Tag: Inflasi

  • Bitcoin Menguat ke $97.000, Data Inflasi AS Redam Kekhawatiran Pasar Kripto

    Jakarta, 15 Januari 2026 – Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan sempat menembus level $97.000 sebelum terkoreksi tipis ke level US$95.000–US$96.000 pada Kamis (15/1) setelah rilis data inflasi Amerika Serikat Desember 2025 yang cenderung sesuai dengan ekspektasi pasar. 

    Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), inflasi AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan, sementara inflasi inti (core inflation rate) tetap terkendali di level 0,2% m/m dan 2,6% y/y. Kenaikan inflasi tersebut terutama didorong oleh sektor perumahan (shelter) yang naik 0,4% m/m. Dalam kondisi inflasi yang relatif stabil dan terkendali, bank sentral (The Federal Reserve) umumnya memiliki ruang untuk mempertahankan, atau dalam kondisi tertentu menurunkan, suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

    Menanggapi data tersebut, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai stabilnya inflasi memberi ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih leluasa setelah periode konsolidasi yang cukup panjang. “Angka inflasi Desember 2025 masih sejalan dengan ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang. Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga. Untuk saat ini pelaku pasar akan fokus menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed sambil mencermati data ekonomi berikutnya,” ujar Antony.

    Selain faktor makro, penguatan Bitcoin juga terjadi di tengah aksi pembelian oleh institusi besar. Strategy Inc. mengumumkan penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari US$1 miliar di awal 2026, yang menjadi pembelian terbesarnya sejak pertengahan 2025. Langkah tersebut memperkuat posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar dan turut memberi dorongan sentimen pasar, meskipun permintaan ritel global masih cenderung terbatas.

    Menurut Antony, konsistensi akumulasi oleh institusi besar memperkuat pandangan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset dengan fundamental yang kuat. “Institusi tidak masuk karena momentum sesaat. Akumulasi yang dilakukan secara berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang masih terjadi,” ujarnya.

    Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto utama lainnya juga mencatatkan penguatan dalam periode yang sama. Ethereum, Solana, dan beberapa altcoin besar bergerak lebih agresif, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah tekanan makro mereda.

    INDODAX turut mengimbau pelaku pasar untuk tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin dan melakukan riset secara mandiri atau Do Your Own Research (DYOR), mengingat volatilitas masih menjadi karakter utama dalam pasar aset kripto.

    ***

    Tentang INDODAX

    INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,6 juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

    Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (PAKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

    Sejak berdiri sebelas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

    Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

    Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

    Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax

    Tiktok                                     : https://www.tiktok.com/@indodax

    Twitter                                    : https://twitter.com/indodax

    Youtube                                  : https://www.youtube.com/c/indodax

    Facebook                                : https://www.facebook.com/indodax

    INDODAX Academy           : https://indodax.com/academy

    INDODAX Press Release   : https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





    Sumber : blog.indodax.com

  • Nic Carter: Kenaikan Harga Bitcoin karena Potensi Inflasi

    Nic Carter, tokoh pendukung Bitcoin dari Castle Island Ventures menegaskan, bahwa kenaikan harga Bitcoin hingga US$18.000 per BTC karena potensi inflasi yang terjadi di masa depan.

    “Ya, memang banyak orang saat ini fokus pada dampak inflasi yang mungkin terjadi 10 tahun ke depan, akibat bertambahnya pasokan uang dolar AS. Bitcoin pun dipandang sebagai aset untuk melindungi nilai uang dari inflasi itu,” jelas Carter dalam wawancara di Bloomberg, Kamis (19/11/2020).

    Bagi Carter, inflasi memang berdampak pada kenaikan nilai aset kripto, termasuk Bitcoin, sebagaimana wacana umum yang mengemuka di komunitas aset kripto itu sendiri, karena Bitcoin yang jumlahnya kian langka, dianggap sebagai alat untuk melindungi nilai uang akibat inflasi.

    Dia tak menampik kenyataan, semakin banyak jumlah investor yang sadar dan peduli terhadap Bitcoin dan berinvestasi terhadapnya, walaupun sebenarnya inflasi besar di masa depan belumlah pasti.

