Cardano Spot, sebuah platform sosial inovatif yang didirikan dan dikembangkan oleh EMURGO Media, entitas pendiri Cardano, telah meluncurkan fitur-fitur baru yang menggebrak. Tujuan dari perubahan ini adalah untuk mengurangi fragmentasi dalam ekosistem Cardano dan memungkinkan lebih dari empat juta anggota komunitas di seluruh dunia untuk terus terhubung dan mengembangkan projek-projek native mereka dengan lebih masif lagi.
Diluncurkan pada akhir 2022, Cardano Spot telah menjadi tempat yang populer bagi penggiat Cardano untuk bersatu dan berkolaborasi. Namun, dengan berbagai proyek yang terus bertambah, tantangan untuk tetap terhubung dan mendapatkan berita terbaru semakin meningkat. Oleh karena itu, tim di balik Cardano Spot telah bekerja keras untuk menyempurnakan pengalaman pengguna.
Salah satu fitur baru yang paling mencolok adalah News Feed (halaman artikel) dan Project Library (halaman kolektif berisi lebih dari 200 projek Cardano). Kedua fitur ini kini dapat diakses tanpa perlu melakukan sign-in, sehingga memberi kemudahan bagi pengguna untuk selalu mendapatkan informasi terbaru tanpa hambatan.
Fitur Baru Cardano Spot
Selain itu, tim Cardano Spot juga memahami pentingnya kemudahan dalam mengakses akun. Kini, tidak hanya melalui email, pengguna dapat bergabung dengan Cardano Spot menggunakan akun Twitter, TikTok, dan bahkan GitHub. Ini merupakan langkah besar dalam memperluas cakupan dan menarik lebih banyak pengguna untuk terlibat dalam komunitas Cardano.
Explore Page, menjadi salah satu fitur paling menarik dalam pembaruan ini, memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi pengguna untuk menjelajahi seluruh fitur dan berita dalam platform Cardano Spot. Dari sana, pengguna dapat memilih minat mereka sendiri dan menyesuaikan Community Hub, sebuah beranda yang dapat dipersonalisasi sesuai dengan minat masing-masing pengguna. Tak hanya itu, pengguna juga dapat membuat konten, mengikuti pengguna lain, dan menemukan komunitas dengan minat yang sama.
News Feed, fitur lain yang terdapat dalam platform, memberikan pengguna akses ke berita terbaru sehubungan dengan ekosistem Cardano. Di dalam fitur ini, pengguna dapat dengan mudah menemukan konten edukatif, artikel, dan materi video untuk mempelajari topik baru dan memperluas pengetahuan mereka mengenai Cardano.
Tidak ketinggalan, Project Library menjadi wadah bagi pengguna untuk menemukan dan mempelajari lebih lanjut mengenai proyek-proyek yang dibangun di atas Blockchain Cardano. Di fitur ini, pengguna dapat menemukan penjelasan dari masing-masing proyek, whitepaper, video intro, dan tautan yang sangat berguna untuk melakukan riset pribadi (DYOR) mengenai proyek-proyek Cardano.
Dorong Aktivitas Komunitas
Cardano Spot juga telah menambahkan fitur “Refer to a Friend” – sebuah link personal yang memungkinkan pengguna mengundang teman-teman mereka yang tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang ekosistem Cardano. Dengan cara ini, platform ini berusaha untuk terus berkembang dan mendorong partisipasi lebih banyak anggota komunitas.
Melalui Events Calendar, pengguna platform dapat dengan mudah mengetahui jadwal event-event terkait Cardano yang sedang dan akan datang. Dari webinar hingga diskusi dan peluncuran produk, pengguna tidak akan lagi melewatkan momen-momen penting dalam ekosistem Cardano.
Terakhir, fitur Market Status memberikan informasi terbaru mengenai harga token, kondisi pasar, dan tokenomics. Dengan akses ke data terbaru ini, para pengguna dapat mengambil keputusan investasi yang lebih cerdas.
Cardano Spot sendiri merupakan produk pertama dari EMURGO Media yang telah berhasil menciptakan jaringan sosial yang menyediakan informasi terpercaya bagi komunitas Cardano di seluruh dunia. Platform ini tidak hanya memberikan peluang untuk berinvestasi, mendistribusikan, dan mengonsumsi konten Cardano, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pengguna untuk memonetisasi konten mereka.
Cardano Spot hadir sebagai solusi atas tantangan tingginya fragmentasi konten dalam ekosistem Cardano. Dengan menggabungkan konten berkualitas dari sumber-sumber terpercaya, platform ini terus berupaya memberikan perkembangan terkini dalam ekosistem Cardano. Dengan pembaruan fitur-fitur terbaru, Cardano Spot menegaskan posisinya sebagai platform yang inovatif dan menarik bagi para penggemar Cardano di seluruh dunia.
Berbagai mekanisme konsensus telah diperkenalkan untuk mengoptimalkan kinerja jaringan blockchain, salah satunya Proof of Authority (PoA). Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi konsep PoA secara mendalam dan menggali relevansinya dalam ekosistem aset kripto.
Perkembangan dunia aset digital telah mengalami transformasi signifikan sejak transaksi Bitcoin pertama kali terjadi di jaringan Bitcoin. Selain algoritma terkenal seperti Proof of Work (PoW) dan Proof of Stake (PoS), berbagai mekanisme konsensus lainnya juga diperkenalkan, menyediakan alternatif bagi sistem blockchain dalam mencapai konsensus.
Algoritma konsensus PoW yang digunakan oleh Bitcoin memang sangat aman dan handal, namun masih memiliki kendala dalam hal skalabilitas. Blockchain berbasis PoW, termasuk Bitcoin, memiliki keterbatasan dalam jumlah transaksi per detik (TPS).
Kendala tersebut berkaitan dengan fakta bahwa Bitcoin mengandalkan jaringan node yang tersebar, yang memerlukan pencapaian konsensus dan persetujuan dari mayoritas node untuk memvalidasi kondisi terbaru blockchain. Dengan demikian, sebelum transaksi pada blok baru dapat dikonfirmasi, mereka harus melewati verifikasi dan mendapatkan persetujuan dari mayoritas node di jaringan. Hal ini menyebabkan aspek desentralisasi Bitcoin memberikan sistem ekonomi yang aman dan terpercaya, namun juga membatasi potensinya untuk digunakan dalam skala yang lebih luas.
