Category: Pluang

  • Token Sniffer, Pengertian dan Cara Kerjanya

    Apa itu Token Sniffer?

    Token Sniffer adalah alat berbasis Ethereum Virtual Machine (EVM) yang dirancang untuk menganalisis kontrak pintar dari sebuah token.

    Alat ini memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi token palsu. Ini merupakan alat canggih yang diciptakan untuk memberikan lapisan keamanan tambahan dalam dunia keuangan terdesentralisasi (DeFi).

    Nantinya, alat ini akan mengungkap identitas token curang yang mungkin terlewatkan, membantu pengguna membuat keputusan investasi yang bijaksana, dan menghindari risiko finansial.

    Platform ini sudah terintegrasi dengan Solidus Labs, perusahaan penyedia solusi anti pencucian uang (AML) untuk perusahaan di bidang kripto.

    Alat ini dapat digunakan secara gratis dan mendukung 13 rantai EVM seperti Ethereum, Binance Chain, Arbitrum, Polygon, dan lainnya.

    Bagaimana Cara Kerjanya?

    Token Sniffer bekerja dengan menganalisis transaksi blockchain dan memeriksa alamat token untuk mengidentifikasi segala aktivitas mencurigakan.

    Alat ini memeriksa dengan teliti lanskap kripto, mencari tanda-tanda penipuan, seperti token yang dicloning, kolam likuiditas palsu, atau kode kontrak yang curang.

    Dengan memanfaatkan algoritma canggihnya, alat ini dapat dengan cepat mendeteksi tanda bahaya dan memberikan peringatan terhadap potensi risiko.

    Alat ini beroperasi dengan cepat dan menghasilkan analisis singkat yang mencakup:

    Analisis Kontrak:

    Melakukan analisis terhadap kontrak pintar seperti mendeteksi kemungkinan honeypot, kemampuan pemilik dalam memodifikasi kontrak, dan memverifikasi sumber kontrak.

    Analisis Pemilik:

    Melihat kepemilikan token pada pemilik dan pembuat kontrak. Sebuah token akan mendapatkan centang hijau (baik) jika kepemilikan berada di bawah 5% dari total pasokan.

    Analisis Likuiditas:

    Memperlihatkan persebaran likuiditas token di berbagai DEX. Semakin banyak likuiditas di berbagai DEX, semakin baik.

    Jika sebuah kontrak pintar token mendapatkan centang hijau di semua kategori analisis, maka skor yang diperoleh adalah poin penuh 100. Skor dihitung berdasarkan persentase centang hijau yang diperoleh. Namun, alat ini juga menekankan bahwa token dengan skor tinggi masih memungkinkan memiliki bug yang tersembunyi.

    Cara Menggunakan Token Sniffer

    Berikut langkah-langkah menggunakan Token Sniffer secara mudah:

    1. Buka Situs Web Token Sniffer: Pertama, buka situs web Token Sniffer di tokensniffer.com. Di halaman utama, Anda akan melihat kotak pencarian di mana Anda bisa mencari token berdasarkan nama atau alamat kontrak.
    2. Masukkan Nama atau Alamat Kontrak Token: Anda bisa mencari token dengan memasukkan nama atau alamat kontrak token di kotak pencarian. Misalnya, jika Anda ingin mencari token “Baby MetaCoin”, cukup ketik “Baby MetaCoin” dan klik cari.
    3. Verifikasi CAPTCHA: Sebelum Anda bisa melihat hasil pencarian, Anda mungkin perlu memverifikasi bahwa Anda bukan robot dengan menyelesaikan CAPTCHA.
    4. Lihat Hasil Pencarian: Setelah verifikasi CAPTCHA selesai, Anda akan melihat hasil pencarian untuk token yang Anda cari. Di sini, Anda akan melihat laporan audit otomatis untuk token tersebut.
    5. Baca Laporan Audit: Laporan audit akan memberikan informasi tentang token, termasuk apakah token tersebut telah ditandai sebagai potensi scam atau tidak. Misalnya, jika Anda melihat bahwa token telah ditandai karena bukti scam atau hack, ini merupakan “Red Flag” yang menunjukkan bahwa Anda harus berhati-hati.
    6. Pertimbangkan Informasi Lainnya: Meskipun Token Sniffer adalah alat yang berguna, Anda tidak boleh hanya mengandalkan informasi dari situs ini saja. Selalu lakukan penelitian sendiri dan gunakan berbagai sumber untuk memastikan keamanan investasi Anda.

    Kelebihan Token Sniffer

    Salah satu keunggulan utama Token Sniffer adalah kemampuannya untuk melindungi aset digital dengan mendeteksi penipuan.

    Dengan menggunakan alat ini, peluang jatuh ke tangan proyek curang yang bisa menguras dana yang telah diperoleh dengan susah payah akan sangat berkurang.

    Token Sniffer berfungsi sebagai perisai, memberikan lapisan perlindungan tambahan terhadap risiko potensial dalam lanskap kripto yang selalu berubah.

    Selain itu, Token Sniffer memberdayakan dengan pengetahuan dan wawasan. Memberikan informasi tentang legitimasi token, memastikan Anda dapat membuat keputusan berdasarkan data yang dapat dipercaya.

    Dengan memiliki alat yang dapat diandalkan seperti Token Sniffer, Anda mendapatkan keunggulan dalam dunia investasi kripto yang cepat dan dinamis.

    Alternatif Token Sniffer

    Berikut adalah beberapa alternatif lain yang banyak digunakan:

    1. Token Checker: Alat ini memberikan analisis komprehensif tentang kontrak token, termasuk legitimasi, kepemilikan, dan riwayat transaksi. Menawarkan wawasan tambahan untuk memvalidasi pilihan investasi Anda.
    2. Scam Alert Bot: Asisten otomatis ini memantau berbagai platform dan saluran media sosial, memberikan peringatan tentang token curang berdasarkan laporan pengguna, aktivitas mencurigakan, atau tanda bahaya. Ini adalah cara proaktif untuk tetap update dengan informasi terbaru dan melindungi investasi Anda.
    3. Forum Komunitas: Terlibat dalam komunitas kripto melalui forum dan platform diskusi dapat memberikan wawasan berharga dan pengalaman langsung. Berbagi pengetahuan dan bertukar informasi dengan sesama penggemar kripto adalah cara yang baik untuk tetap unggul



    Sumber : pluang.com

  • WACC, Pengertian dan Perhitungannya

    Apa itu WACC?

    WACC (Weighted Cost of Capital) atau Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang adalah cara untuk menghitung biaya modal berdasarkan perbandingan antara utang (debt) dan ekuitas (equity) suatu perusahaan.

    Rumus ini mengevaluasi kelayakan investasi dalam sebuah perusahaan berdasarkan struktur modalnya, terutama yang melibatkan komponen utang dan modal.

    Jika perusahaan hanya menggunakan modal sebagai sumber pendanaan (seperti modal pemilik, dsb), maka biaya modalnya akan dihitung setara dengan biaya ekuitas. Namun,  apabila melalui utang, maka biaya modalnya akan setara dengan biaya utang.

    Tujuan WACC

    WACC digunakan untuk membantu manajemen dalam mengevaluasi, dan mempertimbangkan apakah membeli aset baru dengan ekuitas atau utang.

    Hal ini penting karena berdampak pada profitabilitas perusahaan dan harga saham secara keseluruhan.

    Selain itu, WACC juga menjadi indikator yang dapat digunakan untuk menyeimbangkan harga saham, ekspektasi return investor, dan total biaya pembelian suatu aset. Sehingga, bisa menentukan apakah keputusan merger akan berdampak positif atau negatif.

