Tag: tarif trump

  • Token RWA Tetap Lebih Aman daripada Bitcoin Selama Tarif AS Berlaku

    Binance Research merilis laporan terbaru yang menyoroti dampak usulan tarif Presiden Donald Trump terhadap pasar kripto. Laporan tersebut menunjukkan bahwa token Real World Assets (RWA) dan aset kripto berbasis bursa memiliki risiko paling rendah dibandingkan aset lain, termasuk Bitcoin, selama kebijakan tarif diberlakukan.

    Binance menyatakan bahwa aset dengan tingkat risiko tinggi, seperti koin meme dan token berbasis kecerdasan buatan (AI), mengalami dampak paling besar. Sejak pengumuman tarif, nilai koin meme dan token AI anjlok lebih dari 50%, sedangkan token RWA hanya turun 16% dan token bursa merosot 18%.

    Peningkatan Risiko Bitcoin

    Penelitian ini juga mencatat adanya peningkatan risiko yang dirasakan terhadap Bitcoin. Aset kripto terbesar tersebut kini menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan pasar saham, membuatnya kurang diminati investor sebagai aset lindung nilai dalam skenario perang dagang. Hanya 3% responden dalam survei FMS (Fund Manager Survey) yang memilih Bitcoin sebagai aset utama mereka saat terjadi ketegangan perdagangan.

    “Faktor-faktor ekonomi makro — khususnya kebijakan perdagangan dan ekspektasi suku bunga — semakin mendorong perilaku pasar kripto, yang untuk sementara waktu melampaui dinamika permintaan yang mendasarinya,” tulis Binance Research dalam laporannya. “Apakah struktur korelasi ini bertahan akan menjadi kunci untuk memahami posisi jangka panjang dan nilai diversifikasi Bitcoin.”

    Dampak Tarif pada Kripto. Sumber: Binance Research.
    Dampak Tarif pada Kripto. Sumber: Binance Research.

    Khawatir Stagnasi Global

    Laporan juga menyebutkan bahwa tarif yang diusulkan Trump diperkirakan menjadi yang paling ketat sejak 1930-an, sehingga memicu kekhawatiran stagnasi ekonomi global. Dampaknya tidak hanya dirasakan pasar kripto, namun juga pasar saham AS, yang mencatatkan kerugian lebih dari USD 11 triliun selama 44 sesi perdagangan terakhir.

    Direktur Pelaksana GoMining Institutional, Fakhul Miah, menyebut bahwa penghindaran risiko akibat kebijakan tarif membuat indeks S&P 500 kehilangan lebih dari USD 5 triliun hanya dalam dua hari perdagangan. Ia juga menambahkan bahwa JP Morgan kini menaikkan probabilitas resesi menjadi 60%.

    Binance Research menutup laporan dengan menyatakan bahwa meskipun pasar tengah bergejolak, masih ada peluang untuk berinvestasi secara aman. Proyek blockchain yang berfokus pada utilitas dan pengembangan jangka panjang dinilai sebagai opsi paling stabil di tengah ketidakpastian saat ini.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Dekati $81.000 Setelah Rumor Penghentian Tarif oleh Trump

    Harga Bitcoin sempat melonjak tajam melewati level $81.000 pada Senin (7/4) malam waktu Indonesia, dipicu oleh laporan yang menyebutkan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan penghentian tarif impor selama 90 hari untuk semua negara, kecuali China. Namun, laporan tersebut kemudian dibantah oleh Gedung Putih, menimbulkan volatilitas tinggi di pasar.

    Menurut data dari crypto.news, Bitcoin mencatat lonjakan 1,74% hanya dalam lima menit, menembus level tertinggi harian di $81.203,39 setelah sebelumnya berada di kisaran $76.000 – $78.000. Kenaikan tajam ini juga tercermin di pasar saham AS, dengan indeks S&P 500 melonjak 7% dalam waktu singkat.

