Tag: trading

  • Cara Kerja OpenClaw: Bagaimana Teknologi Ini Digunakan di Dunia Crypto?

    Bayangkan kamu punya asisten pribadi yang secara 24/7 bisa kamu beri tugas, tanpa harus membayar gaji bulanan. Itu lah yang OpenClaw bisa lakukan, maka tidak heran OpenClaw sempat menjadi hype dan membuat banyak trader kripto menggunakan AI agent sebagai sidekick mereka.

    Mulai dari mengecek narasi pasar, hingga melakukan eksekusi trading semua bisa OpenClaw lakukan hanya dengan memberikan instruksi melalui WhatsApp atau Telegram lho! Kira-kira bagaimana sebenarnya OpenClaw ini bekerja? Simak lebih lengkap yuk!

    Apa itu OpenClaw?

    OpenClaw adalah framework AI agent open-source yang bersifat self-hosted. Berbeda dari chatbot biasa yang hanya menjawab pertanyaan, OpenClaw dirancang sebagai AI agent untuk membantu kamu melakukan eksekusi dari perintah yang kamu berikan. Mulai dari menjalankan skrip, membuka browser, memanggil API, mengelola file, hingga berinteraksi langsung dengan sistem blockchain.

    Baca lebih lengkap: OpenClaw: AI Agent yang Bisa Trading, Monitoring, dan Jalan Sendiri

    Cara kerja OpenClaw

    Karena OpenClaw berjalan secara self-hosted, maka OpenClaw harus dipasang terlebih dahulu di perangkat keras yang kamu miliki, seperti komputer pribadi, laptop, Raspberry Pi, hingga yang paling populer dipasang dalam Mac Mini.

    Setelah terpasang, OpenClaw punya “Gateway” yang menghubungkan ke aplikasi chat yang biasa kamu gunakan seperti WhatsApp, Telegram, atau Discord yang nantinya dapat kamu gunakan sebagai alat kamu berkomunikasi dengan AI agents OpenClaw.

    Setelahnya, kamu hanya perlu melakukan instruksi melalui aplikasi chatting tersebut dan OpenClaw akan menerjemahkan percakapan menjadi perintah sesuai yang kamu inginkan dengan mengingat konteks, merencanakan langkah, memilih aplikasi yang tepat (terminal, pengelola file, browser), lalu mengeksekusi perintah langsung di komputer tempat OpenClaw dipasang.

    Selain itu, kamu juga bisa meminta OpenClaw melakukan rutinitas tertentu dengan adanya fitur Heartbeat. Misalnya kasih ringkasan pasar pagi hari setiap 2 jam, maka OpenClaw bekerja sendiri sendiri, cek daftar tugas, dan kasih laporan atau lakukan aksi tanpa kamu suruh.

    Penggunaan OpenClaw di dunia crypto

    Menurut Forbes, OpenClaw membuat akses terhadap pasar kripto jadi lebih mudah karena memungkinkan interaksi on-chain yang lebih mudah. Adapun, berikut beberapa cara teknologi ini bisa digunakan di dunia krippto:

    • Monitoring wallet & on-chain: Memantau aktivitas wallet, mendeteksi perpindahan dana whale, dan mengirimkan notifikasi real-time via Telegram saat ada transaksi signifikan.
    • Pemantauan pasar otomatis: Merangkum pergerakan harga, membaca headline berita, dan mengirimkan notifikasi saat aset menyentuh level harga yang ditentukan.
    • Otomasi airdrop farming: Mengotomasi tugas repetitif seperti bridging, swap di DEX, dan interaksi testnet secara paralel di banyak wallet sekaligus.
    • Atur Posisi Sesuai Sentimen: Agen memantau sentimen berita dan media sosial secara real-time, lalu mengotomasi posisi yang kamu miliki untuk mengurangi ketergantungan memantau narasi secara manual.
    • Manajemen DeFi: Memantau yield farm di Aave dan Compound, menyesuaikan strategi likuiditas secara otomatis berdasarkan kondisi pasar terkini.
    • Eksekusi trading via API: Melalui integrasi API eksternal, pengguna bisa memerintahkan agen untuk mengeksekusi order dengan konfirmasi manual via chat sebelum trade dilakukan.

    Baca juga: Meta Borong Startup AI Moltbook, Rekrut Pendiri Platform Agen AI

    Contoh Use Case Nyata OpenClaw di Dunia Crypto

    Salah satu pengguna X (@Legendaryy) membagikan pengalaman nyatanya menggunakan OpenClaw.

    Ia bercerita bahwa Clawdbot-nya memberikan akses wallet trading senilai $2.000 di Hyperliquid, AI agent tersebut aktif trading crypto, saham, dan komoditas selama 24/7. Serta secara otomatis memindai sentimen di Twitter serta melacak postingan Trump untuk membantu keputusan tradingnya.

    Dua hari setelahnya, ia kemudian membagikan tangkapan layar dengan profit 60% di Silver, setelah sebelumnya trading OpenClaw tersebut terkena likuidasi.

    Penutup

    OpenClaw hadir sesuai AI agent yang bisa memudahkan para trader kripto dalam mengakses pasar, memantau sentimen hingga melakukan eksekusi secara otomatis.

    Meskipun begitu, penting untuk tau bahwa masih ada risiko keamanan apalagi jika wallet dan data pribadi bisa diakses secara langsung oleh OpenCawl. Selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan dan pastikan gunakan exchange resmi seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Sumber:

    CoinMarketCap: What is OpenClaw? The AI Agent Assistant Lighting Up Crypto Twitter

    Forbes: What Is OpenClaw And Why It Matters For Crypto’s Next Phase?

    MindStudio: What Is OpenClaw? The Open-Source AI Agent That Actually Does Things





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Strategi Perpetual Futures Crypto yang Umum Digunakan Trader

    Perpetual futures menjadi salah satu instrumen favorit di pasar kripto karena kontraknya tidak memiliki tanggal kedaluwarsa dan bisa mengambil peluang baik saat harga naik maupun turun.

    Agar lebih terarah, banyak trader menggunakan beberapa strategi dasar yang sudah cukup umum dipakai di crypto futures, khususnya perpetual. Berikut beberapa strategi yang sering digunakan.

    Baca juga: Cara Kerja Perpetual Futures Crypto: Funding Rate dan Mekanismenya

    1. Scalping

    Durasi: Detik – Menit

    Scalping berfokus pada keuntungan kecil yang diambil berulang kali dalam waktu sangat singkat. Trader mendapatkan keuntungan dari memanfaatkan celah liquiditas di order book, momentum harga sesaat setelah aksi beli besar di spot, atau perbedaan harga antar-exchange. 

    Strategi ini membutuhkan konsentrasi penuh dan eksekusi yang cepat. Cocok bagi yang bisa memantau layar secara intensif. 

    Leverage yang digunakan biasanya moderat (3x–10x) agar tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi kecil.

