Tag: Market kripto

  • Analisa: Market Kripto Terus Sideways Waspada Sentimen Makroekonomi

    Performa market kripto sepekan ini terlihat sideways atau datar yang menandakan investor kurang bergairah. Kenaikan suku bunga acuan The Fed masih menjadi hambatan pertumbuhan market kripto. 

    Sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap berada zona hijau pada perdagangan Jumat (4/11) pukul 13.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 20.576, naik 1,10% selama 24 jam terakhir dan naik 1,36% sepekan belakang.

    Altcoin lainnya juga mengalami hal yang sama. Nilai Ethereum (ETH) ikut melonjak 1,24% ke US$ 1.567 sehari terakhir dan naik 3,45% seminggu belakang. Di sisi lain, Dogecoin (DOGE) yang sempat tumbuh mengesankan, akhirnya anjlok lebih dari 6% dalam 24 jam terakhir.

    Ilustrasi market kripto Bitcoin.
    Ilustrasi market kripto Bitcoin.

    Baca juga: Tokocrypto Dukung Perlindungan Konsumen dan Jamin Keamanan Investor Kripto

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan volatilitas market kripto menjelang akhir pekan ini akibat besarnya sentimen dari ketidakpastian makroekonomi global. Namun, sejumlah investor yang menjadi kaum bullish mulai masuk untuk akumulasi sehingga sedikit mengerakan market kripto naik, namun tetap sideways. Mereka anggap penurunan harga kripto, pasca The Fed menaikan suku bunga acuannya Kamis (3/11) dinihari lalu, menjadi peluang.

    “Namun, keseluruhan ekonomi global sedang terkena badai setelah Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan penurunan kecil dalam klaim pengangguran. Kemudian, Bank of England meningkatkan suku bunga dengan ukuran jumbo 75 basis poin, sesuai dengan kenaikan AS baru-baru ini. Dua peristiwa itu membuat investor kurang bergairah untuk masuk ke market kripto,” kata Afid.

    Sementara, aset kripto big cap naik, ada beberapa altcoin yang menjadi primadona dalam 24 jam terakhir karena berhasil naik tinggi. Seperti, Loopring (LRC) meroket 23%, OKB naik tinggi sebesar 24%, disusul oleh FTM yang berhasil naik sebesar 18,86%, dan MATIC yang tidak mau ketinggalan dengan kenaikan sebesar 16,54%.

    Total kapitalisasi pasar kripto pun berada di posisi hijau, naik tipis sebesar 0,71% dalam 24 jam terakhir. Penutupan total market cap siang ini berada pada level US$ 1,013 triliun.

    Fear and Greed Index Bitcoin kembali ditutup pada level 30 dengan kategori Fear. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sentimen pasar kripto masih terlihat masih stabil.

    Analisa Bitcoin di November

    Ilustrasi Bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Indonesia Cermati Skema Perdagangan Karbon Bertenaga Blockchain

    Banyak analis menyakini November bisa menjadi bulan yang baik untuk market aset kripto. Indikator hal ini terbukti dengan kembalinya market cap kripto global di titik US$ 1 triliun. Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) pun sempat mencatatkan kenaikan dalam grafik harian di akhir Oktober dan awal November.

    “Volume perdagangan saat ini sedikit membaik dan terjadi short liquidation. Meski demikian, kenaikan dan sentimen bullish ini masih terbatas. Aksi harga Bitcoin dan Ethereum masih belum sepenuhnya pulih dan kembali masuk ke dalam fase konsolidasi. Kondisi tersebut diikuti oleh sebagian besar aset di pasar kripto,” jelas Afid.

    Perlu diketahui, hampir satu tahun harga Bitcoin sudah turun 70% dari rekor tertinggi sepanjang masanya (ATH), yaitu US$ 69.000, yang tercapai pada bulan November 2021 lalu. Peristiwa langka itu diprediksi akan sulit tercapai dalam waktu dekat.

    “Baru-baru ini, Bitcoin memang terlihat mengalami kenaikan 8% dalam rentang waktu mingguan. Namun, kondisi itu membuat aksi harga Bitcoin terbebas dari rangebound momentum yang telah mengungkung pergerakannya selama hampir satu bulan. Untuk BTC mencapai kenaikan harga di bulan ini cukup sulit, terlebih tembus US$ 30.000 dan masih bergerak sempit di rentang US$ 20.000-US$ 23.000,” tutur Afid.

    Menurut laporan Matrixport, harga BTC diprediksi dapat memulai relinya dan mencapai US$ 63.000 pada Maret 2024, ketika Bitcoin akan menjalani halving. Proyeksinya BTC dapat mengulangi aksi harga bullish yang terlihat saat menjelang halving di Juli 2016 dan April 2020.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Kripto Tertekan Akibat Kenaikkan Suku Bunga The Fed

    Market kripto kembali alami penurunan pasca Bank Sentral AS, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya. Investor merespon negatif kenaikan ini dan mulai menjauh dari pasar.

    Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap anjlok ke zona merah pada perdagangan Kamis (3/11) pukul 09.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 20.304, turun 0,84% dalam 24 jam terakhir.