    Baca Juga: XRP Memasuki Siklus Bull Baru yang Bisa Membawanya Melonjak Menuju $1

    “Keadaan ekonomi makro yang penuh ketidakpastian dan ketakutan akan munculnya suku bunga negatif dan inflasi adalah pendorong utama kenaikan harga Bitcoin. Faktor eksternal itu, yang jauh lebih menarik dan terkadang terlalu diremehkan,” katanya.

    “Kali terakhir kita melihat bull run seperti ini adalah pada tahun 2017. Ketika itu sangat sulit bagi investor institusi untuk mengukur nilai asli aset kripto itu, termasuk mengakses sejumlah alat yang tepat untuk mengambil keputusan berinvestasi. Pun dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Kalau pun ada, kurang bisa dipercaya. Satu-satunya yang besar dan mendukung investor besar masuk ke Bitcoin adalah CME, tetapi mereka muncul di ujung, ketika Bitcoin sudah terlebih dahulu terjun dari kisaran US$19-20 ribuan per BTC. Hari ini, produk investasi Bitcoin oleh CME itu justru sangat likuid,” kata Carter.

    Ucap Cater lagi, dan selama 3 tahun terakhir inilah banyak perusahaan besar menyediakan banyak tools dan beragam layanan agar investor besar bisa lebih banyak mengalirkan modalnya ke Bitcoin.

    “Layanan itu mempermudah mereka,” kata Carter.

    Carter juga setuju dengan pendapat bahwa skema Initial Coin Offering (ICO) yang dulu sempat ranum, mulai tahun ini akan pudar. Khususnya di Amerika Serikat (AS) itu akan terjadi, karena SEC sudah sangat-sangat tegas mengawasi dan menindak sejumlah kasus buruk, dampak dari ICO itu.

    “Lagipula, harga aset kripto hasil dari ICO jauh lebih volatil daripada Bitcoin itu sendiri,” imbuhnya.

    Baca Juga: Amankah Bitcoin Jika Komputasi Kuantum Semakin Canggih?

    Bitcoin Tumbangkan Kinerja Emas
    Fakta utama yang tak dapat dipungkiri adalah, emas yang dianggap unggul sebagai aset penjaga nilai uang, justru kalah telah dibandingkan Bitcoin.

    inflasi
    Perbandingan kinerja Bitcoin dengan emas dan sejumlah aset bernilai lainnya, sepanjang tahun 2020. Sumber: Tradingview.com.

    Per 19 November 2020, pukul 14:54 WIB, sepanjang tahun ini, emas hanya sanggup tumbuh 22,4 persen. Sedangkan Bitcoin melejit 142 persen, memuncak lebih dari US$18.000 per BTC belum lama ini.

    Dolar AS yang diprediksi justru akan ambruk pasca pemulihan pandemi COVID-19, di rentang waktu serupa sudah minus 4,18 persen.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bank of China: Yuan Digital Tidak Akan Menyebabkan Inflasi

    Pengujian mata uang digital yang secara tertutup dilakukan oleh Bank of China, menyebabkan rasa penasaran yang luar biasa pada masyarakat Tiongkok. Baru-baru ini, bank memberi tanggapan secara resmi mengenai Yuan digital yang akan segera rilis dan bagaimana cara kerjanya.
    19 April 2020 lalu, Seorang perwakilan bank mengonfirmasi hal tersebut dalam saluran China Central Television, uji coba mata uang digital baru (atau yang disebut DC/EP “Digital Currency/Electronic Payment”) telah dilakukan di kota-kota Shenzhen, Suzhou, Xiongan Area Baru, Chengdu, dan situs Olimpiade Musim Dingin yang akan datang.Namun, para peneliti tersebut menekankan pengujian ini belum mengisyaratkan peluncuran resmi untuk penggunaan publik. Perwakilan tersebut juga menambahkan:

    “Pengujian secara tertutup pada Yuan digital ini tidak akan memengaruhi operasi komersial dari institusi yang terdaftar, dan juga tidak akan memengaruhi sistem penerbitan dan sirkulasi RMB, pasar keuangan, serta ekonomi sosial di luar lingkungan pengujian”

    Untuk memastikan mata uang digital bank sentral tersebut tidak oversold, lembaga komersial akan membayar cadangan 100% ke bank sentral. Dengan kata lain, pada saat penerbitan nanti, People’s Bank of China yang akan pertama menukar mata uang digital dengan bank atau agen operasi lainnya. Agen-agen ini kemudian akan merilis mata uang digital ke dalam sirkulasi publik.

