Tag: bitcoin

  • Alasan Kenapa Bitcoin Seharusnya Dinilai Dengan Emas, Bukan USD

    Harga Bitcoin selalu jadi perdebatan, dan menjadi lebih rumit karena dihargai dalam dolar AS. Padahal Bitcoin dan dolar AS adalah entitas yang jelas berbeda.

    Baru-baru ini, seorang pengusaha, Sylvain Saurel, memposting di medium adanya penurunan daya beli sebesar 85% atau senilai $ 1.000 dari tahun 1971 sampai tahun 2020 ini. Menurutnya, itulah sebab nilai Bitcoin cepat meningkat.

     

    “Oleh karena itu, harga Bitcoin dalam dolar AS akan cenderung meningkatkan harga Bitcoin lebih cepat karena efek dari inflasi moneter,” katanya.

    Saurel lebih menyarankan emas sebagai tolak ukur harag Bitcoin, ketimbang dolar AS. Alasannya karena emas sudah menjadi benda simpanan bernilai yang diakui selama berabad-abad, dari pada dolar AS.

    Goldprice.org menunjukkan nilai logam mulia (emas) mencapai nilai tertinggi sepanjang masa yaitu $ 2.070 / oz pada 6 Agustus tahun ini. Sementara Fed sendiri terus mencetak triliunan untuk menjaga perekonomian AS agar tidak runtuh, tapi hal ini malah menghancurkan kepercayaan investor terhadap USD sebagai mata uang cadangan.

    Baca Juga: Melirik YFI, Satu-satunya Altcoin Yang Lebih Mahal Dari Bitcoin

    Selain emas, nilai perak juga meningkat ditengah runtuhnya greenback akhir-akhir ini. Sementara Bitcoin mengalami kenaikan sebesar 57% sejak awal tahun.

    Bitcoin dan emas memiliki beberapa kesamaan, diantaranya : biaya ekstraksi dan penambangan. Perbedaannya, tidak mudah memperkirakan jumlah pasokan emas sementara kuantitas Bitcoin dapat diketahui.

    Lebih lanjut Saurel menambahkan jika harga Bitcoin menggunakan emas, akan menghilangkan inflasi yang terkait dengan mata uang fiat khususnya dolar.

    Kesimpulannya, harga Bitcoin bisa naik hingga $ 50.000 pada akhir tahun 2021 mendatang, atau lebih lama dari waktu yang diperkirakan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mungkinkah Cryptocurrency Akan Menciptakan Gelombang Jutawan Baru di Masa Resesi?

    Di awal kemunculannya pada 2009 silam, Bitcoin telah berhasil menciptakan gelombang jutawan baru bagi masyarakat yang membeli dan menyimpan aset cryptocurrency tersebut selama beberapa tahun setelah peluncurannya.

    Lantas, hal ini mungkin saja bisa terjadi kembali di tengah masa resesi yang melanda berbagai negara di dunia akibat wabah Covid-19. Di mana, ketika mata uang dolar AS dinilai sudah kalah pamor dibanding Bitcoin, lantaran dianggap tidak tahan inflasi.

    Baca Juga: Sekarang Dengerin Musik Bisa Dapat Token di AUDIUS!

    Bitcoin muncul bagaikan emas digital yang membuat mata investor terpanah dengan kemilaunya dengan berhasil menduduki peringkat pertama berdasarkan tingkat returnsepanjang 2020. Bahkan, kinerja Bitcoin sepanjang 2020 mampu mengalahkan emas, deposito, dan dolar AS.

    Bitcoin benar-benar menjadi pelabuhan baru bagi banyak investor di luar sana untuk menyimpan uang mereka agar tidak terdampak inflasi yang berfungsi sebagai penyimpanan nilai.

    Faktor pasar membuat potensi pergerakan harga Bitcoin kian kinclong saja hingga akhir tahun ini. Lantaran, adanya isu geopolitik di antaranya:

    • Ketidakpastian pemilu AS.
    • Kesepakatan uni Eropa dan Inggris (membuat nilai tukar euro dan poundsterling kian perkasa vs USD).
    • Stimulus bank sentral Eropa untuk negara-negara Eropa.
    • Gelombang virus kedua di Amerika Serikat yang berpotensi mengakibatkan pembatasan ekonomi di sana, yang dapat menekan nilai tukar USD.

