Tag: hadits

  • Danau Thabariyah Disebut Mengering Jelang Kiamat karena Ya’juj dan Ma’juj


    Jakarta

    Danau Thabariyah disebut akan mengering karena diminum rombongan Ya’juj dan Ma’juj. Peristiwa ini disebut-sebut dalam hadits tentang kiamat.

    Danau Thabariyah atau juga dikenal Danau Tiberias dan Danau Galilea adalah danau di Israel. Danau ini menjadi muara Sungai Yordania.

    Keberadaan Danau Thabariyah yang diceritakan dalam hadits disebut akan menjadi salah satu tanda kiamat. Tepatnya saat peristiwa yang terjadi antara Nabi Isa AS dan munculnya Ya’juj dan Ma’juj.


    Mengutip buku Isa dan Al-Mahdi di Akhir Zaman karya Muslih Abdul Karim, hadits yang menceritakan Nabi Isa AS dan Ya’juj Ma’juj ini berasal dari Nawas bin Sam’an RA tentang keluarnya Dajjal yang sebagian riwayatnya disebutkan,

    “Kemudian Isa AS datang dan Allah melindungi mereka dari Dajjal. Dan mengusap wajah mereka lalu menceritakan tingkatan mereka di surga. Sementara di dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Allah ta’ala memerintahkan Isa, ‘Kami (Allah) telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak ada seorang pun yang mampu memerangi mereka. Maka bawalah hamba-hamba-Ku ke Thursina.’

    Allah mengeluarkan Ya’juj dan Ma’juj, sedangkan mereka keluar dari setiap dataran tinggi dengan cepat. Barisan pertama melewati Danau Thabariyah dan meminum seluruh airnya, sehingga ketika barisan terakhir melewati danau itu mereka berkata, ‘Dulu danau ini ada airnya’.”

    Dalam Ma’a Qashashi as-Sabiqin fi Al-Qur’an karya Shalah Abdul Fattah al-Khalidy yang diterjemahkan Setiawan Budi Utomo, rombongan tersebut mengepung Nabi Isa AS dan orang-orang mukmin yang mengikutinya di Gunung Thur di Sinai. Pengepungan ini berlangsung lama dan terasa berat bagi para mukmin.

    Allah SWT lantas memberikan jalan keluar. Dia menurunkan ulat di daerah pertahanan Ya’juj dan Ma’juj yang membuat mereka mati dalam sekejap. Kemudian, Allah SWT menurunkan hujan sehingga ulat-ulat itu terbawa air dan menghanyutkan jasad-jasad Ya’juj dan Ma’juj ke laut. Kejadian ini sekaligus mengakhiri kehidupan Ya’juj dan Ma’juj sebagai balasan atas onar yang mereka sebarkan.

    Sosok Ya’juj dan Ma’juj

    Yazid bin Abdul Qadir Jawas mengatakan dalam Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (edisi Indonesia terbitan Pustaka Imam Syafi’i), Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia biasa seperti kebanyakan manusia lainnya. Mereka adalah orang kafir yang mirip dengan orang bangsa at-Turk dengan mata sipit, berhidung pesek, berambut pirang, dan kulit yang bervariasi.

    Ahlus Sunnah meyakini Ya’juj dan Ma’juj akan muncul di akhir zaman. Hal ini terjadi setelah Nabi Isa AS membunuh Dajjal dan Allah SWT membinasakan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) dalam satu malam berkat doa Nabi Isa AS.

    Keberadaan Ya’juj dan Ma’juj juga dikisahkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Anbiyaa ayat 96-97,

    حَتّٰىٓ اِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ وَهُمْ مِّنْ كُلِّ حَدَبٍ يَّنْسِلُوْنَ ٩٦ وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَاِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ اَبْصَارُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ يٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا بَلْ كُنَّا ظٰلِمِيْنَ ٩٧

    Artinya: “hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibuka dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (Apabila) janji yang benar (yakni hari Kiamat) telah makin dekat, tiba-tiba mata orang-orang yang kufur terbelalak. (Mereka berkata,) “Alangkah celakanya kami! Kami benar-benar lengah tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang zalim.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Hujan Deras dan Ketika Sudah Reda, Salah Satu Waktu Mustajab


    Jakarta

    Doa dapat dibaca oleh setiap hamba kapan pun dan di mana pun. Termasuk ketika hujan deras melanda.

    Hujan adalah nikmat dan rahmat yang Allah SWT berikan untuk para hamba-Nya. Ada banyak ayat yang menyebutkan tentang hujan, salah satunya surah Ar Rum ayat 48. Allah SWT berfirman,

    اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ ٤٨


    Artinya: “Allahlah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakkan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira.”

    Doa hujan deras dapat dibaca oleh setiap muslim, seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Begini doanya yang dikutip dari buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan karya Ali Akbar bin Aqi.

    Doa Hujan Deras dalam Arab, Latin, dan Artinya

    اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الأَكَامِ وَالظِرَابِ وَبُطُوْنِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

    Bacaan latin: Allaahumma hawaa lainaa wa laa ‘alainaa, Allaahumma ‘alal-aakaami wazh-zhiroobi, wa buthuunil-awdiyati wa manaabitisy-syajari

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan ini di sekitar kami, jangan pada rumah-rumah kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ini pada dataran-dataran tinggi. bukit-bukit, perut-perut lembah, dan tempat-tempat tumbuhnya pohon.”

