Tag: indikator

  • 3 Strategi Buy the Dip Bitcoin yang Bisa Dicoba Saat Pasar Lesu

    Pasar kripto sedang lesu? Justru ini saatnya buy the dip. Dalam kondisi sideways dan minim volatilitas, strategi seperti DCA, analisis RSI oversold, dan pantauan data on-chain bisa jadi senjata ampuh untuk menangkap peluang akumulasi Bitcoin.

    Yuk, simak langsung 3 strateginya yang bisa kamu terapkan!

    Mengapa Momen Pasar Lesu Jadi Peluang Buy the Dip?

    Kondisi pasar yang lesu sering kali dianggap tidak menyenangkan bagi para trader karena pergerakan harganya yang stagnan—hanya memantul antara level support dan level resistance. 

    Tapi dengan memanfaatkan momentum seperti saat harga turun mencapai level support, kamu bisa melakukan buy the dip untuk membeli dan menjualnya saat harga kembali mengunjungi level resistance.

    Baca juga: Apa itu swing Trading dan Bagaimana Cara Swing Trading Crypto?

    Buy the Dip dengan Dollar Cost Averaging (DCA)

    Saat harga lesu dan cenderung sideways, kamu bisa memanfaatkan momen ketika harga mengunjungi level support untuk melakukan pembelian. 

    Alih-alih melakukan pembelian secara serampangan tanpa melihat level support dan resistance, akan lebih baik jika kamu membeli dengan metode DCA (Dollar Cost Averaging) ketika harga menyentuh level support dan jika harga kembali menguji level support berikutnya dalam tren yang masih valid, kamu dapat melakukan buy the dip kembali—contohnya seperti gambar di bawah ini:

    Contoh buy the dip dengan support dan resistance.

    Memanfaatkan level support dan resistance seperti gambar di atas adalah salah satu cara sederhana untuk melakukan buy the dip di saat harga lesu dan sideways. 

    Namun, penting untuk diingat bahwa identifikasi level entry saja tidak cukup. Kamu juga perlu menerapkan manajemen risiko yang disiplin, seperti penggunaan stop-loss di bawah area support, guna melindungi modal dari potensi breakdown.

    Baca juga: Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Buy the Dip di Area RSI Oversold

    Kamu bisa menggunakan indikator seperti RSI (Relative Strength Index) untuk mencari kondisi jenuh jual (oversold)

    Caranya dengan memperhatikan indikator RSI, jika RSI berada di bawah 30 dan harga mendekati level support historis, itu bisa jadi momen tepat untuk mulai beli bertahap.

    Contoh RSI sebagai indikator buy the dip.

    Nah terlihat dari gambar di atas, setiap RSI kurang lebih menyentuh angka 30 dan bertepatan dengan level support—harga cenderung memantul dari ‘dip’-nya.

    Jadi jika kamu sebelumnya hanya memanfaatkan level support dan resistance untuk membeli, kamu juga bisa tambahkan indikator RSI sebagai pendukung. Jika kamu menggunakan aplikasi Tokocrypto, cara untuk aktifkannya sangat mudah:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk menu ‘Pasar’
    2. Cari aset kripto — contoh: BTC/USDT
    3. Pilih ‘RSI’ pada bagian bawah chart harga
    4. Amati saat RSI turun ke bawah angka 30 yang menandakan kondisi oversold
    5. Tunggu konfirmasi pembalikan arah

    Baca juga: Apakah Itu Stochastic RSI?

    Buy the Dip Berdasarkan Data On-Chain

    Whale, sebutan untuk pemilik aset kripto dengan jumlah besar—seringkali membeli dalam jumlah besar saat pasar lesu. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan melihat pergerakan transfer dari exchange ke dompet pribadi.

    Karena kripto bersifat transparan, kamu dapat melihat dengan jelas transaksi pengiriman Bitcoin dari exchange ke dompet pribadi (outflow). Jika banyak Bitcoin yang keluar dari exchange ke dompet pribadi, itu tanda bahwa investor mulai mengakumulasi karena mereka percaya dengan pergerakan harga ke depannya.

    Namun jika banyak transaksi yang menunjukkan banyak Bitcoin yang dikirimkan ke exchange (inflow), bisa jadi tekanan jual akan meningkat. 

    Berikut contoh indikator untuk mengetahui banyaknya Bitcoin yang keluar dari exchange ke dompet pribadi (outflow):

    Data Bitcoin outfolow. Sumber data: CryptoQuant.

    Terlihat beberapa spike outflow dari exchange ke dompet pribadi ketika harga mengalami penurunan saat sideways dan diikuti oleh kenaikan harga setelahnya.

    Baca juga: Tips Deteksi Pergerakan Whale Lewat Volume dan Aktivitas Dompet

    Tips: Gunakan Fitur 0% Biaya Trading Ketika Buy the Dip

    Setelah kamu mengetahui strategi untuk buy the dip, agar makin untung kamu bisa gunakan fitur Beli/Jual yang ada di aplikasi Tokocrypto untuk pembelian yang cepat dengan 0% biaya trading.

    Cara untuk gunakan fiturnya gampang:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan login ke akun Tokocrypto kamu dan lakukan deposit dengan minimal Rp50.000.
    2. Kemudian pilih menu “0 Fee”.
    3. Pada halaman Beli/Jual, pilih Dari dengan “IDR” dan Ke dengan “Bitcoin”.
    4. Masukkan jumlah pembelian.
    5. Klik “Pratinjau Konversi”.

    Nah, gampang banget bukan? Jangan lupa buat gabung juga di Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 7 Indikator Trading Chart di Aplikasi Tokocrypto dan Cara Menggunakannya

    Trading kripto tidak hanya bisa mengandalkan sekadar insting, tapi balik setiap keputusan beli atau jual, ada analisis teknikal yang membantu trader memahami arah pasar. 

    Nah, di aplikasi Tokocrypto, kamu bisa menemukan berbagai indikator bawaan yang biasa digunakan trader profesional untuk membaca momentum, tren, dan potensi pembalikan harga lho!

    Indikator seperti MA, EMA, BOLL, VOL, MACD, KDJ, dan RSI ini bisa kamu gunakan dengan mudah di aplikasi Tokocrypto hanya dengan sekali tap! 

    Yuk pelajari satu persatu indikator trading yang tersedia di aplikasi Tokocrypto beserta cara menggunakannya!

    1. MA (Moving Average)

    Moving Average (MA) adalah indikator paling dasar dan paling sering digunakan di dunia trading. MA menghitung rata-rata pergerakan harga dalam periode tertentu, misalnya jam, hari, atau minggu.

    Di Tokocrypto, kamu dapat menggunakan indikator Moving Average dengan menekan tombol MA pada bagian bawah chart harga, lalu indikator MA akan muncul dalam bentuk beberapa garis berbeda warna yang merepresentasikan periode MA.

