Tag: rwa

  • Rekor Baru! Dana Tokenisasi Tembus $17 Miliar, RWA Jadi Perhatian

    Pasar tokenized funds mencetak rekor baru setelah total nilai dana on-chain melampaui $17 miliar, menandai all-time high (ATH) terbaru untuk sektor tersebut. Kenaikan ini mencerminkan percepatan adopsi tokenisasi real-world assets (RWA), di mana produk keuangan tradisional seperti money market funds dan instrumen treasury mulai diterbitkan serta diselesaikan transaksinya lewat infrastruktur blockchain.

    Pencapaian ini memperkuat sinyal bahwa tokenisasi tidak lagi sekadar uji coba, melainkan mulai menjadi bagian dari arsitektur pasar keuangan modern yang terukur.

    Perpindahan Modal dari Eksperimen ke Produk On-Chain yang Terstruktur

    Pertumbuhan nilai tokenized funds dinilai menggambarkan pergeseran perilaku pasar. Modal yang sebelumnya banyak bergerak pada eksperimen kripto berbasis spekulasi, kini semakin mengarah ke produk on-chain yang lebih terstruktur dan memiliki dasar utilitas jelas, terutama instrumen yang bersifat yield-bearing dan berada dalam kerangka yang lebih regulatif.

    Seiring bertambahnya volume dan nilai dana yang ditokenisasi, fokus pasar juga mulai bergeser dari narasi hype ke indikator adopsi nyata, termasuk jumlah aset yang benar-benar diterbitkan dan dipakai dalam aktivitas keuangan.

    Institusi Makin Nyaman dengan Settlement Berbasis Blockchain

    Baca Juga: 3 Altcoin RWA yang Siap Bikin Kejutan Besar September Ini!

    Lonjakan kapitalisasi tokenized funds juga menunjukkan meningkatnya kenyamanan institusi terhadap settlement berbasis blockchain. Tokenisasi memungkinkan penerbitan dan pencatatan kepemilikan dilakukan lebih transparan, dengan proses yang bisa berjalan lebih efisien dibanding sistem tradisional, sekaligus membuka akses perdagangan yang lebih fleksibel.

    Sektor ini dinilai menarik karena menawarkan kombinasi antara instrumen keuangan yang sudah dikenal pasar tradisional dengan keunggulan infrastruktur blockchain.

    Likuiditas, Transparansi, dan Akses 24/7 Jadi Daya Tarik

    Tokenisasi disebut membawa beberapa manfaat utama: meningkatkan likuiditas, memperkuat transparansi, dan memberikan akses 24/7 terhadap produk keuangan yang sebelumnya terbatas jam operasional pasar. Dengan model on-chain, produk seperti dana pasar uang atau surat utang negara dapat diakses dan dipantau dengan lebih cepat melalui sistem blockchain.

    Berbeda dari siklus kripto sebelumnya yang banyak dipicu spekulasi harga, ekspansi tokenized funds kali ini dinilai lebih terkait dengan instrumen yang memiliki arus imbal hasil dan utilitas finansial yang lebih jelas.

    Tokenisasi Mulai Jadi Infrastruktur, Bukan Sekadar Narasi

    Dengan nilai pasar yang menembus $17 miliar, tokenized funds semakin menegaskan posisi tokenisasi RWA sebagai bagian dari infrastruktur keuangan yang berkembang. Kenaikan ini memperlihatkan bahwa tokenisasi mulai bergerak dari sekadar wacana menjadi implementasi yang bisa diukur, seiring semakin banyaknya modal yang bermigrasi ke ekosistem on-chain.

    Dalam beberapa bulan ke depan, pasar diperkirakan akan terus memantau apakah tren ini berlanjut, termasuk sejauh mana produk tokenisasi mampu menarik lebih banyak partisipasi institusional dan memperluas penggunaan di dunia keuangan nyata.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, Lonjakan ini, khususnya penggunaan RWA sebagai jaminan di pasar peminjaman (lending markets), menandakan kematangan integrasi aset tradisional ke dalam DeFi. Likuiditas institusional kini memiliki jembatan nyata ke ekosistem on-chain.

    Baca Juga: Ekosistem DeFi Avantis: Perdagangan Leverage, RWA, hingga Forex


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tak Main-main! Korea Selatan Siap Kuasai Pasar Tokenisasi Global

    Parlemen Korea Selatan secara resmi menyetujui regulasi yang melegalkan penerbitan dan perdagangan tokenized securities, menandai langkah besar negara tersebut dalam pengembangan aset digital berbasis blockchain. Kebijakan ini digadang-gadang akan mempercepat pertumbuhan pasar keuangan digital dan memperkuat posisi Korea Selatan sebagai pemimpin inovasi finansial.

    Persetujuan tersebut diberikan oleh Majelis Nasional Korea Selatan melalui amandemen Capital Market Act dan Electronic Securities Act dalam sidang pleno pada Kamis lalu. Dengan aturan baru ini, penerbit yang memenuhi syarat dapat menerbitkan sekuritas digital menggunakan teknologi distributed ledger atau blockchain.

    Penggunaan Sekuritas Digital

    Melalui perubahan pada Electronic Securities Act, penggunaan sekuritas digital kini memiliki dasar hukum yang jelas. Sementara itu, amandemen Capital Market Act memungkinkan tokenized securities diperdagangkan melalui perusahaan pialang dan perantara keuangan sebagai kontrak investasi yang sah.

    Otoritas jasa keuangan Korea Selatan, Financial Services Commission (FSC), menegaskan bahwa kerangka regulasi ini tidak bertujuan menggantikan sistem pasar yang sudah ada, melainkan mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam ekosistem keuangan konvensional.