    Selain itu, bila hujan yang sangat deras dan tak kunjung henti, muslim bisa membaca doa agar hujan lekas reda. Dikutip dari buku Keutamaan Doa dan Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera oleh M. Khalilurrahman al Mahfani, berikut bacaan doanya.

    اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَ

    Bacaan latin: Allaahumma hawaalainaa walaa ‘alainaa, allaahumma ‘alal aakaami wazh zhiraab, wa buthuunil audiyati wa manaabitisy syaja

    Artinya: “Ya Allah curahkanlah hujan kepada kami dan yang tidak membahayakan bagi kami. Ya Allah curahkanlah hujan di atas bukit-bukit, pegunungan, lembah-lembah, dan hutan belantara.” (HR Bukhari)

    Doa setelah Turun Hujan dalam Arab, Latin, dan Artinya

    Masih mengutip dari sumber sebelumnya, hendaknya setelah turun hujan, seorang muslim juga membaca doa berikut:

    مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

    Bacaan latin: Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatihi

    Artinya: “Kita mendapat hujan hanya karena keutamaan dan rahmat Allah semata.”

    Jika seorang muslim ingin doanya dikabulkan oleh Allah SWT, hendaknya ia berdoa di waktu yang mustajab, seperti ketika turun hujan. Merujuk pada buku Amalan Pembuka Rezeki oleh Haris Priyatna dan Lisdy Rahayu, bukan hanya sebagai nikmat dari Allah SWT, hujan juga merupakan waktu terkabulnya doa. Hal ini berdasarkan dengan sabda Rasulullah SAW,

    “Doa tidak tertolak pada dua waktu, yaitu ketika azan berkumandang dan ketika hujan turun.” (HR Al Hakim)

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Berdoalah pada waktu doa-doa diperkenankan Tuhan, yakni pada saat berjumpa dengan pasukan musuh, ketika akan melaksanakan salat, dan ketika turun hijan.” (HR Asy Syafi’i)

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Munculnya Binatang Melata pada Waktu Dhuha Jadi Tanda Kiamat


    Jakarta

    Kiamat merupakan hari yang pasti terjadi sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al Hajj ayat 7. Kedatangan hari tersebut akan didahului dengan sejumlah tanda, salah satunya munculnya binatang melata yang menemui manusia pada waktu dhuha.

    Munculnya binatang melata yang menemui manusia pada waktu dhuha sebagai tanda kiamat disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dan Abu Daud serta Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr RA. Kemunculan binatang melata ini juga menjadi pertanda pertama menjelang kiamat.

    Abdullah bin Amr RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pertanda yang pertama-tama muncul (menjelang kiamat) adalah terbitnya matahari dari barat dan munculnya binatang melata menemui manusia pada waktu dhuha. Mana saja dari keduanya yang lebih dulu terjadi, maka tidak lama sesudah itu yang lainnya pun segera terjadi.”


    Binatang melata yang dimaksud dalam hadits tersebut dikenal dengan dabbah.

    Ahli tafsir dan takhrij hadits Ibnu Katsir dalam salah satu kitabnya, An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan, menjelaskan yang dimaksud pertanda dalam hadits tersebut adalah pertanda yang tidak lumrah yang berlawanan dengan kebiasaan yang dialami manusia selama ini.

    Pertanda itu, kata Ibnu Katsir, adalah binatang melata yang bisa berbicara dengan manusia. Binatang itu akan menandai mana orang kafir dan mana orang mukmin. Munculnya binatang melata ini dinyatakan dalam hadits setelah terbitnya matahari dari barat.

    Ibnu Katsir menukil pendapat Ibnu Abbas, Hasan, dan Qatadah bahwa binatang melata itu memang benar-benar berbicara kepada manusia. Pendapat ini turut didukung oleh Ibnu Jarir yang berhujjah dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (QS An Naml: 82)

    Ibnu Abbas sendiri menafsirkan maksud “binatang itu berbicara kepada manusia” bahwasanya binatang itu memberitahukan identitas manusia, yakni menulis kata “kafir” pada dahi orang kafir dan kata “mukmin” pada dahi orang mukmin.

    Tafsir tentang Waktu Munculnya Binatang Melata

    Ada sejumlah penafsiran terkait waktu munculnya binatang melata yang berbicara pada manusia. Menurut penjelasan dalam Nihayatul ‘Alam karya Muhammad al-‘Areifi sebagaimana diterjemahkan Zulfi Askar, boleh jadi keluarnya binatang melata terjadi pada hari yang sama ketika matahari terbit dari barat.

    Pendapat lain menyebut binatang tersebut akan keluar di akhir zaman ketika manusia rusak dan meninggalkan perintah-perintah Allah SWT.

    Tempat Munculnya Binatang Melata atau Dabbah

    Imam Syamsuddin Al-Qurthubi dalam kitab At-Tadzkirah yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal menyebutkan sejumlah hadits tentang tempat munculnya dabbah. Pertama, hadits yang diriwayatkan dari Abu Abdir Rahman Hisyam Yusuf Al-Qadhi Ash-Shan’ani, dari Rabah bin Ubaidullah bin Umar, dari Shuhail bin Abu Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW menyebut bahwa dabbah akan muncul di tempat yang bernama Jiyad.

    Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruk kampung adalah Jiyad.”

    “Kenapa, ya Rasulullah?” tanya para sahabat dan beliau menjawab, “Dabbah akan muncul dari kampung itu, lalu berteriak tiga kali, terdengar ke timur dan barat.”

    Terkait hadits tersebut, Imam Syamsuddin Al-Qurthubi mengatakan Rabah tidak punya mutabi’ (pengikut) tapi hadits ini juga dikeluarkan oleh Abu Ahmad bin Adi Al-Jurjani rahimahullah.

    Kedua, hadits dari Amr bin Al-‘Ash RA sebagaimana dituturkan Al-Qutaibi dalam kitabnya Uyun Al-Akhbar menyatakan bahwa dabbah akan muncul dari Makkah, dari sebatang pohon. Hal ini terjadi pada musim haji. Kepala hewan ini disebut mencapai awan, sementara kakinya belum keluar dari dalam tanah.

    Para ahli tafsir menolak perkataan Amr itu. Mereka juga menyebut dabbah adalah makhluk yang sangat besar yang keluar dari celah di Bukit Shafa. Tak ada seorang pun yang bisa melarikan diri darinya.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits tentang Hari Kiamat, Muslim Sudah Tahu?


    Jakarta

    Kiamat merupakan peristiwa besar di mana seluruh alam semesta akan mengalami kehancuran. Mempercayai adanya kiamat termasuk ke dalam rukun iman kelima.

    Tidak ada yang tahu pasti terkait kapan hari akhir ini tiba. Meski demikian, dalam sejumlah ayat Al-Qur’an disebutkan mengenai tanda-tandanya, salah satunya pada surah Al Qamar ayat 1-2.

    اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ ١


    وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ ٢

    Artinya: “Hari Kiamat makin dekat dan bulan terbelah. Jika mereka (kaum musyrik Mekkah) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.”

    Menukil buku Fikih Akhir Zaman oleh Dr KH Rachmat Morado Sugiarto Lc M A Al Hafizh, tanda kiamat terbagi menjadi dua yaitu kecil dan besar. Tanda-tanda kiamat kecil muncul setelah Nabi SAW wafat. Sementara itu, tanda-tanda kiamat besar adalah tanda yang akan terjadi berdekatan dengan hari kiamat.

    Hadits tentang Hari Kiamat

    Berikut sejumlah hadits yang menjelaskan terkait hari kiamat sebagaimana dinukil dari buku Tanda-Tanda Kiamat tulisan Mahmud Rajab Hamady.

    1. Kemunculan Dajjal sebagai Tanda Kiamat

    Rasulullah SAW bersabda,

    وَاللهِ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتّى يَخْرُجَ ثَلاثُونَ كَذَّابًا آخِرُهُمُ الأَعْوَرُ الدَّجَّالُ

    Artinya: “Demi Allah SWT! Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul 20 orang pendusta, yang diakhiri oleh pendusta bermata satu (Dajjal).” (HR Ahmad)

    2. Rasulullah SAW Diutus di Akhir Zaman

    Diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad RA,

    رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِإِصْبَعَيْهِ هَكَذَا بِالْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ، بُعِثْتُ وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ

    Artinya: “Aku melihat Rasulullah SAW mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari Tengah yang dirapatkan, seraya berkata: ‘Aku diutus sedangkan jarak antaraku dan kiamat seperti dua jari ini.’” (HR Bukhari)

    3. Banyak Orang Mengaku Utusan Allah SWT

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاثِينَ كلهُمْ يَزْعَمُأَنَّهُ رَسُوْلُ الله

    Artinya: “Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul para pendusta. Jumlah mereka kurang lebih 30 orang dan seluruhnya mendakwakan diri bahwa mereka adalah Rasulullah (utusan Allah).” (HR Bukhari)

    4. Tanda Kiamat Peperangan Dua Kelompok

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda,

    لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتلَ فَئَتَان تَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ

    دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ

    Artinya: “Hari Kiamat tidak akan terjadi, hingga dua kelompok berperang. Pembunuhan besar-besaran akan berlangsung dan mereka berperang dengan tuntutan yang sama.” (HR Bukhari Muslim)

    5. Waktu Terasa Cepat

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Kiamat tidak akan terjadi hingga waktu terasa berjalan cepat; setahun seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari dan sehari seperti sesaat, seperti cepatnya pelepah kurma yang kering terbakar.” (HR Tirmidzi)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Anjuran Bersyahadat Jelang Ajal Menjemput, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Rasulullah SAW dalam sejumlah haditsnya pernah menjelaskan tentang keutamaan dari membaca syahadat saat ajal hendak menjemput. Bahkan, Rasulullah SAW menganjurkan orang lain di sekitar orang yang sakaratul maut untuk men-talqin atau membantu mengucapkan syahadat.

    Bacaan syahadat yang dimaksud adalah syahadat tauhid Laa illaaha Illallaah. Dari Mu’adz bin Jabal RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang dishahihkan oleh Abu Muhammad Abdul Haq,

    مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ


    Artinya: “Barang siapa yang akhir perkataannya adalah Laa illaaha Illallaah, maka dia akan masuk surga.” (HR Abu Dawud)

    Menjadikan kalimat syahadat sebagai kalimat terakhir sebelum mengembuskan napas terakhir tersebut disebut menjadi penggugur dosa orang yang mengamalkannya. Hal ini pernah diceritakan oleh Abu Hurairah RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW.