Dalam hal TPS, blockchain berbasis Proof of Stake umumnya menunjukkan performa lebih baik daripada Bitcoin. Meski begitu, perbedaan antara keduanya tidak terlalu signifikan dan jaringan PoS pun belum sepenuhnya mengatasi masalah penskalaan.
Dalam konteks ini, Proof of Authority (PoA) muncul sebagai alternatif yang lebih efisien, karena algoritma ini dapat mengatasi lebih banyak transaksi per detik.
Apa Itu Proof of Authority?
Proof of Authority (PoA) adalah algoritma konsensus berbasis reputasi yang menawarkan solusi praktis dan efisien untuk jaringan blockchain, terutama yang bersifat privat. Terminologi ini diperkenalkan pada tahun 2017 oleh salah satu pendiri Ethereum dan mantan CTO, Gavin Wood.
Algoritma konsensus PoA menggunakan identitas sebagai nilai kunci, sehingga para validator blok tidak berkompetisi untuk mendapatkan koin sebagai staking, tetapi lebih pada reputasi mereka sebagai kepercayaan. Dengan demikian, blockchain PoA diamankan oleh node validasi yang telah dipilih karena kepercayaan.
Model Proof of Authority bergantung pada jumlah blok validator yang terbatas, yang memungkinkan sistem menjadi lebih skalabel. Blok dan transaksi diverifikasi oleh peserta yang telah disetujui sebelumnya, dan mereka bertindak sebagai moderator dalam sistem.
Algoritma konsensus PoA dapat diterapkan dalam berbagai skenario, dan sering kali dianggap sebagai opsi yang sangat berharga untuk implementasi di bidang logistik. Sebagai contoh, dalam rantai pasokan, PoA dianggap sebagai solusi yang efektif dan logis.
Model kerja Proof of Authority memungkinkan perusahaan untuk menjaga keamanan privasi mereka dan tetap mendapatkan manfaat dari teknologi blockchain. Salah satu contoh implementasi PoA dapat ditemukan di Microsoft Azure, di mana algoritma ini sedang diterapkan. Secara singkat, lingkungan Azure memberikan solusi untuk jaringan privat tanpa memerlukan mata uang kripto sendiri seperti ether “gas,” karena proses penambangan tidak diperlukan.
Perbedaan Proof of Authority dengan Proof of Stake
Beberapa orang menganggap Proof of Authority (PoA) sebagai versi modifikasi dari Proof of Stake (PoS) yang menggunakan identitas alih-alih koin. Mengingat sifat desentralisasi yang dimiliki oleh banyak jaringan blockchain, PoS tidak selalu menjadi pilihan yang tepat bagi beberapa perusahaan dan koperasi. Sebagai gantinya, sistem PoA menawarkan solusi yang lebih optimal untuk blockchain privat karena kinerjanya yang lebih tinggi.
Syarat-syarat Konsensus Proof of Authority
Meskipun persyaratan PoA dapat bervariasi tergantung pada sistem yang digunakan, algoritma konsensus PoA umumnya bergantung pada:
Identitas yang Benar dan Dapat Dipercaya: Para validator harus memastikan dan mengkonfirmasi identitas mereka.
Proses Pengangkatan Validator yang Tidak Mudah: Seorang kandidat harus bersedia untuk menginvestasikan uang dan reputasinya sebagai jaminan partisipasinya. Dengan adanya proses seleksi yang sulit, risiko terpilihnya validator yang tidak dapat dipercaya dapat dihindari, dan komitmen jangka panjang dapat dijaga.
Standar Persetujuan untuk Menjadi Validator: Metode pemilihan validator harus konsisten dan sama untuk semua kandidat yang berpotensi.
Inti dari mekanisme reputasi adalah menjamin kepastian identitas para validator. Proses ini tidaklah mudah, dan individu yang tidak siap atau tidak memenuhi syarat akan mundur. Hal ini harus diatur sedemikian rupa untuk mengeliminasi kehadiran pihak yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya, keharmonisan sistem harus terjaga dengan memastikan bahwa semua validator mengikuti prosedur yang sama, sehingga integritas dan keandalan sistem tetap terjaga.
Batasan Proof of Authority (PoA)
Pandangan terhadap mekanisme PoA sering kali lebih positif daripada desentralisasi. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa model algoritma konsensus ini sering dianggap sebagai cara untuk membuat sistem menjadi lebih efisien secara sentral.
Meskipun PoA menawarkan solusi menarik bagi perusahaan besar dengan kebutuhan logistik, namun keraguan juga muncul, terutama dalam dunia mata uang digital. Memang, sistem PoA menghasilkan kinerja yang baik, namun masalah penetapan keputusan menjadi pertanyaan jika hal-hal seperti sensor dan daftar hitam dapat dengan mudah dimanipulasi.
Salah satu kritik umum terhadap PoA adalah bahwa identitas para validator terlihat jelas bagi semua orang. Argumentasinya adalah bahwa hanya orang-orang dengan reputasi tertentu yang dapat mendapatkan posisi tersebut (sebagai peserta umum).
Namun, mengetahui identitas validator membawa risiko manipulasi oleh pihak ketiga. Sebagai contoh, jika seorang kompetitor ingin mengganggu jaringan berbasis PoA, ia mungkin mencoba mengendalikan validator untuk bertindak tidak jujur demi mengompromikan sistem dari dalam.
Kesimpulan
Baik PoW, PoS, atau PoA, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, menjadi rahasia umum bahwa desentralisasi dianggap sebagai nilai tinggi dalam komunitas mata uang digital, dan algoritma konsensus PoA menempatkan fokus pada hasil dan penskalaan yang lebih besar dengan mengorbankan desentralisasi.
Fitur lain dari sistem PoA berbeda dengan arah perkembangan blockchain saat ini. Meskipun demikian, PoA tetap menawarkan solusi menarik dan tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama karena relevansinya dalam pengaplikasian di dalam blockchain privat.
Proof of Burn (PoB) adalah mekanisme konsensus yang digunakan dalam teknologi kripto guna mengonfirmasi transaksi dan mencapai kesepakatan di dalam jaringan. Berbeda dengan Proof of Work (PoW) atau Proof of Stake (PoS), PoB melibatkan pembakaran sejumlah kripto atau token tertentu oleh pengguna untuk mendapatkan hak berpartisipasi dalam proses konsensus.
