Tag: yogyakarta

  • Pantai Sadranan, Surganya Pecinta Snorkeling di Gunungkidul



    Gunungkidul

    Jalan-jalan ke Gunungkidul tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi pantai-pantainya. Salah satu pantai yang wajib dikunjungi adalah Pantai Sadranan.

    Pantai ini berada di Dusun Pulegundes II, Desa Sidoarjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai Sadranan memiliki keindahan alam yang eksotis sehingga menarik perhatian para wisatawan yang mencari keindahan alam pantai yang masih alami dan belum terlalu ramai.

    Pantai ini bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil ataupun menggunakan bus pariwisata, akses jalannya pun memadai dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam – 2 jam dari pusat Kota Yogyakarta.


    Begitu sampai di sini, traveler akan dibuat terpukau dengan hamparan pasir putih yang lembut dan air jernih dengan perpaduan warna biru dan hijau yang cantik. Pengunjung boleh berenang di area tepian pantai saja.

    Pantai Sadranan di Gunungkidul, YogyakartaPantai Sadranan di Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

    Pesona paling menarik dari pantai ini adalah batu-batu karang yang tersebar di dekat pantai, memecah ombak di tengah sehingga pantai ini tampak lebih tenang. Pengunjung bahkan bisa berjalan-jalan di dekat beberapa batu karang karena airnya dangkal.

    Tidak perlu takut bosan berkunjung ke sini karena ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sini, salah satunya adalah mencoba naik perahu kano dengan membayar sewa mulai dari Rp 50 ribu.

    Pantai Sadranan di Gunungkidul, YogyakartaKios oleh-oleh di Pantai Sadranan di Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

    Pantai Sadranan juga terkenal dengan keindahan bawah lautnya, sehingga banyak wisatawan yang tertarik untuk melakukan snorkeling di sini. Di sepanjang pantai banyak yang menyediakan penyewaan peralatan snorkeling.

    “Seru banget seru, tadi juga ada pemandunya yang ngarahin jadi walaupun ini pertama kali snorkeling yang bener-bener gini gak masalah sih. Wajib dicoba,” kata Yuni, salah satu pengunjung.

    Di sekitar pantai banyak berdiri warung-warung kecil, tempat makan, penjual pakaian, hingga penjual oleh-oleh. Pantai Sadranan juga sudah dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi untuk berganti pakaian, toilet, dan gazebo untuk bersantai.

    Pantai Sadranan berada di dekat beberapa pantai lain di Gunungkidul seperti Pantai Krakal, Pantai Slili, dan Pantai Ngandong. Traveler bisa langsung mengunjungi pantai-pantai lain juga setelah dari pantai ini.

    Harga tiket masuknya hanya Rp 10 ribu saja per orang, sudah mencakup semua pantai yang ada di area ini. Ada juga biaya parkir motor sebesar Rp 5 ribu dan mobil Rp 10 ribu. Pengunjung bebas datang kapan saja karena Pantai Sadranan buka selama 24 jam.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pantai Mesra di Gunungkidul Dijuluki Miami-nya Jogja



    Gunungkidul

    Salah satu pantai di Gunungkidul, Yogyakarta yang sedang populer saat ini adalah Pantai Mesra. Pantai ini memiliki banyak spot-spot cantik untuk dijadikan tempat berfoto.

    Pantai Mesra terletak di Jalan Pantai Kukup, Ngepung, Kemadang, Ngrawe, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Letaknya persis bersebelahan dengan Pantai Kukup, hanya dipisahkan oleh batu karang besar.

    Untuk sampai ke pantai ini, traveler harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam jika berangkat dari kota Yogyakarta. Namun tidak perlu khawatir, karena akses jalan di sini sudah sangat bagus.


    Sebelum sampai ke lokasi pantai, setiap pengunjung harus membayar tiket masuk dari arah jalan masuk sebesar Rp 10 ribu, setelah di area pantai cukup membayar biaya parkir saja sebesar Rp 3 ribu untuk motor dan Rp 5 ribu untuk mobil.

