juga menikmati panorama alam yang menakjubkan berupa hamparan rawa dan kebun hijau yang terbentang luas.

    Daya Tarik Cakat Raya

    Kawasan wisata Cakat Raya menampilkan replika bangunan bersejarah dari berbagai daerah di Indonesia sebagai lambang keberagaman yang terbentuk. Mulai dari rumah-rumah adat dari beberapa daerah, bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi ikon wisata.

    Daya tarik utama kawasan ini adalah replika Candi Prambanan yang berdiri kokoh dengan luas 9×10 meter dengan tinggi mencapai 12 meter. Replika Candi Prambanan ini memiliki detail yang rapih dan tampak seperti bangunan aslinya.

    Replika Candi Prambanan berdiri menghadap langsung ke Way Tulang Bawang, sebuah sungai yang menjadi kebanggaan masyarakat Tulang Bawang. Pemandangan yang indah dan bangunan yang berdiri megah membuat replika candi ini menjadi spot favorit wisatawan.

    Dengan keunikannya inilah, kawasan wisata Cakat Raya menjadi destinasi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Terlebih pada hari-hari libur, lebih banyak wisatawan datang ke tempat ini untuk mengabadikan momen atau berlibur bersama keluarga.

    “Tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu bersama orang tersayang,” tulis akun google review An********** dalam ulasan yang dibaca detikTravel Rabu (5/11/2025).

    Tulisan serupa juga ditulis oleh beberapa akun lain, wisatawan merasa nyaman dan puas terhadap kebersihan di kawasan wisata Cakat Raya. “Kawasan wisata dikelola dengan baik walaupun tanpa tiket masuk. Penjaganya ramah, memberi informasi tentang tempat wisata dengan detail,” tulis akun Munah Mey dalam ulasan tersebut.

    Lokasi dan Harga Tiket Masuk Cakat Raya

    Kawasan wisata Cakat Raya berada di Jalan Lintas Sumatera, Desa Cakat Raya. Lokasinya 16 km dari pusat Kota Menggala. Jika wisatawan pergi dari Bandar Lampung, cukup melakukan perjalanan selama 3 jam setengah untuk sampai ke kawasan wisata ini.

    Untuk mengunjungi kawasan wisata Cakat Raya, wisatawan tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Tertarik untuk berkunjung ke kawasan wisata Cakat Raya?

    (row/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Hukum Trading Forex dan Kripto Menurut Islam, Halal atau Haram?


    Jakarta

    Trading forex dan crypto menjadi investasi yang banyak diminati masyarakat. Walau berisiko tinggi, keduanya juga berpotensi profit tinggi.

    Trading forex merupakan perdagangan valuta asing di seluruh dunia untuk mendapat keuntungan. Selisih antara nilai jual dan beli menjadi keuntungan bagi seorang trader.

    Sementara itu, crypto adalah mata uang virtual yang keamanannya dijamin dengan kriptografi. Aset digital ini tidak terikat oleh otoritas pusat seperti bank, sebagaimana dijelaskan pada situs Kementerian Keuangan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara.


    Lantas, bagaimana hukum penggunaan keduanya dalam Islam?

    Hukum Trading Forex dan Kripto dalam Islam

    Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Dr Fatihun Nada Lc MA menjelaskan terdapat trading forex yang diperbolehkan dalam Islam, yaitu menggunakan sistem spot. Sistem tersebut merupakan transaksi pembelian dan penjualan forex untuk penyerahan pada saat itu atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari.

    Pada jangka waktu tersebut, dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional. Artinya, trading forex jenis ini diperbolehkan karena dianggap tunai.

    Lebih lanjut, ulama yang akrab disapa Kiai Fatihun itu menjelaskan hukum trading forex tersebut mengacu pada Fatwa DSN-MUI No.28/DSN-MUI/III/2002 tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf).

    “Secara detail pembahasan terkait valuta asing dibahas dalam fatwa tersebut, termasuk di dalamnya. Sedangkan trading forex dengan sistem forward, swap dan option haram hukumnya,” demikian bunyi keterangan yang dikutip dari situs MUI, Selasa (22/7/2025).

    Hukum haram pada trading forex dengan sistem forward, swap dan option dikarenakan spekulasi yang begitu besar atau banyak dari ril bisnisnya. Dengan begitu, trading forex hukumnya boleh apabila menggunakan sistem spot, selain itu maka dihukumi haram.

    Adapun, terkait kripto atau cryptocurrency hukumnya haram dalam Islam. Ini dikarenakan spekulasinya begitu besar atau lebih banyak dari ril bisnisnya.

    Penggunaan kripto sebagai mata uang hukumnya haram karena mengandung unsur gharar, dharar dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 17 Tahun 2015.

