Author: 29

  • Pendiri Apple, Steve Wozniak Yakin Harga Bitcoin Bisa Capai $ 100.000

    Pendiri Apple, Steve Wozniak memang terbilang aktif sebagai pendukung industri aset kripto. Baru-baru ini, Wozniak mengemukakan pendapatnya soal harga Bitcoin yang diyakini bisa mencapai $ 100.000 dalam beberapa waktu mendatang.

    Pernyataan wozniak itu disampaikan dalam sebuah program podcast “Wild Ride” bersama salah satu bintang film Jackass, Steve-O. Wozniak mengatakan nilai Bitcoin yang selama ini naik-turun mungkin bisa mencapai ATH (all time high) di harga $ 100.000 per keping BTC.

    “Saya pikir Bitcoin akan mencapai $ 100.000.”

    “Saya tidak tahu dari mana saya mendapatkan keyakinan itu. Saya memang tidak bisa menerapkan rumus matematika apa pun ke dalamnya. Saya hanya benar-benar merasa yakin berdasarkan semua kondisi saat ini dan ke depannya. Minat pada kripto sangat tinggi,” kata Wozniak.

    Ilustrasi Bitcoin.

    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Blockchain Bisa Ciptakan Peluang Ekonomi Digital Baru di RI

    Pengalaman Steve Wozniak Bermain Kripto

    Wozniak mencatat bagaimana harga bitcoin melonjak beberapa kali, ketika dia memilikinya dan sekarang hanya punya sedikit untuk bereksperimen.

    “Saya membeli banyak bitcoin di awal untuk mengetahui bagaimana bermain dengan hal baru ini? Bagaimana cara membeli sesuatu secara online? Saya coba menaklukkan itu. Saya ingin bereksperimen dan mempelajari semuanya,” ungkap pendiri Apple itu dikutip Bitcoin News.

    Saat awal bermain kripto, Wozniak menjelaskan punya banyak Bitcoin, namun tidak pernah untung. Tapi setelah selang beberapa lama dan ada dua kali kenaikan, baru dia mulai menghasilkan uang dari investasi aset kripto tersebut.

    Pendiri Apple, Steve Wozniak pendukung kripto, Bitcoin.

    Pendiri Apple, Steve Wozniak pendukung kripto, Bitcoin.

    Baca juga: Apakah Bitcoin Aman? Inilah Status Legalitasnya di Indonesia

    Bitcoin adalah “Emas Murni”

    Wozniak pernah membahas bahwa Bitcoin adalah emas murni. Sebelumnya, dia juga sempat melontarkan pujiannya terhadap kripto nomor satu dan tebesar di dunia itu dengan menyebut Bitcoin sebagai “keajaiban matematika” pada Juli 2021.

    Di sisi lain, Wozniak khawatir banyak pemerintah di berbagai negara akan melarang Bitcoin dan mata uang kripto lain. Dia menilai berbagai institusi dan lembaga pemerintah akan terus mengawasi perkembangan aset kripto.

    “Masalahnya adalah pemerintah tidak akan pernah membiarkannya (kripto) berada di luar kendali mereka. Jika sampai pada titik di mana semuanya dilakukan di kripto dan tidak melewati aturan pemerintah untuk observasi dan perpajakan dan semua itu, mereka hanya akan melarangnya. Mereka tidak akan melepaskan kekuatan mereka,” ujar Wozniak.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Miliarder Ini Proyeksi Harga Bitcoin Mentok di $ 50.000, Kenapa?

    Banyak spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed dan banyaknya institusi yang terjun ke industri kripto bisa mendongkrak pergerakan positif harga Bitcoin hingga $ 100.000. Namun, ada sosok miliader yang tidak setuju dengan hal itu.

    Michael Novogratz, CEO Galaxy Digital Holdings Ltd., skeptis dengan kemungkinan Bitcoin akan memecahkan rekor harga tertinggi pada tahun 2022 ini atau bisa menembus harga $ 100.000.

    Menurutnya, harga BTC sepanjang tahun ini, hanya akan bergerak di wilayah $ 30.000 hingga $ 50.000.

    “Saya pikir secara harfiah The Fed belum mulai menaikkan suku bunga, mereka belum mulai menarik likuiditas dari sistem, sehingga sepanjang tahun diperkirakan akan menjadi kisaran $ 30.000 hingga $ 50.000 dalam risiko bitcoin ke atas, bukan ke bawah,” kata Michael Novogratz dikutip Bloomberg.

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 23 Maret 2022: Kripto Tampil Menawan, Mulai Siuman?

