Tag: Hong Kong

  • Bank Sentral Hong Kong: Kripto Penting Buat Sistem Keuangan

    Aset kripto telah menjadi topik pembahasan penting oleh berbagai bank sentral di seluruh dunia, termasuk Hong Kong. CEO Hong Kong Monetary Authority (HKMA), Eddie Yue, pun telah menyatakan bahwa terlepas dari kekurangan di sektor kripto, industri ini kemungkinan akan memainkan peran sentral dalam sistem keuangan masa depan.

    Berbicara selama pertemuan pejabat keuangan G20 di Bali awal Juli lalu, Yue mencatat bahwa teknologi yang menggerakkan sebagian besar proyek kripto dapat disesuaikan agar tepat dengan sistem keuangan umum.

    Namun, Yue menyerukan regulasi sektor tersebut untuk menghindari risiko terkait seperti ‘kecelakaan’ ekosistem Terra (LUNA) yang mengakibatkan kerugian yang signifikan.

    “Terlepas dari insiden Terra-Luna, saya pikir kripto dan DeFi tidak akan hilang – meskipun mereka mungkin tertahan – karena teknologi dan inovasi bisnis di balik perkembangan ini mungkin penting untuk sistem keuangan masa depan kita,” kata Yue dikutip Finbold.

    Ilustrasi aset kripto di Hong Kong. Sumber: Getty Images.
    Ilustrasi aset kripto di Hong Kong. Sumber: Getty Images.

    Baca juga: Survei: 87% Orang Tua di AS Investasi Kripto untuk Biaya Kuliah Anak

    Hong Kong Rangkul Manfaat Kripto

    Sentimen Yue sejalan dengan pendekatan ramah HKMA yang sudah berlangsung lama terhadap kripto. Pada Januari 2022, lembaga tersebut merilis pernyataan yang menunjukkan bahwa entitas terbuka untuk menerima manfaat inovasi keuangan sambil mengakui risiko yang terlibat.

    Institusi baru-baru ini lebih fokus pada peraturan stablecoin, terutama setelah kehancuran ekosistem Terra. Dalam makalah diskusi bank baru-baru ini tentang central bank digital currency (CBDC), e-HKD, HKMA memperingatkan bahwa stablecoin dapat merusak dolar negara itu.

    HKMA mencatat bahwa jika satu stablecoin muncul lebih populer, mata uang lokal akan melemah secara signifikan.

    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).
    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).

    Baca juga: Venture Capital Percaya Kripto dan Startup Blockchain Bisa Tumbuh

    Hong Kong Dinobatkan Negara Paling Ramah Kripto

    Dalam laporan Forex Suggest, Hong Kong memimpin daftar sebagai negara yang siap dan ramah kripto. Untuk menilai negara-negara yang paling siap untuk kripto, data tersebut memeriksa jumlah ATM kripto, undang-undang dan perpajakan kripto, jumlah startup blockchain, dan negara-negara dengan tingkat minat tertinggi terhadap kripto.

    Hong Kon didelegasikan yang paling siap dengan kripto karena menempati posisi pertama dalam tiga utama untuk tiga kelas sesuai penelitian, termasuk jumlah startup blockchain per 100,00 individu dan jumlah ATM kripto yang sesuai dengan populasi.

    Berkat wilayah daratannya yang kecil, negara kota ini memiliki wilayah terkecil per ATM kripto. Hong Kong juga tidak mengenakan pajak capital gain pada kripto, membuatnya menarik bagi investor.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hong Kong Setujui Peluncuran ETF Bitcoin dan Ethereum Spot

    Hong Kong telah menyetujui aplikasi ETF Bitcoin (BTC) spot dan Ethereum (ETH). Hong Kong menjadi negara kedua yang melakukan hal serupa pada tahun 2024, menyusul keputusan bersejarah SEC (Komisi Sekuritas dan Bursa) yang menyetujui 11 ETF BTC spot di Amerika Serikat.

    Namun, meskipun AS telah menyetujui 11 ETF Bitcoin spot, negara tersebut belum memberi lampu hijau pada ETF Ethereum. Menurut beberapa analis, ETF Ethereum spot dapat disetujui di AS akhir tahun ini.

    Persetujuan ETF ETH dan BTC spot dapat menyebabkan reli lain untuk pasar kripto. ETF BTC spot AS memainkan peran penting dalam BTC mencapai titik tertinggi baru sepanjang masa awal tahun ini. BTC mencapai US$73.737 pada awal Maret dengan reli yang dipicu oleh peningkatan arus masuk ke ETF BTC spot.

    Bitcoin dan Ethereum Menguat Setelah Persetujuan ETF di Hong Kong?

