Bitcoin kembali mencatat pergerakan harga yang relatif stabil dengan sentimen pasar yang cenderung hati-hati.
Per 14 September 2025, Tokocrypto mencatat harga Bitcoin (BTC) berada di kisaran $115,771.40 per BTC/USD, hanya naik tipis +0,01% dalam 24 jam terakhir.
Meski terlihat stagnan, kapitalisasi pasar tetap solid di level $2,306.23 miliar USD, menegaskan posisi Bitcoin sebagai aset digital terbesar di dunia.
Data menunjukkan, dalam 24 jam terakhir Bitcoin bergerak di rentang $115,248.28 hingga $116,204.48.
Rentang yang relatif sempit ini menandakan fase konsolidasi, di mana pasar masih mencari arah berikutnya.
Jika dibandingkan dengan sepekan terakhir, BTC justru menguat +4,72%, memperlihatkan bahwa tren jangka pendek masih positif meski terhambat oleh tekanan teknikal.
Dalam skala lebih luas, perbandingan harga 30 hingga 90 hari terakhir memperlihatkan dinamika yang cukup beragam.
Selama 30 hari terakhir, harga turun -2,8% atau sekitar $3.337,46. Penurunan juga tercatat dalam periode 60 hari terakhir, yakni -2,12% atau setara $2.508,23.
Namun, bila ditarik ke horizon 90 hari terakhir, Bitcoin justru mencetak lonjakan signifikan sebesar +8,52%, atau setara dengan $9.087,04.
Rekor Tertinggi Masih Jadi Acuan
Rekor harga tertinggi Bitcoin hingga kini tercatat di level $124,457.12.
Dengan posisi saat ini di kisaran $115 ribuan, BTC masih tertinggal sekitar 7% dari puncaknya.
Bagi investor jangka panjang, jarak ini sering dianggap sebagai peluang akumulasi, terutama mengingat supply Bitcoin semakin mendekati batas maksimumnya di 21 juta BTC.
Saat ini, sudah beredar 19,92 juta BTC, atau 94,86% dari total pasokan maksimum.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 14 September 2025. Sumber: Tokocrypto.
Kapitalisasi Pasar dan Volume Perdagangan
Meski pergerakan harga terbilang stagnan, kapitalisasi pasar Bitcoin tetap impresif di atas $2,3 triliun USD.
Angka ini memperlihatkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Bitcoin masih sangat kuat. Namun, satu hal yang menarik adalah penurunan pada sisi volume perdagangan.
Dalam 24 jam terakhir, volume transaksi tercatat sekitar $29,60 miliar USD, sedikit lebih rendah dibandingkan hari-hari sebelumnya yang rata-rata menembus di atas $50 miliar.
Penurunan volume ini biasanya menandakan investor tengah menunggu pemicu baru sebelum kembali melakukan aksi beli besar-besaran.
Analisis Sentimen Pasar
Kondisi saat ini memperlihatkan pasar berada dalam fase menimbang.
Beberapa faktor eksternal seperti kebijakan bank sentral global, perkembangan regulasi aset digital, hingga tensi geopolitik internasional turut berkontribusi pada sikap hati-hati investor.
Namun, tren jangka panjang Bitcoin masih kuat, terutama dengan meningkatnya adopsi institusional dan perkembangan infrastruktur kripto global.
Momentum Jangka Pendek dan Prospek ke Depan
Dalam jangka pendek, stabilnya harga di level $115 ribuan dapat menjadi pondasi penting untuk pergerakan selanjutnya.
Jika mampu menembus kembali level psikologis $120.000, maka peluang menuju rekor tertinggi baru semakin terbuka lebar.
Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat, support kuat diperkirakan berada di kisaran $112.000 hingga $113.000.
Bagi investor ritel, kondisi pasar saat ini bisa dilihat sebagai masa konsolidasi yang sehat, bukan sekadar stagnasi.
Bitcoin telah melalui siklus volatilitas berulang kali, dan setiap fase konsolidasi kerap menjadi awal dari tren bullish berikutnya.
Dengan pergerakan harga yang cenderung stabil di kisaran $115 ribuan, Bitcoin saat ini berada di jalur konsolidasi yang penuh kewaspadaan.
Meski sempat terkoreksi dalam 30–60 hari terakhir, penguatan dalam 90 hari terakhir menunjukkan fondasi tren positif masih terjaga.
Ditopang kapitalisasi pasar raksasa, supply yang semakin terbatas, serta sentimen adopsi yang terus berkembang, Bitcoin tetap menjadi magnet utama dalam ekosistem aset digital global.
Bagi para investor, fase saat ini adalah saat yang tepat untuk mengamati, menilai strategi, dan menentukan langkah cerdas di tengah dinamika pasar kripto yang semakin kompleks.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Pasar kripto kembali memanas! Altcoin Season Index melonjak ke level 71, menyalakan spekulasi bahwa altseason besar-besaran bisa segera dimulai. Lonjakan tajam ini dianggap sebagai tanda kuat bahwa pasar mulai beralih dari dominasi Ethereum (ETH) menuju reli altcoin yang lebih luas.
Menurut data dari Blockchain Center, indeks ini naik drastis dari 59 sehari sebelumnya menjadi 71. Biasanya, angka di atas 75 menandai awal altseason, di mana 75% dari 50 altcoin teratas mengungguli Bitcoin (BTC) dalam 90 hari terakhir. Meski belum menembus level tersebut, kecepatan kenaikan indeks sudah cukup untuk memicu euforia di kalangan trader.
Bitcoin Mulai Melemah, Altcoin Bersiap Ambil Alih?
Dilaporkan BeInCrypto, seorang analis kripto di X (Twitter) menegaskan:
“Altcoin season sedang berlangsung penuh, dan akhirnya pergeseran dari ETH ke semua koin lainnya akan terjadi.”
Senada, Merlijn The Trader juga menyoroti penurunan dominasi Bitcoin (BTC.D) yang jatuh di bawah support penting. Menurutnya, pola ini persis seperti yang terjadi di siklus sebelumnya.
Metrik Altcoin Season Index pada 13 September 2025. Sumber: CoinMarketCap.