    2. Swing Trading

    Durasi: 2 – 14 Hari

    Swing trader biasanya mengambil posisi long atau short dan menahannya selama beberapa hari untuk menangkap pergerakan harga jangka menengah. Karena perpetual futures tidak punya tanggal kedaluwarsa, posisi bisa dibiarkan berjalan selama margin aman. 

    Trader bisa menggunakan analisis teknikal seperti Fibonacci retracement, moving average crossover, dan RSI divergence, dikombinasikan dengan katalis fundamental seperti upgrade jaringan atau rilis makro ekonomi untuk memanfaatkan pantulan harga dari level low ke high dan sebaliknya.

    Karena durasinya yang tidak singkat, strategi ini tidak selalu memerlukan pemantauan konstan seperti scalping.

    3. Trend Following

    Durasi: Hari – Minggu

    Trend following adalah strategi mengikuti arah tren utama pasar, baik saat bullish maupun bearish. Trader dapat membuka posisi searah tren yang sudah dikonfirmasi dan menahan posisi selama tren berlanjut.

    Trader biasanya menggunakan indikator sederhana seperti Moving Average Crossover (EMA 9 x EMA 21), MACD, atau Fibonacci Retracement.

    Strategi ini cocok saat pasar menunjukkan tren jelas karena memungkinkan target keuntungan lebih besar per trade dibanding scalping atau swing, namun tetap memerlukan disiplin. Penempatan stop loss, dan penggunaan trailing stop untuk mengunci profit dapat menjadi salah satu cara risiko saat trading dengan trend following.

    4. Hedging

    Durasi: Situasional

    Hedging adalah strategi defensif yang bertujuan melindungi nilai portofolio dari pergerakan harga yang merugikan. 

    Caranya dengan membuka posisi berlawanan di pasar futures terhadap aset yang sudah dimiliki di spot. Misalnya, jika kamu memegang 1 BTC di spot dan khawatir harga turun jangka pendek, kamu bisa membuka posisi short BTC di perpetual futures dengan ukuran setara. 

    Jika harga turun, kerugian di spot dikompensasi oleh keuntungan dari posisi short futures. Strategi ini umum dipakai oleh long-term holder saat pasar menunjukkan sinyal bearish jangka pendek.

    Baca juga: Leverage dalam Crypto Futures: Peluang dan Risiko

    5. Range Trading

    Durasi: Jam – Hari

    Range trading sendiri merupakan strategi yang memanfaatkan pergerakan harga antara level support dan resistance. Trader membuka posisi long di dekat support dan short di dekat resistance untuk menangkap pergerakan harga layaknya pantulan bola dari atas ke bawah dan sebaliknya.

    Strategi ini membutukan identifikasi zona harga yang jelas, konfirmasi pola candlestick, dan indikator seperti RSI atau stochastic untuk mendeteksi kondisi overbought/oversold.

    Keunggulannya adalah frekuensi peluang yang relatif tinggi saat pasar tidak trending, namun risiko termasuk false breakout

    Durasi: Berkelanjutan

    Ini adalah strategi lanjutan yang memanfaatkan mekanisme funding rate perpetual futures. Saat funding rate positif tinggi (artinya banyak trader long), trader bisa membuka posisi short di perpetual futures sekaligus membeli aset di spot, sehingga menerima pembayaran funding rate tanpa eksposur arah harga.

    Strategi ini populer di kalangan trader institusional karena menghasilkan yield yang relatif konsisten, terlepas dari naik-turunnya harga. Namun memerlukan modal yang cukup besar dan pemahaman mendalam tentang dinamika funding rate.

    Itu dia beberapa contoh strategi dasar crypto perpetual futures yang sering digunakan oleh para trader. Apa pun pilihanmu, pastikan untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan trading, dan pastikan menggunakan exchange resmi seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Cara Kerja Perpetual Futures Crypto: Funding Rate dan Mekanismenya

    Perpetual futures menjadi salah satu instrumen yang paling sering digunakan dalam trading kripto. Berbeda dengan futures biasa, kontrak ini tidak memiliki tanggal kedaluwarsa, sehingga trader bisa menahan posisi selama yang diinginkan.

    Namun, karena tidak adanya kadaluarsa ini, muncul satu mekanisme penting yang menjaga harga tetap stabil dan mendekati harga pasar, yaitu funding rate.

    Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja funding rate dalam perpetual futures? Yuk simak penjelasannya!

    Apa Itu Funding Rate dan Bagaimana Mekanismenya?

    Funding rate adalah biaya periodik yang dilakukan antar trader yang memegang posisi long dan short untuk menjaga harga kontrak tetap selaras dengan harga pasar spot.

    Jika harga perpetual lebih tinggi dari harga spot, funding menjadi positif dan trader long membayar trader short. Sebaliknya, jika harga perpetual lebih rendah dari spot, funding menjadi negatif dan trader short membayar trader long. Mekanisme timbal balik ini memastikan harga perpetual tidak melenceng jauh dari harga aset dasarnya.

    Funding rate ini memiliki nominal yang terlihat kecil. Misalnya, funding rate sebesar 0,03%  tetapi pada posisi dengan leverage 10× yang ditahan selama beberapa minggu, biaya ini bisa diam-diam menguras modal yang kamu miliki meski posisi terlihat untung.

    Bayangkan kamu membuka posisi long dengan modal Rp25.000.000 menggunakan leverage 20×. Jika funding rate sebesar 0,03% setiap 8 jam, maka:

    • Biaya per 8 jam = 0,03% × Rp25.000.000 = Rp7.500
    • Biaya per hari (3 siklus 8 jam) = Rp7.500 × 3 = Rp22.500
    • Biaya per minggu (7 hari) = Rp22.500 × 7 = Rp157.500

    Jadi, hanya untuk mempertahankan posisi selama seminggu, kamu bisa kehilangan sekitar Rp157 ribu, meski harga BTC tidak bergerak sama sekali.

    Bagaimana Funding Rate Mempengaruhi Trader?

    Karena perhitungan funding mempertimbangkan besarnya leverage, funding rate bisa sangat memengaruhi untung-rugi. Dengan leverage tinggi, trader yang harus membayar funding bisa merugi bahkan di pasar dengan volatilitas rendah, hingga berisiko likuidasi.

    Sebaliknya, menerima pembayaran funding bisa sangat menguntungkan, terutama di pasar yang bergerak dalam pergerakan harga yang sempit. Intinya, funding rate dirancang untuk mendorong trader mengambil posisi yang menjaga harga kontrak perpetual tetap sejalan dengan harga spot.

    Korelasi dengan Sentimen Pasar

    Secara historis, funding rate kripto cenderung berkorelasi dengan tren aset dasarnya. Dikutip dari Binance, korelasi ini bukan berarti funding rate menggerakkan harga spot, melainkan sebaliknya: funding rate mencerminkan arah pasar.

    Contoh funding rate Bitcoin. Sumber: CryptoQuant.

    Contohnya, dari data di atas, menunjukkan funding rate turun seiring harga BTC yang melemah. Funding rate yang masih tinggi saat BTC mengalami penurunan mencerminkan keyakinan pasar akan potensi kenaikan kembali, hingga akhirnya banyak yang sadar biaya funding yang meningkat, dan harga futures kembali selaras dengan spot.