    Diceritakan, saat itu Malaikat Maut mendatangi orang yang sedang sekarat. Malaikat Maut tersebut dikisahkan melihat ke dalam hati orang itu, tetapi tidak menemukan apa pun di situ.

    “Malaikat itu pun lalu membuka janggut orang itu dan mendapati ujung lidahnya melekat pada langit-langit mulutnya sedang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah (syahadat tauhid).’ Dosa-dosanya diampuni karena kalimat ikhlas yang diucapkannya itu.” (HR Muslim)

    Majdi Muhammad asy-Syahawi menambahkan dalam buku terjemahan Bekal Menggapai Kematian yang Husnul Khatimah, orang yang mengucapkan syahadat ‘La ilaha illallah termasuk dalam ciri orang yang meninggal dunia dalam kondisi baik atau husnul khotimah.

    Pengucapan kalimat syahadat tersebut tentu lebih baik jika dibarengi penerapannya selama hidup. Rasulullah SAW pernah bersabda,

    مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

    Artinya: Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan-Nya, dan bahwasanya Isa adalah hamba Allah dan anak dari budak wanita-Nya serta kalimat-Nya yang ia sampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya. Bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya. Allah akan masukkan ke dalam surga lewat pintu surga yang delapan sekehendaknya.” (HR Bukhari)

    Bahkan, Rasulullah SAW dalam haditsnya menganjurkan muslim untuk membantu sesamanya yang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat syahadat tersebut. Kesunnahan ini mengacu pada hadits yang termuat dalam Shahih Muslim. Disebutkan, Abu Said al-Khudri RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

    Artinya: “Tuntunlah orang-orang yang mati di antara kalian untuk mengucapkan kalimat La Illaaha Illallaah (tiada tuhan selain Allah).” (HR Muslim)

    Dikutip dari Islah Gusmian dalam buku Doa Menghadapi Kematian, riwayat lain menyebutkan kalimat syahadat versi panjang yang bisa dibimbing untuk orang yang sakaratul maut bila memungkinkan. Keutamaan kalimat syahadat tersebut dapat menghapuskan dosa masa lalu. Rasulullah SAW bersabda,

    “Ajarilah orang-orang yang akan meninggal membaca ‘La ilaha illallah al-halim al-karim, subhanallahi rabb al-‘arsyi al-azhim, alhamdulillahi rabb al-‘alamin. Karena kata-kata itu menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu.” (HR Ibnu Majah dan Muslim)

    Seyogianya, orang yang membimbing untuk membantu talqin tersebut tidak memaksa bahkan memarahi orang sakaratul maut tersebut. Sebaliknya, Islah Gusmian dalam bukunya menyarankan, orang tersebut perlu dituntun dengan lemah lembut dan perlahan tapi penuh dengan kepastian.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Ziarah Kubur Orang Tua Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW


    Jakarta

    Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melakukan ziarah kubur orang tua. Sebagai anak yang berbakti, hendaknya seseorang mengamalkan doa ziarah kubur orang tua saat berziarah tersebut.

    Orang tua adalah orang yang harus dihormati dan disayangi sampai kapan pun. Bahkan ketika keduanya telah meninggal dunia, anak yang berbakti masih bisa berbakti kepada mereka.

    Melalui hadits yang dikutip dari buku 100 Hadits Pilihan (Materi Hadalan, Kultum, dan Ceramah Agama) oleh Muh. Yunan Putra menjelaskan, anak yang berbakti dan selalu mendoakan orang tua yang telah tiada dapat menjadi pahala jariyah yang selalu mengalir kepada mereka.


    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رَوَاهُ وَمُسْلِم)

    Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim)

    Untuk itu, hendaknya seorang anak selalu mendoakan kedua orang tua agar mendapat perlindungan dari Allah SWT. Doa ini bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, termasuk saat ziarah kubur orang tua.

    Sopian Riduan dalam Panduan Fardu Kifayah beserta Doa menjelaskan, Rasulullah SAW membolehkan umatnya untuk berziarah kubur orang tua yang sebelumnya melarang perbuatan tersebut.

    عَنْ بَرِيْدَةَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرٍ أُمَّةٍ فَزُوْرُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكَّرُ الْآخِرَةِ. (رواه الترمذي. ۹۷۰)

    Artinya: Dari Buraidah, ia berkata Rasulullah SAW bersabda “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat.

    Adapun rangkaian doa ziarah kubur orang tua yang sesuai dengan tuntunan adalah sebagaimana dinukil dari Doa dan Zikir Sepanjang Tahun oleh Hamdan Hamaedan sebagai berikut.

    1. Doa Ziarah Kubur Orang Tua Pertama

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ للاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ.

    Bacaan latin: Assalaamu ‘alaikum ahlad diyaari minal mukminiina wal muslimiina wa innaa insyaa Allaahu la-laahiquuna as-alullaaha lanaa wa lakumul ‘aafiyah.

