Tag: crypto

  • Harga Bitcoin Bisa Gagal Menjadi US$ 13 Ribu, Ini Syaratnya

    Bearish pasar kripto yang kembali mendominasi telah membawa prediksi harga Bitcoin untuk jatuh ke US$13.000. Tetapi, ini masih bisa gagal meski peluangnya rendah.

    Analis veteran dan trader senior, Peter Brandt, telah secara akurat memprediksi kejatuhan harga dari Ether (ETH), ke US$ 1.200, saat harganya masih berada di kisaran US$ 1.800.

    Tentu saja, ini membawa para pengikutnya di Twitter untuk melirik prediksinya pada harga Bitcoin (BTC), yang ia lihat memiliki potensi untuk jatuh lebih dalam, ke US$ 13.000.

    Baca Juga: Nasib Harga Bitcoin dan Kripto Lain Ditentukan Hari Ini, Akankah Suku Bunga Acuan di AS Naik Lebih Agresif?

    Harga Bitcoin Bisa Sentuh US$ 13.000?

    Pasar kripto kian merana sejak bank sentral AS, the Fed, mengambil kebijakan yang agresif dalam menaikan suku bunga, pengetatan kuantitatif, serta melepas aset seperti obligasi.

    Ini semakin memperparah arus bearish yang tercipta sejak November 2021 di pasar kripto, yang relasinya kian kuat dengan pasar saham saat selera risiko kian padam.

    Investor semakin ketakutan akan prospek inflasi, bahkan hiper-inflasi, yang membuat banyak uang lari ke dolar AS. Indeks dari mata uang AS ini pun melesat ke level tertinggi 20 tahun karena langkah agresif the Fed.

    Di tengah lesunya pasar kripto, Peter Brandt, yang menjadi salah satu analis popular di Twitter, memiliki pandangan baru terhadap harga Bitcoin.

    Menurut analisis teknikalnya, harga kripto utama ini dapat jatuh ke US$ 13.000, namun masih ada peluang untuk tidak terjadi, meski tipis sekali peluangnya.

    Baca Juga: Mengenal Aset Kripto Ontology Gas (ONG) dan VIDT Datalink (VIDT)

    Menurut Peter, kejatuhan ini akan gagal jika harga berhasil menutup weekly candle di atas level tertinggi di 31 Mei, di sekitar US$ 32.206.

    Tentu saja, ini terlihat sangat sulit digagalkan karena harga, pada saat penulisan, masih berada di bawah US$ 25.000. Butuh upaya ekstra untuk dapat menutup di atas target yang dibicarakan.

    Juga, Peter berpendapat bahwa pola double top pada puncak harga BTC saat ini bersifat masif. Artinya, kejatuhan yang dibentuk setelahnya akan sangat kuat secara teknikal, sehingga US$ 13.000 menjadi target potensial karena berasal dari lower high sebelumnya.

    Selain Peter, beberapa pengamat juga melihat BTC dapat jatuh lebih rendah hingga ke US$ 18.000 sampai US$ 11.000.

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO Binance: Musim Dingin Kripto Potensi Baik untuk Bisnis

    Market aset kripto sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Banyak analis bilang musim dingin kripto sudah terjadi. Namun, CEO Binance, Changpeng Zhao, menyebut situasi ini baik untuk bisnis di masa depan.

    Pasar kripto terus menggelepar dalam angin puyuh ketakutan inflasi dan ketidakpastian ekonomi dengan Bitcoin, Ethereum dan kripto lainnya sedang berjuang untuk mendapatkan kembali kekuatan yang mereka hilangkan dalam aksi jual dramatis dalam beberapa hari terakhir.

    Bitcoin baru-baru ini diperdagangkan di bawah US$ 22.000 turun sekitar 2% selama 24 jam terakhir. Penurunan tersebut merupakan kerugian hari kedelapan berturut-turut Bitcoin. Bitcoin telah turun hampir 30% dari nilainya selama sebulan terakhir. Nilai kapitalisasi pasar kripto pun anjlok lebih dari US$ 1 triliun.

    Melihat kondisi market kripto seperti ini, CEO Binance, Changpeng Zhao, yang akrab disapa “CZ,” mengatakan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa musim dingin kripto potensi baik untuk bisnis.

    Ilustrasi Binance
    Ilustrasi Binance. Foto: Shutterstock.

    Baca juga: Mengenal Kripto Paris Saint-German Fan Token (PSG) dan Beam (BEAM)

    Strategi Binance saat Bear Market

    Ketika ditanya bagaimana Binance akan berjalan selama musim dingin kripto saat ini menyusul laporan pembekuan perekrutan karyawan di Gemini dan Coinbase, dia menjawab dengan percaya diri.

