Tag: hadits

  • Sesama Muslim Adalah Saudara, Ini Hadits dan Penjelasannya



    Jakarta

    Ikatan saudara bukan hanya bagi yang memiliki keterikatan darah saja. Rasulullah SAW dalam haditsnya menyebutkan bahwa sesama muslim adalah saudara.

    Berbuat dan bersikap baik merupakan anjuran yang tegas diperintahkan bagi seluruh umat Islam. Kepada sesama muslim, wajib hukumnya untuk saling bersikap baik.

    Ada beberapa hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang persaudaraan sesama muslim.


    Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesama muslim adalah saudara, tidak boleh saling mendzalimi, mencibir atau merendahkan. Ketakwaan itu sesungguhnya di sini,” sambil menunjuk dada dan diucapkannya tiga kali. (Rasul melanjutkan): “Seseorang sudah cukup jahat ketika ia sudah menghina sesama saudara muslim. Setiap muslim adalah haram dinodai jiwanya, hartanya dan kehormatannya.”

    Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

    Merangkum buku 60 Hadits Shahih karya Faqihuddin Abdul dijelaskan bahwa hadits Abu Hurairah ini mengajarkan prinsip yang paling mendasar dalam Islam. Yaitu prinsip kemanusiaan melalui persaudaraan. Sesama muslim adalah saudara.

    Dalam hadits ini juga tegas diharamkan saling merendahkan, mencibir, menghina, dan apalagi mendzalimi. Perbuatan tercela ini termasuk tindak kejahatan.

    Secara umum, hadits ini bersifat universal yakni tentang persaudaraan sesama manusia. Meskipun hadits ini menyebutkan sesama muslim, tetapi sebenarnya tidak terbatas hanya pada muslim saja.

    Sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain bahwa keimanan adalah “mencintai sesuatu untuk manusia sebagaimana sesuatu itu kamu cintai untuk dirimu, dan menghindarkan sesuatu dari mereka sebagaimana sesuatu itu tidak kamu sukai terjadi pada dirimu.” (HR Ahmad)

    Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga banyak menegaskan tentang persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda,

    اَلْمُـسْــلِمُ أَخُو اْلمُسْلِمَ لَا یَظْـلِمُ وَلَایُظْلَمُ ـ منفق علیھ

    Artinya : “Orang Muslim sesama muslim adalah saudara tidak boleh saling menzalimi dan dizalimi.”

    وَااللهُ فِى عَوْنِ اْلعَـبْــدِ مَـا كَا نَ اْلعَـبْـدُ فِى عَـوْنِ أَخِـیْھِ ـ رواه مسلم

    Artinya : “Dan Allah senantiasa menolong hambanya selama hamba Nya itu menolong Saudaranya”(HR. Muslim)

    سَ االلهُ عَـنْـھُ كُرْبَــةً
    َ نْـیَـا نَفَ
    مِنْ كُـرَ بَ الد
    مَنْ نَفَّـسَ عَـنْ مُـؤْ مِـنٍ كُـرْ بَـة
    مِنْ كُـرَ بٍ یَـوْ مَ اْلقِبَــا مَـةِ ـ رواه مسلم

    Artinya : “Dan barang siapa memberikan jalan keluar kepada sesama muslim dari problem hidupnya, maka Allah akan berikan jalan keluar baginya dari kesulitan di akhirat”(HR. Muslim)

    ُّ نْـیَا وَلْأ خِــرَةِ ـ رواه مسلم
    وَمَنْ سَــتَرَ مُسْـــلِمًا سَــتَرَةُااللهُ فِى الد

    Artinya : “Dan barang siapa menutup aib/ cela seseorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan diakhirat”(HR. Muslim)

    Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Islam hadir untuk kebaikan dan kerahmatan bagi manusia. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, berhak atas kerahmatan, kemaslahatan, kebaikan dan keadilan.

    Perintah untuk berbuat baik pada sesama juga termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 10 dan surat An Nisa ayat 36.

    إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al Hujurat:10)

    Surat An Nisa ayat 36,

    وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

    Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

    Mengutip tafsir ringkas Kementerian Agama RI, ayat ini menekankan tentang perintah untuk menyembah Allah SWT yang menciptakan kamu dan pasangan kamu, dan jaangaanlan kamu sekali-kali mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah dengan sungguh-sungguh kepada kedua orang tua, juga kepada karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh walaupun tetangga itu nonmuslim, teman sejawat, ibnu sabil, yakni orang dalam perjalanan bukan maksiat yang kehabisan bekal, dan hamba sahaya yang kamu miliki.

    Allah SWT tidak menyukai dan tidak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada orang yang sombong dan membanggakan diri di hadapan orang lain. Ayat yang lalu ditutup dengan ungkapan ketidaksenangan Allah kepada orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Mereka itu adalah orang yang kikir, dan juga menyuruh orang lain agar berbuat kikir dengan cara menghalangi orang lain berinfak dengan ucapan, dan memberi contoh berinfak dengan jumlah yang sangat ke-cil, dan juga secara terus menerus menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya dengan tidak mau menginfakkannya. Untuk itu, kami telah menyediakan hukuman untuk orang-orang kafir dalam bentuk azab yang menghinakan atas kesombongan mereka itu.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Hadits tentang Adab Menurut Islam


    Jakarta

    Dalam Islam, segala sesuatu memiliki adabnya tersendiri. Adab erat kaitannya dengan perilaku mulia atau akhlakul karimah.

    Mengutip buku Berguru Adab kepada Imam susunan Malik Masykur Lc, para ahli ibadah mendefinisikan adab sebagai kepandaian atau ketepatan mengurus segala sesuatu. Bahkan pada sejumlah hadits turut diterangkan mengenai adab.

    Adab lebih tinggi kedudukannya daripada ilmu. Dijelaskan dalam buku Adab dan Doa Sehari-hari untuk Muslim Sejati oleh Toriq Aziz, orang cerdas yang tidak beradab dapat melakukan keburukan, kemaksiatan, dan kesewenang-wenangan.


    Berikut sejumlah hadits tentang adab yang dapat dijadikan pedoman hidup seperti dinukil dari sumber yang sama dan arsip detikHikmah.

    1. Adab Memberi Salam

    Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang berbunyi,

    “Kamu memberi makan, menebarkan salam baik terhadap orang yang kamu kenal maupun terhadap orang yang tidak kamu kenal.” (HR Bukhari).