“Setiap siklus, hasilnya sama: Bitcoin mendingin, altcoin menyala. Rotasi tidak akan datang—itu sudah terjadi. Begitulah altseason selalu dimulai,” ujarnya.
Waspada Euforia Berlebihan
Namun, tidak semua analis melihat reli ini dengan kacamata optimistis. Beberapa pihak memperingatkan bahwa altseason kali ini berpotensi diwarnai token low-float yang terinflasi dan proyek abal-abal, sehingga investor perlu berhati-hati agar tidak terjebak euforia semata.
Meski begitu, dengan dominasi Bitcoin yang menurun cepat dan pola chart yang mirip reli besar tahun 2017, banyak trader yakin altcoin siap memasuki fase breakout spektakuler.
Apakah kita sedang berada di gerbang altseason terbesar dalam beberapa tahun terakhir? Pasar tampaknya akan segera memberikan jawabannya.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Pasar kripto tengah menunjukkan dinamika menarik setelah Crypto Fear and Greed Index (FGI) mencatat level 47 (Netral), sementara harga Bitcoin (BTC) berhasil menembus level resistensi kunci. Sentimen investor kini berayun antara kehati-hatian dan optimisme, terutama setelah data inflasi AS memberikan kejutan positif.
Crypto Fear & Greed Index: Dari Ekstrem ke Netral
Indeks FGI yang dirilis CoinMarketCap hari ini berada di level 47 (Netral), sedikit naik dibandingkan 43 kemarin dan 44 minggu lalu. Namun, jika dibandingkan bulan lalu yang sempat berada di level 62 (Greed), sentimen jelas melunak.
Tertinggi tahunan: 88 (Extreme Greed) pada 21 November 2024.
Terendah tahunan: 15 (Extreme Fear) pada 11 Maret 2025.
Perubahan ini menandakan pasar sedang mencari keseimbangan di tengah volatilitas makroekonomi.
Crypto Fear and Greed Index pada 11 September 2025. Sumber: CoinMarketCap.
Bitcoin Reli ke $114.000, Target Selanjutnya $130.000
Harga Bitcoin naik 2,4% dalam 24 jam terakhir menjadi sekitar $114.000, dengan volume perdagangan melonjak 19%. Lonjakan ini dipicu laporan Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang secara mengejutkan turun 0,1%, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 0,3%.
Data ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 17 September, dengan kemungkinan pemangkasan lanjutan di Oktober.
Kebijakan suku bunga lebih rendah biasanya menguntungkan aset berisiko seperti kripto, karena investor mencari imbal hasil lebih tinggi di luar instrumen tradisional.
Kenaikan BTC juga menyeret altcoin. Solana (SOL) dan BNB Chain (BNB) mencatatkan reli signifikan, bahkan BNB berhasil mencapai rekor baru di $900.
CoinMarketCap mencatat Indeks Musim Altcoin berada di level 59, mengindikasikan adanya rotasi modal menuju token-token alternatif. Namun, analis menilai reli altcoin ini tidak serta-merta menghambat BTC karena biasanya momentum bullish dimulai dari Bitcoin lalu mengalir ke altcoin.
Analisis Teknis: Sinyal Bullish Kuat
BTC menembus resistensi $112K, membuka jalan menuju $130.000.
RSI (Relative Strength Index) harian telah melewati rata-rata pergerakan 14 hari, memberikan sinyal beli yang solid.
Jika volume perdagangan terus meningkat, tren bullish berpotensi semakin kuat.
Investor kini menunggu rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dipublikasikan besok. Jika inflasi konsumen juga lebih rendah dari perkiraan, reli BTC berpeluang semakin tajam.
Bahkan, jika Fed memangkas suku bunga lebih besar dari 25 bps, pasar bisa bereaksi sangat kuat dengan target BTC yang lebih tinggi dari $130.000.
Crypto Fear & Greed Index saat ini menunjukkan sikap netral, tetapi harga Bitcoin berhasil menembus level krusial yang bisa menjadi awal reli besar. Dengan dukungan faktor makro seperti penurunan inflasi dan potensi pemangkasan suku bunga, target $130.000 kini terlihat semakin realistis, meski volatilitas tetap harus diwaspadai.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Apple mengguncang dunia dengan peluncuran iPhone 17. Bukan hanya desain dan performa yang disegarkan, tetapi juga fitur keamanan baru yang digadang-gadang bisa menjadi tameng kuat bagi aset kripto.
Menurut laporan Crypto Potato, ponsel terbaru ini memperkenalkan teknologi Memory Integrity Enforcement (MIE), sebuah mekanisme keamanan yang mampu mendeteksi dan memblokir kerentanan berbasis memori, seperti buffer overflows dan use-after-free yang kerap dimanfaatkan peretas untuk membobol dompet digital.
MIE: Tameng Baru Kripto di iPhone 17
Pendiri Cobo, DiscusFish, menegaskan bahwa MIE adalah lompatan besar dalam perlindungan dompet digital. Sistem ini tidak hanya melibatkan perangkat lunak, tetapi juga menggabungkan perlindungan perangkat keras untuk memblokir serangan memori tingkat lanjut selama proses penandatanganan dompet kripto—momen yang paling rawan dieksploitasi peretas.
Apple menjelaskan dalam blog resminya (9 September) bahwa MIE ditenagai chip A19 dan dilengkapi Enhanced Memory Tagging Extension (EMTE) yang melakukan pemeriksaan memori real-time. Mekanisme ini langsung menghentikan eksploitasi umum sebelum sempat menembus sistem.
Fakta penting: 70% kerentanan perangkat lunak berasal dari kelemahan memori. Inilah pintu masuk favorit malware untuk mencuri data saat dompet digital digunakan. Dengan MIE, serangan-serangan tersebut dipatahkan di tingkat perangkat keras, bahkan sebelum sempat menimbulkan kerusakan.
Salah satu keunggulan utama MIE adalah perlindungan selalu aktif. Pengguna tidak perlu melakukan pengaturan tambahan—semuanya berjalan otomatis.
