Tag: iran

  • Bitcoin Tembus $70.000 Dipicu Isu Damai AS-Iran

    Harga Bitcoin melonjak tajam dan berhasil menembus kembali level psikologis 70.000 dolar AS setelah muncul kabar adanya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya pasar sempat tertekan akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

    Berdasarkan data terbaru, Bitcoin naik lebih dari 4% dari posisi terendah intraday di sekitar 67.000 dolar AS, seiring meredanya ketegangan global.

    Bitcoin Rebound Usai Sinyal Damai

    Dilaporkan Coingape, lonjakan harga Bitcoin terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa negaranya telah melakukan pembicaraan yang “produktif” dengan Iran dalam dua hari terakhir. Ia juga menginstruksikan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan.

    Pernyataan tersebut menandai perubahan signifikan dalam konflik yang telah berlangsung selama empat minggu. Sebelumnya, pasar sempat terguncang setelah ancaman serangan lanjutan dari AS, yang menyebabkan Bitcoin turun hingga menyentuh level 67.000 dolar AS.

    Kini, dengan adanya indikasi deeskalasi konflik, pasar kripto merespons positif dan kembali menunjukkan penguatan.

    Baca juga: Sinyal Besar? Perusahaan Kesehatan Akumulasi Bitcoin

    Dampak Geopolitik ke Pasar Kripto

    Pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik global. Ancaman konflik yang meningkat sebelumnya sempat memicu aksi jual, sementara kabar pembicaraan damai langsung mendorong sentimen positif.

    Selain Bitcoin, aset kripto lainnya juga mengalami kenaikan seiring membaiknya kondisi pasar secara keseluruhan.

    Laporan juga menyebutkan bahwa pembicaraan antara AS dan Iran mencakup sejumlah poin penting, termasuk isu program nuklir Iran. Kedua negara dikabarkan akan melanjutkan dialog dalam beberapa hari ke depan.

    Tim Research Tokocrypto menilai bahwa lonjakan Bitcoin ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin dipandang sebagai aset yang sensitif terhadap dinamika makro global, khususnya geopolitik.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Senin, 23 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Senin, 23 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Menurut mereka, pergerakan harga saat ini bukan hanya dipengaruhi oleh faktor internal pasar kripto, tetapi juga oleh sentimen global seperti konflik dan kebijakan internasional. Deeskalasi konflik cenderung meningkatkan risk appetite investor, yang kemudian mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko seperti kripto.

    Namun demikian, Tim Research Tokocrypto mengingatkan bahwa volatilitas masih berpotensi tinggi, mengingat situasi geopolitik belum sepenuhnya stabil. Jika pembicaraan damai berlanjut dan menghasilkan kesepakatan konkret, pasar berpotensi melanjutkan penguatan.

    Sebaliknya, jika terjadi eskalasi kembali, tekanan terhadap harga Bitcoin dan aset kripto lainnya juga dapat muncul dalam waktu singkat.

    Pasar Masih Menunggu Kepastian

    Pelaku pasar kini mencermati perkembangan lanjutan dari negosiasi antara AS dan Iran sebagai faktor utama yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek.

    Dengan kondisi pasar yang masih dipengaruhi sentimen global, arah Bitcoin diperkirakan akan tetap volatil sambil menunggu kepastian lebih lanjut dari perkembangan geopolitik tersebut.

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Melesat di Tengah Panasnya Konflik Iran vs Israel


    Jakarta

    Beberapa aset kripto mengalami penguatan siang ini. Aset kripto ini menguat di tengah panasnya kondisi Timur Tengah, usai Iran menyerang Israel.

    Dikutip dari Coindesk, Senin (15/4/2025), Bitcoin berada pada level US$ 65.039,94 siang ini. Bitcoin menguat sebanyak 1,05% dalam 24 jam terakhir.

    Ethereum juga menguat sebanyak 2,47%. siang ini, Ethereum berada pada level US$ 3.140,25.