    2. Adab Bertetangga

    Terkait adab bertetangga juga dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim, berikut bunyinya:

    “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia menyukai bagi tetangganya apa yang ia sukai bagi dirinya.” (HR Muslim)

    3. Adab ketika Menguap

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Menguap itu berasal dari setan. Oleh karena itu, apabila seorang di antara kalian menguap, maka tahanlah semampunya.” (HR Muslim)

    4. Adab Berteman

    Berteman juga ada adabnya tersendiri. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah,

    “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang dari kalian berbisik tanpa menyertakan orang ketiga, sebab hal itu akan membuatnya sedih.” (HR Ibnu Majah)

    5. Adab ketika Buang Hajat

    Nabi Muhammad SAW melarang umatnya membuang hajat di tempat yang sering dilalui oleh orang-orang. Hal ini termasuk ke dalam adab ketika buang hajat yang diriwayatkan oleh Muslim.

    “Hati-hatilah dengan al la’nain (orang yang dilaknat oleh manusia)!” Para sahabatnya lantas bertanya, “Siapa itu al la’nain wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang yang buang hajat di jalan dan tempat bernaungnya manusia.” (HR Muslim)

    6. Adab Mengucap Salam

    Saat bertemu dengan saudara, seorang muslim hendaknya mengucap salam terlebih dahulu. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang tergolong sebagai adab mengucap salam dalam Islam,

    “Bila seorang berjumpa dengan saudaranya sesama muslim, hendaknya ia mengucapkan: Assalaamu’alaikum warrahmatullaah (semoga keselamatan dan rahmat Allah atasmu).” (HR Ahmad)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Isyarat Rasulullah Bakal Terjadi Huru-hara yang Harus Diwaspadai


    Jakarta

    Rasulullah SAW mengisyaratkan bakal terjadinya kerusuhan dahsyat yang harus diwaspadai dan dihindari. Kerusuhan ini berkaitan dengan datangnya hari kiamat.

    Isyarat Rasulullah SAW ini disebutkan Ibnu Katsir dalam An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan. Ibnu Katsir menyandarkan hal ini pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

    Rasulullah SAW bersabda,


    سَتَكُونُ فِتَنَّ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأَ أَوْ مَعَادًا فَلْيعُد به

    Artinya: “Akan terjadi huru-hara di mana orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari. Barang siapa mendekatinya, maka huru-hara itu akan menariknya lebih dekat. Maka dari itu, barang siapa mendapatkan di sana suatu benteng atau tempat berlindung lainnya, maka berlindunglah di situ.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Al Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab Al Fitan, bab Takunu Fitnatun al-Qa’idu Minha Khairun Minal Qa’im. Hadits tersebut juga terdapat dalam kitab Sunan At-Tirmidzi.

    Isyarat terkait datangnya huru-hara dan banyak terjadi kerusuhan juga disebutkan dalam hadits lain. Menurut hadits ini, kerusuhan yang dimaksud adalah pembunuhan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda,

    يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّمَ هُوَ قَالَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

    Artinya: “Waktu saling berdekatan, ilmu berkurang, kikir tak mau hilang, huru-hara merajalela, dan banyak terjadi kerusuhan. Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasul Allah kerusuhan apakah itu?’ Beliau menjawab, ‘Pembunuhan, pembunuhan’.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Al Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab al-Fitan bab Zhuhur Al Fitan.

    Huru-hara Berasal dari Arah Timur

    Ibnu Katsir dalam kitabnya juga memaparkan hadits yang menyebut bahwa huru-hara akan muncul dari arah timur. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri di sebelah mimbar sambil menghadap ke timur, lalu bersabda,

    أَلَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ أَوْ قَرْنُ الشَّمْسِ

    Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya huru-hara (akan timbul) dari sini, dari tempat munculnya tanduk setan–atau kata beliau: tanduk matahari.”

    Hadits serupa juga terdapat dalam kitab Sunan At-Tirmidzi dan At-Tirmidzi mengatakannya shahih. Diriwayatkan dari Abd bin Humaid, dari Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkhutbah di atas mimbar lalu bersabda, “Di negeri itulah tempat fitnah,” seraya menunjuk ke timur (yaitu tempat munculnya tanduk setan atau tanduk matahari.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Shalat Istisqa dan Tata Caranya Sesuai Syariat


    Jakarta

    Doa shalat istisqa dibaca untuk memohon turunnya hujan. Amalan sunnah ini dilakukan ketika suatu wilayah mengalami kekeringan atau kemarau panjang.

    Menukil buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 2 karya Prof Wahbah Az-Zuhaili, secara bahasa istisqa artinya meminta hujan. Sementara itu, menurut syariat istisqa berarti meminta hujan dari Allah SWT ketika semua orang membutuhkannya.

    Terkait shalat istisqa ini juga dijelaskan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan dari Abbad bin Tamim, ia berkata:


    “Sesungguhnya Rasulullah mengajak orang-orang keluar untuk memohon turunnya hujan. Beliau shalat dua rakaat bersama mereka, dan beliau membaca dengan suara keras. Setelah memindahkan kain selendang, beliau mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa memohon diturunkan hujan sambil menghadap kiblat.” (HR Bukhari)

    Doa Shalat Istisqa: Arab, Latin dan Terjemahnya

    Terdapat berbagai versi doa shalat istisqa yang dapat dibaca oleh kaum muslimin. Dikutip dari buku Super Lengkap Shalat Sunnah susunan Ubaidurrahim El-Hamdy, berikut bacaannya.

    1. Doa Shalat Istisqa Versi Pertama

    Doa shalat istisqa versi pertama ini merujuk pada hadits Abu Dawud, Hakim, dan Baihaqi.

    اللَّهمَّ اسْقِنَا عَيْنَا مُغْنِنَا رَبَّنَا نَافِعًا غَيْرُ ضَارِ عَاجِلا غَيْرُ آحِلٍ.

    Arab latin: Allaahumasqinaa ghaitsan mughiitsan naafi’an ghairu dhaarin ‘aajilan ghairu aajilan. marii-an

    Artinya: “Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan yang menyejukkan, menggembirakan dan membawa manfaat serta tidak membawa mudharat, dengan segera tanpa ditunda.” (HR Abu Dawud, Hakim, dan Baihaqi)

    2. Doa Shalat Istisqa Versi Kedua

    Selanjutnya, doa shalat istisqa versi kedua merujuk pada hadits Abu Dawud,

    اللهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِكَ، وَاشْرُ رَحْمَكَ وَأَحْيِ بَلْدَكَ البَيتِ

    Arab latin: Allaahumas qi ‘ibaadaka wa bahaa-imika, wan syur rah- mataka wa ahyi baldakal mayyit.

