All posts by 03

Bergabunglah dalam acara Indonesia Fintech Festival and Conference 2016 di Tangerang!

Halo, Bitcoiners!

Indodax.com mengajak Anda untuk bergabung dalam acara Indonesia Fintech Festival and Conference 2016 yang akan berlangsung pada tanggal 29-30 Agustus di ICE BSD, Tangerang. Acara ini merupakan event akbar hasil kerjasama antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Kamar Dagang Indonesia (KADIN). Rangkaian acara terdiri dari: Startup Competition, Startup Coaching, Startup Speed Dating, dan konferensi yang akan dihadiri oleh kementerian-kementerian terkait, pengambil keputusan di korporasi perbankan dan keuangan, dan para inovator di industri FinTech.

Acara ini terbuka untuk siapapun yang ingin mendalami lebih lanjut mengenai industri FinTech khususnya di Indonesia. Dengan membeli tiket sebesar Rp100.000 per orang, Anda dapat bertemu dengan sesama pelaku industri dan mendapatkan pengetahuan baru, know-how serta serba-serbi industri FinTech.

Indodax.com juga akan membuka booth disana, jadi bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari Bitcoin dan Blockchain secara lebih lanjut, kunjungi booth kami (no E02) ya. Anda juga bisa mendapatkan berbagai merchandise Bitcoin menarik dari kami! Informasi lebih lanjut dan reservasi tiket dapat dilakukan di www.fintechfest.id.

See you in Tangerang, Bitcoiners!





Sumber : blog.indodax.com

Bergabunglah dalam Konferensi Data For Life 2016 di Jakarta!

Halo, Bitcoiners!

Pada tanggal 27-31 Agustus 2016 nanti, akan ada konferensi internasional Data For Life di The Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta. Acara ini akan dihadiri oleh berbagai perusahaan IT dan akan ada banyak seminar dan workshop dari tokoh-tokoh ternama di dunia IT termasuk Marc Goodman yang merupakan penulis buku “Future Crimes”–sebuah buku bertemakan Cyber Security yang berhasil mendapat gelar The New York Times Bestseller.

CEO Indodax.com, Oscar Darmawan, juga akan tampil sebagai salah satu speaker dalam “Fintech Panel” yang akan berlangsung pada pukul 12.50 WIB, tanggal 30 Agustus. Bila Anda tertarik untuk mengetahui keterlibatan Bitcoin dan Teknologi Blockchain di dunia FinTech, jangan lupa untuk berkunjung ke Stage 1 setelah makan siang ya. 

Anda berkesempatan untuk hadir di acara ini dengan mendaftarkan diri terlebih dahulu dan membeli tiketnya di loket.com/dataforlife2016/. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan kunjungi situs www.bigdataindonesia.com.

Sampai jumpa di Jakarta, Bitcoiners!





Sumber : blog.indodax.com

Bergabunglah dalam International Communications and Information Technology Exhibition di Jakarta!

Halo, Bitcoiners!

Pada tanggal 31 Agustus – 3 September 2016 nanti, akan ada acara International Communications and Information Technology Exhibition di Jakarta International Expo, Kemayoran. Event yang diadakan oleh PT Pamerindo Indonesia ini akan dihadiri oleh 250 perusahaan berbeda dari berbagai negara di dunia. Inilah kesempatan Anda untuk mendapatkan informasi terkini mengenai produk-produk IT  terbaru dari perusahaan-perusahaan kelas dunia.

Tidak hanya itu, Anda juga bisa menyaksikan rangkaian seminar menarik yang dibawakan oleh Bapak Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia), Bapak Widita P. Sardjono (CTO IBM), dan berbagai speaker lainnya termasuk CEO Indodax.com, Bapak Oscar Darmawan. Bila Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang teknologi Blockchain dan Bitcoin, khususnya yang berkaitan dengan Cyber Security dan Internet of Things, jangan lupa untuk datang ke acara ini ya!

Informasi lebih lanjut dan pemesanan tiket dapat dilakukan di www.communicindonesia.com.

See you in Jakarta, Bitcoiners!





Sumber : blog.indodax.com

Bitcoin – Digital Asset yang Terdesentralisasi

 

Sebelum Anda membaca artikel ini, mohon diperhatikan bahwa artikel ini ditulis dari perspektif ilmu komputer, bukan dari sudut pandang ekonomi. Oleh karena itu, mungkin ada banyak detail-detail “ekonomi” di dalam artikel ini yang terlalu disederhanakan.

Bitcoin adalah sebuah tipe mata uang, yang digunakan di seluruh dunia dan dapat ditukarkan ke dollar AS seperti mata uang lain yang kita ketahui. Yang membuat Bitcoin menarik adalah fakta dimana keberadaannya melahirkan sebuah sistem keuangan baru yang memadukan unsur modern dan tradisional ke dunia kita, namun dalam aspek desentralisasi. Istilah “sistem keuangan yang desentralisasi” akan dijelaskan selanjutnya di dalam artikel ini.

Dua aspek utama yang membuat Bitcoin berbeda dengan sistem keuangan modern seperti dollar AS atau Euro adalah sebagai berikut:

  1. Desentralisasi: Dalam dunia Bitcoin, tidak ada entitas/lembaga terpusat yang mencetak uang, melainkan uang dicetak oleh para pengguna. Inilah yang menyebabkan Bitcoin muncul sebagai sebuah sistem yang terdesentralisasi.
  2. Anonimitas: Orang-orang yang menggunakan Bitcoin berharap agar identitas mereka tidak dimunculkan, kebalikan dari apa yang biasanya terjadi ketika kita membeli komoditas secara online di Internet menggunakan kartu kredit, dimana kita harus memasukkan detail-detail personal agar bisa diverifikasi terhadap bank yang kita gunakan.

Di dalam artikel ini, kita akan membatasi pembahasan pada aspek desentralisasi dari Bitcoin saja. Untuk aspek anonimitas, akan kita bahas di artikel-artikel selanjutnya.

Desentralisasi

Untuk memahami istilah “sistem keuangan yang terdesentralisasi”, kita harus sebelumnya memahami apa yang dimaksud dengan sistem yang ter-“sentralisasi”. Secara informal, sistem keuangan yang bersifat sentralisasi adalah sebuah sistem keuangan yang memiliki otoritas sentral, seperti halnya pemerintah, yang bertanggungjawab untuk semua aspek ekonomi, termasuk mencetak uang, mengaplikasikan pajak pada laba yang diperoleh oleh publik, mengijinkan bank-bank untuk membuka rekening untuk masyarakat, menerapkan regulasi dan berbagai hal lainnya. Hampir semua yang ada saat ini bergerak atas regulasi dan ketentuan dari pemerintah. Sebagian besar dari transaksi keuangan yang ada saat ini melibatkan setidaknya satu pihak ketiga, seperti bank, yang kemudian akan mengaudit dan menyimpan semua detail transaksi untuk proses pendataan dan penyelesaian sengketa di kemudian hari, akreditasi, serta proses pengawasan untuk menegakkan hukum.

Berhubung sekarang kita sudah paham tentang sistem yang tersentralisasi, sekarang kita bisa berargumen bahwa sistem yang terdesentralisasi adalah sistem yang tidak memiliki otoritas sentral namun masih bisa bekerja sama baiknya seperti seakan-akan ada otoritas sentral dibelakangnya. Persyaratan yang perlu dipenuhi untuk bisa “bekerja dengan baik” sebenarnya agak samar-samar dan tergantung pada peraturan-peraturan finansial dan hukum yang diaplikasikan oleh tiap negara di dalam sistemnya. Di sebagian besar negara, sistem keuangan yang bekerja dengan baik harus memiliki fitur perpajakan, namun hal ini pun bisa berbeda di satu negara dengan negara lainnya. Namun, di semua negara (atau federasi), prosedur percetakan uang yang baik dan terkontrol adalah faktor penentu yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap sistem keuangan. Sistem Bitcoin dikatakan memiliki fitur ini, namun apakah sistem ini memiliki fitur-fitur lain (seperti perpajakan, regulasi, dan sebagainya) masih tunduk pada interpretasi masyarakat dan mungkin masih bisa berubah menjadi versi baru yang lebih canggih. Sebelum kita mempelajari bagaimana Bitcoin bisa diciptakan, mari kita pelajari lebih dalam tentang pandangan publik terhadap uang dari masa ke masa.

