Tag: LUNA

  • Satu Alasan Kecil Kenapa Terra Luna Hancur Lebur

    Suku bunga Anchor Protocol mengalami peningkatan yang signifikan, dari semula 3,6%, menjadi 20%. Suku bunga ini sendiri berasal dari kebijakan Pendiri Terraform Labs, Do Kwon. Kenaikan tersebut, terjadi seminggu sebelum penerapan baru yang diklaim Do Kwon sebagai cara untuk menarik minat investor.

    Menurut Mr.B yang merupakan pengembang protokol, suku bunga di 3,6% saja sudah relatif tinggi. Namun, ia berani memilih untuk menaruh angka yang jauh lebih tinggi, guna mengalahkan penawaran dari bank-bank tradisional.

    Nilai Return of Investment (ROI), dianggap dapat menstabilkan jaringan blockchain. Hal tersebut, dikarenakan dana yang tersimpan di Anchor Protocol meningkat.

    Meski begitu, Mr.B telah menyarankan kepada Do Kwon supaya mengurangi angka suku bunga tersebut. Namun, tawaran tersebut mendapatkan penolakan di tahun 2019 lalu. 

    “Jika perusahaan tidak dapat membayar 20% ROI kepada investor, maka LUNA dapat menghentikan program tersebut,” ungkap Kwon.

    Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

    Nasihat dari Mr. B pun menjadi kenyataan, saat stablecoin algoritmik Terra, UST jatuh akibat suku bunga yang terlampau tinggi melebihi dana yang terkunci dalam jaringan. Ketidakseimbangan ini perlahan menekan harga UST, yang pada akhirnya terjun bebas dengan sangat cepat dan tiba-tiba.

    Seperti yang diinformasikan, Mr.B bukanlah satu-satunya pihak yang menuduh Do Kwon sebagai dalang di balik kejatuhan ekosistem Terra. Pada bulan Mei, salah seorang staf Terra juga mengatakan bahwa meskipun fase pengujian protokol gagal, Do Kwon tetap saja meluncurkan LUNA.

    Saat ini, Do Kwon tengah menghadapi berbagai tuntutan dan tengah dalam penyelidikan ketat regulator Korea Selatan. Dirinya dianggap bertanggungjawab penuh atas jatuhnya token Luna yang lama, sekarang disebut Luna Classic (LUNC), serta UST.

    Baca juga: CEO MicroStrategy Tepis Kekhawatiran Margin Call Saat Bitcoin Anjlok ke Angka US$21.000

    Kendati demikian, para pengamat masih banyak menyarankan untuk investor, terutama yang baru supaya menjauh dari LUNA yang baru. Pasalnya, asset baru ini masih sarat akan kejatuhan seperti pendahulunya.

    Terlebih, LUNA baru belum memiliki kejelasan fungsi dan daya saing, untuk terlihat lebih baik dibandingkan ribuan crypto yang ada. Selain itu, LUNA juga memiliki track record yang lebih baik tentunya dari pada token Terra.

    Dari perkembangan LUNA, sekaligus melihat bagaimana kasus Do Kwon serta bagaimana langkah untuk memulihan LUNC dan UST, merupakan hal yang penting dilakukan sebelum memutuskan secara tergesa-gesa untuk berinvestasi di LUNA yang baru. 

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Nasib Aset Kripto LUNA 2.0 dan LUNC di Indonesia

    Pendiri Terra, Do Kwon, terus melakukan upaya memulihkan ekosistem Terra pasca kolapsnya Terra (LUNA) dan stablecoin algoritmik, USDTerra (UST) beberapa waktu. Salah satu upaya tersebut adalah dengan meluncurkan jaringan baru Terra pada tanggal 28 Mei 2022.

    Peluncuran jaringan baru Terra ini menjadi LUNA 2.0 (LUNA) yang membuat aset kripto Terra dan TerraUSD berubah ticker. Blockchain dan token Terra lama diubah menjadi Luna Classic (LUNC) dan UST Classic (USTC). Terbitnya, jaringan baru ini membuat sejumlah investor aset kripto di Indonesia bertanya akan nasib perdagangan LUNA 2.0 dan status airdrop mereka.

    Sejatinya, saat ini aset kripto LUNA 2.0 belum diperdagangkan atau listing di exchange lokal yang terdaftar resmi di Bappebti. Akibatnya pendistribusian airdrop sebagai kompensasi kepada jutaan holder dan komunitas pengembang yang terkena dampak dari keruntuhan Terra belum bisa direalisasikan sepenuhnya.

    Terra LUNA
    Ilustrasi Terra LUNA. Sumber: Beincrypto.

