Tag: terra

  • Binance dan Bursa Besar Lainnya Dukung Peluncuran Terra 2.0

    Sejumlah pertukaran atau exchanges aset kripto berjanji akan mendukung peluncuran jaringan baru Terra yang bertajuk Terra 2.0. Di mana setiap holder Terra Classic termasuk LUNAdan UST akan mendapat airdrop sesuai dengan janji dalam proposal 1623.

    Exchanges kripto yang telah mengumumkan akan membantu peluncuran Terra 2.0 ini diantaranya, Binance , FTX , Crypto.com , Huobi , Bitfinex , Bybit , Gate io , Bitrue dan Kucoin. Mereka telah berjanji untuk mendukung versi modifikasi dari blockchain Terra yang baru saja runtuh. 

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 25 Mei 2022: Dinamika Pasar Kripto Masih Statis

    Binance menyatakan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan tim Terra dalam rencana pemulihan ini. Sementara FTX mengumumkan bahwa mereka akan mendukung pembagian airdrop LUNA baru dan menangguhkan pasar LUNA dan UST.

    Terra 2.0 akan diluncurkan pada 27 Mei 2022. Setelah itu airdrop token “LUNA baru” akan diproses.

    Menurut pengumuman dari Terraform Labs, distribusi dan vesting LUNA yang diberikan melalui airdrop bergantung pada jenis token wallet dan jumlahnya, serta snapshot yang ada di dalamnya.

    Airdrop pertama akan diluncurkan pada 27 Mei 2022

    Di peluncuran (genesis) ini, akan tersedia 30% LUNA airdrop untuk pengguna Pre-Attack dengan dana yang tersedia di wallet kurang dari 10.000 LUNA (termasuk turunan staking) atau disimpan UST di Anchor. Sedangkan untuk pengguna Post-Attack dengan jumlah LUNA berapa pun (termasuk staking derivatif), UST, atau keduanya.

    Sebelumnya, Do Kwon menulis sebuah proposal peluncuran kembali blockchain Terra. Proposa; itu disetujui oleh mayoritas voters. Dalam hasil voting yang ditampilkan di Terra Station, 65,5% dari komunitas Terra menyatakan setuju proposal 1623 tersebut. Sedangkan, 20,98% abstain, 0,33% menolak, dan 13,20% menyatakan no with veto.

    Proposal tersebut dipublikasikan oleh Do Kwon pada 16 Mei 2022. Dalam rencana itu disebutkan rantai Terra baru dibuat tanpa stablecoin algoritmik. Adapun, rantai lama disebut Terra Classic (token Luna Classic – LUNC) dan rantai baru disebut Terra (token Luna – LUNA).

    Baca juga: Direktur IMF Akui Keunggulan Aset Kripto dan Sepakat Bukan Mata Uang

    DISCLAIMER: Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Terra LUNA Naik di Tengah Volatilitas yang Gila

    Runtuhnya ekosistem Terra akibat ambruknya harga dari stablecoin UST dan token LUNA benar-benar menjadi berita terpanas saat ini, karena ada begitu banyak investor yang merugi dan kehilangan tabungan seumur hidup mereka.

    Terra yang pada awalnya terlihat sangat menjanjikan, yang juga memborong Bitcoin (BTC) sebagai cadangan dari UST, telah dihantam aksi jual besar-besaran yang merosotkan nilai UST jauh dari kata stabil.

    Karena algoritmiknya, jatuhnya UST memicu pencetakan token LUNA secara masif, yang menciptakan hiper inflasi dan membawa harganya jatuh mendekati 100%.

    Terlihat suram, ini memang hampir mati karena aksi jual gila dan investor mulai pesimis terhadapnya.

    Namun, belum lama harga dari token LUNA, yang sudah merosot tajam, mengalami kenaikan 100% di tengah volatilitas yang gila, menuju kisaran $ 0,0002, tapi pagi hari ini sudah turun lagi sebanyak 25%, ke $ 0,00016.

    Baca juga: Nilai Burn Shiba Inu (SHIB) Lompat 800% Setelah Hadiah Didistribusikan

    Tentu saja, setiap kenaikan menjadi sorotan pada LUNA, yang mendapat tanggapan beragam, ada yang melihat itu adalah “aksi tipu daya” para bandar, dan ada juga yang melihat kejatuhan LUNA tidaklah seburuk yang difikirkan, ini masih bisa bangkit kembali.

    Memang jelas, masih ada beberapa ahli yang meyakini bahwa LUNA masih memiliki dukungan yang kuat dan penilaian pasar yang besar, yang membuatnya mampu tumbuh di tengah koreksi pasar crypto, sebelum crash melandanya. Dalam beberapa pandangan, ini jatuh karena manipulasi pemain besar dan dilakukan dengan sengaja.

    Baca jugaInilah 4 Cara Orang Kaya Menghasilkan Pendapatan Pasif

    Yang jelas, CEO Terraform Labs, Do Kwon dan tim, masih berdiri untuk memulihkan ekosistem, dengan mengupayakan hard fork yang masih dalam tahap voting, yang akan segera berakhir untuk melihat seperti apa ini akan berjalan.

    Secara teknikal analisis, tidak ada alat yang mendorong pembelian Terra LUNA. Jika menggunakan timeframe lebih tinggi, sudah kelihatan Terra LUNA adalah pump and dump koin.