    “Ini bukan pertama kalinya kami melewati musim dingin kripto. Jika kita berada di musim dingin kripto, itu akan menjadi yang ketiga dan kedua bagi Binance. Jadi ini bukan pertama kalinya kami mengalami ini,” katqa CZ dikutip Cointelegraph.

    Menurut Zhao, saat ini Binance yang merekrut staf baru selama bear market untuk mengambil keuntungan dari kemungkinan bull market berikutnya. “Saat ini jauh lebih baik untuk merekrut, selama pasar bullish, setiap orang memulai proyek mereka sendiri, dan setiap orang dibayar dengan jumlah kompensasi yang di luar akal sehat.”

    “Sekarang pasar lebih seimbang, jadi talenta terbaik tersedia, dan kami ingin merekrut mereka.”

    CEO Binance, Changpeng Zhao

    Ilustrasi Binance
    Ilustrasi Binance. Foto: SOPA IMAGES/LIGHTROCKET VIA GETTY IMAGES.

    Baca juga: CEO MicroStrategy Tepis Isu Margin Call saat Bitcoin Anjlok ke US$ 21.000

    Dunia kripto telah menderita melalui periode penurunan beberapa minggu terakhir ini, tetapi bos Binance masih merekomendasikan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat bagi perusahaan untuk memperluas bisnis dan merekrut talenta terbaik.

    Changpeng melanjutkan dengan menyatakan, “Binance selalu sangat hemat dalam pengeluaran besar, kami tidak mensponsori Super Bowl,” dan “kami tidak membeli hak nama stadion.”

    Sementara itu, banyak perusahaan exchange kripto, seperti Coinbase dan Gemini telah membekukan penerimaan karyawan baru dan melakukan PHK sebagian kecil pegawainya. Perusahaan seperti Crypto.com dan BlockFi juga telah memberhentikan lebih dari 5% karyawan mereka karena kondisi pasar. Platform perdagangan Robinhood juga memecat 9% stafnya pada bulan April lalu.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO MicroStrategy Tepis Isu Margin Call saat Bitcoin Anjlok

    Perusahaan MicroStrategy disinyalir akan mengalami margin call pada nominal sebesar US$ 205 juta. Kemungkinan ini bisa terjadi apabila jika BTC jatuh lebih jauh pada angka yang dikhawatirkan. Akan tetapi, CEO Michael Saylor telah memberikan pernyataan bahwasanya perusahaan “siap untuk HODL bila skenario buruk terjadi”.

    HODL sendiri merupakan langkah untuk menahan aset merujuk pada strategi buy and hold di kalangan investor kripto.

    Klaim yang sama juga datang dari Chief Technology Officer (CTO) MicroStrategy, Phong Lee pada awal bulan lalu. Ia meyakinkan kepada para pemegang aset Bitcoin tidak perlu khawatir saat datangnya “musim dingin kripto”.

    “Sebutulnya Bitcoin harus terjun hingga setengah harga atau sekitar US$ 21.000 sebelum kita mengalami margin call,” ungkap Lee kepada investor saat rapat triwulan, Rabu (15/6).

    Namun, pada kenyataannya pagi ini harga Bitcoin sempat meluncur turun dan berada di bawah angka US$ 21.000. Penurunan ini sendiri merupakan yang terendah selama 52 minggu, sebelum naik lagi pada angka US$ 22.260 saat tulisan ini terbit.

    Baca juga: Mengenal Kripto Paris Saint-German Fan Token (PSG) dan Beam (BEAM)

    Penurunan ini memaksa MicroStrategy untuk mengambil pinjaman dari Silvergate Bank sebesar US$ 205 juta pada Maret lalu hanya untuk menimbun Bitcoin. Jika harga BTC jatuh dan berada di bawah US$ 21.000 untuk periode yang lama, maka hal tersebut akan memicu margin call pada pinjaman MicroStrategy.

    Saat skenario tersebut benar-benar terjadi, maka perusahaan menurunkan puluhan ribu Bitcoin ke pasar pada posisi bearish. Dari laporan pendapatan terbaru, saat ini MicroStrategy tengah memegang aset investor sebesar 129.218 BTC.

    Kendati demikian, Michael Saylor selaku CEO MicroStrategy lewat media sosial Twitter menyatakan, dirinya bakal menggandakan permainan Bitcoin dalam perusahaannya. Dia mengatakan bahwa perusahaannya akan menghadapi badai pasar ini dengan tingkat keparahan yang jauh lebih besar.

    Sementara itu, pinjaman di Silvergate Bank sendiri meminta jaminan sebesar US$ 410 juta. Saylor juga menjelaskan, bahkan jika harga Bitcoin anjlok di bawah harga US$ 21.000 dan memicu margin call, MicroStrategy masih memiliki aset BTC tambahan yang cukup sebagai jaminan.