Jika kita lihat sistem-sistem keuangan yang ada dalam sejarah, kita bisa meneliti bahwa pada tahap awal perdagangan, orang-orang menggunakan sistem desentralisasi namun kemudian mereka berpindah ke sistem yang tersentralisasi, dan kini dengan adanya bantuan dari komunitas kriptografi, sistem keuangan mulai bergerak kembali ke arah desentralisasi namun tentunya dengan sentuhan modernisasi. Rangkuman dari pendekatan sistem keuangan yang telah digunakan dari masa ke masa adalah sebagai berikut:

Sejarah lama: Sistem Komoditas yang Terdesentralisasi

Sistem ini merupakan sistem yang sangat sederhana dimana 1 gram emas memiliki harga sebesar 1 gram emas, dan emas dijadikan dasar alat tukar sehingga pada saat itu dikenal sebagai gold-standard (selanjutnya, silver-standard dan double-standard juga mulai bermunculan dan dikembangkan). Jaman dahulu terdapat kurs pertukaran harga dari emas ke barang apapun dan sebaliknya. Dengan begitu, Anda bisa membeli apa saja yang Anda butuhkan, dengan cara menukarnya dengan barang yang memiliki harga emas yang sama. Sistem seperti ini bisa berjalan karena semua orang setuju dan paham bahwa emas itu bersifat langka, sehingga menjadi sesuatu yang berharga. Tidak perlu ada otoritas manapun yang harus mengumumkan bahwa sekian gram emas itu seharga sekian banyak papan kayu, contohnya. Yang terjadi adalah nilai suatu barang diambil dari nilai fisik mereka, sehingga munculah sebuah sistem yang terdesentralisasi.

Sejarah baru-baru ini: Sistem sentralisasi dengan mata uang yang dijamin oleh komoditas

Sistem ini melangkah lebih dekat ke arah sistem keuangan yang kita ketahui saat ini. Dalam sebuah sistem sentralisasi dengan mata uang yang dijamin oleh komoditas, seorang pelanggan tidak lagi membeli makanan dengan cara memberikan sejumlah emas ke penjual, melainkan kini dilakukan dengan cara memberikan selembar kertas, atau sertifikat, yang ditandatangani oleh pihak bank, yang menunjukkan bahwa bank tersebut sudah menerima sejumlah emas di brankasnya. Siapapun yang menggenggam kertas tersebut, dapat mencairkan emasnya kembali dengan cara memberikannya ke bank, sehingga, kertas tersebut menjadi bisa dipindahtangankan dan bisa digunakan untuk membeli makanan atau produk-produk yang lain. Dari sana, kita bisa melihat bahwa bank adalah titik sentral dari sistem ini karena merekalah yang menyimpan emas untuk pengguna mereka, dan merekalah yang membubuhkan tandatangan pada kertas tersebut agar terbukti valid. Titik penting disini adalah peran dari lembaga perbankan itu sendiri. Bila Anda ingin bermain di dalam sistem ini, Anda harus percaya pada bank dan bisa membuktikan bahwa kertas yang dibayarkan oleh seseorang kepada Anda memang terbukti valid atau, sebaliknya, terbukti memiliki tandatangan palsu.

gold

Modern: Mata Uang “Fiat” yang Tersentralisasi

Inilah jenis mata uang yang kita ketahui sekarang karena selalu kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya mata uang yang dijamin oleh komoditas, sistem keuangan ini juga menggunakan kertas dan koin. Namun dalam sistem keuangan dengan mata uang Fiat, kertas dan koin ini tidak lagi merepresentasikan barang tertentu seperti emas atau perak. Kertas ini hanya memiliki nilai karena ada peraturan dari pemerintah yang mengharuskannya untuk memiliki nilai; sebagai contoh, bila Anda menjual hot dogs di pinggir jalan di kota New York, maka Anda harus setuju untuk menerima pembayaran dalam bentuk dollar AS. Anda tidak menerima dollar AS karena nilai fisiknya (berhubung bentuknya hanya selembar kertas), namun karena pemerintah Anda memaksa Anda untuk menerimanya. Dengan begitu, pemerintah menjadikan dollar AS sesuatu yang sangat sering digunakan saat ini (bahkan sekarang lebih berguna daripada sebongkah emas). Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kertas-kertas ini sebenarnya tidak ada harganya, namun karena regulasi menghendaki demikian, kertas ini akhirnya seharga dengan nomor yang tertera di dalamnya (nomor-nomor ini dikenal juga dengan sebutan “face value” dalam dunia ekonomi). Penjelasan diatas juga menunjukkan alasan mengapa tipe uang yang seperti ini dikenal dengan istilah “Fiat”, yang diambil dari bahasa Latin dengan arti “biarkan saja terjadi” berhubung dibuat murni berdasarkan regulasi dari pemerintah semata tanpa memiliki nilai yang sebenarnya.

Masa Depan: Blockchain yang Terdesentralisasi

Kini lebih mudah bagi kita untuk memahami apa itu Blockchain dan bagaimana cara kerjanya menggunakan analogi sebuah rekening bank. Jika Anda memiliki sebuah rekening bank, Anda mungkin sudah tahu bahwa Anda bisa menanyakan tentang saldo rekening Anda, dan juga melihat seluruh riwayat transaksi yang pernah Anda lakukan, contohnya transaksi mengirimkan atau menerima uang via rekening bank Anda. Bank menyimpan informasi-informasi ini di dalam catatan pribadi atau database mereka, dan menyediakan data itu kepada klien bila ditanyakan. Satu-satunya cara untuk mengakses catatan tersebut adalah melalui pihak banknya langsung, dalam arti Anda tidak akan bisa mengecek berapa jumlah saldo di rekening bank teman Anda. Sekarang anggaplah catatan yang digunakan bank tersebut memiliki jumlah halaman yang tidak terbatas (anggap saja, bank tidak akan mengalami masalah “kehabisan kertas”). Bank mulai mengisi catatan tersebut dari halaman pertama, nomor satu, dan terus menulisnya hingga halaman-halaman berikutnya.

Bank mengikuti dua aturan mengaudit dengan sangat hati-hati, yaitu:

  1. Tidak dapat diulang – Ketika bank sedang menulis transaksi pada halaman X, maka bank tidak akan mengulang dan mengubahnya kembali ke halaman dengan nomor halaman yang lebih rendah dari X.
  2. Tersembunyi – Ketika bank sedang menulis di halaman X, maka transaksi-transaksi yang muncul di halaman X belum dinyatakan valid sehingga tidak akan bisa diandalkan ketika klien menanyakan tentang saldo rekening bank mereka (aturan ini tercermin pada cara kerja rekening bank dimana kita perlu menunggu selama beberapa saat sampai akhirnya kita bisa melihat transaksi yang kita lakukan).

Dua aturan ini berarti bahwa halaman X adalah satu-satunya halaman yang dapat ditulis namun tidak dapat dibaca (berhubung bank tidak bisa mengandalkan apa yang tertulis di halaman X). Di sisi lain, halaman 1, 2, …,(X-1) bisa dibaca, namun tidak bisa ditulis ulang.

money

Isu penting lainnya adalah biaya transaksi: Ketika bank memproses transaksi dari Alice ke Bob, maka Alice harus membayarkan sejumlah uang ke bank sebagai bentuk komisi atas penggunaan layanan mereka. Biaya transaksi ini jumlahnya tidak tetap seperti yang terjadi dulu. Sekarang, cara kerjanya murni secara free-market, dimana Alice memberitahu pihak bank terlebih dahulu bahwa ia hendak melakukan sebuah transaksi bersamaan dengan jumlah komisi yang ia setujui untuk dibayarkan ke pihak bank; semakin tinggi komisinya, semakin tinggi juga kesempatan bagi transaksi Alice untuk dimuat didalam halaman yang sedang dituliskan oleh bank, dalam arti transaksi tersebut akan divalidasi lebih cepat oleh pihak bank.

Didesentralisasikan saja!

Apa yang telah dijelaskan di atas merangkumkan bagaimana cara kerja sistem yang tersentralisasi. Sekarang, mari kita lihat bagaimana cara kerja sistem yang desentralisasi. Dalam sistem yang terdesentralisasi, kita harus bisa menemukan suatu cara yang bisa diandalkan untuk menyimpan data transaksi-transaksi sebelumnya, tapi tanpa bantuan bank sentral yang mengontrol segalanya. Penting juga untuk dibahas bahwa ketika tidak ada entitas sentral yang bisa dipercaya (seperti halnya bank atau pemerintah), kita perlu menemukan suatu teknik dimana semua orang bisa setuju bahwa suatu objek memiliki nilai, seperti halnya kertas atau koin, tapi sekarang kita membutuhkannya dalam bentuk data yang digital. Dalam pembahasan dibawah ini, kita akan terlebih dahulu mempelajari tentang buku catatan yang terdesentralisasi dan melihat bagaimana objek digital yang memiliki suatu nilai (uang yang digunakan) dilahirkan dari sistem.

Jadi, bukannya menggunakan bank, kita kini memiliki sejumlah juru tulis yang bisa memproses transaksi, katakanlah, milik Alice. Alice hanya mengetahui sedikit dari mereka. Ketika Alice ingin mengirimkan uang ke Bob, dia mengirimkan informasi ke setiap juru tulis yang dia tahu. Informasi ini meliputi nomor rekening Bob, jumlah uang yang ditransfer, dan jumlah biaya transaksi yang rela ia bayarkan atas penggunaan layanan tersebut. Setidaknya salah satu dari juru tulis tersebut, katakanlah namanya Clair, menerima pesan dari Alice dan melihat bahwa komisi yang ditawarkan jumlahnya cukup untuk memproses transaksi. Untuk mendapatkan biaya transaksi yang ditawarkan, Clair harus mencatat transaksi tersebut ke dalam halaman yang saat ini sedang ia tulis, lalu, ketika halaman tersebut sudah penuh, Clair berusaha menambahkan halaman ini ke dalam satu buku catatan besar yang dimiliki oleh semua juru tulis yang ada. Clair melakukannya karena ia membutuhkan semua juru tulis yang lain untuk setuju bahwa dialah yang memproses transaksi yang ada di halaman tersebut sehingga dialah yang berhak mendapatkan semua biaya transaksi yang dicantumkan Alice didalam transaksinya. Ketika semua juru tulis setuju,  semua transaksi yang ada di dalam halaman tersebut akan dinyatakan valid dan Clair akan menerima semua komisinya.

