Author: 29

  • Inilah Tren Harga Bitcoin di Desember Tahun 2020

    Jika Anda tertarik dengan dunia investasi Anda mungkin perlu mempertimbangkan jenis investasi yang satu ini, yaitu Bitcoin. Bitcoin adalah cryptocurrency atau mata uang digital yang kini popularitasnya tengah naik daun. Selain Bitcoin, ada beberapa mata uang digital lainnya seperti Ethereum, Litecoin, Ripple, dan Monero. Menempati urutan teratas, Bitcoin menjadi mata uang digital yang paling digandrungi saat ini karena nilainya yang tinggi. Seperti apakah tren harga Bitcoin dari tahun ke tahun? Sebelum itu, mari kita melihat sejarah singkat perjalanan Bitcoin.

    Pada Januari 2009, seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto pertama kali menciptakan Bitcoin. Menganut sistem peer to peer, Bitcoin disebut sebagai alat transaksi langsung yang tidak membutuhkan perantara layaknya bank konvensional. Namun, Anda tidak perlu ragu dengan keamanan bertransaksi dengan Bitcoin. Bitcoin menggunakan kriptografi sebagai fungsi keamanan dasar, misalnya memastikan bahwa penggunaannya hanya dapat digunakan oleh pemiliknya dan tidak boleh dilakukan lebih dari satu kali. 

    Dewasa ini banyak orang yang memperjualbelikan Bitcoin sebagai salah satu kegiatan berinvestasi dan memperoleh profit yang cukup banyak. Hal ini dikarenakan harga Bitcoin yang melejit hingga ratusan juta rupiah pada tahun 2017 silam. Seperti apa perjalanan Bitcoin dari tahun ke tahun? Mari kita simak ulasannya.

    Tren Harga Bitcoin dari Tahun ke Tahun

    Pada awal kemunculannya di tahun 2010, satu keping Bitcoin atau satu BTC terhadap rupiah dihargai senilai Rp. 451. Tiga tahun kemudian, harganya berubah menjadi Rp. 800 ribu per koin. Dapat disimpulkan bahwa dalam tiga tahun nilai Bitcoin melonjak sebesar 177.383% atau naik 1.773,83 kali dari nilai awalnya. 

    Selang satu tahun kemudian, harga BTC mencapai lebih dari Rp. 266 juta per keping. Artinya, dalam empat tahun Bitcoin kembali naik sebesar 33.250% atau 332,5 kali lipat dari nilainya pada tahun 2013 yaitu Rp. 800 ribu.  

    Di tahun 2017, Bitcoin mencapai puncak tertingginya sebesar $20.000 atau senilai Rp. 285.71 juta rupiah. Harga yang sangat menggiurkan. Tidak hanya itu, Bitcoin pun telah mendorong lebih dari 1.600 mata uang digital lainnya untuk memasuki pasar. 

    Namun, sangat disayangkan pertumbuhan nilai Bitcoin yang terus melejit terhenti sampai di situ dikarenakan China melarang penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran untuk transaksi. Saat itu Bitcoin terhadap rupiah diperjualbelikan seharga kisaran Rp. 58 juta per satu BTC. 

    Tren Harga Bitcoin pada Tahun 2020

    Di tahun 2020, pertumbuhan nilai Bitcoin kembali menggeliat. Di bulan Mei 2020, harga Bitcoin diperjualbelikan senilai $9.040 per satu BTC atau setara dengan Rp. 135,6 juta dan relatif stagnan di kisaran $9000-$9.500. Lalu, pada bulan Juli 2020 nilai Bitcoin mengalami kenaikan di kisaran antara $10.200 dan $11.800 dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 15%. Untuk pertama kalinya harga Bitcoin kembali melewati angka $11.000 sejak 2019. 

    Di bulan November 2020, harga Bitcoin kembali meningkat senilai $15.002 per satu BTC. Nilai tersebut dianggap sebagai nilai tertinggi sejak pencapaian rekor tertingginya di akhir tahun 2017 lalu. Kenaikan harga tersebut dikarenakan pasar mulai menganggap aset investasi lain terlalu tinggi sehingga aset kripto menjadi tujuan utama. 

    Harga Bitcoin Desember 2020

    Di akhir tahun 2020, harga Bitcoin menyentuh $28,990. Hal ini berkaitan dengan adanya rencana halving. Halving adalah proses di mana pendapatan berupa Bitcoin yang didapatkan penambang dari proses mengurai algoritma matematika berkurang setengahnya. Proses ini bertujuan mengurangi pasokan Bitcoin yang masuk ke pasar sehingga bisa mendongkrak harga.

    Prediksi ini sejalan dengan perkiraan Jeth Soetoyo selaku pendiri dan CEO bursa aset kripto Pintu. Ia memprediksi di akhir tahun ini harga Bitcoin berpeluang naik menjadi $15.000 atau setara dengan Rp. 222 juta. Menurutnya hal itu sangat mungkin terjadi bergantung pada permintaan pasar. 

    Setelah menyimak ulasan di atas Anda mungkin berpikir berinvestasi Bitcoin adalah investasi yang menjanjikan. Namun Anda tetap harus berhati-hati dan jangan mudah tergiur. Pastikan Anda memilih bursa yang tepat dan aman untuk bertransaksi. Kunjungi Tokocrypto untuk melihat tren harga Bitcoin dan kemudahan berinvestasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah Data Harga Bitcoin yang Naik dari Tahun Pertama Pembuatan

    Sejak kemunculannya pada Januari 2009, harga Bitcoin terus mengalami perubahan di tiap tahunnya. Di awal kemunculannya, Bitcoin masihlah belum berharga sama sekali. Namun, seiring berjalannya waktu harga Bitcoin mengalami peningkatan. Nah, seperti apa sih harga Bitcoin dari tahun ke tahun? Yuk, simak ulasannya.

    Investasi Kripto Khususnya Bitcoin yang Makin Diminati Investor

    Akhir tahun 2020 menjadi sejarah penting bagi perjalanan aset kripto di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bagaimana tidak? Nilai mata uang kripto khususnya Bitcoin sempat meroket hingga ke angka $19.891 atau sekitar Rp 281 juta per kepingnya dan menjadikannya sebagai harga tertinggi sepanjang masa.  