    Pantai Mesra di Gunungkidul, YogyakartaPantai Mesra di Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

    Saat memasuki Pantai Mesra, traveler akan disambut dengan taman kecil dengan rerumputan hijau yang telah dilengkapi kursi dan lampu taman. Hal ini tidak akan traveler temui di pantai-pantai lain Gunungkidul dan menjadi saya tarik yang khas dari pantai Mesra.

    “Berasa bukan di Jogja sih ini, dari beberapa pantai yang sudah saya datangi menurut saya Pantai Mesra ini yang paling bagus,” kata Murni, salah satu pengunjung.

    Di sisi-sisi taman ini terdapat kios-kios yang berbaris rapi dengan bentuk dan warna seragam, di sini traveler bisa berburu es kelapa serta kuliner mulai dari makanan ringan hingga berat.

    Terdapat pula rest area, mushola, serta toilet di sini. Traveler juga bisa menyewa payung atau tikar untuk dipakai di sekitar pantai.

    Pantai Mesra ini tidak terlalu luas, di depannya terdapat beberapa pohon-pohon berukuran sedang serta tulisan ‘Pantai Mesra’. Pasirnya berwarna putih bersih dengan batu-batu karang besar yang menghiasi bibir pantai.

    Di pinggiran tebing karang berdiri beberapa gazebo yang disewakan untuk pengunjung berteduh dan menikmati pemandangan pantai dari atas. Spot ini juga sempurna untuk menikmati sunset.

    Pantai yang sering dijuluki Miami-nya Jogja ini memiliki ombak yang cukup besar sehingga para pengunjung dihimbau untuk tidak berenang di lautnya.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Rekomendasi Tempat Wisata di Malioboro: Museum Benteng Vredeburg



    Yogyakarta

    Berwisata di Malioboro tak sekadar belanja atau nongkrong. Traveler juga dapat belajar sejarah di Museum Benteng Vredeburg.

    Museum Benteng Vredeburg berada di kawasan Malioboro atau tepatnya berada dekat Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Museum ini berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk Malioboro yang dipenuhi wisatawan tiap musim liburan.

    Museum Benteng Vredeburg menyimpan koleksi berupa bangunan peninggalan Belanda serta diorama yang berisi kisah pembentukan negara Indonesia. Pada diorama-diorama itu traveler dapat mempelajari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka, persiapan menuju kemerdekaan, kondisi pascakemerdekaan, hingga masa Orde Baru.


    Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

    Sejarah ini dijelaskan dengan cara yang cukup menarik menggunakan patung, foto, dan lukisan. Selain itu terdapat fasilitas interaktif termasuk layanan audiovisual untuk membantu pengunjung mendapatkan pengetahuan.

    Tak cuma mengenal sejarah, banyak juga pengunjung yang datang untuk berfoto. Benteng bersejarah itu memang memiliki arsitektur yang indah dan megah sehingga kerap diabadikan sebagai latar foto.

    Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

    Jam Buka dan Harga Tiket

    Museum Benteng Vredeburg buka Selasa-Minggu. Harga tiket bervariasi berdasarkan usia pengunjung. Berikut penjelasan lengkap mengenai jam buka dan harga tiket.

    Jam Buka:

    • Selasa – Minggu : 07.30 – 16.00 WIB
    Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

    Harga Tiket:

    • Wisatawan mancanegara : Rp 10.000
    • Wisatawan lokal
      – Dewasa perorangan : Rp 3.000
      – Dewasa rombongan : Rp 2.000
      – Anak-anak perorangan: Rp 2.000
      – Anak-anak rombongan : Rp 1.000

    (pin/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Yang Hijau-hijau di Jogja, Wisata Tepi Sawah di Geblek Pari Nanggulan



    Yogyakarta

    Traveler yang berencana menghabiskan Tahun Baru di Yogyakarta, coba deh mampir ke Kulon Progo. Di sana terdapat restoran tepi sawah yang menarik bernama Geblek Pari.

