Tag: Inflasi

  • Data CPI AS Dinanti, Pasar Kripto Optimis The Fed Pangkas Suku Bunga

    Pasar kripto tengah menantikan rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat minggu ini. Setelah data pekerjaan terbaru menunjukkan tanda-tanda perlambatan di pasar tenaga kerja, investor kini semakin optimis bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan segera memangkas suku bunga. Bitcoin bahkan sempat menembus angka $100.000 pasca rilis data pekerjaan, mencerminkan sentimen positif di pasar.

    Pasar Kripto Memasuki Pekan Krusial

    Investor global saat ini mengamati berbagai indikator ekonomi utama yang dijadwalkan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Selain CPI AS, data penting lainnya seperti Indeks Harga Produsen (PPI) AS serta kesaksian Ketua The Fed, Jerome Powell, di hadapan Kongres juga menjadi fokus utama. Semua faktor ini akan memberikan wawasan lebih dalam mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

    Dampak Inflasi CPI AS terhadap Bitcoin dan Pasar Kripto

    Data CPI yang akan dirilis diprediksi menunjukkan inflasi AS turun menjadi 0,3% pada Januari dari 0,4% di Desember. Secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 2,8%, lebih rendah dibandingkan 2,9% sebelumnya. Sementara itu, inflasi CPI inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, diperkirakan tetap stabil di 0,3% secara bulanan dan turun menjadi 3,1% dari 3,2% secara tahunan.

    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas
    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas

    Jika angka inflasi lebih rendah dari ekspektasi, The Fed berpotensi mengadopsi kebijakan moneter yang lebih dovish, yang akan mendukung harga Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan. Sebaliknya, jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar bisa mengalami aksi jual akibat ketidakpastian kebijakan moneter.

    Data ini menjadi semakin penting setelah laporan pekerjaan AS menunjukkan peningkatan tenaga kerja nonpertanian sebesar 143.000 pada Januari, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 169.000. Perlambatan ini menambah harapan bahwa The Fed akan mempertimbangkan pelonggaran kebijakan lebih cepat.

    Peristiwa Ekonomi Penting Lainnya

    Selain CPI, pasar juga menantikan data PPI AS yang akan dirilis pada 13 Februari. PPI diperkirakan meningkat sebesar 0,3% pada Januari, lebih tinggi dari 0,2% pada bulan sebelumnya. Perubahan dalam PPI dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed, yang pada gilirannya berdampak pada pasar kripto.

    Di sisi lain, kesaksian Ketua The Fed, Jerome Powell, juga menjadi agenda penting minggu ini. Powell dijadwalkan berbicara di hadapan Komite Perbankan Senat pada hari Selasa dan Komite Jasa Keuangan DPR pada hari Rabu. Pernyataan Powell bisa memberikan sinyal lebih jelas tentang langkah kebijakan moneter ke depan, terutama setelah The Fed mempertahankan suku bunga pada Januari.

    Bagaimana Prospek Pasar Kripto ke Depan?

    Dengan berbagai data ekonomi yang akan dirilis, arah pasar kripto dalam jangka pendek masih bergantung pada hasil inflasi CPI dan respons The Fed. Jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, investor mungkin akan lebih berani mengambil risiko, mendorong harga Bitcoin dan aset kripto lainnya lebih tinggi.

    Namun, volatilitas masih menjadi faktor utama. Jika inflasi tetap tinggi atau The Fed mengisyaratkan sikap hawkish, aksi jual di pasar bisa terjadi. Beberapa analis bahkan memperkirakan Bitcoin bisa turun hingga $90.000 sebelum melanjutkan tren naik dan mencapai rekor tertinggi baru.

    Secara keseluruhan, minggu ini akan menjadi periode yang krusial bagi pasar kripto. Investor akan mencermati setiap peristiwa ekonomi utama untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang prospek kebijakan moneter AS dan dampaknya terhadap aset digital.

    Baca juga: Tren Bitcoin 10-14 Februari 2025: Tetap Fokus Balik Modal By Hoteliercrypto


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pengaruh Inflasi Terhadap Pergerakan Harga Kripto

    Inflasi ternyata bisa berdampak hingga ke pasar kripto. Ketika nilai uang menurun dan suplai meningkat, investor mulai mencari aset alternatif yang dapat mempertahankan nilai. Salah satunya adalah kripto seperti Bitcoin, yang sering disebut sebagai “emas digital”. 

    Tapi bagaimana sebenarnya hubungan antara inflasi, suplai uang (M2), dan harga kripto? Simak penjelasan singkatnya di bawah.

    Apa itu Inflasi?

    Inflasi adalah kondisi meningkatnya harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu. Ketika inflasi terjadi, nilai uang menurun karena daya belinya melemah. 

    Faktor penyebabnya bisa berasal dari permintaan berlebih, biaya produksi yang meningkat, atau kebijakan moneter yang longgar seperti pencetakan uang secara masif.