    Baca juga: Terungkap, Dompet Digital Bank Sentral China Segera Rilis?

    Desain Teknis dan Karakteristik Utama Yuan Digital

    Bank telah menyelesaikan desain pada lapisan atas, dengan mata uang digital mengadopsi arsitektur dua-lapis (two-layer) dan sistem pengiriman dua-tingkat (two-tier).

    Jika fungsi pembayaran perbankan online dan platform pembayaran turun karena sinyal jaringan yang buruk, teknologi DC/EP ini akan masuk ke dual offline dan memastikan yuan digital akan tetap bekerja secara efektif sama seperti kertas Yuan. Bank of China menjelaskan:

    “Ketika tidak ada jaringan, selama dua ponsel yang dilengkapi dengan dompet digital DC/EP digunakan, fungsi transfer atau pembayaran tetap dapat direalisasikan. ”

    Menurutnya juga, mata uang digital versi Tiongkok ini tidak terikat dengan rekening bank mana pun. Mereka juga mengklaim, hal ini bebas dari kendali sistem perbankan tradisional.

    Tidak seperti cryptocurrency lainnya, Yuan digital diluncurkan oleh Bank Sentral Tiongkok dan didukung oleh kredit negara. Ini mirip dengan versi elektronik renminbi, mata uang resmi Republik Rakyat Tiongkok.

    Lebih lanjut, mereka menegaskan, dibandingkan dengan Bitcoin, mata uang digital baru ini akan memiliki stabilitas inheren yang lebih besar. Pengujian mata uang digital bank sentral Tiongkok ini adalah bagian dari skema subsidi transportasi untuk pemerintah daerah dan pekerja perusahaan.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Sinyal The Fed Naikkan Suku Bunga Tinggi, Investor Kripto Harus Siap

    The Fed bakal menaikkan suku bunga baru pada 22 Maret nanti, dan investor kripto dapat menggunakan strategi penghindaran risiko untuk menghasilkan keuntungan. Kebijakan The Fed sangat mempengaruhi pergerakan market kripto.

    Suka atau tidak suka, bagi investor kripto, kebijakan Federal Reserve AS tentang kenaikan suku bunga dan inflasi yang tinggi adalah satu-satunya ukuran yang paling relevan untuk mengukur permintaan aset berisiko. Dengan meningkatkan biaya modal, Fed meningkatkan profitabilitas instrumen pendapatan tetap, tetapi ini merugikan pasar saham, real estat, komoditas, dan aset kripto.

    Salah satu aspek positif dari pertemuan Fed adalah bahwa pertemuan tersebut dijadwalkan jauh sebelumnya, jadi investor kripto dapat mempersiapkannya. Keputusan kebijakan Federal Reserve secara historis menyebabkan volatilitas intraday ekstrim dalam aset berisiko, namun investor dapat menggunakan instrumen derivatif untuk menghasilkan hasil yang optimal karena Fed menyesuaikan suku bunga.

    Tantangan

    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

    Baca juga: IWD 2023: Perempuan Bisa Berkarya di Bidang Blockchain dan Kripto

    Tantangan lain bagi para investor dan trader adalah mereka menghadapi tekanan dari Bitcoin yang sangat berkorelasi dengan ekuitas. Misalnya, koefisien korelasi 50-day versus kontrak berjangka S&P 500 telah berjalan di atas 70% sejak 7 Februari. Meskipun tidak menyatakan sebab dan akibat, terbukti bahwa investor aset kripto sedang menunggu arah pasar tradisional.