Seperti yang mungkin telah terlintas di benak Anda sebelumnya, usaha Clair dalam menambahkan halaman transaksi baru ke dalam buku besar dan mengajak semua orang untuk setuju dengannya bukanlah hal yang mudah. Katakanlah saat itu ada juga juru tulis yang bernama Dan yang juga menerima informasi mengenai transaksi yang ingin dilakukan oleh Alice, dan Dan ingin menambahkan halamannya ke dalam buku besar di saat yang bersamaan dengan Clair dimana didalam halaman yang dibuat Dan tertulis juga transaksi dari Alice ke Bob. Transaksi Alice tidak boleh diproses dua kali, tentunya, berhubung jika transaksinya diproses dua kali, maka Alice akan kehilangan uang yang tidak dimaksudkan untuk terkirim ke Bob. Lalu siapa yang berhak mendapatkan komisi dari Alice? Clair atau Dan? Jawabannya sangat sederhana: siapa cepat, dia dapat. Jika Clair memproses halamannya lebih dulu dan mampu meyakinkan semua juru tulis bahwa dia yang melakukannya, maka halaman Clair akan dimuat di dalam buku besar. Keadaan ini mengharuskan Dan untuk mengedit halamannya, karena transaksi dari Alice dan Bob sudah ada di dalam buku besar dan tidak boleh diproses dua kali.

Di dunia yang sebenarnya, memproses transaksi menggunakan komputer merupakan sebuah tugas yang sangat mudah, dan bila dikerjakan menggunakan komputer normal hanya akan membutuhkan waktu beberapa millisecond saja (atau bahkan bisa kurang), sehingga akan ada kompetisi yang ketat antara Clair dan Dan, dan situasi dimana sebagian juru tulis setuju dengan Clair dan sebagian sisanya setuju dengan Dan sebenarnya sangat mungkin untuk terjadi. Waktu pemrosesan transaksi harus memakan waktu yang sedikit lebih lama, agar setiap orang bisa diyakinkan oleh satu juru tulis saja. Hal ini dapat diselesaikan dengan cara menambahkan teka-teki didalamnya. Untuk semua halaman yang akan dimasukkan ke dalam buku besar oleh seorang juru tulis, akan ada sebuah teka-teki yang sulit untuk ditebak. Setiap halaman akan mendapatkan teka-teki yang unik dan berbeda dengan halaman lainnya, sehingga halaman yang diproses oleh Clair akan berbeda dengan halaman yang diproses oleh Dan (meskipun keduanya masih berisi transaksi milik Alice). Teka-teki untuk Clair akan berbeda dengan teka-teki untuk Dan, sehingga waktu penyelesaian teka-teki tersebut juga pasti akan berbeda. Siapapun yang bisa menemukan solusi teka-tekinya terlebih dahulu, akan memiliki waktu lebih banyak untuk meyakinkan semua orang agar halamannya disetujui dan ditambahkan ke dalam buku besar.

Jadi sekarang kita sudah tahu bagaimana caranya uang bisa terkirim, dan bagaimana cara juru tulis mendapatkan komisi dari setiap tranksasi yang diproses. Tapi apa sebenarnya uang ini, dan bagaimana Alice bisa mendapatkan sejumlah uang ini untuk ditransfer ke Bob?

Kita sudah tahu bahwa uang ini tidak memiliki bentuk fisik berhubung kita tidak mempercayai entitas sentral manapun untuk mencetak uang dan menyebarkannya ke masyarakat. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kini merujuk kembali pada para juru tulis yang sudah dijelaskan di atas dan menyebutnya dengan istilah “penambang” (miners). Istilah penambang ini mencerminkan kerja keras yang mereka lakukan, yaitu mencari solusi untuk memecahkan teka-teki yang diberikan, seperti halnya penambang emas yang berkerja keras untuk menemukan emas dari dalam tanah.

Sekarang hanya perlu dijelaskan bagaimana uang ini diciptakan. Seperti yang bisa Anda bayangkan, para penambang adalah orang-orang yang membawa jenis uang baru ke dunia ini. Mereka rela mengerahkan kerja keras dan usaha yang besar karena sistem akan memberikan upah atas kerja keras mereka. Mereka bisa mendapatkan uang dari biaya transaksi dan juga bisa mendapatkan uang dalam jumlah tetap untuk setiap halaman yang mereka tambahkan ke dalam buku besar. Jumlah uang yang diberikan tergolong besar, dan kini berharga sekitar 13,000 dollar AS. Kita harus memperhatikan fitur penting di dunia Bitcoin – seorang penambang bisa saja tidak mendapatkan apa-apa dari usaha keras yang mereka kerahkan. Para penambang ini mentaati satu peraturan penting: Hanya akan ada satu penambang, siapapun yang bisa menemukan solusi untuk memecahkan teka-teki dalam waktu yang paling cepat, yang bisa mendapatkan komisi dari biaya transaksi dan juga mendapatkan uang dalam bentuk koin digital dalam jumlah tetap yang tercipta berkat usahanya. Bahkan, koin-koin baru dalam jumlah tetap ini muncul menjadi transaksi pengiriman uang baru yang dimasukkan oleh penambang tersebut ke halamannya dengan alamat tujuan yang bisa ia pilih sesuka hati, kebanyakan ke alamat pribadinya.

Gabungkan semuanya

Alice, yang ingin melakukan transaksi pengiriman uang ke Bob sebenarnya bisa menjadi siapa saja yang memiliki sebuah aplikasi dompet Bitcoin di smartphone atau PC-nya. Dompet ini merupakan program yang bisa menyimpan Bitcoin di dalam komputer Anda dan juga bisa melacak alamat IP para penambang. Penambang yang berada dibelakang alamat-alamat IP ini akan diberitahu ketika pengguna menjalankan program yang ada di dalam dompet untuk mengirim uang ke orang lain; selain itu, dompet ini juga akan menginfokan halaman-halaman yang baru tercipta ke para penambang dengan alamat-alamat IP tersebut untuk mengecek apakah uangnya sudah diterima di dompet itu (dalam arti, apakah seseorang sudah mengirimkan uangnya pada Anda).

Setelah Anda mengabari para penambang tentang transaksi yang akan Anda lakukan, mereka akan berusaha memasukkannya ke dalam halaman berikutnya dan menemukan solusi untuk teka-teki yang terhubung dengan halaman tersebut. Penambang pertama yang berhasil memecahkan teka-teki itu akan mendapatkan biaya transaksi yang Anda berikan dan juga uang hadiah dalam jumlah tetap yang diberikan oleh sistem.

Terakhir, mari kita ganti semua kata-kata yang ada diatas dengan istilah-istilah resmi yang diberikan oleh komunitas Bitcoin: sebuah halaman dengan daftar transaksi yang terpapar jelas diatasnya disebut sebagai “blok” dari transaksi-transaksi, sehingga buku besar disini dikenal dengan istilah “block-chain”, berhubung buku besar ini merupakan rantai kumpulan blok-blok yang ada, dimana tiap blok memiliki sejumlah transaksi didalamnya yang sudah divalidasi. Teka-teki yang sangat sulit dan  berusaha dipecahkan oleh para penambang sebenarnya adalah sebuah cara untuk menemukan suatu output dari fungsi hash kriptografi khusus (topik ini akan dijelaskan pada post berikutnya). Sebagai tambahan, berhubung para penambang harus mencoba mencari pasangan kunci yang tepat untuk menyelesaikan teka-teki ini, dan terbukti mereka harus bekerja keras untuk menemukan solusinya, banyak yang menyebutnya sebagai PoW – proof of work atau bukti hasil kerja.

Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel berbahasa asing yang berjudul “Bitcoin – Money Decentralization” yang ditulis oleh Avishay Yanay, seorang peneliti kriptografi di Cryptography Research Group of the Bar-Ilan Cyber Center. Artikel asli dapat dilihat di link ini.





Sumber : blog.indodax.com

Bitcoin Blockchain: Penemuan Terbesar Pasca Internet

 

Blockchain merupakan sebutan untuk teknologi terdesentralisasi terbaru yang dikenal sebagai teknologi yang menjalankan Bitcoin.  Meskipun memakan waktu yang cukup lama, dunia telah banyak berubah sejak Internet pertama kali ditemukan 35 tahun yang lalu. Kini, Blockchain menawarkan solusi tingkat tinggi yang berpotensi untuk merevolusi cara kerja internet, perbankan dan aplikasi menjadi tanpa server.

Disebut-sebut sebagai penemuan terbesar pasca internet, apa itu sebenarnya Blockchain?

