Tag: LUNA

  • Investor Terra LUNA Korsel Mencapai 280 Ribu Orang

    Investor Terra LUNA Korea Selatan diperkirakan mencapai 280 ribu orang dengan total kepemilikan 70 miliar LUNA. Sejauh ini baru sekitar 5 orang melaporkan lewat kantor pengacara LKB & Partners.

    Hal itu ditulis dalam tajuk rencana (editorial) kantor berita Korsel, Yon Hap, Kamis (19/5/2022), berdasarkan catatan Financial Services Commission (FSC). Komisi ini setara dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia.

    Tajuk rencana sebuah media mencerminkan keluasan dan dampak sebuah peristiwa terhadap publik. Dalam hal ini kasus Terra LUNA sejatinya merugikan jutaan warga di banyak negara, termasuk di Korea Selatan sendiri, karena harga kripto itu sempat masuk ke titik nol beberapa hari lalu.

    “Otoritas keuangan Korea Selatan mengatakan ada sekitar 280.000 investor lokal, diyakini memegang sekitar 70 miliar LUNA,” sebut media itu, ditulis oleh Kim Han-joo.

    Salah satu puncak kekisruhan parah ini adalah ketika hari ini Kantor Pengacara ternama, LKB & Partners atas nama sejumlah klien mereka, melaporkan Do Kwon dan Daniel Shin dan Perusahaan yang didirikannya, Terraform Labs, kepada Kantor Kejaksaan Distrik Selatan di Seoul.

    Baca juga: Jadi, Crypto Halal atau Haram? Ketahui Selengkapnya Berikut!

    Investor Terra LUNA Korsel Rugi US$1,1 Juta

    Menurut juru bicara tim pengacara, sejauh ini mereka mewakili 5 orang investor Terra LUNA dengan total kerugian mencapai 1,4 miliar won ($ 1,1 juta). Para korban menduga para tergugat melakukan penipuan dan melanggar undang-undang tentang penggalangan dana (crowdfunding). Bahkan pengacara mengakui ada investor dari negara lain, seperti Amerika Serikat dan Italia.

    “Do Kwon dan rekan pendiri Terraform Labs lainnya memberikan informasi tak benar tentang kesalahan algoritma di LUNA dan UST yang berdampak pada jatuhnya harga. Bahkan perusahaan terlibat dalam skema investasi yang menjanjikan keuntungan hingga 19,4 persen per tahun. Kami dan klien kami menilai itu sebagai bentuk penipuan,” kata kantor pengacara itu dalam siaran pers.

    Do Kwon mendirikan Terraform Labs bersama Daniel Shin (pendiri TMON) pada tahun 2018 di Korea Selatan dan punya entitas serupa di Singapura, termasuk Luna Foundation Guard (LFG).

    Baca juga: Bos Penerbit USDC: Kami Sudah Ramalkan Keruntuhan Terra LUNA dan UST

    Beberapa hari lalu beredar dokumen yang tampk asli yang disebut-sebut sebagai bukti bahwa Terraform Labs sudah membubarkan diri pada 30 April 2022 lalu, berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham. Pada awal Mei 2022, pihak Pengadilan Tinggi di Seoul sudah mengesahkannya pembubaran itu.

    Sebelumnya, seorang pria di Seoul menyerahkan diri kepada polisi. Ia mengaku dirinyalah yang datang ke rumah Do Kwon dan bertanya kepada istrinya di mana Do Kwon berada. Ia juga sempat menyatroni rumah itu sehari sesudahnya. Dia mengaku adalah investor LUNA yang rugi setara puluhan miliar rupiah.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Founder Coinmetrics: Stablecoin Tetap Kuat, Kecuali UST

    Stablecoin dianggap sebagai inovasi terkuat di dunia crypto karena memberikan kemampuan desentralisasi dari sisi transaksi. 

    Pernyataan tersebut dituturkan oleh Nic Carter, Pendiri Coinmetrics dan Petinggi Castle Island Ventures dalam acara Permissionless oleh Blockworks. 

    Acara Permissionless Bahas Stablecoin 

    Ia menyatakan pandangannya dengan menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa memberikan apa yang diberikan oleh inovasi stablecoin.

    Pernyataan ini disampaikan dengan adanya beberapa petinggi di dunia crypto seperti 

    Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu, Developer Utama MakerDAO Sam MacPherson, Pendiri Frax Sam Kazemian.

    Acara ini juga seharusnya menyambut CEO Terra, Do Kwon terkait kasus stablecoin yang sedang ramai, tapi ia tidak hadir. 

    Perbincangan ini juga menyangkut kondisi USTerra atau UST yang sedang turun jauh di bawah $1 menjadi sekitar $ 0,1 keluar dari statusnya sebagai stablecoin

    Menanggapi kondisi ini banyak stablecoin yang juga terimbas sentimen negatif, tapi satu stablecoin berdiri kuat yaitu USDC. Circle, perusahaan yang bertanggung jawab atas USDC menyatakan, 

    “Cara kerja kami sangat membosankan, sistemnya sangat mudah, terdasari uang fiat. Pengguna memberi 1 Dolar Amerika, kita memberi 1 USDC dan sebaliknya.”

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    USDC menjadi salah satu topik yang dibahas dalam acara ini karena perbedaannya yang sangat drastis dengan UST dari Terra. 

    Sebab untuk sistem USDC stablecoin-nya adalah stablecoin tradisional tapi UST menggunakan sistem stablecoin algoritma. 

    Stablecoin tradisional adalah stablecoin yang didasari uang fiat sedangkan stablecoin algoritma didasari oleh token atau koin yang terikat dengannya dari sisi nilai. 

