Tag: yogyakarta

  • DolanRia Prambanan by BTN, Taman Bermain Warisan Budaya Pertama di RI



    Jakarta

    Siapkan diri Anda untuk pengalaman taman bermain warisan budaya yang belum pernah ada sebelumnya! InJourney Destination Management bersama Loket.com mempersembahkan DolanRia Prambanan by BTN, yang akan diadakan pada 5-7 Juli 2024 di Candi Prambanan.

    DolanRia Prambanan merupakan festival Taman Bermain Warisan Budaya Pertama di Indonesia yang menggabungkan berbagai unsur permainan, musik, pertunjukan seni, dan budaya yang edukatif, menciptakan pengalaman yang penuh keceriaan dan keseruan.

    Festival ini terdiri atas PentasRIA, yang merupakan sajian ragam pertunjukan kesenian budaya lokal dengan kehadiran seniman dan para musisi terkenal yang inspiratif di antaranya Quinn Salman, The Bandels, RAN, dan Mocca.


    Ada pula LokakaRIA sebagai kelas-kelas edukasi yang dapat diikuti anak-anak dengan 11 pilihan yang memberikan kesempatan untuk belajar melalui berbagai topik-topik menarik.

    Dengan tema ‘Generasi Jelajah Budaya’, DolanRia hadir menciptakan suasana unik, di mana anak-anak belajar bahwa keberagaman adalah jembatan untuk memperkaya pengalaman. Pengunjung juga dapat menikmati Pameran Keluarga dan juga Pasar Medang yang berkolaborasi dengan pelaku kuliner UMKM di sekitar kawasan destinasi dengan mengangkat lokalitas.

    Nantinya pengunjung diharapkan merasakan petualangan menjelajahi dunia dengan rasa ingin tahu yang tak terbatas, merangkul perbedaan budaya sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh.

    “Sebagai pengelola destinasi, kami senantiasa berupaya memberikan kegiatan wisata yang menyenangkan di masa liburan sekolah. DolanRia Prambanan adalah pengalaman baru yang menggabungkan keindahan dan nilai historis Candi Prambanan, sebuah warisan budaya UNESCO dengan seni edukasi dan hiburan bagi keluarga dan anak-anak kita di seluruh Indonesia. Kami berharap pengunjung merasakan energi liburan yang berbeda di DolanRia Prambanan,” ujar Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan dalam keterangannya, Kamis (4/7/2024).

    DolanRia Prambanan kali ini menghadirkan Nussa sebagai kawan bermain anak-anak dan keluarga, menjadikan liburan ini penuh kenangan. Nussa, tokoh animasi pemenang Penghargaan Festival Film Indonesia 2021, mengisahkan anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Nussa dan adiknya, Rarra, yang berusia 5 tahun. Kedua karakter ini digambarkan sebagai anak-anak yang pemberani, aktif, periang, dan imajinatif.

    Melalui petualangan mereka, Nussa dan Rarra mengajarkan nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang mudah dipahami oleh anak-anak. Diharapkan melalui interaksi langsung dengan Nussa, anak-anak dapat mengambil pelajaran berharga yang akan menjadi pondasi kuat generasi emas Indonesia ke depannya.
    “Dengan kehadiran sosok Nussa bisa menarik lebih banyak menarik minat pengunjung selama penyelenggaraan DolanRia kali ini,” tambah Febby.

    DolanRia Prambanan by BTN Foto: BTN

    Sementara Vice President Loket.com Faqih Mulyawan mengatakan sebagai promotor, pihaknya memastikan pengunjung dapat merasakan liburan yang menyenangkan di DolanRia Prambanan.

    “Prambanan dan Yogyakarta menjadi tempat di mana anak-anak dan keluarga dapat menjelajahi dunia dengan rasa ingin tahu yang tak terbatas, merangkul ragam budaya sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh, sambil menikmati suasana magis Prambanan sebagai warisan budaya Indonesia. Dengan menggabungkan Nussa, taman bermain, musik, seni, dan budaya, festival ini diharapkan menjadi tempat sempurna untuk dikunjungi bersama keluarga. Loket.com dan seluruh tim yang terlibat selalu memprioritaskan kenyamanan bagi semua yang hadir di DolanRia Prambanan,” katanya.

    Beragam aktivitas seru dihadirkan untuk menunjang kegiatan fisik dan permainan di DolanRia, di antaranya area Balance Bike dan Kebun Binatang Mini memungkinkan anak-anak melatih keseimbangan, empati, dan eksplorasi dunia hewan.

    “Kami sangat antusias mempersiapkan kegiatan petualangan yang seru untuk anak-anak dan keluarga selama liburan sekolah. Berharap ini dapat seterusnya dinikmati dan meninggalkan pengalaman seru bagi anak-anak dan keluarga,” imbuh Faqih.

    Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon LP Napitupulu menjelaskan BTN mendukung kegiatan DolanRia sebagai bentuk komitmen BTN dalam melestarikan warisan budaya nusantara.

    “DolanRia Prambanan diharapkan menjadi ruang temu, bermain dan belajar anak-anak Indonesia merasakan secara langsung berbagai pengalaman mengenal budaya nusantara dari kegiatan mulai dari kelas belajar, wahana bermain, pameran seni pertunjukan, hiburan, musik dan dongeng,” tutur Nixon.

    Untuk meningkatkan antusiasme pengunjung DolanRia, BTN memberikan tawaran menarik diantaranya diskon khusus hingga 50 persen bagi pengunjung yang membeli tiket via Loket.com, baik dengan kartu debit maupun transaksi melalui virtual account.

    Selain itu, pengunjung yang menggunakan aplikasi BTN Mobile juga dimanjakan dengan cashback khusus jika bertransaksi dengan QRIS di aneka kuliner Pasar Medang.
    Tak hanya itu, pengunjung dapat membuka tabungan BTN melalui BTN Mobile selama event berlangsung.

    “Kami juga memberikan tiket gratis untuk 200 orang pertama yang hadir on the spot dan membuka rekening BTN,” kata Nixon.

    Jangan lewatkan kesempatan ini untuk menjadi bagian dari Kawan DolanRia dan rasakan petualangan seru masa liburan sekolah yang penuh warna dan keceriaan di DolanRia Prambanan! Untuk informasi lebih lanjut dan pembelian tiket, kunjungi media sosial @dolanriaprambanan.

    (ncm/ega)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Sarsa Creative Space Destinasi Pas buat Melepas Stress Lewat Seni



    Sleman

    Coba kunjungi Sarsa Creative Space untuk melepaskan stress dengan cara healing lewat seni. Tidak hanya melukis, ada pilihan lain seperti meronce, clay, hingga menyusun micro block.