Masih sedikit orang yang mempermasalahkan kekurangan yang dimiliki Internet saat ini yaitu banyaknya situs dan aplikasi yang bersifat sentralisasi, dimana ketika satu server down, masyarakat tidak bisa lagi menggunakannya. Nyatanya, hal ini sangat penting untuk dipikirkan. Bayangkan saja bila suatu database, yang menyimpan informasi finansial dan dokumen pertahanan negara dibobol oleh sekelompok hacker dan dimanipulasi data-datanya. Sangat berbahaya bukan? Atau mudahnya, bukankah Anda akan kebingungan bila Facebook tidak bisa diakses karena alasan server down dan Anda kini tidak bisa lagi menghubungi teman-teman lama disana? Teknologi Blockchain muncul untuk mengatasi kekurangan tersebut sekaligus merevolusi teknologi yang kita kenal saat ini ke dunia yang lebih modern dengan sistem kerja yang lebih instan, transparan, dan efisien tanpa perlu bergantung pada server yang tersentralisasi.  Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Transaksi menggunakan teknologi Blockchain bersifat peer-to-peer, dalam arti sebuah data (dapat berupa pesan, uang, atau informasi penting) dapat dipindahkan dari satu pengguna ke pengguna yang lain tanpa bantuan pihak ketiga untuk memprosesnya. Dengan Blockchain, kita tidak perlu lagi bergantung pada satu server karena seluruh transaksi tereplikasi ke seluruh jaringan sehingga terhindar dari berbagai bentuk penipuan karena data yang dimodifikasi, server down, atau akun yang diretas. Contohnya dalam dunia Bitcoin, kita tidak perlu lagi mempercayai seseorang atau suatu perusahaan untuk mengontrol dan mentransferkan uang kita. Pengiriman uang menggunakan Bitcoin dapat dilakukan kapanpun, kemanapun, darimanapun di dunia, semudah Anda memberikan sebuah apel ke teman yang duduk disebelah Anda–tanpa pihak ketiga!

151103-blockchain-bitcoin-technology-banking-fintech-ft

Teknologi Blockchain dengan mata uang terkuatnya yang bernama Bitcoin, diciptakan oleh Satoshi Nakamoto—suatu sosok yang hingga saat ini, meskipun sudah dicari dan dilacak secara terus menerus, belum juga diketahui identitas aslinya. Meskipun begitu, keunikan teknologi ini menuai banyak pujian, dan sudah ada ribuan perusahaan yang memutuskan untuk bereksperimen dengan teknologi ini.  Hyperledger Project adalah sebuah proyek bersama yang menggabungkan perusahaan dan lembaga perbankan di dunia–termasuk perusahaan raksasa seperti Citibank, Commonwealth Bank, HSBC dan Barclays–untuk mempelajari cara kerja Blockchain dan mengaplikasikannya ke sistem perbankan internal. Proyek ini dilakukan demi mentransformasi cara kerja perbankan ke arah yang lebih aman, cepat dan efisien agar mereka bisa berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan finansial yang bertransaksi menggunakan cryptocurrency.

ibm-blockchain

Blockchain dipercaya dapat mewujudkan Internet of Things yang selama ini sudah sering kita imajinasikan. Bayangkan sebuah dunia dimana semuanya berjalan otomatis. Sebuah kamera CCTV di jalan raya dekat kantor Anda mengambil gambar secara otomatis tiap 10 menit dan mendistribusikan fotonya ke masyarakat menggunakan jaringan Blockchain. Mobil Anda, lengkap dengan GPS yang terhubung ke internet, menangkap informasi tersebut dan langsung mengubah jalur Anda untuk menghindari kemacetan yang tertangkap kamera CCTV. Di tengah jalan, mobil Anda kehabisan bahan bakar dan secara otomatis, mobil Anda mengarah ke sebuah pom bensin dan membayarkan sejumlah Bitcoin untuk mengisi bahan bakar mobil Anda. Dunia seperti inilah yang bisa kita wujudkan dengan Blockchain dan semua berjalan tanpa server yg tersentralisasi sehingga tidak pernah terjadi down time.

Instan, Aman, Akurat, Tahan Lama, Murah dan Efisien

Pengiriman data menggunakan teknologi Blockhain terjadi secara instan dan efisien. Semua transaksi dan penyimpanan data terjamin keamanannya karena tereplikasi di seluruh jaringan blockchain sehingga untuk mengubah satu data maka si peretas juga harus mengubah data yang sama di semua komputer pengguna yang lain di saat yang sama. Hal ini sangat tidak mungkin untuk dilakukan. Blockchain bersifat seperti sebuah buku besar dimana semua transaksi bersifat transparan dan bisa dicek oleh semua orang sehingga memastikan kredibilitasnya. Tidak peduli kapan transaksi itu dibuat, kita bisa selalu melacaknya dengan mudah hanya bermodalkan koneksi internet semata. Data dijamin akurat kebenarannya tanpa ada waktu kadaluarsa.

Smart Contracts

blockchainforsmartcontractsBlockchain menawarkan kesempatan untuk memasukkan segala bentuk perjanjian bisnis, ijasah pendidikan, akta tanah, kelahiran, pernikahan atau dokumen-dokumen penting ke dalam database Blockchain yang sangat mustahil untuk diretas maupun dipalsukan. Seluruh sistem berjalan tanpa pihak ketiga dan terjadi otomatis berdasarkan algoritma. Blockchain, dengan database yang terpecah dalam ratusan juta server, akan memastikan bahwa perjanjian secara otomatis akan tereksekusi, terdata, dan tersimpan dalam sistem yang transparan sehingga dapat dicek kebenarannya. Ucapkan selamat tinggal pada dokumen palsu!

Apakah Anda sudah sedikit paham dengan Blockchain? Tim kami, Blockchain.co.id, siap membantu Anda bila ada yang perlu ditanyakan. Kunjungi www.blockchain.co.id untuk informasi lebih lanjut seputar Teknologi Blockchain.

The revolution is here, the question is: are you ready?

 

 

Images are taken from:

Extremetech.com

agenda.weforum.org

iif.com

licdn.com 





Sumber : blog.indodax.com

Apakah Bitcoin sesuai dengan Syariah?

 

Artikel asli ditulis oleh Davi Barker, The Muslim Agorist

Artikel ini sebenarnya ditujukan lebih kepada kaum muslim, namun saya coba menulisnya dengan bahasa yang lebih sederhana agar lebih mudah dipahami. Diharapkan artikel ini memudahkan bagi umat muslim untuk meningkatkan pengetahuan di dalam dunia finansial.

Saya sebenarnya berada dalam posisi yang kurang nyaman karena saya menjadi satu-satunya orang yang saat ini dianggap cukup mampu menjawab pertanyaan tersebut. Saya tidak merasa bangga mengenai fakta tidak terlalu banyak orang Muslim yang mampu menjawab pertanyaan ini selain saya tetapi justru sebenarnya saya merasa sedih karena sangat sedikit rasa ketertarikan yang dimiliki oleh komunitas Muslim untuk mempelajari mengenai topik ini.

Para Muslim terpelajar yang pernah saya wawancarai tidak pernah mengerti banyak tentang apa itu sebenarnya Bitcoin. Sedangkan orang-orang yang bersikap antusias terhadap Bitcoin rata-rata tidak mengerti mengenai aspek-aspek yang dibahas didalam Hukum Islam. Melihat situasi yang seperti ini, saya berharap menjadi salah satu jembatan yang bisa menghubungkan kedua komunitas ini (Bitcoin dan Muslim).

Perlu kita ketahui ada beberapa aspek dalam Hukum Islam yang hanya berlaku pada mata uang, khususnya aturan-aturan mengenai peminjaman dan donasi — hal ini jugalah yang menjadi alasan mengapa kita melihat banyak lembaga finansial dan bank bermunculan dan mengklaim bahwa mereka sesuai dengan ajaran Syariah atau adanya tempat donasi yang berkaitan erat dengan Zakat di negara-negara Barat. Bahkan banyak yang berspekulasi adanya keberadaan bank dengan landasan syariah karena mempunyai alasan utama menjadikan komunitas Muslim sebagai target mereka, dan lembaga amal Islam juga menjadi bagian dari kebijakan domestik mereka.

Apa itu sebenarnya Zakat ? Zakat adalah sebuah bentuk amal tahunan yang diberikan oleh kaum Muslim, yang dihitung sebanyak 2,5% dari total kekayaan mereka termasuk harta dalam bentuk komoditas tertentu seperti logam mulia. Zakat sebisa mungkin langsung dibagikan ke kaum miskin dan kelaparan, anak-anak yatim piatu, serta para pengembara.