    Baca juga: Mengenal Dekat Kripto Wrapped Bitcoin (WBTC) dan Kava Lend (HARD)

    Kehancuran Terra Sudah Diprediksi 

    Nic Carter juga menyatakan bahwa Terra adalah sebuah proyek yang sudah diprediksi akan hancur dalam jangka panjang. Ia menyatakan, 

    “Luna Terra jelas adalah sebuah bom waktu di dunia crypto, jelas sekali proyek yang paling rentan.”

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    Carter menyatakan bahwa Terra adalah sebuah sistem keuangan yang sangat teledor dari sisi infrastrukturnya dan menganggap bahwa kehancurannya sudah dapat diprediksi sejak lama bagi yang memiliki “pandangan jernih”.

    Ia menambahkan bahwa sistem algoritma UST membuatnya rumit bahkan terlalu rumit dan sulit dimengerti oleh para investor yang tertarik.  

    Selain itu Carter juga menambahkan bahwa mekanisme ini tidak pernah dikoreksi karena Do Kwon sangat agresif dan aktif di Twitter, membuat investor jengkel saat memberi kritik. 

    “Investor tidak bisa memberi kritik terhadap UST karena Do Kwon sangat vokal di Twitter. Terdapat kondisi dimana kritik menjadi sebuah hal yang menyinggung bagi komunitas Terra, jadi besar insentifnya untuk tidak memberi kritik ke Terra.” 

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    MacPherson, developer utama dari MakerDAO juga setuju dengan pernyataan tersebut dimana Terra dianggap olehnya sebagai proyek yang teledor sejak awal berdiri. 

    Ia juga menambahkan bahwa kasus UST membuat adanya kebutuhan yang tinggi terkait penjagaan nilai stablecoin berdasarkan nilai uang fiat asli yang ada di dana cadangan penerbit. 

    MacPherson juga menyinggung DAI yang memiliki cadangan 1,64 kali dari stablecoin yang diterbitkannya sehingga dianggap sebagai stablecoin yang aman. 

    DAI juga diangkat dalam perbincangan tersebut karena sebelumnya Do Kwon menyinggung DAI dan berjanji untuk mematikan proyek tersebut. 

    Terlihat bahwa saat ini DAI masih hidup dan UST mati yang juga menjadi salah satu topik hangat di dunia crypto saat ini. 

    Baca juga: 3 Tanda Onchain Menunjukkan Bitcoin Mulai Pulih

    Masih Menjadi Inovasi Terkuat Crypto

    Dalam acara tersebut, perwakilan dari Visa, Catherine Gu, juga menyatakan pendapatnya terkait kasus Terra.

    Ia menyatakan bahwa Visa menginginkan kegunaan yang unik dari stablecoin dan fokus Visa saat ini memang masih hanya di stablecoin yang didasari fiat. Gu menyatakan:

    “Kita harus memikirkan tentang pembentukan proyek crypto yang ada saat ini karena adanya standar keamanan merupakan hal yang penting untuk konsumen, investor ritel, dan institusi. Penting untuk tau proses audit dari stablecoin dan bagaimana mereka menguji kestabilan stablecoin tersebut.” 

    Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu

    Selain itu Gu juga menggarisbawahi bahwa banyak institusi yang saat ini lebih percaya terhadap CBDC atau mata uang digital bank sentral, dibandingkan stablecoin.  

    MacPherson dari MakerDAO juga menyetujui pandangan positif terhadap stablecoin dengan menyatakan bahwa jika CBDC masuk ke blockchain terbuka maka bisa menjadi stablecoin yang lebih aman. 

    Reginatto dari Circle, perusahaan terkait USDC memiliki tanggapan yang berbeda. Ia menyatakan bahwa bank sentral akan kesulitan jika diberi tanggung jawab mengendalikan fiat di blockchain karena sistemnya yang berbeda dan lebih rumit.

    Ia juga berargumen bahwa sistem antara CBDC dan stablecoin itu berbeda dimana CBDC bersifat terpusat dan stablecoin tidak terpusat serta transparan. 

    Namun kritik terkait CBDC datang dari Nic Carter yang menyatakan bahwa stablecoin lebih mendukung konsumen. Ia menyatakan: 

    Stablecoin adalah inovasi terkuat dari crypto sejauh ini, tidak ada perbandingannya. Stablecoin bertanggung jawab atas transisi autonomi transaksi yang besar di dunia keuangan saat ini.” 

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    Carter menambahkan bahwa CBDC tidak bisa memberikan transparansi dan sifat anonim yang datang dari CBDC.  

    Jadi ia percaya bahwa walau sekarang terjadi kekacauan di sekitar stablecoin, dengan adanya infrastruktur dan sistem audit yang tepat, maka stablecoin akan tetap kuat sebagai produk utama dunia crypto

    Baca juga: Mendag Rusia Akan Melegalkan Perdagangan Kripto

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bagaimana Cara CEO Binance Melindungi Pemilik UST (Luna)?

    Binance CEO, Changpeng Zhao, memberikan wawasan bagaimana Binance mengambil tindakan untuk memastikan pengguna Binance dilindungi dengan runtuhnya UST Terra Luna.

    Pada tanggal 16 Mei lalu, Boss Binance men-tweet secara terinci bagaimana koneksi Binance dan proyek Luna dan cara mereka untuk memastikan pengguna tetap terlindungi.

    Dalam serangkaian tweet ini, CZ (sapaan Changpeng Zhao), mengakui Binance memegang 15 juta Luna yang pada ATH bernilai $ 1,6 miliar.

    Token tersebut diberikan kepada luna sebagai hadiah atas investasi awal yang dilakukan oleh Binance kepada Proyek sebesar $3 juta.

