Tag Archives: dosanya

Larangan Mencela Makanan, Jika Tak Suka Tinggalkan


Jakarta

Ada sejumlah adab berkaitan dengan makanan yang perlu menjadi perhatian umat Islam. Salah satunya saat menjumpai makanan yang tidak disukai, Islam melarang mencelanya.

Mencela makanan termasuk perkara yang dilarang berdasarkan hadits Nabi SAW. Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkan tanpa mencela.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi tertulis hadits tersebut derajatnya Muttafaq ‘alaih. Hadits dikeluarkan Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Berikut bunyinya,


وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: مَا عَابَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ طَعَامَاً قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ . متفقٌ عَلَيْهِ .

Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata, ‘Rasulullah tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika beliau menyukainya maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya’.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain dikatakan,

وَعَنْ جَابِرٍ : أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدَمَ ، فَقَالُوا: مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلْ ، فَدَعَا بِهِ ، فَجَعَلَ يَأْكُلُ ، ويقول: (( نِعْمَ الْأُدْمُ الخَلُّ ، نِعْمَ الأُدْمُ الخَلُّ )) رواه مسلم .

Artinya: “Dari Jabir bahwasanya Nabi pernah menanyakan lauk kepada keluarganya, maka mereka menjawab, ‘Kami tidak mempunyai lauk kecuali cuka.’ Beliau lalu memintanya dan makan berkuahkan cuka, kemudian beliau bersabda, ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka’.” (HR Muslim)

Adab Makan yang Dicontohkan Rasulullah

Masih mengacu kitab Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi Edisi Indonesia, berikut sejumlah adab makan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW memerintahkan membaca basmalah sebelum makan. Diriwayatkan Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah dia membaca basmalah! Jika di awal dia lupa membaca basmalah, maka hendaklah dia mengucapkan Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan pada akhirnya).” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)

Adapun, anjuran membaca hamdalah setelah makan bersandar pada hadits dari Mu’adz bin Anas RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang makan suatu makanan kemudian berdoa, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku makanan ini dan telah menganugerahkannya kepadaku dengan tiada daya dan kekuatan dariku’ maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan)

2. Makan dari yang Terdekat

Anjuran makan dari yang terdekat bersandar pada riwayat Umar bin Abi Salamah RA. Ia berkata, “Saya adalah seorang anak kecil yang berada di bawah asuhan Rasulullah SAW, tangan saya (ketika makan) menjelajah semua bagian nampan panjang, lalu Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu’!” (HR Muttafaq ‘alaih)

3. Ambil Makanan dari Pinggir Piring, Dilarang Makan dari Tengah

Rasulullah SAW menganjurkan makan mulai dari bagian pinggir piring baru ke tengah. Anjuran ini berkaitan dengan keberkahan makanan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW, beliau bersabda,

“Keberkahan itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggirnya, dan jangan makan dari tengahnya.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)

4. Makruh Makan sambil Bersandar

Makan sambil bersandar termasuk perkara yang dilarang dalam Islam. Kemakruhan ini bersandar pada hadits dari Abu Juhaifah Wahb bin Abdillah RA, dia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Saya tidak makan sambil bersandar.” (HR Bukhari)

5. Makruh Meniup dalam Minuman

Perkara makruh lainnya berkaitan dengan makan dan minum adalah meniupnya. Menurut hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi SAW melarang bernapas dalam bejana atau meniupnya. Hadits tersebut dikeluarkan At-Tirmidzi dan ia menyatakan hasan shahih.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Keistimewaan Bulan Ramadhan Menurut Al-Qur’an dan Hadits


Jakarta

Keistimewaan bulan Ramadhan perlu diketahui muslim agar lebih giat mengerjakan amalan pada momen istimewa tersebut. Terlebih dalam waktu kurang dari dua pekan, umat Islam akan kembali bertemu bulan suci Ramadhan.

Menukil dari buku Fikih Puasa tulisan Ali Musthafa Siregar, Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Selain itu, Ramadhan juga termasuk bulan yang diberkahi karena Allah SWT mengkhususkan momen tersebut bagi umat Rasulullah SAW untuk mengerjakan amalan dengan ganjaran pahala yang luar biasa dahsyatnya dan tidak dapat ditemui pada bulan-bulan lain.

Berikut beberapa keistimewaan bulan Ramadhan yang bisa dipahami muslim.


Keistimewaan Bulan Ramadhan bagi Muslim

1. Diampuni Dosanya yang Lalu

Keistimewaan bulan Ramadhan bagi muslim yang pertama adalah dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah SWT. Berikut bunyi haditsnya yang dikutip dari kitab Sunan Ibnu Majah susunan Imam Al Hafizh Abi Abdillah Muhammad ibn Yazid al-Qazwini yang diterjemahkan Abdul Hayyie al Kattani dkk.

“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan (penuh) keimanan dan mengharapkan pahala maka semua dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih)

2. Setan dan Jin Dibelenggu

Bulan Ramadhan adalah waktu dibelenggunya para setan dan jin. Selain itu, pintu-pintu neraka ditutup oleh Allah SWT dan tidak ada satu pun yang dibiarkan terbuka.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Jika datang malam pertama dari bulan Ramadhan maka setan-setan dan jin akan diikat, pintu-pintu nerakan akan ditutup dan tidak ada satu pun pintu yang (dibiarkan) terbuka. Kemudian, pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang tertutup. Lalu ada seseorang yang menyeru,

‘Orang-orang yang menginginkan kebaikan, mendekatlah! Orang-orang yang menginginkan keburukan, menjauhlah! Cepat!’ Dan Allah (banyak) membebaskan orang dari api neraka. Semua itu dilakukan pada setiap malam (bulan Ramadhan).” (Shahih: At-Ta’liiq ar-Raghiib, 2/68)

3. Adanya Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Keistimewaan Ramadhan lainnya bagi muslim yaitu keberadaan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya,

“Bulan ini telah mendatangi kalian, dalam bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak bisa mendapatkan kebaikan (pada malam itu) maka ia tidak akan mendapatkan kebaikan seluruhnya dan tidak ada seorang pun yang tercegah untuk mendapatkan kebaikannya, kecuali orang-orang tertentu.” (Hasan Shahih)

4. Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

Mengutip dari buku Seri Fiqih Kehidupan oleh Ahmad Sarwat, Ramadhan adalah bulan diturunkannya kitab suci Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

5. Momen Mustajab untuk Berdoa

Keistimewaan bulan Ramadhan lainnya adalah menjadi waktu mustajab untuk berdoa karena banyak muslim yang berpuasa. Keutamaan ini disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah RA yang berkata Nabi SAW bersabda,

“Tiga orang yang doanya tidak akan ditolak: orang yang sedang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” (HR Ahmad)

Wallahu a’lam.

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com