    Bangunan joglo di tengah sawah ini menawarkan konsep healing kembali ke alam. Berdiri sejak 12 Juni 2023, pengunjung akan diajak menepi sejenak dari hiruk pikuk bisingnya kota Jogja yang semakin ramai.

    “Awalnya apa ya kita bikin tempat nongkrong tapi kalau coffee shop aja udah banyak, gitu-gitu aja. Bikin tempat alternatif tempat nongkrong enaknya apa ya,” kata Firza Ayubi, pemilik Sarsa Creative Space, saat diwawancarai detikTravel, Senin (10/6/2024).


    Lokasi tepatnya ada di Nglengkong, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Menuju ke lokasinya, traveler akan melewati jalan pedesaan dengan kiri kanan rumah warga dan pemandangan sawah. Sesampainya di lokasi akan langsung disambut dengan bangunan joglo tua dan halaman parkir yang luas.

    Sarsa menjadi ruang kreatif untuk melepas penat dengan berbagai pilihan kegiatan menarik. Nama sarsa sendiri adalah singkatan dari kata “Kersa” dan “Sareng”, yang dalam bahasa Jawa artinya bekerja sama. FIrza menyebut, dirinya ingin antara Sarsa dan pengunjung dapat bekerja sama dalam harmoni meluruhkan stress yang ada.

    “Lokasinya emang jauh, ga masalah tapi pinginnya pengunjung yang dateng itu lupa kalau lagi ada masalah, lupa kalau lagi capek,” kata Firza.

    Uniknya, di sini juga tersedia jajanan jadul yang bisa bikin traveler bernostalgia. Juga akan disediakan secangkir teh gratis yang bisa diseduh sendiri setiap pembelian. Pilihan tehnya beragam, mulai dari basic tea hingga fruit tea.

    Rumah bergaya Joglo ini didominasi oleh kayu. Terdapat sejumlah meja bundar dan meja panjang, jadi jangan khawatir tidak kebagian tempat. Traveler bisa memilih untuk duduk di tepi jendela yang mengarah langsung ke lahan sawah. Bahkan jika beruntung, view Gunung Merapi akan sangat cantik dilihat dari Sarsa.

    Ruang kreatif Sarsa di dekor unik dengan menampilkan produk yang sudah selesai, mulai dari lukisan kanvas, totebag, bahkan ada wayang kulit di dinding atas pintu. Tumpahan cat pengunjung di atas meja seolah secara alami menjadi ornamen penghias meja. Di luar juga terdapat ayunan kayu untuk traveler yang ingin sekadar bengong atau membaca buku.

    Sarsa secara khusus membiarkan pengunjung berkreasi semaunya tanpa didampingi oleh instruktur atau pendamping. Firza ingin kegiatan itu berjalan dengan alami. Namun, jika kesulitan, pengunjung tetap bisa bertanya pada penjaga, atau mencari referensi lewat QR Code yang sudah tersedia di setiap meja.

    Mau ngonten? Sarsa juga menyediakan persewaan tripod dengan harga Rp 5.000. Serta sewa apron atau celemek di harga Rp 5.000 untuk menghindari baju terkena cat atau media seni lainnya.

    Penasaran dengan kegiatan selengkapnya di Sarsa? Berikut rinciannya:

    1. Paket Micro Block

    Kegiatan ini adalah menyusun micro block menjadi bentuk yang diinginkan. Bisa dilakukan sendiri, berpasangan, atau bersama teman-teman. Tersedia dua pilihan dengan harga Rp 25.000 untuk ukuran kecil dan Rp 35.000 untuk ukuran besar.

    2. Paket Meronce

    Meronce adalah kegiatan menyusun manik-manik menjadi aksesoris seperti gelang, cincin, ataupun kalung. Tersedia dua pilihan paket, yang pertama di harga Rp 35.000 akan mendapat 2 meter benang elastis, gunting benang, dan 5 macam manik-manik seberat 30 gram. Kedua, seharga Rp 55.000 akan mendapat 2 meter benang elastis, gunting benang, dan 10 macam manik-manik seberat 60 gram.

    3. Paket Airdry Clay

    Clay adalah seni membuat bentuk tertentu dengan bahan dasar sejenis tanah liat. Air Dry clay ini akan mengering dengan sendirinya tanpa perlu dioven.

    Selesai membentuk, traveler bisa melukisnya dengan cantik. Tersedia satu macam paket di harga Rp 40.000 yang menawarkan 200 gram airdry clay, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette. Tambahkan Rp 5,000 untuk membeli cairan varnish guna melapisi hasil clay supaya lebih mengkilap.

    4. Melukis kanvas

    Tersedia satu macam paket dengan ukuran kanvas 20×20 cm, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette seharga Rp 40.000

    5. Melukis Bucket Hat

    Bucket hat atau topi menjadi produk yang selesai dilukis dapat digunakan, dengan harga Rp 50.000 traveler akan mendapat satu buah bucket hat, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

    6. Melukis Tote bag

    Sama seperti sebelumnya, media yang digunakan adalah tote bag dengan harga Rp 50.000 akan mendapat satu buah tote bag, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

    7. Melukis Pouch Make Up

    Medianya kali ini adalah pouch make up dengan harga Rp 50.000 dan akan mendapat cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

    8. Melukis Cermin

    Dengan harga Rp 65.000, traveler akan mendapat sebuah cermin duduk atas meja, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette/

    9. Melukis Pot Tanah Liat

    Degan harga Rp 45.000, traveler akan mendapatkan pot tanah liat, cat dasar 1 warna, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette. Lalu untuk paket dengan harga Rp 50.000 akan ditambah tanah media tanam beserta biji tumbuhannya. Layaknya bertani bukan?

    10. Paket Paint by Number

    Tidak perlu ragu jika belum atau bahkan tidak pernah mencoba melukis, ada pilihan alternatif menggunakan paket paint by number. Traveler hanya tinggal mewarnai sesuai kode warna di pola yang sudah ada. Tersedia versi canvas di harga Rp 65.000 dan versi tumblr.

    (fem/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Sarsa, Dulu Jualan Alat Lukis, Kini Ruang Kreatif dan Healing Gen Z



    Yogyakarta

    Sarsa Creative Space hype di kalangan Gen Z Yogyakarta. Dulu, ternyata Sarsa adalah produk lukis yang dijual lewat media sosial.

    Ruang kreatif Sarsa di Nglengkong, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), disebut-sebut sebagai tempat ideal untuk meredakan stress lewat kegiatan seni. Sarsa diinisiasi oleh Firza Ayubi dan Dian Agustina.