    Artinya: “Ya Allah, hujanilah hamba-hamba-Mu dan juga binatang-binatang-Mu, tebarkanlah kasih sayang-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati (gersang) ini.” (HR Abu Dawud)

    3. Doa Shalat Istisqa Versi Ketiga

    Sementara itu, doa shalat istisqa versi ketiga didasarkan pada hadits Abu Dawud dan Hakim.

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ لاإِلَهَ إِلَّا اللَّهَ فَعَلَ مَا يُرِيدُ اللَّهُم أَتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَّكَ أَنتَ الْغَنِي وَبَحْنُ الْفُقَرَاءَ، أُنزِلَ عَلَيْنَا الْغَيْتَ، وَاجْعَلْ مَا أَنزَلْتَ لنَا قُوةً وبلاغا إِلَى حِينٍ.

    Arab latin: Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmaanir rahiim. Maaliki yaumid diin. Laa ilaaha illaallaahu yaf’alu maa yuriid, allaahumma antallaahu laa ilaaha illaa anta, antal ghaniyyu wa nahnul fuqaraa’, anzil ‘alainal ghait- sa, waj’al maa anzalta lanaa quwwatan wa ballaaghan ilaa hiinin.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan, (Al-Fatihah 2-4). Tiada Tuhan selain Allah Yang Melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ya Allah, Engkau Allah yang tiada Tuhan selain Engkau. Engkau kaya dan kami tidak memiliki apa-apa. Turunkanlah hujan kepada kami. Dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan kepada kami sebagai kekuatan yang menembus waktu.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)

    Tata Cara Shalat Istisqa

    Menukil buku Fikih Sunnah susunan Sayyid Sabiq, tata cara shalat istisqa ialah sebagai berikut.

    • Mengerjakan sholat dua rakaat secara berjamaah
    • Rakaat pertama membaca surah Al Fatihah dan surah Al A’la
    • Rakaat kedua membaca surah Al Fatihah dan surah Al Ghasyiyah
    • Imam membaca khutbah. Pada khutbah pertama khatib membaca istighfar sebanyak sembilan kali dan pada khutbah kedua membaca istighfar tujuh kali.
    • Setelah selesai berkhutbah, imam menghadap kiblat seraya mengubah (memutar) pakaiannya. Yang kanan diputar ke sebelah kiri dan yang kiri diputar ke sebelah kanan, diikuti oleh semua jemaah yang hadir. Untuk kemudian bersama-sama berdoa
    • Membaca doa kepada Allah SWT

    Demikian doa shalat istisqa dan tata caranya yang bisa dipahami oleh kaum muslimin. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Orang yang Pertama Keluar dari Neraka lalu Masuk Surga



    Jakarta

    Ada penghuni neraka yang kelak dikeluarkan darinya untuk dimasukkan ke surga. Peristiwa ini disebut terjadi ketika Allah SWT telah selesai memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya.

    Hal tersebut dijelaskan melalui sebuah hadits dalam Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah RA sebagaimana dinukil Ibnu Katsir dalam kitab An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan.

    Mulanya Abu Hurairah RA menceritakan bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW terkait apakah bisa melihat Allah SWT pada hari kiamat. Rasulullah SAW kemudian menjawab bahwa manusia akan melihat Tuhannya dengan jelas.


    Sahabat bertanya, “Ya Rasul Allah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita pada hari kiamat?”

    Maka Rasulullah SAW balik bertanya, “Apakah kamu merasa samar ketika melihat bulan pada malam purnama?”

    Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasul Allah.”

    Rasulullah SAW kembali bertanya, “Apakah kamu merasa samar ketika melihat matahari yang tidak terhalang awan?”

    Mereka menjawab, “Tidak.”

    Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Sesungguhnya kamu akan melihat-Nya dalam keadaan seperti itu.”

    Rasulullah SAW lalu menceritakan peristiwa yang terjadi pada hari kiamat nanti. Dikatakan, Allah SWT akan mengumpulkan seluruh umat manusia lalu berfirman, “Barang siapa yang dulu menyembah sesuatu, maka ikutilah dia.”

    Para penyembah matahari kemudian mengikuti matahari, para penyembah bulan kemudian mengikuti bulan, dan para penyembah berhala lainnya mengikuti berhalanya.

    Lalu, tinggallah sekelompok umat yang termasuk orang-orang munafik. Allah SWT mendatangi mereka dalam wujud yang tidak mereka kenal seraya berfirman, “Aku Tuhanmu.”

    Tetapi mereka menjawab, “Kami berlindung kepada Allah darimu. Biarlah kami tetap di sini, sampai Tuhan kami datang menemui kami. Jika Tuhan kami datang, kami pasti bisa mengenal-Nya.”

    Maka Allah SWT pun datang dalam wujud yang mereka kenal seraya berfirman, “Akulah Tuhanmu.”

    Mereka pun menjawab, “Engkaulah Tuhan kami.” dan mengikuti-Nya.

    Setelah menceritakan hal itu, Rasulullah SAW kemudian menceritakan tentang shirath (jembatan) yang dibentangkan di antara dua pinggir neraka Jahannam. Orang yang pertama kali melewatinya adalah Rasulullah SAW dan umatnya.

    Rasulullah SAW bersabda, “Pada waktu itu tidak ada yang berbicara kecuali para Rasul dan doa yang selalu mereka ucapkan pada waktu itu adalah ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah’!”

    Rasulullah SAW juga menceritakan bahwa dalam Jahannam muncul kait-kait seperti duri-duri pohon sa’dan. Kait-kait itu menyambar orang-orang sesuai amal mereka masing-masing. Oleh karena itu, ada manusia yang binasa karena perbuatannya dan ada yang berhasil melewatinya.

    Setelah Allah SWT selesai memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya, Allah SWT hendak mengeluarkan beberapa orang penghuni neraka yang dikehendaki-Nya atas rahmat-Nya. Dia memerintahkan para malaikat mengeluarkan orang yang-orang yang dulu tidak menyekutukan Allah SWT, yang mendapat rahmat-Nya. Mereka ini adalah orang yang mengucapkan “La Ilaha Illallah.”

    Para malaikat dapat mengenali orang yang dimaksud Allah SWT meskipun mereka berada dalam api. Dikatakan, malaikat mengenalnya dari adanya bekas sujud pada anggota tubuh mereka.