    Sudah tentu dimana ada volatilitas di sana anda bisa menghasilkan uang, juga sama, anda juga akan rugi.

    Untuk saat ini, tidak bagus untuk membeli semua altcoin karena kripto tersebut berdarah, jika dibandingkan dengan BTC, ETH dan juga USDT.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apakah Do Kwon Layak Dipenjara atas Keruntuhan Terra LUNA

    Tanggal 9 Mei 2022 adalah waktu yang akan tercatat dalam sejarah industri aset kripto. Di mana tanggal tersebut merupakan hari dimulainya kehancuran sebuah bulan yang sebelumnya sempat bersninar terang di pasar kripto. 

    Tanggal tersebut menjadi penanda awal jaringan Terra runtuh berserta semua ekosistemnya. Stablecoin UST yang sebelumnya diagung-agungkan sebagai koin stabil paling “canggih” hancur berkeping-keping. UST jauh kehilangan pasaknya dari nilai dollar AS. 

    Keruntuhan Terra bisa disebut sebagai salah satu bencana terbesar di industri kripto. Banyak orang yang kehilangan uangnya. Investor kecil hingga kakap pun sama-sama gigit jari. Dan yang tak kalah penting, kehancuran Terra menggerus kepercayaan pasar pada industri yang baru saja berkembang ini. 

    LUNA/USDT 1 day. Tradingview
    Analisis teknikal Terra (LUNA).

    Lantas, apakah yang dilakukan oleh developer Terra adalah tindakan kriminal atau sebuah penipuan. Atau hal tersebut merupakan sebuah keteledoran sebuah jaringan?

    Perlu sebuah kajian hukum yang mendalam untuk mengkategorikan apakah kasus Terra ini adalah sebuah penipuan yang layak dipidanakan atau mungkin hal ini merupakan ketelodran yang menjadikan jaringan mereka rusak. 

    Baca juga: Tips Cuan Investasi Kripto Kala Market Bearish dan Kekhawatiran Stablecoin

    Namun, banyak pihak terutama investor dan ritel telah menyeret kasus ini ke ranah pidana. Pendiri Terra Do Kwon mendapat kritkan tajam dan dilaporkan ke penegak hukum, terutama oleh masyarakat Korea Selatan–di mana Do Kwon berdomisili.

    Dikutip dari Decrypt, seorang profesor hukum dan mantan jaksa yang berspesialisasi dalam kejahatan kerah putih Randall Eliason, mengatakan, untuk menjatuhkan klaim bahwa Do Kwon dan developer Terra telah melakukan penipuan, diperlukan bukti-bukti yang cukup. Dan menurutnya, hal tersebut bukanlah hal yang mudah. 

    Eliason pun membandingkan kasus Terra ini dengan penyebab krisis tahun 2008. Di mana saat itu sebuah bank terbesar Amerika Serikat, Lehman Brother, bangkrut dan mengakibatkan pasar keuangan jatuh dan menjalar pada krisis keuangan ke hampir seluruh dunia. 

    Eliason mengatakan, dalam kasus tersebut tidak ada yang dipenjara seoarang pun meski telah  menyebabkan krisis keuangan 2008. Menurutnya, kasus tersebut lebih pada kesembronoan lembaga.

    Namun, ini tidak berarti, bahwa Kwon akan lolos dari tuntutan pidana. Penegak hukum masih bisa menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi. Karena, dari beberapa isu yang mencuat, terdapat masalah pada platform investasi Terra, Anchor, yang menjanjikan pengembalian yang dijamin sebesar 20%. Meski, jumlah pengembalian  ini masih sangat masuk akal di dunia crypto.

    Selemah-lemahnya, komunitas kripto hisa mengharapkan badan pengatur non-kriminal seperti SEC untuk menindak Kwon dengan semua yang mereka miliki dalam hal denda dan hukuman profesional. 

    Ini adalah konsekuensi  yang nampaknya lebih adil, bahwa Kwon akan dilarang dari segala jenis perusahaan yang terkait dengan sekuritas di AS, dan bahwa ia akan menghindari menginjakkan kaki di tanah Amerika di masa mendatang.

    Baca juga: Apa Itu Aset Kripto Nexo (NEXO) dan Mobilecoin (MOB)?

    Sistem Jaringan Terra Mempunyai Kelemahan Fatal

    Kehancuran Terra dan jatuhnya harga UST dan LUNA lebih pada kelemahan jaringan yang sangat fatal. Hal tersebut dikatakan oleh seorang developer blockchain sekaligus CTO Ansvia dan Founder Rantai Nusantara Foundation, Robin Syihab

    Robin dalam utasnya di Twitter mengatakan, bahwa sistem jaringan di Terra mempunyai celah yang dapat “dipermainkan” oleh entitas yang mempunyai jumlah token UST dalam jumlah besar. 

    Selama beroperasi, Terra disokong oleh sejumlah entitas venture capital. Di mana para VC ini yang memodali jaringan Terra untuk menjalankan skema algoritmik bagi stablecoin mereka.

    Robin menduga, kehancuran jaringan ini dilakukan oleh seseorang atau sekelompok dengan menggunakan gaya serangan George Soros yang pernah membuat krisis moneter di Asia termasuk Indonesia pada tahun 1998.

    “Selain bisa menghancurkan sistem Terra LUNA serangan ala George Soros juga bisa menguntungkan penyerangnya,” tulis Robin. 