    Sementara, Ethereum (ETH) bahkan anjlok lebih dalam 2,20% ke US$ 1.548 sehari terakhir. Altcoin lain, Dogecoin (DOGE) dan Shiba Inu (SHIB) turun lebih dari 3%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan pergerakan market kripto kembali turun di zona merah, imbas dari respons investor menanggapi kenaikkan suku bunga acuan The Fed.

    Sesuai perkiraan The Fed menaikan suku bunga sebesar 75 basis poin pada Kamis dini hari setelah menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari. “Kenaikan 75 bps ini terjadi keempat kali berturut-turut,” kata Afid.

    Respons Negatif Market

    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas
    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas

    Baca juga: Dogecoin Masuk ke Daftar 50 Holders Terbanyak

    Keputusan itu langsung direspon negatif oleh pasar kripto dan saham. Setelah pidato hawkish dari ketua The Fed, Jerome H. Powell, market kripto langsung anjlok dan altcoin berdampak paling parah dibandingkan Bitcoin. Kapitalisasi pasar kripto pun sempat turun 1,82% menjadi US$ 998,19 miliar.

    Di sisi lain, jika melihat nilai indeks Dolar AS (DXY) pada hari Kamis pagi ini, sedang menguat. Investor mulai meninggalkan aset berisiko, seperti kripto. Terpantau DXY di level 111.92 pada pukul 09.00 WIB naik +0.45%. Kombinasi cocok yang membuat investor menjauh dari market kripto.

    “Sejauh ini investor kripto masih mencoba kuat untuk menahan sentimen negatif dari The Fed. Hal ini terlihat dari harga Bitcoin yang masih berada di atas level psikologisnya US$ 20.000 dan BTC cenderung bakal bergerak sideways dalam beberapa hari ke depan,” jelas Afid.

    Bitcoin sedang membentuk pola double-top dengan neckline di level US$ 20.000. Level ini telah terbukti sebagai titik support yang kuat, sekaligus support psikologis.

    Sementara, harga Harga ETH juga kembali turun lebih dalam dibanding BTC. Penurunan harga saat ini masih tertahan support di level US$ 1.530 sebagai tahanan terdekat. Jika tahanan terdekat tersebut tidak mampu menahan laju turun ETH, kemungkinan penurunan akan berlanjut dengan support selanjutnya berada di level US$ 1.503.

    Sentimen Market

    market kripto bitcoin
    Ilustrasi market kripto bitcoin.

    Baca juga: Kenal Jagat Nusantara Metaverse IKN yang Diresmikan Presiden Jokowi

    Momen penurunan ini bisa dimanfaatkan oleh investor yang ingin melakukan akumulasi untuk jangka panjang. Pasalnya kemungkinan besar market akan terus mengalami tekanan dan bergerak sideways.

    Kenaikan 75 basis poin ini saja membuat suku bunga menjadi 3,75-4%. “The Fed menyatakan masih perlu menaikkan suku bunga karena tingkat inflasi saat ini masih jauh dari target di bawah 2%,” terang Afid.

    Investor kripto juga harus mencermati data tenaga kerja AS yang akan dirilis pada Jumat (4/11) malam adalah data Non Farm Payrolls AS bulan Oktober yang diindikasikan turun dan data Unemployment Rate AS bulan Oktober yang diindikasikan meningkat. Data-data tersebut bisa membuat market kripto kembali tertekan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • NGOBRAS Season 2: Dampak Elon Musk Akuisisi Twitter ke Market Kripto

    Elon Musk baru saja merampungkan akuisisi platform media sosial, Twitter pada Jumat (28/10) lalu. Aksi pencaplokan ini ternyata berdampak juga terhadap market aset kripto.

    Untuk membahas apa saja perubahan di market kripto pasca Musk membeli Twitter akan dibahas tuntas oleh Trader Tokocrypto, Afid Sugiono dan Adriansah dari TokoScholar di video NGOBRAS Season 2, episode 3 ini.

    Selain itu, mereka berdua juga bahas berita terupdate seputar dunia kripto dan blockchain lainnya. Perlu diketahui, kabar-kabar ini bisa menjadi sentimen pendorong dari pergerakan market kripto selama sepekan belakang.

    Baca juga: Twitter Mengizinkan Pengguna Transaksi NFT melalui Tweet

    Tak lupa juga ada watch list token/koin yang bisa menjadi pegangan investor maupun trader yang diproyeksikan mendapatkan cuan. Namun, sekali lagi perlu riset mendalam juga tentang token atau koin kripto yang disampaikan dalam video NGOBRAS kali ini.

    Penasaran? Yuk simak video lengkapnya di bawah ini.

    https://www.youtube.com/watch?v=xVIwbp3qbsE



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa: Jelang Rapat FOMC, Market Kripto Mulai Bangkit

    Performa market kripto terlihat mulai bangkit. Sejumlah aset kripto big cap mulai masuk tipis-tipis ke zona hijau, jelang rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) The Fed.

