Tag Archives: muslim

Doa Haji Mabrur dalam Arab, Latin, dan Artinya



Jakarta

Haji mabrur artinya haji yang diterima oleh Allah SWT atau maqbul. Dalam pelaksanaannya, ada doa haji mabrur yang dapat kita amalkan.

Alasan mengapa perlu haji yang dilakukan adalah ibadah haji mabrur adalah balasan yang akan diterima pelakunya adalah surga. Hal ini termasuk dalam keutamaan yang dijanjikan dan disabdakan oleh Rasulullah SAW seperti dalam hadits berikut ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةُ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْجُ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءُ إِلَّا الْجَنَّةُ.


Artinya: “Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu menyampaikan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Dari umrah ke umrah itu penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tiada balasan yang sesuai kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dijelaskan juga dalam sebuah hadits yaitu sebagai berikut,

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : هَذَا البَيْتُ دِعَامَةُ الإِسْلَامِ فَمَنْ خَرَجَ يَؤُمُ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ حَاجَ أَوْ مُعْتَمِرٍ كَانَ مَضْمُونًا عَلَى اللهِ إِنْ قَبَّضَهُ يُدْخِلُهُ الجَنَّةَ، وَإِنْ رَدَّهُ رَدَّهُ بِأَجْرٍ وَغَنِيمَةِ

Artinya: Jabir Radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Rumah ini (Baitullah) adalah tiang Islam. Barang siapa yang berangkat menuju rumah ini untuk melakukan haji atau umrah, maka telah dijamin oleh Allah; jika meninggal akan dimasukkan ke dalam surga, dan jika pulang (ke rumah asal) akan memperoleh pahala yang melimpah.” (HR Ibnu Juraij)

Doa Haji Mabrur

Adapun setelah melaksanakan ibadah haji, kita dapat mengucapkan doa agar haji yang telah terlaksana akan mabrur atau diterima oleh Allah SWT. Berikut ini adalah doa haji mabrur dalam Arab, latin, dan artinya.

اللهم اجْعَلْ حَجَّنَا حَجًّا مَبْرُوْرًا، وَعُمْرَةَنَا عُمْرَةً مَبْرُوْرًا، وَسَعْيَنَا سَعْيًا مَشْكُوْرًا، وَذَنْبَنَا ذَنْبًا مَغْفُوْرًا، وَعَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مَقْبُوْلًا، وَتِجَارَةَنَا تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ، يَا عَالِمَ مَا فِى الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.

Arab Latin: “Allahummaj’al hajjana hajjan mabruura, wa ‘umratan ‘umratan mabruura wasa’yanaa sa’yan masykuuraa wa dzanban dzanban maghfuura wa ‘amalanaa ‘amalan shaalihan maqbuulaa wa tijaaratan lan tabuura yaa ‘aalima maa fish shudur akhrijnaa minadh dhulumaati ilan nuur.”

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur (baik dan diterima), umrah kami umrah yang mabrur, sa’i kami sa’i yang disyukuri, dosa kami dosa yang diampuni, amal kami amal shaleh yang diterima dan perdagangan kami perdagangan yang tidak merugi, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada, keluarkanlah kami dari kedzaliman menuju cahaya (keimanan).”

Adapun selain berdoa, tentunya terdapat langkah-langkah atau cara agar bisa mencapai haji mabrur. Dikutip dari buku Bimbingan Lengkap Haji dan Umrah oleh M. Syukron Maksum, sebagai tamu Allah SWT saat haji jika kita tanpa celah sedikitpun maka Allah akan memberikan ampunan untuk kita. Hal ini sesuai dengan sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji tanpa mengucap dan berbuat cabul, dan tanpa melanggar ketentuan, maka keadaannya dari segi dosa akan kembali seperti keadaan pada hari saat dia dilahirkan ibunya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dijelaskan dalam buku tersebut bahwasanya jika suatu ibadah dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah yang ditetapkan syariat baik syarat dan rukunnya, diiringi dengan keikhlasan dan mengharap keridhaan Allah, niscaya ibadah tersebut akan berdampak positif.

Begitulah sekilas pembahasan kali ini mengenai doa haji mabrur sekaligus dengan pengertian dan pembahasannya. Semoga tulisan kali ini dapat bermanfaat dan kita diberikan kesempatan untuk menunaikan haji mabrur. Aamiin yaa Rabbalalamiin.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Hadits yang Menjelaskan Pentingnya Perilaku Toleransi dalam Islam



Jakarta

Toleransi secara bahasa dapat diartikan sebagai sikap menghargai pendirian orang lain. Dalam tulisan ini akan dipaparkan mengenai hadits yang menjelaskan pentingnya perilaku toleransi khususnya dalam Islam.