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Mengenal MANTRA (OM): Ekosistem Blockchain yang Terintegrasi

    Mengingat bahwa ETF Bitcoin spot AS bertanggung jawab atas BTC yang mencapai titik tertinggi baru sepanjang masa, ada kemungkinan besar bahwa pola serupa akan terjadi setelah persetujuan Hong Kong.

    Menurut CoinCodex, Bitcoin (BTC) akan mendapatkan kembali level tertinggi sepanjang masa akhir bulan ini. Selain itu, platform ini mengantisipasi BTC untuk melanjutkan lintasan bullish selama beberapa minggu ke depan, memperkirakannya akan mencapai US$85.906 pada 13 Mei 2024. Mencapai US$85.906 dari level saat ini akan berarti pertumbuhan sekitar 32%.

    Di sisi lain, CoinCodex mengantisipasi harga Ethereum (ETH) untuk berkonsolidasi di sekitar level saat ini, memperkirakannya akan diperdagangkan pada $3242,95 pada 1 Mei 2024.

    Dengan semakin dekatnya penurunan separuh Bitcoin (BTC), kita mungkin menyaksikan reli besar-besaran lainnya di pasar kripto. Baik Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) bisa mencapai titik tertinggi baru sepanjang masa, didorong oleh ETF spot Hong Kong dan halving BTC pada akhir bulan ini.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Siapkan Dompet! Bank of China Hong Kong Tancap Gas Menuju Stablecoin

    Bank of China (Hong Kong) (BOCHK) kini menambah sejarah melalui persiapan pengajuan untuk menjadi salah satu penerbit resmi stablecoin berlisensi pertama di Hong Kong.

    Kerangka regulasi untuk stablecoin fiat, yang disahkan Am July 1, 2025, mempersyaratkan entitas penerbit memiliki modal minimum HK$25 juta dan dukungan 100% aset likuid untuk menopang token mereka, domain yang masih jarang dijamah.

    Siap Jadi Pusat Stablecoin Global

    Hong Kong secara resmi telah menerapkan Undang-Undang Stablecoin (Stablecoins Ordinance) sejak 1 Agustus 2025.

    Rezim ini membatasi penerbitan stablecoin kepada pihak berlisensi yang sebelumnya belum ada satupun pihak yang disetujui.

    Dengan demikian, BOCHK berpeluang menjadi pionir dalam pasar stablecoin teregulasi.

    Langkah BOCHK juga sejalan dengan inisiatif bagi stabilisasi keuangan digital di wilayah global. Program ini mencerminkan minat pemerintah dalam mengembangkan uang digital yang sah dan aman bagi investasi maupun transaksi lintas batas.

    Baca Juga: China Siap Legalkan Stablecoin Berbasis Yuan Setelah Larangan Kripto

    Permintaan Global Yuan & Demo Teknologi Digital

    Hong Kong bakal izinkan penuh perdagangan aset kripto. Foto: REUTERS/Tyrone Siu.
    Hong Kong bakal izinkan penuh perdagangan aset kripto. Foto: REUTERS/Tyrone Siu.

    China kini tengah memerankan stablecoin sebagai alat untuk memperkuat peranan renminbi (yuan) dalam keuangan global.

    Pemerintah pusat sedang mempertimbangkan penggunaan stablecoin dengan backing yuan untuk meningkatkan adopsi internasional mata uang tersebut.

    Hong Kong, dengan status finansial unik dan undang-undangnya sendiri, dipandang ideal sebagai zona uji coba yang paling tepat.

    Lembaga Domestik & Investasi Strategis

    Selain BOCHK, bank-bank China dan grup teknologi seperti JD.com atau Ant Group juga menunjukkan ketertarikan untuk menerbitkan stablecoin dalam kerangka hukum Hong Kong.

    Aset ini bukan sekadar instrumen perdagangan, tetapi didorong sebagai jembatan antar-ekonomi digital dan sistem perbankan tradisional.

    Mengurangi Risiko Volatil & Meningkatkan Kepercayaan

    Regulasi stablecoin di Hong Kong menerapkan syarat cadangan penuh dengan aset berkualitas tinggi seperti obligasi negara jangka pendek dan prosedur transaksi transparan.

    Ditambah, persyaratan anti-pencucian uang ketat, licence-only issuance, dan lini audit yang kuat menjadi kunci menumbuhkan kepercayaan publik dan institusi terhadap aset digital stabil ini.

    Dampak & Harapan bagi Industri

    1. Akses Ekonomi Digital Formal – Pengguna dapat menggunakan stablecoin dengan keyakinan bahwa perangkat mereka sudah diatur dan bersertifikat, membuka adopsi lebih luas di retail dan institusi.
    2. Dominasi Yuan yang Terpoles – Stablecoin renminbi dapat memperkuat strategi internasionalisasi, terutama jika bank dan korporasi besar menjadi penerbit pertama dan paling tepercaya.
    3. Lonjakan Investasi Lintas Industri – Jika BOCHK sukses menjadi penerbit resmi, dampaknya bisa melebar ke sektor fintech, perdagangan lintas batas, dan pembayaran digital.
    4. Standar Global Baru – Hong Kong bisa menjadi blueprint global untuk stabilitas dan efisiensi stablecoin, ditiru oleh otoritas finansial lain yang ingin memformalkan ekonomi digital.