Proses pembakaran ini berfungsi untuk mengurangi pasokan total kripto yang beredar, meningkatkan nilai bagi pemegang token lainnya, dan secara efektif menunjukkan bahwa pengguna telah “mengorbankan” sejumlah kripto untuk mendukung keamanan jaringan. Dalam PoB, semakin banyak kripto yang dibakar oleh seseorang, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan kesempatan untuk menambang atau memvalidasi blok baru dan menerima imbalan sebagai insentif atas kontribusinya.
Meskipun kebanyakan sistem blockchain saat ini menggunakan algoritma konsensus PoW atau PoS, Proof of Burn (PoB) sedang diuji sebagai algoritma alternatif yang menarik.
Algoritma Konsensus
Pada dasarnya, algoritma konsensus dalam blockchain bertanggung jawab untuk menjaga jaringan agar tetap aman, memverifikasi dan memvalidasi transaksi. Sebagai contoh, dalam blockchain Proof of Work seperti Bitcoin, para penambang bersaing untuk menemukan solusi sah untuk masalah kriptografi yang kompleks.
Penambang pertama yang berhasil menemukan solusi untuk blok tertentu menyebarkan bukti kerjanya (hash blok) kepada jaringan. Node-node yang tersebar di jaringan tersebut akan memverifikasi keabsahan bukti tersebut. Jika bukti itu valid, penambang berhak untuk secara permanen menambahkan blok tersebut ke dalam blockchain dan akan dihadiahi dengan Bitcoin yang baru ditambang.
Sementara itu, dalam blockchain Proof of Stake, algoritma konsensus beroperasi dengan cara yang berbeda. Dengan menggunakan fungsi hash, algoritma PoS menggunakan tanda tangan digital yang membuktikan kepemilikan sebuah koin.
Validasi blok baru dilakukan oleh apa yang disebut sebagai pembuat blok, yang dipilih secara deterministik. Semakin banyak koin yang dimiliki oleh pembuat blok sebagai pasak, semakin besar kesempatan mereka untuk dipilih sebagai validator blok. Namun, berbeda dari sistem PoW, mayoritas sistem PoS tidak memberikan hadiah blok, yang diperoleh pembuat blok hanya dari biaya transaksi.
Walaupun algoritma Proof of Burn memiliki kemiripan dengan PoW dan PoS, PoB memiliki cara tersendiri untuk mencapai konsensus dan memvalidasi sebuah blok.
Proof of Burn (PoB)
Ada berbagai varian dari Proof of Burn (PoB), namun konsep dasarnya berasal dari Iain Stewart, yang merupakan tokoh terkemuka dalam dunia mata uang digital. PoB diperkenalkan sebagai alternatif yang lebih mudah dipelihara daripada algoritma konsensus PoW.
Pada dasarnya, Proof of Burn mirip dengan algoritma Proof of Work, namun dengan pengurangan penggunaan energi. Proses validasi blok dalam jaringan berbasis PoB tidak membutuhkan sumber daya komputasi yang besar dan tidak tergantung pada perangkat keras penambang seperti ASICs.
Dalam PoB, mata uang digital disengaja dibakar sebagai cara untuk “menginvestasikan” sumber daya dalam blockchain, sehingga kandidat penambang tidak perlu berinvestasi dalam sumber daya fisik. Dalam sistem PoB, penambang berinvestasi dalam alat penambang virtual (atau tenaga penambangan virtual).
Dengan kata lain, dengan membakar koin, pengguna dapat menunjukkan komitmen mereka kepada jaringan, mendapatkan hak untuk “menambang” dan memvalidasi transaksi. Proses pembakaran koin mewakili tenaga penambangan virtual, jadi semakin banyak koin yang dibakar oleh pengguna dalam sistem, semakin banyak tenaga penambangan yang mereka miliki, dan semakin besar peluang mereka untuk dipilih sebagai validator blok berikutnya.
Bagaimana Proof of Burn Bekerja?
Proses pembakaran koin dilakukan dengan mengirimkan koin ke alamat publik yang terverifikasi, di mana koin tersebut tidak dapat digunakan atau diakses setelahnya. Alamat ini (alamat pemakan) biasanya dibuat secara acak tanpa adanya kunci pribadi yang terkait.
Pembakaran koin mengurangi pasokan di pasar dan menciptakan kekurangan ekonomi, yang berpotensi meningkatkan nilai koin tersebut. Lebih dari itu, pembakaran koin menjadi cara untuk berinvestasi dalam keamanan jaringan.
Salah satu alasan mengapa blockchain Proof of Work aman adalah karena para penambang berinvestasi banyak sumber daya untuk akhirnya memperoleh keuntungan. Ini berarti penambang PoW memiliki insentif untuk bertindak jujur dan membantu menjaga keamanan jaringan agar investasi mereka tidak sia-sia.
Konsep yang sama berlaku pada algoritma Proof of Burn. Namun, yang diinvestasikan bukanlah listrik, tenaga kerja, atau daya komputasi, melainkan pembakaran koin sebagai bentuk investasi untuk menjaga keamanan jaringan.
Mirip dengan blockchain PoW, sistem PoB memberikan hadiah blok kepada penambang, dan dalam jangka waktu tertentu, hadiah tersebut diharapkan dapat menutupi investasi awal pembakaran koin.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada berbagai cara untuk mengimplementasikan algoritma konsensus Proof of Burn. Beberapa proyek menggunakan PoB dengan membakar Bitcoin, sementara yang lain membakar koin mereka sendiri.
Perbandingan Proof of Burn (PoB) dan Proof of Stake (PoS)
Salah satu kesamaan antara PoB dan PoS adalah kedua mekanisme konsensus ini memerlukan validator blok untuk berinvestasi dalam koin untuk berpartisipasi. Namun, dalam blockchain PoS, pembuat blok harus menaruh koin mereka, biasanya mengunci koin tersebut. Namun, jika mereka memutuskan untuk keluar dari jaringan, mereka dapat mengambil kembali koin tersebut dan menjualnya di pasar.
Sebagai hasilnya, tidak ada pengurangan total pasokan dalam skenario tersebut, karena koin hanya diambil dari peredaran untuk sementara waktu. Di sisi lain, blok validator PoB harus menghancurkan koin mereka secara permanen, menciptakan pengurangan pasokan yang bersifat permanen.
Keuntungan dan Kerugian Proof of Burn
Berikut ini adalah daftar keuntungan dan kerugian yang berdasarkan argumen umum yang dikemukakan oleh pendukung PoB, namun hal ini belum sepenuhnya terbukti dan membutuhkan uji coba lebih mendalam untuk mengkonfirmasi kebenarannya.
