Author: 09

  • Mempelajari Indikator Dasar Makroekonomi

    Memahami indikator dasar makroekonomi banyak manfaatnya lho, Sobat Cuan. Selain bisa mengetahui tingkat kesehatan ekonomi satu negara, kamu juga bisa memanfaatkan indikator-indikator ini ketika sedang menganalisis kinerja aset investasimu.

    Indikator dasar makroekonomi terdiri dari Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat bunga, inflasi, tingkat pengangguran, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Yuk, kita bahas bersama!

    Sekilas Mengenai Indikator Dasar Makroekonomi

    1. Produk Domestik Bruto

    Produk Domestik Bruto (PDB) adalah total keseluruhan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh satu wilayah dalam satu jangka waktu tertentu, misalnya dalam satu kuartal atau satu tahun. Semua negara menggunakan indikator ini untuk menunjukkan tingkat kesehatan ekonominya.

    Perhitungan PDB sejatinya terdiri dari tiga pendekatan, yakni pendekatan pengeluaran (expenditure approach), pendekatan faktor produksi, dan pendekatan penerimaan (income approach). Namun, negara-negara umumnya menggunakan pendekatan pengeluaran ketika mengkalkulasi PDB. Rumusnya pun gampang diingat, yakni Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + (Nilai Ekspor – Nilai Impor).

    PDB adalah indikator yang cukup esensial sebab kamu bisa mencari pertumbuhan ekonomi dengan membandingkan PDB satu periode ke periode sebelumnya. Misalnya, jika kamu ingin mencari laju pertumbuhan ekonomi secara tahunan untuk 2021, maka kamu tinggal membandingkan PDB tahun 2021 dengan PDB di tahun 2020.

    Negara-negara berpendapatan rendah atau menengah harus memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan populasinya yang juga ikut bertumbuh. Oleh karenanya, selain mengukur tingkat kesehatan ekonomi sebuah negara, pertumbuhan ekonomi juga digunakan sebagai indikator untuk melihat hasil dari program-program ekonomi di wilayah tersebut.

    Bagi investor, pertumbuhan ekonomi adalah salah satu faktor penting untuk menentukan keputusan berinvestasi. Sebagai contoh, Indonesia mencetak pertumbuhan ekonomi 3,5% secara tahunan pada kuartal III 2021. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia mulai pulih dari dampak pandemi COVID-19, sehingga Sobat Cuan bisa mempertimbangkan untuk investasi di pasar modal.

    2. Tingkat Bunga

    Tingkat bunga adalah besaran biaya yang perlu kamu keluarkan ketika meminjam uang dari perbankan (cost of borrowing).

    Besaran bunga tersebut ditampilkan dalam bentuk sejumlah persentase tertentu per tahun. Sebagai contoh, jika kamu meminjam uang Rp100 juta dengan tingkat bunga 7%, maka total pinjamanmu setahun berikutnya akan menjadi Rp107 juta.

    Tingkat bunga bukanlah semacam “hukuman” bagi nasabah karena sudah meminjam uang dari perbankan. Bunga adalah kompensasi yang diterima kreditur karena berani mengambil risiko untuk meminjamkan uang kepada debitur. Adapun risiko yang dimaksud adalah kemungkinan bahwa sang debitur tidak bisa melunasi uang pinjaman tersebut.

    Oleh karenanya, perbankan biasanya mematok bunga pinjaman tinggi kalau risiko gagal bayarnya juga tinggi. Sehingga, jika debitur ingin mendapatkan tingkat bunga pinjaman rendah, maka mereka juga harus mempertahankan skor kreditnya.

    Selain itu, besaran tingkat bunga kredit juga tergantung dengan naik-turunnya tingkat suku bunga acuan bank sentral. Sebagai contoh, hingga akhir 2021 lalu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan tingkat suku bunga acuan 7-Days Reverse Repo Rate (7DRRR) di tingkat terendahnya sepanjang masa 3,5% untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas nilai tukar.

    Seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya [hyperlink], bank sentral kerap mengubah suku bunga acuan untuk merespons kondisi ekonomi yang terjadi di negaranya. Lembaga otoritas moneter tersebut akan mengerek suku bunga acuan jika pertumbuhan ekonomi tumbuh kebablasan. Sebaliknya, mereka akan menurunkan suku bunga acuan demi memacu pertumbuhan ekonomi.

    Kenaikan suku bunga acuan akan mengurangi nilai sekarang (Present Value) dari pendapatan dividen di masa depan. Akibatnya, harga saham pun bisa berguguran. Di samping itu, suku bunga yang tinggi akan meningkatkan opportunity cost dari meminjam uang, sehingga aktivitas ekonomi dan investasi akan terhambat.

    3. Inflasi

    Inflasi adalah tingkat kenaikan harga barang dan jasa dalam satu rentang waktu tertentu. Pengukuran inflasi pun bermacam-macam, mulai dari dari kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan hingga kenaikan biaya hidup di satu wilayah tertentu. Namun, apapun konteksnya, inflasi mencerminkan seberapa mahal harga barang dan jasa pada suatu periode tertentu bila dibandingkan dengan periode sebelumnya.

    Inflasi yang tinggi akan menyebabkan biaya hidup masyarakat semakin mahal. Implikasinya, pertumbuhan ekonomi bisa semakin melambat.

    Selain itu, inflasi juga membuat nilai uang semakin terkikis. Sebagai contoh, kemampuan konsumsi seseorang dengan uang Rp100.000 sekarang mungkin akan menyusut 10 tahun kemudian. Sehingga, masyarakat perlu menginvestasikan uangnya demi mengalahkan dampak negatif inflasi di masa depan. Apalagi, pertumbuhan ekonomi suatu negara bisa tetap stabil jika masyarakat getol berinvestasi.

    4. Tingkat Pengangguran

    Tingkat pengangguran adalah perbandingan antara jumlah tunakarya dengan total tenaga kerja di suatu wilayah dalam satu jangka waktu tertentu. Makanya, kalkulasinya pun sederhana, yakni (jumlah orang menganggur/jumlah tenaga kerja) x 100%. Namun, jumlah orang menganggur yang dimaksud dalam kalkulasi ini tidak hanya mencakup orang yang tidak bekerja, namun juga para pencari kerja.