    Kamu dapat menggunakan indikator MA sebagai alat bantu untuk mengidentifikasi tren, seperti:

    • Jika harga berada di atas garis MA → tren cenderung naik (bullish).
    • Jika harga berada di bawah garis MA → tren cenderung turun (bearish).

    Selain untuk membantu mengidentifikasi tren, perpotongan antara MA pendek dengan MA panjang juga bisa menjadi sinyal seperti golden cross (bullish) atau death cross (bearish).

    • Golden Cross → MA jangka pendek menembus ke atas MA jangka panjang.
    • Death Cross →  MA jangka pendek menembus ke bawah MA jangka panjang.

    2. EMA (Exponential Moving Average)

    EMA (Exponential Moving Average) adalah versi lebih sensitif dari MA. Indikator ini memberikan bobot lebih besar pada harga terbaru, sehingga lebih cepat menangkap perubahan tren pasar.

    Sama seperti MA di aplikasi Tokocrypto, kamu dapat menggunakan indikator Exponential Moving Average dengan menekan tombol EMA pada bagian bawah chart harga, lalu indikator EMA akan muncul dalam bentuk beberapa garis berbeda warna yang merepresentasikan periode EMA.

    Kamu dapat menggunakan indikator EMA sebagai alat bantu untuk mengidentifikasi tren, seperti:

    • Jika harga berada di atas garis EMA → tren cenderung naik (bullish).
    • Jika harga berada di bawah garis EMA → tren cenderung turun (bearish).

    Selain untuk membantu mengidentifikasi tren, perpotongan antara EMA pendek dengan EMA panjang juga bisa menjadi sinyal seperti golden cross (bullish) atau death cross (bearish).

    • Golden Cross → EMA jangka pendek menembus ke atas MA jangka panjang.
    • Death Cross →  EMA jangka pendek menembus ke bawah MA jangka panjang.

    Pelajari lebih lengkap: Apa Itu Moving Averages?

    3. BOLL (Bollinger Bands)

    Bollinger Bands adalah indikator volatilitas yang menunjukkan sebaran harga di sekitar nilai rata-rata. Indikator Bollinger Bands terdiri dari:

    • Upper band (batas atas)
    • Lower band (batas bawah)
    • Middle band (garis tengah atau pergerakan rata-rata)

    Upper band dan lower band akan bereaksi terhadap pergerakan harga, dengan melebar saat fluktuasi tinggi (meninggalkan middle band) dan menyempit saat fluktuasi rendah (menuju middle band).

    kamu dapat menggunakan indikator Bollinger Bands dengan menekan tombol BOLL pada bagian bawah chart harga, lalu indikator Bollinger Bands akan muncul dalam bentuk seperti saluran yang mengapit harga dalam upper band, lower band, dan middle band.

    Kamu dapat menggunakan indikator Bollinger Bands untuk menginterpretasikan pergerakan harga dengan sebagai berikut:

    • Ketika harga mendekati upper band, pasar dianggap overbought (harga sudah dianggap terlalu tinggi dari rata-rata).
    • Ketika harga mendekati lower band, pasar dianggap oversold (harga masuk ke level rendah dari rata-rata).
    • Ketika band atas dan bawah yang terus menyempit, menandakan pasar sedang tenang, sementara band yang melebar menunjukkan volatilitas tinggi.

    Bollinger Bands cocok digunakan untuk trader yang mencari peluang dari pergerakan harga jangka pendek.

    Pelajari lebih lengkap: Apa Itu Bollinger Band?

    4. VOL (Volume)

    Volume adalah indikator yang menampilkan jumlah transaksi (pembelian dan penjualan) pada periode waktu tertentu.

    Untuk menampilkan indikator trading volume, kamu hanya perlu menekan tombol VOL yang ada di bawah chart harga, lalu indikator dalam bentuk batang vertikal dengan warna merah dan hijau akan muncul di bagian bawah chart harga.

    • Hijau: volume beli lebih besar dari volume jual.
    • Merah: volume jual mendominasi.

    Semakin tinggi batangnya, semakin besar volume transaksi pada periode waktu tersebut. Volume dapat membantu kamu untuk memvalidasi momen breakout atau pembalikan tren (reversal) berdasarkan minat pasar.

    Pelajari lebih lengkap: Cara Membaca Volume Trading untuk Pemula

    5. MACD (Moving Average Convergence Divergence)

    MACD adalah indikator momentum yang digunakan untuk mengukur kekuatan momentum dan tren perubahan arah harga. Di aplikasi Tokocrypto, kamu dapat menekan tombol MACD di bawah grafik harga untuk memunculkan indikator tersebut.

    MACD terdiri dari dari tiga elemen yang bergerak di sekitar garis nol:

    • Garis MACD: Membantu menentukan momentum naik atau turun (tren pasar) dengan mengurangkan dua Exponential Moving Average (EMA).
    • Garis Sinyal: Sebuah EMA dari garis MACD (biasanya EMA 9-periode). Analisis kombinasi garis sinyal dengan garis MACD dapat membantu mengidentifikasi potensi pembalikan atau titik masuk dan keluar.
    • Histogram: Representasi grafis dari Divergence dan Convergence dari garis MACD. Dalam kata lain, histogram dihitung berdasarkan perbedaan antara dua garis.

    Kamu dapat menggunakan indikator MACD untuk menginterpretasikan pergerakan harga dengan sebagai berikut:

    • MACD di atas garis nol (0) → tren cenderung naik (bullish).
    • MACD di bawah garis nol (0) → tren cenderung turun (bearish).
    • Ketika garis MACD melintasi ke atas garis sinyal → peluang beli (bullish crossover).
    • Ketika garis MACD melintasi ke bawah garis sinyal → peluang jual (bearish crossover).
    • Histogram di atas nol (hijau) → momentum naik semakin kuat.
    • Histogram di bawah nol (merah → momentum turun semakin kuat.

    MACD menjadi favorit trader menengah hingga berpengalaman karena mampu memberikan konfirmasi tren yang lebih jelas dibandingkan indikator tunggal seperti MA.

    Baca lebih lengkap: Penjelasan Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD)

    6. KDJ (Stochastic Indicator)

    KDJ merupakan pengembangan dari Stochastic Oscillator, dengan tambahan komponen garis J yang membuatnya lebih sensitif terhadap perubahan harga.

    Indikator KDJ adalah alat analisis teknikal yang digunakan untuk mengukur momentum pasar dan mengidentifikasi peluang pembalikan harga. 

    Indikator ini memiliki tiga komponen utama dalam bentuk garis: K, D, dan J.

    • K line → menunjukkan tren jangka pendek.
    • D line → rata-rata dari K line, lebih halus.
    • J line → garis tambahan yang menunjukkan deviasi K dan D, membuat sinyal lebih tajam.