    Firza menyebut masih kuliah ketika merintis Sarsa. Dulu, Sarsa tidak memiliki kedai dengan view sawah nan menenangkan seperti sekarang,


    “Dulu Covid 19 sekitar tahun 2020 ga bisa keluar, harus di rumah aja. Kepikiran gimana kalau kita bikin semacam stress release, tanpa keluar rumah. Akhirnya bikin paket lukis, ada kanvas, kuas dan cat, lalu dipack. Awalnya nawarin by Whatsapp dan Instagram ke temen-temen,” Kata Firza dalam perbincangan dengan detikTravel, Senin (10/6/2024).

    Ketika pandemi mulai berangsur menuju new normal, Sarsa mulai aktif ikut kegiatan offline. Mulai dari event kampus hingga bazar. Akhirnya Sarsa mulai dikenal oleh pasar. Sejak itulah muncul permintaan untuk mengadakan workshop.

    “Banyak yang minta workshop dalam 1 tempat. akhirnya ada workshop by order 10-15 orang per rombongan,” kata Firza.

    Sarsa Creative Space di Sleman, YogyakartaSarsa Creative Space di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Tiga tahun Sarsa aktif menjual lukisan, akhirnya di tahun 2023 berdirilah rumah kreatif Sarsa. Didorong oleh keresahan untuk membuat tempat nongkrong anti-mainstream, Firza memilih bangunan Jogja di tengah sawah itu.

    Konsep yang coba diusung adalah healing dan stress release yang kembali ke alam. Firza ingin setiap pengunjung yang datang dapat melupakan penatnya dan meluruhkannya pada kegiatan seni. Sarsa kemudian menambah beberapa fasilitas seperti penyediaan jajanan jadul yang bisa bikin traveler bernostalgia. Juga gratis secangkir teh yang bisa diseduh sendiri setiap pembelian.

    Sarsa Creative Space di Sleman, YogyakartaSarsa Creative Space di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Awalnya hanya lukis, kini sudah mulai merambah pada kegiatan lainnya seperti meronce, menyusun micro block, hingga membuat clay. Firza menyebut bahkan mulai muncul banyak tawaran kerjasama barang untuk masuk ke Sarsa, seperti resin, batik, dan lainnya. Namun, Firza mengungkap ada tiga kriteria utama dalam pemilihan kegiatan di Sarsa.

    “Bisa digunakan orang awam. Estimasi waktunya tiga jam mengerjakan sesuatu dan selesai. Dan terakhir affordable. jadi kalau melenceng dari 3 itu agak dipikir ulang,” kata Firza.

    Sarsa sempat membuka cabang keduanya di salah satu gerai di Sleman City Hall, Jogja. Namun kini telah tutup karena dirasa telah melenceng dari konsep awalnya yang kembali ke alam.

    Meski bukan menjadi satu-satunya ruang kreatif di Jogja, transaksi di Sarsa bisa mencapai 50 transaksi setiap hari. Bahkan, di hari libur angkanya dapat naik hingga 2-3 kali lipat.

    “Yang kita jual experience, karena kalau produk pasti banyak. Kamu dateng, sama temen-temen atau sendirian, liat sawah, denger gemercik air, ada effortnya ke sana karena jauh,” kata Firza.

    (fem/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Yuk! Nikmati Ngabuburit Komplet di Pasar Pasan Kotagede



    Yogyakarta

    Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.

    Disebut paket komplet, karena tak hanya deretan pedagang makanan kekunoan hingga kekinian yang bisa dinikmati detikers saat ngabuburit. Namun juga pengajian dan Sadar Susur, yakni jalan-jalan lebih mengenal Kotagede dengan beragam khasanah sosial budaya di dalamnya. Karena bagi traveler, Kotagede adalah candu untuk kembali dikunjungi. Lanskap rangkuman kawasan cagar budaya bernilai tinggi.

    Pasar Pasan memang lebih dari sekadar pasar tiban selama Ramadan. Dengan tajuk Kulonuwun Kotagede ini Pasar Pasan yang digelar mulai pukul 15.00 WIB ini mengusung konsep mendekatkan dinamika sosial di pasar dengan masjid.


    Keistimewaan Pasar Pasan bukan saja terletak pada nilai yang mendasari terbentuknya pengelolaan secara profesional pasar tiban. Namun juga melihat konteks Kotagede dan apa yang hidup di dalamnya selama Ramadan.

    Mulai dari rekam jejak sejarah Mataram Islam, deretan bangunan heritage rumah Kalang, perajin perak, sampai jajanan khas Kipo, kue kembang waru dan Carang Gesingnya.

    Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.Ngabuburit di Kotagede Foto: Erliana Riady

    Acara ini diinisiasi oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PCM Kotagede bersama dengan Pemuda Muhammadiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah Kotagede dan berbagai kolaborator lainnya yang memangku, Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kotagede, Yogyakarta dan Kelurahan Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul.

    “Event ini membuka ruang dialog baru dalam memahami muamalah di halaman Masjid Gede Mataram di Sayangan, Jagalan, Banguntapan, Bantul hingga sepanjang Jalan Mondorakan,” jelas Ketua Panitia, Primasjati, Jumat (15/3/2024).

    Begitu tiba di lokasi Pasar Pasan, detikers bisa memilih beragam jajanan dan penganan jadoel hingga kekinian yang dijual di sepanjang Jalan Mondorakan. Aktivitas menunggu berbuka yang tak kalah asiknya adalah jalan kaki menyusuri Kotagede atau yang akrab disebut sasar susur
    Sasar susur akan dilaksanakan empat kali.

    “Sasar Susur Pasar Pasan menggandeng Bawahskor, Alon Mlampah, Writing Passion YK dan Ganggangan dengan kegiatan jalan-jalan tematik merespon irisan-irisan yang ada di sepanjang jalan. Mulai dari peristiwa sejarah Islam dan tokoh-tokoh Muhammadiyah hingga bagaimana berkembangnya sepakbola di Kota Yogyakarta,” paparnya.

    Diantaranya panitia akan mengajak jalan-jalan menyusuri spot sejarah sepak bola ke wilayah Prenggan. Kemudian pekan berikutnya, berkolaborasi dengan komunitas Alon Mlampah akan diajak menyusuri labirin diantara lorong pergerakan Muhammadiyah mulai dari daerah Kauman-Karangkajen hingga Kotagede.

    Sasar Susur juga juga mengajak detikers menyusuri arsip pergeseran urban di Kotagede bersama komunitas Gang-gangan. Serta jalan-jalan sketsa menyusuri kawasan cagar budaya Kotagede bersama komunitas seniman.

