Tag: etf bitcoin

  • BlackRock Diam-Diam Pindahkan Rp1,9 Triliun Bitcoin dan Ethereum

    BlackRock kembali menjadi sorotan pasar kripto setelah memindahkan aset Bitcoin dan Ethereum senilai lebih dari 120 juta dolar AS atau sekitar Rp1,9 triliun ke Coinbase. Langkah ini memicu spekulasi adanya tekanan jual lanjutan di tengah arus keluar dana besar-besaran dari ETF kripto di Amerika Serikat.

    Berdasarkan data on-chain yang dirilis Arkham Intelligence dan Lookonchain pada 2 Januari 2026, BlackRock mentransfer 1.134 Bitcoin senilai sekitar 101 juta dolar AS serta 7.255 Ethereum senilai kurang lebih 22 juta dolar AS ke Coinbase Prime, layanan kustodian khusus institusi milik Coinbase.

    Pergerakan ETF Milik BlackRock

    Baca juga: BlackRock Kejutkan Pasar Kripto, Ajukan ETF Ethereum Staking ke SEC!

    Pergerakan ini terjadi tak lama setelah pasar ETF kripto mengalami outflow signifikan di penghujung 2025. Data Farside Investors dan SoSoValue mencatat bahwa pada 31 Desember, ETF Bitcoin spot di AS mengalami arus keluar bersih sebesar 348,1 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, ETF IBIT milik BlackRock menyumbang 99,05 juta dolar AS. Sementara itu, ETF Ethereum mencatat total outflow 72,06 juta dolar AS, dengan dana BlackRock kehilangan sekitar 21,5 juta dolar AS.

    Meski IBIT masih menjadi pemimpin pasar ETF Bitcoin dengan kepemilikan sekitar 770.791 BTC senilai 67,4 miliar dolar AS, tren arus keluar ini menandai perubahan sentimen investor. Secara keseluruhan, arus dana ETF Bitcoin tercatat negatif dalam delapan dari sembilan hari perdagangan terakhir, sedangkan ETF Ethereum negatif dalam lima dari enam hari terakhir.

    Dilaporkan Coinlaw.io, tekanan pasar juga diperparah oleh jatuh tempo opsi kripto senilai 2,2 miliar dolar AS yang mencakup Bitcoin, Ethereum, XRP, dan Solana. Titik “max pain” Bitcoin berada di level 88.000 dolar AS, yang dinilai menambah potensi tekanan penurunan harga. Analis CryptoQuant memperingatkan bahwa jika outflow ETF berlanjut, harga Bitcoin berisiko turun di bawah 90.000 dolar AS dan bahkan bisa mengarah ke area 50.000 dolar AS.

    Pergerakan Harga Kripto

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 3 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 3 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Meski demikian, tidak semua sinyal bersifat negatif. Data Glassnode menunjukkan bahwa pemegang Bitcoin jangka panjang mulai berhenti menjual aset mereka, yang mengindikasikan adanya ketahanan di tengah tekanan pasar.

    Dari sisi harga, pasar kripto masih menunjukkan pergerakan campuran. Bitcoin tercatat naik 1,78% dalam 24 jam terakhir ke kisaran 89.412 dolar AS, sementara Ethereum menguat 2,25% ke level sekitar 3.048 dolar AS. Volume perdagangan Ethereum juga meningkat 7,12%, menandakan aktivitas pasar yang masih tinggi.

    Hingga kini, BlackRock belum memberikan pernyataan resmi terkait alasan di balik transfer aset tersebut. Ketidakjelasan ini membuat pelaku pasar tetap waspada, mengingat setiap langkah manajer aset terbesar di dunia kerap menjadi sinyal penting bagi arah pasar kripto ke depan.

    Baca juga: BlackRock Resmi Ajukan ETF Staked Ethereum, Langkah Bersejarah!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pegang 350.000 BTC, ETF BlackRock Kini Lebih Besar dari Coinbase

    Dominasi exchange kripto mulai mendapat tantangan serius. ETF Bitcoin milik BlackRock, iShares Bitcoin Trust (IBIT), kini mencatat volume perdagangan harian yang menyaingi Binance dan bahkan melampaui Coinbase hingga dua kali lipat.