    Pasokan BTC itu tidak akan cukup untuk menjaminkan pinjaman jika harga BTC turun ke angka US$ 3.562.

    “Dalam peristiwa seperti ini, perusahaan MicroStategy memiliki jaminan lebih lanjut untuk kedepannya,” ujarnya.

    Baca juga: Peningkatan Suku Bunga Fed Diisukan Segera Datang, Ini Dampak ke Bitcoin

    Faktanya, dalam jarak satu bulan lalu CTO MicroStrategy meyakinkan pemegang saham bahwa peristiwa seperti hari ini tidak akan pernah datang. Hal tersebut tidak sesuai dengan votalitas saat ini dan ketidakpastian kapan aset BTC akan berada pada titik terendah.

    Bila harga Bitcoin semakin turun dan MicroStrategy tidak dapat mempertahankan US$ 410 juta dalam bentuk pinjaman, maka perusahaan terpaksa menjual Bitcoin dalam jumlah besar sekaligus mengembalikan pinjaman.

    Hal itu akan membuat harga keuangan kripto akan menjadi lebih anjlok dan berpotensi menyebabkan efek riak di pasar dengan skala yang lebih luas.

    Tetapi, Saylor dan MicroStrategy tetap pada keyakinannya, setidaknya di publik bahwa hari itu tidak akan pernah datang. Pasar pun akhirnya memberikan perhatian, dengan naiknya saham perusahaan hampir 3 persen hari ini, setelah terjun bebas 54 persen selama kehancuran kripto bulan lalu.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Peningkatan Suku Bunga Fed Segera Datang, Ini Dampak ke Bitcoin

    The Fed atau dikenal bank sentral AS diisukan bakal kembali meningkatkan suku bunga untuk kedua kalinya secara berturut-turut sebanyak setengah poin persentase.

    Peningkatan suku bunga ini dapat terjadi, saat melonjaknya harga konsumen. Lonjakan ini berujung pada peningkatan data rumah tangga dan faktor lainnya, yang menjadi indikasi jelas bahwa suku bunga akan naik lagi.

    Hal tersebut diperkuat saat Ketua The Fed, Jerome Powell tidak dapat memberikan pernyataan kemenangan melawan inflasi. Kabar tersebut diketahui setelah data konsumen naik lebih dari ekspektasi, yakni sebesar 8,6 persen dalam data year-to-year.

    “The Fed perlu menunjukkan tekad. Mereka tidak boleh terlihat kurang yakin untuk mengatasi inflasi yang membandel dan terus-menerus ini. Dua pertemuan berikutnya harus menjadi kenaikan setengah poin.” ungkap Kepala Strategi Ekuitas The Private Bank di Union Bank, Todd Lowenstein.

    Baca juga: USDD Tron Turun dari $ 1, Ikuti Jejak UST?

    Namun, the Fed menurut beberapa pihak tidak harus agresif, seperti beberapa waktu lalu melakukan pelepasan aset seperti obligasi. Selain itu, the Fed juga meningkatkan pencetakan uang dan suku bunga. Ini merupakan langkah “gila” yang dilakukan untuk mencoba melawan inflasi di depan mata.

    Kekhawatiran pun datang dari segala sisi, yang mengklaim bahwa menaikkan suku bunga justru bukan sebuah jawaban untuk inflasi. Hal ini, justru hanya akan menjatuhkan ekonomi AS lebih keras. Di samping itu, hiperinflasi pun juga dinilai menjadi kekhawatiran tersendiri.

    Apakah Bitcoin akan Merosot?

    Ketika kenaikan suku bunga telah diterapkan, serta data AS menunjukkan sikap The Fed yang lebih agresif, maka selera risiko global akan menyusut.

    Kenaikan ini akan berpengaruh pada minat pada pasar aset berisiko, seperti saham dan aset kripto. Kedua asset ini diperkirakan akan jatuh sehingga menyeret harga Bitcoin dan altcoin ke bawah. Semakin rendah dan terpuruk tanpa ada kejelasan kapan bottom akan tercipta.

    Selama isu kenaikan suku bunga berlanjut, maka pasar kripto diperkirakan akan kembali melemah. Titik balik kebangkitan kripto baru bisa dilihat saat The Fed mereda, atau bahkan ketika dolar AS akhirnya jatuh.

    Baca juga: Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

    Perusahaan infrastruktur pertambangan dan jaringan Bitcoin, Blockware Solutions, merilis hasil riset yang menyebutkan di tahun 2030 10% penduduk dunia akan mempunyai atau mengadopsi Bitcoin. 