Saat ini, sebenarnya saya memiliki keraguan mengenai tingkat syariah dari mata uang kertas saya (US Dollar). Saya tidak mengerti mengapa sebuah kertas yang dicetak oleh Bank Sentral Amerika Serikat berbeda dengan kertas yang dicetak oleh Parker Bersaudara (“Perusahaan Game Monopoli”). Saya juga tidak paham mengapa kalau begitu kita tidak memberi Zakat dalam bentuk uang monopoli saja. Hanya karena kehati-hatian saya menerapkan hukum Islam yang membuat saya mau memberikan Zakat dalam bentuk uang kertas. Saya tidak akan pernah mau memberikan zakat dari logam mulia saya dengan menggunakan uang kertas, itu artinya saya harus menemukan lembaga penerima Zakat yang mau dibayar dengan logam mulia. Saya malakukan zakat ke Hidaya Foundation karena saya mengagumi integritas mereka, dan saya percaya bahwa mereka akan menyalurkan kontribusi saya dengan tujuan yang baik. Namun hingga kini, saya belum menemukan lembaga penerima Zakat yang mau menerima Bitcoin.

Untuk membahas hal ini kita harus memulainya dengan pertanyaan, “Apa yang disebut dengan mata mata uang secara Islam?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan menggunakan karya Sheikh Imran Hosein, khususnya dalam bukunya yang berjudul “The Gold Dinar and Silver Dirham” (Dinar Emas dan Dirham Perak). Beliau adalah salah satu pelajar Islam yang paling berpengalaman dalam topik ini.

Sheikh Imran Hosein mengindentifikasi adanya enam klasifikasi komoditas yang dapat digunakan sebagai mata uang oleh para pengikut Nabi Muhammad. Di dalam Al-Quran disebutkan secara eksplisit bahwa emas dan perak dapat digunakan sebagai mata uang, namun ketika umatnya sedang kehabisan suplai dari emas dan perak, maka mereka dapat menggunakan buah kurma, gandum, jelai dan garam sebagai mata uang. Selanjutnya, kita memiliki catatan bahwa Nabi Muhammad menerapkan aturan yang terkait dengan mata uang menggunakan komoditas-komoditas tersebut, tetapi tidak untuk barang lain seperti contohnya ternak, yang tidak dapat digunakan menjadi mata uang.

Dalam generasi-generasi berikutnya, kaum Muslim menerima beberapa koin asing sebagai mata uang tetapi tidak menerima semuanya, banyak juga yang ditolak sebagai mata uang. Mereka menggunakan komoditas-komoditas baru di daerah dimana enam komoditas asli yang biasa mereka gunakan tidak tersedia, contohnya saja menggunakan beras saat di Indonesia dan gula saat di Kuba.

Jadi, mengapa dan apa alasan beberapa koin diterima sebagai mata uang sedangkan yang lain ditolak? Mengapa menggunakan beberapa komoditas ini, dan menolak yang lain? Sheikh Imran Hosein mengidentifikasi enam ciri-ciri umum yang dapat dijadikan sebagai mata uang yang syariah dalam Islam.

  1. Mata Uang adalah sesuatu yang berupa makanan atau logam mulia.
  2. Mata Uang tersedia secara bebas dan tidak diatur siapapun.
  3. Mata Uang bersifat tahan lama dan tidak mengalami kerusakan atau korosi.
  4. Mata Uang memiliki nilai intrinsik.
  5. Mata Uang itu diciptakan dan dibuat berharga oleh Tuhan.
  6. Mata Uang berfungsi sebagai sebuah media pertukaran.

Saya sebenarnya ingin membantah ciri mata uang yang pertama. Sheikh Imran Hosein menyimpulkan persyaratan bahwa uang harus berbentuk logam atau makanan dari daftar asli, namun hal tersebut tidak dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Ada kemungkinan bahwa komoditas-komoditas itu digunakan karena memenuhi lima persyaratan yang lain. Dalam menjelaskan ciri pertama Sheikh Imran Hosein menulis:

“Beberapa ulama Islam berpendapat bahwa manusia bebas untuk menggunakan apapun, bahkan sebutir pasir, sebagai mata uang. Mereka kemudian pergi untuk menyatakan bahwa tidak ada larangan dalam mencetak kertas untuk digunakan sebagai uang dan kemudian menetapkan nilai berapapun untuk kertas tersebut. Tanggapan kita adalah bahwa hanya Allah Swt yang berhak berdiri sebagai al-Razzaq, Sang Pencipta Kekayaan. Siapapun yang mencoba untuk memiliki hak prerogatif ilahi dengan menciptakan kekayaan dari kertas, atau sewenang-wenang menetapkan bahwa butiran pasir memiliki nilai yang berbeda dari nilai alami mereka, akan dinyatakan bersalah karena dianggap Shirk (menyembah berhala).”

Penolakannya terhadap pasir dan kertas bukanlah karena komoditas tersebut tidak berbentuk logam atau makanan, tetapi karena mereka tidak memiliki nilai intrinsik. Ketika menjelaskan arti nilai intrinsik, nilai alami, dan nilai yang diberikan Tuhan, yang kerap ia gunakan secara bergantian, hasil ujinya adalah bahwa nilai yang murni ditentukan oleh penawaran dan permintaan, dan tidak secara artifisial (tiruan) diciptakan oleh suatu lembaga pusat (bank sentral). Menurut saya, jika sebuah komoditas tidak berbentuk logam atau makanan namun memenuhi lima ciri yang lain, maka komoditas tersebut dapat dikategorikan sebagai mata uang. Misalnya, batu Rai dari Mikronesia, manik-manik Wampum yang digunakan oleh beberapa penduduk asli Amerika, atau bulu berang-berang yang digunakan sebagai mata uang di era pra-Revolusi Amerika.

Sekarang kita perlu bertanya, “Apa itu Bitcoin?”

Bitcoin adalah sebuah digital asset yang tersebar dalam jaringan peer-to-peer yang tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini memiliki sebuah buku akutansi besar bernama Blockchain yang dapat diakses oleh publik, dimana didalamnya tercatat semua transaksi yang pernah dilakukan oleh seluruh pengguna Bitcoin, termasuk saldo yang dimiliki oleh tiap pengguna. Dalam memproses semua transaksi, para penambang Bitcoin harus menyelesaikan sebuah perhitungan matematika yang rumit. Ketika mereka berhasil menemukan solusinya, sebuah blok akan terbentuk di dalam Blockchain, dan para penambang itu akan memperoleh Bitcoin baru yang terlahir dari sistem. Bitcoin ini akan mereka sebarkan kembali ke dalam jaringan ketika mereka melakukan transaksi dengan para pengguna Bitcoin yang lain. Proses penciptaan Bitcoin ini akan berkurang seiring berjalannya waktu. Dalam waktu yang telah ditentukan, jumlah Bitcoin yang ada tidak akan melebihi 21 juta Bitcoin, dan yang lebih penting lagi adalah, Bitcoin tidak akan bisa dimanipulasi oleh siapapun.

Setiap transaksi publik mempunyai kunci privat (private key) yang sesuai sehingga hanya pihak penerima-lah yang dapat melakukan transaksi berikutnya. Transaksi akan disiarkan ke dalam jaringan, dicatat dalam buku besar, dan sebuah kunci baru akan diciptakan untuk memberikan hak kepemilikan penuh kepada pihak penerima meskipun secara teknis, informasi tersedia pada setiap komputer yang terhubung dalam jaringan.

Hasilnya, Bitcoin dapat ditukar secara bebas oleh siapa saja yang terhubung dalam jaringan, bahkan melewati batas nasional. Transaksi ini dapat dilakukan tanpa lembaga apapun sebagai perantara. Transaksi dapat dilakukan dari mana saja di dunia selama mereka memiliki akses ke jaringan. Dan transaksi ini berpotensi untuk dilakukan secara anonim.

Jadi bagaimana penjelasan ini bisa berkaitan dengan definisi kita tentang mata uang?

Pertama, apakah Bitcoin itu termasuk logam mulia atau makanan? Tentu tidak, tapi seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, saya tidak yakin masalah ciri logam mulia atau makanan ini adalah kriteria yang baik dalam menentukan apakah suatu komoditas itu dapat dianggap mata uang atau tidak.

Kedua, apakah Bitcoin memiliki pasokan yang melimpah dan tersedia secara bebas? Tentu saja. Siapapun bisa menjadi penambang Bitcoin hanya dengan memberikan waktunya untuk menjalankan proses komputer yang diperlukan, atau mereka dapat memperoleh Bitcoin dengan menukarkan mata uang lain untuk digital asset tersebut, atau bisa juga menerimanya sebagai pembayaran.

Ketiga, apakah Bitcoin bersifat tahan lama? Tentu saja. Jika Anda menyimpan Bitcoin Anda pada flash drive dan menyembunyikannya di bawah kasur Anda selama 20 tahun, data akan tetap utuh. Ada kemungkinan bahwa data bisa rusak, sehingga tidak tahan lama seperti emas atau perak, tetapi setidaknya lebih tahan lama daripada gandum atau jelai.

Keempat, apakah Bitcoin memiliki nilai intrinsik? Orang-orang bertanya padaku sebenarnya Bitcoin dijamin oleh apa. Jawabannya adalah Bitcoin berharga karena orang menghargai Bitcoin. Apa yang menjamin sebatang emas? Jawabannya adalah sama. Emas hanya berharga karena orang menghargai emas. Tidak ada bank sentral yang menyatakan bahwa Bitcoin berharga. Bitcoin didukung dengan sendirinya, dan itulah yang dimaksud dengan nilai intrinsik. Beberapa orang menghargai Bitcoin untuk potensi anonimitas yang ditawarkannya, beberapa mendukung Bitcoin karena dapat ditransfer melalui internet tanpa biaya, dan orang lainnya mendukung Bitcoin dengan alasan untuk mendapatkan ketenangan pikiran karena akun mereka tidak akan bisa dibekukan oleh siapapun. Apapun alasan mereka dalam menghargai Bitcoin, alasannya disebabkan oleh karakteristik yang melekat pada desain Bitcoinnya, bukan di luar itu. Itulah nilai intrinsik dari Bitcoin.