    ETF Mulai Geser Peran Exchange

    Berdasarkan data dari Kaiko, IBIT saat ini mencatat volume transaksi harian di kisaran $16 miliar hingga $18 miliar. Angka ini jauh di atas Coinbase yang berada di kisaran $6 miliar–$8 miliar, dan mulai mendekati Binance sebagai pemimpin likuiditas global.

    Dikutip BeInCrypto, lonjakan ini menunjukkan bahwa produk keuangan berbasis regulasi semakin menjadi alternatif utama bagi investor, khususnya institusi, dibandingkan platform kripto tradisional.

    IBIT sendiri kini menguasai sekitar 70% pangsa volume di antara ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, memperkuat posisinya sebagai pemain dominan dalam kategori ini.

    Baca Juga: BlackRock Lepas $250 Juta ETH, Akankah Harga Ethereum Terkoreksi?

    Volume Tinggi, Tapi Dana Tidak Selalu Masuk

    Meski aktivitas perdagangan IBIT meningkat pesat, aliran dana ke ETF Bitcoin tidak sepenuhnya sejalan. Sepanjang kuartal pertama 2026, ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sebesar $496 juta.

    Pada dua bulan pertama, tekanan cukup besar dengan total dana keluar mencapai $1,8 miliar, seiring penurunan harga Bitcoin sebesar 23,8%—menjadi performa kuartal pertama terburuk sejak 2018.

    Namun, situasi mulai membaik di bulan Maret dengan masuknya dana sebesar $1,32 miliar, mengakhiri tren negatif yang berlangsung sejak Oktober 2025.

    Aliran Dana Mulai Stabil di Awal April

    Memasuki April, ETF Bitcoin kembali mencatat arus masuk meski masih terbatas. Pada 2 April, total net inflow mencapai $8,99 juta, dipimpin oleh Fidelity FBTC sebesar $7,29 juta.

    Sementara itu, ETF Ethereum justru mengalami tekanan dengan arus keluar mencapai $71,17 juta, termasuk penarikan terbesar dari produk BlackRock ETHA.

    Volume Tinggi Bukan Berarti Permintaan Baru

    Analis menilai tingginya volume perdagangan tidak selalu mencerminkan masuknya dana baru ke pasar. Aktivitas tersebut bisa berasal dari strategi hedging, rebalancing portofolio, atau transaksi jangka pendek.

    Hal ini menjelaskan mengapa volume IBIT melonjak, tetapi secara keseluruhan ETF Bitcoin masih mencatat performa kuartalan yang lemah.

    Tim Research Tokocrypto melihat fenomena ini sebagai tanda perubahan struktur pasar kripto. “Meningkatnya volume ETF seperti IBIT menunjukkan pergeseran preferensi investor, khususnya institusi, dari exchange kripto ke instrumen yang lebih terregulasi,” jelas mereka.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Jumat, 3 April 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Jumat, 3 April 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Namun, mereka juga menekankan bahwa volume tinggi belum tentu berarti minat baru.
    “Perlu dibedakan antara aktivitas trading dan arus modal masuk. Saat ini, sebagian besar volume kemungkinan berasal dari strategi manajemen risiko, bukan akumulasi jangka panjang,” tambahnya.

    Dengan capaian volume yang hampir menyamai exchange terbesar dunia, IBIT menjadi bukti bahwa batas antara pasar keuangan tradisional dan kripto semakin tipis.

    Arah selanjutnya akan sangat bergantung pada stabilitas harga Bitcoin serta kondisi makroekonomi global yang memengaruhi minat investor terhadap aset digital.

    Baca Juga: BlackRock Diam-Diam Daftarkan Staked Ethereum Trust


    nvestasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dana Segar $1 Miliar Masuk! ETF Bitcoin Bikin Pasar Bergairah Lagi?

    Arus dana ke produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat kembali menguat, mencatat enam hari berturut-turut inflow dan hampir mencapai US$1 miliar sejak awal Maret. Tren ini terjadi bersamaan dengan kenaikan harga Bitcoin yang signifikan dalam periode yang sama.

    Data terbaru menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto mulai pulih meski kondisi global masih diliputi ketidakpastian.

    ETF Bitcoin Catat Inflow 6 Hari Beruntun

    ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS mencatat inflow selama enam hari berturut-turut, menjadi tren terpanjang sejak Oktober 2025.

    Pada hari terakhir periode tersebut, ETF mencatat tambahan dana sebesar US$199,4 juta. Produk dari BlackRock dan Fidelity menjadi kontributor utama, masing-masing menyumbang US$139,4 juta dan US$64,5 juta.