    Terpantau dari situs CoinMarketCap, Selasa (1/11) pukul 10.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) terlihat masih negatif dengan penurunan 0,09% di harga US 20.491. Sementara, Ethereum (ETH) mulai bangkit naik 0,35% di harga US$ 1.585. Altcoin lainnya seperti Dogecoin (DOGE) dan BNB menjadi primadona dengan kenaikan di atas 5%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat situasi market kripto mulai bergerak naik jelang rapat FOMC yang akan berlangsung 1-2 November mendatang. Hal ini terlihat pergerakan dari investor institusi atau whale yang punya banyak dana di market mulai melakukan akumulasi, setelah pasar terus turun sejak akhir pekan lalu.

    “Investor dan traders secara umum harus mencermati pergerakan reli ini. Sepertinya pola bull trap akan terjadi jelang keputusan rapat FOMC. Market kripto terlihat mulai bullish dan menunjukkan sentimen positif dengan reli singkat, namun nanti ketika keputusan suku bunga sudah keluar akan jatuh kembali,” kata Afid.

    Proyeksi Suku Bunga The Fed

    Ilustrasi Rekt Capital.
    Ilustrasi market aset.

    Baca juga: Kenal Jagat Nusantara Metaverse IKN yang Diresmikan Presiden Jokowi

    Banyak analis yang memperkirakan The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin dengan besaran peluang 81% dan tidak akan berlaku lebih agresif mengingat tingkat inflasi AS yang perlahan tapi pasti mulai melandai. The Fed kemungkinan akan mengerem kenaikan suku bunga acuannya menjadi 50 basis poin pada Desember mendatang.

    Dalam lima FOMC terakhir, harga Bitcoin yang merupakan aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, cenderung bereaksi negatif dalam jangka pendek setelah pengumuman kenaikan suku bunga agresif. “Kemungkinan, pada rapat FOMC mendatang akan sama alami penurunan dan terjadi bull trap,” jelas Afid.

    Di sisi lain, jika melihat nilai indeks Dolar AS (DXY) pada hari Selasa (1/11) pagi ini, sedang melemah. Ini menguatkan nvestor mulai kembali masuk ke aset berisiko, seperti kripto. Terpantau DXY di level 111.40 pada pukul 09.00 WIB dan -0.11%.

    Bitcoin dan Altcoin

    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum.
    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Jaap Arriens | NurPhoto | Getty Images.

    Baca juga: Dogecoin Meroket Salip Cardano Imbas Elon Musk Beli Twitter

    Dari analisis teknikal, dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin nampak sedang on the track menembus ambang batas psikologis harga jual di angka US$ 20.000 menuju US$ 21.000. Reli singkat ini bisa membawa BTC menuju harga US$ 20.627-US$ 20.931 yang menjadi level resistance terdekatnya.

    “Investor juga kini lebih memilih untuk masuk ke altcoin, terllihat dari indeks Bitcoin Dominance yang terus turun ke level 38%. Penguatan yang terjadi di lini altcoin disebabkan oleh dampak akuisisi Twitter oleh Elon Musk yang terjadi akhir pekan lalu,” terang Afid.

    Nilai BNB dan Dogecoin (DOGE), misalnya, menanjak setelah Binance dikabarkan telah berkontribusi US$ 500 juta untuk akuisisi tersebut. Sementara itu, nilai DOGE juga meroket setelah akuisisi Twitter diharapkan akan berimbas positif ke adopsi koin meme tersebut.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa: Market Kripto Tiarap Kena Stabilitas Ekonomi AS

    Menjelang akhir pekan, performa market kripto malah terkulai lemah, setelah dua hari berturut-turut terus reli kencang. Pergerakan sejumlah aset kripto teratas terjun ke zona merah dalam 24 jam terakhir. Kenapa bisa begitu?

    Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap anjlok ke zona merah pada perdagangan Jumat (28/10) pukul 13.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 20.292, turun 2,24% dalam 24 jam terakhir, meskipun naik 6,44% sepekan terakhir.

    Altcoin lainnya juga mengalami hal yang sama. Nilai Ethereum (ETH) ikut tenggelam minus 3,01% ke US$ 1.506 sehari terakhir dan naik 17,02% dalam sepekan. Cardano (ADA) dan Shiba Inu (SHIB) turun lebih dari 5%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: Apakah Harga Bitcoin akan Naik Karena Halloween Effect?

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan sepekan terakhir market kripto memiliki volatilitas yang tinggi dan memang terlihat tampak belum mampu reli panjang. Hal ini disebabkan oleh laporan data ekonomi Amerika Serikat yang membaik.

    “Jelang akhir pekan ini, market kripto berbalik arah. Investor tak sanggup melakukan akumulasi setelah adanya data terbaru soal perkembangan laju ekonomi AS. Aset kripto terkulai setelah investor mencerna hasil pertumbuhan ekonomi AS di kuartal III,” kata Afid.

    Market Kripto Tertekan

    Seperti diketahui, dari sisi makroekonomi, Biro Analisis Ekonomi AS kemarin Kamis (27/10) merilis pertumbuhan ekonomi AS sebesar 2,6% pada kuartal III 2022, lebih baik dari ekspektasi analis 2,4%. Seharusnya, pertumbuhan ekonomi di atas ekspektasi seharusnya menjadi sentimen positif bagi aset berisiko. 

