Tag: Bitcoin Halving

  • 7 Tips Investasi Bitcoin Saat Halving Oleh Pelaku Pasar

    Bitcoin hingga saat ini masih menjadi kripto dengan  kapitalisasi terbesar, mendekati halving popularitas aset ini juga semakin tinggi.  Dengan adanya halving pelaku pasar juga bersiap untuk melihat pergerakan harga Bitcoin. Lalu bagi pengguna aset kripto apakah ini saat yang tepat untuk melakukan investasi Bitcoin ?

    Sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, Ada baiknya Anda memperhatikan tips-tips investasi Bitcoin di situasi halving yang diberikan oleh para pelaku pasar berikut ini.

    Jangan All-in, Masuk Bertahap

    Momen halving memang menggiurkan, pasar juga dikabarkan akan ramai karena trader akan memantau pergerakan harga. Jika Anda sudah merasa yakin masuk ke pasar di situasi halving.

    Menurut Jeth Soetoyo CEO Rupiah Token dan Pintu menyarankan bagi para trader untuk bersikap waspada dan jangan asal memasukkan semua uang dalam crypto, kalau pun ingin masuk lakukan secara bertahap.

    Hal ini bukan tanpa alasan, meski dalam situasi halving para pengguna aset kripto yang ingin melakukan trading tetap harus memperhatikan manajemen risiko yang ada agar trading bisa dilakukan dengan aman dan tenang.

    Baca Juga: “Paus” Bitcoin Tidak Berniat Menjual dengan Harga Saat Ini

    Salah satu cara manajemen risiko adalah membagi modal trading secara bertahap, istilahnya jika modal pertama gagal Anda masih memiliki modal untuk trading selanjutnya.

    Pilih Investasi Menengah dan Jangka Panjang

    Kenaikan harga Bitcoin karena halving baru bisa dilihat dalam waktu beberapa bulan atau bahkan tahun tergantung dari kondisi yang ada. Oleh karena itu, momen halving ini bisa dimanfaatkan oleh para trader  atau holder untuk membeli Bitcoin dan menyimpannya lebih dulu kemudian dijual kembali ketika harga naik.

    Investasi ke Altcoin

    Menurut Vincent Poon Vice President Bithumb Global,  memilih investasi altcoin saat halving bisa jadi pilihan yang tepat. Karena kapitalisasi pasarnya lebih kecil dan mudah dimanipulasi jika ada kabar baik. Walau Bitcoin memang lebih stabil, namun menurut Vincent saat halving pasokannya akan berkurang dan ini bisa menyebabkan BTC mengalami fluktuasi harga yang besar.

    Karena itu jika Anda memang belum memiliki teknik analisis yang baik. Ada baiknya saat halving ini menggunakan altcoin untuk berinvestasi sambil melihat arah pergerakan harga Bitcoin selama halving ini.

    Baca Juga: Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin

    Convert Keuntungan ke Stablecoin

    Apabila Anda sudah mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan momentum ini, menurut Teguh Harmanda, COO Tokocrypto cara yang bisa dilakukan adalah konversikan keuntungan tersebut ke dalam stablecoin agar lebih efektif dan mudah jika Anda ingin trading tanpa harus melakukan withdraw

    Tetap Disiplin

    Saat trading pastikan Anda tetap disiplin, Douglas Tan Founder Bullwhales yang juga seorang trader mengimbau kepada pengguna kripto bahwa trading atau investasi di situasi halving tetap harus dilakukan dengan disiplin dan hati-hati.

    Jangan terburu-buru yang bisa mengakibatkan kerugian dibandingkan keuntungan. Banyak investasi waktu untuk belajar sentimen pasar global terutama Bitcoin. Kemudian, menurut Wicky Zeroski trader profesional trading pun  harus dilakukan dengan membuat range trading plan yang cukup besar antara risiko dan imbalan yang didapat.

    Lihat Keadaan Market Global

    Menurut CEO TRIV, Gabriel Rey investasi saat halving masih harus menunggu kepastian pasar yang saat ini sangat tidak menentu, dan belum ada kepastian jelas kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

    Namun untuk trader saya sarankan lakukan eksekusi setelah mendapat kepastian pada kondisi pasar. Tapi jika memilih long term investor cara terbaik adalah DCA per harinya dan tidak memperhatikan short-term market, karena dalam 5-10 tahun aset pasti akan naik.

    Trading Derivatif BTC

    Saat halving menurut Chris Tahir, trader dan pendiri dari Cryptowatch menyarankan untuk melakukan trading dengan trading derivatif BTC. Karena dengan trading derivatif mobilitas lebih mudah untuk jual atau beli, dikarenakan dengan melakukan derivatif, harga turun pun bisa mendapatkan keuntungan. Namun apabila ada prediksi harga akan naik, maka boleh dilakukan transaksinya di pasar fisik (spot).