    Kamu dapat memunculkan indikator KDJ di aplikasi Tokocrypto dengan menekan tombol KDJ yang ada di bawah grafik harga.

    Cara Membacanya:

    • Jika garis J > 100 maka pasar berpotensi dalam kondisi overbought (potensi turun).
    • Jika garis J < 0 maka pasar berpotensi dalam kondisi oversold (potensi naik).
    • Sinyal beli: Garis K menembus ke atas garis D terutama ketika ada di area oversold (<20)
    • Sinyal jual: Garis K menembus ke bawah garis D terutama ketika ada di area overbould (>80)

    7. RSI (Relative Strength Index)

    RSI adalah indikator momentum yang digunakan untuk mengukur kekuatan tren harga dalam periode tertentu (biasanya 14 hari).

    Saat momentum meningkat (RSI naik), ini mengindikasikan bahwa aset sedang aktif dibeli di pasar. Sebaliknya, jika momentum menurun (RSI turun), ini adalah tanda bahwa minat pedagang dalam saham atau aset tersebut sedang berkurang.

    Singkatnya, RSI bisa membantu kamu dalam mengidentifikasi kondisi jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold).

    Di aplikasi Tokocrypto kamu hanya perlu menekan tombol RSI yang ada di bagian bawah chart harga untuk memunculkan indikator RSI.

    Cara menggunakannya cukup mudah:

    • RSI >80 → aset dianggap overbought, berpotensi koreksi turun.
    • RSI <20 → aset dianggap oversold, berpotensi rebound naik.

    RSI sangat populer karena mudah dipahami dan bisa digunakan untuk mengonfirmasi sinyal dari indikator lain, seperti EMA atau MACD.

    Pelajari lebih lengkap: Mengenal Lebih Dekat Indikator Relative Strength Index (RSI)


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Belum Satu pun 30 Indikator Bull Market Peak Tercapai, Pertanda Bull Run Masih Panjang?

    Cycle bull run selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para investor kripto. Dalam beberapa tahun terakhir, pola pergerakan pasar kripto, terutama Bitcoin menunjukkan kecenderungan mengikuti siklus empat tahunan, dan jika mengikuti alur pola yang sudah ada, maka cycle itu kini diperkirakan berakhir di bulan Oktober-November 2025.

    Baca juga: Akun 4chan dari 2023 Ramal BTC Top di 6 Oktober, Siklus 4 Tahunan Terulang?

    Tapi di tengah kekhawatiran investor perihal puncak bull run yang sudah dekat, belum satu pun dari 30 indikator bull market peak menunjukan sinyal top yang menandakan harga sudah terlalu tinggi dan bisanya menjadi akhir dari bull run.

    Apa Itu Bull Market Peak Indicator?

    Indikator bull market cycle. Sumber: CoinMarketCap

    Istilah bull market peak indicator mengacu pada kumpulan sinyal yang secara historis muncul sebelum pasar kripto mencapai puncak harga, seperti lonjakan besar volume ritel, overbought pada RSI (Relative Strength Index), atau perbandingan market cap-to-stablecoin ratio yang terlalu tinggi.

    Dalam siklus sebelumnya (misalnya tahun 2017 dan 2021), kombinasi indikator seperti ini selalu menjadi alarm bahwa pasar mulai “mendidih” dan harga siap untuk terkoreksi besar-besaran. 

    Kamu bisa mengakses indikator ini melalui laman CoinGlass atau CoinMarketCap.

    Apa Saja Isi dari 30 Bull Market Peak Indicator?

    Berikut 30 indikator yang ada dalam Bull Market Peak Indicator beserta dengan pengertiannya:

    1. Bitcoin Ahr999 Index

    Indeks ini mengukur seberapa jauh harga Bitcoin dibandingkan dengan rata-rata harga historisnya. Nilai yang lebih tinggi biasanya menandakan kondisi pasar yang panas atau mendekati puncak.

    1. Pi Cycle Top Indicator

    Indikator ini menggunakan dua rata-rata bergerak, yaitu 111 day moving average (DMA) dan 350 DMA yang dikalikan dua. Ketika rata-rata 111DMA menembus ke atas 350DMA x2, biasanya itu menandai potensi puncak harga Bitcoin.

    1. Puell Multiple

    Puell Multiple adalah rasio antara pengeluaran harian Bitcoin dalam dolar AS dan rata-rata 365 hari pengeluaran harian tersebut. Indikator ini banyak digunakan untuk menilai apakah pasar sedang undervalued (harga terlalu rendah) atau overvalued (harga terlalu tinggi) berdasarkan profitabilitas miner.

    1. Bitcoin Rainbow Chart

    Model visual yang mengelompokkan harga Bitcoin ke dalam berbagai warna berdasarkan tingkat “kehangatan” market. Setiap warna menunjukkan fase siklus pasar, mulai dari “beli” hingga “jual”.

    1. Days of ETF Net Outflows

    Mengukur berapa hari secara beruntun terjadi arus keluar (penarikan dana) bersih dari ETF Bitcoin. Angka yang tinggi bisa menandakan tekanan jual dari institusi.

    1. ETF-to-BTC Ratio

    Membandingkan total kepemilikan ETF Bitcoin dengan jumlah Bitcoin yang beredar. Rasio tinggi menandakan minat besar institusi terhadap ETF.

    1. 2-Year MA Multiplier

    Menggunakan rata-rata harga 2 tahun Bitcoin untuk mencari potensi jenuh beli atau jenuh jual.

    1. MVRV Z-Score

    Mengindikasikan apakah Bitcoin sedang overvalued atau undervalued dengan membandingkan nilai pasar dan nilai realisasi on-chain.

    1. Bitcoin Bubble Index

    Indeks ini membantu melacak potensi terbentuknya bubble (gelembung harga) pada Bitcoin.

    1. USDT Flexible Savings

    Menampilkan tingkat bunga pada produk tabungan fleksibel USDT, yang bisa mengindikasi permintaan pada stablecoin untuk “parkir” dana.

    1. RSI – 22 Day

    Relative Strength Index (RSI) 22 hari mengukur kekuatan tren harga Bitcoin dalam waktu dekat, dengan nilai tinggi mengindikasikan overbought.

    1. CMC Altcoin Season Index

    Indeks yang menilai apakah altcoin (aset kripto non-Bitcoin) sedang outperform Bitcoin dalam periode tertentu.

    1. Bitcoin Dominance

    Persentase kapitalisasi pasar Bitcoin dibanding total kapitalisasi pasar kripto. Dominasi tinggi menunjukkan Bitcoin menjadi aset yang memimpin pasar.

