Author: 09

  • Mengapa NFT Bernilai Tinggi?

    Alasan Di Balik Mahalnya Harga NFT

    Seperti yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya, NFT memiliki kegunaan yang beragam. Apalagi, terdapat berbagai jenis NFT yang tersebar di dunia maya. Nah, karena masing-masing NFT punya nilai guna yang berbeda, maka harganya pun berbeda.

    Konsep ini sejatinya mirip di aset kripto. Nilai Bitcoin dan Ethereum berbeda satu sama lain lantaran masing-masing memiliki nilai guna yang berbeda satu sama lain. Nah, berkaca pada hal tersebut, maka kadar kemahalan NFT sebenarnya terletak dari nilai intrinsiknya.

    Oleh karenanya, tak heran jika harga karya seni seperti Bored Ape, Digital Real Estate, dan Fidenza masing-masing berbeda satu sama lain. Sebab, masing-masing di antaranya punya “nuansa” seni yang berbeda pula.

    Kendati demikian, terdapat pula beberapa alasan lain yang menentukan mahal-murahnya harga NFT. Berikut penjelasannya!

    1. Ukuran Komunitas dan Kegunaan NFT

    Harga sebuah NFT bisa saja ditentukan oleh kemampuannya untuk mengantar pemiliknya ke satu komunitas yang punya skala besar. Mereka yang bergabung ke dalam komunitas tersebut pun tentu akan mendapatkan manfaat-manfaat eksklusif, yang nilainya pun ikut disertakan ke dalam kalkulasi harga NFT.

    Ambil contoh NFT Bored Ape. Secara kasat mata, Bored Ape sepertinya hanya menjual foto-foto profil sekelompok kera yang terlihat sedang bosan dengan hidupnya. Namun, jika Sobat Cuan teliti lebih jauh, NFT Bored Ape sebenarnya adalah kartu keanggotan klub NFT paling hits sejagat bernama Bored Ape Yacht Club.

    Adapun manfaat yang bisa Sobat Cuan terima jika bergabung dengan Bored Ape Yacht Club antara lain:

    1. Airdrop gratis bernilai US$10.000.
    2. Mendapatkan aset kripto gratis untuk ikut serta di tata kelola jaringannya.
    3. Akses gratis dan luas untuk bertemu sosok-sosok tersohor.
    4. Bisa menjalin koneksi langsung dengan individu-individu yang memiliki kekayaan bersih bernilai jumbo.
    5. Mendapatkan akses merchandise yang bisa bernilai tinggi jika dijual kembali.

    Setiap komunitas yang terhubung dengan NFT tentu memberikan manfaat yang berbeda-beda bagi anggota. Sehingga, harga NFT Bored Ape mungkin akan jauh berbeda dibandingkan NFT komunitas lain yang menawarkan manfaat lebih kecil.

    Selain itu, potensi manfaat NFT di masa depan juga terbilang tak terbatas. Pasti Sobat Cuan tak sabar untuk melihat perkembangan NFT berbasis komunitas ini ke depan, bukan?

    2. Kemampuan NFT Untuk Mendulang Pendapatan

    Seperti yang disinggung di artikel sebelumnya, pemilik NFT bisa mendapatkan manfaat dalam bentuk “bagi hasil” pendapatan atas sebuah karya atau barang tertentu. Nah, seberapa tinggi kemampuan karya tersebut dalam mendulang cuan pun ikut menentukan harga NFT yang bakal dilempar ke publik, lho!

    Misalnya, jika Sobat Cuan memiliki NFT milik Lil Pump, maka kamu berkesempatan mendapatkan akumulasi royalti dari hasil streaming, lisensi, dan lainnya. Namun, kamu harus membeli NFT dengan harga lebih mahal jika NFT tersebut juga memungkinkanmu menerima pendapatan dari sumber lain selain streaming dan lisensi.

    3. Aset Metaverse dan Kegunaannya

    Metaverse adalah versi daring dari segala kegiatan yang umum dilakukan masyarakat di dunia. Berkaca dari premis tersebut, maka penghuni metaverse tentu bisa memiliki aset layaknya kehidupan di dunia nyata.

    Nah, aset-aset digital ini tentu dibeli menggunakan aset kripto, sehingga mereka pun punya nilai pasarnya masing-masing. Bahkan, aset-aset tersebut juga memberikan nilai kebermanfaatan di jagat metaverse. Beberapa contoh aset tersebut antara lain:

    1. Benda-benda (item) yang dapat meningkatkan kemampuan karakter di metaverse.
    2. Mobil, kapal pesiar, dan alat transportasi pribadi yang lalu lalang di kancah metaverse.
    3. Hewan virtual yang bisa dikembangbiakkan untuk melahirkan hewan baru yang punya tipe fisik dan karakteristik yang bisa dimodifikasi sesuai keinginan “majikannya”. 

    4. NFT Merupakan Representasi dari Real Estat Digital

    Kadang, beberapa NFT hadir dalam bentuk, atau terikat, dengan properti yang tersedia di metaverse. Sehingga, nilai NFT yang terkait dengan aset properti akan berharga mahal jika properti metaverse tersebut juga ditaksir bernilai tinggi.

    Hanya saja, apakah lahan virtual benar-benar punya nilai layaknya tanah di dunia nyata?

    Saat ini, lahan virtual di metaverse terbilang lapang. Namun, banyak pihak percaya bahwa apresiasi harga lahan di metaverse akan meningkat di masa depan seiring pesatnya pertumbuhan jagat investasi kripto.

    Nah, dua faktor tersebut bikin orang memborong lahan di metaverse, karena mereka merasa bahwa membeli tanah virtual saat ini ibarat membeli beberapa bidang tanah di Manhattan, New York pada 1750-an silam. Dengan kata lain, apresiasi harga aset tersebut baru akan terasa signifikan di tahun-tahun mendatang.

    Terlebih, dunia metaverse seperti Decentraland, The Sandbox, atau Cryptovoxels memiliki suplai lahan yang terbatas. Sehingga, jika permintaan lahan di dunia metaverse meningkat, maka ketatnya suplai tersebut akan membawa harga lahan metaverse membumbung tinggi di masa depan.

    Selain karena apresiasi harga tanah yang diramal bakal meroket, komunitas kripto juga memborong lahan metaverse atas alasan monetisasi. Ya, ketika mereka sudah memiliki kavling di metaverse, mereka bisa memanfaatkannya untuk kegiatan komersial, misalnya membangun dan menyewakan kantor virtual atau toko virtual ke penghuni metaverse lainnya.

    5. Harga NFT Ditentukan oleh Kemampuannya untuk Membangun Citra Publik Pemiliknya

    Jenis NFT seperti foto profil (Profile Pictures/PFP) dan aset metaverse adalah sarana bagi pemiliknya untuk menunjukkan identitas dirinya masing-masing. Selain itu, NFT jenis tersebut juga memungkinkan pemiliknya untuk membangun image publik.

    Sebagai contohnya, anggap saja Sobat Cuan memasang foto profil akun Instagram-mu dengan bergaya di atas puncak gunung. Secara tidak langsung, melalui foto tersebut, tentu kamu ingin orang lain menganggap bahwa kamu adalah sosok yang menyukai alam dan petualangan.

    Nah, NFT jenis PFPs dan aset di metavese juga punya kemampuan serupa.

    Kadang, beberapa pemilik NFT ingin menunjukkan bahwa mereka adalah individu yang pintar, sukses, keren, dan berselera tinggi. Makanya, mereka rela merogoh kocek hingga jutaan Dolar AS hanya demi mendapatkan NFT PFPs yang sesuai dengan citra yang ingin mereka bangun.

    Kondisi ini serupa dengan membeli jam Rolex seharga US$50.000. Para pembeli arloji tersebut tentu tidak membeli Rolex karena manfaatnya sebagai penunjuk waktu. Malahan, mereka membeli arloji tersebut sebagai sinyal bahwa mereka adalah orang-orang sukses dan mampu membeli benda-benda mahal.

    Seiring perkembangan zaman, masyarakat pun kini mulai menganggap penting citranya di ranah digital. Memang, mereka tidak bisa memamerkan jam Rolex mewahnya ke orang lain di kehidupan dunia maya. Namun, ketika mereka memasang foto profil seperti Cryptopunk atau Bored Ape, mereka ingin memberitahu orang lain bahwa mereka adalah golongan individu paling awal yang menggunakan NFT di dunia ini.

    6. Harga NFT Ditentukan oleh Kelangkaannya

    Saat ini, orang-orang tajir sejagat sedang kepincut untuk berkecimpung di jagat kripto. Contoh gampangnya adalah punggawa Tesla sekaligus miliarder Elon Musk yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada dunia kripto.

    Layaknya orang kaya pada umumnya, mereka pun tentu akan mengoleksi benda-benda eksklusif dan langka yang tersedia di jagat maya. Misalnya, jika mereka doyan berburu lukisan-lukisan mahal di dunia nyata, maka tentu mereka juga akan melakukan hal tersebut di dunia maya, bukan?

    Nah, di jagat kripto, NFT karya seni digital, PFPs, dan aset metaverse kerap dikumpulkan oleh para kolektor lantaran benda-benda tersebut bersifat langka dan punya relevansi secara sejarah. Tak heran jika kemudian kelompok tajir tersebut juga rela menggelontorkan uang yang tak sedikit untuk mengantongi benda-benda eksklusif tersebut.

    Namun pertanyaannya, apakah permintaan akan barang-barang langka tersebut benar-benar bakal meningkat di masa depan?

    Memang, terdapat beberapa pihak yang sangsi mengenai aspek kelangkaan dari benda-benda koleksi digital. Mereka berargumen bahwa benda-benda tersebut tidak bisa dirasakan secara fisik dan bisa direproduksi dengan mudah karena sifatnya yang digital.

    Namun, Sobat Cuan perlu ingat bahwa Bitcoin (BTC) juga tak punya bentuk fisik dan nilainya terus bertumbuh sejak pertama kali diluncurkan pada 2009 silam. Hal ini membuktikan bahwa konsep “nilai” atas sebuah benda kini sudah bergeser ke kancah digital.

    Apakah NFT Bisa Disalin?

    Potensi harga NFT memang menggiurkan ya, Sobat Cuan. Namun, khusus bagi mereka yang tak mampu membeli NFT, apakah mereka secara otomatis bisa mendapatkan NFT (misalnya NFT PFPs) hanya dengan mengambil screenshot atas karya seni itu di ponsel mereka?

    Upaya tersebut sejatinya patut diacungi jempol. Tapi, hal itu tak serta merta bikin mereka menjadi pemilik sesungguhnya dari NFT yang dimaksud.

    Konsepnya mirip seperti contoh berikut. Anggap saja kamu googling lukisan Mona Lisa di ponselmu dan mengunduhnya. Sementara itu, di waktu yang sama, kamu ternyata juga memiliki teman yang bahkan rela terbang jauh-jauh ke Paris, Perancis hanya untuk mengambil foto Mona Lisa secara langsung.

    Setelah melakukan hal tersebut, apakah kamu bisa dibilang sebagai pemilik sah lukisan Mona Lisa? Atau malah temanmu yang pergi ke Paris yang justru dinobatkan sebagai pemilik sah Mona Lisa? Jawabannya, sudah pasti bukan dua-duanya.

    Sehingga, kalau pun kamu menjual hasil tangkapan layar atau foto Mona Lisa asli dari Paris ke orang lain, maka harganya pun paling bernilai recehan.

    Sekadar informasi, nilai NFT terletak dari aspek kepemilikan NFT orisinilnya. Jadi, kamu boleh saja mengambil tangkapan layar Cryptopunk, tapi hanya pemilik Cryptopunk yang asli sajalah yang mampu menjualnya dengan harga hingga jutaan Dolar AS.

    Masih menyoal tentang karya seni, ternyata kehadiran NFT berhasil memecahkan dua masalah “kronis” menyangkut benda-benda koleksi. Masalah tersebut adalah:

    1. Orang lain bisa membuktikan kepemilikan dan keaslian dari benda-benda koleksi. Selama ini, banyak kolektor tertipu dengan benda-benda koleksi bodong. Nah, hal tersebut tak berlaku jika karya seni ditransformasikan ke dalam bentuk NFT.
    2. Karena data terkait kepemilikan dan keaslian benda koleksi berada di blockchain publik, maka semua orang bisa mengakses data-data tersebut.

    Kenapa NFT Disebut Sebagai ‘Hal Fenomenal di Masa Depan’?

    Memang, tak semua orang awam memahami logika di balik NFT. Mereka pasti berpikir bahwa sebenarnya benda-benda digital tersebut tak berharga lantaran hanya berbentuk digital. Mungkin, mereka juga menganggap bahwa mengoleksi NFT adalah hal percuma lantaran barangnya saja tidak bisa disentuh.