    FSC menyatakan bahwa penerapan tokenisasi akan memungkinkan pengelolaan akun sekuritas berbasis ledger terdistribusi serta meningkatkan pemanfaatan smart contract dalam proses penerbitan dan penyelesaian transaksi. Teknologi ini dinilai dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, dan keamanan sistem keuangan.

    Tokenized Securities

    “Tokenized securities diharapkan memungkinkan manajemen akun sekuritas berbasis blockchain serta mendorong penggunaan smart contract secara lebih luas,” ujar FSC dalam pernyataan resminya.

    Setelah disetujui parlemen, rancangan undang-undang ini akan diajukan ke State Council sebelum disahkan oleh presiden. Proses tersebut diperkirakan berjalan lancar. Regulasi ini dijadwalkan mulai berlaku pada Januari 2027.

    Langkah ini melanjutkan perubahan kebijakan besar sebelumnya, di mana FSC telah merampungkan aturan yang memungkinkan perusahaan dan investor institusional kembali berpartisipasi dalam perdagangan aset digital. Kebijakan tersebut mengakhiri hampir sembilan tahun pembatasan terhadap keterlibatan korporasi di pasar kripto.

    Secara global, minat terhadap tokenisasi aset terus meningkat. Regulator Amerika Serikat baru-baru ini mengeluarkan panduan untuk melonggarkan hambatan regulasi demi mendorong eksperimen institusional. Sejumlah lembaga keuangan besar pun mulai bergerak, termasuk JPMorgan yang meluncurkan dana pasar uang berbasis token di jaringan Ethereum.

    Laporan Boston Consulting Group memproyeksikan pasar tokenized securities Korea Selatan dapat mencapai USD 249 miliar pada akhir dekade ini. Sementara itu, Standard Chartered memperkirakan pasar tokenisasi global berpotensi tumbuh hingga USD 2 triliun pada 2028.

    Baca juga: Bhutan Resmi Tokenisasi Cadangan Emas Negara di Blockchain Solana


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • RWA Melambat: Data Terbaru Ungkap Pergeseran Arus Modal Kripto

    Setelah mengalami pertumbuhan pesat sepanjang 2024 hingga awal 2025, sektor Real World Asset (RWA) kini mulai menunjukkan tanda perlambatan. Data terbaru menunjukkan bahwa nilai aset yang ditokenisasi hanya tumbuh 1,74% dalam 30 hari terakhir, mencapai total sekitar USD 27,49 miliar.

    Meski angka ini masih mencerminkan pertumbuhan, lajunya jauh lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya yang mencatat kenaikan hingga ratusan persen. Bahkan, nilai stablecoin—yang menjadi pintu masuk utama ke ekosistem RWA, justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,07%, menjadi sekitar USD 299,88 miliar.

    Menariknya, jumlah pengguna justru terus meningkat. Total holder aset RWA naik 5,7% menjadi lebih dari 707 ribu, sementara jumlah pemegang stablecoin tumbuh 4,35%. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi pasar tetap tinggi, namun aliran dana baru cenderung lebih terbatas dibandingkan sebelumnya.

    Segmen Utama Mulai Kehilangan Momentum

    Dilaporkan BeInCrypto, perlambatan ini terjadi di beberapa kategori utama dalam ekosistem RWA. Komoditas seperti emas mengalami stagnasi harga, yang turut berdampak pada aset tokenisasinya. Sementara itu, US Treasury, yang sebelumnya menjadi pendorong utama pertumbuhan, mulai menunjukkan penurunan momentum.

    Selain itu, sektor saham dan kredit berbasis aset juga mencatat pertumbuhan yang lebih lambat. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa pasar RWA telah beralih dari fase ekspansi agresif menuju fase yang lebih stabil.

    Meski demikian, secara jangka panjang tren pertumbuhan masih terlihat positif. Nilai aset RWA yang didistribusikan meningkat dari di bawah USD 5 miliar di awal 2024 menjadi hampir US$28 miliar saat ini.

    Baca juga: 3 Altcoin RWA Siap Meledak di April: Whale Mulai Akumulasi Masif!

    Apakah Ini Awal Tren Baru?

    Dengan pertumbuhan bulanan 1,74%, sektor RWA masih mencatat potensi pertumbuhan tahunan di atas 20%. Namun, perlambatan ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai memasuki fase normalisasi setelah periode hype dan ekspansi cepat.

    Penurunan pada stablecoin juga menjadi indikator penting, karena berkurangnya likuiditas dapat mencerminkan penurunan aktivitas on-chain atau minat investasi jangka pendek.

    Di sisi lain, peningkatan jumlah pengguna menunjukkan bahwa adopsi tetap berjalan, meskipun dengan pendekatan yang lebih hati-hati dari investor.

    Siklus Pertumbuhan Industri

    Tim Research Tokocrypto menganalisa perlambatan sektor RWA saat ini merupakan fase yang wajar dalam siklus pertumbuhan industri. Setelah mengalami lonjakan signifikan, pasar cenderung memasuki fase konsolidasi sebelum melanjutkan tren berikutnya.

    Fenomena meningkatnya jumlah pengguna namun tidak diikuti oleh pertumbuhan nilai yang signifikan menunjukkan adanya perubahan perilaku investor. Investor baru masih masuk, tetapi dengan alokasi dana yang lebih konservatif, mencerminkan kondisi pasar yang lebih selektif.

    Dari sisi fundamental, sektor RWA tetap memiliki potensi jangka panjang yang kuat, terutama karena menghubungkan aset dunia nyata dengan teknologi blockchain. Namun, keberlanjutan pertumbuhan akan sangat bergantung pada kualitas proyek, transparansi, serta regulasi yang mendukung.