    Rumus ini juga bisa menjadi penentu apakah perusahaan layak mendapatkan pinjaman atau investasi.

    Komponen-Komponen WACC

    Ada dua komponen dari WACC yaitu Biaya Utang (Cost of Debt) dan Biaya Ekuitas (Cost of Equity).

    Biaya ekuitas adalah biaya modal yang juga merupakan biaya kesempatan (opportunity cost) bagi para pemegang saham atas investasi yang mereka lakukan di suatu perusahaan.

    Ini artinya kompensasi atas risiko yang ditanggung oleh investor saat mereka menginvestasikan modalnya di perusahaan tersebut.

    Biaya ini dapat dihitung menggunakan metode Model Penentuan Harga Aset Modal (CAPM): Tingkat Risiko Bebas + Beta Ekuitas.

    Sedangkan biaya utang yaitu tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada pemberi pinjaman (kreditur). Bisa dihitung berdasarkan tingkat bunga yang telah ditetapkan pada saat jatuh tempo.

    Adapun tingkat bunga ditentukan dengan menambahkan tingkat risiko bebas dan premi risiko kredit. Rumus perhitungannya adalah: (Tingkat Risiko Bebas + Premi Risiko Kredit) x (1 – Tarif Pajak).

    Rumus WACC

    Berikut rumus untuk menghitung WACC dalam menganalisis biaya modal dan struktur modal:

    WACC = (E/V x Re) + [(D/V x Rd) x (1 – T)]

    Keterangan:

    E/V: Persentase modal ekuitas

    E/D: Persentase modal utang

    D: Nilai pasar utang

    E: Nilai pasar ekuitas

    V: D + E

    Rd: Biaya utang

    Re: Biaya ekuitas

    T: Tarif pajak perusahaan

    Bagaimana Cara Menghitungnya?

    Sebagai contoh, perusahaan XYZ ingin berekspansi dan memerlukan modal Rp2,5 miliar. Perusahaan ini menerbitkan 1 juta lembar saham dengan harga Rp2000 per lembar.

    Pemegang saham menginginkan return saham sekitar 20%, dan perusahaan juga meminjam dana sebesar Rp500 juta dengan tingkat bunga 10%. Pajak perusahaan diketahui sebesar 10%.

    Diketahui:

    Rd = 10%

    Re = 20%

    D = Rp500 juta

    E= Rp2000 x 1 juta lembar saham = Rp2 juta

    V = Rp500 juta + Rp2 juta = Rp2,5 juta

    T = 10% = 0,1

    Maka, WACC perusahaan dapat dihitung dengan rumus berikut:

    (Rp2 juta/Rp2,5 juta x 20%) + [(Rp500 juta/Rp2,5 juta x 10%) x (1 – 0,1)]

    = 0,16 + (0,04 x 0,9)

    = 0,16 + 0,036

    = 0,196 (19,6%)

    Manfaat WACC

    Bagi Investor

    Manfaat utama dari WACC adalah  membuat proyeksi return yang diharapkan dari investasi, sehingga investor harus memilih perusahaan yang dapat memberikan keuntungan maksimal.

    Hal ini bisa menjadi pertimbangan investor karena bervariasi tergantung pada industri dan skala bisnis.

    Biasanya, perusahaan baru memiliki nilai WACC yang lebih tinggi karena risikonya juga lebih tinggi. Sementara jika nilainya lebih rendah, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan lebih aman untuk diinvestasikan.

    Bagi Perusahaan

    Bagi perusahaan karena dapat digunakan sebagai indikator pertimbangan saat mengevaluasi modal proyek yang akan datang.

    Di samping itu, WACC juga bisa menentukan opsi pendanaan dan pembiayaan terbaik saat membeli aset baru, menetapkan target minimal agar sejalan dengan pertumbuhan pasar, mengukur kinerja manajerial, dan lainnya.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal JP Morgan, Bank Terbesar AS Berusia Hampir 2 Abad

    Apa itu JP Morgan Chase & Co?

    JP Morgan Chase & Co adalah perusahaan jasa finansial terbesar di Amerika Serikat. Bahkan, pegiat jasa keuangan juga mendapuk JP Morgan Chase & Co sebagai salah satu dari anggota “big four” alias empat bank terbesar AS bersama Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo.

    Saat ini, perusahaan yang merupakan hasil merger lebih dari 1.200 institusi keuangan tersebut dinobatkan sebagai institusi keuangan terbesar ketujuh di dunia. Kemudian, dilansir dari laman resminya, perusahaan ini telah beroperasi di lebih dari 100 negara di seluruh dunia dengan jumlah pegawai lebih dari 240.000 pekerja.

    Estimasi aset milik JPMorgan Chase & Co mencapai US$3,67 triliun. Jumlah tersebut menempatkannya sebagai salah satu institusi keuangan dengan aset terbesar di dunia.

    Baca Juga: Mengulik prospek saham Apple Sebagai Salah Satu Market Leader Smartphone Di Dunia

    Seperti Apa Sejarah JP Morgan Chase & Co?

    Sebagai sebuah perusahaan, JP Morgan Chase & Co sejatinya terbentuk pada 1996, yakni ketika tiga bank terbesar AS saat itu Chase Manhattan Bank, JPMorgan & Co, dan Bank One berkonsolidasi untuk membentuk satu megabank bernama JP Morgan Chase & Co.

    Kendati demikian, sepak terjang masing-masing perusahaan tersebut sejatinya berakar sejak berabad-abad lalu. Pasalnya, Chase Manhattan Bank ternyata berdiri sejak 1799. Sementara itu, JPMorgan & Co sendiri didirikan oleh bankir terkenal John Pierpont Morgan pada tahun 1871.

    Kedua institusi besar tersebut, yakni JP Morgan & Co dan Chase Manhattan Company, resmi melebur jadi satu institusi keuangan pada tahun 2000. Setelah peleburan terjadi, JP Morgan Chase & Co dipimpin oleh 12 pimpinan, delapan di antaranya menjabat sebagai CEO dan co-CEO.

    Sepanjang kiprahnya, baik JP Morgan & Co maupun Chase Manhattan Company masing-masing telah menorehkan prestasinya di jagat industri keuangan.

    Pada 1895, misalnya, JP Morgan & Co menyediakan penjaminan emas senilai US$62 juta bagi pemerintah AS agar bisa menerbitkan obligasi pemerintah.

    Sementara itu, Chase Manhattan Bank juga sempat memantapkan diri sebagai penguasa pasar pinjaman sindikasi, treasury, kartu kredit, hingga jasa sekuritas pada era 1970an dan 1980an, yakni ketika perusahaan dipimpin oleh sang mantan CEO David Rockefeller.

    Apa Saja Lingkup Usaha JP Morgan Chase & Co?

    Secara garis besar, institusi keuangan ini beroperasi pada lingkup usaha perbankan dan nonperbankan. Adapun operasional perbankan bank ini terbagi atas empat segmen besar, yakni:

    1. Asset & Wealth Management

    Melalui segmen ini, JP Morgan Chase & Co memberikan layanan manajemen aset dan kekayaan bagi klien individu maupun institusi.

    Adapun prestasi yang ditorehkannya meliputi penerbitan reksa dana pasar uang pertama di dunia pada 1987 silam. Di samping itu, segmen ini pun menjadi peolpor produk dana amanah pertama yang diluncurkan pada 1873.

    2. Commercial Banking

    Segmen ini merujuk pada penyediaan solusi keuangan yang bisa membantu korporasi, investor real estat, dan pemilik bisnis untuk mencapai tujuan finansialnya. Adapun salah satu produk yang ditawarkan segmen ini adalah pembiayaan korporasi.