    1. Bitcoin Long Term Holder Supply

    Total pasokan Bitcoin yang disimpan oleh holder jangka panjang (belum dipindahkan selama waktu tertentu). Penurunan pasokan ini bisa mengindikasi tekanan jual.

    1. Bitcoin Short Term Holder Supply (%)

    Persentase pasokan Bitcoin yang dimiliki oleh holder jangka pendek. Kenaikan angka ini menandakan lebih banyak Bitcoin yang dikuasai trader jangka pendek.

    1. Bitcoin Reserve Risk

    Rasio antara harga Bitcoin dan insentif untuk menjual bagi pemegang jangka panjang. Angka tinggi artinya risiko menahan coin meningkat.

    1. Bitcoin Net Unrealized P&L (NUPL)

    Mengukur posisi laba rugi belum terealisasi secara agregat seluruh pemegang Bitcoin. Nilai tinggi artinya kebanyakan holder sedang untung besar.

    1. Bitcoin RHODL Ratio

    Rasio yang membandingkan coin yang baru saja dipindahkan dengan coin yang telah disimpan lama, menjadi sinyal siklus pasar.

    1. Bitcoin Macro Oscillator (BMO)

    Indikator yang mengidentifikasi fase makro dari siklus Bitcoin dengan mengolah beberapa data on-chain.

    1. Bitcoin MVRV Ratio

    Membandingkan nilai pasar Bitcoin dan nilai realisasinya, berguna untuk menentukan apakah sudah overbought atau oversold.

    1. Bitcoin 4-Year Moving Average

    Rata-rata harga Bitcoin selama 4 tahun terakhir, digunakan untuk mengidentifikasi tren utama dan turning point market.

    1. Crypto Bitcoin Bull Run Index (CBBI)

    Indeks komposit berisi berbagai data yang menandakan apakah Bitcoin sedang berada di fase bull run ekstrem atau mendekati puncak.

    1. Mayer Multiple

    Rasio harga Bitcoin terhadap rata-rata 200 hari. Nilai tinggi sering dikaitkan dengan overbought.

    1. Bitcoin AHR999x Top Escape Indicator

    Indikator alternatif dari Ahr999 yang digunakan untuk menandai potensi saat terbaik untuk “keluar” dari market.

    1. MicroStrategy’s Avg Bitcoin Cost

    Harga rata-rata pembelian Bitcoin yang dicatat oleh MicroStrategy, salah satu institusi terbesar yang memegang BTC.

    1. Bitcoin Trend Indicator

    Indikator tren harga Bitcoin berdasarkan gabungan beberapa analisis statistik dan on-chain.

    1. 3-Month Annualized Ratio

    Rasio pengembalian harga Bitcoin selama tiga bulan dalam basis tahunan, digunakan untuk melihat momentum market jangka pendek.

    1. Bitcoin Terminal Price

    Estimasi harga terminal Bitcoin (batas harga berdasarkan model tertentu) yang sering digunakan sebagai acuan jangka panjang.

    1. Golden Ratio Multiplier

    Menggunakan rasio emas (golden ratio) pada moving average untuk mencari level harga penting di pasar siklus Bitcoin.

    1. Smithson’s Bitcoin Price Forecast

    Prediksi harga Bitcoin berdasarkan model dari analis bernama Smithson, sering digunakan sebagai referensi eksternal oleh trader.

    0 dari 30 Indikator Tercapai

    Indikator bull peak masih 0/30. Sumber: CoinGlass

    Hingga update terakhir 14 Oktober 2025, belum satu pun dari 30 indikator puncak bull market Bitcoin yang memberikan sinyal “hit” atau “hijau”. Artinya, belum ada satu indikator pun yang menyentuh batas ekstrim, baik secara harga, sentimen, on-chain, maupun metrik ETF yang bisa jadi pertanda awal puncak siklus bull run.

    Dari indikator populer seperti Pi Cycle Top Indicator, Ahr999 Index, MVRV Z-Score, Bitcoin Rainbow Chart, hingga Altcoin Season Index, semuanya masih berada jauh di bawah threshold puncak masing-masing.

    Rata-rata progres indikator utama masih di bawah 70%. Sebagai contoh:

    • Altcoin Season Index baru 65% menuju level alarm.
    • Bitcoin MVRV Z-Score di 43% dari nilai puncak historis.

    Bahkan indikator terkait likuiditas ETF, profit holder, dominasi BTC, rasio siklus (seperti RHODL, Mayer Multiple, dan 4-Year Moving Avg) hanya menunjukkan progres di kisaran 28%-60%—jauh dari zona “overheat”.

    Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa tren bullrun Bitcoin dan crypto masih jauh dari kata usai, dengan ruang apresiasi pasar yang masih besar menuju fase puncak selanjutnya.

    Pencarian dengan kata kunci Bitcoin berkolerasi dengan top cycle 2021. Sumber: GoogleTrends

    Sementara itu, data Google Trends terkait kata kunci seperti “Bitcoin” dan “crypto” masih jauh di bawah level 2021, menjadi salah satu sinyal bahwa antusiasme publik belum sebesar puncak 2021.

    Kesimpulan

    Indikator Bull Market Peak bisa menjadi salah satu referensi untuk melihat apakah level harga saat ini berada di level top atau masih memiliki ruang untuk terus melanjutkan reli bull run.

    Menurut data dari 30 indikator tersebut, belum ada satu pun indikator bull market peak yang tercapai, sehingga mengimplikasikan bahwa masih ada ruang untuk reli ke depannya.

    Tapi, tetap ingat jika semua indikator ini berdasarkan harga historis, dan pasar kripto saat ini telah berkembang dengan pesat dibandingkan dengan beberapa cycle ke belakang, seperti dengan hadirnya ETF Bitcoin, partisipasi institusional, dan regulasi.

    Maka bisa saja indikator-indikator yang tersedia tersebut tidak lagi relevan, sehingga untuk memahami konteks pasar, indikator tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan dalam menilai apakah bullrun masih panjang atau justru mendekati puncak.

    Selalu lakukan riset mandiri (Do Your Own Research / DYOR) sebelum membuat keputusan finansial, termasuk dalam investasi kripto ya!

    Baca juga: Akun 4chan dari 2023 Ramal BTC Top di 6 Oktober, Siklus 4 Tahunan Terulang?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hal Penting Sebelum Melakukan Swing Trading dengan XTRA Trade Limit Ajaib


    Jakarta

    Hadirnya berbagai aplikasi investasi saham seperti Ajaib semakin memudahkan trader untuk melakukan aktivitas trading secara langsung melalui aplikasi dan memperbesar potensi profit dengan XTRA Trade Limit.

    XTRA Trade Limit adalah fitur unggulan Ajaib yang memberikan tambahan buying power hingga 6x lebih banyak dari total dana yang dimiliki. Adanya fitur ini akan memberikan fleksibilitas pada trader untuk lebih leluasa membeli saham dalam jumlah lebih banyak.