    Tim Research Tokocrypto juga melihat bahwa fase ini dapat menjadi periode “penyaringan”, di mana hanya proyek dengan utilitas nyata dan model bisnis yang solid yang mampu bertahan dan berkembang.

    Perlambatan pertumbuhan RWA tidak serta-merta menandakan berakhirnya tren, melainkan menunjukkan transisi menuju fase yang lebih matang. Dengan pertumbuhan yang lebih stabil dan partisipasi yang tetap meningkat, sektor ini masih memiliki prospek jangka panjang.

    Bagi pelaku pasar, kondisi ini menjadi momentum untuk lebih selektif dalam melihat peluang, dengan fokus pada fundamental dan keberlanjutan dibanding sekadar mengikuti tren jangka pendek.

    Baca juga: Rekor Baru! Dana Tokenisasi Tembus $17 Miliar, RWA Jadi Perhatian


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ONDO Perluas Akses Institusional: Tokenized Saham dan ETF

    Ondo Finance semakin memperkuat posisinya di sektor real-world assets (RWA) setelah menghadirkan akses institusional ke platform Ondo Global Markets melalui integrasi strategis dengan Talos dan dukungan likuiditas dari Gate.io.

    Langkah ini membuka pintu bagi institusi keuangan untuk mengakses lebih dari 260 aset tokenized, termasuk saham, ETF, dan produk berbasis komoditas, di lebih dari 30 negara di luar Amerika Serikat.

    Baca Juga: Ondo Finance: Produk dan Potensi Masa Depan

    Akses Lebih Luas untuk Institusi

    Dengan integrasi ini, berbagai pelaku institusional seperti bank, broker, Exchange, dan asset manager dapat mengakses pasar tokenized equities dengan lebih mudah, tanpa perlu membangun infrastruktur dari nol.

    Talos sendiri dikenal sebagai platform infrastruktur trading yang banyak digunakan institusi, sehingga integrasi ini secara signifikan mengurangi friksi distribusi, salah satu hambatan utama dalam adopsi aset tokenisasi.

    Ondo Global Markets menawarkan berbagai instrumen investasi yang telah ditokenisasi, termasuk saham global, Exchange-Traded Funds (ETF), hingga produk berbasis komoditas.

    Dengan pendekatan ini, investor institusional dapat memperoleh eksposur terhadap aset tradisional melalui infrastruktur blockchain, yang menawarkan transparansi lebih tinggi, settlement lebih cepat, dan akses lintas batas.

    Sebagaimana dikutip dari BeInCrypto, Model ini menjadi bagian dari tren besar tokenisasi aset dunia nyata yang semakin berkembang di industri kripto.

    Pertumbuhan Pesat: Volume dan TVL

    Sejak diluncurkan pada September 2025, Ondo Global Markets menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Beberapa metrik utama yang berhasil dicapai:

    • Volume transaksi: lebih dari US$13 miliar
    • Total Value Locked (TVL): lebih dari US$700 juta

    Angka ini menunjukkan bahwa minat terhadap tokenized assets terus meningkat, terutama dari kalangan institusi yang mencari alternatif investasi yang lebih efisien.

    ONDO Semakin Kuat di Narasi Tokenisasi

    Dengan ekspansi ini, ONDO semakin diposisikan sebagai salah satu pemain utama dalam narasi tokenized equities.

    Berbeda dengan banyak proyek lain yang masih berada di tahap awal, ONDO sudah menunjukkan produk yang berjalan, volume transaksi nyata, dan adopsi institusional.

    Hal ini memberikan fondasi yang lebih kuat bagi valuasi token dalam jangka panjang.

    Perspektif Industri: Bullish dari Sisi Distribusi

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, integrasi dengan Talos menjadi faktor kunci dalam meningkatkan potensi adopsi.

    “Ini bullish untuk ONDO karena mengurangi friksi distribusi ke institusi—bagian yang selama ini paling sulit dalam narasi RWA. Kalau Talos benar-benar membawa flow institusional ke tokenized equities Ondo, ONDO bisa makin diperlakukan sebagai proxy paling matang untuk tema tokenisasi saham dan ETF, bukan sekadar token governance tanpa demand nyata,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Pandangan ini menekankan pentingnya akses distribusi dalam menentukan keberhasilan proyek RWA.

    Dampak ke Industri RWA

    Langkah Ondo ini juga mencerminkan tren yang lebih luas dalam industri kripto, di mana tokenisasi aset tradisional mulai mendapatkan momentum.

    Beberapa implikasi yang mungkin terjadi diantaranya adalah meningkatnya adopsi tokenized stocks oleh institusi, integrasi lebih dalam antara pasar tradisional dan blockchain, dan munculnya standar baru dalam perdagangan aset.

    Jika tren ini berlanjut, tokenisasi dapat menjadi salah satu use case terbesar blockchain di masa depan.

    Tantangan ke Depan

    Meski terlihat menjanjikan, ONDO tetap menghadapi sejumlah tantangan, antara lain regulasi lintas negara, likuiditas pasar sekunder, hingga edukasi institusi.

    Selain itu, keberhasilan integrasi dengan Talos akan sangat bergantung pada seberapa besar arus dana institusional yang benar-benar masuk ke ekosistem.

    Baca Juga: Ondo Finance (ONDO) Naik 10,9% dalam Sehari, TVL Capai $1 Miliar

    Integrasi Ondo Global Markets dengan Talos dan Gate menjadi langkah strategis dalam membuka akses institusional ke tokenized equities.