DiscusFish menyebut fitur ini sebagai “kemenangan besar bagi pengguna kripto dengan kekayaan bersih tinggi dan penanda tangan yang sering”. Artinya, pemilik aset besar kini bisa lebih percaya diri menggunakan iPhone sebagai dompet digital tanpa ketergantungan berlebihan pada hardware wallet eksternal.
Apple juga melengkapi MIE dengan Tag Confidentiality Enforcement (TCE), yang mencegah penyerang mengekspos data memori melalui teknik eksekusi spekulatif. Dengan kombinasi ini, jalur serangan favorit para peretas pun semakin sempit.
Tim keamanan Apple mengonfirmasi bahwa MIE telah diuji terhadap rantai eksploitasi nyata, dan mayoritas serangan berhasil dihentikan di tahap awal. Bahkan, pengembang aplikasi kripto di luar ekosistem Apple dapat memanfaatkan perlindungan ini melalui Enhanced Security Settings di Xcode.
Ancaman Nyata: $2,1 Miliar Hilang Tahun Ini
Mengapa semua ini penting? Laporan terbaru CertiK mencatat lebih dari $2,1 miliar telah hilang akibat serangan terkait kripto sepanjang 2025. Dari jumlah itu, $1,6 miliar berasal dari aplikasi dompet digital yang disusupi. Fakta ini menjadikan aplikasi sebagai vektor serangan paling merusak dalam ekosistem Web3.
Kehadiran MIE di iPhone 17 jelas bukan sekadar gimmick, melainkan respon nyata terhadap eskalasi ancaman dunia maya yang makin kompleks.
iPhone 17 Makin Murah Kalau Dibeli Pakai Kripto
Meski harga dolar AS untuk iPhone 17 tetap stabil di $799, kenyataannya perangkat ini terasa lebih murah bagi pemegang Bitcoin dan Ethereum.
Dalam ETH, harganya juga anjlok dari 0,3386 ETH (iPhone 16) menjadi 0,1866 ETH untuk iPhone 17.
Artinya, apresiasi harga kripto membuat iPhone 17 jadi jauh lebih “terjangkau”. Sebuah paradoks: harga perangkat keras tetap datar dalam USD, tetapi nilai kripto yang meroket menjadikannya semakin murah di mata pemegang aset digital.
Standar Baru Keamanan Dompet Kripto
Dengan kombinasi MIE, EMTE, dan TCE, Apple menempatkan iPhone 17 sebagai standar baru untuk keamanan dompet digital.
Bagi komunitas kripto, ini bukan sekadar ponsel, tetapi sebuah dompet kripto super aman yang terintegrasi dengan perangkat sehari-hari. Jika tren ini berlanjut, smartphone bisa benar-benar menggantikan peran hardware wallet dalam transaksi harian.
Jadi, apakah iPhone 17 akan menjadi ponsel wajib para hodler kripto? Atau justru membuka babak baru persaingan smartphone sebagai “dompet digital super aman”?
Satu hal yang pasti: di era Bitcoin melesat, iPhone semakin terasa murah dan lebih sulit dibobol.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Vietnam akhirnya mengambil langkah besar dalam dunia aset digital dengan menyetujui uji coba perdagangan Bitcoin dan kripto selama lima tahun. Keputusan ini menandai era baru bagi regulasi aset digital di Asia Tenggara, di mana negara tersebut mulai menyeimbangkan inovasi dan perlindungan konsumen.
Vietnam Resmi Luncurkan Uji Coba Perdagangan Kripto
Dilaporkan Bloomberg pada 9 September, pemerintah Vietnam memberi lampu hijau bagi program percontohan perdagangan kripto yang akan berlangsung selama lima tahun. Program ini memungkinkan pemegang kripto Vietnam dan investor asing untuk berdagang, namun hanya melalui platform berlisensi.
Uniknya, hanya perusahaan Vietnam yang boleh menerbitkan kripto dan menawarkan layanan perdagangan, dengan transaksi dilakukan dalam dong Vietnam. Investor ritel maupun institusional pun dibatasi hanya boleh menggunakan satu bursa kripto. Aturan ketat ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengawasi pasar aset digital sekaligus memantau potensi permintaan di dalam negeri.
Payung Hukum Baru: Undang-Undang Aset Digital
Keputusan ini lahir setelah Majelis Nasional Vietnam mengesahkan Undang-Undang Industri Teknologi Digital pada Juni 2025. Undang-undang tersebut secara resmi mengakui aset kripto, meski tidak mencakup representasi digital mata uang fiat, surat berharga, maupun instrumen keuangan lain.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi Vietnam untuk keluar dari daftar abu-abu FATF (Financial Action Task Force), di mana pemantauan ketat terhadap aset digital menjadi syarat penting.
Tak hanya itu, Vietnam juga memperkenalkan blockchain nasional bernama NDAChain untuk mendukung identitas digital, kontrak pintar, hingga pencatatan dokumen pemerintah.
Adopsi Kripto di Vietnam Melesat
Posisi Indonesia turun dalam laporan Chainalysis’ 2025 Global Crypto Adoption Index.
Menurut Indeks Adopsi Kripto Global 2025 dari Chainalysis, Vietnam kini berada di peringkat keempat dunia setelah India, AS, dan Pakistan. Kawasan Asia-Pasifik sendiri tercatat menyumbang 69% pertumbuhan tahunan transaksi kripto on-chain, menjadikan wilayah ini pusat pertumbuhan kripto global.
Bahkan, Vietnam mulai menarik pemain besar. Pada Agustus lalu, Dunamu (operator Upbit asal Korea Selatan) bekerja sama dengan MB Bank Vietnam untuk meluncurkan bursa kripto domestik pertama di negara tersebut.
Proyek Blockchain Made in Vietnam
Vietnam tidak hanya menjadi pasar potensial, tapi juga pusat inovasi kripto global. Sejumlah proyek besar lahir dari para developer lokal, seperti:
Axie Infinity (Sky Mavis), game blockchain yang sempat mendunia.
KNC melonjak 1,5% ke $0,379 dengan volume perdagangan naik 50%.
Vietnam Jadi Pusat Kripto Asia Berikutnya?