    Investor menyadari bahwa Fed kehabisan pilihan untuk mengekang inflasi. Dengan menaikkan suku bunga lebih jauh, hal itu dapat menyebabkan pembayaran utang pemerintah AS lepas kendali dan akhirnya melampaui US$ 1 triliun per tahun. Ini menciptakan insentif yang sangat besar bagi bulls Bitcoin, tetapi kehati-hatian yang ekstrim diperlukan oleh mereka yang bersedia melakukan perdagangan berdasarkan kenaikan suku bunga.

    Pengambil risiko dapat mengambil manfaat dari membeli kontrak berjangka Bitcoin untuk meningkatkan posisi mereka, tetapi mereka juga dapat dilikuidasi, jika pergerakan harga negatif yang tiba-tiba terjadi menjelang keputusan The Fed pada 22 Maret.

    Belum Stabil

    Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Market Kripto Tertekan, The Fed Mau Naikan Suku Bunga Lebih Tinggi?

    Bitcoin (BTC) jatuh ke posisi terendah tiga minggu pada 8 Maret karena data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dari Amerika Serikat mengurangi aset berisiko. Statistik ketenagakerjaan meningkatkan sikap hawkish The Fed dan membuat harga BTC turun.

    Peristiwa makro menawarkan hasil yang beragam dalam hal menggerakkan pasar kripto. Pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, di hadapan Kongres AS sehari sebelumnya gagal memicu reaksi, tetapi data pekerjaan pada hari itu membuat suasana hati menurun.

    Angka ketenagakerjaan “panas” seperti itu secara tradisional meresahkan aset berisiko karena menyiratkan bahwa Fed memiliki lebih banyak kelonggaran untuk menjaga kondisi keuangan lebih ketat lebih lama.

    Perkiraan seberapa jauh The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya pada 22 Maret membuktikan meningkatnya ketidakpastian atas penurunan inflasi. Di samping itu, Indeks Dolar AS (DXY) juga menyimpan potensi kejutan yang tidak diinginkan untuk kenaikan Bitcoin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin dan Kripto Lainnya Terbang saat Data Inflasi AS Meroket

    Pergerakan market aset kripto kini sedang anomali. Nilai Bitcoin kembali naik di atas US$ 20.000, meskipun ada pembacaan inflasi AS yang semakin panas. Apa penyebabnya?

    Harga Bitcoin (BTC) terpantau melonjak lebih tinggi untuk pertama kalinya dalam enam hari dan mendapatkan kembali ke level psikologisnya di US$ 20.000. Padahal, BTC sempet turun US$ 800 dalam beberapa menit saat data inflasi AS untuk Juni melonjak hingga 9,1% jauh di atas perkiraan.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan banyak investor yang berekspektasi bahwa angka inflasi AS yang tinggi untuk bulan Juni akan mendorong The Fed menjadi lebih agresif dalam pengetatan kondisi moneter untuk memperlambat kenaikan inflasi. Dampaknya akan memberikan tekanan negatif pada harga untuk aset berisiko, dari saham ke Bitcoin.

    “Indeks saham AS mengakhiri sesi lebih rendah, sehingga kenaikan Bitcoin memicu beberapa kritik, karena tidak biasa hal ini terjadi. Biasanya, berita buruk bagi ekonomi dan pasar akan menekan harga Bitcoin dan kripto lainnya,” kata Afid.

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Bank Indonesia: Aset Kripto Ciptakan Inklusi Keuangan

    Anomali Gerak Market Saham dan Kripto

    Dari laporan trio indeks saham AS melemah di perdagangan Rabu (14/7), tercatat, nilai indeks Nasdaq melemah 0,1%, sementara nilai indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) masing-masing turun 0,5% dan 0,7%. Ini akibat inflasi AS tahunan telah capai 9,1% pada Juni.

    Sementara, kondisi berbeda justru ditunjukkan oleh aset kripto. Terpantau di situs CoinMarketCap pukul 10.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar berada di zona hijau dalam 24 jam terakhir.

    Ethereum (ETH) bahkan naik sampai 5,29% ke US$ 1.115,08 sehari terakhir. Altcoin lain juga tak kalah perkasa. Misalnya nilai Solana (SOL), Cardano (ADA) dan BNB naik lebih dari 3%.