    Dengan lebih dari 260 aset dan jangkauan global, Ondo semakin memperkuat posisinya sebagai pemain utama di sektor RWA.

    Jika adopsi institusional terus meningkat, ONDO berpotensi menjadi salah satu token yang paling diuntungkan dari tren tokenisasi aset di masa depan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 3 Altcoin RWA Siap Meledak di April: Whale Mulai Akumulasi Masif!

    Di tengah kondisi pasar altcoin yang masih tertekan, beberapa token berbasis Real World Assets (RWA) justru mulai menunjukkan sinyal positif. Kombinasi antara penguatan teknikal dan aktivitas whale membuat tiga token ini menjadi sorotan menjelang April 2026.

    Stellar (XLM) mulai bentuk pola bullish

    Dilaporkan BeInCrypto, Stellar menjadi salah satu token yang menarik perhatian setelah mencatat lebih dari $1,2 miliar nilai aset dunia nyata yang ditokenisasi di jaringannya. Dukungan regulasi dari SEC dan CFTC serta peluncuran produk institusional turut memperkuat posisinya.

    Secara teknikal, XLM sedang membentuk pola inverse head and shoulders, yang sering dianggap sebagai sinyal pembalikan tren. Jika harga mampu menembus area $0,176 hingga $0,189, potensi kenaikan hingga sekitar 20% menuju $0,229 terbuka.

    Baca Juga: Tren RWA: Altcoin Utilitas Mulai Mandiri dari Bitcoin

    Zebec (ZBCN) didorong akumulasi whale

    Zebec Network menjadi salah satu token dengan performa terbaik dalam 30 hari terakhir, mencatat kenaikan sekitar 14%. Kenaikan ini didukung oleh akumulasi whale yang meningkat sebesar 3,52%, menunjukkan adanya keyakinan dari investor besar.

    Dari sisi teknikal, ZBCN juga menunjukkan sinyal bullish dengan potensi crossover pada indikator EMA. Jika harga mampu bertahan di atas level kunci, maka peluang kenaikan lanjutan masih terbuka.

    Quant (QNT) paling solid secara teknikal

    Quant menjadi token dengan struktur paling kuat di antara ketiganya. Selain mencatat kenaikan di berbagai timeframe, aktivitas whale juga menunjukkan akumulasi yang konsisten sejak akhir Maret.

    Secara teknikal, QNT menunjukkan bullish divergence pada RSI serta membentuk pola cup and handle. Jika harga menembus area $84, potensi kenaikan hingga sekitar $110 bisa terjadi.

    Analisa Tim Research Tokocrypto, ini setup onchain yang bersih: smart money menambah eksposur justru saat momentum bearish melemah.

    “Kalau akumulasi whale bertahan dan harga mampu menembus area kunci di atas US$75,65 lalu US$84,33, QNT punya jalur paling kredibel untuk memimpin rotasi RWA di awal April,” jelasnya.

    Pasar masih lemah, tapi peluang tetap ada

    Meskipun ketiga token ini menunjukkan sinyal positif, kondisi pasar secara keseluruhan masih belum stabil. Oleh karena itu, pergerakan harga tetap perlu dikonfirmasi oleh peningkatan volume dan sentimen pasar yang lebih luas.

    Namun, kombinasi antara adopsi aset dunia nyata, dukungan institusional, serta aktivitas whale menjadikan XLM, ZBCN, dan QNT sebagai aset yang patut diperhatikan di bulan April.

    Baca juga: Rekor Baru! Dana Tokenisasi Tembus $17 Miliar, RWA Jadi Perhatian


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kamino Bahas RWA, Harga Masih Minim Fundamental?

    Proyek DeFi Kamino dijadwalkan tampil dalam diskusi live bertajuk “23.5 Degrees” pada 17 Maret bersama sejumlah pelaku industri, termasuk Solstice, phtEvenstrong, dan ProofOfTravis.

    Event ini mengangkat sejumlah tema populer di industri kripto saat ini, seperti stablecoin yield, fixed income, leveraged lending, hingga real-world assets (RWA) dalam satu ekosistem blockchain.

    Namun, meski topiknya relevan dengan tren pasar, belum ada indikasi adanya peluncuran produk baru, listing token, atau perubahan tokenomics yang diumumkan bersamaan dengan event tersebut.

    Baca Juga: Tren RWA: Altcoin Utilitas Mulai Mandiri dari Bitcoin

    Fokus pada Narasi, Bukan Produk

    Materi promosi “23.5 Degrees” menekankan pada diskusi strategis dan pertukaran ide seputar masa depan DeFi, khususnya dalam menggabungkan berbagai instrumen keuangan dalam satu chain.

    Menurut laporan Coinmarketcal, beberapa topik utama yang diangkat meliputi optimalisasi yield dari stablecoin, integrasi fixed income di DeFi, strategi leveraged lending, dan potensi return dari aset dunia nyata (RWA).

    Tema-tema ini memang sedang menjadi perhatian pasar, terutama dengan meningkatnya minat terhadap RWA sebagai jembatan antara keuangan tradisional dan blockchain.

    Namun, tanpa adanya implementasi nyata atau pengumuman konkret, event ini lebih bersifat edukatif dan naratif.

    Bukan Katalis Fundamental

    Dalam konteks pasar kripto, tidak semua event memiliki dampak langsung terhadap harga atau valuasi token.

    Tim riset dari Tokocrypto menilai bahwa event ini termasuk kategori dengan dampak paling lemah dibandingkan event lain dalam periode yang sama.