    Menjelang Magrib, ngabuburit dilanjutkan dengan pengajian. Mencoba pendekatan selayaknya konser dengan guest star, pengajian yang ada di Masjid Mataram Kotagede bulan puasa ini cukup unik dengan perpaduan antara kepakaran masing-masing asatidz. Mendatangkan Ustadz Awan Abdullah Sp.J., M. Pd, Dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes, Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag, Irfan Afifi, Dr. Okrisal Eka Putra, Lg., M.Ag. Dan Ridwan Hamidi, Lc, Mpi., MA. Pengajian menuju buka puasa ini dibuka untuk umum di Serambi Masjid Mataram.

    Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.Pengajian menunggu buka puasa Foto: Erliana Riady

    “Tiap hari ramai. Pengunjung warga lokal dan luar kota juga banyak. Tenant variatif dari kekunoan sampai kekinian ada semua. Harganya juga murah. Kalau mahal nggak bakal laku di Kotagede,” terang Upik warga Kotagede.

    Para pengunjung tampak antusias merapat walaupun mendung bergelayut gelap. Deretan pedagang makanan lawas menjadi magnet traveler luar kota. Mereka yang selama ini hanya mendengar nama jajanan kuno, saat ini bisa membeli langsung dengan harga yang tak menguras kantong.

    “Keren aja event ini. Seru abis kalau ngabuburit disini. Makanannya zaman dulu lucu-lucu, murah. Ada jalan-jalan menyusuri Kotagede, terus berakhir ikut pengajian di masjid Mataram. Komplet banget. Ada makanan, pengalaman baru dan ilmu agama,” pungkas Lia, traveler asal Malang, Jatim.

    (ddn/ddn)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Jelajah Lorong Waktu di Diorama Arsip Jogja



    Yogyakarta

    Diorama Arsip Jogja menyodorkan wisata edukasi interaktif. Sama sekali tidak membosankan.

    Di sini, traveler seolah diseret masuk menembus lorong waktu sejarah empat abad. Durasinya seperti menyaksikan film-film di bioskop atau Netflix, yakni selama 90 menit.

    Di sini traveler diajak berkeliling langsung oleh tour guide melintasi 18 ruangan. Masing-masing ruangan merepresentasikan setiap era, mulai dari Panembahan Senopati hingga Keistimewaan Yogyakarta. Keunikannya, setiap ruangan tersedia visualisasi konten yang interaktif dengan durasi 5 hingga 10 menit. Traveler juga bisa memanfaatkan fitur AR (Augmented Reality) yang tersambung dengan aplikasi khusus yang akan dipandu oleh tour guide yang ada.


    “Yang menarik perhatian pengunjung paling banyak ada di ruang delapan, di lokomotif perubahan. Karena nanti kita, istilahnya kontennya kita berada di dalam kereta menuju moderenisasi Jogjakarta,” ungkap Ginza (26), salah satu pemandu saat ditemui tim detikTravel, Rabu (21/2/2024).

    Menariknya, di sini traveler hanya bisa datang di jam-jam tertentu sesuai sesi yang telah ditentukan. Selain itu, untuk dapat masuk ke Diorama Arsip Jogja traveler wajib melakukan reservasi melalui website arsipjogja.id atau nomor whatsapp resmi yang dapat dilihat di akun instagram @dioramarsipjogja.

    Diorama Arsip Jogja, YogyakartaDiorama Arsip Jogja, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Tidak hanya diajak untuk mengingat sejarah kerajaan, traveler juga akan melihat kilas balik dahsyatnya erupsi Gunung merapi tahun 2010 silam. Juga asal muasal lahirnya Yogyakarta sebagai kota yang erat dengan pendidikan, pariwisata, dan kebudayaannya. Tentunya, diorama ini tidak melarang pengunjungnya untuk berswafoto ria, selagi masih dalam batas aman dari koleksi.

    “Unik banget sih ini, di sini walaupun museum tapi kita ga ngantuk karena tiap ruangannya ada visualisasi dan dijelasin komplit juga sama pemandunya jadi belajarnya nggak bosen,” kata Dila, salah satu pengunjung Diorama Arsip Jogja, Rabu (21/2/2024).

    Sejak beroperasi pada tahun 2022, Diorama Arsip Jogja kini mulai viral kembali di media sosial karena menawarkan experience yang seru dengan harga cukup terjangkau. Penasaran dengan detail lokasi, jam operasional, harga tiket, dan cara reservasinya?

    Yuk, simak ulasan dari detikTravel.

    Lokasi, Harga Tiket, dan Jam Operasional Diorama Arsip Jogja

    Diorama Arsip Jogja, YogyakartaDiorama Arsip Jogja, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Diorama Arsip Jogja berlokasi di Jalan Wonocatur, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Lokasi tepatnya adalah di Gedung Depo Arsip Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Untuk menuju ke sini, traveler hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit menggunakan kendaraan pribadi dari Stasiun Tugu Yogyakarta.

    Bagi traveler yang ingin menggunakan transportasi umum dapat memilih transjogja jurusan Bandara Adi Sucipto dan berhenti di pemberhentian bus depan Perpustakaan Grhatama Pustaka.

    Mulai 2 Januari 2024, Diorama Arsip Jogja dikenai tarif retribusi disesuaikan dengan kategori yang ada. Berikut daftar lengkapnya :

    1. Pelajar/mahasiswa : Rp 20.000 per orang
    2. Masyarakat umum : Rp 30.000 per orang
    3. Wisatawan asing : Rp 100.000 per orang
    4. Pembuatan liputan/vlog/ konten Youtube : Rp 250.000 per sesi
    5. Paket Outing Class : bayar seharga 23 tiket untuk 25 pengunjung

    Tarif tersebut untuk satu sesi selama 90 menit, sudah termasuk dengan tour guide. Setiap sesi hanya dibatasi sejumlah 25 orang saja. Diorama Arsip Jogja beroperasi dari hari Selasa hingga Minggu dengan total 10 sesi setiap hari nya.

    Berikut jadwal lengkap hariannya :

    Sesi Pagi

    1. Sesi 1 : 09.00 – 10.30
    2. Sesi 2 : 09.20 – 10.50
    3. Sesi 3 : 09.40 – 11.10
    4. Sesi 4 : 10.00 – 11.30
    5. Sesi 5 : 10.20 – 11.50

    Sesi Siang

    1. Sesi 1 : 13.00 – 14.30
    2. Sesi 2 : 13.20 – 14.50
    3. Sesi 3 : 13.40 – 15.10
    4. Sesi 4 : 14.00 – 15.30
    5. Sesi 5 : 14.20 – 15.50

    Diorama Arsip Jogja bisa menjadi salah satu ide kencan menarik bersama teman, keluarga, atau pasangan tatkala menghabiskan waktu di Jogja. Berkunjung ke Jogja tapi bingung sama sejarahnya? Rugi dong jika melewatkan Diorama Arsip Jogja.