    Tingkat pengangguran adalah salah satu indikator ekonomi penting untuk mengukur tingkat kesehatan ekonomi suatu negara. Nilainya pun berfluktuasi sesuai dengan siklus ekonomi. Dengan kata lain, tingkat pengangguran akan meningkat ketika terjadi resesi ekonomi dan menurun ketika ekonomi sedang dalam fase ekspansi.

    Tingkat pengangguran tinggi tak hanya memperparah masalah sosial dan kesejahteraan masyarakat, namun juga bikin investor asing enggan berinvestasi di wilayah tersebut. Ujung-ujungnya, mereka pun ogah mengalirkan dana ke wilayah yang dimaksud.

    5. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

    Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah proyeksi penerimaan dan belanja negara selama periode tertentu. Biasanya, periode yang digunakan pemerintah adalah satu tahun, atau biasa disebut dengan “tahun anggaran”.

    Pemerintah biasanya membagi penerimaan ke dalam dua jenis, yakni penerimaan pajak dan non-pajak. Contoh penerimaan pajak adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), bea dan cukai, dan lain-lain. Sementara itu, penerimaan non-pajak terdiri dari pendapatan bunga, dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari hasil ekstraksi sumber daya mineral.

    Kemudian, pemerintah juga membagi beberapa jenis-jenis belanja ke dalam kategori. Namun, kategorisasi pengeluaran antara satu negara berbeda dengan negara lain, tergantung dengan kebutuhan masing-masing negara tersebut.

    Pemerintah Indonesia, contohnya, memiliki banyak kategorisasi belanja di dalam APBN. Sebagai contoh, pemerintah mengalokasikan belanja negara sesuai dengan sektor seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan lain-lain. Namun, pemerintah juga mengalokasikan belanja sesuai pemegang kuasa anggaran seperti belanja pemerintah pusat dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD).



    Sumber : pluang.com

  • Mengapa Makroekonomi Mempengaruhi Pasar?

    Saat ini, pasar keuangan adalah bagian esensial dan bahkan tak terpisahkan dari ekosistem ekonomi di berbagai negara. Makanya, perubahan di beberapa variabel makroekonomi sangat berpengaruh ke pasar keuangan, baik itu berupa dampak positif atau negatif.

    Produk Domestik Bruto (PDB), misalnya, adalah indikator pertumbuhan ekonomi yang menentukan selera investor untuk nyemplung ke pasar modal. Sementara itu, kenaikan tingkat inflasi dan suku bunga acuan akan menghambat konsumsi, sehingga akan berpengaruh ke performa keuangan para emiten pasar modal dan ujung-ujungnya meredupkan kinerja pasar modal.

    Sebagai contoh, kenaikan harga saham di Indonesia menjadi sinyal bahwa investor berharap ekonomi Indonesia akan terus tumbuh. Demikian sebaliknya, harga saham yang jatuh menjadi sinyal bahwa pelaku pasar meramal bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan terpantau mendung.

    Nah, karena pasar modal bisa menjadi indikasi kondisi ekonomi di suatu negara, tak heran jika kini investor menggunakan indeks saham untuk mengukur “tingkat kesehatan” ekonomi sebuah negara.

    Lebih lanjut, sejatinya combo PDB dan inflasi bisa membuat kinerja pasar modal makin mumpuni. Namun, dampak inflasi terhadap kondisi tersebut kurang signifikan dibanding PDB.

    Di sisi lain, tingkat suku bunga acuan dan nilai tukar bisa membuat pasar saham ambrol. Namun, di antara keduanya, tingkat suku bunga dianggap punya kekuatan lebih besar untuk menyeret turun kinerja pasar modal.

    Nah, Sobat Cuan bisa menyimak korelasi antara makroekonomi dan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui grafik berikut!



    Sumber : pluang.com

  • Alasan Perusahaan Melakukan IPO

    Manfaat IPO bagi Perusahaan

    Banyak orang berasumsi bahwa perusahaan melancarkan aksi IPO demi menipu atau ingin meraup dana masyarakat semata. Namun, jangan berasumsi negatif dulu, Sobat Cuan. Pasalnya, perusahaan bisa memperoleh manfaat bejibun dari IPO seperti berikut!

    1. Meraih Pendanaan yang Lebih Murah

    Setiap perusahaan tentu bermimpi untuk mengekspansi bisnisnya, apalagi kalau prospek bisnisnya di masa depan terbilang kinclong. Hanya saja, melakukan ekspansi usaha butuh uang yang tak sedikit. Oleh karenanya, mereka harus menghimpun tambahan pendanaan apapun caranya.

    Perusahaan sejatinya bisa memperoleh pendanaan dari berbagai sumber, mulai dari pinjaman perbankan, merilis obligasi, mendapat suntikan dana, atau menyisihkan sebagian labanya untuk diinvestasikan kembali.

    Sejatinya, sumber pendanaan yang paling mungkin ditempuh oleh perusahaan adalah meminjam uang dari bank atau merilis obligasi. Hanya saja, kedua opsi tersebut bakal membebani keuangan perusahaan ke depan lantaran mereka harus membayar beban bunga.

    Tapi, selain itu, mereka juga punya opsi pendanaan yang lebih murah, yakni melepas sebagian sahamnya ke publik. Pasalnya, perusahaan tak perlu membayar beban bunga secara periodik. Mereka hanya perlu “membalas jasa” publik dengan menyerahkan dividen setiap tahunnya tergantung kebijakan masing-masing perusahaan.

    2. Meringankan Beban Perusahaan

    Perusahaan yang memiliki performa bisnis mumpuni dapat memanfaatkan IPO untuk menggalang pendanaan murah. Di sisi lain, terdapat pula perusahaan yang meraup pendanaan dalam bentuk pinjaman perbankan atau menerbitkan obligasi.

    Hanya saja, jenis perusahaan yang disebut belakangan tersebut berpotensi tidak bisa melunasi utangnya jika performa bisnisnya makin amburadul. Nah, dalam hal ini, mereka bisa memanfaatkan IPO sebagai sarana untuk melunasi tumpukan utang yang mereka miliki.