    “Untuk KMNO, ini event yang paling lemah di batch ini karena lebih dekat ke promosi narasi dan thought-leadership daripada katalis fundamental nyata. Masih bisa memicu perhatian spekulatif ringan kalau tema RWA dan yield lagi panas, tapi tanpa produk atau angka penggunaan yang jelas, dampaknya kemungkinan pendek dan cepat pudar,” kata Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa pasar cenderung membutuhkan data konkret, seperti peluncuran fitur baru atau peningkatan aktivitas pengguna untuk memberikan respons yang lebih signifikan.

    Potensi Efek Jangka Pendek

    Meski tidak memiliki katalis fundamental, event seperti ini tetap berpotensi memicu pergerakan jangka pendek, terutama jika sentimen pasar sedang mendukung.

    Beberapa kemungkinan dampak yang akan terjadi antara lain:

    • Kenaikan minat spekulatif: Trader bisa memanfaatkan momentum narasi
    • Peningkatan visibilitas proyek: Kamino mendapat eksposur lebih luas
    • Volatilitas ringan: Pergerakan harga tanpa dukungan fundamental kuat

    Namun, efek ini biasanya tidak bertahan lama jika tidak diikuti oleh perkembangan nyata.

    Tren RWA dan Yield Masih Jadi Magnet

    Salah satu alasan event ini tetap relevan adalah karena topik yang diangkat sedang menjadi tren utama di industri kripto.

    RWA, misalnya, dianggap sebagai salah satu sektor dengan potensi pertumbuhan besar karena menghubungkan aset dunia nyata dengan blockchain, menawarkan sumber yield yang lebih stabil, dan menarik minat investor institusional.

    Begitu juga dengan strategi yield dan fixed income di DeFi, yang semakin diminati di tengah volatilitas pasar. Namun, pasar kini semakin selektif sehingga narasi saja tidak cukup tanpa bukti implementasi.

    Tantangan untuk Kamino

    Bagi Kamino, tantangan utama adalah mengubah narasi menjadi produk nyata yang dapat digunakan dan diukur.

    Beberapa indikator yang akan menjadi perhatian ke depan diantaranya adalah total value locked (TVL), aktivitas pengguna, volume transaksi, dan integrasi dengan protokol lain.

    Tanpa peningkatan pada metrik ini, sulit bagi proyek untuk mempertahankan perhatian pasar dalam jangka panjang.

    Baca Juga: Rekor Baru! Dana Tokenisasi Tembus $17 Miliar, RWA Jadi Perhatian

    Partisipasi Kamino dalam diskusi “23.5 Degrees” menunjukkan upaya untuk tetap relevan dalam narasi besar DeFi, khususnya di sektor yield dan RWA.

    Namun, tanpa pengumuman konkret, dampaknya terhadap harga token KMNO diperkirakan terbatas. Kemungkinan, outlook jangka pendeknya akan netral dengan potensi spekulasi ringan.

    Bagi investor, event ini lebih cocok dilihat sebagai indikator arah pemikiran proyek, bukan sebagai pemicu perubahan fundamental.

    Ke depan, pasar akan menunggu langkah nyata dari Kamino, karena dalam dunia kripto, eksekusi tetap menjadi faktor penentu utama.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokenisasi Jadi Tren Baru di Sektor Keuangan


    Jakarta

    Adopsi teknologi blockchain yang semakin pesat di sektor keuangan mendorong pengembangan tokenisasi aset oleh pelaku industri, tidak hanya fintech tetapi juga institusi keuangan tradisional. Tokenisasi, yang merupakan proses mengkonversi aset fisik atau riil menjadi aset digital melalui jaringan blockchain, menciptakan apa yang kemudian disebut sebagai tokenisasi aset dunia nyata (Real World Asset/RWA).

    Meskipun masih dalam tahap awal, tokenisasi RWA semakin menarik perhatian institusi keuangan karena menawarkan potensi besar dalam meningkatkan efisiensi, transparansi, dan likuiditas, sekaligus mendorong inklusi keuangan dan pendalaman pasar keuangan (financial deepening).

    Tigran Adhiwirya, co-CEO D3 Labs mengatakan, tokenisasi bukan gimmick semata, melainkan membawa nilai tambah nyata bagi industri keuangan, khususnya dalam aspek likuiditas dan inklusivitas. Tigran melihat sektor tokenisasi di Indonesia dapat menjadi yang terdepan di kawasan Asia Tenggara dan menjadi salah satu motor penting bagi ekonomi nasional


    “Dengan minat pasar yang tinggi terhadap solusi dari tokenisasi dan juga dukungan dari regulator terhadap blockchain melalui pelaksanaan regulatory sandbox (ruang uji coba), membuat potensi pengembangan tokenisasi di Indonesia masih sangat besar,” kata Tigran, di Jakarta, Kamis (21/11/2024).

    Salah satu contoh implementasi tokenisasi di Indonesia adalah kolaborasi BTN bersama D3 Labs dalam mengembangkan produk tokenisasi aset properti pertama di Indonesia. Melalui skema Dana Investasi Real Estat (DIRE) berbasis teknologi blockchain, BTN sudah mempersiapkan tokenisasi aset properti.

    Setiyo Wibowo, Direktur Risk Management BTN menjelaskan implementasi tokenisasi di sektor properti bisa berdampak pada kontribusi industri yang lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mencontohkan bagaimana tokenisasi RWA dapat mendukung pendanaan program strategis pemerintah seperti target membangun tiga juta rumah per tahun, karena memungkinkan likuiditas yang tinggi.