    Baca juga: Apakah Itu Inflasi? Membedah Fenomena Ekonomi yang Penting

    Mekanisme Inflasi dalam Sistem Ekonomi 

    Dalam sistem ekonomi tradisional, inflasi dikendalikan oleh bank sentral melalui kebijakan suku bunga dan pengaturan jumlah uang beredar. 

    Ketika inflasi tinggi, suku bunga biasanya dinaikkan untuk menahan laju konsumsi dan investasi. Namun, ini juga berdampak pada berkurangnya likuiditas dan tekanan pada pasar investasi, termasuk kripto.

    Baca juga: Pengaruh Pergerakan Dolar AS terhadap Pasar Crypto

    Sekilas Fungsi dan Tujuan Awal Kripto

    Pionir dari boomingnya aset kripto saat ini yakni Bitcoin diciptakan sebagai alternatif dari sistem keuangan terpusat. 

    Dengan pasokan terbatas (maksimal 21 juta BTC), Bitcoin dirancang untuk tahan terhadap inflasi, berbeda dengan mata uang fiat yang bisa dicetak tanpa batas. Inilah sebabnya mengapa banyak investor melihat kripto sebagai penyimpan nilai atau “emas digital”.

    Di tengah tantangan inflasi yang dihadapi ekonomi global, muncul pertanyaan: apakah ada aset yang mampu mempertahankan nilainya? Di sinilah kripto masuk sebagai alternatif.

    Baca juga: Apa Itu Bitcoin? Dan Bagaimana Cara Mendapatkannya?

    Kripto sebagai Lindung Nilai (Hedge) terhadap Inflasi

    Karena nilainya memiliki pasokan yang terbatas, aset kripto dalam hal ini Bitcoin sering dianggap sebagai sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi.

    Meskipun harga Bitcoin tidak berkorelasi langsung dengan tingginya inflasi, data historis menunjukkan bahwa ketika M2 Global meningkat, harga Bitcoin cenderung naik, tetapi ketika M2 menyusut, Bitcoin juga mengalami pelemahan.

    M2 sendiri merupakan adalah salah satu ukuran jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. M2 mencakup semua elemen dari M1 (uang tunai dan rekening giro) ditambah dengan tabungan, deposito berjangka pendek, dan beberapa instrumen pasar uang.

    M2 sering digunakan sebagai indikator likuiditas ekonomi karena mencerminkan jumlah uang yang tersedia untuk transaksi dan investasi.

    Ketika M2 meningkat, biasanya ada lebih banyak uang yang beredar, yang dapat mendorong inflasi. Sebaliknya, jika M2 menurun, likuiditas ekonomi bisa berkurang, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.

    Grafik korelasi pergerakan Bitcoin dan M2 Global Money Supply. Sumber data: Bitcoin Counter Flow.

    Terlihat bahwa ketika M2 Global naik secara tajam (khususnya sekitar 2020–2021), harga Bitcoin juga mengalami lonjakan signifikan. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan suplai uang global dapat mendorong minat investor terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai terhadap inflasi fiat.

    Setelah puncak M2 pada akhir 2021, pertumbuhan mulai melambat, yang juga diikuti oleh konsolidasi harga Bitcoin. Ini menunjukkan bahwa ketika suplai uang mulai dikendalikan (tightening), pasar kripto juga mengalami koreksi.

    Bisa disimpulkan bahwa hubungan Bitcoin memiliki korelasi positif dengan tingginya uang yang beredar dan ketika M2 naik karena pencetakan uang besar-besaran, investor cenderung mencari alternatif seperti Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

    Strategi Investasi Kripto dalam Lingkungan Inflasi Tinggi

    • Diversifikasi portofolio dengan kombinasi kripto, stablecoin, dan aset tradisional.
    • Pantau M2 dan inflasi global sebagai indikator makro.
    • Gunakan stablecoin untuk menyimpan nilai sementara.
    • Manfaatkan analisis teknikal dan fundamental untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.

    Baca juga: Strategi Investasi Aset Crypto Jangka Panjang yang Sukses

    Inflasi dan M2 money supply adalah dua faktor makroekonomi utama yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi nilai aset kripto. 

    Dengan memahami korelasi antara inflasi dan pergerakan harga kripto khususnya Bitcoin ini semoga bisa memberikan insight lebih agar kamu bisa mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.

    Jangan sampai ketinggalan informasi terbaru dari pasar kripto dan diskusi langsung dengan para trader dengan join komunitas Tokocrypto di Telegram sekarang! GRATIS!

    Klik link berikut untuk mulai gabung dengan komunitas Tokocrypto: https://t.me/TokocryptoOfficial


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Bidik $110.000 Usai CPI AS Turun ke Level Terendah Sejak 2021

    Bitcoin kembali mencuri perhatian pasar keuangan global. Setelah data inflasi Amerika Serikat (CPI) bulan April 2025 menunjukkan penurunan menjadi 2,3%—terendah sejak Februari 2021—harga BTC langsung melesat hingga menyentuh $104.357, menandakan sentimen bullish yang kian menguat.