    Namun di sisi lain, investor takut bahwa data makroekonomi AS yang cemerlang akan membuat bank sentral AS, The Fed, semakin percaya diri untuk mengetatkan suku bunga acuannya.

    “Dengan situasi ekonomi AS yang membaik bisa membuat sinyal kepada The Fed untuk bisa menaikkan suku bunga acuannya. Mereka mengganggap ini merupakan waktu yang tepat untuk menggejot suku bunga guna menekan inflasi, tapi tidak berdampak buruk kepada ekonomi karena sudah mulai rebound,” terang Afid.

    bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin. Foto: Getty Images.

    Baca juga: Trader Yakin Bitcoin Bisa Capai Rp 466 Juta Sebelum Akhir 2022

    Selain perkara makroekonomi, pelemahan aset kripto ini juga disebabkan oleh ketakutan investor terhadap amblesnya kinerja saham AS, di mana banyak perusahaan raksasa teknologi mengalami performa yang buruk. Hal ini dapat dimaklumi mengingat aset kripto dan saham teknologi berkategori growth stocks memiliki profil risiko yang mirip.

    Jelang FOMC Meeting

    Di samping itu, menjelang FOMC Meeting yang digelar The Fed pada 1-2 November 2022 menjadi sentimen negatif buat market kripto. Kemungkinan, market belum bisa rebound hingga keputusan sikap The Fed keluar.

    Terlebih, The Fed diperkirakan masih memiliki sentimen hawkish untuk terus menaikkan suku bunga untuk yang keenam kalinya di tahun ini sebesar 75 basis poin dalam pertemuan mendatang.

    Secara teknikal, penurunan harga BTC saat ini mungkin masih akan terus berlanjut dan dianggap valid karena sejalan dengan volume transaksi yang mulai menurun. Level support terdekat BTC saat ini ada di posisi harga US$ 20.050.

    “BTC mungkin masih kuat untuk melakukan retest agar tidak turun terlalu jauh. Investor masih sedikit punya sikap bullish. Namun, bila breakdown, level support selanjutnya berada pada 50-day EMA di level US$ 19.860, yang berfungsi sebagai tahanan, apabila support terdekat tidak mampu menahan laju penurunan harga Bitcoin,” pungkas Afid.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Laporan Penting Situasi Market Kripto Kuartal III 2022

    Situasi market kripto di kuartal III 2022 menjadi hal penting untuk melihat tren ke depan di tengah crypto winter yang melanda. CoinGecko, agregator aset kripto independen terbesar di dunia, baru saja merilis Quarterly Cryptocurrency Report yang menjadi penting untuk trader, investor, dan pelaku usaha.

    CoinGecko Quarterly Cryptocurrency Report telah mengumpulkan kinerja pasar kripto pada kuartal ketiga tahun 2022. Sebagian besar market dalam mode konsolidasi, pasar kripto relatif sepi, dengan total kapitalisasi pasar menutup kuartal di di bawah US$ 986 triliun.

    Laporan Kuartal Market Kripto

    Bobby Ong, COO dan salah satu pendiri CoinGecko, menjelaskan laporan dibuat untuk memeriksa lanskap pasar kripto secara keseluruhan, termasuk kinerja Bitcoin dan kripto versus kelas aset utama seperti ekuitas dan mata uang utama.

    Ilustrasi aset kripto
    Ilustrasi aset kripto.

    Laporan juga membongkar keadaan Ethereum sebelum dan sesudah The Merge, bersama dengan pergerakan harganya, dan meninjau bagaimana Decentralized Finance (DeFi) yang bangkit, sementara volume perdagangan Non-Fungible Token (NFT) secara keseluruhan terus menurun dari Q2.

    “Kuartal terakhir, kami melihat pasar kripto bergerak sideways di tengah gejolak makroekonomi. Meskipun, ada beberapa turbulensi regulasi, kami berharap ada kejelasan seputar peraturan yang bergerak maju,” kata Ong.

    “Secara keseluruhan, kami memperkirakan sementara dalam jangka pendek akan tetap menantang, kami tetap bullish jangka panjang pada industri.”

    1. Market Kripto Sedikit Lebih Tinggi

    Market kripto sedikit lebih tinggi pada kuartal III 2022. Foto: CoinGecko
    Market kripto sedikit lebih tinggi pada kuartal III 2022. Foto: CoinGecko.

    Market cap atau kapitalisasi pasar kripto mencapai level terendah US$ 875 miliar pada 19 Juli, kemudian naik hingga US$ 1,2 triliun pada pertengahan Agustus, sebelum jatuh lagi untuk mengakhiri kuartal III pada US$ 986 miliar, meski begitu ada peningkatan 6,5% quarter-on-quarter (QoQ).

    Setelah penurunan signifikan Q2 sebesar 50% QoQ, pasar tampaknya telah menemukan dukungan dan terutama dalam mode konsolidasi di Q3. Bagaimana di Q4?

    Baca juga: Kenal Kripto Aptos (APT), Project Blockchain Pesaing Solana yang Viral

    Market cap stablecoin. Foto: CoinGecko
    Market cap stablecoin. Foto: CoinGecko.