    3. Consumer & Community Banking

    Segmen ini mencakup jasa keuangan tradisional yang menyasar target pasar individu, keluarga, dan bisnis skala kecil.

    Melalui segmen ini, nasabah bisa meminjam dana, menabung ke dalam produk-produk simpanan, mengajukan kartu kredit, hingga mengajukan kredit pemilikan rumah.

    4. Corporate & Investment Banking

    Segmen ini menyediakan jasa seperti investment banking, pembayaran dalam jumlah grosir, dan markets trading.

    Selain usaha perbankan, institusi keuangan ini juga terjun ke dalam dua segmen non perbankan, yakni fungsi korporasi dan teknologi. Meski berada di lingkup non-perbankan, keduanya masih berkaitan erat dengan industri jasa keuangan.

    Baca Juga: Jenis-Jenis Bank Berdasarkan Fungsi, Kepemilikan, dan Sifatnya

    Bagaimana JP Morgan Chase & Co Beroperasi?

    Tiap divisi dalam segmen-segmen usaha perbankan dan nonperbankan dalam induk usaha JP Morgan Chase & Co bekerja secara semi independen. Institusi ini juga memiliki ribuan anak usaha yang membuat struktur organisasinya cukup rumit.

    Secara garis besar induk usaha JPMorgan Chase & Co memiliki tujuh segmen,  tiap segmen memiliki co-CEO yang duduk dalam komite operasional. Komite operasional ini melaporkan langsung kepada Chief Executive Officer Jamie Dimon.

    Selain delapan CEO dan co-CEO tersebut, JPMorgan Chase & Co juga memiliki empat pimpinan lain yang tidak merangkap sebagai CEO namun duduk dalam jajaran chairman.

    Bagaimana Dominasi JP Morgan Chase & Co di Pasar Keuangan?

    Saat ini, JP Morgan Chae & Co merupakan bank terbesar di Amerika Serikat yang masuk dalam daftar bank sistemik di negara adidaya tersebut. Fortune 500 menobatkan bank ini sebagai korporasi terbesar ke 24 di Amerika Serikat berdasarkan pendapatan.

    Dominasi bank tersebut tak terbatas pada pasar AS saja. Bank ini juga mengklaim dirinya sebagai bank investasi terbesar di dunia.

    Berkat dominasinya di bisnis jasa keuangan tersebut, Jamie Dimon sang CEO dinobatkan sebagai bankir terkaya di Amerika Serikat saat ini versi Forbes. Kekayaannya diperkirakan mencapai US$1,3 miliar, sebagian besarnya berasal dari pendapatannya sebagai bankir yang diinvestasikan kembali dalam bentuk saham dan instrumen keuangan lainnya.

    Baca Juga: Mengenal Biaya Provisi di Bank. Apakah Itu?

    Bagaimana Cara Berinvestasi Saham JPMorgan Chase & Co?

    Kiprahnya yang panjang dan posisinya sebagai salah satu bank terbesar AS tentu membuat Sobat Cuan tergiur untuk mengoleksi sahamnya.

    Kamu mungkin berpikir bahwa membeli saham JP Morgan Chase & Co terasa sulit karena sahamnya terdaftar di bursa AS. Namun, kamu tidak perlu khawatir, karena kamu kini bisa memiliki saham JP Morgan Chase & Co di aplikasi Pluang!

    Di Pluang, kamu bisa mendapatkan saham bank top AS tersebut mulai dari 0,01 lembar saja dan hanya tiga kali klik saja. Selain itu, kamu pun berkesempatan meraih dividen dari investasimu di saham tersebut!

    Tunggu apalagi? Yuk, miliki saham JP Morgan Chase & Co di Pluang sekarang!

    Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

    Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

    Sumber: JPMorgan, Organimi, Businessinsider



    Sumber : pluang.com

  • Apa Itu Cloud Mining di Kancah Kripto?

    Pengertian Cloud Mining

    Cloud Mining adalah sebuah proses di mana setiap orang bisa berpartisipasi di dalam penambangan aset kripto tanpa perlu memiliki perangkat keras khusus yang terkait dengan aktivitas tersebut.

    Dalam kegiatan ini, penambang individu bisa menambang aset kripto dengan menyewa daya komputasi dari perusahaan-perusahaan yang memiliki dan mengelola perangkat keras tersebut. Hal ini bisa terjadi berkat kehadiran teknologi komputasi awan (cloud computing), di mana beberapa server disimpan dan diproses di internet alih-alih di server lokal. Akibatnya, seluruh orang di dunia pun bisa melakukan penambangan aset kripto asal terhubung ke jaringan internet.

    Jika penambangan berhasil, maka bonus penambangan tersebut (rewards) akan dibagi antara penambang dan perusahaan pemilik perangkat keras.

    Untungnya, penambang yang ingin berpartisipasi di dalam Cloud Mining tidak perlu repot-repot mencari tempat penyewaan daya komputasi. Pasalnya, kini terdapat sejumlah platform yang menghubungkan penambang dengan perusahaan pemilik perangkat keras, seperti Youhodler.com, Binance cloud mining, Hashfrog.com, Nicehash.com, Ecos.am, dan Go.stormgain.app.

    Baca Juga: Chainlist: Mengenal Platform Integrasi Wallet Kripto ke Blockchain

    Bagaimana Cara Kerja Cloud Mining?

    Cloud Mining adalah sebuah inovasi yang memudahkan penambangan aset kripto. Namun, bagaimana cara kerja kegiatan ini sehingga setiap orang kini bisa menambang aset kripto?

    1. Mencari Akses di ‘Mining Farm’ Milik Penyedia Jasa Cloud Mining

    Ketika ingin berpartisipasi di Cloud Mining, penambang wajib memiliki akses terhadap mining farm milik penyedia jasa. Adapun mining farm sendiri adalah sebuah pusat data yang terletak di lokasi terpencil yang khusus dimanfaatkan untuk penambangan kripto.

    Untuk bisa berkegiatan di mining farm, penambang wajib membeli sebagian porsi dari hash power yang dimiliki oleh penyedia jasa. Asal tahu saja, hash power adalah jumlah daya komputasi yang dimiliki perangkat keras untuk menjalankan dan memecahkan beberapa algoritma kriptografi untuk menambang aset kripto.

    2. Memilih Perusahaan Penyedia Jasa Cloud Mining

    Setelah menemukan sejumlah akses ke mining farm, penambang pun kemudian bisa memilih satu dari sekian banyak perusahaan penyedia jasa yang dirasa cocok dengan kebutuhannya.

    Adapun salah satu faktor yang bisa dipertimbangkan ketika memilih penyedia jasa adalah klausul kontrak penambangan.

    Dalam hal ini, sejumlah penyedia jasa menawarkan hash power dari 500 hingga 1.000 Giga hashes per detik dengan masa kontrak satu tahun. Namun, ada pula yang menawarkan durasi kontrak lebih singkat, misalnya enam bulan saja. Masa kontrak dan jumlah hash power sangat berpengaruh terhadap tarif yang perlu dibayar penambang ke perusahaan penyedia jasa di awal.

    Jika pembayaran selesai, maka perusahaan penyedia jasa akan mempersiapkan sumber daya yang dibutuhkan penambang untuk melakukan Cloud Mining.

