Author: 08

  • Kinerja IHSG Merah = Saat Tepat Beralih ke Reksadana Pasar Uang? Simak di Sini!

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sepekan kemarin anjlok 2,97%. Langkah pemulihan ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat (AS) diduga menjadi biang keladi amblasnya IHSG ke level 6.011,45 pada Jumat (2/4). Apakah kinerja merah tersebut menjadi saat yang tepat untuk beralih ke aset lain, seperti emas atau reksadana pasar uang?

    Seperti diketahui, Negeri Paman Sam itu tengah menunggu persetujuan Paket Stimulus senilai US$2 triliun yang dipercaya mampu membawa perekonomian AS kembali pulih. Selain itu, kinerja IHSG juga tertekan lantaran kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun yang sempat menyentuh angka 1,75%.

    Penurunan IHSG yang terjadi selama satu pekan lalu juga membuat rata-rata nilai transaksi harian susut 0,60% menjadi Rp10,62 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp10,69 triliun.

    Sejalan dengan hal itu, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melorot ke angka Rp7.101,43 triliun atau tertekan 2,85% dibanding pekan sebelumnya yang sempat berada di posisi Rp7.309,9 triliun.

    Biasanya, ketika indeks saham memerah, investor cenderung mengalihkan perhatiannya ke aset-aset yang memiliki risiko lebih rendah. Emas bisa menjadi pilihan, karena biasanya investor kerap melindungi kekayaannya yang sudah jatuh ke aset lindung nilai seperti logam mulia.

    Namun, apakah Sobat Cuan tahu bahwa melindungi kekayaan di kala indeks saham anjlok juga bisa dilakukan dengan berinvestasi di reksadana pasar uang? Yuk, simak artikel di bawah ini bersama-sama.

    Baca juga: Investor Pemula Wajib Tahu! Simak Istilah Umum Reksa Dana Ini

    Kinerja Reksadana Pasar Uang: Penyebab Reksadana Pasar Uang Menarik Kala Saham Memble

    Penasihat Investasi Lake Advisory, Joshua Simpson mengatakan, investor perlu melakukan diversifikasi portofolio untuk mengamankan dana yang dimilki di kala pasar saham mengalami volatilitas atau saat perekonomian sebuah negara mengalami resesi.

    Dalam hal ini, investor bisa mengalihkan dananya ke reksadana pasar uang. Mengapa demikian? Simpson mengatakan bahwa berinvestasi di reksadana pasar uang adalah pilihan bijak bagi investor untuk mengamankan dananya. Sekaligus, mendapatkan imbal hasil dalam jangka pendek.

    Dia menambahkan, dana dari pasar uang mampu memberikan imbal hasil yang lebih baik dibanding pasar saham pada masa-masa tersebut. Bahkan, risiko yang terdapat di reksadana pasar uang juga cenderung lebih rendah dibanding produk reksadana lainnya.

    Reksadana pasar uang pun terbilang cukup likuid. Sehingga, investor akan dengan mudah kembali ke pasar saham ketika kondisi ekonomi mulai berbalik positif.

    Keistimewaan reksadana pasar uang ini timbul karena portofolio aset yang dikelola di dalamnya.

    Pada reksadana ekuitas, nilainya mungkin akan terpengaruh oleh kinerja indeks saham. Namun di dalam reksadana pasar uang, manajemen investasi akan menempatkan surat utang jangka pendek di bawah satu tahun, seperti obligasi, sertifikat Bank Indonesia (SBI) ataupun surat berharga negara bertenor singkat, sebagai aset underlying-nya.

    Selama ini, investor memahami bahwa surat utang negara adalah salah satu instrumen dengan tingkat gagal bayar yang sangat rendah. Bahkan, mendekati nihil (default-free).

    “Keuntungan dari reksadana pasar uang di dalam kondisi pasar saham yang menunjukkan volatilitas tinggi atau resesi memiliki risiko penurunan nilai yang lebih kecil dibanding saham,” ujar dia.

    Pendapat tersebut juga diamini oleh Direktur Perencanaan Keuangan dan Penasihat Kekayaan Forefront Wealth Partners Chad Rixse.

    Menurutnya, dengan berinvestasi di reksadana pasar uang, investor bisa mempertahankan nilai dan likuiditas asetnya. Reksadana pasar uang secara efektif berfungsi layaknya uang tunai, yang bisa menjadi penyangga dalam portofolio investasi.

    Berbanding terbalik dengan reksadana ekuitas yang malah terkena dampak cukup berat lantaran adanya perlambatan ekonomi. Dalam tahap ini, investor tetap dapat mempertahankan keuntungan dengan menjual sebagian saham dan memasukkannya ke dalam reksa dana pasar uang.

    Kinerja Reksadana Pasar Uang: Tetap Ada Risiko yang Mengintai

    Meskipun begitu, yang namanya investasi tetap memilki risiko. Di Amerika Serikat, contohnya, reksadana pasar uang tidak diasuransikan oleh Federal Deposit Insurance Corporation atau yang dikenal sebagai FDIC.

    Salah satu kasus populernya adalah ambruknya salah satu Bank Investasi terbesar di AS, Lehman Brothers, pada krisis 2008 yang berbarengan dengan turunnya return produk reksadana pasar uang.

    Berkaca dari hal tersebut, investor perlu menimbang kualitas reksadana yang akan dipilih. Selain itu, investor juga disarankan untuk tetap mendiversifikasikan asetnya ke saham. Mengapa demikian?

    Meski pun aman, kinerja reksadana belum bisa menandingi kinerja saham secara jangka panjang. Sehingga, investor disarankan untuk tidak menempatkan seluruh dananya di reksadana pasar uang untuk waktu yang lama.