    Sehingga trader bisa segera memanfaatkan momentum pasar untuk memperbesar potensi profit.


    Berbeda dari fitur XTRA Day Trading, XTRA Trade Limit memungkinkan trader beli saham dengan tambahan buying power hingga 6x untuk transaksi di lebih dari 140 saham pilihan. Selain itu, periode hold saham yang dibeli dengan XTRA Trade Limit juga lebih lama, yaitu hingga 4 hari atau lebih.

    Fasilitas XTRA Trade Limit mempunyai batas waktu pengembalian kewajiban hingga 2 hari bursa setelah transaksi dilakukan. Trader akan dikenakan Biaya Trade Limit serta suspend buy pada hari ke 3 bursa (T+3) dan jual otomatis pada hari ke 4 bursa (T+4) jika belum memenuhi kewajiban.

    “Fitur XTRA Trade Limit ini cocok untuk swing trader karena fitur ini memaksimalkan profit melalui tambahan modal dengan jatuh tempo yang lebih lama. Swing trader dapat memanfaatkan momentum reboundnya IHSG untuk time frame trading lebih panjang,” ujar Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, dalam keterangan tertulis, Jumat (26/7/2024).

    Menurut Ratih, ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari fitur XTRA Trade Limit ini, yaitu:

    ● Potensi profit lebih besar dengan adanya XTRA buying power, sehingga trader bisa beli saham lebih banyak. Semakin banyak jumlah saham yang dimiliki, semakin besar pula potensi profit yang bisa Anda raih. Namun, tentu potensi risikonya juga lebih besar.

    ● Cepat memanfaatkan momentum pasar, trader bisa langsung melakukan pembelian saham saat momentum pasar sedang tepat meskipun dengan modal terbatas.

    ● Periode trading lebih lama, saham yang dibeli dengan XTRA Trade Limit dapat di-hold hingga 4 hari atau lebih.
    Sebelum memulai aktivitas trading untuk mendapatkan potensi profit, Ratih memberikan beberapa tips agar swing trading dengan XTRA Trade Limit semakin profit.

    1. Analisis Trend

    Analisis Trend merupakan yang utama dalam teknikal. Saham dengan major trend bullish akan memiliki potensi kenaikan yang lebih besar.
    Gunakan indikator Moving Average (MA) 100 untuk melihat trend jangka panjang. Setelah itu, trader dapat memanfaatkan koreksi minor untuk beli di area support menggunakan MA 20 dan MA 5.

    2. Identifikasi Chart Pattern

    Swing trader dapat memanfaatkan sinyal akumulasi dalam fase reversal jangka menengah menggunakan pola teknikal, seperti double sottom, inverse head and shoulder dan rounding bottom. Selain itu, pola candlestick juga dapat digunakan untuk melihat pola reversal yang lebih pendek.

    3. Manajemen Risiko

    Tentukan batas stop-loss dan take-profit sebelum melakukan trading. Ini membantu memaksimalkan potensi profit yang lebih besar dan juga memitigasi risiko kerugian.
    Level support dapat membantu trader menentukan titik stop loss, sedangkan level resistance digunakan untuk merealisasikan profit.

    Untuk informasi lebih lanjut terkait fitur XTRA Trade Limit, kunjungi website ajaib.co.id dan instagram @ajaib_investasi.

    Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

    (ncm/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Catat! Ini Senjata Rahasia Para Trader Profesional Tetap Cuan di Pasar


    Jakarta

    Banyak trader kerap bingung menentukan momen terbaik untuk membeli atau menjual aset. Salah satu strategi yang populer dipakai profesional adalah kombinasi indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) dengan Stochastic Oscillator.

    Sepanjang 2025, pasar global penuh gejolak akibat fluktuasi harga emas, kebijakan suku bunga The Fed, hingga isu geopolitik. Kondisi ini membuat volatilitas meningkat, terutama menjelang akhir tahun.

    Menjelang akhir tahun, pasar biasanya mengalami peningkatan volatilitas dan volume. Momen ini menjadi kesempatan tepat bagi trader untuk mengevaluasi serta memperbaiki strategi trading demi menghadapi Q4 dengan lebih siap.


    Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan alat bantu yang mampu memberikan sinyal pergerakan pasar secara cepat dan akurat. Salah satu strategi indikator yang kerap diandalkan trader profesional adalah kombinasi MACD dengan Stochastic, yang terbukti ampuh membaca arah tren maupun potensi titik balik harga.

    Mengenal MACD & Stochastic

    (Foto: dok. Valbury)

    (Foto: dok. Valbury)

    MACD (Moving Average Convergence Divergence) merupakan indikator teknikal yang digunakan untuk menganalisis pasar keuangan. Fungsinya membantu trader mengidentifikasi tren, mendeteksi potensi pembalikan arah, sekaligus menentukan peluang masuk atau keluar pasar. Dengan indikator ini, trader dan investor dapat memahami momentum serta kekuatan tren suatu aset.

    Indikator ini digemari karena mudah dipahami, bahkan oleh pemula, efektif untuk menganalisis tren jangka pendek hingga menengah, serta fleksibel dikombinasikan dengan strategi teknikal lainnya.

    Sementara itu, Stochastic digunakan untuk membaca momentum pergerakan harga. Alat ini kerap dipakai oleh Day Trader maupun Swing Trader dalam mengambil keputusan. Stochastic bekerja dengan membandingkan harga penutupan aset pada periode tertentu dengan rentang pergerakan harga dalam kurun waktu yang sama. Hasilnya, indikator ini menampilkan sinyal apakah suatu aset berada pada kondisi jenuh jual (oversold) atau jenuh beli (overbought), dengan skala nilai 0 hingga 100.

    Mengapa Banyak Trader Pakai MACD & Stochastic?

    MACD menjadi favorit para trader karena :

    • Multi-fungsi : Bisa digunakan untuk trading harian, swing, hingga jangka panjang

    • Cocok untuk semua instrumen : Forex, emas, saham, hingga crypto

    • Bisa deteksi reversal lebih awal lewat sinyal divergence

    • Mudah dipahami oleh pemula, tapi tetap tajam di tangan expert

    • Mudah dikombinasikan dengan strategi teknikal lain seperti Stochastic

    Banyak trader menggabungkan MACD dan Stochastic untuk mendapatkan gambaran pasar yang lebih menyeluruh. Kombinasi ini memberikan double confirmation: MACD menunjukkan arah tren, sementara Stochastic membantu menentukan apakah momen tersebut tepat untuk masuk atau keluar. Dengan begitu, trader bisa mengambil keputusan dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi.

    Meski populer, MACD tetap memiliki kelemahan. Indikator ini sensitif terhadap noise pasar, terutama saat kondisi sideways atau konsolidasi. Dalam situasi seperti itu, MACD berpotensi menghasilkan sinyal palsu yang tidak selalu diikuti oleh pergerakan harga signifikan.