Sebelumnya, diketahui bahwa toleransi dalam Islam juga dikenal sebagai Tasamuh. Meskipun menghargai, namun bukan berarti membenarkan atau bahkan mengikuti pendirian orang lain.

Menurut buku Antologi Hadits Tarbawi tulisan Anjali Sriwijbant dkk, toleransi harus dideskripsikan secara tepat lantaran toleransi yang disalah artikan dapat merusak agama itu sendiri. Islam sebagai ajaran yang total atau kaffah sudah pasti mengatur dengan penuh mengenai batas antara muslim dan non muslim seperti Islam mengatur batas antara laki-laki dan perempuan.


Toleransi dalam Islam artinya adalah menghormati tanpa harus melewati aturan agama Islam itu sendiri. Hadits yang menjelaskan pentingnya perilaku toleransi sendiri termuat dalam sebuah riwayat yang mengatakan bahwa agama Islam adalah agama yang toleran.

Adapun bunyi dari hadits tersebut adalah sebagai berikut,

عَن ابْنِ عَبَّاس قَالَ قَبْلَ لرَسُول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَمُ أَي الْأُذُونَ أَحَبُّ أَلى الله قَالَ الْحَنيفيَّة السَّفْحَة

Artinya: “Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu ia berkata, ditanyakan kepada Rasulullah SAW yaitu, “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?”maka beliau bersabda: “Al-Hanafiyah As-Sambah (yang lurus lagi toleran).” (HR Bukhari)

Bahkan toleransi antar umat beragama ini juga termaktubkan dalam firman-Nya surah Al Kafirun ayat 5 yaitu,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

Arab Latin: Lakum dīnukum wa liya dīn

Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Selain toleransi dengan orang selain muslim, antar sesama muslim juga membutuhkan toleransi. Toleransi ini dapat memperkokoh umat muslim dan Islam itu sendiri.

Hadits mengenai keterangan ini terdapat pada sebuah ungkapan yang diriwayatkan oleh Abi Musa Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Artinya: “Hubungan orang mukmin dengan orang mukmin yang lain bagaikan satu bangunan yang saling memperkokoh satu sama lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sedangkan, secara umum setiap manusia yang berbuat sesuatu itu sudah diketahui Allah SWT akan apa maksud dari tindakannya tersebut. Allah SWT telah mewanti-wanti kita sebagai umat yang beriman kepada-Nya untuk mengatakan kepada orang yang sekiranya berbeda prinsip yaitu, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu terlepas diri dari apa yang aku kerjakan dan aku pun terlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.”

Keterangan di atas didapatkan dari Al-Qur’an surah Yunus ayat 40-41 yang berbunyi sebagai berikut,

وَمِنْهُمْ مَّنْ يُّؤْمِنُ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهٖۗ وَرَبُّكَ اَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِيْنَ(40 ࣖ

وَاِنْ كَذَّبُوْكَ فَقُلْ لِّيْ عَمَلِيْ وَلَكُمْ عَمَلُكُمْۚ اَنْتُمْ بَرِيْۤـُٔوْنَ مِمَّآ اَعْمَلُ وَاَنَا۠ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ(41

Artinya: “Di antara mereka ada orang yang beriman padanya (Al-Qur’an), dan di antara mereka ada (pula) orang yang tidak beriman padanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.Jika mereka mendustakanmu (Nabi Muhammad), katakanlah, ‘Bagiku perbuatanku dan bagimu perbuatanmu. Kamu berlepas diri dari apa yang aku perbuat dan aku pun berlepas diri dari apa yang kamu perbuat.'”

Begitulah sekilas pembahasan kali ini mengenai hadits yang menjelaskan pentingnya perilaku toleransi sekaligus beberapa ayat yang juga menjelaskannya. Semoga tulisan kali ini dapat menambah pemahaman kita mengenai toleransi sekaligus keimanan kita. Aamiin yaa Rabbal’alamiin.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Hadits Orang yang Enggan Masuk Surga, Siapa Mereka?



Jakarta

Rasulullah SAW dalam haditsnya pernah menyebutkan kelompok orang-orang yang enggan masuk ke surga milik Allah SWT. Siapakah orang-orang tersebut?