    Justru, investor harus menjadikan kinerja pasar saham yang merah sebagai momen yang tepat untuk melakukan dua strategi investasi: Mengakumulasi saham yang banyak di harga rendah (buy the dip) dan mencari cuan ke reksadana pasar uang.

    Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

    Bukti Reksadana Pasar Uang Tetap Oke di tengah Anjloknya IHSG? Simak Data Tahun Lalu

    Dengan mengacu data Infovesta sepanjang 2020, terlihat bahwa kinerja reksadana pasar uang cukup mumpuni dibandingkan IHSG.

    Pada akhir 2020, IHSG ditutup di level 5.979,07, alias melemah 5,09% dibanding 2019 sebesar 6,299,54. Namun, di waktu yang sama, data Infovesta Money Market Fund Index mencatat kinerja reksadana pasar uang meningkat 4,61% di periode yang sama. Berikut perbandingannya di tahun lalu.

    Kendati demikian, capaian pertumbuhan kinerja reksadana pasar uang pada tahun lalu juga mengalami tekanan. Adanya pandemi dan juga Bank Indonesia yang mengambil langkah memangkas suku bunga acuannya sampai lima kali, membuat gerak reksadana pasar uang kurang lincah.

    Untuk investor yang ingin mengatur ulang portofolio investasinya dalam masa resesi seperti sekarang, tampaknya bisa mulai melirik reksadana pasar uang sebagai bentuk diversifikasi portofolio aset investasi yang baik.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Kontan, US News, Kumparan



    Sumber : pluang.com

  • Benarkah Menambang Bitcoin Mencemari Lingkungan? Yuk, Simak Faktanya!

    Aset kripto, termasuk di antaranya Bitcoin, selama ini dipandang sebagai penyebab pencemaran lingkungan yang lumayan masif. Studi yang dilakukan Universitas Cambridge menunjukkan pada Februari saja, jaringan global “penambang” Bitcoin menyedot listrik sebanyak yang dibutuhkan negara Argentina sepanjang tahun.

    Mengomentari terkait itu, sebuah artikel yang diterbitkan jurnal Joule (10/3) menyebut tambang Bitcoin bahkan menggunakan energi listrik yang setara dengan emisi area metro London. Yup, memang sangat disayangkan, cara kerja mata uang digital saat ini masih mendukung pemborosan energi.

    Kini, harga satu Bitcoin telah meroket melampaui US$50.000, maka diperkirakan para penambang Bitcoin saat ini telah menghasilkan polusi karbon sebanyak konsumsi energi sebuah negara berukuran sedang.

    Bitcoin Akan Saingi Kebutuhan Energi Listrik Tahunan Australia

    Menurut studi oleh ilmuwan data Alex de Vries dalam jurnal Joule, Bitcoin diperkirakan akan segera menghabiskan lebih dari 200 terawatt energi listrik per jam (TWh). Menurutnya, hal itu setara dengan jumlah energi yang dikonsumsi oleh semua pusat data secara global.

    Dan ironinya, meski jumlah energinya setara dengan konsumsi pusat data global, menurutnya Bitcoin hampir tidak melayani siapapun.

    Lebih ironisnya lagi, ternyata kebutuhan listrik demi menambang Bitcoin lebih besar dari kebutuhan setrum satu negara. Warga Australia saja, sebut de Vries, hanya mengonsumsi sebanyak 192TWh listrik pada 2020. Maka dari itu, tak heran jika pendiri Microsfot, Bill Gates, sempat bilang bahwa Bitcoin “menggunakan lebih banyak listrik per transaksinya daripada investasi lainnya yang pernah dilakukan peradaban manusia.”

    Jadi, apakah Bitcoin benar menggiring para penambangnya pada tindakan pencemaran lingkungan?

    Baca juga: Mau Nambang Bitcoin? Simak Modal dan Biaya yang Perlu Kamu Keluarkan!

    Bisakah Energi Terbarukan Mendukung Bitcoin di Masa Mendatang?

    Menurut Pusat Keuangan Alternatif Cambridge di Universitas Cambridge, sekitar 61% penambangan Bitcoin tahun lalu diperkirakan didukung bahan bakar fosil. Sementara, 39% sisanya diperkirakan telah menggunakan energi terbarukan, terutama energi hidroelektrik.

    Menurut penambang Bitcoin Australia, Iris Energy, saat ini investor institusional besar menciptakan pasar untuk Bitcoin yang ditambang secara terbarukan (renewably mined Bitcoins).

    “Strategi energi unik kami dari segi lingkungan, sosial, dan tata kelola pemerintahan (environment, social, and governance, ESG) adalah memuaskan investor dengan komitmen hijau dan terkait iklim,” ujar salah satu pendiri, Daniel Roberts.

    Cosmos Capital kini juga berdiskusi dengan perusahaan listrik Australia untuk menggunakan surplus energi terbarukan yang murah demi menggerakkan tambang Bitcoin di kawasan Australia. Tentu saja, tujuannya adalah untuk meminimalisir pencemaran lingkungan.

    Penambang Bitcoin Menjelajahi Dunia untuk Mendapatkan Sumber Energi Terjangkau

    Menurut Pusat Keuangan Alternatif Cambridge, hampir dua pertiga dari penambangan Bitcoin berlangsung di China. Sementara itu, Amerika Serikat, Rusia, Kazakhstan, Malaysia, dan Iran adalah pemain besar lainnya.

    Mereka semua memburu daerah-daerah yang memiliki sumber energi paling murah dan tak termanfaatkan. Di China, contohnya, penambang bermigrasi ke seluruh negeri untuk mengejar penggunaan tenaga listrik termurah. Namun, mereka hanya punya waktu hingga April untuk memanfaatkan listrik berbahan bakar batu bara, yang pembangkitnya saat ini berlokasi di provinsi Mongolia Dalam.

