Masih Belum Paham Beda DeFi vs CeFi? Yuk, Belajar di Artikel Ini!

Apa Kelebihan dan Kekurangan CeFi vs DeFi?

Untuk mengkaji lebih dalam CeFi vs DeFi, yuk kita tengok masing-masing keunggulan dan kekurangan dua sistem keuangan ini!

1. Keunggulan dan Kekurangan CeFi

Sistem terpusat menyuguhkan fleksibilitas konversi antar mata uang. Baik uang fiat maupun uang kripto dapat dikonversi dengan mudah lewat skema ini.

Sistem ini diklaim lebih adil sebab pesanan dan penjualan dilakukan terpusat. Pengguna CeFi adalah subjek dari aturan yang dibuat central exchange, sehingga baik penjual maupun membeli mematuhi hukum yang sama saat bertransaksi.

Sistem juga menyediakan pihak ketiga dan lembaga kliring yang menjamin integritas tiap transaksi layaknya di pasar modal konvensional.

Tak hanya itu, CeFi juga memungkinkanmu untuk melakukan trading antar mata uang kripto dari mulai Litecoin, Bitcoin, hingga XRP. Namun, meski banyak manfaat, sistem ini pun punya segudang kekurangan.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Central Exchange akan meminta data-datamu. Sayangnya, sistem Central Exchange sangat rentan diretas. Meski memang, keberadaannya membuat transaksimu lebih fleksibel, utamanya kalau kamu mau membeli kripto dengan uang fiat.

Selain itu, kekurangan penggunaan CeFi lainnya adalah banyaknya biaya-biaya transaksi dan admin yang perlu kamu keluarkan.

2. Keunggulan dan Kekurangan DeFi

Sementara itu, DeFi memungkinkan kamu untuk memiliki kendali penuh atas aset kripto milikmu sendiri.

Selain itu, kamu tidak perlu otorisasi pihak ketiga dalam transaksimu, yang kamu butuhkan adalah tata aturan yang diterjemahkan dalam algoritma smart contract-mu. Protokol itu akan mengeksekusi transaksimu jika pihak kedua memenuhi semua prasyarat dalam protokol yang sudah kamu buat. Saat itu terjadi, perintah tidak dapat diralat transaksimu pasti tereksekusi.

Artinya, kamu tak perlu membayar biaya admin dan biaya transaksi yang dibayar ke lembaga intermediaries tersebut. Selain itu, segala transaksi pun dijalankan secara transparan, sehingga sistem DeFi minim penyalahgunaan yang parah.

Lebih lanjut, karena sistem DeFi berlangsung di dApps, dan aplikasi-aplikasi DeFi sendiri terus berevolusi antar waktu, maka layanan jasa keuangan di Decentralized Finance terbilang lebih beragam dibanding sistem CeFi.

Hanya saja kekurangan dari sistem DeFi adalah kompleksitas protokol smart contract, sehingga kamu tak bisa melakukan trading aset kripto atau membeli aset kripto langsung dengan uang fiat.

Kesimpulan CeFi vs DeFi

Intinya, perihal CeFi vs DeFi hanyalah masalah kepada siapa kamu akan mempercayakan pengelolaan aset kriptomu? Apakah kamu mau mempercayakan aset kriptomu ke lembaga terpusat? Atau justru mempercayakannya ke teknologi smart contract?

Perbedaan paling mendasar dari CeFi dan DeFi adalah kepada siapa kamu sebagai penggunanya lebih bisa memercayakan pengelolaan asetmu? Jika CeFi masih digerakkan oleh otoritas manusia, DeFi dijalankan oleh teknologi berupa protokol smart contract.

Kemudian, masalah CeFi vs DeFi juga berkaitan dengan kenyamanan kamu dalam memilih ekosistem keuangan.

Di satu sisi, CeFi adalah sistem yang sudah mapan yang sudah digunakan di kegiatan keuangan konservatif selama bertahun-tahun. Hanya saja, jumlah variasi jasa keuangannya pun terbatas.

Di sisi lain, DeFi menawarkan ekosistem yang terus berinovasi dengan cepat. Satu kapabilitas baru yang dikembangkan DeFi dapat segera tergantikan dengan kapabilitas lain yang tengah dikembangkan. Bukan tidak mungkin di masa depan transaksi antar block independen dimungkinkan untuk dilakukan dengan protokol juga.

Jadi, siapa yang lebih pantas kamu percaya Sobat Cuan? DeFi atau CeFi?



Sumber : pluang.com