    Melompatnya harga Bitcoin yang hampir menyentuh angka tertinggi ini disebabkan karena  tingginya permintaan. Apalagi saat ini, masyarakat sudah paham bahwa Bitcoin menjadi aset investasi pelindung terkhusus di tengah pandemi seperti sekarang ini. Dilihat dari harga Bitcoin pada 2020, ia tetap memiliki performa dengan baik dibandingkan dengan aset investasi lainnya seperti deposito, saham, maupun logam mulia dan hal ini menjadikan Bitcoin sebagai investasi yang makin diminati oleh investor.

    Harga Kenaikan Bitcoin dari Tahun ke Tahun

    Harga Bitcoin yang sudah terlihat baik pada tahun 2020 membuatnya menarik untuk melihat perjalanan harganya dari awal kemunculannya. Inilah perjalanan harga bitcoin dari tahun ke tahun.

    Bitcoin ditemukan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008 yang kemudian dirilis secara umum pada awal tahun 2009. Transaksi pertama yang dilakukan antara Nakamoto dengan pengguna awal Bitcoin terjadi pada bulan Januari 2009. Di tahun 2010 untuk pertama kalinya Bitcoin memiliki harga berdasarkan mata uang USD dan memiliki harga sekitar $0,0008 yang kemudian berubah menjadi $0,08 untuk satu koinnya di Juli 2010.  

    Di awal 2011, Bitcoin memiliki harga $1 untuk satu koinnya yang lalu harga tersebut memiliki perubahan harga yang naik menjadi $10 per koinnya. Sedangkan untuk di tahun 2012 harga Bitcoin masih cenderung tetap dan memiliki angka yang cukup kecil.

    Di tahun 2013 harga Bitcoin benar-benar menunjukkan peningkatannya. Dimulai dengan harga sekitar $13,50 per Bitcoin-nya. Harga rally pada awal April  2013 pun sempat mencapai $220 sebelum akhirnya turun kembali di kisaran harga $70 pada pertengahan April. Di bulan Oktober dan November 2013 harga Bitcoin mulai rally yang dihargai sekitar $100 pada awal Oktober hingga mencapai puncaknya sekitar $195 di akhir bulannya dan harga berubah kembali dari $200 menjadi lebih dari $1.075 di bulan November.    

    Di Januari 2014 harga Bitcoin berada di rentang $750-$1.000, sempat melonjak menjadi $1.000 sebentar lalu turun kembali dan menetap di kisaran $800. Bulan berikutnya harga Bitcoin kembali jatuh ke angka $600-$700 yang kemudian harga Bitcoin stabil berada di rentang $500-$800 hingga sampai musim panas tahun 2015.

    Pada tahun 2015 terdapat lonjakan besar tepatnya di awal November harga Bitcoin berubah dari sekitar $75 pada 23 Oktober menjadi sekitar $460 pada 4 November. Sedangkan selama tahun 2016 Bitcoin terus mengalami peningkatan harga dan mampu menembus harga $1.000 di awal tahun 2017. 

    Tahun 2017 merupakan tahun fenomenal bagi Bitcoin karena merupakan puncak kejayaan bagi Bitcoin itu sendiri. Pada bulan Oktober 2017, harga Bitcoin menembus $5.000 dan terus berlipat hingga pada bulan November menjadi $10.000. Tak hanya sampai situ, pada 17 Desember, harga satu Bitcoin mencapai $19.783.

    Setelah mengalami harga tertingginya di tahun 2017, harga Bitcoin di tahun 2018 mengalami penurunan yang sangat cepat, yakni jatuh di bawah $7.000 pada April 2018 dan di bawah $3.500 pada November 2018. Di tahun ini, harga Bitcoin pun kembali mengalami turun naik, bahkan tidak menyentuh harga dua digit. 

    Di tahun 2019, Bitcoin mengalami kebangkitan baru, baik dari harga dan volume. Ia mampu naik secara tiba-tiba menjadi $10.000 pada bulan Juni. Tetapi, harga Bitcoin menjadi turun kembali menjadi sekitar $7.000 pada akhir tahun.

    Untuk tahun 2020 walaupun sempat mengalami penurunan di bulan Maret ke kisaran $4.000, harga Bitcoin berhasil naik kembali. Dari $6000, $10.000, $12.000, $16.000 hingga di 31 November, Bitcoin berhasil meraih harga $19.891.

    Apakah Anda menjadi tertarik dengan investasi Bitcoin setelah melihat ulasan perjalan harga Bitcoin dari tahun ke tahun ini? Namun pastikan Anda melakukannya di platform exchange terpercaya, yaitu Tokocrypto. Kunjungi www.tokocrypto.com untuk melihat harga Bitcoin dan kemudahan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi Kenaikan Harga Bitcoin di Tahun 2021

    Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak negatif terhadap perekonomian global, terlebih IMF telah menetapkan tahun 2020 sebagai The Great Lockdown. Lalu, pertengahan 2020, pasar saham di Indonesia mengalami penurunan. Namun, hal ini tidak terjadi pada aset kripto, karena kenaikan harga bitcoin justru terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 2020.

    Kenaikan Harga Bitcoin Saat Pandemi COVID-19

    Disaat pasar saham mengalami penurunan yang cukup signifikan saat pandemi, aset kripto khususnya bitcoin justru mengalami kenaikan harga. Pada 28 Juli 2020 kemarin, bitcoin berada di harga $11,200 atau setara dengan Rp 162 juta.

    Hanya 5 bulan berselang, pada 27 Desember 2020 bitcoin berhasil mengalami kenaikan hingga 2x lipat, yaitu sebesar $28,400 USD atau Rp 400 juta. Sebenarnya lonjakan tersebut berada di luar prediksi para ahli, karena ahli hanya memprediksi harga bitcoin berada di kisaran $20,000 USD atau Rp 300 jutaan pada akhir tahun 2020. 