    Kendati demikian, kasus ambruknya Terra menjadi sebuah pelajaran yang penting bagi komunitas kripto. Dan menjadi tantangan bagi sebuah regulasi yang adil bagi para investor maupun pengembang proyek. 

    DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.

    Baca juga: Investasi Aset Kripto Sarana Pengembangan Ekonomi Anak Muda

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bos Binance Soroti Penyebab Keruntuhan Parah Harga Terra LUNA

    Bos Binanc,e Changpeng Zhao (CZ), mengatakan bahwa rubuhnya harga Terra LUNA dan UST dapat dihindari jika cadangan Bitcoin Luna Foundation Guard (LFG) memang digunakan.

    Pendapat CZ itu adalah yang terbaru, merespons soal kekacauan masif dan sistematis proyek kripto besutan Do Kwon dan Daniel Shin itu.

    Harga Terra LUNA Hari Ini Menguat Lebih 50 Persen

    Sementara itu, harga Terra LUNA hari ini menguat amat signifikan, karena naik lebih dari 50 persen dalam 24 jam terakhir. Terpantau di CoinMarketCap.com, harga Terra LUNA naik dari dari $ 0,000112 pada kemarin dan menjadi $ 0,0001731 pada hari ini, Minggu (22/5/2022).

    harga Terra LUNA hari ini

    CZ: Tim Terra Lambat Mengendalikan Situasi

    CZ juga berpendapat, bahwa Tim Terra sangat lambat dalam mengendalikan situasi untuk membuat TerraUSD (UST) tetap stabil 1 dolar AS, khususnya dengan menggunakan cadangan Bitcoin mereka.

    “Tim Terra lambat dalam menggunakan cadangan Bitcoin mereka untuk memulihkan pasak UST. Seluruh insiden mungkin dapat dihindari jika mereka menggunakan cadangan mereka ketika ‘depeg’ berada di 5 persen. Setelah nilai kripto turun hingga 99 persen (atau US$80 miliar), mereka justru mencoba menggunakan US$3 miliar untuk melakukan penyelamatan. Tentu saja, cara itu tidak berhasil,” kata CZ di blog resmi Binance.

    Terkait cadangan Bitcoin yang sedianya digunakan untuk menstabilkan harga, pihak Terraform Labs sebelumnya sudah mengakui sudah menjual sebagian besar. Hanya tersisa sekitar 300 BTC.

    Tentu saja hal utama yang disoroti CZ adalah, tim Terra lalai memantau pergerakan UST, yang mulai terjun bebas, hingga mencapai posisi terendah US$0,225 dari yang seharusnya $1.

    Itu tak seberapa, hingga merembet kemudian kepada kripto LUNA dan berlanjut ke pasar kripto secara umum. Investor LUNA kehilangan 100 persen nilainya dalam semalam setelah mencapai tingkat mendekati nol.

    CZ juga berpendapat bahwa badai mulai mengguyur blockchain Terra setelah lebih banyak LUNA yang diterbitkan dalam upaya untuk menyelamatkan situasi.

    “Menambah banyak LUNA ke pasar justru hanya melemahkan para hodler yang ada. Menerbitkan LUNA secara berlebihan dan cepat membuat masalah menjadi jauh lebih buruk,” ujarnya.

    Baca juga: Ketahui Pengertian Kriptografi dan Penjelasan Lengkapnya di Sini

    Itu memanglah fakta, per Minggu (22/5/2022), circulating supply LUNA berdasarkan catatan Messari adalah 6.534.869.472.865,85 unit. Bandingkan dengan sebelum crash yakni 343.092.421,78 unit. Ultra-hyperinflation ini justru mempercepat kelemahan LUNA. Kendati dengan harga Terra LUNA hari ini naik 50 persen dibandingkan sehari sebelumnya, sejatinya itu ulah spekulator yang ingin mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek.

    Kelemahan lainnya yang disoroti CZ lagi adalah penggunaan insentif yang terlalu agresif, yakni 20 persen per tahun (APY) di Anchor Protocol.

    “Secara khusus, APY tetap 20 persen dari Anchor untuk mendorong pertumbuhan (in-organik). Anda dapat menggunakan insentif untuk menarik pengguna ke ekosistem Anda. Namun pada akhirnya, Anda perlu menghasilkan ‘penghasilan’ untuk mempertahankannya, yaitu, lebih banyak pendapatan daripada pengeluaran. Jika tidak, Anda akan kehabisan uang dan crash,” sebutnya.

    Baca juga: Astaga! Ada Investor Terra LUNA Korsel yang Akhirnya Terlilit Utang, Do Kwon Akui Bubarkan Perusahaan di Korsel

    Tragedi Terra telah memicu dugaan publik apakah para pendiri Terraform Labs secara sengaja memanipulasi jaringan sehingga runtuh. Atau apakah sejak awal tahu sangat rapuh, tetapi tidak diberitahu kepada publik dan para investor awal.

    Dugaan ini memuncak, ketika 5 korban investasi Terra LUNA di Korsel melaporkan Do Kwon dan Daniel Shin kepada polisi beberapa hari ini. Hingga kemarin, pihak Kejaksaan Agung sudah menerima limpahan kasus itu dan mungkin akan mengenakan pasal praktik skema ponzi yang diduga ada lewat Anchor Protocol itu.