    Korelasi Bitcoin dan USD memang selalu menjadi perdebatan di luar sana bagi penggiat cryptocurrency, apakah kedua hal ini berhubungan atau tidak. Namun, bila kita flashback di tahun 2017, tahun tersebut adalah “tahunnya Bitcoin” dengan memecahkan rekor harga tertingginya hingga melampaui $20.000. Kala itu, sepanjang 2017 US Dollar Index menunjukkan keterpurukan secara keseluruhan. Di saat ketidakstabilan harga USD tersebut, Bitcoin mengalami reli hingga menyentuh harga tertingginya mencapai lebih dari $20.000.

    Baca Juga: Toyota Sudah Masuk Ke Ranah Crypto, Yang Lain Kapan?

    Tahun 2017 adalah salah satu fakta yang tidak bisa terbantahkan lagi bagi perkembangan cryptocurrency yang mencapai puncak tertingginya. Bahwa Bitcoin dan USD memiliki korelasi, lantaran ketika dolar AS sedang terpuruk seperti saat ini investor merasa tidak nyaman untuk menempatkan dananya di mata uang gegara adanya beragam sentimen negatif yang berasal sistem kebijakan moneter dan politik. Ini adalah anggapan yang bisa membuat seseorang jadi kaya karena cryptocurrency di tengah resesi seperti saat ini.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Proyeksi Bitcoin Menjelang Halving – Tokocrypto News

    Halving Bitcoin tinggal kurang dari sebulan lagi. Kira-kira, bagaimanakah proyeksi harganya?

    Banyak prediksi mengenai halving. Mulai dari bullish hingga bearish. Namun, dari sekarang sampai halving, ke manakah kira-kira pergerakan harganya? Yuk kita coba proyeksikan

    Jika dilihat di timeframe 1 minggu, harga BTC sudah menyentuh area golden pocket fibonacci (di antara 7200-8000-an USD). Biasanya, setelah dari sini, harga akan memantul balik. Namun masih belum ada konfirmasi lebih jauh untuk ini

    Namun, bias untuk bearish sudah mulai terlihat. Bisa dilihat dengan adanya trendline yang gagal ditembus oleh candlestick BTC. Pada umumnya, garis tren di timeframe besar cukup “dihormati” oleh harga

    Selain itu, di timeframe 1 hari, bias bearish terrbukti dengan terbentuknya channel seperti pada gambar. Diprediksikan harga akan berada di dalam channel tersebut sampai menjelang halving, di mana volatilitas akan terjadi

    Indikator Masih Belum Bullish

    mungkin yang menyebabkan banyak yang memprediksi bahwa setelah halving harga bitcoin akan turun adalah indikator yang masih belum menunjukkan tanda-tanda bullish.

    Harga masih berada di bawah moving average 50, dan nilai RSI masih di sekitaran 50-an.

    Belum ada tanda-tanda indikatif kuat yang menunjukkan harga sudah siap untuk naik.

    Namun, kita dapat melihat bahwa ada support kuat di zona 6000-an yang menahan harga dari turun lebih jauh lagi.

    Semua akan terungkap 3 minggu lagi! Kita tunggu tanggal mainnya



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bloomberg: Harga Bitcoin Berpeluang Bull-Run Seperti Tahun 2015-2017

    Bloomberg belum lama ini melaporkan hasil kajiannya yang bertajuk Bitcoin Maturation Leap”. Salah satu nukilan di dalamnya disebutkan, bahwa Bitcoin saat ini bersiap-siap untuk bull-run alias naik tinggi secara besar-besaran seperti periode 2015-2017 yang sempat menghantarkan Raja Aset Kripto itu naik hingga US$19.783 pada 17 Desember 2017.

    Kajian sepanjang 10 halaman itu juga menyebutkan, bahwa bull-run itu terkait dengan perubahan laju produksi Bitcoin alias pengurangan imbalan kepada penambang (Halving) dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block yang akan terjadi pada medio Mei 2020.

    Bloomberg juga menyebutkan emas dan Bitcoin berkarakter sebagai aset lindung nilai, sebagai akibat dari gejolak pasar modal, dampak pandemi COVID-19.

    BERITA TERKAIT  Tether (USDT) Lejitkan Bitcoin Tahun 2017, Siapa Peduli?

    Bitcoin dan emas juga sebagai ‘penerima manfaat utama’ dari stimulus moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang disertai dengan anjloknya pasar saham,” jelas Bloomberg.

