Saat melakukan aktivitas trading pada aset kripto, para trader bisa memaksimalkan penggunaan indikator agar mampu memprediksi harga bitcoin yang pergerakannya sangat fluktuatif. Pada artikel ini, kita akan membahas bagaimana cara setting bollinger band agar lebih akurat. Namun sebelum itu, yuk simak dulu kegunaan indikator dan mekanismenya!
Kegunaan Indikator dan Mekanismenya
Penggunaan indikator pada trading dapat memberi kemudahan bagi trader pemula ataupun handal dalam memprediksi pergerakan harga suatu koin yang kerap mengalami kenaikan atau penurunan.
Mekanisme dari indikator ini dimulai dari analisa teknikal, di mana analisa teknikal menggunakan data historis untuk memberikan gambaran matematis dari kemungkinan aksi harga. Kemudian model ini diubah menjadi indikator yang juga berkolaborasi dengan penggunaan data dari rumus.
Selanjutnya data dari rumus yang didapatkan akan digambar pada grafik, kemudian diposisikan pada grafik sehingga memudahkan trader untuk mengambil keputusan yang dikehendakinya.
Apa itu Bollinger Band dan Apa Fungsinya?
bollinger bands ditemukan oleh John Bollinger pada tahun 1980-an. bollinger band kerap digunakan oleh para trader scalper (jangka pendek) maupun jangka panjang. Hal tersebut dikarenakan, indikator ini memiliki kegunaan untuk membaca trend pergerakan harga dan mengukur volatilitas harga pasar.
Selain melihat arah trend, bollinger band juga digunakan untuk mendeteksi overbought dan oversold. Bahkan, indikator ini mampu untuk membaca pergerakan sideways atau harga yang datar. Maka dari itu, bollinger band dapat dikatakan sebagai indikator trading andalan yang bisa membantu trader menghasilkan profit setiap harinya.
Komposisi Bollinger Band
Bollinger band terdiri dari tiga baris yang bergerak mengikuti pergerakan harga, yaitu upper band (garis atas), middle band (garis tengah), dan lower band (garis bawah).
Nah, jarak yang terdapat di antara upper band, middle band, dan lower band dipengaruhi oleh volume. Di mana semakin besar volume, maka semakin lebar jarak upper band dan lower band-nya. Begitu juga sebaliknya.
Tidak hanya itu, Anda bisa mengenali ramai atau tidaknya pasar melalui bollinger band. Ketika bollinger band melebar, artinya pasar sedang ramai. Akan tetapi jika bollinger band menyempit dan cenderung datar, artinya pasar sedang sepi.
Cara Setting Bollinger Band yang Akurat
Jika Anda menggunakan strategi scalping, yaitu trading dengan waktu yang sangat singkat, maka terdapat beberapa cara mengatur bollinger band untuk membantu Anda menghasilkan profit:
Pasang indikator bollinger band pada chartaset kripto yang ingin Anda trading-kan.
Atur indikator Bollinger untuk strategi scalping dengan mengisi beberapa parameter default, yakni sebagai berikut:
Periode: merupakan input periode Moving Average (MA) pada middle band sebagai alat pembaca trend. Di parameter ini, Anda bisa mengisi “20”.
Deviation: merupakan input jarak antara pita atas atau pita bawah dengan garis MA. Deviation berfungsi untuk mengukur volatilitas harga dengan menghubungkan sebuah rentang harga pada pergerakan rata-ratanya. Pada parameter deviation, isilah “2.00”
Apply to: berfungsi sebagai pembaca data input. Anda bisa mengisi “close”.
Lakukan Analisa
Setelah mengatur bollinger band, Anda bisa melakukan analisa secara teknikal untuk mengamati perkembangan harga masa lampau dan terkini agar bisa memperkirakan arah pergerakan harga pasar.
Itulah langkah sederhana yang bisa Anda coba dalam melakukan setting parameter bollinger band agar lebih akurat dalam menganalisis pergerakan. Dengan menggunakan parameter default dari Metatrader, Anda bisa melakukan trading dan mendapatkan profit apabila dilakukan dengan benar dan disiplin.
Selain menggunakan indikator agar profit lebih maksimal, jangan lupa trading aset kripto pada exchangeterpercaya seperti Tokocrypto, ya! Nantikan update terbaru di instagram dan twitter kami! Salam to the moon!
Sebagai seorang trader pemula, Anda mungkin ingin mengetahui harga rata-rata dari sebuah aset kripto. Untuk mengetahui nilai rata-rata sebuah aset kripto, Anda perlu melakukan analisis teknis menggunakan indikator VWAP.
Indikator ini akan membantu Anda dalam mengetahui tren pasar keuangan. Apa itu VWAP dan apa saja manfaat yang didapatkan para trader jika menggunakan indikator ini? Simak penjelasan berikut!
Apa itu VWAP Indicator?
VWAP adalah kependekan dari Volume Weighted Average Price yang berarti sebuah tolak ukur trading untuk menunjukkan informasi harga rata-rata yang sudah diperdagangkan sepanjang hari. Harga rata-rata tersebut ditentukan berdasarkan volume dan harga aset kripto.
Oleh trader, VWAP digunakan sebagai alat konfirmasi tren dan membangun aturan perdagangan di sekitarnya. Misalnya, ketika harga berada di atas VWAP, mereka mungkin akan memilih posisi membeli/buy. Sebaliknya, jika harganya berada di bawah VWAP, mereka akan lebih memilih posisi menjual/sell.
Dari segi tampilan grafik, VWAP tampak mirip dengan Simple Moving Average. Namun, keduanya menghitung hal yang berbeda. VWAP menghitung jumlah dari harga yang dikalikan dengan volume, kemudian dibagi dengan total volumenya. Sementara itu, Simple Moving Average menghitung jumlah harga penutupan pada periode tertentu, kemudian membaginya dengan banyak periode.
Para trader institusi menggunakan VWAP untuk berbagai manfaat seperti berikut ini:
1. Indikator keluar masuk pasar
Demi mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mereka memasuki atau keluar dari pasar. Hal ini berguna untuk meminimalisir risiko kerugian. Biasanya, trader akan menjual asetnya ketika harga berada di atas VWAP dan membeli ketika harga berada di bawah.
2. Mengetahui trend pasar
Sementara itu, untuk trader individual, VWAP memberikan informasi mengenai kepastian tren yang sedang terjadi di pasar. Indikator ini bisa digunakan untuk rentang waktu apa pun, seperti intraday atau detik, menit, jam, minggu, bulan, tahun, atau dekade. Jika Anda melakukan trading mingguan, jumlah nilai yang terakumulasi dimulai dari hari pertama trading pada minggu tersebut.
Kelemahan VWAP Indicator
Namun, VWAP memiliki sejumlah batasan. Nilainya didasarkan pada nilai historis dan tidak memiliki kualitas prediksi atau perhitungan secara inheren. Karena VWAP berlabuh ke kisaran harga pembukaan di hari tersebut, seiring berjalannya waktu, indikator akan menunjukkan ketertinggalan.
Hal ini terlihat dari perhitungan VWAP pada periode satu menit setelah 330 menit, yang akan sering menyerupai rata-rata pergerakan 390 di akhir perdagangan. Sebagai tambahan informasi, 330 menit merupakan panjang sesi perdagangan biasa.