    Do Kwon juga sudah mengakui, bahwa Terraform Labs di Korsel memang berhenti beroperasi beberapa hari sebelum harga kripto itu turun drastis. Kwon menjawab santai, bahwa itu hanyalah kebetulan saja dan dirinya saat ini berada di Singapura.

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Terra LUNA Korsel Mencapai 280 Ribu Orang

    Investor Terra LUNA Korea Selatan diperkirakan mencapai 280 ribu orang dengan total kepemilikan 70 miliar LUNA. Sejauh ini baru sekitar 5 orang melaporkan lewat kantor pengacara LKB & Partners.

    Hal itu ditulis dalam tajuk rencana (editorial) kantor berita Korsel, Yon Hap, Kamis (19/5/2022), berdasarkan catatan Financial Services Commission (FSC). Komisi ini setara dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia.

    Tajuk rencana sebuah media mencerminkan keluasan dan dampak sebuah peristiwa terhadap publik. Dalam hal ini kasus Terra LUNA sejatinya merugikan jutaan warga di banyak negara, termasuk di Korea Selatan sendiri, karena harga kripto itu sempat masuk ke titik nol beberapa hari lalu.

    “Otoritas keuangan Korea Selatan mengatakan ada sekitar 280.000 investor lokal, diyakini memegang sekitar 70 miliar LUNA,” sebut media itu, ditulis oleh Kim Han-joo.

    Salah satu puncak kekisruhan parah ini adalah ketika hari ini Kantor Pengacara ternama, LKB & Partners atas nama sejumlah klien mereka, melaporkan Do Kwon dan Daniel Shin dan Perusahaan yang didirikannya, Terraform Labs, kepada Kantor Kejaksaan Distrik Selatan di Seoul.

    Baca juga: Jadi, Crypto Halal atau Haram? Ketahui Selengkapnya Berikut!

    Investor Terra LUNA Korsel Rugi US$1,1 Juta

    Menurut juru bicara tim pengacara, sejauh ini mereka mewakili 5 orang investor Terra LUNA dengan total kerugian mencapai 1,4 miliar won ($ 1,1 juta). Para korban menduga para tergugat melakukan penipuan dan melanggar undang-undang tentang penggalangan dana (crowdfunding). Bahkan pengacara mengakui ada investor dari negara lain, seperti Amerika Serikat dan Italia.

    “Do Kwon dan rekan pendiri Terraform Labs lainnya memberikan informasi tak benar tentang kesalahan algoritma di LUNA dan UST yang berdampak pada jatuhnya harga. Bahkan perusahaan terlibat dalam skema investasi yang menjanjikan keuntungan hingga 19,4 persen per tahun. Kami dan klien kami menilai itu sebagai bentuk penipuan,” kata kantor pengacara itu dalam siaran pers.

    Do Kwon mendirikan Terraform Labs bersama Daniel Shin (pendiri TMON) pada tahun 2018 di Korea Selatan dan punya entitas serupa di Singapura, termasuk Luna Foundation Guard (LFG).

    Baca juga: Bos Penerbit USDC: Kami Sudah Ramalkan Keruntuhan Terra LUNA dan UST

    Beberapa hari lalu beredar dokumen yang tampk asli yang disebut-sebut sebagai bukti bahwa Terraform Labs sudah membubarkan diri pada 30 April 2022 lalu, berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham. Pada awal Mei 2022, pihak Pengadilan Tinggi di Seoul sudah mengesahkannya pembubaran itu.

    Sebelumnya, seorang pria di Seoul menyerahkan diri kepada polisi. Ia mengaku dirinyalah yang datang ke rumah Do Kwon dan bertanya kepada istrinya di mana Do Kwon berada. Ia juga sempat menyatroni rumah itu sehari sesudahnya. Dia mengaku adalah investor LUNA yang rugi setara puluhan miliar rupiah.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Founder Coinmetrics: Stablecoin Tetap Kuat, Kecuali UST

    Stablecoin dianggap sebagai inovasi terkuat di dunia crypto karena memberikan kemampuan desentralisasi dari sisi transaksi. 

    Pernyataan tersebut dituturkan oleh Nic Carter, Pendiri Coinmetrics dan Petinggi Castle Island Ventures dalam acara Permissionless oleh Blockworks. 

    Acara Permissionless Bahas Stablecoin 

    Ia menyatakan pandangannya dengan menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa memberikan apa yang diberikan oleh inovasi stablecoin.

    Pernyataan ini disampaikan dengan adanya beberapa petinggi di dunia crypto seperti 

    Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu, Developer Utama MakerDAO Sam MacPherson, Pendiri Frax Sam Kazemian.

    Acara ini juga seharusnya menyambut CEO Terra, Do Kwon terkait kasus stablecoin yang sedang ramai, tapi ia tidak hadir. 

    Perbincangan ini juga menyangkut kondisi USTerra atau UST yang sedang turun jauh di bawah $1 menjadi sekitar $ 0,1 keluar dari statusnya sebagai stablecoin

    Menanggapi kondisi ini banyak stablecoin yang juga terimbas sentimen negatif, tapi satu stablecoin berdiri kuat yaitu USDC. Circle, perusahaan yang bertanggung jawab atas USDC menyatakan, 

    “Cara kerja kami sangat membosankan, sistemnya sangat mudah, terdasari uang fiat. Pengguna memberi 1 Dolar Amerika, kita memberi 1 USDC dan sebaliknya.”