    (fem/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Terungkap, Ini Makna Angka 46 di Nama Gedung BNI Titik Nol Jogja



    Yogyakarta

    Bila traveler melintasi Titik Nol Jogja, pasti tak asing dengan Gedung BNI 46. Rupanya, angka 46 itu memiliki makna tersendiri.

    Pamong Budaya Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yunanto Eko Prabowo, menjelaskan angka 46 di belakang BNI itu merujuk pada peresmian bank tersebut.

    “(Diresmikan) Tahun 1946, sejak diresmikan, BNI 46 mulai beroperasi dan berkembang di seluruh Indonesia setelah dari MAVRO tadi,” jelas Yunanto saat ditemui di Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Selasa (21/11/2023).


    Mengutip situs Dinas Kebudayaan Kota Jogja, gedung itu resmi beroperasi pada 5 Juli 1946 atas prakarsa Margono Djojohadikusumo.

    Keputusan tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1946 dengan tujuan kelancaran ekonomi dan keuangan masyarakat Jogja. BNI 46 kemudian diresmikan oleh Wakil Presiden, Mohammad Hatta dan sejak saat itu bank-bank BNI mulai beroperasi dan berkembang di Indonesia.

    Sebelum menjadi gedung BNI 46, bangunan itu difungsikan sebagai kantor asuransi Belanda bernama Nederlandsch Indische Levensverekeringen en Lijfrente Maatschappij atau yang di singkat NILLMIJ.

    Selain itu, gedung ini juga digunakan sebagai kantor dagang dan makelar Belanda. Maka dari itu, dalam satu gedung terdapat sejumlah perusahaan di dalamnya.

    “Jadi kita lihat disini ada NHM (Nederlandsch Handel Maatschappij) ini kantor dagang, Escompto Maatschappij (lembaga keuangan swasta kedua setelah Bank of Java), dan juga bank makelar Buyn & Co, jadi beberapa perusahaan ada di satu kantor,” kata dia.

    Kemudian, saat Jepang menduduki Jogja, Gedung BNI 46 digunakan untuk sebagai radio Jepang.

    “Kemudian pada saat Jepang itu menduduki Jogja ini digunakan tentara Jepang sebagai kantor radio Jepang dengan nama Hoso Kyoku,” ujar Yunanto.

    Namun, semenjak kekalahan Jepang, gedung tersebut kemudian difungsikan sebagai studio siaran radio MAVRO. MAVRO ini lah yang menjadi cikal bakal lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI).

    “Pasca-kekalahan Jepang lalu dimanfaatkan sebagai siaran radio Mataramsche Vereeniging voor Radio Omroep (MAVRO). Itu yang dulu disini, yang menjadi cikal bakal RRI. Pada masa itu RRI Jogja juga dinamakan sebagai radio perjuangan karena turut mengambil peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,” ucapnya.

    Berita ini sudah tayang di detikJogja.

    (pin/pin)



    Sumber : travel.detik.com

  • 10 Destinasi Wisata Gadis Kretek


    Jakarta

    Kepopuleran serial Netflix Gadis Kretek menjadi daya tarik dan potensi ekonomi yang bisa membangkitkan sektor pariwisata di daerah. Setidaknya, ada sepuluh objek wisata dari serial itu.

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno, bahkan sampai berencana membuat paket wisata yang diadaptasi dari serial yang dibintangi Dian Sastro tersebut. Sandi mengatakan Kemenparekraf akan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata (Dinkes) Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk menyusun paket wisata yang bisa dikunjungi para wisatawan.

    “Kota M, tempatnya ini sudah banyak perdebatan apakah Muntilan atau Magelang. Ini sama-sama di wilayah Kabupaten dan Kota Magelang, tapi juga ada daya tarik wisata, seperti Borobudur, Kudus, dan daya tarik wisata lainnya,” ujar Sandi dalam temu media di Kantor Kemenparekraf, Senin (20/11/2023).


    “Museum Kretek dan Museum Perang Diponegoro, juga Candi Abang di Sleman ini yang terbengkalai bisa kita arahkan paket-paket wisata untuk bisa dikunjungi,” Sandi menambahkan.

    Merujuk Instagram Pesona Indonesia, yang merupakan salah satu media sosial promosi wisata Kemenparekraf, menyebut ada enam destinasi wisata dari serial Gadis Kretek itu. Selain itu, berdasarkan riket dan wawancara dengan narasumber, diketahui ada destinasi wisata lain dari tempat syuting Gadis Kretek atau pun berdasarkan novel dengan judul serupa.

    Berikut 6 destinasi wisata Gadis Kretek:

    1. Museum Kretek

    Dikutip dari visitjawatengah, Museum Kretek didirikan di atas lahan seluas 2,5 ha pada tahun 1986 atas prakarsa Soepardjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah, ketika berkunjung ke Kudus. Dia melihat potensi besar perusahaan kretek yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat di kota tersebut.

    Museum ini menyimpan 1.195 koleksi tentang sejarah kretek, misalnya kiprah Nitisemito yang mendirikan Pabrik Rokok Bal Tiga, dokumen-dokumen perusahaan pada waktu itu, alat-alat tradisional pembuatan rokok hingga yang menggunakan teknologi modern, diorama jenis-jenis tembakau cengkeh, diorama pembuatan rokok di pabrik, dan lain sebagainya.

    Di sekitar kompleks museum juga terdapat beberapa miniatur bangunan cagar budaya, seperti Oemah Kembar Nitisemito yang banyak dianggap menjadi saksi bisu kejayaan Sang Raja Kretek Nitisemito, Masjid Wali loram Kulon dengan gapura padureksan yang sungguh ikonik, serta Rumah Adat Kudus “Joglo Pencu” dengan arsitektur perpaduan budaya Jawa (Hindu), Persia (Islam), Cina (Tionghoa) dan Eropa (Belanda).

    Lokasi Museum Kudus: Jalan Getas Pejaten No 155, Kecamatan Jati – Kudus, Jawa Tengah

    Jam operasional: Senin sampai Minggu pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.

    Harga tiket: Rp 4.000 (Senin-Sabtu) Rp 5.000 (Minggu dan tanggal merah)

    2. Stasiun Tuntang

    Dikutip dari situs KAI, Stasiun Tuntang merupakan stasiun kereta api yang terletak di kecamatan Tuntang dan berada di daerah perbatasan antara Salatiga dan kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Stasiun itu terletak pada ketinggian ±464 m ini terletak di Daerah Operasi IV Semarang. Kini, stasiun tuntang berada dalam kawasan Museum Ambarawa.

    Stasiun Tuntang dibangun pada 1871 dan pada 21 Mei 1873 dioperasikan. Stasiun Tuntang merupakan stasiun kelas III di jalur ini. Namun sejak jalur yang menghubungkan Yogyakararta dan Kedungjati pada tanggal 1 Juni 1970 ditutup, stasiun itu dijadikan museum.