Keuntungan
Lebih mudah dijaga dan mengurangi konsumsi energi.
Tidak memerlukan perangkat keras penambang, karena pembakaran koin berfungsi sebagai perangkat penambang virtual.
Pembakaran koin mengurangi perputaran pasar dan membatasi pasokan.
Mendukung komitmen jangka panjang dari para penambang.
Distribusi dan penambangan koin cenderung lebih terdesentralisasi.
Kerugian
Beberapa orang berpendapat bahwa PoB tidak lebih ramah lingkungan karena koin yang dibakar adalah hasil dari penambangan PoW, yang menggunakan banyak sumber daya.
Efisiensi dan keamanan PoB tidak terbukti untuk skala besar, sehingga perlu lebih banyak uji coba.
Verifikasi yang dilakukan oleh penambang cenderung lebih lambat dibandingkan blockchain Proof of Work.
Proses pembakaran koin tidak selalu transparan dan sulit diverifikasi oleh pengguna awam.
Kesimpulan
Baik Proof of Burn (PoB) maupun Proof of Stake (PoS) adalah algoritma konsensus yang menarik dengan keuntungan dan kerugian masing-masing. PoB menawarkan pendekatan yang berbeda dengan mengharuskan pembakaran koin sebagai bentuk investasi, sementara PoS mengandalkan penambangan berdasarkan kepemilikan koin.
Pengujian lebih lanjut dan pengalaman praktis diperlukan untuk memahami sepenuhnya potensi dan keterbatasan dari kedua mekanisme konsensus ini.
Selamat datang di artikel ini yang akan menjelaskan mengenai konsep hard fork dan soft fork dalam dunia kripto. Jika Anda memiliki minat dalam teknologi blockchain dan aset kripto, mungkin sudah sering mendengar istilah-istilah ini sebelumnya.
Hard fork dan soft fork merupakan dua jenis perubahan yang dapat terjadi dalam protokol kripto yang berdampak pada jaringan dan aset digital terkait. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana peningkatan dilakukan dalam jaringan aset kripto tanpa melibatkan otoritas pusat.
Selain itu, kami juga akan memberikan definisi yang jelas mengenai hard fork dan soft fork, menjelaskan perbedaan di antara keduanya, dan mengapa kedua konsep ini penting dalam ekosistem kripto.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep-konsep ini, Anda akan dapat mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia kripto dan memahami implikasi dari perubahan-perubahan yang terjadi. Mari kita mulai dengan mempelajari lebih lanjut mengenai hard fork dan soft fork dalam konteks kripto.
Siapa yang Mengambil Keputusan dalam Jaringan Blockchain?
Untuk memahami bagaimana fork bekerja, penting untuk memahami peran para peserta dalam proses pengambilan keputusan atau tata kelola jaringan.
Dalam konteks Bitcoin, terdapat tiga kelompok peserta yang dapat secara umum dibedakan, yaitu pengembang, penambang, dan pengguna full node. Mereka merupakan pihak-pihak yang secara aktif berkontribusi dalam jaringan. Meskipun pengguna light node (misalnya dompet kripto di ponsel atau laptop) juga digunakan secara luas, namun mereka tidak terlibat secara langsung sebagai “peserta” dalam konteks jaringan.
Pengembang
Para pengembang bertanggung jawab dalam membuat dan memperbarui kode-kode yang terkait. Siapa pun dapat berkontribusi dalam proses ini, karena kode tersebut tersedia untuk umum dan dapat dikirimkan perubahan oleh pengembang lain untuk ditinjau.
Penambang
Penambang merupakan pihak yang mengamankan jaringan dengan menjalankan kode aset kripto dan menyumbangkan sumber daya untuk menambahkan blok baru ke dalam blockchain. Misalnya, dalam jaringan Bitcoin, mereka melakukannya melalui mekanisme Proof of Work. Penambang diberi imbalan berupa block reward sebagai hasil dari upaya mereka.
Pengguna Full Node
Pengguna full node merupakan tulang punggung jaringan kripto. Mereka melakukan validasi, pengiriman, dan penerimaan blok dan transaksi, serta mempertahankan salinan lengkap blockchain.
Ser often kali terjadi tumpang tindih dalam kategori-kategori ini. Sebagai contoh, seseorang dapat menjadi pengembang dan pengguna full node, atau penambang dan pengguna full node. Atau bahkan seseorang dapat menjadi ketiganya sekaligus atau tidak ada satupun dari peran tersebut. Faktanya, banyak pengguna kripto yang tidak mengambil salah satu peran tersebut dan memilih untuk menggunakan light node atau layanan yang terpusat.
Dengan melihat penjelasan di atas, dapat dianggap bahwa pengembang dan penambang memiliki peran dalam pengambilan keputusan terhadap jaringan. Para pengembang menciptakan kode-kode tersebut, karena tanpa mereka, tidak akan ada perangkat lunak yang bisa dijalankan dan tidak ada yang akan memperbaiki bug atau menambahkan fitur baru. Penambang mengamankan jaringan, karena tanpa persaingan sehat dalam penambangan, rantai blockchain dapat diambil alih atau dihentikan.
Namun, jika kedua kategori ini berusaha memaksa sisa jaringan untuk mengikuti keinginan mereka, hal itu tidak akan berakhir dengan baik. Sebenarnya, kekuatan sebenarnya berada pada pengguna full node. Pengguna full node merupakan fungsi jaringan yang berbasis pada pilihan, yang berarti pengguna dapat memilih perangkat lunak apa yang ingin mereka jalankan.
Sebagai ilustrasi, para pengembang tidak akan datang dan memaksa Anda untuk mengunduh perangkat lunak Bitcoin Core dengan kekerasan. Jika penambang mengadopsi sikap “ikut saya atau cari yang lain” untuk memaksakan perubahan yang tidak diinginkan pada pengguna, maka pengguna mungkin akan beralih ke penyedia lain.
Pihak-pihak tersebut bukanlah penguasa yang sangat berkuasa, melainkan lebih sebagai penyedia layanan. Jika orang-orang memutuskan untuk tidak menggunakan jaringan, maka nilai kripto tersebut akan menurun. Penurunan nilai ini akan berdampak langsung pada penambang (reward yang diterima akan berkurang dalam nilai dolar). Sedangkan bagi pengembang, pengguna dapat dengan cepat mengabaikan perubahan yang mereka usulkan.