    Baca juga: Serangkaian Aksi dan Reaksi Dibalik Anjloknya UST dan Terra (LUNA)

    Government Relations Tokocrypto, Albert Endi, menjelaskan saat ini aset kripto LUNA 2.0 (LUNA) belum bisa diperdagangkan di Indonesia karena belum mendapatkan lisensi dari Bappebti. Ia juga menjelaskan saat ini Tokocrypto masih melakukan pengkajian mendalam terkait aspek fundamental terkait token LUNA sebelum bisa dilisting di platform.

    “Adanya usulan penambahan aset kripto, harus ada proses pengkajian terlebih dahulu. Sejak tanggal 27 Mei itu, Tokocrypto sedang mengkaji sedalam-dalamnya kripto LUNA 2.0 ini. karena seperti yang kita lihat tanggapan di media dan komunitas semua masih ragu dengan produk ini,” kata Endi saat berbicara di Twitter Space yang diadakan Tokocrypto pada Kamis (9/6) malam.

    Lebih lanjut, Endi mengatakan Tokocrypto selalu patuh dan tunduk pada peraturan mengenai perdagangan aset kripto di Indonesia. Oleh karena itu untuk memperdagangkan kripto LUNA 2.0 harus melalui persetujuan Bappebti. Perlindungan investor menjadi prioritas bagi Tokocrypto.

    “Kalo sekarang mengajukan, kami mesti yakin aset (LUNA 2.0) ini berguna di masa depan. Kita tidak mau nanti merugikan investor yang akhirnya memperdagangkan membeli dan sebagainya berinvestasi di LUNA ternyata tidak cukup kuat fundamentalnya,” jelasnya.

    Sementara, Tokocrypto mendukung migrasi dan pergantian ticker LUNA dan UST menjadi LUNC dan USTC. Pasangan perdagangan spot di-pairing dengan LUNA/BUSD dan UST/BUSD.

    Baca juga: Tragedi Terra (LUNA), UST dan Bitcoin: Raksasa BlackRock, Citadel dan Gemini Dalangnya?

    Hak Airdrop LUNA 2.0 Tetap Diberikan

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan Terra sudah menjalankan airdrop LUNA 2.0 sebagai kompensasi bagi investor yang terkena dampak dari keruntuhan jaringan. Airdrop dibagi menjadi dua kategori Pre-attack dan Post-attack.

    Airdrop LUNA yang baru memang ada sudah di-annouce oleh Terra Labs ada 2 kategori, ada Pre-attack (7 mei) dan Post-attact (27 mei). Para holder yang hold token LUNA lama di antara dua tanggal itu, bisa dapat airdrop defencing sebesar 30%, 70% akan defencing selama 2 tahun. Itu dikirim ke alamat wallet terakhir,” tutur Afid.

    Apa Itu Terra (LUNA) Crypto? Pengertian Untuk Pemula
    Ilustrasi aset kripto, Terra (LUNA).

    Baca juga: Belajar dari Kripto UST dan LUNA, Stablecoin Masih Aman Jadi Instrumen Investasi?

    Melihat perkembangan yang ada saat ini, Afid mengatakan airdrop LUNA 2.0 belum bisa dilakukan di wallet akun Tokocrypto, karena aset kripto tersebut belum terdaftar di Bappebti. LUNA 2.0 masih menjalani pengkajian untuk memenuhi due diligence sebagai aset kripto terdaftar sesuai dengan Peraturan Bappebti No. 7 Tahun 2020 Tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

    Airdrop dan hak investor akan tetap diperjuangkan. Namun, benar tidak bisa diperdagangkan di Tokocrypto untuk saat ini karena belum legal terdaftar di Bappebti. Hak investor tetap tersalurkan menunggu kajian. Investor bisa melakukan withdraw atau wallet address lainnya di luar Tokocrypto untuk sementara,” tambah Endi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • LUNA 2.0 Anjlok 70% Beberapa Jam Setelah Debut

    Terraform Labs meluncurkan versi baru dari blockchain Terra, “Terra 2.0” dengan token LUNA baru pada Sabtu, 28 Mei 2022, pukul 06.00 UTC (13.00 WIB).

    Setelah diluncurkan, LUNA mencapai nilai tertingginya pada $ 19,54. Namun 12 jam kemudian, pada saat artikel ini ditayangkan, nilainya turun 73% ke angka $ 5,18. Data tersebut dikutip dari CoinMarketCap.

    LUNA to USD. Sumber: Coinmarketcap

    Token LUNA tersedia di sejumlah exchange kripto sekitar 10 menit setelah diluncurkan. Saat ini, LUNA diperdagangkan di delapan bursa berbeda yaitu Bybit, Kucoin, Kraken, MEXC, OKK, Bitrue, Kucoin dan BingX.