    Meski sempat memicu euforia, laporan soal jeda tarif tersebut kemudian diragukan kebenarannya. CNBC melaporkan bahwa tidak ada pejabat Gedung Putih yang mengetahui rencana penghentian tarif selama 90 hari, yang memperkuat dugaan bahwa informasi tersebut adalah rumor atau berita palsu.

    “Apakah tekanan jual sebelumnya benar-benar bisa dibalik hanya dalam hitungan detik? Menarik untuk diamati,” tulis seorang analis kripto di platform X menanggapi lonjakan harga yang dipicu rumor.

    Pemulihan Bitcoin

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 8 April 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Selasa, 8 April 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Pemulihan harga Bitcoin ini terjadi tak lama setelah mata uang kripto tersebut sempat anjlok hingga $74.000 dalam 24 jam terakhir. Altcoin utama juga menunjukkan tren positif menyusul kenaikan Bitcoin. Ethereum naik 2,04% menjadi $1.567,92, XRP melonjak 4,88% ke $1,88, Solana naik 4,69% ke $106,84, dan Dogecoin mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,5%. Sementara itu, BNB hanya naik 1,49%, tertinggal dari altcoin lainnya.

    Meski ada pemulihan jangka pendek, kekhawatiran makroekonomi tetap membayangi. Goldman Sachs merilis proyeksi terbaru yang menyebutkan potensi resesi masih tinggi, bahkan jika kebijakan tarif Trump dibatalkan. Perusahaan keuangan tersebut memperkirakan perlambatan ekonomi akibat pengetatan kondisi keuangan, penurunan konsumsi global, dan ketidakpastian kebijakan.

    Kapitalisasi pasar kripto global tercatat turun 5,64% dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, volume perdagangan justru melonjak lebih dari 400%, mencerminkan tingginya aktivitas di tengah volatilitas. Indeks Ketakutan & Keserakahan (Fear & Greed Index) kripto saat ini berada di level 23, menunjukkan kondisi “ketakutan ekstrem” di pasar.

    Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi lebih lanjut dari pihak Trump maupun Gedung Putih terkait rumor penghentian tarif tersebut.

    Baca juga: Tren Bitcoin 24-28 Maret 2025: PCE adalah Kunci by Hoteliercrypto


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Drama Tarif Trump Berlanjut, Bitcoin Kehilangan Level Kunci $90.000

    Harga Bitcoin kembali tertekan dan jatuh menembus level psikologis US$90.000 untuk pertama kalinya sejak awal tahun. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat menunda putusan terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

    Berdasarkan data TradingView, Bitcoin sempat menyentuh level terendah harian di US$89.800, turun lebih dari 2 persen dalam sehari dari posisi tertingginya di sekitar US$93.000. Penurunan ini membuat Bitcoin hampir menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun dan kini hanya mencatatkan kenaikan sekitar 2 persen secara year-to-date (YTD).

    Penurunan Harga Bitcoin Tak Terduga

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 21 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 21 Januari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Penurunan harga Bitcoin terjadi setelah Mahkamah Agung AS tidak mengeluarkan putusan atas gugatan tarif Trump meskipun hari tersebut telah dijadwalkan sebagai hari pengumuman opini. Dari tiga putusan yang dirilis, tidak satu pun menyentuh perkara tarif, sehingga memperpanjang ketidakpastian mengenai kewenangan presiden dalam menetapkan kebijakan tarif impor.

    Dilaporkan Coingape, situasi ini semakin diperburuk oleh rencana pemerintah AS untuk memberlakukan tarif 10 persen terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Denmark, Norwegia, Finlandia, dan Swedia mulai 1 Februari. Jika Mahkamah Agung memutuskan mendukung kebijakan tarif tersebut, pasar menilai langkah ini berpotensi menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.

    Selain faktor AS, tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari Asia. Pasar merespons kekhawatiran akan kenaikan suku bunga lanjutan di Jepang, setelah Bank of Japan memberi sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini dinilai dapat memicu runtuhnya strategi yen carry trade dan mendorong aksi jual di berbagai aset global.