    Geblek Pari belakangan ini viral di kalangan wisatawan pemburu pemandangan hijau. Restoran yang terletak di Nanggulan, Kulon Progo itu memang berdiri di pinggir sawah dan menawarkan nuansa pedesaan.

    detikTravel sempat berkunjung ke Geblek Pari beberapa waktu lalu. Untuk menuju Geblek Pari, traveler harus melewati desa yang sempit. Namun perjuangan itu terbayar lunas dengan suasana asri di sana.


    Restoran ini cukup luas. Daya tampungnya dapat mencapai 700 orang.

    Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaGeblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Putu Intan/detikcom

    Selain tempatnya yang nyaman, traveler juga dapat menikmati masakan tradisional khas desa Kulon Progo. Di sini, traveler tak perlu memesan makanan melainkan langsung mengambil nasi dan lauk di dapur.

    Menu andalan di sini antara lain bronkos hingga oseng klompong. Jangan lupa juga untuk memesan geblek yang merupakan ikon Kulon Progo.

    Geblek adalah makanan tradisional yang terbuat dari tepung tapioka dan bumbu bawang yang digoreng gurih. Geblek ini mirip dengan cireng di Jawa Barat.

    Sebagai makanan khas Kulon Progo, geblek juga menginspirasi penamaan restoran ini. Koordinator Geblek Pari, Ardi, menjelaskan nama restoran itu memang mengangkat kekuatan geblek di Kulon Progo.

    “Geblek makanan khas Kulon Progo seperti cireng. Pari itu padi. Jadi, Geblek Pari itu artinya makan geblek sambil lihat padi,” kata Ardi.

    Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaMakan dengan view sawah di Geblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta (Foto: Putu Intan/detikcom)

    Nama ini sangat cocok karena traveler dapat menikmati makanan sambil menikmati hijaunya persawahan dan perbukitan di Nanggulan. Suasananya sungguh syahdu dan menenangkan.

    Bila sudah kenyang, traveler juga dapat berkeliling sawah dengan menyewa kendaraan. Geblek Pari menyewakan skuter hingga ATV untuk digunakan pengunjung.

    “Harga sewa ATV per jam Rp 100 ribu. Kalau skuter per jam Rp 30 ribu – 40 ribu,” ujar Ardi.

    Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaGeblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Putu Intan/detikcom

    Sementara itu, traveler juga dapat belajar membatik di Geblek Pari. Untuk harganya bervariasi tergantung media untuk membatiknya. Untuk kipas harganya Rp 40 ribu, totebag Rp 40 ribu, dan kain Rp 25 ribu.

    Betah singgah di Geblek Pari, traveler juga bisa menginap di homestay. Geblek Pari memiliki 2 homestay yang masing-masing dilengkapi 4 tempat tidur. Untuk harga sewa per malamnya adalah Rp 400 ribu.

    Geblek Pari buka setiap hari dengan jam operasional Senin – Jumat pukul 08.00 – 20.00 WIB. Sedangkan Sabtu – Minggu pukul 07.00 – 20.00 WIB.

    (pin/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Baron Techno Park, Wisata Edukasi Punya Jam Matahari



    Gunungkidul

    Gunungkidul memiliki wisata edukasi yang berada tidak jauh dari area wisata pantai, yaitu Baron Techno Park. Jaraknya hanya sekitar 10 menit perjalanan dari Pantai Baron.

    Baron Techno Park merupakan kawasan pengembangan energi terbarukan, pengunjung bisa melihat solar panel, menara kincir angin, dan pembibitan tanaman. Tempat ini berdiri pada tahun 2009 dengan dana hibah dari NORAD Norwegia.

    Meskipun telah cukup lama berdiri, kawasan wisata ini masih tergolong sepi pengunjung. Padahal untuk masuk ke sini pengunjung tidak akan dikenakan tiket masuk.