    Baca Juga: Menatap Masa Depan Stablecoin: Partisipasi Publik Dalam GENIUS Act

    Pengajuan lisensi stablecoin oleh Bank of China Hong Kong bukan hanya sekadar langkah bisnis. ini adalah langkah strategis yang bisa mengguncang pasar stablecoin global.

    Hong Kong kini di posisi unik: sebagai pionir regulasi dan eksperimen yuan digital, sekaligus pintu masuk China ke ranah keuangan digital internasional.

    Dengan pasar yang haus stabilitas dan regulasi yang memberikan kepercayaan, ini bisa menjadi titik kebangkitan baru bagi stablecoin di Asia dan dunia.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ETF Solana Pertama Resmi Disetujui Hong Kong, Awal Bull Run SOL?

    Hong Kong kembali membuat gebrakan di dunia kripto. Otoritas setempat resmi menyetujui ETF Solana (SOL) pertama di kawasan Asia, menandai langkah besar menuju adopsi aset digital yang lebih luas.

    ETF tersebut dijadwalkan terdaftar pada 27 Oktober 2025, dengan 100 unit per lot dan entri minimum sekitar US$100. Produk ini memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga Solana tanpa perlu memiliki token SOL secara langsung, langkah yang dinilai memperkuat posisi Hong Kong sebagai pusat inovasi aset digital di Asia.

    Detail dan Potensi ETF Solana

    ETF Solana ini akan bergabung dengan ETF spot Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) milik ChinaAMC, menjadikan Hong Kong salah satu yurisdiksi dengan regulasi paling progresif di dunia aset kripto.

    Sesuai pengajuan resmi, ETF ini akan mengenakan biaya manajemen sebesar 0,99%, sementara total rasio biaya tahunan (TER) termasuk biaya kustodian dan administrasi bisa mencapai sekitar 1,99%.

    Langkah ini memperluas peluang investasi bagi institusi dan investor ritel yang ingin menambah diversifikasi di aset kripto dengan eksposur yang diatur secara legal.

    Baca juga: Baru 2 Tahun Dirilis, Ponsel Kripto Solana Saga Resmi Pensiun, Kenapa?

    SOL Masih di Zona Manis, Target Naik hingga $400

    Menariknya, kabar persetujuan ETF ini datang ketika harga Solana (SOL) berada di US$186,24, turun tipis 0,25% dalam 24 jam terakhir menurut CoinMarketCap. Namun, analis justru melihat koreksi ini sebagai peluang emas.

    Dilaporkan AMBcrypto, seorang analis kripto menggambarkan situasi ini sebagai “zona manis” untuk SOL, dengan area beli ideal di bawah $200 dan target harga antara $300 hingga $400 dalam waktu dekat.

    “Harga masih berada di zona manis, tetapi tidak lama, minggu ini adalah waktu Anda sebelum pergerakan eksplosif berikutnya,” ujarnya.

    Optimisme ini muncul seiring momentum positif pasar kripto secara keseluruhan dan meningkatnya minat institusional terhadap aset berbasis blockchain.

    ETF Kripto Makin Ramai: VanEck dan Fidelity Ikut Panaskan Persaingan

    Persetujuan ETF Solana oleh Hong Kong terjadi di tengah aktivitas intens di sektor ETF global. Raksasa manajer aset VanEck baru saja mengajukan amandemen kelima untuk ETF Spot Solana, menandakan keseriusan mereka memasuki pasar ini.

    Sementara itu, ETF spot Bitcoin mencatat arus masuk mencapai US$477,2 juta, dengan IBIT milik BlackRock memimpin. ETF spot Ethereum juga mencatat arus masuk US$141,7 juta, dipimpin oleh Fidelity (FETH), menurut data dari Farside Investors.

    Arus masuk besar ini mencerminkan minat institusional yang terus meningkat terhadap instrumen investasi berbasis kripto, meskipun masih diwarnai ketidakpastian regulasi di beberapa negara.

    Sinyal Bullish untuk Solana

    Dengan ETF Solana resmi disetujui di Hong Kong dan potensi ETF Spot VanEck di ambang persetujuan, banyak analis percaya SOL sedang memasuki fase akumulasi besar-besaran.

    Jika momentum ini berlanjut, Solana bisa menjadi bintang altcoin berikutnya di siklus pasar kripto 2025, apalagi dengan dukungan ekosistem DeFi dan NFT yang terus berkembang di jaringannya.