    Kamu bisa mengetahui lebih lengkap perbandingan funding rate di berbagai exchange, melalui situs seperti Glassnode atau CryptoQuant.

    Mekanisme Pembayaran Funding Rate

    Pembayaran funding rate biasanya dilakukan setiap 8 jam tergantung platform yang kamu gunakan. 

    Kondisi Pasar Funding Rate Siapa Membayar Siapa?
    Bullish kuat (Perpetual > Spot) Positif Long bayar Short
    Bearish kuat (Perpetual < Spot) Negatif Short bayar Long

    Sederhananya:

    • Jika harga perpetual lebih tinggi dari harga spot → trader long membayar trader short.
    • Jika harga perpetual lebih rendah dari harga spot → trader short membayar trader long.

    Pembayaran ini dihitung berdasarkan nilai posisi yang kamu miliki. Contoh sederhana:

    • Posisi long BTC/USDT senilai $10.000.
    • Funding rate +0,01% (positif).
    • Kamu membayar $1 ke trader short setiap 8 jam, dikalikan leverage yang kamu miliki. Maka jika kamu memiliki leverage 10x kamu harus membayar $10.

    Seperti contoh perhitungan yang sudah diungkapkan pada sub judul sebelumnya, meskipun perhitungan ini terlihat kecil jika posisi ditahan berhari-hari atau berminggu-minggu, biaya ini tentunya bisa menumpuk hingga ratusan dolar. Banyak juga yang tidak sadar kalau:

    • Biaya ini menumpuk seiring waktu: Persentase kecil yang diperbesar oleh leverage bisa diam-diam menggerus margin.
    • Funding rate mencerminkan perilaku pasar: Lonjakan funding menandakan posisi long terlalu penuh, sering kali jadi sinyal pembalikan arah.
    • Funding rate bisa berubah cepat: Dalam hitungan jam, funding bisa berbalik dari positif ke negatif, membuat trader yang lengah terkena dampak besar.

    Kesimpulan

    Perpetual futures menawarkan fleksibilitas karena tidak memiliki tanggal kadaluarsa, tetapi sebagai gantinya menggunakan mekanisme funding rate untuk menjaga keseimbangan harga dengan pasar spot.

    Memahami cara kerja funding rate, margin, dan likuidasi menjadi kunci sebelum menggunakan instrumen ini dalam trading. Semoga dengan pemahaman yang lebih baik, trader dapat memanfaatkan peluang yang ada sekaligus mengelola risiko dengan lebih bijak.

    Apa pun strategi yang digunakan, selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan trading dan pastikan menggunakan exchange terpercaya seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Sumber:

    Binance: What Is Futures Funding Rate And Why It Matters
    Investopedia: Understanding Perpetual Futures: A Guide for Cryptocurrency Traders
    Leverate Trading: Funding Rates in Crypto Futures: Hidden Costs & Risk Explained



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Crypto Futures Trading untuk Pemula: Hal yang Perlu Dipahami

    Crypto futures trading menjadi salah satu instrumen trading paling populer untuk mendapatkan keuntungan dari Bitcoin, Ethereum, atau altcoin lain di pasar kripto. 

    Tak heran banyak pemula tertarik untuk mencoba, sebab crypto futures memberikan peluang untuk menghasilkan profit cepat, bahkan dengan modal kecil karena adanya leverage. 

    Namun, sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk terjun dan mencoba crypto futures trading, ada baiknya kamu memahami apa itu futures trading. Artikel ini membahas semua yang perlu kamu ketahui sebagai pemula.

    Apa Itu Futures?

    Crypto futures merupakan kontrak keuangan yang memungkinkan kamu berspekulasi atas pergerakan harga aset kripto seperti Bitcoin (BTC) atau Ethereum (ETH), tanpa harus memiliki aset tersebut secara langsung. Berbeda dengan trading spot di mana kamu membeli aset secara langsung dan dapat menyimpannya, aktivitas trading futures menggunakan basis kontrak yang merepresentasikan nilai aset di masa depan.

    Dalam kontrak futures, kamu membuat kesepakatan untuk membeli atau menjual aset pada harga tertentu di masa depan sesuai kesepakatan. 

    Bayangkan seperti ini: 

    Andi adalah penambang Bitcoin yang setiap bulan harus membayar listrik dan biaya perawatan mesin. Andi memperkirakan bahwa dia baru bisa mendapatkan 10 BTC 2 bulan ke depan, tapi karena takut harga Bitcoin turun, ia membuat kontrak futures untuk menjual 10 BTC di harga $60.000 tiga bulan ke depan setelah BTC miliknya cair.

    Ketika waktunya tiba, harga pasar ternyata jatuh ke $50.000, nah karena ada kontrak futures tadi Andi tetap bisa menjual di $60.000 sesuai kontrak. Dengan begitu, ia aman menutup biaya operasional meski kehilangan peluang untung lebih besar jika harga naik.

    Dalam praktiknya, di pasar kripto ada jenis futures:

    • Dated Futures (futures biasa) → punya tanggal kedaluarsa.
    • Perpetual Futures (perps) → tanpa tanggal kadaluarsa.

    Dari kedua jenis tersebut, jenis yang paling umum digunakan di pasar kripto adalah adalah perpetual futures, yakni kontrak tanpa tanggal kedaluwarsa yang bisa dipegang selama margin mencukupi.

    Perbedaannya sudah dibahas di artikel sebelumnya, baca di sini: Perpetual Futures Crypto: Apa Bedanya dengan Futures Biasa?

    Istilah Penting yang Harus Dipahami Pemula

    Berikut beberapa istilah yang perlu dipahami oleh pemula:

    Istilah Penjelasan Singkat
    Long Posisi beli → untung jika harga naik
    Short Posisi jual → untung jika harga turun
    Leverage Pinjaman dana dari exchange (10x, 20x, bahkan 100x)
    Margin Modal jaminan yang disetor saat membuka posisi ber-leverage
    Liquidation Posisi otomatis ditutup jika kerugian terlalu besar
    Funding Rate Funding rate adalah biaya berkala yang dibayarkan antara pemegang posisi long dan short pada perpetual futures
    Mark Price Harga pasar yang menjadi acuan untuk menghitung unrealized profit/loss dan likuidasi posisi yang kamu miliki.