    Secara total, sejak 9 Maret, inflow ETF Bitcoin telah mencapai sekitar US$962,8 juta.

    Harga Bitcoin Ikut Melonjak

    Sejalan dengan masuknya dana tersebut, harga Bitcoin juga mengalami kenaikan lebih dari 12%.

    Harga BTC naik dari sekitar US$65.960 menjadi US$74.250 dalam periode yang sama, mencerminkan hubungan erat antara arus dana institusional dan pergerakan harga pasar.

    Kenaikan ini juga menandai pemulihan setelah periode volatilitas yang dipicu oleh faktor makroekonomi global.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, arus dana ini menunjukkan permintaan institusional kembali agresif meski ketegangan geopolitik dan volatilitas minyak belum reda.

    “Kalau inflow ETF tetap konsisten, BTC punya bantalan demand yang kuat untuk menjaga momentum naik, tapi lonjakan FOMO juga bikin pasar lebih rawan pullback jangka pendek kalau aliran dana mulai melambat,” jelasnya.

    Baca juga: ETF Ethereum Staking Pertama BlackRock Catat Debut Kuat di Pasar

    Sentimen Pasar Mulai Membaik

    Meskipun ketegangan geopolitik, khususnya terkait Amerika Serikat dan Iran, masih berlangsung, sentimen pasar kripto menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

    Dilaporkan Cointelegraph, beberapa laporan menyebutkan bahwa spekulasi mengenai potensi meredanya konflik turut mendorong kenaikan harga Bitcoin.

    Selain itu, indikator Fear & Greed Index juga mengalami peningkatan dan mulai keluar dari zona “Extreme Fear,” menandakan membaiknya kepercayaan investor.

    FOMO Kembali Muncul di Pasar

    Data dari Santiment menunjukkan bahwa tingkat fear of missing out (FOMO) di pasar kripto kini berada pada level tertinggi sejak awal Januari.

    Hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai kembali melihat peluang pertumbuhan di sektor kripto dalam beberapa waktu ke depan.

    Meski demikian, analis tetap mengingatkan bahwa kondisi pasar masih dipengaruhi oleh faktor eksternal, sehingga pergerakan harga dapat berubah dengan cepat.

    Dengan kombinasi arus dana yang kuat dan sentimen yang mulai pulih, pasar kripto saat ini memasuki fase penting yang dapat menentukan arah tren selanjutnya.

    Baca juga: BlackRock Resmi Ajukan ETF Staked Ethereum, Langkah Bersejarah!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Terkuak Biang Kerok Kripto Rontok


    Jakarta

    Transaksi kripto mengalami tekanan berat jelang akhir tahun. Tekanan ini terjadi imbas kombinasi sejumlah sentimen, baik arus keluar dana ETF Bitcoin (BTC), tekanan jual investor, hingga makro ekonomi global.

    Pelemahan ini pun terjadi pada transaksi kripto di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto melemah 24,53% secara bulanan dari Rp 49,29 triliun di bulan Oktober 2025 menjadi Rp 37,20 triliun pada November 2025.

    Kemudian secara tahunan, transaksi aset kripto juga turun 19,72% atau terkoreksi sebesar Rp 109,76 triliun. Adapun rinciannya, total nilai transaksi aset kripto hingga November 2025 sebesar Rp 446,77 triliun dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp 556,53 triliun.


    CEO Tokocrypto Calvin Kizana menjelaskan penurunan transaksi ini terjadi seiring runtuhnya Bitcoin (BTC) yang mencatat bulan terburuk kedua sepanjang 2025.

    Pada November, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 17% akibat kombinasi arus keluar dana ETF Bitcoin, melemahnya permintaan institusional, dan tekanan jual dari investor jangka pendek.

    “Tekanan pasar global semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperluas kebijakan tarif terhadap China pada 10 Oktober 2025, yang memicu penilaian ulang risiko di pasar global. Volatilitas berlanjut hingga November dan diperparah oleh penutupan pemerintahan AS yang memecahkan rekor, sehingga memperketat likuiditas di pasar keuangan tradisional,” jelas Calvin dalam keterangan tertulis, Kamis (18/12/2025).

    Selain itu, arus dana institusional BTC juga melemah yang tercermin dalam data SoSo Value, di mana ETF Bitcoin di Amerika Serikat (AS) mengalami arus keluar dana sebesar US$ 3,48 miliar sepanjang November.