Kelima, apakah Bitcoin ada dalam penciptaan, dan dibuat berharga oleh Allah? Hal ini sulit untuk dijawab karena biasanya tidak menjadi bagian dari analisis ekonomi. Hasil uji untuk ini, menurut Sheikh Imran Hosein, adalah bahwa harga ditentukan oleh penawaran dan permintaan, dan tidak sewenang-wenang ditetapkan oleh Bank Sentral. Jadi, misalnya, umat Islam pada awalnya menerima koin tembaga asing—meskipun tembaga bukan salah satu dari enam komoditas asli yang digunakan oleh para pengikut Nabi Muhammad—namun mereka mengabaikan nilai nominal koin dan memperdagangkannya pada harga tembaga di pasar. Bitcoin tidak memiliki nilai nominal. Tidak ada Bank Sentral yang sewenang-wenang memberikan nilai untuk digital asset tersebut dengan nilai yang berbeda dari nilai alami mereka. Situs perdagangan online seperti Bitstamp memperjualbelikan Bitcoin seperti halnya Kitco memperdagangkan emas dalam pasar yang harganya terus berubah sesuai penawaran dan permintaan.

Saya memikirkannya seperti ini. Emas ada dalam penciptaan, tetapi tidak memiliki harga sampai akhirnya ditambang dan dibuat menjadi bentuk yang berguna. Emas membutuhkan tenaga manusia yang mengolah dan mendesainnya terlebih dahulu untuk mendapatkan nilainya. Demikian pula dengan Bitcoin. Solusi untuk masalah matematika yang ada dalam penciptaan mungkin tidak bersifat material, tetapi mereka ditemukan (atau diolah) bukan diciptakan. Tapi mereka tidak berharga sampai mereka diolah oleh para penambang Bitcoin dan didesain oleh jaringan Bitcoin. Hukum ekonomi yang mengatur fluktuasi harga mencerminkan nilai yang diberikan Allah, meskipun jika bentuk program Bitcoin, seperti koin, adalah rancangan manusia. Bagi saya, Bitcoin memenuhi persyaratan ini, tetapi saya bisa melihat bagaimana orang lain mungkin membantah kesimpulan tersebut.

Keenam, apakah Bitcoin berfungsi sebagai alat tukar? Tentu saja. Bitcoin digunakan oleh ribuan orang setiap harinya untuk membeli, menjual dan diperdagangkan dan Bitcoin sendiri dapat dibagi hingga delapan angka desimal.

Jadi, dari enam persyaratan mata uang dalam Islam, Bitcoin secara mudah dapat memenuhi empat persyaratan secara sempurna, memenuhi salah satu syarat yang masih bisa diperdebatkan, dan tidak memenuhi salah satu persyaratan yang menurut saya tidak perlu untuk dipermasalahkan.

Bagaimana jika kita bandingkan Bitcoin dengan uang kertas? Uang kertas tidak berupa logam atau makanan. Karena terjadi inflasi, uang kertas tidak bersifat tahan lama, dan nilainya berkurang dari waktu ke waktu. Tidak memiliki tidak intrinsik, tetapi berasal dari hukum legal tender yang mewajibkan penggunaannya. Harganya tidak ditentukan oleh penawaran dan permintaan, tetapi ditetapkan oleh lembaga terpusat atau bank sentral. Uang kertas hanya memenuhi dua dari enam persyaratan utama, yaitu: berlimpah dan berfungsi sebagai alat tukar—dan ciri itupun terpenuhi karena diwajibkan oleh hukum umum atau sekuler.

Dalam situasi terbaik, uang kertas hanya dapat memenuhi dua dari enam ciri syarat mata uang dalam hukum Islam, sementara Bitcoin memenuhi empat atau lima syarat mata uang. Jadi, umat Islam yang menganggap kertas sebagai mata uang tentu harus menganggap Bitcoin sebagai mata uang, mungkin lebih daripada itu. Kaum Muslim yang menolak uang kertas dan sedang mencari alternatif lain harus mulai mencari tahu tentang Bitcoin. Kita sekarang hidup di kondisi dimana logam mulia hampir tidak umum dipergunakan lagi sebagai nilai tukar di kalangan orang-orang biasa seperti di masa lalu. Saya melihat improvisasi yang cantik menganai pada masa lalu, dasar ekonomi berpindah kepada makanan ketika persediaan logam mulia sudah mulai langka. Dan hari ini ekonomi digital kita mulai berpindah ke digital asset saat logam mulia mulai langka, atau bahkan tidak boleh dipergunakan sebagai mata tukar. Oleh karena itu kesimulannya, saya menyebut Bitcoin cocok sebagai mata uang. Anda bebas untuk menyetujui pendapat saya atau tidak. Tetapi yang pasti saat ini saya sedang menunggu lembga Zakat yang mau menerima Bitcoin sehingga saya bisa melakukan Zakat saya melalui Bitcoin.

Sumber Artikel
[diterjemahkan oleh Oscar Darmawan dan Suasti Atmastuti]





Sumber : blog.indodax.com

Perbedaan Bitcoin Exchange dan Bitcoin Wallet

 

Bagi Anda yang sudah terbiasa berkutat di dunia Bitcoin dan Blockchain, pasti akan tersenyum ketika mendengar pertanyaan “Apa yang membedakan antara Bursa Bitcoin (atau Bitcoin Exchange) dengan Dompet Bitcoin (Bitcoin Wallet)?” berhubung keduanya sudah jelas berbeda. Namun Anda akan terkejut dengan betapa banyaknya orang-orang diluar sana yang belum paham betul tentang kedua hal tersebut dan terkadang menganggapnya sebagai suatu hal yang sama. Artikel ini dibuat khusus untuk menjabarkan secara lebih detail apa yang membedakan antara sebuah bursa Bitcoin dan sebuah dompet.

Bitcoin Exchange

Bitcoin Exchange, atau bursa Bitcoin, merupakan sebutan untuk perusahaan yang menyediakan tempat (platform) khusus yang bisa digunakan oleh orang-orang dari berbagai negara untuk menukarkan Bitcoin dengan mata uang fiat (seperti Dolar AS, Euro, Yuan, Rupiah, dll) atau dengan cryptocurrency yang lain. Sebagai contoh, Indodax adalah sebuah Bitcoin Exchange di Indonesia yang bisa Anda gunakan sebagai tempat untuk memperdagangkan Bitcoin Anda dengan Rupiah atau menukarkannya secara gratis ke cryptocurrency lain yang tersedia di dalam market seperti Ethereum, Litecoin, Dogecoin, DASH, Ripple, dan berbagai cryptocurrency lainnya.

map-bitcoin

Bitcoin Exchange biasanya menyediakan sebuah dompet sementara (temporary wallet) untuk menampung saldo mata uang fiat atau cryptocurrency yang akan diperdagangkan oleh pengguna. Sebagai contoh, Indodax menyediakan dompet temporer untuk menampung saldo Bitcoin, Rupiah dan cryptocurrency lain yang disupport oleh market untuk mempermudah para penggunanya dalam melakukan trading. Ketika Anda ingin menjual Bitcoin ke Rupiah di Indodax, Anda harus terlebih dahulu memindahkan Bitcoin dari dompet pribadi Anda (atau bisa dari Exchange maupun perusahaan-perusahaan lain seperti perusahaan cloud mining, faucet, dan sebagainya) ke dompet temporer yang tersedia di akun Indodax Anda. Setelah melakukan deposit Bitcoin, Anda akan melihat saldo Bitcoin Anda di akun Indodax dan dari sana, Anda bisa dengan mudah menjualnya ke Rupiah.

Bila bursa Bitcoin didirikan dengan tujuan untuk melayani proses perdagangan cryptocurrency, dompet Bitcoin, atau Bitcoin Wallet, diciptakan murni untuk menyimpan atau mengirimkan Bitcoin saja. Dompet Bitcoin bentuknya sangat beragam dengan interface yang berbeda. Anda bisa melihat tipe-tipenya didalam infographic karya Cointelegraph berikut.

wallet

Untuk mempermudah pengguna bertransaksi dari berbagai device, kini sudah ada banyak perusahaan yang bergerak sebagai wallet provider, seperti Blockchain.info, Copay, dan Airbitz. Berbeda dengan Bitcoin Exchange, perusahaan yang bergerak sebagai wallet provider tidak menyediakan platform perdagangan Bitcoin, kecuali perusahaan tersebut juga beroperasi sebagai sebuah exchange, contohnya: Coinbase.