Formula dan Cara Menggunakan VWAP indicator
Untuk menghitung VWAP (Volume Weighted Average Price), Anda perlu menjumlahkan sejumlah dana yang diperdagangkan pada setiap transaksi. Kemudian, bagilah dengan total saham yang diperdagangkan. Berikut ini lima langkah yang perlu Anda lakukan untuk menghitung VWAP:
1. Temukan harga rata-rata aset yang diperdagangkan selama lima menit periode awal terlebih dahulu. Anda cukup menambahkan harga aset ketika harga tinggi, rendah, dan tutup. Kemudian, bagi tiga.
2. Kemudian, kalikan hasil rata-rata aset kripto tersebut dengan volume periode yang Anda tentukan. Anda bisa mencatatnya pada spreadsheet di bawah kolom PV.
3. Bagilah PV dengan volume periodenya. Hasil dari pembagian inilah yang disebut dengan nilai VWAP.
4. Untuk menghitung nilai VWAP sepanjang hari, tambahkan terus nilai PV dari setiap periode di nilai sebelumnya.
5. Setelah itu, bagilah total hasil yang Anda dapat dengan total volume hingga titik tertentu. Agar pencatatan lebih mudah, buatlah kolom untuk PV dan volume kumulatif. Kedua nilai tersebut akan menghasilkan nilai VWAP jika dibagi satu sama lain.
Itulah penjelasan mengenai indikator VWAP, manfaat, serta cara menghitungnya. Menggunakan indikator ini bisa menjadi bantuan untuk Anda mengetahui tren pasar agar mampu membuat strategi untuk masa depan investasi dan trading Anda. Namun, indikator VWAP juga masih memiliki keterbatasan. Ada baiknya jika Anda juga memahami indikator lainnya agar bisa terhindar dari risiko kerugian.
Selain itu, pastikan Anda berinvestasi pada platform yang sudah tepercaya, seperti Tokocrypto. Di platform ini, Anda akan mendapatkan berbagai informasi terkini mengenai mata uang kripto, cukup dengan klik tautan ini.
Yuk, dapatkan beragam informasi menarik lainnya dengan followTwitter dan Instagram Tokocrypto! Jangan lupa juga untuk bergabung di komunitas Tokocrypto, ya!
Bagi Anda yang ingin berkecimpung di dunia kripto tentulah harus memahami strategi yang harus dilakukan. Karena menggunakan feeling saja itu tidak cukup. Nah penggunaan strategi ini bisa dilakukan dengan memilih indikator apa yang akan digunakan. Salah satu indikatornya adalah MACD. Lalu, apa sih Indikator MACD itu? Dan bagaimana cara membaca indikator MACD?
Yuk, simak penjelasan lengkapnya!
Apa itu MACD?
Moving Average Convergence Divergence, adalah sebuah indikator momentum yang dihitung untuk menunjukan hubungan antara dua moving average dari sebuah mata uang kripto. Penggunaan indikator ini membuat Anda bisa mengidentifikasi tren yang terjadi, bahkan sebelum tren tersebut terjadi.
MACD ini diperhitungkan dengan menggunakan EMA (Exponential Moving Average) atau rerata bergerak eksponensial. EMA sendiri merupakan jenis rerata bergerak (moving average) yang menekankan pada pentingnya poin data terkini. EMA pun juga disebut sebagai rerata bergerak tertimbang eksponensial (exponentially weighted moving average). Dimana ia akan bereaksi lebih signifikan terhadap perubahan harga aset terkini dibanding simple moving average.
Kenapa Menggunakan Indikator MACD
Indikator MACD bukanlah satu-satunya indikator momentum yang dapat digunakan, masih banyak indikator lain yang dapat digunakan dalam trading aset kripto. Kendati demikian, MACD memiliki berbagai keunggulan yang membuatnya banyak digunakan oleh para trader. Lantas, apa saja sih keunggulannya?
Keunggulan yang pertama ialah indikator MACD merupakan indikator trading yang sederhana, namun bisa memberikan sinyal yang baik. Indikator ini juga sangat mudah digunakan dan dibaca. Sehingga membuat indikator MACD mudah dipelajari bagi Anda yang pemula dan masih belajar tradingaset kripto.
Keunggulan selanjutnya adalah Anda bisa mengamati arah trend aset yang sedang diperdagangkan sedang bergerak ke arah downtrend atau uptrend. Tentunya hal ini dapat mempertajam analisis pasar Anda.
MACD juga memiliki kemampuan untuk menentukan pembalikan trend, sehingga trader dapat mengetahui titik mana yang tepat untuk masuk dan keluar, dan yang terakhir MACD menyediakan informasi yang lebih update.
Indikator serta Komponen MACD
MACD berkaitan dengan convergence dan divergence dari dua rerata bergerak yang diamati. Nah, convergence atau konvergensi terjadi ketika rerata bergerak saling mendekati satu sama lain. Sedangkan divergence atau divergensi terjadi ketika sebaliknya.
Sementara itu, MACD memiliki 3 komponen utama yang terdiri dari:
Nilai MACD diperoleh dari selisih antara EMA periode pendek (12) dengan EMA periode panjang (26). Kedua angka tersebut -12 dan 26- adalah periode standar yang digunakan. Jadi Anda masih tetap bisa menyesuaikan berdasarkan kebutuhan Anda sendiri.
Sinyal sebagai komponen indikator MACD juga menggunakan EMA. Namun, EMA yang dipakai untuk komponen sinyal biasanya adalah EMA yang memiliki periode yang lebih pendek dari EMA periode pendek pada MACD.
Histogram diperoleh dari selisih antara MACD dan sinyal.
Cara Membaca Indikator MACD
Ada beberapa cara yang bisa Anda ketahui, pahami, dan ikut. Secara umum, inilah 3 cara membaca indikator MACD:
MACD berpotongan dengan sinyal
Cara ini adalah cara membaca indikator MACD yang paling umum yang digunakan oleh para trader dalam membaca indikatornya. Ketika garis MACD memotong dan berada di atas garis sinyal, maka ada dua kesimpulan, yaitu:
Apabila garis MACD memotong garis sinyal dan berada di atasnya, maka grafik menunjukkan prediksi bahwa harga akan naik.
Apabila garis MACD memotong garis sinyal dan berada di atas garis sinyal, hal tersebut merupakan tanda atau sinyal beli (titik beli), dan sebaliknya.
Ketika nilai MACD memotong dan ada di atas titik 0, menunjukkan adanya momentum trend strong bullish, yang berarti harga aset akan mengalami kenaikan, dan dapat dikatakan ada momentum uptrend disini. Dan begitu juga sebaliknya.
Apabila garis MACD bergerak ke atas, namun masih berada di bawah titik 0, hal ini berarti harga aset akan mengalami kenaikan, namun belum bisa dikatakan bullish. Karena masih ada kemungkinan harga akan mengalami kenaikan. Berbeda cerita jika garis MACD sudah berhasil memotong dan bahkan berada di atas titik 0, artinya inilah indikasi yang menunjukkan adanya momentum uptrend atau strong bullish. Hal yang sama pun berlaku sebaliknya.
Apabila garis histogram berada di bawah 0, lalu mengecil dan menuju ke atas 0,artinya harga akan mengalami kenaikan, dan sebaliknya. Histogram digunakan sebatas untuk memprediksi pergerakan harga aset saja.