    Sementara itu, di Iran, penambang Bitcoin dikecam karena menyebabkan pemadaman awal tahun ini. Ini lantaran operasi penambangan di sana menggunakan pembangkit listrik yang disubsidi oleh negara, yang membakar minyak berkualitas rendah yang melepaskan sulfur dioksida tingkat tinggi.

    Para penambang juga menghindari pencemaran lingkungan dengan mendirikan pusat data di kota-kota industri yang sedang menurun di Siberia. Ini demi memanfaatkan kelebihan gas dan tenaga air yang murah.

    Baca juga: 10 Energi Alternatif Ini Akan Jadi Sumber Utama Listrik Masa Depan. Apa Saja?

    Akankah Bitcoin Menjadi Lebih Berkelanjutan?

    Penambang Bitcoin bertenaga energi terbarukan telah meningkat dari sekitar 28% menjadi 39% antara 2018 dan 2020.

    Hanya saja, ada kekhawatiran bahwa struktur Bitcoin yang terdesentralisasi adalah sikap libertarian yang hanya sekadar membenci pemerintah. Tetapi, tidak selalu memprioritaskan penyelesaian masalah iklim atau pencemaran lingkungan.

    Persaingan berat untuk membuat aset kripto tandingan, semacam Bitcoin hijau, pun menyeruak di Norwegia. Pada 8 Maret, orang terkaya kedua di Norwegia, milliarder ladang minyak Kjell Inge Røkke, meluncurkan usaha baru bernama Seetee.

    Dalam suratnya kepada pemegang saham, Røkke mengatakan tujuan perusahaan adalah untuk “membangun operasi penambangan yang mentransfer listrik yang terlantar atau tidak digunakan yang bersifat stabil secara lokal.” Yakni, sumber listrik dari tenaga angin, surya, dan tenaga air.

    Karena itu, rencana perusahaan ini demi menghindari pencemaran lingkungan adalah dengan menempatkan pusat penambangan Bitcoin di tempat-tempat di mana pertanian energi terbarukan menghasilkan listrik secara berkelimpahan. Dengan demikian, tambang aset kripto pun dapat menggunakan tenaga listrik berbiaya rendah dan menyumbang nol karbon ke atmosfer.

    Namun, pendekatan ini didebat oleh de Vries. Menurutnya, hal itu mengasumsikan bahwa akan ada jeda sebentar untuk melakukan pemindahan itu. Padahal, penambangan hanya berfungsi saat beroperasi 24/7 dan para penambang berpacu dengan waktu demi mempertahankan keunggulan.

    Penambangan Bitcoin Emisi Nol Karbon Tengah Berlangsung

    Meski demikian, sejauh ini, beberapa penambangan Bitcoin sudah menggunakan energi nol karbon. Di China, beberapa operasi penambangan telah bergeser secara musiman untuk memanfaatkan tenaga air berbiaya rendah di musim panas. Lantas, beralih kembali ke batubara di musim dingin.

    Gazprom, perusahaan gas alam Rusia juga memiliki divisi yang menjual tenaga penambangan Bitcoin yang dihasilkan dari gas suar. Yakni, produk sampingan limbah dari pengeboran dan pemrosesan minyak dan gas.

    Hal ini tentunya akan membutuhkan konsensus dalam komunitas penambangan dan berisiko memicu jatuhnya nilai mata uang. Sementara itu, saingan utama Bitcoin, Ethereum, kini tengah berencana membuat perubahan teknologi pada tanggal yang belum ditentukan.

    Baiknya kita tunggu saja gebrakan apa yang akan dilakukan tiap aset kripto ini untuk menanggapi persoalan pencemaran lingkungan. Apakah mereka akan berhasil membatasi jejak karbon di atmosfer?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Abc News, Quartz



    Sumber : pluang.com

  • Kamu Hanya Perlu Punya 3 Sifat Ini Buat Jadi Miliarder Dunia. Apa Saja?

    Banyak orang mengatakan bahwa cara menjadi kaya yang efektif adalah dengan memiliki kecerdasan mumpuni. Mereka harus menempuh pendidikan setinggi langit demi menuju status tersebut.

    Namun, menurut sebuah laporan terbaru oleh bank investasi UBS dan PricewaterhouseCoopers (PwC), kecerdasan semata rupanya bukan jaminan cara menjadi kaya. Ternyata, ada tiga sifat mutlak yang perlu dimiliki oleh seseorang untuk punya kekayaan bejibun. Apa saja?

    1. Insting untuk mengambil risiko yang cerdas
    2. Fokus kuat pada bisnis, sehingga mereka bisa melihat kesempatan yang cemerlang di depan mata.
    3. Tekad yang kuat, sehingga mereka berpikir secara jangka panjang.

    Laporan tersebut dihasilkan setelah menganalisis sifat dan tindak-tanduk yang terdapat pada masing-masing miliarder dunia, yang juga memimpin perusahaan bernilai fantastis. Jika ketiga karakteristik itu dijalankan oleh pemimpin, maka sebuah perusahaan pun akan memiliki kinerja dua kali lebih baik daripada pasar lainnya.

    Perusahaan Pun Menikmati “Efek Miliarder” Ini dan Berjalan Sukses

    UBS dan PwC pun merangkum ketiga sifat tersebut sebagai “efek miliarder”. Menurut mereka, perusahaan yang dijalankan oleh para bos dengan karakteristik efek miliarder itu menikmati pengembalian 17,8% dari tahun 2003 hingga 2018. Sementara, rata-rata perusahaan lain memperoleh pengembalian hasil 9,1% dalam daftar MSCI AC World Index.

    Perusahaan yang dikelola oleh orang dengan efek miliarder itu juga secara konsisten menghasilkan keuntungan dan berkinerja lebih baik dalam enam tahun setelah penawaran umum perdana daripada perusahaan yang dikendalikan oleh non-miliarder.