    “ETF Solana bukan hanya produk baru, tapi katalis besar untuk legitimasi Solana di mata investor global,” tulis salah satu analis pasar.

    Dengan semua sinyal ini, satu pertanyaan besar muncul: Apakah ETF Solana akan menjadi pemicu bull run berikutnya di pasar kripto?

    Baca juga: ETF Jadi Penentu, Akankah Solana Oktober Ini Reli 30%?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hong Kong Perkuat Posisi Global Connector Kripto, Bidik Dana Institusi

    Hong Kong semakin agresif memantapkan posisinya sebagai pusat kripto global.

    Anggota Dewan Legislatif Hong Kong, Johnny Ng, menegaskan visi kota tersebut sebagai “global connector”, penghubung strategis antara pasar modal Barat dan inovasi teknologi Timur, khususnya dari China Daratan.

    Sebagaimana dilaporkan Coindesk pada Senin (2/2), Ng mengungkapkan bahwa arah kebijakan kripto Hong Kong pada 2026 akan bergeser dari sekadar lisensi ritel menuju penguatan infrastruktur inti yang mendukung aktivitas institusional berskala besar.

    Fokus utama akan mencakup regulasi custody aset digital, perdagangan over-the-counter (OTC), serta fasilitasi transaksi dengan volume tinggi.

    Langkah ini mempertegas ambisi Hong Kong untuk menjadi yurisdiksi kripto paling matang dan ramah institusi di Asia, bahkan global.

    Baca Juga: ETF Solana Pertama Resmi Disetujui Hong Kong, Awal Bull Run SOL?

    Fokus Regulasi 2026: Custody, OTC, dan Likuiditas Institusional

    Menurut Johnny Ng, tahap awal regulasi kripto Hong Kong yang menitikberatkan pada perlindungan investor ritel kini telah memasuki fase lanjutan.

    Pada 2026, regulator akan memprioritaskan fondasi pasar yang dibutuhkan oleh bank, fund manager, dan investor institusi.

    Aturan custody menjadi krusial karena menyangkut keamanan aset digital bernilai miliaran dolar. Di sisi lain, regulasi OTC diperlukan untuk mengakomodasi transaksi besar tanpa mengganggu harga pasar.

    Infrastruktur perdagangan volume tinggi juga dipersiapkan untuk memastikan likuiditas dan efisiensi setara dengan pasar keuangan tradisional.

    Pendekatan ini menandai transisi Hong Kong dari sekadar crypto-friendly menjadi crypto-infrastructure hub yang siap menampung arus dana institusional global.

    “Parit Regulasi” untuk Menarik Modal Global

    Tim Research Tokocrypto menilai strategi Hong Kong sebagai langkah membangun “regulatory moat” atau parit regulasi yang sulit ditiru oleh yurisdiksi lain.

    “Hong Kong membangun parit regulasi strategis dengan memanfaatkan sistem hukum Common Law dan akses modal bebas. Ini menarik arus dana institusional yang mencari kepastian hukum di tengah ketidakpastian regulasi AS,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Berbeda dengan Amerika Serikat yang masih dibayangi ketidakjelasan aturan dan potensi penegakan hukum agresif, Hong Kong menawarkan kepastian hukum, transparansi regulasi, dan jalur kepatuhan yang jelas. Hal ini menjadikannya destinasi alternatif bagi institusi global yang ingin tetap terekspos ke aset kripto tanpa risiko regulasi berlebihan.

    Jembatan Barat dan Timur di Era Web3 dan AI

    Keunggulan strategis Hong Kong tidak hanya terletak pada regulasi, tetapi juga posisinya sebagai gerbang utama China ke pasar global.

    Meski China Daratan masih membatasi perdagangan kripto secara langsung, inovasi di sektor Web3, blockchain, dan AI terus berkembang pesat.

    Hong Kong berperan sebagai buffer zone yang memfasilitasi masuknya inovasi teknologi dari Timur ke pasar modal Barat dengan kerangka hukum internasional.

    Dalam konteks ini, kota tersebut bukan hanya pusat perdagangan aset digital, tetapi juga hub integrasi teknologi dan modal global.

    Bagi investor institusi, kombinasi ini menciptakan peluang unik: akses ke inovasi Asia dengan standar kepatuhan dan perlindungan hukum ala Barat.

    Implikasi bagi Pasar Kripto Global

    Reposisi Hong Kong sebagai global connector berpotensi mengubah peta kekuatan kripto dunia.

    Jika regulasi custody dan OTC berhasil diimplementasikan secara efektif, Hong Kong bisa menjadi pusat likuiditas institusional Asia, menyaingi bahkan melengkapi peran Singapura dan Dubai.

    Arus dana institusional yang masuk juga berpotensi meningkatkan stabilitas pasar, memperdalam likuiditas, dan mempercepat adopsi aset digital di sektor keuangan tradisional.