Itulah penjelasan mengenai indikator MACD dan cara membacanya. Apakah Anda tertarik untuk segera melakukan strategi ini pada aset kripto milik Anda? Yuk lakukan trading maupun investasi aset kriptonya di Tokocrypto
Sebelum melakukan trading, penting bagi Anda untuk memiliki persiapan yang matang terutama dalam pemahaman dan penggunaan indikator teknis, salah satunya adalah indikator lagging. Ingin tahu lebih dalam mengenai penjelasan serta bedanya dengan indikator leading? Nah, berikut informasi lebih lengkapnya!
Pengertian Indikator Lagging dan Bedanya dengan Indikator Leading
Indikator lagging adalah indikator dalam trading yang digunakan untuk mengonfirmasi suatu harga yang benar-benar terbentuk berkat pergerakan pola yang sudah terjadi di masa lalu. Sesuai dengan namanya, indikator ini seakan “memperlambat” harga aset saat ini dan digunakan setelah pergerakan harga tertentu telah terjadi.
Dalam trading, indikator terbagi menjadi dua yaitu lagging dan leading. Terdapat perbedaan yang mendasar antara indikator lagging dan leading. Indikator lagging digunakan untuk melihat bagaimana harga saat ini terbentuk dengan memperhatikan pergerakan pasar yang sudah terjadi. Sementara, indikator leading digunakan untuk memprediksi arah harga di masa depan.
Indikator lagging sangat berguna pada saat pasar sedang dalam keadaan trending. Pasalnya, indikator lagging akan lebih mudah mengirim sinyal buymaupun sellpada trader saat keadaan trending. Berkat indikator lagging yang digunakan dengan benar, para trader bisa merasa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
3 Indikator Lagging yang Sering Digunakan
Cukup banyak trader yang menggunakan lebih dari satu indikator lagging. Selain sinyal menjadi bisa lebih terkonfirmasi, indikator tersebut dapat lebih membantu mengasah kemampuan analisis teknikal trader. Terdapat 3 contoh indikator lagging yang populer di kalangan trader, yaitu:
Indikator yang satu ini menjadi pilihan utama para trader, karena penggunaannya yang mudah dan sederhana. Moving Average merupakan indikator yang menghitung rata-rata harga aset yang sedang diperdagangkan dalam satu periode waktu tertentu. Panjang Moving Average yang paling umum digunakan adalah 9, 20, 50, 100, dan 200 MA.
Dengan Moving Average, Anda melihat pergerakan rata-rata berdasarkan periode waktu. Misalnya, jika Anda melihat 20 MA dalam periode harian, maka Anda sedang melihat rata-rata dari harga penutupan dalam 20 hari terakhir. Jika Anda mengubah periode menjadi per 5-menit atau 10-menit, maka penafsirannya akan berubah mengikuti periode yang dipilih.
Moving Average juga bersifat sebagai garis support dan resistance. Di saat pasar sedang mengalami peningkatan (uptrend), garis MA akan berada di bawah pergerakan harga. Sebaliknya, garis MA akan berada di atas pergerakan harga saat pasar sedang menurun (downtrend).
Bollinger Bands adalah indikator yang terdiri dari 3 garis, yaitu garis tengah (standard moving average), kemudian garis atas dan garis bawah sebagai standar deviasi. Umumnya, garis atas dan bawah dijadikan sebagai support dan resistance. Standar ukuran garis tengah yang biasa digunakan adalah 20 SMA yang setara dengan 20 hari terakhir.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan trader yang menggunakan Bollinger Bands bahwa jika harga saat ini mendekat ke garis atas, maka menandakan pasar yang sedang overbought. Begitu pula sebaliknya, jika semakin mendekati garis bawah, maka menandakan pasar yang oversold.
Bollinger Bands merupakan indikator yang bergantung pada volatilitas harga suatu aset. Saat volatilitas semakin meningkat, garis atas dan bawah akan semakin membesar. Sebaliknya, jika volatilitas melemah atau bahkan kondisi pasar tidak bergairah, garis atas dan bawah akan semakin merapat.
Moving Average Convergence Divergence
Moving Average Convergence Divergence (MACD) adalah indikator tren dan momentum yang terdiri dari garis MACD dan garis sinyal. Sesuai dengan namanya, MACD berbasis Moving Average yang digunakan trader dalam melihat sinyal masuk atau keluar. Garis MACD dibentuk dengan perhitungan selisih dua harga penutupan, dengan satuan yang disebut EMA.
Umumnya, periode waktu yang digunakan untuk garis MACD adalah 12 dan 26 EMA, sedangkan garis sinyal adalah 9 EMA. Trader akan diberi tanda berdasarkan letak dari garis MACD dan garis sinyal. Jika garis MACD memotong garis sinyal ke bawah, maka tergolong sinyal jual. Sebaliknya, jika ke atas, maka tergolong sinyal beli.
Indikator ini menjadi alat yang bisa mengukur seberapa cepat pergerakan harga terjadi. Dengan demikian, para trader yang menggunakan MACD akan terbantu dalam memeriksa perubahan harga yang terjadi secara cepat.
Kelebihan dan Kekurangan Indikator Lagging
Indikator lagging sendiri banyak dipilih oleh trader, termasuk yang masih pemula dalam membantu aktivitas trading. Dengan indikator lagging, para trader menggunakan nilai rata-rata jangka pendek sebagai konfirmasi untuk melakukan pembelian, dikarenakan adanya peningkatan pada momentum.
Kelebihan lain dari indikator lagging adalah dapat mengurangi kemungkinan trader memperoleh sinyal maupun breakout palsu. Selain itu, karena berdasar pada pergerakan harga yang telah terjadi, hasil yang diberikan oleh indikator ini juga cenderung akurat. Indikator ini sangat cocok bagi para trader pemula yang masih awam dengan dunia trading aset kripto.
Walaupun banyak kelebihannya, indikator lagging juga memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya adalah pergerakan trader yang lebih mudah ditebak dan dapat terjadi secara cepat, sehingga trader lain yang kalah cepat menjadi terlambat masuk ke pasar.
Selain pergerakan trader, pergerakan harga juga menjadi penyebab keterlambatan sinyal masuk yang diterima oleh trader dikarenakan indikator lagging baru bisa digunakan setelah terjadi pergerakan harga. Tak heran, banyak trader yang kehilangan momentumnya dalam mengantongi sejumlah cuan dikarenakan terlambat menerima sinyal.
Di samping kekurangannya, indikator lagging masih menjadi pilihan banyak trader dalam melakukan trading karena penggunaannya yang cenderung sederhana. Oh iya, sebagai trader, penting bagi Anda untuk selalu memperkaya pengetahuan trading, tentunya dengan mengunjungi website Tokonews dan media sosial Tokocrypto di Instagram maupun Twitter.
Salah satu teknik menganalisa kondisi pasar dan melihat peluang ke depan yang bisa digunakan oleh seorang trader adalah dengan mengenali pola divergence. Divergence sendiri memiliki dua bentuk, yakni bullish divergence dan bearish divergence. Sinyal divergence memang sudah jauh digunakan terlebih dahulu oleh para trader saham dan ini pun berlaku juga dalam trading aset kripto.