    Itu dia beberapa tips yang diberikan oleh pelaku pasar baik dari exchange atau para trader profesional. Berbagai tips ini bisa Anda gunakan atau dijadikan bahan pertimbangan, namun yang paling penting adalah tetap berhati-hati selama trading meski sedang halving.

    Sebaiknya Anda memiliki manajemen risiko yang baik dan tidak serakah serta gegabah jika melihat harga Bitcoin turun, karena perlu diingat biasanya dalam waktu beberapa bulan harga BTC akan meroket naik.

    Ini adalah artikel seri terakhir dari Bitcoin Halving, seri sebelumnya bisa Anda lihat di sini

    Ingin mengetahui pendapat mereka soal Bitcoin Halving? Anda dapat melihatnya di video berikut ini.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Penambang Bitcoin Alami Kesulitan Penyesuaian Pasca Halving Pertama

    Jelajahcoin.com – Kesulitan penyesuaian penambang Bitcoin (BTC) pasca-Halving pertama adalah besok. Dan kemungkinan membawa bantuan yang sangat dibutuhkan untuk penambang BTC yang mengalami pemotongan gaji ketiga mereka seminggu yang lalu.

    Hanya enam hari yang lalu, mengikuti halving bersejarah ketiga dari hadiah penambangan Bitcoin (BTC). Menurunkan subsidi blok dari 12,5 BTC ke 6,25 BTC per blok. Diperkirakan bahwa kesulitan penambang Bitcoin adalah ukuran yang menunjukkan betapa sulitnya bersaing untuk mendapatkan hadiah penambangan. Hal ini akan meningkat 4,5% dan di atas bulan Maret tertinggi sepanjang masa menjadi 16,83 T. Jumlah ini sudah turun pada saat itu.

    Pada titik ini, sedikit lebih dari sehari sebelum kesulitan penyesuaian berikutnya, hasil itu tampaknya sangat tidak mungkin. Karena, pada Senin pagi (waktu UTC), kumpulan penambangan utama Bitcoin, BTC.com memperkirakan penurunan 3,14% menjadi 15,60 T. Yang terakhir saat nilainya berada di sekitar level ini pada pertengahan Februari tahun ini. Meskipun pada saat itu, kesulitannya adalah pada lintasan naik.

    Baca Juga: Inilah Sebabnya Kenapa Penjahat Lebih Suka Bitcoin Anonim Daripada Koin Privasi

    Sementara itu, tampaknya setelah penurunan awal, hashrate, atau kekuatan komputasi dari jaringan Bitcoin, keluar dari posisi terbawahnya. Yang mungkin mengakibatkan penurunan yang lebih rendah dari perkiraan saat ini dalam kesulitan penambangan. Namun, seperti yang dilaporkan sebelumnya, mungkin perlu berminggu-minggu sampai memiliki gambaran yang jelas tentang jaringan Bitcoin setelah halving ketiga.

    Bitcoin hashrate dalam sebulan terakhir

    hashrate bitcoin

    Menurut Daniel Frumkin, Analis di Braiins, perusahaan di belakang Slush Pool dan protokol Stratum V2 untuk penambangan gabungan; Total jaringan hashrate tidak turun pasca-separuh sebanyak yang diperkirakan banyak orang. Kemungkinan karena penurunan harga BTC yang signifikan di March sudah memeras banyak penambang yang tidak efisien.

    Baca Juga: Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin

    Sementara itu, Johnson Xu, Kepala Analis di token data dan lembaga pemeringkat TokenInsight, memperkirakan bahwa para peserta jaringan perlu mengambil sedikit lebih banyak waktu untuk menyesuaikan kembali posisi mereka. Sehingga beberapa volatilitas dalam hashrate, terutama yang masuk ke penyesuaian kesulitan berikutnya, adalah untuk diharapkan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Diprediksi Melaju Hingga Rp700 Juta dalam 18 Bulan

    Bitcoin diprediksi melaju ke US$20-50 ribu (Rp300-700 juta per BTC) dalam waktu 18 bulan, akibat sentimen akan datangnya gelombang inflasi, kata Simon Peters dari eToro. Itu yang kelak membuat Bitcoin lebih bersinar.

    Penegasan lain datang dari para penghayat Bitcoin kelas dunia, seperti Tyler Winklevoss, Mike Novogratz dan Paul Tudor Jones.

    Kendati saat ini adalah masa resesi, inflasi belumlah terjadi, kendati sejumlah bank sentral di seluruh dunia menggelontorkan lebih banyak uang lagi ke dalam pasar.