    3. Mempopulerkan Nama Perusahaan

    Perusahaan yang melantai di bursa tak hanya sekadar ingin menggaet pendanaan, namun juga berharap bahwa citranya di masyarakat akan membaik.

    Jika perusahaan terbuka mampu berkinerja cemerlang, maka performanya akan disorot oleh media massa. Tak ketinggalan, awak media pun kerap meliput Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dihelat perusahaan. Sehingga, IPO bisa menjadi ajang bagi perusahaan untuk meningkatkan kesadaran (awareness) publik sekaligus menjadi metode pemasaran yang terbilang gratis.

    4. Meningkatkan Nilai Suatu Perusahaan

    Perusahaan bisa meningkatkan nilainya dengan melantai di bursa. Pasalnya, saham yang diperdagangkan punya kemungkinan terapresiasi, yang ujungnya ikut mengerek nilai perusahaan.

    Hanya saja, hal ini ibarat pisau bermata dua. Sebab, nilai perusahaan justru akan jatuh jika mereka gagal menghasilkan performa baik.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Manfaat & Cara Membaca Prospektus Perusahaan IPO

    Mengenal Konsep Prospektus

    Setiap perusahaan pasti akan mengumpulkan prospektus sebelum mereka menawarkan saham perdananya di bursa saham. Prospektus sendiri adalah dokumen yang diberikan kepada calon investor agar mereka tertarik membeli efek atau saham dari perusahaan pemilik prospektus.

    Lantas, apa saja sih isi dari dokumen tersebut?

    Sebagai rangkuman investasi, prospektus yang baik dalam penawaran saham umumnya mencakup beberapa informasi berikut:

    1. Ringkasan singkat tentang latar belakang perusahaan dan informasi keuangan.
    2. Nama perusahaan yang menerbitkan saham.
    3. Jumlah saham.
    4. Jenis sekuritas yang ditawarkan.
    5. Apakah penawaran bersifat publik atau pribadi.
    6. Nama-nama kepala perusahaan.
    7. Nama bank atau perusahaan keuangan yang melakukan penjaminan emisi.

    Namun, prospektus tak hanya muncul di kancah investasi saham semata. Investasi reksa dana juga mengenal konsep prospektus yang berisikan tujuan dana kelolaan, strategi investasi, risiko, kinerja, kebijakan distribusi, biaya, pengeluaran, hingga manajemen dana. Tak ketinggalan, prospektus tersebut juga berisikan komponen biaya pembelian, penjualan, dan perpindahan antardana.

    Karena prospektus adalah informasi yang amat dibutuhkan dalam penawaran saham, maka beberapa perusahaan diizinkan untuk mengajukan prospektus ringkas terlebih dahulu. Isi dokumen ini umumnya berisi informasi yang sama dengan prospektus final.

    Nah, investor bisa membaca prospektus ringkas tersebut untuk mempelajari risiko yang terkait investasi sekuritas atau dana. Namun, tetap saja, risiko investasi yang lebih rinci akan dijelaskan di prospektus final berikut dengan profil rinci perusahaan seperti usia perusahaan, latar belakang manajemen, hingga kapitalisasi penerbit saham.

    Jika investor tidak yakin dengan isi prospektus perusahaan calon penerbit saham IPO, maka mereka juga bisa mencocokkan isinya dengan laporan keuangan perusahaan.

    Mengenal Tanggal dalam Prospektus

    Khusus perkara IPO, Sobat Cuan harus memperhatikan tanggal-tanggal penting yang terdapat di dalam prospektus, misalnya tanggal penerimaan saham dan kapan kamu harus menyetor investasimu ke sekuritas.

    Sekarang, yuk kupas tuntas tanggal-tanggal tersebut satu per satu sesuai contoh yang berdasarkan tangkapan layar prospektus berikut!

    Sobat Cuan bisa melihat enam baris yang menunjukkan tanggal-tanggal penting di tangkapan layar prospektus di atas. Namun, jika kamu ingin mengikuti proses IPO, maka kamu hanya perlu memperhatikan lima baris terpenting di bawah. Berikut penjelasannya!

    1. Masa Penawaran Awal: Pada masa penawaran awal, atau umum dikenal sebagai book building, investor dapat menyampaikan minat atas suatu saham yang akan IPO. Masa penawaran awal dapat berlangsung selama paling cepat tujuh hari kerja dan paling lama 21 hari kerja.
    2. Perkiraan Masa Penawaran Umum: Periode masa penawaran umum biasanya berlangsung paling lama lima hari kerja. Pada periode ini, investor wajib menyediakan dana sesuai dengan pesanan dan menginformasikan minat yang disampaikan pada masa book building untuk menjadi pesanan di masa offering nantinya
    3. Perkiraan Tanggal Penjatahan: Di periode ini, perusahaan akan mengalokasikan jumlah saham bagi investor yang telah melakukan subscribe di periode book building. Namun, tidak menutup kemungkinan jika alokasi yang didapatkan tidak sesuai dikarenakan oversubscribed atau tingginya permintaan saham dari investor.
    4. Perkiraan Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik: Di periode ini, perusahaan akan mendistribusikan saham-saham ke investor sesuai jatahnya. Saham tersebut akan dikirimkan ke Rekening Dana Nasabah (RDN).

    Perkiraan Tanggal Pencatatan Saham: Di periode ini, saham yang telah kamu pilih atau beli akan mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.



    Sumber : pluang.com

  • Apa Untungnya Beli Saham IPO?

    Manfaat Membeli Saham IPO

    Secara umum, terdapat dua manfaat utama yang bakal kamu dapat dengan mengoleksi saham IPO.

    1. Bisa Menikmati Pertumbuhan Dividen Sedari Dini

    Beberapa perusahaan melaksanakan IPO untuk menggaet pendanaan yang murah demi melakukan ekspansi bisnisnya. Jika ekspansi bisnis mereka terbilang sukses, maka pundi-pundi laba yang mereka koleksi pun akan semakin bejibun ke depan.