    Baron Techno Park terletak di Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Kawasan ini dibuka setiap hari Jam 09.00 – 17.00 WIB. Butuh waktu kurang lebih 1,5 jam untuk sampai ke sini jika berangkat dari pusat kota Jogja.

    Daya tarik utama dari Baron Techno Park adalah Jam Matahari, kebanyakan pengunjung di sini datang untuk melihat monumen unik tersebut.

    “Kan ini katanya tempat penelitian energi alternatif gitu ya tapi suka sih dibuka buat wisata juga, yang jelas bisa lihat Jam Mataharinya ini. Pemandangannya paling mantap daripada di pantai aja,” kata Darmi, pengunjung Baron Techno Park.

    Saat masuk ke kawasan ini, akan ada petugas yang mengarahkan dan mengantar ke tempat Jam Matahari. Pengunjung harus berjalan sedikit di jalan setapak dan puluhan anak tangga untuk sampai di Jam Matahari.

    Baron Techno Park, Gunungkidul, YogyakartaBaron Techno Park, Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

    Jam Matahari merupakan sebuah tugu yang dibangun miring dengan lingkaran jam yang bertuliskan angka Romawi. Untuk mengetahui jam, maka bisa melihat di angka berapa arah bayangan tugu terlihat.

    Pada area Jam Matahari ini lah, pengunjung akan disuguhkan panorama laut biru membentang, ombak yang menabrak tebing karang, tumpukan batu-batu karang, dan pohon-pohon rimbun di sekitarnya.

    Jam Matahari ini dikelilingi dengan pagar pendek dengan rerumputan hijau di sampingnya. Pengunjung juga bisa melihat menara kincir angin dan menara mercusuar Pantai Baron dari Jam Matahari ini.

    Jam Matahari Baron Techno Park ini sangat cocok dikunjungi di sore hari, dengan menikmati hembusan angin sejuk dan sunset yang berpadu dengan ketenangan lautan luas.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Gua Maria Tritis, Wisata Religi dengan Stalaktit yang Memukau



    Gunungkidul

    Selain pantai, Gunungkidul juga memiliki wisata gua yang menawan. Namanya Gua Maria Tritis.

    Gua Maria Tritis berada di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Gua Maria Tritis berada tidak jauh dari area Pantai Kukup, berjarak sekitar 15 menit perjalanan. Jika berangkat dari pusat kota Jogja maka akan membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

    Dulu, gua ini kerap menjadi tempat persinggahan pangeran dari Kerajaan Mataram. Kemudian, pada 1974 baru dikenal oleh umat Katolik setelah digunakan sebagai tempat Ekaristi Natal.


    Nama ‘Tritis’ diambil dari air yang terus menetes dari stalaktit di langit-langit gua. Lalu ditambah dengan ‘Maria’ setelah gua ini mulai sering digunakan sebagai tempat peziarahan umat Katolik.

    Gua ini terletak di kawasan perbukitan karst Gunungkidul. Saat memasuki kawasan gua, pengunjung akan diminta untuk memarkirkan kendaraan di tempat parkir yang berada di seberang toilet dan pondok Emmaus.

    Gua Maria Tritis di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.Gua Maria Tritis di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. (Lintia Elsi)

    Kemudian, pengunjung harus berjalan melewati jalan setapak yang menurun untuk sampai di depan gua. Di sini ada bangunan kantor pengurus dan toilet. Suasananya masih sangat asri dengan pohon-pohon rindang di sekitarnya.

    Stalaktit dan stalagmit menghiasi bagian dalam gua, tempat duduk kayu untuk berdoa tersusun rapi di tengah-tengahnya. Terdapat patung Maria di salah satu sudut gua, juga patung Yesus di sudut lainnya.

    Gua ini juga tampak indah dengan tanaman hijau alami di sisi-sisinya, jalan batu di depan, dan pagar yang membatasi area gua dengan lubang besar di sampingnya.