Dengan regulasi yang jelas, dukungan blockchain nasional, dan tingkat adopsi tinggi, Vietnam berpotensi menjadi hub kripto terbesar di Asia Tenggara. Langkah strategis ini juga bisa membuka jalan bagi investasi asing yang lebih besar, terutama di sektor DeFi, NFT, hingga game blockchain.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Banyak orang masuk ke dunia crypto hanya karena melihat harga naik drastis atau mendengar cerita sukses orang lain. Masalahnya, tanpa analisis yang tepat, banyak juga yang berakhir rugi karena salah pilih aset. Di sinilah analisis fundamental (FA) jadi penting.
Berbeda dengan analisis teknikal (TA) yang fokus pada grafik harga dan pola pergerakan, analisis fundamental melihat nilai intrinsik sebuah proyek: seberapa solid teknologi, tim pengembang, dan apakah tokennya benar-benar punya kegunaan nyata.
Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian analisis fundamental, alasan mengapa ia penting, komponen utama yang harus diperhatikan, hingga tips strategi lanjutan untuk memilih aset crypto yang lebih aman dan berpotensi jangka panjang.
Apa itu Analisis Fundamental dalam Crypto?
Analisis fundamental adalah pendekatan untuk menilai suatu proyek crypto berdasarkan aspek paling fundamental (mendasar), seperti whitepaper, tim pengembang, tokenomics, komunitas, hingga keuangan, dan faktor-faktor yang ada di dalam jaringan proyek crypto tersebut.
Tujuannya tidak lain untuk mengetahui nilai intrinsik dari proyek tersebut. Apakah aset crypto undervalued atau overvalued, sehingga kamu bisa mempertimbangkan potensi proyek crypto tersebut ke depannya.
Kenapa Analisis Fundamental Penting?
Menurut data dari Dune, hingga September 2025, terdapat lebih dari 47 juta token crypto yang masih terus bertambah setiap harinya.
Banyak proyek crypto tersebut lahir dengan membawa narasi besar dan janji inovasi revolusioner. Mulai dari teknologi blockchain generasi baru, solusi keuangan terdesentralisasi (DeFi), hingga ekosistem metaverse yang digadang-gadang menjadi masa depan interaksi digital.
Namun, realitas di lapangan seringkali berbeda. Tidak sedikit dari proyek-proyek tersebut yang kehilangan arah pengembangan, gagal membangun basis pengguna, atau bahkan terhenti total karena masalah pendanaan, lemahnya manajemen, hingga skema penipuan (rug pull).
Memahami aspek fundamental menjadi aspek penting yang membantu investor memahami nilai sebenarnya dari sebuah aset dan potensi ke depannya—karena terdapat jutaan token crypto yang tersedia, kamu butuh filter untuk menyaring proyek potensial atau yang hanya hype.
Analisa Fundamental ini yang bisa menjadi salah satu filter tersebut, agar keputusan investasi kamu jadi lebih rasional, dan fokus pada aset yang memiliki peluang bertahan di tengah volatilitas pasar.
Terdapat tiga aspek utama yang dapat digunakan dalam analisis fundamental, yaitu faktor proyek, faktor keuangan, dan faktor on-chain. Penjelasan lengkapnya bisa kamu temukan pada artikel Apa Itu Altcoin Terbaik dan Bagaimana Cara Menilainya.
Selanjutnya, kita akan membahas metode untuk menghitung nilai sebuah proyek dan utility token crypto yang dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan investasi.
Cara untuk Mengetahui Nilai Proyek & Utility Token Crypto
Untuk mengetahui nilai dari suatu proyek crypto maka kamu harus tahu nilai riil sebuah aset yang dihitung berdasarkan karakteristik fundamentalnya. Dalam saham, ini bisa berasal dari pendapatan, arus kas, atau potensi pertumbuhan. Namun, di crypto, penilaiannya lebih kompleks karena aset digital tidak memiliki pendapatan tetap atau aset fisik sebagai penopang.
Faktor utama yang membentuk nilai intrinsik crypto meliputi:
Utility (Kegunaan) – Masalah apa yang diselesaikan proyek? Apakah memiliki use case nyata?
Scarcity (Kelangkaan) – Apakah suplai token terbatas atau inflasi tinggi?
Network Value (Nilai Jaringan) – Seberapa besar dan aktif ekosistemnya?
Security (Keamanan) – Seberapa kuat blockchain terhadap serangan?
Contoh:
Bitcoin mendapatkan nilai dari suplai tetap 21 juta koin, desentralisasi, dan keamanan proof-of-work.
Ethereum memperoleh nilai dari perannya sebagai tulang punggung DApps dan smart contract.
Untuk menghitung nilai proyek crypto, ada 3 metode umum yang bisa digunakan, seperti:
Metcalfe’s Law
Metcalfe’s Law adalah sebuah konsep yang menjelaskan bahwa nilai sebuah jaringan (network) akan meningkat seiring dengan jumlah penggunanya. Lebih tepatnya, nilai tersebut akan tumbuh sebanding dengan kuadrat dari jumlah pengguna aktif.
Sederhananya:
Jika hanya ada 2 orang dalam sebuah jaringan, mereka hanya bisa saling terhubung 1 kali.
Kalau ada 5 orang, koneksinya bisa jauh lebih banyak karena tiap orang bisa berhubungan dengan beberapa orang lain sekaligus.
Semakin banyak orang yang bergabung, semakin banyak juga interaksi yang mungkin terjadi—dan ini membuat jaringan jadi jauh lebih berharga.
Artinya, pertumbuhan nilai tidak sekadar naik linear (sedikit demi sedikit), melainkan bisa meningkat secara eksponensial.
Bagaimana cara menerapkannya?
Metode ini sangat relevan untuk menilai potensi aset proyek crypto yang memiliki ekosistem kuat dan banyak pengguna aktif—dengan cara kalkulasi sebagai berikut:
Nilai Jaringan∝n2
n = jumlah pengguna aktif
Nilai jaringan = bertambah secara kuadrat dari n.
Mari kita coba masukkan rumusnya ke dalam salah satu proyek crypto populer yakni—Solana.