    Stasiun itu sempat melayani kereta wisata Ambarawa-Tuntang, namun itu tak berlangsung lama karena faktor rel yang rusak. Sebelumnya jalur sempat mangkrak ketika layanan kereta wisata ke Tuntang dihentikan, tapi jalur kembali dibuka 2002 setelah direnovasi.

    Mulanya, stasiun ini hanya dapat melayani lori Ambarawa-Tuntang. Namun mulai 2009 dilakukan renovasi dan stasiun ini melayani kereta uap wisata lagi.

    3. Rumah Residen Kedu

    Dikutip dari kemdikbud, Rumah Residen Kedu, di Jalan Diponegoro No. 1 saat ini digunakan sebagai Museum Perang Diponegoro. Dulu, itu merupakan rumah dinas Residen Kedu dan dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda. Perancangnya J.C. Schule sedangkan pembangunannya dikerjakan oleh penduduk pribumi di Magelang.

    Seperti halnya bangunan-bangunan Kolonial lain di Hindia-Belanda, arsitektur bangunannya menggunakan arsitektur indische yaitu perpaduan gaya bangunan Eropa disesuaikan dengan lingkungan di Hindia-Belanda.

    Bangunan rumah Residen Kedu, bergaya Indische Empire Style. Rumah itu berbentuk limas dengan ventilasi yang besar sesuai dengan iklim tropis. Terdapat beranda d ibagian rumah depan dan belakang, pintu rumah memiliki dua rangkap (pintu jalusi dan pintu yang menggantung dan dapat diayun berbentuk lebar dan tinggi).

    Bangunan itu memiliki halaman depan dan belakang yang sangat luas, disertai dengan pohon-pohon tropis. Pembuatan jendela yang besar sebagai ventilasi, dilengkapi dengan penggunaan kanopi untuk menahan percikan hujan. Rumah dinas tersebut menghadap ke barat disebabkan oleh kegemaran orang Belanda melihat pemadangan Gunung Sumbing, Perbukitan Giyanti, dan Sungai Progo, serta persawahan.

    4. Los Mbako Menden

    Los Mbako Meden merupakan bangunan yang digunakan oleh para petani untuk mengeringkan daun tembakau setelah dipetik dan sebelum dicacah untuk menjadi bahan baku cerutu dan rokok. Di Klaten, ada ratusan Los Mbako di areal persawahan.

    Bangunannya tinggi dengan ukuran besar, memanjang dan lantai dasarnya model panggung. Hampir seluruh bangunan terbuat dari bambu, kecuali atap yang biasanya berupa daun alang-alang atau daun tebu kering.

    Los Mbako tersebar di banyak kawasan pedesaan atau areal persawahan. Misalnya, di Kecamatan Kebonarum, Polanharjo, Jatinom, Ngawen, atau bahkan di kawasan pinggiran kawasan Kota Klaten.

    5. Pabrik Gula Tasikmadu

    Dikutip dari kemendikbud, Pabrik Gula (PG) Tasikmadu merupakan satu dari sejumlah pabrik gula yang didirikan pada masa kolonial Hindia Belanda dan masih bertahan sampai saat ini. Sekarang, PG Tasikmadu berada dalam pengelolaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX.

    PG Tasikmadu dibangun pada 1871 oleh junjungan Praja Mangkunegaran saat itu yakni K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811­-1881). Ini merupakan pabrik gula kedua di wilayah kekuasaan Praja Mangkunegaran, setelah PG Colomadu pada 1861. Seperti halnya Tasik­madu, PG Colomadu juga didirikan atas kehendak Mangkunegara IV.

    Kini, Pabrik Gula Tasikmadu juga dikembangkan sebagai destinasi wisata dengan taman bermain keluarga. Selain itu ada restoran di area tersebut.

    6. Candi Abang Sleman

    Dikutip dari situs kemendikbud, Candi Abang Sleman berada di Padukuhan Blambangan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Situs Candi Abang merupakan Bangunan Cagar Budaya yang telah di tetapkan oleh Bupati Kabupaten Sleman dengan nomor: 14.7/Kep.KDH/A/2017 pada tanggal 6 Februari 2017.

    Berdasarkan Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1915 disebutkan bahwa di Candi Abang pernah ditemukan sebuah lingga dan arca Buddha. Di Candi Abang pernah ditemukan prasasti pendek pada 1932. Prasasti tersebut memuat pertanggalan dengan angka tahun 794 S atau 872 M. Candi Abang telah masuk dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Dients in Nederlandsch-Indie tahun 1915, dengan nomor 1303. (Verbeek no. 330). Candi abang pertama kali ditulis oleh Brumund dalam Indiana II tahun 1854.

    Berdasarkan tespit diketahui di dalamnya terdapat sisa-sisa struktur bangunan candi yang dibuat dari bata merah. Terungkap juga Candi Abang terdiri dari satu bangunan dengan satu halaman, yaitu halaman pertama yang diperkirakan sebagai halaman utama mempunyai panjang 65 meter dan lebar 64 meter.

    Kemudian, terdapat sisa-sisa struktur bangunan candi yang dibuat dari bata sehingga disebut Candi Abang.

    Kata abang berarti merah, karena candi ini terbuat dari batu merah atau bata. Dari hasil testpit behasil diungkap bahwa Candi Abang terdiri dari satu bangunan. Belum banyak hal yang diketahui karena belum adanya penelitian yang seksama. Pada bagian tengah runtuhan candi sudah dilakukan penggalian namun tidak didapat data tentang hal ini.

    7. Toko Nyonya Pang

    Toko Nyonya Pang bukan tempat syuting Gadis Kretek. Namanya muncul dalam novel Gadis Kretek yang kemudian diadaptasi menjadi serial yang dibintangi Dian Sastro. Toko ini menjadi petunjuk bawah setting serial itu ada di Muntilan, Jawa Tengah.

    Awalnya, pada 1912, Nyonya Pang hanya berjualan jenang dodol. Karena banyak digemari, akhirnya Nyonya Pang resmi membuka toko pada tahun 1950. Toko ini kini telah dijalankan oleh generasi ke enam.

    Toko Nyonya Pang ini sangat mudah ditemui di Muntilan karena lokasinya yang strategis dekat dengan jalan raya. Tepatnya berlokasi di Jalan Pemuda No.71, Growong, Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun sebaiknya pengunjung datang menggunakan motor atau kendaraan umum saja karena tokonya berada di deretan pertokoan lain yang menjadikan area parkirnya terbatas.