    Pengunjung juga bisa mencoba menaiki jalanan menanjak untuk sampai ke puncak kawasan ini yaitu Bukit Golgota. Bukit ini merupakan bukit batu dengan tiga salib di atasnya.

    Gua Maria Tritis di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.Gua Maria Tritis di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. (Lintia Elsi)

    Tidak jauh dari Bukit Golgota terdapat stasi ke-14 di mana menjadi tempat Yesus dimakamkan. Dari atas sini pengunjung bisa langsung berjalan lurus hingga tembus ke area parkiran awal.

    Saat detikTravel mengunjungi Gua Maria Tritis, gua ini tampak cukup sepi dan tenang.

    “Biasanya pagi itu lumayan rame, kalau mau Natal agak sepi karena kan banyak yang pulang kampung, nanti tahun baru rame lagi,” kata seorang petugas kebersihan Gua Maria Tritis.

    Gua Maria Tritis ini bisa dikunjungi siapa saja, tidak terbatas pada umat Katolik saja. Tidak ada biaya masuk yang ditetapkan, pengunjung bisa membayar di kotak yang terletak dekat tempat parkir seikhlasnya.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menikmati Jamu Racikan Leluhur di Desa Wisata Kiringan Yogyakarta



    Bantul

    Jamu merupakan minuman tradisional yang sarat akan khasiat dan budaya. Traveler dapat menikmati jamu warisan leluhur di Desa Kiringan, Yogyakarta.

    Desa Wisata Kiringan di Bantul, Yogyakarta dikenal sebagai desanya para perajin jamu. Hingga kini, tercatat ada 132 perajin jamu yang aktif memproduksi minuman tradisional di sana.

    Penasaran dengan desa jamu itu, detikcom berkunjung ke Desa Wisata Kiringan beberapa waktu lalu. Di sana, kami berjumpa dengan salah satu perajin jamu yakni Murjiati.


    Murjiati merupakan ketua perajin sekaligus ketua Koperasi Jamu Kiringan. Ia memiliki produk jamu yang dinamakan Riski Barokah.

    Di rumahnya yang sederhana, ia setiap hari membuat jamu untuk dijual di Pasar Imogiri. Setiap hari, ia menyiapkan sekitar 100 porsi jamu untuk para penikmat jamu yang sudah menjadi langganannya.

    Desa Jamu Kiringan di YogyakartaDesa Jamu Kiringan di Yogyakarta. Foto: Ari Saputra/detikcom

    Jamu yang ia jual beragam. Mulai dari kunyit asam, beras kencur, hingga uyup-uyup. Murjiati mengaku, jamu yang ia produksi ini mempertahankan resep dari para pendahulunya.

    “Saya penjual jamu dari warisan nenek moyang. Dulu Si Mbah (nenek) saya jualan jamu antara tahun 60-an. Setelah Si Mbah sudah tua, diganti Ibu. Ibu sudah tua, saya yang menggantikan. Saya jualan jamu sejak 1985, sejak usia 15 tahun sudah mulai jualan,” kenangnya.

    Menurutnya, resep jamu leluhur yang paling penting adalah menggunakan bahan alami dan tanpa pengawet. Dengan racikan itu, manfaat jamu untuk kesehatan akan menjadi maksimal.

    “Semua perajin jamu di Dusun Kiringan tidak ada pengawet sedikit pun. Kita membuat jamu yang segar dan instan (kemasan seduh) secara alami, herbal. Tidak ada sedikit pun bahan yang untuk diawetkan, nggak ada. Jadi semua betul-betul alami,” kata dia.

    Desa Jamu Kiringan di YogyakartaKetua perajin jamu di Desa Kiringan, Murjiati. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

    detikcom yang penasaran dengan rasa jamu Desa Kiringan memutuskan untuk mencobanya. Keunikan meminum jamu di sini adalah tidak menggunakan gelas melainkan memakai batok kelapa.