Data Q3 2025 dari Token Terminal menunjukan jika Solana memiliki 2,9 juta daily active addresses.
Maka:
Nilai Jaringan = (2,900,000)2 = 8.410.000.000.000
Jadi berdasarkan Metcalfe’s Law, Solana memiliki nilai proyek sekitar 8,41 triliun unit (ukuran relatif yang bisa digunakan untuk dibandingkan dengan jaringan lain, bukan dalam USD).
Artinya, jika jumlah pengguna aktif Solana terus meningkat, nilai jaringannya akan naik jauh lebih cepat dari pertumbuhan pengguna itu sendiri. Misalnya, kenaikan 10% pengguna bisa membuat nilai jaringan bertumbuh lebih dari 20%.
Meskipun berguna sebagai gambaran besar, Metcalfe’s Law bukan alat analisis yang sempurna. Ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan:
Oversimplifikasi Rumus ini hanya menghitung jumlah pengguna, tanpa melihat kualitas interaksinya. Jaringan dengan 1.000 akun pasif jelas jauh kurang bernilai dibandingkan 100 akun yang aktif bertransaksi setiap hari.
Akurasi Data Menentukan angka “active users” tidak selalu mudah. Di blockchain, satu orang bisa memiliki banyak alamat dompet. Selain itu, bot dan spam account dapat memperbesar angka pengguna aktif secara semu, sehingga hasil analisis bisa bias.
Keterbatasan Perbandingan Tidak semua blockchain bisa dinilai hanya dari banyaknya pengguna. Ada jaringan dengan user base lebih kecil, tapi unggul di aspek lain seperti kecepatan transaksi, biaya lebih murah, atau skalabilitas lebih tinggi. Faktor-faktor ini sama pentingnya, namun tidak tercermin dalam perhitungan Metcalfe’s Law.
Metode ini menghitung nilai proyek crypto berdasarkan biaya yang diperlukan untuk memproduksinya. Pada blockchain berbasis Proof of Work (PoW) yang bisa ditambang (mining) misalnya seperti Bitcoin, dengan biaya produksi mencakup:
Listrik untuk menjalankan perangkat keras penambangan.
Hardware (misalnya ASIC miner) yang digunakan untuk menambang. Biaya operasional lain seperti pendinginan, sewa tempat, hingga perawatan peralatan.
Dalam beberapa kasus, ketika harga pasar sebuah aset crypto turun di bawah biaya produksinya, para penambang berisiko mengalami kerugian dan sebagian memilih untuk menghentikan operasinya.
Berkurangnya jumlah penambang dapat menurunkan laju suplai koin baru yang masuk ke pasar. Jika pada saat yang sama permintaan tetap stabil atau meningkat, kondisi ini dapat menciptakan kelangkaan yang berpotensi mendorong harga kembali naik, mendekati atau bahkan melampaui biaya produksinya.
Maka dari itu biaya produksi sering dijadikan indikator batas bawah nilai wajar (intrinsic floor value) sebuah aset crypto berbasis Proof of Work.
Contohnya saat pasar bearish 2022, harga Bitcoin sempat jatuh ke $16.000, sementara biaya produksi rata-rata mencapai $20.998.
Selisih negatif sekitar -$4.998 artinya banyak penambang merugi setiap kali mereka menghasilkan 1 BTC dan penambang kecil atau yang tidak efisien terpaksa berhenti beroperasi karena tidak lagi menguntungkan.
Akibatnya, hashrate jaringan menurun, sehingga protokol Bitcoin melakukan difficulty adjustment yang secara otomatis menyesuaikan kesulitan menambang agar probabilitas penambang menemukan blok meningkat, sehingga potensi profitabilitas mereka juga naik dan membuat harga produksi sesuai dengan harga pasar.
Metode ini menilai nilai intrinsik crypto dengan cara memproyeksikan manfaat di masa depan—seperti volume transaksi atau tingkat adopsi, lalu menghitung kembali nilainya ke saat ini menggunakan discount rate. Konsepnya mirip dengan discounted cash flow (DCF) di analisis keuangan tradisional.
Bagaimana cara menerapkannya? Analis biasanya memperkirakan:
Use case yang mungkin berkembang di masa depan.
Tingkat adopsi (berapa banyak orang yang akan menggunakan).
Aktivitas transaksi (berapa banyak transaksi yang akan terjadi).
Setelah itu, proyeksi manfaat ekonomi tadi “didiskon” agar sesuai dengan nilai saat ini, karena uang atau manfaat masa depan nilainya selalu lebih rendah dibanding hari ini.
Mari kita coba ke satu proyek crypto populer yakni—TRON (TRX).
Tron mendapatkan nilai intrinsiknya dari perannya sebagai pembayaran digital, DeFi, dan transfer stablecoin.
Menurut data Token Terminal, total transaksi harian Tron mencapai 9 juta dengan rata-rata biaya transaksi $0.8186.
Dengan asumsi biaya rata-rata per transaksi adalah $0,8186, maka total biaya transaksi harian adalah:
9.000.000×0,8186=$7.367.400 per hari
Ini setara dengan biaya transaksi tahunan sebesar:
7.367.400×365=$2,689 miliar per tahun
Untuk menghitung nilai intrinsik Tron selama 10 tahun ke depan, kamu bisa menerapkan discount rate sebesar 10%. Dengan menggunakan rumus discounted value, total nilai terdiskon dari biaya transaksi Tron selama 10 tahun kedepan diperkirakan mencapai sekitar $16,52 miliar.
Jadi hasil estimasi discounted utility model nilai intrinsik Tron berdasarkan data tadi ada di $16,52 miliar.
Contoh tersebut hanya ilustrasi untuk menunjukkan cara kerja discounted utility model dalam memperkirakan nilai intrinsik Tron, sementara dalam kenyataannya biaya transaksi tidak tetap dan bisa berubah karena faktor jaringan, jenis transaksi, maupun insentif pengguna.
Penutup
Analisis fundamental crypto adalah metode untuk menilai nilai intrinsik sebuah proyek berdasarkan faktor mendasar seperti teknologi, tim pengembang, tokenomics, komunitas, dan data on-chain. Dengan lebih dari 47 juta token crypto yang beredar, FA menjadi filter penting untuk membedakan proyek potensial dari sekadar hype.