    Kapitalisasi pasar 15 stablecoin teratas tetap relatif mirip dengan kinerja Q2, kehilangan 3% QoQ, atau US$ 4,7 miliar secara absolut. Lima stablecoin teratas, yaitu Tether (USDT), USD Coin (USDC), Binance USD (BUSD), Dai (DAI) dan Frax (FRAX) juga telah mempertahankan posisinya.

    Setelah US Office of Foreign Assets Control (OFAC) menyetujui Tornado Cash, kapitalisasi pasar USDC turun 16% atau US$ 9 miliar QoQ, karena penerbitnya yang berbasis di AS, Circle membekukan USDC di alamat Tornado Cash yang disetujui. BUSD membukukan keuntungan terbesar pada 18% atau US$ 3 miliar QoQ, dan USDT juga sedikit meningkat sebesar 2,5% atau US$ 1,7 miliar QoQ.

    3. Bitcoin Ungguli Semua Aset Utama

    Bitcoin ungguli semua aset utama. Foto: CoinGecko.
    Bitcoin ungguli semua aset utama. Foto: CoinGecko.

    Fluktuasi di Q3, nilai Bitcoin (BTC) turun 1% QoQ, dan mengungguli semua aset utama kecuali Indeks Dolar AS (DXY), yang naik 7% QoQ. Namun, secara year-to-date (YTD), BTC tetap menjadi aset dengan kinerja terburuk dengan kerugian terbesar sebesar 58%.

    Apapun, mata uang fiat telah berkinerja buruk terhadap USD, dengan EUR dan GBP hampir mencapai paritas terhadap mitra AS mereka.

    Baca juga: Terra Classic (LUNC) Bakal Upgrade Jaringan, Kapan?

    4. Hambatan Makroekonomi Global dan The Merge Ethereum

    Hambatan makroekonomi global dan The Merge Ethereum. Foto: CoinGecko.
    Hambatan makroekonomi global dan The Merge Ethereum. Foto: CoinGecko.

    Pada kuartal III, Ethereum mencapai babak baru dengan adanya, The Merge, peningkatan teknis yang berhasil diterapkan. Meskipun, diharapkan menjadi peristiwa paling bullish untuk Ethereum, kenaikannya singkat dan konsensus industri menjadikan The Merge sebagai peristiwa bersejarah yang berhasil.

    Ethereum (ETH) reli di awal kuartal, memuncak pada US$ 1.982 pada pertengahan Agustus, sementara gagal menembus resistance US$ 2.000. ETH naik lagi dua minggu sebelum The Merge pada 15 September, tetapi lingkungan makroekonomi yang menantang dan pedagang ‘selling the news‘ menghasilkan aksi jual beberapa hari sebelumnya.

    Pasca The Merge, emisi token Ethereum melambat secara signifikan, dengan penurunan 95% rata-rata emisi bersih harian YTD, dari 9.587 ETH menjadi 560 ETH. Sementara, ETH belum menjadi aset deflasi, ini memberikan kepercayaan pada antisipasi sebelumnya dari “triple-halving.”

    Meskipun, reli harga anti-klimaks menjelang The MErge, ETH berhasil menutup kuartal dengan pengembalian harga positif 26% di US$ 1.329, tetapi secara keseluruhan tetap turun 64% YTD.

    5. Market Cap DeFi Rebound

    Market cap DeFi rebound. Foto: CoinGecko.
    Market cap DeFi rebound. Foto: CoinGecko.

    Industri DeFi rebound di Q3, dengan total kapitalisasi pasar meningkat 31% QoQ. Semua sektor DeFi berhasil membalikkan arus keluar likuiditas dan menumbuhkan kapitalisasi pasar, kecuali untuk manajemen aset.

    Kapitalisasi pasar exchange terdesentralisasi (DEXs) tumbuh sebesar 37% QoQ mencapai US$ 10,9 miliar, memperkuat posisi DEXs sebagai sektor terbesar di DeFi, dengan pangsa pasar 45% berdasarkan kapitalisasi pasar di Q3.

    Ini dapat dikaitkan dengan peningkatan volume perdagangan dan volatilitas untuk token tata kelola liquid staking protocols, sebagian besar didorong oleh narasi The Merge. Sektor pertaruhan likuid itu sendiri tumbuh 272% QoQ yang signifikan untuk mencapai kapitalisasi pasar sebesar US$ 1,54 miliar di Q3, mewakili 6,3% dalam pangsa pasar DeFi.

    Baca juga: Bank DBS: Bitcoin Masih Merupakan Peluang Besar

    6. Musim Dingin NFT

    Musim dingin NFT. Foto: CoinGecko.
    Musim dingin NFT. Foto: CoinGecko.

    Pasar NFT mencatat penurunan signifikan 71% dalam total volume perdagangan QoQ, di 5 pasar NFT Teratas OpenSea, Magic Eden, LooksRare, X2Y2 dan CryptoPunks. Berbeda dengan tren penurunan month-on-month (MoM) dalam volume perdagangan para pesaingnya, Magic Eden adalah satu-satunya pasar NFT yang tumbuh pada bulan September, menggandakan volume MoM dari US$ 0,07 miliar menjadi US$ 0,13 miliar.