    Baca juga: Cara Kerja Perpetual Futures Crypto: Funding Rate & Mekanismenya

    Kelebihan dan Risiko Futures

    Kelebihan Risiko
    Profit 2 arah: Bisa untung saat harga naik atau turun Likuidasi: Salah dalam melakukan analisa arah bisa kehilangan seluruh modal
    Modal kecil: Leverage memungkinkan eksposur besar dengan modal terbatas Volatilitas: Pergerakan harga dengan leverage menjadi lebih volatil
    Likuiditas tinggi: Volume transaksi besar karena adanya leverage Funding fee: Biaya menahan posisi jangka panjang bisa membengkak
    Hedging: Efektif untuk melindungi portofolio aset dari risiko fluktuasi harga yang merugikan. Bukan untuk semua trader: Bagi trader muslim futures dianggap haram, selain itu futures tidak ramah pemula

    Tips Memulai untuk Pemula

    • Pelajari dasar-dasarnya terlebih dahulu: Pahami konsep margin, leverage, funding rate, dan mekanisme likuidasi sebelum menyentuh uang nyata. Manfaatkan materi edukasi di platform atau komunitas trader.
    • Mulai dengan leverage rendah: Jangan langsung pakai leverage tinggi. Leverage 2x–5x sudah cukup untuk belajar merasakan dinamika pasar tanpa risiko likuidasi yang terlalu besar.
    • Terapkan manajemen risiko ketat: Gunakan fitur Stop Loss untuk membatasi kerugian. Jangan pernah menggunakan dana kebutuhan pokok untuk trading. Alokasikan hanya sebagian kecil portofolio per posisi.
    • Fokus pada satu atau dua aset dahulu: Pelajari pergerakan BTC atau ETH secara mendalam sebelum mencoba aset lain. Jangan tergoda FOMO dari media sosial tanpa riset mendalam.

    Kesimpulan

    Crypto futures menawarkan peluang yang menarik karena fleksibilitasnya dalam berbagai kondisi pasar. Namun, instrumen ini juga memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan spot trading.

    Bagi pemula, memahami konsep dasar seperti leverage, margin, dan likuidasi adalah langkah awal yang penting sebelum mulai trading.

    Apa pun langkah yang diambil, selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan trading dan pastikan menggunakan exchange terpercaya seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perpetual Futures Crypto: Apa Bedanya dengan Futures Biasa?

    Dalam dunia trading kripto, istilah futures mungkin sudah cukup familiar. Namun, ada satu jenis yang sering digunakan trader, yaitu perpetual futures.

    Sekilas, keduanya terlihat mirip karena sama-sama memungkinkan trader berspekulasi terhadap pergerakan harga aset kripto. Tapi ternyata, antara futures dan perpetual futures merupakan dua hal yang berbeda lho!

    Artikel ini akan membahas perbedaan keduanya, agar kamu bisa memilih instrumen yang sesuai dengan gaya trading. Yuk kita bedah satu per satu!

    Apa Itu Futures Biasa?

    Crypto futures trading atau perdagangan kontrak berjangka merupakan kontrak derivatif yang mengikat dua pihak untuk membeli atau menjual aset crypto tertentu dengan harga yang sudah disepakati, pada tanggal yang telah ditentukan di masa depan.

    Institusi, penambang, dan trader profesional menggunakan kontrak ini untuk hedging maupun spekulasi. Misalnya, seorang penambang Bitcoin yang memperkirakan akan menerima 5 BTC dalam dua bulan dapat menjual kontrak futures hari ini untuk mengunci harga saat ini dan melindungi diri dari potensi penurunan nilai jika ketika dalam dua bulan nanti harganya turun.

    Strategi hedging ini memberikan kepastian harga, tetapi membutuhkan margin yang tetap terkunci hingga kontrak berakhir.

    Kontrak futures sudah lama digunakan di pasar tradisional untuk komoditas dan saham, dan kini telah diadaptasi untuk aset digital di berbagai exchange besar.

    Baca juga: Crypto Futures vs Spot Trading: Mana yang Cocok untuk Trader?

    Apa Itu Futures Perpetual?

    Kontrak perpetual futures bekerja hampir sama dengan kontrak futures biasa, namun perbedaan ada pada tanggal kadaluarsa, yang mana konrak perpetual futures tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.

    Trader bisa menahan posisi tanpa batas waktu, selama persyaratan margin terpenuhi dan posisi tidak terkena likuidasi.

    Karena tidak memiliki tanggal kadaluarsa, kontrak perpetual menjadi salah satu instrumen yang paling banyak diperdagangkan di pasar derivatif kripto. Tapi, ketiadaan tanggal kedaluwarsa dalam kontrak perpetual futures membuat para trader harus membayar biaya funding.

    Funding sendiri merupakan biaya berkala yang dipertukarkan antara trader posisi long dan short untuk menjaga harga perpetual tetap selaras dengan harga pasar spot. Pembayaran ini terjadi beberapa kali dalam sehari, sehingga biaya kecil bisa terakumulasi menjadi signifikan bagi trader yang menggunakan leverage. 

    Perbedaan Perpetual Futures vs Futures Biasa

    Agar lebih mudah memahami antara perbedaan dari keduanya, berikut perbandingan antara Perpetual Futures vs Futures Biasa dalam bentuk tabel:

    Aspek Futures Biasa Perpetual Futures
    Expiry Ada tanggal jatuh tempo Tidak ada tanggal jatuh tempo
    Pergerakan Harga Akan mendekati harga spot saat jatuh tempo Dijaga tetap dekat dengan harga spot lewat funding
    Penyelesaian Diselesaikan saat kontrak berakhir Berjalan terus selama posisi terbuka
    Biaya Fee trading + potensi biaya rollover Fee trading + funding rate
    Pengguna Umum Institusi & hedger Trader aktif & spekulator

    Baca juga: Saat Pasar Crypto Tak Menentu, Cash is King Jadi Jawaban: Apa Maksudnya?

    Kesimpulan

    Perpetual futures dan futures biasa sama-sama merupakan instrumen derivatif, tetapi memiliki perbedaan utama pada tanggal kedaluwarsa dan mekanisme tradingnya.

    Futures biasa memiliki batas waktu kontrak, sementara perpetual futures menawarkan fleksibilitas tanpa expiry dengan tambahan mekanisme funding rate.

    Dengan memahami perbedaan ini semoga dapat membantu kamu dalam memilih instrumen yang paling sesuai dengan strategi trading yang kamu miliki.

    Apa pun instrumen yang digunakan, selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan trading dan pastikan menggunakan exchange terpercaya seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Sumber:

    Binance: Differences Between Perpetual Contract and Traditional Futures Contract

    Leverage Trading: Futures Contracts vs Perpetual Futures: 6 Key Differences Explained



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Strategi Dasar Crypto Futures yang Sering Digunakan Trader

    Tak bisa dipungkiri crypto futures trading menjadi salah satu opsi untuk mendapatkan keuntungan dari pasar kripto yang sangat populer di kalangan para trader karena dapat memberikan keuntungan cepat, meskipun dengan time-frame kecil seperti jam, hingga menit.

    Meski menawarkan potensi profit yang menarik, futures juga membawa risiko. Banyak strategi crypto futures yang sering digunakan oleh para trader seperti mulai dari scalping, swing trading, hedging, breakout trading, trend following, hingga range trading digunakan untuk menyesuaikan gaya, serta toleransi risiko tersebut.

    Maka dari itu, sebelum kamu memutuskan untuk melakukan trading dengan menggunakan futures di aset kripto, ada baiknya kamu mengetahui beberapa strategi dasar crypto futures yang umum digunakan trader tadi. Yuk simak lebih lengkap di bawah!