    Inflasi bisa jadi tiba ketika pertumbuhan ekonomi mulai agak pulih dan uang-uang itu diserap kurang baik oleh pasar, bahkan ketika gelombang kredit macet di depan mata.

    Saat itulah Bitcoin, dengan pasokan terbatasnya, akan menjadi incaran, kata beberapa pendukung Bitcoin paling terkenal, seperti Tyler Winklevoss, Mike Novogratz dan Paul Tudor Jones.

    Argumen itu diletakkan pada Bitcoin Halving, sebuah mekanisme baku di blockchain Bitcoin yang memotong imbalan Bitcoin baru kepada para penambang. Bitcoin Halving III baru saja dimulai pada 12 Mei 2020 lalu, di mana imbalan kepada penambang berkurang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

    Ketika bank sentral AS misalnya melakukan pelonggaran kuantitatif, maka Bitcoin melakukan hal sebaliknya, mengetatkan kuantitatif-nya. Kuantitatif dalam hal ini adalah jumlah unit nilai yang dikeluarkan dalam rentang waktu tertentu.

    Neraca Bank Sentral AS misalnya telah membengkak menjadi lebih dari US$6 triliun, sebagai akibat dari pembelian surat utang negara dan sekuritas yang dijamin oleh pemerintah. Ini sama halnya dengan menambah pasokan uang ke dalam pasar, namun tidak dalam waktu bersamaan. Diperkirakan neraca itu semakin jumbo hingga 50 persen dari produk domestik bruto AS pada akhir tahun ini.

    Hal senada juga dilakukan oleh Pemerintah AS melalui program stimulus lebih dari US$8 triliun untuk meredam tekanan hebat COVID-19.

    Bitcoin Lindung Nilai terhadap Inflasi

    Bitcoin mungkin secara kebetulan melaju di era resesi saat ini yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19. Itu juga yang mendorong orang melihat kembali keunggulan Bitcoin dibandingkan aset-aset lainnya, seperti emas.

    Namun, tidak sedikit juga yang menilai bahwa Bitcoin berfungsi dan bermanfaat serupa seperti emas, yaitu sebagai alat lindung nilai melawan inflasi.

    “Negara-negara lain akan terpaksa terus menerus menerbitkan uang yang banyak ke dalam pasar. Di saat yang bersamaan, nilai uang-uang itu akan terkikis drastis terhadap dolar AS yang juga semakin jumbo jumlahnya. Bitcoin yang kian langka karena terbatas pasokannya tampaknya akan menjadi alat lindung nilai yang sempurna untuk melawan inflasi bagi investor institusi,” kata Jean-Marie Mognetti, CEO CoinShares.

    Bitcoin Halving dimaksudkan untuk mencegah inflasi dengan bertindak untuk secara berkala memperlambat laju penciptaan Bitcoin baru hingga 2140, agar tidak melampaui permintaan. Sekarang, pada Bitcoin Halving III ini sampai tahun 2024, laju inflasi Bitcoin hanya 1,80 persen per tahun.

    Paul Tudor Jones, Pendiri Tudor Investment Corp pada 12 Mei 2020 misalnya memastikan ia bertaruh cukup besar untuk membeli Bitcoin guna melawan inflasi yang akan datang.

    “Saya menyaksikan adanya inflasi moneter besar, sebuah kenaikan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang pernah saya lihat,” kata Jones kala itu.

    Menuju US$50 Ribu per BTC

    Simon Peters, Analis Senior di eToro lebih yakin akan hal itu dengan sebuah prediksi. Dia mengatakan Bitcoin berpotensi naik di kisaran US$20-50 ribu per BTC dalam 18 bulan.

    Kendati saat ini Bitcoin jauh di bawah US$19 ribuan per BTC (Desember 2017), terbukti tahun ini imbal hasilnya lebih baik daripada saham.

    Bitcoin telah menjadi salah satu kelas aset berkinerja terbaik tahun ini, mengumpulkan sekitar 30 persen menjadi US$9.500. Sedangkan Indeks saham S&P 500 telah turun 11 persen.

    Potensi Inflasi Uang Fiat

    Sejumlah pandangan kian menguatkan akan datangnya inflasi terhadap uang fiat alias uang yang diterbitkan oleh negara. Hal itu diamini oleh Morgan Stanley pada April lalu, walaupun pada Maret 2020 inflasi di AS melambat tajam. Namun, bank besar itu berpendapat bisa jadi akan ada percepatan inflasi di masa akan datang.