    Investor Belum Investasi Besar di Kripto

    Lebih lanjut, Novogratz menyebutkan, meskipun The Fed mengerek suku bunga, investor nyatanya belum mau menginvestasikan banyak uang ke kripto selama pandemi COVID-19. Dampaknya Bitcoin belum bisa mencapai level tertinggi baru.

    Investor akan selalu mengevaluasi tingkat risiko dengan mempertimbangkan aksi The Fed yang melakukan pengetatan pasar dalam upaya untuk mengatasi inflasi. Ini berarti, memungkinkan mengembosi nilai Bitcoin jauh lebih rendah tahun ini.

    Novogratz menambahkan, perang yang sedang berlangsung di Ukraina juga akan mempengaruhi pilihan investor. Perang yang sedang berlangsung telah membawa pasar saham dan kripto ke dalam serangkaian pergerakan yang tidak terduga.

    Pada saat awal ketegangan Rusia-Ukraina terjadi, harga Bitcoin sempat bereaksi positif, karena diyakini Rusia bakal menggunakan kelas aset untuk menghindari sanksi. Namun, nampaknya tidak terlalu berpengaruh pada pergerakan nilai BTC.

    Ilustrasi aset kripto Bitcoin.
    Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

    Baca juga: Kecerdasan Buatan Bisa Digunakan untuk Investasi Aset Kripto

    Harga Bitcoin Bisa $ 500.000 Per Keping

    Dalam wawancara dengan Bloomberg tersebut, Novogratz juga memperkirakan bahwa Bitcoin (BTC) akan mencapai angka $ 500.000 per keping dalam lima tahun ke depan.

    “Anda tahu lima tahun ke depan, jika Bitcoin tidak mencapai $ 500.000, saya salah dalam memprediksi siklus,” katanya.

    Dia percaya bahwa aset kripto terbesar di dunia, Bitcoin telah tumbuh jauh lebih cepat tahun lalu daripada internet pada 1990-an. Novogratz percaya bahwa kita perlu mendapatkan jeda jika Bitcoin ingin reli secara agresif karena cerita naratif BTC adalah untuk membawa orang ke dalam komunitas.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Terus Jatuh, Metrik Tunjukan Fase Extreme Fear

    Penurunan harga Bitcoin (BTC) dalam beberapa pekan ini, membuat metrik Fear and Greed Index menunjukan posisi fase ketakutan ekstrem atau Extreme Fear. Faktanya, metrik tersebut berada dalam kondisi yang terburuk sejak akhir Januari lalu, ketika harga aset turun menjadi $33.000.

    Berdasarkan pantauan situs CoinMarketCap, nilai Bitcoin terus anjlok hingga hari Selasa (10/5) pukul 08.00 WIB, harga BTC berada di $ 31.027,13, turun 9,15% dalam 24 jam terakhir. Sementara, laporan data dari Coingecko, harga BTC anjlok 13,4 persen dalam dua pekan terakhir.

    Jatuhnya harga BTC yang hebat ini mengakibatkan perubahan dalam sentimen pasar secara keseluruhan, yang ditunjukkan oleh Bitcoin Fear dan Green Index. Dengan memeriksa posting media sosial komunitas, survei, volatilitas, volume perdagangan dan lainnya menentukan perasaan umum terhadap aset kripto terpopuler tersebut.

    Bitcoin Fear dan Green Index
    Bitcoin Fear dan Green Index masuk fase Extreme Fear.

    Baca juga: Proyeksi Harga Bitcoin yang Tertekan di Awal Mei 2022, Terus Turun?

    Investor Bitcoin Merasa Takut

    Metrik Bitcoin Fear dan Green Index menunjukkan hasil akhir dari 0 (ketakutan ekstrem) hingga 100 (ketamakan ekstrem). Hasilnya Bitcoin telah berada di wilayah ketakutan sejak pertengahan April, tetapi penurunan harga terbaru mendorongnya ke ketakutan yang ekstrem.

    Menurut laporan Crypto Potato, metrik menunjukan posisi BTC yang berada di posisi terendah sejak penurunan akhir Januari lalu. Performa Bitcoin di awal Mei juga tidak begitu bagus.

    Anjloknya harga BTC membuat para investor dan trader mengalami ketakutan hingga melakukan penjualan. Aksi jual ini turut memicu penurunan harga BTC. Tidak berhenti sampai di situ, anjloknya harga Bitcoin turut memicu penurunan harga altcoin.

    Tren Bitcoin Bakal Terus Turun

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat dari analisis teknikal, harga BTC lagi berusaha mempertahankan posisi di supportnya $ 34.000. Sekarang masih berada di bawah level support-nya dan menunggu konfirmasi pada candle daily.