    Kenaikan harga bitcoin saat pandemi disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pemberian stimulus oleh bank sentral Amerika Serikat yang menyebabkan melemahnya nilai mata uang dollar dan pembelian bitcoin dalam jumlah besar oleh investor terkenal.

    Maka dari itu, bitcoin dianggap sebagai aset kripto dengan valuasi terbesar di dunia yang memiliki performa terbaik di tahun 2020.

    Bitcoin di Awal 2021

    Tahun 2021 diawali dengan kembali meroketnya harga bitcoin. Bagaimana tidak, pada 9 Januari 2021 bitcoin berhasil menduduki harga $40,636 USD atau setara dengan Rp 569 juta! Tentu angka ini semakin menanjak ke level yang lebih tinggi.

    Dilansir dari Coinmarketcap, sebulan setelahnya atau tepat pada 9 Februari 2021, bitcoin berhasil bertengger di $47,066 USD dengan nilai rupiah sebesar Rp 659 juta per btc.

    Kenaikan harga bitcoin yang mencapai 19.97% dalam sehari terjadi setelah Tesla, perusahan mobil asal Amerika Serikat yang dipimpin oleh Elon Musk membeli bitcoin senilai 1,5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 21 Triliun pada sehari sebelumnya (8/2/2021).

    Alasan Tesla Borong Bitcoin

    The U.S Securities and Exchange Commission (SEC) mengatakan bahwa alasan Tesla memborong bitcoin dengan jumlah yang fantastis dilakukan untuk mendorong diversifikasi pembayaran. Nantinya, Tesla akan mulai menerima mata uang kripto sebagai alat pembayaran.

    Apabila hal tersebut direalisasikan, maka Tesla adalah perusahaan mobil pertama yang menerapkan metode pembayaran dengan bitcoin.

    Prediksi Harga Bitcoin di 2021

    Banyak ahli mengatakan, harga bitcoin diprediksi kembali meroket di 2021. Dilansir dari Kompas, mungkin saja bitcoin berpeluang menduduki di angka $55,000 USD (Rp 762 juta). Apabila investor besar kembali masuk ke pasar bitcoin setelah mendapat keuntungan, maka besar kemungkinan aset kripto pertama ini kembali mengalami lonjakan harga.

    Selain itu, meningkatnya permintaan bitcoin di Amerika pasti secara tidak langsung memengaruhi kenaikan harga bitcoin. Ini dikarenakan The Office of the Comptroller of the Currency (OCC) di Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan bahwa bank-bank di AS diizinkan untuk memegang aset kripto.

    Lalu kebijakan dari The Fed (Federal Reserve) juga membuat masyarakat memilih bitcoin sebagai tempat untuk berinvestasi jangka panjang.

    Saatnya Gabung dengan Tokocrypto di Freebruary!

    Kenaikan harga bitcoin yang tidak main-main menjadi kabar baik untuk para trader maupun investor pemula. Bertepatan dengan itu, Tokocrypto mengadakan Bulan Trading Nasional di bulan Februari dengan banyak tawaran menarik, lho!

    Selain free deposit yang Anda dapatkan di awal transaksi, Tokocrypto menghadirkan free maker fee dan free transfer fee! Anda bisa menikmati 0% biaya Maker untuk trading semua pairing BIDR dan 0% biaya transfer aset Kripto untuk semua jaringan ke sesama akun Tokocrypto dan Binance.

    Jadi, tunggu apa lagi? Segera gabung dengan Tokocrypto dan nikmati program menarik lainnya selama bulan Februari disini: bit.ly/FREEbruaryTokonews



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah Beberapa Alasan Penyebab Harga Bitcoin Fluktuatif

    Investasi bitcoin kini kian menjadi primadona. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan. Harga bitcoin sendiri terkenal sangat fluktuatif yang berarti harga bitcoin memiliki pergerakan besar (baik naik maupun turun) dalam rentang waktu beberapa hari, jam, dan bahkan menit. Nah, apa sih yang menjadi penyebab harga bitcoin fluktuatif? Simak penjelasannya, yuk!

    Alasan Bitcoin Salah Satu Aset Investasi yang Menjanjikan

    Walaupun bitcoin memiliki harga yang dapat berubah sewaktu-waktu, hal ini tidak mengurangi minat dari para investor baru. Harganya yang terus meroket membuat banyak orang tertarik untuk melakukan investasi bitcoin. Apalagi saat pandemi, harga Bitcoin di tahun 2020 hingga 2021 memiliki performa yang baik dibandingkan dengan aset investasi lainnya, seperti deposito, saham, ataupun logam mulia.

    Alasan Harga Bitcoin Fluktuatif Namun Tetap Cenderung Naik

    Sejak awal kemunculannya, harga bitcoin terus mengalami perubahan yang fluktuatif. Misalnya, di tahun-tahun awal kehadirannya yakni di 2010, harga bitcoin hanya menyentuh $0,08 untuk satu koinnya.

    Dilansir dari Coinvestasi, pada awal tahun 2011, harga Bitcoin yang awalnya hanya $1 berubah menjadi $10 per koinnya dan untuk tahun 2012 harga Bitcoin masih cenderung tetap. Di tahun 2013, harga Bitcoin benar-benar menunjukan peningkatannya, yakni dimulai dengan harga $13,50 menjadi $220 per Bitcoin-nya, untuk kemudian harganya menjadi turun kembali di kisaran harga $70 di pertengahan April.

    Namun seiring berjalannya waktu, kini harga bitcoin tidak lagi mengalami fluktuasi besar seperti yang terjadi pada waktu-waktu sebelumnya. Dilihat dari akhir tahun 2020, pergerakan harga bitcoin walaupun mengalami perubahan harga yang naik-turun namun tetap cenderung naik. Apalagi saat memasuki awal tahun ini, pada tanggal 17 Februari 2021 harga bitcoin menembus level $49.714 atau setara Rp 700,97 juta per koinnya, lho!