    Namun, Sobat Cuan perlu ingat bahwa keraguan serupa juga pernah menyerang Bitcoin pada 2011. Saat itu, banyak pihak meragukan kemampuan Bitcoin sebagai aset digital. Tapi, kini kamu bisa melihat sendiri bahwa anak-anak nongkrong di kafe bahkan menginginkan Bitcoin sebagai hadiah ulang tahunnya.

    Ini menjadi alasan mengapa banyak pihak menyamakan aksi borong NFT saat ini sebagai aksi beli Bitcoin di 2011 silam. NFT adalah sebuah benda yang tengah berkembang dengan potensi-potensi baru di masa depan yang belum bisa dirasakan umat manusia saat ini. Tentu saja, potensi-potensi tersebut diharapkan akan menghasilkan cuan bagi pemiliknya.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal CryptoPunks, Pionir Proyek NFT di Dunia

    Sekilas Mengenai CryptoPunk

    CryptoPunk adalah salah satu proyek NFT paling awal di dunia yang diluncurkan 2017 silam. Proyek yang diciptakan oleh Larva Labs tersebut merupakan koleksi berisi 10.000 gambar berukuran 24×24 piksel yang memperlihatkan karakter yang disebut “punks”. Masing-masing karakter tersebut punya ciri khas tersendiri, mulai dari jenis kelamin, bentuk kaca mata, hingga penutup kepala.

    Karya-karya CryptoPunk awalnya dirilis secara gratis. Namun, kini satu karya CryptoPunk bisa bernilai hingga ratusan ribu Dolar AS. Bahkan, koleksi langka CryptoPunk seperti alien, kera, dan zombies, kini dibanderol jutaan Dolar AS!

    Peminat karya seni Cryptopunk pun bukanlah pihak-pihak sembarangan. Raksasa sistem pembayaran Visa, misalnya, membeli CryptoPunk #7610 sebagai bagian dari koleksinya yang bertema “artefak bersejarah”.

    Selain itu, selebriti dan tokoh penting dunia berikut juga memiliki CryptoPunk, di antaranya adalah:

    1. Snoop Dogg
    2. Kanye West
    3. Gary Vaynerchuk
    4. Marshmello
    5. Jason Derulo
    6. Jordan Belfort
    7. Serena Williams
    8. Steve Aoki
    9. Logan Paul

    Mengapa Cryptopunk Berharga?

    Seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya, kolektor karya seni doyan mengumpulkan NFT karya seni digital, PFPs, dan aset metaverse lantaran bersifat langka dan punya relevansi secara sejarah. Kondisi ini juga menarik minat orang-orang tajir untuk ikut berburu benda-benda yang dimaksud.

    Layaknya di dunia nyata, mereka yang merupakan kaum berduit akan rela merogoh dalam koceknya hanya demi mengantongi koleksi-koleksi seni eksklusif. Nah, seiring perilaku masyarakat yang kini mulai bergeser ke digitalisasi, maka perilaku yang sama pun ikut mereka terapkan di jagat maya.

    Namun, aset digital dan blockchain apa saja yang diburu oleh kaum-kaum tajir tersebut? Jawaban utamanya mungkin adalah CryptoPunk. Sebab, CryptoPunk adalah proyek orisinil dan penting di jagat NFT.

    Alasannya sederhana, Sobat Cuan. Nilai suatu benda akan menjadi bernilai jika statusnya adalah “superstar” dan punya asosiasi publik yang cukup tinggi. Faktor ini yang jadi alasan mengapa pemain NBA Michael Jordan menerima bayaran lebih tinggi dari pemain basket lainnya. Ini juga yang melandasi mengapa Facebook menguasai pangsa pasar industri media sosial saat ini dan akhirnya menjadi salah satu perusahaan paling bonafide sejagat.

    Ketika sebuah benda menjadi pusat perhatian, maka benda tersebut akan memperoleh exposure, kesempatan untuk dikenal orang, dan nilai yang lebih tinggi dari sesamanya.

    Apalagi, benda-benda yang dianggap sebagai “bintang utama” di jagatnya masing-masing punya citra khusus yang tak bisa dikejar kompetitornya, yang kerap disebut sebagai halo effect. Contoh gampang halo effect adalah Bitcoin vs Ethereum.

    Meski Ethereum menawarkan lebih banyak nilai manfaat dibanding Bitcoin, namun Ethereum, hingga saat ini, belum mampu menyalip Bitcoin dari segi kapitalisasi pasar. Lagipula, kamu pasti akan mengatakan “Bitcoin” sebagai koin yang pertama kamu sebut ketika memberi contoh-contoh aset kripto ke temanmu.

    Sementara itu, ketika kamu memperkenalkan NFT ke temanmu, mungkin saja kamu akan menyebut CryptoPunk sebagai contoh proyek NFT yang bakal kamu jabarkan. 

    Intinya, Cryptopunk adalah pusat dari semesta bernama NFT. Bahkan, ibarat saham, Cryptopunk adalah NFT yang menyandang status “blue chip“.

    Bagaimana Cara Menilai CryptoPunk?

    Untuk menilai satu NFT Cryptopunk, maka Sobat Cuan harus memahami bahwa satu karya Cryptopunk ternyata 2.100 kali lebih langka ketimbang Bitcoin.

    Hanya saja, menilai satu benda yang tak berwujud seperti CryptoPunk tentu tak hanya tergantung dengan kelangkaannya semata. Terlebih, komunitas kripto sejatinya sulit untuk mengukur harga satu aset yang tak berwujud seperti NFT.

    Lantas, bagaimana cara Sobat Cuan melakukan valuasi atas CryptoPunk? Nah, untuk memudahkanmu, berikut adalah aspek-aspek yang perlu kamu pertimbangkan.

    1. Seberapa besar permintaan global akan aset-aset langka saat ini?
    2. Seberapa besar kemungkinan bahwa aset digital akan menjadi aset-aset paling berharga di masa depan?
    3. Apakah ada kemungkinan NFT-NFT generasi awal bakal dianggap sebagai aset digital yang paling langka sejagat?

    Menimbang kerangka pikir di atas, maka Sobat Cuan bisa memproyeksikan seberapa besar nilai CryptoPunk di masa depan mengingat suplainya hanya 10.000 CryptoPunk saja.

    Kendati status superstar-nya di jagat NFT, CryptoPunk sejatinya bukanlah proyek NFT pertama di dunia. Secara teknis, ia adalah proyek NFT ke-17 tertua di dunia.

    Meski begitu, Cryptopunk tetap dianggap sebagai proyek NFT yang paling menginspirasi proyek-proyek NFT lainnya untuk terus bermekaran.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal BAYC, Jenama Web 3.0 Pertama Sejagat

    Apa Itu Bored Ape Yacht Club?

    Mirip seperti CryptoPunks, Bored Ape Yacht Club (BAYC) adalah satu koleksi karya seni yang berisikan 10.000 NFT avatar. Namun, avatar milik BAYC punya satu ciri khas, yakni semuanya menampilkan kera-kera yang doyan memasang tampang bete dengan ciri khasnya masing-masing. Contohnya bisa Sobat Cuan lihat melalui ilustrasi berikut.

    Selain itu, Bored Ape juga berfungsi sebagai kartu keanggotaan klub yacht, di mana anggotanya bisa mengakses beberapa manfaat yang eksklusif.

    Lantas, bagaimana BAYC membayar semua fasilitas dan manfaat-manfaat eksklusif tersebut?

    Jadi begini, Sobat Cuan. Tim pengembang BAYC, Yuga Labs, akan memperoleh royalti sebesar 2,5% dari nilai penjualan Bored Ape jika karya seni tersebut dijual di pasar sekunder. Nah, seiring meningkatnya pamor BAYC, maka harga satu gambar Bored Ape pun akan semakin mahal. Sehingga, nilai nominal atas porsi royalti sebesar 2,5% yang dikantongi Yuga Labs pun akan semakin membesar seiring semakin mahalnya harga Bored Ape.

    Sebagai gambaran, tim BAYC memperoleh 800 ETH ketika meluncurkan dan menjual seluruh Bored Apes milik mereka pada April 2021. Setahun kemudian, mereka justru mendapatkan sekitar 14.750 ETH hanya dari royalti di pasar sekunder. Bahkan, kalau ditambah penjualan mutan, pundi-pundi keuangan mereka bertambah sekitar 10.000 ETH.

    Keuntungan melimpah ini digunakan BAYC untuk mendanai berbagai manfaat eksklusif bagi anggotanya dan mengembangkan jenama tersebut secara signifikan.

    Potensi bisnis inilah yang membuat banyak orang mempertimbangkan untuk nyemplung ke kancah NFT dan Web3 dan menganggap keduanya adalah masa depan bisnis yang menjanjikan.

    Mengenal Proyek Lain ‘Karib’ BAYC

    Selain BAYC, Yuga Labs juga mengembangkan Bored Ape Kennel Club (BAKC), yakni sebuah “hewan peliharaan” berupa “anjing digital” yang dididstribusikan melalui airdrop ke para anggotanya. Namun, jika sang pemilik ingin menjual BAKC-nya ke pasar sekunder, maka hasil penjualannya akan disalurkan untuk kegiatan amal.

    Tak cuma itu, kolektor juga bisa “menyuntik” avatar Bored Ape milik mereka menggunakan beberapa dosis “serum” agar bisa berevolusi menjadi Mutant Apes. Nah, serangkaian Mutant Apes ini, yang berjumlah 20.000 gambar, termasuk ke dalam koleksi NFT bernama Mutant Ape Yacht Club (MAYC).

    Selain melalui serum, Mutant Apes juga tercipta melalui pencetakan NFT (minting) di pasar NFT publik.

    Sama seperti BAYC, Mutant Apes juga berfungsi sebagai tanda keanggotaan komunitas MAYC meski manfaat keanggotaannya tak se-eksklusif BAYC. Namun, keanggotaan MAYC memungkinkan penggemar baru Bored Ape untuk ikut serta di ekosistem BAYC melalui tingkatan keanggotaan paling rendah.

    Nah, baik BAYC, MAYC, dan BKAC tergabung ke dalam satu ekosistem yang disebut sebagai ekosistem APE. Pasalnya, seluruh produk dan jasa yang terdapat di dalamnya menggunakan token Apecoin (APE) sebagai alat tukar resminya. Kata APE sendiri terinspirasi dari meme kripto zaman dulu yang merujuk “ape” sebagai investor yang nekat nyemplung ke kancah kripto tanpa melakukan riset terlebih dulu.

    Mengapa NFT BAYC Bernilai Tinggi?

    Potensi NFT BAYC di pasar sekunder, seperti yang dijelaskan di atas, memang terlihat mantap. Namun, Sobat Cuan mungkin bertanya-tanya dalam hati: Kok bisa sih 10.000 gambar kera yang terlihat sedang bosan bisa bernilai cukup tinggi di pasaran?

    Nah, situasi BAYC ini sejatinya setali tiga uang dengan situasi yang terjadi pada jenama fesyen Supreme.

    Banyak orang suka pada Supreme. Tapi, sebagian lainnya justru mengolok-oloknya karena harganya dianggap berlebihan. Bayangkan saja, Supreme pernah menjual batu bata seharga US$1.000 per buah. Batu batanya sih terlihat biasa-biasa saja, namun yang bikin spesial adalah cap “Supreme” di atas batu bata tersebut.

    Kendati menuai pro dan kontra di masyarakat, produk fesyen Supreme nyatanya tetap dikenakan oleh selebriti internasional karena beberapa item-nya terbilang langka. Jenama Supreme pun terbilang kuat lantaran mereka punya berbagai lini produk, mulai dari pakaian hingga mesin pinball. Hasilnya, Supreme pun kini sukses menjelma jadi perusahaan bernilai US$2 miliar.

    Tapi, mengapa ada sebagian masyarakat yang doyan mengenakan Supreme? Mungkin, mereka ingin menonjolkan citra dirinya sebagai orang yang cool di hadapan orang lain.

    Menurut mereka, mengenakan Supreme adalah statement mengenai diri mereka sendiri. Bahkan, ada beberapa orang yang mengaitkan kepribadiannya dengan mengenakan Supreme. Unik, bukan?

    Selain itu, mereka pun doyan mengoleksi pakaian Supreme karena suplainya dianggap langka dan punya nilai tinggi jika pakaian-pakaian itu dijual kembali.

    Situasi serupa ternyata mirip dengan BAYC. Baik Supreme maupun BAYC dianggap sebagai bagian dari starterpack orang-orang keren. Sobat Cuan pasti bakal auto disebut “si yang paling gaul” di internet jika memasang avatar BAYC di profil akun media sosialmu.