    Saat memasuki toko ini pengunjung akan dibuat bingung karena banyak sekali pilihan oleh-oleh yang tersedia di sini. Ada wajik, pie susu, dodol, bakpia, krasikan, miku, moho, aneka keripik, dan masih banyak lagi. Namun tenang saja, karena staf-staf toko di sini akan membantu menemukan jajanan yang dicari.

    8. Pasar Kayu Muntilan

    Pasar Kayu Muntilan bukanlah destinasi wisata, namun setelah penayangan Gadis Kretek pasar ini ramai dikunjungi wisatawan. Banyak yang penasaran dan ingin berfoto spot-spot syuting ini.

    Saat syuting berlangsung Pasar Kayu ini dikosongkan, para penjual kayu pun tidak bisa berjualan seperti biasa, namun sebagai gantinya mereka diberikan kompensasi. Lapak-lapak penjual kayu ini disulap menjadi pasar zaman dulu, sesuai setting serial Gadis Kretek, tahun 1960-an.

    Beberapa kios dijebol untuk diubah menjadi pasar sayur-sayur, kafe, percetakan, warung jadul, hingga gudang rokok kretek. Proses pengosongan berlangsung kurang lebih lima hari dan pengembaliannya juga sekitar lima hari, sementara itu proses syuting berlangsung selama 1 minggu.

    9. Pabrik cerutu Taru Martani 1918

    Pabrik ini berada di Baciro, Yogyakarta dan telah beroperasi sejak 1918. Pabrik ini disebut-sebut sebagai pabrik ceritu tertua di Asia Tenggara.

    Pabrikceritu Taru Martani 1918 mulanya berada di JalanMagelang dan dimiliki oleh warga berkebangsaan Belanda. Dalam prosesnya, salah satunya karena peristiwa bom atom di Nagasaki dan Hiroshima pada 1945, pabrik itu diambil alih oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan diberi nama Taru Martani.

    10. Muntilan

    Dalam serial Gedis Kretek disebutkan Kota M. Yang oleh penulis novel kemudian diakui adalah Muntilan. Ternyata kota ini sudah menjadi kota favorit Belanda.

    Muntilan dalam peta tahun 1922, diapit oleh empat deretan Pegunungan; di wilayah Utara Pegunungan Lemah, di Timur Gunung Merapi dan Pegunungan Merbabu, di Selatan Pegunungan Gendol dan pegunungan Ukir serta Pegunungan Sipodang di bagian Barat.

    Dikelilingi oleh deretan pegunungan membuat Muntilan dikelilingi banyak sungai, antara lain; Sungai Blongkeng, Sungai Pabelan, Sungai Poetih dan juga Sungai Droedjo yang bermuara pada Sungai Progo. Dengan banyaknya jumlah sungai di Muntilan, menjadilan Muntilan sebagai kawasan pertanian dan perkebunan yang subur.

    Muntilan masuk dalam wilayah gouvernement yang menjadi kawasan perkebunan tembakau serta pertanian padi yang subur. Kini, Muntilan masih memiliki pesawahan luas, juga menjadi salah satu jujugan wisata kuliner bagi traveler yang melancong ke Magelang atau Yogyakarta. Kawasan ini memiliki makanan khas tape ketan dan wajik Nyonya Pang.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mampir ke Pabrik Cerutu di Jogja, Konon Tertua di Asia Tenggara



    Yogyakarta

    Pabrik cerutu Taru Martani merupakan pabrik bersejarah di Jogja. Berdiri sejak 1918, pabrik cerutu ini diklaim sebagai yang tertua se-Asia Tenggara.

    Pabrik cerutuTaru Martani terletak di Jalan Kompol BambangSuprapto,Gondokusuman, Yogyakarta.detikJogja sempat mampir ke sana dan melihat sejumlah lukisan dan foto pendiri pabrik yakni Adolphe Antoine Louis Marie Mignot.

    Selain itu, ada pula sederet foto kunjungan tamu ke Taru Martani, di antaranya ada potret pejuang revolusi Kuba Ernesto ‘Che’ Guevara dan beberapa tokoh Indonesia.


    Hingga saat ini, traveler juga dapat melihat aktivitas pegawai yang menjemur daun tembakau di belakang pabrik. Selain itu, ada pula proses pemisahan daun tembakau dari tulang daunnya.

    Lalu tampak pula perempuan yang sibuk melinting cerutu dengan alat linting manual.

    Pabrik cerutu Taru Martani 1918. Foto diambil Kamis (30/11/2023).Pabrik cerutu Taru Martani 1918. (Foto: Mahendra Lavidavayastama/detikJogja)

    Kepala Divisi Produksi Taru Martani 1918, Adam Santosa menjelaskan jika perusahaan ini mulanya berada di Jalan Magelang, Jogja, pada tahun 1918. Perusahaan ini dulunya dimiliki oleh seseorang berkebangsaan Belanda keturunan Perancis.

    “Jadi berdirinya (Taru Martani) tahun 1918 dulu dimiliki oleh pribadi bukan company. Awalnya di Jalan Magelang itu, pemiliknya bernama Adolphe Antoine Louis Marie Mignot, dia berkebangsaan Belanda tapi punya keturunan Perancis juga,” kata Adam saat ditemui di Taru Martani, pada Kamis (30/11/2023).

    Seiring berkembangnya waktu, pabrik cerutu ini mengalami perkembangan yang pesat dan Adolphe memutuskan untuk membeli tanah di daerah Baciro yang menjadi lokasi saat ini. Di kawasan Baciro inilah, Adolphe memutuskan untuk mendirikan perusahaan yang lebih besar pada 1921 dan diberi nama N.V. Negresco.

    “Kemudian 1921 (pabrik) dipindahkan, dia (Adolphe) merasa bahwa perlu mendirikan perusahaan yang cukup besar maka dia beli tanah di daerah sini, Baciro dari dulu tanah itu seluas ini. Karena usahanya berkembang dengan baik, waktu itu (nama) perusahaan N.V. Negresco waktu itu,” jelasnya.

    Pabrik cerutu Taru Martani 1918. Foto diambil Kamis (30/11/2023).Pabrik cerutu Taru Martani 1918 (Foto: Mahendra Lavidavayastama/detikJogja)

    Namun, pada masa penjajahan Jepang pada 1942 perusahaan ini diambil alih. N.V. Negresco ini pun berganti nama menjadi Jawa Tobacco Kojo.

    “Ketika Jepang menduduki Indonesia saat itu tahun 1942, maka otomatis perusahaan ini direbut oleh Jepang kemudian diganti lah namanya menjadi Jawa Tobacco Kojo. (Mereka) Kemudian mengeluarkan produk-produk, kalau dulu ada namanya merek Panther dan lain sebagainya, oleh Jepang produknya diubah namanya menjadi ada Mizuho, Momo Taro, Koa,” ujar Adam.