    Mungkin Anda bertanya-tanya, apa sih yang menjadi penyebab harga bitcoin memiliki kecenderungan naik ketika fluktuatif? Inilah faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pergerakan harga bitcoin:

    • Bitcoin merupakan teknologi yang masih baru

    Kehadiran bitcoin masihlah relatif baru karena diciptakan pada tahun 2009. Dalam teknologi baru biasanya akan melalui hype cycle. Awalnya tidak banyak orang yang tahu atau menggunakan teknologinya, kemudian teknologi tersebut  secara perlahan mulai dikenal serta banyak orang yang membicarakannya. Pada keadaan ini, akan banyak opini atau pernyataan yang melebih-lebihkan, sehingga “hype” yang ada akan semakin menggila.

    Kemudian hype tersebut akan mereda. Walaupun yang sebenarnya terjadi di baliknya adalah teknologi tersebut terus berkembang dan secara tak sadar menjadi bagian dari kehidupan kita. Kini bitcoin jelaslah sedang berada pada hype cycle, yaitu melalui harganya.

    Fluktuasi harga bitcoin semakin mempertegas hype cycle ini. Bitcoin merupakan teknologi yang baru dan juga merupakan investasi baru. Dengan melakukan investasi pada bitcoin hal ini berarti merupakan pengakuan positif terhadap potensi teknologinya.

    • Jumlah bitcoin yang terbatas

    Jumlah bitcoin yang ada di dunia hanya sebanyak 21 juta koin. Saat ini jumlah koin yang beredar telah mencapai 18,5 juta koin. Kondisi ini dapat membuat kelangkaan di masa yang akan datang. Inilah yang akan menyebabkan peningkatan harga karena semakin banyak orang yang mencarinya.

    • Harga bitcoin sangat mudah dipengaruhi oleh berita-berita.

    Tak jauh berbeda dengan instrumen investasi lainnya seperti, saham, atau mata uang asing, harga bitcoin turut dipengaruhi oleh berita yang beredar. Adapun bahan berita yang dapat mempengaruhi kenaikan harga bitcoin adalah pembahasan seperti berita regulasi maupun tindakan baru dari bank pemerintah, berita peretasan atau pembobolan, atau rumor yang berisikan informasi yang keliru.

    Nah itulah penjelasan lengkapnya mengenai penyebab harga bitcoin fluktuatif. Jika Anda tertarik untuk melakukan investasi bitcoin, pastikan Anda melakukannya di platform yang terpercaya, yaitu Tokocrypto. Yuk kunjungi www.tokocrypto.com untuk melihat harga bitcoin dan dapatkan kemudahan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Berikut Penyebab Harga Bitcoin Melambung Tinggi

    Siapa sih yang nggak terpikat oleh cuan dari bitcoin? Setelah mampu melewati tahun yang bersejarah di 2020, kini bitcoin semakin diminati oleh para investor maupun  trader baru. Hal inilah yang berdampak terhadap melonjaknya harga koin ini. Nah, pada artikel kali ini akan dibahas beberapa penyebab dari naiknya harga bitcoin.

    Apa aja sih? Yuk, simak ulasannya!

    Tren Bitcoin di 2020-2021

    Tahun 2020 merupakan tahun yang sangat penting bagi perjalanan aset kripto di seluruh dunia. Khususnya bitcoin. Harga bitcoin tetap stabil dan cenderung naik disaat harga aset lainnya mengalami penurunan harga selama pandemi Covid-19 berlangsung. Permintaan bitcoin yang tinggi saat 2020 tentunya membuktikan bahwa orang-orang memahami jika bitcoin ialah aset safe haven bagi mereka.

    Dilansir dari Coinmarketcap, tercatat di tahun 2020  harga bitcoin mampu menyentuh harga tertingginya di level US$ 29.006 atau sekitar Rp 403 juta pada 31 Desember 2020. Padahal di awal tahun 2020 bitcoin hanya dijual pada harga sekitar Rp 99 juta saja.

    Seakan ingin terus melanjutkan kesuksesannya di tahun 2020, bitcoin mengawali tahun 2021 dengan terus menunjukkan tren penguatan. Harga bitcoin tercatat naik 4,73% ke level US$ 38.863 per btc. Nah penguatan ini melanjutkan tren positif bitcoin di sepanjang tahun kemarin yang menguat hingga 275,17%.

    Walaupun di pekan ketiga bulan Januari harga bitcoin mengalami penurunan. Tapi hal ini tidak berlangsung lama. Sepanjang akhir Januari hingga Februari, harga bitcoin terus mengalami tren harga yang naik. Bahkan pada Senin (21/2/21), harga bitcoin menyentuh di level US$ 56.559 atau sekitar Rp 796 juta.

    Penyebab Bitcoin Semakin Melonjak

    Setelah Anda mengetahui tren harga di tahun 2020-2021 yang semakin melonjak, pasti Anda bertanya-tanya. Apa sih yang menyebabkan harga bitcoin semakin melonjak? Nah, inilah beberapa penyebabnya!

    Dilansir dari Kontan, kini secara umum masyarakat telah mempercayai bahwa aset kripto adalah alternatif yang paling bagus untuk store of value. Hal inilah yang membuat beberapa investor maupun investor yang non kripto, kini melirik ke markey kripto ini. Inilah yang merupakan angin segar bagi pertumbuhan aset kripto ke depan.

    Jika dilihat secara khusus, ada beberapa penyebabnya. Mendapatkan bitcoin sangat erat kaitannya dengan istilah “menambang”. Dalam sistem bitcoin, orang memerintahkan komputer mereka untuk memproses transaksi bagi semua orang. Untuk bisa melakukan proses perhitungan yang sangat rumit, komputer diatur sedemikian rupa. Nah dari situ, pemilik komputer mendapatkan imbalan berupa bitcoin.

    Mudahnya, kegiatan ini digambarkan dari proses komputer untuk mendapatkan bitcoin, yang diibaratkan seperti menambang emas.

    Akan tetapi, bitcoin telah mengatur sistemnya sedemikian rupa agar proses perhitungan yang diperlukan untuk mendapatkan bitcoin semakin sulit. Hal ini dilakukan agar tidak terlalu banyak bitcoin yang dihasilkan, dan akhirnya beredar.