    Dilaporkan Coingape, data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya naik 2,1% secara tahunan—melampaui ekspektasi pasar dan menjadi sinyal kuat bagi para investor bahwa pemangkasan suku bunga The Fed bisa segera terjadi.

    Inflasi AS Melambat, Bitcoin Melesat

    Hanya dalam dua jam pasca pengumuman tersebut, harga Bitcoin melonjak hampir 3% dan diperdagangkan di sekitar $104.771. Kenaikan ini juga dibarengi lonjakan volume spot hingga 35% di Binance untuk pasangan BTC/USDT, menandakan arus masuk modal baru yang cukup signifikan.

    Sementara itu, pasar saham juga menunjukkan reaksi positif. Saham Coinbase (COIN) naik 5,3% dalam perdagangan pra-pasar ke level $215, dan kontrak berjangka S&P 500 menguat 1,1%, menandakan pergerakan selaras di aset berisiko.

    Di pasar derivatif, minat terbuka (open interest) pada kontrak berjangka BTC naik 2,38% menjadi $68,6 miliar, sedangkan open interest opsi naik 2,5% ke $39,8 miliar. Di Binance, rasio long/short dari trader top mencapai 1,595—mengindikasikan bias jangka panjang yang kuat.

    Data Derivatif Perkuat Tren Bullish

    Analisis Pasar Derivatif Bitcoin | Sumber: Coinglass.
    Analisis Pasar Derivatif Bitcoin | Sumber: Coinglass.

    Baca juga: Cathie Wood Prediksi Harga Bitcoin Capai USD 1,5 Juta pada 2030

    Dalam 24 jam terakhir, lebih dari $84 juta posisi leverage dilikuidasi, dengan 81% berasal dari posisi short. Artinya, banyak trader yang tidak siap menghadapi lonjakan ini dan harus menutup posisi mereka dengan kerugian.

    Namun, volume perdagangan kontrak berjangka dan opsi justru turun masing-masing 13,71% dan 9,64%. Ini mengisyaratkan bahwa meski pasar cenderung bullish, para trader tampaknya menanti konfirmasi makro selanjutnya sebelum meningkatkan eksposur.

    Kombinasi penurunan inflasi, minat terbuka yang meningkat, dan volume spot yang kuat membuat analis semakin yakin bahwa Bitcoin bisa terus naik, dengan target jangka pendek di level $110.000. Fokus kini tertuju pada pernyataan selanjutnya dari Ketua The Fed, Jerome Powell, serta notulen rapat FOMC untuk mencari sinyal pemangkasan suku bunga.

    Target Selanjutnya: $110.000?

    Analisis Harga Teknis Bitcoin.
    Analisis Harga Teknis Bitcoin.

    Secara teknikal, indikator pasar juga menunjukkan potensi lanjutan tren naik. RSI (Relative Strength Index) berada di level 72,52—di atas zona jenuh beli—namun belum menunjukkan tanda-tanda divergensi, yang artinya tren masih kuat.

    Harga juga terus bertahan di atas Bollinger Basis Band ($100.182) dan Envelope Band bagian atas ($100.614), sementara candle harga mendekati pita atas di kisaran $108.439. Ini memperkuat ekspektasi bahwa BTC bisa menembus rekor tertinggi baru dalam waktu dekat.

    Volume Delta yang positif (+1,27K) mengindikasikan dominasi pembeli, tertinggi sejak awal Mei. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas support psikologis $100.000, potensi penurunan tetap terbatas. Namun, jika harga turun di bawah level tersebut dengan volume yang mengecil, maka BTC bisa menguji kembali zona $92.850.

    Baca juga: 10 Institusi Besar Dunia dengan Investasi Bitcoin Terbesar, Siapa Saja Mereka?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Kripto Hari Ini 12 Maret 2026: Adakah Pergerakan Positif?

    Pasar kripto hari ini, Kamis (12/3) menunjukkan pergerakan positif setelah rilis data inflasi Amerika Serikat. CPI Februari tercatat stabil di level 2,4%, sesuai dengan ekspektasi pasar, memberikan sedikit kelegaan bagi investor meski ketegangan geopolitik terkait konflik Iran masih menjadi sumber kekhawatiran. Stabilnya inflasi membuat proyeksi pemangkasan suku bunga oleh The Fed menjadi lebih terbatas, sehingga pasar tetap mencermati perkembangan makroekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

    Di tengah sentimen tersebut, sejumlah altcoin mencatat lonjakan signifikan. ACX menjadi sorotan dengan kenaikan tajam hingga 778% ke level $0,060176. PIXEL juga menguat 52% ke $0,01483, sementara OGN naik 44% hingga mencapai $0,02727. Lihat lebih lengkap di bawah ini:

    Prospek Altcoin Potensial Pasca Pengumuman CPI

    • ACX melesat 778% dan kini menyentuh angka $0,060176.
    • PIXEL menguat 52% ke posisi harga saat ini $0,01483.
    • OGN naik tajam 44% hingga mencapai level $0,02727.