    Kondisi ini mempengaruhi sentimen investor domestik, yang cenderung mengambil posisi wait and see menjelang akhir tahun.

    Sementara berdasarkan transaksi di Tokocrypto hingga November 2025, total nilai transaksi tercatat mendekati Rp150 triliun. Capaian ini mencerminkan tingginya minat dan partisipasi pengguna meskipun pasar global tengah berada dalam fase koreksi.

    “Kami melihat pasar kripto global memang sedang berada dalam fase koreksi yang berdampak pada psikologi investor, termasuk di Indonesia yang cenderung bersikap wait and see menjelang akhir tahun. Namun, minat terhadap aset kripto tetap kuat,” pungkasnya.

    Simak juga Video: Modus Pria Bandung Bobol Situs Kripto London Rp 6,6 M

    (ahi/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Kripto Anjlok US$ 270 M, Bitcoin Sempat Jatuh ke Level US$ 54.000


    Jakarta

    Nilai pasar kripto secara keseluruhan anjlok pada hari Minggu kemarin hingga US$ 270 miliar atau sekitar Rp 4.347 triliun dalam jangka waktu 24 jam. Hal ini disebabkan karena investor berbondong-bondong menjual aset berisiko seperti bitcoin dan ether.

    Dikutip dari CNBC Internasional, Senin (5/8/2024), data CoinGecko menunjukkan, Bitcoin turun hingga 11% dan ether turun 21% dalam waktu 24 jam. Hal ini membuat nilai keseluruhan mata uang kripto anjlok sekitar US$ 270 miliar.

    Kondisi ini bertepatan dengan penurunan ekuitas di pasar Asia-Pasifik. Nikkei 225 Jepang anjlok hingga 7%, memperpanjang kerugian yang dimulai minggu lalu, setelah Bank of Japan mengumumkan akan menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 16 tahun.


    Lalu di Amerika Serikat (AS), Nasdaq merosot 3,4% minggu lalu ke wilayah koreksi, mengakhiri tiga minggu terburuk indeks yang sarat teknologi itu sejak September 2022. Saham Amazon dan Nvidia berkontribusi terhadap penurunan tersebut.

    “Penurunan saham minggu lalu sebagian terkait dengan laba yang mengecewakan, laporan pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, pengangguran yang lebih tinggi, dan sektor manufaktur yang menurun,” tulis CNBC.

    Di tengah kondisi tersebut, Federal Reserve AS memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil dan tidak menjanjikan penurunan suku bunga pada bulan September. Suku bunga yang lebih rendah cenderung berkorelasi dengan kinerja yang lebih baik untuk aset berisiko.

    Bitcoin Merosot ke Level US$ 54.000

    Sementara itu, harga Bitcoin telah mencapai level terendah sejak Februari. Mata uang kripto terbesar di dunia itu diperdagangkan sekitar US$ 54.000 atau sekitar Rp 869,4 juta. Meski demikian, harganya masih mencatatkan kenaikan hampir 23% tahun ini.

    Sedangkan harga ether, token asli yang menopang blockchain ethereum, turun menjadi sekitar US$ 2.300 atau setara Rp 37,03 juta dan telah menghapus keuntungannya untuk tahun ini. Token BNB Binance turun lebih dari 15% dan Solana diperdagangkan 10% lebih rendah.

    Kondisi hancurnya pasar kripto diproyeksikan akan segera dirasakan oleh basis investor yang lebih luas. Hal ini imbas atas Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menyetujui dana yang diperdagangkan di bursa spot baru atau ETF bitcoin spot untuk bitcoin dan ether.

    ETF telah melihat ratusan juta dolar mengalir ke koin tersebut. Pada hari Jumat lalu, CNBC melaporkan bahwa Morgan Stanley akan segera mengizinkan 15.000 penasihat keuangannya untuk menawarkan ETF bitcoin kepada kliennya. Ini merupakan langkah pertama di antara bank-bank besar Wall Street untuk mengadopsi kripto ke dalam portofolio investasinya.

    (shc/das)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Pecah Rekor Lagi Jadi US$ 76.000, Ini Penyebabnya


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) kembali mencapai rekor tertinggi atau All Time High (ATH) pada harga US$76.000, atau sekitar Rp1,2 Miliar yang didorong oleh beberapa faktor. Di antaranya, kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden AS, serta meningkatnya minat dari kalangan institusional.