    “Penyebab pergerakan yang anomali ini masih banyak spekulasi. Pasalnya, melihat data historis, biasanya nilai market kripto akan langsung tertekan ketika terdapat perilisan data penting makroekonomi seperti inflasi. Sehingga investor akan menangkap tingginya inflasi memicu The Fed untuk mengerek suku bunga acuannya lebih tinggi,” jelas Afid.

    Apa itu altcoin seasons
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 13 Juli 2022: ETH Siap Terbang, Awas Data Inflasi AS

    Lebih lanjut, jika The Fed mengambil langkah tersebut, tentu selera risiko investor perlahan akan pudar. Namun, kali ini, situasi market malah terbalik.

    “Bisa jadi investor kripto mulai acuh terhadap data inflasi AS dan tetap ingin Bitcoin berada di kisaran level support-nya di US$ 19.000-US$ 20.000. Di samping itu, banyak whales yang melakukan buy the dip dan mengaitkan kondisi market kripto yang mulai kondusif,” ungkap Afid.

    Sentimen Positif Market Kripto

    Sentimen positif lain di ekosistem kripto yang membuat market kembali tumbuh datang dari beberapa kabar, mulai dari Binance yang menyelesaikan burn periode triwulanan ke-20 dari token aslinya, BNB sekitar hampir 1,96 juta BNB (sekitar US$ 444,6 juta).

    Selain itu, ada Polygon Network yang memperluas cakupan infrastruktur web3 miliknya dengan Walt Disney Company. Dampaknya nilai Polygon (MATIC) meroket 18,39% dalam 24 jam terakhir. Kemudian, platform Celsius dikabarkan juga telah melunasi utangnya kepada platform keuangan terdesentralisasi, Aave.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Pulih ke $38.000, Inflasi Tidak Dapat Menghentikan Kripto

    Di tengah kekhawatiran ekonomi yang menyusutkan selera risiko investor, CEO Celsius Network mengatakan bahwa pasar kripto dan Bitcoin akan bangkit, inflasi tidak akan menghentikannya.

    Alex Mashinsky mengungkapkan pandangannya tersebut dalam sebuah wawancara bersama Kitco News, yang memperkirakan pasar kripto justru akan mulai pulih dari sini. Ia menambahkan:

    “[Bahkan] JP Morgan… mengeluarkan laporan minggu ini yang mengatakan bahwa mungkin aksi jual crypto berlebihan, dan mereka melihat rebound ke level 38.000 [USD per Bitcoin] dari tempat kita hari ini… Jadi saya pikir kita akan melihat pembalikan atas akhir pekan dan minggu depan.”

    Ia pun menilai bahwa, pasar Bearish saat ini memberi dampak baik untuk memisahkan para penipu dan spekulan dari industri kripto.

    Menurutnya, pasar kripto memiliki dua jenis pelaku pasar, yakni HODLer seperti Michael Saylor, Komunitas Celsius dan lainnya, dan juga ada para investor yang bersifat spekulan.

    Baca juga: Shiba Inu Dilepaskan Pendirinya!

    Dengan kondisi bearish saat ini, para spekulan telah dihapuskan dari permainan, yang akan menghentikan aksi jual besar-besaran dan mulai beralih lagi ke kenaikan harga yang bagus. Ia mengatakan:

    “Ingat, ketika Bitcoin pulih, awalnya pulih 5 hingga 8 kali dari tempatnya, atau bahkan lebih.”

    Selain itu, Alex juga mengatakan bahwa ia masih percaya Bitcoin dapat menjadi aset pelindung nilai dari inflasi. Menurutnya, jika membandingkan periode satu dekade pada S&P versus inflasi versus Bitcoin, maka Bitcoin akan mengungguli keduanya.

    Menanggapi potensi inflasi, Alex tidak melihat itu akan mereda, karena ia memperkirakan AS tengah menuju puncak dari inflasi dan akan butuh waktu lebih lama bagi ekonomi AS untuk pulih dan memperbaikinya.

    Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin 2022: Analisa BTC Mingguan

    Disisi lain, Alex juga mengatakan, inflasi harus dibawah 8% untuk Bitcoin rally dan jika inflasi masih diatas 8.3%, harga Bitcoin akan terus merosot.