    Inflasi AS Stabil 2,4% di Tengah Kekhawatiran Perang Iran

    • CPI AS Februari Tetap 2,4%, sesuai ekspektasi pasar
    • Konflik Iran picu kekhawatiran inflasi.
    • Prediksi pemangkasan suku bunga Fed berkurang

    Spesial Ramadan, Kesempatan Dapat Total Hadiah Rp 250JUTA!*

    Kripto Melonjak Usai IEA Lepas 400 Juta Barel Minyak

    • Kapitalisasi kripto naik; Bitcoin tembus $71.000.
    • Sentimen positif didorong pelepasan cadangan minyak IEA.
    • Kripto dibayangi risiko ancaman harga minyak Iran ke $200.

    Solana Berisiko Bull Trap di Resistensi $90

    • Resistensi: Uji level $90 dengan konfluensi fibonacci 0,618.
    • otensi penarikan likuiditas di bawah $81.
    • Potensi Penurunan ke Area $70 hingga Support $67.

    Baca juga: Riset Kripto 2-6 Mar 2026: Bitcoin Bullish di Tengah Ketegangan Geopolitik


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inflasi AS Melunak, Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendesak Federal Reserve (The Fed) untuk segera menurunkan suku bunga acuan setelah laporan inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga yang semakin mereda. Data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat untuk Desember mencatat inflasi tahunan sebesar 2,7%, sesuai ekspektasi pasar.

    Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut angka inflasi tersebut sebagai “sangat bagus” dan meminta Ketua The Fed Jerome Powell untuk memangkas suku bunga secara signifikan. Trump menilai The Fed terlalu lambat merespons kondisi ekonomi dan memperingatkan bahwa penundaan pemangkasan suku bunga dapat menghambat pertumbuhan serta membuat biaya pinjaman tetap tinggi.

    Faktor Laporan CPI Desember

    Baca juga: The Fed Rem Mendadak, Bitcoin Terancam ke US$70.000 di Awal 2026

    Laporan CPI Desember menunjukkan inflasi tetap stabil dan tidak mengalami percepatan. Sementara itu, inflasi inti (core CPI) yang tidak memasukkan harga pangan dan energi tercatat sebesar 2,6% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan pasar. Data ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di AS mulai mereda secara bertahap.

    Trump menilai data tersebut sebagai bukti bahwa The Fed “tertinggal” dalam kebijakan moneternya. Ia menegaskan bahwa penurunan suku bunga diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan kredit. Trump juga mengklaim kebijakan tarifnya telah memperkuat produksi domestik tanpa memicu lonjakan inflasi.

    Pasar merespons positif rilis data inflasi tersebut. Harga Bitcoin melonjak dan sempat menembus level USD 92.000, mencerminkan meningkatnya selera risiko investor di tengah harapan pemangkasan suku bunga di masa depan. Secara umum, suku bunga yang lebih rendah dinilai dapat meningkatkan likuiditas dan mendorong aset berisiko seperti saham dan kripto.

    Peluang Pemangkasan Suku Bunga The Fed

    Meski demikian, pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat masih kecil. Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, terdapat sekitar 95% probabilitas bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Januari 2026. Peluang penurunan sebesar 25 basis poin masih tergolong rendah.

    Risalah rapat The Fed terbaru menunjukkan para pembuat kebijakan masih bersikap hati-hati dan menginginkan bukti tambahan bahwa inflasi benar-benar menurun secara berkelanjutan. Sejumlah bank besar, termasuk JPMorgan, bahkan tidak lagi memproyeksikan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat meskipun data inflasi melemah.

    Selain itu, ketidakpastian terkait kebijakan fiskal dan tarif juga menjadi perhatian para pejabat The Fed, yang ingin menilai dampaknya terhadap inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Meski pernyataan Trump kerap memengaruhi sentimen pasar, The Fed sejauh ini tetap menunjukkan independensinya dalam menentukan arah kebijakan moneter.

    Ekspektasi pemangkasan suku bunga diperkirakan dapat menguat pada paruh kedua tahun ini apabila inflasi tetap stabil atau terus menurun. Data CPI terbaru kini menjadi amunisi utama bagi pihak-pihak yang mendukung pelonggaran kebijakan moneter di Amerika Serikat.

    Baca juga: Turun Mendadak! Dogecoin Anjlok Meski Suku Bunga Dipangkas The Fed


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Menguat Gegara Sentimen Bank Sentral AS


    Jakarta

    Data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat mencatat level indeks sebesar 315,493 untuk November 2024, meningkat 2,7% dari sebelumnya 2,6% pada bulan Oktober. Angka ini mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa yang biasa dikonsumsi masyarakat.