    Demikianlah Allah SWT mengeluarkan penghuni neraka dalam keadaan hangus. Menurut sabda Rasulullah SAW, mereka disiram air kehidupan (Maa’ Al-Hayat) dan mereka pun tumbuh bagaikan biji-biji yang tumbuh di antara sampah-sampah yang terbawa arus.

    Itulah golongan orang pertama yang keluar dari neraka lalu masuk surga atas rahmat-Nya. Mereka adalah orang-orang yang yang dulunya tidak menyekutukan Allah SWT.

    Abu Hurairah RA menceritakan riwayat yang cukup panjang terkait orang yang dikeluarkan dari neraka ini. Keputusan ini berlangsung hingga tinggallah seorang lelaki yang wajahnya menghadap ke neraka. Dia adalah penghuni neraka yang paling akhir masuk surga.

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Di Mana Dajjal Berada Sekarang? Ini Penjelasan Hadits



    Jakarta

    Banyak hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa keberadaan Dajjal menjadi salah satu tanda datangnya kiamat. Sebuah hadits bahkan menjelaskan tentang keberadaan Dajjal.

    Lahirnya Nabi Muhammad SAW menjadi tanda akhir zaman. Nabi Muhammad SAW menjadi nabi penutup sekaligus nabi terakhir yang diutus Allah SWT.

    Diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad ra,


    “Aku melihat Rasulullah SAW mengisyaraatkaan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan, seraya berkata: “Aku diutus sedangkan jarak antaaraku dan kiamat seperti dua jari ini.” (HR Bukhari)

    Selain kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanda datangnya kiamat adalah hadirnya Dajjal. Seperti yang diriwayatkan oleh Samurah, bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam khutbahnya sewaktu terjadi gerhana matahari, “Demi Allah SWT! Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul 30 orang pendusta, yang diakhiri oleh pendusta bermata satu (Dajjal).” (HR Ahmad)

    Di Mana Dajjal Berada?

    Mengenai keberadaan Dajjal saat ini, dinukil dari buku Kiamat: Tanda-tandanya Menurut Islam, Kristen, dan Yahudi oleh Manshur Abdul Hakim, Nabi SAW pernah menyebut bahwa makhluk itu berlokasi di suatu pulau, sekitar Laut Yaman.

    Kabar tentang tempat berdiam dirinya Dajjal ini diketahui dalam sebuah hadits dari Fatimah binti Qais, yang menceritakan bahwa seorang sahabat nabi yakni Tamim Ad-Dari pernah bertemu Dajjal dan Al-Jassasah pada masa Rasulullah.

    Ketika itu, Dajjal sedang dibelenggu kedua tangan hingga lehernya, sementara kedua lutut sampai mata kakinya terikat dengan rantai besi.

    Hadits mengenai Tamim Ad-Dari ini dikenal oleh kalangan ulama dengan sebutan ‘hadits al-Jasaasah’. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyraath us-Saa’ah, Bab ‘Ibnu Shayyaad’.

    “Dari ‘Amir bin Syarahil bahwa dia bertanya kepada Fatimah binti Qais, saudari Adh-Dhahhak bin Qais, wanita itu termasuk orang yang berhijrah pertama kali. Fathimah berkata,

    “Aku mendengar suatu seruan untuk menunaikan sholat berjamaah. Kemudian aku berangkat ke masjid untuk mendirikan sholat bersama Rasulullah. Aku berada di barisan kaum wanita yang letaknya di belakang kaum laki-laki. Seusai sholat, Rasulullah duduk di mimbar sambil tertawa, lalu bersabda:

    “Setiap orang hendaknya diam di tempatnya masing-masing. Tahukah kalian, mengapa aku mengumpulkan kalian sekarang?”

    Kaum muslim kala itu menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.’

    “Aku bukan mengumpulkan kalian karena untuk memotivasi atau memberi peringatan. Aku mengumpulkan kalian karena Tamiim Ad-Daari, yang dulunya merupakan seorang penganut Nasrani, datang ke sini dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku sesuatu yang pernah aku sampaikan kepada kalian mengenai al-Masih ad-Dajjal.”

    Nabi SAW melanjutkan, “Dia bercerita bahwa dirinya bersama 30 orang dari suku Lakhm dan Jadzam, berlayar dengan sebuah kapal. Mereka dipermainkan ombak besar selama satu bulan di tengah laut . Kemudian mereka berlabuh ke sebuah pulau di tengah laut, hingga matahari tenggelam.”

    Lanjut Rasulullah, “Mereka duduk-duduk di dekat kapal, kemudian memasuki pulau itu. Mereka bertemu seekor binatang besar yang berbulu lebat, sedemikian lebatnya bulu hewan tersebut sehingga mereka tidak dapat membedakan mana bagian depan dan mana yang belakang. Mereka bertanya, ‘Siapa kamu?’

    Binatang itu menjawab, ‘Aku adalah al-Jassaasah (mata-mata).’

    Mereka bertanya, ‘Apakah al-Jassaasah itu?’

    Dia menjawab, ‘Wahai orang-orang. Temuilah orang yang ada di dalam gua itu, sebab dia sangat menanti-nantikan berita dari kalian.’

    Tamim berujar, ‘Ketika binatang itu menyebut keberadaan seseorang, kami khawatir, jangan-jangan binatang tersebut adalah setan. Kami pun cepat-cepat pergi memasuki gua. Dan ternyata di dalamnya kami lihat ada seorang manusia bertubuh sangat besar, merupakan pria terbesar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Tangannya terbelenggu ke lehernya. Kedua kakinya juga terikat dengan besi.’

    Mereka lalu bertanya, ‘Apa sebenarnya kamu ini?’

    Dia menjawab, ‘Kalian telah mendapat kabar tentang aku. Siapa kalian ini?’

    Mereka menjawab: ‘Kami adalah bangsa Arab. Kami berlayar dengan kapal. Kami dipermainkan ombak yang sangat besar selama sebulan. Lalu kami berlabuh ke pulaumu ini. Kami duduk-duduk tidak jauh dari kapal kami. Lalu kami memasuki pulau dan bertemu seekor hewan yang berbulu sangat lebat, dan dia menyuruh kami untuk mendatangi istana ini karena orang yang di dalamnya sangat ingin mendengar berita dari kami. Kami segera menemuimu di sini, padahal kami tidak tahu apakah kamu setan atau bukan.’