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    USDC menjadi salah satu topik yang dibahas dalam acara ini karena perbedaannya yang sangat drastis dengan UST dari Terra. 

    Sebab untuk sistem USDC stablecoin-nya adalah stablecoin tradisional tapi UST menggunakan sistem stablecoin algoritma. 

    Stablecoin tradisional adalah stablecoin yang didasari uang fiat sedangkan stablecoin algoritma didasari oleh token atau koin yang terikat dengannya dari sisi nilai. 

    Baca juga: Mengenal Dekat Kripto Wrapped Bitcoin (WBTC) dan Kava Lend (HARD)

    Kehancuran Terra Sudah Diprediksi 

    Nic Carter juga menyatakan bahwa Terra adalah sebuah proyek yang sudah diprediksi akan hancur dalam jangka panjang. Ia menyatakan, 

    “Luna Terra jelas adalah sebuah bom waktu di dunia crypto, jelas sekali proyek yang paling rentan.”

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    Carter menyatakan bahwa Terra adalah sebuah sistem keuangan yang sangat teledor dari sisi infrastrukturnya dan menganggap bahwa kehancurannya sudah dapat diprediksi sejak lama bagi yang memiliki “pandangan jernih”.

    Ia menambahkan bahwa sistem algoritma UST membuatnya rumit bahkan terlalu rumit dan sulit dimengerti oleh para investor yang tertarik.  

    Selain itu Carter juga menambahkan bahwa mekanisme ini tidak pernah dikoreksi karena Do Kwon sangat agresif dan aktif di Twitter, membuat investor jengkel saat memberi kritik. 

    “Investor tidak bisa memberi kritik terhadap UST karena Do Kwon sangat vokal di Twitter. Terdapat kondisi dimana kritik menjadi sebuah hal yang menyinggung bagi komunitas Terra, jadi besar insentifnya untuk tidak memberi kritik ke Terra.” 

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    MacPherson, developer utama dari MakerDAO juga setuju dengan pernyataan tersebut dimana Terra dianggap olehnya sebagai proyek yang teledor sejak awal berdiri. 

    Ia juga menambahkan bahwa kasus UST membuat adanya kebutuhan yang tinggi terkait penjagaan nilai stablecoin berdasarkan nilai uang fiat asli yang ada di dana cadangan penerbit. 

    MacPherson juga menyinggung DAI yang memiliki cadangan 1,64 kali dari stablecoin yang diterbitkannya sehingga dianggap sebagai stablecoin yang aman. 

    DAI juga diangkat dalam perbincangan tersebut karena sebelumnya Do Kwon menyinggung DAI dan berjanji untuk mematikan proyek tersebut. 

    Terlihat bahwa saat ini DAI masih hidup dan UST mati yang juga menjadi salah satu topik hangat di dunia crypto saat ini. 

    Baca juga: 3 Tanda Onchain Menunjukkan Bitcoin Mulai Pulih

    Masih Menjadi Inovasi Terkuat Crypto

    Dalam acara tersebut, perwakilan dari Visa, Catherine Gu, juga menyatakan pendapatnya terkait kasus Terra.

    Ia menyatakan bahwa Visa menginginkan kegunaan yang unik dari stablecoin dan fokus Visa saat ini memang masih hanya di stablecoin yang didasari fiat. Gu menyatakan:

    “Kita harus memikirkan tentang pembentukan proyek crypto yang ada saat ini karena adanya standar keamanan merupakan hal yang penting untuk konsumen, investor ritel, dan institusi. Penting untuk tau proses audit dari stablecoin dan bagaimana mereka menguji kestabilan stablecoin tersebut.” 

    Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu

    Selain itu Gu juga menggarisbawahi bahwa banyak institusi yang saat ini lebih percaya terhadap CBDC atau mata uang digital bank sentral, dibandingkan stablecoin.  

    MacPherson dari MakerDAO juga menyetujui pandangan positif terhadap stablecoin dengan menyatakan bahwa jika CBDC masuk ke blockchain terbuka maka bisa menjadi stablecoin yang lebih aman. 

    Reginatto dari Circle, perusahaan terkait USDC memiliki tanggapan yang berbeda. Ia menyatakan bahwa bank sentral akan kesulitan jika diberi tanggung jawab mengendalikan fiat di blockchain karena sistemnya yang berbeda dan lebih rumit.

    Ia juga berargumen bahwa sistem antara CBDC dan stablecoin itu berbeda dimana CBDC bersifat terpusat dan stablecoin tidak terpusat serta transparan. 

    Namun kritik terkait CBDC datang dari Nic Carter yang menyatakan bahwa stablecoin lebih mendukung konsumen. Ia menyatakan: 

    Stablecoin adalah inovasi terkuat dari crypto sejauh ini, tidak ada perbandingannya. Stablecoin bertanggung jawab atas transisi autonomi transaksi yang besar di dunia keuangan saat ini.” 

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    Carter menambahkan bahwa CBDC tidak bisa memberikan transparansi dan sifat anonim yang datang dari CBDC.  

    Jadi ia percaya bahwa walau sekarang terjadi kekacauan di sekitar stablecoin, dengan adanya infrastruktur dan sistem audit yang tepat, maka stablecoin akan tetap kuat sebagai produk utama dunia crypto

    Baca juga: Mendag Rusia Akan Melegalkan Perdagangan Kripto

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bagaimana Cara CEO Binance Melindungi Pemilik UST (Luna)?