Hadits yang dimaksud bersumber dari Abu Hurairah RA yang pernah mengutip sabda Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Bukhari dengan sanad shahih dalam Kitab Al I’tisham bil Kitab wa As Sunnah berikut bunyinya.

أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أَبَى». قيل: ومَنْ يَأْبَى يا رسول الله؟ قال: «من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أَبَى»


Artinya: “Seluruh umatku masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang enggan itu?” Beliau bersabda, “Barang siapa yang taat kepadaku ia pasti masuk surga, dan barang siapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah enggan masuk surga.” (HR Bukhari)

Orang-orang yang enggan masuk surga adalah mereka yang enggan menaati perintah rasul. Menurut Kitab Fathul Bari, orang-orang yang enggan masuk surga dalam hadits tersebut dapat terdiri dari golongan kafir maupun muslim.

Golongan kafir yang enggan masuk surga disebutkan tidak akan masuk surga sama sekali. Sementara, bagi muslim disebutkan akan melalui proses yang lama terlebih dahulu sebelum masuk surga.

“Jika dia itu muslim maka maksudnya dia tidak akan masuk surga beserta orang-orang yang pertama memasukinya. Jadi dia bakal masuk tapi ada proses dulu yang membuat masuknya lambat,” demikian penjelasannya yang diterjemahkan oleh Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah (PISS) KTB dalam buku Tanya Jawab Islam.

Mengenai perintah taat kepada rasul sejatinya sudah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Ali Imran ayat 32,

قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya: Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Selain itu, disebutkan pula dalam surah An Nisa ayat 80. Allah SWT berfirman,

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ

Artinya: “Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai pemelihara mereka.”

Disebutkan dalam Tafsir Tahlili terbitan Kemenag, menaati rasul tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan syirik atau mempersekutukan Allah SWT. Sebab, rasul adalah utusan Allah SWT yang mengemban perintah-Nya.

Taat kepada Rasulullah SAW

Menurut surat Al Hasyr ayat 7, taat kepada rasul adalah mengikuti apa yang diajarkan dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Allah SWT berfirman,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”

Menaati Rasulullah dapat dilakukan dengan menjalankan apa yang menjadi syariatnya. Dalam Islam, ada banyak ibadah yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan rasul.

Ibadah ini bisa dilakukan dalam usaha menjadi salah satu umat Rasulullah SAW yang pasti masuk surga. Tentunya saat melakukan ibadah, tiap muslim harus taat pada rukun dan syaratnya.

Berikut beberapa amalan yang diperintahkan Rasulullah SAW adalah salat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an, mengingat Allah SWT baik di waktu lapang maupun sempit, hingga membaca sholawat sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Ahzab ayat 56 sebagai berikut.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Artinya:”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

(rah/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa Walimatul Khitan, Bisa Dibaca saat Anak Sunat


Jakarta

Khitan menjadi salah satu amalan yang disyariatkan bagi umat muslim. Ada doa khusus yang bisa dibaca untuk anak ketika khitan atau sunat.

Khitan telah disyariatkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Menurut sejarahnya, khitan telah diperintahkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu utusan Allah SWT yang diberi syariat atas khitan. Rasulullah SAW bersabda,


احْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ النَّبِيُّ ﷺ وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةٌ بِالْقَدُومِ

Artinya: “Nabi Ibrahim berkhitan ketika berusia 80 tahun menggunakan kapak.” (HR. Bukhari).

Ibnu Qayyim dalam Tuhfatul Al-Maudud menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim AS mengkhitan dua anaknya yakni Ishaq AS dan Ismail AS. “Nabi Ibrahim mengkhitan anaknya yang bernama Ishaq ketika berumur 7 hari dan mengkhitan Ismail ketika berumur 13 tahun.”

Syariat ini kemudian berlanjut ke anak cucu keturunan Nabi Ibrahim AS hingga hadirnya Nabi Muhammad SAW sebagai utusan terakhir. Sebagian besar ulama mengatakan bahwa khitan bagi laki-laki muslim hukumnya adalah wajib.

Perintah berkhitan bagi umat Nabi Muhammad SAW secara khusus disebutkan dalam beberapa hadits, salah satunya sebagai berikut.

خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ : الاِسْتِحْدَادُ وَالْخِتَانُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Lima dari fitrah: memotong bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR Jama’ah).

Doa Walimatul Khitan

Ada doa yang bisa dibaca ketika menggelar walimatul khitan. Doa ini ditujukan kepada anak yang dikhitan agar mendapatkan kebaikan serta keberkahan dari Allah SWT.