    Sudah pasti ini adalah investasi yang sangat menguntungkan, mengingat Luna naik beribu-ribu persen.

    Sangat disayangkan LUNA hanya berharga $ 0,000184615 dan Binance investasi hanya bernilai $ 2,7 juta-an.

    Baca jugaApakah Kamu Menjual Aset Crypto Selama Crash? CEO Ini Bilang TIDAK!

    Bisa dibilang bahwa Binance hanya rugi $ 300.000. Jumlah ini terbilang kecil jika kita bandingkan dengan beberapa orang yang hilang hingga $ 20 juta UST.

    CZ juga menekankan bahwa Binance tidak pernah menjual Luna yang mereka pegang. Anda bisa mencheck di sini.

    Diserangkaian tweet tersebut, CZ menegaskan bahwa Luna harus berfokus untuk melindungi pengguna dan memberikan kompensasi kepada mereka, sebelum ke Binance.

    Karena Luna masih terlisting di Binance, CZ berhak untuk mendapatkan ganti rugi. Namun, dia mengatakan:

    Untuk memberikan contoh tentang MELINDUNGI PENGGUNA, Binance akan ‘memaafkan’ untuk kali ini dan meminta tim Terra untuk memberikan kompensasi kepada pengguna ritel dan Binance terakhir (JIKA TERJADI).

    Cryptoharian sudah memberikan kenapa Terra Luna terjadi seperti ini. Secara singkat, ini terjadi karena UST/USD kehilangan peg $1.

    Sebagai stablecoin 1 UST=$ 1. Namun, dalam kasus ini, 1 UST tidak $ 1

    Baca juga: Ahli Strategi Bloomberg: Bitcoin dan Ethereum akan Ungguli Pasar Saham

    Untuk mempertahankan PEG, tim Terra Luna juga menjual cadangan BTC mereka. Ini-lah kenapa harga Bitcoin sempat mencapai $ 26 ribu di Binance.

    Beberapa artikel dan Youtuber mengatakan ini adalah sebuah koordinasi attack yang mau menghancurkan Luna.

    Namun, Cryptoharian tidak bisa memberikan komentar untuk ini. Salah satu Youtuber yang mengatakan hal ini adalah Crypto Banter.

    DISCLAIMER: Cryptocurrency adalah aset yang sangat volatil, trade dengan berhati-hati.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Terra LUNA Siap Laporkan Do Kwon

    Investor Terra LUNA di Korea Selatan siap melaporkan Do Kwon kepada polisi atas dugaan penipuan investasi. Pengacara yang mewakili dari firma hukum ternama, yakni LKB & Partners.

    “Firma hukum Korea Selatan LKB & Partners bersiap untuk menuntut salah seorang pendiri dan CEO Terraform Labs Do Kwon atas penipuan atas nama investor yang dirugikan secara finansial akibat runtuhnya harga Terra LUNA minggu lalu,” sebut pengacara itu, dilansir dari media lokal Korsel, Munhwa, Rabu (18/5/2022).

    Bahkan para pengacara dalam rencana laporannya agar sejumlah aset dan properti milik Do Kwon disita sementara.

    Baca juga: Berikut Jenis Asic Miner yang Bisa Dipakai Untuk Mining Aset Kripto!

    Investor Terra LUNA Korsel Tuntut Do Kwon

    “Ada investor terkait di dalam firma hukum, dan kami berencana untuk mengajukan keluhan terhadap CEO Kwon dengan Unit Investigasi Keuangan dari Badan Kepolisian Metropolitan Seoul,” katanya kepada Munhwa.

    Beberapa hari lalu beredar dua lembar dokumen yang disebut-sebut sebagai bukti bahwa Terraform Labs sudah membubarkan diri pada 30 April 2022 lalu, berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham. Pada awal Mei 2022, pihak Pengadilan Tinggi Seoul sudah mengesahkannya. Dokumen itu belum dapat diverifikasi apakah asli atau tidak.

    Sebelumnya lagi, seorang pria di Seoul menyerahkan diri kepada polisi. Ia mengaku dirinyalah yang datang ke rumah Do Kwon dan bertanya kepada istrinya di mana Do Kwon berada. Ia juga sempat menyatroni rumah itu sehari sesudahnya. Dia mengaku adalah investor LUNA yang rugi setara puluhan milyar rupiah.

    Investor Terra LUNA korsel

    Sementara itu di Reddit, beredar surat laporan kepada polisi Singapura atas nama para investor Terra LUNA. Lagi-lagi, dokumen yang tampak asli itu tidak bisa diverifikasi kebenarannya.

    Dari media lokal juga tersiar, bahwa lembaga keuangan dan investasi terkait di Negeri Ginseng itu kemungkinan besar akan memeriksa kasus ini. Parlemen juga berencana akan memanggil Do Kwon.

    Baca juga: Terra LUNA Mencoba Bangkit, UST Akan Dikuburkan dengan Syarat Ini

    Voting untuk Forking Blockchain Terra Sedang Berlangsung

    Di atas itu semua, tim pengembang Terra pimpinan Do Kwon saat ini tengah membenahi sistem mereka dengan melakukan voting untuk forking terhadap blockchain Terra.

    Voting sudah berlangsung sejak kemarin malam dan berlangsung selama 7 hari. Ketika artikel disusun, lebih dari 90 persen menyatakan setuju, 0,29 persen menyatakan tidak setuju.

    Voting itu akan dinyatakan kuorum jika 40 persen suara terkumpul, dengan ambang batas mencapai 50 persen.