    Cara Menggunakan MACD & Stochastic

    MACD bekerja dengan prinsip konvergensi dan divergensi. Konvergensi terjadi saat dua moving average bergerak saling mendekat, sementara divergensi adalah kondisi ketika keduanya saling menjauh.

    Dalam penggunaannya, terdapat pula konsep histogram yang menunjukkan selisih antara garis MACD dan garis sinyal. Jika histogram berada di atas nol (positif), berarti garis MACD berada di atas garis sinyal, umumnya ditafsirkan sebagai sinyal bullish atau tren naik. Sebaliknya, histogram negatif (di bawah nol) mengindikasikan sinyal bearish atau tren turun.

    Sementara itu, indikator Stochastic terdiri dari dua garis utama, yakni %K dan %D. Keduanya membantu trader membaca momentum pasar dengan lebih detail. Untuk memahami penerapannya dalam strategi trading, tersedia panduan lebih lengkap dalam ebook “Cari Momentum dengan Stochastic.”

    Stochastic memiliki dua area yaitu :

    • Overbought, ketika garis stochastic berada di level > 80, artinya harga telah naik terlalu tinggi dan mungkin akan mengalami koreksi.

    • Oversold, garis stochastic berada di level < 20, harga telah turun terlalu rendah dan mungkin akan mengalami rebound.

    Tips Menggunakan Indikator MACD & Stochastic

    • Bersabarlah dan sesuaikan dengan rencana trading Anda.Strategi menjadi efektif ketika digunakan bersama dengan indikator teknis lainnya dan dalam konteks tren pasar secara keseluruhan.

    • Gunakan Manajemen Risiko: Seperti halnya strategi trading lainnya, sangat penting untuk mengelola risiko dengan tepat. Tetapkan stop-loss untuk membatasi potensi kerugian serta untuk memastikan setiap transaksi sesuai dengan toleransi risiko Anda.

    • Sebelum menggunakan uang sungguhan, disarankan untuk menguji coba dengan akun Demo. Hal ini akan membantu Anda memperoleh kepercayaan diri terhadap strategi dan sesuai gaya trading Anda.

    Kombinasi antara MACD dan Stochastic bisa menjadi strategi yang efektif di pasar yang bergerak cepat dan penuh dinamika seperti tahun ini. Dengan memadukan analisis tren dari MACD dan pembacaan momentum melalui Stochastic, trader dapat mengurangi potensi sinyal palsu sekaligus meningkatkan ketepatan saat menentukan titik masuk (entry).

    Bagi Anda yang ingin memahami strategi ini lebih dalam, tersedia panduan lengkap dalam ebook Trading Akurat dengan MACD dan Cari Momentum dengan Stochastic. Kedua ebook ini dilengkapi dengan study case yang bisa membantu Anda menyusun strategi trading yang lebih terarah dan percaya diri.

    Disclaimer: Perdagangan berjangka komoditi memiliki potensi keuntungan tinggi, namun juga mengandung risiko kerugian yang besar. Sebelum berinvestasi, pastikan Anda memahami dengan baik mekanisme perdagangan berjangka serta isi perjanjian dan peraturan yang berlaku.

    (copr/Valbury)



    Sumber : finance.detik.com

  • PINTU Luncurkan Pintu Pro Futures, Hadirkan Perdagangan Derivatif Crypto


    Jakarta

    Aplikasi crypto all-in-one PINTU bersama Pialang Berjangka yang terdaftar resmi di Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (BAPPEBTI) serta di bawah pengawasan bursa crypto CFX, menghadirkan perdagangan derivatif crypto bermana “Pintu Pro Futures”.

    Dengan fitur ini, trader dapat melakukan perdagangan derivatif crypto secara legal dan aman di aplikasi PINTU dengan berbagai aset crypto pilihan seperti, Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan lainnya.

    “Produk derivatif menjadi salah satu produk investasi aset crypto yang memiliki daya tarik serta menjadi pilihan untuk melakukan trading aset crypto. Secara global, terdapat lebih dari 100 perusahaan crypto yang telah memiliki layanan derivatif. Dengan hadirnya Pintu Pro Futures sebagai platform perdagangan crypto derivatif, ini menjadi sejarah baru bagi industri crypto dalam negeri yang mampu menyediakan produk inovatif bagi investor dan trader aset crypto,” ujar Head of Product Marketing PINTU Iskandar Mohammad dalam keterangannya, Senin (18/11/2024).


    Derivatif adalah suatu produk yang nilainya bergantung pada satu atau lebih aset dasar, salah satunya crypto. Sedangkan, perdagangan berjangka adalah kegiatan membeli dan menjual kontrak berjangka, yaitu perjanjian untuk jual beli suatu aset pada harga yang telah ditentukan di masa depan.

    Dalam pasar crypto, umumnya perdagangan derivatif crypto dilakukan melalui perpetual futures, atau kontrak berjangka tanpa expiry date. Berdasarkan data dari Coingecko, total perdagangan derivatif crypto pada 11 November 2024 dari 107 perusahaan crypto global mencapai $1.1 triliun, atau setara dengan Rp17.237 triliun.

    “Pintu Pro Futures menawarkan perdagangan derivatif crypto dengan fitur-fitur canggih dan leverage 5x. Produk ini adalah perpetual futures yang memungkinkan pengguna untuk mengambil posisi long atau short tanpa expiry date pada BTC, ETH, SOL, dan aset crypto lainnya dalam pasangan USDT. Pintu Pro Futures juga didukung dengan fitur risk management seperti, indikator margin, auto close open order, dan kalkulasi margin yang transparan untuk memudahkan pengguna dalam mengelola risiko likuidasi,” ungkap Iskandar.

    “Hadirnya Pintu Pro Futures semakin melengkapi deretan fitur unggulan yang tersedia di aplikasi PINTU dan menjadikan PINTU sebagai aplikasi crypto all-in-one pertama di Indonesia yang menghadirkan fitur inovatif untuk pemula hingga trader pro. Kami meyakini, hadirnya perdagangan derivatif crypto ini dapat membuat industri crypto dalam negeri semakin tumbuh positif dan diharapkan dapat merebut potensi besar dari perdagangan derivatif crypto yang selama ini dilakukan di luar wilayah Indonesia,” tutup Iskandar.