Tiga pendekatan populer untuk menghitung nilai proyek dan utility token adalah Metcalfe’s Law (mengukur nilai jaringan dari jumlah pengguna aktif), Cost of Production (biaya produksi sebagai batas bawah harga wajar), dan Discounted Utility Model (memproyeksikan manfaat ekonomi masa depan lalu mendiskontokannya ke nilai saat ini).
Memahami metode ini membantu investor mengidentifikasi aset undervalued atau overvalued, mengurangi risiko, dan fokus pada crypto dengan prospek jangka panjang.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Referensi:
Cointelegraph. Intrinsic value of crypto: What is it and how to calculate it. 2024
CFX. Mengenal Analisis Fundamental dalam Aset Kripto. 2025
Membeli crypto tentunya membutuhkan strategi, dan tidak hanya bisa mengandalkan keberuntungan. Strategi ini bisa dalam bentuk analisis fundamental dan analisis teknikal.
Jika analisis fundamental berfokus pada pada value aset dari sisi proyek, seperti teknologi, tim pengembang, tokenomics, adopsi, dan berita regulasi. Maka analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga dan volume di chart untuk membaca tren, pola, dan sinyal beli atau jual.
Bagi pemula, mungkin banyak yang menganggap analisis teknikal merupakan suatu hal yang membingungkan, karena harus membaca grafik harga yang terus bergerak setiap saat.
Agar kamu lebih memahami mengenai analisis teknikal dan indikator crypto yang ramah untuk pemula, simak penjelasan berikut.
Apa Itu Analisis Teknikal dalam Crypto?
Analisis teknikal adalah metode untuk mempelajari pergerakan harga suatu aset berdasarkan data historis pasar yang tertuang dalam bentuk grafik (chart).
Data yang ditampilkan dalam bentuk chart tersebut mengandung informasi penting, seperti harga pembukaan, penutupan, tertinggi, dan terendah.
Dengan menganalisis pola dan tren yang muncul dari grafik tersebut, kamu dapat memahami perilaku pasar dan psikologi pelaku pasar yang tercermin langsung dalam pergerakan harga.
Kamu bisa menggunakan analisis teknikal untuk membantu kamu dalam hal:
Menentukan waktu terbaik membeli atau menjual aset.
Menurut salah satu teori Dow yang diungkapkan oleh Charles Dow, seorang wartawan Wall Street Journal. Yakni, teori Market Discounts Everything—menjelaskan bahwa pola harga aset di pasar mencerminkan segala informasi berita, harapan, ketakutan, sekaligus ketamakan para pelaku pasar.
Ini artinya setiap perubahan harga bukanlah kejadian acak dan kebetulan, melainkan hasil dari reaksi kolektif pelaku pasar terhadap berbagai informasi yang muncul.
Ketika berita tentang suku bunga, inflasi, atau aksi korporasi muncul misalnya, pasar akan langsung merespons dan menyesuaikan harga.
Harga ini biasanya membentuk sebuah tren, yaitu tren naik (uptrend), tren turun (downtrend), dan tren mendatar atau tanpa tren (sideways) yang cenderung membentuk pola berulang dari waktu ke waktu.
Pola ini muncul karena perilaku dan psikologi pelaku pasar—seperti rasa takut (fear), keserakahan (greed), dan euforia yang sering kali mirip, sehingga pola harga masa lalu bisa muncul kembali di masa depan.
Dengan menggunakan analisis teknikal, kamu bisa memahami bagaimana tren dan pola dari aset crypto yang ingin kamu beli, sehingga akan memudahkanmu untuk mengambil keputusan berdasarkan data pasar—bukan hanya sekadar insting.
Support dan Resistance adalah dua konsep paling mendasar dalam analisis teknikal yang digunakan untuk mengidentifikasi level harga penting di mana pergerakan harga cenderung tertahan atau berbalik arah.
Support adalah level harga di mana tekanan beli (buying pressure) cukup kuat untuk menghentikan atau membalikkan penurunan harga. Ibarat lantai, support menahan harga agar tidak jatuh lebih dalam.
Resistance adalah level harga di mana tekanan jual (selling pressure) cukup kuat untuk menghentikan atau membalikkan kenaikan harga. Ibarat atap, resistance menahan harga agar tidak naik lebih tinggi.
Beberapa strategi sederhana dalam menggunakan support dan resistance:
Buy di Support → Trader sering mempertimbangkan masuk posisi beli ketika harga mendekati atau memantul dari level support.
Sell di Resistance → Trader mempertimbangkan masuk posisi jual ketika harga mendekati atau memantul dari level resistance.
Breakout → Jika harga menembus resistance dengan volume tinggi, ini bisa menjadi sinyal potensi tren naik berlanjut. Sebaliknya, penembusan support bisa menjadi sinyal tren turun berlanjut.
Role Reversal → Setelah ditembus, support sering berubah menjadi resistance baru, dan resistance sering berubah menjadi support baru.
Keunggulan Menggunakan Support dan Resistance
Mudah dipahami: Konsep visual sederhana yang bisa diterapkan di semua instrumen.
Bisa dikombinasikan dengan indikator lain: Misalnya RSI untuk mengonfirmasi kondisi overbought/oversold di dekat level penting.
Relative Strength Index (RSI) adalah salah satu indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan momentum pergerakan harga suatu aset.
RSI bekerja dengan membandingkan besarnya kenaikan harga terhadap penurunan harga dalam periode tertentu, biasanya 14 hari, lalu menampilkannya dalam skala 0–100.
Indikator ini membantu trader mengidentifikasi kondisi jenuh beli (overbought) dan jenuh jual (oversold) yang sering menjadi sinyal potensi pembalikan arah harga.
Overbought → RSI berada di atas level 70 → Menandakan harga sudah terlalu tinggi dan berpotensi mengalami koreksi atau penurunan.
Oversold → RSI berada di bawah level 30 → Menandakan harga sudah terlalu rendah dan berpotensi mengalami rebound atau kenaikan.