    “Sebagai banker, pendanaan bisa kita dapatkan, antara lain dari third party fund, time deposit, dan current account, yang pertumbuhannya rata-rata paling tinggi di kisaran 10-12 persen per tahun. Karena itu, diperlukan pendanaan dari instrumen pasar seperti Mortgage Backed Securities (MBS) atau DIRE. Lewat tokenisasi, perluasan akses ke instrumen seperti MBS bisa dilakukan sehingga mendukung pendalaman pasar (financial deepening),” kata Setiyo dalam salah satu sesi diskusi di Indonesia Blockchain Week 2024.

    Tidak hanya Properti, asset lain berupa emas juga dapat menjadi salah salah satu aset riil lain yang bisa ditokenisasi. Dengan adanya tokenisasi diperkirakan bakal mempermudah masyarakat dalam memiliki aset emas.

    “Permintaan terhadap emas itu tinggi, untuk itu tokenisasi menjadi penting karena dapat membuat prosesnya lebih mudah, efisien, dan juga lebih likuid,” kata Teguh Wahyono, Direktur Teknologi Informasi dan Digital PT Pegadaian.

    Selain memudahkan masyarakat dalam hal membeli dan menyimpan emas, tokenisasi juga memungkinkan perusahaan untuk menjangkau pasar lebih luas. “Karena dipecah lewat tokenisasi, denominasi bisa lebih kecil. Suatu produk yang nilainya milyaran bisa dipecah-pecah menjadi lebih kecil, sehingga dapat lebih terjangkau oleh masyarakat. Untuk saat ini (tokenisasi) kami masih siapkan, berkoordinasi dengan OJK,” tambah Teguh.

    Djoko Kurnijanto, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK menjelaskan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan regulasi untuk memastikan kemajuan blockchain di Indonesia, termasuk tokenisasi. Kedepan menurutnya, teknologi ini akan mewarnai semua ranah kehidupan.

    “Kita butuh layanan yang cepat, efisien, dan transparan, dan (ini) terjawab dengan teknologi blockchain. Tokenisasi, khususnya, akan meningkatkan likuiditas dan inklusivitas karena investor bisa membeli dalam jumlah kecil karena aset sudah bisa dipecah. Tantangan kedepan adalah bagaimana meningkatkan literasi keuangan digital. Kolaborasi dan kerja sama jadi kunci,” ungkap Djoko.

    Kini, ada sekitar 18,5 juta orang Indonesia atau 6,7% dari populasi yang memiliki aset digital, melampaui investor saham yang berjumlah lebih dari 6 juta investor. Hal ini menjadi fondasi kuat bagi perkembangan tokenisasi di Indonesia.

    (rrd/rir)



    Sumber : finance.detik.com

  • Perusahaan Fintech Investasi Ini Masuk Regulatory Sandbox OJK


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki regulatory sandbox atau ruang uji coba alias pengembangan inovasi. Regulatory sandbox ini bertujuan agar Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang memiliki produk dan layanan baru melakukan uji coba.

    Regulatory sandbox ini diharapkan bisa memberantas investasi bodong dengan peraturan yang lebih ketat.

    Salah satu perusahaan investasi properti fraksional, GORO menjadi salah satu peserta regulatory sandbox OJK dengan model bisnis tokenisasi aset riil berbasis properti pertama dalam fasilitas Sandbox yang diselenggarakan dan/atau difasilitasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


    Persetujuan ini diberikan melalui Surat OJK Nomor S-548/IK.01/2024 dan S-549/IK.01/2024, keduanya tertanggal 7 November 2024, dengan mengacu kepada persyaratan dan kriteria kelayakan yang diatur di dalam Peraturan OJK (POJK) No. 3 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan dan Surat Edaran OJK No. 5/SEOJK.07/2024 tentang Mekanisme Ruang Uji Coba dan Pengembangan Inovasi, di mana persyaratan dan kriteria kelayakan yang ditetapkan untuk dapat mengikuti Sandbox tersebut lebih ketat dibandingkan ketentuan sebelumnya yang mengacu pada POJK No. 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan.

    Melalui sarana ini, GORO akan diuji dan dievaluasi dalam lingkungan yang terkendali untuk memastikan layanan yang aman, transparan, dan sesuai regulasi bagi para investor. Lebih lanjut, Sandbox merupakan wujud dari pelaksanaan peran OJK dalam memberikan sarana edukasi, pendampingan, diskusi, akselerasi, serta kolaborasi dengan melibatkan banyak unsur yang difasilitasi melalui penguatan Pusat Inovasi.

    Co-founder & CEO GORO Robert Hoving mengungkapkan pihaknya berupaya memenuhi standar investasi yang ditetapkan oleh OJK. Dengan dukungan regulator dan semangat gotong royong, kami yakin dapat memberikan dampak positif bagi dunia investasi properti di Indonesia.

    “Kami ingin menjadikan investasi properti sebagai kelas aset yang mudah dipahami dan diakses oleh lebih banyak orang sehingga meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia,” kata dia dalam siaran pers, Minggu (8/12/2024).

    GORO akan menjalani serangkaian uji coba di bawah pengawasan langsung OJK dengan tujuan untuk memvalidasi dan meningkatkan semua aspek manajemen dan operasional layanan. Sarana Sandbox memberikan kesempatan bagi GORO untuk berkembang tanpa harus terbebani oleh hambatan regulasi yang biasanya menjadi tantangan perusahaan inovatif di tahap awal pengembangan.

    Andryan Gouw, Co-founder GORO, menambahkan, “Tokenisasi properti yang kami lakukan adalah contoh nyata dari Real World Asset (RWA) Tokenization yang dibahas secara mendalam dalam Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto 2024-2028 yang diluncurkan OJK pada 8 Agustus 2024 lalu.