    Pertumbuhan adopsi Bitcoin diprediksi akan lebih cepat dari perkiraan sejumlah ahli. Bahkan, hasil riset tersebut meneybutkan bahwa pertumbuhan adopsi BTC akan lebih kencang dari penggunaan internet. 

    Dalam laporan yang dirilis pada Rabu, 8 Juni 2022,  perkiraan ini dihitung berdasarkan kurva adopsi dari sembilan jenis kategori teknologi disruptif. Diantaranya, mobil, tenaga listrik, smartphone, internet dan media sosial. Laporan ini pun menghitung kurva adopsi BTC sejak tahun 2009.

    “Semua teknologi yang mendisrupsi mengikuti pola kurva S eksponensial yang serupa, tetapi […] teknologi berbasis jaringan yang lebih baru terus diadopsi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan pasar,” tulis laporan tersebut. 

    Sumber: Blockware Solutions

    Baca juga: Mengenal Aset Kripto Ontology Gas (ONG) dan VIDT Datalink (VIDT)

    Berdasarkan metrik Cumulative Sum of Net Entities Growth (CAGR) dan prediksi Bitcoin, laporan tersebut memperkirakan dalam 8 tahun ke depan 10% penduduk bumi atau sekitar 780 juta jiwa (berdasarkan jumlah perkiraan penduduk bumi 2022: 7,8 milyar) akan memilki Bitcoin.

     “CAGR 60% kami memperkirakan bahwa adopsi Bitcoin global akan menembus 10% pada tahun 2030,” tulis laporan itu. 

    Prediksi terkait kurva adopsi BTC pun sebelumnya pernah dilakukan oleh sejumlah lembaga dan analis. Salah satu yang dibuat oleh mantan karyawan Google, Michael Levin.

    Levin mengatakan, dalam 12 tahun  mendatang, mengutip laporan Visbitcoin, BTC akan mencapai 1 miliar pengguna pada tahun 2025. Prediksi serupa telah dibuat oleh analis Willy Woo. Mereka berdua setuju bahwa Bitcoin akan mencapai tonggak sejarah 1 miliar penggunanya dalam rentang waktu lebih cepat setengahnya dari pertumbuhan pengguna internet. 

    Sumber: Visbitcoin melalui Michael Levin

    Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

    Pertumbuhan Pengguna BTC Berkembang Pesat

    Adopsi aset kripto telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Menurut data dari TripleA, gateway pembayaran aset kripto global, pada tahun 2021, tingkat penggunaan aset kripto global mencapai rata-rata 3,9%, atau sekitar 300 juta pengguna. di seluruh dunia, 

    Se,entara itu, platform data blockchain, Chainalysis tahun lalu mengungkapkan bahwa adopsi global Bitcoin dan aset kripto melonjak 881% dari Juli 2020 hingga Juni 2021. Di mana adopsi tertinggi akan terjadi di wilayah Asia. 

    Pada bulan April, sebuah survei yang dilakukan oleh pertukaran aset kripto, Gemini menemukan bahwa adopsi kripto meroket pada tahun 2021 di negara-negara seperti India, Brasil dan Hong Kong.  Karena lebih dari setengah responden dari 20 negara yang disurvei menyatakan bahwa mereka mulai berinvestasi di kripto pada tahun 2021.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • USDD Tron Turun dari $ 1, Ikuti Jejak UST?

    Stablecoin Tron yaitu Decentralized USD (USDD) yang baru saja diterbitkan beberapa bulan lalu terlihat mengalami masalah. 

    Algorithmic Stablecoin ini terlihat turun di bawah $ 1 hingga mencapai $ 0,91 dan saat ini bergerak di sekitar $ 0,98. 

    Kondisi ini jauh dari yang seharusnya di mana seharusnya USDD berada stabil di $ 1 sehingga membuat banyak investor panik.

    USDD Turun dari $ 1 dalam Sehari 

    USDD dari Tron dikabarkan telah turun dari nilai yang seharusnya mencapai sekitar $ 0,98 hingga saat ini. 

    Penurunan nilai ini terjadi bersama dengan pasar kripto yang hancur sejak akhir pekan lalu bersama Bitcoin yang mencapai sekitar $ 21.000. 

    Koreksi ini terjadi bersama dengan pasar kripto yang turun bersama aset berisiko lainnya akibat adanya potensi krisis resesi bahkan stagflasi yang akan terjadi di dunia. 

    Bersama faktor makroekonomi ini, terdapat beberapa sentimen negatif lain dari sisi internal pasar kripto yang membuat banyak investor memilih untuk menjual akibat khawatir koreksi berlanjut. 

    Kondisi pasar yang negatif ini berdampak tidak hanya pada USDD tapi seluruh kripto. Meski begitu, USDD mengalami salah satu koreksi terparah, yang membuatnya hampir mirip dengan UST, stablecoin dari Terra. 