    Penegasan lainnya datang dari Deutsche Bank yang menjabarkan banyak kasus bahwa pandemi COVID-19 akan menyebabkan kembalinya inflasi di negara-negara maju. Masalahnya adalah kita tak pernah tahu kapan inflasi itu akan tiba dan banyak orang bersiap-siap membeli Bitcoin. [Bloomberg/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Belum melonjak signifikan di awal halving day, Bitcoin bisa diburu mulai sekarang

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sepekan sudah memasuki periode halving day, pergerakan harga bitcoin cenderung stabil dan belum menunjukkan lonjakan signifikan. Meskipun begitu, awal Kamis 7 Mei 2020 harga bitcoin sempat menyentuh level harga di US$ 10.000 per btc.

    Christopher Tahir Co-founder CryptoWatch mengatakan, pergerakan harga bitcoin sepekan terakhir masih bergerak wajar. Hal ini karena kondisi pelaku pasar yang masih menganut buy on rumour, sell on news.

    “Artinya, orang-orang cenderung akan membeli (bicoin) sebelum halving day dan melakukan aksi pasca-halving,” ujar Chris kepada Kontan.co.id, Minggu (17/5).

    Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

    Chris memprediksi pergerakan bitcoin akan cenderung mengalami akumulasi yang panjang sebelum adanya potensi kenaikan di 2021. Bahkan, di tahun depan dia menilai pergerakan harga bitcoin sangat memungkinkan untuk menyentuh level US$ 100.000 per btc, dengan catatan percepatan kenaikan hanya sepertiga dari level sebelumnya.

    Adapun untuk tahun ini, harga bitcoin diperkirakan tidak akan bergerak terlalu jauh dengan target akhir tahun berada di level US$ 20.000 per btc. Christopher mengungkapkan bahwa level tersebut setara dengan level tertinggi yang pernah dicapai akhir 2017 lalu.

    Tahun ini kondisi ekonomi global tengah terancam krisis. Pemicunya adalah penyebaran virus corona atau Covid-19. Dampak dari sentimen tersebut juga membuat banyaknya usaha mikro kecil menengah (UMKM) tutup, angka pengangguran meningkat.

    Baca Juga: Meski trennya naik, bitcoin belum layak jadi safe haven

    “Meskipun begitu, peluang inflow ke bitcoin semakin terbuka, karena bitcoin saat ini sudah dianggap sebagai salah satu kendaraan investasi,” jelasnya.

    Dengan begitu, Chris merekomendasikan pelaku pasar untuk mulai berburu bitcoin dengann akumulasi beli dan menambah porsi portofolio bitcoin. Caranya, bisa masuk dengan metode dollar cost averaging alias beli cicil.

    “Sehingga, apabila mengikuti pola sebelumnya dimana harga naik di tahun setelah tahun halving, maka posisi yang dibeli tahun ini bisa menjadi posisi yang menguntungkan,” imbuh Chris.

    Baca Juga: Tren harga naik, bitcoin belum layak jadi safe haven

    Chris memperhitungkan, untuk jangka yang lebih panjang momentum halving day memungkinkan untuk mendorong harga bitcoin naik ke level US$ 107,883 per btc atau sebanyak 2.935%. Sebagai informasi, sepanjang Mei 2020 harga bitcoin sudah menanjak sebanyak 10,02% dari level US$ 8.624 per btc pada 30 April menjadi US$ 9.488 per btc. Sedangkan dalam sepakan terakhir, kenaikan harga bitcoin tercatat sebanyak10,31% dari level 11 Mei yakni US$ 8.601 per btc.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin dan Emas Melonjak, Setelah The Fed Yakin Ekonomi AS Masih Loyo

    Bitcoin bergerak mendekati US$10.000, sementara emas mencapai harga tertinggi tujuh tahun setelah Jerome Powell, Kepala Bank Sentral AS (The Fed), mengatakan ekonomi AS masih loyo akibat pandemi COVID-19.

    Powell berharap ekonomi bisa pulih pada akhir tahun depan atau setidaknya ketika vaksin yang efektif sudah ditemukan. Sementara itu sejumlah analis mengungkapkan Bitcoin bisa kian popular di kala krisis ekonomi global saat ini.

    Bitcoin dan emas naik lebih tinggi pada Senin, setelah Jerome Powell memperingatkan bahwa AS dapat mengalami lebih banyak kesulitan karena pandemi COVID-19.

    “Aktivitas ekonomi sangat bergantung pada pertemuan sosial yang lebih besar, termasuk perjalanan dan hiburan. Sektor itu adalah yang paling menderita,” kata Powell dalam wawancara di program 60 Minutes di CBS, Minggu (17 Mei 2020). Program 60 Minutes adalah program televisi popular dan berpengaruh di dunia.