    “Jika harga menutup di bawah garis level support, berarti ini konfirmasi bahwa harga akan terus mengalami penurunan ke level selanjutnya di sekitar $ 30.000. Tapi, mungkin Bitcoin akan bertahan di level support $ 34.000 selama beberapa hari baru akan ada konformasi selanjutnya, yaitu terus mengalami penurunan hingga capai $ 30.000,” kata Afid.

    Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.
    Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.

    Baca juga: Proyeksi Analis: Harga Bitcoin Menguat Pasca $ 25 Ribu, November 2022

    Bulan Mei biasanya merupakan periode musiman yang kuat untuk saham dan kripto. Alasannya secara historis, Bitcoin telah mengalami kenaikan transaksi 17% di bulan Mei dalam 9 tahun terakhir.

    Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi investor untuk memasuki pasar setelah tiga bulan melakukan perdagangan sideways. Namun, melihat penurunan yang hebat dan banyaknya sentimen negatif, membuat pergerakan naik akan jauh lebih sulit.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Miliarder Ini Tak Heran Jika Harga Bitcoin Turun Jadi US$ 10 Ribu

    Di tengah kesengsaraan pasar kripto, miliarder ini tak heran jika harga Bitcoin (BTC) akan terus turun, hingga US$ 10.000.

    Saat ini, harga Bitcoin masih belum dapat pulih, terus turun dan mencetak low baru, meski dolar AS mulai melemah akibat langkah The Fed yang menaikkan suku bunga ke 75 basis poin.

    Harga Bitcoin Turun ke US$ 10.000

    Berdasarkan laporan Finbold, miliarder dan CEO dari DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach, yakin bahwa harga Bitcoin akan turun jauh dari US$20.000, yang dianggap orang-orang sebagai titik potensial untuk membangun pijakan pemulihan.

    Jeffrey beranggapan bahwa harga kripto utama akan terus turun, tidak lebih dari US$10.000, yang telah ia ungkapkan dalam wawancara CNBC’s Closing Bell: Overtime.

    Saat pewawancara menanyakan prediksi Jeffrey tentang seberapa rendah Bitcoin akan jatuh, ia mengatakan bahwa tren kripto jelas tidak positif saat ini.

    Baca juga: Harga Bitcoin Agresif, Pasca The Fed Naikkan Suku Bunga Tertinggi

    “Pada Juli tahun lalu, Bitcoin naik menjadi US$60.000 atau lebih, kemudian turun menjadi US$30.000… Pada akhirnya itu akan jatuh dan kemudian harus bangkit kembali tetapi terus masuk, sepertinya sedang dilikuidasi. Jadi saya tidak bullish pada US$20.000 atau US$21.000 pada Bitcoin. Saya tidak akan terkejut sama sekali jika harganya mencapai US$10.000,” tambahnya.

    Di sisi lain, sudut pandang Jeffrey tampak berseberangan dengan ahli strategi komoditas dari Bloomberg, Mike McGlone, yang justru melihat US$20.000 sebagai titik terendah untuk BTC, alias bottom level.

    Baca juga: Era Bearish Pasar Kripto Semakin Tegas, Kapan Akan Berakhir?

    Mike pun meyakini bahwa BTC nantinya akan menjadi produk investasi penting, sehingga harganya akan melesat ke US$100.000 pada tahun 2025, satu tahun pasca halving terbaru BTC.

    Dan yang patut disorot saat ini adalah, kekhawatiran terjadinya resesi, pasca langkah agresif the Fed dalam menaikkan suku bunga. Beberapa analis memperkirakan ini akan terjadi pada pertengahan 2023.

    Dan jika resesi terjadi, maka pernyataan Robert Kiyosaki, penulis buku keuangan terlaris, Rich Dad Poor Dad, akan menjadi kenyataan.

    Robert berpendapat bahwa, AS akan jatuh ke dalam resesi karena ulah the Fed, sehingga emas, perak dan Bitcoin akan menyelamatkan kekayaan Anda. Ia pun mengatakan bahwa ini layak untuk dibeli sebanyak-banyaknya.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi Harga Bitcoin, US$ 209 Ribu pada Tahun 2025

    Prediksi harga Bitcoin berdasarkan bagan “Bitcoin Cycle Repeat”, bisa mencapai US$ 209 ribu per BTC pada tahun 2025. Halving 2024 adalah salah satu komponen terpentingnya. Bagan pun harus dianggap sebagai sekadar teori. Bagan yang mirip, yakni S2F karya PlanB, sudah dikritik tajam oleh Vitalik Buterin.