    Walau tidak separah UST, USDD sempat mengalami koreksi ke $ 0,91 dari $ 1 hanya dalam satu hari, yang membuat banyak investor TRX panik akan kejadian yang sama seperti Terra. 

    Koreksi ini juga terjadi setelah pembelian Bitcoin sebagai dana cadangan oleh Tron DAO, kesatuan yang menjaga nilai USDD. 

    Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

    Banyak investor yang khawatir karena Terra mulai hancur juga setelah pembelian Bitcoin untuk dana cadangannya. 

    Walau saat ini turun, Tron DAO menyatakan bahwa mereka akan terus membeli dan menambah dana cadangan untuk memastikan USDD kembali stabil. 

    Tapi terdapat tambahan bahwa mereka akan membeli dalam jumlah besarl lagi jika pasar mulai pulih. 

    Untuk saat ini, Tron DAO masih terus aktif menjaga nilai USDD dengan pembelian USDC hingga mencapai $ 2,5 Miliar. 

    Sama seperti UST?

    Pada saat peluncuran USDD, sebelumnya Tron menjanjikan bahwa akan ada dana cadangan untuk menjaga USDD hingga mencapai $ 10 miliar. 

    Hingga saat ini terlihat bahwa target janji tersebut masih belum tercapai karena dana cadangan yang ada dan telah digunakan masih berada di sekitar $ 3 miliar. 

    USDD Tron Turun dari $1, Ikuti Jejak UST?
    Dana Cadangan Tron DAO untuk USDD

    Walau mengalami penurunan nilai, Tron DAO tetap memastikan bahwa USDD masih terjamin hingga mencapai 277,54% dengan beberapa kripto seperti USDC, USDT,  TUSD, TRX, BTC dan DAI. 

    Justin Sun yang saat ini menjabat sebagai penasihat untuk Tron, menyatakan bahwa mekanisme USDD seharusnya membuatnya aman. 

    Ia juga merupakan individu yang menyarankan dana jaminan tambahan melebihi 100% dari persediaan USDD yang beredar. 

    Tapi sayangnya kedua hal tersebut masih belum berhasil menjaga USDD untuk bergerak stabil di sekitar $ 1. 

    Baca juga: Mengenal Aset Kripto Ontology Gas (ONG) dan VIDT Datalink (VIDT)

    Untuk investor Terra dan UST, kondisi ini membawa ingatan buruk karena pergerakan kedua proyek ini hampir sama. 

    Keduanya membeli Bitcoin sebagai dana cadangan, keduanya memiliki stablecoin dengan mekanisme hampir sama, dan keduanya mengalami penurunan nilai. 

    Oleh karena itu, kemungkinan besar, TRX akan mendapatkan sentimen negatif hampir mirip dengan Terra. Tapi untuk kehancurannya, untuk saat ini Tron DAO masih memiliki dana untuk menjaga USDD sehingga masih belum hancur. 

    USDD Tron Turun dari $1, Ikuti Jejak UST?
    Grafik Bulanan TRXUSD

    Untuk saat ini dari sisi teknikal, TRX masih terlihat memiliki potensi pergerakan negatif, terutama dari grafik bulanannya. 

    Hal ini disebabkan, TRX telah keluar dari zona segitiga simetrisnya di grafik bulanan yang membuat adanya potensi koreksi lanjutan. 

    Kemungkinan besar jika terus turun TRX akan bergerak menuju $ 0,04 hingga $ 0,03 namun butuh waktu yang lama. 

    Baca juga: Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Senator AS Rancang RUU Soal Kripto Sebagai Komoditas Perdagangan

    Cynthia Lummis yang merupakan senator AS, telah memperkenalkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang komprehensif dan merata untuk aset kripto dan peraturan terkait.

    RUU itu bernama RFI (Inovasi Keuangan yang Bertanggungjawab), yang telah dirilis olehnya pada 7 Juni lalu, bersama dengan pengacara asal New York, Kristen Gillibrand dan senator Demokrat.

    RUU tersebut akan fokus mengarah pada adopsi aset kripto ke sistem keuangan tradisional. Hal ini berarti aset kripto dapat digunakan layaknya komoditas di AS. 

    Baca juga: Pasar Sepekan: Market Kripto Bergerak Labil, Investor Terlihat Ragu

    “Jika RUU tersebut diresmikan menjadi undang-undang, maka ini akan dapat membawa perubahan bagi industri. Akan ada perbedaan yang jelas antara sekuritas, komoditas, kripto, stablecoin dan NFT,” ungkap Cynthia.

    Di samping itu, Bitcoin saat ini punya banyak kesamaan dengan komoditas lain dalam hal volatilitas. Ini diatur dalam asosiasi harga makro di seluruh dunia dan harga energi.