    Seperti yang sudah diketahui, jumlah bitcoin yang ada di dunia ialah terbatas, hanya 21 juta keping. Sedangkan yang sudah tersebar di market adalah sekitar 18 juta keping. Sisa koin yang masih tersedia tentunya semakin menipis, dan bisa saja menuju kelangkaan. Padahal permintaan di market besar sedangkan jumlah yang tersedia semakin menipis. Nah hal inilah yang menjadi salah satu penyebab harga bitcoin semakin melonjak.

    Penyebab lain juga datang dari mulai banyaknya institusi besar ataupun korporasi yang mengakumulasi aset kripto, seperti Grayscale, Paypal, dan Square.  Salah satu yang paling menarik perhatian publik ialah pengadopsian bitcoin Tesla yang menggadang-gadangkan jika ia telah memborong bitcoin di bulan Februari 2021 ini.Apakah Anda semakin tertarik untuk berinvestasi setelah membaca ulasan penyebab harga bitcoin yang naik ini? Yuk, lakukan investasi bitcoin yang aman di www.tokocrypto.com!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • “Dalang” Dibalik Turunnya Harga Bitcoin Hingga Level Terendah

    Pada pertengahan April, Bitcoin mencapai rekor tertingginya seharga US$ 64.899. Memasuki minggu kedua hingga minggu ketiga di bulan Mei, Bitcoin mengalami tren pelemahan. Bitcoin terus mengalami pelemahan hingga sebesar 40% menuju level terendah di harga $35.920. Penyebab turunnya Bitcoin dipicu oleh Elon Musk dan pemberlakuan beberapa kebijakan di China.

    Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui lebih lengkap penyebab turunnya harga Bitcoin!

    Penyebab Turunnya Harga Bitcoin 

    Jika diperhatikan, penurunan harga aset kripto Bitcoin secara ekstrim terjadi dimulai pada tanggal 14 Mei 2021 dengan harga Rp 715 juta rupiah, padahal pada dua hari sebelumnya harga Bitcoin masih terbilang tinggi di harga Rp 809 juta rupiah.

    Bitcoin terus mengalami fluktuasi hingga mencapai titik terendahnya di harga Rp 506  juta rupiah. Salah satu penyebab turunnya harga Bitcoin dipicu oleh sentimen negatif yang datang dari CEO Tesla, Elon Musk melalui akun Twitter pribadinya.

    Pada tanggal 13 Mei, Elon Musk mengumumkan bahwasannya Tesla telah memutuskan untuk berhenti menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran dalam pembelian mobil, hal ini beralasan karena dampak serius yang timbul pada masalah lingkungan terhadap penggunaan energi untuk memproses transaksi aset kripto tersebut.

    Penggunaan komputer yang memiliki tenaga tinggi digunakan dalam memecahkan algoritma matematika yang kompleks untuk menambah jumlah Bitcoin yang telah beredar di pasar serta memungkinkan untuk melakukan transaksi menggunakan bitcoin. 

    Berdasarkan poin di atas, volatilitas harga Bitcoin dipengaruhi hype yang seringnya menjaga minat tetap tinggi. Penurunan harga yang tajam dapat dipengaruhi oleh statement orang terkenal di dunia seperti yang dilakukan oleh Elon Musk. Statement tersebut memiliki pengaruh signifikan pada situasi di pasar.

    Hal ini membuat investor dan para trader secara ramai menjual aset kripto mereka sebelum mereka mengalami kerugian yang lebih besar, dikarenakan harga Bitcoin yang semakin mengalami penurunan.

    Selain itu, penurunan harga Bitcoin juga dipengaruhi karena adanya tindakan keras yang dilakukan oleh pemerintahan China. Pasalnya, grup industri keuangan China memberikan larangan kepada lembaga keuangannya hingga perusahaan pembayaran untuk menyediakan layanan yang terkait dengan transaksi aset kripto.

    Group industri keuangan China yang memberikan larangan pada penyediaan transaksi aset kripto diantaranya, yaitu Asosiasi Perbankan China, Asosiasi Keuangan Internet Nasional China serta Asosiasi Pembayaran dan Kliring China.

    Berdasarkan data penelitian Universitas Cambridge, penambangan Bitcoin menghabiskan energi sekitar 128,88 terrawatt-jam per tahun, secara global China menyumbang 65% dari semua aktivitas penambangan Bitcoin. 

    Kebijakan pemerintah China tentunya membuat masyarakat beramai-ramai menjual aset kripto mereka, hal ini sangat berdampak pada turunnya harga Bitcoin. Mengingat China merupakan negara dengan penambang Bitcoin terbesar di dunia. Kebijakan ini juga sebelumnya pernah terjadi pada tahun 2017 silam.

    Peluang Kenaikan Harga Bitcoin

    Setelah mengalami harga penurunan yang ekstrim, Pada 25 Mei lalu, Bitcoin mulai mengalami penguatan sebesar 11,33% menyebabkan harga Bitcoin mengalami kenaikan seharga Rp 522,69 juta. Hal tersebut terjadi setelah CEO Tesla, Elon Musk membagikan cuitannya pada 22 Mei 2021 di akun Twitter pribadinya.

    Cuitan tersebut merupakan balasan dari pertanyaan publik kepada Elon Musk mengenai pendapatnya lantaran banyak orang marah kepadanya karena aset kripto. Jika diterjemahkan, cuitan pada akun Twitternya “Pertarungan sebenarnya adalah antara fiat & crypto. Secara seimbang, saya mendukung yang terakhir (kripto).” Cuitannya tersebut telah di-retweet lebih dari 13 ribu dan disukai lebih dari 66 ribu.

    Selain itu, Elon Musk juga membagikan cuitan lainnya yang menginformasikan dirinya telah melakukan pembicaraan dengan penambang bitcoin di Amerika Utara. Mereka berkomitmen untuk mempublikasikan rencana penggunaan energi terbarukan dan meminta penambang di seluruh dunia untuk melakukan hal yang sama. Setelah cuitannya tersebut, harga btc usd mengalami kenaikan kembali hingga menyentuh angka $39.500 atau sekitar Rp 564,85 juta.

    Berdasarkan kedua poin di atas, harga Bitcoin dapat kembali naik diakibatkan atensi besar  dari banyak masyarakat terhadap Elon Musk, sehingga memberikan pengaruh kepada pergerakan harga pasar. 