    Sensasi minum jamu secara tradisional ini yang membuat pengalaman itu semakin menyenangkan. Apalagi dengan pemandangan sawah pedesaan yang membuat hati senang.

    Rasa jamu kunyit asam yang detikcom rasakan memang lebih segar dari pada jamu-jamu yang biasa dijual di Jakarta. Rasa rempah-rempahnya lebih mendominasi ketimbang manisnya gula. Setelah meminum sebatok jamu, badan juga terasa lebih bugar.

    Sebatok jamu ini dihargai Rp 4.000 – 5.000 tergantung jenis jamunya. Selain menjual jamu segar, Murjiati juga memproduksi jamu instan dalam kemasan yang bisa diseduh sewaktu-waktu. Untuk sebotol jamu instan dihargai Rp 15 ribu.

    (pin/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mengenal Museum Diponegoro Yogyakarta, Batal Jadi Lokasi Desak Anies



    Yogyakarta

    Museum Diponegoro Yogyakarta adalah salah satu museum yang bersejarah. Tak hanya karena koleksi, melainkan menjadi saksi bisu kaburnya Pangeran Diponegoro dari kejaran Belanda.

    Museum ini awalnya direncanakan menjadi tempat acara Desak Anies di Yogyakarta. Namun, hal itu diurungkan setelah izin acara tersebut dicabut. Adapun kini, Museum Diponegoro dikelola Korem 072/Pamungkas, Yayasan Wiratama dan bekerja sama dengan pihak swasta.

    Museum Diponegoro Sasana Wiratama adalah rumah masa kecil Pangeran Diponegoro. Mengutip laman jogjaprov.go.id, Rabu (24/1/2024), menurut sejarah, kompleks ini adalah tempat tinggal nenek buyut Pangeran Diponegoro, yakni Ratu Ageng (Permaisuri Sultan Hamengku Buwana I).


    Kemudian, rumah ini menjadi kediaman Pangeran Diponegoro sejak kecil sampai meletusnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (Java Oorlog) pada tahun 1825.

    Museum ini punya 413 koleksi yang terdiri dari berbagai jenis benda yang digunakan Pangeran Diponegoro pada masa lampau. Mengutip kebudayaan.jogjakota.go.id, koleksinya berupa senjata asli laskar Diponegoro seperti tombak, bandil, martil baja, serta patrem dan candrasa yakni senjata rahasia yang digunakan prajurit wanita.

    Ada pula dua senjata yang dikeramatkan, yakni keris dengan lekukan 21 seorang empu pada masa Kerajaan Majapahit, serta sebuah pedang berasal dari Kerajaan Demak. Kedua senjata keramat ini dipercaya dapat menolak sial.

    Karena merupakan bekas rumah pribadi, tak ketinggalan pula koleksi dari peralatan rumah tangga. Lalu ada juga seperangkat alat gamelan milik Sri Sultan Hamengku Buwono II, meriam, dan batu Comboran yang biasa digunakan untuk tempat minum kuda.

    Ada juga kereta kepangeranan milik Sri Sultan HB ke VIII yang berperan sebagai duplikat kepunyaan Pangeran Diponegoro. Kereta tersebut didapatkan dari Kraton Yogyakarta pada 1971.

    Salah satu yang paling ikonik dari museum ini adalah adanya tembok jebol. Yakni tembok yang dipercaya sebagai jalan Pangeran Diponegoro dan pasukannya ketika meloloskan diri dari sergapan tentara Belanda pada serangan 20 Juli 1825. Banyak yang beranggapan juga bahwa tembok ini dijebol dengan tangan kosong.

    Bagi traveler yang penasaran, bisa berkunjung ke museum dengan alamat Jalan HOS Cokroaminoto TR III/430, Tegalrejo, Yogyakarta. Jam bukanya pukul 08.30-15.00 WIB (Senin-Kamis) dan 08.30-13.30 WIB (Jumat). Sayangnya, untuk akhir pekan museum ini tutup.