    3. Mendapatkan ‘Reward’ Sesuai Porsi ‘Hash Power’

    Aktivitas penambangan yang sukses akan membuahkan profit dan reward. Mereka yang melakukan penambangan aset kripto secara mandiri tentu akan menguasai seluruh profit dan reward tersebut. Hanya saja, hal itu tidak berlaku di kegiatan Cloud Mining.

    Jika penambangan berhasil, maka penambang akan mendapatkan profit dan reward sesuai dengan jumlah hash power yang telah dibeli sebelumnya.

    Baca Juga: Apa Itu Konsep Mineable dan Unminable Coin dalam Jagat Kripto?

    Mengenal Dua Model Cloud Mining

    Selain praktis, Cloud Mining juga memberikan keleluasaan bagi penambang untuk menambang aset kripto melalui dua model penambangan sesuai seleranya masing-masing. Kedua model itu terdiri dari:

    1. Hash Power Leasing

    Dalam model satu ini, penambang bisa menyewa sejumlah porsi dari hash power yang dihasilkan oleh sebuah mining farm. Penambang yang ingin melakukan model penambangan ini bisa berlangganan ke salah satu paket yang disediakan penyedia jasa, sehingga mereka bisa mendapatkan porsi reward berdasarkan hash power-nya.

    Di samping itu, model ini tidak mewajibkan penambang untuk membayar biaya pemeliharaan perangkat keras milik si penyedia jasa.

    2. Host Mining

    Selain itu, terdapat pula tipe penambangan lain bernama Host Mining, yakni sebuah model di mana penambang akan membeli atau menyewa perangkat keras yang dimiliki oleh penyedia jasa. Sehingga, berbeda dengan model Hash Power Leasing, Host Mining mewajibkan penambang untuk ikut membayar biaya pemeliharaan perangkat-perangkat tersebut.

    Kendati begitu, cuan yang dihasilkan dari model satu ini dianggap lebih baik ketimbang Hash Power Leasing. Sebab, penambang juga memiliki kendali atas perangkat-perangkat penambangan, sehingga ia pun bisa lebih mudah mengalokasikan hash power ke mining pool lainnya.

    Keunggulan Cloud Mining

    Aktivitas penambangan melalui Cloud Mining memiliki berbagai keunggulan sebagai berikut:

    1. Bisa Dimanfaatkan oleh Siapa Saja

    Agar bisa berpartisipasi di kegiatan ini, penambang hanya perlu membayar biaya sewa ke penyedia jasa. Implikasinya, semua orang, bahkan yang minim pengetahuan tentang aset kripto dan teknologi sekali pun, bisa menambang aset kripto dengan leluasa.

    2. Menghemat Tagihan Listrik

    Penambangan aset kripto tradisional membutuhkan daya komputasi yang kuat. Hanya saja, penggunaan daya yang jor-joran juga akan berimbas ke peningkatan tagihan listrik.

    Untungnya, bengkaknya biaya listrik bisa dicegah jika sang penambang berkecimpung di Cloud Mining.

    Dalam kegiatan ini, penambangan terjadi di dalam cloud alih-alih di perangkat keras milik penambang. Sehingga, penambang pun bisa menghemat tagihan listriknya atas kegiatan penambangan kripto.

    3. Tak Perlu Membeli Peralatan Baru

    Penambang hanya memerlukan komputernya saja untuk melakukan Cloud Mining. Akibatnya, ia pun tak perlu membeli peralatan baru hanya demi “menggali” aset-aset kripto.

    Karena penambang tak perlu membeli peralatan baru, maka ia pun bisa terbebas dari biaya-biaya pemeliharaan perangkat keras yang kerap menguras kantong penambang.

    4. Peluang Meraih Pendapatan Pasif

    Masyarakat mungkin hanya mengenal trading sebagai sarana mendapatkan cuan di jagat kripto. Namun, mereka rupanya bisa meraih pendapatan pasif hanya dengan berpartisipasi di Cloud Mining.

    Di dalam kegiatan ini, sebagian besar proses penambangan sejatinya diurus oleh perusahaan penyedia jasa. Sehingga, penambang pun bisa meraih pendapatan pasif tanpa harus melakukan apapun.

    Risiko Cloud Mining

    Meski memudahkan akses penambangan kripto, Cloud Mining sejatinya juga menyimpan risiko yang bisa mengganggu kenyamanan penambang.

    1. Kerap Jadi Kedok Penipuan

    Penambang perlu berhati-hati dan melakukan riset mendalam dalam memilih perusahaan penyedia jasa Cloud Mining. Pasalnya, kini terdapat oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan penipuan berkedok Cloud Mining di jagat kripto.

    Jika terjerat modus kejahatan tersebut, maka penambang bisa didera kerugian yang amat parah.

    2. Potensi Cuan Lebih Rendah dari Penambangan Mandiri

    Potensi profit dari Cloud Mining terbilang lebih rendah dari penambangan mandiri. Pasalnya, dalam kegiatan tersebut, penambang dibebani biaya sewa ke penyedia jasa.

    Bahkan, ada kalanya profit dari Cloud Mining lebih rendah dari trading atau menahan (hodling) aset kripto.

    3. Punya Kendali Minim

    Ketika memutuskan berpartisipasi di kegiatan ini, penambang perlu sadar bahwa ia menyerahkan seluruh kendali dan proses penambangan aset kripto ke perusahaan penyedia jasa. Dalam hal ini, penyedia jasa menentukan jenis aset kripto yang ingin ditambang dan kapan waktu yang tepat untuk menjualnya.

    Akibatnya, jika perusahaan penyedia jasa tiba-tiba gulung tikar, maka potensi cuan sang penambang berada dalam bahaya.

     4. Minim Transparansi

    Sejumlah perusahaan penyedia jasa kadang enggan membeberkan detail mengenai biaya yang dikenakannya, operasinya, atau informasi lainnya. Samarnya data-data tersebut membuat penambang kesulitan dalam menakar potensi cuan dari kegiatan Cloud Mining.

    5. Volatilitas Pasar Kripto

    Pasar kripto dikenal memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. Sehingga, nilai aset kripto yang sukses ditambang bisa terjun bebas jika situasi pasar sedang tidak kondusif.

    Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

    Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

    Sumber: Binance, Investopedia, 101blockchains



    Sumber : pluang.com

  • Crypto Wallet: Penjelasan dan Jenis-Jenisnya

    Apa itu Crypto Wallet?

    Dalam dunia cryptocurrency, keamanan aset kripto menjadi hal yang krusial. Salah satu sarana yang sangat penting untuk menjaga keamanan tersebut adalah menggunakan crypto wallet, apa itu?

    Crypto wallet atau dompet kripto adalah tempat atau sarana di mana investor menyimpan seluruh aset kripto yang dimilikinya.

    Secara sederhana, dompet kripto berfungsi sebagai wadah digital yang memungkinkan penyimpanan, pengiriman, dan penerimaan berbagai jenis cryptocurrency.

    Keberadaannya diperlukan untuk memastikan keamanan aset kripto yang dimiliki oleh investor.

    Mengapa Crypto Wallet Diperlukan?

    Alasan utama penggunaan crypto wallet adalah untuk menjaga keamanan aset kripto.

    Dompet kripto dilengkapi dengan berbagai lapisan keamanan yang sulit ditembus oleh pihak yang tidak berwenang.

    Kunci keamanan utamanya adalah private key, yang hanya dapat diakses oleh pemilik wallet. Dengan demikian, pemilik dapat mengontrol akses dan penggunaan aset kripto mereka.

    Jenis-Jenisnya

    Tidak hanya satu jenis, crypto wallet memiliki variasi yang digunakan oleh investor sesuai dengan preferensi dan kebutuhan keamanan.