Ketika Anda membuat sebuah wallet di situs seperti Blockchain.info, Anda akan mendapatkan akses ke sebuah dompet Bitcoin yang hanya bisa digunakan untuk menyimpan dan mengirimkan Bitcoin saja. Anda bisa menganggapnya seperti sebuah dompet biasa yang Anda gunakan untuk menyimpan uang kertas Anda yang tentunya bisa diambil sewaktu-waktu dan dipindahkan ke tempat lain. Namun berbeda dengan dompet untuk uang cash, dompet Bitcoin ini lebih seperti buku rekening bank yang mencatat semua daftar transaksi Anda sejak pertama kali dompet itu dibuat. Kapan Anda mengirimkan/menerima Bitcoin, berapa jumlah Bitcoin yang ditransaksikan, dan darimana atau kemana Bitcoin itu ditransaksikan, semua terpampang jelas disana. Lebih hebatnya lagi, Anda tidak perlu mengecek riwayat transaksi Anda hanya lewat situs Blockchain.info tempat Anda membuat dompet saja. Andaikan server Blockchain.info down, Anda masih tetap bisa mengeceknya di berbagai situs yang lain. Anda juga masih bisa mengakses dompet Bitcoin Anda selama Anda membackup-nya dengan baik.

Bagaimana cara mengamankan dompet Anda? Hal ini akan kita bahas di artikel berikutnya.

Dari penjabaran diatas, kita bisa menyimpulkan satu poin penting yang membedakan antara sebuah Bitcoin Exchange dan sebuah Bitcoin Wallet yaitu dari bentuk layanan yang disediakan. Anda tidak bisa menjual atau membeli Bitcoin Anda di dompet Bitcoin Anda, dan meskipun Anda bisa menyimpan Bitcoin Anda di dompet sementara yang disediakan oleh sebuah Bitcoin Exchange, dompet Bitcoin dapat memberi kenyamanan, kemudahan dan keamanan ekstra tanpa server yang jarang disediakan oleh Exchanger. Bila Anda bayangkan Bitcoin sebagai emas, sebuah Bitcoin Exchange adalah toko emas tempat dimana Anda bisa menjual/membeli emas tersebut dengan Rupiah, sedangkan dompet Bitcoin dapat Anda anggap sebagai brankas pribadi yang bisa Anda jadikan sebagai tempat menyimpan emas. Tingkat keamanan brankas tersebut bisa Anda atur sendiri sesuka hati, dan hanya Anda yang memegang kunci untuk membukanya tanpa perlu bergantung pada siapapun. Bedanya dengan emas, ‘brankas’ Bitcoin dapat dengan mudah disimpan di dalam smartphone Anda dan bisa dibawa kemanapun untuk dibelanjakan.





Sumber : blog.indodax.com

Pelajari Bitcoin secara lebih mendalam melalui buku “Bitcoin Tingkat Lanjut” karya Dimaz Ankaa Wijaya

 

Telah terbit karya terbaru Dimaz Ankaa Wijaya, “Bitcoin Tingkat Lanjut”, yang bisa Anda download di Google Play Store!

Saat Bhagwan Chowdhry, pakar ekonomi dan akademisi dari UCLA, menominasikan Satoshi Nakamoto sebagai kandidat penerima Nobel untuk sains ekonomi tahun 2016, ia tidak sedang bergurau. Bitcoin, sistem yang diperkenalkannya ke publik di tahun 2009 lalu, telah menyita banyak perhatian. Bitcoin tidak hanya mempopulerkan kembali sistem peer-to-peer, melainkan juga telah menggugah pemikiran para intelektual untuk mengeksplorasi segala sisi Bitcoin. Bitcoin hanyalah permulaan. Kita akan melihat revolusi teknologi besar-besaran di masa depan dengan ide yang diperkenalkan Nakamoto.

Semua orang yang tertarik dengan cryptocurrency dan hendak mempelajarinya lebih lanjut sangat tepat jika bertitik tolak dari Bitcoin. Bitcoin memiliki hal-hal teknis yang menarik dipelajari, seperti yang disajikan oleh buku ini. Buku ini membahas beberapa hal yang ada dalam Bitcoin dengan lebih mendetail. Bagian Pertama membahas landasan teori tentang Bitcoin: apa dan bagaimana sistem Bitcoin berjalan, kelebihan, dan kekurangan Bitcoin.

Bagian Kedua berisi tentang beberapa teknik kriptografi dan teknologi yang diimplementasikan di dalam Bitcoin. Bagian Ketiga khusus mengulas tentang privasi dan anonimitas yang terkait dengan Bitcoin. Bagian ini juga menyebutkan analisis transaksi Bitcoin dan solusi-solusi anonimitas yang tersedia. Bagian Keempat didesain bagi Anda yang tertarik untuk memahami lebih jauh tentang fitur scripting yang disematkan di dalam sistem Bitcoin.

Setelah membaca buku ini, Anda diharapkan dapat memahami mengapa banyak orang jatuh cinta pada Bitcoin dan cryptocurrency. Di era Internet seperti sekarang, tipe digital asset berbasis kriptografi ini tampaknya cukup menjanjikan untuk diimplementasikan.

Anda juga mungkin akan tertarik dengan solusi-solusi berbasis blockchain lainnya seperti smart contract yang diaplikasikan pada berbagai bidang teknologi lain seperti Internet of Things dan keamanan sistem. Penulis berterima kasih kepada seluruh anggota tim Forensik Digital Direktorat Jenderal Pajak: Pak Andri, Izazi, Dony, Fatwa, Wishnu, Budi, dan teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Penulis juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Kementerian Keuangan. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada para supervisor yang masih saja berperan penting, bahkan ketika penulis telah menyelesaikan pendidikan: Dr. Joseph Liu dan Dr. Ron Steinfeld.





Sumber : blog.indodax.com

Bagaimana cara mengamankan dompet Bitcoin?

 

Sebelum kita mempelajari bagaimana cara mengamankan dompet bitcoin, mari kita bahas sedikit tentang apa yang dimaksud dengan dompet bitcoin itu sendiri. 

Bitcoin disimpan dalam sebuah akun yang disebut Dompet Bitcoin (Bitcoin Wallet). Dompet Bitcoin keluaran perusahaan manapun dapat digunakan untuk menyimpan bitcoin dan Anda bisa mendownloadnya secara gratis di Google Play Store atau Apple Store. Terhitung ada ratusan perusahaan di dunia yang membuat dompet Bitcoin hingga saat ini, namun demi keamanan akun Anda, kami sarankan untuk mencari aplikasi yang memiliki jumlah download terbanyak dan bintang review tertinggi. Bila Anda tertarik untuk membandingkan kelebihan dan kekurangan dompet Bitcoin yang beredar saat ini, kunjungi Bitcoin.org. Berikut adalah contoh-contoh dompet Bitcoin yang direkomendasikan oleh situs tersebut:

screen-shot-2016-10-29-at-9-54-06-am

Setelah menginstall wallet, Anda akan mendapatkan sebuah alamat Bitcoin (Bitcoin Address). Dari dompet Bitcoin tersebut, Anda bisa transfer bitcoin ke mana saja di dunia selama Anda terhubung dengan internet. Untuk mengirimkan Bitcoin caranya sangat mudah. Anda cukup buka aplikasi wallet tersebut, masukkan alamat Bitcoin dari lawan transaksi dengan jumlah bitcoin yang ingin ditransfer, kemudian tekan tombol ‘Send’ (kirim). Cara pakainya sebenarnya mirip dengan Internet Banking pada dasarnya. Perbedaannya hanya di tingkat kemanannya saja dimana Bitcoin berada jauh lebih unggul karena transaksi terjadi langsung dari pengirim ke penerima tanpa melibatkan “lembaga bitcoin” atau pihak pengelola apapun yang bisa sewaktu-waktu mengontrol, mengambil atau menghilangkan uang Anda.

Setiap dompet Bitcoin pasti memiliki berbagai lapisan keamanan dan cara mengamankan yang berbeda. Namun rata-rata, mereka menyediakan opsi dimana Anda bisa menambahkan 2 Factor Authentication untuk memberi lapisan keamanan ekstra pada dompet Anda. 2 Factor Authentication biasanya berupa verifikasi via pin SMS yang akan masuk ke nomor handphone yang Anda daftarkan ketika Anda menciptakan wallet, atau berupa pin Google Authenticator yang bisa Anda install di laptop atau di smartphone Anda. Hasilnya, setiap kali Anda hendak login ke wallet Anda, Anda harus bisa memasukkan alamat e-mail, password dan pin SMS atau pin GA Anda untuk mengakses dompet Anda.

two-factor-authentication_blog

Image source

Hal terpenting yang harus Anda lakukan untuk mengamankan dompet Anda adalah mem-backup private key Anda. Ketika Anda membuat sebuah dompet Bitcoin, Anda akan secara otomatis memiliki public key dan private key. Public key adalah sebuah rentetan huruf dan angka yang dapat Anda bayangkan sebagai sebuah nomor rekening bank. Contoh public key: 1FP1toj2osvcV2EWjEf7SwyPCRuwTr2dTL. Nomor ini dapat Anda berikan ke siapapun dalam bentuk tulisan maupun QR Code untuk menerima Bitcoin. Setiap public key akan terhubung dengan private key yang merupakan rentetan huruf dan angka yang sangat perlu Anda rahasiakan. Anggaplah private key sebagai pin ATM Anda. Contoh private key: 5HpHagT65TZzG1pH3CSu63k8DbpvD8s5ip4nEB3kEsrfuuNUQgn