    Baca juga: Apa Itu Crypto Futures? Cara Kerja dan Perbedaannya dengan Spot Trading

    1. Scalping

    Scalping menjadi salah satu strategi paling populer di kalangan trader crypto futures karena fokus pada keuntungan kecil tapi sering. 

    Scalping adalah strategi yang dilakukan dengan membuka dan menutup posisi dalam waktu singkat untuk mendapatkan keuntungan kecil secara konsisten, memanfaatkan pergerakan harga seperti 0,5%-1% dengan memanfaatkan fitur leverage untuk memperbesar keuntungan.

    Strategi ini cocok untuk pasar sideways, namun biaya transaksi dan funding rate bisa menggerus keuntungan jika kamu terlalu sering melakukan trading.

    2. Swing Trading

    Swing trading mengambil keuntungan dari ayunan harga baik dari dalam kondisi penurunan ke kenaikan, atau sebaliknya. 

    Strategi ini mengandalkan analisis teknikal seperti support-resistance, moving averages, dan pola harga, serta kadang dipadukan dengan analisis fundamental untuk konfirmasi arah.

    Swing trading cocok dilakukan di pasar yang sedang memiliki tren, seperti membeli saat harga rebound dari support dan jual saat mendekati resistance. Karena mengikuti tren, jika harga telah bergerak sesuai konfirmasi analisa awal, strategi ini biasanya tidak memerlukan monitoring terus-menerus seperti scalping, dan potensi profit lebih besar per trade dibanding scalping.

    3. Hedging

    Strategi hedging memiliki arti yang sama seperti namanya, yakni sebagai strategi untuk lindung nilai. Strategi ini strategi defensif dan sering dipakai oleh holder jangka panjang. 

    Strategi hedging digunakan oleh trader crypto futures untuk mengunci nilai portofolio atau mengurangi potensi kerugian saat pasar bergerak melawan posisi utama.

    Dalam praktiknya, hedging dilakukan dengan membuka posisi berlawanan dengan posisi yang sebelumnya telah dimiliki. Misalnya, mengambil posisi short untuk melindungi kepemilikan aset kripto yang ada di spot… sehingga ketika harga aset turun, kerugian pada satu sisi dapat dikompensasikan oleh keuntungan dari posisi short.

    Strategi ini sangat berguna saat pasar berada di fase volatil atau ketika ada event besar yang membuat harga sulit diprediksi karena membantu menjaga modal dan mengurangi drawdown tanpa harus menjual aset kripto yang dimiliki.

    Baca juga: Risiko Crypto Futures yang Perlu Dipahami Sebelum Trading

    4. Breakout Trading

    Breakout trading adalah teknik membuka posisi ketika harga menembus resistance (untuk long) atau support (untuk short) dengan harapan momentum akan melanjutkan arah setelah menembus area tersebut. Sebelum benar-benar memutuskan untuk membuka posisi, trader biasanya menunggu konfirmasi seperti penutupan candle di atas/bawah level atau lonjakan volume sebelum masuk.

    Strategi ini efektif pada pasar yang baru keluar dari fase konsolidasi atau sedang membentuk tren karena potensi pergerakan lebih dari 2% namun rentan terhadap false breakout.

    5. Trend Following

    Trend following adalah strategi yang berfokus untuk mengikuti arah tren utama, baik naik maupun turun dengan membuka posisi searah tren dan menahan hingga tanda pembalikan muncul.

    Trend following memanfaatkan momentum jangka menengah hingga panjang untuk menangkap pergerakan besar di pasar crypto futures. Trader biasanya menggunakan indikator sederhana seperti Moving Average Crossover (EMA 9 x EMA 21), MACD, atau Fibonacci Retracement.

    Strategi ini cocok saat pasar menunjukkan tren jelas karena memungkinkan target keuntungan lebih besar per trade dibanding scalping atau swing, namun tetap memerlukan disiplin. Penempatan stop loss, dan penggunaan trailing stop untuk mengunci profit dapat menjadi salah satu cara risiko saat trading dengan trend following. 

    Baca juga: Leverage dalam Crypto Futures: Peluang dan Risiko

    6. Range Trading 

    Ketika pasar tidak memiliki tren yang jelas dan bergerak sideways, banyak trader menggunakan strategi range trading.

    Range trading sendiri merupakan strategi yang memanfaatkan pergerakan harga antara level support dan resistance. Trader membuka posisi long di dekat support dan short di dekat resistance untuk menangkap pergerakan harga layaknya pantulan bola dari atas ke bawah dan sebaliknya. 

    Strategi ini membutukan identifikasi zona harga yang jelas, konfirmasi pola candlestick, dan indikator seperti RSI atau stochastic untuk mendeteksi kondisi overbought/oversold.

    Keunggulannya adalah frekuensi peluang yang relatif tinggi saat pasar tidak trending, namun risiko termasuk false breakout

    Itu dia beberapa contoh strategi dasar crypto futures yang sering digunakan oleh para trader. Apa pun pilihanmu, pastikan untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan trading, dan pastikan menggunakan exchange resmi seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Sumber:

    Binance. 5 Top Crypto Futures Trading Strategies for Pro Traders

    Investopedia. What Is Swing Trading?, Trend Trading: Definition and How Strategy Aims For Profit



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Leverage dalam Crypto Futures: Peluang dan Risiko

    Bagi trader yang sering menggunakan futures untuk trading, fitur leverage menjadi daya tarik utama karena dengan leverage, trader bisa membuka posisi yang jauh lebih besar dibandingkan modal yang dimiliki.

    Melalui leverage ini, potensi trader dalam mendapatkan keuntungan jadi lebih besar seiring dengan posisi leverage yang diambil. Namun tentunya potensi keuntungan yang lebih besar ini berbanding lulus dengan risiko yang menanti.

    Sebelum kamu memutuskan untuk melakukan trading crypto futures, mari pahami terlebih dahulu mengenai peluang dan risiko menggunakan leverage lebih lengkap yuk!

    Apa Itu Leverage dalam Crypto Futures?

    Leverage adalah fasilitas yang memungkinkan trader untuk meminjam dana dari exchange agar bisa membuka posisi trading yang lebih besar dari modal awal yang kamu miliki.

    Bayangkan leverage seperti papan jungkat‑jungkit… modal awal yang kamu miliki berada di satu ujung, sementara total yang bisa kamu beli ada di seberangnya. Dengan menggeser leverage yang ada di tengah tersebut, kamu bisa menentukan seberapa besar daya beli yang bisa kamu dapat.

    Baca juga: Apa Itu Crypto Futures? Cara Kerja dan Perbedaannya dengan Spot Trading

    Bagaimana Cara Kerja Leverage?

    Ketika menggunakan leverage, trader perlu memiliki modal awal (margin) sebagai jaminan untuk meminjam dana dari bursa sehingga bisa membuka posisi yang lebih besar daripada modal sebenarnya.

    Leverage, seperti 2x, 5x, atau 10x menjadi penentu berapa kali modal dikalikan untuk mendapatkan total akhir posisi yang akan dimiliki.