    Berikut adalah beberapa jenisnya yang umum digunakan yaitu:

    Cold Wallet

    Cold wallet atau paper wallet adalah jenis wallet yang unik karena private key dicetak di selembar kertas. Wallet ini disimpan secara offline dan tidak terhubung ke internet.

    Keamanannya sangat tinggi karena akses langsung ke kertas tersebut diperlukan untuk mendekripsi wallet. Meskipun tidak praktis untuk transaksi harian, cold wallet menjadi pilihan populer untuk penyimpanan jangka panjang.

    Hosted Wallet

    Hosted wallet adalah jenis wallet yang umum digunakan, terutama ketika melakukan transaksi di platform exchange. Setelah membeli aset kripto, aset investor secara otomatis disimpan pada hosted wallet.

    Istilah “hosted” digunakan karena pihak ketiga, seperti platform exchange, menyimpan aset kripto pengguna. Meskipun mudah diatur, keamanan hosted wallet bergantung pada keamanan platform penyedia.

    Hardware Wallet

    Hardware wallet adalah perangkat fisik yang menyimpan private key secara offline. Bentuknya mirip dengan flashdisk dan dapat dihubungkan ke komputer saat diperlukan.

    Meskipun lebih kompleks dan memiliki biaya yang lebih tinggi, hardware wallet menjadi pilihan bagi mereka yang mengutamakan keamanan.

    Keuntungan utamanya adalah menjaga keamanan aset kripto bahkan saat komputer terkena risiko peretasan.

    Kesimpulan

    Menggunakan crypto wallet bukan hanya merupakan langkah bijak dalam menjaga keamanan aset kripto, tetapi juga memberikan kontrol penuh kepada pemiliknya.

    Dengan pemahaman tentang jenis-jenis crypto wallet, investor dapat memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi keamanan mereka.

    Sebagai langkah tambahan, penting untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi keamanan dan menjaga keamanan private key dengan seksama.

    Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

    Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

     

    Sumber: Liputan6



    Sumber : pluang.com

  • Menjelajahi Arbiscan, Blockchain Explorer Andalan Arbitrum

    Apa Itu Arbiscan?

    Arbiscan adalah sebuah laman yang menyediakan segala informasi tentang jaringan Arbitrum.

    Seperti situs blockchain explorer lainnya, pengguna bisa melihat informasi seperti alamat wallet yang terdaftar di jaringan ini, kontak, blok, token, bahkan harga terkini token milik Arbitrum, ARB.

    Sekadar informasi, Arbitrum sendiri merupakan jaringan blockchain lapis kedua yang dirancang untuk membantu beban transaksi jaringan yang terdapat di jaringan Ethereum. Sehingga, berkat jaringan ini, seluruh transaksi yang terdapat di jaringan Ethereum bisa diproses dengan lebih cepat dan efisien secara biaya.

    Menariknya, pengguna yang ingin memanfaatkan blockchain explorer ini tidak dikenakan biaya sepeser pun. Akibatnya, pengembang aplikasi kripto dan pengguna bisa mendapatkan transparansi terkait kondisi jaringan Arbitrum saat ini secara cuma-cuma.

    Baca Juga: Mengenal Etherscan, Blockchain Explorer Jaringan Ethereum

    Bagaimana Cara Menggunakan Arbiscan?

    Cara menggunakan Arbiscan terbilang cukup mudah.

    Pengguna hanya tinggal mengunjungi laman arbiscan.io untuk mengaksesnya. Setelah itu, pengguna akan diarahkan ke beranda Arbiscan yang terlihat seperti gambar berikut.

    arbiscan dashboard
    Menu Utama Arbiscan. Sumber: ArbiscanCaption

     

    Setelah itu, pengguna bisa mencari data apapun yang berkaitan dengan aktivitas di jaringan Arbitrum. Lantas, data-data apakah yang bisa dihimpun dari blockchain explorer satu ini?

    Jenis Data yang Bisa Dilihat di Arbiscan

    1. Transaksi di Jaringan Arbitrum

    Salah satu data terpenting yang terdapat di blockchain explorer ini adalah data transaksi. Di dalamnya, pengguna bisa memeriksa data-data seperti metode transaksi yang diguanakan, transaksi hash, nomor blok transaksi, alamat asal dan tujuan transaksi, nilai transaksi, dan biaya transaksinya (fee).

    Seluruh data-data ini ditampilkan ke dalam urutan berdasarkan transaksi terakhir. Dengan kata lain, data yang terdapat di baris paling atas data ini merupakan transaksi terkini yang terjadi di jaringan Arbitrum. Berikut contohnya.

    transaksi arbitrum

    Selain itu, pengguna juga bisa melihat data-data lain terkait transaksi di jaringan Arbitrum, seperti data transaksi dari jaringan Ethereum ke Arbitrum dan nomor address yang melakukan transaksi terbanyak di jaringan tersebut.

    2. Data Aktivitas Token

    Selain itu, Arbiscan juga menyajikan data terkait aktivitas aset kripto, baik dalam bentuk token berstandar ERC-20, token berstandar ERC-1155, maupun Non-Fungible Token (NFT).

    Ketika melihat data token ERC-20, pengguna akan menemukan data-data seperti nama token, harga token, nilai kapitalisasi pasarnya, dan jumlah pemegang token tersebut. Bahkan, Arbiscan juga menyediakan data-data mengenai transaksi terkini token-token tersebut.

    aktivitas token

     

    Sementara itu, untuk data token NFT, pengguna dapat mengecek nama token dan berapa kali token tersebut ditranser dalam jangka 24 jam dan tujuh hari terakhir.

    Baca Juga: Mengenal Solscan, Blockchain Explorer Andalan Fans Solana

    Apa Saja Manfaat Arbiscan?

    Pengguna Arbitrum tentu sangat bergantung dengan situs blockchain explorer ini untuk mengetahui kondisi terkini jaringan tersebut. Apalagi, data-data di dalamnya bisa memberikan banyak manfaat bagi penggunanya.

    Lantas, apa saja manfaat yang disuguhkan Arbiscan?

    1. Sarana untuk Melihat Kelancaran Jaringan Arbitrum

    Sebuah jaringan bisa dikatakan andal jika memiliki operasi yang lancar pula. Nah, hal itu sejatinya bisa diperiksa melalui blockchain explorer. Pasalnya, di dalamnya terdapat data-data yang menunjukkan apakah jaringan tengah beroperasi mulus atau sebaliknya.

    Adapun data yang bisa digunakan untuk mengecek situasi tersebut adalah data transaksi. Jika transaksi terakhir terjadi beberapa jam lalu, maka pengguna bisa berasumsi bahwa terdapat gangguan di jaringan Arbitrum.

    2. Sarana untuk Memeriksa Kepadatan Jaringan Arbitrum

    Arbiscan memiliki fitur grafik data yang memperlihatkan jumlah transaksi harian di jaringan Arbitrum. Data ini menjadi penting bagi pengguna karena derasnya transaksi akan sangat berpengaruh dengan gas fees yang bakal dibayar ketika melakukan transaksi.

    Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

    Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

    Sumber: Arbiscan, Bitkan



    Sumber : pluang.com

  • Inverted Hammer si Pengundang Cuan

    Apa Itu Inverted Hammer?

    Inverted hammer adalah formasi reversal yang kerap terbentuk di akhir downtrend. Trader menggunakan pola ini sebagai sinyal terjadinya pembalikan pola.

    Pola menyerupai palu yang terbalik ini dapat dikenali dengan membaca data historis pergerakan harga suatu aset lewat chart candlestick. Palu terbalik merupakan pola yang sangat populer karena pola ini memberi panduan entri, stop loss dan keluar pasar yang cukup jelas.