    Dengan tren saat ini, harga Bitcoin diprediksi bisa menjadi US$ 209 ribu pada Oktober 2025. Harga itu ditandai sebagai harga puncak tertinggi setelah Halving (after halving top) tahun 2024.

    Angka prediksi, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai FOMO (fear of missing opportunity) itu, berdasarkan data dari bagan (chartBitcoin Cycle Repeat dari situs BuyBitcoinWorldWide.

    Ada belasan bagan lain yang cukup berfaedah membantu Anda belajar lebih banyak tentang konsep, teori dan model proyeksi. Situs itu sebelumnya berdomain Digitalik.net yang sangat popular dan diakusisi oleh BuyBitcoinWorldWide pada tahun lalu.

    Baca juga: Yuk, Ketahui Cara Bermain Game Kawaii Island NFT Agar Cuan!

    Bagan itu menunjukkan bagaimana jadinya jika dari perubahan harga hari ini, atau pada hari lain di masa lalu, akan mengulangi polanya dari siklus sebelumnya. Satu siklus penuh adalah 1458 hari (4 tahun) dan data di bagan itu diperbarui setiap 5 menit.

    “Bagan Bitcoin Cycle Repeat menggunakan pergerakan rata-rata harga BTC selama 1.458 hari terakhir dan mengulangi pergerakan tersebut lagi untuk memprediksi harga setiap hari selama 1.458 hari ke depan. Bagan ini juga menampilkan harga teratas setelah halving sebelumnya serta puncak setelah setiap halving yang akan datang,” tertera di bagian penjelasan bagan itu oleh pengelola situs.

    Karena tidak diperuntukkan sebagai acuan utama dan akurat, menurut BuyBitcoinWorldWide, angka proyeksi 1.458 hari mendatang harus dianggap hanya sebagai perkiraan.

    “Keakuratan bagan ini sangat bergantung pada ‘perilaku Bitcoin’ untuk berulang dengan sempurna. Pun ada banyak alasan mengapa Bitcoin mungkin berkinerja baik ataupun sebaliknya dibandingkan tren 1.458 hari sebelumnya. Maka, bagan ini harus dilihat sebagai teori saja,” tulis BuyBitcoinWorldWide, dengan catatan harga acuan berdasarkan data dari CryptoCompare.

    Dan entah karena memang kebetulan, pada 17 Januari 2020, berdasarkan bagan itu, harga Bitcoin diprediksi akan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) baru pada Oktober 2021.

    Faktanya yang diketahui publik, ATH terkini adalah pada 8 November 2021 di kisaran US$69 ribu. Bagan Bitcoin Cycle Repeat menerakan ATH itu sebagai “after halving top” di harga US$67.549.

    Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin, US$209 Ribu pada Tahun 2025

    Nah, ketika artikel ini ditulis, Jumat (24/6/2022) dini hari, harga BTC di bagan itu tertera US$ 20.300 per BTC dengan acuan harga Kamis (23/6/2022)-price end of day, berdasarkan data CryptoCompare.

    Dengan sandaran itu, berdasarkan prinsip dan variabel bagan, harga puncak setelah Halving ke-4 tahun 2024 diprediksi bisa mencapai US$ 209.851 pada 27 Oktober 2025.

    prediksi harga bitcoin

    Dalam rentang waktu yang pendek, dengan harga harian yang serupa, harga BTC diprediksi menjadi US$ 10.051 pada 2 Desember 2022. Harga itu “dianggap” sebagai support level terbesar yang melentingkan harga kripto itu berada di atas Moving Average (MA) 200 hari dan MA 1458 hari.

    Perlu ditegaskan kembali, bahwa bagan ini harus dianggap sebagai teori saja dan tidak boleh dijadikan acuan utama dalam mengambil keputusan, pasalnya bagan ini lebih mengarah pada teknikal dan tentu saja tidak memasukan faktor makroekonomi, sebagaimana model Stock-to-Flow (S2F) rancangan PlanB, yang dinilai oleh Vitalik Buterin “sangat berbahaya.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Ambruk adalah Peluang Beli yang Besar

    Pendiri dan CEO MicroStrategy, Michael Saylor, mengatakan, bahwa harga Bitcoin yang sedang ambruk saat ini adalah peluang beli yang sangat besar. Sementara itu hasil survei Bloomberg menunjukkan, BTC diproyeksikan bisa jatuh ke US$ 10 ribu, akibat terus menguatnya dolar AS.

    MicroStrategy, perusahaan publik asal Amerika Serikat, memang sejak tahun 2020 melakukan pembelian Bitcoin secara besar-besaran. Mereka menilai kripto itu sebagai alat lindung nilai ketika terjadi inflasi.