    John Matthews, kepala UBS untuk divisi kekayaan bersih orang-orang ultra-kaya Amerika Serikat, mengungkapkan salah satu percakapannya dengan orang kaya dengan efek miliarder ini. Menurutnya, salah satu orang kaya mengatakan bahwa ia tak pernah berpikir selama tiga bulan ke depan, tapi ia berpikir untuk 10 tahun mendatang. “Ini pola pikir yang berbeda,” jelasnya.

    Baca juga: Mau Jadi Kaya Sebelum Umur 30 Tahun? Simak 10 Tips Miliarder Muda Ini!

    Para Miliarder Punya Pola Pikir Berbeda daripada Mayoritas Orang

    Banyak studi dan berbagai judul buku menyimpulkan perihal serupa. Para miliarder konon memang memiliki cara pikir berbeda daripada mayoritas penduduk.

    Laporan UBS dan PwC menggarisbawahi temuan yang sejalan dengan studi tersebut. Yakni, miliarder memang berpikir dan menjalankan berbagai hal secara berbeda dibandingkan kebanyakan orang.

    Sebuah tinjauan tes kepribadian dari 43 orang dengan kekayaan bersih di atas US$11 juta oleh peneliti Jerman Rainer Zitelmann menemukan, pengusaha ultra-kaya cenderung memiliki toleransi tinggi untuk frustasi. Business Insider melaporkan, mereka juga lebih berorientasi pada detail dibandingkan kebanyakan orang.

    Singkatnya, cara menjadi kaya dari orang kaya ini ialah karena mereka memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi, lebih terbuka untuk pengalaman baru, dan lebih ekstrovert.

    Rafael Badziag, seorang pengusaha, menghabiskan lima tahun untuk melakukan wawancara tatap muka dengan 21 miliarder ini. Menariknya, ia menemukan bahwa karakteristik semacam ini justru juga menyebabkan kejatuhan para orang kaya ini.

    “Miliarder adalah orang-orang nonkonformis yang menunjukkan individualisme pada usia dini, dan mereka melanggar aturan di usia lebih dini,” ujar Badziag. Perihal itu ia tuliskan juga dalam bukunya The Billion Dollar Secret: 20 Principles of Billionaire Wealth and Success.

    Untuk itu, menurutnya, seseorang harus tahu kapan perlu membuat lompatan dan kapan harus berlari ke arah yang berlawanan demi mencapai keberhasilan.

    Baca juga: Memilih Investasi Tepat Layaknya Miliarder Kelas Dunia

    Enam Cara Menjadi Kaya dengan “Efek Miliarder”

    Selain berbagai penelitian di atas dan tiga sifat utama para miliarder, rupanya masih ada beberapa hal juga, lho, yang efektif sebagai cara menjadi kaya. Beberapa karakteristik seperti keberaniaan, kelihaian berjualan, visi, dan semangat untuk sukses adalah beberapa di antara ciri-ciri umum miliarder ini.

    1. Cara Menjadi Kaya yang Utama? Berpikir Mandiri

    Para miliarder memang memiliki pola pikir berbeda. Mereka berpikir secara mandiri, bukan hanya tentang uang, tapi hampir tentang segalanya. Orang-orang mungkin menghabiskan waktu dan energi untuk menyesuaikan diri dengan kerumunan. Namun, para miliarder ini menghabiskan waktu untuk menciptakan jalan mereka sendiri.

    2. Visi

    Para miliarder adalah visioner kreatif dengan sikap positif. Dengan kata lain, cara menjadi kaya bagi mereka adalah dengan memiliki impian besar. Dan mereka yakin serta berusaha untuk membuatnya menjadi kenyataan. Karena itu, orang-orang yang paling sukses hari ini adalah mereka yang menetapkan tujuan penting bagi dirinya. Dan mereka tidak takut menjelajahi wilayah impian mereka yang belum terpetakan.

    3. Keterampilan

    Dalam Think and Grow Rich: A Black Choice, Dennis Kimbro dan Napoleon Hill mewawancarai orang-orang sukses yang fokus pada bidang keunggulan mereka. Menurut mereka, cara menjadi kaya yang optimal adalah dengan menekuni dengan sungguh-sungguh keterampilan yang benar-benar penting bagi kita. Para miliarder juga cenderung bermitra dengan orang dengan keterampilan yang dapat melengkapi mereka.

    4. Gairah

    Pakar investasi dan juga miliarder Warren Buffett berkata, “Uang adalah produk sampingan dari melakukan apa yang sungguh-sungguh saya cintai.” Dan kita semua tahu apa yang sungguh-sungguh ia cintai: Investasi. Jadi, mengapa tidak mencontoh Buffett untuk mengembangkan gairah yang sama? Menikmati pekerjaan dan bergairah dengan apa yang kita lakukan dapat membangun disiplin untuk bekerja keras bagi impian kita.

    5. Cara Menjadi Kaya dengan Lihai dalam Komunikasi

    Untuk menerapkan cara menjadi kaya, miliarder yang sukses berhasil mempresentasikan gagasan-gagasan mereka dan membujuk orang lain untuk menerima gagasan itu.

    Dalam survei terhadap 753 miliarder, T. Harv Eker untuk bukunya Secrets of the Millionaire Mind menemukan bahwa keterampilan sosial lebih penting daripada IQ. Seorang miliarder yang sukses menjadi sukses karena mereka mengasah keterampilan sosialnya. Masih ingat tentang orang-orang terkaya di dunia yang introvert dan berhasil mengasah bakat sosial mereka, kan?

    6. Investasi

    Para miliarder rela mengorbankan waktu dan uang untuk mencapai tujuan mereka. Mereka bersedia mengambil risiko untuk kesempatan mencapai sesuatu yang lebih besar di masa depan. Kamu bisa berinvestasi dengan membeli emas, indeks saham AS, atau aset kripto di Pluang, dan kamu pun bisa juga berinvestasi dengan memperkaya keterampilan teknis maupun non-teknismu.