    Agar lebih mudah, coba bayangkan jika kamu hanya memiliki modal $100 untuk melakukan trading Bitcoin. Di pasar biasa (spot), kamu hanya bisa membeli Bitcoin senilai $100. Namun, di pasar futures, jika kamu menggunakan leverage 10x, bursa akan meminjamkan dana sehingga kamu bisa membuka posisi trading sebesar $1.000 atau 10x dari modal awal kamu tadi. 

    Jadi… $100 (modal awal) x 10x (leverage yang kamu pilih) = $1.000 (total modal setelah leverage)

    Keuntungan dan kerugian kemudian dihitung berdasarkan nilai posisi tersebut, bukan hanya dari modal awal.

    Misalnya:

    • Jika harga naik 5%, maka keuntungan = $1.000 × 5% = $50 (50% dari modal awal)
    • Jika turun 5%, maka kerugian = $1.000 × 5% = $50 (50% dari modal awal)
    • Jika turun 10%, maka kerugian = $1.000 × 10% = $100 dan modal awal habis → posisi tertutup otomatis.

    Baca juga: Crypto Futures vs Spot Trading: Mana yang Cocok untuk Trader?

    Peluang Menggunakan Leverage

    Berikut beberapa peluang yang bisa kamu dapatkan dari menggunakan leverage:

    • Peluang Profit Jangka Pendek: Cocok untuk scalping atau day trading, karena pergerakan kecil bisa menghasilkan return besar terhadap modal.
    • Memaksimalkan Potensi Profit: Dengan modal yang relatif kecil, trader bisa mendapatkan eksposur untung-rugi yang lebih besar saat trading.
    • Membuka Posisi Lebih dari Modal: Trader bisa membuka posisi lebih dari batas modal maksimal yang dimiliki.
    • Efisiensi Modal: Leverage memberi kesempatan bagi trader ritel dengan modal terbatas untuk mengakses strategi yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh institusi besar.
    • Diversifikasi Strategi: Karena bisa dengan margin kecil, trader bisa membuka beberapa posisi sekaligus.

    Risiko Menggunakan Leverage

    Berikut beberapa risiko yang wajib kamu tahu saat menggunakan leverage:

    • Potensi Kerugian: Sama seperti profit, kerugian juga akan dihitung berdasarkan total posisi. Bahkan pergerakan harga kecil bisa berdampak besar.
    • Risiko Likuidasi: Jika kerugian mencapai batas tertentu, posisi akan otomatis ditutup oleh sistem (likuidasi). Ini bisa membuat modal hilang karena menutupi kerugian dari leverage yang kamu ambil.
    • Membuat Pergerakan Semakin Volatil: Harga crypto yang sudah fluktuatif akan terasa lebih volatil ketika menggunakan leverage, terutama leverage tinggi karena persentase pergerakan kecil akan jadi besar karena leverage.
    • Butuh Manajemen Risiko: Stop loss, leverage rendah, dan diversifikasi wajib diterapkan untuk menghindari risiko kerugian yang lebih besar.

    Tips Menggunakan Leverage

    Agar leverage tidak menjadi bumerang, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan:

    • Pastikan kamu paham dan cukup berpengalaman untuk menggunakan leverage saat trading
    • Gunakan leverage sesuai toleransi risiko
    • Hindari menggunakan leverage terlalu tinggi
    • Selalu gunakan stop loss dan strategi saat trading
    • Kelola ukuran posisi dengan sesuai dengan strategi dan profil risiko
    • Hindari trading berdasarkan emosi

    Kesimpulan

    Leverage dalam crypto futures menjadi alat yang bisa memperbesar peluang keuntungan, tetapi dalam waktu yang bersamaan juga dapat meningkatkan risiko kerugian.

    Oleh sebab itu penting untuk menerapkan disiplin dan strategi trading, sesuai dengan profil risiko yang kamu miliki. 

    Pastikan kamu selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan trading dan gunakan exchange resmi serta terpercaya seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Crypto Futures vs Spot Trading: Mana yang Cocok untuk Trader?

    Saat pertama kali terjun ke dunia kripto dan melakukan trading, kamu akan dihadapkan dengan dua pilihan… yakni trading menggunakan fitur futures atau trading dengan menggunakan fitur spot.

    Keduanya memang menawarkan peluang untuk mencetak keuntungan, namun dengan cara kerja, tingkat risiko, dan tuntutan keahlian yang jauh berbeda. Sebagian orang terutama pemula mungkin lebih memilih spot karena dirasa lebih aman, namun sebagian orang lagi mungkin lebih lebih memilih futures karena dirasa bisa memberikan keuntungan yang lebih signifikan.

    Sebelum kamu menetapkan pilihan trading futures atau spot, mari kita bedah perbedaan antara Crypto Futures dan Spot Trading, serta tentukan mana yang sebenarnya yang lebih cocok buat kamu yuk!

    Apa Itu Spot Trading?

    Spot trading merupakan jenis transaksi perdagangan yang bisa kamu lakukan langsung atau “on the spot”, kamu akan menerima aset setelah order beli terpenuhi dan masuk ke dalam dompet kamu secara langsung.

    Karena perdagangan ini dilakukan langsung atau “on the spot”, maka dari itu fitur ini disebut dengan Spot Trading. Saat menggunakan fitur spot keuntungan didapat dari selisih harga–seperti beli saat murah, simpan, lalu jual saat harganya naik.

    Contoh sederhana:

    • Beli Bitcoin di harga Rp500 juta.
    • Jual saat harga naik ke Rp550 juta.
    • Profit yang direalisasi = Rp50 juta.

    Karena kamu benar-benar memiliki asetnya dan tersimpan di dompet, spot trading sering dianggap lebih mudah dan aman, terutama untuk pemula.

    Apa Itu Crypto Futures?

    Berbeda dengan spot, crypto futures adalah jenis kontrak keuangan di mana kamu setuju membeli atau menjual aset kripto pada harga yang disepakati di masa depan, bukan langsung menerima koinnya saat itu juga. Karena ada janji penyelesaian di waktu mendatang, fitur ini disebut futures

    Di dunia kripto, yang paling populer adalah Perpetual Futures, sebuah kontrak tanpa tanggal kadaluarsa, jadi kamu bisa menahan posisi selama margin mencukupi dan belum terkena likuidasi.

    Singkatnya melalui fitur futures ini kamu tidak langsung memegang aset kripto secara langsung, melainkan yang kamu pegang adalah kontrak yang nilainya bergerak sesuai harga aset. 

    Di futures, kamu bisa:

    • Buka posisi long kalau kamu memiliki analisa jika harga akan naik.
    • Buka posisi short kalau memiliki analisa jika harga akan turun.

    Selain itu, futures biasanya dilengkapi dengan fitur leverage, yang memungkinkan membuka posisi lebih besar dari modal awal. Namun, leverage ini juga meningkatkan risiko kerugian.