    Sementara, Tether turun 0,22% sepanjang 24 jam terakhir ke level US$ 1 dan BNB turun 0,40% ke level US$ 567,94. Solana naik 4,72% ke level US$ 148,44 pada siang ini.

    Berdasarkan data Coin Market Cap, Bitcoin naik 0,47% selama 24 jam terakhir. Siang ini, Bitcoin berada pada level Rp 1,046 milar.

    Ethreum juga naik sebanyak 1,89%. Siang ini, Ethereum ada di posisi Rp 50,536 juta.

    BNB dan Solana juga mengalami penguatan selama 24 jam terakhir. BNB menguat 0,33% ke level Rp 9,097 juta dan Solana menguat 4,08% ke level Rp 2,390 juta. Namun, Tether turun 0,79% ke level Rp 16.094.

    (acd/das)



    Sumber : finance.detik.com

  • Iran Kirim Rudal ke Israel, Harga Bitcoin Anjlok


    Jakarta

    Harga bitcoin anjlok dan kembali ke level US$ 60.000. Berdasarkan Coin Metrics, bitcoin turun hampir 4% pada level US$ 60.972,62 dan melanjutkan pelemahan ke level US$ 60.175.

    Aset kripto lain juga anjlok. Ethereum berada pada level US$ 2.449, atau turun lebih dari 5%.

    Ketegangan di Timur Tengah mengurangi minat investor. Pada hari Selasa, Iran melancarkan serangan rudal balistik ke Israel sebagai pembalasan atas pembunuhan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dan seorang komandan Iran di Lebanon baru-baru ini.


    “Meningkatnya kerusuhan di Timur Tengah telah mendorong harga minyak naik dan memperkuat penguatan dolar, membayangi bitcoin dan investasi spekulatif lainnya,” kata Chief Operating Officer dan Co-founder Bitcoin IRA, Chris Kline dikutip dari CNBC, Rabu (2/10/2024).

    Berbeda dengan kinerja bitcoin September, pada bulan ini tampak seperti roller coaster yang dipengaruhi oleh efek halving musim semi lalu yang tertunda, dan pemilu di Amerika Serikat (AS).

    “Sementara itu, tarik-menarik moneter global sedang terjadi ketika berbagai bank sentral memangkas suku bunga dan memperluas pasokan uang mereka,” katanya.

    Selain itu, investor juga memantau pemogokan yang dilakukan oleh anggota International Longshoremen’s Association yang dapat berdampak pada perekonomian AS, tergantung pada berapa lama pemogokan tersebut berlangsung.

    Simak: Video: Detik-detik Rudal Iran Hantam Tel Aviv Israel, Sirene Meraung

    [Gambas:Video 20detik]

    (acd/das)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Ambruk Usai Israel Serang Iran


    Jakarta

    Pasar kripto anjlok. Harga Bitcoin turun di bawah US$ 105.000 di tengah memanasnya ketegangan geopolitik dan likuidasi besar-besaran di pasar derivatif dan spot,

    Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai hal tersebut memberikan tekanan negatif yang luas bagi pasar kripto. Antony menilai penurunan terjadi saat serangan Israel terhadap Iran tengah menjadi pusat perhatian. Hal inilah yang mendorong para investor lebih memilih untuk mencari instrumen yang lebih aman dan menjauh dari risiko.

    Berdasarkan data Coinglass, likuidasi mencapai US$1,148 juta, saat berita ini ditulis. Volume perdagangan Bitcoin juga mencapai US$369 miliar. Sementara total kapitalisasi pasar kripto turun 3,38%. Ethereum (ETH) turun 9,5%, XRP turun 5,71%, dan Solana (SOL) turun 10,16%.


    Penurunan tersebut memberi sinyal lebih hati-hati bagi pasar, apalagi saat pergerakan saat ini tampak mirip dengan yang terjadi pada Januari 2025.