    Cynthia juga berpendapat bahwa koin Bitcoin dan Ethereum tidaklah dianggap sebagai sekuritas. Ia dan rekan pun mengatakan bahwa CFTC harus mengatur aset digital ini sebagai komoditas.

    “Kami berharap RUU ini nantinya jika disahkan, akan menjadi jembatan untuk regulasi yang lebih ringkas, tegas, presisi dan tidak menghambat perkembangan dari industri kripto,” ujarnya.

    Baca juga: Peningkatan Suku Bunga Fed Diisukan Segera Datang, Ini Dampak ke Bitcoin

    Dirinya juga berpendapat, jika RUU ini dapat menjembatani dengan ringkas dan tidak menghambat kemajuan ekonomi digital di waktu yang bersamaan. Inovasi dari aset kripto utama ini bisa saja beralih ke negara lain yang lebih ramah kripto.

    Kendati demikian, RUU ini juga memuat hal-hal yang positif secara mayoritas bagi kripto, sehingga sangat diharapkan dapat menjadi undang-undang. Institusi pun kemungkinan akan lebih banyak masuk setelah ada kejelasan aturan dan perlindungan konsumen yang lebih “terniat”.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Awal Pekan: Bitcoin Terpuruk di Bawah Tekanan Inflasi Tinggi

    Market aset kripto pada awal pekan ketiga Juni 2022, terlihat mengalami pelemahan harian terparah. Tampak “cuaca buruk” menyelimuti market pasca data inflasi tahunan Amerika Serikat pada Mei lalu, ternyata menyentuh 8,6% dan menjadi rekor tertingginya dalam empat dekade terakhir.

    Melansir situs CoinMarketCap pada Senin (13/6) pukul 09.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar ada big cap kompak terjebak di zona merah dalam 24 jam terakhir. Nilai Bitcoin (BTC) saja turun 8,67% ke $ 25.825 per keping dalam sehari terakhir.

    Sementara nasib altcoin lain seperti Ethereum (ETH) tidak jauh berbeda turun 10% ke $ 1.356 di waktu yang sama. Cardano (ADA), Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) mengalami penurunan yang paling signifikan, masing-masing 13,78%, 13,43% dan 12,13%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan investor terlihat panik dan cenderung menghindari market kripto setelah AS mencetak inflasi tahunan 8,6% di Mei 2022. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari estimasi analis 8,3% dan merupakan laju inflasi terkencang sejak 1981.

    “Kepanikan investor bukan tanpa alasan. Tadinya, mereka meyakini bahwa siklus inflasi tinggi di AS sudah selesai pada Maret lalu. Sehingga, mereka tak menduga bahwa inflasi Mei malah meroket. Hal ini membuat tekan The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin untuk bulan ini dan bulan depan,” kata Afid.

    market aset kripto
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Nasib Aset Kripto LUNA 2.0 dan LUNC di Indonesia, Bisakah Diperdagangkan?

    Korelasi Market Kripto dan Inflasi

    Lebih lanjut Afid menjelaskan sebenarnya, inflasi bisa tak berkorelasi langsung dengan kinerja market aset kripto. Ia memberi contoh kasus di masa lalu, tingginya inflasi bisa berdampak baik bagi permintaan dan laju harga Bitcoin mengingat statusnya sebagai aset penyimpan kekayaan (store of value), seperti layaknya emas.

    “Saat ini teori tersebut tampaknya tidak berlaku lagi. Kondisinya sudah berbeda. Market kripto sudah banyak dimasuki oleh investor institusi yang melihat dinamika makroekonomi sebagai indikasi untuk keputusan di pasar,” jelasnya.

    Investor institusi yang sudah banyak masuk ke dalam market kripto, bisa mengurangi porsi aset berisiko di dalam portofolio mereka atau derisking. Dengan banyaknya jumlah dana kelolaan mereka di market cukup besar, aksi jual investor institusi bisa sangat mempengaruhi performa pergerakan aset kripto.

    Ilustrasi market kripto
    Ilustrasi market kripto.

    Selain karena antisipasi data ekonomi, investor juga enggan all-out di market disebabkan harga beberapa aset kripto belum benar-benar menyentuh titik bottom-nya. Investor masih berpikir atau ragu-ragu untuk menjalankan strategi buy the dip.

    Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

    Level Support Bitcoin Terus Turun

    Nilai Bitcoin terus turun dari level resistensi $ 33.000 minggu lalu, yang mengindikasikan hilangnya momentum kenaikan. Itu menurunkan kemungkinan BTC bakal bisa reli dalam waktu dekat.

    Perdagangan BTC secara kasar terlihar datar selama seminggu terakhir dan telah terbatas pada rentang perdagangan yang berombak. Level support awal terlihat di $ 25.000, yang mendekati harga terendah sejak 12 Mei lalu.