    Sebagai trader tentu penting untuk mengetahui segala informasi khususnya kebijakan-kebijakan terhadap aset kripto yang dilakukan oleh pemerintah setempat, hal tersebut tentunya dapat menjadi penyebab Bitcoin turun. Tokocrypto telah terdaftar secara resmi dan bersertifikasi ISO 27001. Segera, memulai investasi Bitcoin serta aset kripto lainnya di Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokocrypto Hadirkan Fitur Bukti Pajak Kripto Pengguna Dukung PMK 68

    Tokocrypto, platform Pedagang Aset Kripto yang resmi terdaftar di Bappebti Kementerian Perdagangan senantiasa menjalankan regulasi dan peraturan terkait industri aset digital di Indonesia. Salah satu regulasi yang telah dijalankan adalah mengenai pajak transaksi aset kripto.

    Pemerintah telah mengeluar Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 68/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan atas Transaksi Perdagangan Aset Kripto. Regulasi tersebut telah berlaku sejak 1 Mei 2022.

    Untuk meningkatkan kemudahan dan kenyamanan pengguna, Tokocrypto menghadirkan fitur yang menyediakan laporan atas transaksi yang pengguna lakukan dan bukti pajak secara berkala sesuai dengan regulasi PMK 68 yang berlaku. Fitur ini juga menjadi bukti transparansi yang dijalankan Tokocrypto kepada seluruh pelanggannya.

    Fitur Bukti Pajak

    VP Corporate Communication Tokocrypto, Rieka Handayani. Sumber: Tokocrypto.
    VP Corporate Communication Tokocrypto, Rieka Handayani. Sumber: Tokocrypto.

    Baca juga: Tokocrypto Raih Penghargaan dari PPATK

    VP Corporate Communication Tokocrypto, Rieka Handayani, mengatakan fitur Bukti Pajak ini akan memudahkan pengguna dalam melihat transaksi yang dilakukannya. Ke depan nantinya akan ada peningkatan fitur Bukti Pajak yang bisa menjadi salah satu instrumen pelaporan yang dibutuhkan dalam proses pelaporan SPT, Pedagang Aset Kripto diwajibkan untuk menyediakan bukti potong pajak bagi para pengguna yang sudah mendaftarkan NPWP.

    “Sebagai salah satu Pedagang Aset Kripto yang terdaftar resmi di Indonesia, Tokocrypto senantiasa selalu mematuhi regulasi yang ada, salah satunya terkait PMK 68. Seiring berjalan waktu penerapan, Tokocrypto punya fitur Bukti Pajak sebagai bentuk transparansi dan membantu pelanggan dalam melihat transaksi yang dilakukannya,” kata Rieka.

    Fitur Bukti Pajak ini menyediakan perincian data seperti kelengkapan transaksi perdagangan yang dilakukan pelanggan Tokocrypto, nama dan NPWP pemungut, tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) hingga status pembayaran pajak. Fitur ini bisa diakses oleh pelanggan melalui platform desktop atau situs Tokocrypto.

    Rieka menjelaskan pajak PPN dan PPh yang berasal dari transaksi perdagangan aset kripto pelanggan secara otomatis dipungut atau dipotong oleh Tokocrypto dan disetorkan kepada ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan. Pelanggan Tokocrypto tidak perlu khawatir akan ada biaya tambahan atas transaksi pembelian maupun penjualan aset kripto.

    Penerapan Regulasi Pajak Kripto

    Baca juga: Tokocrypto Tetap Komitmen Transparansi Kunci Kuatkan Industri Kripto

    Sesuai dengan peraturan PMK 68, setiap transaksi aset kripto pelanggan akan menanggung pajak masing-masing dengan tarif PPN dan PPh final senilai total 0,21%. Untuk sementara waktu Tokocrypto akan mengintegrasikan pajak transaksi aset kripto sebagai bagian dari trading fee, sehingga akan menyesuaikan menjadi 0,31% (trading fee 0,1% + PPN-PPh sebesar 0,21%). 

    “Dipastikan seluruh pelanggan Tokocrypto sudah membayar pajak transaksi kripto sesuai ketentuan yang berlaku. Tokocrypto telah memperkuat sistem yang mewajibkan para pelanggan di platformnya untuk patuh pajak. Adanya aturan pajak ini bisa memberikan efek positif terhadap kepastian bagi investor dan pelaku industri kripto di Indonesia. Kami harap potensi penerimaan yang besar dari aset kripto bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat,” tutur Rieka.

    Selama penerapan PMK 68 hingga Desember 2022, Tokocrypto sudah menyetorkan pajak transaksi kripto para penggunanya sebesar lebih dari Rp 120 miliar ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan. Tercatat hingga saat ini pengguna Tokocrypto telah mencapai lebih dari 2,9 juta pengguna dengan volume trading mencapai Rp 138 triliun selama tahun 2022. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO Ark Invest Cathie Wood Prediksi Harga Bitcoin Capai Rp 7,4 Miliar

    CEO Ark Invest, Cathie Wood telah memprediksi melalui tesisnya bahwa Bitcoin (BTC) akan mencapai US$ 500.000 atau sekitar Rp 7,4 miliar pada tahun 2030. Wood adalah kepala Ark Invests yang berpikiran maju dan ARKK ETF andalannya yang berorientasi teknologi. Ia pun terkenal karena bertaruh besar pada bioteknologi terbaru dan terhebat.

    Cryptonews melaporkan, pada tahun 2020, Wood menjadi berita utama dengan prediksi terkenal bahwa Bitcoin akan mencapai US$ 500.000 pada tahun 2030. Dan pada November 2022, dia melipatgandakan ketika muncul Ark Innovation ETF unggulan menginvestasikan US$ 62,7 juta lebih lanjut ke ruang kripto.

    Modal yang fantastis itu dikerahkan untuk mengakuisisi saham di Coinbase , Silvergate, dan Grayscale Bitcoin Trust. Langkah berani yang dilakukan Wood, seminggu setelah runtuhnya raksasa FTX.