    Hal ini disebabkan oleh sentimen positif yang menguat di pasar kripto. Ekspektasi investor terkait hasil Pilpres AS di mana Donald Trump mengungguli Kamala Harris.

    Trump dikenal memiliki sikap mendukung kebijakan yang pro terhadap aset digital dan sektor teknologi, sehingga memberikan pengaruh positif terhadap pasar kripto.


    Selain itu, Trump juga berencana untuk membentuk cadangan Bitcoin nasional dan menjadikan Amerika sebagai pemimpin global dalam hal aset Bitcoin. Selain faktor politik, pergerakan dana institusional di pasar juga menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga Bitcoin belakangan ini.

    Data dari Farside Investors menunjukkan bahwa pada 6 November 2024, ETF Bitcoin mencatat arus masuk sebesar US$621,9 juta pasca kemenangan Trump meningkat. CEO Indodax, Oscar Darmawan, menilai bahwa fenomena ini mencerminkan betapa kuatnya pengaruh peristiwa politik AS terhadap harga Bitcoin.

    “Ketika Bitcoin mencapai rekor harga tertingginya, ini menunjukkan kepercayaan dan harapan yang besar dari para investor. Faktor politik, seperti kemenangan Trump yang pro kripto pada Pilpres AS, memberikan dorongan psikologis yang signifikan di pasar,” ungkap Oscar. Oscar juga menggarisbawahi peran penting institusi besar dalam adopsi Bitcoin.

    “Adopsi Bitcoin bukan hanya didorong oleh para investor ritel, tetapi juga semakin kuat di kalangan institusi keuangan, terutama setelah adanya pengajuan ETF Spot Bitcoin dari perusahaan besar seperti BlackRock. Hal ini menunjukkan perubahan persepsi institusi terhadap aset kripto yang kini dilihat sebagai instrumen investasi jangka panjang,” tambah Oscar.

    Oscar menguraikan bahwa permintaan dari kalangan institusional, yang cenderung lebih stabil dan berjangka panjang, memberikan dampak terhadap keberlanjutan harga Bitcoin di level tinggi. “Ketika institusi mulai berinvestasi dalam Bitcoin, mereka membawa likuiditas yang lebih besar dan legitimasi ke pasar kripto. Ini menjadi bukti bahwa Bitcoin semakin diterima di kalangan mainstream dan bukan sekadar aset spekulatif semata,” jelas Oscar.

    Sebagai platform perdagangan aset digital terbesar di Indonesia, Indodax mengingatkan para investor untuk tetap berhati-hati dalam berinvestasi dan mempertimbangkan risiko yang ada akibat volatilitas pasar kripto. Indodax terus berkomitmen untuk menyediakan akses mudah ke aset digital serta memastikan keamanan dan transparansi dalam setiap transaksi bagi para pengguna

    Simak juga video: Elon Musk Dinyatakan Tak Bersalah Atas Tudingan Manipulasi Dogecoin

    [Gambas:Video 20detik]

    (kil/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Ini Pergerakan Harga Bitcoin yang Sempat Melonjak hingga 40%


    Jakarta

    Harga bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi pada Jumat pekan lalu yaitu tercatat US$99.000 atau lebih dari Rp1,5 miliar. Kenaikan ini membawa kapitalisasi pasar Bitcoin menjadi di atas US$1,9 triliun, dengan volume perdagangan harian mencapai US$52 miliar. Lonjakan harga Bitcoin mencerminkan momentum bullish yang terus berlanjut sejak awal bulan, meski ketika mayoritas altcoin mengalami penurunan.

    Kenaikan nilai Bitcoin menjadikannya aset terbesar ke-7 di dunia, melampaui silver yang berada di peringkat ke-9 dengan kapitalisasi pasar US$ 1,7 triliun. Saat ini, Bitcoin (US$ 1,9 triliun) berada di bawah emas (US$ 18,13 triliun), Nvidia (US$ 3,5 triliun), Apple (US$ 3,4 triliun), Microsoft (US$ 3 triliun), Amazon (US$ 2,07 triliun), dan Google (US$ 2,02 triliun) dalam daftar aset terbesar di dunia.

    Adapun salah satu pendorong utama kenaikan Bitcoin adalah laporan mengenai Trump Media and Technology Group yang sedang dalam pembicaraan untuk mengakuisisi perusahaan perdagangan kripto Bakkt.