    Afid menjelaskan momentum pada grafik harian telah melemah selama beberapa minggu terakhir, menunjukkan tren turun BTC dari November tahun lalu dapat berlanjut dalam jangka pendek. Tren turun didefinisikan oleh harga tertinggi yang lebih rendah dan harga terendah yang lebih rendah.

    Grafik mingguan Bitcoin menunjukkan support/resistance, dengan RSI di bagian bawah. (Damanick Dantes/CoinDesk, TradingView).
    Grafik mingguan Bitcoin menunjukkan support/resistance, dengan RSI di bagian bawah. (Damanick Dantes/CoinDesk, TradingView).

    Level support BTC dalam grafik 200-week moving average, saat ini berada di $ 22.294. Namun, penurunan harga yang tajam pada akhirnya bisa stabil di $ 17.673, yang merupakan retracement 78% dari tren naik BTC sebelumnya dari Maret 2020 hingga November 2021,” tuturnya.

    Menurut Relative Strength Index (RSI) pada grafik mingguan terlihat oversold, yang berarti tekanan jual bisa mereda selama beberapa minggu ke depan. Namun, pembacaan oversold tidak menunjukkan harga pasti yang rendah, terutama dalam konteks tren turun.

    Baca juga: Tiga Alasan Harga Ethereum Berisiko Turun 25% di Juni 2022



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Sepekan: Market Kripto Bergerak Labil, Investor Terlihat Ragu

    Pergerakan market aset kripto dalam seminggu terakhir masih mengalami tekanan. Meski, sempat comeback di tengah pekan, rupanya hal tersebut sulit berlanjut. Pasalnya, investor masih “malu-malu kucing” untuk all-out dalam perdagangan aset kripto. 

    Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap kembali ke zona merah dalam satu hari terakhir. Misalnya saja, Bitcoin yang kembali diperdagangkan dengan nilai $ 30.070 atau turun 1,28% dalam 24 jam terakhir, seperti terpantau dari situs CoinMarketCap pada Jumat (10/6) pukul 15.00 WIB.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan perdagangan aset kripto Bitcoin kemungkinan besar masih terus akan berada di sekitar level $ 30.000 dalam waktu dekat. Pasalnya, investor masih menunggu laporan inflasi ekonomi AS yang dapat memicu ekspektasi pasar.

    “Pergerakan nilai Bitcoin kemungkinan besar masih akan sideways di level $ 30.000. Investor sepertinya masih bakal kurang bergairah masuk ke pasar kripto lantaran wait and see data inflasi AS terbaru dan dampak pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Eropa. Jika inflasi AS masih meradang, maka ada kemungkinan The Fed bakal mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin pada bulan ini,” kata Afid.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

    Seperti diketahui, Bank Sentral Eropa telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya yang pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir untuk mengatasi inflasi yang meroket. Kebijakan tersebut bisa jadi sinyal bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneternya. Diperkirakan inflasi di AS masih menembus jauh di atas 8%, level tertinggi dalam empat dekade.

    “Ketika The Fed mengerek suku bunga acuannya, maka tingkat imbal hasil instrumen berpendapatan tetap bakal meningkat, begitupun dengan nilai dolar AS. Alhasil, aset berisiko jadi dipandang tidak menarik dan menjadi lebih mahal di mata investor,” jelas Afid.

    Sentimen Negatif Masih Bayangi Market Kripto

    Sentimen negatif juga datang dari Bank Dunia yang memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 4,1% menjadi 2,9% di tengah kekhawatiran inflasi. Sementara itu, dampak dari invasi Rusia ke Ukraina berlanjut dengan harga minyak mentah yang melonjak.

    Di samping perkara makroekonomi, stagnannya transaksi perdagangan kripto juga disebabkan oleh keragu-raguan investor soal titik bottom harga aset kripto, sehingga belum melakukan strategi buy the dip. Meski, aset kripto diperdagangkan di rentang harga yang gitu-gitu aja dalam beberapa waktu terakhir, sebagian investor yakin bahwa titik harga saat ini bukanlah titik terendahnya.

    “Keraguan ini buat market kripto jadi stagnan. Karenanya, market membutuhkan beberapa katalis baru untuk keluar dari kelesuan ini dan kemungkinan masih butuh waktu untuk market bullish,” pungkas Afid.

    ilustrasi membeli bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Persib Luncurkan Fan Token Kripto Ikuti Jejak AC Milan dan Barcelona FC

    Nasib Token Kripto LUNA 2.0 di Indonesia

    Pembahasan soal token aset kripto LUNA 2.0 (LUNA) masih terus ramai diperbincangkan. Afid menjelaskan saat ini token jaringan baru Terra, yakni LUNA belum bisa diperdagangkan di Indonesia, karena belum memiliki lisensi dari Bappebti. Oleh karenanya, airdrop sebagai kompensasi bagi investor yang terkena dampak dari keruntuhan jaringan Terra lama belum bisa direalisasikan.