    Pada akhirnya, kamu perlu ingat, bahwa cara menjadi kaya bukanlah hal yang bisa sukses dicapai dalam semalam. Selalu dibutuhkan usaha dan evaluasi terus-menerus untuk bisa mengembangkan karakteristik di atas.

    Jadi, Sobat Cuan, jangan berkecil hati kalau saat ini kamu masih merasa kurang di beberapa karakteristik di atas. Masih ada waktu, kok, untuk mengembangkan “efek miliarder” itu dalam dirimu. Salah satunya adalah belajar investasi, apalagi kalau belajar investasi di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Business Insider, Investopedia



    Sumber : pluang.com

  • Pengen Tajir? Nilai SP 500 Diramal Naik 100% 10 Tahun Lagi, Lho

    Kabar baik untuk para investor pasar modal. Nilai investasi indeks S&P 500, yang menjadi salah satu indeks saham paling bonafit di dunia, diprediksi bakal menyentuh level 8.000 dalam satu dekade ke depan. Jika melihat indeks S&P 500 saat ini yang berada di kisaran 4.000, artinya dalam 10 tahun kedepan, indeks tersebut akan bertumbuh ganda.

    Hal itu diungkapkan oleh lembaga broker asal Amerika Serikat Sanford C. Bernstein di dalam catatannya kepada investor pada pekan lalu. Dua ahli strategi perusahaan tersebut, Inigo Fraser-Jenkins and Alla Harmsworth, mengatakan bahwa indeks S&P 500  akan bertumbuh seiring tindak-tanduk investor yang mengantisipasi kebijakan pemerintah AS.

    Mereka mengatakan, kebijakan pemerintah AS yang belakangan menggelontorkan uang banyak demi pemulihan ekonomi nantinya akan berimbas ke peningkatan inflasi. Meski demikian, mereka memperkirakan bahwa bank sentral AS The Fed pun tidak akan menaikkan suku bunga acuannya demi merespons situasi tersebut. Sebab, mereka masih akan fokus dalam memulihkan ekonomi AS hingga mencapai kestabilan yang mumpuni.

    “Kondisi tersebut nantinya akan menggiring investor untuk mencari imbal hasil yang lebih optimal. Sehingga, mereka akan membanjiri pasar ekuitas,” ujar Fraser-Jerkins di dalam laporannya.

    Baca juga: Dari Tesla hingga Freeport, Simak Saham-Saham S&P 500 Paling Tokcer Sepanjang 2020

    Investasi S&P 500 Akan Bertumbuh Seiring Optimisme Ekonomi AS

    Jika ditarik ke belakang, ungkapan Stanford C. Bernstein tersebut bisa jadi ada benarnya.

    Beberapa waktu ini, indeks saham utama AS seperti Dow Jones dan S&P 500 terus meroket karena pasar modal merespons sinyal-sinyal penguatan ekonomi yang ada di negara adidaya tersebut. Hal tersebut tercermin dari beberapa data ketenagakerjaan AS pada Maret, seperti angka penciptaan lapangan kerja baru, yang terlihat mumpuni.

    Ke depan, Fraser-Jenkins mengatakan bahwa pergerakan indeks S&P 500 akan dimotori oleh realisasi penggelontoran stimulus jumbo AS sebesar US$1,9 triliun untuk menanggulangi pandemi COVID-19 dan US$2 triliun untuk pembangunan infrastruktur dan energi hijau. Jika stimulus tersebut berhasil mengangkan “derajat” ekonomi AS, maka bukan tidak mungkin nilai indeks S&P 500 akan terbang.

    Faktor yang mempengaruhi nilai S&P 500

    Adapun faktor lain yang mempengaruhi nilai S&P 500 ke depan adalah kebijakan suku bunga acuan AS. Mereka menganggap, ada kemungkinan The Fed memperlambat kenaikan suku bunga acuannya lantaran investor masih tidak siap untuk menghadapi rezim suku bunga acuan yang lebih tinggi. Apalagi, mereka semua masih dalam tahap pemulihan pasca usahanya dihantam pandemi COVID-19.

    Pergerakan nilai indeks S&P 500 juga bisa semakin atraktif di luar dua faktor di atas. Laporan tersebut menganggap, investor nantinya akan kelimpungan mencari aset investasi yang bisa menghasilkan imbal hasil riil yang positif selain indeks S&P 500. Mengapa demikian?

    Sekadar informasi, rendahnya suku bunga acuan tentu akan membuat aset lain, utamanya obligasi pemerintah AS, menjadi tidak menarik. Sebab, rezim suku bunga rendah akan membuat imbal hasil surat berharga negara AS juga redup. Sehingga, tidak ada alasan bagi investor untuk menggenggam aset yang bebas risiko (default free) tersebut.

    Begitu pun dengan emas. Memang, kenaikan inflasi di masa depan bisa menggiring investor menggenggam logam mulia sebagai instrumen investasi yang utama. Namun, ketika pertumbuhan ekonomi lagi kencang, investor tentu akan memilih aset yang benar-benar bisa menghasilkan imbal hasil.

    Nah, dalam hal ini, Fraser-Jenkins, mengatakan bahwa investor yang ingin menabung demi mempersiapkan masa pensiun bisa memilih S&P 500 sebagai instrumen investasi jitu.

    Baca juga: Mau Jadi Kaya dengan Rebahan di Masa Tua? Yuk, Investasi di S&P 500!

    Tetap Berpikir Tradisional dalam Menyoal Investasi S&P 500

    Pada awal April lalu, Indeks S&P 500 telah menembus level psikologis di angka 4.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Hal itu terjadi karena adanya pengumuman program stimulus infrastruktur sebesar US$2 triliun yang akan dijalankan oleh Presiden AS, Joe Biden.