    Sebagai informasi, derivatif crypto di Indonesia adalah produk yang dikeluarkan oleh bursa kripto CFX yang telah mendapatkan persetujuan resmi dari Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (Bappebti) sesuai ketentuan dalam Peraturan Bappebti Nomor 8 Tahun 2021. Dalam penyelenggaraannya, perdagangan produk derivatif ini terdapat lembaga self-regulatory organizations (SRO), yakni bursa crypto CFX, lembaga kliring, lembaga kustodian, serta lembaga pialang berjangka yang seluruhnya telah terdaftar dan teregulasi resmi di bawah payung hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    (ega/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Pasar Kripto Bullish, Ahli Finansial Bagikan 4 Strategi agar Tak Terjebak


    Jakarta

    Pasar kripto saat ini tengah mengalami tren bullish yang membuat Investor dihadapkan pada pilihan untuk beli sekarang atau menunggu koreksi. Keputusan ini sangat penting, pasalnya pasar kripto memiliki volatilitas yang tinggi.

    Keputusan untuk membeli saat pasar kripto sedang bull run memungkinkan investor ikut menikmati kenaikan harga lebih lanjut. Hal ini tentunya juga didukung oleh berita dan sentimen positif yang sering kali mendorong harga aset kripto mengalami kenaikan lebih tinggi dalam jangka pendek.

    Namun, membuat keputusan yang tergesa-gesa karena takut kehilangan peluang (FOMO) dapat membuat investor membeli aset kripto di puncak harga (buying the top). Pembelian kripto di kondisi seperti ini sangat berisiko apabila pasar berbalik arah.


    Sedangkan, jika menunggu koreksi memungkinkan Anda untuk membeli aset dengan harga lebih rendah. Pembelian ini dapat meningkatkan potensi keuntungan di masa depan dan memiliki risiko yang lebih terkontrol.

    FInancial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengatakan bahwa kondisi bullish faktanya memang menggoda. Akan tetapi, investor perlu lebih kritis agar tidak terjebak.

    “Kondisi bullish memang menggoda, tetapi penting bagi investor untuk tetap disiplin dan tidak terjebak euforia pasar. Investor perlu mempertimbangkan strategi yang matang untuk memaksimalkan potensi keuntungan tanpa mengabaikan manajemen risiko,” jelas Panji dalam keterangan tertulis, Kamis (21/11/2024).

    Investor bisa kehilangan momentum jika tidak ada koreksi yang signifikan dan bull run terus berlanjut tanpa koreksi signifikan. Oleh karena itu, Panji memberikan beberapa strategi bijak agar tetap bisa memanfaatkan momentum bull run dengan risiko yang lebih terkendali.

    1. Dollar-Cost Averaging (DCA)

    Hal paling mudah yang bisa dilakukan adalah dengan berinvestasi secara bertahap dan dalam jumlah kecil secara rutin. Strategi ini bisa mengurangi risiko membeli di puncak dan memungkinkan Anda memanfaatkan fluktuasi pasar.

    “Strategi DCA memberikan fleksibilitas kepada investor untuk terus berinvestasi di berbagai kondisi pasar, baik saat harga naik maupun turun. Dengan cara ini, investor tidak perlu terlalu khawatir mencari momen terbaik untuk masuk pasar,” ujar Panji.

    2. Fokus pada Aset dengan Fundamental Kuat

    Selain itu, Anda juga bisa berinvestasi dengan berbagai aset untuk menghindari resiko yang muncul. Dengan berinvestasi pada jenis aset yang berbeda potensi keuntungan juga bisa lebih seimbang.

    “Aset seperti Bitcoin, Ethereum, dan Solana sering menjadi pilihan utama karena telah terbukti memiliki daya tahan dalam berbagai kondisi pasar. Memilih diversifikasi pada aset berfundamental kuat adalah langkah yang bijak untuk menjaga keseimbangan antara risiko dan potensi keuntungan,” kata Panji.

    3. Tetapkan Target Jangka Panjang

    Fokuslah pada tujuan investasi jangka panjang Anda. Tren bullish biasanya merupakan bagian dari siklus yang lebih besar.

    “Jangan terlalu terpaku pada kenaikan harga jangka pendek. Tetap ingat bahwa aset kripto adalah investasi dengan potensi besar untuk jangka panjang,” lanjut Panji.

    4. Amati Indikator Teknis dan Fundamental

    Jangan lupa untuk gunakan analisis teknikal untuk mencari titik masuk yang lebih baik. Kombinasikan dengan faktor fundamental, seperti berita dan sentimen positif atau adopsi teknologi yang dapat memperkuat tren kenaikan.

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Kripto membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli aset kripto. Harga aset kripto berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

    Saksikan juga video: Cara Situs Judi Online Samarkan Transaksi: Pakai Kripto-Money Changer

    [Gambas:Video 20detik]

    (akd/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Cetak Rekor Lagi Nih!


    Jakarta

    Bitcoin (BTC) mencatatkan rekor tertinggi di atas $107.000 atau sekitar Rp1,7 miliar hari ini. Kenaikan tersebut dipacu oleh perdagangan whale dan bergabungnya MicroStrategy ke dalam indeks Nasdaq 100 sebagai industri teknologi yang memperkuat sentimen bullish.

    Selain itu, data makroekonomi AS yang positif terkait kenaikan inflasi sebesar 2,7% juga disinyalir memperkuat sentimen. Begitu juga dengan analisis on-chain yang menunjukkan cadangan devisa Bitcoin di bursa yang terus menurun. Hal ini mencerminkan tekanan jual yang rendah dan minat yang meningkat terhadap aset crypto.

    CEO INDODAX, Oscar Darmawan, menyatakan bahwa pencapaian Bitcoin ini mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan pasar terhadap aset digital di tengah dukungan dari pemain institusional besar seperti MicroStrategy.


    “Masuknya MicroStrategy ke Nasdaq 100 memberikan validasi tambahan terhadap peran Bitcoin sebagai aset investasi yang semakin diterima secara global,” ungkap Oscar dalam keterangannya, Selasa (17/12/2024).

    Faktor lainnya yang mendukung kenaikan Bitcoin, kata Oscar, kemungkinan Trump akan mengeluarkan perintah eksekutif pada hari pertamanya menjabat di tanggal 20 Januari 2025 yang diyakini akan menetapkan Bitcoin sebagai aset cadangan nasional.

    Dengan kondisi makroekonomi yang mendukung dan partisipasi institusional yang semakin meningkat, kenaikan harga Bitcoin diperkirakan akan berlanjut dalam waktu dekat.

    Ia juga menyebut, lonjakan harga Bitcoin juga didorong oleh penurunan tekanan jual di pasar. “Analisis on-chain menunjukkan cadangan devisa Bitcoin di bursa terus menurun. Hal ini menandakan banyak investor yang memilih menyimpan aset mereka, yang menjadi pendorong utama dalam reli harga saat ini,” jelas Oscar.

    “Inflasi yang terkendali dan kebijakan moneter yang stabil memberikan pondasi bagi Bitcoin untuk terus menarik minat dari berbagai kalangan, termasuk investor institusional,” tambahnya.