    Pasar Berjangka Jinakkan Bitcoin
    Bloomberg juga memastikan bahwa pasar derivatif Bitcoin (seperti futures, options, margin dan lain sebagainya-Red) turut “menjinakkan” volatilitas harga Bitcoin di pasar spot.

    Namun, itu bukan berdampak negatif terhadap Bitcoin dalam konteks manipulasi. Tetapi, karena volatilitas dapat ditekan, maka bisa mendorong lebih banyak orang lagi untuk melakukan pembelian Bitcoin.

    Volatilitas Bitcoin diperkirakan akan terus menurun, sama seperti sepanjang Oktober 2015 yang menandai awal dari pasar bullish. Tentu saja itu terjadi jika memang sejarah selalu berulang. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Maling…! Rp387 Miliar Pun Berpindah Tangan

    Naas bagi sejumlah pengguna platform keuangan aset kripto ini. Akibat kelemahan sistemnya, maling dunia maya sukses mencuri token digital imBTC senilai US$25 juta atau setara dengan Rp387 miliar.
    Platform keuangan itu bernama Lendf.me yang dikelola oleh perusahaan dForce asal Tiongkok. Mindao Yang, Pendiri DForce mengklaim kejadian itu sebagai sebuah “aksi peretasan” yang terjadi pada 19 April 2020 lalu, beberapa hari setelah Multicoin Capital, perusahaan asal Texas menanamkan dana investasi di dForce.

    Satu hari sebelumnya, 18 April 2020 peretasan bermodus serupa terjadi di platform sekelas, yakni Uniswap. Dalam kasus Uniswap, token imBTC yang melayang antara US$300,000-1,1 juta.

    Walaupun Uniswap tidak dikelola oleh dForce, namun diketahui bahwa Uniswap juga memanfaatkan protokol yang sama dengan di platform Lendf.me.

    “Kami akhirnya mengetahui, bahwa peretas memanfaatkan kerentanan dalam standar ERC777 dari token imBTC dengan melakukan serangan ‘reentrancy‘. Mekanisme ‘panggilan balik’ itu memungkinkan peretas untuk menyetor dan menarik imBTC berulang kali sebelum saldo diperbarui. Kajian teknis soal itu disajikan oleh PeckShield,” kata Mindao akun dForce di Medium hari ini, Senin (20 April 2020).

    Mindao mengakui serangan itu terjadi karena kelalaian dirinya sebagai pemimpin perusahaan.

    “Saya seharusnya mengantisipasi dan mengambil tindakan untuk mencegahnya. Serangan ini tidak hanya merugikan pengguna kami, mitra kami dan rekan pendiri saya, tetapi juga saya pribadi. Aset saya juga dicuri dalam serangan itu,” katanya dengan nada menyesal.

    Karenanya pihak perusahaan sudah mengambil langkah hukum dengan menghubungi pihak berwenang dan siap diselidiki. dForce juga sudah menghubungi sejumlah bursa aset kripto agar memblokir address aset kripto milik peretas, seandainya dedemit maya itu hendak menjual hasil curiannya.

    PeckShield menyebutkan, bahwa serangan itu terjadi terkait dengan token imBTC. Nilai token yang dibuat di blockchain Ethereum itu 1 banding 1 terhadap nilai Bitcoin (BTC). Token itulah yang dijadikan jaminan (collateral) oleh pengguna di platform Lendf.me. imBTC sendiri dibuat oleh Perusahaan Tokenlon, yang juga sedang menyelidiki kasus ini.

    “Secara teknis, logika utama di balik dua insiden itu adalah ketidakcocokan antara ERC777 pada token imBTC dan smart contract yang dibuat oleh perusahaan itu di platform keuangannya. Ini yang mungkin disalahgunakan oleh peretas untuk benar-benar membajak transaksi normal dan melakukan operasi ilegal tambahan,” jelas PeckShield hari ini melalui Medium. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Stock to Flow: Satu Tahun Setelah Halving Bitcoin Diprediksi Berharga $23.000

    Jika melihat sejarah Halving, harga Bitcoin akan naik berbulan-bulan sesudahnya. Mengacu pada model ini maka dalam rentang waktu 6 bulan setelah Halving yakni bulan November, harga Bitcoin akan menyentuh 10.889 dan akan mengalami penurunan tajam di 14 November menjadi 7.535.