    Teknologi rantai blok (blockchain) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas platform GORO, memungkinkan siapa saja untuk berinvestasi di kelas aset yang sebelumnya hanya dapat dijangkau oleh kalangan tertentu, seperti properti. Dengan menjadikan aset properti lebih mudah dipahami dan diakses, kami berkontribusi pada peningkatan inklusi keuangan di Indonesia.”

    Dengan pengawasan langsung dari OJK, GORO akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membantu OJK dalam mengidentifikasi kebijakan yang tepat dalam mengakomodir inovasi dan memahami inovasi yang dipelopori oleh GORO serta dalam merumuskan regulasi baru yang memastikan keamanan, transparansi, dan kesesuaian dengan regulasi yang berlaku. GORO optimis dapat terus memperkenalkan kelas aset baru ke dunia investasi dan menghadirkan pengalaman investasi yang mudah dimengerti, transparan, dan terjangkau oleh semua kalangan sehingga meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Simak! Ini 5 Koin Kripto yang Diramal Bawa Cuan di 2025


    Jakarta

    Tahun 2024 menandai dimulainya pertumbuhan pasar kripto. Hal itu didorong oleh peluncuran ETF Bitcoin dan Ethereum spot di Amerika Serikat, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat secara umum terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya.

    Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan tahun 2024 menandai dimulainya fase bullish yang telah membawa Bitcoin melewati level harga US$ 100.000 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

    “Outlook inflasi yang fluktuatif dan rencana The Fed yang akan lebih berhati-hati mungkin dapat menjadi penghambat reli yang akan terjadi di tahun depan, namun optimisme terhadap kebijakan pemerintah AS yang akan lebih akomodatif terhadap pasar dan industri kripto berpotensi menjadi katalis positif yang kuat, yang jika terjadi, berpotensi membawa Bitcoin melanjutkan kenaikan melewati level US$ 150.000,” kata Fahmi dalam keterangan tertulis, Selasa (31/12/2024).


    Selain Bitcoin, investor juga bisa memantau sejumlah aset kripto lainnya untuk mengoptimalkan portofolio di tahun depan. Beberapa sektor yang telah membuktikan relevansinya pada siklus-siklus pasar sebelumnya seperti DeFi, L1, NFT, Stablecoin, Memecoin, telah sedikit banyak menunjukkan potensi masih relevannya proposisi nilai yang mereka bawa.

    Berikut lima aset kripto yang menarik di 2025 menurut analis:

    1. Lido DAO (LDO)

    LDO berada pada posisi yang strategis di tengah potensi integrasi ETH staking dengan produk ETF Ethereum seiring dengan outlook regulasi crypto AS yang semakin positif.

    “Sepanjang tahun 2024, Lido telah membuktikan relevansinya sebagai platform lliquid staking yang profitable dengan pendapatan mingguan terendah berada di US$ 14,37 juta, sebuah angka yang cukup fantastis khususnya karena terjadi pada periode di mana hype terhadap Ethereum masih relatif tidak terlalu tinggi sepanjang tahun ini,” imbuh Fahmi.

    2. Ethereum (ETH)

    ETH berpotensi semakin diminati di fase bullish tahun 2025 nanti. Tidak hanya karena dominasi Ethereum sebagai platform smart contract dan aplikasi terdesentralisasi, namun juga performa ekosistem Ethereum yang semakin akomodatif terhadap adopsi stablecoin.

    “Stablecoin menjadi salah satu motor distribusi likuiditas utama di fase bullish dengan tingkat penerimaan pengguna yang semakin meningkat. Pencapaian Ethereum pada akhir November lalu dengan menggeser Tron sebagai jaringan blockchain yang mengakomodasi suplai USDT terbesar turut memperkuat potensi Ethereum ke depan,” tambahnya.

    USDT sebagai stablecoin terbesar dengan kapitalisasi pasar hampir menyentuh US$ 150 miliar disebut telah menjadi salah satu penyumbang utama transaksi dan pendapatan di jaringan Tron sejak periode-periode awal kemunculannya karena biaya transaksi yang rendah dan performa blockchainnya yang baik.

    “Kini, pengembangan yang terjadi di Ethereum yang mampu menghadirkan performa dan biaya transaksi yang sama baiknya namun dengan potensi tingkat keamanan dan basis pengguna yang lebih tinggi, menjadi penantang yang serius untuk menangkap peluang di sektor stablecoin yang strategis tersebut,” katanya.

    3. USUAL

    USUAL menjadi salah satu aset crypto di sektor RWA dengan pertumbuhan adopsi tercepat sejauh ini. Posisi Usual sebagai platform RWA dan stablecoin terdesentralisasi membawa semangat origin Bitcoin sebagai sebuah aset dan platform publik yang tidak dikelola oleh entitas terpusat tertentu, sebuah keunikan yang jarang dimiliki oleh kebanyakan proyek besar di sektor serupa saat ini.

    4. PNUT

    PNUT menjadi aset crypto bertema hewan dengan pertumbuhan kapitalisasi pasar tercepat pada siklus kali ini. Kekuatan likuiditas yang tinggi dipadukan dengan naratif menarik serta asosiasi dengan beberapa figur berpengaruh membuat kepercayaan investor terhadap proyek meme coin ini berpotensi dapat semakin berkembang di tahun 2025.

    5. LINK

    LINK sebagai aset kripto utama di ekosistem infrastruktur Chainlink dianggap aset yang semakin strategis dengan semakin luasnya ekosistem teknologi Chainlink serta adopsinya. Kolaborasi dan keterlibatan Chainlink pada proyek-proyek besar oleh institusi-institusi strategis seperti Swift misalnya dapat berpotensi mengakselerasi adopsi dari teknologi yang dikembangkan secara signifikan.