    Lebih lengkap mengenai crypto futures, bisa baca di sini: Apa Itu Crypto Futures? Cara Kerja dan Perbedaannya dengan Spot Trading

    Perbedaan Antara Crypto Futures vs Spot Trading

    Untuk membuat kamu lebih mudah memilih, berikut tabel sederhana perbandingan antara crypto futures dan spot trading:

    Aspek Spot Trading Crypto Futures
    Kepemilikan Aset Memiliki aset kripto secara langsung Tidak memiliki aset (hanya kontrak)
    Cara Profit Dari kenaikan harga Dari kenaikan & penurunan harga
    Leverage Tidak ada Tersedia (bisa memperbesar posisi)
    Risiko Relatif lebih rendah Lebih tinggi (terutama karena leverage)
    Kompleksitas Lebih sederhana dan ramah pemula Lebih kompleks

    Baca juga: Risiko Crypto Futures yang Perlu Dipahami Sebelum Trading

    Kesimpulan: Mana yang Cocok Untukmu?

    Pilihan antara trading dengan menggunakan Futures atau Spot, tentunya sangat bergantung pada profil risiko dan tujuan finansialmu.

    Pilih Spot Trading jika: 

    • Baru mulai di dunia kripto
    • Ingin investasi jangka panjang
    • Tidak ingin mengambil risiko tinggi
    • Lebih nyaman dengan strategi buy and hold

    Pilih Futures Trading jika

    • Sudah memahami cara kerja pasar kripto
    • Ingin trading aktif dalam jangka pendek
    • Ingin memanfaatkan kondisi pasar naik maupun turun
    • Siap dengan risiko yang lebih tinggi

    Meskipun begitu, pilihan pada akhirnya kembali ke gaya trading dan profil risiko masing-masing. Ada yang nyaman dengan menyimpan aset langsung lewat spot, ada pula yang memilih futures untuk fleksibilitas short/long dan potensi leverage–atau bahkan banyak juga trader menggunakan keduanya secara bersamaan, tergantung pada strategi yang ingin digunakan.

    Apa pun pilihan kamu dalam melakukan trading, baik futures atau spot trading… selalu pastikan kamu trading di exchange crypto yang terdaftar di resmi di Indonesia yang mengikuti prosedur  yang berlaku seperti Tokocrypto.

    Dapatkan potongan 20% biaya trading dengan masukkan kode: TEMUTOKO saat melakukan pendaftaran Tokocrypto—download aplikasinya dan registrasi di sini!


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Risiko Crypto Futures yang Perlu Dipahami Sebelum Trading

    Sekilas crypto futures memang terkesan bisa memberikan keuntungan dalam waktu yang cepat, karena adanya leverage dan futures juga memberikan kesempatan bagi para traders untuk mendapatkan profit meskipun ketika pasar sedang sideways atau dalam kondisi bearish.

    Namun, meskipun terlihat sangat menggiurkan, futures juga tentunya membawa keuntungan dan risiko tersendiri.

    Sebelum kamu memutuskan untuk memindahkan modal yang ada di dompet spot kamu, yuk bedah risiko-risiko yang mungkin kamu akan hadapi saat mencoba futures!

    Risiko Leverage yang Memperbesar Kerugian

    Leverage menjadi salah satu fitur crypto futures yang menjadi alasan kenapa para trader memilih trading menggunakan futures daripada trading di spotleverage memungkinkan trader untuk membuka posisi lebih besar dari modal yang dimiliki dengan meminjam dana dari exchange.

    Misalnya, kamu melakukan trading crypto futures dengan leverage 10x, maka kamu bisa membuka posisi senilai 10 kali dari modal awal. Maka… dengan modal Rp1jt dan leverage 10x, kamu bisa mentransaksikan aset senilai Rp10jt. Berikut contoh perhitungan lebih lengkapnya:

    Bayangkan kamu punya modal awal Rp1.000.000 dan menggunakan leverage 10x.

    Tanpa leverage: Jika harga naik 5%, keuntunganmu = Rp1.000.000 × 5% = Rp50.000.

    Dengan leverage 10x: Posisi tradingmu jadi Rp10.000.000. Jika harga naik 5%, keuntunganmu = Rp10.000.000 × 5% = Rp500.000.

    Namun, jika harga justru turun 5%:

    • Tanpa leverage → rugi Rp50.000.
    • Dengan leverage 10x → rugi Rp500.000, yang berarti modal awal Rp1.000.000 bisa tinggal setengah, hanya dengan pergerakan 5%.

    Fitur ini memang bisa memperbesar potensi keuntungan, tetapi pada saat yang sama juga memperbesar potensi kerugian jika pergerakan harga tidak sesuai dengan analisa.

    Risiko Posisi Terlikuidasi

    Pasti kamu pernah mendengar istilah Margin Call dalam dunia crypto futures bukan? Nah, Margin Call merupakan surat cinta dari exchange karena menjadi tanda peringatan bahwa posisi trading kamu sudah berada di ambang batas risiko untuk posisi kamu ditutup atau terlikuidasi.

    Mekanisme likuidasi sendiri ini terjadi ketika kerugian pada posisi trading mencapai batas tertentu sehingga sistem secara otomatis menutup posisi tersebut untuk mencegah kerugian lebih besar.

    Contoh:

    • Kamu membuka posisi dengan modal Rp1.000.000 menggunakan leverage 10x.
    • Nilai kontrak jadi Rp10.000.000.
    • Jika harga turun 10%, kerugianmu Rp1.000.000, dan modal awal langsung habis.
    • Maka kamu akan mendapatkan Margin Call karena akunmu tidak lagi memenuhi syarat modal.
    • Jika kamu tidak menambah modal, modal awal kamu tadi Rp1.000.000 akan habis untuk menutupi kerugian dan posisi otomatis ditutup.

    Likuidasi sering terjadi ketika pasar bergerak sangat cepat dan trader menggunakan leverage tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, modal yang digunakan dalam posisi tersebut bisa habis untuk menutupi kerugian akibat leverage. Inilah mengapa manajemen risiko menjadi bagian penting dalam trading futures.

    Volatilitas Pasar Kripto yang Tinggi

    Volatilitas pasar sering kali menjadi incaran para trader karena dari volatilitas inilah trader bisa memanfaatkan pergerakan harga dan mendapatkan keuntungan. Pergerakan harga yang cepat dan tajam memungkinkan trader memperoleh profit dalam waktu singkat, terutama bagi mereka yang aktif menggunakan strategi jangka pendek seperti day trading atau scalping.

    Namun, tingginya volatilitas juga membawa risiko besar. Ketika digabungkan dengan penggunaan leverage futures, peluang profit memang bisa berlipat ganda, tetapi potensi kerugian pun otomatis meningkat.

    Oleh karena itu, memahami karakter pasar kripto dan menerapkan manajemen risiko yang tepat menjadi kunci agar volatilitas tidak berubah menjadi bumerang untuk strategi trading kamu.

    Risiko Overtrading

    Karena trading crypto futures memungkinkan kamu untuk menggunakan leverage dan membuka posisi dengan modal relatif kecil. Namun, kemudahan ini sering kali mendorong sebagian trader untuk melakukan overtrading, yaitu membuka posisi terlalu sering atau berlebihan tanpa strategi yang terukur.