    Lelaki tersebut bertanya, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang Nukhail Bisan (sebuah kampung di Syam, tepatnya Palestina, sebelah sungai Thabriyah).’

    Kami bertanya, “Apanya yang kamu tanyakan?’

    Dia kembali bertanya, ‘Aku bertanya tentang kurmanya, apakah berbuah?’

    Kami jawab, ‘Ya, masih berbuah.’

    Dia berkata, ‘Ketahuilah, kurma di sana nanti tidak berbuah.’

    Dia berkata lagi, ‘Lalu bagaimana keadaan Danau Thabariyyah?’

    Kami balik bertanya,’Apanya yang ingin kamu ketahui?’

    Pria itu bertanya,’Apakah danau itu ada airnya?’

    Kami menjawab, ‘Ya, airnya berlimpah.’

    Dia berkata, ‘Air danau itu nanti akan habis.’

    Lelaki itu bertanya, ‘Lalu bagaimana dengan mata air Zughar?’

    Kami bertanya, ‘Apanya yang kamu tanyakan?’

    Dia menjawab, ‘Apakah mata air tersebut memancarkan air? Dan apakah penduduk disana bercocok tanam dengan memanfaatkan air dari mata air itu?’

    Kami menjawab, ‘Ya. Airnya banyak, dan penduduk di sana bercocok tanam dengan airnya.’

    Dia bertanya, ‘Ceritakanlah kepadaku, apa yang dilakukan oleh nabi yang diutus kepada bangsa yang buta huruf (bangsa Arab)?’

    Kami menjawab, ‘Dia telah keluar dari Mekah, dan tinggal di Yatsrib.’

    Pria itu bertanya, ‘Apakah orang-orang Arab memeranginya?’

    Kami menjawab, ‘Ya.’

    Tanya dia kembali, ‘Bagaimana dia melawan mereka?”

    Kami menjawab, ‘Dia telah menang atas orang-orang Arab, dan sekarang mereka tunduk, taat kepadanya.’

    Dia berkata, ‘Begitukah?’

    Kami berkata, ‘Ya, memang begitu.’

    Dia berkata, ‘Ketahuilah, memang lebih baik mereka menaatinya.’

    Lelaki itu melanjutkan, ‘Sekarang aku beri tahu kalian tentang diriku. Aku adalah al-Masih. Telah hampir tiba waktunya aku diizinkan keluar. Kalau aku telah keluar, aku menjelajahi bumi, tidak satu pun perkampungan yang tidak aku singgahi selama empat puluh hari, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah). Kedua kota itu diharamkan bagiku memasukinya. Setiap kali aku mau memasuki keduanya, aku dihadang malaikat yang memegang pedang terhunus, menghalangiku memasukinya. Di setiap jalan dari kedua kota itu terdapat malaikat yang menjaganya.’

    Fatimah berkata, ‘Sambil menekan tongkatnya pada mimbar, Rasulullah bersabda, “Ini (yakni Madinah) adalah Thayyibah. Ini adalah Thayyibah. Bukankah sebelumnya aku telah menyampaikan hal itu kepada kalian?”

    Orang-orang muslim pada saat itu menjawab, ‘Benar!’

    Beliau melanjutkan sabdanya:

    فَإِنَّهُ أَعْجَبَنِي حَدِيثُ تَمِيمٍ أَنَّهُ وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أَحَدِتْكُمْ عَنْهُ وَعَنِ الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ أَلا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّامِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ

    Artinya: “Cerita Tamim sangat menakjubkan hatiku, sangat sesuai dengan apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah, dia (Dajjal) ada di Laut Syam atau Laut Yaman. Tidak, melainkan dari arah timur. Dia dari arah timur, dari arah timur.”

    Fatimah binti Qais berkata, ‘Aku hafalkan ini dari Rasulullah sendiri.’ (HR Muslim)

    Hadits Tentang Fitnah yang Akan Menimpa Umat Islam

    Merangkum buku Tanda-tanda Kiamat karya Mahmud Rajab disebutkan beberapa hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang fitnah serta ujian bagi umat Islam. Ujian ini bahkan dijelaskan asalnya.

    Diriwayatkan dari Usamah ibn Zaid, Rasulullah SAW melepas pandangan ke dataran tinggi pinggiran Madinah, kemudian beliau bersabda, “Sungguh aku melihat tempat terjadinya fitnah dari sela-sela rumah kalian seperti turunnya hujan.” (HR Bukhari Muslim)

    Imam Nawawi mengatakan, “Perumpamaan dengan tempat turunnya hujan menunjukkan fitnah itu akan menimpa setiap kaum muslimin, bukan hanya satu golongan saja. Ini isyarat akan terjadinya pertempuran di antara sesama muslim seperti perang Jamal dan Shiffin.”

    Diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Fitnah akan muncul dari sini (beliau menunjukkan arah timur, arah munculnya dua tanduk syaitan) dan kalian akan saling membunuh. Sesungguhnya Musa membunuh keluarga Fir’aun karena tidak sengaja.” (HR Muslim)

    Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah! berkahilah negeri Syam dan Yaman” (2x), lalu seorang sahabat berkata: “Daerah Timur, ya Rasulullah!”, Rasulullah SAW bersabda, “Dari sana munculnya tanduk syaitan dan dari sana timbulnya 9/10 kejahatan.” (HR Ahmad)

    Di riwayat lain, sahabat berkata: “Daerah Irak, ya Rasulullah!”, Rasulullah SAW bersabda, “Dari sana sumber goncangan dan munculnya tanduk syaitan.”

    Wallaahu alam.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Hadits tentang Puasa Ayyamul Bidh dan Keutamaannya


    Jakarta

    Puasa Ayyamul Bidh merupakan salah satu amalan yang memiliki banyak keutamaan. Hal ini dijelaskan dalam sejumlah hadits puasa Ayyamul Bidh.

    Merujuk pada buku Sukseskan Bisnismu dengan 21 Amalan Sunah yang Terbukti Dahsyat karya Ahmad Jarifin, puasa Ayyamul Bidh adalah salah satu puasa sunnah yang dikerjakan Rasulullah SAW pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan kamariah. Tanggal tersebut bertepatan dengan waktu rembulan bersinar sempurna.

    Terdapat beberapa hadits puasa Ayyamul Bidh. Hadits-hadits ini berisi anjuran untuk tidak meninggalkan puasa Ayyamul Bidh hingga keutamaan bagi yang menjalankannya.