    Artinya: “Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyusul kalian semua. Aku memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan kalian.” (HR Muslim)

    2. Doa Ziarah Kubur Orang Tua Kedua

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا حَضْرَةَ الْمَرْحُوْمِ … وَيَا أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ وَأَنتُمْ لَنَا فَرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعُ نَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ اللَّهُمَّ رَبَّ الْأَرْوَاحِ الْفَانِيَةِ وَالْأَجْسَامِ الْبَالِيَةِ وَالْعِظَامِ النَّخِرَةِ الَّتِي خَرَجَتْ مِنَ الدُّنْيَا وَهِيَ بِكَ مُؤْمِنَةٌ أَدْخِلْ عَلَيْهَا رُوْحًا مِنْكَ وَسَلَامًا مِنَّا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيُّ لَا يَمُوْتُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

    Bacaan latin: Assalamu ‘alaikum yaa hadratal marhum… wa yaa ahlad diyaari minal mu’miniina wal mu’minaati wal muslimiina wal muslimaati wa innaa insyaa Allahu bikum laahiquuna wa antum lanaa farathun wa nahnu lakum taba’un. Nasalullaahal ‘afiyata lanaa wa lakum. Allaahumma rabbal arwaahil faaniyati wal ajsaamil baaliyati wal ‘izhaamin nakhiratil-latii kharajat minad dunyaa wa hiya bika mu’minatun adkhil ‘alaihaa ruuhan minka wa salaaman minnaa laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikallah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu biyadikal khair, innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir.

    Artinya: “Semoga keselamatan bagimu, keharibaan almarhum, dan keharibaan seluruh penghuni rumah-rumah (kuburan-kuburan) dari golongan orang laki-laki dan perempuan yang beriman dan golongan laki-laki dan perempuan yang beragama Islam. Sesungguhnya kami jika Allah berkehendak akan bertemu kalian. Kalian mendahului kami, dan kami akan menyusul kalian, kami memohon kesehatan kepada Allah untuk kami dan kalian. Wahai Pemilik roh-roh yang hancur, dan jasad-jasad yang remuk, serta tulang-belulang yang tergerogoti yang keluar meninggalkan dunia dalam keadaan beriman kepada-Mu. Berikanlah mereka ketenangan dan berikanlah kami keselamatan. Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan puji-pujian milik-Nya, Dia Maha Menghidupkan dan Mematikan, segala kebaikan berada dalam kekuasaan-Nya, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

    Hassan Ayyub dalam bukunya yang berjudul Fikih Ibadah: Panduan Lengkap Beribadah sesuai Sunnah Rasul menjelaskan ada sebuah doa untuk jenazah orang tua yang bisa diucapkan kapan pun, bahkan ketika di atas kubur atau mayat sudah di dalam liang lahat.

    Diriwayatkan dari Auf ibnu Malik, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw berdoa ketika shalat jenazah,

    اللهمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

    Bacaan latin: Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihii wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal baradi wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danas wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhu jannata wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin nar.

    Artinya: “Ya Allah! Ampuni dan rahmatilah dia, maafkan dan berilah dia keselamatan, muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju dan es. Bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan seperti baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Berilah ia tempat tinggal yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, istri yang lebih baik dari istrinya dan jagalah dia dari fitnah kubur dan siksa neraka.” (HR Muslim dan Nasa’i)

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Manusia Akhir Zaman Hidup bak Binatang, Ini Haditsnya


    Jakarta

    Kehidupan manusia akhir zaman disebut seperti binatang. Dikatakan dalam sebuah hadits, orang-orang akan berzina di jalan-jalan.

    Hadits yang menyatakan hal ini terdapat dalam kitab An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan. Rasulullah SAW bersabda,

    أَنَّهُ تَقِلُّ الرِّجَالُ وَتَكْثُرُ النِّسَاء حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةِ الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ يَلْذَنُ بِهِ وَأَنَّهُمْ يَتَسَافَدُونَ فِي الطَّرِقَاتِ كَمَا تَتَسَافَدُ الْبَهَائِمُ


    Artinya: “Kaum lelaki berkurang jumlahnya, wanita bertambah banyak, sampai seorang lelaki menanggung lima puluh wanita. Dan bahwa mereka bersetubuh di jalan-jalan seperti binatang.”

    Imam Syamsuddin Al-Qurthubi dalam kitab At-Tadzkirah yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal menukil sebuah riwayat tentang kehidupan manusia akhir zaman saat kelakuan mereka lebih buruk daripada keledai.

    Berikut bunyi penggalan sabda Rasulullah SAW, “Mana ada kaum mukminin dan mukminat di hari itu? Manusia (pada hari itu) lebih buruk daripada keledai. Mereka bersetubuh seperti binatang, tanpa ada seorang pun di antara mereka yang menegur, ‘Jangan, jangan!” (HR Abu Nu’aim dalam Al Hilyah)

    Dalam Shahih Muslim juga terdapat riwayat serupa dengan redaksi yang lebih panjang. Namun, awal hadits ini berkaitan dengan laki-laki yang mengumbar aibnya. Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya manusia yang paling hina kedudukannya di sisi Allah di hari kiamat nanti adalah suami menyetubuhi istrinya dan istri menyetubuhi suaminya, kemudian sang suami menyebarkan rahasia istrinya. Mereka berdua ini seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan perempuan. Kemudian mereka berdua bersetubuh di tengah jalan umum.” (HR Muslim)

    Lebih Buruk daripada Binatang

    Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin yang diterjemahkan Purwanto menjelaskan bahwa kedudukan manusia yang memiliki nafsu syahwat binatang sesungguhnya lebih buruk daripada binatang itu sendiri.