    Selain itu, BAYC juga memiliki merchandise fisik yang cepat ludes di pasaran lantaran bisa bernilai lima hingga 10 kali lebih mahal jika dijual kembali. Lebih lanjut, pemilik Bored Ape pun rela menunggu berjam-jam di toko pop-up Bored Ape di New York hanya demi mendapatkan tiket eksklusif pesta Bored Ape Yacht. Kondisi ini sangat mirip dengan ratusan orang yang rela antre di depan toko Supreme hanya demi mendapatkan koleksi teranyarnya.

    Mengenal BAYC Sebagai Jenama Web3 Terbesar Sedunia

    Meski Supreme dan BAYC dikenal sebagai bagian dari cool culture, terdapat perbedaan besar di antara keduanya. BAYC adalah jenama Web3 desentralisasi, sehingga BAYC terbilang punya potensi tinggi untuk berkembang d masa depan. Bahkan, BAYC kini sukses menjadi jenama Web3 terbesar di dunia.

    Tapi, apa sih arti jenama Web3?

    Nah, jenama (brand) Web3 adalah sebuah jenama yang terdesentralisasi, umumnya melalui organisasi otonom terdesentralisasi (DAO), token, atau NFT. Contoh nyatanya, misal, kamu bisa memiliki sebagian dari BAYC hanya dengan memiliki NFT Bored Ape.

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Web3 bersifat publik sejak awal. Kegiatan apapun yang terjadi di dalamnya diciptakan oleh dan ditujukan kepada komunitas. Oleh karenanya, tak heran jika prinsip esensial dari Web3 adalah sifatnya yang memungkinkan masyarakat untuk menggenggam sebagian “kepemilikan” dari proyek-proyek di dalamnya.

    Karakteristik ini merupakan kebalikan dari model bisnis internet saat ini, di mana hanya firma investasi dan orang-orang tajir saja yang berhak memiliki kepemilikan di satu proyek atau perusahaan. Sementara itu, pihak-pihak yang menciptakan nilai bagi jenama tersebut, yakni melalui pembelian produk dan promosi paling gencar, hanya dianggap sebagai konsumen semata.

    Nah, sekarang, mari tempatkan konteks di atas ke kasus Supreme versus BAYC.

    Pada kasus Supreme, kamu tentu bisa menjadi pemilik produk fesyen keren tersebut, tapi kamu hanya akan dianggap sebagai konsumen Supreme saja. Sementara itu, di BAYC, kamu bisa mendapatkan produk BAYC (yakni NFT Bored Ape) sekaligus menjadi salah satu pemilik jenama BAYC. Apalagi, kamu juga memiliki aset berupa NFT yang nilainya bakal berkembang seiring meningkatnya popularitas jenama tersebut.

    Ya, BAYC tak hanya memberikan manfaat eksklusif bagi anggotanya. Namun, klub NFT hits sejagat ini juga memungkinkan anggotanya untuk memiliki kepemilikan dan hak-hak komersial penuh yang menyangkut koleksi Bored Ape-nya masing-masing. Sehingga, mereka bisa melisensikan NFT Bored Ape-nya demi mendapatkan royalti.

    Salah satu contohnya adalah aksi perusahaan rekaman global, Universal Music, yang menciptakan satu grup musik beranggotakan avatar Bored Apes. Ternyata, masing-masing pemilik Bored Apes di dalam band tersebut bisa memperoleh royalti atas penggunaan musik secara komersial plus persentase hasil penjualan single-nya.

    Bahkan, Universal Music juga akan menjual penampilan kera-kera tersebut dalam bentuk NFT. Inovasi ini memungkinkan penggemarnya untuk merasakan pengalaman mendengarkan musik yang unik, sekaligus ladang cuan baru bagi sang pemilik avatar Bored Apes.

    Nah, hal tersebut hanyalah cuplikan dari potensi bisnis BAYC yang lebih luas di masa depan. Bayangkan jika jenama BAYC semakin berkembang di masa depan, maka bukan tidak mungkin mereka yang punya NFT Bored Ape akan kebanjiran permintaan dari beberapa perusahaan untuk melisensikan Bored Ape miliknya.

    Jadi, meski kini Supreme bernilai lebih dari US$2 miliar, tetapi nilai dari BAYC justru terletak dari potensi cuan yang bisa dihasilkan dari masing-masing gambar kera tersebut. Apalagi, BAYC kini sudah meluncurkan token utilitas bernama Apecoin, game blockchain, dan DAO. Sehingga, BAYC diharapkan bisa tetap menyandang status sebagai “NFT kelas atas” di masa depan.

    Siapa Saja Pemilik Bored Ape?

    Berikut adalah selebritas atau tokoh terkenal dunia yang memiliki Bored Ape

    1. Jimmy Fallon
    2. Justin Bieber
    3. Stephen Curry
    4. Eminem
    5. Paris Hilton
    6. Snoop Dogg
    7. Shaq O’Neal
    8. The Chainsmokers
    9. Logan Paul
    10. Timbaland
    11. Steve Aoki
    12. Mike Shinoda (Linkin Park)



    Sumber : pluang.com

  • CryptoPhunk, Jiplakan CryptoPunk yang Jadi Simbol Gerakan NFT

    Apa Itu CryptoPhunks?

    CryptoPhunks adalah versi punk dari CryptoPunk. Masing-masing karakter CryptoPhunk mirip seperti CryptoPunk, bahkan sama-sama berjumlah 10.000 gambar dan punya ciri khas tersendiri. Namun bedanya, wajah masing-masing avatar tersebut menoleh ke kiri, bukan ke kanan seperti CryptoPunk.

    Sehingga, jika disimpulkan, CryptoPhunks bisa disebut sebagai tiruan dari CryptoPunk. Namun, kehadiran CryptoPunk bukanlah sekadar menjadi barang “bajakan” semata. Ia merepresentasikan gerakan baru di kancah Web3.

    Mengapa Proyek NFT CrytoPhunk Menjadi Sorotan?

    Saat ini, jagat Web3 dan NFT mengimplementasikan sistem hukum hak cipta yang sama dengan yang diterapkan di Web2. Dalam artian, pemilik NFT tidak bisa memanfaatkan karya seninya untuk kepentingan komersial karena dianggap bukan pemilik sah atas karya seni tersebut.

    Padahal, mereka yang berkecimpung di dunia Web3 seharusnya benar-benar menjunjung tinggi semangat desentralisasi dan hak kepemilikan pribadi.

    Berkaca pada peristiwa tersebut, CryptoPhunk percaya bahwa mereka harus bersuara dan mengambil tindakan terkait semangat anti-sensor, menegakkan semangat kebebasan berpendapat, dan menjunjung spirit desentralisasi di Web3. Dengan kata lain, CryptoPhunk hadir untuk menantang implementasi sistem Web2 di kancah Web3.

    Lebih jauh lagi, CryptoPhunk juga bertujuan untuk “mendobrak batas-batas” yang ada demi menetapkan fondasi bagi jagat NFT yang ideal di masa depan, di mana NFT bisa menjadi daya ungkit bagi dua karakter utama teknologi blockchain: kepemilikan dan otentikasi.

    Uniknya, pihak CryptoPhunks menyuarakan perjuangannya melalui selembar surat terbuka kepada pengembang CryptoPunk, Larva Labs. Sobat Cuan bisa membaca surat terbuka tersebut, yang ternyata dijual sebagai NFT senilai 5 ETH, di sini!

    Kemudian, banyak tokoh tersohor, baik di dunia nyata maupun dunia kripto, yang tertarik memiliki CryptoPhunk. Biasanya, mereka membeli CryptoPhunks karena ingin menemai “saudara kembarnya” yang berupa CryptoPunk.

    1. Calvin Chu (Impossible Finance, Ex-Binance)
    2. VincentVanDough
    3. Starry Night collection
    4. 4156 (former Punk advocate)
    5. Crypto888crypto
    6. Tyga (T-Raww)
    7. Method Man (Wu Tang Clan)

    Mengenal Lebih Jauh Gerakan CryptoPhunks

    CryptoPhunks menyebut poin-poin berikut sebagai inti dari perjuangan mereka di dunia NFT.

    1. Web3 dan blockchain.
    2. Desentralisasi.
    3. Kebebasan pendapat dan penghilangan sensor.
    4. Masyarakat.
    5. Membinasakan platform NFT OpenSea karena dianggap menerapkan praktik sentralisasi dan melakukan etika bisnis yang dipertanyakan.

    Meski awalnya berbentuk gerakan untuk “memurnikan” semangat Web3, CryptoPhunks kini justru menjelma menjadi proyek NFT yang sukses gara-gara semangat yang diusungnya. Beberapa konsep dasar yang menjadi kunci kesuksesan CryptoPhunks antara lain:

    1. Gerakan Desentralisasi dan Web3

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, CryptoPhunks merepresentasikan perjuangan untuk menjunjung semangat desentralisasi dan Web3. Sehingga, jika kamu memasang karakter Phunk sebagai foto profil di media sosialmu, maka kamu akan dianggap sebagai mereka yang membela kebebasan Web3 dan menjunjung nilai-nilai kripto. 

    2. Punya Nilai Sejarah

    Setelah diluncurkan pada Juni 2021, CryptoPhunks pernah didepak dari platform NFT OpenSea pada tiga kesempatan berbeda. Bahkan, CryptoPhunks juga menjadi proyek NFT pertama yang memperoleh peringatan resmi terkait undang-undang hak cipta digital dari Larva Labs.

    Namun, upaya sensor terhadap karya-karya CryptoPhunks tersebut membuat publik semakin sadar dan paham mengenai aksi yang ingin dilakukan Larva Labs. Nah, peristiwa “bersejarah” di kancah NFT inilah yang malah membuat kolektor ingin mengoleksi benda-benda besutan CryptoPhunks tersebut.

    Tapi, aksi kolektor tersebut sebenarnya sah-sah saja, Sobat Cuan.

    Biasanya, sebuah benda memang langsung terkenal jika menyimpan signifikansi sejarahnya tersendiri. Sehingga, bagi Cryptophunks, nilai karya-karyanya bukan terletak dari anggapan masyarakat terkait apakah bendanya benar-benar berharga atau tidak. Nilai CryptoPhunks justru terletak di kemampuannya dalam menciptakan kontroversi baru dan, tentu saja, menyebarkan semangat Phunks di jagat NFT.

    3. Hak Cipta Karya dan Lisensinya

    Di sebagian belahan dunia, undang-undang hak cipta disusun sebelum kelahiran internet, apalagi blockchain dan Web3. Makanya, tak heran jika beberapa proyek NFT masih menganut aturan hak cipta yang “kolot” tersebut meski proyeknya berada di jagat Web3, yang seharusnya sarat dengan semangat desentralisasi.

    Ambil contoh kasus CryptoPunks.

    Sebenarnya, ketika Sobat Cuan memiliki CryptoPunk, maka kamu hanya memiliki tokennya saja. Tetapi, kamu tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan komersial atau melisensikan kembali karya seni milik CryptoPunk. Pasalnya, hanya Larva Labs saja yang berhak menggunakan hak cipta dan mendulang cuan dari CryptoPunk meski karya seninya sudah jatuh ke tanganmu.

    Kondisi berbeda akan terasa ketika kamu memiliki karya seni Bored Ape. Jika kamu memiliki satu karya seni Bored Ape, maka kamu bebas menggunakannya untuk kegiatan komersial apapun. Kamu bisa membuat Bored Ape milikmu jadi bintang iklan, model merchandise, dan sebagainya tanpa harus terbentur urusan hak cipta.

    Nah, ternyata, Larva Labs tidak memberikan panduan yang jelas kepada kolektornya terkait hak cipta, lisensi, dan pemanfaatan komersial atas karya-karya seni digital tersebut. Alhasil, banyak pengguna yang menyampaikan kekesalannya ke Larva Labs lantaran lalainya sang pengembang dalam mengomunikasikan aspek tersebut.

    Bahkan, ada kalanya Larva Labs cuek dengan permintaan kolektornya yang ingin meminta kejelasan terkait penggunaan hak cipta CryptoPunks.

    Salah satu kasusnya terjadi pada Punk4156 yang membeli CryptoPunk senilai 650 ETH atau US$1,25 juta di Februari 2021, yang kala itu juga menjadi nilai penjualan CryptoPunk tertinggi sepanjang sejarah.

    Setelah itu, Punk4156 ingin berkomunikasi langsung mengenai perkara hak cipta CryptoPunk mahalnya dengan Larva Labs. Sayangnya, Larva Labs tidak mengacuhkannya. Malahan, Larva Labs justru me-unfollow Punk4156 di media sosial Twitter. Akibatnya, Punk4156 jadi kesal dengan CryptoPunks, menjual karya seni CryptoPunk-nya, dan kemudian membeli CryptoPhunk.

    Namun, kenapa pilihannya jatuh ke CryptoPhunks?