    “Saat ini adalah peluang beli yang besar terhadap Bitcoin. Saat ini adalah entry point yang tepat,” ucap Saylor kepada CNBC belum lama ini.

    Pernyataan Saylor itu, sejatinya menegaskan pendapatnya sejak lama, bahwa BTC memiliki keunggulan relatif dibandingkan kelas aset lain seperti emas.

    Namun, pada kenyataannya, ketika inflasi tinggi 8,6 persen di AS, justru harga Bitcoin terkoreksi besar-besar, hampir 70 persen dari puncak tertinggi sebelumnya pada November 2021 di kisaran US$ 69 ribu.

    harga bitcoin
    Grafik harga Bitcoin.

    Baca juga: Bitcoin dan Kripto Lainnya Terbang saat Data Inflasi AS Meroket

    Satu risiko besar yang menghampiri perusahaan itu adalah, margin call, yang dapat memaksa perusahaan menjual sebagian dari lebih dari 130.000 BTC. BTC sebanyak itu dijadikan agunan untuk meminjam uang dari Silvergate Bank beberapa waktu lalu untuk membeli BTC tambahan. Status margin call terjadi, mana kala harga BTC jatuh di besaran tertentu, karena perusahaan harus mengembalikan dana pinjaman secara rutin setiap bulan.

    Sebenarnya Bitcoin sebagian komponen utama di pasar kripto bukanlah satu-satunya pasar yang mengalami aksi jual besar-besaran. Sepanjang Juni 2022 saja, indeks Dow Jones Industrial Average melandai di -0,62% dan Indeks S&P -0,92 persen memasuki wilayah bearish.

    Pasar saham dan pasar kripto yang melandai adalah dampak dari menguatnya dolar AS yang ditandai dengan indeks dolar (DXY) sudah mencapai 108 (tertinggi sejak Oktober 2002), akibat kebijakan kenaikan suku bunga oleh The Fed sejak Maret.

    Jika inflasi terus tinggi, diperkirakan The Fed akan terus menaikkan suku bunganya, hingga inflasi dapat ditekan hingga di kisaran 2 persen.

    Secara teknikal berdasarkan indikator RSI mingguan, harga Bitcoin saat ini berada di wilayah sangat oversold, yang menandakan tekanan jual yang besar mulai mereda.IKLAN

    harga bitcoin
    Grafik harga Bitcoin.

    Baca juga: Bank Indonesia: Aset Kripto Ciptakan Inklusi Keuangan

    RSI ini melampaui oversold 12 Januari 2015 pada time frame mingguan dan menyamai oversold 12 Januari 2012.

    Namun demikian, masih ada ruang penurunan berikutnya, setidaknya berdasarkan hasil survei oleh Blooomberg yang dirilis beberapa hari lalu. Sejumlah pelaku pasar, lewat hasil survei Bloomberg yang digelar pada awal Juli 2022 lalu, memproyeksikan harga Bitcoin bisa jatuh lagi di kisaran US$10 ribu. [ps]

    Artikel ini telah tayang di Blockchainmedia.id dengan judul Michael Saylor: Harga Bitcoin Ambruk adalah Peluang Beli yang Besar





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Reli Harga Bitcoin Terhenti Pasca Laporan Tesla Jual BTC

    Bitcoin (BTC) mengalami minggu terbaiknya sejak Maret, dengan nilai naik 12% sejak hari Minggu (17/7), dan Ethereum (ETH) bahkan lebih baik, naik 15%. Namun pada hari Rabu (20/7) reli tampaknya agak terhenti, pasca berita buruk di industri kripto.

    Pawai BTC menuju US$ 24.000 tampaknya bakal mengambil jeda singkat setelah berita utama media mengumumkan bahwa Tesla telah menjual 75% dari posisi Bitcoin-nya. Ditelusuri dari data pendapatan Q2 Tesla, menunjukkan bahwa perusahaan mobil listrik itu telah menjual 75% kepemilikan Bitcoinnya untuk mendapatkan uang tunai sebesar US$ 963 juta ke neraca.

    Tak lama setelah berita Tesla tersiar, harga Bitcoin mundur dari tertinggi hariannya di US$ 24.280 menjadi US$ 22.900, sebelum stabil di sekitar US$ 23.500. Dan pada saat artikel ini ditulis harga Bitcoin duduk di US$ 23.186 (Rp 347 juta).

    Ilustrasi Tesla jual Bitcoin.
    Ilustrasi Tesla jual Bitcoin.