    Baca juga: Aset Kripto dan Blockchain Jadi Perhatian di Pertemuan Tahunan WEF 2022, Apa Dampaknya?

    CEO Terra, Do Kwon, tidak menanggapi volatilitas LUNA di hari pertamanya ini. Dia hanya me-retweet beberapa pengumuman dari bursa.

    CEO Binance, Changpeng Zhao, menulis “Kredibilitas adalah mata uang utama,” dalam cuitannya tak lama setelah Terra 2.0 memulai debutnya. Binance termasuk di antara mereka yang menawarkan dukungan untuk blockchain baru Terra.

    Masih banyak orang yang skeptis tentang Terra 2.0. Salah satunya kripto YouTube, Ben Armstrong, yang mengatakan “Jangan beli LUNA lagi.”

    Sementara pengguna Twitter lainnya mengatakan mereka tetap menggunakan LUNA yang lama atau asli. Sejak berganti nama menjadi Terra Classic (LUNC) atau LUNA Classic, nilainya turun 29% selama 24 jam terakhir menjadi $ 0,00009031, menurut CoinMarketCap. LUNC mencapai puncaknya di bulan lalu pada $ 119,18 sebelum ambruk pada awal Mei silam yang menyebabkan kehilangan puluhan miliar dolar.

    Sedangkan, dari 1 miliar token LUNA baru, baru 21 juta yang dikirim melalui skema airdop dan ditambahkan ke pasokan yang beredar pada Sabtu. Sisanya akan di-airdrop secara bertahap.

    Baca juga: Pasar Sepekan: Market Kripto Belum Kondusif, Bitcoin Gagal Agresif

    DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Sepekan: Market Kripto Belum Kondusif, Bitcoin Gagal Agresif

    Market aset kripto secara keseluruhan belum kondusif pada pekan terakhir Mei 2022. Sepanjang pekan ini, market bergerak bervariasi, tapi masih terjebak di zona merah atau cenderung bearish.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan pasar kripto tampak belum bergairah pada pekan akhir Mei ini. 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar atau big cap belum sukses melaju ke zona hijau dalam beberapa hari terakhir.

    “Kinerja buruk beberapa aset kripto pada pekan ini disebabkan oleh kondisi pasar yang kurang stabil. Hal itu tercermin dari penguatan nilainya yang cenderung tidak signifikan dan terkesan bikin laju harganya jalan di tempat. Kripto bisa melaju kencang asal volatilitas di pasar berisiko mereda dan prospek makroekonomi yang membaik,” kata Afid. 

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto.

    Afid melanjutkan sentimen negatif pasar yang belum mereda membuat harga Bitcoin gagal agresif. Nilai Bitcoin masih nyaman berada di level terendah sekitar $ 28.000 dan belum bisa naik, karena selama dua minggu terakhir BTC diperdagangkan dalam kisaran harga $ 30.000.

    “Bitcoin tidak bisa stabil sampai Wall Street terlihat tenang. Namun, hal itu tampaknya tak akan terlihat dalam jangka waktu dekat. Dari analisis teknikalnya, BTC akan naik dari level oversold yang dapat mengindikasikan fase pemulihan singkat,” jelasnya.

    Baca juga: Binance dan Bursa Besar Lainnya Dukung Peluncuran Terra 2.0

    Kabar menarik pada pekan ini datang dari Terralabs Form, perusahaan yang bertanggung jawab atas Terra Blockchain (LUNA) siap untuk memperbarui jaringan dan menerbitkan koin baru untuk ekosistemnya. Setelah melewati proses voting, akhirnya Terra mencapai persetujuan dengan para investor LUNA untuk membuat blockchain baru. 

    Dalam jaringan baru nanti, UST tidak akan ada lagi karena Terra tidak memiliki stablecoin lagi. Kemudian, blockchain dan koin yang Terra lama diubah menjadi Terra Classic dengan koin Luna Classic (LUNC) dan UST Classic (USTC). 

    Apa Itu Terra (LUNA) Crypto? Pengertian Untuk Pemula
    Ilustrasi aset kripto, Terra (LUNA).

    “Blockchain baru Terra ini menjadi babak baru. Semua akan dimulai dari awal di mana eksositem akan dibentuk kembali. Menarik untuk melihat sentimen pasar terhadap keputusan Terra ini,” ungkap Afid.

    Kabar peluncuran ini nampaknya mendapatkan tanggapan positif, karena untuk mengenalkan koin baru, Terra pun bersiap melaksanakan airdrop atau pembagian koin LUNC secara gratis. Untuk migrasi dan pergantian ticker LUNA & UST menjadi LUNC & USTC di Tokocrypto bisa simak di link ini.