Dalam Kitab Hilyatun Nufus lil ‘Aris wal ‘Arus sebagaimana dinukil NU Online, tertulis sebuah doa ketika seseorang akan dikhitan yakni,

اَللَّهُمَّ هَذِهِ سُنَّتُكَ وَسُنَّةُ نَبِيِّكَ، صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَآلِهِ، وَاتِّبَاعٌ مِنَّا لِنَبِيِّكَ، بِمَشِيْئَتِكَ وَإِرَادَتِكَ وَقَضَائِكَ لِأَمْرٍ أَرَدْتَهُ وَقَضَاءٍ حَتَمْتَهُ، وَأَمْرٍ أَنْفَذْتَهُ، وَأَذَقْتَهُ حَرَّ اْلحَدِيْدِ فِيْ خِتَانِهِ وَحِجَامَتِهِ بِأْمْرٍ أَنْتَ أَعْرَفُ بِهِ مِنِّيْ

Arab Latin: Allāhumma hādzihī sunnatuka wa sunnatu nabiyyika, shalawātuka ‘alayhi wa ālihī, wat tibā’un minnā li nabiyyika, bi masyī’atika, wa irādatika, wa qadhā’ika li amrin aradtahū, wa qadhā’in hatamtahū, wa amrin anfadztahū, wa adzaqtahū harral hadīdi fī khitānihī wa hijāmihī bi amrin anta a’rafu bihī minnī.

Artinya, “Ya Allah, ini adalah sunnah-Mu dan sunnah nabi-Mu. Semoga rahmat tercurah padanya dan keluarganya. Dan kami mengikuti nabi-Mu dengan kehendak-Mu dan qadha-Mu. Karena suatu hal yang Engkau inginkan. Karena suatu hal ketentuan yang Engkau tetapkan. Karena suatu perkara yang Engkau laksanakan, dan Engkau merasakan padanya panasnya besi dalam khitan dan bekamnya karena suatu perkara yang Engkau lebih tahu dari aku.

Lanjutkan dengan doa berikut,

” اَللَّهُمَّ فَطَهِّرْهُ مِنَ الذُّنُوْبِ، وَزِدْ فِيْ عُمْرِهِ وَادْفَعِ اْلآفَاتِ عَنْ بَدَنِهِ وَاْلأَوْجَاعِ عَنْ جِسْمِهِ، وَزِدْهُ مِنَ اْلغِنَى وَادْفَعْ عَنْهُ اْلفَقْرَ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلَا نَعْلَمُ

Arab latin: Allāhumma fa thahhirhu minadz dzunūb, wa zid fi umrihī, wadfa’il āfāti ‘an badanihī wal awjā’i ‘an jismihī, wa zidhu minal ghinā, wadfa’ ‘anhul faqra, fa innaka ta’lamu wa lā na’lamu.

Artinya, “Ya Allah, maka sucikanlah dia dari dosa-dosa. Tambahlah umurnya. Jagalah tubuhnya dari penyakit. Dan tambahlah kekayaan padanya dan jauhkan dari kefakiran. Maka sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sementara kami tidak mengetahui”.

Hukum Khitan dalam Ajaran Islam

Mengutip buku Konsep Gender Dalam Islam (Menggagas Fikih Perkawinan Baru) oleh Dr. Agus Hermanto, dijelaskan bahwasannya Nabi Muhammad SAW telah dikhitan sejak lahir.

Para ulama berpendapat, Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan telah dikhitan. Namun sebagian ulama juga berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW dikhitan oleh sang kakek, Abdul Muthalib pada hari ke tujuh kelahirannya.

Nabi Muhammad SAW juga mengkhitan dua cucunya yakni Hasan dan Husain saat keduanya berusia 7 hari.

Mahjudin dalam bukunya “Masa’il al-Fiqh” menyatakan bahwa khitan bagi laki-laki hukumnya wajib. Khitan juga merupakan sebuah cara untuk melakukan thaharah (bersuci) dari najis (hadats) yang status hukumnya wajib.

Sedangkan khitan terhadap pertemuan hukumnya sunnah dengan alasan bahwa tidak ada alat kelamin perempuan yang perlu dibuang untuk kepentingan thaharah.

Demikian doa dan penjelasan tentang hukum khitan bagi anak laki-laki muslim.