    Baca juga: Pakistan Gandeng Proyek Kripto Terkait Trump untuk Stablecoin USD1

    Ketidakpastian Makroekonomi dan Nasib Tarif Trump

    Ketidakpastian di Jepang turut diperparah oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah, menyusul pengumuman Perdana Menteri Sanae Takaichi mengenai rencana pemilu dadakan untuk meningkatkan belanja fiskal.

    Sementara itu, data dari Polymarket menunjukkan peluang Mahkamah Agung AS memutuskan mendukung tarif Trump kini mencapai 37 persen, naik signifikan dari sekitar 28 persen sebelumnya. Peningkatan peluang ini turut membebani sentimen pasar kripto.

    Kebijakan tarif Trump sebelumnya juga disebut sebagai salah satu pemicu koreksi tajam Bitcoin pada akhir tahun lalu. Pasar kripto sempat anjlok pada 10 Oktober, setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap barang-barang asal China.

    Di sisi lain, sejumlah analis tetap bersikap pesimistis. Analis teknikal veteran Peter Brandt memprediksi harga Bitcoin masih berpotensi turun lebih dalam ke kisaran US$58.000 hingga US$62.000.

    Seiring tekanan tersebut, pelaku pasar juga mulai menurunkan ekspektasi reli jangka pendek. Polymarket mencatat peluang Bitcoin menembus US$100.000 sebelum akhir bulan kini hanya tersisa 12 persen, mencerminkan melemahnya optimisme investor terhadap pergerakan harga dalam waktu dekat.

    Baca juga: 8,4 Juta WLFI Gratis! Begini Cara Mendapatkannya Lewat Program USD1


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Ramai-ramai Jual Bitcoin Imbas Tarif Trump, Nilainya Capai Rp 3,7 T


    Jakarta

    Pasar aset digital kripto merosot cukup dalam usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik untuk puluhan negara pada Jumat (1/8) kemarin. Menunjukkan bagaimana tarif Trump ini membuat banyak investor menjual aset ‘panas’ mereka ke instrumen yang lebih aman.

    Pada perdagangan kemarin, harga bitcoin tercatat turun hingga 3% menjadi US$ 113.231,41 per koin. Sementara aset kripto ternama lain seperti Ether dan Solana ikut turun masing-masing 6% dan 5%.

    Melansir CNBC, Sabtu (2/8/2025), akibat penurunan pasar banyak investor menjual aset digital mereka untuk mengurangi kerugian lebih jauh atau untuk mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian pasar. Menciptakan gelombang likuidasi aset yang kemudian semakin mendorong harga kripto turun.


    Bahkan selama perdagangan kemarin, Bitcoin mengalami likuidasi sebesar US$ 228 juta atau Rp 3,76 triliun (kurs Rp 16.513 per dolar AS) di seluruh bursa kripto, dan Ether mengalami likuidasi sebesar US$ 262 juta atau Rp 4,32 triliun.

    Lebih jauh, saham-saham perusahaan yang terkait dengan kripto juga ikut mengalami kerugian yang lebih dalam. Misalkan saja bursa kripto, Coinbase yang nilai sahamnya turun 16%.

    Ada juga saham perusahaan terkait kripto lain seperti Circle yang turun hingga 8,4%, Galaxy Digital turun 5,4%, dan perusahaan treasury ether Bitmine Immersion
    turun 7,4%.

    “Kripto baru saja melewati bulan yang menguntungkan, tetapi bisa segera melemah di tengah ketidakpastian makro yang baru,” tulis CNBC dalam laporannya.

    Disebutkan pergerakan aset digital kripto dan saham perusahaan terkait terjadi di tengah gelombang sentimen penghindaran risiko setelah Trump mengeluarkan tarif baru berkisar antara 10% dan 41%, yang memicu kekhawatiran tentang peningkatan inflasi dan kemampuan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga.