    CryptoPhunks memberlakukan sistem hak cipta tersendiri bernama CC0, di mana setiap kolektornya punya hak penuh terhadap token plus hak cipta atas karya seni yang dimilikinya. CryptoPhunks percaya bahwa seluruh seni haruslah bersifat terbuka bagi publik untuk digunakan, dimodifikasi, atau ditransformasukan.

    Jika Sobat Cuan tertarik membedah CC0, maka kamu bisa menuju laman berikut.

    Disebut Jiplakan, Apakah CryptoPhunks Bakal Bernilai di Masa Depan?

    Banyak pihak yang sinis dengan CryptoPhunks. Alih-alih menganggapnya sebagai gerakan, mereka mengatakan bahwa CryptoPhunks hanyalah karya seni yang malu-maluin karena bermodal copy-paste semata.

    Di sisi lain, banyak pula pihak yang mendukung CryptoPhunks karena kesal dengan kebijakan hak cipta CryptoPunks. Apalagi, mereka juga tertarik dengan konsep seni dan parodi yang ditawarkan CryptoPhunks.

    Hanya saja, perdebatan ini bisa dibilang cuma debat kusir semata dan tak akan ada habisnya. Jika Sobat Cuan menghindari perdebatan itu dan memilih mengobservasi jagat NFT secara detail, maka kamu bisa menemukan bahwa investor kawakan dan manajemen investasi NFT ternyata punya kelolaan aset dalam bentuk NFT CryptoPhunks dalam jumlah tak sedikit.

    Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: apakah memang CryptoPhunks benar-benar bernilai di masa depan meski hanya dianggap “jiplakan”?

    Untuk mengetahui jawabannya, Sobat Cuan bisa menyimak teori-teori ihwal valuasi masa depan CryptoPhunks berikut!

    1. Teori Alt-Punk

    Di artikel mengenai CryptoPunk, Sobat Cuan telah membaca bahwa CryptoPunk bisa disebut sebagai “Bitcoin-nya” atau versi pionir dari NFT.

    Tapi, layaknya terjadi di pasar aset kripto, dominasi BTC kemudian tergerus seiring maraknya koin-koin baru alternatif BTC yang kemudian disebut altcoin. Meski memang, pergerakan nilai altcoin tersebut sedikit banyak terikat dengan maju-mundurnya nilai BTC.

    Nah, banyak pihak mengatakan bahwa hal tersebut juga akan terjadi di jagat NFT.

    Kancah NFT adalah hal yang terbilang anyar, tidak seperti aset kripto. Sebagai bahan perbandingan, platform NFT paling hits OpenSea kini punya 650.000 pengguna sementara platform exchange kripto terbesar Coinbase memiliki 73 juta pengguna. Sehingga, ada kemungkinan bahwa semesta NFT nantinya akan berkembang dan terus dijejali proyek-proyek NFT baru.

    Kemudian, meski jagat NFT terus menggembung, namun suplai CryptoPunk hanya tetap akan berjumlah 10.000 unit. Imbasnya, harga CryptoPunk pun bakal ikut menanjak. Sehingga, mereka yang baru menginjak dunia NFT dan punya ukuran kantong terbatas tentu akan melirik karya seni alternatif dari CryptoPunk, alias alt-punk.

    Sebagai gambaran, saat ini harga dasar CryptoPunk bernilai 75 ETH sementara CryptoPhunk hanya senilai 2 ETH. Dengan kata lain, saat ini CryptoPhunk dijual dengan nilai hanya 3% dari CryptoPunk.

    Namun, jika kamu percaya bahwa nilai karya seni CryptoPhunk, yang menjadi pemimpin gerakan alt-punk, bernilai setidaknya 10% dari CryptoPunk, maka kamu bisa berharap return 300% di masa depan. Cukup menggiurkan bukan, Sobat Cuan?

    Tak ketinggalan, kamu juga bisa membaca artikel berikut untuk melihat sejarah alt-punk secara rinci.

    2. Komunitas CryptoPhunk Punya Kekerabatan Erat

    Komunitas adalah segalanya di jagat NFT. Bahkan, seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya, NFT adalah simbol yang mempersatukan satu individu dengan individu lain yang punya semangat dan kegemaran yang sama.

    Namun, komunitas CryptoPhunks terbilang cukup berbeda. Komunitas CryptoPhunks bukanlah sekadar kolektor NFT semata, namun mereka punya idealisme sama untuk menjunjung semangat desentralisasi di Web3. 

    Selain itu, meski pun dicibir oleh banyak pihak, komunitas CryptoPhunk nyatanya masih tetap tahan banting dan kompak.

    3. Meningkatnya Popularitas Meme dan “Memevesting”

    Dalam dua tahun terakhir, dunia investasi dikejutkan dengan sebuah fenomena bernama memevesting alias meme investing. Tengok saja bagaimana investor berbondong-bondong mengoleksi koin meme seperti Dogecoin (DOGE) dan Shiba Inu (SHIB). Di samping itu, terdapat pula kasus nilai saham Gamestop yang melonjak drastis di awal 2021 setelah jadi buah bibir di forum Reddit.

    Memang, fenomena memevesting susah dicerna otak orang awam karena tak dilandasi analisis fundamental yang mumpuni. Tapi, di saat yang sama, tidak ada yang bisa membendung dampak dari fenomena yang dimaksud.

    Lagipula, inti dari memevesting bukanlah mengenai investasi semata. Namun, pusat dari fenomena memevesting adalah tentang komunitas. Pasalnya, kombinasi antara meme dan investasi adalah cara yang kuat untuk menyatukan kekuatan beberapa individu yang tergabung dalam satu komunitas tertentu.

    Meme adalah sesuatu yang menyenangkan, viral, dan bisa dinikmati semua kalangan. Ketika komunitas meme menjadi besar dan memiliki pengaruh, maka tak heran jika komunitas tersebut mulai membangun produk di dalam ekosistemnya sendiri berdasarkan hal-hal yang mereka gemari bersama.

    Ambil contoh Shiba Inu. Koin meme yang awalnya cuma jadi bahan lelucon tersebut kini sudah bisa menciptakan platform exchange desentralisasi tersendiri seperti Uniswap, membangun inkubator bisnisnya sendiri, mengembangkan ekosistem tokennya sendiri, meluncurkan proyek NFT-nya sendiri, hingga terdaftar di platform investasi beken seperti Binance dan Robinhood.

    Kisah CryptoPhunk sendiri juga punya akar yang sama dengan meme, yakni buah cipta dari budaya masyarakat dan “parodi” atas apa yang terjadi di dunia ini. Maka, bukan tidak mungkin komunitasnya di masa depan bisa mengembangkan CryptoPhunks menjadi sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.

    Salah satu proyek yang sudah dikembangkan komunitas CryptoPhunks adalah platform NFT mandiri berbasis komunitas pertama di dunia dengan nama yang agak menyindir, yakni Not Larva Labs. Komunitas CryptoPhunks melakukan hal tersebut lantaran OpenSea melarang penjualan karya seni CryptoPhunks.

    Kehadiran Not Larva Labs juga menjadi indikasi ukuran kekuatan komunitas CryptoPhunk.



    Sumber : pluang.com

  • 7 Pertimbangan Utama Sebelum Investasi NFT

    7 Tips Sebelum Investasi di NFT

    1. Kamu Harus Punya Alasan Kuat Untuk Mengoleksi NFT

    Pertama, kamu harus punya alasan kuat mengapa kamu ingin membeli NFT. Selain itu, kamu juga harus meluangkan waktu untuk mempelajari karakteristik serta seluk-beluk aset digital satu ini.

    Dengan mengetahui aspek tersebut, maka kamu bisa menentukan jenis NFT apa yang ingin kamu investasikan dan berapa besar dana yang harus kamu alokasikan untuk token-token non-identik tersebut.

    Sebagai contoh, jika kamu memiliki profil risiko yang agresif dan percaya bahwa NFT adalah instrumen aset masa depan, maka kamu bisa menempatkan NFT sebagai aset yang mengambil porsi cukup signifikan di portofoliomu.

    2. Punya Rencana Investasi NFT yang Rinci

    Setelah melaksanakan poin pertama, maka kini kamu bisa merencanakan seberapa besar dana yang ingin kamu investasikan di NFT. Bahkan, ada baiknya jika kamu sudah menentukan jumlah uang maksimal yang ingin kamu gelontorkan di NFT sejak awal. 

    Hal ini bertujuan agar kamu bisa memitigasi risiko yang tak diinginkan dalam berinvestasi NFT ke depan. Pasalnya, pasar NFT mirip seperti aset kripto. Kamu harus siap-siap kehilangan uang yang signifikan jika kondisi pasarnya terpantau mendung.

    Dengan demikian, maka nilai investasi NFT harus setara dengan jumlah uang yang ikhlas kamu relakan jika usahamu merugi. Sebagai contoh, jika kamu hanya rela kehilangan uang US$20.000 dalam investasi NFT, maka investasi awal yang perlu kamu sediakan adalah US$20.000.

    3. Cari ‘Marketplace’ Andalanmu

    Setelah itu, kamu tinggal mengamati lokapasar NFT yang tersedia di pasar. Sejauh ini, marketplace terbesar NFT adalah OpenSea. Namun, terdapat pula lokapasar alternatif lainnya meski harga-harganya cenderung lebih mahal yang terdiri dari: 

    1. SuperRare
    2. Rarible
    3. Foundation
    4. Cargo
    5. Known Origin

    Nah, untuk memilih lokapasar NFT andalanmu, maka yang perlu kamu lakukan adalah terus mencari dan menggali informasi tentang platform tersebut. Selain mencari lokasi yang tepat bagimu untuk “mengais” NFT, kamu juga bisa memahami pengetahuan dasar soal pasar NFT melalui browsing lokapasar secara tekun.

    Selain itu, kamu tak perlu takut untuk bergabung ke komunitas NFT baik di Telegram maupun Discord kalau kamu bingung mencari referensi marketplace NFT terbaik.

    4. Ingin Coba-Coba? Mulai Dulu dari Modal Kecil

    Baik, kini kamu sudah selesai mengamati lusinan lokapasar NFT di luar sana. Namun pertanyaan berikutnya, NFT seperti apa yang harus kamu beli?

    Jika kamu ragu-ragu terkait hal tersebut, maka tak ada salahnya kamu beli NFT yang bernilai “receh” terlebih dulu. Memang, sebagian NFT bernilai mahal, bahkan setara jutaan Dolar AS. Tapi, banyak pula NFT lain yang bernilai 0,01 hingga 0,03 ETH.

    Selain itu, membeli NFT pertamamu akan memberikanmu banyak pelajaran berharga mengenai investasi NFT ke depan, misalnya:

    1. Belajar menggunakan dompet ETH.
    2. Belajar menggunakan OpenSea dan lokapasar lainnya.
    3. Belajar cara membeli dan mengirim sebuah NFT.

    5. Evaluasi Pembelian NFT Pertamamu

    Selamat, kini kamu sudah mendapatkan NFT pertamamu! Apakah kamu sudah siap untuk membeli NFT berikutnya?

    Nah, jangan gegabah dulu, Sobat Cuan! Ada baiknya kamu evaluasi lagi pembelian NFT pertamamu tersebut.

    Coba tanyakan beberapa pertanyaan ini ke dirimu sendiri. Apakah kamu merasa senang setelah membeli NFT? Jika ya, kamu bisa mengoleksi lebih banyak NFT bagi dirimu sendiri.

    Namun, jika kamu malah kecewa setelah memboyong aset digital tersebut, maka kamu bisa mengurangi alokasi investasimu di NFT atau mempelajarinya lebih lanjut lagi.

    6. Beli NFT yang Benar-Benar Kamu Suka

    Sama seperti investasi pada umumnya, kamu perlu membeli NFT yang benar-benar kamu suka. Jangan merasa terpaksa membeli NFT karena takut ketinggalan hype atau takut suplainya habis di pasaran. Tenang saja, seiring berkembangnya jagat NFT, maka suplai karya seni NFT akan tetap ada di masa depan.

    7. Perhatikan Aspek Keamanan Ketika Investasi NFT

    Membeli NFT tentu membutuhkan modal. Sehingga, kamu tentu tak mau NFT milikmu raib mendadak hanya karena kamu lalai memperhatikan aspek keamanannya, bukan?

    Oleh karenanya, ada baiknya kamu mengantisipasi risiko keamanan tersebut dengan membeli dompet kripto hardware. Pasalnya, dompet kripto yang berjenis software terbilang kurang aman.

    Di samping itu, kamu juga perlu waspada dengan aksi scam NFT yang bertebaran di dunia maya. Makanya, jangan pernah merespons pesan langsung di media sosial dari oknum tak dikenal. Kemudian, jangan pernah mengeklik tautan yang mencurigakan.