(dvs/kri)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Asyura Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya


Jakarta

Hari Asyura yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram termasuk sebagai hari paling utama dalam Islam. Karena keistimewaannya ini pula terdapat doa Asyura yang dianjurkan bagi muslim untuk membacanya.

Mengutip buku 12 Bulan Mulia: Amalan Sepanjang Tahun oleh Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, hari-hari paling utama di bulan Muharram adalah sepuluh hari pertamanya.

Seorang ulama bernama Yaman bin Rab menyebut 10 hari pertama bulan Muharram sebagai, “Sepuluh yang digunakan Allah SWT untuk bersumpah di dalam kitab-Nya.”


Usman al-Hindi juga mengatakan, “Mereka mengagungkan tiga macam sepuluh; 10 hari terakhir bulan Ramadhan, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, dan 10 hari pertama bulan Muharram.”

Selain itu, kemuliaan hari Asyura juga terlihat dari berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di hari tersebut, yakni taubat Nabi Adam AS yang diterima Allah SWT, selamatnya Nabi Ibrahim AS dari siksaan Namrud, hingga Nabi Musa AS yang selamat dari kejaran Firaun.

Keistimewaan tanggal 10 Muharram ini tambah lengkap lantaran ada doa Asyura yang bisa dibaca muslim pada hari tersebut. Di mana doa tersebut punya keutamaan besar sebagaimana dinukil dari laman NU Online:

“Syekh Sulaiman Al-Jamal mengatakan, ‘Dikutip dari sebagian ulama sufi, siapa saja yang membaca doa ini (doa Asyura) pada hari Asyura, niscaya tidak mati hatinya pada tahun tersebut. Siapa saja yang selesai ajalnya, Allah tidak mengilhaminya untuk membaca doa tersebut. Doa ini termasuk mujarab tanpa keraguan.'” (Kitab Hasyiyah Al Jamal ‘ala Syarhil Manhaj, juz II, hal. 348)

Untuk mengetahui bacaan doa Asyura yang punya keistimewaan besar, simak pada uraian di bawah ini.

Doa di Hari Asyura: Arab, Latin, dan Arti

Dilansir laman NU Online, berikut doa Asyura yang bisa kaum muslim baca pada tanggal 10 Muharram:

سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ

وَالْحَمْدُ ِللّٰهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ

اَللهُ أَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ

لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ

لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلَّا إِلَيْهِ

سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ

اَللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ

لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Latin: Subhaanallaahi mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wa ‘adadan ni’ami wa zinatal ‘arsyi

Walhamdulillaahi mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wa ‘adadan ni’ami wa zinatal ‘arsyi

Lailahaillallaah mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wa ‘adadan ni’ami wa zinatal ‘arsyi

Allaahu akbaru mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridha wa ‘adadan ni’ami wa zinatal ‘arsyi

Laa haula wa laa quwwata illa billaahi mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wa ‘adadan ni’ami wa zinatal ‘arsyi

Laa malja-a wa laa manjaa minallaahi illa ilaih

Subhaanallaahi ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimaatilaahit taammaati

Alhamdulillaahi ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimaatilaahit taammaati

Laa ilaaha illallah ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimaatilaahit taammaati

Allaahu akbar ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimaatilaahit taammaati

Laa haula wa laa quwwata illa billaahi ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimaatilaahit taammaati

Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir

Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallama tasliiman katsiiran

Artinya: Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan ‘arsy

Segala puji bagi Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan ‘arsy

Tiada Tuhan selain Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan ‘arsy

Allah Maha Besar sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan ‘arsy.

Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, jumlah nikmat-nikmat dan timbangan ‘arsy

Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya

Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna

Segala puji bagi Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna

Segala puji bagi Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna

Allah Maha Besar sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna

Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna

Allah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong

Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan sahabat beliau dengan keselamatan yang berlimpah.

(Syekh Sulaiman al-Jalam, Kitab Hasyiyah Al-Jamal ‘Ala Syarhil Manhaj, Juz II, hal. 348)

Amalan-amalan di Hari Asyura

Selain membaca doa di atas, ada juga sejumlah amalan lain yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari Asyura sebagaimana dinukil buku 12 Bulan Mulia: Amalan Sepanjang Tahun.