    Pada tanggal 14-15 Juni, The Fed akan melakukan meeting lagi. Semua trader masih menunggu tanggal tersebut.

    Alex juga memberitahukan beberapa exchange yang dia ketahui sudah tidak melakukan likuidasi lagi dan banyak pengguna celsius menukarkan stablecoin mereka ke Bitcoin atau altcoin.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Lebih dari $9,4 Miliar BTC Masuk ke Bursa: Koreksi Masih Berpotensi Terjadi?

    Pasar kripto dan Bitcoin kembali diterpa tekanan jual signifikan setelah data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS dirilis pada 15 Juli. Bitcoin (BTC), yang sempat mencetak rekor tertinggi baru di level $123.203, turun tajam hingga ke $117.143 — koreksi sekitar 4,9%.

    Menurut data dari CryptoQuant, lebih dari 80.810 BTC senilai sekitar $9,4 miliar masuk ke bursa terpusat dalam satu hari. Arus masuk besar-besaran ini mengindikasikan peningkatan tekanan jual, karena pergerakan BTC dari dompet pribadi ke bursa sering kali diasosiasikan dengan niat untuk melepas aset.

    Harga BTC dan meningkatnya arus masuk bursa: CryptoQuant.
    Harga BTC dan meningkatnya arus masuk bursa: CryptoQuant.

    Baca juga: Tren Bitcoin 14-18 Juli 2025: Bitcoin sideways by Hoteliercrypto

    Tekanan Jual Bitcoin

    Analis melihat zona $107.000–$109.000 sebagai area support utama berdasarkan data historis akumulasi dari Glassnode dan konfluensi level Fibonacci retracement. Wilayah ini sebelumnya mencatat volume pembelian tinggi, menciptakan kluster akumulasi yang dapat menjadi penopang jika harga terus melemah.

    Secara teknikal, Bitcoin telah jatuh di bawah level Fibonacci retracement 0,236 di $117.293. Jika tekanan jual berlanjut, potensi penurunan menuju retracement 0,618 di kisaran $107.726 masih terbuka — setara dengan koreksi tambahan sebesar 8% dari harga saat ini.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 16 Juli 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 16 Juli 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Namun, skenario bearish ini dapat ditepis jika BTC mampu merebut kembali level $117.293 dengan momentum kuat dan diiringi penurunan arus masuk ke bursa. Kembalinya minat beli dapat mendorong harga untuk kembali menguji level ATH di atas $123.000.

    Dengan kondisi pasar yang rentan dan sinyal teknikal yang melemah, investor diimbau untuk mewaspadai volatilitas tinggi serta mengamati level-level kunci yang akan menentukan arah pergerakan BTC dalam waktu dekat.

    Baca juga: Laporan Pasar Kripto Q2 2025: Bitcoin Melesat, TradFi Melirik


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Susun Kebijakan Moneter, The Fed Pertahankan Suku Bunga 4,5%?

    Federal Reserve (The Fed) kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 4,25% hingga 4,5% dalam pertemuan kebijakan moneter pekan ini.

    Mengutip laman Heisenbergreport pada Senin (17/3), keputusan ini mengikuti langkah serupa yang dilakukan pada Januari lalu.

    Para analis memperkirakan The Fed akan tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    Dampak Kebijakan Trump terhadap Ekonomi

    Para pejabat The Fed memilih pendekatan “wait-and-see” sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

    Kebijakan tarif yang mungkin diterapkan oleh Trump menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

    Jika tarif baru memicu perlambatan ekonomi, The Fed kemungkinan akan mempertimbangkan pemotongan suku bunga untuk menjaga pasar tenaga kerja tetap stabil.

    Sejarah Suku Bunga The Fed

    Sejak 2022, The Fed menaikkan suku bunga secara agresif guna mengendalikan lonjakan inflasi pascapandemi.

    Setelah inflasi mulai mereda mendekati target 2%, bank sentral AS ini sempat memangkas suku bunga pada akhir tahun lalu.

    Namun, meningkatnya kembali tekanan inflasi dan ketidakpastian kebijakan pemerintah membuat The Fed enggan melakukan perubahan lebih lanjut dalam waktu dekat.