    (wkn/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Gudeg Manggar Khas Jogja yang dibuat dari Manggar atau Bunga Kelapa

    – 500 gram bunga kelapa segar – 500 gram daging ayam, dipotong kecil – 5 butir telur, rebus hingga matang – 200 ml santan kental – 100 gram gula merah, sisir halus – 3 lembar daun salam – 2 batang serai, memarkan – 2 cm lengkuas, memarkan – 2 lembar daun jeruk – Garam secukupnya – Minyak goreng secukupnya – 5 siung bawang merah, haluskan – 3 siung bawang putih, haluskan – 3 butir kemiri, haluskan – 1 sendok teh ketumbar, haluskan – 1 sendok teh merica bubuk, haluskan – 1 sendok teh garam, haluskan



    Sumber : food.detik.com

  • Naik Bus Jogja Heritage Track



    Yogyakarta

    Yogyakarta tidak pernah kehabisan cara memanjakan wisatawan. Dengan modal sekali klik di smartphone, traveler bisa loh menikmati jalan-jalan keliling Jogja gratis selama satu jam, sudah begitu ditemani pemandu atau edukator.

    Cara baru untuk memudahkan wisatawan dan promosi wisata Yogyakarta itu bernama Jogja Heritage Track. Fasilitas itu dikembangkan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Bus Jogja Heritage Track (JHT) diresmikan pada Maret 2022, namun setiap tahunnya dilakukan relaunching dengan penambahan konsep baru. Di tahun 2024 JHT menambah konsep night tour atau jalan-jalan malam melintasi Jalan Malioboro. Tujuan utama dioperasikannya JHT adalah untuk memperkenalkan sumbu filosofis Jogja kepada para pengunjung.


    “Rencananya kita akan jalan-jalan mengenai tema historikal atau perjuangan Jogja sebagai ibu kota republik, dan juga rute kuliner, dan juga rute religius. Saat ini baru digodok sama Dinas Kebudayaan, siapa tahu di tahun ini bisa di-launching,” kata Budi, salah satu edukator Bus Jogja Heritage Track.

    Bus JHT memiliki dua jenis bus, yakni bus Kraton yang berwarna kuning dan bus Malioboro berwarna merah. Selama satu jam perjalanan, traveler akan diajak mengelilingi Jogja sesuai rute yang traveler pilih ketika melakukan reservasi.

    Bus wisata gratis di Yogyakarta Bus Jogja Heritage Track (JHTBus wisata gratis di Yogyakarta Bus Jogja Heritage Track (JHT) (Arawinda Dea Alisia)

    _

    Perjalanan akan semakin lengkap karena traveler akan ditemani edukator yang siap menceritakan sejarah Jogja dari masa Panembahan Senopati hingga saat ini. Kabar baiknya, seluruh fasilitas tersebut bisa traveler dapatkan tanpa dipungut biaya sepeserpun.

    “Karena memang di sini gratis, kami difasilitasi menggunakan dana keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta,” ujar Budi.

    Tertarik untuk menaiki Bus Jogja Heritage Track ini? Yuk, simak prosedur, rute, dan cara reservasinya.

    Prosedur Operasional Jogja Heritage Track

    1. Bus beroperasi mulai hari Selasa hingga Minggu pukul 08.00-16.00, dengan libur di hari Senin.
    2. Seluruh pendaftaran dilakukan melalui website jogjaheritage
    3. Minimal usia peserta Bus JHT adalah 15 tahun atau setara SMP. Apabila usia anak-anak atau di bawahnya (bayi yang dipangku atau di gendong) belum bisa difasilitasi.
    4. Kuota Reguler dalam 1 bus adalah 8 orang.
    5. Reservasi mandiri dibuka sejak H-3 mulai pukul 12.00 WIB hingga kuota terpenuhi.
    6. Apabila terdapat peserta yang membatalkan reservasi maka jadwal pada website akan kembali di buka.
    7. Peserta group dapat melakukan reservasi maksimal 5 orang.
    8. Peserta wajib mengenakan pakaian batik, kemeja, dan bersepatu. Dilarang menggunakan kaos, celana pendek, dan bersandal.
    9. Peserta diharapkan hadir 15 menit sebelumnya di meeting pointl yaitu di Kantor JTTC, Sleman. Cek lokasi di sini.
    10. Masing-masing peserta diwajibkan mengisi link evaluasi setelah selesai mengikuti kegiatan dengan scan barcode yang tersedia.