    Baca juga: Trader Wajib Tahu! Begini Penjelasan tentang Flag Pattern



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Proposal Pemulihan Terra Telah Disetujui dengan Memiliki 65% Suara

    Akhirnya, setelah melalui masa voting beberapa hari, proposal pemulihan Terra secara resmi telah disetujui, dengan mendapatkan 65% suara yang mendukung, mengatakan “Ya.”

    Ekosistem baru yang dijuluki Terra 2.0 ini akan secara resmi diluncurkan pada 27 Mei atau hari ini, yang tentu sangat diharapkan mampu membawa kabar pemulihan yang layak dan tepat bagi ekosistem.

    Baca juga: Direktur IMF Akui Keunggulan Aset Kripto dan Sepakat Bukan Mata Uang

    Berikut laporan resmi dari salah satu akun sosial media Terra:

    “Proposal tata kelola Terra No. 1623 untuk mengganti nama jaringan yang ada Terra Classic (LUNC), dan kelahiran kembali Terra blockchain (LUNA) baru telah resmi disahkan!”

    Proposal ini akan membuat pengembang melakukan forking pada jaringan Terra, untuk menghadirkan blockchain Terra baru dan token LUNA baru.

    Baca juga: Inilah 4 Cara Orang Kaya Menghasilkan Pendapatan Pasif

    Sementara, jaringan blockchain lama akan disebut Terra Classic, dan token LUNA yang lama akan disebut Terra Classic, dengan simbol LUNC. Ini tepatnya telah didukung oleh suara sebanyak 65,50%.

    Tentu saja, investor sangat bersemangat dengan ini, yang juga mendapatkan dukungan dari pertukaran crypto, Binance dalam upaya pemulihan ekosistem ini.

    Meski secara jelas belum terlihat, apakah pembaruan ini hanya akan baik bagi LUNA yang baru, atau juga akan baik bagi UST dan LUNC, tetapi ini terlihat masih lebih baik dibandingkan hanya diam saja dan melihat ekosistem mati dan investor yang terbengkalai.

    Dalam proposal, para pemegang UST dan LUNC akan mendapatkan token LUNA dalam hitungan porsi, melalui skema airdrop, dengan perhitungan yang berbeda, terlebih bagi pemegang yang sudah HODL sejak sebelum dan sesudah crash terjadi.

    Do Kwon dan tim kini tengah dalam sorotan, bukan hanya karena proposal pemulihan, tetapi juga dari pantauan regulator setempat yang begitu terarah pada mereka. Kejatuhan LUNA dan UST telah memakan banyak korban lokal di Korea Selatan.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Koin LUNA “Untracked”, Coinmarketcap Alihkan Laman ke Terra 2.0

    Harga koin LUNA hari ini masih berstatus “untracked” setelah proyek kripto itu berganti wajah menjadi Terra 2.0. Bursa kripto besar mendukung itu, kecuali BitMEX. Sementara itu, laman baru kripto LUNA di Coinmarketcap dalam proses penyelarasan informasi.

    Jatuhnya Terra memang membuat nelangsa, khususnya hodler kelas jelata. Alih-alih mundur sepenuhnya, Terraform Labs memilih bertahan dengan blockchain baru, tetap bernama Terra dengan kripto tetap bernama Luna (bersimbol LUNA). Dan yang pasti stablecoin UST ditinggalkan. Dukungan besar dari sejumlah bursa kripto, tentu saja setelah Do Kwon melobi mereka satu per satu, pun berdatangan.

    Lewat pengumuman resmi pada Kamis (26/5/2022), Terraform Labs memaparkan rincian soal airdrop yang direncanakan digelar pada  Jumat (27/5/2022).

    Sasaran distribusi itu adalah kepada para pemegang Terra Luna Classic (LUNC), TerraUSD Classic (USTC) dan Anchor Protocol UST (aUST) yang memenuhi syarat. Disebut “classic” di sini karena kripto itu yang bersemayam di blockchain Terra yang lama.

    Sebelumnya, bursa kripto Binance dan FTX sudah berkoordinasi dengan tim Terraform Labs terkait airdrop itu. Binance bilang bahwa itu bertujuan untuk membantu pengguna Binance yang turut terpapar “teror LUNA”.

    Baca juga: Sudah Tahu Teknologi Terbaru MetaHuman? Ini Dia Penjelasannya

    Sementara itu FTX menyebutkan mereka akan mendukung airdrop itu dan menghentikan sementara pasar LUNA dan UST selama proses migrasi. Tim Terra mengatakan, bahwa selain Binance dan FTX, itu juga bekerja sama dengan lebih banyak “bursa kripto mitra mereka” yang akan mendukung airdrop.