    Hadits Puasa Ayyamul Bidh

    Menukil Syarah Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi yang disyarah Musthafa Dib al-Bugha dkk dan diterjemahkan Misbah, berikut beberapa hadits puasa Ayyamul Bidh.

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Pertama

    أَوْصَانِي خَلِيْلِيْ ﷺ بِثَلَاثٍ صِيَامُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى وَأَنْ أُوَتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

    Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, dan salat Witir sebelum tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Kedua

    أَوْصَانِي حَبِيبِيِّ ﷺ بِثَلَاثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَاعِشْتُ : بِصِيَامٍ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَبِأَنْ لَا أَنَامَ حَتَّى أُوَتِرَ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

    Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepadaku agar tidak sekali-kali meninggalkan tiga hal selama hidupku, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, salat Dhuha, dan supaya aku tidak tidur sebelum mengerjakan salat Witir. (HR Muslim)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Ketiga

    صَوْمُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

    Artinya: “Puasa tiga hari setiap bulan itu seperti puasa sepanjang tahun.” (Muttafaq ‘alaih)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Keempat

    أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَقُلْتُ: مِنْ أَيِّ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ ؟ قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّ الشَّهْرِ يَصُومُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Artinya: “Apakah Rasulullah SAW biasa berpuasa tiga hari setiap bulan? Aisyah menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya lagi, ‘Pada tanggal berapa beliau berpuasa?’ Aisyah menjawab, ‘Beliau tidak menaruh perhatian pada tanggal berapa beliau berpuasa dari satu bulan’.” (HR Muslim)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Kelima

    إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثًا، فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ.

    Artinya: “Apabila kau berpuasa tiga hari dalam suatu bulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” (HR At-Tirmidzi)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Keenam

    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ أَيَّامِ الْبِيضِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ.

    Artinya: “Rasulullah SAW menyuruh kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh yakni tanggal 13, 14, dan 15.” (HR Abu Dawud)

    Hadits Puasa Ayyamul Bidh Ketujuh

    كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ رَوَاهُ النَّسَائِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

    Artinya: “Rasulullah SAW tidak pernah berbuka (selalu berpuasa) pada Ayyamul Bidh, baik beliau berada di rumah maupun sedang bepergian.” (HR An-Nasa’i)

    Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

    Puasa Ayyamul Bidh memiliki sejumlah keutamaan. Merujuk pada sumber sebelumnya, berikut beberapa keutamaan puasa Ayyamul Bidh.

    Puasa Ayyamul Bidh seperti Puasa Sepanjang Masa

    Meskipun hanya melaksanakan puasa selama tiga hari dalam satu bulan, pahala puasa Ayyamul Bidh seperti puasa sepanjang masa. Bahkan, nilainya sama dengan setiap hari seorang muslim berpuasa sepanjang hidupnya.

    Melaksanakan Wasiat Rasulullah SAW

    Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk dan anjuran menuju kebaikan untuk para umatnya. Salah satu petunjuk itu adalah melaksanakan puasa tiga hari dalam satu bulan, yaitu puasa Ayyamul Bidh.

    Mengikuti Kebiasaan Rasulullah SAW

    Tidak hanya memberikan saran kepada para sahabatnya untuk melaksanakan puasa tiga hari dalam satu bulan, Rasulullah SAW juga menjalankannya sepanjang hidupnya. Sebagai umatnya, setiap muslim juga hendaknya mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Saat Mendengar Petir Sesuai Ajaran Rasulullah SAW



    Jakarta

    Petir adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Suara petir yang menggelegar kerap kali membuat orang yang mendengarnya akan merasa takut dan khawatir. Dalam Islam, terdapat anjuran untuk berdoa ketika mendengar petir.

    Termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 20 , Allah SWT berfirman,

    يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَارَهُمْ ۗ كُلَّمَآ اَضَاۤءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِذَآ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوْا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَبْصَارِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ࣖ ٢٠


    Artinya: “Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

    Petir merupakan bentuk tasbih kepada Allah SWT. Termaktub dalam surah Ar Ra’d ayat 13, Allah SWT berfirman,

    وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهٖ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖۚ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَّشَاۤءُ وَهُمْ يُجَادِلُوْنَ فِى اللّٰهِ ۚوَهُوَ شَدِيْدُ الْمِحَالِۗ ١٣

    Artinya: “Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya. Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Mahakeras hukuman-Nya.”

    Ketika mendengar petir, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berdoa. Hal ini bertujuan untuk melindungi diri dan mengurangi rasa takut.

    Lantas, bagaimana doa mendengar petir? Berikut beberapa doa mendengar petir sesuai ajaran Rasulullah SAW.

    Doa Mendengar Petir

    Dikutip dari kitab Al-Adzkar oleh Al-Imam An-Nawawi, berikut beberapa doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika mendengar petir:

    Doa Pertama

    Jika mendengar suara guruh dan petir, Rasulullah SAW berucap,

    اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ، وَلَا تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ، وَعَافِنَا قَبْلَ ذُلِكَ

    Bacaan latin: Allahumma laa taqtulnaa bighadhabika wala tuhlikna biadzabika waafina qobla dzalika

    Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan murka-Mu, dan jangan binasakan kami dengan azab-Mu, serta selamatkanlah kami sebelum itu” (HR Ahmad dan lainnya)

    Doa Kedua

    Jika mendapati petir, kilat, dan hujan lalu mengucapkan doa ini tiga kali, maka ia akan selamat dari petir tersebut.

    سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ.

    Bacaan latin: Subhaanalladzii yusabbikhurra’du bihamdihii wal malaa-ikatu min khiifatih

    Artinya: “Mahasuci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya dan juga para malaikat karena takut kepada-Nya.” (HR Thabrani)

    Doa Ketiga

    سُبْحَانَ مَنْ سَبَّحَتْ لَهُ.

    Bacaan latin: Subhaana man subhatlahu

    Artinya: “Mahasuci Allah yang petir itu bertasbih kepada-Nya.” (HR Asy-Syafi’i dan lainnya)

    Dirangkum dari buku Pasti Terkabul oleh Thoriq Anwar, menurut sains, petir merupakan gejala alam karena pelepasan medan listrik yang menembus lapisan-lapisan udara sehingga menimbulkan listrik. Petir terbentuk dari muatan-muatan yang dibawa oleh awan.