    Mengapa Pola Inverted Hammer Bisa Terbentuk?

    Pola inverted hammer terbentuk ketika harga pembukaan, harga terendah dan harga penutupan berada pada level harga yang relatif sama. Momentum yang dibutuhkan untuk membuat candlestick membentuk pola inverted hammer terbilang langka, karenanya pola ini tergolong sebagai pola yang cukup jarang ditemui.

    Secara psikologis, pola inverted hammer mewakili kondisi dimana pelaku pasar memberi tekanan yang besar hingga menyebabkan reversal harga. Pola ini juga berarti bahwa pelaku pasar mulai mengumpulkan kepercayaan diri setelah tekanan jual yang panjang.

    Bayangan pola yang panjang ke atas merupakan representasi dari upaya tekanan beli untuk mendorong harga aset ke atas. Kendati upaya tersebut belum membuahkan hasil, namun pola ini mewakili awal dari uptrend yang menjanjikan.

    Bayangan ekor dari pola yang nyaris nihil bahkan tidak ada sama sekali mewakili tekanan jual yang sudah kehilangan momentum. Karenanya, pola ini kerap menandai level support terbaru pada badan hammer sebelum harga melenting.

    Bagaimana Mengkonfirmasi Pola Inverted Hammer?

    Meski polanya terbilang langka, sinyal reversal yang muncul pasca pola inverted hammer terbentuk memiliki akurasi yang cukup baik. Setidaknya, trader mendapat informasi berharga mengenai level terendah dari downtrend suatu aset. Titik tersebut nantinya bisa menjadi tolok ukur level support yang baru saat harga sudah berbalik arah.

    Pola inverted hammer memiliki beberapa poin penting sebagai konfirmasi, diantaranya:

    1. Panjang Bayangan Atas

    Panjang bayangan atas dari pola yang mewakili bagian gagang palu terbalik harus memiliki panjang lebih dari dua kali lipat badan candlestick.

    2. Volume Trading

    Kenaikan volume trading harus mengikuti terbentuknya pola ini. Sebab, volume perdagangan yang tinggi mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas pembeli di pasar aset. Aktivitas pembeli inilah yang memberi tekanan hingga membuat harga aset berbalik arah.

    3. Gap down

    Formasi inverted hammer yang terbentuk pasca terjadinya gap down pada candlestick di hammer dengan candlestick di hari sebelumnya punya peluang lebih besar untuk mengundang reversal. Meski gap down bukan syarat yang mutlak, keberadaannya memperkuat konfirmasi sinyal.

    4. Terjadi Saat Downtrend

    Pola inverted hammer yang berpotensi membawa sinyal reversal terjadi saat trend harga pasar aset cenderung downtrend. Fungsi pola ini akan berbeda jika ditemukan pada pasar yang tengah uptrend.

    Pelaku pasar sering terkecoh pada pola shooting star yang mirip dengan pola inverted hammer. Jika pola serupa ditemukan pada pasar yang tengah uptrend, pola tersebut lebih dikenal sebagai pola shooting star yang mewakili sinyal yang berbeda.

    5. Warna Candlestick

    Trader mengidentifikasi warna hijau pada candlestick inverted hammer sebagai indikasi sinyal reversal yang lebih kuat ketimbang warna merah. Warna yang mewakili harga penutupan yang sedikit lebih tinggi ketimbang harga pembukaannya tersebut memberi gambaran tekanan beli yang lebih dominan ketimbang tekanan jual.

    Meski warna candlestick bukanlah prasyarat mutlak yang menentukan otentik atau tidaknya sinyal reversal, kamu bisa menggunakannya sebagai patokan untuk membuat rencana trading.

    Bagaimana Trading Dengan Inverted Hammer?

    Setelah mengenali dan mengkonfirmasi pola inverted hammer, kamu perlu membuat rencana trading.

    1. Entry Point

    Pola ini menggambarkan level support dari trend harga yang baru. Kamu bisa memanfaatkan badan hammer sebagai level entry dengan asumsi level tersebut merupakan level dasar dari uptrend yang baru dimulai.

    2. Stop Loss

    Idealnya, posisi stop loss terletak pada area ekor atau posisi terbawah dari candlestick sebagai acuan level support.

    3. Profit Taking

    Secara historis, sinyal bullish pada pola ini cukup bisa diandalkan. Namun, data historis juga menunjukkan bahwa uptrend tidak berlangsung panjang. Kamu bisa mematok margin keuntungan yang relevan dengan pola.

    Para trader umumnya menggunakan acuan garis vertikal antara garis horizontal atas dan bawah sebagai area profit taking yang ideal.

    Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

    Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

     

    Sumber: analyzing alpha, commodity



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal PvP, Mode Permainan Seru di Jagat NFT

    Apa itu PvP?

    Belakangan ini game berbasis blockchain bertabur collectibles non-fungible tokens (NFT) mulai merebak dan banyak digemari. Salah satu mode permainan dalam permainan tersebut adalah mode PvP.

    PvP adalah akronim dari Player versus Player, yakni istilah yang merujuk pada mode permainan antar manusia di mana para pemainnya saling bertarung untuk memenangkan permainan tersebut. Secara luas, istilah ini menggambarkan permainan atau aspek permainan yang dimainkan secara multipemain dengan pemain manusia lainnya.

    Biasanya, istilah PvP dipakai pada permainan yang mengombinasikan mode ini dengan mode Player versus Environment (PvE). Pada konteks permainan seperti ini, istilah PvP digunakan untuk membedakan antara mode permainan interaktif antar manusia dan mode permainan yang didesain oleh komputer.

    Baca Juga: Mengenal Genre GameFi dalam Kripto beserta Contoh-contohnya

    Bagaimana Sejarah Perkembangan PvP?

    PvP adalah mode permainan yang banyak digunakan pada game multi-used dimension (MUD) seperti Gemstone II dan Avalon-The Legend Lives.

    Permainan seperti ini memiliki dimensi atau dunia bebas di mana pemain lain bisa menyerang dan membunuh karakter dalam permainan. Mode permainan ini lantas disebut PvP lantaran masing-masing pemain saling bertarung hingga mengakibatkan salah satu pihak mengalami kekalahan atau menerima penalti tertentu seperti terbunuh atau pembatasan akses.

    Istilah PvP sendiri lahir di akhir tahun 1980-an dari MUD berbasis teks yang dimainkan dalam papan buletin seperti MajorMUD dan Usurper.

    Adapun game bergenre role playing game (RPG) alias permainan interaktif pertama yang bertipe PvP adalah Neverwinter Nights yang dirilis 1989 silam dan dapat diakses publik hingga 1997. Pada permainan ini, mode PvP terbatas pada serangan sihir di dalam permainan saja.

    Game PvP lain mulai bermunculan sejak tahun 1992, sebut saja Genocide, Meridion 59 dan Ultima Online. Kemudian, pada 2001, game PvP juga mencatat tonggak sejarah baru dengan hadirnya mode PvP yang dimainkan secara berkelompok. Pada mode permainan ini, satu pemain bisa beraliansi dengan pemain lain untuk membentuk tim dan menyusun strategi untuk melawan tim lain yang merupakan sekelompok human player dalam tim yang berbeda.

    Game PvP lantas mendapatkan puncak popularitasnya ketika game everQuest diluncurkan. Hanya saja, setelah game itu dirilis, masyarakat mulai memberi citra negatif pada istilah PvP. Apa sebabnya?