    Namun, tantangan tetap ada. Keberhasilan strategi ini bergantung pada konsistensi kebijakan, koordinasi regulator, serta kemampuan Hong Kong menjaga keseimbangan antara inovasi dan manajemen risiko.

    Baca Juga: Hong Kong Bersiap Ketatkan Pajak Kripto! Aturan Baru Mulai 2028

    Dengan fokus regulasi 2026 pada infrastruktur dasar kripto, Hong Kong menegaskan ambisinya sebagai penghubung global antara Barat dan Timur.

    Di tengah ketidakpastian regulasi AS, pendekatan pro-institusi berbasis kepastian hukum ini menjadi daya tarik kuat bagi modal global.

    Jika dieksekusi dengan baik, Hong Kong berpeluang menjadi epicentrum baru ekosistem kripto institusional, sekaligus gerbang utama inovasi Web3 dan AI dari Asia ke panggung dunia.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hong Kong Bersiap Ketatkan Pajak Kripto! Aturan Baru Mulai 2028

    Pemerintah Hong Kong tengah menyiapkan langkah besar dalam pengawasan aset kripto dengan merancang regulasi pelaporan pajak baru yang ditargetkan mulai berlaku pada 2028. Kebijakan ini bertujuan memperkuat transparansi pajak internasional serta menekan praktik penghindaran pajak lintas negara.

    Rencana tersebut dibahas oleh Dewan Legislatif Hong Kong melalui Komite Keuangan yang akan menggelar pengarahan resmi pada 30 Januari 2026. Pertemuan ini dijadwalkan dihadiri sejumlah pejabat tinggi, termasuk Sekretaris Keuangan Christopher Hui, untuk membahas proposal Crypto-Asset Reporting Framework.

    Kebijakan Pajak Kripto Baru

    Ilustrasi pajak aset kripto.
    Ilustrasi pajak aset kripto. Foto: Shutterstock.

    Baca juga: Harga Solana Naik 5%, ETF Hong Kong Picu Lonjakan: SOL ke $213?

    Dilaporkan Coincu, dalam kerangka kebijakan baru ini, Hong Kong menargetkan penerapan pertukaran otomatis informasi pajak secara global pada 2028. Skema tersebut dirancang agar sejalan dengan standar terbaru yang ditetapkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sekaligus memperluas kerja sama internasional dalam memerangi penghindaran pajak.

    “Proposal untuk memperkuat aturan pertukaran otomatis informasi pada 2028 menunjukkan komitmen kami dalam menjaga standar pajak global,” ujar Christopher Hui dalam pernyataan resminya.

    Pemerintah Hong Kong juga membuka konsultasi publik terkait kebijakan ini hingga 6 Februari 2026, memberi ruang bagi pelaku industri kripto dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyampaikan masukan.

    Perubahan Penting

    Langkah ini menandai perubahan penting dari sistem Common Reporting Standard (CRS) yang pertama kali diterapkan Hong Kong pada 2017. Penyesuaian tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menyesuaikan regulasi keuangan dengan perkembangan aset digital global.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, langkah ini menunjukkan komitmen jangka panjang Hong Kong untuk menjadi hub crypto yang teratur dan patuh standar global. “Meskipun pajak terdengar negatif, kepastian hukum (regulatory clarity) jauh-jauh hari justru memberikan kenyamanan bagi investor institusi untuk masuk dan beroperasi di sana.”

    Di tengah rencana regulasi tersebut, pasar kripto masih menunjukkan dinamika. Bitcoin (BTC) tercatat berada di level US$88.886,35 dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,78 triliun, naik 0,24 persen dalam 24 jam terakhir. Namun, dalam periode 90 hari, Bitcoin masih mencatatkan penurunan sebesar 18,72 persen, berdasarkan data CoinMarketCap.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 29 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 29 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Sejumlah analis menilai kebijakan baru Hong Kong berpotensi membawa dampak signifikan bagi industri kripto. Seiring makin banyak negara mengadopsi kerangka regulasi serupa, pengawasan diperkirakan akan semakin ketat, sekaligus mendorong inovasi dan penataan ulang ekosistem aset digital di pusat keuangan global seperti Hong Kong.

    Baca juga: ETF Jadi Penentu, Akankah Solana Oktober Ini Reli 30%?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perketat Aturan, Hong Kong Tunda Penerbitan Lisensi Stablecoin HKD

    Ambisi Hong Kong untuk menjadi pusat stablecoin teregulasi di Asia menghadapi ujian serius.

    Hingga awal April 2026, Hong Kong Monetary Authority (HKMA) belum juga menerbitkan satu pun lisensi stablecoin berbasis dolar Hong Kong (HKD), meskipun sebelumnya menargetkan peluncuran pertama pada Maret.