Sebelum lebih jauh membahas bullish divergence, mari simak terlebih dahulu pengertian dari divergence. Divergence merupakan tanda awal pada perubahan market yang dapat menunjukkan kapan market kehilangan kekuatan. Ketika market sedang bergerak ke satu arah, kekuatan sesungguhnya sedang bersiap-siap untuk berbalik arah
Mudahnya, divergence adalah pola yang berguna untuk memberikan informasi mengenai potensi arah tren yang kuat. Divergence sendiri berguna bagi Anda agar dapat mengidentifikasi kapan sebuah tren akan berlanjut serta kapan sebuah tren mulai melambat dan bahkan cenderung berbalik arah atau reversal.
Pada grafik, divergence berbentuk seperti pola yang bergerak melawan arah harga sesungguhnya. Nah, divergence sendiri seringkali ditemukan pada indikator momentum seperti: MACD, RSI dan Stochastic Oscillator.
Apa itu Bullish Divergence?
Bullish divergence dapat didefinisikan sebagai harga terendah baru yang belum dikonfirmasi oleh indikator rendah baru yang menandakan bahwa tren yang terjadi sedang lemah, dan siap untuk berbalik atau reversal.
Bullish divergence sendiri cukup sederhana untuk mengidentifikasi dan menunjukkan ketika bear kehilangan kekuatan, dan bull yang siap untuk menguasai kendali market kembali. Keuntungan dengan menggunakan bullish divergence adalah Anda bisa melihatnya secara jelas, sedangkan yang menjadi kelemahannya adalah ia tidak dapat memberikan sinyal beli yang tepat.
Perbedaan Antara Bullish Divergence dan Bearish Divergence
Umumnya, yang menjadi perbedaan antara keduanya adalah bullish divergence berarti harga akan berbalik ke atas, sedangkan bearish divergence berarti pembalikan harga ke bawah.
Jenis-jenis Divergence
Secara umum, divergence dapat dibagi menjadi 2 jenis, yakni regular divergence, dan hidden divergence. Berikut penjelasan lebih lengkap yang bisa membedakan kedua kondisi dari bullish divergence dan bearish divergence:
Regular Divergence Trading
Umumnya, regular divergence menunjukkan tanda adanya indikasi pembalikan tren yang tengah berlangsung.
Bullish Divergence
Bullish divergence terjadi apabila harga berada dalam posisi lower low namun indikator berada dalam posisi higher low, kondisi ini menunjukkan adanya pembalikan tren (reversal) dari tren turun ke tren naik.
2. Bearish Divergence
Nah sedangkan bearish divergence terjadi apabila harga yang ada pada grafik berada dalam posisi higher high, sedangkan indikator berada pada posisi lower high. Nah, tanda ini menunjukkan indikasi adanya pembalikan tren, yakni dari tren naik ke tren turun.
Secara umum, hidden divergence menunjukkan tanda adanya indikasi penerusan tren yang sedang berjalan.
Hidden Bullish Divergence
Kondisi hidden bullish divergence ditunjukkan jika harga berada di posisi higher low, sedangkan indikator berada dalam posisi lower low. Kondisi ini menunjukkan adanya indikasi tren naik (bullish) akan terus berlanjut.
2. Hidden Bearish Divergence
Hidden bearish divergence terjadi jika harga pada grafik berada di posisi lower high, sedangkan indikatornya berada dalam posisi higher high. Nah, tanda ini menunjukkan bahwa tren bearish yang sedang berlangsung dan berpotensi akan terus berlanjut.
Nah, bagi Anda yang ingin mendalami trading aset kripto dan ingin langsung mempraktikkan bullish divergence ini, daftarkan diri Anda dan selesaikan KYC segera di www.tokocrypto.com.
Tak hanya pengalaman trading dan investasi saja yang akan Anda dapatkan di Tokocrypto, melainkan Anda juga bisa membaca berita terbaru mengenai perkembangan aset kripto dan juga tips and trick yang tentunya akan selalu menambah pemahaman Anda.
Bagi para pegiat dunia aset kripto, khususnya trader, pasti sudah tidak asing dengan istilah indikator. Dalam dunia trading, indikator menjadi hal yang penting dalam mencapai tujuan dari trading itu sendiri. Indikator pada trading sangatlah beragam jenis dan tujuannya. Kali ini, saatnya Anda memahami lebih jauh soal indikator Stochastic, indikator yang cukup populer di kalangan trader karena mudah digunakan dan membawa cuan.
Yuk, simak penjelasan selengkapnya!
Mengenal Stochastic, Indikator yang Digunakan dalam Trading
Stochastic merupakan sebuah indikator yang dapat menunjukkan sinyal lewat dua garis yang berpotongan, baik sinyal jual maupun beli. Stochastic ini marak digunakan oleh para trader khususnya di aset kripto, karena dapat membantu aktivitas trading.
Stochastic pertama kali diciptakan pada tahun 1950-an oleh seorang dokter sekaligus trader, bernama George Lane. Ia kemudian terus melakukan pengembangan Stochastic agar grafik pergerakan harga dapat lebih mudah dipahami, dengan menganalisis trend. Berbeda dengan indikator lain, Stochastic hanya menunjukkan angka mulai dari 0 hingga 100, tidak lebih atau kurang.
Para trader dapat memilih dengan bebas indikator mana yang akan digunakan dari beragam jenisnya. Stochastic sendiri tergolong ke dalam jenis indikator momentum karena trader mengambil keputusan berdasarkan kuat lemahnya momentum. Stochastic berperan memperlihatkan harga trading pada penutupan terakhir dengan cara menghitung selisih harga tertinggi dan terendah dalam periode tertentu.
Umumnya, Stochastic digunakan oleh para trader kripto yang memiliki tujuan jangka panjang. Selain Stochastic, para trader juga biasanya menggunakan indikator dan metode teknikal lain dalam waktu yang bersamaan agar dapat membandingkan sinyal yang terdeteksi.
Cara Membaca Indikator Stochastic Saat Trading
Dalam membaca indikator Stochastic, terdapat berbagai cara yang bisa Anda sesuaikan berdasarkan fungsinya. Ternyata, Stochastic sendiri bisa digunakan dalam tiga fungsi dengan cara membaca yang tentunya juga berbeda, yaitu:
Overbought berarti terlalu banyak dibeli, menghasilkan harga koin yang sudah terlalu tinggi sehingga berpotensi terjadinya koreksi atau penurunan harga. Sebaliknya, Overheard berarti terlalu banyak dijual, menghasilkan harga koin yang hampir mencapai titik terendah, sehingga berpotensi terjadinya kenaikan harga.
Dalam menandakan fungsi ini, Indikator Stochastic memiliki titik atas sebesar 80 dan titik bawah sebesar 20 pada grafik. Dengan demikian, indikator akan menandakan kondisi Overbought jika grafik mencapai angka 80 atau lebih dan kondisi Oversold jika grafik berada di angka 20 atau lebih.
Indikator ini sangat mudah digunakan dalam menunjukkan kondisi Overbought & Oversold. Namun, Anda tidak bisa langsung memutuskan untuk memulai trading begitu saja karena tidak jarang grafik hanya hampir menyentuh, sehingga tidak berhasil mencapai Overbought maupun Oversold. Untuk itu, penting bagi Anda untuk memahami cara membaca indikator berdasarkan fungsi lainnya agar tidak terjadi masalah.
Indikator Stochastic memiliki dua garis dinamis, yaitu garis %K (signal line) dan %D (trigger line). Jika membahas cara membaca Indikator Stochastic untuk melihat sinyal entry, maka Anda harus mengamati persilangan antara kedua garis tersebut. Sinyal entry sendiri juga terbagi menjadi dua, yaitu sinyal beli dan sinyal jual.