    Jika mayoritas menyetujui proposal forking itu, maka akan ada dua blockchain baru, berdasarkan blockchain yang saat ini masih digunakan. Blockchain baru yang akan digunakan kelak tidak berfitur stablecoin TerraUSD (UST) lagi.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Beredar Dokumen Terraform Labs (Terra LUNA) Korsel Telah Bubar

    Di tengah gonjang-ganjing kasus Terra LUNA dan UST, beberapa hari lalu beredar dokumen di Reddit bahwa Terraform Labs Korea Selatan sudah sah bubar oleh Pengadilan Tinggi setempat pada 4 Mei 2022, berdasarkan permohonan pihak perusahaan pada 30 April 2022.

    Dokumen berkop resmi dan tampaknya cukup meyakinkan itu, tak pelak kian memicu spekulasi tambahan bahwa Do Kwon (bernama lengkap Kwon Do-hyeong) mungkin telah mengetahui kekacaubalauan yang sedang terjadi bagi Terra LUNA dan UST. Spekulasi kuat lainnya adalah, mungkin pembubabaran Terraform Labs di Korsel itu adalah sebagai langkah antisipasi meredam kerontokan lebih parah.

    Seperti yang diketahui publik, harga LUNA sejatinya tak bernilai pada minggu lalu, ketika mendekati titik nol. Sementara itu stablecoin TerraUSD (UST) kehilangan pasaknya, menjadi olok-olok di dunia maya menjadi “Unstable Stable Token“.

    Do Kwon, atas nama perusahaan pun mengambil sejumlah langkah, di antaranya adalah akan melakukan forking terhadap blockhain Terra, jika usulan itu disetujui lewat jajak pendapat yang akan dimulai hari ini, Rabu (18/5/2022).

    Rencana forking memang tidak sepakati oleh komunitas sendiri, termasuk oleh Changpeng Zhao Bos Binance yang punya investasi di perusahaan itu. Baginya forking tidak memberikan nilai utuh, walaupun ada kompensasi kripto terhadap mereka yang mengalami kerugian.

    Baca juga: Berikut Jenis Asic Miner yang Bisa Dipakai Untuk Mining Aset Kripto!

    Terraform Labs (Terra LUNA) Korsel Bubar Pada 4 Mei 2022?

    Pada dokumen di Reddit yang beredar beberapa hari lalu itu, disebutkan bahwa Terraform Labs di Korsel itu bermarkas di Busan. Pada 30 April 2022 perusahaan bermohon kepada pihak pengadilan setempat untuk membubarkan diri dan disahkan oleh pihak pengadilan pada 4 Mei 2022. Tanggal itu selaras dengan beberapa hari sebelum harga LUNA dan UST terperosok.

    Dokumen itu memang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, namun jikalau itu benar, setidaknya selaras dengan laporan dari media lokal di Korsel, yang mengklaim punya dokumen bahwa Terraform Labs Korea memutuskan membubarkan kantor mereka di Busan dan Seoul, berdasarkan rapat umum pemegang saham pada 30 April 2022.

    Terraform Labs (Terra LUNA)
    Terraform Labs (Terra LUNA)

    Laporan itu dari media itu menambahkan bahwa markas Terraform Labs Korea dilikuidasi pada 4 Mei 2022, dan cabang Seoul dilikuidasi pada 6 Mei 2022. Berdasarkan catatan perusahaan di daftar perusahaan, nama likuidator terdaftar sebagai sang CEO, yakni Kwon Do-hyeong.

    Baca juga: Terra LUNA Mencoba Bangkit, UST Akan Dikuburkan dengan Syarat Ini

    Kwon mendirikan cabang Terraform Labs di Korea Selatan pada tahun 2019, setahun setelah ia ikut mendirikan perusahaan itu di Singapura.

    Tetapi laporan media itu mencatat bahwa kemungkinan ada perusahaan lain yang didirikan Kwon sebelum meluncurkan Terraform, termasuk proyek stablecoin yang ia tinggalkan (dengan nama anonim) pada tahun 2017, yakni Basis Cash.

    Media lokal yang sama secara terpisah melaporkan, bahwa Financial Services Commission dan Financial Supervisory Service Korsel tampaknya memulai penyelidikan terkait kasus Terra ini secara lokal. [ps]

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Do Kwon Persiapkan LUNA Baru yang Tidak Akan Terhubung dengan UST

    Pada hari Senin, 13 Mei 2022, pendiri blockchain Terra Luna, Do Kwon, mengumumkan revisi rencana untuk memulihkan ekosistem setelah mengalami kombinasi volatilitas pasar yang signifikan sehingga menghapus sebagian besar kapitalisasi pasar blockchain.

    Dikatakan Kwon, Terraform Labs akan mengajukan proposal tata kelola baru pada 18 Mei untuk mem-fork blockchain Terra Luna yang disebut Terra (LUNA).

    Namun, dalam chain yang baru itu tidak akan ditautkan ke stablecoin TerraUSD (UST). Sedangkan, untuk blockchain Terra akan tetap ada dan tertaut dengan UST dan akan disebut Terra Classic (LUNC). Jika rencana disetujui, maka blockchain LUNA yang baru akan live mulai 27 Mei 2022.

    Dalam revisi tersebut, token LUNA yang baru akan dikirimkan ke pemegang LUNC, pemegang UST, dan pengembang penting dari blockchain Terra Classic.

    stablecoin TerraUSD (UST).
    Ilustrasi stablecoin TerraUSD (UST).

    Baca juga: Market Kripto Anjlok Berlarut: Investor Tak Perlu Panik

    Selain itu, dompet Terraform Labs dengan alamat terra1dp0taj85ruc299rkdvzp4z5pfg6z6swaed74e6 akan dihapus dari daftar putih untuk airdrop, sehingga menjadikan Terra milik komunitas sepenuhnya.