    Baca juga: Prediksi Titik Balik Kripto Momen Super Bullish

    Berita Buruk dari Minecraft dan Zipmex

    Kemunduran tak terduga dari pergerakan market kripto ini mungkin juga membantu membawa sedikit perspektif pasar kepada investor yang siap menyerukan diakhirinya bear market. Kapitalisasi pasar kripto keseluruhan sekarang mencapai US$ 1,035 triliun dan tingkat dominasi Bitcoin adalah 42,7%.

    Sementara kemunduran untuk Bitcoin sejauh ini relatif ringan, beberapa altcoin mengalami penurunan yang lebih tajam karena kenaikan harga baru-baru ini menciptakan peluang bagus bagi para investor untuk membukukan beberapa keuntungan.

    Sentimen negatif lain datang juga dari Mojang Studios, pengembang game Minecraft yang berbalik arah dengan memutuskan untuk melarang NFT di platformnya. Perusahaan juga mengkritik “harga spekulatif” dan “mentalitas investasi” di sekitar NFT yang menghilangkan pengalaman game dan mendorong pencatutan sehingga merugikan playability game jangka panjang.

    “NFT dapat membuat model kelangkaan dan pengecualian yang bertentangan dengan Guideline kami dan semangat Minecraft,” kata Mojang Studios.

    Ilustrasi Zipmex. Foto: Zipmex.
    Ilustrasi Zipmex. Foto: Zipmex.

    Baca juga: Kenal Kripto Fio Protocol (FIO) dan RSK Infrastructure Framework (RIF)

    Di sisi lain exchange kripto, Zipmex, yang umumkan melakukan penghentian sementara untuk proses penarikan dana dan aset kripto. Saat ini terpantau Zipmex juga menghentikan berbagai kegiatan yang direncanakan sebelumnya di media sosial.

    Berdasarkan keterangan yang dipublikasi Zipmex di media sosial, keputusan ini diambil karena kondisi market yang sangat volatil, berbagai peristiwa besar tidak terduga yang mengubah kondisi pasar atau Black Swan, dan kesulitan finansial perusahaan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Premier League Bermitra dengan Sorare Rilis NFT Pemain Liga Inggris

    Premier League telah menandatangani kontrak multi-tahun dengan Sorare, game sepak bola fantasi senilai US$ 4,3 miliar. Kemitraan ini akan menghasilkan NFT kartu pemain resmi liga inggris yang eksklusif.

    Pemain game Sorare akan dapat membeli dan menggunakan NFT berlisensi resmi Liga Premier berdasarkan perjanjian multi-tahun eksklusif tersebut. Sorare mengatakan itu juga meluncurkan dua fitur baru dalam game. Ini termasuk kemampuan untuk bersaing dengan kartu pemain khusus liga dan fitur “financial fair play” yang mencegah pengguna memilih tim all-star.

    Startup Sorare yang berbasis di Paris, memiliki 3 juta pengguna di seluruh dunia, memungkinkan orang bersaing dalam permainan sepak bola fantasi. Peluang sukses didasarkan pada performa pemain secara real-time di lapangan virtual.

    Kemitraan Strategis

    tampilan aplikasi sorare
    Ilustrasi aplikasi Sorare. Sumber: Shutterstocks.

    Baca juga: BPS Pakai Teknologi Blockchain Olah Data Penduduk Indonesia

    Sorare pertama kali dikabarkan sedang dalam pembicaraan dengan Premier League – liga sepak bola pria tingkat atas Inggris – tentang perjanjian lisensi pada Oktober 2022. CEO Sorare, Nicolas Julia, mengatakan hal-hal membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan daripada yang diantisipasi karena Premier League memiliki kesepakatan lisensi NFT yang ada dengan perusahaan lain.

    Sky News melaporkan sebelumnya bahwa kesepakatan itu bernilai £ 30 juta. Julia menolak untuk membagikan secara spesifik tentang persyaratan keuangan dan panjang kesepakatan.

    Berita tersebut muncul meski terjadi penurunan tajam dalam aktivitas perdagangan NFT. Nilai NFT telah anjlok di tengah penurunan harga kripto yang dikenal sebagai “crypto winter”, yang diperburuk dalam beberapa bulan terakhir oleh kebangkrutan FTX.

    Menurut situs data CryptoSlam, harga jual rata-rata NFT pada Desember 2022 adalah US$ 143,22, turun 63% dari US$ 383,73 pada Desember 2021. Volume perdagangan juga turun secara signifikan. Penjualan NFT secara keseluruhan anjlok 78% pada bulan Desember menjadi US$ 678,2 juta dari US$ 3,1 miliar setahun yang lalu.