Terdeteksinya sinyal beli ditandai dengan garis %K yang memotong garis %D dari arah bawah ke atas (Golden Cross). Sementara, sinyal beli akan terlihat saat garis %K yang memotong garis %D dari atas ke bawah (Death Cross). Hal ini disebabkan oleh sifat masing-masing garis, yaitu garis %K yang bersifat fast stochastic dan garis %D yang bersifat slow stochastic.
Ada sedikit tips bagi Anda yang akan menggunakan indikator ini dalam melihat sinyal entry. Jika persilangan antara kedua garis tersebut terjadi di wilayah Overbought maupun Oversold, maka dapat dipastikan sinyal entry tersebut lebih terkonfirmasi.
Indikator Stochastic juga dapat digunakan dalam menganalisis Divergence. Divergence sendiri merupakan istilah dalam trading yang memfokuskan pada perbedaan antara pergerakan harga dan indikator, sehingga akan terlihat momentum pergerakannya. Cara membacanya adalah dengan melihat titik puncak (high) dan titik dasar (low) yang terdiri dari garis-garis sinyal.
Momentum pergerakan dapat dikatakan melemah apabila posisi high dan low semakin menurun. Sebaliknya, posisi high dan low yang semakin meningkat menandakan momentum pergerakan sedang menguat. Divergence dapat digunakan untuk memprediksi apakah trend harga akan bertahan lama atau justru akan berhenti dan berbalik arah (reverse).
Keunggulan Indikator Stochastic dan Tips Menggunakannya
Dari sekian banyak indikator yang bisa digunakan dalam trading, indikator Stochastic memiliki beberapa keunggulan yang menguntungkan, lho. Berikut ini keunggulan dari indikator Stochastic yang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para trader.
Sensitivitas yang Lebih Tinggi
Stochastic merupakan indikator yang cenderung lebih sensitif, di mana dapat lebih cepat menangkap sinyal. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan juga Stochastic akan menangkap fake signal atau sinyal palsu. Sehingga, trader perlu pintar-pintar dalam menganalisis garis sinyal, misalnya dengan menggabungkan teknik lain.
Mampu Memberikan Sinyal Saat Lemah
Dikarenakan sifatnya yang sensitif, Stochastic juga dapat memberikan sinyal saat terjadi pelemahan momentum. Saat sinyal lemah ditangkap, trader dapat dengan mudah mengambil keputusan untuk masuk atau keluar dari bursa trading.
Adaptif di Kondisi Pasar yang Berbeda
Selain itu, Stochastic juga memiliki sifat yang mudah beradaptasi dan fleksibel untuk digunakan dalam berbagai kondisi pasar. Misalnya, diaplikasikan pada pasar yang memiliki volatilitas tinggi atau fast-moving.
Berkat kelebihannya, Stochastic tergolong marak digunakan oleh para trader kripto. Jika Anda akan menggunakan indikator ini, ada beberapa tips yang bisa Anda ikuti agar trading Anda berbuah untung. Pertama, Anda perlu mengkombinasikan Stochastic dengan indikator lain, seperti Fibonacci atau Moving Average agar tetap bisa mengurangi risiko trading.
Kedua, Anda harus melakukan analisis pada lebih dari satu time frame atau periode waktu. Hal ini dilakukan untuk mengurangi false signal yang membuat Anda salah mengambil keputusan, bahkan mengalami kerugian. Ketiga, manfaatkan trendline atau garis tren. Saat Anda sudah menemukan tren harga dan trendline yang valid, Anda bisa lebih mudah membaca sinyal dari Stochastic dan meningkatkan kemungkinan Anda dapat untung.
Sekarang, bekal ilmu trading Anda sudah semakin lengkap setelah mengetahui apa itu indikator Stochastic beserta cara membacanya. Jika Stochastic dimanfaatkan dengan benar dan diselingi dengan analisis teknikal yang baik, Anda pasti bisa menjemput cuan di akhir masa trading.
Tertarik dengan informasi dan tips lainnya seputar trading aset kripto? Yuk, cari tahu lebih lengkap di website Tokonews milik Tokocrypto sekarang!
Dalam menghadapi pasar kripto yang sangat volatil, tentunya trader membutuhkan keahlian dalam menganalisa pergerakan aset yang sedang terjadi di pasar. Nah, dalam trading aset kripto ada beberapa jenis strategi yang bisa Anda terapkan untuk mendapatkan keuntungan dan menyiasati hal tersebut. Salah satunya, bollinger band scalping.
Yuk, simak penjelasan lengkapnya!
Pengertian Scalping
Sebelumnya mari kita bahas apa yang dimaksud dari strategi scalping terlebih dahulu. Scalping adalah strategi trading yang mengambil keputusan berdasarkan dari pergerakan pasar kecil, dengan cepat masuk dan keluar dalam sehari, dan bahkan mungkin satu jam. Scalping sendiri memiliki ciri khususnya, yakni mengambil keuntungan beberapa pip (sekitar 5 – 10) dengan frekuensi trading yang terus berulang.
Dalam scalping, Anda tidak memerlukan pengembalian tinggi per perdagangan, tetapi lebih bertujuan untuk mempertahankan rasio menang/kalah yang lebih tinggi. Yang menjadi kunci pada strategi ini adalah membuat perdagangan kecil yang sukses sebanyak-banyaknya sambil menghindari kerugian.
Apa itu Bollinger Band Scalping?
Bollinger band sendiri adalah salah satu dari beberapa analisa teknikal yang mengacu pada bands yang ditempatkan di chart untuk menunjukkan rentang volatilitas harga suatu mata uang/aset apakah sedang naik ataupun turun. Bollinger band scalping pun disimpulkan sebagai penggunaan indikator bollinger band untuk jangka pendek.
Bollinger band sendiri terdiri dari tiga bands (pita) yaitu upper band (garis atas), middle band (garis tengah), dan lower band (garis bawah), yang dimana ketiga bands tersebut bergerak mengikuti pergerakan harga. Nah, jarak yang ada di antara upper band, middle band, dan lower band sendiri pun dipengaruhi oleh volume. Semakin besar volume, maka semakin lebar jarak antara upper band dan lower band-nya, dan sebaliknya.
Penggunaan Bollinger Band Scalping
Penggunaan indikator bollinger band dalam jangka pendek (scalping) terdapat beberapa keuntungan, yakni salah satunya ialah ia mampu memberikan profit dengan cepat. Sehingga beban psikologi dari seorang trader dapat berkurang.
Namun, seperti yang sudah disebutkan di atas karena keuntungan yang diambil hanyalah beberapa pip, maka seorang trader haruslah hati-hati dan teliti ketika menggunakan indikator ini.
Cara Penggunaan Bollinger Band Scalping
Nah, biasanya bollinger bands sendiri dipakai untuk scalping pada time frame M15, M30, atau H1. Untuk mengatur bollinger band scalping Anda diperlukan 3 langkah. Langkah awalnya adalah pasang indikator bollinger band pada chart aset kripto yang ingin di-tradingkan.
Selanjutnya, atur bollinger untuk strategi scalping, nah disini Anda mengisi beberapa parameter default-nya, antara lain:
Periode : Parameter ini merupakan input periode Moving Average (MA) pada middle band sebagai alat pembaca trend. Anda bisa mengisinya dengan “20”.