    Imam al-Ghazali menjelaskan, binatang tidak memiliki kemampuan yang demikian sedangkan manusia diciptakan dengan kemampuan tapi tidak menggunakannya dan mengkufuri nikmat Allah SWT yang diberikan padanya.

    “Mereka itu seperti hewan, bahkan mereka itu lebih sesat jalannya,” jelas Imam al-Ghazali.

    Merebaknya Zina Jadi Tanda Kiamat

    Merebaknya zina juga termasuk salah satu tanda kiamat. Anas bin Malik RA mengatakan, Rasulullah SAW bersabda,

    “Di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu diangkat, kebodohan merebak, zina merajalela, meminum khamar, kaum lelaki banyak yang meninggal, sedangkan kaum wanita masih bertahan (atau bertambah) sehingga selisih antara perempuan dan lelaki lima puluh dibandingkan satu.” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

    Disebutkan dalam redaksi lain, “Di antara tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, kebodohan muncul, khamar diminum, zina dilakukan dengan terang-terangan, serta kaum laki-laki menjadi sedikit dan kaum perempuan menjadi banyak, hingga di tengah lima puluh perempuan hanya ada seorang laki-laki yang mengayomi.”

    Syaikh Ali Ahmad Ath-Thahthawi dalam Iltiqa’ Al-Masihain fi Akhir Az-Zaman yang diterjemahkan Misbahul Munir mengatakan bahwa hadits tersebut disepakati keshahihannya.

    Imam Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab An-Nikah bab Yaqillu Ar-Rajulu wa Yaktsuru An-Nisa’, kitab Al-Ilm bab Raf’u Al-Ilm wa Zhuhur Al-Jahl, kitab Al-Asyribah bab Tatihatuhu, kitab Al-Muharibin bab Itsmu Az-Zina.

    Merebaknya perzinaan sebagai tanda kiamat turut dikatakan dalam riwayat yang berasal dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW yang bersabda, “Akan datang kepada manusia, tahun-tahun yang menipu, … beliau berkata, ‘Dan fakhisyah (perbuatan keji, perzinaan) menyebar luas.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Pemimpin Akhir Zaman Akan Bicara Tanpa Ilmu, Ini Haditsnya


    Jakarta

    Rasulullah SAW menyebutkan sejumlah tanda kiamat dan beberapa di antaranya barangkali sudah terjadi. Salah satu tanda kiamat ini adalah diserahkannya urusan bukan pada ahlinya.

    Hal tersebut mengacu pada sejumlah hadits yang termuat dalam kitab An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan. Rasulullah SAW bersabda,

    إِذَا وُسدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ


    Artinya: “Apabila segala urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya kiamat.”

    Dalam hadits lain dikatakan,

    لا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَسُودَ كُلَّ قَبيْلَةٍ رَدَالُهَا

    Artinya: “Kiamat tidak akan terjadi sebelum tiap-tiap kabilah dipimpin oleh orang-orang yang hina di antara mereka.”

    Menurut sebuah hadits yang terdapat dalam Al-Masih Al-Muntazhar wa Nihayah Al-Alam karya Abdul Wahab Abdussalam Thawilah yang diterjemahkan oleh Subhanur, para pemimpin akhir zaman disebut berasal dari kalangan orang-orang bodoh yang berbicara tanpa ilmu. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ash RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Allah SWT tidaklah mengangkat ilmu dengan mencabutnya dari diri manusia, tetapi ilmu diangkat dengan cara mewafatkan para ulama sehingga tidak ada seorang ulama pun, lalu manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Jika mereka ditanya (tentang suatu urusan), mereka menjawab tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

    Hadits tentang orang bodoh yang menjadi pemimpin ini turut diriwayatkan Abu Umayyah Al-Jahmi RA. Ia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda-tanda kiamat–dalam riwayat lain ada tiga, salah satunya–(yaitu) ilmu diperoleh dari orang-orang lebih rendah (ilmunya).” (HR Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath)

    Abdul Wahab Abdussalam Thawilah menjelaskan, maksud orang-orang yang lebih rendah ilmunya dalam hadits tersebut adalah para penuntut ilmu yang belum kapabel. Sehingga ketika ditanya tentang suatu masalah mereka menjawab tanpa berlandaskan ilmu bahkan ia tidak mengetahui apa yang ia bicarakan.

    Hilangnya Amanah Para Pemimpin Akhir Zaman

    Dalam Shahih Bukhari terdapat riwayat dari Abu Hurairah RA yang menyebut kiamat akan terjadi ketika amanah disia-siakan atau hilang. Hal tersebut terjadi ketika urusan diserahkan bukan pada ahlinya. Berikut bunyi haditsnya,

    أَنْ أَعْرَابِيًّا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَتَى السَّاعَةُ؟ فَقَالَ إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَوْ قَالَ مَا إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا تَوَسَّدَ الْأَمْرَ غَيْرُ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

    Artinya: “Bahwasanya seorang Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Kapankah terjadinya kiamat?’ Rasul menjawab, ‘Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah terjadinya kiamat.’ Badui itu bertanya juga, ‘Ya Rasul Allah, bagaimanakah disia-siakannya amanat itu?’ Rasul menjawab, ‘Apabila segala urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat’.”

    Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitab Syarah-nya, hadits tersebut menjelaskan di antara tanda-tanda kiamat adalah orang-orang bodoh menjadi pemimpin umat Islam, baik dalam salat maupun dalam kehidupan sehari-hari.

    “Kalau mereka menjalankan ibadah dengan benar, mereka memperoleh pahala dan juga orang-orang yang mengikuti mereka. Tetapi jika mereka keliru, maka mereka saja yang menanggung dosa yang mereka lakukan,” jelas Imam an-Nawawi seperti disyarah oleh Musthafa Dib al-Bugha dkk dan diterjemahkan oleh Misbah.

    Wallahu a’lam.

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Bulan Syaban untuk Meminta Umur Sampai pada Ramadhan


    Jakarta

    Bulan Syaban adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriah karena berdekatan dengan bulan suci Ramadhan. Rasulullah SAW bahkan pernah mengajarkan doa bulan Syaban menjelang Ramadhan sebagai amalan untuk menyambutnya.

    Kemuliaan tentang bulan Syaban ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya. Rasulullah SAW bersabda,

    ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ


    Artinya: “Bulan Syaban–bulan antara Rajab dan Ramadhan–adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR Nasa’i)

    Di samping itu, sejumlah hadits menjelaskan, bulan Syaban adalah waktu yang mulia untuk berpuasa sunnah menjelang Ramadhan. Keterangan ini didasarkan dari Anas ibn Malik saat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang puasa yang paling utama. Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Puasa Syaban sebagai penghormatan untuk menyambut puasa Ramadhan.” (HR Tirmidzi)

    Untuk itu, alangkah baiknya bila muslim dapat menyambut bulan Syaban dengan membaca doa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dari riwayat Anas bin Malik RA, berikut bacaan doanya.

    Doa Bulan Syaban Menjelang Ramadhan

    أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان

    Bacaan latin: Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’bana wa balighna ramadhana

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga bulan Ramadhan.”

    Bacaan doa di bulan Syaban diambil dari dalam hadist termaktub dalam Kitab Mishkat Al Masabih oleh al-Imam al-Baghawi terjemahan Yunus Ali Al-Muhdhor. Berikut haditsnya,

    عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ» قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ: «لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ أَغَرُّ وَيَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمٌ أَزْهَرُ»

    Artinya: Anas mengatakan saat Rajab datang Rasulullah SAW berkata, “Ya Allah SWT berkahilan kami di Rajab dan Syaban serta bawalah kami hingga Ramadhan.” Dia juga mengutip Rasulullah SAW saat mengatakan, “Kamis malam adalah saat yang sangat terang dan Jumat adalah hari yang bersinar.”

    Sheikh Ibnu Rajab berpendapat riwayat ini menganjurkan muslim untuk memohon panjang umur dengan niat untuk menambah kebaikan dan beramal saleh di masa mendatang.

    Dikutip dari buku Ringkasan Shahih Muslim susunan Zaki Al-din ‘abd Al-azhim Al-mundziri, selain memanjatkan doa, bulan Syaban juga dapat diisi dengan mengqadha puasa Ramadhan sebelumnya yang ditinggalkan karena uzur tertentu. Istri Rasulullah SAW, Aisyah RA, bahkan diketahui pernah mengganti puasa pada bulan Syaban.

    Berikut bunyi haditsnya dari riwayat Abu Salamah RA dalam Kitab Puasa,

    سَمِعْتُ عَائِشَةَ رضي اللهُ عَنْهَا تَقُولُ : كَانَ يَكُونُ عَلَى الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا اسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ ، الشَّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Artinya: Saya mendengar Aisyah berkata, “Puasa wajib yang saya tinggalkan pada bulan Ramadhan pernah tidak bisa saya ganti, kecuali pada bulan Syaban karena sibuk melayani Rasulullah SAW.” (HR Muslim)

    Hari-hari terakhir Sya’ban 1445 H bertepatan dengan 10-11 Maret 2024 (29-30 Sya’ban) sebagaimana dikutip dari Kalender Hijriah Indonesia 2024 susunan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag. Hal ini dapat dijadikan acuan sebagai batas waktu untuk melunasi utang puasa Ramadhan.

    (rah/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Hadits tentang Nisfu Syaban dan Kualitasnya Menurut Ulama


    Jakarta

    Malam Nisfu Syaban menjadi waktu yang dinantikan umat Islam karena keutamaan yang terkandung di dalamnya. Keutamaan ini dijelaskan dalam sejumlah hadits tentang Nisfu Syaban.

    Ada banyak hadits Nisfu Syaban yang tersebar di kalangan umat Islam. Salah satu yang populer adalah Allah SWT akan mengampuni seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaban. Ada juga hadits yang berisi amalan-amalan pada malam Nisfu Syaban.

    Berikut empat di antaranya yang paling populer di kalangan umat Islam.