    Nah, melihat hal ini, Sobat Cuan tentu berharap kecipratan cuan perusahaan tersebut, bukan? Jika memang demikian, maka tidak ada salahnya kamu membeli saham perusahaan tersebut saat IPO. Mengapa demikian?

    Seperti yang diketahui, IPO adalah aksi perusahaan yang memberikan kesempatan bagi calon investor untuk memiliki kepemilikan di perusahaan tersebut. Sebagai imbal baliknya, investor tentu akan mendapat dividen per tahunnya.

    Sekarang, bayangkan jika aksi ekspansi bisnis perusahaan ternyata benar-benar menghasilkan laba yang mumpuni ke depan. Hasilnya, kamu tentu saja bakal diganjar dividen yang melimpah pada tahun-tahun mendatang.

    Sehingga, jika kamu sudah berpartisipasi di saham perusahaan tersebut sejak awal, maka kamu bisa mengakumulasi dividen lebih banyak, plus menikmati pertumbuhan dividennya sedari dini, dibanding investor lainnya.

    Hanya saja, kamu bisa menikmati hal tersebut jika sang perusahaan benar-benar memiliki prospek yang bagus ke depan. Oleh karenanya, jangan malas untuk membedah laporan keuangan dan prospektus calon perusahaan IPO ya, Sobat Cuan!

    2. Koleksi Saham di Harga Murah

    Aktivitas IPO juga memungkinkanmu untuk mendapatkan saham di harga yang lebih murah. Nah, dalam hal ini, Sobat Cuan bisa menengok contoh-contoh yang pernah terjadi di bursa saham sebelumnya.

    Salah satu peristiwa yang bisa kamu pelajari adalah IPO perusahaan belanja daring terbesar China, Alibaba, di bursa saham AS pada 2014 silam. Kala itu, Alibaba berhasil meraup pendanaan publik sebesar US$21,8 miliar dan menorehkan sejarah sebagai IPO terbesar sejagat.

    Ternyata, saat mencapai titik puncaknya pada 2020 silam, harga saham Alibaba meroket fantastis 244% dibanding saat IPO. Dengan kata lain, jika Sobat Cuan investasi Rp10 juta di saham Alibaba saat IPO, maka saham Alibaba milkmu akan bernilai Rp24,4 juta hanya dalam enam tahun saja!

    Bayangkan jika kamu baru kepikiran untuk membeli saham Alibaba pada 2020 lalu. Tentu kamu akan merasa menyesal tidak membeli saham tersebut pada saat IPO, bukan?

    Tapi, bukan berarti pertumbuhan nilai saham Alibaba terbilang selalu mulus, Sobat Cuan. Faktanya, nilai saham Alibaba bahkan sempat anjlok 38% setelah setahun melantai di bursa.

    Selain Alibaba, banyak nilai saham perusahaan yang amblas dalam waktu singkat pasca IPO. Penyebabnya pun beragam, mulai dari kinerja yang melempem, kepemimpinan perusahaan yang buruk, hingga kondisi makroekonomi yang memang sedang tidak sehat.

    Namun, terdapat pula saham yang nilainya tak pernah kembali menyentuh harga IPO-nya selepas menawarkan saham perdananya, misalnya saham Grab dan Coinbase. Hal ini, bisa jadi, disebabkan oleh kondisi perusahaan yang memang oke serta penilaian baik dari para investor.



    Sumber : pluang.com

  • Cara Menakar Mahal & Murah Saham IPO

    Menilai Saham IPO dari Valuasi

    Salah satu cara untuk melihat mahal-murahnya harga saham IPO adalah dengan melihat valuasinya.

    Valuasi adalah analisis untuk mengukur seberapa berharganya suatu aset atau perusahaan pada saat ini maupun masa depan. Sehingga, dalam kalkulasinya, pelaku pasar tak hanya memasukkan unsur harga saham saja namun juga aspek keuangan lainnya.

    Ketika melakukan valuasi calon perusahaan IPO, seorang analis akan memasukkan unsur manajemen bisnisnya, komposisi permodalannya, prospek pendapatan ke depan, harga pasar dari aset yang dimiliki, dan masih banyak metrik lainnya ke dalam kalkulasinya.

    Nah, jika langkah itu rampung, maka analis akan membandingkan valuasinya dengan rata-rata valuasi perusahaan lain yang bergerak di sektor serupa. Hal ini, tentu saja, dilakukan demi mengetahui apakah harga saham calon perusahaan IPO tersebut terbilang lebih mahal atau murah di sektornya.

    Sobat Cuan bisa melakukan berbagai macam metode valuasi saham. Kamu bisa menggunakan metode rasio harga saham terhadap pendapatan (Price-to-Earning/P/E) atau rasio harga saham terhadap penjualan (Price-to-Sales/P/S) jika sang calon perusahaan IPO belum membukukan laba bersih.

    Namun, Pluang tidak akan membeberkan kedua rasio tersebut lebih lanjut karena kupas tuntas ihwal valuasi saham terdapat di artikel berikut. Hanya saja, konsep valuasi menggunakan rasio P/E atau P/S sejatinya mudah untuk kamu pahami.

    Jika nilai P/E atau P/S calon perusahaan IPO lebih tinggi dari rata-rata sektornya, maka harga saham IPO tersebut terbilang mahal. Begitu pun sebaliknya. Harga saham IPO akan dianggap murah jika rasio P/E atau P/S calon perusahaan IPO lebih rendah dari rata-rata sektornya.

    Secara teori, perusahaan yang ingin melantai di bursa seharusnya punya valuasi yang bisa dibilang murah. Hal ini bertujuan agar investor tertarik untuk menginvestasikan uangnya ke perusahaan-perusahaan tersebut.

    Tetapi, perusahaan calon IPO juga tidak menutup kemungkinan untuk “mendongkrak” valuasinya karena menganggap perusahaannya lebih oke dibanding kompetitor lain.

    Bahan Pertimbangan Sebelum Beli Saham IPO

    Sekarang, anggap saja kamu sudah melakukan valuasi saham IPO. Namun, ternyata kamu masih sangsi untuk mengoleksinya.