Deviation: Parameter ini merupakan input jarak antara lower band atau upper band dengan garis MA. Parameter ini berfungsi sebagai alat pembaca volatilitas. Semakin lebar jarak antara lower band atau upper band dengan garis MA, maka nilai volatilitasnya semakin tinggi. Ini artinya trend masih berjalan dengan kuat. Begitu juga sebaliknya. Pada parameter ini Anda bisa mengisinya dengan “2.00”.
Apply to: Parameter ini merupakan pembaca data input. Anda bisa mengisinya dengan “close”
Dan yang terakhir adalah Anda bisa melakukan analisa secara teknikal untuk mengamati perkembangan harga. Baik itu di masa lampau dan terkini. Hal ini agar Anda dapat memperkirakan arah harga pasar. Lalu jalankan. Jika harga menyentuh lower band, maka buy. Sedangkan jika harga mencapai upper band, maka sell.
Itulah penjelasan lengkapnya mengenai trading menggunakan indikator bollinger band untuk jangka pendek. Oh iya, selain menggunakan indikator agar profit Anda dapat lebih maksimal, jangan lupa trading pada exchange terpercaya dan terdaftar di BAPPEBTI seperti Tokocrypto, ya! Nantikan juga update terbaru kami di instagram dan twitter kami!
Pergerakan pasar secara sederhana mencerminkan aktivitas beli dan jual yang terekam dalam bentuk data candlestick—termasuk trading volume, yang dapat membantu trader untuk memahami aktivitas transaksi dan potensi perubahan tren.
Lalu bagaimana cara membaca data tinggi rendahnya trading volume? Simak pembahasannya di bawah ini.
Apa Itu Volume dalam Trading?
Volume trading merupakan indikator untuk mengetahui seberapa besar jumlah aset yang diperjualbelikan dalam periode waktu tertentu.
Pergerakan naik dan turunnya volume trading ini tentunya bukan hanya sebagai angka atau batang indikator saja, melainkan representasi dari aktivitas pasar dan investor pada periode waktu tersebut.
Volume tinggi menunjukkan bahwa banyak orang sedang aktif membeli dan menjual aset tersebut, menandakan minat yang besar. Sebaliknya, volume rendah berarti aktivitas perdagangan sedikit, menunjukkan minat yang sedang menurun.
Volume bisa jadi salah satu indikator yang penting untuk kamu gunakan karena dapat memberikan konteks terhadap pergerakan harga, serta membantu kamu mengenali momen breakout atau pembalikan tren (reversal) berdasarkan minat pasar.
Misalnya, ketika harga menembus resistensi tetapi volume tetap rendah, ada risiko bahwa breakout tersebut tidak didukung oleh partisipasi pasar yang cukup. Kurangnya beli di level tersebut bisa menyebabkan harga kembali turun, sehingga terjadi false breakout atau pembalikan tren.
Sebaliknya, jika harga menembus resistensi dengan volume tinggi, ini menunjukkan bahwa banyak trader dan investor mendukung kenaikan harga, sehingga breakout lebih valid dan berpotensi berlanjut.
Grafik volume biasanya ditampilkan di bagian bawah chart grafik harga. Tampilannya berupa batang vertikal berwarna:
Hijau: volume beli lebih besar dari volume jual.
Merah: volume jual mendominasi.
Semakin tinggi batangnya, semakin besar volume transaksi pada periode waktu tersebut. Batang volume ini tentunya harus dianalisis bersamaan dengan pergerakkan arah harga menggunakan indikator teknikal agar interpretasinya lebih akurat.
Contoh Cara Membaca Volume Trading
Berikut beberapa contoh pendekatan sederhana dalam membaca volume:
Kenaikan harga dengan volume tinggi → Bisa menunjukan tren bullish, karena banyak trader berpartisipasi dalam pembelian aset.
Kenaikan harga dengan volume rendah → Bisa menjadi pertanda bahwa tren kenaikan kurang didukung oleh partisipasi pasar, sehingga berpotensi mengalami pembalikan.
No Demand (tidak ada permintaan) → Harga mengalami penurunan dengan volume rendah, mengindikasikan kurangnya minat beli dan kemungkinan tren bearish.
No Supply (tidak ada pasokan) → Harga naik dengan volume rendah, mengindikasikan kurangnya tekanan jual dan potensi kenaikan harga lebih lanjut.
Volume tinggi dalam fase akumulasi → Investor institusional diam-diam membeli aset sebelum tren naik dimulai.
Volume tinggi dalam fase distribusi → Investor institusional mulai menjual aset mereka secara bertahap sebelum tren turun terjadi.
Perlu diingat, ini hanya interpretasi sederhana dalam penggunaan volume trading. Dalam prakteknya kamu perlu mengkombinasikan volume dengan indikator lain seperti support dan resistance, moving average, RSI, MACD atau indikator teknikal lainnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat
Meskipun volume trading bisa mengindikasikan minat pasar pada suatu aset, bukan berarti volume trading ini bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk mengambil keputusan dalam trading. Kesalahan-kesalahan ini biasanya meliputi:
Mengabaikan volume saat menganalisis harga → Bisa menyebabkan kesalahan dalam menilai kekuatan tren.
Bereaksi terlalu cepat terhadap lonjakan volume → Tidak semua spike menandakan sinyal beli atau jual yang valid.
Tidak menggunakan indikator pendukung → Volume lebih efektif jika dikombinasikan dengan analisis teknikal lainnya.
Tidak memperhatikan berita dan sentimen pasar → Faktor eksternal seperti regulasi, adopsi institusional, atau sentimen sosial dapat mempengaruhi pergerakan harga.
Cara Menampilkan Trading Volume di Tokocrypto
Untuk menampilkan trading volume saat menggunakan aplikasi Tokocrypto ikuti beberapa — langkah mudah berikut.
Gambar grafik volume trading di aplikasi Tokocrypto.
Masih bingung cara baca volume trading? Yuk, tanya-tanya langsung sama trader aktif lain di Telegram komunitas Tokocrypto melalui link berikut: https://t.me/TokocryptoOfficial
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Volume mencerminkan jumlah aset kripto yang diperdagangkan dalam periode waktu tertentu—indikator volume ini dapat kamu gunakan sebagai indikator pelengkap saat melakukan trading.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan volume trading dan apa fungsinya bagi trader khususnya di pasar kripto? Simak penjelasannya di bawah ini.
Apa itu Volume Trading?
Volume trading merupakan jumlah total aset yang diperdagangkan dalam periode waktu tertentu—aset ini bisa berupa saham, kripto, atau forex.
Volume transaksi ini biasanya dinyatakan dalam bentuk total aset yang diperdagangkan atau dalam bentuk fiat seperti dolar AS.
Misalnya, dalam satu hari, terjadi transaksi antara tiga trader: A, B, dan C. Trader A membeli 3 BTC dari Trader B dengan harga $100,000 per BTC. Trader B menjual 3 BTC ke Trader A dan membeli 1 BTC dari Trader C dengan harga $90,000 per BTC.
Total volume trading yang tercatat adalah 4 BTC. Yang mana 3 BTC tersebut berasal dari transaksi antara A dan B, serta 1 BTC dari transaksi antara B dan C—dengan nilai total volume transaksi sebesar $390,000 ($300,000 dari 3 BTC + $90,000 dari 1 BTC).