    Pada tahun 2020, ARKK ETF mengalami reli 150% yang sensasional. Tetapi kepercayaan pasar pada ETF menyaksikan penurunan 59% pada tahun 2022 (lebih buruk dari S&P500).

    Prediksi Bitcoin

    Iustrasi aset kripto Bitcoin
    Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

    Baca juga: 5 Kripto Altcoin yang Paling Untung di Bulan Januari 2023

    Setelah tahun yang sulit bagi kripto, Wood yakin untuk mempertahankan tesis yang berani soal prediksi harga Bitcoin tersebut. Ketika ditanya apakah Ark Innovation mendukung prediksinya di tahun 2020:

    “Ya – kami sedikit lebih tinggi dari itu dalam kasus bearish kami untuk tahun 2030. Dan dalam kasus bullish kami jauh lebih tinggi,” kata Wood.

    Klaim yang mengesankan di tengah musim dingin kripto yang panjang membuat prediksi Wood soal harga BTC banyak dikritik. Pasar kripto memasuki mode krisis setelah runtuhnya bursa FTX pada awal November. Sementara bencana ini memberi penentang kripto kesempatan untuk memprediksi masa depan aset digital ini yang paling suram.

    Menurut Wood, dia menganggap Bitcoin dan Ethereum, dua aset kripto terbesar, sebagai manifestasi terbaik. Terlepas dari turbulensi ini, Bitcoin dan Ethereum bekerja dengan sangat baik.

    Baca juga: Stablecoin Berbasis Cardano Siap Rilis, Harga ADA Bakal Naik?

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bakal Naik? Berikut Prediksi Harga Bitcoin di Masa Depan!

    Pada akhir pekan Mei 2021 harga btc to usd menguat di level US $39.588, namun pada 19 Juni 2021 Bitcoin justru ambruk ke level US$ 30.201. Meskipun harga Bitcoin naik turun, namun ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi prediksi harga Bitcoin menjadi naik, seperti El Salvador yang melegalkan Bitcoin hingga CEO Twitter yang akan menggunakan Bitcoin dalam bisnisnya.

    Yuk, simak informasi lengkapnya di sini!

    El Salvador: Negara yang Melegalkan Bitcoin Jadi Alat Pembayaran

    Setelah Kongres menyetujui proposal dari Presiden Nayib Bukele, El Salvador secara resmi menjadi negara pertama di dunia yang melegalkan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. 

    Walaupun terdapat kekhawatiran mengenai dampak potensial pada program El Salvador pada International Monetary Fund, melalui 62 dari 84 suara anggota parlemen memilih mendukung langkah untuk membuat undang-undang yang mengadopsi Bitcoin.  

    Presiden Nayib telah menyuarakan penggunaan Bitcoin, dikarenakan potensinya yang dapat membantu masyarakat Salvador yang tinggal di luar negeri dalam mengirim uang ke negaranya. El Salvador sangat bergantung pada uang yang dikirim kembali dari pekerja di luar negeri. Berdasarkan data Bank Dunia, pengiriman uang ke negara itu mencapai hampir US $ 6 miliar dan menjadi salah satu rasio tertinggi di dunia.

    Perlu diketahui, bahwa El Salvador tidak memiliki mata uang sendiri. Keputusan Presiden Nayib tersebut diharapkan dapat membawa inklusi keuangan, pariwisata, inovasi, investasi serta pembangunan ekonomi untuk El Salvador.

    Selain itu, Presiden Nayib juga memaparkan idenya untuk membangun pusat penambangan Bitcoin dengan menggunakan energi terbarukan dari gunung berapi El Salvador. Serta menawarkan kewarganegaraan kepada orang-orang yang dapat menunjukkan bukti bahwa mereka telah berinvestasi Bitcoin, minimal berjumlah tiga coin.

    Inovasi yang disampaikan oleh Presiden Nayib Bukele di Konferensi Miami pada pekan ke-2 bulan Juni memberikan dampak yang positif bagi market, terjadi peningkatan harga pada Bitcoin dalam beberapa hari terakhir setelah Konferensi Miami.

    3 Hal yang Dapat  Meningkatkan Harga Bitcoin Di Masa Depan

    Selain inovasi yang dilakukan oleh Presiden Nayib Bukele di negaranya, beberapa inovasi tengah dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki pengaruh di dunia. Hal tersebut memberikan dampak positif yang tentunya dapat mempengaruhi harga Bitcoin. Berikut hal-hal yang dapat mempengaruhi prediksi harga Bitcoin meningkat di masa depan, yaitu

    • Presiden Tanzania Mendukung Aset Kripto

    Dalam pidatonya di Mwanza pada tanggal 13 Juni lalu, Presiden Suluhu mengatakan kepada kepala keuangan negara untuk mempersiapkan cryptocurrency. Ia mendesak Bank Sentral untuk mulai mengerjakan pengembangan tersebut, secara tidak langsung hal tersebut menunjukkan bahwa Bank Sentral dapat mulai bekerja pada mata uang digital bank sentral.

    Pernyataan Presiden Tanzania muncul setelah Presiden El Salvador mengumumkan bahwa Bitcoin menjadi alat pembayaran yang sah di negaranya. Serta didukung data penjualan yang terjadi di Afrika, bahwa volume perdagangan Bitcoin tumbuh 50% dari tahun ke tahun dengan total volume lebih dari $17 juta. 

    Selama enam bulan terakhir, sebagian besar negara Afrika telah menunjukkan peningkatan 15% hingga 30% dalam volume perdagangan Bitcoin.

    Sebuah iklan pekerjaan mengiklankan bahwa Amazon tengah mencari Staff yang berpengalaman dalam keuangan terdesentralisasi (DeFi) untuk menempati posisi Blockchain Head of Product. 

    Kandidat yang dicari Amazon idealnya yang memiliki pengalaman dalam memberikan inovasi pada ruang blockchain khususnya DeFi atau Layanan Keuangan Tradisional. 

    Blockchain Head of Product adalah bagian dari Amazon Managed Blockchain, blockchain publik yang merupakan rumah asli DeFi. Amazon Managed Blockchain  merupakan layanan terkelola sepenuhnya yang mempercepat kemampuan pelanggan untuk membuat dan memanfaatkan teknologi blockchain dalam skala bisnis dan inovatif di seluruh DeFi, Supply Chain, serta layanan keuangan.