    Baca Juga: Berpetualang di The Sandbox, Game Kripto Pentolan Jagat Metaverse

    Mengapa Game PvP Sempat Menuai Kontroversi?

    Salah satu karakteristik unik game PvP adalah kehadiran permainan interaktif antar manusia yang diwakili oleh avatar tertentu. Akan tetapi, mode PvP pada game-game tersebut kerap disebut sebagai mode kontroversial.

    Pasalnya, dalam permainan RPG, pemain cenderung memiliki tingkat kemampuan yang sangat beragam. Pemain yang sudah ahli bisa saja bertemu dalam arena yang sama dengan pemain pemula.

    Nah, tingkat kemampuan yang berbeda ini menjadikan pemain pro mudah mendominasi arena permainan. Pemain pro lebih cepat menyerang atau mematikan karakter lawan mainnya sebelum sempat berinteraksi lebih jauh.

    Apa Saja Klasifikasi PvP?

    Aspek kontroversial dari game PvP mendorong pengembang game untuk membuat berbagai model permainan PvP yang beragam bentuknya. Berikut ini beberapa klasifikasi Game PvP.

    1. Player Killing

    Salah satu klasifikasi PvP adalah player killing (PKing), yang merupakan tipe PvP yang cukup umum ditemui di kancah video game.

    Dalam mode ini, antar pemain bisa saling membunuh karakter pemain lainnya untuk memenangkan permainan. Mode membunuhnya pun beragam dengan imbalan yang berbeda-beda pula.

    Karakter yang terbunuh akan mendapat penalti khusus seperti kehilangan collectibles hingga harus membuat karakter baru. Sementara karakter “pembunuh” akan mendapat keuntungan seperti tingkat skill yang bertambah, bisa merampas collectibles milik karakter terbunuh, hingga akses untuk bergabung dengan klub eksklusif yang berisikan pemain-pemain jagoan lainnya.

    2. Anti-Player Killing

    Klasifikasi PvP berikutnya adalah Anti-Player Killing (Anti-Pking). Klasifikasi ini biasanya lahir dari kelebihan populasi pembunuh dalam sebuah permainan.

    Dalam tipe PvP satu ini, satu pemain biasanya akan membuat aliansi dengan karakter lainnya. Mereka yang tergabung dalam satu kelompok yang sama biasanya akan saling menjaga dan bersikap kooperatif satu sama lain.

    Untuk menunjang interaksi antar anggota aliansi, game PvP jenis ini juga biasanya dilengkapi fitur seperti fitur suara, teks atau emoticon. Para pemain juga kerap berinteraksi lewat aplikasi tambahan seperti Discord untuk menyusun rencana, membagi tugas hingga mengenal lebih jauh satu sama lain.

    3. Dueling

    Berbeda dengan dua tipe sebelumnya, Dueling adalah sebuah tipe PvP di mana pertarungan yang terjadi bukan ditujukan untuk membunuh karakter.

    Biasanya, Dueling dilakukan antar pemain yang ingin menyelesaikan tugas tertentu atau sekedar berlatih meningkatkan skill. Pertarungan itu dilakukan secara sukarela antar pemain namun tetap bersifat kompetitif.

    4. Flagging

    Flagging merupakan klasifikasi PvP yang relatif adil, yakni dengan menyalakan opsi ‘bendera’ (flag) yang menyatakan kesediaan untuk memulai pertarungan. Namun, pengembang game kerap memodifikasi mode ini dengan alur yang lebih seru.

    Beberapa game tidak memberikan opsi untuk mematikan mode bendera. Bahkan, ada juga permainan di mana karakter yang membunuh karakter lain mendapat tanda bendera yang berarti siap menerima balasan dari aliansi musuh yang ingin membalas dendam.

    Sumber: Wikiwand



    Sumber : pluang.com

  • STO: Definisi, Kelebihan dan Cara Kerjanya

    Apa Itu STO?

    STO merupakan bentuk penawaran token yang dilakukan secara publik dan dijamin secara digital melalui security token, sebuah sistem keamanan token. Sebagian besar token yang beredar saat ini adalah utility token.

    Utility token dirancang untuk mendukung ekosistem perusahaan blockchain yang menerbitkannya, sehingga memiliki karakteristik dan kegunaan yang berbeda.

    Namun, STO berbeda dengan utility token, hal itu dijual di pasar security token karena dianggap sebagai sekuritas.

    Secara umum, pemegang utility token tidak memiliki hak langsung terhadap proyek blockchain.

    Token yang dibeli hanya dapat digunakan untuk mengakses layanan di dalam ekosistem.

    Dengan kata lain, nilainya berkembang seiring dengan perkembangan ekosistem perusahaan blockchain yang menerbitkannya.

    Sebagai alternatif investasi, STO dianggap lebih aman karena dapat menjamin investor kepemilikan saham atau bagian dari proyek perusahaan blockchain. Sekaligus menawarkan efisiensi dan penghematan biaya lebih baik dibandingkan dengan jenis token lainnya.

    Apa Bedanya dengan Initial Coin Offering (ICO)?

    Secara konsep dasar kedua hal tersebut sebetulnya mirip. Hanya saja, STO memiliki kelebihan dan manfaat tertentu, di antaranya:

    1. STO dianggap sebagai sekuritas nyata, terkait dengan emas, obligasi, atau saham, dan terkait erat dengan perusahaan fisik. Sementara, ICO yang sepenuhnya digital dan dianggap sebagai utilitas.
    2. Secara hukum, kedua hal itu dan operasi terkait aset kripto lainnya tunduk pada kerangka hukum yang sama. Namun, secara umum, STO diatur di bawah undang-undang sekuritas (seperti IPO tradisional), sementara ICO dianggap sebagai utilitas. Banyak investor merasa security token offering lebih aman sebagai alternatif investasi.
    1. Proses transaksinya mirip dengan pembelian token lainnya, sehingga aksesnya tetap mudah. Semua transaksinya tercatat dalam blockchain, mengurangi risiko kesalahan pencatatan investasi.

    Keuntungannya apa saja?

    Keuntungannya dalam ranah kripto antara lain:

    • Menegaskan status kepemilikan token keamanan dalam proyek atau perusahaan.
    • Tunduk pada aturan dan regulasi yang ketat, memberikan perlindungan hukum dan keamanan lebih besar bagi investor.
    • Memungkinkan proyek atau perusahaan mengakses modal lebih besar dari investor.

    Bagaimana Cara Kerjanya?

    • Cara kerja STO dalam kripto dimulai dari penerbitan token keamanan yang didistribusikan kepada investor.
    • Pemegang token dapat menukarkan asetnya dengan kepemilikan saham atau obligasi di dunia nyata.
    • Penerbitan token STO dapat dilakukan oleh pemerintah atau perusahaan non-developer crypto.
    • Prosesnya menggunakan teknologi blockchain dan smart contract, mirip dengan pembelian saham, tetapi transaksinya dicatat dalam jaringan blockchain.

    Bagaimana dengan Risikonya?

    Potensi risiko STO dalam kripto melibatkan biaya pengaturan yang lebih tinggi, keterbatasan aksesibilitas untuk investor ritel, dan risiko likuiditas rendah karena sulitnya perdagangan aset di pasaran.

    Dalam menghadapi risiko tersebut, STO tetap dianggap sebagai model investasi yang menjanjikan dengan perlindungan hukum dan transparansi yang lebih besar.

     

    Sumber: investor.id , scorechain



    Sumber : pluang.com

  • Apa Itu Valas? Mengenal Pengertian dan Fungsi Valuta Asing

    Apa Itu Valas?