    Bursa lainnya yang senada adalah KuCoin, mendukung Terra 2.0 baik dari segi migrasi, daftar dan perdagangan kripto baru Luna 2.0.

    Namun, tidak demikian dengan bursa BitMEX. Juru bicara BitMEX mengatakan kepada Cointelegraph, bahwa saat ini tidak ada rencana untuk mendaftarkan kripto itu.

    “Kami tidak memiliki rencana saat ini untuk mendaftarkan LUNA di pasar spot. Adapun kontrak derivatif berdasarkan nilai kripto itu, kami harus mempertimbangkan indeks acuan yang lebih jelas,” sebut BitMEX.

    Dalam proses migrasi besar ini, Coinmarketcap.com pun menyeleraskan informasi soal LUNA ini.

    Baca juga: Terra LUNA Hari Ini Menguat, Bursa Kripto Ini Siap Sokong Terra 2.0, Voting Berakhir Petang

    Terpantau Kamis (26/5/2022) pada malam hari, laman lama LUNA tak dapat digunakan lagi sebagai acuan informasi setelah Terra 2.0 muncul. Bahkan laman lama berubah nama menjadi “Terra Classic”. Coinmarketcap mengabarkan laman baru untuk LUNA, yakni “Terra (LUNA) ini, dengan status “untracked“, menanti blockchain baru meluncur. Harga koin LUNA hari ini di laman lama terpantau sekitar US$0,0001426, naik 26,88 persen. Ini tentu saja tidak mencerminkan pasar sepenuhnya, karena blockchain lama akan beralih ke blockchain baru.

    Tampilan laman Terra lama (Terra Classic) di Coinmarketcap.com.
    Harga koin LUNA hari ini
    Tampilan lama baru Terra 2.0 (LUNA) di Coinmarketcap.com. Laman baru tak dapat dijadikan acuan lagi, setelah blockchain baru meluncur pada Jumat besok. Sumber: Coinmarketcap.com.

    Logo pun sudah berubah, dari sebelumnya kombinasi biru dan kuning, kini LUNA baru perpaduan kuning dan jingga pekat berbentuk seperti lidah api. Meninggalkan warna biru dapat dimaknai sebagai simbol meninggalkan stablecoin UST itu. [ps]

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Binance dan Bursa Besar Lainnya Dukung Peluncuran Terra 2.0

    Sejumlah pertukaran atau exchanges aset kripto berjanji akan mendukung peluncuran jaringan baru Terra yang bertajuk Terra 2.0. Di mana setiap holder Terra Classic termasuk LUNAdan UST akan mendapat airdrop sesuai dengan janji dalam proposal 1623.

    Exchanges kripto yang telah mengumumkan akan membantu peluncuran Terra 2.0 ini diantaranya, Binance , FTX , Crypto.com , Huobi , Bitfinex , Bybit , Gate io , Bitrue dan Kucoin. Mereka telah berjanji untuk mendukung versi modifikasi dari blockchain Terra yang baru saja runtuh. 

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 25 Mei 2022: Dinamika Pasar Kripto Masih Statis

    Binance menyatakan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan tim Terra dalam rencana pemulihan ini. Sementara FTX mengumumkan bahwa mereka akan mendukung pembagian airdrop LUNA baru dan menangguhkan pasar LUNA dan UST.

    Terra 2.0 akan diluncurkan pada 27 Mei 2022. Setelah itu airdrop token “LUNA baru” akan diproses.

    Menurut pengumuman dari Terraform Labs, distribusi dan vesting LUNA yang diberikan melalui airdrop bergantung pada jenis token wallet dan jumlahnya, serta snapshot yang ada di dalamnya.

    Airdrop pertama akan diluncurkan pada 27 Mei 2022

    Di peluncuran (genesis) ini, akan tersedia 30% LUNA airdrop untuk pengguna Pre-Attack dengan dana yang tersedia di wallet kurang dari 10.000 LUNA (termasuk turunan staking) atau disimpan UST di Anchor. Sedangkan untuk pengguna Post-Attack dengan jumlah LUNA berapa pun (termasuk staking derivatif), UST, atau keduanya.

    Sebelumnya, Do Kwon menulis sebuah proposal peluncuran kembali blockchain Terra. Proposa; itu disetujui oleh mayoritas voters. Dalam hasil voting yang ditampilkan di Terra Station, 65,5% dari komunitas Terra menyatakan setuju proposal 1623 tersebut. Sedangkan, 20,98% abstain, 0,33% menolak, dan 13,20% menyatakan no with veto.