    Penguatan tersebut berlanjut hingga pekan ini. Pada Rabu (7/4), indeks saham S&P 500 masih bertengger manis di posisi 4.000.

    Meskipun proyeksi indeks S&P 500 akan mencapai 8.000 dalam satu dekade mendatang, bukan berarti investor bebas untuk membenamkan seluruh dananya di salah satu instrumen investasi tersebut.

    Analis mengatakan, target tersebut harus disikapi dengan manajemen risiko yang mumpuni. Yakni dengan cara diversifikasi.

    Beberapa analis menyarankan investor untuk melakukan rumus 60:40. Yakni, kondisi  di mana 60% portofolio ditujukan untuk saham dan 40% sisanya untuk obligasi. Jangan juga lupa untuk menempatkan dana di model portofolio yang memiliki aset riil dan mata uang non-fiat seperi emas ataupun aset kripto yang potensial.

    Tentu saja, cara yang tepat untuk mendiversifikasikan aset adalah dengan berinvestasi di Pluang!

    Baca juga: Investasi S&P 500 Bisa Bikin Kamu Sultan Lho, Simak 3 Alasannya!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Bloomberg, Marketwatch



    Sumber : pluang.com

  • Penasaran Gimana Perusahaan AS Bisa Masuk Daftar SP 500? Simak di Sini

    Pada Januari lalu, Enphase Energy Inc menjadi pendatang baru dalam indeks S&P 500 menggantikan Tiffany, yang diakuisisi oleh LVMH Moet Hennessy-Louis Vuitton. Perusahaan investasi energi terbarukan itu berkode saham ENPH itu sebelumnya melejit 562% dalam setahun terakhir, membuatnya berhasil masuk ke jajaran perusahaan paling bonafit tersebut.

    Masuknya Enphase ke S&P 500 mengikuti jejak Tesla, yang tiga bulan sebelumnya masuk ke dalam daftar perusahaan berkapitalisasi pasar jumbo seantero AS itu.

    Perusahaan yang diawaki oleh Elon Musk itu masuk sebagai saham terbesar kelima di bursa saham AS, dengan kapitalisasi pasar saat itu mencapai US$650 miliar. Pelopor industri mobil listrik itu tetap menorehkan kinerja yang moncer di tengah pandemi dengan mencatatkan volume penjualan sesuai dengan target yang sebanyak 500.000 unit.

    Tapi, bagaimana sih, proses kedua perusahaan tersebut sebelum masuk ke daftar S&P 500? Apakah memang mereka berdua perlu mendaftar terlebih dulu?

    Baca juga: Apa yang Diukur oleh Indeks S&P 500?

    Bagaimana Perusahaan Bisa Masuk di S&P 500?

    Tidak sembarang perusahaan bisa masuk dalam indeks S&P 500. Apalagi, “kasta” indeks tersebut adalah yang paling “mulia” di antara indeks-indeks saham AS lainnya.

    Analis Wells Fargo Jordan Wathen menjelaskan, secara jumlah perusahaan, indeks S&P 500 hanya terdiri dari 500 perusahaan dari seluruh saham terbuka di Bursa Saham AS. Namun, jangan ragukan kekuatan mereka. Betapa tidak, 80% dari total kapitalisasi pasar saham di Bursa AS dihasilkan dari seluruh perusahaan yang terdaftar di dalam indeks ini.

    Karena hal itu juga, salah satu syarat untuk bisa masuk dalam indeks tersebut adalah perihal kapitalisasi pasarnya yang harus jumbo. Serta, potensi bisnis yang masih sangat besar di masa depan.

    Seperti contohnya Coca-Cola. Perusahaan ini memiilki 4,3 miliar saham beredar dengan harga per sahamnya sebesar US$49. Artinya, kapitalisasi pasar Coca-Cola saat ini adalah sekitar US$210 miliar atau jika menggunakan kurs hari ini (Rp14.566 per dolar AS), kapitalisasi pasar perusahaan air berkarbonasi itu mencapai Rp3.058,86 triliun.

    Untuk bisa masuk dalam Indeks S&P 500, perusahaan akan dinilai oleh komite pemilihan S&P 500 yang dibentuk oleh S&P Dow Jones. Yakni, sebuah perusahaan yang bergerak di penilaian indeks-indeks saham utama di Amerika Serikat.

    Setidaknya, berikut ini adalah syarat-syarat yang diberikan oleh komite tersebut bagi perusahaan yang berambisi menjadi bagian dari S&P 500.

    Yang pertama, perusahaan tersebut memiliki kapitalisasi pasar paling tidak US$9,9 miliar atau sekitar Rp142,67 triliun. Meskipun begitu, batasan tersebut bisa terus berubah seiring dengan pergerakan pasar.

    Selain itu, perusahaan tersebut juga sudah harus membukukan keuntungan selama empat kuartal terakhir atau paling tidak di kuartal keempat.

    Contoh

    Sebagai contoh, perusahaan A mencatatkan rugi sebesar US$300 juta di masing-masing kuartal 1 sampai 3, namun di kuartal ke empat, kinerja perusahaan bangkit dan sukses membukukan keuntungan sebesar US$950 juta. Artinya, perusahaan A sudah memenuhi syarat untuk bergabung dengan S&P 500.

    Indeks S&P 500 memang unik. Selain persyaratan di atas, terdapat pula syarat lain yang harus dipenuhi, utamanya soal likuiditas pasar. Saham yang masuk dalam S&P 500, jumlah saham publiknya harus lebih besar dari saham pengendali utamanya.

    Tidak hanya itu, volume perdagangannya juga harus mencapai 100% dari total saham publik yang beredar dan minimal 250.000 saham harus diperdagangkan dalam kurun waktu 6 bulan.