    Penundaan ini menjadi sorotan karena sebelumnya otoritas telah memberi sinyal kuat bahwa lisensi akan segera hadir sebagai bagian dari strategi besar menjadikan Hong Kong sebagai pusat inovasi kripto dan tokenisasi aset.

    Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses pembuatan regulasi untuk lisensi stablecoin HKD tersebut berjalan lebih lambat dari ekspektasi.

    BacaJuga: Hong Kong Berambisi Jadi Pusat Kripto Global, Mungkinkah?

    Terancam Kehilangan Momentum

    Laporan dari CoinDesk menegaskan bahwa belum adanya lisensi yang disetujui menciptakan ketidakpastian di kalangan pelaku industri.

    Padahal, pasar telah lebih dulu merespons secara positif rencana tersebut, bahkan sebelum implementasi nyata dimulai.

    Tim Research Tokocrypto menilai kondisi ini sebagai sinyal adanya kesenjangan antara visi kebijakan dan kecepatan eksekusi.

    “Ini isu regulasi yang penting karena menunjukkan jurang antara ambisi kebijakan dan kecepatan implementasi nyata. Semakin lama lisensi pertama tertahan, semakin besar risiko Hong Kong kehilangan momentum narasi sebagai hub stablecoin Asia, terutama ketika pemain pasar sudah lebih dulu mem-price optimismenya,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan tersebut menyoroti dinamika penting dalam industri kripto: ekspektasi sering kali bergerak lebih cepat dibanding regulasi. Ketika ekspektasi tidak segera diikuti realisasi, kepercayaan pasar bisa mulai tergerus.

    Tantangan Dari Negara Lain

    Stablecoin berbasis fiat seperti HKD sendiri memiliki peran strategis dalam menjembatani sistem keuangan tradisional dengan ekosistem blockchain.

    Dengan regulasi yang jelas, Hong Kong berpotensi menarik partisipasi institusi besar, termasuk bank dan perusahaan fintech global.

    Namun, tanpa kejelasan lisensi, banyak pelaku industri cenderung mengambil posisi menunggu. Situasi ini membuka ruang bagi yurisdiksi lain untuk bergerak lebih cepat.

    Dalam lanskap global yang kompetitif, wilayah seperti Singapura atau Uni Emirat Arab berpotensi memanfaatkan momentum untuk menarik likuiditas dan inovasi yang sebelumnya diharapkan mengalir ke Hong Kong.

    Di sisi lain, pendekatan hati-hati HKMA juga bukan tanpa alasan. Regulasi stablecoin menyentuh aspek sensitif seperti stabilitas sistem keuangan, transparansi cadangan aset, hingga perlindungan konsumen.

    Dalam konteks ini, proses evaluasi yang ketat terhadap calon penerbit menjadi langkah penting untuk memastikan fondasi yang kuat.

    Namun demikian, dilema antara kehati-hatian dan kecepatan menjadi semakin nyata. Industri kripto berkembang dengan sangat cepat, dan keterlambatan dalam pengambilan keputusan bisa berdampak langsung pada daya saing sebuah yurisdiksi.

    Meski menghadapi keterlambatan, peluang Hong Kong untuk tetap menjadi pemain utama di sektor ini belum sepenuhnya tertutup. Statusnya sebagai pusat keuangan global masih menjadi keunggulan yang sulit disaingi.

    Jika HKMA mampu merilis lisensi dalam waktu dekat dengan kerangka regulasi yang solid dan transparan, kepercayaan pasar berpotensi pulih.

    BacaJuga: Pengadilan Hong Kong Akui Cryptocurrency Sebagai Properti

    Konsistensi Visi dan Eksekusi

    Pada akhirnya, penundaan ini bukan sekadar soal mundurnya jadwal, tetapi juga tentang bagaimana pasar menilai konsistensi antara visi dan eksekusi.

    Bagi investor dan pelaku industri, langkah berikutnya dari HKMA akan menjadi penentu apakah Hong Kong masih mampu mempertahankan momentumnya dalam perlombaan menjadi pusat stablecoin di Asia.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pertama Kali! Hong Kong Buka Pendaftaran Lisensi Stablecoin


    Jakarta

    Hong Kong berencana meluncurkan lisensi untuk stablecoin pertamanya pada awal tahun depan. Pengajuan lisensi ini berlaku mulai hari ini, Jumat (1/8), waktu setempat yang dimuat dalam RUU Stablecoin Hong Kong.

    Stablecoin dirancang untuk mempertahankan nilai stabil, umumnya setara 1 banding 1 terhadap mata uang negara terkait. Selain itu, stabilitas nilai stablecoin dipatok sama dengan mata uang fiat atau komoditas berharga seperti emas.

    Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA) lisensi yang diterbitkan ini merupakan gelombang awal. Adapun sebelumnya, pasar kripto Hong Kong memperkirakan penerbitan lisensi stablecoin dilakukan tahun ini.