1. Puasa Asyura

Pada hari Asyura di tanggal 10 Muharram, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam untuk berpuasa. Sehingga puasa di hari itu bersifat sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Sesuai riwayat dari Ibnu Abbas RA:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh untuk berpuasa pada hari itu.” (HR Bukhari [4/214, 215] dan Muslim [1130,128])

Pelaksanaan puasa Asyura juga ternyata punya keutamaan yang mulia, sebagaimana sabda Rasul SAW yang diriwayatkan Abu Qatadah RA, “Bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa tersebut dapat melebur dosa setahun yang lalu.'” (HR Muslim [1162])

2. Sedekah

Bersedekah di hari Asyura dianjurkan pula bagi kaum muslim. Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata, “Barang siapa berpuasa Asyura maka seakan-akan berpuasa setahun. Dan barang siapa bersedekah di dalamnya (di hari Asyura) maka dia seperti bersedekah selama setahun.”

3. Bertaubat kepada Allah SWT

Tak hanya amalan-amalan tersebut, kaum muslim juga hendaknya banyak bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT di tanggal 10 Muharram. Abu Ishaq berkata, “Sesungguhnya jika suatu kaum berbuat dosa lalu mereka bertaubat pada hari itu, maka taubat mereka diterima Allah SWT.”

Itulah doa Asyura yang dapat umat Islam baca di tanggal 10 Muharram. Selain berdoa, ada juga sejumlah amalan lain yang bisa muslim kerjakan di hari mulia tersebut sebagai uraian di atas.

(fds/fds)



Sumber : www.detik.com

Doa Sebelum Ujian, Bisa Dibaca oleh Pelajar Maupun Pekerja


Jakarta

Umat Islam selalu dianjurkan untuk membaca doa dalam setiap kegiatan. Mulai dari bangun tidur, pergi keluar rumah hingga kembali tidur.

Begitu pun dalam menghadapi ujian. Ada beberapa doa yang bisa diamalkan agar diberi kelancaran. Doa ini diajarkan oleh para nabi, salah satunya adalah nabi Musa.

Dikutip dari kitab Al-Adzkar oleh Imam Nawawi dan beberapa hadits riwayat lainnya, berikut doa-doa sebelum ujian yang bisa dipanjatkan.


Doa Sebelum Ujian (1)

Nabi Musa AS pernah memakai doa ini kepada kaumnya. Dianjurkan, doa sebelum ujian ini dibaca sebanyak 100 kali menjelang pelaksanaan.

Bunyi bacaannya tercantum dalam firman Allah QS. Thaha ayat 25-28:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي
وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي
يَفْقَهُوا قَوْلِي

Bacaan latin: rabbisyraḥ lī ṣadrī wa yassir lī amrī waḥlul ‘uqdatam mil lisānī yafqahụ qaulī

Artinya: “Ya Rabb-ku, lapangkanlah dadaku, dan ringankanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 25-28).

Doa Sebelum Ujian (2)

Dikutip dari buku 101 Doa Anak Salah karya Tim Darul Ilmi, berikut doa sebelum ujian yang lainnya.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Bacaan latin: Robbanaa aatinaa mil ladunka rohmah, wa hayyi lanaa min amrinaa rosyadaa.

Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, berilah kami di sisi-Mu suatu rahmat, dan persiapkan kami mengenai urusan kami dengan petunjuk-Mu. (QS. Al-Kahfi ayat 10.)

Doa Sebelum Ujian (3)

Doa sebelum ujian selanjutnya adalah doa yang sering dpanjatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah. (Lihat Jaami’ul Ahadits, 6/257, Asy Syamilah)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Bacaan latin: Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.”

Doa Sebelum Ujian (4)

رَبِّ يَسِّرْ وَأَعِنْ وَلَا تُعَسِّرْ

Bacaan latin: Rabbi yassir wa a’in wa laa tu’assir

Artinya: “Wahai Rab-ku, mudahkanlah (urusanku). Bantulah aku, jangan Engkau persulit.”

Doa Sebelum Ujian (5)

Hadits ini datang dari Aisyah RA sebagaimana terdapat dalam kitab Ibnu Sunni. Dalam sebuah riwayat dikatakan, barangsiapa yang merasa was-was maka dapat mengucapkan doa berikut.

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ

Bacaan latin: A mannaa billaahi wa birusulihi

Artinya: “Aku beriman kepada Allah dan rasulnya.”

Doa Sebelum Ujian (6)

Dalam hadist riwayat Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Arab: اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Bacaan latin: Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.”

(hnh/erd)



Sumber : www.detik.com

Doa Pembuka Acara Versi Pendek dan Panjang


Jakarta

Sebelum memulai acara biasanya selalu ada doa yang dipanjatkan. Hal itu dilakukan sebagai permintaan kepada Allah SWT untuk meminta kelancaran.