    Proposal tersebut dipublikasikan oleh Do Kwon pada 16 Mei 2022. Dalam rencana itu disebutkan rantai Terra baru dibuat tanpa stablecoin algoritmik. Adapun, rantai lama disebut Terra Classic (token Luna Classic – LUNC) dan rantai baru disebut Terra (token Luna – LUNA).

    Baca juga: Direktur IMF Akui Keunggulan Aset Kripto dan Sepakat Bukan Mata Uang

    DISCLAIMER: Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Terra LUNA Naik di Tengah Volatilitas yang Gila

    Runtuhnya ekosistem Terra akibat ambruknya harga dari stablecoin UST dan token LUNA benar-benar menjadi berita terpanas saat ini, karena ada begitu banyak investor yang merugi dan kehilangan tabungan seumur hidup mereka.

    Terra yang pada awalnya terlihat sangat menjanjikan, yang juga memborong Bitcoin (BTC) sebagai cadangan dari UST, telah dihantam aksi jual besar-besaran yang merosotkan nilai UST jauh dari kata stabil.

    Karena algoritmiknya, jatuhnya UST memicu pencetakan token LUNA secara masif, yang menciptakan hiper inflasi dan membawa harganya jatuh mendekati 100%.

    Terlihat suram, ini memang hampir mati karena aksi jual gila dan investor mulai pesimis terhadapnya.

    Namun, belum lama harga dari token LUNA, yang sudah merosot tajam, mengalami kenaikan 100% di tengah volatilitas yang gila, menuju kisaran $ 0,0002, tapi pagi hari ini sudah turun lagi sebanyak 25%, ke $ 0,00016.

    Baca juga: Nilai Burn Shiba Inu (SHIB) Lompat 800% Setelah Hadiah Didistribusikan

    Tentu saja, setiap kenaikan menjadi sorotan pada LUNA, yang mendapat tanggapan beragam, ada yang melihat itu adalah “aksi tipu daya” para bandar, dan ada juga yang melihat kejatuhan LUNA tidaklah seburuk yang difikirkan, ini masih bisa bangkit kembali.

    Memang jelas, masih ada beberapa ahli yang meyakini bahwa LUNA masih memiliki dukungan yang kuat dan penilaian pasar yang besar, yang membuatnya mampu tumbuh di tengah koreksi pasar crypto, sebelum crash melandanya. Dalam beberapa pandangan, ini jatuh karena manipulasi pemain besar dan dilakukan dengan sengaja.

    Baca jugaInilah 4 Cara Orang Kaya Menghasilkan Pendapatan Pasif

    Yang jelas, CEO Terraform Labs, Do Kwon dan tim, masih berdiri untuk memulihkan ekosistem, dengan mengupayakan hard fork yang masih dalam tahap voting, yang akan segera berakhir untuk melihat seperti apa ini akan berjalan.

    Secara teknikal analisis, tidak ada alat yang mendorong pembelian Terra LUNA. Jika menggunakan timeframe lebih tinggi, sudah kelihatan Terra LUNA adalah pump and dump koin.

    Sudah tentu dimana ada volatilitas di sana anda bisa menghasilkan uang, juga sama, anda juga akan rugi.

    Untuk saat ini, tidak bagus untuk membeli semua altcoin karena kripto tersebut berdarah, jika dibandingkan dengan BTC, ETH dan juga USDT.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apakah Do Kwon Layak Dipenjara atas Keruntuhan Terra LUNA

    Tanggal 9 Mei 2022 adalah waktu yang akan tercatat dalam sejarah industri aset kripto. Di mana tanggal tersebut merupakan hari dimulainya kehancuran sebuah bulan yang sebelumnya sempat bersninar terang di pasar kripto. 

    Tanggal tersebut menjadi penanda awal jaringan Terra runtuh berserta semua ekosistemnya. Stablecoin UST yang sebelumnya diagung-agungkan sebagai koin stabil paling “canggih” hancur berkeping-keping. UST jauh kehilangan pasaknya dari nilai dollar AS. 

    Keruntuhan Terra bisa disebut sebagai salah satu bencana terbesar di industri kripto. Banyak orang yang kehilangan uangnya. Investor kecil hingga kakap pun sama-sama gigit jari. Dan yang tak kalah penting, kehancuran Terra menggerus kepercayaan pasar pada industri yang baru saja berkembang ini. 

    LUNA/USDT 1 day. Tradingview
    Analisis teknikal Terra (LUNA).

    Lantas, apakah yang dilakukan oleh developer Terra adalah tindakan kriminal atau sebuah penipuan. Atau hal tersebut merupakan sebuah keteledoran sebuah jaringan?