    Namun Bitcoin terus akan mengalami kenaikan dan penurunan harga sebelum akhirnya pada bulan Mei 2021 tepat satu tahun sesudah halving ketiga harga Bitcoin akan bernilai 23.001,38. Harga ini jika benar maka akan memecahkan rekor harga tertinggi Bitcoin sebesar 20.000 yang terjadi pada 2017.  Kemudian jika melihat grafik di bawah ini, maka Bitcoin akan berhasil menyentuh lebih dari 100.000 pada November 2021.

    PlanB Merespon Prediksi Harga Bitcoin Sesudah Halving

    PlanB analis yang membuat model ini pun berpendapat soal kenaikan harga Bitcoin karena halving dalam serangkaian tweet yang diunggah pada 16 April lalu. Menurutnya reward block halving akan menjadi momen penentu layaknya hidup dan mati.

    “(Menurut pendapat saya) #bitcoin 2020 halving seperti tahun 2012 & 2016. Sesuai dengan model S2F saya mengharapkan harga 10x (urutan besarnya, tidak tepat) 1-2 tahun setelah  peristiwa halving, tulisnya.

    Ia kembali menambahkan, “ halving akan membuat atau mengistirahatkan model  S2F. Saya berharap halving ini akan mengajarkan kita lebih banyak tentang dasar-dasar dan efek jaringan yang mendasarinya.

    Baca juga: Pencarian Bitcoin Halving di Google Meningkat Signifikan

    Namun prediksi ini tentu sangat tentatif, mengingat tengah terjadi krisis global yang sempat membuat harga Bitcoin terpengaruh. Padahal sebelumnya Bitcoin diklaim sebagai safe haven asset. PlanB pun merespon krisis ini. Ia menyoroti Dow Jones, bahwa korelasi saat ini adalah hasil dari krisis virus Covid-19 yang lebih luas dan bukan hal permanen bagi Bitcoin.

    “Selama krisis semuanya berkorelasi. Apa selanjutnya yang menarik. Mereka tidak akan dikorelasikan selamanya (menurut saya), “

    PlanB pun bahkan berjanji jika ia akan membuang model Stock to Flow jika gagal memenuhi apa yang direncanakan. Dilansir dari Cointelegraph, beberapa tokoh cryptocurrency terkenal pun mengkritik model ini untuk Bitcoin karena dianggap terlalu optimis.

    Oleh karena itu sebaiknya model ini bukan dijadikan acuan utama untuk memprediksi harga Bitcoin di masa mendatang, model ini tampak ilmiah tetapi sebetulnya tidak ilmiah itu karena baru menggunakan dua data halving sebelumnya, data yang termasuk kecil untuk membuktikan model ini bisa dipercaya apalagi masih banyak hal yang perlu dipelajari dari Bitcoin dan bagaimana aset kripto itu terus berkembang di tengah ekonomi global yang dinamis.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Begini Cara Fed Mendorong Bitcoin All-Time-High di 2021

    Federal Reserve AS atau yang sering disebut “The Fed” bisa menjadi dalang yang tidak terduga dari dorongan harga pada Bitcoin dalam beberapa bulan dan tahun yang akan datang.

    Meskipun bank sentral AS tersebut, dalam tindakannya terhadap penyelamatan pasar ekuitas AS dari krisis penuh, mungkin tidak secara langsung membantu memasangkan tolak ukur pada industri cryptocurrency, para analis mencatat rebound All-Time-High baru bisa terjadi setelah 2021.

    Jika tolak ukur tersebut menangkap harga all-time-high akan terjadi tahun depan, hal itu akan menjadi kejadian yang sangat bullish untuk Bitcoin meski masih memegang status sebagai aset berisiko besar.

    Pasar Ekuitas AS Menunjukan Tanda-Tanda Kekuatannya Terhadap Gejolak Ekonomi

    Pasar saham bertahan cukup baik terhadapt pandemi Covid-19 yang telah membuat ekonomi global menjadi macet.

    Saat ini, S&P 500 diperdagangkan di bawah 12% dari jumlah awal mula tahun ini, dengan catatan terdapat rebound 10% sepanjang bulan lalu.

    Kekuatan S&P 500 merupakan simbol dari seluruh pasar dan bahkan pernah memimpin outlier yang lebih kecil pada pasar seperti crypto untuk bisa rebound, dengan kenaikan Bitcoin dari posisi terendah pada pertengahan Maret lalu di $ 3.800 ke posisi tertunggi di $ 7.500.