    Dalam pandangan Islam, petir memiliki banyak istilah, seperti Ar Ra’d, Ash Shawa’iq, dan Al Barq. Ar Ra’d digunakan untuk menyebut geledek atau suara petir, sedangkan Ash Shawa’iq dan Al Barq digunakan untuk menyebut kilatan petir.

    Terdapat perbedan dalam pembentukan petir antara sains dan Islam.Dalam hadits marfu’, Rasulullah SAW mengatakan bahwa Ar Ra’d adalah malaikat pengatur awan dan bersamanya ada pengoyak api yang bertugas memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah SWT.

    Meski berbeda pendapat, keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama suara yang ditimbulkan karena sebuah gerakan. Sebagai seorang beriman, hendaknya membaca doa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

    Petir juga bertasbih kepada Allah SWT. Artinya, petir merupakan ciptaan Allah SWT, sama seperti manusia. Maka tidak dibenarkan jika petir dianggap sebagai Yang Maha Adidaya, apalagi menjadikan petir sebagai sesembahan.

    Wa’allahu a’lam.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Niat Berpengaruh pada Kehidupan Dunia dan Akhirat, Ini 10 Hadits tentang Niat



    Jakarta

    Niat yang terlintas ketika seseorang hendak melakukan perbuatan ternyata memiliki pengaruh besar. Dalam Islam, semua niat akan memberi pengaruh dalam kehidupan seorang muslim di dunia dan akhirat.

    Mengutip buku Hadits Pilihan (Materi Hafalan, Kultum dan Ceramah Agama) karya Muh. Yunan Putra, Lc., M.HI. dijelaskan niat secara bahasa adalah keinginan. Niat juga berarti sengaja untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut istilah niat adalah keinginan yang kuat untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah SWT.

    Niat terletak dalam setiap hati seorang hamba. Rasulullah SAW berpesan kepada seluruh muslim untuk menjaga hati agar senantiasa bersih dari niat buruk. Karena segala perbuatan dinilai berdasarkan niatnya.


    Dari Umar bin Khattab radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits tentang Niat

    Sangat banyak hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang hubungan niat perbuatan. Setiap niat baik akan mendapatkan balasan keutamaan yang bisa dirasakan di dunia dan akhirat. Demikian juga setiap niat buruk yang akan berbalas dosa.

    Merangkum buku Keikhlasan Niat dan Tentang Ketaqwaan oleh Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarif An-Nawawi Ad-Dimsyaqi, berikut beberapa hadits Rasulullah SAW tentang niat.

    1. Niat baik membawa kebaikan dunia akhirat

    Dari Ibnu Mas’ud, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Siapa yang menjadikan seluruh tujuannya menjadi satu cita-cita, yaitu cita-cita akhirat, Allah mencukupi tujuan dunianya. Siapa yang tujuannya bercabang-cabang dalam berbagai masalah dunia, Allah tidak akan peduli di lembah mana ia meninggal.” (HR Ibnu Majah, sanad haditsnya hasan li ghairih)

    2. Niat buruk akan berbalas keburukan

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbesit dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana.”

    3. Niat lebih penting daripada amal

    Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda:

    “Niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya.” (HR Al-Baihaqi)

    4. Niat dapat meluaskan rezeki

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan maksud mengembalikannya, maka Allah akan membayarkannya. Siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud untuk merusaknya, maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari)

    5. Niat baik akan mendapat pahala berlipat

    Dari Ibnu ‘Abbas RA, Nabi Muhammad bersabda:

    “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat sampai kelipatan yang banyak.

    Barangsiapa berniat berbuat buruk tetapi dia tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    6. Balasan pahala sesuai niat

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Allah telah memberikan balasan kepadanya sesuai dengan kadar niatnya.”

    Hadits ini disabdakan ketika beberapa orang sahabat tertinggal pada Perang Tabuk, mereka sangat ingin ikut berperang bersama Rasulullah SAW dalam peperangan itu, akan tetapi mereka mendapatkan rintangan, sebagian di antara mereka tidak memiliki perbekalan dan tidak mempunyai unta.

    Rasulullah SAW tidak dapat membawanya, ada di antara mereka yang mungkin sakit, ada di antara mereka yang tidak dapat ikut karena mengatur urusan di Madinah, dia menjaga Madinah. Rasulullah SAW memberitahukan bahwa mereka yang tidak dapat ikut berperang karena ada halangan, mereka tetap mendapatkan balasan pahala.

    7. Niat berbalas kebaikan

    Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Ma’n bin Yazid dia berkata,”Yazid ayahku mengeluarkan beberapa Dinar untuk bersedekah, dia memberikannya kepada seseorang di masjid, aku datang dan mengambilnya dan memberikannya kembali kepada ayahku, dia berkata, “Demi Allah, apakah yang engkau inginkan”.

    Ia mengadukanku kepada Rasulullah, beliau berkata, “Engkau memperoleh apa yang engkau niatkan wahai Yazid, dan engkau mendapatkan apa yang telah engkau ambil wahai Ma’n.”

    Sang ayah tidak berniat memberikan harta yang telah dia keluarkan itu untuk anaknya, akan tetapi Allah SWT membalasnya dengan niatnya yang benar, dia mendapatkan balasan meskipun hartanya kembali.

    8. Niat dapat mengubah yang buruk menjadi baik

    Rasulullah SAW berkata, bahwa seseorang berkata, “Aku akan bersedekah malam ini, dia pun keluar dan memberikan sedekah ke tangan pezina. Orang banyak berkata, ‘Malam ini dia bersedekah untuk seorang wanita pezina.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu atas pezina ini.’

    Kemudian dia berkata lagi akan bersedekah malam ini. Ia memberikan sedekah pada orang kaya. Mereka berkata, ‘Dia telah bersedekah kepada orang kaya.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu atas orang kaya.

    Selanjutnya ia berkata ‘Aku akan bersedekah.’ Dia keluar untuk bersedekah, dia bersedekah kepada seorang pencuri, dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu, atas pezina, orang kaya dan pencuri.’

    Ada yang berkata kepadanya, “Pezina itu, semoga dia menjaga dirinya dari perbuatan zina dengan sedekah itu, semoga orang kaya itu mengambil pelajaran darinya hingga dia mau menginfakkan harta yang telah diberikan Allah SWT kepadanya, dan semoga pencuri itu berhenti mencuri.”

    9. Niat seperti ruh dalam jasad

    Ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dilakukan seseorang tidak akan diterima kecuali dengan dua perkara. Pertama, ada niat yang tulus dan benar. Kedua, perbuatan yang dilakukan tersebut sesuai menurut syariat.