    Perlu sebuah kajian hukum yang mendalam untuk mengkategorikan apakah kasus Terra ini adalah sebuah penipuan yang layak dipidanakan atau mungkin hal ini merupakan ketelodran yang menjadikan jaringan mereka rusak. 

    Baca juga: Tips Cuan Investasi Kripto Kala Market Bearish dan Kekhawatiran Stablecoin

    Namun, banyak pihak terutama investor dan ritel telah menyeret kasus ini ke ranah pidana. Pendiri Terra Do Kwon mendapat kritkan tajam dan dilaporkan ke penegak hukum, terutama oleh masyarakat Korea Selatan–di mana Do Kwon berdomisili.

    Dikutip dari Decrypt, seorang profesor hukum dan mantan jaksa yang berspesialisasi dalam kejahatan kerah putih Randall Eliason, mengatakan, untuk menjatuhkan klaim bahwa Do Kwon dan developer Terra telah melakukan penipuan, diperlukan bukti-bukti yang cukup. Dan menurutnya, hal tersebut bukanlah hal yang mudah. 

    Eliason pun membandingkan kasus Terra ini dengan penyebab krisis tahun 2008. Di mana saat itu sebuah bank terbesar Amerika Serikat, Lehman Brother, bangkrut dan mengakibatkan pasar keuangan jatuh dan menjalar pada krisis keuangan ke hampir seluruh dunia. 

    Eliason mengatakan, dalam kasus tersebut tidak ada yang dipenjara seoarang pun meski telah  menyebabkan krisis keuangan 2008. Menurutnya, kasus tersebut lebih pada kesembronoan lembaga.

    Namun, ini tidak berarti, bahwa Kwon akan lolos dari tuntutan pidana. Penegak hukum masih bisa menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi. Karena, dari beberapa isu yang mencuat, terdapat masalah pada platform investasi Terra, Anchor, yang menjanjikan pengembalian yang dijamin sebesar 20%. Meski, jumlah pengembalian  ini masih sangat masuk akal di dunia crypto.

    Selemah-lemahnya, komunitas kripto hisa mengharapkan badan pengatur non-kriminal seperti SEC untuk menindak Kwon dengan semua yang mereka miliki dalam hal denda dan hukuman profesional. 

    Ini adalah konsekuensi  yang nampaknya lebih adil, bahwa Kwon akan dilarang dari segala jenis perusahaan yang terkait dengan sekuritas di AS, dan bahwa ia akan menghindari menginjakkan kaki di tanah Amerika di masa mendatang.

    Baca juga: Apa Itu Aset Kripto Nexo (NEXO) dan Mobilecoin (MOB)?

    Sistem Jaringan Terra Mempunyai Kelemahan Fatal

    Kehancuran Terra dan jatuhnya harga UST dan LUNA lebih pada kelemahan jaringan yang sangat fatal. Hal tersebut dikatakan oleh seorang developer blockchain sekaligus CTO Ansvia dan Founder Rantai Nusantara Foundation, Robin Syihab

    Robin dalam utasnya di Twitter mengatakan, bahwa sistem jaringan di Terra mempunyai celah yang dapat “dipermainkan” oleh entitas yang mempunyai jumlah token UST dalam jumlah besar. 

    Selama beroperasi, Terra disokong oleh sejumlah entitas venture capital. Di mana para VC ini yang memodali jaringan Terra untuk menjalankan skema algoritmik bagi stablecoin mereka.

    Robin menduga, kehancuran jaringan ini dilakukan oleh seseorang atau sekelompok dengan menggunakan gaya serangan George Soros yang pernah membuat krisis moneter di Asia termasuk Indonesia pada tahun 1998.

    “Selain bisa menghancurkan sistem Terra LUNA serangan ala George Soros juga bisa menguntungkan penyerangnya,” tulis Robin. 

    Kendati demikian, kasus ambruknya Terra menjadi sebuah pelajaran yang penting bagi komunitas kripto. Dan menjadi tantangan bagi sebuah regulasi yang adil bagi para investor maupun pengembang proyek. 

    DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.

    Baca juga: Investasi Aset Kripto Sarana Pengembangan Ekonomi Anak Muda

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bos Binance Soroti Penyebab Keruntuhan Parah Harga Terra LUNA

    Bos Binanc,e Changpeng Zhao (CZ), mengatakan bahwa rubuhnya harga Terra LUNA dan UST dapat dihindari jika cadangan Bitcoin Luna Foundation Guard (LFG) memang digunakan.

    Pendapat CZ itu adalah yang terbaru, merespons soal kekacauan masif dan sistematis proyek kripto besutan Do Kwon dan Daniel Shin itu.