    Yang terakhir, jangan pernah memberikan kata sandi dompetmu ke pihak lain dalam keadaan apapun! Sebab, hal ini ibarat kamu memberikan kunci rumahmu sendiri ke pihak lain.



    Sumber : pluang.com

  • 9 Tips Sebelum Beli NFT Profile Picture (PFP)

    9 Pertimbangan Sebelum Membeli NFT PFP

    1. Ketahui Komunitas dan Tim Pengembang NFT PFP Tersebut

    Ketika kamu membeli satu proyek NFT, maka kamu sejatinya juga berinvestasi di perkembangan komunitasnya plus tim pengembangnya. Oleh karenanya, kamu perlu:

    1. Menghabiskan waktu dengan komunitas. Kesuksesan proyek NFT sangat tergantung dengan keterikatan komunitasnya dengan proyek tersebut. Sehingga, ada baiknya kamu bergabung dengan komunitas tersebut, biasanya melalui Discord, untuk mengetahui apakah komunitas tersebut punya lingkungan positif, aktif, dan sesuai dengan nilai-nilai hidupmu.
    2. Periksa akun media sosial mereka. Sekali lagi, semakin tinggi keaktifan dan keterikatan komunitas dengan proyek NFT-nya bakal menentukan prospek proyek tersebut ke depan.
    3. Periksa rekam jejak tim pengembangnya. Pengembang NFT PFP yang kredibel biasanya merilis informasi yang lengkap di situsnya, misalnya perihal penanganan kesalahan teknis hingga mitigasi risiko NFT. Selain itu, tim pengembang yang bukan abal-abal biasanya juga akan selalu merespons pertanyaan yang diajukan komunitasnya.

    2. Periksa Jumlah Kolektornya

    Pengembang proyek NFT biasanya menggunakan jumlah kolektornya demi mengukur tingkat kesuksesan proyeknya.

    Tapi, kamu juga perlu hati-hati dalam mencerna angka ini. Sebab, pengembang biasanya mengukur jumlah kolektor tersebut berdasarkan jumlah dompet yang menyimpan NFT tersebut. Sehingga, jika ada satu kolektor yang memiliki dua dompet dan semuanya menyimpan NFT dari satu proyek yang sama, maka pengembang NFT tersebut akan menganggap dua dompet tersebut berasal dari dua kolektor yang berbeda.

    Nah, oleh karenanya, kamu perlu melihat jumlah kolektor unik (unique holders) dari sebuah proyek NFT. Salah satu referensi yang bisa kamu gunakan adalah situs Etherescan dan buka tab “Holders” di dalamnya. Contohnya adalah sebagai berikut:

    Semakin tinggi angka unique holders proyek NFT tersebut, maka proyek tersebut bisa dibilang cukup terpercaya. Sebab, secara teorinya, semakin banyak unique holders menjadi indikasi bahwa komunitasnya pun berukuran besar.

    3. Distribusi NFT Antar Kolektor

    Setelah memeriksa jumlah unique holders, maka kamu perlu melihat distribusi karya seni digital tersebut di antara para kolektor. Pasalnya, jika NFT tersebut hanya berkonsentrasi di satu atau sebagian kecil kolektor saja, maka sang penguasa NFT tersebut punya kekuatan untuk mengontrol harga NFT tersebut di pasaran.

    Umumnya, distribusi NFT tersebut terbilang baik jika hanya ada sedikit wallet yang menyimpan lebih dari satu karya seni tersebut. Nah, lagi-lagi, kamu bisa melihat situs Etherscan untuk melihat siapa saja pemilik kontrak-kontrak proyek NFT ERC-271.

    4. Waspada Kehadiran Bandar NFT!

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, NFT yang terpusat di satu atau beberapa kolektor tertentu akan merusak harga pasarannya.

    Sehingga, kamu perlu waspada terhadap kehadiran pengguna yang punya ukuran dompet yang gembung. Selain itu, kamu juga perlu memperhatikan cara mereka melakukan listing dan target harga yang mereka tetapkan ketika menjual NFT-nya.

    Biasanya, bandar (whales) akan menurunkan harga NFT di pasaran dengan melakukan listing NFT di, atau lebih rendah, dari harga dasarnya. Di sisi lain, bandar yang berniat mulia biasanya akan me-listing NFT-nya di harga tertinggi. Artinya, ia punya kecenderungan untuk mendukung proyek NFT tersebut.

    5. Beli NFT di Harga Dasar (Floor Price)

    Ketika memilih NFT berbentuk PFP, kamu tentu ingin karya seni tersebut, sebisa mungkin, tidak terlihat identik dengan milik orang lain. Namun, kalau bisa, kamu jangan gegabah dengan membeli PFP yang benar-benar bersifat langka. Lho, mengapa demikian?

    Ketika berinvestasi NFT, kamu harus memastikan bahwa karya seni yang kamu miliki bersifat likuid. Dalam artian, kamu bisa dengan mudah menjual karya seni tersebut agar kamu bisa mendulang cuan yang relatif cepat.

    Nah, tips utamanya, kamu harus membeli NFT PFP tersebut di harga penawaran yang paling terendah sedari awal. Sehingga, kamu nanti bisa menjualnya di tingkatan harga yang setidaknya “balik modal” untukmu.

    Sayangnya, kamu bakal susah mendulang cuan jika kamu justru membeli NFT yang terkesan sangat langka. Selain karena harganya yang cukup mahal, namun NFT langka juga tidak punya likuiditas yang sama dengan NFT biasa.

    Ingatlah bahwa pasar NFT dipenuhi oleh kaum flippers, yakni mereka yang doyan melakukan jual-beli NFT demi meraih cuan instan. Alhasil, kamu bakal susah mencari pembeli bagi NFT-mu jika kamu kekeh ingin membeli NFT langka tersebut.

    Hanya saja, kamu juga dipersilakan membeli NFT yang bersifat langka jika kamu benar-benar ingin mengoleksinya dan menggunakannya sebagai foto profil, bukan sebagai investasi.

    6. Diversifikasi

    Kamu tak boleh terlena begitu saja dengan satu proyek NFT meski timnya terlihat kredibel atau komunitasnya cukup kuat. Sebab, masih ada kemungkinan bahwa proyek NFT tersebut bakal melempem ke depannya.

    Hal ini serupa seperti kebanyakan aset kripto, di mana sebagian aset kripto langsung ditinggalkan komunitasnya dan harganya anjlok meski awalnya terlihat menjanjikan.

    Nah, untuk mencegah risiko tersebut, ada baiknya kamu juga melakukan diversifikasi NFT.

    7. Jual-Beli NFT Melalui 3 Rumus Jitu

    Standarnya, pelaku NFT biasanya akan melakukan jual-beli NFT dari sebuah proyek melalui tiga rumus berikut:

    1. Kamu perlu menjual NFT pertamamu di tingkatan harga yang setidaknya “balik modal”.
    2. Kamu menargetkan menjual NFT keduamu di tingkat harga yang kamu inginkan.
    3. Tahan kepemilikan NFT ketigamu sampai nilainya to the moon.

    8. Konsisten dengan Alokasi Dana yang Kamu Rencanakan untuk Beli NFT

    Sama seperti berinvestasi di kelas aset lain, kamu perlu merencanakan alokasi dana yang rela kamu kucurkan demi NFT berdasarkan selera risikomu.

    Memang, tidak ada pakem tertentu ihwal seberapa besar kamu harus mengalokasikan persentase portofoliomu demi NFT. Namun, jika kamu merasa gugup atau berulang-ulang kali memeriksa harga pasar proyek NFT-mu saat ini, maka artinya kamu sudah mengalokasikan dana yang berlebihan di NFT tersebut.

    Pergerakan harga NFT memang punya gejolak yang ekstrem. Tapi, kalau kamu mujur, nilai NFT milikmu bisa tumbuh berkali-kali lipat di masa depan, layaknya nilai Bitcoin.

    9. Ukur Nilai NFT Milikmu dengan Satuan ETH

    Kamu membeli NFT dengan satuan ETH. Sehingga, kamu juga harus mengukur nilai portofoliomu dalam bentuk ETH, bukan dalam satuan mata uang fiat. Ini lantaran ETH memang mata uang resmi yang digunakan di industri metaverse dan ETH.

    Di samping itu, ketika kamu berinvestasi NFT, maka secara tidak langsung kamu berharap bahwa pertumbuhan nilainya bakal lebih kencang dibanding pertumbuhan ETH. 

    Jadi, ketika nilai NFT-mu naik jika diukur dalam mata uang fiat tetapi turun jika diukur menggunakan ETH, artinya kamu lebih baik berinvestasi ETH dibanding NFT karena kamu bakal lebih untung berinvestasi ETH.

    Dengan kata lain, harga NFT akan jatuh jika nilai ETH meningkat. Sebab, kolektor NFT kemungkinan besar akan melakukan aksi jual dan menukarkannya dengan ETH demi menikmati cuan atas kenaikan nilai ETH.

    Hanya saja, pertumbuhan nilai NFT blue chip seperti Cryptopunk dan Bored Ape secara konsisten selalu mengungguli kenaikan nilai ETH dalam jangka menengah.

    Hal lain yang perlu kamu ketahui adalah NFT dan metaverse tidak berkorelasi tinggi dengan harga BTC meski sama-sama “penghuni” jagat aset digital. Hanya saja, pergerakan altcoin, seperti ETH, kadang juga terpengaruh oleh pergerakan BTC sebagai penguasa aset kripto sejagat.

    Ingat, Kamu Tak Selalu Bisa Mendapatkan NFT Jagoanmu!

    Satu konsep yang berlaku di jagat NFT adalah bahwa kamu tak akan selalu meraih NFT yang paling unggul. Bahkan, trader dan investor NFT paling ulung pun akan kesulitan melakukan hal tersebut.

    Jadi, jangan terlalu fokus ke memilih NFT jagoanmu. Kamu hanya perlu fokus untuk meningkatkan pengetahuanmu tentang NFT dan bagaimana nilai pasarnya saat ini.

    Pada akhirnya, kamu akan menemukan NFT andalanmu dan meraih untung yang mumpuni asal kamu melakukan hal tersebut secara terus menerus.

    Nah, setelah membaca penjelasan di atas, apakah Sobat Cuan kini sudah siap menyelami semesta bernama NFT?



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Konsep Bid & Offer dalam Transaksi Aset

    Apa Itu Bid & Offer?

    Secara sederhana, bid adalah harga penawaran yang diajukan oleh pembeli ketika membeli satu instrumen keuangan tertentu di pasar finansial.

    Umumnya, sebagai pembeli, pelaku pasar akan memasang harga beli yang lebih rendah dibanding harga jual aslinya. Maklum, pembeli tentu ingin membeli barang dengan harga serendah mungkin.

    Misalnya, jika harga sebuah instrumen keuangan berada di level Rp1 juta, maka pelaku pasar biasanya akan menawar harga barang tersebut lebih rendah, misal Rp950.000.

    Sementara itu, offer merupakan kebalikan dari bid. Offer adalah harga yang dipasang pelaku pasar ketika ingin menjual asetnya ke jajaran pembeli yang berkumpul di pasar.

    Secara alamiah, penjual tentu ingin mendulang cuan. Makanya, jika memungkinkan, mereka akan memasang harga jual yang lebih tinggi dari harga seharusnya. Hanya saja, aset tersebut bisa jadi tidak laku di pasaran jika sang penjual malah memasang harga yang kelewat lebih mahal dari harga aslinya.

    Konsep bid dan offer hadir mengingat pasar berisikan penjual dan pembeli yang memiliki persepsi masing-masing soal harga sebuah aset. Oleh karenanya, mereka melakukan proses “tawar-menawar” harga di pasar keuangan untuk menentukan satu harga jual/beli yang disepakati bersama kedua belah pihak.

    Apakah Portofolio Dihitung Menggunakan Harga Bid atau Offer?

    Sobat Cuan tentu sering menemukan bahwa nilai portofoliomu langsung susut setelah kamu membeli aset. Kondisi ini tentu bikin kamu bertanya-tanya: Apakah nilai aset di dalam portofoliomu sebenarnya tertera dalam harga offer? Atau harga bid? Atau mungkin kamu sedang apes sehingga langsung mengalami kerugian portofolio?

    Nah, melihat kasus di atas, nilai portofoliomu sebenarnya tertera dari harga bid yang tengah berlaku saat ini.

    Ilustrasinya seperti ini, Sobat Cuan. Ketika kamu membeli 1 Bitcoin (BTC) senilai Rp601 juta, maka kamu tentu akan mengeluarkan uang yang sama-sama seharga Rp601 juta. Tapi, mungkin kamu akan menemukan nilai BTC-mu di portofolio tiba-tiba ciut menjadi Rp600 juta.

    Secara sekilas, kamu mungkin jengkel karena merasa langsung rugi mendadak. Padahal, perbedaan nilai tersebut hanyalah perkara pencatatan saja, Sobat Cuan!