    Amazon, salahs atu perusahaan terbesar di dunia bahkan mampu melakukan rally ke all-time-high pada 15 April kemarin.

    Baca juga: CEO Ballet Crypto Prediksi All Time High Bitcoin di 2020

    Kinerja tersebut bahkan saat terjadi lonjakan jumlah pengangguran yang belum pernah terjadi sebelumnya benar-benar mengejutkan sejumlah investor, tetapi dibalik itu, seorang ekonom mencatat dalam sebuah cuitan baru-baru ini bahwa penting untuk memisahkan pengangguran yang berada pada satu titik waktu dari pasar keuangan. Ini merupakan upaya dalam penentuan harga sekarang dan masa depan.

    “Jumlah pengangguran menggambarkan satu titik waktu, sementara pasar keuangan melalaikan mekanisme dalam penentuan harga sekarang dan mendatang. Jumlah tersebut merupakan data, sementara harga didorong oleh emosi persepsi, dan variable lainnya.”

    Bitcoin Dapat Mengalami Kenaikan Berdasarkan Tindakan The Fed Pada Dukungan Pasar

    Kekuatan ini sebagian berasal dari suntikan likuiditas besar-besaran yang dilakukan The Fed untuk mendorong perekonomian.

    Seorang analis populer bahkan menegaskan tindakan ini akan membuat pasar saham dapat menetapkan all-time-high baru segera setelah tahun 2021.

    “Mungkin saya akan terkejut untuk saat-saat ini mengingat semua tindakan yang dilakukan the Fed dapat merusak struktur pasar kembali. Apakah grafik akan membentuk huruf V? tidak , tapi saya pikir hal ini tidak akan menggerakan pasar. Saya rasa kita sedang melihat sesuatu yang akan menggambarkan All-Time-High baru di tahun 2021”, ujarnya terkait grafik di atas.

    Jika kemungkinan ini dimainkan, maka Bitcoin akan sangat bullish. Hal ini disebabkan karena crypto telah membangun korelasi yang mencolok dengan pasar tradisional lain selama beberapa bulan terakhir.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Transfer Bitcoin 17 Triliun, Biaya Kurang Dari Rp 15Ribu

    Transaksi Bitcoin terbesar dalam nilai dollar AS hanya menghabiskan biaya sekitar satu sen atau jika di Rupiahkan hanya berada di sekitar Rp 1.500.

    Transaksi yang dilakukan Jumat, 10 April 2020 lalu berhasil mentransfer sekitar 161.500 Bitcoin atau setara dengan 17 Triliun Rupiah hanya dengan biaya kurang lebih $0.70 atau 10.000 jika dirupiahkan. Transaksi tersebut merupakan transaksi Bitcoin terbesar saat ini dalam nilai total dollar AS.

    Transaksi Internal Bitfinex

    Transaksi ini pertama kali dilihat oleh pengguna Twitter KRMA_0 dan kemudian dikonfirmasi oleh TheCryptoAssociate. Transaksi ini berhasil diselesaikan hanya dengan biaya 0,00010019 BTC.

    Paolo Ardoino, CTO Bitfinex, melalui Twitter pribadinya mengaku bertanggung jawab atas transaksi tersebut. Ia menjelaskan bahwa layanan itu sedang dalam pengisian ulang dompetnya melalui transaksi internal.

    Berdasarkan perincian transaksi tersebut memang sebanyak 15.000 BTC dikirim ke dompet digital Bitfinex dan merubah nilai menjadi 146.500 BTC, lalu kemudian dikembalikan ke alamat semula.

    Transaksi ini terjadi kurang lebih seminggu setelah layanan custody crypto Xapo berhasil memindahkan sebanyak 100.000 BTC atau sekitar 10 Triliun dalam Rupiah dengan biaya transaksi hanya sekitar Rp 4.000.

    Baca juga: Bitcoin Whale Pindahkan $212 Juta dengan Biaya Transaksi $3.93

    Transaksi Ini Berhasil Melampaui Nilai Tertinggi Sebelumnya

    Dalam kedua kasus tersebut, hanya memakan biaya yang sangat sedikit dibandingkan dengan biaya layanan pengiriman uang tradisional. Misalnya, TransferWise, salah satu perusahaan pengiriman uang tradisional,  memerlukan biaya lebih dari $3.600 atau sekitar Rp 60 Juta hanya untuk mentransfer $1Juta atau sekitar 16 Miliyar dan membutuhkan waktu tiga hari untuk dapat menyelesaikan seluruh transaksi.