    Pasokan LUNC yang diusulkan dibatasi sebesar 1 miliar, dimana 25%-nya masuk ke kumpulan komunitas, 5% ke pengembang penting, dan 70% ke pemegang LUNC dan UST di berbagai snapshot acara di bulan Mei, tergantung pada kondisi vesting.

    Sebelumnya, Luna Foundation Guard yang penjaga ekosistem LUNA mengungkapkan bahwa mereka menggunakan sebagian besar cadangan mata uang kriptonya untuk mempertahankan pasak UST selama aksi jual pasar. Namun dengan aksi ini, kecil kemungkinan ekosistem Terra dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa bantuan modal eksternal.

    CEO Binance, Changpeng Zhao, mengatakan bahwa dia akan mendukung komunitas Terra dalam usaha recovery ini, namun dia ingin melihat lebih banyak transparansi dari entitas terkait.

    Baca juga: Belajar dari Kripto UST dan LUNA, Stablecoin Masih Aman Jadi Instrumen Investasi?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Belajar dari UST dan LUNA, Stablecoin Aman Jadi Instrumen Investasi?

    Aset kripto TerraUSD (UST) dan Terra (LUNA) sedang jadi sorotan sepekan ini. Alasannya harga kedua aset kripto tersebut tak stabil dan bahkan LUNA turun sampai 99% hanya dalam hitungan hari, padahal ia sempat jadi primadona investor dan capai harga tertinggi sepanjang masa.

    Berdasarkan situs CoinMarketCap, pada Jumat (13/5) pukul 14.00 WIB, LUNA diperdagangkan pada $ 0,00005687 dengan market cap sebesar $ 557 juta anjok 63%. Sebelumnya, LUNA telah capai harga tertinggi sepanjang masa pada Selasa (5/4) sebesar $ 119,18 per koin atau setara Rp 1,73 juta, pada saat itu kapitalisasi pasarnya mencapai $ 40 miliar.

    Penurunan harga LUNA ini sangat terpengaruh oleh faktor peg atau berkurangnya nilai dari stablecoin asli jaringan Terra, UST. Stablecoin UST turun ke level $ 0,22 pada perdagangan Jumat (13/5) yang merupakan terendah sepanjang masa. Melihat hal ini apakah stablecoin masih aset kripto teraman untuk investasi saat ini?

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.

    Sebelum menjawab hal tersebut, kita bahas apa yang sebenarnya terjadi dengan UST? Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan mekanisme stablecoin algoritmik memiliki kelemahan sebagai penopang sebagian besar nilai UST. Hal inilah yang menjadikan harga LUNA sangat terpengaruh oleh penurunan UST yang sangat dramatis. 

    Lebih lanjut, Afid menjelaskan CEO Terralabs, Do Kwon pun mengakui bahwa model stablecoin tersebut hadir dengan beberapa pengorbanan. Faktanya, memang koin sangat terdesentralisasi. Namun, dibandingkan dengan koin seperti Tether, ia menghadapi beberapa masalah stabilitas harga, terutama jika sistemnya berada di bawah tekanan.

    “Jika terlalu banyak orang yang mencoba menebus UST sekaligus, “death spiral” hipotetis dapat terjadi dengan token LUNA yang dipasangkan dengannya. Nilai LUNA akan mulai runtuh karena lebih banyak token dicetak untuk memenuhi permintaan pengguna,” jelas Afid.

    Baca juga: Serangkaian Aksi dan Reaksi Dibalik Anjloknya UST dan Terra (LUNA)

    Hipotesis Nilai LUNA Turun

    Afid menerangkan kemungkinan besar penurunan ini terkait juga dengan adanya attack dari ‘oknum’ yang memanfaatkan kelemahan dari mekanisme yang Terra punya. Kelemahan dari Terra LUNA adalah soal “death spiral”.

    LUNA memiliki hubungan mutual dengan UST. Setiap ada UST diterbitkan, ada supply LUNA yang di-burn, begitu pula sebaliknya. Seharusnya secara algoritma, ketika harga UST jatuh, ada UST yang di-burn dan LUNA yang diterbitkan. Nilai Terra LUNA bisa turun, jika TerraUSD dianggap tidak stabil.

    aset kripto Terra (LUNA)
    Ilustrasi aset kripto Terra (LUNA).

    Blockchain Terra sempat berhenti untuk menghindari penyerangan governance pada jaringannya dan untuk membentuk rencana baru. Governance attack adalah kondisi di mana token yang digunakan untuk hak suara dikendalikan sebagian besar oleh satu pihak saja sehingga bisa merusak atau mengubah jaringan,” kata Afid. 

    Untuk saat ini LUNA terlihat semakin tidak ada harapan dengan harga yang turun drastis dan kondisi keuangan perusahaan yang masih jatuh. Jadi jika Terra mau kembalikan lagi ke peg-nya itu UST $ 1, mau tidak mau mesti burn UST yang supply-nya berlimpah, dan efeknya supply LUNA semakin banyak, otomatis harga LUNA akan terus anjlok sampe UST bisa stabil ke $ 1 lagi.

    Baca juga: Avarta dan Tokocrypto Jalin Kemitraan Strategis Kembangkan Ekosistem Blockchain di Indonesia

    Apa Bedanya BIDR sama UST?

    Drama UST dan LUNA membuat investor khawatir dan ragu atas kondisi pasar stablecoin yang sebelumnya, dianggap aman sebagai instrumen investasi, namun kini terlalu volatil.