    Karena S&P 500 dimaksudkan untuk memudahkan pelacakan bisnis-bisnis jumbo di AS, maka perusahaan yang tergabung sudah pasti sangat mencerminkan “Amerika”. Maksudnya adalah, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki pluralitas aset dan pendapatan di AS, dan sudah terdaftar di Bursa Saham AS seperti NYSE ataupun Nasdaq.

    Keseluruhan persyaratan tersebut wajib dipenuhi. Jika salah satunya tidak cocok, mohon maaf, S&P 500 tidak bisa menerima saham perusahaan tersebut.

    Salah satu contohnya adalah Berkshire Hathaway, perusahaan investasi milik begawan saham Warren Buffett, yang tidak tercatat di indeks saham top itu. Padahal, kapitalisasi pasarnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dengan harga saham pada perdagangan hari ini yang berada di angka US$395,47 per saham, kapitalisasi pasar perusahaan mencapai US$605,39 miliar.

    Memang, saham Berkshire Hathaway masuk ke indeks S&P 500 saat ini, tapi hanya sebatas saham seri B-nya saja. Padahal, total saham yang dimiliki perusahaan terdiri atas seri A dan seri B.

    S&P 500 Dipantau Banyak Investor

    Banyak investor yang mencermati pergerakan saham di dalam indeks S&P 500. Bukan hanya menuyoal valuasi saham perusahaan atau kinerja bisnisnya. Namun, perihal imbal hasilnya.

    Dalam 10 tahun terakhir, indeks tersebut berhasil memberikan imbal hasil sebesar 11,18% per tahun, dan sebesar 15,76% pada tahun lalu. Seperti apa tren pertumbuhan imbal hasil tersebut?

    Melihat keuntungan yang terus naik, apakah kamu tidak tertarik berinvestasi di S&P 500? Yuk, segera investasi indeks saham AS terbaik tersebut di Pluang!

    Baca juga: Apa Itu Kapitalisasi Pasar?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Bagaimana Caranya Mencegah Aset DeFi Kamu dari Serangan Hacker? Simak di Sini!

    Hype terhadap DeFi terus berlanjut seiring dengan sektor DeFi yang mencapai level tertinggi baru, di level US$85,03 miliar pada akhir Maret 2021. Hanya saja, permasalahan klasik mengenai DeFi masih saja mengintai. Utamanya, perihal peretasan. Lantas, apakah ada tips bagi pecinta instrumen ini demi aman investasi DeFi?

    Meski pasar DeFi sedang booming, ada banyak pihak di luar DeFi yang juga mencari keuntungan dari peningkatan kinerja DeFi. Yup, para hacker yang berusaha meretas keamanan sistem DeFi pun berupaya menuai keuntungan dari hasil lonjakan kapitalisasi DeFi.

    Aktivitas ini tertangkap dalam survei blockchain Global Deloitte pada 2019 menyoroti kerentanan jaringan terdesentralisasi DeFi. Sebanyak 53% organisasi yang disurvei menyatakan bahwa blockchain sangat kuat, sementara 83% melihat aplikasi DeFi potensial digunakan dalam bisnis mereka.

    Namun, 50% dari responden yang sama menyatakan bahwa masalah terkait privasi masih terbilang sangat kritis. Mengapa? Karena transparansi blockchain umpama pisau yang tajam di kedua sisi.

    Keamanan jaringan DeFi dipertanyakan karena volume dana yang melintasi platform meningkat. Begitu diusut, rupanya serangkaian serangan baru-baru ini terjadi. Dan hal ini mendorong berbagai pihak di belakang DeFi untuk menyusun langkah-langkah perlindungan. Bagaimanapun, DeFi adalah solusi keuangan terdesentralisasi yang penting di masa depan.

    Peretasan Pertama dalam Sistem DeFi

    Sistem DeFi kali pertama diserang oleh peretas pada April 2020. Saat itu, platform peminjaman Uniswap dan Lendf.me yang populer menjadi sasaran serangkaian serangan peretas besar-besaran yang melucuti dana mereka lebih dari US$25 juta.

    Analisis selanjutnya mengungkapkan para peretas dapat mengeksploitasi kelemahan yang telah diidentifikasi sebelumnya oleh OpenZeppelin, sebuah perusahaan keamanan yang berspesialisasi dalam infrastruktur DeFi.

    Setahun setelahnya, masalah ini muncul kembali. Pada Februari 2021, platform bZx yang digunakan untuk perdagangan margin dan peminjaman dihancurkan oleh dua peretas besar. Skema cerdik yang diterapkan oleh para peretas melibatkan manipulasi oracle untuk mencuri dana pengguna melalui penggunaan pinjaman leverage.

    Jangkauan para peretas ini dengan cakupan serangan mereka meningkatkan kesiagaan ekosistem DeFi dalam menghadapi ancaman retasan selanjutnya. Bagaimana tips investasi DeFi dalam situasi ini?

    Baca juga: Mengapa DeFi Bakal Jadi Saingan Sengit Jasa Keuangan Kovensional?

    Jaringan DeFi yang Memang Masih Lemah

    Sebagian besar serangan yang terjadi di DeFi diakibatkan oleh kelemahan dari pihak pengguna yang cenderung ceroboh atau memang audit keamanan yang masih belum optimal.

    Memang, relatif sulit untuk menebak sumber masalah ketika terjadi peretasan dalam sistem DeFi. Terutama lantaran sistem DeFi dibangun dalam jaringan blockchain yang beroperasi dengan prinsip peer-to-peer alias kepercayaan antara sesama pengguna.

    Karena itu, penanganan ketika terjadi peretasan pun akan berbeda dengan sistem yang menggunakan jaringan klien-server. Tips investasi DeFi pun perlu diterapkan dengan perspektif bahwa sistem bergerak dalam tataran desentralisasi. Yakni, kamu perlu mengamankan akunmu, dan ini bersumbangsih mengamankan juga akun orang lain.