    Dengan Bitcoin, biaya jelas jauh lebih sedikit dan transaksi dapat diselesaikan dengan instan. Transaksi ini juga tidak memerlukan pemeriksaan identitas atau perantara terpercaya pada saat prosesnya.

    Transaksi pada Jumat lalu ini melampaui angka tertinggi sebelumnya dengan nilai $1 Miliar yang tercatat pada bulan September 2019. Namun, jumlah Bitcoin aktual terbesar yang pernah dipindahkan mencapai 500.000 BTC yang terjadi pada November 2011 silam dan hanya bernilai $1,32 Juta pada saat itu.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ransomware Bitcoin Masih Berpotensi Serang Rumah Sakit

    Kendati sudah ada penurunan serangan sejak awal pandemi COVID-19, ransomwareBitcoin masih berpotensi menyerang rumah sakit.

    Bill Siegel, CEO Coveware mengatakan dia melihat peningkatan aktivitas serangan ransomware “Mamba”, yang menghindari cara-cara lama yang mengirimkan phising software ke e-mail korban. Pelaku justru langsung menyerang dengan mengenkripsi file di komputer, berkat bantuan software khusus bernama “Jetico”.

    “Kami tidak tahu mengapa serangan Mamba akan meningkat saat ini ketika pandemi COVID-19 dan rumah sakit masih berjuang mengatasi itu. Tetapi, saya pribadi berpendapat peretas yang sangat ahli lebih banyak punya waktu melakukan serangan itu dari rumah, bukan dari kantor,” kata Siegel.

    Menurut laporan terbaru dari Chainalysis, jumlah serangan ransomware secara global telah menurun secara signifikan sejak COVID019 meningkat pada Maret 2020. Penurunan itu sangat signifikan, mengingat ada kekhawatiran yang berkembang atas dampak serangan ransomware terhadap rumah sakit dan organisasi kesehatan lainnya.

    BERITA TERKAIT  Ransomware Bitcoin Ancam Distribusi Obat ke 100 Panti Jompo di Amerika Serikat

    Rumah sakit adalah sasaran empuk ransomware. Emsisoft melaporkan, bahwa selama tahun 2019, setidaknya 764 penyedia layanan kesehatan di AS telah diserang. Pada pertengahan Maret, Emsisoft secara terbuka meminta pelakku untuk berhenti menargetkan rumah sakit, karena potensi dampak fatal selama krisis ini.

    Kim Grauer, Ekonom Senior Chainalysis mengatakan, bahwa meskipun ada penurunan secara keseluruhan, beberapa rumah sakit mungkin berpotensi masih diserang

    “Rumah sakit tampaknya menjadi korban dari beberapa serangan ransomware baru-baru ini, seperti ‘dopplepaymer ‘ dan ‘maze’,” kata Grauer.

    Ransomware lazimnya menyerang beberapa komputer lembaga pemerintah, rumah sakit dan perguruan tinggi. Ia mampu mengenkripsi semua file sehingga korban tak bisa mengaksesnya sama sekali. Agar bisa diakses kembali, pelaku menampilkan pesan yang meminta tebusan berupa Bitcoin.

    Pada Februari 2020 lalu misalnya, kelompok peretas bernama “Maze” meminta tebusan Bitcoin senilai Rp25,4 miliar. Peretas meminta tebusan 200 BTC. 100 BTC untuk memulihkan akses data. Dan 100 BTC lagi untuk menghapus salinan data yang sudah disebarkan. Dua dari lima kantor pengacara diretas dalam 24 jam menjelang 1 Februari 2020 lalu.

    “Peretas juga menerbitkan data yang dicuri di dua situs web. Modusnya adalah Maze menyebut terlebih dahulu perusahaan yang diretas di situs webnya. Jika korban mereka tidak membayar, maka Maze menerbitkan sebagian kecil dari data yang dicuri sebagai bukti. Jika perusahaan membayar, Maze akan menghapus nama perusahaan/korban itu,” kata Callow dari Emsisoft kala itu.