    Berita ini memicu ekspektasi bahwa kebijakan pro-kripto akan diterapkan di bawah kepemimpinan Donald Trump. Faktor lainnya yang mendorong lonjakan harga ini adalah peluncuran produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin dari BlackRock, iShares Bitcoin Trust (IBIT), yang mencatat nilai perdagangan sebesar US$1,9 miliar pada hari pertama.

    Selain itu, peluncuran platform aset digital Goldman Sachs Group Inc. memberikan sentimen positif tambahan. Di sisi lain, CEO Coinbase, Brian Armstrong, bertemu Presiden terpilih Donald Trump (19/11) untuk membahas penunjukan pejabat pemerintahan baru.

    Pertemuan ini semakin memperkuat harapan akan kebijakan pro-kripto yang mendukung pertumbuhan industri. Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS 2024 juga berperan besar dalam mengangkat harga Bitcoin.

    Sejak diumumkan pada 6 November 2024, harga Bitcoin telah melonjak lebih dari 40%. Janji Trump untuk mendorong regulasi yang ramah kripto dan menjadikan Bitcoin sebagai cadangan aset nasional memicu optimisme di pasar. CEO INDODAX, Oscar Darmawan, memberikan pandangan yang mendalam tentang momentum ini.

    “Ketika kita melihat berita seperti Trump Media yang berniat mengakuisisi Bakkt dan pertemuan dengan Brian Amstrong, ini bukan hanya tentang ekspansi bisnis. Ini adalah langkah strategis yang memperkuat Bitcoin sebagai pilar utama di ekosistem ekonomi digital global. Kombinasi ini memberikan kejelasan arah yang sangat signifikan terhadap masa depan industri,” ujar Oscar dalam siaran pers, Kamis (28/11/2024).

    Dia menjelaskan ETF Bitcoin dari BlackRock menjadi tonggak sejarah yang menunjukkan bahwa lembaga-lembaga besar semakin meyakinkan bahwa Bitcoin lebih dari sekadar aset digital, tetapi juga alat diversifikasi portofolio jangka panjang.

    Oscar juga mengatakan bahwa kemenangan Trump di pemilu AS 2024 membawa dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar perubahan regulasi. “Kebijakan pro-kripto yang dijanjikan Trump menciptakan harapan bahwa Bitcoin dapat bertransisi menjadi aset strategis, bahkan mungkin sebagai cadangan nasional. Ini adalah langkah revolusioner yang menunjukkan pengakuan terhadap nilai intrinsik Bitcoin dalam konteks ekonomi global,” jelasnya.

    Di tengah dominasi Bitcoin, Oscar juga menggarisbawahi tantangan yang dihadapi altcoin. “Penurunan pada Ether dan altcoin lainnya memperlihatkan bahwa investor saat ini lebih cenderung memilih Bitcoin sebagai aset utama. Ini adalah refleksi dari kepercayaan pada Bitcoin yang terus meningkat di tengah ketidakpastian pasar,” ungkapnya.

    Dengan momentum ini, INDODAX berkomitmen untuk terus mendorong adopsi Bitcoin di Indonesia. “Kami tidak hanya melihat rekor harga ini sebagai pencapaian, tetapi juga sebagai peluang untuk mengedukasi pasar tentang pentingnya memiliki akses yang aman dan transparan ke aset digital. Melalui langkah ini, kami ingin menjadikan INDODAX sebagai gerbang utama investasi kripto di Indonesia,” ujar Oscar.

    Saksikan juga video: Jokowi Kaget Ada yang Belajar Robotik, Bitcoin hingga AI di UNU Yogya

    [Gambas:Video 20detik]

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Fund Manager di AS Tingkatkan Alokasi Dana ke Bitcoin Usai Cetak Rekor


    Jakarta

    Sebuah perusahaan fund manager Amerika Serikat (AS) meningkatkan alokasi dana di bursa berjangka (ETF) Bitcoin pada kuartal IV-2024. Hal itu dikarenakan harga mata uang kripto terbesar di dunia itu naik 47%.

    Dewan Investasi Negara Bagian Wisconsin meningkatkan kepemilikan ETF Bitcoin lebih dari dua kali lipat dalam tiga bulan terakhir pada 2024, menjadi 6 juta saham ETF iShares Bitcoin Trust (IBIT.O) pada 31 Desember 2024. Dana tersebut merupakan dana pertama yang melaporkan investasi dalam kripto setelah debut ETF bitcoin.