    Peretas umumnya menyasar pengguna yang lalai atau mencari kelemahan DeFi dalam infrastruktur yang mendasarinya, bisa lewat pintu belakang jaringan (back-doors atau jaringan) ataupun langsung menyerang akun administrator aktif.

    Sejauh ini, Cost of a Data Breach Report dari IBM menunjukkan rata-rata biaya menanggulangi peretasan di AS telah tumbuh dari US$3,54 juta pada 2006 menjadi US$8,19 juta pada 2019. Peningkatan sebesar 130% terjadi selama 14 tahun. Hal ini terutama diduga karena peningkatan keterampilan si peretas dan tidak diperbaruinya keamanan jaringan oleh pengembang aplikasi.

    Baca juga: Mau Coba Investasi di DeFi? Begini, Lho, Caranya!

    Solusi Berbagai Platform DeFi dalam Hadapi Peretas

    Ada banyak cara yang dapat diterapkan oleh platform DeFi dengan sistem blockchain untuk meningkatkan langkah-langkah keamanannya. Kamu juga bisa terapkan tips investasi DeFi ini jika juga terlibat sebagai pengembang.

    Di antaranya adalah dengan menerapkan pengujian pra-peluncuran yang ekstensif. Tentunya proses ini akan melibatkan penggunaan testnet untuk menyempurnakan kode dan karenanya hanya dapat diakses secara privat di awal, daripada membuatnya menjadi publik secara terbuka sejak awal.

    Testnet tersebut memungkinkan proyek untuk melakukan uji coba yang lebih ketat menggunakan mata uang palsu dan mengandalkan rilis bertahap platform untuk mengecualikan kemungkinan celah yang terlewat.

    Tim pengembang proyek platform DeFi juga dapat memanfaatkan sumber daya penting, yakni para pengguna DeFi. Banyak di antara pengguna DeFi adalah juga pemrogram yang terampil. Tentunya, platform DeFi dapat menawarkan penghargaan (rewards) kepada pengguna untuk mengidentifikasi kelemahan dalam kode.

    Cara ini tentu bisa jadi alternatif selain menyewa perusahaan keamanan yang menawarkan harga mahal. Selain itu, penghargaan bagi pengguna juga bisa menjadi insentif yang kuat bagi komunitas untuk terlibat dan mempercayai produk yang ditawarkan platform tersebut.

    Selain itu, platform DeFi juga dapat menyediakan seperangkat lengkap alat pemantauan metrik yang dapat digunakan untuk mendeteksi aktivitas yang mencurigakan. Lonjakan tiba-tiba di salah satu bagian dapat menunjukkan sinyal serangan peretas. Transaksi besar, permintaan berulang, atau frekuensi operasi dari akun pengguna tertentu dapat menjadi indikasi adanya aktivitas mencurigakan.

    Raze Network Tawarkan Solusi zk-SNARKS

    Memiliki protokol pemantauan atau pengujian pra-peluncuran tentu menjadi fondasi untuk tips investasi DeFi yang aman dari segi platform. Selain itu, platform juga perlu mengembangkan solusi perangkat lunak yang solid. Salah satu solusi yang dapat diandalkan adalah dengan menerapkan Zero-Knowledge Succinct Non-Interactive Arguments of Knowledge alias zk-SNARKS.

    Solusi zk-SNARKS ini dapat mempekerjakan pihak yang bertindak sebagai provers atau verifiers untuk memastikan kebenaran kepemilikan informasi terkait dalam sistem DeFi. Protokol zk-ConSNARKS yang lebih canggih cenderung lebih hemat daya untuk menjaga keamanan dana yang beroperasi dalam jumlah besar.

    Salah satu proyek besar yang menawarkan tips investasi DeFi yang aman dengan solusi semacam itu adalah Raze Network. Jaringan ini menyediakan protokol privasi lintas blockchain berbasis Substrat untuk ekosistem Polkadot. Privasi yang ditawarkan adalah tersedianya anonimitas dari ujung ke ujung platform DeFi dengan sumber daya Web3.0.

    Raze mengandalkan zk-SNARKS yang diterapkan pada kerangka kerja Zether untuk membuat modul terdesentralisasi lapis kedua dengan cara yang sepenuhnya anonim. Ini yang lantas diimpor sebagai kontrak pintar berbasis substrat.

    Solusi ini sejalan dengan tujuan inti Raze Network untuk memastikan pengoperasian sistem pembayaran dan perdagangan yang melindungi privasi lintas rantai sembari memastikan transparansi dan privasi pengguna. Dengan mengandalkan logika aslinya untuk mengubah token platform dasar menjadi token pribadi dengan rasio 1 banding 1, Raze menyediakan anonimitas dengan tiga fungsi: mint, transfer, dan redeem untuk memastikan transaksi yang lancar.

    Kemajuan Keamanan Industri DeFi di Depan Mata

    Setelah hampir sepuluh tahun beroperasi secara online dan terbuka, jaringan blockchain memang masih tertinggal dalam segi keamanan.

    Keadaan ini memang sulit untuk diterima apalagi ketika minat investor sedang tinggi-tingginya terhadap teknologi dan potensi DeFi. Peningkatan dalam skala global semakin tidak terbendung. Karena itulah, pemain sektor DeFi perlu menerapkan tips investasi DeFi yang tepat untuk mengamankan para penggunanya.

    Solusi-solusi keamanan di atas adalah perkembangan sistem DeFi sejauh ini. Jaringan Raze saat ini juga sedang melipatgandakan upaya untuk mengembangkan sistem yang lebih terpercaya dan aman bagi pengguna.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Yahoo! Finance



    Sumber : pluang.com