    Berita Terkait: PricewaterhouseCoopers (PwC) Terima Pembayaran Pakai Bitcoin

    Dia juga menegaskan, bahwa akan sulit bagi masyarakat untuk menjadi konsumen aktif, kecuali jika para peneliti berhasil menemukan dan mengembangkan vaksin yang tepat. Menanti masa itu, maka ekonomi AS akan terus mengalami perlambatan setidaknya hingga akhir 2021.

    Tak disangka tak lama setelah wawancara itu, harga Bitcoin mendekati US$10 ribu dari US$9500 menjadi US$9937 per BTC. Pada saat yang sama, harga emas di pasar spot menguat 0,9 persen menjadi US$1.760,14 per troy ons, tertinggi sejak Oktober 2012. Bitcoin belum sempat naik ke US$10 ribu sejak Bitcoin Halving III dimulai pada 12 Mei 2020.

    Travis Kling, mantan manajer hedge fund yang sekarang mengelola perusahaan Ikigai berproduk Bitcoin mengatakan, bahwa The Fed sedang melakukan “semua pekerjaan keras” untuk pasar Bitcoin.

    “Bitcoin adalah alat mengamankan kekayaan akibat stimulus oleh bank sentral,” katanya di Twitter.

    Sementara itu pagi ini, Nemo Qin Analis Senior eToro menyoroti soal tanggapan Elon Musk yang mengomentari pertanyaan JK Rowling, mengapa Bitcoin terlihat solid dibandingkan dolar AS.

    “Musk kemudian juga mengungkapkan bahwa ia memiliki 0,25 BTC. Kami hanya bisa berharap untuk melihat lebih banyak pemimpin teknologi dan selebritas masuk ke pasar Bitcoin,” kata Qin.

    Qin juga tak memungkiri ada sentimen positif terhadap Bitcoin setelah Bank Sentral pada Minggu, 17 Mei mengatakan ekonomi AS masih lama akan pulih.

    “Pada Bitcoin Halving III ini, inflasi Bitcoin turun menjadi 1,8 persen. Maka, potensi lindung nilai Bitcoin terhadap inflasi uang fiat sangatlah besar. Dalam beberapa minggu ke depan, kita mengharapkan Bitcoin untuk menguji lagi resistensi psikologis US$10.000 dan terus bergerak ke samping,” tegas Qin. [Bitcoinist/red]





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Awal halving day, harga bitcoin masih bergerak wajar

    KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Memasuki periode awal halving day, pergerakan harga bitcoin diyakini masih akan stabil pada rentang US$ 8.500 per btc hingga US$ 10.000 per btc. Kondisi tersebut di perkirakan masih akan berlanjut sepanjang 2020.

    Sebagai informasi, halving day merupakan momentum pembatasan pasokan bitcoin yang terjadi setiap empat tahun sekali. Tahun ini, momentum tersebut jatuh di bulan Mei. Pada masa ini, supply bitcoin akan berkurang hingga 50% dan berpotensi mendongkrak harga naik.

    Banker dan Dosen Bina Nusantara (Binus) Hugo Prasetyo W mengungkapkan, pergerakan harga bitcoin sepanjang Mei 2020 masih bergerak wajar dan masih dalam tren kenaikan. Hal ini tercermin dari kenaikan harga bitcoin dalam beberapa waktu terakhir.

    Baca Juga: Belum melonjak signifikan di awal halving day, Bitcoin bisa diburu mulai sekarang

    Sepanjang Mei 2020 harga bitcoin diketahui sudah menanjak sebanyak 10,02% dari level US$ 8.624 per btc pada 30 April menjadi US$ 9.488 per btc. Sedangkan dalam sepekan terakhir, kenaikan harga bitcoin tercatat sebanyak10,31% dari level 11 Mei yakni US$ 8.601 per btc.

    Hugo menjelaskan, sepanjang halving harga bertahan di atas US$ 8.000 per btc. Angka tersebut sudah memenuhi biaya untuk menambang satu bitcoin, sehingga para penambang tidak merugi dan harga bitcoin diharapkan terus di atas itu.

    “Ini bukan berarti harganya lesu, karena harga sudah naik dari level US$ 7.000 per btc, dan sekarang stabil di US$ 8.500 per btc hingga US$ 10.000 per btc,” kata Hugo kepada Kontan, Minggu (17/5).

    Baca Juga: Tembus US$ 9.000, Pergerakan Bitcoin Sulit Diprediksi Jelang Halving Day

    Dengan tren harga tersebut, Hugo memperkirakan pergerakan bitcoin hingga akhir tahun bakal berada di kisaran US$ 14.000 per btc. Hanya saja, potensi tersebut sangat bergantung pada pasokan dan permintaan bitcoin ke depan. “Umumnya, butuh waktu 1 -1,5 tahun setelah halving day, harga bitcoin melonjak tinggi,” ujarnya.