    Kenaikan ini juga menjadi salah satu aspek potensial pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve dalam pertemuan FOMC mendatang.

    Selain itu, dampak positif dari data tersebut mulai terlihat di pasar aset kripto. Bitcoin (BTC), yang sebelumnya sempat berfluktuasi, kembali menunjukkan pemulihan signifikan. Saat berita ini ditulis pada 12 September 2024, harga Bitcoin berada di sekitar US$100,000, naik sekitar 2,6% dalam 24 jam terakhir.


    Altcoin teratas seperti Ethereum mencatatkan lonjakan harga 7,2% dalam 24 jam, XRP 4,7%, dan Solana 5,2%.

    Kenaikan harga Bitcoin juga diiringi oleh Fear and Greed Index pasar kripto yang berada di angka 76 dari 100, menunjukkan dominasi sentimen “greed” atau optimisme yang kuat. Jika tren ini berlanjut, tidak menutup kemungkinan bahwa Bitcoin akan menembus level psikologis di atas US$104.000, melampaui rekor tertingginya yang tercatat minggu lalu.

    Perkembangan ini menunjukkan bagaimana dinamika makroekonomi global memiliki pengaruh besar terhadap pasar kripto. Dengan prospek pemotongan suku bunga dan momentum positif di pasar, Bitcoin dan aset kripto lainnya memiliki peluang besar untuk melanjutkan tren kenaikan dalam beberapa minggu ke depan.

    CEO INDODAX Oscar Darmawan, mengomentari dampak data inflasi ini terhadap pasar kripto. “Data CPI yang sesuai ekspektasi telah memberikan angin segar bagi pasar, tidak terkecuali aset kripto. Selain itu optimisme terhadap kebijakan suku bunga yang lebih longgar dari Federal Reserve dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya ke depan,” ujar Oscar.

    Menurut Oscar, kenaikan harga Bitcoin baru-baru ini juga mencerminkan minat institusional yang meningkat. “Investor institusional mulai memahami peran Bitcoin dalam portofolio mereka, menunjukkan pergeseran perspektif terhadap pasar keuangan tradisional,” ujar Oscar dalam keterangannya, Jumat (13/12/2024).

    Oscar juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap kripto. “Ketika semakin banyak orang memahami manfaat Bitcoin dan teknologi blockchain, tingkat adopsi akan tumbuh secara alami,” jelasnya.

    Ia juga mencatat bahwa pemotongan suku bunga oleh The Fed dapat mendukung tren kenaikan aset berisiko seperti Bitcoin. “Dengan meningkatnya likuiditas di pasar, Bitcoin memiliki peluang besar untuk melanjutkan penguatannya. Selain itu, Fear and Greed Index, yang saat ini berada di angka 76, dapat menjadi indikator positif. Sentimen greed di pasar menunjukkan optimisme investor, tetapi kita harus tetap waspada terhadap volatilitas yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar, karena semakin tinggi kepercayaan terhadap pasar, maka sebagian orang akan melakukan aksi jual,” sarannya.

    Ia juga menyoroti peran teknologi blockchain sebagai daya tarik utama. “Keamanan dan transparansi yang ditawarkan blockchain semakin relevan di tengah ketidakpastian ekonomi global,” kata Oscar.

    Melihat prospek ke depan, Oscar percaya Bitcoin memiliki peluang besar untuk mencapai level baru. “Jika data ekonomi terus mendukung dan kebijakan moneter global tetap kondusif, Bitcoin bisa mencetak rekor tertinggi baru,” ujarnya.

    Oscar menutup dengan menekankan pentingnya regulasi yang mendukung. “Regulasi yang jelas dan proaktif dapat menciptakan ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan aset digital di Indonesia maupun secara global,” ujar dia.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Digoyang Data Ini, Nilai Bitcoin Kini Tembus Lebih dari Rp 1,6 M


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) melonjak signifikan setelah rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Desember 2024. Inflasi tahunan tercatat di angka 2,9%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Seiring dengan hal itu, nilai Bitcoin terdongkrak hingga melampaui US$ 102.000 atau setara dengan Rp 1,6 miliar lebih.

    Kenaikan ini juga diikuti oleh aset kripto lainnya saat pengumuman CPI, seperti Ethereum (ETH) yang mencapai Rp 54 juta, XRP di Rp 50.000, SOL di Rp 3,2 juta, dan XLM di Rp 7.000. Mayoritas aset kripto lainnya turut mengalami tren kenaikan yang makin memperkuat optimisme pasar.