    Wakil kepala Eksekutif HKMA, Darryl Chan, menyebut hanya ada segelintir lisensi yang akan diberikan lisensi untuk gelombang pertama. Seiring dengan rencana tersebut, para investor turut membanjiri saham-saham kripto di Hong Kong sejak Mei.

    Saham Guotai Junan International misalnya, melonjak 450% setelah broker perusahaan mengatakan telah memperoleh persetujuan regulasi kripto di Hong Kong untuk menawarkan layanan perdagangan mata uang digital bulan lalu.

    Sejalan dengan menggeliatnya investor kripto, HKMA juga aktif melakukan pengawasan menyusul risiko seputar meningkatnya gejolak pasar di sekitar stablecoin akhir-akhir ini. HKMA mengingatkan para pelaku pasar berhati-hati.

    “Berhati-hati dalam komunikasi publik mereka, serta menghindari membuat pernyataan yang dapat disalahartikan atau menciptakan ekspektasi yang tidak realistis,” terang HKMA dikutip dari Reuters, Jumat (1/8/2025).

    HKMA juga membuka ruang bagi perusahaan pengelola kripto yang berminat mengajukan permohonan penerbitan lisensi sebelum 31 Agustus. Sementara untuk batas waktu pengajuan lisensi gelombang pertama, dipatok hingga 30 September.

    Lembaga-lembaga yang sejauh ini telah berbicara dengan HKMA sebagian besar sedang menjajaki stablecoin yang dipatok pada HKD dan USD. Namun, stablecoin yang didukung oleh yuan disebut masih perlu menentukan penggunaannya dan aset yang digunakan sebagai cadangan.

    Lihat juga Video: Canggih! Hong Kong Kembangkan AI untuk Rekonstruksi Medis X-ray

    (ara/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Ditahan Otoritas China, Ant & JD Group Batal Terbitkan Stablecoin


    Jakarta

    Raksasa teknologi China, Ant Group dan raksasa e-commerce JD.com dilaporkan menunda rencana penerbitan stablecoin di Hong Kong. Penundaan dilakukan usai adanya kekhawatiran dari pemerintah China soal mata uang digital stablecoin.

    Dilansir dari Reuters, Minggu (19/10/2025), berdasarkan laporan Financial Times, perusahaan-perusahaan China ini telah menunda ambisi mereka untuk menerbitkan stablecoin setelah menerima instruksi dari regulator China.

    Instruksi yang dimaksud datang dari Bank Rakyat China (People Bank of China/PBOC) dan Administrasi Ruang Siber China (Cyberspace Administration of China/CAC) untuk tidak melanjutkan rencana tersebut.


    Stablecoin sendiri merupakan sejenis mata uang kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai konstan, biasanya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS, umumnya digunakan oleh pedagang kripto untuk memindahkan dana antar token.

    Sebelumnya, Badan Legislatif Hong Kong baru saja mengesahkan RUU soal stablecoin pada bulan Mei. Rancangan undang-undang menetapkan perizinan bagi penerbitan stablecoin yang merujuk pada mata uang fiat di Hong Kong.

    Siapa pun yang menerbitkan stablecoin di Hong Kong, atau menerbitkan stablecoin yang didukung oleh Dolar Hong Kong harus mendapatkan lisensi dari Otoritas Moneter Hong Kong (Hong Kong Monetary Authority/HKMA).

    Nah Ant Group dan JD.com dari China sempat mengatakan pada bulan Juni mereka akan berpartisipasi dalam program percontohan stablecoin tersebut.

    Hanya saja kabarnya pejabat PBOC menyarankan untuk tidak berpartisipasi dalam peluncuran awal stablecoin karena kekhawatiran otoritas keuangan itu mengenai memungkinkan grup teknologi dan broker menerbitkan mata uang digital.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • KJRI Hong Kong Akan Upayakan Kuota Beasiswa Belt and Road untuk Siswa RI



    Hong Kong

    Konsulat Jenderal RI di Hong Kong mengajak siswa Indonesia untuk belajar di Hong Kong dengan beasiswa Belt and Road Scholarship. KJRI Hong Kong akan mengupayakan kuota beasiswa Belt and Road yang dialokasikan untuk siswa Indonesia.

    “Untuk siswa Indonesia yang sudah mendapatkan beasiswa Belt and Road sebanyak 20 orang hingga kini dan sudah lulus semua, belum ada lagi. Tahun ini sepertinya nggak ada yang lolos,” tutur Konjen RI Hong Kong, Yul Edison.

    Yul menyampaikan hal itu dalam acara Binus Media Partnership Program (BMPP) di Hotel Dorsett Tsuen Wan Hong Kong, Jumat (28/6/2024).