    Rute Jogja Heritage Tour

    Mengusung konsep city tour, traveler akan dibawa selama satu jam mengelilingi Jogja sesuai dengan rute yang dipilih. Tidak hanya berkeliling saja, nantinya traveler diajak turun melihat langsung destinasi wisata pilihan seperti Museum Sonobudoyo, Panggung Krapyak, atau Teras Malioboro.

    Berikut daftar selengkapnya :

    1. Sangkan Paraning Dumadi

    Beroperasi pukul 08.30 WIB dan tersedia dengan 2 pilihan bus yaitu Bus Kraton dan Bus Malioboro. Rutenya meliputi meeting point, Tugu, Keraton, dan berhenti sebentar di Panggung Krapyak

    2. Paraning Dumadi

    Beroperasi pukul 11.00 WIB dan tersedia dengan 2 pilihan bus yaitu Bus Kraton dan Bus Malioboro. Rute meliputi meeting point, Tugu, Keraton Yogyakarta, dan berhenti sebentar di Teras Malioboro.

    3. The Legacy

    Beroperasi pukul 14.00 WIB dan tersedia dengan 2 pilihan bus yaitu Bus Kraton dan Bus Malioboro. Rutenya meliputi meeting point, Pojok Benteng, Keraton, dan berhenti sebentar di Museum Sonobudoyo.

    4. Colonial Heritage (night tour)

    Beroperasi hanya pada Hari Rabu pukul 18.00 WIB dan tersedia dengan 2 pilihan bus yaitu Bus Kraton dan Bus Malioboro. Rutenya meliputi meeting point, Tugu Pal, Stasiun Tugu, Malioboro, Titik Nol KM, Bintaran, dan Kota Baru.

    Cara Reservasi Bus Jogja Heritage Tour

    1. Buka website jogjaheritage
    2. Klik menu “Reservasi Bus Jogja Heritage Track”
    3. Pilih tanggal pemesanan yang diinginkan.
    4. Klik “Liat Jadwal Keberangkatan” dan akan muncul pilihan rute berdasarkan detail informasi sesuai yang diinginkan.
    5. Jika belum terdapat keterangan “Full Booked” maka traveler masih bisa memilih rute tersebut.
    6. Jika sudah menentukan pilihan rute dan bus, pilih menu “Pesan Sekarang”.
    7. Mulailah mengisi keterangan yang tersedia dengan baik dan benar berupa jumlah penumpang, nama penumpang, tanggal lahir, instansi, kota asal, nomor WhatsApp, dan alamat email.
    8. Selanjutnya, untuk mendapat kode OTP, traveler dapat memilih “Kirim OTP WA” atau “Kirim OTP Email”.
    9. Setelah mendapatkan kode, traveler memasukkan kode OTP pada kolom yang tersedia.
    10. Setelah semua keterangan terisi lengkap , klik “Pesan Sekarang”
    11. Setelah itu, pesanan akan diproses oleh admin dan traveler akan mendapatkan informasi lebih lanjut melalui WhatsApp atau Email yang traveler cantumkan.

    Demikian ulasan lengkap mengenai Jogja Heritage Track yang bisa menjadi alternatif traveler ketika ingin berkeliling Jogja no budget. Meskipun gratis, pengalaman yang ditawarkan JHT sangat menarik loh, jadi tunggu apalagi? Segera lakukan reservasi.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com