    Adapun sentimen yang mempengaruhi pergerakan harga bitcoin yakni langkah China yang mulai menerapkan yuan digital berbasis crypto. Selain itu, upaya Libra (mata uang crypto) melanjutkan proyeknya untuk penetrasi crypto.

    Untuk itu, Hugo menilai belum terlambat bagi investor yang ingin berburu bitcoin saat ini. Adapun level support terkuat berada di US$ 8.500 per btc dan resistance kuat secara harian di US$ 10.000 per btc dan secara mingguan di level US$ 10.500 per btc.

    “Jika harga sudah menembus level resistance, maka level resistance selanjutnya bakal menuju level US$ 12.000 per btc,” tandasnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa Kripto Minggu Ketiga Mei: Apakah Bear Market akan segera tiba?

    Bulan Mei telah berlalu lebih dari setengahnya. Halving telah terjadi seminggu lalu. Bagaimana dengan pasar crypto? Apakah akan terus mengalami kenaikan? Atau malah bear market? Kita coba analisa bareng-bareng yuk!

    Fundamental: Hash rate menurun. HATI-HATI!

    Berdasarkan data dari blockchain.com, sejak 10 Mei 2020 atau menjelang halving Bitcoin, nilai hash rate bitcoin turun jauh dari 136 juta TH/s ke titik lokal terrendah di 91 juta TH/s di tanggal 14 Mei 2020 kemarin. Hal ini pun diikuti dengan melemahnya momentum bullish bagi bitcoin, diikuti dengan 2 kali “dump”. Pertama di 10 Mei 2020 ke sekitar 8100 USD dan pada 15 Mei 2020 dari USD 9800 ke USD 9300-an.

    Secara sederhana, hash rate adalah aktivitas dari jaringan blockchain bitcoin. Hash rate yang tinggi menunjukkan sehatnya jaringan bitcoin, begitu pula sebaliknya. Turunnya hash rate bisa jadi mengindikasikan banyaknya miners yang merasa harus mengurangi aktivitasnya, mungkin karena tidak seimbangnya pemasukannya akibat halving dari bitcoin.

    Baca Juga: Berharap pada Ethereum Sebelum Bitcoin Halving

    Bear-Market-tokocrypto

    Secara teknikal, kita dapat melihat adanya rejection dari garis tren di timeframe 1 minggu. Gagal menembus garis ini akan mengindikasikan bitcoin telah kehilangan momentum bullishnya dan kita perlu mengantisipasi adanya penurunan ke zona 8000-an USD.

    bear-market-bitcoin-tokocrypto

    Baca Juga: Ayo Bitcoin Halving, Tunjukkan Taringmu!

    Mengantisipasi Datangnya Golden Cross

    Selain itu, kita dapat juga mengantisipasi adanya indikator bullish golden cross, yaitu saat MA 50 berada di atas MA 200. Jika Bitcoin dapat menutup minggu ini dengan candlestick yang bullish, kita dapat mengharapkan hal tersebut terjadi. Namun, masih kurang tepat jika asal masuk sekarang, karena belum ada konfirmasi

    bear-market-bitcoin-tokocrypto



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pesan Rahasia Beberapa Menit Sebelum Bitcoin Halving

    Ternyata ada pesan rahasia yang disematkan di block ke-629.999, satu block menjelang block Halving (630.000). Pesan itu mengingatkan publik pada pesan tersembunyi di block perdana (genesis block), block ke-0 Bitcoin pada 3 Januari 2009 silam.

    Pesan yang disematkan di block ke-629.999 itu adalah: “NYTimes 09/Apr/2020 With $2.3T Injection, Fed’s Plan Far Exceeds 2008 Rescue”. Pesan itu mengacu pada berita di The New York Times pada 9 April 2020, soal rencana pengguliran dana tambahan oleh The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) untuk menyelamatkan ekonomi, yang besarannya melebihi pada krisis tahun 2008 lalu.

    F2Pool yang menambang BTC di blok tersebut memang sengaja menyematkan pesan itu, sebagai pengingat akan potensi bahaya inflasi akibat penerbitan uang dalam jumlah yang banyak ke dalam sistem ekonomi.

    Sedangkan mekanisme ekonomi di Bitcoin adalah sebaliknya, justru secara bertahap laju pasokan diturunkan menjadi separuh melalui Bitcoin Halving. Bitcoin Halving III, 12 Mei 2020 itu adalah Halving Ketiga, di mana imbalan terhadap penambang berkurang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

    Pesan itu mengingatkan publik pada pesan di Genesis Block tahun 2009 silam. Kala itu pesan yang disematkan oleh Pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto adalah: “The Times 03/Jan/2009 Chancellor on brink of second bailout for banks”.