    Sorare dan NFT

    Ilustrasi game nft Sorare.
    Ilustrasi game nft Sorare.

    Baca juga: Tokocrypto Hadirkan Fitur Bukti Pajak Kripto Pengguna Dukung PMK 68

    Dikutip CNBC, Julia mengatakan pengguna berkekuatan besar sudah cukup untuk menopang perolehan pendapatan. Sorare mengambil potongan yang tidak ditentukan dari semua transaksi melalui layanannya.

    Perlu dicatat Sorare adalah koleksi NFT terbesar ketiga di dunia, menurut data CryptoSlam. Perusahaan memproses sekitar US$ 1 juta transaksi dalam periode 24 jam, menurut angka CryptoSlam.

    Kemitraan Liga Premier dengan Sorare menambah banyak kesepakatan antara liga olahraga dan platform kripto. Sorare sendiri sebelumnya telah mengumumkan kesepakatan dengan Major League Baseball dan National Basketball Association.

    Beberapa perjanjian, seperti kesepakatan Crypto.com untuk hak penamaan arena Staples Center di Los Angeles dan sponsor FTX di Miami-Dade Arena yang sekarang sudah tidak berfungsi, telah memburuk di tengah jatuhnya harga kripto.

    Julia mengatakan Sorare terlindung dari kehancuran iklan olahraga yang berfokus pada crypto karena perusahaannya berfokus pada lisensi kekayaan intelektual daripada sponsor.

    Startup asal Prancis itu terakhir dihargai oleh investor sebesar US$ 4,3 miliar pada September 2021. Sorare didukung oleh nama-nama top termasuk SoftBank Jepang dan firma modal ventura Accel dan Benchmark. Itu juga menghitung bintang olahraga Lionel Messi, Serena Williams dan Kylian Mbappe sebagai pemegang saham.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bisakah Nilai Bitcoin Capai Rp 449 Juta pada Februari 2023?

    Reli panjang yang terjadi pada awal tahun ini, membuat banyak investor optimisi nilai Bitcoin bisa mencapai US$ 30.000 atau sekitar Rp 449 juta di Februari 2023. Harga Bitcoin sendiri merebut kembali posisi nilai US$ 23.000 pada 1 Februari, setelah sempat alami koreksi.

    Setelah pertemuan FOMC yang digelar The Fed pada 31 Januari-1 Februari, pasar saham Amerika Serikat dan kripto tetap dalam suasana optimis menjelang perkembangan. Jika indeks saham AS melanjutkan kenaikannya menjelang pertemuan, efek riak juga bisa menjadi kabar baik untuk pasar aset kripto.

    Dengan tujuan untuk mengekang inflasi, The Fed terus menaikkan suku bunga sepanjang tahun. Oleh karena itu, sebagian besar aset berisiko termasuk kripto mengalami penurunan drastis. Namun dengan adanya kemungkinan penggunaan Quantitative easing sambil melonggarkan suku bunga ke depan akan menjadi skenario bullish yang brilian untuk Bitcoin dan altcoin.

    Penentuan The Fed

    bentuk koin bitcoin
    Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

    Baca juga: Proyeksi Market Kripto Bulan Februari Selepas Rapat FOMC The Fed

    Dikutip Watcher Guru, hasil pertemuan The Fed pada hari Kamis (2/2) dapat menentukan arah Bitcoin dalam indeks. Mark Gibson, seorang profesor ekonomi di Washington State University mengatakan kepada Yahoo bahwa pasar kripto dapat reli, jika Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin atau bps.

    “Kami telah melihat beberapa kemajuan dalam hal inflasi turun. Jadi pemikirannya adalah bahwa Fed sekarang mungkin mulai mengurangi kenaikan suku bunga. Jadi itulah mengapa pasar berpikir bahwa 25 basis poin lebih mungkin terjadi pada pertemuan ini,” katanya.

    Bergabung dengan banyak pandangan lainnya, analis aset kripto pseudonim, Altcoin Sherpa memperkirakan bahwa Bitcoin dapat mencapai US$ 30.000 dalam beberapa minggu mendatang. Analis percaya bahwa kenaikan 25 bps dapat diterima oleh pasar yang mengarah ke reli lainnya di bulan Februari.

    “BTC: Semakin lama ini bertahan di sekitar area ini, saya semakin bullish. Saya pikir sangat mungkin kita melihat celah terisi hingga 30 ribu pada akhirnya, ” dia memprediksi.