    Nah, langkah terakhir yang bisa kamu lakukan adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut bagi diri sendiri sebelum benar-benar mengikuti proses IPO satu perusahaan.

    1. Apakah bisnis perusahaan tersebut akan bertumbuh dan menjelaskan harganya saat ini? Jika ya, apa penyebabnya? Apa saja hambatan-hambatan dan seberapa besar kemungkinan perusahaan tersebut gagal bertumbuh?
    2. Apa saja keunggulan dari perusahaan tersebut? Apakah jajaran manajemen perusahaan tersebut kompeten dan dapat melindungi perusahaan tersebut dari risiko?
    3. Hal apa yang dapat melindungi perusahaan ini dari perusahaan lain yang ingin menghancurkan pangsa pasar dan keunikan dari calon perusahaan IPO?
    4. Terakhir, apakah Sobat Cuan tetap nyaman memegang saham IPO jika harganyaanjlok lebih dari 50% pasca IPO?

    Jika kamu sudah yakin akan atas jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka sudah saatnya kamu menentukan apakah akan beli saham IPO atau tidak.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Ekosistem Internet Computer (ICP)

    Internet Computer adalah teknologi komputasi awan generasi baru yang bertujuan untuk menjadi internet terdesentralisasi generasi berikutnya (next generation).

    Cara kerja teknologi ini adalah melangkahi kendali yang dimiliki perusahaan komputasi awan independen, seperti Google dan Amazon, untuk kemudian disambungkan satu sama lain. Dengan cara ini, maka Internet Computer mampu menciptakan satu jaringan internet yang terdesentralisasi bagi penggunanya.

    Teknologi ini muncul untuk mengatasi masalah yang terdapat di jaringan internet konvensional, misalnya monopoli data dan penyalahgunaan data pribadi. Selain itu, secara teorinya, teknologi ini digadang mampu untuk menjadi “kediaman” bagi “kode-kode logika piranti lunak dan data di dalam teknologi smart contract“.

    Mengapa Internet Computer Hadir?

    Saat ini, internet terbilang cukup tersentralisasi. Dengan kata lain, sebagian besar data-data situs dan aplikasi di dunia tersimpan di pusat-pusat data yang dimiliki oleh perusahaan bertitel raksasa teknologi (big tech).

    Namun, kondisi ini menyimpan bahaya tersendiri. Jika salah satu pusat data tersebut mengalami gangguan operasional, maka sebagian besar internet bisa amburadul.

    Salah satu contohnya terjadi pada Desember 2021 lalu ketika salah satu perusahaan penyedia jasa penyimpanan awan Amazon Web Services (AWS) mengalami pemadaman operasi. Imbasnya, jaringan internet bukan hanya kacau, tetapi juga bikin Amazon kesulitan mengantarkan pesanan konsumennya. Tak ketinggalan, peralatan rumah pintar (smart homes) dan aplikasi seperti Disney+ dan Venmo pun ikut berhenti beroperasi.

    Selain itu, penyedia pusat data tersentralisasi pun memiliki kemampuan untuk menyensor atau menghentikan aplikasi sesuka hati. Hal ini bisa terjadi baik karena keinginan perusahaan penyedia data maupun instruksi pemerintah setempat.

    Nah, untungnya, Internet Computer hadir untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas.

    Teknologi Internet Computer adalah internet terdesentralisasi jenis baru dan sekaligus ingin menjadi sistem komputasi global. Teknologi ini dimotori oleh teknologi smart contract dan kriptografi chain key, sehingga pusat-pusat data independen di seluruh dunia bisa bergabung untuk menjalankan situs dan aplikasi yang dikembangkan banyak pengembang.

    Dengan kata lain, teknologi ini hadir sebagai alternatif di mana pengembang dapat membangun, menyimpan, dan menjalankan situs dan aplikasinya secara terdesentralisasi dengan bantuan teknologi blockchain.

    Implikasinya, pengembang dapat membangun aplikasinya di The Internet Computer tanpa harus memiliki alamat fisiknya. Hal ini cukup berbeda dibanding penciptaan aplikasi pada umumnya, di mana pengembang harus menjalankan proyeknya di peladen khusus, misalnya Google.

    Nah, pengembang pun akan mendapat manfaat dari karakteristik tersebut.

    Mereka akan tetap mampu menjalankan situs dan aplikasinya di internet meski salah satu peladen yang dimiliki pusat data independen sedang stabil. Di samping itu, aplikasi dan data-data yang mereka gunakan juga akan hadir 100% di jaringan blockchain tanpa potensi kegagalan.

    Karakteristik tersebut membuat aplikasi-aplikasi yang berada di dalam Internet Computer tidak bisa dimiliki atau dikontrol oleh siapapun. Artinya, masing-masing pengembang di dalamnya memiliki hak dan kuasa penuh atas data-data mereka sendiri.

    Bahkan, pusat-pusat data independen yang menyokong jaringan Internet Computer juga tak punya akses ke data-data tersebut. Sehingga, pusat-pusat data independen tersebut tak punya kesempatan untuk mengumpulkan maupun menjual data ke pihak ketiga, misalnya pemasang iklan.

    Kendati demikian, jaringan Internet Computer akan membayar pusat-pusat data tersebut menggunakan token aslinya, ICP. Pembayaran tersebut merupakan kompensasi Internet Computer terhadap fasilitas operasi kode yang dijalankan di peladen yang dimiliki penyedia pusat data.

    Pendiri DFINITY Foundation Dominic Williams percaya bahwa karakteristik di atas bisa membuka gerbang terhadap satu konsep yang disebut ketunggalan blockchain, yakni konsep di mana seluruh aplikasi dan jasa internet pada akhirnya akan ditulis menggunakan smart contract di teknologi blockchain.

    Bagaimana Cara Kerja Internet Computer?