    Pesan itu mengacu pada judul utama surat kabar Inggris The Times, soal dana talangan tahap kedua oleh Bank Sentral Inggris kepada sejumlah bank, di kala krisis itu.

    Dengan kata lain, sejak 12 Mei 2020 pukul 02:23 WIB hingga 210.000 block (setara 4 tahun) berikutnya, maka jumlah Bitcoin kian langka, dari 1800 BTC per hari menjadi hanya 900 BTC per hari. Inflasi juga berkurang dari

    Berita Terkait: Waspada! Bearish Bitcoin Membayang-bayangi

    Ini yang membuat Brian Kelly, penulis buku The Bitcoin Big Bang mengatakan kepada CNCB, bahwa ketika Bank Sentral AS melakukan “pelonggaran kuantitatif” maka Bitcoin melakukan sebaliknya “pengetatan kuantitatif”. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Halving Telah Usai. Lalu Sekarang Apa?

    Halving blok reward Bitcoin telah usai. Peristiwa yang terjadi setiap empat tahun sekali, telah terjadi pada Senin, 12 Mei 2020 lalu dan ini merupakan bagian dari protokol Bitcoin.

    Teori ekonomi menunjukan karena peristiwa ini mengurangi jumlah Bitcoin yang ada dalam jaringan, penambang hanya akan menerima dan menghasilkan jumlah Bitcoin baru setengah dari jumlah sebelum halving terjadi, sehingga hal ini akan berkaitan langsung terhadap pasokan Bitcoin baru dan diharapkan akan ada penambang baru yang terus bertambah. Asumsi ini membuat permintaan menjadi lebih konstan dan juga dapat memompa harga menjadi lebih tinggi.

    Beberapa hari menjelang halving kemarin, spekulasi terus meningkat. Harga Bitcoin naik dari kisaran $4.500 ke angka $10.000 atau naik sekitar 122%. Para trader mengantisipasi ledakan yang akan terjadi, apalagi dengan banyak pemberitaan utama mengenai “Breakout Bitcoin yang besar”.

    Namun, hal sebaliknya justru terjadi. Harga Bitcoin yang digadang-gadang menembus $10.000 kemudian turun dari $10.000 ke sekitar $8.600 hingga $8.700. Hal ini terjadi setelah jaringan Coinbase mengalami down dan “paus” menjual kepemilikan mereka.

    Baca Juga: Ingin Investasi Bitcoin Saat Halving? Simak Tips dari Pelaku Pasar Berikut Ini!

    Meskipun hype pada halving Bitcoin telah selesai, tidak ada yang benar-benar terjadi, meskipun sebenarnya terjadi penurunan pendapatan pertambangan dari $15 Juta menjadi sekitar $8 Juta hari ini. Harga juga sekarang terlihat berada di sekitar $8.900.

    Tidak Banyak yang Terjadi

    Sebelum halving, pada 8 Mei 2020, Pankaj Balani, CEO Delta Exchange, sangat bersemangat. Ia mengatakan “Trader akan sangat bullish menuju halving nanti dengan banyak yang berharap Bitcoin untuk menembus angka 11.000 setelah halving.”

    Setelah peristiwa halving terjadi, ia tetap optimis hal itu akan terjadi. “Halving terjadi sesuai yang diharapkan, lancar sehubungan dengan harga dan tingkat hash, dengan dampak yang sebenarnya akan muncul dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.”

    Tingkat hash diprediksi juga akan naik, hal ini mengingat miners yang sudah “tua” akan menutup perangkatnya. Peristiwa ini juga terlihat dari naiknya tingkat hash dari 120.365m ke 121.038m.

    Viktor Bunin mengatakan, “Hal Paling menarik mengenai peristiwa (halving) ini adalah betapa antiklimaksnya peristiwa ini sendiri! Bayangkan jika Anda memberi tahu semua bankir (atau profesi apapun) di seluruh dunia bahwa gaji mereka akan dipotong setengah setiap 4 tahun? Akan ada kerusuhan!”

    Lebih lanjut ia menambahkan, “konsensus sosial tentang kebijakan moneter Bitcoin bertumbuh kuat dan fakta bahwa bahkan tidak ada ‘keluhan’ dari para penambang membuat peristiwa halving ini telah berhasil menunjukkan sistem ini berfungsi.”

    Baca juga:Pesan pada Halving Bitcoin Ketiga, Mengingatkan Alasan Bitcoin Tercipta

    Halving, Peristiwa Monumental

    Sinjin David Jung, direktur pelaksana Cadangan Moneter Blockchain Internasional, merasa peristiwa ini tetap menarik apapun yang terjadi. “Peristiwa halving adalah peristiwa yang benar-benar menarik, karena peristiwa ini tetap berlangsung walaupun dengan kondisi dan semua kekacauan yang terjadi di pasar. Ketidakstabilan finansial dan Quantitative Easing (QE) yang terjadi saat ini adalah bahan bakar untuk peluncuran “roket” Bitcoin yang tak terelakkan, Bitcoin akan melewati harga tertinggi masa lalu dalam tahun yang akan datang nanti.”