Salah satu doa yang bisa dipakai terletak dalam Al-Qur’an. Doa pembuka acara ini adalah potongan ayat dalam surah Al A’raf.

Mengutip buku Para Nabi dan Rasul karya Nurul Huda, berikut doa pembuka acara yang bisa diamalkan.


Doa Pembuka Acara Versi Pendek

… الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَننَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِهْتَدِى لَوْلَا أَنْ هَدَيْنَا اللَّهُ …

Arab Latin: “Alḥamdu lillāhil-lażī hadānā lihāżā, wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh”

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.”

Doa Pembuka Acara Versi Panjang

Doa ini sering kita dengar sebagai bacaan pengantar khutbah. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa, doa ini dapat dibaca saat ada hajat, melakukan akad nikah, membuka pengajian/majelis, atau menyampaikan khutbah Jumat. (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majad, dan Nasa’i)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . أَمَّا بَعْدُ

Arab Latin: “Innal hamdalillaah, nahmaduhuu, wa nasta’iinuhu, wa nastagh-firuh. Wa na’uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyi-aati a’maalinaa. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa man yudh-lil falaa haadiya lah. Wa asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Ammaa ba’du.”

Artinya: “Segala puji hanya kepada Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”

Doa Penutup Acara

Setelah selesai acara atau majelis, sebaiknya ditutup juga dengan sebuah doa. Doa ini dipanjatkan untuk meminta maaf dari kekhilafan selama acara.

Doa tersebut adalah sebagai berikut:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

Arab Latin: “Subhaanakallaahumma wa bi-ḥamdika, asyhadu allaa Ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilayka.”

Artinya: “Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (Yang berhak disembah) kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertobat kepada-Mu.”

Penjelasan dari doa penutup majelis ini adalah berdasarkan sebuah hadits. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang duduk di suatu majelis dan di dalamnya terdapat banyak perkataan yang hampa dan tidak berguna, kemudian ia membaca doa ini, maka keburukan yang ia lakukan di majelis tersebut diampuni.” (HR Tirmidzi)

(hnh/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa Bercermin: Arab, Latin dan Terjemahannya


Jakarta

Ketika bercermin, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa. Hal itu sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas fisik yang kita miliki.

Selain itu, doa bercermin juga sebagai permohonan kepada Sang Pencipta agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik laik. Itulah salah satu keutamaan yang didapat jika kita rajin mengamalkannya.

Mengutip buku Doa dalam Al-Quran dan Sunnah karya M Quraish Shihab, berikut bacaan doa bercermin.


Doa Bercermin 1

الْحَمْدُ للَّهِ اَللّٰهُمَّ كَمَا حَسَّـنْتَ خَلْقِـيْ فَحَسِّـنْ خُلُقِـيْ

Bacaan latin: Alhamdulillah allahumma kamaa hassanta khalqi fahassin khuluq

Artinya: Segala puji hanya bagi Allah. Ya Allah sebagaimana Engkah telah ciptakan aku dengan baik maka perbaikilah akhlakku. (HR Ahmad dan At Tirmidzi)

Doa Bercermin 2

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِى سَوَّى خَلْقِى فَعَدَّلَهُ وَكَرَّمَ صُوْرَةَ وَجْهِى فَحَسَّنَهَاوَجَعَلَنِى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Bacaan latin: Alhamdulillaahil ladzii sawwaa khalqii fa’addalahu wa karramahu shuurata wajhii fa ahsanahaa wa ja’alanii minal muslimiina

Artinya: Segala puji bagi Allah yang menyempurnakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan rupaku lalu membaguskannya dan menjadikan aku seorang muslim.

Adab Bercermin

Lazimnya, bercermin dilakukan setiap hari. Sebelum melakukan hal tersebut, sebaiknya perhatikan dulu-adab-adab dalam bercermin.

Dikutip dari buku Cantik Itu Sederhana karya Ninik Handiri, ada sejumlah adab bercermin yang dianjurkan dalam Islam:

  • Berdoa
  • Mengingat nikmat yang Allah SWT berikan
  • Tidak terlalu lama di depan cermin
  • Tidak berlebih-lebihan saat bercermin
  • Tidak mencela kekurangan fisik sendiri
  • Tidak berlebihan mengagumi diri sendiri
  • Bersyukur dengan segala kelebihan diri
  • Bersabar dengan segala kekurangan diri

(hnh/erd)



Sumber : www.detik.com

Doa Dipermudah Segala Urusan: Arab, Latin dan Terjemahannya


Jakarta

Segala sesuatu harus diawali dengan doa. Berharap, urusan yang kita jalani ditolong oleh ALlah SWT.