    Tidak semua stablecoin menggunakan mekanisme algoritmik seperti UST. Binance IDR (BIDR) contohnya. BIDR merupakan stablecoin berbasis Rupiah yang dapat diperdagangkan dengan aset kripto lainnya. BIDR menggunakan Binance Chain (BEP-2) yang dipatok ke dalam Rupiah (IDR). BIDR akan tersedia untuk pembelian langsung dan penukaran dengan harga 1 BIDR setara dengan 1 Rupiah.

    stablecoin BIDR dan UST
    Ilustrasi stablecoin BIDR dan UST.

    Untuk menjaga kestabilannya, BIDR didukung 1:1 oleh Rupiah di rekening bank terpisah di Indonesia. BIDR akan diaudit setiap bulan oleh perusahaan audit. Laporan audit akan dipublikasikan di Tokocrypto untuk referensi bagi pengguna BIDR.

    Harga atau nilai BIDR di bursa mungkin sedikit menyimpang dari Rp 1, karena kekuatan penawaran dan permintaan pasar untuk aset tersebut. Namun, penyimpangan harga tersebut akan kecil, karena arbitrase pasar akan bekerja untuk membawa harga BIDR kembali ke 1 Rupiah Indonesia.

    Baca juga: UPDATE: Blockchain Terra Kembali Produksi, Meski Harga LUNA Hancur

    Apakah BIDR Bisa Bernasib sama dengan UST?

    Peristiwa yang terjadi dengan UST sulit menimpa BIDR. UST membutuhkan mekanisme algoritmik untuk menjaga nilainya agar tetap sama dengan Dolar AS. Setiap token UST yang diterbitkan, ada supply token LUNA yang diburn atau dihancurkan.

    “Sistem tersebut memiliki kelemahan dari segi governance attack, sehingga membuka peluang satu pihak bisa menguasai banyak koin dan punya kewenangan untuk merusak atau mengubah jaringan. Seperti yang terjadi saat ini,” jelas Afid.

    Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.
    Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.

    Sementara, BIDR tidak mengunakan skema mekanisme algoritmik. BIDR mempunyai mekanismi setiap koin mewakili satu Rupiah yang disimpan di bank. Ini memungkinkan pencetakan dan burning BIDR berdasarkan jumlah Rupiah yang disimpan.

    Tokocrypto sebagai pengelola BIDR bekerja sama dengan perusahaan audit untuk menyesuaikan suppy token sesuai dengan jumlah uang Rupiah yang disimpan di bank untuk mencapai skala 1:1. Laporan audit transparan dan bisa diakses di tokocrypto.com/report.

    Baca juga: Tragedi Terra (LUNA), UST dan Bitcoin: Raksasa BlackRock, Citadel dan Gemini Dalangnya?

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto memiliki volatil tinggi, Tokocrypto mengimbau setiap pengguna melakukan research terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi dengan mengutamakan sikap kehati-hatian. Segala bentuk perdagangan aset kripto ditanggung pengguna dengan segala risikonya karena merupakan keputusan pribadi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tragedi Terra (LUNA), UST dan Bitcoin, Siapa Dalangnya?

    Tragedi runtuhnya harga Terra (LUNA) dan TerraUSD (UST) membetot publik dunia, raksasa keuangan BlackRock, Citadel dan Gemini malah dituding jadi dalangnya. Begitu naifkah Do Kwon, jikalau rumor ini terbukti benar?

    Harga Terra (LUNA) jatuh sejadi-jadi sebesar 99,66 persen dalam 24 jam terakhir, kini sekitar US$0,01487, berdasarkan data dari Coinmarketcap, Jumat (13/5/2022) dini hari. Sedangkan stablecoin UST justru “labil”, turun lebih dari 42 persen di waktu yang sama, sekitar $ 0,3 saja. Ini situasi pelik nan rumit yang dimulai sejak 8 Mei 2022 lalu, bahkan blockchain Terra dipadamkan untuk sementara mulai kemarin. Sebelumnya, bursa kripto Binance dan Crypto.com sudah menangguhkan perdagangan aset yang terkait kedua kripto itu.

    Sementara Do Kwon si Pendiri Terra jadi bulan-bulanan warganet pecinta kripto, karena dianggap gagal mengendalikan situasi, beredarlah kabar yang tak kalah derasnya, bahwa raksasa keuangan BlackRock, Citadel dan bursa kripto Gemini adalah dalang dan otak di balik kekacauan ini.

    Pun lagi, terkuak pula masa lalu Do Kwon yang disebut oleh mantan karyawan Terraform Labs sebagai otak di balik proyek stablecoin yang gagal, yakni Basis Coin.

    Lantas, mengapa rumor BlackRock, Citadel dan Gemini dituding sebagai penyebab utama dan bukan pihak Terralabs? Ini fakta-faktanya.

    Baca Juga: Avarta dan Tokocrypto Jalin Kemitraan Strategis Kembangkan Ekosistem Blockchain di Indonesia

    Tragedi Terra (LUNA) Diduga Akibat Manipulasi Pasar Sistematis 3 Perusahaan Ini

    Setidaknya ini semua berpangkal dari cuitan (lalu dihapus) Pendiri Cardano Charles Hoskinskon pada Rabu (11/5/2022) lalu. Ia mengunggah gambar berisikan teks tentang bagaimana cara ketiga perusahaan itu merusak harga Terra (LUNA) dan UST, termasuk Bitcoin secara sistematis. Gambar itu ia terlihat hasil screenshot dari aplikasi Telegram atas nama “Anna”.