    Pangsa pasar Magic Eden berdasarkan volume perdagangan naik dari 9% di Q2 menjadi 22% di Q3, mendapatkan pangsa pasar OpenSea yang turun dari 90% di Q2 menjadi 60% di Q3.

    Wash trading terus berlangsung di X2Y2 dan LooksRare. Menurut data September, sekitar 87% volume LooksRare dan 85% volume X2Y2 berpotensi berasal dari perdagangan pencucian. Jika volume perdagangan pencucian telah dimasukkan, X2Y2 akan melampaui OpenSea untuk mengambil posisi teratas.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa: Market Kripto Tetap Perkasa, DOGE Jadi Primadona

    Pergerakan market kripto pada Kamis (27/10) pagi masih melambung tinggi di zona hijau, terutama altcoin DOGE. Secara umum, nilai aset kripto masih menjulang lantaran investor sedang punya selera risiko tinggi.

    Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap nyaman di zona hijau pada perdagangan Kamis (27/10) pukul 09.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 20.788, naik 2,81% dalam 24 jam terakhir.

    Altcoin lainnya juga mengalami hal yang sama. Nilai Ethereum (ETH) ikut terbang 5,50% ke US$ 1.567 sehari terakhir. Di sisi lain, Dogecoin (DOGE) yang tumbuh mengesankan masing-masing 16,62% dalam 24 jam terakhir di market kripto.

    “Nilai DOGE diketahui melonjak setelah CEO Tesla, Elon Musk, dikabarkan akan resmi mengambil alih perusahaan media sosial Twitter pada Jumat (28/10) mendatang. Investor yakin peristiwa itu bisa memperluas adopsi DOGE di platform tersebut,” kata Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.

    Elon Musk usul Twitter dan Tesla terima pembayaran pakai Dogecoin. Foto: PCmag.
    Elon Musk usul Twitter dan Tesla terima pembayaran pakai Dogecoin. Foto: PCmag.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 26 Oktober 2022: Kripto Kompak Hijau

    Analisa Bitcoin

    Sementara itu, pergerakan Bitcoin masih hijau naik sebesar 2,75% dalam 24 jam terakhir. Naiknya harga tersebut mengindikasikan adanya whale atau institusional yang melakukan aksi beli dengan jumlah tinggi. Hal tersebut terlihat dari kenaikan total kapitalisasi market kripto naik sebesar 4,49%, ditutup pada level US$ 1 triliun.

    “Kondisi ini berhasil merubah sentimen market. Fear and greed index berhasil merangkak naik ke level 32 dengan kategori fear, yang sebelumnya konsisten berada pada kategori extreme fear,” jelas Afid.

    Menurut Afid, BTC bisa bergerak lebih tinggi dan mendapatkan sentimen positif dari market. Level resistance terdekat di level US$ 21.488 menjadi target utama laju bullish Bitcoin saat ini.

    Indeks Saham AS dan The Fed

    Berbanding terbalik dengan market kripto, saat ini indeks saham AS terpantau berkinerja buruk pasca rentetan laporan keuangan perusahaan raksasa teknologi yang mengecewakan.

    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

    Baca juga: NGOBRAS Season 2: Investasi Kripto Jangan Kaya Halloween

    “Hal ini terbilang anomali mengingat investor selalu mengaitkan kinerja aset kripto dengan performa saham teknologi lantaran keduanya punya profil risiko yang serupa,” tutur Afid.

    Di sisi lain, jika melihat nilai Dolar AS (DXY) yang sedang melemah dalam beberapa hari terakhir, dimanfaatkan oleh investor untuk mengakumulasi aset kripto di market. DXY di level 109,66 pada pukul 09.00 WIB turun 0,25%.

    Selera risiko investor juga semakin bertenaga setelah muncul peluang bahwa The Fed kemungkinan tidak akan terlalu agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya. “Hal itu, tentu saja, akan menjadi berkah bagi kinerja aset berisiko ke depan.”

    Tanggal penting untuk mengawasi sentimen dari The Fed adalah 28 Oktober perilisan, Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) dan 1–2 November, rapat FOMC keputusan kenaikan suku bunga.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Indonesia Diproyeksikan Masuk Jajaran Market Kripto Teratas Global

    Market aset kripto di Indonesia terus mengalami pertumbuhan dari sisi jumlah investor, meski terjadi crypto winter. Pertumbuhan ini menjadi pendorong untuk Indonesia masuk jajaran teratas market kripto global.

    Bappebti mencatat jumlah investor kripto terdaftar hingga September 2022 mencapai 16,3 juta pelanggan dengan rata-rata peningkatan jumlah pelanggan terdaftar sekitar 692 ribu setiap bulannya. Bandingkan, investor pasar modal per 29 September 2022 sudah mencapai 9,76 juta orang.

    Sementara, nilai transaksi perdagangan kripto di Indonesia, pada Januari-September 2022 tercatat Rp 266,9 triliun atau turun 57,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2021.