    Jaringan Internet Computer memanfaatkan inovasi-inovasi berikut untuk mencapai tujuannya:

    1. Chain Key Technology (CKT). Teknologi ini bisa menciptakan satu susunan node dengan memanfaatkan beberapa protokol kriptografi meski bermodal satu sandi publik (public key) saja. Teknologi CKT memungkinkan gawai seperti arloji pintar atau ponsel pintar untuk memverifikasi keaslian objek-objek dari internet.
    2. Non-Interactive Distributed Key Generation (NIDKG). Teknologi ini adalah sarana bagi pengguna untuk membagikan sandi rahasia di antara mereka tanpa harus berinteraksi satu sama lain. Di dalam NIDKG, satu penyalur sandi akan menyusun kode rahasia berdasarkan mekanisme Shamir’s Sharing Secret (SSS), yakni metode penyusunan kriptografi berdasarkan interpolasi polinomial dalam sebuah kolom yang terbatas. Jika langkah itu usai, maka sang penyalur akan memverifikasi dan menyebarkan sandi tersebut ke beberapa penerima tertentu.
    3. Network Nervous System (NNS). NNS adalah sistem tata kelola terbuka berbasis token yang bertanggung jawab untuk mengelola jaringan Internet Computer. NNS menyimpan informasi tentang node apa saja yang terhubung dengan subnet tertentu. Selain itu, sistem ini bertanggung jawab untuk memperbarui informasi yang ada di jaringan Internet Computer.
    4. Internet Identity. Ini adalah identitas daring yang bisa dimanfaatkan pengguna ketika mendirikan komunitas daring atau situs.

    Nah, seluruh inovasi di atas disokong oleh beberapa komponen. Lantas, apa saja komponen tersebut sesuai jenjangnya?

    1. Nodes

    Node adalah mesin tunggal yang beroperasi di pusat-pusat data. Mesin ini bertugas menggabungkan daya komputasi masing-masing pusat data tersebut agar Internet Computer bisa berjalan lancar.

    Hanya saja, node di jaringan Internet Computer berbeda dengan di jaringan Bitcoin dan Ethereum. Di dalam jaringan Internet Computer, node-node di dalamnya harus sesuai standar spesifikasi tertentu, sehingga tidak semua komputer bisa menjalankan node yang dimaksud.

    Kemudian, sekumpulan node di jaringan Internet Computer akan membentuk komponen lain yang disebut Subnets. Apakah itu?

    2. Subnets

    Subnets adalah sekumpulan node yang terdistribusi berdasarkan wilayah dan yurisdiksi dan membentuk konfigurasi blockchain yang unik di dalam jaringan Internet Computer.

    Komponen ini memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan jaringan Internet Computer dengan blockchain lainnya demi meningkatkan kapasitas seluruh jaringan Internet Computer.

    Subnets tercipta ketika NNS menggabungkan node-node yang berada di dalam jaringan tersebut. Kemudian, segala hal yang berjalan di satu subnet tertentu bisa dijiplak di satu atau beberapa node di dalam subnet.

    Berbeda dengan blockchain kebanyakan, subnet milik Internet Computer berinteraksi dengan satu sama lain menggunakan CKT alih-alih menggunakan algoritma konsensus seperti Proof of Work atau Proof of Stake. CKT sendiri berjalan dengan membagi eksekusi fungsi smart contract berdasarkan satu pendekatan yang disebut “pemisah dan penakluk” agar jaringan Internet Computer bisa melakukan proses transaksi yang cepat dan efisien.

    Nah, karakteristik ini memungkinkan jaringan Internet Computer untuk memfinalisasi transaksi dalam satu atau dua detik saja.

    3. Canisters

    Canisters adalah aplikasi yang berjalan di atas sebuah subnet, misalnya kode, memori, hingga kapasitas penyimpanan untuk menyokong aplikasi-aplikasi yang beroperasi di atas jaringan Internet Computer. DFINITY sendiri menganggap Canisters sebagai “smart contract yang punya tingkat skalabilitas apik”.

    Canisters memang dipasang untuk mengoptimalisasi penciptaan aplikasi terdesentralisasi (dApps), utamanya dari sisi penyusunan struktur aplikasi.

    Uniknya, setiap canister bisa membuat keputusan atas fungsi-fungsi yang terjadi di canister lain asal keduanya punya kesepakatan bersama untuk melakukan hal tersebut.

    Dalam mengoperasikan canister, pengembang aplikasi hanya menandai fungsi-fungsi apa saja yang bisa digunakan oleh canister lainnya secara permanen. Kemudian, ia juga bisa menyerahkan kendali canister-nya melalui sistem tata kelola publik untuk menghindari risiko seperti pemadaman aplikasi mendadak.

    Untuk mengoperasikan canister, pengembang aplikasi menggunakan cycles sebagai “bahan bakar” daya komputasi dan manajemen memori penyimpanan di canister.

    4. Bahasa Motoko

    DFINITY percaya bahwa meningkatkan performa dan efisiensi perngoperasian kode-kode di Internet Computer akan berguna untuk menekan biaya. Untuk mencapai tujuan tersebut, DFINITY menggandeng pencipta bahasa WebAssembly Andreas Rossberg untuk menciptakan bahasa pemrograman bernama bahasa Motoko.

    Ketika digabungkan dengan jaringan Internet Computer, bahasa Motoko mampu meningkatkan efisiensi kode dan ujungnya bikin biaya operasional canister menjadi efisien.

    Sebagai perbandingan, aplikasi TikTok menggunakan 15 juta baris kode sementara aplikasi mirip TikTok yang diluncurkan DFINITY bernama CanCan ‘hanya’ membutuhkan 1.000 baris kode.

    5. Cycles

    Cycles adalah sumber daya komputasi yang berguna bagi pengembang untuk menjalankan canisters di dalam jaringan Internet Computer. Konsepnya mirip seperti istilah gas di dalam jaringan Ethereum.

    Di dalam operasi canister, cycles ibarat bahan bakar yang dibutuhkan kendaraan agar melaju. Cycles akan terbakar ketika digunakan, yang mencerminkan ongkos sesungguhnya bagi pengembang untuk menjalankan aplikasinya dan merefleksikan nilai sumber daya fisik seperti peladen, energi yang dibutuhkan, piranti keras sumber penyimpanan data, bandwidth, dan lainnya.