    Binance CEO, Changpeng Zhao, memberikan wawasan bagaimana Binance mengambil tindakan untuk memastikan pengguna Binance dilindungi dengan runtuhnya UST Terra Luna.

    Pada tanggal 16 Mei lalu, Boss Binance men-tweet secara terinci bagaimana koneksi Binance dan proyek Luna dan cara mereka untuk memastikan pengguna tetap terlindungi.

    Dalam serangkaian tweet ini, CZ (sapaan Changpeng Zhao), mengakui Binance memegang 15 juta Luna yang pada ATH bernilai $ 1,6 miliar.

    Token tersebut diberikan kepada luna sebagai hadiah atas investasi awal yang dilakukan oleh Binance kepada Proyek sebesar $3 juta.

    Sudah pasti ini adalah investasi yang sangat menguntungkan, mengingat Luna naik beribu-ribu persen.

    Sangat disayangkan LUNA hanya berharga $ 0,000184615 dan Binance investasi hanya bernilai $ 2,7 juta-an.

    Baca jugaApakah Kamu Menjual Aset Crypto Selama Crash? CEO Ini Bilang TIDAK!

    Bisa dibilang bahwa Binance hanya rugi $ 300.000. Jumlah ini terbilang kecil jika kita bandingkan dengan beberapa orang yang hilang hingga $ 20 juta UST.

    CZ juga menekankan bahwa Binance tidak pernah menjual Luna yang mereka pegang. Anda bisa mencheck di sini.

    Diserangkaian tweet tersebut, CZ menegaskan bahwa Luna harus berfokus untuk melindungi pengguna dan memberikan kompensasi kepada mereka, sebelum ke Binance.

    Karena Luna masih terlisting di Binance, CZ berhak untuk mendapatkan ganti rugi. Namun, dia mengatakan:

    Untuk memberikan contoh tentang MELINDUNGI PENGGUNA, Binance akan ‘memaafkan’ untuk kali ini dan meminta tim Terra untuk memberikan kompensasi kepada pengguna ritel dan Binance terakhir (JIKA TERJADI).

    Cryptoharian sudah memberikan kenapa Terra Luna terjadi seperti ini. Secara singkat, ini terjadi karena UST/USD kehilangan peg $1.

    Sebagai stablecoin 1 UST=$ 1. Namun, dalam kasus ini, 1 UST tidak $ 1

    Baca juga: Ahli Strategi Bloomberg: Bitcoin dan Ethereum akan Ungguli Pasar Saham

    Untuk mempertahankan PEG, tim Terra Luna juga menjual cadangan BTC mereka. Ini-lah kenapa harga Bitcoin sempat mencapai $ 26 ribu di Binance.

    Beberapa artikel dan Youtuber mengatakan ini adalah sebuah koordinasi attack yang mau menghancurkan Luna.

    Namun, Cryptoharian tidak bisa memberikan komentar untuk ini. Salah satu Youtuber yang mengatakan hal ini adalah Crypto Banter.

    DISCLAIMER: Cryptocurrency adalah aset yang sangat volatil, trade dengan berhati-hati.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Terra LUNA Siap Laporkan Do Kwon

    Investor Terra LUNA di Korea Selatan siap melaporkan Do Kwon kepada polisi atas dugaan penipuan investasi. Pengacara yang mewakili dari firma hukum ternama, yakni LKB & Partners.

    “Firma hukum Korea Selatan LKB & Partners bersiap untuk menuntut salah seorang pendiri dan CEO Terraform Labs Do Kwon atas penipuan atas nama investor yang dirugikan secara finansial akibat runtuhnya harga Terra LUNA minggu lalu,” sebut pengacara itu, dilansir dari media lokal Korsel, Munhwa, Rabu (18/5/2022).

    Bahkan para pengacara dalam rencana laporannya agar sejumlah aset dan properti milik Do Kwon disita sementara.

    Baca juga: Berikut Jenis Asic Miner yang Bisa Dipakai Untuk Mining Aset Kripto!

    Investor Terra LUNA Korsel Tuntut Do Kwon

    “Ada investor terkait di dalam firma hukum, dan kami berencana untuk mengajukan keluhan terhadap CEO Kwon dengan Unit Investigasi Keuangan dari Badan Kepolisian Metropolitan Seoul,” katanya kepada Munhwa.

    Beberapa hari lalu beredar dua lembar dokumen yang disebut-sebut sebagai bukti bahwa Terraform Labs sudah membubarkan diri pada 30 April 2022 lalu, berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham. Pada awal Mei 2022, pihak Pengadilan Tinggi Seoul sudah mengesahkannya. Dokumen itu belum dapat diverifikasi apakah asli atau tidak.

    Sebelumnya lagi, seorang pria di Seoul menyerahkan diri kepada polisi. Ia mengaku dirinyalah yang datang ke rumah Do Kwon dan bertanya kepada istrinya di mana Do Kwon berada. Ia juga sempat menyatroni rumah itu sehari sesudahnya. Dia mengaku adalah investor LUNA yang rugi setara puluhan milyar rupiah.

    Investor Terra LUNA korsel

    Sementara itu di Reddit, beredar surat laporan kepada polisi Singapura atas nama para investor Terra LUNA. Lagi-lagi, dokumen yang tampak asli itu tidak bisa diverifikasi kebenarannya.