    Ilustrasi investasi aset kripto di Indonesia.
    Ilustrasi investasi aset kripto di Indonesia.

    Baca juga: Wamendag: Blockchain dan Kripto Ubah Pola Regulasi Ekonomi

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Teguh Kurniawan Harmanda, melihat market kripto dalam negeri masih punya kesempatan yang besar untuk terus tumbuh. Menurutnya, saat ini semakin banyak individu yang tertarik untuk berinvestasi di ruang kripto dan blockchain, meskipun mereka kurang familiar dengan aset digital.

    “Pertumbuhan jumlah investor kripto dalam negeri terus meningkat, walau market sedang lesu. Artinya banyak individu yang mulai tertarik dengan dunia investasi kripto dan blockchain. Tapi analisa kami, mereka masih banyak yang sepenuhnya paham soal aset digital ini, maka diperlukan program edukasi yang berkelanjutan,” kata pria yang akrab disapa Manda.

    Masuk Jajaran Market Kripto Global

    Mengutip laporan Toluna, Manda menjelaskan Indonesia diproyeksikan masuk dalam jajaran market kripto teratas global dalam 6 bulan ke depan. Indonesia yang digolongkan sebagai negara berkembang punya sentimen positif terhadap aset kripto, dibanding negara maju.

    Laporan Toluna sebut Indonesia diproyeksikan Masuk jajaran market kripto teratas global. Foto: Toluna.
    Laporan Toluna sebut Indonesia diproyeksikan Masuk jajaran market kripto teratas global. Foto: Toluna.

    Baca juga: Kenal Blockchain Aptos, Pesaing Kuat Solana dari Mantan Karyawan Meta

    “Dalam laporan itu Indonesia disebutkan akan lebih kuat untuk mengembangkan industri kripto. Pasalnya, orang-orang di pasar negara berkembang, seperti Indonesia terus memiliki sentimen yang lebih optimis mengenai kripto. Di sisi lain, opini terhadap kripto lebih skeptis di negara maju,” jelasnya.

    Negara-negara yang diproyeksikan mengalami market kripto yang tinggi bersama Indonesia adalah Thailand, UEA, India, Filipina, dan Brasil. Laporan Toluna juga menyebutkan di negara-negara tersebut rata-rata memilih kripto sebagai jenis investasi paling dikenal kedua setelah saham.

    “Riset ini diharapkan dapat memberi awal yang baik dalam memahami masa depan kripto dan bagaimana pelaku usaha di industri ini dapat memainkan peran yang relevan dalam lanskap digital yang terus berubah ini,” pungkas Manda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa Pasar: Market Kripto Kembali Tampil Ciamik, Apa Faktornya?

    Pergerakan market kripto pada perdagangan Selasa (18/10) pagi tampil baik. Sembilan dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar berada di zona hijau jika diukur dalam 24 jam terakhir.

    Menurut situs CoinMarketCap Selasa (18/10) pukul 10.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) menguat 1,69% di US$ 19.505. Sementara, nilai Ethereum (ETH) naik 2,45% ke US$ 1.329 di waktu yang sama.
    Altcoin lainnya juga kinerja apik, mulai dari XRP, Dogecoin (DOGE), Solana (SOL), dan Polygon (MATIC) masing-masing menanjak di waktu yang sama.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan saat ini investor tampak mulai bergairah masuk ke market kripto. Sentimen positif market kripto hari ini mayoritas dipengaruhi oleh kinerja apik dari indeks saham AS, utamanya indeks S&P 500 yang tumbuh (2,7%) dan Nasdaq (3,4%).

    “Saham-saham teknologi juga tumbuh positif, sehingga menjadi tolok ukur investor kripto untuk melakukan akumulasi dan selalu mengacu pada kinerja saham AS secara umum,” kata Afid.

    bitcoin dan saham
    Ilustrasi bitcoin dan saham.

    Baca juga: Analisa Market: Data Inflasi AS Tinggi, Kok Market Kripto Reli?

    Sentimen Makroekonomi

    Di samping itu, data makroekonomi akan relatif ringan minggu ini, tapi harus waspada dan mengamati data inflasi dari Inggris pada Rabu (19/10). Bank of England tercatat sudah enam kali mengeluarkan kebijakan kenaikan suku bunga secara berturut-turut untuk mengendalikan inflasi.

    “Meski pasar kripto terlihat menghijau, namun pergerakan harganya masih terlihat di rentang sempit, mengindikasikan bahwa investor sebenarnya belum bernafsu untuk berpandangan bullish, namun juga tak rela melihat nilai aset kripto melemah,” jelasnya

    “Kekhawatiran investor sekarang ini adalah potensi bank sentral AS, The Fed, untuk mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin di bulan depan.”

    Analisis Bitcoin

    Menurut Afid, jika ditinjau secara analisis teknikal, pelaku pasar juga menganggap bahwa kondisi pasar kripto saat ini, utamanya posisi harga BTC di kisaran US$ 19.000, adalah gerbang awal untuk melancarkan aksi akumulasi. BTC masih harus retest untuk kembali ke level psikologisnya di US$ 20.000.