    “Tahun 2025 menjadi tahun yang mungkin akan menandai capaian-capaian menarik dari hasil kolaborasi-kolaborasi tersebut yang berpotensi tidak hanya meningkatkan perhatian investor terhadap proyek ini namun juga meningkatkan permintaan organik terhadap aset kripto LINK,” imbuhnya.

    (aid/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tokenisasi Aset Dunia Nyata Diramal Jadi Segmen Blockchain Paling Bernilai


    Jakarta

    Tokenisasi aset dunia nyata diproyeksi jadi salah satu segmen blockchain paling bernilai, dengan Boston Consulting Group memperkirakan pasar senilai US$16 triliun pada 2030. Di Indonesia, analis lokal memperkirakan tokenisasi RWA dapat mencapai US$88 miliar pada tahun yang sama.

    Prediksi ini didorong oleh beberapa faktor: populasi lebih dari 270 juta, lebih dari separuh penduduk masih underbanked atau unbanked, serta pertumbuhan pesat layanan keuangan digital seperti dompet elektronik dan pinjaman daring.

    Permintaan yang meningkat untuk infrastruktur digital yang terpercaya membuka peluang untuk aplikasi seperti pinjaman mikro ter-tokenisasi, kontrak berbasis emas yang terdigitalisasi, pembiayaan rantai pasok yang dapat dilacak, serta lapisan remitansi lintas batas yang semuanya sedang dieksplorasi dalam kerangka Tokenize Indonesia.


    Saat ini tengah terjadi pergeseran besar bukan melalui peluncuran token baru atau hype spekulatif, melainkan dari dalam institusi-institusi paling strategis di Indonesia.

    Mewakili kapitalisasi pasar gabungan lebih dari US$35 miliar, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pegadaian, Pos Digi, dan MDI Ventures bergabung dalam Tokenize Indonesia untuk mendorong use case tokenisasi dan aset dunia nyata (Real-World Assets / RWA) mereka masing-masing.

    Tokenize Indonesia, yang diinisiasi oleh Saison Capital, Coinvestasi, dan BRI Ventures (BVI), dirancang sebagai platform eksperimental terstruktur bagi institusi untuk mengeksplorasi real-world use case blockchain dalam operasi mereka. Alih-alih mengejar popularitas semata, program ini bertujuan menjembatani institusi tradisional dengan penyedia infrastruktur blockchain untuk bersama-sama mengembangkan solusi Develop Used Case yang siap diterapkan.

    Program ini dimulai pada Juli 2025 dan akan berpuncak dalam sebuah showcase di Coinfest Asia, festival kripto terbesar di dunia yang akan digelar pada 21-22 Agustus 2025.

    “Tujuan kami adalah mendorong kolaborasi yang bermakna antara institusi keuangan besar yang mapan dengan mitra teknologi yang inovatif dan bergerak cepat. Dengan menjembatani dua dunia ini, kami ingin mendorong pertumbuhan berkelanjutan, memperluas inklusi keuangan, dan mempercepat adopsi aset digital di Indonesia,” ujar Markus Liman Rahardja, Chief Investment Officer, BRI Ventures dalam keterangan pers, ditulis Minggu (14/9/2025).

    Tokenize Indonesia juga dipandang sebagai gerbang menuju regulatory sandbox OJK yang akan diluncurkan pada 2025. Hal ini menandai perubahan strategis: Indonesia bergerak dari pasar kripto ritel menuju testbed nasional untuk adopsi blockchain tingkat institusi.

    Sandbox, Sebelum Regulasi Final

    Waktu peluncuran program ini sangat tepat. Pada Januari 2025, pengawasan aset digital telah berpindah dari Bappebti (otoritas komoditas) ke OJK. Transisi ini diperkirakan akan mendefinisikan ulang klasifikasi aset digital dan membuka ruang eksperimen berbasis sandbox memungkinkan inovator fintech dan blockchain untuk menguji model baru di bawah pengawasan regulator.

    Dengan menyesuaikan strukturnya lebih awal terhadap kerangka ini, Tokenize Indonesia menempatkan para peserta sebagai pionir dalam lanskap aset digital yang baru.

    Ekosistem kripto Indonesia sendiri telah membuktikan kapasitas skalanya di level ritel. Antara 2021-2024, jumlah pengguna terdaftar meningkat dua kali lipat dari 9,9 juta menjadi 20,9 juta, sementara volume transaksi bulanan melonjak dari US$739 juta menjadi US$2,25 miliar. Namun, pertumbuhan ritel yang cepat juga rawan volatilitas.

    Peluang sesungguhnya ada di adopsi institusional yang lebih berkelanjutan dan sistemik. Begitu blockchain terintegrasi di sektor seperti perbankan, logistik, atau telekomunikasi, dampaknya bukan hanya efisiensi, tetapi juga legitimasi. Dan legitimasi inilah yang akan menjadi jangkar pertumbuhan jangka panjang ekonomi digital Indonesia.

    Blockchain Enabler Global Sudah Bersiap

    Untuk melaksanakan eksperimen berisiko tinggi ini, program menggandeng nama-nama terpercaya dalam infrastruktur blockchain, termasuk:
    * IOTA, dengan jaringan berbasis DAG tanpa biaya yang digunakan di proyek logistik dan IoT global.
    * Stellar, yang banyak diadopsi dalam keuangan lintas batas dan bermitra dengan lembaga kemanusiaan.
    * Ripple, yang protokol pembayarannya digunakan oleh lebih dari 100 institusi keuangan di seluruh dunia.
    * Fireblocks, penyedia infrastruktur yang mengamankan lebih dari US$4 triliun aset digital institusional bagi bank, fintech, dan manajer aset.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com