    Saat para investor mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian ini, pasar kripto cenderung terpukul karena investor menarik diri dari aset yang paling spekulatif dan volatil tersebut.

    “Setelah sangat panas di bulan Juli, ini adalah masa tenang strategis yang sehat. Pasar tidak bereaksi terhadap krisis, melainkan merespons ketiadaan krisis,” kata Ben Kurland selaku CEO platform riset kripto DYOR.

    “Tanpa adanya katalis makro baru yang akan datang, modal akan beralih dari aset spekulatif ke aset yang lebih aman, ini adalah jeda yang terencana,” sambungnya.

    (igo/eds)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga, Harga Bitcoin Anjlok


    Jakarta

    Harga Bitcoin melemah usai Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75%. Pelemahan Bitcoin terjadi hingga level US$ 90.000 atau Rp 1,5 miliar (kurs Rp 16.700) pada perdagangan Kamis kemarin.

    Berdasarkan data pasar global, Bitcoin sempat naik di atas level US$ 90.000 sehari sebelumnya karena pernyataan Presiden AS Donald Trump soal tidak khawatir dengan penurunan nilai tukar Dolar AS meski banyak tekanan.

    Pada saat yang sama, arus dana institusional juga turut menunjukkan sikap lebih berhati-hati, yang tercermin dari arus keluar pada produk spot Bitcoin ETF di AS senilai US$ 147.37 juta. VP Indodax Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan reaksi pasar terhadap kebijakan moneter yang sebelumnya telah diantisipasi.


    “Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya sudah tercermin dalam ekspektasi pasar. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum memberikan dorongan baru bagi pasar,” ujar Antony dalam keterangan tertulis, Jumat 30/1/2026).

    Antony juga menekankan bahwa volatilitas jangka pendek usai pengumuman kebijakan moneter merupakan pola yang kerap terjadi di pasar kripto global. Pergerakan harga yang terjadi mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi yang sudah dikonfirmasi secara resmi.

    Di sisi lain, sentimen positif datang dari sisi adopsi pemerintah dan institusional. Negara bagian AS, South Dakota, resmi mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) pembentukan cadangan Bitcoin (Bitcoin Reserve) yang berasal dari pendapatan pemerintah negara bagian.

    Melalui aturan ini, South Dakota berpotensi mengalokasikan hingga 10% dari total dana kelolaan negara ke Bitcoin sebagai bagian dari strategi cadangan aset. Antony menilai langkah tersebut mencerminkan penguatan fundamental Bitcoin di luar pergerakan harga jangka pendek.

    “Di tengah koreksi jangka pendek saat ini, ada juga perkembangan positif yang patut dicermati para investor. Adopsi Bitcoin di level pemerintah dan institusional yang menunjukkan bahwa fundamental Bitcoin terus berkembang, terlepas dari dinamika harga harian,” ujar Antony.

    Menurut Antony, volatilitas yang terjadi di pasar kripto saat ini tidak terlepas dari tekanan geopolitik dan kebijakan moneter global, sehingga pelaku pasar cenderung bersikap lebih selektif dalam mengambil keputusan. Dia juga menyarankan agar pelaku pasar tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan faktor makroekonomi yang mempengaruhi pergerakan pasar dalam jangka pendek.

    Antony menambahkan, di tengah dinamika makroekonomi global yang cepat berubah, investor perlu aktif mengikuti perkembangan informasi dan memahami konteks risiko sebelum mengambil keputusan.

    “Investor perlu menjaga disiplin dan terus memperbarui wawasan. Contohnya dengan memanfaatkan pendekatan bertahap, seperti Dollar Cost Averaging (DCA) atau membeli secara berkala guna menekan risiko fluktuasi harga yang tajam,” pungkas Antony.

    Simak juga Video ‘Pemerintah Targetkan Pembahasan Tarif Trump Rampung Februari 2026’:

    (hal/ara)



    Sumber : finance.detik.com