    Sentimen negatif masih menghantui pelaku pasar kripto. Fear and greed index konsisten bergerak di bawah level 30 dengan kategori Extreme Fear. Belum adanya pemicu yang berhasil untuk merubah sentimen negatif tersebut menjadi salah satu faktor lesunya pergerakan harga saat ini.

    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum.
    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Pixabay.

    Baca juga: Bank Indonesia: CBDC Dapat Atasi Hambatan Inklusi Keuangan

    “Pergerakan harga Bitcoin masih terseok-seok, level US$ 19.891 masih menjadi tahanan yang harus dilewati untuk kembali bergerak bullish. Apabila gagal, BTC kemungkinan akan breakdown kembali ke level US$ 19.264,” ungkapnya.

    Analisis Altcoin dan Ethereum

    Sementara, pergerakan harga Ethereum cenderung sideways. ETH masih usaha pullback ke harga US$ 1.430 yang merupakan level resistance terdekatnya. Breakout terhadap titik tersebut menjadi kunci untuk menarik sentimen pasar untuk mendorong pergerakan harga.

    Di antara seluruh jajaran aset kripto utama, Polygon (MATIC) menjadi primadona setelah nilainya terbang 7,14% dalam sehari terakhir. Pengumuman kemitraan Polygon dengan studio Web3 bernama SuperLayer, untuk meningkatkan pertumbuhan dari segmen game, budaya, dan investasi.

    Kemitraan ini menggarisbawahi upaya Polygon untuk mengejar peluang pertumbuhan dalam ekosistem Web3, sehingga disambut baik oleh investor dengan melakukan akumulasi.

    https://www.youtube.com/watch?v=AXsGbCXEgZg



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Kripto Stagnan, Investor Ketar-ketir Hadapi CPI

    Market kripto pada perdagangan Kamis (11/10) pagi tampak stagnan. Terpantau dari situs CoinMarketCap pada pukul 11.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) melemah 0,06% di harga US$ 19.091 dan Ethereum (ETH) anjlok 0,38% ke level US$ 1.285.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan investor semakin tak selera mengoleksi aset berisiko setelah The Fed, kembali menegaskan akan terus mengerek suku bunga acuan sampai ada bukti bahwa inflasi AS mengarah ke target 2%.

    “Risalah rapat The Fed September yang dirilis Rabu (12/10) kemarin, seakan menegaskan lembaga tersebut belum melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Alhasil market tak bergairah menyambut risalah rapat tersebut,” katanya.

    Tunggu Data CPI Inflasi

    Situasi market bisa lebih mencekam, karena risalah rapat The Fed terbit sehari sebelum pengumuman data inflasi AS September. Akibatnya, investor menganggap The Fed tetap akan menaikkan suku bunga acuannya 75 basis poin bulan depan terlepas dari hasil inflasi AS September membaik atau memburuk.

    market aset kripto
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Bank Indonesia: CBDC Dapat Atasi Hambatan Inklusi Keuangan

    “Nilai aset kripto yang masih mondar-mandir di rentang harga sempit mengindikasikan investor belum bisa menentukan sikap di market. Ternyata, mereka semua wait and see menanti data inflasi AS September yang akan terbit hari ini,” jelas Afid.

    Laporan JP Morgan mengatakan, nilai aset berisiko, termasuk aset kripto, bisa tumbang 5%, jika inflasi AS ternyata tak sesuai ekspektasi. Sementara itu, firma Covario mengatakan harga kripto bisa naik atau turun 3% tergantung hasil inflasi AS September.

    Lebih lanjut Afid menjelaskan sikap investor saat ini sepertinya kembali melirik Bitcoin dibanding altcoin, jika diukur dari persentase penguatannya. Bitcoin Dominance kembali ke level 40%.

    Ekosistem Kripto

    Adapun kabar yang membuat altcoin jatuh adalah platform DeFi di jaringan Solana, Mango, yang alami peretasan dan mengakibatkan aset kripto senilai US$ 100 juta raib. Kemudian, SEC yang saat ini disebut melakukan penyelidikan terhadap Yuga Labs, perusahaan di balik NFT hits Bored Ape Yacht Club.

    Ilustrasi Apecoin (APE). Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi Apecoin (APE). Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Bappebti Sebut Transaksi Kripto RI Turun, Apa Penyebabnya?

    Dari segi analisis teknik, Bitcoin sedang berjuang untuk menolak penurunan di level support terdekatnya yang berada pada level US$ 18.973. Jika berhasil breakdown, maka penurunan selanjutnya ditargetkan ke level US$ 18.860.

    “Sementara, altcoin yang menjadi primadona saat ini adalah Huobi Token (HT) yang reli lebih dari 20% dalam 24 jam terakhir,” ujar Afid.

    Kenaikan harga didorong oleh kabar exchange, Houbi yang diisukan mengakuisisi Justin Sun sebagai penasihat untuk fokus membawa nilai lebih ke Huobi Token. Alhasil investor merespons untuk mulai mengakumulasi dana mereka ke token utilitas tersebut karena nilainya meningkat untuk hari ketiga berturut-turut.



    Sumber : news.tokocrypto.com