    Berikut ringkasan isinya: BlackRock dan Citadel meminjam 100 ribu BTC dari Gemini. Kedua perusahaan menukar (swap) 25 ribu BTC itu menjadi UST. Lalu menghubungi Do Kwon dan mengatakan ingin menjual banyak Bitcoin (BTC) menjadi UST.

    Dengan alasan tak ingin mengguncang pasar Bitcoin dengan akan adanya transaksi jumbo itu, BlackRock dan Citadel meminta agar Do Kwon meminta potongan harga untuk UST itu. Kwon pun setuju dengan umpan itu dan mentransfer UST yang diminta, sehingga menekan tingkat likuiditas stablecoin itu.

    Di titik itulah BlackRock dan Citadel menjual semua Bitcoin mereka, termasuk UST. Itulah yang menyebabkan slippage yang besar dan memicu efek domino yang memaksa tekanan jual kuat untuk kedua aset itu.

    Pun lagi, baik BlackRock dan Citadel bahwa di aplikasi DeFi Anchor tersimpan banyak kripto Terra (LUNA) yang pada akhirnya mendorong pengguna menarik kripto mereka yang jumlahnya lebih besar daripada yang bisa diberikan oleh Anchor dalam imbalan.

    Karena aksi jual kripto LUNA semakin deras, tidaklah heran UST kehilangan pasak utamanya dan menjadikan nilainya tak lagi 1 banding 1 lagi terhadap dolar AS.

    BlackRock dan Citadel pun bisa membeli Bitcoin dengan harga diskon untuk membayar kembali pinjamannya kepada Gemini dan mengantongi selisihnya sebagai keuntungan. Ini jelas manipulasi pasar.

    Baca juga: Portofolio Perusahaan Warren Buffett Ini Justru Berinvestasi di Perusahaan Kripto

    Gemini dan BlackRock dan Sangkal Tuduhan Itu

    Gemini yang didirikan oleh Winklevoss bersaudara itu pun langsung angkat bicara di Twitter dan menyangkal keras tuduhan itu.

    Gemini menyangkal melakukan kesalahan dan secara tegas menyatakan, bahwa mereka tidak pernah memberikan pinjaman semacam itu kepada pihak mana pun yang disebutkan dalam screenshot yang beredar. 

    “Kami membaca rumor yang merebak baru-baru ini, yang menggambarkan Gemini membuat pinjaman 100 ribu BTC ke perusahaan besar, membuat penjualan masif terhadap kripto LUNA. Gemini tidak pernah memberikan pinjaman seperti itu,” sebutnya.

    BlackRock menyangkal lebih keras lagi. “Rumor bahwa BlackRock memiliki peran dalam runtuhnya UST adalah keliru. Kami tidak pernah menjual dan membeli UST,” kata Logan Koffler, juru bicara BlackRock kepada Forbes.

    Kedua Perusahaan Semakin dalam di Bisnis Kripto

    Baik BlackRock dan Citadel tak asing di bisnis kripto ini. BlackRock  misalnya memainakn sentimen pasar sejak tahun 2020 dengan memuji-muji keunggulan Bitcoin sebagai aset masa depan. Langkah terbaru BlackRock adalah berinvestasi di Circle sebesar $ 400 juta. Perusahaan penerbit stablecoin USDC ini dikelola oleh bersama dengan bursa kripto ternama asal AS, yakni Coinbase.

    Sedangkan Citadel, pada Januari 2022, menerima investasi $ 1,15 miliar dari perusahaan ventura besar, yakni Sequoia Capital dan Paradigm, yang ingin menggunakan teknologi perusahaan untuk membawa kredibilitas ke pasar kripto.

    Di atas itu semua, pertanyaan besarnya adalah, jika itu benar terjadi, apakah begitu naifnya seorang Do Kwon memakan umpan perusahaan yang sebagian rekam jejaknya juga hitam, seperti yang dipaparkan di sini?

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Blockchain Terra Kembali Produksi, Meski Harga LUNA Hancur

    Validator blockchain Terra telah menghentikan sementara aktivitas jaringan pada hari Kamis malam, 12 Mei 2022 (sekitar pukul 23.20 WIB). Langkah ini diambil untuk mencegah serangan tata kelola setelah devaluasi parah token LUNA. 

    Hal tersebut diumumkan melalui akun Twitter resmi jaringan Terra @terra_money. Akun tersebut membuat cuitan yang menyatakan bahwa jaringan blockchain dihentikan pada ketinggian blok 7.603.700.

    Baca juga: Serangkaian Aksi dan Reaksi Dibalik Anjloknya UST dan Terra (LUNA)

    Langkah ini mengikuti serangkaian peristiwa yang memicu penurunan harga LUNA  dan stabelcoin UST yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

    Harga LUNA terpelanting sangat jauh dari harga tertingginya di bulan lalu. Pada saat laporan ini ditulis harga LUNA diperdagangkan di level $ 0,013 atau setara dengan Rp 190. Bahkan, di hari yang sama LUNA menginjak harga terendahnya di harga $ 0,01 (Rp 146).

    Dalam kurun waktu sekitar satu bulan LUNA ambruk sekitar 98% dari harga tertingginya di level $ 119.

    Berdasarkan data CoinGecko, harga UST saat penulisan berada di level $ 0,33, turun 49% selama 24 jam terakhir.

    Baca juga: Apa Itu Terra (LUNA) Crypto? Ini Penjelasan Lengkapnya!

    Update: Blockchain Terra telah melanjutkan produksi blok dengan penggabungan kode baru. Meski begitu harga LUNA tetap tertekan. Berdasarkan situs CoinMarketCap, pada Jumat (13/5) pukul 08.45 WIB, LUNA diperdagangkan pada $ 0,004592 dengan market cap sebesar $ 557 juta anjok 63%.