Selain untuk mengetahui jumlah aset yang diperdagangkan dalam suatu periode waktu tertentu, volume trading juga bisa menjadi salah satu tolak ukur untuk mengetahui seberapa diminati suatu aset, dan seberapa aktif aset tersebut diperdagangkan.
Biasanya, ketika semakin besar volume trading yang dimiliki oleh suatu aset, maka semakin tinggi pula tingkat likuiditas aset tersebut.
Kenapa Trading Volume Bisa jadi Pertanda Tingginya Likuiditas Suatu Aset?
Likuiditas sendiri mengacu pada seberapa mudah suatu aset dapat dibeli atau dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang signifikan.
Semakin besar volume trading suatu aset, semakin tinggi likuiditas karena adanya lebih banyak pembeli dan penjual yang aktif di pasar. Prinsipnya seperti ini:
Lebih banyak transaksi → Saat volume tinggi, ada banyak order jual dan beli yang masuk, sehingga aset bisa diperdagangkan dengan cepat tanpa kesulitan menemukan lawan transaksi.
Spread yang lebih kecil → Spread adalah selisih antara harga bid (pembelian) dan ask (penjualan). Jika volume tinggi, spread biasanya lebih kecil karena banyaknya trader yang mengisi order di berbagai level harga.
Harga lebih stabil → Dengan lebih banyak transaksi terjadi secara konsisten, harga cenderung lebih stabil karena karena adanya layer order yang harus ditembus terlebih dahulu.
Kemudahan masuk dan keluar pasar → Trader dan investor merasa lebih aman karena bisa membeli atau menjual aset dalam jumlah besar tanpa mempengaruhi harga secara drastis.
Volume dalam trading dapat memberikan berbagai insight penting bagi para trader, seperti:
Menentukan Likuiditas Pasar: Seperti pada penjelasan poin sebelumnya, volume tinggi dapat menunjukkan bahwa aset mudah dibeli dan dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang signifikan. Indikator ini akan sangat berguna ketika kamu melakukan trading meme coin di DEX (Decentralized Exchange) atau kripto dengan market cap kecil.
Menilai Kekuatan Tren Pergerakan: Tinggi atau rendahnya volume bisa menjadi salah satu cara untuk konfirmasi tren harga, misal: volume yang meningkat saat harga naik bisa menjadi tanda tren bullish, sedangkan volume tinggi saat harga turun bisa mengindikasikan tren bearish.
Mengetahui Fase Konsolidasi dan Akumulasi: Saat fase konsolidasi, volume biasanya datar atau bahkan menurun yang menunjukkan kurangnya minat pasar. Namun, jika volume bertambah dalam rentang sempit, itu bisa menjadi tanda smart money sedang mengakumulasi sebelum harga bergerak signifikan.
Volume sangat berguna ketika digunakan bersama dengan analisis teknikal lainnya, seperti support-resistance, candlestick pattern, atau indikator seperti RSI dan MACD.
Berbeda dengan forex yang volume trading-nya sulit diukur secara riil karena yang bersifat over-the-counter (OTC) dan tidak ada satu sumber data terpusat yang mencatat semua transaksi pasar forex—di pasar kripto, volume bisa dilihat secara langsung melalui bursa, seperti yang bisa kamu lakukan dengan mudah di Tokocrypto.
Cara untuk menampilkan indikator volume trading di aplikasi Tokocrypto:
Masuk ke menu pasar → pilih aset kripto → klik tulisan VOL yang ada di bagian bawah grafik harga.
Kenapa Harus Memperhatikan Volume Trading?
Aset dengan volume tinggi dan konsisten biasanya menunjukkan adanya partisipasi aktif dari para trader dan investor, yang berarti harga terbentuk secara organik melalui mekanisme supply dan demand. Ini menjadi penting sebab semakin tinggi volume, makan akan semakin mudah bagi kamu untuk melakukan transaksi beli atau jual tanpa mengalami slippage besar—yaitu perbedaan harga antara yang diinginkan dan yang dieksekusi.
Sebaliknya, aset dengan volume rendah cenderung lebih berisiko karena pasar yang sepi lebih rentan dimanipulasi oleh whaledan kurang likuid.
Memperhatikan volume juga membantu kamu menyaring aset sebelum mengambil keputusan trading. Ketika volume mendadak meningkat drastis, itu bisa menjadi sinyal adanya pergerakan besar—baik karena berita penting, akumulasi oleh institusi, atau sebagai potensi konfirmasi dari analisis teknikal.
Penutup
Pergerakan volume trading biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti zona waktu, sentimen, berita, analisis teknikal, hingga partisipasi institusi dan whale. Faktor-faktor ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari dinamika pasar yang terus berubah.
Maka dari itu, trader perlu untuk selalu update dengan berita dan pergerakan pasar terbaru. Salah satu cara untuk tetap terhubung dengan informasi adalah dengan bergabung bersama komunitas trader Tokocrypto di Telegram untuk mendapatkan berita, analisis sinyal harian, edukasi untuk pemula, dan desas-desus terbaru seputar pasar kripto.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Membeli crypto tentunya membutuhkan strategi, dan tidak hanya bisa mengandalkan keberuntungan. Strategi ini bisa dalam bentuk analisis fundamental dan analisis teknikal.
Jika analisis fundamental berfokus pada pada value aset dari sisi proyek, seperti teknologi, tim pengembang, tokenomics, adopsi, dan berita regulasi. Maka analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga dan volume di chart untuk membaca tren, pola, dan sinyal beli atau jual.
Bagi pemula, mungkin banyak yang menganggap analisis teknikal merupakan suatu hal yang membingungkan, karena harus membaca grafik harga yang terus bergerak setiap saat.
Agar kamu lebih memahami mengenai analisis teknikal dan indikator crypto yang ramah untuk pemula, simak penjelasan berikut.
Apa Itu Analisis Teknikal dalam Crypto?
Analisis teknikal adalah metode untuk mempelajari pergerakan harga suatu aset berdasarkan data historis pasar yang tertuang dalam bentuk grafik (chart).
Data yang ditampilkan dalam bentuk chart tersebut mengandung informasi penting, seperti harga pembukaan, penutupan, tertinggi, dan terendah.
Dengan menganalisis pola dan tren yang muncul dari grafik tersebut, kamu dapat memahami perilaku pasar dan psikologi pelaku pasar yang tercermin langsung dalam pergerakan harga.
Kamu bisa menggunakan analisis teknikal untuk membantu kamu dalam hal:
Menentukan waktu terbaik membeli atau menjual aset.
Menurut salah satu teori Dow yang diungkapkan oleh Charles Dow, seorang wartawan Wall Street Journal. Yakni, teori Market Discounts Everything—menjelaskan bahwa pola harga aset di pasar mencerminkan segala informasi berita, harapan, ketakutan, sekaligus ketamakan para pelaku pasar.
Ini artinya setiap perubahan harga bukanlah kejadian acak dan kebetulan, melainkan hasil dari reaksi kolektif pelaku pasar terhadap berbagai informasi yang muncul.
Ketika berita tentang suku bunga, inflasi, atau aksi korporasi muncul misalnya, pasar akan langsung merespons dan menyesuaikan harga.