    Dari media lokal juga tersiar, bahwa lembaga keuangan dan investasi terkait di Negeri Ginseng itu kemungkinan besar akan memeriksa kasus ini. Parlemen juga berencana akan memanggil Do Kwon.

    Baca juga: Terra LUNA Mencoba Bangkit, UST Akan Dikuburkan dengan Syarat Ini

    Voting untuk Forking Blockchain Terra Sedang Berlangsung

    Di atas itu semua, tim pengembang Terra pimpinan Do Kwon saat ini tengah membenahi sistem mereka dengan melakukan voting untuk forking terhadap blockchain Terra.

    Voting sudah berlangsung sejak kemarin malam dan berlangsung selama 7 hari. Ketika artikel disusun, lebih dari 90 persen menyatakan setuju, 0,29 persen menyatakan tidak setuju.

    Voting itu akan dinyatakan kuorum jika 40 persen suara terkumpul, dengan ambang batas mencapai 50 persen.

    Jika mayoritas menyetujui proposal forking itu, maka akan ada dua blockchain baru, berdasarkan blockchain yang saat ini masih digunakan. Blockchain baru yang akan digunakan kelak tidak berfitur stablecoin TerraUSD (UST) lagi.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Beredar Dokumen Terraform Labs (Terra LUNA) Korsel Telah Bubar

    Di tengah gonjang-ganjing kasus Terra LUNA dan UST, beberapa hari lalu beredar dokumen di Reddit bahwa Terraform Labs Korea Selatan sudah sah bubar oleh Pengadilan Tinggi setempat pada 4 Mei 2022, berdasarkan permohonan pihak perusahaan pada 30 April 2022.

    Dokumen berkop resmi dan tampaknya cukup meyakinkan itu, tak pelak kian memicu spekulasi tambahan bahwa Do Kwon (bernama lengkap Kwon Do-hyeong) mungkin telah mengetahui kekacaubalauan yang sedang terjadi bagi Terra LUNA dan UST. Spekulasi kuat lainnya adalah, mungkin pembubabaran Terraform Labs di Korsel itu adalah sebagai langkah antisipasi meredam kerontokan lebih parah.

    Seperti yang diketahui publik, harga LUNA sejatinya tak bernilai pada minggu lalu, ketika mendekati titik nol. Sementara itu stablecoin TerraUSD (UST) kehilangan pasaknya, menjadi olok-olok di dunia maya menjadi “Unstable Stable Token“.

    Do Kwon, atas nama perusahaan pun mengambil sejumlah langkah, di antaranya adalah akan melakukan forking terhadap blockhain Terra, jika usulan itu disetujui lewat jajak pendapat yang akan dimulai hari ini, Rabu (18/5/2022).

    Rencana forking memang tidak sepakati oleh komunitas sendiri, termasuk oleh Changpeng Zhao Bos Binance yang punya investasi di perusahaan itu. Baginya forking tidak memberikan nilai utuh, walaupun ada kompensasi kripto terhadap mereka yang mengalami kerugian.

    Baca juga: Berikut Jenis Asic Miner yang Bisa Dipakai Untuk Mining Aset Kripto!

    Terraform Labs (Terra LUNA) Korsel Bubar Pada 4 Mei 2022?

    Pada dokumen di Reddit yang beredar beberapa hari lalu itu, disebutkan bahwa Terraform Labs di Korsel itu bermarkas di Busan. Pada 30 April 2022 perusahaan bermohon kepada pihak pengadilan setempat untuk membubarkan diri dan disahkan oleh pihak pengadilan pada 4 Mei 2022. Tanggal itu selaras dengan beberapa hari sebelum harga LUNA dan UST terperosok.

    Dokumen itu memang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, namun jikalau itu benar, setidaknya selaras dengan laporan dari media lokal di Korsel, yang mengklaim punya dokumen bahwa Terraform Labs Korea memutuskan membubarkan kantor mereka di Busan dan Seoul, berdasarkan rapat umum pemegang saham pada 30 April 2022.

    Terraform Labs (Terra LUNA)
    Terraform Labs (Terra LUNA)

    Laporan itu dari media itu menambahkan bahwa markas Terraform Labs Korea dilikuidasi pada 4 Mei 2022, dan cabang Seoul dilikuidasi pada 6 Mei 2022. Berdasarkan catatan perusahaan di daftar perusahaan, nama likuidator terdaftar sebagai sang CEO, yakni Kwon Do-hyeong.

    Baca juga: Terra LUNA Mencoba Bangkit, UST Akan Dikuburkan dengan Syarat Ini

    Kwon mendirikan cabang Terraform Labs di Korea Selatan pada tahun 2019, setahun setelah ia ikut mendirikan perusahaan itu di Singapura.

    Tetapi laporan media itu mencatat bahwa kemungkinan ada perusahaan lain yang didirikan Kwon sebelum meluncurkan Terraform, termasuk proyek stablecoin yang ia tinggalkan (dengan nama anonim) pada tahun 2017, yakni Basis Cash.

    Media lokal yang sama secara terpisah melaporkan, bahwa Financial Services Commission dan Financial Supervisory Service Korsel tampaknya memulai penyelidikan terkait kasus Terra ini secara lokal. [ps]

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Ini Arus Bitcoin Milik Organisasi Terra LUNA, Sudah Dijual Semua?