    Harga Terra LUNA Hari Ini Menguat Lebih 50 Persen

    Sementara itu, harga Terra LUNA hari ini menguat amat signifikan, karena naik lebih dari 50 persen dalam 24 jam terakhir. Terpantau di CoinMarketCap.com, harga Terra LUNA naik dari dari $ 0,000112 pada kemarin dan menjadi $ 0,0001731 pada hari ini, Minggu (22/5/2022).

    harga Terra LUNA hari ini

    CZ: Tim Terra Lambat Mengendalikan Situasi

    CZ juga berpendapat, bahwa Tim Terra sangat lambat dalam mengendalikan situasi untuk membuat TerraUSD (UST) tetap stabil 1 dolar AS, khususnya dengan menggunakan cadangan Bitcoin mereka.

    “Tim Terra lambat dalam menggunakan cadangan Bitcoin mereka untuk memulihkan pasak UST. Seluruh insiden mungkin dapat dihindari jika mereka menggunakan cadangan mereka ketika ‘depeg’ berada di 5 persen. Setelah nilai kripto turun hingga 99 persen (atau US$80 miliar), mereka justru mencoba menggunakan US$3 miliar untuk melakukan penyelamatan. Tentu saja, cara itu tidak berhasil,” kata CZ di blog resmi Binance.

    Terkait cadangan Bitcoin yang sedianya digunakan untuk menstabilkan harga, pihak Terraform Labs sebelumnya sudah mengakui sudah menjual sebagian besar. Hanya tersisa sekitar 300 BTC.

    Tentu saja hal utama yang disoroti CZ adalah, tim Terra lalai memantau pergerakan UST, yang mulai terjun bebas, hingga mencapai posisi terendah US$0,225 dari yang seharusnya $1.

    Itu tak seberapa, hingga merembet kemudian kepada kripto LUNA dan berlanjut ke pasar kripto secara umum. Investor LUNA kehilangan 100 persen nilainya dalam semalam setelah mencapai tingkat mendekati nol.

    CZ juga berpendapat bahwa badai mulai mengguyur blockchain Terra setelah lebih banyak LUNA yang diterbitkan dalam upaya untuk menyelamatkan situasi.

    “Menambah banyak LUNA ke pasar justru hanya melemahkan para hodler yang ada. Menerbitkan LUNA secara berlebihan dan cepat membuat masalah menjadi jauh lebih buruk,” ujarnya.

    Baca juga: Ketahui Pengertian Kriptografi dan Penjelasan Lengkapnya di Sini

    Itu memanglah fakta, per Minggu (22/5/2022), circulating supply LUNA berdasarkan catatan Messari adalah 6.534.869.472.865,85 unit. Bandingkan dengan sebelum crash yakni 343.092.421,78 unit. Ultra-hyperinflation ini justru mempercepat kelemahan LUNA. Kendati dengan harga Terra LUNA hari ini naik 50 persen dibandingkan sehari sebelumnya, sejatinya itu ulah spekulator yang ingin mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek.

    Kelemahan lainnya yang disoroti CZ lagi adalah penggunaan insentif yang terlalu agresif, yakni 20 persen per tahun (APY) di Anchor Protocol.

    “Secara khusus, APY tetap 20 persen dari Anchor untuk mendorong pertumbuhan (in-organik). Anda dapat menggunakan insentif untuk menarik pengguna ke ekosistem Anda. Namun pada akhirnya, Anda perlu menghasilkan ‘penghasilan’ untuk mempertahankannya, yaitu, lebih banyak pendapatan daripada pengeluaran. Jika tidak, Anda akan kehabisan uang dan crash,” sebutnya.

    Baca juga: Astaga! Ada Investor Terra LUNA Korsel yang Akhirnya Terlilit Utang, Do Kwon Akui Bubarkan Perusahaan di Korsel

    Tragedi Terra telah memicu dugaan publik apakah para pendiri Terraform Labs secara sengaja memanipulasi jaringan sehingga runtuh. Atau apakah sejak awal tahu sangat rapuh, tetapi tidak diberitahu kepada publik dan para investor awal.

    Dugaan ini memuncak, ketika 5 korban investasi Terra LUNA di Korsel melaporkan Do Kwon dan Daniel Shin kepada polisi beberapa hari ini. Hingga kemarin, pihak Kejaksaan Agung sudah menerima limpahan kasus itu dan mungkin akan mengenakan pasal praktik skema ponzi yang diduga ada lewat Anchor Protocol itu.

    Do Kwon juga sudah mengakui, bahwa Terraform Labs di Korsel memang berhenti beroperasi beberapa hari sebelum harga kripto itu turun drastis. Kwon menjawab santai, bahwa itu hanyalah kebetulan saja dan dirinya saat ini berada di Singapura.

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com