    Sementara itu, apabila cryptocurrency sebagai komoditi atau aset digital maka tidak sah diperjualbelikan karena mengandung gharar, dharar, qimar dan tidak memenuhi syarat sil’ah secara syar’i, yaitu ada wujud fisik, memiliki nilai, diketahui jumlahnya secara pasti, hak milik dan bisa diserahkan ke pembeli.

    Cryptocurrency sebagai komoditi atau aset yang memenuhi syarat sebagai sil’ah dan memiliki underlying serta memiliki manfaat yang jelas maka hukumnya sah untuk diperjualbelikan.

    Senada dengan itu, Buya Yahya melalui ceramahnya mengatakan hendaknya muslim waspada dan mengantisipasi diri. Terlebih, beberapa ulama menghukuminya haram.

    “Sebagai seorang muslim hendaknya kita waspada. Dalam mencari nafkah adalah mencari nafkah dengan cara yang wajar, jalan yang baik, tentunya kita harus mengantisipasi diri kita sendiri selagi ada ulama yang mengatakan tidak diperkenankan,” kata Buya Yahya dilihat dari kanal YouTube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapat izin mengutip tayangan dalam channel tersebut.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan negara sendiri tidak dapat melarang rakyatnya melakukan transaksi dengan kripto. Namun, di sisi lain negara juga tidak merekomendasikan sebagai sebuah transaksi yang menjanjikan.

    “Negara juga tidak mengatakan (atau) merekomendasi ini sebuah transaksi yang bagus prospektif bagi Anda. Jadi cukuplah dengan isyarat-isyarat seperti itu kita waspada sebagai seorang muslim, sehingga sampai sebagian mengatakan derajat haram karena ini semacam spekulasi gelap,” sambungnya.

    Buya Yahya menegaskan Islam tidak pernah melarang umatnya untuk kaya. Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk kaya. Apabila terdapat larangan dari ulama, tujuan pelarangan mengarah kepada yang baik.

    “Kalau ada larangan dari para ulama itu adalah justru karena menjaga agar kekayaan kita itu aman,” tandasnya.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Rasulullah Pingsan Lihat Wujud Malaikat Jibril Turun dari Langit


    Jakarta

    Rasulullah SAW sempat dibuat pingsan usai melihat wujud Malaikat Jibril. Peristiwa ini terjadi saat Allah SWT mengutus Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW.

    Kisah tersebut diceritakan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad dan diterjemahkan Anshari Taslim. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Jabir bin Abdullah.

    Jabir kala itu mendengar Rasulullah SAW menceritakan fase penerimaan wahyu. Rasulullah SAW bercerita mendengar suara dari langit. Beliau lantas menengadah ke langit dan melihat sosok yang pernah mendatanginya di Gua Hira.


    Jibril, kata Rasulullah, duduk di kursi yang ada di antara langit dan bumi. Saat melihatnya Rasulullah SAW langsung pingsan karena ketakutan.

    “Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit maka aku dongakkan kepalaku, ternyata dia adalah malaikat (Jibril) yang pernah mendatangiku di Gua Hira dalam kondisi duduk di atas kursi yang ada di antara langit dan bumi. Hingga aku pun pingsan karena ketakutan. Lalu aku berkata kepada istriku, ‘Selimuti aku, selimuti aku!’ Maka mereka menyelimutiku dan Allah pun menurunkan ayat, ‘Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah’.”

    Wahyu yang turun ini adalah surah Al Mudatsir ayat 1-5.

    Gambaran Wujud Malaikat Jibril

    Sosok Jibril digambarkan sangat besar. Dalam ‘Alam al-Mala’ikah al-Abrar & Alam al-Jinn wa asy-Syayathin karya Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar yang diterjemahkan Kaserun AS. Rahman terdapat sebuah riwayat yang menyebut besarnya tubuh Jibril menutupi antara langit dan bumi.

    Rasulullah SAW menceritakan tentang Jibril, “Aku melihat Jibril turun dari langit. Besarnya tubuh Jibril menutupi antara langit dan bumi.” (Sunan at-Tirmidzi dengan sanad shahih)

    Baginda Nabi SAW juga pernah melihat Jibril memiliki 600 sayap. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah melihat Jibril AS dalam wujud aslinya. Jibril memiliki 600 sayap dan setiap satu sayap mampu menutupi cakrawala.”

    Terkait hadits tersebut, Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah menyatakan sanadnya jayyid (baik).

    Gambaran Jibril turut dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah At-Takwir ayat 19-21,

    اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ١٩ ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ ٢٠ مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ ٢١

    Artinya: “sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArasy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.”

    Wallahu a’lam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com