Jika diamati, perangkat lunak ini seolah-olah tidak dimiliki oleh siapa pun. Anda dapat mengubahnya sesuai keinginan, dan jika ada orang lain yang menjalankan perangkat lunak yang telah Anda modifikasi, semua pihak dapat berkomunikasi. Dalam hal ini, Anda melakukan fork terhadap perangkat lunak tersebut dan menciptakan jaringan baru.
Apa Itu Fork?
Fork perangkat lunak terjadi saat perangkat lunak disalin dan dimodifikasi. Proyek asli tetap ada, tetapi sekarang terpisah dari versi baru yang mengikuti arah yang berbeda. Misalnya, dalam tim situs web konten kripto favorit Anda, mungkin terjadi perbedaan pendapat besar tentang cara melakukan sesuatu. Salah satu bagian tim mungkin memutuskan untuk menduplikasi situs ke domain yang berbeda. Namun, di masa mendatang, keduanya akan memposting konten yang berbeda dari yang asli.
Proyek-proyek ini membangun fondasi dan sejarah yang sama. Sama seperti jalan yang kemudian terbagi menjadi dua, sekarang ada perbedaan permanen di setiap jalur.
Perlu dicatat bahwa ini sering terjadi dalam proyek open-source dan telah ada sejak lama sebelum munculnya Bitcoin atau Ethereum. Namun, perbedaan antara hard fork dan soft fork adalah sesuatu yang unik dan hanya terjadi dalam lingkungan blockchain. Mari kita bahas lebih lanjut.
Hard Fork vs Soft Fork
Meskipun memiliki nama yang mirip dan pada akhirnya mencapai tujuan yang sama, hard fork dan soft fork sangat berbeda. Mari kita bahas satu per satu.
Apa itu Hard Fork?
Hard fork adalah pembaruan perangkat lunak yang tidak kompatibel secara mundur atau backward-incompatible. Biasanya terjadi ketika node (simpul) menambahkan aturan baru yang bertentangan dengan aturan simpul yang lama. Node baru hanya dapat berkomunikasi dengan simpul lain yang menjalankan versi baru. Akibatnya, blockchain terbelah, menciptakan dua jaringan yang terpisah: satu dengan aturan lama dan satu dengan aturan baru.
Node menjadi biru saat diperbarui. Node lama yang berwarna kuning menolaknya, sedangkan yang biru saling terhubung. Sumber: Binance Academy.
Sekarang ada dua jaringan yang berjalan secara paralel. Keduanya akan terus menyebarkan blok dan transaksi, tetapi tidak lagi beroperasi di blockchain yang sama. Semua simpul memiliki blockchain yang identik sampai titik fork (dan sejarahnya tetap sama), tetapi setelah itu, blok dan transaksi akan berbeda di masing-masing jaringan.
blockchain mengalami fork di blok 600.000. Sumber: Binance Academy.
Karena ada sejarah yang sama, Anda akan memiliki koin di kedua jaringan jika Anda menyimpannya sebelum fork terjadi. Misalnya, jika Anda memiliki 5 BTC ketika fork terjadi pada Blok 600.000, Anda dapat menghabiskan 5 BTC tersebut di rantai lama pada Blok 600.001, tetapi koin tersebut belum dihabiskan di Blok 600.001 di rantai baru. Dengan asumsi kriptografi tidak berubah, kunci pribadi Anda masih akan memiliki lima koin di jaringan baru yang terbentuk setelah fork.
Contoh konkret dari hard fork adalah fork yang terjadi pada Bitcoin pada tahun 2017, yang membagi menjadi dua rantai terpisah: yang asli, Bitcoin (BTC), dan yang baru, Bitcoin Cash (BCH). Fork tersebut terjadi setelah terjadi banyak perdebatan tentang pendekatan terbaik untuk meningkatkan skalabilitas. Para pendukung Bitcoin Cash ingin meningkatkan ukuran blok, sementara pendukung Bitcoin menentang perubahan tersebut.
Peningkatan ukuran blok memerlukan modifikasi aturan. Sebelum adanya soft fork SegWit (akan dibahas sebentar lagi), node hanya akan menerima blok dengan ukuran maksimum 1MB. Jika Anda membuat blok 2MB yang secara teknis valid, simpul lain masih akan menolaknya. Hanya simpul yang telah memperbarui perangkat lunaknya untuk menerima blok dengan ukuran lebih dari 1MB yang akan menerima blok-blok tersebut. Tentu saja, ini membuat simpul tersebut tidak kompatibel dengan versi sebelumnya, sehingga hanya simpul dengan protokol yang sama yang dapat berkomunikasi satu sama lain.
Apa itu Soft Fork?
Soft fork adalah peningkatan perangkat lunak yang kompatibel secara mundur atau backward-compatible, yang berarti simpul yang telah ditingkatkan masih dapat berkomunikasi dengan simpul yang tidak ditingkatkan. Biasanya, dalam soft fork, aturan baru ditambahkan yang tidak bertentangan dengan aturan lama.
Misalnya, pengurangan ukuran blok dapat diimplementasikan melalui soft fork. Mari kita gunakan kembali Bitcoin sebagai contoh: meskipun ada batasan pada ukuran blok, tidak ada batasan pada seberapa kecilnya. Jika Anda hanya ingin menerima blok dengan ukuran di bawah ambang tertentu, Anda hanya perlu menolak blok dengan ukuran yang lebih besar.
Namun, ini tidak secara otomatis memisahkan Anda dari jaringan. Anda masih dapat berkomunikasi dengan simpul yang tidak menerapkan aturan tersebut, tetapi Anda memfilter sebagian informasi yang mereka berikan kepada Anda.
Contoh konkret yang baik dari soft fork adalah fork Segregated Witness (SegWit) yang telah disebutkan sebelumnya. SegWit adalah pembaruan yang mengubah format blok dan transaksi, tetapi dibuat dengan cerdik. Simpul lama masih dapat memvalidasi blok dan transaksi (formatnya tidak melanggar aturan), tetapi tidak akan sepenuhnya memahami elemen-elemen baru yang ditambahkan. Beberapa bidang hanya dapat dibaca oleh simpul yang telah beralih ke perangkat lunak yang lebih baru, yang memungkinkan simpul tersebut memahami data tambahan.