    Nilai BTC-mu ditulis sebesar Rp600 juta lantaran itulah level harga bid yang berlaku saat ini. Dengan kata lain, kamu bakal laku menjual BTC saat ini jika menjualnya seharga Rp600 juta. Sementara itu, BTC milikmu tidak akan laku jika kamu kekeh menjualnya di level Rp601 juta karena tingkatan harga tersebut baru sebatas harga penawaran alias offer.

    Bagaimana Perhitungan Portofolio di Pluang?

    Pluang menggunakan jenis harga-harga yang berbeda ketika menghitung dan mencatat nilai portofolio atas masing-masing kelas aset yang terdapat di dalam aplikasi Pluang. Berikut penjelasannya!

    Perlu diingat, total portofoliomu adalah nilai aset yang kamu miliki saat ini. Sehingga, kamu hanya tinggal mengurangi nilai portofoliomu saat ini dengan jumlah uang yang kamu gelontorkan di awal untuk membeli aset demi menilai apakah kamu sudah cuan atau belum.

    Apabila nilai portofoliomu lebih besar dibandingkan dengan jumlah uang yang yang kamu keluarkan untuk investasi, maka selamat! Kamu sudah berhasil mendulang laba investasimu. Namun, jika nilai portofoliomu lebih rendah dibanding jumlah modal uang yang kamu keluarkan, maka pergerakan harga asetmu sedang tidak sesuai dengan ekspektasimu.



    Sumber : pluang.com

  • Menjelajahi The Otherside, Game Metaverse Lintas Jaringan di Ekosistem APE

    Sekilas Tentang Otherside Project

    Proyek The Otherside adalah game online berbasis role-playing yang bisa dimainkan oleh banyak pemain.

    The Otherside tersambung dengan ekosistem BAYC dan bekerja sama dengan Animoca Brands dan Improbable, serta ditenagai oleh ApeCoin (APE).

    Game ini mengombinasikan aspek-aspek game online pada umumnya dengan dunia virtual berbasis Web3. Karena sifat tersebut, pemainnya bisa menciptakan dunianya sendiri sementara NFT yang mereka miliki bisa menjadi karakter yang dapat dimainkan. Serunya lagi, ribuan pemain bisa bermain game ini di waktu yang bersamaan!

    Keunikan The Otherside terletak dari sisi pengalaman interoperabilitasnya. Dengan kata lain, game ini memungkinkan pemain di dalamnya untuk bisa berpindah dari satu metaverse ke metaverse lainnya. Hasilnya, The Otherside akan menjadi sebuah game “terbuka” di mana pemainnya bisa memboyong karakter NFT dari jagat metaverse lain, seperti Cool Cats dan World of Women, ke dalamnya.

    Yuga Labs sendiri belum mengumumkan detail lebih lanjut terkait game tersebut. Namun, Sobat Cuan bisa menengok beberapa teaser mengenai game The Otherside di bawah ini:

    1. Teknologi M2 milik Improbable akan mendukung fitur multi-pemain di game The Otherside.
    2. The Otherside akan memiliki fitur chat suara.
    3. Game ini digadang bisa mengelola 500 juta operasi per detik. Kini, Yuga Labs berharap bisa menyelesaikan masalah bandwidth jaringannya.
    4. Game The Otherside didukung oleh rekayasa buatan.
    5. APE akan menjadi mata uang utama di metaverse The Otherside. Selain itu, game ini juga akan ditautkan langsung dengan ekosistem ApeCoin.

    Mengingat rekam jejak inovasi Yuga Labs yang sukses, plus dukungan pendanaan kuat dari firma modal ventura Andreessen Horowitz (a16z), banyak yang beranggapan bahwa The Otherside akan menjadi proyek metaverse terdepan di masa mendatang.

    Mengenal Pengembang The Otherside

    Seperti yang telah disinggung di atas, Yuga Labs bekerja sama dengan Animoca Brands dan Improbable untuk mengembangkan The Otherside. Seperti apa profil masing-masing mitra Yuga Labs tersebut?

    Animoca Brands

    Animoca Brands adalah pengembang hiburan digital, blockchain, dan game yang berfokus menghormati hak-hak properti digital dan berkeinginan menjadi pelaku penting dalam pengembangan interoperabilitas antar metaverse.

    Perusahaan berhasil mengembangkan dan merilis serangkaian proyek sukses seperti token REVV dan SAND, yang berkaitan dengan game The Sandbox, Crazy Kings, dan Crazy Defense Heroes. Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan properti intelektual beken seperti Disney, WWE, Snoop Dogg, The Walking Dead, hingga MotoGP.

    Pada 2021, Animoca Brands memenangkan penghargaan Deloitte Tech Fast dan masuk ke jajaran perusahaan dengan pertumbuhan tertinggi di Asia Pasifik versi Financial Times.

    Improbable

    Improbable adalah perusahaan teknologi metaverse asal Inggris yang mempelopori dan mencari cara bagi manusia untuk bisa terhubung, bermain, dan menciptakan nilai dari dunia virtual yang saling terhubung. 

    Selama hampir satu dekade terakhir, Improbable telah mendobrak batas dari segi infrastruktur dunia virtual dan mengembangkan pemahaman mendalam tentang ekosistem game dan hiburan serta kekuatan pasar yang berada di baliknya.

    Mengenal Jagat Game Otherside

    Sobat Cuan sudah mengenal latar belakang dari game The Otherside. Namun, seperti apa sih isi dari permainan tersebut? Yuk, simak penjelasannya berikut!

    Otherdeed

    The Otherside merupakan sebuah dunia yang terdiri dari setengah galaksi dan setengah kepulauan.

    Nah, di kepulauan tersebut, Sobat Cuan bisa menemukan lima jenis lingkungan, yakni rawa-rawa biogenic, lendir kimia (chemical goo), pelangi atmos, semesta mimpi (cosmic dream), dan dataran tanpa batas (infinite expanse). Nantinya, kamu bisa membangun kediamanmu di salah satu lingkungan tersebut.

    Hanya saja, Sobat Cuan harus membutuhkan Otherdeed sebagai “kunci masuk” menuju ke dunia unik tersebut,

    Otherdeed sendiri adalah NFT dinamis yang dibangun di atas kumpulan seluruh elemen di dalam Otherside. Sehingga, alih-alih bersifat statis dan hanya mewakili lahan yang kamu miliki di The Otherside, bentuk NFT Otherdeed akan terus berevolusi mengikuti seluruh aktivitas yang kamu lakukan di jagat tersebut.

    Dengan bermodalkan Otherdeed, kamu bisa menemukan harta karun dan artefak berkekuatan tinggi di jagat Otherside. Selain itu, menggunakan Otherdeed, kamu bisa berpartisipasi dalam membangun dan mengujicobakan bentuk final dari desain atau pengalaman game terbaru. Dengan kata lain, Otherdeed memegang peranan penting dalam membangun metaverse The Otherside.

    The Otherside sendiri berisikan 200.000 kavling tanah yang unik, di mana 100.000 di antaranya dalam bentuk NFT Otherdeed sudah dirilis pada 30 April 2022 dengan total penjualan US$320 juta. Berikut alokasinya.

    Koda

    Koda adalah wujud awal berparas imut yang mengantarkan kamu ke dunia The Otherside.

    Kamu mungkin tidak paham alasan mengapa Koda membawamu ke jagat metaverse tersebut. Tapi, jika kamu cukup beruntung berpapasan seorang Koda, maka yang perlu kamu lakukan adalah berjalan pelan-pelan di dekatnya!

    Sumber Daya

    Setiap jengkal tanah di The Otherside mengandung hingga empat sumber daya yang dapat diperbarui jika Sobat Cuan mampu mengelola dan memanfaatkannya.

    Adapun empat sumber daya tersebut terdiri dari Anima, Ore, Shard, dan Root. Beberapa di antaranya bersifat langka, sementara lainnya punya suplai yang “cukup”. Sumber daya ini adalah bahan baku yang perlu kamu gunakan untuk membentuk dunia sesuai yang kamu inginkan.

    Artefak

    The Otherside berisikan objek-objek langka, di mana beberapanya tidak bisa diciptakan secara sengaja. Makanya, ketika kamu menemukan artefak, maka kamu perlu menyimpannya karena siapa tahu ia menyimpan rahasia terkait The Otherside yang belum kamu ketahui.

    Peta Jalan Game The Otherside

    Setelah mengenal komponen-komponen game The Otherside, Sobat Cuan akan mendapat gambaran singkat mengenai langkah demi langkah perjalananmu di game tersebut.

    1. First Trip

    Dalam tahap ini, pemain, alias Voyagers, akan diperkenalkan tentang demo game The Otherside. Pemain juga bisa memanfaatkan tahap ini sebagai kesempatan utama untuk mengeksplorasi jagat The Otherside dan merencanakan langkah selanjutnya.

    2. The Codex

    The Otherside Codex adalah dokumen berjalan yang kamu tulis bersama Voyagers lainnya. Dalam dokumen ini, Sobat Cuan bisa belajar mengenai cara menghubungkan lahan-lahan yang kamu miliki dan lainnya.

    Ingat, keputusan yang kamu buat di dokumen ini akan menentukan peluang dan risiko bagi masa depan The Otherside.

    3. Pertemuan dengan Koda

    Pada tahap ini, kamu akan merasakan gempa bumi yang menggoncang semesta. Gempa tersebut akan membawamu ke bayangan tentang masa lalu Koda dan kesempatan bagi Voyagers untuk melepaskan Otherdeed.

    Namun, kemana perginya Koda dan artefak-artefak yang mereka miliki? Nah, di sini kamu harus menentukan pilihan perjalanan berikutnya.

    4. The Growth

    Tanah-tanah di The Otherside mulai menampakkan tanda kehidupan dan menghasilkan sumber daya. Hanya saja, kedamaian itu diganggu oleh makhluk-makhluk asing yang berniat merusaknya. 

    5. The Agora

    Dalam fase ini, Voyagers berkumpul untuk menjual, membeli, dan menukarkan barang-barang yang sekiranya mereka butuhkan untuk hidup di The Otherside.

    Mereka juga bisa menciptakan barang-barang baru dari bahan baku yang tersedia dengan berkolaborasi bersama Voyager lainnya.

    6. The Dream

    Sebuah mesin permainan tiba-tiba muncul di tengah-tengah rawa biogenic. Manfaatkan kondisi ini agar kamu dapat hadiah yang menarik!

    7. The Choice

    Pada tahap ini, seluruh lahan-lahan di The Otherside sudah aktif dan bisa dimiliki Voyagers. Kamu pun harus menentukan satu dari lima jagat The Otherside untuk bermukim.

    8. The Settling

    Voyagers mulai mengumpulkan sumber daya dan menciptakan benda-benda dan bangunan untuk mengisi lahan yang mereka miliki.

    9. The Toolkit

    The Otherside membuka kesempatan baru bagi kamu! Apakah itu? Mainkan game-nya untuk mengetahuinya lebih lanjut.

    10. The Aeronauts

    Sebagian besar kancah The Otherside masih terselubung misteri. Kini saatnya Voyagers untuk mengeksplorasinya!

    11. The Rift

    Langit di atas dunia The Otherside tiba-tiba memunculkan retakan. Artinya, Voyagers diperkenankan untuk mengeksplorasinya! Voyagers diperkenankan untuk memilih stats dan skills awal sebelum melakukannya.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal ApeCoin, Calon Mata Uang Web3 Masa Depan

    Sekilas Mengenai ApeCoin

    ApeCoin (APE) adalah token utilitas dan tata kelola yang dikembangkan Yuga Labs dan bertujuan menjadi mata uang kancah Web3 dan Metaverse, misalnya gaming, budaya, dan perdagangan, di masa depan.

    Yuga Labs meluncurkan APE pada Maret 2022 dan langsung mendapat sambutan hangat dari komunitas kripto. Nah, popularitas itu sendiri tak terlepas dari ketenaran proyek Non-Fungible Token (NFT) paling hits, Bored Ape Yacht Club (BAYC), yang juga merupakan proyek lain dari Yuga Labs.

    Adapun penjelasan lengkap soal BAYC bisa kamu baca di sini ya, Sobat Cuan!

    Pada saat peluncuran APE, Yuga Labs mengatakan bahwa token tersebut akan menjadi token utama dari ekosistem BAYC plus proyek-proyek Yuga Labs lainnya seperti Otherside Metaverse dan produk serta jasa besutan Yuga Labs ke depan. Konsep ini mirip seperti kegunaan token SAND di jaringan Sandbox dan AXS di Axie Infinity.

    APE dimiliki dan dioperasikan oleh ApeCoin DAO, sebuah organisasi terdesentralisasi yang memungkinkan anggotanya untuk menentukan tata kelola dan pendanaan ekosistem Yuga Labs ke depan.