    “Airdrop LUNA akan dikirim ke alamat wallet terakhir di yang memiliki LUNC di Tokocrypto. Merekan berhak mendapatkan airdrop, tetapi kita masih dalam kajian untuk LUNA, kalo kita sudah listing LUNA bisa langsung diterima,” jelas Afid.

    Melihat perkembangan yang ada saat ini, Afid mengatakan airdrop LUNA 2.0 belum bisa dilakukan di wallet akun Tokocrypto, karena aset kripto tersebut belum terdaftar di Bappebti. LUNA 2.0 masih menjalani pengkajian untuk memenuhi due diligence sebagai aset kripto terdaftar sesuai dengan Peraturan Bappebti No. 7 Tahun 2020 Tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

    Untuk pembahasan mengenai perdagangan aset kripto LUNA 2.0 di Indonesia bisa simak di artikel TokoNews di link ini.

    Baca juga: Bitcoin Kembali ke Harga $ 31 Ribu, Hati-hati False Breakout



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aset Kripto Cardano (ADA) Berkembang Berkat Ribuan Proyek Kripto Ini

    Perkembangan dari blockchain Cardano (ADA) tak lepas dari kehadiran lebih dari 1.000 proyek yang dibangun di atas jaringannya.

    Cardano, yang kini menjadi blockchain terbesar dan paling menjanjikan ketiga di industri kripto ini, telah menarik banyak perhatian, terutama jelang pembaruan hard fork Vasil yang sangat dinantikan.

    Ribuan Proyek Kripto Menopang Perkembangan Blockchain Cardano (ADA) 

    Berdasarkan tweet IOHK yang dilansir Use the Bitcoin, jaringan Cardano (ADA) kini telah memiliki 1.003 proyek yang berjalan di atasnya.

    Dari informasi tersebut, proyek yang membangun solusi koleksi NFT telah mendominasi, dengan bobot 40,4 persen.Sisanya hampir sama rata seperti Komunitas dan Sosial di 6 persen, Alat Pengembangan dan API di 4,8 persen, game di 4,2 persen dan keuangan terdesentralisasi (DeFi) di 2,1 persen.

    Selain itu ada juga proyek-proyek yang membangun metaverse, penjelajahan data, bursa terdesentralisasi (DEX), solusi identitas dan masih banyak lagi.

    Baca juga: Persib Luncurkan Fan Token Kripto Ikuti Jejak AC Milan dan Barcelona FC

    Pasar kripto yang merana tampak tidak menghambat langkah para pengembang untuk membangun di jaringan Cardano. Sehingga, secara prospek koin ADA pun terlihat menarik yang terbukti dari apresiasi harganya dalam beberapa hari terakhir.

    Dan juga, kini Cardano telah menjadi alternatif utama dari jaringan Ethereum dan BNB Smart Chain. Ini meningkatkan prospek adopsi dari pengembang untuk proyek mereka, terlebih Cardano terus berkembang, dengan akan hadirnya pembaruan Vasil akhir Juni ini.

    Dan jika kita mengesampingkan stablecoin, maka ADA kini duduk sebagai koin berkapitalisasi pasar terbesar keempat.

    Menurut laporan platform analitik Santiment yang menganalisis aktivitas on-chain, koin ADA telah secara konsisten mengalami peningkatan jumlah transaksi di jaringannya.

    Baca juga: Cardano (ADA) dan Ethereum (ETH) Bersaing Ketat di Produk Investasi Grayscale ini

    Whale pun diketahui telah mulai memborong ADA dalam jumlah besar dalam sepekan terakhir.

    “Cardano melihat 39 transaksi whale senilai lebih dari US$1 juta antara pukul 14.00 dan 15.00 UTC Jumat. Sejak rentang jam tersebut, harga ADA telah naik lebih dari 32 persen. Whale terus menunjukkan nilai dalam pertanda pergeseran arah harga. Aset ini juga melihat tingkat diskusi tertinggi selama 17 hari,” ungkap laporan Santiment.

    Santiment pun menilai bahwa, semakin banyak proyek dan jumlah platform yang dikembangkan di atas jaringan Cardano, maka semakin besar pula jumlah pengguna dan minat investor.

    Pada akhirnya, ekosistem akan berkembang dengan konsisten dan solid, yang lebih disukai investor, terutama institusi. Ini dapat terlihat dari meningkatnya bobot Cardano dalam produk investasi Grascyale. 

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com