    Overtrading biasanya terjadi ketika trader:

    • Terlalu sering masuk pasar tanpa rencana jelas kapan harus take profit atau cut-loss.
    • Berusaha mengejar kerugian dari trading sebelumnya (revenge trading).
    • Tidak memiliki disiplin dalam mengatur jumlah posisi dan risiko.

    Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kerugian secara signifikan, karena semakin banyak posisi yang dibuka tanpa kontrol, semakin besar pula potensi modal menguap.

    Untuk menghindarinya, kamu perlu menjaga disiplin dan memiliki rencana trading yang jelas. Menentukan batasan jumlah transaksi, target keuntungan, serta strategi cut-loss akan membantu mengurangi risiko overtrading dan menjaga modal tetap terukur.

    Risiko Greed dan Spekulasi

    Crypto futures yang memungkinkan penggunanya untuk melakukan trading kapan saja, karena aspek volatilitas yang tinggi dan dapat memberikan keuntungan cepat seringkali mendorong rasa serakah (greed) dan spekulasi berlebihan.

    Keputusan yang didorong oleh emosi ini biasanya muncul ketika trader mengikuti emoji atau rasa serakah yang menjadi musuh utama para trader. Keputusan ini biasanya akan muncul ketika trader:

    • Melihat peluang profit instan dan langsung masuk pasar tanpa perhitungan.
    • Berusaha “balas dendam” atas kerugian sebelumnya dengan menambah posisi lebih besar.
    • Mengabaikan strategi manajemen risiko karena tergoda oleh potensi keuntungan cepat.

    Akibatnya, greed dan spekulasi berlebihan justru mempercepat kerugian. Posisi yang terlalu besar bisa menghabiskan margin dengan cepat, sementara frekuensi trading yang berlebihan meningkatkan biaya dan risiko likuidasi.

    Agar kamu terhindar dari hal ini, kamu perlu menjaga disiplin psikologis dan memiliki rencana trading yang jelas.

    Kesimpulan

    Itu dia risiko-risiko dari crypto futures yang perlu kamu pahami sebelum melakukan trading. Pastikan kamu trading di exchange crypto yang terdaftar di resmi di Indonesia yang mengikuti prosedur  yang berlaku seperti Tokocrypto.

    Dapatkan potongan 20% biaya trading dengan masukkan kode: TEMUTOKO saat melakukan pendaftaran Tokocrypto—download aplikasinya dan registrasi di sini!


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Swap Kripto $50 Juta Berujung Bencana, Bot MEV Raup $10 Juta

    Sebuah transaksi kripto bernilai puluhan juta dolar berakhir dengan kerugian besar setelah seorang pengguna melakukan swap token di platform decentralized finance (DeFi). Dalam kejadian tersebut, bot Maximal Extractable Value (MEV) berhasil memanfaatkan transaksi tersebut dan meraup keuntungan hampir US$10 juta.

    Dilapokan Cointelegraph, insiden ini terjadi ketika pengguna mencoba menukar stablecoin dalam jumlah besar menjadi token Aave (AAVE) melalui protokol DeFi, namun akhirnya menerima jumlah token yang jauh lebih kecil dari nilai transaksi awal.

    Swap $50 Juta Berujung Kerugian Besar

    Data blockchain menunjukkan bahwa sebuah dompet kripto yang baru menerima dana dari Binance dengan saldo sekitar US$50,4 juta dalam bentuk USDT melakukan transaksi swap menggunakan aggregator decentralized exchange CoW Protocol dan platform SushiSwap.

    Tujuan transaksi tersebut adalah menukar seluruh USDT menjadi token AAVE.

    Namun hasil transaksi jauh dari yang diharapkan. Dompet tersebut hanya menerima sekitar 327 token AAVE yang bernilai sekitar US$36.000 berdasarkan harga pasar saat itu.

    Artinya, pengguna secara efektif membayar sekitar US$154.000 untuk setiap token AAVE, jauh di atas harga pasar yang berada di kisaran US$114 per token.

    Baca juga: Bisakah AI Trading Crypto Dimulai dengan Modal Kecil?

    Bot MEV Lakukan “Sandwich Attack”

    Kerugian tersebut semakin besar karena adanya bot MEV yang memanfaatkan transaksi besar tersebut melalui teknik yang dikenal sebagai sandwich attack.

    Bot MEV memantau transaksi yang belum dikonfirmasi di blockchain dan dapat menempatkan transaksi lain sebelum dan sesudah transaksi target untuk mengambil keuntungan dari perubahan harga.

    Dalam kasus ini, bot tersebut meminjam sekitar US$29 juta dalam bentuk wrapped Ether (ETH) melalui mekanisme flash loan dari platform Morpho.

    Dana tersebut digunakan untuk membeli token AAVE di platform Bancor sebelum transaksi pengguna diproses, sehingga mendorong harga AAVE naik secara signifikan.

    Setelah harga naik akibat transaksi besar tersebut, bot kemudian menjual kembali token AAVE di SushiSwap dengan harga yang lebih tinggi dan menghasilkan keuntungan sekitar US$9,9 juta.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, dari sisi regulasi, kemenangan hukum seperti ini penting karena bisa memengaruhi cara publik dan regulator menilai tanggung jawab exchange atas aktivitas ilegal pihak ketiga.

    “Meski tidak menghapus tekanan compliance, hasil pengadilan yang menguntungkan Binance dapat memperkuat posisi defensifnya dalam sengketa hukum serupa di masa depan,” jelasnya.

    Pengguna Abaikan Peringatan Slippage

    Pendiri Aave, Stani Kulechov, menjelaskan bahwa sistem antarmuka telah memberikan peringatan kepada pengguna mengenai slippage yang sangat besar akibat ukuran transaksi yang tidak biasa.

    Slippage merupakan perbedaan antara harga yang diharapkan dengan harga aktual yang terjadi saat transaksi diproses.

    Menurut Kulechov, pengguna tetap memilih melanjutkan transaksi melalui perangkat seluler meskipun telah menerima peringatan tentang potensi kerugian besar.

    CoW DAO juga menyatakan bahwa pengguna harus secara eksplisit menyetujui transaksi tersebut setelah melihat peringatan yang menunjukkan kemungkinan kehilangan hampir seluruh nilai transaksi.

    Tantangan Keamanan di Ekosistem DeFi

    Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan keamanan dan pengalaman pengguna dalam ekosistem DeFi.

    Meski platform DeFi dirancang bersifat terbuka dan tanpa izin, sejumlah pihak menilai masih diperlukan mekanisme perlindungan tambahan untuk membantu mencegah kerugian besar bagi pengguna.

    Aave sendiri menyatakan simpati terhadap pengguna yang mengalami kerugian tersebut dan berencana menghubungi pemilik dompet untuk mengembalikan sekitar US$600.000 biaya transaksi yang diterima oleh protokol dari transaksi tersebut.

    Baca juga: Bagaimana Volatilitas Crypto Mempengaruhi Performa AI Trading?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com