    “Kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di angka US$ 3,7 triliun, dengan total volume perdagangan mencapai US$ 183 miliar. Sebagai perbandingan, pada bulan sebelumnya, CPI tercatat sebesar 2,7%, di mana harga Bitcoin saat itu berada di kisaran US$ 90.000, naik dari sebelumnya US$ 87.000. Meski kenaikan CPI Desember sedikit lebih tinggi dari angka bulan lalu, hal ini tidak menunjukkan tanda-tanda inflasi yang memburuk,” CEO Indodax, Oscar Darmawan, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom pada Sabtu (18/1/2205).


    Sebagai catatan tambahan, CPI inti, yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi, hanya meningkat 0,2%. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan awal sebesar 0,3%. Data ini memberikan sinyal positif bahwa tekanan inflasi tetap terkendali.

    “Dengan inflasi yang moderat, ada potensi bagi Federal Reserve untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, yang bisa semakin mendorong sentimen positif di pasar keuangan,” ujar Oscar.

    Lebih lanjut Oscar bilang, optimisme ini juga tercermin dalam Fear and Greed Index pasar kripto, yang berada di angka 75 dari 100. Angka ini menunjukkan dominasi sentimen “greed” atau optimisme yang kuat di kalangan investor. Jika tren ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan Bitcoin akan terus melanjutkan level psikologis di atas US$ 102.000 dalam waktu dekat.

    Oscar menilai, lonjakan ini mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

    “Kita melihat pola yang sama: ketika inflasi mulai stabil dan kebijakan moneter cenderung melunak, Bitcoin mendapatkan momentum kenaikan. Dengan target inflasi The Fed berada di angka 2%, hampir tidak ada peluang pemotongan suku bunga di akhir bulan nanti.” katanya.

    Menurut Oscar, keputusan The Fed akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya. Ia bilang, pasar sangat sensitif terhadap kebijakan moneter.

    “Jika The Fed memberi sinyal akan menurunkan suku bunga, maka likuiditas akan meningkat, dan Bitcoin bisa menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan,” jelasnya.

    Selain itu, data Producer Price Index (PPI) yang akan dirilis pada 24 Januari 2025 diharapkan memberikan sinyal tambahan terkait tekanan inflasi yang mulai mereda. Oscar menilai bahwa faktor ini akan memperkuat sentimen bullish bagi Bitcoin.

    “Investor institusional kini lebih percaya diri dalam memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio mereka. Ketika inflasi dan kebijakan moneter mulai stabil, permintaan terhadap aset kripto cenderung meningkat,” tambahnya.

    Oscar menegaskan bahwa regulasi global juga menjadi faktor penting dalam pergerakan Bitcoin. “Dengan semakin banyaknya negara yang mulai menerima Bitcoin sebagai instrumen investasi sah, kita melihat peningkatan adopsi dari institusi besar. Hal ini bisa menjadi pendorong utama bagi harga Bitcoin dalam jangka panjang.” kata Oscar.

    Meski optimis, Oscar juga mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati terhadap volatilitas pasar. Ia bilang, Bitcoin memiliki fundamental yang kuat, tetapi investor tetap harus memperhitungkan faktor eksternal seperti kebijakan ekonomi global dan pergerakan pasar tradisional.

    “Saya percaya bahwa 2025 akan menjadi tahun penting bagi Bitcoin dan ekosistem crypto secara keseluruhan. Dengan kombinasi regulasi yang lebih jelas, adopsi institusional, dan momentum pasar, kita bisa melihat Bitcoin mencapai level yang lebih tinggi. Namun, seperti biasa, investor harus tetap melakukan riset mendalam dan memahami risiko yang ada,” tutup Oscar.

    (eds/eds)



    Sumber : finance.detik.com

  • Kondisi Ini Bikin Harga Bitcoin Terbang ke Level Rp 1,6 Miliar


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) terbang seiring dirilisnya data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) untuk Desember 2024. Inflasi tahunan tercatat sesuai dengan ekspektasi di angka 2,9%.

    Hal ini mendorong nilai Bitcoin melampaui US$ 102.000 atau sekitar Rp 1,6 miliar lebih. Kenaikan ini juga diikuti oleh aset kripto lainnya saat pengumuman CPI, seperti Ethereum (ETH) yang mencapai Rp 54 juta, XRP di Rp 50 ribu, SOL di Rp 3,2 juta, dan XLM di Rp 7 ribu.

    Mayoritas aset kripto lainnya turut mengalami tren kenaikan yang memperkuat optimisme pasar. Kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini berada di angka US$ 3,7 triliun, dengan total volume perdagangan mencapai US$ 183 miliar.


    Sementara pada bulan sebelumnya, CPI tercatat sebesar 2,7%, di mana harga Bitcoin saat itu berada di kisaran US$ 90.000, naik dari sebelumnya US$ 87.000. Meski kenaikan CPI Desember sedikit lebih tinggi dari angka bulan lalu, hal ini dianggap tidak menunjukkan tanda-tanda inflasi yang memburuk.