    Setelah masa pendudukan Jepang, pabrik ini diambil alih Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1945. Nama pabrik lantas diganti menjadi Taru Martani.

    Pada 1961, pemerintah Indonesia melalui Bank Industri Negara menghidupkan kembali pabrik cerutu ini dengan melakukan kerja sama.

    Namun, upaya tersebut kurang membuahkan hasil. Akhirnya, Taru Martani di bawah kepemilikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX melakukan kerja sama dengan perusahaan Belanda yaitu Douwe Egberts.

    Semenjak saat itu, mulai ada peningkatan penjualan yang pesat, bahkan karyawan pada saat itu mencapai 1.000 orang.

    Taru Martani mencapai masa kejayaan pada 1997.

    “Saya pertama masuk tahun 1997 itu pas gemilangnya, saat itu cerutunya lho sangat gemilang. Dulu di tahun 1997 satu bulan hanya Amerika saja itu 1,2 juta batang per bulannya,” kenang Adam.

    Berita selengkapnya baca di detikJogja.

    (pin/pin)



    Sumber : travel.detik.com

  • Candi Abang, Candi Sisa Reruntuhan, Makam Jeng Yah di Series Gadis Kretek



    Sleman

    Candi Abang menjadi perbincangan setelah muncul di salah satu adegan serial Gadis Kretek. Candi ini ada pada episode terakhir sebagai makam Dasiyah atau Jeng Yah.

    Candi Abang merupakan satu candi unik yang berada di Blambangan, Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika berkunjung ke sini, traveler tidak akan menemukan bangunan candi megah atau bertingkat seperti candi-candi pada umumnya. Di sini hanya tersisa beberapa runtuhan dari candi.

    Tidak diketahui pasti kapan Candi Abang ini dibangun, diperkirakan candi ini telah ada pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10. Pernah ditemukan sebuah prasasti bertuliskan tahun 872 Masehi pada candi ini, namun belum diketahui apakah tulisan tersebut merujuk pada tahun pembangunan candi.


    Candi ini dinamakan Candi Abang karena material bangunannya yang berasal dari batu bata merah. Kata ‘Abang’ dalam bahasa Jawa memiliki arti merah.

    Candi Abang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dari pusat kota Jogja, jalan menuju candi sudah cukup memadai, namun untuk sampai ke area candi, pengunjung harus berjalan kaki dengan jalan sedikit menanjak karena candi ini berada di atas bukit.

    Terdapat gundukan tinggi menyerupai bukit yang berwarna hijau, traveler bisa melihat pemandangan alam dan gedung serta kesibukan Kota Sleman dari atas sini.

    Setting makam Jeng Yah sendiri tidak bisa dilihat lagi karena sudah dibongkar. Namun candi ini tetap bagus untuk didatangi karena memiliki panorama indah yang estetik sebagai spot foto.

    Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

    Tiket masuk pun tidak perlu membayar mahal-mahal, cukup dengan membayar Rp 5000 dan parkir kendaraan Rp 2000 untuk motor dan Rp 5000 untuk mobil. Traveler bisa parkir di depan warung kecil yang berada di dekat gerbang masuk candi.

    Pemilik warung mengatakan bahwa warungnya juga sempat dijadikan area syuting yang dilakukan pada bulan Mei 2023 lalu itu. Proses syuting dilakukan dalam waktu 1 hari 1 malam.

    Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

    “Pas itu warung saya ini disewa untuk syuting, jadinya nggak jualan. Ceritanya itu di sini untuk ngopi, sini cuma dikasih berapa aja renteng kopi terus makanan-makanan kecil. Terus sebelah ini ada jualan soto gitu,” katanya.

    Jika ingin berkunjung ke sini, traveler disarankan untuk datang pada pagi atau sore hari untuk melihat sunset, karena siang hari matahari di sini sangat terik dan area candi hanya memiliki satu pondok kecil untuk berteduh. Jam operasional candi adalah pada jam 07.00 – 18.00 WIB.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kulon Progo Rasa Kayangan, Namanya Puncak Suroloyo



    Kulon Progo

    Yogyakarta punya banyak wisata alam yang memesona. Mungkin yang satu ini belum kamu tahu, namanya Puncak Suroloyo.

    Menilik Google Maps, destinasi satu ini berlokasi di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Dihitung dari kota Jogja, jaraknya sekitar 40 hingga 50 kilometer. Sementara jika diukur dari Wates, ibu kota Kulon Progo, jaraknya sekitar 35 kilometer.

    Mengutip laman Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Puncak Suroloyo merupakan puncak tertinggi di Pegunungan Menoreh. Ketinggiannya mencapai 1017 meter di atas permukaan laut. Tak heran, pemandangan yang ditawarkannya begitu menawan dan memanjakan mata.


    Untuk dapat mencapai bagian puncaknya, detikers perlu menaiki anak tangga dengan waktu sekitar 15 menit. Usai berada di bagian puncak, pemandangan indah nan menawan akan membayar semua rasa pegal yang terasa.

    Puncak Suroloyo buka selama 24 jam. Namun, perlu detikers ketahui bahwa tidak ada penginapan atau villa di puncaknya. Meski demikian, di bagian bawahnya terdapat beberapa penginapan yang dapat dijadikan pilihan.

    Pemilihan waktu agar mendapatkan pemandangan maksimal pun perlu dipertimbangkan. Agar dapat menyaksikan sunrise, disarankan untuk sampai di bagian atasnya sekitar jam 05.30 WIB. Sementara itu, untuk melihat sunset, detikers direkomendasikan berada di lokasi pada jam 17.00 WIB.

    Puncak SuroloyoPuncak Suroloyo Foto: (Yusran Firmansyah Effendi/d’traveler)

    Untuk dapat menikmati keindahannya, detikers hanya perlu membayar Rp 6.000 per orang. Biaya tambahan untuk parkir motor dan mobil berturut-turut adalah Rp 2.000 dan Rp 5.000.

    Fasilitas di Puncak Suroloyo terhitung cukup lengkap, mulai dari mushola, kamar mandi, 3 pendopo untuk menyaksikan pemandangan, Warung dan kios

    Daya tarik paling utama Puncak Suroloyo adalah pemandangan yang menawan. Selain sunrise dan sunset yang telah disebutkan, detikers juga dapat melihat hamparan kebun teh super hijau.

    Mengutip laman resmi Kapanewon Samigaluh, dari puncaknya, pengunjung dapat menyaksikan empat gunung yakni Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro. Jika beruntung, kabut yang terhampar juga dapat dilihat laksana awan.

    ***

    Baca berita selengkapnya di sini.

    (bnl/bnl)



    Sumber : travel.detik.com