    Pengembang perlu menukarkan token ICP yang dimiliki untuk mendapatkan cycles. 1 triliun cycles setara dengan 1 SDR, yakni satuan yang menggambarkan satu keranjang agregasi mata uang internasional. Sementara itu, nilai tukar antara cycles dan ICP berubah-ubah tergantung dengan proposal NNS setiap 10 menit sekali. Hal ini ditujukan agar ongkos komputasi di jaringan Internet Computer tidak berfluktuasi secara signifikan.

    6. Network Nervous System (NNS)

    NNS adalah piranti lunak otonom yang mampu melakukan tata kelola Internet Computer. Sistem ini benar-benar mengelola satu sistem jaringan Internet Computer secara keseluruhan, mulai dari struktur jaringan, ekonomi, dan menjadi penentu pusat data mana saja yang bisa menjadi node dari Internet Computer.

    NNS juga bertanggungjawab untuk menciptakan subnets dengan menggabungkan beberapa nodes untuk menjadi “inang” dari canisters. Sistem ini juga akan mengawasi kapasitas jaringan secara terus menerus dan akan menambah nodes dan subnets jika dibutuhkan. Nah, karakteristik tersebut akan membuat jaringan Internet Computer memiliki skalabilitas yang mumpuni.

    NNS juga memiliki sandi publik (public key) yang bertugas memvalidasi seluruh transaksi di jaringan Internet Computer sekaligus menjadi blockchain “utama”.

    7. Neuron

    Neuron digunakan untuk mengunci token ICP sesuai waktu untuk menghasilkan kekuatan voting ketika pengguna ingin menyetujui proposal pembaruan di jaringan tersebut. Neuron dapat mengikuti metode pemungutan suara neuron lain, mirip dengan Staking Delegation di blockchain berbasis Proof of Stake.

    8. Internet Identity Service

    Layanan ini memungkinkan pengguna untuk mengautentikasi diri secara aman dan anonim ketika mereka mengakses aplikasi. Setiap aplikasi mengharuskan pengguna untuk menggunakan identitas berbeda, namun pengguna juga bisa menggunakan metode autentikasi yang terdapat di perangkat terdaftar berbeda demi masuk ke aplikasi yang sama.

    Berbeda dengan sistem autentikasi lainnya, identitas internet di jaringan Internet Computer tidak mengahrusnya penggunanya untuk menyusun atau mengelola kata sandi, menyusun frasa aman secara kriptografi, atau memberikan informasi pribadi apa pun ke aplikasi atau layanan.

    Sebagi gantinya, pengguna bisa melakukan autentikasi dengan cara seperti teknologi pengenal wajah dari ponsel genggam, membuka kata sandi dari komputer, atau kunci keamanan.

    Apa yang Membuat Jaringan Internet Computer Unik?

    Tidak seperti platform lainnya, pengguna jaringan Internet Computer tak perlu membayar daya komputasi smart contract atau canister. Sebab, pengguna hanya akan membayar canister menggunakan cycles, yang bisa ditukarkan ke satu mata uang tertentu.

    Pengguna bisa mendapat manfaat dari karakteristik ini. Utamanya, pengguna tak perlu memiliki aset kripto tertentu hanya untuk berinteraksi dengan jaringan Internet Computer. Sehingga, seluruh pengguna bisa memanfaatkan jaringan tersebut tanpa ada yang menghalanginya.

    Di samping itu, pengguna juga tak perlu tahu mengenai sifat desentralisasi yang terdapat di jaringan Internet Computer. Akibatnya, pengguna bisa menjalankan aktivitasnya dengan lancar, bahkan mungkin mirip dengan apa yang sudah mereka kerjakan selama ini.

    Kemudian, pusat-pusat data independen akan menerima komisi dalam bentuk token ICP sebagai balas jasa karena telah memfasilitasi jaringan Internet Computer.

    Beberapa token ICP akan dikonversi ke dalam cycles untuk membayar jasa canisters. Nilai ongkos setiap cycle akan ditentukan berdasarkan tata kelola jaringan dan seharusnya nilainya bersifat stabil antar waktu. Meski jumlah cycles akan terus menyusut setiap digunakan untuk mengoperasikan canister, namun jaringan tetap akan menjaga suplainya secara rutin.

    Apa Beda Jaringan Internet Computer dengan Ethereum?

    Sobat Cuan mungkin sudah mengetahui dari artikel ini bahwa Ethereum disebut sebagai “komputer dari segala komputer”. Tetapi, Internet Computer juga mengklaim status yang sama. Lantas, apa sih bedanya kedua jaringan tersebut?

    Ethereum menyediakan kombinasi teknologi bagi pengembang untuk mengoperasikan dApps. Sementara itu, Internet Computer menyediakan kombinasi teknologi untuk menjadi “kediaman” dan sarana pengoperasian aplikasi sebagai pengganti internet konvensional.

    Mengapa perbedaan ini menjadi penting? Nah, Sobat Cuan perlu ilustrasi untuk membayangkan hal tersebut.

    Ambil contoh salah satu dApps Ethereum populer, Uniswap. Meski segala kegiatannya bersifat terdesentralisasi, namun bayangkan jika data-datanya tersimpan di jaringan Google. Imbasnya, operasi Uniswap bisa saja akan padam jika otoritas atau pemerintah tertentu memaksa Google untuk menghentikan operasi exchange kripto yang tak teregulasi. Itulah yang kemudian disebut sebagai titik kegagalan tunggal (single point of failure).

    Perbedaan lain antara keduanya juga terletak dari arsitektur jaringannya.

    Jaringan Ethereum memungut biaya transaksi yang cukup tinggi ke penggunanya. Sementara itu, biaya transaksi di jaringan Internet Computer hanya dibayar oleh pengembang aplikasi, sehingga pengguna biasa tidak perlu mengeluarkan biaya transaksi.

    Apalagi, Ethereum punya masalah tingkat pemrosesan transaksi per detik yang rendah. Sementara itu, jaringan Internet Computer memang didesain untuk berjalan di kecepatan tinggi, sehingga penyelesaian transaksi di dalamnya hanya butuh 5 hingga 10 detik saja.

    Bagaimana Internet Computer Berhadapan dengan Konten Ilegal?