Banyak doa yang bisa dipanjatkan untuk mempermudah segala urusan. Doa tersebut adalah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW supaya bisa diamalkan oleh umatnya.

Menukil buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 susunan Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dan buku Keutamaan Doa & Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera karya M. Khalilurrahman Al-Mahfani, berikut doa-doanya:


Doa Dipermudah Segala Urusan 1

اللَّهُمَّ اِنِّي أعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allaahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani wal ‘ajzi wal kasali wal bukhli wa dhala’id daini wa ghalabatir rijaal

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penderitaan, kesedihan, kelemahan (pikun), kemalasan, kekikiran, banyak hutang, dan dari penguasaan seseorang.”

Doa Dipermudah Segala Urusan 2

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئتَ سَهْلاً

Allaahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi-ta sahlaa

Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau menjadikannya mudah, dan jika Engkau menghendaki, maka kesedihan dapat Engkau jadikan kemudahan.”

Doa Dipermudah Segala Urusan 3

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Rabbisy rahlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatam mil lisaanii yafqahu qawli

Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Doa Dipermudah Segala Urusan 4

Lafal doa ini dikutip dari hadist riwayat Imam Tirmidzi dari Said bin Abu Waqqash

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minadzh dzhaalimiin

Artinya: “Tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sunnguh aku termasuk orang-orang yang dzhalim.”

Doa Dipermudah Segala Urusan 5

رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanataw wa fil aakhirati hasanataw waqinaa ‘adzaaban naar

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

(hnh/erd)



Sumber : www.detik.com

Kumpulan Doa Agar Anak Sholeh: Arab, Latin dan Terjemahannya


Jakarta

Memiliki anak sholeh adalah impian setiap orang tua. Beberapa doa bisa dipanjatkan agar terkabul memiliki anak sholeh)

Apalagi Allah SWT memberikan keistimewaan kepada orang tua yang hendak meminta sesuatu kepada-Nya. Setiap doa yang dilontarkan pasti Allah ijabah, mulai dari hal yang baik maupun yang buruk.

Maka dari itu, sebagai orang tua hendaklah mendoakan anaknya dalam hal kebaikan. Menukil buku Indahnya Pernikahan & Rumahku, Surgaku karya H. Ade Saroni, berikut doa yang bisa dipanjatkan agar anak sholeh yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 74 dan Surat Ibrahim ayat 40.


Sedangkan dalam buku 5 Amalan Pencuci Hati karya Ali Akbar bin Aqil & M. Abdullah Charis, ada pula doa yang bisa diamalkan agar dikaruniai anak yang sholeh dan sholeha. Doa tersebut tercantum dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat ayat 100 dan Ali Imran ayat 38.

Sementara itu, menukil buku Doa-doa Mustajab Orang Tua untuk Anaknya karya Aulia Fadli, doa agar anak sholeh juga tercantum dalam Surat Al-Ahqaf Ayat 15.

1. Surat Al-Furqan ayat 74

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Latin: walladzîna yaqûlûna rabbanâ hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyyâtinâ qurrata a’yuniw waj’alnâ lil-muttaqîna imâmâ

Artinya: “Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

2. Surat Ibrahim ayat 40

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

Latin: rabbij’alnî muqîmash-shalâti wa min dzurriyyatî rabbanâ wa taqabbal du’â’

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS Ibrahim: 40)

3. Ash-Shaffat ayat 100

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Rabbi Hab lii mina ash-shoolihiin

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”

4. Ali Imran ayat 38

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

Rabbi Hab lii milla dunka dzurriyyatan thoyyibatan innaka samii’ud du’a’i

Artinya: “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

5. Surat Al-Ahqaf Ayat 15

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Arab-Latin: Wa waṣṣainal-insāna biwālidaihi iḥsānā, ḥamalat-hu ummuhụ kurhaw wa waḍa’at-hu kurhā, wa ḥamluhụ wa fiṣāluhụ ṡalāṡụna syahrā, ḥattā iżā balaga asyuddahụ wa balaga arba’īna sanatang qāla rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu wa aṣliḥ lī fī żurriyyatī, innī tubtu ilaika wa innī minal-muslimīn

Artinya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

(hnh/erd)



Sumber : www.detik.com