    Prediksi Langkah Selanjutnya

    The Fed kemungkinan akan memberikan sedikit petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga di masa depan dalam pernyataan resminya maupun konferensi pers Ketua The Fed, Jerome Powell.

    Para ekonom Deutsche Bank memperkirakan bahwa dalam proyeksi ekonomi terbaru, The Fed hanya akan merencanakan satu kali pemotongan suku bunga tahun ini.

    Jumlah ini sebenarnya lebih sedikit dibandingkan dua kali yang diperkirakan pada Desember tahun lalu.

    Kemungkinan Resesi dan Pengaruhnya

    Meskipun peluang resesi masih tergolong rendah, beberapa indikator ekonomi menunjukkan tanda peringatan.

    Penurunan kepercayaan konsumen dan pengurangan belanja rumah tangga menjadi perhatian utama.

    Namun, pasar tenaga kerja yang tetap kuat dan inflasi yang lebih terkendali pada Februari memberikan sedikit optimisme.

    Goldman Sachs meningkatkan peluang resesi dalam satu tahun ke depan dari 15% menjadi 20%.

    Di tengah ketidakpastian ekonomi, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tampaknya menjadi langkah yang paling masuk akal saat ini.

    Jika kondisi ekonomi memburuk, pemangkasan suku bunga mungkin diperlukan untuk menjaga stabilitas.

    Namun, jika inflasi terus meningkat akibat kebijakan tarif, The Fed bisa tetap mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Keputusan FOMC Maret 2025: Akankah Suku Bunga The Fed Turun?

    Federal Open Market Committee (FOMC) kembali menjadi sorotan jelang pertemuan pada 18-19 Maret 2025. Investor, ekonom, dan pemilik rumah menanti apakah bank sentral akan memangkas suku bunga, mempertahankannya, atau bahkan menaikkannya.

    Dilaporkan The Mortgage Reports, inflasi yang masih berada di atas target 2% meskipun mengalami penurunan, keputusan FOMC kali ini akan menjadi penentu arah bagi pasar keuangan, termasuk suku bunga hipotek.

    Kemungkinan Keputusan FOMC pada Maret 2025

    Pada tiga pertemuan sebelumnya, FOMC melakukan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada November dan Desember 2024, sebelum akhirnya mempertahankannya pada Januari 2025.

    Saat ini, inflasi tahunan turun dari 3% di Januari menjadi 2,8% di Februari, menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang bisa menjadi pertimbangan bagi FOMC untuk melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut.

    Namun, banyak ekonom masih skeptis akan kemungkinan pemangkasan lebih cepat. Mark Zandi, kepala ekonom di Moody’s Analytics, menyoroti bahwa tekanan inflasi akibat tarif dan kenaikan biaya konstruksi perumahan bisa membuat harga tetap tinggi lebih lama. Jika ini terjadi, FOMC mungkin memilih untuk menunda pemotongan suku bunga agar inflasi tetap terkendali.

    Dampaknya Terhadap Suku Bunga Hipotek

    Suku bunga hipotek tidak ditentukan langsung oleh FOMC, tetapi kebijakan moneter mereka sangat berpengaruh. Pada tahun 2023 dan 2024, suku bunga hipotek tetap 30 tahun berfluktuasi antara 6,08% hingga 7,79%, menurut data Freddie Mac. Pada awal Maret 2025, angka ini berada di 6,63%, mencerminkan reaksi pasar terhadap keputusan FOMC sebelumnya.

    Jika FOMC mempertahankan suku bunga pada Maret, ada kemungkinan suku bunga hipotek tidak mengalami perubahan signifikan dalam jangka pendek.

    Namun, jika terjadi pemangkasan suku bunga, pasar bisa bereaksi dengan penurunan bertahap pada suku bunga hipotek. Sebaliknya, jika FOMC mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga, suku bunga hipotek bisa kembali naik.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dampak Data CPI AS ke Pasar Kripto: Bitcoin dan Altcoin Menguat

    Data terbaru Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Februari menunjukkan kenaikan inflasi sebesar 0,2%, sehingga inflasi utama kini berada di angka 2,8%.