    IIni memang sebuah proses yang normal dan masih sehat di tengah uptrend yang tengah terjadi. Investor tengah melakukan proses pengambilan reposition, sambil menunggu momentum yang lebih matang untuk melangkah lebih jauh,” ujar Antony dalam keterangannya, Jumat (13/6/2025).

    Antony juga melihat bahwa proses likuidasi massal saat ini bukan sebuah sinyal negatif yang harus ditakuti. Menurut dia, hal itu justru sebuah pembersihan leverage yang memang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasar.

    Antony menekankan bahwa investor yang mampu menjaga visi jangka panjang dan mampu melakukan pembelian saat terjadi kepanikan justru dapat memperoleh peluang yang lebih besar.

    “Ini seperti proses detoksifikasi. Pasar tengah membersihkan posisi yang dianggap overleveraged sehingga nantinya pergerakan lebih sehat dan lebih matang saat terjadi rebound. Ketidakpastian memang selalu menjadi tantangan, tapi juga peluang, jika kita mampu belajar dan menjaga mental yang matang saat terjadi gejolak di pasar,” tambah Antony

    Lebih lanjut, proses likuidasi juga terjadi seiring proses adopsi yang terus meluas dan perbaikan aspek teknologi yang tengah terjadi di ekosistem kripto. Selain tekanan dari likuidasi dan pola pergerakan yang serupa, Bitcoin juga tengah terhimpit oleh kondisi makroekonomi, yaitu peluang penurunan suku bunga The Fed yang kian menipis.

    The FedWatch tool mencatat bahwa probabilitas untuk terjadi penurunan suku bunga saat pertemuan FOMC 18 Juni 2025 mencapai 0%. Investor tengah meletakkan probabilitas lebih besar (99,8%) bahwa The Fed akan menahan tingkat bunga saat pertemuan tersebut.

    Selain Fed dan inflasi, investor juga tengah mencermati rilis data Producer Price Index (PPI) AS pada 12 Juni 2025. Indeks harga konsumen (CPI) AS tercatat 2,4%. Rilis data PPI tersebut juga berpotensi menambah tekanan negatif bagi pergerakan Bitcoin.

    Antony juga mengimbau investor untuk belajar lebih mandiri, melakukan riset, dan memahami instrumen yang dibelinya, bukan hanya berdasarkan rumor atau pergerakan sesaat.

    “Ini saatnya melakukan due diligence, mencari peluang yang sesuai dengan visi dan toleransi risiko masing-masing, sehingga dapat mencapai tujuan investasi yang lebih matang dan maksimal,” tambah Antony.

    Antony juga menekankan bahwa penurunan saat ini bukan sebuah kiamat. Dia menilai kondisi ini menjadi proses penting yang harus dilalui sebelum momentum positif selanjutnya tiba.

    “Ini adalah proses yang harus dibarengi dengan kesabaran, kedewasaan, dan visi jangka panjang. Dengan memahami apa yang terjadi dan belajar darinya, para investor dapat lebih siap dan lebih unggul di tengah tantangan yang tengah terjadi di pasar kripto saat ini,” jelas dia.

    Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

    (rea/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Imbas Gejolak Timur Tengah, Bitcoin Diklaim Jadi Incaran Ketimbang Emas


    Jakarta

    Kripto diklaim menjadi target investasi di tengah situasi panas timur tengah yang mempengaruhi ekonomi dunia. Salah satunya adalah Bitcoin.

    Vice President INDODAX, Antony Kusuma mengatakan di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Iran dan Israel serta kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve (The Fed), Bitcoin tetap bertahan di level US$ 104.000.

    Sementara itu, harga emas global justru tergelincir 2,5% dari harga US$ 3.420 pada 13 Juni 2025 turun ke US$ 3.335 pada 20 Juni 2025, setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga tinggi dan memperlambat laju pemangkasan dalam beberapa tahun ke depan.


    “Bitcoin (BTC) mencatat harga penutupan di kisaran US$ 104.000 dalam beberapa hari terakhir, bahkan saat indeks saham global seperti Nasdaq mengalami tekanan dan inflasi kembali menjadi kekhawatiran utama. Ketegangan meningkat setelah mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan mendukung rencana serangan ke fasilitas nuklir Iran, meskipun belum mengeluarkan keputusan final,” terangnya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/6/2025).

    Antony menyebut, pelaku pasar cenderung mencari aset alternatif yang mampu bertahan dari tekanan makro. Namun yang mengejutkan, harga emas yang selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai justru melemah.

    Hal ini terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50% dan memberi sinyal bahwa penurunan suku bunga akan dilakukan secara bertahap hingga 2027, tergantung perkembangan data ekonomi dan inflasi.

    Menurut dia, ketahanan Bitcoin dalam situasi penuh tekanan ini menunjukkan transformasi besar dalam pola pikir investor global terhadap aset digital.

    “Ini bukan sekadar soal harga. Ini tentang bagaimana pasar global kini mulai menempatkan Bitcoin sebagai salah satu poros dalam peta strategi aset dunia. Ketika bank sentral semakin bersikap ketat dan geopolitik makin tidak pasti, investor mencari instrumen yang netral secara politik, terbuka, dan tidak bisa dimanipulasi. Bitcoin menjawab semua itu,” ujar Antony.

    Ia menambahkan bahwa tren investasi terhadap Bitcoin kini mulai menunjukkan pendekatan yang lebih matang.

    “Kami melihat adanya peningkatan minat dari investor, termasuk sebagian institusi, yang tidak lagi hanya melihat Bitcoin sebagai instrumen spekulatif, tetapi juga sebagai alternatif lindung nilai di tengah ketidakpastian global,” jelasnya.

    Antony menekankan bahwa harga Bitcoin tetap bisa dipengaruhi oleh sentimen pasar yang muncul akibat kebijakan moneter global atau ketegangan geopolitik.

    “Namun, berbeda dengan mata uang fiat yang peredarannya bisa ditambah sesuai keputusan bank sentral, suplai Bitcoin bersifat tetap, sehingga memberi nilai protektif terhadap inflasi jangka panjang,” tambahnya.

    Kondisi saat ini memperlihatkan realita bahwa instrumen-instrumen tradisional seperti emas bisa tertekan oleh kebijakan suku bunga, sementara Bitcoin justru mampu menunjukkan ketahanan dalam tekanan yang sama.

    (hns/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Terjun Bebas, Investor Takut Konflik Iran Vs Israel Meluas


    Jakarta

    Harga Bitcoin terjun bebas selama akhir pekan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Di sisi lain, investor juga mengamati soal kekhawatiran inflasi yang baru-baru ini memicu aksi jual tajam di seluruh aset digital.

    Melansir CNBC, Senin (23/6/2025), harga Bitcoin sempat turun di bawah angka US$ 99.000 pada hari Minggu. Ini menjadi level terendah selama lebih dari sebulan.

    Aksi jual tampaknya terjadi di tengah guncangan geopolitik. Perang Iran dan Israel seperti diketahui tiba-tiba menjadi meluas setelah Amerika Serikat (AS) ikut menyerang Iran dan memperluas potensi ekskalasi.


    Iran bahkan dilaporkan mengancam akan memblokir Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran penting bagi 20% pasokan minyak global.

    JPMorgan sempat mengingatkan bahwa penutupan penuh Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak setinggi US$ 130 per barel. Imbasnya, lonjakan seperti itu dapat mengembalikan inflasi AS ke 5% dan membuat Fed bakal aktif menaikkan suku bunga.

    Prospek semacam ini membuat para investor menilai sudah saatnya kembali jalur suku bunga dan memegang mata uang Dolar daripada bertaruh pada aset spekulatif seperti kripto.

    Simak juga Video: Iran Vs Israel: Dulu Kawan, Sekarang Lawan

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • AS Ikut Serang Iran, Bitcoin Rontok


    Jakarta

    Harga Bitcoin melanjutkan tren penurunan setelah terkoreksi dan sempat jatuh di bawah level psikologis US$ 99.000. Penurunan ini terjadi imbas meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) campur tangan dalam perang Israel dan Iran.

    Indodax sendiri mencatat, koreksi Bitcoin ini menandai level terendah Bitcoin sejak 9 Mei 2025. Ambruknya harga bitcoin juga memicu penurunan di pasar aset digital secara global.

    Mata uang kripto terbesar kedua Ethereum, tercatat mengalami penurunan signifikan lebih dari 10% sebelum pulih sebagian. Sementara altcoin seperti Solana, XRP, dan Dogecoin mengalami penurunan.


    Solana tercatat turun lebih dari 7%, XRP turun lebih dari 8%, dan Dogecoin turun lebih dari 9%. Menurut data dari CoinGlass, lebih dari US$ 1 miliar posisi kripto terlikuidasi dalam 24 jam terakhir, sebagian besar berasal dari posisi long yang terlalu berisiko.

    Vice President INDODAX Antony Kusuma menyebut, kondisi ini menunjukan rapuhnya pasar ketika gejolak geopolitik memanas. Menurutnya, pelemahan harga Bitcoin bukan semata karena faktor teknikal, melainkan juga sentimen risiko makro yang semakin kuat.

    “Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap berita geopolitik yang menimbulkan ketidakpastian. Respons pasar terhadap serangan AS ke Iran menunjukan bahwa Bitcoin, meski kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetap dipandang sebagai aset berisiko oleh sebagian investor,” jelas Antony dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/6/2025).

    Antony menjelaskan, pelaku pasar kripto mulai mengurangi perhatiannya terhadap aset kripto sejak kabar awal meletusnya perang di Timur Tengah. Hal ini tercermin dari menurunnya arus masuk ke ETF spot Bitcoin secara signifikan menjelang akhir pekan.

    Arus masuk ke ETF spot Bitcoin dari Senin hingga Rabu pekan lalu juga mencapai lebih dari US$ 1 miliar. Namun, pada Kamis tidak ada pergerakan transaksi. Kemudian pada Jumat, hanya tercatat US$ 6,4 juta.

    “Fenomena ini perlu menjadi catatan penting bagi investor retail. Mereka perlu memahami bahwa volatilitas tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari investasi di kripto. Namun, koreksi tajam seperti ini tidak selalu berarti ancaman. Justru, bagi investor berpengalaman, ini bisa menjadi kesempatan untuk masuk pada valuasi yang lebih menarik,” tuturnya.

    Selain sentimen perang Israel dan Iran, harga minyak juga disebut turut mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin. Diketahui, JPMorgan memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga US$130 per barel jika Iran menutup jalur Selat Hormuz.

    Kenaikan harga minyak dunia dikhawatirkan mendorong inflasi AS mendekati 5% kembali, yang akan mengubah arah kebijakan suku bunga The Fed. Kekhawatiran ini menyebabkan investor menarik dana dari aset berisiko tinggi seperti kripto dan memindahkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman.

    Akibatnya, pasar kripto mengalami tekanan jual. Sejak halving Bitcoin pada April 2024, pasar masih berada dalam tren siklus naik secara historis, 12 bulan hingga 18 bulan setelah halving. Antony juga memprediksi potensi harga Bitcoin untuk naik tetap terbuka.

    “Meskipun tekanan saat ini berat, fondasi fundamental Bitcoin masih sangat kuat, terutama dengan terbatasnya suplai dan semakin meningkatnya penerimaan institusi. Ini hanya bagian dari dinamika jangka pendek yang selalu hadir dalam siklus kripto,” jelasnya.

    Simak juga Video: Amerika Serikat Mengebom 3 Situs Nuklir Iran!

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Lompat ke Rp 1,5 M Usai AS Serang Venezuela


    Jakarta

    Harga bitcoin (BTC) menguat sejak konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela memanas pada Sabtu (3/1/2026). Saat ini harga BTC sendiri ada di level US$ 92.328 atau sekitar Rp 1,5 miliar (asumsi kurs Rp 16.750).

    Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, harga BTC menguat di 24 jam terakhir sebesar 0,8%. Kemudian sepanjang perdagangan sepekan terakhir, harga BTC bergerak menguat hingga 2,63%.

    Founder dan CEO TRIV Gabriel Rey, menyebut kenaikan harga BTC di tengah memanasnya konflik AS-Venezuela merupakan hal yang wajar. Pasalnya, hal serupa juga terjadi kala memanasnya perang Iran-Israel beberapa bulan lalu.


    “Kenaikan ini selalu terjadi ketika terjadi perang, mereka (investor) mencari aset yang dianggap aman untuk parkir uangnya. Ini sudah kejadian juga ketika kemarin Iran berperang dengan Israel, harga bitcoin naik juga,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Senin (5/1/2026).

    Secara historis, terang Gabriel, masyarakat Venezuela juga cenderung mengalihkan asetnya ke BTC di tengah terkoreksinya mata uang lokal. Menurutnya, kondisi mencerminkan kepercayaan publik terhadap BTC. Ia bahkan menyebut, harga BTC masih dapat naik hingga US$ 95.000.

    “Ketika terjadi devaluasi mata uang yang besar maka parkirnya kalau nggak ke emas, ya ke bitcoin untuk saat ini. Saya rasa untuk kita di atas US$ 90.000 sangat possible apalagi kita sempat turun US$ 80.000 dan cukup lama ranking di sini dan naik lagi ke US$ 90.000. Menurut saya kita akan sideways di sini antara US$ 90.000 sampai US$ 95.000 sampai terjadinya redcard oleh the Fed,” imbuhnya.

    Dihubungi terpisah, Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, mengatakan pergerakan positif harga BTC terjadi karena kembalinya optimisme pelaku pasar kripto. Hal ini terjadi karena siklus empat tahunan BTC yang berhasil dipatahkan pelaku pasar.

    “Saat ini kelihatannya memang muncul kembali optimisme dari para pelaku pasar, yang mana ada banyak perkiraan bahwa siklus empat tahunan bitcoin telah patah. Sehingga, muncul optimisme akan adanya potensi perpanjangan tren naik,” ungkap Christopher.

    Meski begitu, Christopher mengingatkan adanya ruang pelemahan harga BTC dalam waktu dekat. Pelemahan ini terjadi akibat dorongan aksi ambil untung di tengah meningkatnya harga BTC.

    “Menurut saya, tren secara sepenuhnya belum patah, sehingga masih ada peluang terjadi pelemahan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Terlebih lagi apabila pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga ini untuk mengambil untung ataupun minimal meminimalisasi kerugian yang sudah mereka tahan untuk beberapa waktu ini,” pungkasnya.

    Tonton juga video “Presiden Kuba Sebut 32 Rakyatnya Tewas Saat Maduro Ditangkap AS”

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Longsor ke Level Terendah Sejak 2025


    Jakarta

    Harga bitcoin anjlok ke level terendah sejak pengumuman tarif resiprokal tahun 2025 oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Turunnya nilai bitcoin terjadi seiring dengan runtuhnya reputasi pada koin kripto tersebut.

    Dilansir dari Financial Times, Senin (2/2/2026), harga bitcoin turun 7% pada hari Sabtu dan sempat menyentuh level terendah di US$ 76.503. Pada Minggu, pergerakannya relatif stabil di sekitar US$ 78.000, atau melemah sekitar 11% sejak awal tahun ini.

    Penurunan ini terjadi meskipun harga emas dan logam mulia lainnya justru reli kuat. Kini investor memilih mencari aset aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman tarif.