    Yul mengajak lagi siswa Indonesia untuk mendaftar beasiswa Belt and Road dari pemerintah China untuk belajar di universitas-universitas di Hong Kong. Menurutnya mahasiswa Indonesia yang melamar beasiswa ini masih terbilang sedikit.

    “Coba lihat Kazakhstan yang bisa mencapai 500-an mahasiswa per tahun. Ke depan kami akan upayakan kuota beasiswa untuk mahasiswa RI,” tuturnya.

    Beasiswa Belt and Road ini, imbuhnya, menanggung seratus persen biaya kuliah, biaya hidup hingga akomodasi mahasiswa.

    Dalam situs Study in Hong Kong milik pemerintah Hong Kong, Indonesia termasuk designated countries (negara terpilih) beasiswa Belt and Road bersama Malaysia, Thailand, Myanmar, Mongolia dan Kazakhstan.

    “Padahal Hong Kong sangat generous untuk beasiswa dari pemerintah China. Tahun ini kuota beasiswanya meningkat 50 persen,” imbuhnya.

    Selain beasiswa Belt and Road, mahasiswa Indonesia juga bisa melamar beasiswa LPDP di bawah Kemenkeu. Apalagi dana LPDP di bawah Kemenkeu kini mencapai Rp 170 triliun.

    “Pihak LPDP juga sudah berkomitmen untuk menjadikan kampus top di Hong Kong menjadi prioritas,” tuturnya.

    Keunggulan Kuliah di Hong Kong

    Konjen RI Hong Kong Yul EdisonKonjen RI Hong Kong Yul Edison Foto: (Dok Nograhany WK/detikcom)

    Yul pun memaparkan beberapa keunggulan kuliah di Hong Kong dibanding dengan kampus-kampus Ivy League di Amerika Serikat.

    “Di Hong Kong biaya pendidikan lebih murah. Setahun 36 ribu Hong Kong Dollar untuk kuliah di kampus Hong Kong, sedangkan Ivy League di AS bisa mencapai 60 ribu US Dollar per tahun. Biaya kuliah di Hong Kong sepertiganya dari Ivy League. Perbandingannya, kalau memberangkatkan mahasiswa RI kuliah S2 ke AS 3 orang, kalau di Hong Kong bisa 8 orang,” jelas dia.

    Kualitas kampus di Hong Kong, lanjut dia, juga tidak kalah bagusnya dengan di AS. Yul memaparkan ada 5 kampus Hong Kong yang masuk Top 100 Dunia berdasarkan QS World University Rankings (QS WUR) 2025, 2 di antaranya masuk Top 10 Asia yakni:

    The University of Hong Kong (HKU)

    Peringkat dunia: 17
    Peringkat Asia: 4

    The Chinese University of Hong Kong (CUHK)

    Peringkat dunia: 36
    Peringkat Asia: 8

    The Hong Kong University of Science and Technology (HKUST)

    Peringkat dunia: 47
    Peringkat Asia: 11

    The Hong Kong Polytechnic University (PolyU)

    Peringkat dunia: 57

    City University of Hong Kong (CityU)

    Peringkat dunia: 62

    Kondisi Mahasiswa RI di Hong Kong

    Konjen RI Hong Kong Yul EdisonPemaparan tentang Statistik Pendidikan Hong Kong oleh Konjen RI Hong Kong, Yul Edison Foto: (Dok Nograhany WK/detikcom)

    Kondisi mahasiswa Indonesia di Hong Kong per Juni 2024 ini, ada 700 mahasiswa yang tersebar di 5 kampus unggulan di atas.

    “Sangat kecil. Dari 700 mahasiswa itu yang terbanyak di HKUST 250 orang,” ungkapnya.

    Dengan jumlah itu, Indonesia penyumbang mahasiswa asing di Hong Kong nomor 3, setelah Korea dan Filipina.

    Mayoritas mahasiswa RI di Hong Kong berkuliah atas beasiswa mandiri alias biaya orang tua. Mayoritas mahasiswa Indonesia ini berasal dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung, dari SMA swasta ternama dengan mayoritas mengambil jurusan Bisnis.

    Dalam forum yang sama, Vice President of Binus Higher Education, Prof Harjanto Prabowo atau yang disapa Prof Har, mengatakan bahwa Binus sudah menjalin kerja sama dengan beberapa dari top 5 kampus di Hong Kong dalam program pertukaran pelajar antara lain dengan HKUST, POLYU dan CITYU.

    Melalui program study abroad 3 + 1, mahasiswa yang sudah menginjak tahun ketiga bisa belajar satu hingga dua semester di kampus-kampus di Hong Kong.

    “Alumni Binus di Hong Kong sendiri kini tercatat mencapai 20 ribuan, nomor dua setelah Singapura yang 200 ribuan,” tutur Prof Har.

    (nwk/faz)



    Sumber : www.detik.com