    Organisasi Terra LUNA, yakni Luna Foundation Guard (LFG) punya ribuan Bitcoin (BTC) yang sedianya untuk menstabilkan nilai UST. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ke manakah Bitcoin miliaran dolar itu mengalir? Sudah dijual?

    Pada Maret 2022 lalu, LFG, organisasi asal Singapura yang terafiliasi dengan Terraform Labs, menggelar program praktik “Bitcoin Standard” agar nilai stablecoin UST tak hanya menggunakan kripto LUNA sebagai pasaknya.

    Jadilah terungkap kala itu, bahwa pembelian Bitcoin besaran-besaran sudah dilakukan sejak awal tahun.

    Hingga beberapa pekan lalu, LFG masih punya cadangan Bitcoin setara $ 3,5 miliar. Namun, setelah harga UST dan LUNA jatuh ke titik nadir, publik bertanya apakah benar BTC itu digunakan untuk menyelamatkan kedua kripto itu? Atau apakah sudah dijual semua dan menjadikan pasar kripto semakin kritis?

    Ada banyak jawaban. Salah satu yang cukup terperinci adalah hasil kajian Dr Tom Robinson dari lembaga penelitian Elliptic, pada Jumat (13/5/2022) lalu.

    “Pekan ini kita menyaksikan harga UST jatuh. Alih-alih nilainya setara 1 dolar AS, harganya malah jatuh menjadi $ 0,04. Pemegang UST bernilai miliaran dolar pun rugi sangat parah,” kata Tom di awal kajian itu.

    Nilai UST yang jauh di bawah 1 dolar. Sumber: Coinmarketcap.

    Baca juga: Cara Membaca Candlestick dengan Simpel dan Akurat

    LFG memang mencanangkan program sangat mencengangkan. Mereka berencana membeli Bitcoin setara $ 10 miliar dalam jangka panjang dan sekitar US$3 miliar dalam jangka pendek.

    Bitcoin sebanyak itu sedianya akan digunakan sebagai pasak nilai untuk UST, selain menggunakan kripto LUNA.

    “Antara Januari dan Mei 2022, ada sekitar 80.394 BTC senilai $ 3,5 miliar pada saat itu, dibeli oleh LFG,” sebut Tom.

    Ia melanjutkan, ketika nilai UST mulai turun pada 9 Mei 2022, LFG mengumumkan bahwa mereka akan mulai membuang cadangan Bitcoin-nya itu dan membeli UST.

    Inilah langkah pertama untuk mencoba mempertahankan pasak UST agar tetap 1 banding 1 terhadap dolar AS.

    “Selama hari beberapa hari berikutnya, Bitcoin LFG itu justru dikosongkan. Saldonya kini nol. Nah, karena nilai stablecoin UST terus merosot, publik bertanya tentang nasib cadangan bitcoin LFG itu, dan apakah itu benar-benar digunakan untuk mendukung nilai stablecoin UST. Di sini kami punya jawabannya, setidaknya soal ke mana aliran dana BTC itu,” sebut Tom.

    Salah satu address milik Luna Foundation Guard (LFG) yang sudah kosong. Sumber: Blockchair.

    Baca juga: Michael Saylor: Kripto Longsor Akan Percepat Regulasi Stablecoin

    Melacak Bitcoin Milik Organisasi Terra LUNA

    Pada pagi hari 9 Mei 2022, LFG mengumumkan bahwa mereka akan meminjamkan BTC senilai $ 750 juta ke perusahaan perdagangan OTC (over the counter) untuk membantu melindungi pasak UST.

    Pendiri Terralabs, Do Kwon, kemudian mengklarifikasi bahwa Bitcoin akan “digunakan untuk trading“.

    Pada waktu yang hampir bersamaan, 22.189 BTC (senilai $ 750 juta saat ini) dikirim dari address Bitcoin yang terkait dengan LFG, ke address baru.

    Kemudian malam itu, 30.000 BTC lainnya (senilai $ 930 juta pada saat itu) dikirim dari dompet LFG lainnya, ke address yang sama ini.

    Aliran dana BTC ke Gemini.

    Dalam beberapa jam, keseluruhan 52.189 BTC ini kemudian dipindahkan ke satu akun di bursa kripto Gemini, di AS, dengan beberapa transaksi.

    “Sayangnya, sulit untuk melacak aliran aset lebih lanjut atau mengidentifikasi apakah BTC itu dijual untuk mendukung harga UST,” Tom mengaku.

    Lanjutnya, ini menyisakan 28.205 BTC dalam cadangan Terra. Pada 01:00 UTC pada 10 Mei 2022, BTC itu dipindahkan secara keseluruhan, dalam satu transaksi, ke satu akun di Binance.

    Supply LUNA yang terus bertambah, kini menjadi lebih dari 6,5 triliun LUNA. Sumber: Messari.

    “Sekali lagi tidak mungkin untuk mengidentifikasi apakah aset ini dijual atau kemudian dipindahkan ke dompet lain,” katanya.

    Aliran BTC ke Binance.

    Tom menutup kajian itu dengan pernyataan, bahwa mereka yang ingin mendapatkan “ganti rugi” akibat runtuhnya UST, sangat bergantung pada status Bitcoin LFG itu.

    Kalimat itu dapat ditafsirkan, bahwa LFG bisa saja bertanggung jawab soal kerugian dan tidak transparan soal Bitcoin sebagai bagian dari pasak UST. [ps]

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com