    ApeCoin DAO sendiri disokong oleh Ape Foundation, sebuah badan yang didekasikan sebagai “badan tertinggi” dari ApeCoin dan mengesahkan segala keputusan yang disepakati komunitas ApeCoin DAO.

    Mereka yang membeli dan menggenggam APE otomatis sudah memenuhi syarat untuk menjadi anggota ApeCoin DAO. Oleh karenanya, pemilik APE bisa menggunakan tokennya sebagai “surat suara” untuk menentukan tata kelola, pengembangan berikutnya, dan masa depan ekosistem Yuga Labs.

    Lebih pentingnya lagi, pemilik APE berkesempatan untuk meloloskan ide-ide anyar dan revolusioner, yang bisa mengantar lebih banyak lagi produk budaya ke dalam jagat metaverse. Hal ini seharusnya tak mengherankan, mengingat kancah Web3 kini sudah dijejali dengan produk budaya seperti seni, gaming, hiburan, dan events.

    Apa Kegunaan ApeCoin?

    Seperti yang telah disinggung di atas, APE berguna sebagai “surat suara” dalam menentukan tata kelola jaringan ke depan. Selain itu, APE adalah token yang bisa digunakan di proyek-proyek Yuga Labs ke depan.

    Kendati demikian, Yuga Labs ternyata punya misi besar bagi APE: Menjadi mata uang utama di kancah ekonomi metaverse. Dengan kata lain, Yuga Labs berharap bahwa APE tak hanya digunakan sebagai alat pembayaran di ekosistemnya semata, namun juga aplikasi Web3 lainnya.

    Yuga Labs sejatinya sudah menaruh batu pijakan demi mencapai tujuan tersebut. Sebagai contoh, game play-to-earn yang dikembangkan Animoca Brands, Benji Bananas, kini telah mengadopsi APE sebagai mata uang utama di dalam permainan tersebut.

    Kemudian, pada 16 Maret 2022, pengembang game nWayPlay juga mengumumkan akan menggunakan APE di game play-to-earn terbarunya yang didasarkan atas BAYC.

    Di samping itu, terdapat pula bukti tentang kegunaan APE di dunia “nyata”, misalnya:

    1. Majalah Time mengatakan bakal menerima APE sebagai alat pembayaran resmi bagi jasa langganan digitalnya.
    2. Rapper Snoop Dogg dan Wiz Khalifa telah merilis delapan lagu bersama yang bisa dibeli dengan APE.
    3. Komplek properti E11even di Miami, AS, menerima pembayaran kondominium dalam mata uang APE.
    4. Produsen bir asal Florida, AS, Saltwater Brewery, memberikan diskon 50% bagi pelanggan yang membeli produk-produknya menggunakan APE.

    Mengenal Struktur Tata Kelola ApeCoin

    Sebelumnya, Sobat Cuan tentu sudah menyimak pihak-pihak yang terlibat dalam operasional APE, seperti ApeCoin DAO, Ape Foundation, dan lainnya. Namun, seperti apa peran-peran mereka secara detail? Berikut penjelasannya!

    1. ApeCoin DAO

    ApeCoin DAO hadir karena sistem tata kelola yang terdesentralisasi adalah faktor penting untuk membangun dan mengelola komunitas global yang tersebar sporadis.

    Melalui DAO ini, anggota ApeCoin DAO bisa menaruh suara terkait keputusan pendanaan ekosistem ApeCoin, aturan di jaringan, dan proyek-proyek serta kemitraan ke depan, yang umumnya termuat di dalam APE Improvement Proposal.

    2. APE Foundation

    The Ape Foundation adalah lembaga penjamin yang berada di jaringan ApeCoin. Ia bukanlah lembaga pengawas, namun badan yang memfasilitasi tata kelola terdesentralisasi yang sebelumnya sudah disepakati komunitas dan menjamin kesinambungan sistem terdesentralisasi di jaringan tersebut.

    Oleh karenanya, APE Foundation memiliki tugas untuk mengesahkan seluruh keputusan yang dibuat oleh ApeCoin DAO.

    Selain itu, lembaga ini juga bertanggung jawab untuk melaksanakan administrasi sehari-hari, manajemen proyek, dan tugas lain yang memastikan bahwa ide-ide komunitas DAO bisa berubah menjadi kenyataan.

    Di samping itu, APE Foundation juga bertanggung jawab mengelola dana ekosistem dan membayar pengeluaran lainnya sesuai instruksi ApeCoin DAO. Tak ketinggalan, APE Foundation juga menyediakan infrastruktur bagi penggenggam ApeCoin untuk berkolaborasi melalui proses tata kelola yang terbuka dan tanpa hambatan.

    3. Dewan APE Foundation

    Dewan APE Foundation adalah dewan khsusus yang mengawasi seluruh operasional dan tata kelola di APE Foundation. Lembaga ini bertugas sebagai pengesah akhir dari segala proposal DAO, pengkaji seluruh proposal pengembangan jaringan ke depan, dan menyediakan visi kepada komunitas. 

    Anggota Dewan APE Foundation punya masa jabatan selama enam bulan. Setelahnya, anggota DAO akan memungut suara demi mencari anggota baru.

    4. Yuga Labs

    Yuga Labs, pengembang Apecoin, adalah perusahaan Web3 dan blockchain yang fokus mengembangkan NFT dan benda-benda koleksi digital melalui pendekatan penceritaan, pengalaman, dan komunitas. Dalam ekosistem Yuga, penggemar dan pemain dianggap sebagai pemilik sekaligus creator.

    Yuga Labs didirikan oleh Wylie Aronow dan Greg Solano di 2021 dan telah menggaet pendanaan total US$4 miliar per Juni 2022 dari firma modal ventura kripto top sejagat, Andreessen Horowitz (a16), Coinbase, dan Friendly Trading.

    Proyek terkenal Yuga Labs adalah BAYC, satu koleksi berisikan 10.000 karya seni NFT menggambarkan kera-kera berekspresi bete. Perusahaan mulai menjajakan NFT BAYC di April 2021 dan kini menjelma sebagai salah satu proyek NFT paling berharga dari sisi kapitalisasi pasar.

    Di samping itu, Yuga Labs juga membeli alamat IP dari sang pionir proyek NFT, CryptoPunks, dan Meebits.

    Meski mengembangkan ApeCoin, namun Yuga Labs tak serta merta mengelolanya secara langsung. Malahan, tata kelola ApeCoin diserahakan ke ApeCoin DAO. Apa dugaan alasannya?

    1. Dikotomi tersebut merupakan buah pikiran dari William Hinman, mantan pejabat otoritas pasar modal AS (Security and Exchange Commission/SEC) yang kini menjadi petinggi a16z. Ia berpendapat bahwa lembaga terdesentralisasi bisa menerbitkan token secara bebas tanpa harus mendaftarkannya ke SEC asal lembaga tersebut benar-benar terdesentralisasi. Nah, dalam konteks ekosistem ApeCoin, ApeCoin DAO adalah lembaga terdesentralisasi, sementara Yuga Labs tidak memiliki sifat yang dimaksud.
    2. APE bertujuan untuk menjadi mata uang utama ekonomi Web3 dan metaverse, sehingga ia tak boleh punya sangkut paut terhadap proyek Web3 atau metaverse lainnya.

    Aspek Tokenomics ApeCoin

    APE memiliki total suplai terbatas sebesar 1 miliar keping di dunia ini. Dengan kata lain, sang pengembang tidak akan menambah pasokannya atau membakarnya, sehingga jumlahnya bakal terbilang 1 miliar keping selamanya.

    Berikut adalah rincian alokasi APE.

    Meski suplainya terbatas, APE belum seluruhnya beredar di surkulasi. Ini terjadi lantaran konsep “penguncian token” sehingga jumlah suplai sesungguhnya terdilusi dan membuat suplai APE seolah-olah terlihat lebih besar.

    Sebagai contoh, Yuga Labs, pihak-pihak yang membantu peluncuran APE, dan pendiri BAYC wajib mengunci tokennya selama setahun. Adapun, seluruh suplai APE rencananya bakal sepenuhnya beredar pada 2026.

    Kekuatan dan Kritik Atas ApeCoin

    Kekuatan

    1. Yuga Labs punya pendanaan kuat dan kini valuasinya bertengger di US$4 miliar.
    2. APE terhubung dengan BAYC, proyek dan komunitas NFT paling besar dan berharga.
    3. Rekam jejak Yuga Labs dalam mengembangkan proyek kripto sudah teruji.
    4. Proyek-proyek Web3 Yuga Labs terbilang punya prospek cemerlang.
    5. BAYC adalah NFT pertama yang masuk di skena arus utama. Sehingga, APE punya peluang untuk menjadi mata uang utama Web3 dan metaverse.
    6. Yuga Labs adalah perusahaan pionir yang fokus mengembangkan proyek-proyek metaverse lintas jaringan.

    Kritik

    1. Nilai pasokannya terdilusi.
    2. Daya guna yang terbatas. Sebab, APE saat ini masih dikenal sebagai token tata kelola namun belum punya manfaat utilitas yang pasti.
    3. Reputasi proyek Yuga Labs ternoda setelah proyek Yuga Labs lainnya, Otherside Land, menyebabkan kekacauan di jaringan Ethereum dan menyebabkan jaringannya tak bisa digunakan selama beberapa jam.

    Lebih lanjut, ekosistem APE kini mengembangkan sebuah metaverse anyar bernama The Otherside. Yuk, simak selengkapnya di sini!



    Sumber : pluang.com

  • NEAR Protocol, Platform Smart Contract Idola Baru di Jagat Kripto

    Apa Itu Protokol NEAR?

    Protokol NEAR adalah jaringan blockchain lapis 1 berbasis algoritma konsensus Proof of Stake yang bertujuan ingin menyaingi Ethereum dari segi manfaat, penggunaan teknologi smart contract, dan skalabilitasnya.

    Jaringan NEAR dibangun oleh mantan insinyur piranti lunak Microsoft Alex Skidanov dan mantan pegawai Google Illia Polosukhin. Keduanya bertemu 2018 lalu di program akselerator perusahaan rintisan bernama Y Combinator, sebuah program yang terkenal sebagai ajang tumbuhnya bibit proyek-proyek besar di kancah teknologi dan kripto seperti Coinbase, Dropbox, Airbnb, Filecoin, dan Reddit.

    Keduanya menciptakan jaringan NEAR untuk memecahkan masalah skalabilitas transaksi dan tingginya biaya transaksi, dua perkara yang terjadi di platform smart contract Ethereum. 

    Asal tahu saja, jaringan Ethereum kini mengalami kemandekan proses transaksi dan tingginya biaya transaksi lantaran lalu lintas transaksinya cukup padat. Kondisi tersebut sejatinya lumrah saja, mengingat arus transaksi di satu jaringan blockchain tentu akan semakin sesak seiring pertumbuhan jumlah penggunanya.

    Namun permasalahannya, komunitas kripto selalu membutuhkan jaringan Ethereum untuk menciptakan aplikasi terdesentralisasi atau sekadar menciptakan Non-Fungible Token (NFT). Makanya, sebagai imbasnya, banyak platform smart contract lain yang menjamur dan mengklaim sebagai jaringan alternatif Ethereum, atau lebih umum dikenal sebagai “pembunuh Ethereum”, salah satunya adalah protokol NEAR.

    Untuk mencapai skalabilitas dan biaya transaksi yang mumpuni, NEAR menggunakan sebuah teknologi unik bernama Nightshade dan mekanisme penciptaan blok transaksi baru bernama Doomslug. 

    Kedua teknologi ini memungkinkan jaringan untuk memproses 100.000 transaksi per detik dan bahkan menghasilkan biaya transaksi yang sangat rendah. Saking rendahnya, biaya transaksi di jaringan NEAR bahkan menggunakan satuan tersendiri yang disebut Yocto.

    Di samping itu, jaringan juga memanfaatkan jaringan jembatan bernama Rainbow Bridge dan lapisan 2 blockchain bernama Aurora agar penggunanya bisa melakukan interoperabilitas jaringan NEAR dengan jaringan Ethereum.

    Prinsip Desain Protokol NEAR

    Sejak awal, sang pengembang berpegang teguh pada prinsip-prinsip berikut ketika merancang jaringan NEAR agar manfaat ekonominya bisa terus berkembang seiring waktu.