    Dilaporkan Coingape, meskipun kenaikan ini tergolong moderat dibandingkan dengan level tertinggi sebelumnya, dampaknya terhadap pasar keuangan, termasuk aset kripto, cukup signifikan. Bitcoin (BTC), XRP, Dogecoin (DOGE), dan Cardano (ADA) mencatatkan kenaikan harga sebagai respons terhadap laporan ini.

    Pasar Kripto Merespons Positif Data Inflasi AS

    Kenaikan inflasi yang sedikit di atas ekspektasi telah memicu pergerakan signifikan di pasar kripto. Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin naik sebesar 2%, menembus level $82.000 setelah mengalami penurunan sebelumnya. Selain Bitcoin, altcoin utama seperti XRP, Dogecoin, dan Cardano juga mengalami lonjakan harga yang mencerminkan optimisme pasar.

    Para analis memprediksi bahwa laporan inflasi bulan Maret akan menunjukkan sedikit penurunan dalam inflasi utama dan inti. Jika prediksi ini akurat, maka ini akan menjadi pertama kalinya kedua indikator tersebut turun sejak Juli 2024. Penurunan inflasi lebih lanjut dapat memengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve, yang pada akhirnya akan berdampak pada pergerakan harga aset kripto.

    Pengaruh Kebijakan Federal Reserve terhadap Kripto

    Investor saat ini mengamati dengan seksama langkah Federal Reserve terkait kebijakan suku bunga. The Fed telah mengisyaratkan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam pengetatan moneter, dengan ekspektasi bahwa penurunan suku bunga pada 2025 akan lebih terbatas dibandingkan tahun sebelumnya.

    Sejak Desember 2024, pasar kripto telah mengalami tekanan yang cukup besar, dengan total kapitalisasi pasar turun hampir 30% akibat kebijakan moneter yang lebih ketat. Jika inflasi terus menurun, Fed mungkin akan mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter, yang berpotensi menurunkan suku bunga. Secara historis, suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin.

    Namun, jika inflasi tetap tinggi atau kondisi ekonomi memburuk, The Fed dapat mempertahankan kebijakan ketatnya, yang kemungkinan besar akan terus menekan harga kripto.

    Kebijakan Perdagangan AS dan Dampaknya terhadap Inflasi

    Selain kebijakan moneter, kebijakan perdagangan juga berperan dalam menentukan tren inflasi dan dampaknya terhadap pasar keuangan. Pemerintahan AS sebelumnya telah menerapkan tarif impor pada Tiongkok, Kanada, dan Meksiko, yang dapat memberikan tekanan tambahan pada inflasi. Data CPI terbaru mencerminkan dampak awal dari kebijakan ini.

    Jika tekanan inflasi akibat kebijakan perdagangan tidak terlalu besar, penurunan inflasi yang berkelanjutan dapat mendukung prospek positif untuk aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin. Sebaliknya, jika kebijakan ini menyebabkan ketidakstabilan ekonomi global, investor mungkin akan mencari aset yang lebih aman seperti emas, yang dapat mengurangi minat terhadap kripto.

    Bagaimana Investor Kripto Harus Menyikapi Situasi Ini?

    Laporan CPI AS bulan Februari telah memicu pergerakan positif di pasar kripto, tetapi ketidakpastian masih menyelimuti arah kebijakan moneter dan perdagangan AS.

    Investor perlu terus memantau perkembangan inflasi dan langkah-langkah yang diambil oleh Federal Reserve. Jika inflasi terus menurun dan Fed mulai melonggarkan kebijakan suku bunga, aset kripto berpotensi untuk kembali menguat.

    Namun, jika inflasi tetap tinggi atau kebijakan perdagangan semakin memperburuk situasi ekonomi, tekanan pada pasar kripto bisa berlanjut. Oleh karena itu, manajemen risiko yang baik dan pemantauan terhadap indikator makroekonomi menjadi kunci bagi investor dalam menghadapi volatilitas pasar.

    Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, apakah Bitcoin dan altcoin akan terus naik, atau justru kembali mengalami tekanan? Pasar akan terus bergerak dinamis, dan keputusan kebijakan The Fed dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi faktor penentu utama bagi pergerakan aset digital ini.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com