    Di bulan yang sama Universitas Maastricht, Belanda, pada Rabu (5 Februari 2020) mengatakan, bahwa pihaknya telah membayar tebusan sebanyak 30 Bitcoin (BTC) atau senilai 200 ribu euro (Rp3 miliar) kepada peretas. Hal itu dilakukan sebagai upaya membuka blokir yang menyerang sistem komputernya pada 24 Desember 2019.

    Wakil Presiden Universitas Nick Bos mengatakan universitas telah memutuskan untuk membayar uang tebusan itu, daripada harus membangun kembali sistem teknologi informasi dari awal lagi.

    “Serangan itu sangat berdampak buruk bagi aktivitas kami, mulai dari mahasiswa, dosen, peneliti dan staf. Ini sesuatu yang belum kami hadapi sebelumnya,” katanya waktu itu.

    Menurut Nick, peretasan itu mungkin terjadi akibat kelalaian seorang staf universitas. Staf itu secara tak sengaja membuka sebuah surat elektronik yang berisi peranti lunak berkemampuan phising. [Cointelegraph/red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tesla Simpan Bitcoin Senilai US$ 184 Juta meski Market Kripto Lesu

    Perusahaan kendaraan listrik, Tesla dilaporkan tetap menyimpan Bitcoin (BTC), walaupun market kripto tengah lesu di akhir tahun 2022. Langkah ini menjadi keyakinan perusahaan untuk aset kripto di masa depan.

    Dalam laporan pendapatan terbarunya yang dirilis Rabu (25/1), Tesla mengungkapkan pihaknya tidak membeli atau menjual Bitcoin apa pun pada kuartal terakhir tahun 2022.

    Produsen mobil listrik itu melaporkan biaya penurunan nilai sebesar US$ 34 juta karena nilai kepemilikan Bitcoin turun menjadi US$ 184 juta dari US$ 218 juta pada kuartal III 2022.

    Laporan Keuangan Tesla

    Baca juga: Adopsi Kripto Tahun 2022: Jumlah Wallet Bitcoin dan ETH Terus Tumbuh

    Secara keseluruhan, Tesla mencatat laba US$ 5,7 miliar dari pendapatan US$ 24,3 miliar untuk kuartal IV dengan margin kotornya berada di level terendah dalam lima kuartal. Perusahaan membukukan laba total US$ 20,8 juta untuk tahun 2022 dari pendapatan US$ 81,4 miliar.

    Angka pendapatan meleset dari perkiraan analis tetapi keuntungannya lebih baik dari perkiraan konsensus.

    Harga saham Tesla naik sedikit pada saat laporan keluar, ditutup dengan kenaikan hampir 0,40%. Itu terus diperdagangkan secara positif setelah berjam-jam, naik hampir 4,6% pada saat penulisan, menurut Google Finance.

    Tesla dan Bitcoin

    CEO Tesla, Elon Musk tetap tak jual Bitcoin saat inflasi. Foto: Twitter @Blockworks_.
    CEO Tesla, Elon Musk tetap tak jual Bitcoin saat inflasi. Foto: Twitter @Blockworks_.

    Baca juga: Alasan Token Kripto Threshold (T) Melonjak 120% Seminggu

    Tesla bergabung dengan jajaran perusahaan yang memegang aset kripto, ketika mengungkapkan investasi US$ 1,5 miliar dalam BTC pada Februari 2021, dengan berita mendorong harga BTC ke rekor tertinggi baru pada saat itu. Ini menjadikan Tesla perusahaan publik terbesar kelima dengan Bitcoin di neracanya.

    Produsen kendaraan listrik asal AS itu dilaporkan juga mempertahankan BTC-nya hingga kuartal III tahun lalu setelah menjual 75% Bitcoin-nya selama kuartal kedua. Penjualan kuartal II menambahkan US$ 936 juta tunai ke pembukuan Tesla dan perusahaan mendapat untung US$ 64 juta.

    CEO Tesla, Elon Musk, menjelaskan pada saat penjualan itu untuk “membuktikan likuiditas Bitcoin sebagai alternatif untuk menyimpan uang tunai di neraca.”

    Namun, kepemilikan Bitcoin atau pengambilan Bitcoin tidak dibahas dalam panggilan pendapatan terbaru Tesla. Tesla memegang sekitar 9.720 BTC hingga akhir tahun 2022.



    Sumber : news.tokocrypto.com