    Kendati begitu, CPI inti meningkat tipis sebesar 0,2%, lebih rendah dibandingkan perkiraan awal sebesar 0,3%. Namun begitu, data tersebut tetap menjadi sinyal positif tekanan inflasi tetap terkendali.

    Dengan inflasi yang moderat, terbuka ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. CEO INDODAX, Oscar Darmawan, menilai bahwa lonjakan ini mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

    “Kita melihat pola yang sama ketika inflasi mulai stabil dan kebijakan moneter cenderung melunak, Bitcoin mendapatkan momentum kenaikan. Dengan target inflasi The Fed berada di angka 2%, hampir tidak ada peluang pemotongan suku bunga di akhir bulan nanti,” kata Oscar dalam keterangan tertulisnya, ditulis Minggu (19/1/2025).

    Oscar mengatakan, optimisme ini juga tercermin dalam Fear and Greed Index pasar kripto, yang berada diangka 75 dari 100. Angka ini menunjukkan dominasi sentimen greed atau optimisme yang kuat di kalangan investor.

    Jika tren ini terus berlanjut, Oscar mengatakan tidak menutup kemungkinan Bitcoin akan terus melanjutkan level psikologis di atas US$ 102.000 dalam waktu dekat. Namun begitu, Oscar menilai keputusan The Fed akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya.

    “Pasar sangat sensitif terhadap kebijakan moneter. Jika TheFed memberi sinyal akan menurunkan suku bunga, maka likuiditas akan meningkat, dan Bitcoin bisa menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan,” jelasnya.

    Sementara, data Producer Price Index (PPI) yang akan dirilis pada 24 Januari 2025 diharapkan memberi sinyal tambahan terkait tekanan inflasi yang mulai mereda. Oscar menilai, faktor ini akan memperkuat sentimen bullish bagi Bitcoin.

    “Investor institusional kini lebih percaya diri dalam memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio mereka. Ketika inflasi dan kebijakan moneter mulai stabil, permintaan terhadap aset kripto cenderung meningkat,” tambahnya.

    Oscar menegaskan bahwa regulasi global juga menjadi faktor penting dalam pergerakan Bitcoin. Dengan semakin banyaknya negara yang menerima Bitcoin sebagai instrumen investasi sah, ia menilai peningkatan adopsi dari institusi juga semakin besar.

    “Hal ini bisa menjadi pendorong utama bagi harga Bitcoin dalam jangka panjang,” terangnya.

    Meski optimis, ia juga mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati terhadap volatilitas pasar. Menurutnya, Bitcoin memiliki fundamental yang kuat, tetapi juga perlu memperhitungkan faktor eksternal seperti kebijakan ekonomi global dan pergerakan pasar tradisional.

    “Saya percaya bahwa 2025 akan menjadi tahun penting bagi Bitcoin dan ekosistem kripto secara keseluruhan. Dengan kombinasi regulasi yang lebih jelas, adopsi institusional, dan momentum pasar, kita bisa melihat Bitcoin mencapai level yang lebih tinggi. Namun, seperti biasa, investor harus tetap melakukan riset mendalam dan memahami risiko yang ada,” tutupnya.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Kian Meroket


    Jakarta

    Bitcoin (BTC) terpantau terus mengalami tren positif dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap, harga bitcoin berada di level Rp 1,71 miliar atau menguat 1,45% pukul 17.55 WIB, Minggu (19/1/2025).

    Kapitalisasi pasar bitcoin hari ini menyentuh Rp 33,98 kuadriliun dengan volume transaksi Rp 815,16. Sementara Fully Diluted Valuation (FDV) di level Rp 36,09 kuadriliun. Secara umum, volume/batas pasar 2,6% dalam waktu 24 jam terakhir. Adapun suplai beredar jelang pelantikan Trump mencapai 19,81 miliar BTC per hari ini.

    Berdasarkan data INDODAX pada Jumat (17/1/2025), BTC juga terpantau terbang seiring dirilisnya data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) untuk Desember 2024. Inflasi tahunan tercatat sesuai dengan ekspektasi di angka 2,9%.


    Hal ini mendorong nilai BTC melampaui US$ 102.000 atau sekitar Rp 1,6 miliar lebih. Kenaikan ini juga diikuti oleh aset kripto lainnya saat pengumuman CPI, seperti Ethereum (ETH) yang mencapai Rp 54 juta, XRP di Rp 50 ribu, SOL di Rp 3,2 juta, dan XLM di Rp 7 ribu.

    Mayoritas aset kripto lainnya turut mengalami tren kenaikan yang memperkuat optimisme pasar. Kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini berada di angka US$ 3,7 triliun, dengan total volume perdagangan mencapai US$ 183 miliar.

    Sementara pada bulan sebelumnya, CPI tercatat sebesar 2,7%, di mana harga Bitcoin saat itu berada di kisaran US$ 90.000, naik dari sebelumnya US$ 87.000. Meski kenaikan CPI Desember sedikit lebih tinggi dari angka bulan lalu, hal ini dianggap tidak menunjukkan tanda-tanda inflasi yang memburuk.