    Dana investasi besar lainnya juga meningkatkan kepemilikan di ETF yang diluncurkan pada Januari 2024. Tudor Investment Corp, manajer dana lindung nilai sistematis melaporkan kepemilikannya di ETF iShares sekarang yang terbesar dengan aset lebih dari US$ 55 miliar, naik menjadi 8 juta saham dari 4,4 juta saham.


    Nilai kepemilikan tersebut melonjak, mencerminkan lonjakan nilai bitcoin mencapai US$ 426,9 juta, naik dari US$ 159,9 juta pada akhir September 2024.

    Sebuah dana pemerintah Abu Dhabi, Mubadala Investment Co melaporkan upaya pertamanya ke ETF Bitcoin pada kuartal IV-2024, mengambil 8,2 juta saham di ETF iShares yang bernilai US$ 436,9 juta. Dana lindung nilai Hunting Hill Capital tidak memiliki eksposur terhadap ETF ini hingga akhir kuartal III, tetapi pada 31 Desember 2024 muncul kembali sebagai investor dengan posisi yang bernilai sekitar US$ 131 juta pada akhir tahun.

    “Kami telah aktif berdagang dalam kompleks ETF kripto yang lebih luas dan waktu pengajuan kuartal ketiga mungkin tidak sesuai dengan saat kami membeli dan menjual berbagai ETF,” kata Adam Guren, pendiri dan kepala investasi perusahaan tersebut dikutip dari Reuters, Minggu (16/2/2025).

    Cetera Advisors dan NewEdge Advisers termasuk di antara perusahaan yang meningkatkan kepemilikan di beberapa ETF, termasuk produk yang ditawarkan oleh Fidelity, ARK Investments dan Invesco (IVZ.N).

    Sementara itu, investor lain lebih selektif. Cresset Asset Management meningkatkan eksposurnya terhadap ETF yang memiliki biaya lebih rendah.

    (aid/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Cetak Rekor Lagi, Ini Pemicunya


    Jakarta

    Bitcoin mencatat kapitalisasi pasar hingga US$ 3,67 triliun atau sekitar Rp 59,68 kuadriliun (asumsi kurs Rp 16.262). Capaian ini terjadi usai harga aset kripto itu mencetak sejarah untuk pertama kalinya, yakni menjadi US$ 123.000.

    Posisi ini menjadikan bitcoin sebagai aset paling bernilai di dunia, menggeser Google dan menempati posisi keenam global. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi arus masuk besar ke ETF Bitcoin, peningkatan minat institusi, hingga ekspektasi pasar terkait regulasi di Amerika Serikat (AS).

    Berdasarkan data Farside Investors, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus masuk hingga US$ 1,17 miliar dalam satu hari. Angka ini menjadi yang terbesar kedua sepanjang sejarah untuk ETF kripto.


    Sementara BlackRock, memimpin dengan iShares Bitcoin Trust (IBIT) senilai US$ 448 juta, disusul Wise Origin Bitcoin Fund milik Fidelity sebesar US$ 324 juta. Total dana yang terkumpul di ETF Bitcoin spot kini melampaui US$ 50 miliar.

    Vice President INDODAX, Antony Kusuma, mengatakan, ETF Bitcoin dapat membeli Bitcoin dalam jumlah sangat besar, sedangkan Bitcoin yang ditambang jumlahnya sedikit. Penambang hanya bisa menghasilkan puluhan juta dolar per hari.

    “Tapi ETF bisa beli lebih dari US$ 1 miliar dalam satu hari. Jika permintaan jauh lebih besar daripada pasokan, wajar kalau harga terus naik dan mencetak rekor baru,” ungkap Antony dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/7/2025).

    Menurutnya, fenomena ini menunjukkan pasar kripto menjadi instrumen yang menarik bagi investor ritel. Bahkan sekarang, terang Antony, pemain besar seperti BlackRock dan Fidelity masuk dengan dana triliunan rupiah.

    “Dengan adanya ETF, mereka tidak perlu lagi repot menyimpan Bitcoin atau Ether sendiri. Cukup beli ETF seperti beli saham, dan ini membuat kripto jadi bagian dari pasar keuangan utama, bukan lagi dianggap eksperimen,” ungkapnya.