Selama Anda memiliki private key dompet Bitcoin Anda, Anda tidak perlu lagi khawatir bila situs penyedia dompet Bitcoin Anda sedang down atau tidak bisa diakses. Misalnya dompet Bitcoin Anda diinstal di smartphone dan aplikasinya terhapus (atau lebih parah lagi, smartphone Anda hilang), Anda cukup install ulang dompet Bitcoin di device yang lain (di tablet, atau PC misalnya) dan masukkan private key Anda untuk mendapatkan akses ke dompet Anda kembali. Salah satu cara yang aman dan mudah untuk memback-up wallet Anda adalah dengan membuat paper wallet seperti dalam gambar dibawah ini. Petunjuk untuk membuat Paper Wallet dapat Anda lihat disini.

s4kv4

Sebagian besar dompet Bitcoin yang beredar saat ini tidak memberikan private key dalam bentuk rentetan huruf dan angka, namun sudah disederhanakan menjadi security passphrase yang biasanya berbentuk 12 huruf yang mudah untuk dituliskan ataupun diingat. Contoh private key yang sudah diubah menjadi security passphrase: blue spear hotel falcon baseball unique keyboard albino refrigerator twelve field river

Aman atau tidaknya dompet Anda tergantung pada Anda sendiri. Pelajarilah bagaimana cara mengamankan dompet Anda sejak dini karena berbeda dengan akun Facebook yang hanya berisi informasi pribadi, dompet Bitcoin Anda bisa bernilai ratusan ribu sampai milyaran Rupiah. Sangat disayangkan bila diambil alih oleh orang lain, bukan?

Sumber gambar





Sumber : blog.indodax.com

Jalan-jalan keliling dunia menggunakan Bitcoin, apakah mungkin?

 

Pertanyaan diatas sebenarnya tergantung pada diri Anda sendiri. Apakah Anda sudah berkomitmen penuh untuk hidup hanya bermodalkan Bitcoin? Berwisata keliling dunia menggunakan Bitcoin bukanlah hal yang mustahil, namun mungkin juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan berhubung Bitcoin sendiri umurnya baru 8 tahun dan masih sedikit kalah populer dibandingkan uang cash ataupun kartu kredit.

Lalu pertanyaannya, kalau memang berwisata menggunakan Bitcoin itu sulit, mengapa saya harus membayar dengan Bitcoin? Mari kita bahas sedikit tentang kelebihan berwisata menggunakan Bitcoin dibandingkan uang cash maupun kartu kredit.

Perbedaan mata uang yang kita miliki dengan mata uang negara yang kita kunjungi kadang bisa menjadi beban tersendiri. Pertama, kadang kita sering mengalami nasib buruk dimana money changer yang kita kunjungi memberikan kurs/exchange rate yang sangat buruk, sehingga bisa memotong bahkan hingga 10% dari nilai mata uang kita. Kedua, terdapat banyak Money Changer gadungan yang tidak memiliki ijin resmi dari pemerintah yang tentunya berisiko bila Anda bertransaksi disana. Ketiga, jarang ada Money Changer yang buka 24 jam selama seminggu penuh. Bagaimana jika dalam keadaan darurat, Anda perlu menukarkan uang Anda? Dengan Bitcoin, Anda bisa ucapkan selamat tinggal pada Money Changer karena Bitcoin merupakan mata uang yang berlaku hampir di seluruh negara di dunia. Misalnya merchant tempat Anda berbelanja tidak menerima pembayaran dengan Bitcoin, Anda bisa ke Bitcoin Exchange terdekat yang rata-rata beroperasi 24 x 7 x 365 (ya, bahkan pada hari libur sekalipun!).

Membawa uang cash di tas Anda bisa menjadi sangat berbahaya ketika Anda berwisata ke negara-negara yang terkenal rawan dengan aksi kejahatan seperti pencurian uang atau barang berharga lainnya. Berbeda dengan Bitcoin, uang cash memiliki bentuk fisik yang tentunya akan membutuhkan tempat khusus untuk menampungnya. Ketika uang cash Anda semakin banyak, dan dompet Anda semakin tebal, Anda menjadi target empuk para pencopet. Bitcoin dengan mudahnya menawarkan keamanan tingkat tinggi yang bisa membuat Anda tenang ketika berwisata. Anda bisa menyimpan Bitcoin Anda di dalam smartphone yang Anda bawa, dan andaikan Smartphone Anda hilang dicuri, Anda bisa dengan mudahnya mengakses Bitcoin Anda melalui device/perangkat lain seperti PC, tablet atau smartphone berbeda selama Anda membackup dompet Bitcoin Anda dengan baik. Pencuri yang kini memiliki smartphone Anda pun kemungkinan besar tidak bisa mengambil Bitcoin Anda berhubung dompet Bitcoin Anda dijaga ketat dengan berbagai lapisan keamanan anti-hack. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana cara mengamankan dompet Bitcoin Anda, baca artikel ini.

Apakah Anda sering merasa kesal ketika hendak membayar menggunakan kartu kredit, pihak merchant bertanya, “Untuk pembayaran menggunakan kartu kredit, Anda akan kami kenakan charge sebesar 3%, apakah tidak apa-apa?” Bila Anda berbelanja dalam jumlah kecil, mungkin Anda tidak akan peduli, namun beda halnya bila Anda berbelanja diatas 10juta Rupiah menggunakan kartu kredit. Anda dikenakan biaya setidaknya 300ribu Rupiah per transaksi! Berbeda dengan kartu kredit, pembayaran maupun pengiriman uang dengan Bitcoin hanya dikenakan fee sebesarnya 0.0001 – 0.0005 BTC untuk para penambang. Jika dikonversikan, 0.0001 – 0.0005 BTC setara dengan Rp 500 – 5.000 per transaksi, tidak peduli seberapa besar uang yang dikirimkan atau seberapa banyak tagihan belanjaan Anda.

bitcoin-infographic-example-2Image source

Membayar dengan uang cash kini mulai berubah menjadi sesuatu yang terbilang kuno dan tradisional. Membayar dengan kartu kredit mungkin membuat Anda terlihat keren dan berkelas beberapa tahun yang lalu, namun kini sudah ada jutaan orang di dunia yang melakukannya. Membayar dengan Bitcoin? Nah, ini baru cara yang spesial! Meskipun sudah ada merchant-merchant raksasa yang menerima Bitcoin seperti Microsoft, Dell, Rakuten dan Overstock, Bitcoin belum sepopuler kartu kredit untuk digunakan oleh masyarakat umum. Ketika Anda menggunakan Bitcoin, Anda bisa menyombongkan diri Anda sebagai seseorang yang update teknologi. Kini Anda tidak perlu membayar mahal membeli iPhone 7 untuk menjadi seseorang yang keren dan futuristik. Cukup download aplikasi dompet Bitcoin di smartphone ‘jadul’ Anda dan coba berbelanja menggunakan Bitcoin di merchant terdekat yang menerimanya. Pasti semua orang akan terkesima saat memperhatikan Anda.

Tentu saja! Kini Bitcoin sudah bisa digunakan untuk membeli (hampir) semua barang di dunia termasuk satelit pribadi hingga tiket ke luar angkasa. Untuk berwisata ke luar negeri, Anda bisa membeli tiket pesawat dengan Bitcoin di situs-situs ternama seperti CheapAir, atau travel agent yang memang secara khusus melayani pembelian tiket dengan Bitcoin seperti aBitSky. Perusahaan travel agent raksasa seperti Expedia dan Destinia juga bisa melayani pembelian tiket pesawat Anda sekaligus membantu Anda melakukan reservasi di hotel favorit Anda. Mereka juga menyediakan layanan penyewaan mobil untuk kebutuhan transportasi dalam kota Anda. Bila Anda memilih untuk naik angkutan umum, sudah ada banyak taksi yang bisa dibayar dengan Bitcoin seperti di Budapest, Malaysia, bahkan kini di Argentina, Uber juga bisa dibayar dengan Bitcoin.

img_1437Image source

Bila dilihat di Coinmap.org, kini sudah ada ribuan merchant yang tersebar di seluruh dunia untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari Anda. Mulai dari restoran bintang lima di Ubud, Bali, supermarket di Belanda, hingga toko cupcakes di San Fransisco, semua sudah bisa dibayar dengan Bitcoin. Anda bisa hidup bermodalkan Bitcoin saja di berbagai negara, termasuk membeli souvenir dan barang-barang mewah dengan Bitcoin seperti wine, lukisan, jam tangan dan mobil. Di Indonesia, daftar merchant yang terima pembayaran dalam bentuk Bitcoin dapat dilihat di Direktori Bitcoin atau di Bitislands.com.

Semuanya bisa dilakukan, selama Anda mau mencoba. Apakah Anda berani untuk mulai hidup dan berwisata hanya menggunakan Bitcoin saja?





Sumber : blog.indodax.com