    Rawan Tekanan

    Baca juga: 5 Kripto Altcoin yang Paling Untung di Bulan Januari 2023

    Meskipun demikian, Prof Gibson memperingatkan bahwa jika Fed memberikan kejutan lebih dari 25 bps, pasar dapat bereaksi dengan kuat. “Jika pasar mengharapkan kenaikan 25 basis poin dan ternyata menjadi kenaikan 50 basis poin, itu akan menjadi kejutan. Jadi pasar akan bereaksi negatif terhadap itu, ” katanya.

    Kesimpulannya, Bitcoin mencapai angka US$ 30.000 atau kisaaran Rp 449 juta sekarang semata-mata bergantung pada bagaimana pasar bereaksi terhadap pertemuan FOMC.

    Pada saat pers, Bitcoin diperdagangkan pada US$ 23.003 dan naik 1% dalam perdagangan 24 jam sehari. BTC turun 66,6% dari level tertinggi sepanjang masa di US$ 69.044, yang dicapai pada November 2021.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 82% Jutawan Dunia Pertimbangkan Investasi Aset Kripto Karena Cuan

    Meskipun merupakan tahun yang penuh tantangan bagi kripto, 82% klien jutawan dunia telah mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam aset digital seperti Bitcoin (BTC) pada tahun 2022. Data ini ditunjukan dari hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh firma penasihat keuangan deVere Group.

    Dikutip Cointelegraph, hasil jajak pendapat yang dirilis pada 30 Januari itu, menemukan bahwa delapan dari setiap 10 klien high net-worth (HNW) perusahaan yang disurvei — individu dengan aset yang dapat diinvestasikan antara US$ 1,2 juta dan US$ 6,1 juta — mencari informasi investasi tentang kripto dari penasihat keuangan di 12 bulan terakhir.

    Nigel Green, CEO dan pendiri deVere Group, mengatakan bahwa meskipun grup yang disurvei “biasanya lebih konservatif,” dia yakin minat tersebut berasal dari nilai inti Bitcoin sebagai “digital, global, tanpa batas, terdesentralisasi, dan anti rusak.”

    Tren Minat Investasi Kripto

    Baca juga: Misterius Harga Bitcoin 60% Lebih Tinggi di Nigeria, Kenapa?

    Studi tahun sebelumnya telah menunjukkan tren meningkatnya minat investasi kripto dari investor kaya. Sebuah studi tahun 2020 dari deVere menemukan bahwa 73% dari 700 individu berpenghasilan tinggi yang disurvei sudah memiliki atau ingin berinvestasi dalam aset kripto sebelum akhir tahun 2022, sementara studi perusahaan tahun 2019 menemukan bahwa 68% individu HNW global sudah berinvestasi atau berencana untuk berinvestasi dalam kripto pada akhir tahun 2022.

    Green juga mencatat minat dalam menawarkan layanan kripto kepada klien oleh lembaga keuangan lama seperti Fidelity, BlackRock, dan JPMorgan sebagai pertanda baik bagi industri.

    Laporan bulan Juni tahun 2022 lalu dari PricewaterhouseCoopers, menemukan bahwa sekitar sepertiga dari 89 dana lindung nilai tradisional yang disurvei sudah berinvestasi dalam aset digital seperti BTC.

    Momentum

    Ilustrasi investasi aset kripto.
    Ilustrasi investasi aset kripto.

    Baca juga: ChatGPT Prediksi Bagaimana Bitcoin Akan Akhiri Dominasi Uang Fiat

    CEO deVere percaya momentum minat ini dapat berkembang lebih jauh karena “crypto winter” tahun 2022 telah mencair setelah perubahan kondisi dalam sistem keuangan tradisional di awal tahun ini.

    “Bitcoin berada di jalur Januari terbaiknya sejak 2013 berdasarkan harapan bahwa inflasi telah memuncak, kebijakan moneter menjadi lebih menguntungkan, dan berbagai krisis sektor kripto, termasuk kebangkrutan profil tinggi, sekarang ada di ‘kaca spion’.”

    “CAset kripto terbesar di dunia naik lebih dari 40% sejak pergantian tahun, dan ini tidak akan luput dari perhatian klien HNW dan lainnya yang ingin membangun kekayaan untuk masa depan,” tambah Green.

    Individu kaya bukan satu-satunya yang telah meningkatkan kepemilikan kripto mereka selama setahun terakhir. Menurut laporan 13 Desember oleh JPMorgan Chase, sekitar 13% populasi Amerika — kira-kira 43 juta orang — telah memegang aset kripto di beberapa titik dalam hidup mereka, naik dari hanya sekitar 3% pada tahun 2020.



    Sumber : news.tokocrypto.com