Bahkan dua tahun setelah SegWit diaktifkan, belum semua simpul ditingkatkan. Ada keuntungan untuk melakukannya, tetapi tidak ada urgensi, karena tidak ada perubahan yang berpotensi memecah jaringan.
Perbedaan Antara Hard Fork dan Soft Fork: Mana yang Lebih Baik?
Pada dasarnya, kedua jenis fork di atas memiliki tujuan yang berbeda. Hard fork yang kontroversial dapat memecah komunitas, tetapi hard fork yang direncanakan memberikan kebebasan untuk memodifikasi perangkat lunak dengan persetujuan semua pihak.
Soft fork merupakan pilihan yang lebih ramah. Secara umum, Anda memiliki batasan dalam hal apa yang dapat dilakukan karena perubahan baru tidak boleh bertentangan dengan aturan yang sudah ada. Oleh karena itu, jika pembaruan dapat dirancang sedemikian rupa sehingga tetap kompatibel, Anda tidak perlu khawatir tentang terpecahnya jaringan.
Kesimpulan
Hard fork dan soft fork memiliki peranan yang sangat penting dalam keberhasilan jangka panjang jaringan blockchain. Keduanya membantu kita dalam membuat perubahan dan peningkatan dalam sistem terdesentralisasi, meskipun tanpa adanya otoritas pusat.
Fork membantu blockchain dan kripto untuk mengintegrasikan fitur-fitur baru saat dikembangkan. Tanpa mekanisme ini, kita akan membutuhkan sistem yang terpusat dengan kendali dari atas. Jika tidak, kita akan terjebak dengan aturan yang sama selamanya.
2022 mungkin menjadi tahun yang cukup sulit dan penuh gejolak untuk perkembangan pasar kripto, web3 dan blockchain. Namun memasuki tahun 2023, harapan adopsi kripto dan blockchain kembali meningkat.
Seperti diketahui, banyak entitas yang mengadopsi teknologi blockchain, web3, dan kripto yang gagal atau berjuang untuk tetap bertahan. Banyak orang yang menganggap ini adalah proses yang dramatis dan diperlukan untuk kematangan keseluruhan sistem.
Meskipun demikian, keyakinan teknologi Web3 yang muncul dari musim dingin kripto ini akan mengubah segalanya terus ada. Web3 mewakili evolusi pertukaran informasi berikutnya.
Teknologi Blockchain akan menghadirkan cara baru untuk berinteraksi dengan internet dan secara mendasar akan mengubah cara kita terlibat satu sama lain. Berikut adalah beberapa prediksi untuk apa yang dapat kita lihat di sisi lain pada tahun 2023, menurutCointelegraph.
Pendanaan modal ventura kripto akan terus menurun hingga paruh pertama tahun 2023, tetapi itu belum tentu merupakan hal yang buruk. Investor tidak ingin terjerumus, jadi mereka menunggu hal-hal mencapai titik terendah sambil juga mempertimbangkan kekhawatiran ekonomi makro yang lebih luas dan risiko resesi global.
2. Banyak Brand Masuk ke Web3
Pada tahun 2023, banyak brand seperti Nike, Starbucks, dan Meta akan terus bereksperimen di Web3, dengan fokus berkelanjutan pada non-fungible token (NFT) sebagai format pilihan, dan dengan penekanan pada akuisisi dan keterlibatan pelanggan melalui monetisasi.
3. Pengembangan Aplikasi dan Game Web3
Karena biaya pengembangan aplikasi dan game Web3 turun dan biaya akuisisi pengguna naik, akan ada penekanan pada kualitas dan penemuan. Ini akan menciptakan pertumbuhan yang tidak terlalu signifikan. Seiring waktu, pengembang game maupun aplikasi akan mempelajari kembali, menciptakan platform yang sehat dan bertanggung jawab.
Web3 akan terus menawarkan ceruk keuntungan yang solid, dengan aplikasi yang secara fungsional merupakan tiruan dari bisnis yang ada, tetapi dengan beberapa komponen dasar blockchain. Aplikasi ini akan mengukir ceruk pasar pengguna yang menginginkan penawaran produk inti tradisional yang sama tetapi memiliki ketertarikan pada Web3, mirip dengan banyak perusahaan internet awal, seperti Amazon.
Stablecoin akan menemukan lebih banyak kasus penggunaan di luar pasar kripto, yang akan mendorong adopsi yang lebih umum — terutama di kalangan bisnis — dan inovasi dalam web3. Penelitian dan pengembangan blockchain oleh pemerintah dan swasta akan berlanjut, dengan beberapa mengumumkan infrastruktur publik terpusat seperti central bank digital currencies (CBDC) atau infrastruktur pasar.
Terlepas dari kondisi ekonomi makro yang sulit, peningkatan investor kripto global telah signifikan pada tahun 2022. Jumlah pemilik aset kripto melampaui angka 400 juta pada November 2022, mencapai 402 juta. Bagaimana potensi pertumbuhan investor kripto di tahun 2023?
Menurut laporan Crypto.com, tingkat pertumbuhan bulanan rata-rata dalam adopsi sepanjang tahun adalah 2,9%. Mengingat tahun 2022 adalah salah satu tahun terburuk bagi industri, pertumbuhannya patut dipuji.
Studi mencatat bahwa pada tahun 2023, investor atau pemilik aset kripto global dapat mencapai 600-800 juta, hampir dua kali lipat jumlahnya.
Pertumbuhan investor kripto global sampai November 2022. Sumber: Crypto.com.
Laporan Crypto.com juga mengungkap pertumbuhan sektor blockchain. Studi menyoroti bahwa kita dapat melihat beberapa judul game blockchain AAA dalam beberapa tahun mendatang.
Game Blockchain adalah salah satu sektor yang paling tidak terpengaruh dalam koreksi pasar tahun 2022. Ini dikaitkan dengan fakta bahwa industri game lebih melayani inovasi daripada menghasilkan keuntungan.
Selain itu, laporan tersebut menyebutkan kemungkinan pendorong pasar lainnya yang mungkin adalah meningkatnya jumlah aplikasi untuk Soulbound Token (SBT). SBT adalah NFT yang tidak dapat dialihkan dan tidak dapat diperdagangkan (token yang tidak dapat dipertukarkan). SBT terkait dengan orang atau benda tertentu.