Keunggulan Menggunakan RSI
Mudah dibaca: Hanya perlu memperhatikan level angka (30 dan 70) serta arah garis RSI.
Memberi sinyal awal: Dapat mengantisipasi potensi pembalikan harga sebelum terjadi.
3. Parabolic SAR (Stop and Reverse)
Parabolic SAR adalah indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengidentifikasi arah tren sekaligus memberikan sinyal potensi pembalikan (reversal) harga.
SAR adalah singkatan dari Stop and Reverse, yang berarti indikator ini membantu trader menentukan kapan harus jual dan beli sesuai arah tren yang sedang berlangsung.
Indikator ini ditampilkan dalam bentuk titik-titik (dots) yang muncul di atas atau di bawah harga pada grafik, dengan titik-titik di bawah harga yang berarti tren naik, dan titik-titik di atas harga yang berarti tren turun.
Potensi Tren Naik → Terjadi ketika titik-titik SAR berpindah dari posisi di atas harga ke posisi di bawah harga.
Potensi Tren Turun → Terjadi ketika titik-titik SAR berpindah dari posisi di bawah harga ke posisi di atas harga.
Keunggulan Menggunakan Parabolic SAR
Memberi sinyal visual yang jelas: Mudah dibaca bahkan oleh pemula.
Membantu menentukan titik entry dan exit: Cocok untuk strategi trend following.
Bollinger Bands adalah indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengukur volatilitas harga dan mengidentifikasi potensi area jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold).
Berikut beberapa strategi yang bisa kamu gunakan untuk membaca Bollinger Bands:
Bollinger Bounce → Harga cenderung memantul kembali ke arah middle band setelah menyentuh upper atau lower band, terutama saat pasar sedang sideways.
Breakout Volatilitas → Ketika harga menembus upper band dengan volume tinggi, sering dianggap sinyal potensi kelanjutan tren naik. Sebaliknya, penembusan lower band bisa menjadi sinyal potensi kelanjutan tren turun.
Squeeze → Ketika jarak antara upper dan lower band menyempit, menandakan volatilitas rendah dan potensi pergerakan besar akan segera terjadi.
Keunggulan Menggunakan Bollinger Bands
Mengukur volatilitas secara visual: Lebar pita menunjukkan seberapa aktif pergerakan harga.
Bisa dikombinasikan dengan indikator lain: Misalnya RSI atau MACD untuk mengonfirmasi sinyal.
Moving Average (MA) adalah salah satu indikator analisis teknikal paling populer yang digunakan trader untuk mengidentifikasi arah tren harga suatu aset.
Indikator ini menghitung harga rata-rata dalam periode waktu tertentu, misalnya 9 hari, 21 hari, 50 hari, atau 200 hari, sehingga pergerakan harga terlihat lebih halus dan tren pasar lebih mudah dikenali.
Salah satu strategi populer adalah mengamati persilangan (crossover) antara MA jangka pendek dan MA jangka lebih panjang:
Bullish Crossover (Golden Cross) Terjadi ketika MA jangka pendek memotong ke atas MA jangka panjang → Potensi tren naik.
Bearish Crossover (Death Cross) Terjadi ketika MA jangka pendek memotong ke bawah MA jangka panjang → Potensi tren turun.
Keunggulan Menggunakan Strategi Crossover
Mudah dipahami: Cukup perhatikan arah garis dan titik persilangan.
Adaptif: Periode MA bisa disesuaikan dengan gaya trading (scalping, swing, atau investasi jangka panjang).
Analisis teknikal menjadi salah satu bekal penting bagi siapa pun yang ingin berinvestasi atau trading aset crypto. Dengan memahami konsep dasar seperti support dan resistance, RSI, Parabolic SAR, Bollinger Bands, hingga Moving Average, kamu dapat membaca tren, mengenali pola harga, dan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar insting.
Jangan lupa, setiap indikator memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Kamu dapat mengombinasikan beberapa indikator—misalnya menggabungkan RSI dengan Bollinger Bands untuk membaca momentum sekaligus volatilitas, atau memadukan Moving Average dengan support/resistance untuk menentukan level beli dan jual yang lebih presisi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Referensi:
Investopedia. Understanding Dow Theory: Definition and Application in Market Trends. 2025.
Kompas.id. Teori Dow, Bekal Memaksimalkan Profit Investasi Saham. 2021.
Ekosistem BNB Chain menunjukkan ketahanan luar biasa di tengah gejolak pasar kripto global. Kapitalisasi pasarnya kini menembus $100,24 miliar (+1,02%), dengan volume perdagangan harian mencapai $3,44 miliar, meskipun mengalami koreksi 12,65%.
Dilaporkan Binance, kekuatan BNB Chain terletak pada sifatnya yang komunitas-driven sekaligus menjadi rumah bagi proyek-proyek inovatif, mulai dari token utilitas besar seperti BNB, hingga aset spekulatif seperti FLOKI.
Token Utama di Ekosistem BNB
BNB (Build and Build): Harga $871,35 (+1,35%), kapitalisasi pasar $119,20 miliar. Sebagai native token, BNB tetap jadi jangkar ekosistem dan penyumbang likuiditas terbesar.
Injective (INJ): Harga INJ $13,07 (+1,16%), market cap $1,27 miliar. Menarik karena fokus pada protokol DeFi lintas chain yang semakin relevan di tengah tren interoperabilitas blockchain.
Four (FORM): Harga $3,81 (+4,78%), market cap $1,26 miliar. Lonjakan FORM menunjukkan minat investor terhadap token baru yang menawarkan use case berbeda di ranah utilitas dan aplikasi terdesentralisasi.
FLOKI (FLOKI): Harga FLOKI $0,00009159 (+2,16%), market cap $857,61 juta. Meme coin satu ini kembali membuktikan bahwa narasi komunitas dan hype masih menjadi faktor penting dalam mendorong nilai di pasar kripto.
PancakeSwap (CAKE): Harga $2,41 (+0,46%), market cap $839,19 juta. Sebagai salah satu DEX terbesar di BNB Chain, CAKE mencerminkan keberlanjutan DeFi di tengah persaingan ketat dengan Uniswap dan ekosistem Ethereum.