    1. Hadits dari Muadz bin Jabal RA

    عَنْ مُعَاذٍ بِنْ جَبَلٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ يَطَّلِعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

    Artinya: Dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi SAW beliau berkata, “Allah Tabaraka wa Ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu Hibban mengatakan ini shahih, adapun Imam Thabrani mengatakan perawinya dapat dipercaya.

    2. Hadits dari Aisyah RA

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ فَقَالَ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كِلَبٍ

    Artinya: Dari Aisyah RA ia berkata, “Aku kehilangan Rasulullah SAW pada suatu malam. Kemudian aku keluar dan aku menemukan beliau di pemakaman Baqi Al-Gharqad.” Maka beliau bersabda, “Apakah engkau khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menyia-nyiakanmu?” Kemudian aku berkata, “Tidak wahai Rasulullah SAW, sungguh aku telah mengira engkau telah mendatangi sebagian istri-istrimu.”

    Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menyeru hamba-Nya di malam Nisfu Syaban kemudian mengampuninya dengan pengampunan yang lebih banyak dari bilangan bulu domba bani Kilab (maksudnya pengampunan sangat banyak).”

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban mengatakan hadits ini shahih.

    3. Hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari RA

    عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو منافق.

    Artinya: Dari Abu Musa Al-Asy’ari RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT melihat kepada hamba-Nya di malam Nisfu Syaban maka Allah SWT mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang yang munafik.” (HR Ibnu Majah)

    4. Hadits dari Ali RA

    عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ : إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَ صُوْمُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ : أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ ! أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ : أَلَا مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ ! أَلَا كَذَا … أَلا كَذَا … حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْرُ

    Artinya: Dari Ali bin Abi Thalib RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila tiba malam Nisfu Syaban, salatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya karena Allah menyeru hamba-Nya di saat tenggelamnya matahari lalu berfiman, ‘Adakah yang meminta ampun kepada-Ku? Niscaya Aku akan mengampuninya, adalah yang meminta rezeki kepada-Ku? Niscaya akan memberinya rezeki, adalah yang demikian (maksudnya mengabulkan hajat hamba-Nya) … Adakah yang demikian.. sampai terbit fajar’.” (HR Ibnu Majah dan Baihaqi)

    Pendapat Para Ulama tentang Malam Nisfu Syaban

    Buya Yahya dalam Hujjah Ilmiah: Amalan di Bulan Syaban memaparkan sejumlah pendapat ulama tentang keutamaan malam Nisfu Syaban dan amalan-amalan yang bisa dikerjakan untuk menghidupkannya. Para ulama ini menyatakan keutamaan malam Nisfu Syaban dari pendapat ulama-ulama salaf.

    Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan dalam kitabnya Lathoiful Ma’arif, pada malam Nisfu Syaban, para tabi’in di Syam seperti Kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan lainnya, bersungguh-sungguh dalam beribadah. Kata Ibnu Rajab, merekalah umat Islam yang paham keutamaan dan keagungan malam tersebut.

    Ulama Syam, kata Ibnu Rajab, berbeda pendapat dalam menghidupkan malam Nisfu Syaban. Pendapat pertama menyebut sunnah melakukannya secara berjamaah di masjid dengan mengenakan pakaian paling bagus dan menggunakan celak. Mereka melakukan salat pada malam tersebut. Terkait ini, Ishaq Ibnu Ruhawih menyetujuinya dan berkata, “Ini bukanlah sebuah bid’ah.”

    Imam Syafi’i juga pernah berkata bahwa malam Nisfu Syaban termasuk malam dikabulkannya doa, bersamaan empat malam lainnya yakni malam Jumat, malam dua hari raya, dan awal Rajab.

    Keutamaan malam Nisfu Syaban turut dijelaskan Imam Ibnu Haj dalam kitabnya Al-Madkhol. Ia menjelaskan, meskipun bulan malam Lailatul Qadar, akan tetapi malam Nisfu Syaban memiliki keutamaan yang agung dan kebaikan yang banyak.

    “Ulama salaf mengagungkannya serta bersungguh-sungguh dalam menyambut kedatangannya,” kata Imam Ibnu Haj dalam kitabnya seperti diterjemahkan Buya Yahya.

    Ulama lain yang pendapatnya kerap dipertentangkan, seperti Ibnu Taimiyah, pun mengatakan mendirikan salat pada malam Nisfu Syaban adalah perkara yang baik.

    “Apabila ada orang salat di malam Nisfu Syaban sendirian atau berjamaah sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin itu merupakan hal yang baik,” kata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya, seperti diterjemahkan Buya Yahya.

    Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin yang diterjemahkan Purwanto turut menyebut kaum Muslim dianjurkan salat sunnah 100 rakaat dengan membaca Al Fatihah dan 10 kali Al Ikhlas pada setiap rakaatnya.

    Di sisi lain, ada ulama yang berpendapat bahwa riwayat tentang salat malam Nisfu Syaban adalah batil dan maudhu. Salah satunya dikatakan Hammud bin Abdullah Al-Mathr. Ia menjelaskan hal ini dalam tulisannya menjawab bid’ah-bid’ah dalam ibadah.

    Buya Yahya sendiri menganjurkan cara menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan memperbanyak amal-amal yang diajarkan Rasulullah SAW, seperti salat sunnah hajat, salat sunnah tasbih, salat sunnah witir, atau dengan bersholawat, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an, serta amalan lain yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com