    Dalam masalah ini Ibnu Mas’ud berkata, “Ucapan tidak memberikan manfaat kecuali dengan amal, ucapan dan perbuatan tidak bermanfaat kecuali dengan niat, ucapan, perbuatan dan niat tidak bermanfaat kecuali sesuai dengan sunnah.”

    Setiap ibadah yang kosong dari niat maka tidak bernilai sama sekali, sama halnya seperti jasad tanpa ruh.

    10. Niat adalah amalan yang paling afdhal

    Niat itu merupakan amal yang paling afdhal, dalam sebuah hadits disebutkan, “Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya dan perbuatan orang munafik lebih baik daripada niatnya, semua manusia berbuat berdasar niatnya.”

    Dalam hadits yang lain disebutkan, “Niat seorang mukmin itu lebih sampai daripada amalnya.”

    Itulah beberapa hadits yang menjelaskan tentang niat. Semoga dengan penjelasan ini bisa membuat kita menjadi seorang muslim yang senantiasa istiqomah dan memiliki niat baik dalam segala amal perbuatan.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 8 Hadits tentang Kebersihan yang Jadi Anjuran Rasulullah


    Jakarta

    Kebersihan merupakan hal penting dalam Islam sebagaimana diterangkan dalam sejumlah hadits. Bahkan sebelum beribadah kaum muslimin harus suci dari kotoran, baik itu hadats kecil maupun besar.

    Mengutip buku Pendidikan Akhlak Berbasis Arba’in An-Nawawiyah susunan Dr Saifudin Amin MA, kebersihan adalah tolak ukur kehidupan umat Islam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan.

    Menjaga kebersihan sama artinya dengan menjaga kesehatan. Dengan begitu, kaum muslimin akan terhindar dari berbagai penyakit.


    Terkait kebersihan juga dijelaskan dalam sejumlah hadits. Seperti apa? Berikut bahasannya yang dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin susunan Imam Al Ghazali yang diterjemahkan oleh ‘Abdul Rosyad Siddiq.

    Kumpulan Hadits tentang Kebersihan

    1. Tempat Bersih Disukai Allah SWT

    Allah SWT menyukai tempat-tempat yang bersih. Hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

    إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ , نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ , كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ , جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ , فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Mahabersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Mahaindah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR Tirmidzi)

    2. Kebersihan Diri saat Hendak Salat

    Sebelum melaksanakan salat Jumat, para laki-laki disunnahkan untuk mandi dan memakai wewangian. Rasulullah SAW bersabda:

    إِنَّهَذَايَوْمُعِيدٍجَعَلَهُاللَّهُلِلْمُسْلِمِينَ،فَمَنْجَاءَإِلَىالْجُمُعَةِفَلْيَغْتَسِلْ،وَإِنْكَانَطِيبٌفَلْيَمَسَّمِنْهُ،وَعَلَيْكُمْبِالسِّوَاكِ

    Artinya: “Hari ini (Jumat) adalah hari raya yang dijadikan Allah SWT untuk umat Islam. Bagi siapa yang ingin melaksanakan salat Jumat, hendaklah mandi, memakai wangi-wangian kalau ada, dan menggosok gigi (siwak).” (HR Ibnu Majah)

    3. Pahala Menjaga Kebersihan

    Mengutip buku Fiqih Thaharah karya Ibnu Abdullah, Rasulullah mengatakan bahwa Allah SWT menjanjikan surga bagi yang membersihkan dahan pohon di jalanan,

    مرَّ رجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ : وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يُؤْذِيْهُمْ، فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

    Artinya: “Ada seorang lelaki yang membuang dahan pohon yang menghalangi jalan, lalu ia berkata, ‘Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini agar tidak mengganggu dan menyakiti kaum muslimin,’ maka Allah pun memasukkannya ke surga.” (HR Muslim)

    4. Kebersihan Sebagian dari Iman

    Rasulullah SAW menjadikan kebersihan separuh dari keimanan, sebagaimana bunyi sabdanya:

    الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

    Artinya: “Kesucian itu adalah setengah dari iman.” (HR Muslim)

    5. Anjuran Membersihkan Halaman

    Riwayat lainnya mengenai hadits tentang kebersihan ialah anjuran membersihkan halaman rumah. Berikut haditsnya:

    طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا ” . أخرجه الطبراني في “المعجم الأوسط” (4057) ، وحسنه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة”

    Artinya: “Sucikanlah halamanmu, karena orang Yahudi tidak menyucikan halamannya.” (HR Thabrani dalam Al Mu’jam Al-Awsat) (4057), digolongkan sebagai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Sahihah

    6. Pentingnya Menjaga Kebersihan Tempat Ibadah

    Selain menjaga kebersihan lingkungan, penting sekali untuk kita menjaga kebersihan tempat ibadah seperti masjid dan musala. Sebagai tempat untuk beribadah, sudah seharusnya dalam keadaan bersih dan bebas dari najis.

    Adapun bunyi hadits kebersihan ini adalah sebagai berikut:

    أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسلم ببنيان المساجد في الدور ، وأمر أن تنظف وتطيب “. أخرجه أحمد في “المسند” (26386) ، وصححه الشيخ الألباني في السلسة الصحيحة (2724)

    Artinya: “Rasulullah SAW memerintahkan agar masjid-masjid dibangun di dalam rumah-rumah, dan beliau memerintahkan agar rumah-rumah tersebut dibersihkan dan diberi wewangian.” (HR Ahmad dalam Al Musnah) (26386) dan disahkan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Sahihah (2724)

    7. Islam Dibangun dari Kebersihan

    Dalam sebuah riwayat, Aisyah Radhiallahu Anha menyebutkan bahwa, Rasulullah pernah bersabda, “Agama itu dibangun berasaskan kebersihan.” (HR Muslim)

    Rasulullah SAW juga pernah berkata, untuk membersihkan segala sesuatu karena Islam dibangun atas kebersihan.

    تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

    Artinya: “Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah Ta’ala membangun Islam ini di atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.” (HR Ath-Thabrani)

    8. Menjaga Kebersihan Tubuh

    Kaum muslimin juga berkewajiban menjaga kebersihan tubuhnya, salah satunya dalam hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa kaum Muslim hendaknya memuliakan rambut dengan cara merawatnya.

    “Siapa yang memiliki rambut, maka muliakanlah ia.” (HR Abu Dawud)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com