Insight: Pergeseran Fokus di Ekosistem BNB
Dominasi BNB tetap kuat, tapi pertumbuhan terbesar justru datang dari token komunitas seperti FLOKI dan token utilitas baru seperti FORM.
DeFi masih relevan, terlihat dari keberadaan CAKE dan INJ yang konsisten menarik volume.
Investor tampak melakukan diversifikasi, tidak hanya pada token utama (BNB), melainkan juga proyek eksperimental yang bisa memberikan potensi high return.
Apa yang Harus Dicermati Investor?
FORM dan FLOKI bisa jadi “wild card” bagi trader spekulatif, meskipun risikonya tinggi.
BNB tetap jadi aset inti bagi mereka yang ingin eksposur jangka panjang ke ekosistem Binance.
CAKE dan INJ memperlihatkan bahwa DeFi di BNB Chain belum kehilangan momentum meskipun banyak proyek baru bermunculan di Ethereum dan layer-2 lain.
Dengan kombinasi stabilitas BNB dan potensi pertumbuhan token komunitas, ekosistem BNB Chain tampaknya masih jadi salah satu yang paling menarik di pasar altcoin 2025.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
BNB kembali menjadi pusat perhatian setelah gagal menembus level resistensi penting di $880. Saat ini, harga terkoreksi ke kisaran $831,97, meninggalkan banyak trader bertanya-tanya apakah support utama akan mampu menahan tekanan jual yang meningkat.
BNB Terpuruk di $880: Bulls Kehabisan Tenaga
Kenaikan harga BNB sempat terlihat meyakinkan, namun momentum bullish terhenti tepat di level $880. Menurut analisis dari sejumlah trader di platform X, area ini menjadi “tembok kokoh” yang sulit ditembus oleh pembeli. Penolakan di titik tersebut menandakan masih kuatnya dominasi penjual yang siap melakukan aksi profit-taking.
Meski begitu, koreksi ini belum sepenuhnya menjadi sinyal bearish jangka panjang. Beberapa analis teknikal menilai harga masih berpotensi menguji kembali area rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) yang sebelumnya ditembus. Dengan kata lain, penurunan ini bisa menjadi fase pullback sehat sebelum mencoba reli baru.
Tiga Level Kunci Penentu Arah Harga BNB
Pergerakan harga BNB (BNB/USDT) pada Rabu, 20 Agustus 2025. Sumber: Tokocrypto.
Dilaporkan The Tradeble, para trader kini mengawasi tiga zona support penting yang berpotensi menjadi titik balik pergerakan harga BNB:
$820 → Level pertahanan awal yang bisa memicu reaksi beli cepat.
$800 → Zona psikologis yang sering dianggap sebagai area akumulasi.
$780 → Support krusial sekaligus “kesempatan terakhir” untuk mempertahankan tren naik jangka menengah.
Jika harga BNB turun dan menemukan pijakan kuat di salah satu level ini, peluang untuk terjadi pantulan signifikan cukup besar. Rencana umum para pelaku pasar adalah menunggu harga menyentuh zona support, melakukan akumulasi, lalu mendorong kembali menuju resistensi di $880.
Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?
Pertanyaan besar saat ini: apakah pembeli siap kembali masuk di level support, ataukah penurunan lebih dalam akan terjadi? Mengingat BNB merupakan salah satu aset utama dalam ekosistem kripto, minat beli di level teknis umumnya cukup tinggi. Namun, jika $780 ditembus, sentimen pasar bisa berubah negatif dan membuka jalan menuju penurunan yang lebih dalam.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, trader disarankan untuk memantau level-level kunci ini dengan cermat. BNB mungkin sedang berada di persimpangan penting, di mana arah berikutnya akan ditentukan oleh kekuatan support versus tekanan jual.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Altcoin secara resmi telah melampaui Bitcoin dalam likuidasi kumulatif di Binance, menandai perubahan besar dalam minat spekulatif pasar kripto.
Menurut analis pasar, Joao Wedson, data tahun 2025 menunjukkan bahwa trader kini mengambil lebih banyak risiko pada altcoin dibandingkan Bitcoin. Hal ini berbanding terbalik dengan tren tahun 2024, di mana Bitcoin masih mendominasi aktivitas likuidasi.
Pada 2024, Bitcoin memimpin likuidasi, dengan volume posisi yang jauh lebih besar dibandingkan gabungan altcoin. Namun sejak Januari 2025, tren mulai bergeser. Likuidasi altcoin meningkat tajam dan perlahan mengikis dominasi Bitcoin.
Puncaknya terjadi pada Juli 2025, ketika altcoin mencatat lonjakan likuidasi pada posisi beli maupun jual, mendorong Delta Likuidasi Kumulatif BTC vs Altcoin di Binance ke titik terendah baru. Wedson menegaskan bahwa Juli menjadi titik balik, saat altcoin untuk pertama kalinya menyalip Bitcoin dalam aktivitas likuidasi.
Sinyal Minat Trader
Dilaporkan Cryptodnes, fenomena ini mencerminkan pergeseran sentimen yang lebih dalam di kalangan pelaku pasar. Trader kini berspekulasi lebih agresif pada altcoin, terdorong oleh volatilitas tinggi dan peluang keuntungan yang lebih besar.
“Semakin banyak trader yang dilikuidasi, semakin jelas pesannya — permintaan dan aktivitas perdagangan altcoin meningkat, melampaui BTC dalam hal minat spekulatif,” ujar Wedson.
Implikasi ke Depan
Secara historis, peningkatan likuidasi altcoin sering bertepatan dengan awal musim altcoin, yakni periode ketika modal bergeser dari Bitcoin ke altcoin. Periode ini kerap diikuti dengan reli harga eksplosif pada token-token berkapitalisasi kecil.
Lonjakan likuidasi altcoin kali ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar memasuki fase rotasi spekulatif baru. Dengan dominasi Bitcoin yang masih berada di atas 59% namun mulai datar, analis memperkirakan volatilitas altcoin berpotensi menjadi penggerak utama pasar kripto di kuartal berikutnya.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli