Tag: korea selatan

  • Transaksi di Bursa Bitcoin Cs Korsel Lampaui Bursa Efek Nasional

    Kanal berita lokal Korea Selatan, Hankyung menyebutkan, jumlah transaksi di bursa aset kripto di Korsel melampaui jumlah transaksi di bursa efek nasional.

    Total transaksi gabungan empat bursa aset kripto terbesar di Korsel, yaitu Upbit, Bithumb, Coinone dan Kobit, bernilai US$14,6 milyar.

    Angka tersebut melampaui rata-rata transaksi harian Indeks KOSPI, indeks berbasis kapitalisasi pasar yang mencakup saham umum di Bursa Efek Korsel.

    Baca Juga: Investasi Aset Digital Cetak Rekor Tertinggi! Berikut Jumlahnya

    Transaksi di bursa kripto juga melebihi angka KOSDAQ (Korean Securities Dealers Automated Quotations), indeks yang meliputi seribu startup kelas menengah dengan tingkat risiko lebih tinggi dibanding KOSPI.

    Angka gabungan KOSPI dan KOSDAQ bernilai sekitar US$14,5 milyar dan US$10 milyar. Ada beberapa penyebab transaksi pasar aset kripto melebihi bursa efek nasional Korsel.

    Penjelasan paling nyata adalah peningkatan tersebut terjadi saat Bitcoin mencapai harga tertinggi US$61.883.

    Dari awal pandemi COVID-19, Maret 20201, hingga Oktober 2020, Federal Reserve AS menerbitkan dolar baru sebanyak 20 persen dari total suplai dolar AS sehingga memberi tekanan inflasi terhadap mata uang itu.

    Sebagai respons, banyak investor lari ke Bitcoin sebagai perlindungan terhadap inflasi, kendati berisiko tinggi.

    Hal itu mendorong harga Bitcoin ke wilayah baru dan menghasilkan transaksi tinggi di banyak bursa aset kripto, termasuk di Korsel yang juga tergolong masif.

    Baca Juga: MicroStrategy Borong Bitcoin Lagi, Rp215 Milyar!

    Laporan Hankyung menyatakan popularitas Bitcoin juga disebabkan permintaan di tingkat institusi melalui perusahaan seperti Grayscale, yang kini mengelola aset lebih dari US$44 milyar, serta perkembangan industri lain, seperti Bitcoin ETF yang didirikan di Kanada.

    Terlepas dari apa yang terjadi di Amerika Utara, kondisi yang mendukung peningkatan minat terhadap Bitcoin telah lama hadir di Korsel.

    Paket stimulus tahun lalu menyibak pemerintah Korsel fokus ke kampanye digital yang menyasar penambahan nilai terhadap teknologi baru, termasuk blockchain.

    Pada Januari 2022 lalu, “Kimchi Premium”, fenomena di mana harga aset kripto lebih tinggi di bursa kripto Korsel, mengindikasikan sentimen investor terhadap Bitcoin sudah mulai positif.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korsel Ujicoba Penerbitan dan Transaksi Won Digital pada Tahun Depan

    Bank Sentral Korea Selatan (Korsel) siap mengujicoba penerbitan dan transaksi won digital pada tahun depan. Langkah itu adalah lanjutan, setelah bulan lalu membentuk Dewan Penasihat Hukum.

    Baca Juga: Inilah Strategi Veteran Bitcoin Yang Menghasilkan Keuntungan $ 10 Miliar

    “Ujicoba itu akan serupa dengan proses peredaran uang kertas,” kata seorang pejabat Bank Sentral Korsel, dilansir oleh media lokal, KoreaHerald, 7 Oktober 2020.

    Bank sentral mengatakan langkah terkait tidak dimaksudkan untuk mempersiapkan penerbitan won digital yang sebenarnya, tetapi bank membuat persiapan yang diperlukan untuk berjaga-jaga.

    Sejumlah bank sentral di banyak negara mempercepat penelitian mereka tentang mata uang digital (CBDC) untuk mengantisipasi penurunan permintaan uang tunai (fisik/giral) dan munculnya aset kripto alias mata uang kripto oleh sektor swasta.

    Bank sentral Tiongkok tampak lebih agresif dalam mempersiapkan penerbitan CBDC. Negeri Panda itu telah meneliti dan mengembangkan yuan digital sejak tahun 2014 dan mulai mengujicoba sejak medio tahun 2020. Mereka juga berencana mengujicoba lebih luas pada Olimpiade mendatang.

    CBDC adalah wujud digital uang dan mata uang yang fisik. Kelak akan melengkapi dan menggantikan 10 persen uang giral itu, selayaknya uang elektronik yang masif sejak beberapa tahun terakhir.

    CBDC yang sebagian besar berteknologi blockchain ataupun distributed ledger technology memastikan efisiensi dari segi waktu, biaya dan jangkauan mata uang, sebagaimana yang terjadi pada stablecoin USDT yang bernilai dolar.

    Baca Juga: Kembangkan Teknologi Blockchain, Agen CIA Bisa Dapat Cuan



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • K-pop Membantah Tuduhan Laporan Penipuan Crypto

    Jelajahcoin.com – Seorang impresario K-pop yang juga mengepalai badan amal yang berafiliasi dengan PBB membantah tuduhan yang mengaitkannya dengan kampanye penipuan crypto. Yang diduga membuatnya menargetkan beberapa bintang terbesar dalam hiburan Korea Selatan.

    Lee Wook adalah kepala W Foundation, sebuah badan amal yang selaras dengan badan perubahan iklim PBB. Yayasan ini sebelumnya meminta bantuan sejumlah musisi K-pop dalam kegiatan penggalangan dana. Lee juga mengepalai Hooxi Creative, agensi bakat dengan sejumlah aktor dan bintang musik terkenal di buku-bukunya. Dan terkenal mengencani penyanyi solo wanita K-pop Ben.

    Namun, laporan media baru-baru ini di Korea Selatan mengaitkannya dengan penipuan penipuan crypto. Di mana ia diduga meyakinkan anggota agensinya sendiri dan bintang K-pop top-chart lainnya untuk melakukan investasi dalam pakaian crypto palsu atau merugi.

    Baca Juga: Korea Selatan: Industri Blockchain Sebagai Peluang Emas

    Laporan media menyatakan Lee telah menipu anggota boy band Super Junior karena kekurangan dana. Serta penyanyi dan kepribadian TV Kangnam, menurut SBS eFun. YouTuber terkemuka dengan lebih dari satu juta pelanggan juga disebut sebagai korban.

    Namun, Lee membantah laporan itu, dengan tim hukum perusahaannya mengatakan kepada outlet media YTN Star bahwa tuduhan itu “tidak berdasar”. Tim hukum Hooxi Creative menyatakan bahwa outlet media yang tidak disebutkan namanya telah dilaporkan kepada pengawas media Korea Selatan. Dan polisi belum mengeluarkan pernyataan.

    Lee dianggap memiliki minat terkait blockchain. Dia diduga memelopori inisiatif W Green Pay (WGP) – platform pembayaran bertenaga blockchain yang bertujuan memerangi emisi gas rumah kaca, pada tahun 2018. Pada tanggal 20 April, Market News menerbitkan laporan “eksklusif” yang mengklaim memiliki bukti bahwa Lee telah menggunakan pengaruhnya di dunia hiburan untuk menjual token kepada selebriti.

    Laporan tersebut menambahkan bahwa Lee telah menjual sahamnya dalam inisiatif WGP. Dan investor tidak mungkin untuk memulihkan dana mereka, dengan kemungkinan bahwa “korban lebih lanjut” akan menjadi target di masa depan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korea Selatan: Industri Blockchain Sebagai Peluang Emas

    Industri terkait blockchain disebut sebagai peluang emas oleh Kun Yun-cheol, Wakil Menteri Kedua, Kementerian Strategi & Keuangan Republik Korea. Hal ini diungkapkannya pada sebuah acara konferensi blockchain di Korea Selatan pada 17 April 2020.

    Di mana, acara tersebut dihadiri oleh organisasi dan para ahli. Ia juga turut mendorong sektor swasta di sana untuk mendukung industri Blockchain di Korea Selatan. Selain itu, dari sisi pemerintah Korea juga merencanakan sejumlah proyek terkait blockchain dalam anggaran negara untuk tahun depan.

    Pada konferensi yang dihelat pada 17 April 2020 di Korea Selatan, ia mengatakan:

    “Ukuran atau besaran industri yang terkait blockchain diprediksi akan bertumbuh lebih dari 80% rata-rata per tahunnya, dan sangat kompetitif mendukung keterlibatan negara asing pada sektor blockchain di Korea Selatan, sebagai teknologi yang menjanjikan di masa depan.”

    Baca Juga: BREAKING NEWS: Bitcoin Legal di Korea Selatan!

    Oleh sebab itu, ia juga melihat harus adanya peran yang lebih aktif lagi dari pemerintah Korea Selatan terkait industri yang terkait blockchain, hal ini berguna untuk menciptakan ekosistem yang baik di awal. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan proyek uji coba blockchain yang menyasar kepada publik, di mana proyek uji coba blockchain yang dikembangkan tersebut berdasarkan permintaan dari pasar, dan berlanjut hingga proyek blockchain tersebut jadi. Selain itu, sistem yang ada saat ini juga perlu ditata ulang.

    Sebab, bila tidak ada revisi sistem dan lain sebagainya, berimbas terhadap perkembangan teknologi blockchain di Korea Selatan. Soalnya, saat ini adopsi blockchain di Korea Selatan sedang meningkat dan tidak terlalu tertinggal jauh dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Sehingga momentum saat ini diyakini oleh Kun Yun-cheol, menjadi peluang emas untuk mengejar ketertinggalan penggunaan teknologi blockchain dengan negara-negara tersebut.

    Di saat konferensi blockchain tersebut, Kun Yun-cheol juga, meminta pendapat dari berbagai pihak tentang bagaimana cara pemerintah agar bisa membantu perkembangan teknologi blockchain di Korea Selatan.

    Walaupun banyak kalangan di dunia bisnis dan keuangan, yang selalu mengkritik cryptocurrency, namun tidak halnya dengan teknologi blockchain yang semakin mendapat tempat di hati para pelaku pengusaha di seluruh dunia. Kini, tercatat di tengah-tengah pandemi Covid-19, adanya lonjakan penggunaan teknologi blockchain seperti untuk melacak rantai pasokan makanan, dan kebutuhan farmasi.

    Dan, paling terbaru blockchain digunakan sebagai aplikasi web open-source untuk CoronaTracker, sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh tim pengembang dan juga dokter. Aplikasi CoronaTracker baru saja diluncurkan pada 17 April 2020.

    Aplikasi ini berguna bagi mereka yang terinfeksi Covid-19, untuk melacak gejala melalui survei kesehatan yang terdapat di dalam aplikasi tersebut. Yang mana, para pengguna bisa berbagi data dengan  tim medis (dokter).  Untuk keamanan data aplikasi ini dinilai sangat aman, sebab, data yang disimpan oleh dokter dan pasien tidak dapat diubah dan diretas. Karena sistem keamanan pada aplikasi CoronaTracker sudah didukung oleh sistem silo.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korea Selatan Pakai ID Digital Blockchain untuk Ganti KTP Fisik

    Korea Selatan (Korsel) semakin dalam untuk adopsi teknologi blockchain. Terbaru, warga korsel nantinya bakal menggunakan identitas (ID) digital berbasis blockchain dan menggantikan kartu tanda penduduk (KTP) fisik.

    Pemerintah Negeri ginseng itu dilaporkan siap mengganti KTP bentuk fisik dengan ID digital berbasis blockchain pada 2024. Nantinya ID digital tersebut akan berada di dalam aplikasi perangkat seluler. Fungsinya dipastikan masih sama dengan fungsi KTP berbentuk fisik.

    ID digital berbasis blockchain ditargetkan akan diluncurkan pada 2024. Sebanyak 45 juta warga negara Korsel akan didorong secara bertahap untuk mengadopsinya dalam kurun waktu dua tahun.

    Ilustrasi blockhain di web3.
    Ilustrasi blockhain di web3.

    Baca juga: Kenal Blockchain Aptos, Pesaing Kuat Solana dari Mantan Karyawan Meta

    Simpel dan Aman

    Dibandingkan dengan KTP fisik, ID digital ini tergolong lebih simpel dan aman. ID bisa digunakan untuk sektor keuangan, kesehatan, pajak, hingga transportasi. Direktur Jenderal Biro Digital Korea Selatan, Suh Bo Ram, menambahkan, teknologi tersebut dapat membantu perusahaan yang belum sepenuhnya melakukan transisi digital.

    Menurut Suh, pemerintah Korsel juga akan mengadopsi sistem identitas terdesentralisasi. Artinya, pemerintah tidak dapat mengakses informasi yang tersimpan di ponsel penduduknya, termasuk informasi tentang ID digital mereka.

    ilustrasi blockhain di web3
    Ilustrasi blockhain di web3.

    Baca juga: Daftar Pemenang Ballon d’Or yang Dapat NFT Beserta Pialanya

    Data Terdesentralisasi

    Dikutip Cointelegraph, meski bersifat terdesentralisasi, sistem manajemen ID tersebut nantinya masih memerlukan persetujuan otoritas dan perusahaan.

    “Jika otoritas tidak memvalidasi ID blockchain, maka ID tersebut tidak dapat digunakan untuk memanfaatkan layanan publik. Ini menurut saya adalah batasan terbesar,” ujar Penasihat Blockchain dan CEO Bundlesbets.com, Brenda Gentry.

    Korsel sudah memanfaatkan solusi berbasis teknologi blockchain sejak lama. Pada Agustus 2020, lebih dari satu juta warga Korsel telah mengadopsi SIM berbasis blockchain yang beroperasi melalui aplikasi smartphone, PASS.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pemerintah Korea Selatan Gelontorkan Rp 1,6 Triliun Bangun Metaverse

    Pemerintah Korea Selatan tampaknya serius untuk memasuki dunia virtual atau metaverse. Kabar terbaru, mereka mengalokasikan dana sebesar 223,7 miliar won (Rp 1,6 triliun) untuk mewujudkan metaverse sebagai benua digital yang belum dipetakan dengan potensi tidak terbatas.

    Dilaporkan oleh CNBC, Menteri Sains dan ICT Korea Selatan, Lim Hyesook, mengatakan negaranya berencana untuk memulai industri metaverse dengan mendukung perusahaan teknologi yang ingin berpartisipasi mengembangkannya dan menciptakan lapangan kerja.

    Investasi Korea Selatan sekitar Rp 1,6 triliun adalah salah satu investasi pertama dalam industri metaverse yang dibuat oleh pemerintah nasional dan merupakan langkah pertama dibanding negara lainnya.

    Sampai saat ini, belum ada pemerintahan manapun yang secara resmi mengalokasikan dana untuk membangun dunia metaverse. Seiring berjalannya waktu, pmerintah Korea Selatan yakin metaverse dapat mendukung sektor usaha yang pada akhirnya mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

    Di tingkat kota, pemerintah kota Seoul sedang membangun platform metaverse senilai 3,9 miliar won untuk memungkinkan warga mengakses layanan publik secara virtual. Itu semua cocok dengan konsep Web3, virtual reality (VR), augmented reality (AR) dan teknologi blockchain, serta aset digital seperti aset kripto dan non-fungible token (NFT).

    ilustrasi metaverse
    Ilustrasi metaverse.

    Baca juga: Ketika NFT Masuk ke Ranah Politik di Korea Selatan

    Masa Depan Metaverse di Asia

    Langkah pemerintah Korea Selatan menandakan minat pada teknologi metaverse yang dapat menjadi pusat perhatian di tahun-tahun mendatang. Dan itu dapat memberikan cetak biru untuk diikuti oleh negara lain.

    “Ini menarik, ini didominasi oleh sektor swasta dan inisiatif serta tren yang didorong oleh Big Tech. Pemerintah di luar Korea Selatan belum melakukan banyak hal,” Yugal Joshi, salah seorang mitra di firma riset Everest Group, mengatakan kepada CNBC.

    Joshi yakin langkah pemerintah Korea Selatan akan membuat negara lain mulai menganggap ini lebih serius karena metaverse bisa menjadi platform tempat orang berkumpul. “Apa pun yang membuat orang berkumpul, itu membuat pemerintah tertarik.”

    Joshi mengatakan bahwa di China, raksasa teknologi seperti Tencent dan Alibaba telah menunjukkan minat yang besar untuk mengembangkan produk metaverse, dengan yang terakhir baru-baru ini berinvestasi dalam startup pengembang kacamata AR.

    gambaran bermain di metaverse
    Ilustrasi Metaverse.

    Baca juga: Ketika Lembaga Pemerintahan Indonesia Melirik Pengembangan Metaverse

    Dia menambahkan bahwa aktivitas metaverse di Asia, sama seperti bagian dunia lainnya, masih dalam tahap awal, karena perusahaan menginvestasikan waktu dan uang untuk menemukan aplikasi yang bisa berjalan dengan baik dan menguntungkan.

    Di samping itu soal regulasi juga menjadi penting, bagaimana teknologi metaverse akan menyatu dengan peraturan yang ada. Itu adalah di antara banyak pertanyaan yang harus dihadapi oleh pemerintah dan pembuat kebijakan di tahun-tahun mendatang.

    Misalnya, NFT, komponen penting dari banyak perkembangan metaverse, tetap berada di wilayah abu-abu hukum di Korea Selatan dan tidak tunduk pada aturan yang sama dengan aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Terra LUNA Korsel Mencapai 280 Ribu Orang

    Investor Terra LUNA Korea Selatan diperkirakan mencapai 280 ribu orang dengan total kepemilikan 70 miliar LUNA. Sejauh ini baru sekitar 5 orang melaporkan lewat kantor pengacara LKB & Partners.

    Hal itu ditulis dalam tajuk rencana (editorial) kantor berita Korsel, Yon Hap, Kamis (19/5/2022), berdasarkan catatan Financial Services Commission (FSC). Komisi ini setara dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia.

    Tajuk rencana sebuah media mencerminkan keluasan dan dampak sebuah peristiwa terhadap publik. Dalam hal ini kasus Terra LUNA sejatinya merugikan jutaan warga di banyak negara, termasuk di Korea Selatan sendiri, karena harga kripto itu sempat masuk ke titik nol beberapa hari lalu.

    “Otoritas keuangan Korea Selatan mengatakan ada sekitar 280.000 investor lokal, diyakini memegang sekitar 70 miliar LUNA,” sebut media itu, ditulis oleh Kim Han-joo.

    Salah satu puncak kekisruhan parah ini adalah ketika hari ini Kantor Pengacara ternama, LKB & Partners atas nama sejumlah klien mereka, melaporkan Do Kwon dan Daniel Shin dan Perusahaan yang didirikannya, Terraform Labs, kepada Kantor Kejaksaan Distrik Selatan di Seoul.

    Baca juga: Jadi, Crypto Halal atau Haram? Ketahui Selengkapnya Berikut!

    Investor Terra LUNA Korsel Rugi US$1,1 Juta

    Menurut juru bicara tim pengacara, sejauh ini mereka mewakili 5 orang investor Terra LUNA dengan total kerugian mencapai 1,4 miliar won ($ 1,1 juta). Para korban menduga para tergugat melakukan penipuan dan melanggar undang-undang tentang penggalangan dana (crowdfunding). Bahkan pengacara mengakui ada investor dari negara lain, seperti Amerika Serikat dan Italia.

    “Do Kwon dan rekan pendiri Terraform Labs lainnya memberikan informasi tak benar tentang kesalahan algoritma di LUNA dan UST yang berdampak pada jatuhnya harga. Bahkan perusahaan terlibat dalam skema investasi yang menjanjikan keuntungan hingga 19,4 persen per tahun. Kami dan klien kami menilai itu sebagai bentuk penipuan,” kata kantor pengacara itu dalam siaran pers.

    Do Kwon mendirikan Terraform Labs bersama Daniel Shin (pendiri TMON) pada tahun 2018 di Korea Selatan dan punya entitas serupa di Singapura, termasuk Luna Foundation Guard (LFG).

    Baca juga: Bos Penerbit USDC: Kami Sudah Ramalkan Keruntuhan Terra LUNA dan UST

    Beberapa hari lalu beredar dokumen yang tampk asli yang disebut-sebut sebagai bukti bahwa Terraform Labs sudah membubarkan diri pada 30 April 2022 lalu, berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham. Pada awal Mei 2022, pihak Pengadilan Tinggi di Seoul sudah mengesahkannya pembubaran itu.

    Sebelumnya, seorang pria di Seoul menyerahkan diri kepada polisi. Ia mengaku dirinyalah yang datang ke rumah Do Kwon dan bertanya kepada istrinya di mana Do Kwon berada. Ia juga sempat menyatroni rumah itu sehari sesudahnya. Dia mengaku adalah investor LUNA yang rugi setara puluhan miliar rupiah.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ketika NFT Masuk ke Ranah Politik di Korea Selatan

    Yoon Suk-yeol telah resmi terpilih sebagai Presiden Korea Selatan berikutnya. Sosok Suk-yeol menjadi perhatian dunia, karena sebelumnya punya cara unik kampanye yang modern.

    Presiden Korea Selatan terpilih, Yoon Suk-yeol sempat mencetak gambar dan video NFT untuk merayu pemilih muda. Dalam upaya untuk memenangkan pemilihan, Suk-Yeol meluncurkan NFT yang menampilkan gambar dan videonya dan telah mencetak 4.000 token.

    Menurut laporan Coingape, Suk-yeol telah mencetak sekitar 4.000 NFT di blockchain AERGO, sementara dia berencana untuk menerbikan 20.000 lagi. NFT tersebut tersedia untuk dijual dengan harga 50.000 won Korea (sekitar Rp 581.949).

    Kandidat Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung (kiri) dan Yoon Suk-yeol (kanan). Foto: Blockworks.

    Kandidat Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung (kiri) dan Yoon Suk-yeol (kanan). Foto: Blockworks.

    Baca juga: Elon Musk Ungkap Alasan Tak Jual Bitcoin, ETH dan Dogecoin saat Inflasi

    Bukan yang Pertama

    Suk-yeol bukanlah yang pertama dalam perlombaan untuk merayu pemilih muda dengan NFT. Kandidat Partai Demokrat saingannya, Lee Jae-myung, juga telah menerbitkan NFT-nya ke para pendana kampanyenya. Dilaporkan bahwa NFts, Jae-myung mencetak fotonya dan salinan kebijakannya sebagai NFT.

    Tidak hanya itum, Jae-myung juga membuka donasi dalam bentuk aset kripto sebagai sumbangan politik. Selain Bitcoin (BTC), pendukung juga dapat memberikan donasi dalam Ethereum (ETH), PayProtocol Paycoin (PCI) dan beberapa kripto lainnya. Sebagai gantinya, pemberi donasi akan menerima NFT.

    Ilustrasi Korea Selatan dan Metaverse. Foto: Totalkrypto.

    Ilustrasi Korea Selatan dan Metaverse. Foto: Totalkrypto.

    Taruhan Korea Selatan pada Kripto

    Patut dipuji bahwa kandidat Presiden Korea Selatan telah melibatkan aset kripto dan NFT dalam proses demokrasi di negara tersebut. Ini memberikan petunjuk bahwa Korea Selatan berencana untuk menjadi pemain kunci dalam ekosistem metaverse.

    Namun, Korea Selatan belum mengesahkan undang-undang khusus blockchain sampai sekarang. Di sisi lain, dilaporkan, ada 14 RUU terkait kripto yang beredar di legislatif.

    Ini adalah berita positif juga bagi para penggemar kripto karena invasi Rusia ke Ukraina telah membuat pasar berdarah dan masih tidak stabil.

    Baca juga: Korea Selatan Investasikan Rp 2,6 Triliun Ambisi Jadi Raja Metaverse



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korea Selatan Investasikan Rp 2,6 Triliun Ambisi Jadi Raja Metaverse

    Pemerintah Korea Selatan akan menyediakan dana sebesar $ 186,7 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun untuk merangsang pertumbuhan platform Metaverse yang diharapkan akan membuat bisnis dan industri di Negeri Ginseng itu akan berkembang. Dana ini akan digelontorkan melalui Kementerian TIK, Sains, dan Perencanaan Masa Depan Korea Selatan.

    Dalam sebuah pernyataan resmi pemerintah Korea Selatan pada hari Minggu (28/2), dijelaksan dana akan dihabiskan untuk menyelesaikan empat tujuan utama dalam menciptakan ekosistem Metaverse dengan nama “Expanded Virtual World.” Ekosistem tersebut akan menjadi platform untuk memperluas pertumbuhan industri kota virtual, pendidikan dan media.

    Ilustrasi Metaverse.

    Ilustrasi Metaverse.

    Baca juga: Ukraina Terima Donasi Bitcoin dan Ethereum Capai Rp 530 M di Tengah Perang

    Konten kreator akan menjadi target yang diuntungkan dengan dukungan investasi ini. Mereka bakal menikmati dukungan di berbagai bidang untuk menarik bakat yang tepat guna membantu membangun platform. Pemerintah Korea Selatan mengatakan bahwa ekosistem itu akan menjadi tuan rumah kegiatan kreatif berorientasi komunitas, kontes pengembang Metaverse dan hackathon.

    Sektor swasta di Korea Selatan Sudah Kembangkan Metaverse

    Simon Kim, CEO Hashed, perusahaan blockchain asal Korea Selatan melihat platform Metaverse baru akan memiliki fokus khusus untuk meningkatkan ekspansi komersial dengan memberikan dukungan keuangan bagi para konten kreator.

    Lebih lanjut, Kim mengatakan saat ini sektor swasta sudah secara aktif berinvestasi di pasar Metaverse. Salah satunya Hashed yang telah berinvestasi dalam proyek Metaverse seperti Decentraland dan The Sandbox.

    “Ini masalah regulasi yang harus lebih diperhatikan pemerintah. Di Korea, penerbitan game NFT dilarang, dan penerbitan token juga dilarang.” kata Kim dilansir Cointelegraph.

    Metaverse Bisa Bermutu Baik, Jika Digital Ownership Lewat Kripto Kian Nyata

    Ilustrasi Metaverse.

    Baca juga: Cermat Pilih Aset Kripto Lokal yang Tepat, Jangan Mudah Ikut Hype

    Sementara, Park Yungyu, Kepala Departemen Komunikasi dan Kebijakan di kementerian, menyatakan dalam pengumuman bahwa inisiatif untuk membangun platform Metaverse ini adalah bagian dari “Digital New Deal” yang lebih luas di Korea Selatan.

    Digital New Deal adalah serangkaian kebijakan yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan teknologi digital. Menurut Park, Kementerian juga mengharapkan platform Metaverse-nya memiliki jangkauan global karena akan ada akses tanpa batas ke perusahaan Korea Selatan dari waktu ke waktu. Ini termasuk rencana memberikan dukungan untuk pertumbuhan perusahaan dengan menawarkan dukungan keuangan dan pengembangan teknologi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bithumb Terancam Suspensi 6 Bulan di Korea Selatan

    Industri kripto Korea Selatan kembali diguncang skandal yang cukup besar.

    Salah satu bursa aset digital terbesar di negeri ginseng, Bithumb, kini berada di ujung tanduk setelah otoritas keuangan setempat menemukan celah serius dalam sistem kepatuhan mereka.

    Bithumb menghadapi ancaman suspensi parsial selama enam bulan akibat kegagalan dalam memenuhi standar Anti-Pencucian Uang (AML).

    Langkah tegas ini diambil oleh Unit Intelijen Keuangan (FIU) Korea Selatan setelah melakukan audit mendalam terhadap operasional bursa tersebut.

    Kasus ini menjadi sorotan global mengingat Korea Selatan adalah salah satu pasar kripto paling likuid dan aktif di dunia.

    Baca Juga: Skandal $44 Miliar di Bithumb, Korea Selatan Perketat Aturan Kripto

    Kegagalan AML: Titik Lemah Sang Raksasa

    Berdasarkan laporan dari Crypto Briefing, pemeriksaan otoritas menemukan bahwa Bithumb gagal mengidentifikasi sejumlah pengguna secara memadai dan tidak melaporkan transaksi mencurigakan sesuai dengan protokol Know Your Customer (KYC) yang ketat.

    Di bawah Undang-Undang Informasi Transaksi Keuangan Khusus di Korea Selatan, setiap penyedia layanan aset virtual (VASP) wajib memiliki sistem pemantauan yang mampu mendeteksi potensi pencucian uang dan pendanaan terorisme.

    Kegagalan Bithumb dalam aspek ini dianggap sebagai pelanggaran tata kelola yang serius, yang memicu rekomendasi hukuman berupa penghentian sebagian layanan selama setengah tahun.

    Tekanan bagi Industri dan Perlindungan Investor

    Ancaman suspensi ini menambah daftar panjang tekanan regulasi yang dihadapi bursa kripto di Korea Selatan.

    Sebelumnya, beberapa bursa lokal skala kecil telah gulung tikar karena tidak mampu memenuhi syarat modal dan kemitraan perbankan.

    Namun sialnya, potensi jatuhnya sanksi pada pemain sebesar Bithumb tentu memberikan pesan yang jauh lebih kuat.

    Pasalnya, pasar Korea Selatan dikenal memiliki fenomena “Kimchi Premium,” di mana harga aset kripto seringkali lebih tinggi dibanding pasar global.

    Ketatnya pengawasan ini bertujuan untuk melindungi investor ritel dari risiko penipuan dan manipulasi pasar yang kerap terjadi di industri yang bergerak cepat ini.

    Compliance Adalah Harga Mati

    Menanggapi situasi ini, para pakar industri menilai bahwa era “pertumbuhan tanpa batas” bagi bursa kripto telah berakhir dan digantikan oleh era kepatuhan total.

    Tim Research Tokocrypto memberikan pandangan mendalam mengenai dampak regulasi ini terhadap lanskap bisnis kripto secara global.

    Menurut mereka, ketegasan otoritas Korea Selatan harus menjadi pelajaran bagi seluruh pemain industri.

    “Dari sisi regulasi, kasus ini penting karena menunjukkan bahwa otoritas tidak ragu menghukum pemain besar jika kontrol AML dinilai lemah. Untuk industri, ini mempertegas bahwa compliance kini bukan pelengkap operasional, melainkan penentu utama kelangsungan bisnis exchange di yurisdiksi yang makin agresif terhadap pelanggaran tata kelola,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa kepatuhan (compliance) bukan lagi sekadar formalitas di atas kertas, melainkan fondasi utama agar sebuah bursa bisa tetap beroperasi secara legal dan mendapatkan kepercayaan publik.

    Dampak Terhadap Operasional Bithumb

    Jika suspensi parsial ini resmi diberlakukan, Bithumb kemungkinan besar akan dilarang meluncurkan layanan baru, menerima nasabah baru, atau bahkan harus menghentikan sementara fitur perdagangan tertentu selama enam bulan.

    Hal ini tentu akan menjadi kerugian besar, mengingat persaingan ketat dengan rival utama Bithumb, yakni Upbit.

    Selain kerugian finansial dari volume perdagangan yang hilang, reputasi Bithumb di mata investor institusi juga dipertaruhkan.

    Di tengah upaya Bithumb untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO), kendala regulasi ini bisa menjadi batu sandungan besar bagi rencana ekspansi jangka panjang mereka.

    Baca Juga: Kenalan Kang Jong Hyun, CEO Bithumb Kripto Dekat Park Min Young

    Kasus Bithumb menjadi pengingat bagi seluruh ekosistem kripto bahwa pengawasan pemerintah akan semakin intensif.

    Bagi para investor, langkah otoritas ini mungkin terlihat restriktif dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang, pengawasan yang ketat diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang lebih aman dan berkelanjutan.

    Kini, seluruh mata tertuju pada bagaimana Bithumb akan merespons temuan FIU tersebut dan apakah mereka mampu melakukan perbaikan sistem secara menyeluruh sebelum sanksi tersebut benar-benar melumpuhkan operasional mereka.

    Satu yang pasti: di pasar kripto masa kini, kepatuhan terhadap regulasi adalah salah satu kunci untuk bertahan hidup.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com