Pada tahun 2023, Crypto.com mengantisipasi penekanan yang lebih besar pada edukasi dan keamanan pengguna. Kita mungkin melihat lebih banyak investasi dalam sertifikasi dan audit keamanan pada tahun 2023. Namun, perusahaan juga berharap untuk melihat lebih banyak program edukasi diluncurkan di bidang ini, mengikuti tren dari tahun 2022.
Crypto.com juga mencatat area lain yang dapat melihat pertumbuhan di tahun depan. Diantaranya adalah adopsi bukti zk (zero knowledge), aplikasi DeFi berbasis utilitas, dan infrastruktur blockchain baru. Studi ini juga menyoroti peningkatan yang diharapkan dalam investasi institusional di sektor kripto, yang terpukul pada tahun 2022.
Namun, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari tahun ini. Dengan berakhirnya bencana tahun 2022, tahun yang akan datang bisa berubah menjadi tahun untuk pertumbuhan dan perkembangan.
LINE Corporation terus memperdalam bisnisnya di dunia blockchain dan kripto. Perusahaan yang punya aplikasi chat LINE ini sedang mengembangkan jaringan blockchain bernama “Finschia.”
LINE Tech Plus, anak perusahaan LINE Corporation dan pengelola bisnis yang terkait dengan kripto dan blockchain, mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan “Finschia,” sebuah mainnet blockchain yang disebut perusahaan sebagai generasi ketiga, untuk membantu pengembang lebih mudah mengelola program mereka dan mendukung smart contract.
Mainnet saat ini hanya mendukung token LINK (LN), tetapi di masa depan akan lebih banyak token dan fitur akan diperkenalkan. Dengan mainnet yang sekarang aktif, LINE telah resmi menjadi platform terdesentralisasi yang menawarkan media sosial dan layanan pembayaran.
LINE Tech Plus, anak perusahaan LINE Corporation mengumumkan peluncuran mainnet blockchain Finschia. Sumber: LINE Corporation.
Peluncuran mainnet blockchain Finschia menandai langkah lain menuju realisasi rencana besar perusahaan untuk membuat layanan terdesentralisasi dapat diakses oleh semua orang. Selain itu, dengan peluncuran ini LINE memantapkan dirinya sebagai pesaing langsung Ethereum dalam pengembangan dApps.
“Kami sangat senang memperkenalkan Finschia, di mana kami dapat bekerja sama dengan pengembang lain untuk membuka kemungkinan jaringan blockchain kami,” kata CEO LINE NEXT, Youngsu Ko.
“Kami berharap dapat menciptakan ekosistem blockchain baru dan memperluas ekonomi token LINE berdasarkan LINK aset kripto.”
Finschia telah menambahkan banyak fitur untuk meningkatkan fungsionalitas, kecepatan, dan stabilitas. Ia menggunakan Ostracon, algoritma konsensusnya sendiri, yang menambahkan VRF (Verifiable Random Function) ke algoritma konsensus Cosmos.
Dengan peningkatan ini, Finschia 400 kali lebih cepat dalam kecepatan perdagangan dan mengurangi biaya hingga 98% dibandingkan dengan Ethereum. Selain itu, Finschia telah memperkenalkan penghargaan berbasis kontribusi, di mana pengguna dan pengembang dapat menerima penghargaan berdasarkan kontribusi mereka untuk memperluas ekosistem blockchain.
Keunggulan
LINE Tech Plus, anak perusahaan LINE Corporation mengumumkan peluncuran mainnet blockchain Finschia. Sumber: LINE Corporation.
Dengan peluncuran ini, LINE bermaksud untuk mendekatkan diri ke para pengembang blockchain, untuk mengenalkan keunggulannya yang mudah dalam mengembangkan dApps.
Melalui Finschia, pengembang dapat berkolaborasi dengan layanan LINE dan menggunakan sumber daya yang dimiliki LINE untuk mengembangkan layanan blockchain yang mudah digunakan.
LINE telah mengembangkan ekosistem blockchain sejak 2018 melalui pengenalan layanan seperti LINK kripto, layanan perdagangan aset kripto, wallet, dan NFT marketplace.
Goldman Sachs, salah satu perusahaan perbankan investasi dengan pendapatan terbesar di dunia, dilaporkan telah menyiapkan sejumlah dana untuk berinvestasi di ruang kripto dan blockchian.
Langkah ini dilakukan melihat pasar kripto masih memiliki potensi besar untuk terus tumbuh, meski telah mengalami beberapa fase turbulen selama bertahun-tahun. Namun, yang sedang berlangsung tampaknya menjadi yang paling bergejolak hingga saat ini.
Seperti kartu domino, perusahaan-perusahaan runtuh satu demi satu. Dengan perusahaan-perusahaan di industri kripto masih berusaha menemukan langkah mereka pasca episode FTX.
Percaya Industri Kripto
Goldman Sachs dilaporkan mencari uang “puluhan juta dolar” untuk membeli atau berinvestasi di perusahaan kripto. Mathew McDermott, Kepala Aset Digital Goldman Sachs, mengatakan kepada Reuters bahwa disintegrasi FTX menambah kebutuhan akan pemain kripto yang lebih tepercaya dan teregulasi.
McDermott menambahkan bahwa bank-bank besar melihat peluang untuk mengangkat bisnis. Tanpa memberikan nama spesifik, eksekutif tersebut mengungkapkan bahwa Goldman sedang melakukan uji tuntas pada sejumlah perusahaan kripto yang berbeda.
Selain itu, dalam sebuah wawancara bulan lalu, McDermott mengatakan bahwa perusahaan melihat “beberapa peluang yang sangat menarik, dengan harga yang jauh lebih masuk akal.”
Investasi Optimal
Goldman Sachs telah berinvestasi di 11 perusahaan aset digital yang menyediakan layanan mulai dari kepatuhan dan data aset kripto hingga manajemen blockchain. Perusahaan juga meluncurkan layanan data datanomy dengan MSCI dan Coin Metrics untuk mengklasifikasikan aset digital berdasarkan cara penggunaannya.
“Ini pasti membuat pasar kembali dalam hal sentimen, sama sekali tidak ada keraguan tentang itu. FTX adalah anak poster di banyak bagian ekosistem. Tetapi untuk menegaskan kembali, teknologi yang mendasarinya terus bekerja,” kata McDermott dikutip Watcher Guru.
Ia melanjutkan untuk menyoroti bahwa keruntuhan FTX mendorong volume perdagangan Goldman Sachs. Terlebih lagi, karena investor ingin berdagang dengan rekanan yang teregulasi dan bermodal besar.