    Adapun kenaikan harga Bitcoin didukung oleh Fear and Greed Index yang mencapai 80 dari 100, mencerminkan dominasi sentimen ‘greed’ untuk jangka pendek. Sentimen tersebut diyakini mendorong aksi beli spekulatif dan meningkatkan volatilitas pasar.

    Kendati begitu, investor tetap diminta berhati-hati dan mempertimbangkan risiko volatilitas sebelum berinvestasi. Menurut Oscar, indikator Fear and Greed Index yang berada di angka 80 menunjukkan dominasi sentimen optimisme.

    “Namun, sentimen ini harus diimbangi dengan kewaspadaan, mengingat volatilitas pasar kripto yang tinggi dapat membawa risiko bagi investor,” jelasnya.

    Oscar juga menegaskan pentingnya diversifikasi dalam berinvestasi. Dengan kondisi pasar yang positif dan dukungan dari berbagai faktor, Oscar optimis bahwa tren bullish ini akan terus berlanjut dan tetap perlu menerapkan manajemen risiko yang baik dalam menghadapi dinamika pasar kripto.

    “Jangan hanya terpaku pada Bitcoin. Ada banyak aset digital lain yang memiliki potensi besar, dan memahami fundamentalnya adalah kunci untuk mengambil keputusan investasi yang tepat,” tutupnya.

    Simak juga Video ‘Sebelum Trading Kripto Pahami Bisnis Modelnya Dulu’:

    [Gambas:Video 20detik]

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Transaksi Kripto Anjlok, OJK Buka Suara


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bicara tentang kondisi penurunan nilai transaksi kripto di bulan Februari lalu. Nilai transaksinya mencapai Rp 32,78 triliun atau turun 25,6% dibandingkan Januari 2025 sebesar Rp 44,07 triliun.

    Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Hasan Fawzi menilai ini dipengaruhi kondisi global, di antaranya kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    “Kemarin seperti diketahui, walaupun ya secara umum kalau kita lihat, khususnya aset kripto terbesar yaitu Bitcoin, tidak mengalami penurunan sedrastis seperti katakanlah aset-aset keuangan lain, misalnya yang terjadi kemarin karena ada gejolak perkembangan kebijakan tarif (AS),” ungkap Hasan kepada media, di Kantor OJK Menara Radius Prawiro, Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Kamis (24/4/2025) kemarin.


    Menurut Hasan, indeks indikator fear and greed perdagangan kripto bergerak ke arah fear. Kondisi ini menunjukkan, memang investor menahan diri untuk secara aktif melakukan transaksi.

    Meski demikian, OJK mencatat perkembangan aktivitas aset kripto masih dalam tren pertumbuhan. Ini salah satunya dari sisi pengguna yang mencapai 23,31 juta konsumen pada akhir Februari, naik dari 22,92 juta konsumen kripto sebulan sebelumnya.

    “Nah, berarti kita masih melihat bagaimana minat dan animo para konsumen baru di aset kripto nasional yang tetap meminati untuk mulai bergabung dan menjadi konsumen di kegiatan aset kripto, khususnya untuk melakukan investasi dan transaksi aset-aset kripto dimaksud,” ujarnya.

    Di sisi lain, diproyeksikan kondisi penurunan ini hanya bersifat sementara. Ada potensi pembalikan tren transaksi kripto dalam waktu dekat, seiring dengan pergerakan harga aset kripto utama seperti Bitcoin yang punya prospek positif.

    OJK juga berharap, kenaikan adopsi kripto terus meningkat sepanjang tahun 2025. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat onboarding atau datangnya segmen kelompok konsumen atau investor baru yang pada tahun ini diproyeksikan masih akan signifikan.

    “Kalau kita perhatikan di bulan ini yang tentu nanti akan kami sampaikan, kemungkinan akan ada pembalikan sejalan dengan pembalikan dari tingkat harga acuan Bitcoin misalnya sebagai aset kripto terbesar,” terang dia.

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bitcoin Melejit, Sentuh Rp 1,9 M!


    Jakarta

    Mata uang kripto, Bitcoin (BTC), mulai merangkak naik pada perdagangan Minggu (14/9). Pergerakan harga ini terjadi menjelang keputusan FOMC Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed seiring naiknya ekspektasi pemangkasan suku bunga.

    Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap hari ini, harga BTC tembus US$ 115.772,86 atau sekitar Rp 1,90 miliar (asumsi kurs Rp 16.416) per koin. Meski naik, harga BTC terpantau melemah pada perdagangan harian, yakni sebesar 0,18% dan menguat sebesar 4.61 sepekan terakhir.

    Kenaikan harga juga terjadi pada koin jenis Ethereum (ETH) yang menguat ke harga US$ 4.680,95 atau sekitar Rp 76,84 juta kendati terkoreksi secara harian sebesar 0,58%. Namun berdasarkan data perdagangan sepekan, harga ETH menguat 8,92%.


    Kemudian harga koin BNB yang tercatat menguat sepanjang perdagangan harian maupun sepekan terakhir. Harga BNB naik menjadi US$ 937,16 atau sekitar Rp 15,38 juta dengan penguatan harian sebesar 1,09% dan 8,24% sepanjang perdagangan sepekan.

    Sementara untuk harga Solana (SOL), menguat 2,64% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. Kemudian menguat pada perdagangan sepekan sebesar 22,85% ke harga US$ 248,60 atau sekitar Rp 4,08 juta per koin.

    Diketahui sebelumnya, BTC sempat menembus US$ 114.000 atau sekitar Rp 1,87 miliar pada Jumat (12/9). Kenaikan ini terjadi setelah data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat untuk Agustus turun lebih besar dari perkiraan, sehingga memperkuat harapan pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan September.

    Sebelumnya BTC sempat menyentuh US$ 113.953 sebelum akhirnya menembus US$ 114.000, level tertingginya sejak akhir Agustus. PPI utama turun menjadi 2,6% secara tahunan (perkiraan 3,3%), sedangkan PPI inti turun ke 2,8%. Data ini membuat proyeksi inflasi melemah hingga kuartal IV 2025.

    Secara historis, harga BTC biasanya sempat bergejolak ketika The Fed memangkas suku bunga, lalu diikuti reli kuat dalam jangka panjang. Indikator Market Value to Realized Value (MVRV) dan Rasio Whale mendukung pola ini, di mana aksi jual dari investor besar sering memicu volatilitas sebelum pasar masuk ke fase akumulasi.

    “Penurunan data inflasi produsen Amerika menjadi katalis kuat yang membuat investor kembali percaya diri terhadap prospek bullish Bitcoin. Namun, kita tetap harus mewaspadai volatilitas jangka pendek menjelang keputusan Fed minggu depan,” jelas Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (14/9/2025).

    (rrd/rrd)



    Sumber : finance.detik.com