    Antony menegaskan, tren ini didukung oleh regulasi yang semakin jelas di sejumlah negara besar.Kejelasan regulasi ini memberi sinyal, aset kripto semakin diakui. Bahkan menurutnya, kejelasan regulasi ini dapat mendorong harga Bitcoin dan Ether bertahan di level tinggi atau naik lebih tinggi.

    Namun, ia mengingatkan investor agar tetap bijak mengingat harga tinggi tidak berarti harus membeli. Menurutnya, investor perlu menerapkan strategi investasi yang aman.

    “Seperti beli bertahap (Dollar-Cost Averaging), agar risiko terkendali. Karena meskipun prospeknya cerah, kripto tetap mengalami fluktuasi,” tutup Antony.

    Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tembus Rp 1,94 M, Harga Bitcoin Diramal Masih Bisa Menguat


    Jakarta

    Bitcoin (BTC) kembali menembus level US$ 117.000 atau sekitar Rp 1,94 miliar (asumsi kurs Rp 16.626) usai The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Penguatan harga ini juga didorong arus dana institusional yang masuk melalui ETF.

    Pada perdagangan hari ini, Jumat (19/9), BTC berada di harga US$ 117.182. Harga BTC juga masih berpeluang menembus level psikologis di angka US$ 120.000 atau sekitar Rp 1,99 miliar jika level support berada di posisi US$ 117.000.

    “Investasi kripto, terutama Bitcoin, saat ini tidak hanya bergantung pada sentimen ritel, tetapi sudah masuk ke dalam kerangka investasi institusi global. Arus masuk ETF menjadi bukti nyata bahwa aset digital semakin diterima sebagai instrumen keuangan utama,” ujar Vice President Indodax Antony Kusuma dalam keterangan tertulis, Jumat (19/9/2025).


    Antony menilai, level psikologis harga BTC US$ 120.000 merupakan tonggak penting. Pasalnya, harga tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan investor, melainkan juga berpotensi masuknya likuiditas baru dari institusi.

    Sementara dari sisi ritel, Antony menyebut mayoritas investor masih menunjukkan sikap hati-hati. Berdasarkan data on-chain, terjadi penurunan pada New Address Momentum atau menurunnya alamat baru yang masuk ke pasar.

    “Kehati-hatian ritel ini wajar, karena volatilitas Bitcoin memang tinggi. Namun, di sisi lain, aksi dari institusi justru menjadi fondasi utama reli kali ini,” jelasnya.

    Namun begitu, Antony menilai arah jangka panjang Bitcoin tetap positif, khususnya di tengah perubahan kebijakan moneter global menyusul pemangkasan suku bunga yang berpeluang menambah likuiditas pasar. Menurutnya, momentum ini selalu menjadi katalis bagi pasar kripto.

    Arus masuk ke ETF Bitcoin sepanjang pekan ini mencatat tren positif, meskipun sempat melambat saat keputusan FOMC belum diumumkan. Data ini memperkuat pandangan bahwa investor besar tidak terpengaruh gejolak jangka pendek, berbeda dengan investor ritel.

    “Institusi berinvestasi dengan visi jangka panjang. Sementara ritel masih sering terjebak dalam pola fear and greed. Perbedaan perilaku ini yang membuat tren harga saat ini lebih stabil,” terangnya.

    Ia menambahkan, fenomena ini juga menjadi pelajaran penting bagi investor kripto domestik untuk menyiapkan strategi akumulasi jangka panjang. Pasalnya jika tren arus masuk institusional terus berlanjut, pasar berpotensi melihat kapitalisasi BTC mendekati level tertinggi baru.

    Indodax mencatat minat pengguna lokal tetap tinggi disusul peningkatan jumlah investor perseroan yang tumbuh hingga 9 juta lebih. Meskipun sebagian investor ritel masih menunggu konfirmasi tren, Antony menyebut aktivitas transaksi di Indodax tetap stabil.

    “Pasar akan terus memantau langkah The Fed berikutnya. Jika siklus pemangkasan suku bunga berlanjut, maka ruang pertumbuhan Bitcoin semakin terbuka,” tegasnya.

    “Investor Indonesia harus memahami bahwa volatilitas adalah bagian dari perjalanan Bitcoin. Dengan pemahaman yang benar, risiko bisa dikelola dan peluang bisa dimaksimalkan,” pungkasnya.

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com