    Yang lain berpendapat halving itu sendiri adalah sebuah berita. Ray Youssef, CEO situs perdagangan peer-to-peer Paxful, mengatakan ia “menyoroti semangat dan persatuan komunitas Bitcoin. Bagian dari kemanusian ini lah yang akhirnya membawa saya dan salah satu pendiri Paxful kepada Bitcoin dan rasanya itu sangat menyenangkan untuk mengenangnya kembali.”

    Kedepannya, pasar mungkin perlu waktu untuk bereaksi terhadap peristiwa halving yang telah terjadi. “Pada titik ini saya sedang menunggu untuk melihat seberapa jauh peristiwa ini akan berjalan, khususnya menunggu koreksi pasar yang lebih luas dan juga kapitulalsi penambang. Selain itu, jangka menengah dan panjang pada Bitcoin terlihat menjanjikan,” jelas Evan Kuo, CEO Ampleforth.

    Dalam ketidakpastian ini, siapa yang akan mengira bahwa stabilitas Bitcoin akan menjadi penyelamat?

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Halving Bitcoin yang Ketiga Telah Usai!

    Peristiwa cryptocurrency paling ditunggu-tunggu tahun 2020, Halving Bitcoin (BTC), baru saja berlalu. Hanya terjadi setiap empat tahun sekali, blok reward penambangan Bitcoin yang baru-baru ini terjadi telah mengurangi blok reward Bitcoin dari 12.5 BTC ke 6.25 BTC.

    Peristiwa halving ketiga Bitcoin ini terjadi pada sekitar pukul 3:23 Malam EST atau 2:23 WIB . Menurut data dari Tradeblock.com. Setelah halving terjadi, Bitcoin diperdagangkan pada $8.500, dengan dominasi pasar sebesar 67% pada waktu rilis, menurut Coin360.

    Blok Reward Bitcoin ada di 50 BTC hingga 0,00000001 BTC

    Sejak blok Bitcoin pertama dibuat pada tahun 2009 silam, ada tiga peristiwa halving hingga saat ini. Berlangsung setiap 210.000 blok yang ditambang, atau kira-kira setiap empat tahun, halving blok reward Bitcoin saat ini sebesar 50%. Peristiwa halving pertama terjadi pada tahun 2012, memotong blok reward dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Selanjutnya, peristiwa kedua terjadi pada tahun 2016 silam, dengan reward berkurang dari 25 BTC menjadi 12,5 BTC.

    Karena persediaan Bitcoin terbatas pada 21 juta koin, peristiwa halving Bitcoin akan terus berlangsung hingga tahun 2140, atau hingga BTC ke-21 Juta. Pada saat itu, blok reward harus mencapai 1 satoshi, atau unit terkecil Bitcoin di 0,00000001 BTC. Menurut Blockchain.com, pada saat publikasi, jumlah Bitcoin yang beredar berjumlah 18,37 juta.

    Baca juga: Melihat Dampak Bitcoin Halving bagi Exchange dan Trader

    Dampak Halving Bitcoin

    Karena dua peristiwa halving Bitcoin sebelumnya yang pada akhirnya berdampak pada harga Bitcoin secara positif, halving Bitcoin ketiga ini telah menjadi tema utama dengan beragam prediksi harga dan spekulasinya.

    Ada beberapa pemain crypto memprediksikan halving Bitcoin ketiga tidak akan berpengaruh pada harga Bitcoin, sebaliknya banyak juga yang menilai bahwa akan ada pengaruh dari peristiwa halving yang ketiga ini. Hal ini mengingat pasokan Bitcoin baru akan semakin berkurang.

    Lain hal dengan korelasi harga Bitcoin yang sebenarnya masih dipertanyakan, halving Bitcoin yang baru-baru ini terjadi memiliki dampak langsung pada miners. Sejumlah analis crypto memperkirakan halving akan segera memicu para penambang untuk berhenti menghasilkan Bitcoin baru karena sejumlah besar perangkat penambang akan menjadi usang.

    Baca Juga: Ingin Investasi Bitcoin Saat Halving? Simak Tips dari Pelaku Pasar Berikut Ini!

    Menurut wakil presiden Poolin Poole, Alejandro De La Torre, sejumlah penambang yang tidak mendapatkan keuntungan telah mulai mematikan peralatan mereka bahkan sebelum halving Bitcoin yang ketiga ini terjadi.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com