    Kendati begitu, CPI inti meningkat tipis sebesar 0,2%, lebih rendah dibandingkan perkiraan awal sebesar 0,3%. Namun begitu, data tersebut tetap menjadi sinyal positif tekanan inflasi tetap terkendali.

    Dengan inflasi yang moderat, terbuka ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. CEO INDODAX, Oscar Darmawan, menilai bahwa lonjakan ini mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

    “Kita melihat pola yang sama ketika inflasi mulai stabil dan kebijakan moneter cenderung melunak, Bitcoin mendapatkan momentum kenaikan. Dengan target inflasi The Fed berada di angka 2%, hampir tidak ada peluang pemotongan suku bunga di akhir bulan nanti,” kata Oscar dalam keterangan tertulisnya, ditulis Minggu (19/1/2025).

    (rrd/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Terjun Bebas Usai Shutdown AS Berakhir, Kok Bisa?


    Jakarta

    Pasar aset kripto kembali bergerak melemah setelah harga Bitcoin (BTC) turun ke bawah level support di kisaran US$ 96.000. Hal ini terjadi saat shutdown atau penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) berakhir.

    Presiden AS Donald Trump telah menandatangani rancangan anggaran yang mengakhiri shutdown selama 43 hari pada Rabu malam (13/11) waktu setempat. Penandatanganan ini mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah AS dan memulihkan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026.

    Dengan beroperasinya pemerintah secara penuh, lembaga-lembaga yang memegang peran penting dalam ekosistem kripto, termasuk Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), dapat melanjutkan agenda regulasinya.


    Kondisi pasca shutdown kali ini berbeda. Meski pemerintah AS telah kembali beroperasi, reaksi pasar kripto relatif datar, bahkan Bitcoin masih berada di bawah tekanan.

    Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyampaikan bahwa fluktuasi harga saat ini harus dilihat sebagai konsolidasi pasar menuju fase pematangan. Selebihnya, ketidakpastian kebijakan suku bunga masih menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga Bitcoin.

    “Kebijakan suku bunga The Fed memiliki imbas terhadap pergerakan harga Bitcoin. Selain itu, selama arah kebijakan masih belum pasti, volatilitas pasar akan tetap tinggi karena investor cenderung menunggu kejelasan sebelum kembali masuk,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat (14/11/2025).

    Ia menambahkan bahwa sinyal pemangkasan suku bunga di bulan Desember nantinya bisa menjadi titik balik penting, sebab perubahan arah kebijakan moneter berpotensi membuka ruang pemulihan harga di pasar kripto global.

    Selain itu, di tengah tekanan jangka pendek ini, Antony menegaskan bahwa pergerakan harga yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital di era ketidakpastian global.

    “Penurunan harga Bitcoin di bawah US$ 100.000 dipengaruhi oleh beberapa faktor makro yang bersifat eksternal. Dengan berakhirnya shutdown dan operasional regulator kembali berjalan, pasar memiliki ruang untuk menata ulang arah dalam beberapa minggu ke depan,” jelas Antony.

    Ia menjelaskan bahwa volatilitas saat ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Antony menyebut seluruh investor bisa tetap tenang dan fokus pada prinsip manajemen risiko.

    “Koreksi semacam ini adalah bagian dari mekanisme pasar, dan setiap investor perlu meninjau kembali strategi investasi jangka panjang sesuai profil risiko masing-masing,” tambahnya.

    Ia menjelaskan, Shutdown yang berkepanjangan menyebabkan gangguan pada proses pengumpulan data ekonomi penting, termasuk Consumer Price Index (CPI) dan laporan pekerjaan (nonfarm payrolls) untuk bulan Oktober 2025 yang seharusnya dirilis pada bulan November 2025.

    Terkait sentimen inflasi, data terakhir menunjukkan adanya tekanan harga yang masih membayangi. Tingkat inflasi tahunan di AS naik menjadi 3% pada September 2025, tertinggi sejak Januari, dari 2,9% pada Agustus, meskipun angka ini sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 3,1%.

    Data CPI terakhir ini masih menjadi acuan utama bagi The Fed karena perilisan data terbaru yang tertunda akibat shutdown. Adapun dengan kembalinya regulator utama seperti SEC dan CFTC bekerja penuh, perhatian pasar mulai bergeser dari urusan politik ke arah kejelasan regulasi kripto yang lebih terarah,

    Misalnya, proses persetujuan ETF Kripto dan lanjutan pembahasan regulasi stablecoin. Kondisi ini bisa menjadi pondasi penting bagi perkembangan industri kripto dalam jangka panjang, meskipun tekanan inflasi masih perlu dicermati.

    (ily/hns)



    Sumber : finance.detik.com