    • CEO Twitter Menggunakan Bitcoin dalam Bisnisnya

    Jack Dorsey, pendiri Twitter serta CEO perusahaan keuangan Square telah mengkonfirmasi bahwa dia berencana untuk mengintegrasikan Bitcoin’s Lightning Network sidechain untuk salah satu bisnisnya.

    Hal tersebut diketahui setelah Dorsey menanggapi pertanyaan dari pengguna Twitter bernama Deyonté, yang meminta Dorsey untuk mengintegrasikan Lightning Network ke dalam Twitter atau BlueSky. Dorsey menjawab “hanya masalah waktu.” Sejak tahun 2019, Twitter tengah melakukan pengembangan terhadap jaringan sosial terdesentralisasi.

    Tweet Dorsey muncul di tengah langkah terbaru dari Square untuk memperluas operasi aset digitalnya. Awal bulan ini, Dorsey mengungkapkan bahwa Square bermaksud untuk mengembangkan dompet perangkat keras Bitcoin non-penahanan sumber terbuka.

    Beberapa inovasi yang dilakukan oleh orang-orang berpengaruh tentunya menjadi angin segar bagi seluruh investor. Melalui inovasi tersebut diprediksi harga Bitcoin dapat mengalami kenaikan. Hal tersebut merupakan langkah yang baik bagi Anda untuk memulai berinvestasi. Yuk, mulai investasi di Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Melemah? Ternyata Ini Penyebabnya

    Baru-baru ini Bitcoin melemah, disusul juga dengan harga aset kripto lainnya yang kompak menunjukkan tren pelemahan. Setelah mengalami sedikit kebangkitan harga di awal pekan, harga aset kripto yang populer kembali merosot dalam beberapa hari terakhir. Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui informasi tentang Bitcoin dan Dominasi Bitcoin!

    Bitcoin: Pionir Aset Kripto

    Bitcoin merupakan aset kripto yang menjadi pionir munculnya berbagai macam koin lainnya. Bitcoin diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto dan pertama kali muncul ke publik pada tahun 2009. Transaksi Bitcoin menggunakan teknologi bernama blockchain membuat setiap orang dapat melihat transaksi tersebut sehingga menjadi lebih transparan.

    Selain sebagai pionir di dalam dunia aset kripto, Bitcoin juga memiliki kapitalisasi pasar (market cap) yang paling besar di dunia diantara koin lainnya. Di awal tahun 2013 dominasi Bitcoin di market cap sebesar 95,92%, kemudian pada tahun 2017 dominasi Bitcoin 86,06%.

    Saat ini, total kapitalisasi pasar btc usd mencapai angka 671,78 miliar USD atau jika dikonversi menjadi rupiah sekitar 9.673,63 triliun dalam kurs rupiah 14.400.

    Bitcoin Dominance Turun, Bitcoin Mengalami Pelemahan

    Pernahkah Anda mendengar tentang Bitcoin Dominance? jika Anda belum pernah mendengar mengenai Bitcoin Dominance ialah jumlah persen market cap Bitcoin terhadap total seluruh aset kripto. 

    Contoh sederhananya, ketika Anda membuka web coinmarketcap jika seluruh aset kripto di dunia digabungkan maka total market cap-nya sebesar $ 1.67 triliun. Jika market cap Bitcoin bernilai seharga $ 679 miliar, nominal $ 679 miliar tersebut dibagi dengan 1.67 triliun maka hasil yang didapat sebesar 40,91%. Nilai 40,91% adalah nilai dari dominasi Bitcoin.

    Kebijakan keras yang dilakukan oleh pemerintahan China terhadap larangan penambangan Bitcoin berimbas pada melemahnya harga Bitcoin. Selain itu, faktor lain yang sangat mempengaruhi harga Bitcoin adalah penurunan dominasi Bitcoin pada market cap. Di awal tahun, Bitcoin masih mendominasi kapitalisasi pasar aset kripto pada kisaran 50%. Saat ini, dominasi Bitcoin terhadap pasar aset kripto sebesar 43,77%.

    Tergerusnya dominasi Bitcoin di kapitalisasi pasar terjadi setelah Ethereum menembus level 3.000 USD untuk pertama kalinya. Berdasarkan data statistik yang diambil dari coinmarketcap.com dominasi Bitcoin dari tahun 2013 semakin mengalami penurunan. Sedangkan dominasi Ethereum meskipun sideways, namun batas bawahnya semakin tinggi. 

    Hal ini menandakan bahwa dominasi Ethereum semakin mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Tidak menutup kemungkinan dominasi Ethereum akan menyalip dominasi dari Bitcoin di market cap.

    Penurunan Bitcoin: Berdampak Negatif atau Positif?

    Penurunan harga Bitcoin yang terjadi karena menurunnya dominasi Bitcoin pada market cap, tidak selalu menghasilkan dampak yang buruk. Pasalnya, penurunan dominasi Bitcoin membuat sejumlah alternative coin justru mengalami kenaikan harga. 

    Di lain sisi, harga Bitcoin juga menjadi semakin murah. Tentunya hal ini dapat dijadikan kesempatan, jika Anda berminat untuk membeli Bitcoin dan menjualnya kembali saat mengalami kenaikan harga.

    Penurunan harga Bitcoin mengharuskan Anda untuk tetap tenang, agar Anda dapat berpikir rasional sehingga mampu melihat peluang. Selain itu,  juga mengharuskan Anda untuk tetap disiplin dalam melakukan analisis teknikal, agar Anda dapat menentukan strategi yang melahirkan profit.

    Bitcoin melemah, membuat kenaikan harga pada alternatif coin. Membeli sejumlah alternatif coin mungkin dapat menghasilkan profit pada aktivitas trading Anda. Alternatif lainnya, Anda dapat memulai untuk berinvestasi di Tokocrypto. Tidak mahal, hanya dengan Rp 50.000 Anda sudah dapat memulai investasi. Tunggu apa lagi? Yuk, mulai investasi di Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com