Harga ini biasanya membentuk sebuah tren, yaitu tren naik (uptrend), tren turun (downtrend), dan tren mendatar atau tanpa tren (sideways) yang cenderung membentuk pola berulang dari waktu ke waktu.
Pola ini muncul karena perilaku dan psikologi pelaku pasar—seperti rasa takut (fear), keserakahan (greed), dan euforia yang sering kali mirip, sehingga pola harga masa lalu bisa muncul kembali di masa depan.
Dengan menggunakan analisis teknikal, kamu bisa memahami bagaimana tren dan pola dari aset crypto yang ingin kamu beli, sehingga akan memudahkanmu untuk mengambil keputusan berdasarkan data pasar—bukan hanya sekadar insting.
Support dan Resistance adalah dua konsep paling mendasar dalam analisis teknikal yang digunakan untuk mengidentifikasi level harga penting di mana pergerakan harga cenderung tertahan atau berbalik arah.
Support adalah level harga di mana tekanan beli (buying pressure) cukup kuat untuk menghentikan atau membalikkan penurunan harga. Ibarat lantai, support menahan harga agar tidak jatuh lebih dalam.
Resistance adalah level harga di mana tekanan jual (selling pressure) cukup kuat untuk menghentikan atau membalikkan kenaikan harga. Ibarat atap, resistance menahan harga agar tidak naik lebih tinggi.
Beberapa strategi sederhana dalam menggunakan support dan resistance:
Buy di Support → Trader sering mempertimbangkan masuk posisi beli ketika harga mendekati atau memantul dari level support.
Sell di Resistance → Trader mempertimbangkan masuk posisi jual ketika harga mendekati atau memantul dari level resistance.
Breakout → Jika harga menembus resistance dengan volume tinggi, ini bisa menjadi sinyal potensi tren naik berlanjut. Sebaliknya, penembusan support bisa menjadi sinyal tren turun berlanjut.
Role Reversal → Setelah ditembus, support sering berubah menjadi resistance baru, dan resistance sering berubah menjadi support baru.
Keunggulan Menggunakan Support dan Resistance
Mudah dipahami: Konsep visual sederhana yang bisa diterapkan di semua instrumen.
Bisa dikombinasikan dengan indikator lain: Misalnya RSI untuk mengonfirmasi kondisi overbought/oversold di dekat level penting.
Relative Strength Index (RSI) adalah salah satu indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan momentum pergerakan harga suatu aset.
RSI bekerja dengan membandingkan besarnya kenaikan harga terhadap penurunan harga dalam periode tertentu, biasanya 14 hari, lalu menampilkannya dalam skala 0–100.
Indikator ini membantu trader mengidentifikasi kondisi jenuh beli (overbought) dan jenuh jual (oversold) yang sering menjadi sinyal potensi pembalikan arah harga.
Overbought → RSI berada di atas level 70 → Menandakan harga sudah terlalu tinggi dan berpotensi mengalami koreksi atau penurunan.
Oversold → RSI berada di bawah level 30 → Menandakan harga sudah terlalu rendah dan berpotensi mengalami rebound atau kenaikan.
Keunggulan Menggunakan RSI
Mudah dibaca: Hanya perlu memperhatikan level angka (30 dan 70) serta arah garis RSI.
Memberi sinyal awal: Dapat mengantisipasi potensi pembalikan harga sebelum terjadi.
3. Parabolic SAR (Stop and Reverse)
Parabolic SAR adalah indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengidentifikasi arah tren sekaligus memberikan sinyal potensi pembalikan (reversal) harga.
SAR adalah singkatan dari Stop and Reverse, yang berarti indikator ini membantu trader menentukan kapan harus jual dan beli sesuai arah tren yang sedang berlangsung.
Indikator ini ditampilkan dalam bentuk titik-titik (dots) yang muncul di atas atau di bawah harga pada grafik, dengan titik-titik di bawah harga yang berarti tren naik, dan titik-titik di atas harga yang berarti tren turun.
Potensi Tren Naik → Terjadi ketika titik-titik SAR berpindah dari posisi di atas harga ke posisi di bawah harga.
Potensi Tren Turun → Terjadi ketika titik-titik SAR berpindah dari posisi di bawah harga ke posisi di atas harga.
Keunggulan Menggunakan Parabolic SAR
Memberi sinyal visual yang jelas: Mudah dibaca bahkan oleh pemula.
Membantu menentukan titik entry dan exit: Cocok untuk strategi trend following.
Bollinger Bands adalah indikator analisis teknikal yang digunakan untuk mengukur volatilitas harga dan mengidentifikasi potensi area jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold).
Berikut beberapa strategi yang bisa kamu gunakan untuk membaca Bollinger Bands:
Bollinger Bounce → Harga cenderung memantul kembali ke arah middle band setelah menyentuh upper atau lower band, terutama saat pasar sedang sideways.
Breakout Volatilitas → Ketika harga menembus upper band dengan volume tinggi, sering dianggap sinyal potensi kelanjutan tren naik. Sebaliknya, penembusan lower band bisa menjadi sinyal potensi kelanjutan tren turun.
Squeeze → Ketika jarak antara upper dan lower band menyempit, menandakan volatilitas rendah dan potensi pergerakan besar akan segera terjadi.
Keunggulan Menggunakan Bollinger Bands
Mengukur volatilitas secara visual: Lebar pita menunjukkan seberapa aktif pergerakan harga.
Bisa dikombinasikan dengan indikator lain: Misalnya RSI atau MACD untuk mengonfirmasi sinyal.
Moving Average (MA) adalah salah satu indikator analisis teknikal paling populer yang digunakan trader untuk mengidentifikasi arah tren harga suatu aset.
Indikator ini menghitung harga rata-rata dalam periode waktu tertentu, misalnya 9 hari, 21 hari, 50 hari, atau 200 hari, sehingga pergerakan harga terlihat lebih halus dan tren pasar lebih mudah dikenali.
Salah satu strategi populer adalah mengamati persilangan (crossover) antara MA jangka pendek dan MA jangka lebih panjang:
Bullish Crossover (Golden Cross) Terjadi ketika MA jangka pendek memotong ke atas MA jangka panjang → Potensi tren naik.
Bearish Crossover (Death Cross) Terjadi ketika MA jangka pendek memotong ke bawah MA jangka panjang → Potensi tren turun.
Keunggulan Menggunakan Strategi Crossover
Mudah dipahami: Cukup perhatikan arah garis dan titik persilangan.
Adaptif: Periode MA bisa disesuaikan dengan gaya trading (scalping, swing, atau investasi jangka panjang).
Analisis teknikal menjadi salah satu bekal penting bagi siapa pun yang ingin berinvestasi atau trading aset crypto. Dengan memahami konsep dasar seperti support dan resistance, RSI, Parabolic SAR, Bollinger Bands, hingga Moving Average, kamu dapat membaca tren, mengenali pola harga, dan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar insting.
Jangan lupa, setiap indikator memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Kamu dapat mengombinasikan beberapa indikator—misalnya menggabungkan RSI dengan Bollinger Bands untuk membaca momentum sekaligus volatilitas, atau memadukan Moving Average dengan support/resistance untuk menentukan level beli dan jual yang lebih presisi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Referensi:
Investopedia. Understanding Dow Theory: Definition and Application in Market Trends. 2025.
Kompas.id. Teori Dow, Bekal Memaksimalkan Profit Investasi Saham. 2021.