    1. Kebermanfaatan. Dalam hal ini, pengguna dan pengembang harus membayar tarif yang konsisten ketika memanfaatkan jaringan NEAR dan menyimpan data dengan abadi di dalamnya.
    2. Skalabilitas. Jaringan NEAR harus memiliki skala ekonomis yang masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan.
    3. Teknologi dibangun bagi manusia. Setiap orang harus dapat mengoperasikan setiap komponen dalam sistem NEAR semudah mungkin agar protokol dapat dimanfaatkan secara massal.
    4. Desentralisasi berkelanjutan. Protokol harus memastikan bahwa pengguna menghadapi hambatan-hambatan seminimal mungkin dalam menggunakan teknologi NEAR agar penggunanya semakin banyak. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada satu kelompok pengguna tertentu yang mengendalikan jaringan di masa depan.

    Cara Kerja Teknologi NEAR

    Seperti yang telah disinggung di atas, jaringan NEAR mampu memproses 100.000 transaksi per detik dengan biaya yang sangat efisien. Namun, bagaimana cara jaringan melakukan hal tersebut?

    Nah, dalam hal ini, protokol NEAR memanfaatkan satu mekanisme penyimpanan data yang disebut dengan Sharding.

    Secara sederhana, Sharding adalah proses pemecahan satu blockchain menjadi bagian-bagian yang berukuran lebih kecil (shards).

    Jaringan kemudian menyimpan shards tersebut di komputer-komputer (nodes) yang berbeda-beda. Nah, dengan hal ini, maka beban komputasi di masing-masing node dapat berkurang signifikan, sehingga jaringan bisa memproses transaksi berukuran raksasa dengan mudah.

    Mekanisme ini sangat berbeda dari kebanyakan blockchain.

    Pada blockchain lain, masing-masing node yang terlibat dalam validasi transaksi wajib menyalin data historis seluruh transaksi yang pernah tercatat di jaringan tersebut. Sementara itu, dengan Sharding, maka masing-masing node bisa berfungsi tanpa harus menyimpan data jumbo yang dimaksud.

    Mekanisme Sharding sejatinya sudah digunakan oleh jaringan blockchain lain meski pemanfaatannya masih terbilang baru. Adapun salah satu jaringan yang bakal menggunakan mekanisme Sharding adalah Ethereum di dalam upgrade jaringan Ethereum 2.0.

    Menjelajahi Nightshade Sharding

    Jaringan NEAR sendiri melakukan Sharding dengan teknologi yang disebut dengan Nightshade Sharding. Apakah itu?

    Teknologi Nightshade adalah salah satu variasi teknik Sharding yang memungkinkan satu validator transaksi untuk memproses transaksi secara paralel dengan proses yang dilakukan validator lainnya. Imbasnya, kecepatan dan kapasitas transaksi di dalam blockchain akan menjadi optimal.

    Shards di dalam Nightshade akan menghasilkan chunk, yakni satu keping catatan validasi yang akan tercatat di blok transaksi berikutnya. Chunk-chunk tersebut kemudian akan diproses dan disimpan di dalam blockchain utama NEAR sebelum nantinya melalui tahap finalisasi validasi akhir.

    Agar Sobat Cuan mudah memahami mekanisme teknologi ini, mari bayangkan sebuah persimpangan jalan. 

    Anggaplah setiap jalan yang menuju satu persimpangan, misal pertigaan atau perempatan, sebagai shards, sementara persimpangannya sendiri diibaratkan seperti jaringan utama NEAR. Mengambil analogi tersebut, maka seluruh shards itu pada akhirnya akan bergabung dengan shards lainnya untuk membentuk satu validasi transaksi secara utuh.

    Teknologi ini sebenarnya mirip dengan jaringan Harmony. Namun bedanya, shards di jaringan Harmony tidak mampu menghasilkan chunk layaknya di protokol NEAR.

    Lebih lanjut, jumlah shards yang dipecah jaringan sangat tergantung dengan kondisi lalu lintas jaringan. Jumlah shards akan bejibun jika kapasitas jaringan NEAR berada dalam kapasitas maksimal, begitu pun sebaliknya. Namun, jika jumlah shards semakin banyak, maka proses transaksi bisa jadi lebih cepat dan biaya transaksi bakal semakin efisien.

    Selain meningkatkan aspek skalabilitas jaringan, Nightshade juga berfungsi untuk meningkatkan aspek keamanan jaringan. Ini lantaran masing-masing validator hanya bertanggung jawab atas shards yang mereka proses semata.

    Mengenal Teknologi Aurora

    Di samping Nightshade sharding, jaringan NEAR juga memiliki dua teknologi yang menjembataninya dengan jaringan Ethereum, yakni Aurora dan Rainbow Bridge.

    Aurora adalah jaringan blockchain lapis 2 milik protokol NEAR yang memungkinkan pengembang untuk mengoperasikan aplikasi terdesentralisasi Ethereum di jaringan NEAR.

    Dengan kata lain, melalui jaringan ini, pengembang bisa memanfaatkan proses transaksi cepat dan biaya transaksi rendah milik jaringan NEAR sembari memanfaatkan kemudahan operasi dan rimbunnya jejaring aplikasi milik Ethereum di saat yang bersamaan.

    NEAR mengklaim bahwa Aurora bisa menampung ribuan transaksi per detik dan mengonfirmasi satu blok transaksi dalam dua detik saja. Keunggulan itu pun tak lepas dari dua teknologi yang membentuk Aurora, yakni Aurora Bridge dan Aurora Engine.

    Aurora Engine adalah Ethereum Virtual Machine (EVM) di dalam jaringan NEAR. Teknologi ini memungkinkan pengguna untuk memanfaatkan seluruh perangkat Ethereum di jaringan NEAR. Dampaknya, pengembang bisa menggunakan protokol NEAR tanpa harus menghapus data aplikasi terdesentralisasinya di Ethereum dan capek-capek belajar mengoperasikan perangkat baru.

    Mengenal Rainbow Bridge

    Selain Aurora, terdapat pula Rainbow Bridge sebagai jaringan jembatan antara jaringan NEAR dengan Ethereum.

    Rainbow Bridge adalah aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk mengirim token ERC-20, stablecoins, wrapped tokens, dan NFT dari jaringan NEAR ke Ethereum dan sebaliknya. Sebagai dampaknya, pengguna dan pengembang bisa memanfaatkan biaya transaksi rendah dan pemrosesan jumlah transaksi besar yang terdapat di jaringan NEAR.

    Aspek Tokenomics NEAR

    Protokol NEAR memiliki satu token native bernama NEAR. Layaknya di dalam platform smart contract lainnya, token ini digunakan untuk:

    1. Membayar biaya transaksi.
    2. Membayar jasa penyimpanan data di jaringan. Asal tahu saja, aplikasi di jaringan NEAR harus membayar biaya sewa penyimpanan data. Namun, jaringan kemudian akan “membakar” sebagian token NEAR yang digunakan sebagai pembayaran jasa sewa penyimpanan data tersebut dan membuat suplai NEAR beredar menjadi susut.
    3. Melakukan staking. Validator transaksi menerima imbalan dalam bentuk NEAR sebagai balas jasa karena telah membantu mempertahankan aspek keamanan jaringan. Selain itu, kolektor NEAR juga bisa menerima imbalan jika melakukan staking di dompetnya.
    4. “Surat suara” untuk menentukan pengembangan jaringan di masa depan.

    Protokol NEAR akan meningkatkan suplai tokennya dengan jumlah yang berbeda-beda setiap tahun sesuai tabel di bawah ini. 

    Berdasarkan jumlah transaksi per harinya saat ini, maka suplai token akan meningkat 5% per tahun. Sekitar 90% dari token-token baru tersebut akan menjadi milik validator, sementara sisanya akan masuk sebagai “uang kas” yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk mendukung pengembangan platform ke depan.

    Meski biaya jaringan NEAR cukup rendah, nilai token NEAR sebenarnya bisa saja tidak mengalami inflasi selama volume transaksi jaringannya semakin menggembung antar waktu. 

    Sekadar informasi, inflasi NEAR bisa mencapai 0% jika jaringan memproses 1 miliar transaksi per hari. Bahkan, inflasi NEAR bisa menyentuh -2% jika jaringan memproses 2 miliar transaksi per hari.

    Kelebihan dan Kelemahan Jaringan NEAR

    Berikut adalah daftar kelemahan dan kelebihan jaringan NEAR.

    Keunggulan

    1. Punya Skalabilitas Besar. Jaringan NEAR memanfaatkan salah satu teknologi blockchain paling unggul sejagat. Terlebih, algoritma konsensus Proof of Stake milik jaringan sudah bersertifikasi karbon netral meski mampu memproses transaksi dalam jumlah masif dan menghasilkan biaya transaksi rendah.
    2. Gampang Dioperasikan. Saking simpelnya operasi jaringan NEAR, konon mereka yang tak punya latar belakang teknologi blockchain bisa mengutak-atik protokol ini.
    3. Ramah bagi Pengembang. 30% dari biaya transaksi dibayarkan ke pengembang smart contract. Selain itu, kerja mereka pun terbantu dengan teknologi seperti Rainbow Bridge dan Aurora. Bahkan, NEAR juga menyediakan kursus gratis bagi pengembang di NEAR University.
    4. Idola investor. Jaringan NEAR telah menghimpun pendanaan US$20 juta dari beberapa firma modal ventura top seperti Andreessen Horowitz, Pantera Capital, Blockchain.com Ventures, Coinbase Ventures, Fundamental Labs, CoinFund dan Dragonfly Capital.

    Kelemahan

    1. Masih belum banyak aplikasi terdesentralisasi yang dikembangkan di dalamnya.
    2. Pengembang membutuhkan waktu lama untuk memahami aspek-aspek operasi di jaringan yang tak terkait dengan protokol Ethereum.
    3. 35% dari suplai awal NEAR sebesar 1 miliar sudah dijual ke investor awal NEAR.
    4. Token NEAR menghilang dari platform exchange besar seperti Coinbase dan FTX.

    Contoh Anggota Ekosistem NEAR

    Protokol NEAR memiliki komunitas pengembang yang punya pertumbuhan jumlah tercepat ketiga sejagat kripto. Makanya, akan sangat menarik jika Sobat Cuan menengok isi ekosistem NEAR saat ini.

    Berikut adalah contoh-contoh proyek di jaringan NEAR yang berhasil menarik perhatian komunitas kripto secara umum.

    1. Mintbase

    Mintbase adalah platform global yang memungkinkan semua orang untuk mencetak NFT dengan gampang tanpa harus menjadi ahli NFT terlebih dulu.

    Selain itu, pengguna juga bisa menjual atau menyewakan NFT-nya di Mintbase untuk menerima pendapatan komisi. Nah, karena karakteristik ini, Mintbase dianggap telah membawa angin segar di industri kripto. Potensi bisnisnya pun diharapkan terus berkembang seiring pesatnya pertumbuhan metaverse.

    Sobat Cuan benar-benar bisa menciptakan jenis NFT apapun di platform ini. Sebagai contoh, jika kamu adalah seorang musisi, maka kamu bisa menciptakan musikmu dan kemudian mengubahnya ke dalam bentuk NFT di Mintbase.

    Tadinya, Mintbase memiliki kediaman di jaringan Ethereum. Namun, Mintbase “pindah alamat” ke protokol NEAR setelah biaya transaksi Ethereum semakin mahal.

    2. Flux

    Flux adalah protokol terdesentralisasi dan bersifat terbuka yang memungkinkan pengembang untuk menjual apapun hasil karyanya secara harfiah.

    Flux dibangun di atas jaringan NEAR lantaran skabalitas dan kemampuannya terbilang mumpuni untuk internet yang terbuka dan modern. NEAR juga menyediakan aspek keamanan yang cenderung unik dibanding jaringan lainnya.

    3. Paras 2.0

    Paras 2.0 bertujuan untuk menjadi lokapasar utama bagi benda-benda koleksi digital. Banyak pihak mengatakan, masa depan protokol NEAR bisa tercermin dari jenis barang-barang yang dijajakan di platform tersebut.

    4. NEAR Crowd

    NEAR Crowd mirip seperti situs pencari kerja sampingan. Artinya, pengguna bisa mencari dan melakukan kerja sampingan apapun dan dibayar dengan koin NEAR.

    Banyak pihak mengaitkan platform ini sebagai contoh bahwa NEAR benar-benar serius menggarap ekosistemnya. Pasalnya, masyarakat bisa mendapatkan koin NEAR yang nantinya bisa mereka gunakan untuk “belanja” produk-produk yang berasal dari ekosistem NEAR lainnya.

    Lantas, bagaimana cara NEAR melakukan hal ini? Alasan utamanya adalah teknologi smart contract.

    Teknologi ini memungkinkan jaringan untuk menerbitkan pembayaran dan pengembalian dana secara otomatis. Sehingga, pengguna yang melakukan kerja sampingan tersebut akan mendapat kepastian terkait pembayaran imbalannya. Sementara itu, jaringan juga secara otomatis akan mengurangi saldo koin NEAR milik sang pemberi kerja jika mereka puas dengan hasil kerja pengguna NEAR Crowd.



    Sumber : pluang.com