“Yang meningkat adalah jumlah lembaga keuangan yang ingin berdagang dengan kami. Saya menduga beberapa dari mereka berdagang dengan FTX, tapi saya tidak bisa mengatakannya dengan pasti.”
Paralelnya, Goldman Sachs juga melihat peluang perekrutan karena perusahaan kripto dan teknologi memberhentikan staf, meskipun bank senang dengan ukuran timnya untuk saat ini.
Pabrikan mobil sport, Porsche mulai bergerak untuk secara resmi masuk ke industri blockchain dan meluncurkan rencana awal untuk masa depannya di dunia web3. Sebagai langkah pertama, Porsche dikabarkan akan merilis koleksi NFT pertamanya.
Proyek web3 pertama yang direncanakan Porsche adalah koleksi NFT 7.500 bagian berdasarkan model Porsche 911 klasik. NFT dijadwalkan akan dirilis pada Januari 2023, dan Hamburg designer serta artis 3D, Patrick Vogel akan membuat setiap bagian dari koleksi tersebut.
Setelah melakukan pembelian, pemegang akan membantu membentuk desain NFT masing-masing. Secara khusus, individu akan dapat memilih “route” atau kategori untuk NFT mereka — Performance, Lifestyle, atau Heritage.
Setiap route mewujudkan aspek tertentu dari identitas merek premium Porsche dan akan memengaruhi keseluruhan desain dan karakter NFT. Selama beberapa bulan berikutnya, Vogel akan bekerja dengan masukan pengguna ini yang berasal dari penjualan awal untuk menyiapkan setiap NFT sebagai aset 3D khusus di Unreal Engine 5.
Selain membantu membentuk estetika NFT mereka, pemilik juga akan mendapatkan akses eksklusif ke pengalaman di dunia maya dan nyata. Namun, koleksi NFT ini hanyalah awal dari rencana Web3 Porsche.
“Kami telah membuat komitmen untuk jangka panjang, dan tim Web3 kami juga memiliki kebebasan untuk mengembangkan inovasi dalam dimensi ini,” kata Lutz Meschke, Porsche’s Deputy Chairman dan anggota dewan eksekutif untuk keuangan dan TI.
Porsche juga bekerja untuk mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam proses yang ada (dan yang akan datang). Secara khusus, perusahaan mencatat bahwa tim manajemen inovasi melihat janji dalam memindahkan pengalaman pembelian dan rantai pasokan ke Web3. Masalah kendaraan dan keberlanjutan juga sedang dieksplorasi.
Deniz Keskin, Direktur Manajemen Merek dan Kemitraan Porsche, mencatat bahwa Web3 menawarkan cara bagi perusahaan untuk memberikan pengalaman digital baru kepada konsumennya. Terlebih lagi, NFT dan teknologi Web3 lainnya memperluas proses kreatif, memungkinkan merek untuk berkreasi bersama dengan pelanggan mereka dan memberikan lebih banyak pengalaman yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
“Bertualang ke area baru selalu menjadi semangat merek kami,” kata Keskin.
“Kami sangat senang memasuki Web3 dengan koleksi NFT pertama kami. Tujuan kami adalah perluasan merek kami ke lingkungan yang sepenuhnya digital. Dan idealnya, untuk bertemu teman baru di sepanjang jalan.”
World Blockchain Summit akan kembali digelar pada akhir tahun 2022. Salah satu acara konferensi blockchain terbesar ini akan diselenggarakan di Bangkok pada tanggal 8-9 Desember mendatang.
World Blockchain Summit edisi ke-23 nanti akan mengeksplorasi tren terbaru dalam lingkup blockchain, kripto, dan web3. Para pakar, pengusaha, dan investor terkemuka di industri blockchain akan berkumpul dan berbagi pengetahuan serta membangun jaringan.
Nicole Nguyen, Co-founder, APAC DAO, mengatakan World Blockchain Summit edisi Bangkok bertujuan untuk menjadi penghubung bagi semua pemangku kepentingan penting dari ekosistem blockchain, kripto, dan web3. Seluruh stakeholders, investor, perusahaan dapat membahas dan mempertimbangkan masa depan industri blockchain yang secara revolusioner dapat mengubah bisnis dan fungsi pemerintah.
“Bangkok dan WBS selalu menjadi jantung dari gerakan web3 di APAC dan sebagai komunitas web3 terkemuka di Asia, APAC DAO tertarik untuk berjejaring dan mengeksplorasi potensi kolaborasi dengan mitra global dan pemimpin bisnis untuk menjadi landasan peluncuran terkemuka untuk pembuat web3 di wilayah ini,” kata Nguyen dalam pernyataan resminya.
Thailand sendiri mencatat US$ 135,9 miliar dalam nilai kripto yang ditransaksikan sepanjang tahun dan muncul sebagai salah satu pusat perdagangan kripto di ASEAN.
WBS Bangkok 2022 akan mengumpulkan para tokoh terkemuka dari ruang blockchain global dan regional. Beberapa tokoh yang berbicara dalam acara tersebut antara lain:
Jirayut Srupsrisopa, Pendiri dan CEO Grup, Bitkub Capital Group Holdings Co., Ltd;
Sanjay Popli, CEO, Grup Cryptomind, Penasihat, Asosiasi Aset Digital Thailand;
Daniel Oon , Kepala DeFi, Algorand Foundation;
Kanyarat Saengsawang, Kepala Pertumbuhan, The Sandbox;
“Saya menantikan untuk terhubung dengan para pemimpin pasar dan komunitas yang lebih luas, di acara utama blockchain di Asia Tenggara untuk tahun 2022.” kata Toby Gilbert, Cofounder & CEO, Coinweb, salah satu pembicara di WBS Bangkok 2022.
Mohammed Saleem, Founder & CEO, World Blockchain Summit menyatakan “Dengan adopsi global teknologi blockchain yang memiliki dampak signifikan pada setiap sektor bisnis dan industri, Thailand muncul sebagai pemimpin kripto di pasar ASEAN, kami bermaksud untuk menyatukan para pecinta kripto di konferensi dua hari dengan tujuan ‘Fostering the Future of Web 3.0’.”
Bagi kamu yang tertarik untuk menghadiri World Blockchain Summit Bangkok 2022 bisa mendapatkan diskon atau potongan harga tiket sebesar 15% dengan memasukan kode voucher TOKCRYP15. Link pembelian tiket bisa akses di sini.