    Harga emas mencetak rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir, melonjak 23% hingga diperdagangkan di atas US$ 5.600 per troy ounce, meski sempat terkoreksi tajam pada Jumat ke sekitar US$ 4.800.

    Selama ini, pendukung kripto kerap menyebut bitcoin sebagai emas digital, versi virtual dari logam mulia, dan mengklaim aset kripto ini menjadi tempat berlindung saat kondisi penuh tekanan.

    Namun, Ilan Solot, senior global markets strategist di Marex Solutions, mengatakan bahwa bitcoin merupakan aset yang masih mencari model valuasi. Ia menambahkan bahwa tidak ada konsensus yang jelas mengenai faktor apa yang seharusnya mendorong harganya.

    Sementara itu, Pramol Dhawan, managing director di Pimco, menyebut narasi bitcoin sebagai emas digital telah lenyap. Bitcoin sempat mencetak rekor hampir US$ 125.000 pada akhir tahun lalu, didorong antusiasme investor terhadap langkah-langkah Presiden AS Donald Trump yang pro-kripto.

    Penunjukan regulator yang ramah industri, penghentian aksi penegakan hukum terhadap perusahaan kripto, serta pengesahan aturan stablecoin juga memberi sentimen positif terhadap bitcoin.

    Namun setelah itu, harga bitcoin terus merosot. Mata uang kripto lain seperti ethereum dan solana juga mengalami penurunan tajam dari level puncaknya tahun lalu.

    Ancaman tarif Trump, tuntutannya agar AS menguasai Greenland, serta meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Iran dan Venezuela telah mendorong investor beralih ke emas dan perak. Para pelaku pasar memperlakukan kripto sebagai aset yang lebih berisiko.

    Simak juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

    (acd/acd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Anjlok!


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di zona merah hingga Kamis (19/2) sore ini. Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, harga BTC melemah 1,95% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke level US$ 66.834 atau sekitar Rp 1,12 miliar (asumsi kurs Rp 16.910).

    Padahal sebelumnya, harga BTC sempat menguat level US$ 68.332 atau sekitar Rp 1,15 miliar. Melemahnya harga BTC disebut menjadi respons pelaku pasar terhadap risalah rapat Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS), yang dinilai lebih agresif dari ekspektasi pasar.

    “Nada minutes yang hawkish membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung ikut tertekan,” ujar Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulis. Kamis (19/2/2026).


    Sebagai informasi, dalam risalah rapat The Fed sejumlah pejabat gubernur The Fed menilai belum ada urgensi untuk memangkas suku bunga. Bahkan terdapat suara anggota yang menyarankan untuk menaikan suku nunga jika inflasi AS bertahan di atas 2%. Adapun The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% berdasarkan Federal Open Market Committee (FOMC).

    Selain risalah rapat The Fed, meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran disebut menjadi sentimen negatif terhadap harga BTC. Terlebih adanya kenaikan harga minyak lebih dari 4% imbas meningkatnya tensi kedua negara tersebut.

    Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia usai libur Tahun Baru Imlek juga membuat pergerakan harga lebih tajam. Peningkatan volume dan perputaran perdagangan dinilai memperbesar tekanan jual terhadap BTC terjadi dalam jangka pendek.

    “Ketika risiko geopolitik naik dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk-off. Itu biasanya membuat volatilitas kripto meningkat karena investor mengurangi eksposur,” jelasnya.

    Secara teknikal, Fyqieh menyebut BTC masih berada dalam fase konsolidasi di area krusial dengan zona support jangka pendek di level US$ 66.200 hingga US$ 67.800. Selama BTC dapat bertahan pada level tersebut, ia menilai potensi kenaikan harga masih tetap terbuka meski terbatas.

    “Jika mampu menembus level tersebut, harga berpotensi menguji area berikutnya di US$ 69.250 hingga US$ 70.800. Namun jika tekanan jual kembali meningkat dan support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap ada,” tutup Fyqieh.

    (ahi/hns)



    Sumber : finance.detik.com