    Valuta asing atau biasa disingkat valas adalah mata uang asing diterima, digunakan, dan diakui untuk melakukan transaksi keuangan internasional dan memiliki catatan kurs resmi di bank sentral. Dengan demikian, karena merupakan mata uang asing, valas tidak diterbitkan oleh bank sentral domestik.

    Hanya saja, tak semua mata uang asing bisa digunakan sebagai alat pembayaran internasional. Sebab, mata uang valas harus masuk ke dalam kategori hard currency. Yakni, mata uang yang berasal dari negara maju, memiliki nilai relatif stabil, dan kadang mengalami apresiasi atau kenaikan nilai dibanding mata uang dari negara lainnya.

    Adapun contoh hard currency terdiri dari Dolar AS, Euro, Yen Jepang, hingga Poundsterling Inggris.

    Sementara itu, mata uang yang masuk ke dalam soft currency jarang digunakan sebagai alat pembayaran transaksi internasional. Pasalnya, mata uang yang tergabung ke klasifikasi tersebut memiliki nilai relatif tidak stabil dan kadang mengalami depresiasi. Dalam hal ini, Rupiah masih digolongkan sebagai soft currency.

    Mata uang valas sendiri dapat diperoleh di pasar valuta asing atau pasar valas. Di pasar tersebut, pelakunya bisa memperdagangkan mata uang domestik dengan mata uang valas berdasarkan nilai tukar (kurs) tertentu. Nilai tukar tersebut ditentukan berdasarkan mekanisme kurs yang ditetapkan oleh masing-masing negara penerbit mata uang domestik.

    Baca Juga: Mengenal Sejarah Uang, Dari Sistem Barter Hingga Uang Virtual

    Apa Fungsi Valas?

    Bagi perekonomian suatu negara, valas memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:

    1. Alat Pembayaran Internasional

    Penggunaan valas dapat memperlancar aktivitas pembayaran sebuah negara. Pasalnya, mata uang valas umumnya lebih diakui sebagai alat pembayaran internasional ketimbang mata uang domestik.

    Sebagai contoh, ketika Indonesia ingin menarik utang internasional sebagai sumber pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka utang, biaya bunga, serta pelunasannya pun dilakukan menggunakan valas.

    2. Valas Memudahkan Masyarakat Melakukan Transaksi Internasional

    Valas juga membantu masyarakat dalam melakukan transaksi internasional.

    Sebagai contoh, jika Sobat Cuan ingin membeli barang yang berasal dari Amerika Serikat (AS), maka kamu pun harus membayarnya dengan mata uang Dolar AS. Kamu tidak bisa mendapatkan barang tersebut jika membayarnya dengan mata uang Rupiah.

    3. Sebagai Alat Stabiliasi Kurs

    Nilai tukar sebuah mata uang sangat ditentukan oleh penawaran dan permintaannya. Semakin tinggi permintaan mata uang domestik, maka nilai tukarnya pun akan menguat dengan asumsi ceteris paribus. Begitu pun sebaliknya.

    Nah, untuk mengendalikan kurs tersebut, biasanya otoritas moneter akan melakukan pengelolaan valas agar permintaan dan penawaran mata uang domestik tetap stabil. Bahkan, demi menjaga pengelolaan dan permintaan valas, otoritas moneter kerap mengintervensi pasar valas dengan menggunakan cadangan devisa.

    4. Mempermudah Aktivitas Perdagangan dan Ekonomi

    Sebuah negara tentunya memiliki kelebihan produksi yang sejatinya bisa diekspor ke negara lain. Namun, di saat yang bersamaan, sebuah negara tentunya juga perlu mengimpor berbagai barang dan jasa yang tidak bisa diproduksinya secara domestik.

    Nah, untuk memperlancar transaksi ekspor dan impor tersebut, maka negara tersebut harus memanfaatkan valas. Hal ini mengingat valas adalah mata uang yang memang diakui untuk pembayaran internasional.

    Baca Juga: Apa Saja 5 Mata Uang Tertinggi di Dunia Tahun 2023?

    Mengenal 2 Jenis Valas

    Valas sejatinya dapat dikategorikan ke dalam dua jenis. Lantas, apa itu jenis-jenis valas yang umum dikenal masyarakat?

    1. Valas Fisik

    Ini merupakan mata uang asing yang memiliki bentuk wujud fisik seperti uang logam dan uang kartal.

    2. Valas Non Fisik

    Ini merupakan jenis mata uang asing yang berwujud uang giral atau sejenisnya seperti surat berharga termasuk cek, wesel, dan lain-lain.

    Baca Juga: Apa Itu Uang Kartal dan Apa Ciri-Cirinya?

    Jenis-jenis Kurs Valas

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, valas bisa didapatkan melalui pasar valuta asing dengan tingkatan kurs tertentu. Dalam hal ini, terdapat tiga jenis sistem kurs yang dikenal dalam ekonomi yang terdiri dari.

    1. Nilai Tukar Mengambang (Floating Exchange Rate)

    Sitem nilai tikar mengambang adalah sebuah rezim kurs di mana nilai tukar mata uang domestik terhadap valas murni ditentukan oleh permintaan dan penawaran valas tersebut. Sehingga, nilai tukarnya pun berfluktuasi setiap saat tergantung permintaan dan penawaran valas yang terjadi saat itu.

    Dengan demikian, negara yang menganut sistem ini dapat memperdagangkan valas secara bebas tanpa hambatan atau regulasi apapun.

    Sistem nilai tukar mengambang mulai diperkenalkan pada 1973 setelah sejumlah sistem Bretton Woods dianggap menjadi biang keladi devaluasi mata uang negara maju seperti Dolar AS dan Poundsterling Inggris.

    Sekadar informasi, Bretton Woods adalah sebuah sistem mata uang di mana nilai Dolar AS ditautkan dengan pergerakan harga emas (gold standard) sementara nilai tukar 43 negara lainnya ditautkan dengan nilai Dolar AS.

    2. Nilai Tukar Tetap (Fixed Exchange Rate)

    Sistem nilai tukar tetap adalah sebuah rezim kurs di mana pemerintah atau bank sentral secara sengaja mempertahankan nilai tukar mata uangnya dengan mata uang valas di level yang relatif stabil. Dalam melakukan kebijakan ini, pemerintah atau bank sentral biasanya menetapkan kursnya sendiri atau menautkan nilai mata uangnya dengan harga emas.

    Salah satu kelebihan sistem nilai tukar tetap adalah memberikan kestabilan kurs kepada pelaku ekspor dan impor, sehingga arus transaksi perdagangan bisa berjalan dengan lancar. Selain itu, sistem ini juga diharapkan bisa meminimalisasi risiko inflasi yang disebabkan oleh fluktuasi kurs.

    Hanya saja, rezim kurs ini memiliki kelemahan. Negara wajib memiliki cadangan devisa jumbo agar bisa menstabilkan nilai tukarnya di tingkat yang dikehendaki.

    3. Sistem Kurs Terkendali

    Sistem ini merupakan perpaduan antara sistem kurs tetap dan mengambang.

    Dalam hal ini, sebuah negara tetap mendasarkan nilai tukarnya pada hukum permintaan dan penawaran. Kendati begitu, permintaan dan penawaran itu dikendalikan oleh sebuah otoritas agar nilai tukar tersebut tidak berfluktuasi dengan ekstrem. Biasanya, pengendalian itu dilakukan dalam bentuk intervensi bank sentral, seperti intervensi pasar spot valas atau intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

    Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

    Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

    Sumber: Investopedia, OCBC NISP, Universitas Indonesia



    Sumber : pluang.com