    Terlepas dari adanya berbagai upaya dari pihak Terra untuk mengendalikan masalah yang tengah mereka alami, nampaknya upaya tersebut masih belum membuahkan hasil juga.

    Sementara itu, pertukaran crypto terbesar Binance mengumumkan akan menghapus kontrak berjangka Terra (LUNA) dengan margin Tether (USDT) menyusul penurunan harga lebih dari 99%.

    Dalam posting blog hari Kamis, Binance mengatakan akan mengambil “tindakan pencegahan” di sekitar kontrak abadi LUNA/USDT, berniat untuk menghapus pasangan jika harga berada di bawah 0,005 USDT.

    Artikel telah diperbarui dengan informasi tentang pembaruan blockchain Terra, yang memungkinkan produksi blok dilanjutkan. 

    DISCLAIMER: Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Serangkaian Aksi dan Reaksi Dibalik Anjloknya UST dan Terra (LUNA)

    TerraUSD (UST) dan koin pendukungnya, LUNA, menuai aksi jual besar-besaran. Harga UST terjun payung dan seperti terlepas bebas dari dolar yang membuatnya hanya bernilai sebesar $ 0,67, pada Selasa (10/5). Akibat dari kemerosotan harganya, maka nilai kapitalisasi pasarnya pun ikut anjlok.

    Kapitalisasi UST telah jauh melampaui LUNA. Pada saat penulisan, kapitalisasi pasar UST mencapai $ 13,9 miliar dengan harga $ 0,57, Sementara harga pasar LUNA terjun ke $ 6,30. Berdasarkan laporan CoinGecko, hal ini menyebabkan likuidasi besar-besaran hingga menurunkan kapitalisasi pasarnya menjadi $ 4 miliar saja.

    Jika kapitalisasi LUNA lebih rendah dari UST, maka ada kemungkinan dana untuk proyek Terra tidak cukup mendukung nilai stablecoin algoritmiknya. Bahkan, benar-benar tidak cukup kuat untuk mempertahankan pasaknya. 

    Luna Foundation Guard (LFG) sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk memastikan UST tetap bertahan, mengaku telah melakukan upaya untuk mengatasai situasi ini agar bias mengembalikan stablecoin ke $ 1. Strategi mereka dalam mengakuisisi Bitcoin untuk menjamin UST nampaknya belum cukup memberikan dampak yang positif. 

    aset kripto Terra (LUNA)
    Ilustrasi aset kripto Terra (LUNA).

    Baca juga: Jajal Web3, Google Akan Saingi Amazon dan Microsoft

    Jumat (6/5) lalu terjadi penarikan besar-besaran di Anchor Protocol (ANC) yang menyebabkan saldonya terus menukik. Sejumlah besar UST telah pergi dan dianggap telah menemukan jalan mereka ke bursa yang lain. Sampai di sini, timbul pertanyaan, apakah algoritmik Terra gagal?

    Penurunan Harga Stablecoin UST

    Menurut riset whale yang membuang UST sebesar $ 285 pada hari Sabtu (7/5) lalu, yang kemudian berdampak pada penurunan harga stablecoin ke $ 0,98. Aksi itu juga berdampak pada LUNA yang turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, yaitu sebesar $61. Pada saat itu, harga Luna berada di $ 6,30-an.

    Sehingga pada hari Senin (9/5), LFG mengerahkan BTC senilai $ 1,5 miliar sebagai saranan likuiditas untuk kebutuhan ekosistem. LFG meminjamkan koin ke Trading Firms untuk melindungi pasak UST dan 750 juta token UST untuk mengakumulasi BTC.

    Kemampuan Bitcoin dalam mendukung stablecoin tengah diuji, meski akhir-akhir ini nilai Bitcoin sendiri juga ikut turun. Sementara, LFG terus menerus mengutak-atik UST dan menyulut kemarahan para pendukung desentralisasi. Seperti tweet dari salah satu pemimpin Flashboys.net, Hasu, yang mengatakan, “saya tidak ingin orang menyebut UST terdesentralisasi lagi.”

    aset kripto TerraUSD (UST) dan Terra (LUNA)
    aset kripto TerraUSD
    (UST) dan Terra (LUNA).

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 11 Mei 2022: Investor Panik, Tren Bearish Lanjut

    Binance Sempat Tangguhkan Transaksi LUNA

    Kondisi ini semakin diperparah dengan keputusan Binance yang menangguhkan sementara penarikan LUNA dan UST. Binance mejelaskan bahwa penangguhan ini disebabkan oleh tingginya penarikan yang tertunda karena jaringan yang lambat dan macet. 

    “Binance akan membuka kembali penarikan untuk token ini setelah jaringan stabil dan volume penarikan yang tertunda berkurang,” kata Binance. 

    Penangguhan ini terjadi setelah turunnya harga kedua koin tersebut. Penurunan harga terjadi karena ulah yang disebut-sebut para anggota sebagai ‘serangan terkoordinasi’. 

    Sementara itu, pendiri Terra, Do Kwon, nampaknya tidak terganggu dengan gejolak harga ini. Lantaran Kwon diketahui men-tweet, “Menyebarkan lebih banyak modal yang mantap.”

    Tetapi nyatanya pada hari Selasa kemarin, LFG memindahkan 42.500 koin ke berbagai tujuan, termasuk ke crypto exchange OKX, dan Kwon belum men-tweet apa-apa lagi setelahnya.

    Hari ini, Dia men-tweet adanya rencana atau upaya untuk melakukan pemulihan terhadap UST untuk menjadi peg lagi UST/USDT=$ 1.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com