    Kehadiran “orang jahat” adalah masalah menahun di sistem terdesentralisasi. Ketiadaan sensor di jaringan terdesentralisasi memang membuka celah hadirnya konten-konten ilegal. Apalagi, jaringan internet yang bebas dan terbuka membuat pengembang aplikasi bisa seenaknya menciptakan konten tak bertanggung jawab dan lolos dari pemblokiran.

    Penyedia data tersentralisasi seperti Facebook atau Google punya wewenang penuh untuk menghapus konten-konten ilegal yang berada di dalamnya. Namun, bagaimana jika konten ilegal tersebut hadir di jaringan Internet Computer?

    Terdapat spekulasi bahwa internet terdesentralisasi akan bergerak menuju tata kelola internet yang terdesentralisasi pula, di mana pengembang dan pengguna punya pendapat ihwal regulasi yang tepat di jaringan tersebut. Namun, apakah solusi ini bakal terbilang jitu? Tunggu saja kelanjutannya ya, Sobat Cuan!

    Apa Saja Kelebihan dan Kritikan Terhadap Internet Computer?

    Kelebihan

    1. Sebuah revolusi teknologi blockchain yang digadang sebagai inovasi terbesar setelah hadirnya Bitcoin dan Ethereum.
    2. Potensi dan turunan dari teknologi internet terdesentralisasi terbilang cukup besar, di antaranya:
      1. Anti sensor
      2. Tidak ada titik kegagalan tunggal
      3. Pengguna memiliki hak tunggal atas kepemilikan data
      4. Tata kelola yang terbuka akan mendorong inovasi jaringan
      5. Mencegah timbulnya konflik kepentingan, misalnya perusahaan penyimpanan komputasi yang bersaing dengan jasa yang ditawarkannya.
    3. Tim di balik jaringan Internet Computer adalah sosok-sosok penting di kancah kripto. Mengutip DFINITY, jaringan ini didirikan oleh insinyur, kriptografer, dan ahli-ahli operasional yang paling mumpuni di industri kripto. Tim Internet Computer sendiri dipimpin oleh penemu dan ilmuwan utama DFINITY Dominic Williams, seorang wirausaha kawakan dan pakar teori kripto yang menyusun DFINITY threshold relay dan teknologi PSC chain.
    4. Teknologi Internet Computer disokong oleh investor besar dan kawakan seperti
      1. Andreessen Horowitz
      2. Polychain Capital
      3. SV Angel
      4. Aspect Ventures
      5. Electric Capital
      6. ZeroEX
      7. Scalar Capital
      8. Multicoin Capital

    Kritikan

    1. Salah satu proyek blockchain yang ambisius. Bahkan, bisa dibilang terlalu ambisius.
    2. Jaringan punya standar tinggi untuk menjalankan node. Hal ini sejatinya baik untuk menunjang performa jaringan, namun bisa menjadi hambatan bagi pengguna umum dan bisa merusak semangat desentralisasi.
    3. Internet Computer bukanlah upaya pertama untuk “permak” jaringan internet. Pasalnya, sudah ada jaringan lain yang mirip seperti Solid (MIT), SAFE Network, InterPlanetary File System, dan Blockstack.
    4. Revolusi internet seperti yang dilakukan Internet Computer akan membutuhkan waktu lama dan perubahan pola masyarakat yang besar.
    5. Internet Computer bersaing sengit dengan penyedia pusat data lainnya seperti Google dan Amazon.
    6. Menerima pendanaan besar dari perusahaan modal ventura, sehingga aksi harganya terbilang mengecewakan lantara investor awal telah melakukan ambil untung.

    Aspek Tokenomics ICP

    Jaringan Internet Computer memiliki koin native yang disebut ICP. Token ini memiliki dua kegunaan, yakni:

    1. Tata Kelola dan Hadiah

    Seperti yang telah disinggung di atas, NNS bertanggung jawab untuk “mengelola, mengkonfigurasi, dan mengendalikan” jaringan secara keseluruhan.

    Di dalam NNS, pengguna akan mengunci token ICP dalam jangka waktu tertentu. Setelahnya, Neuron bakal tercipta, yang nantinya akan memungkinkan pengguna untuk memungut suara terhadap proposal-proposal yang berkaitan dengan pengembangan jaringan ke depan. Sebagai balasan atas kontribusinya di pemungutan suara tersebut, pengguna bisa memperoleh hadiah (rewards) tata kelola.

    2. Menjadi ‘Inang’ Bagi Situs dan Aplikasi di Internet Computer

    Untuk menyimpan situs dan aplikasi di Internet Computer, pengembang perlu membayar komisi (gas fees) dalam bentuk token ICP. Token ini bisa ditukarkan ke dalam cycles, yang berfungsi sebagai daya komputasi canister.

    Ongkos komisi ini kemudian akan diteruskan ke peladen-peladen pusat data yang mengoperasikan aplikasi tersebut. Sama seperti model harga jasa komputasi awan saat ini, nilai ongkos untuk setiap transaksi didasarkan atas kebutuhan daya komputasi dan jumlah data yang diproses dan disimpan.

    Isi Ekosistem Internet Computer

    Berikut adalah beberapa contoh anggota ekosistem Internet Computer

    1. OpenChat

    OpenChat adalah media sosial terdesentralisasi yang bisa diakses dari gawai apapun. Di dalamnya, pengguna bisa berinteraksi dengan pengguna lain sekaligus memoderasi konten secara kolektif.

    Jaringan blockchain-nya membuka kesempatan bagi pengguna untuk mempopulerkan kontennya dengan cara memberikan insentif bagi pengguna lain agar mereka terus-terusan membuka konten yang ingin dipopulerkan tersebut.

    2. Distrikt

    Distrikt adalah jaringan profesional yang terdesentralisasi dan dimiliki oleh komunitas. Pengguna platform ini akan memungut suara terkait pembaruan sistem di dalamnya dengan jaminan bahwa data mereka tidak akan dijual ke pihak lain. Hal ini bisa terjadi berkat komponen Internet Identity yang dimiliki jaringan Internet Computer.

    3. Origyn

    Orygin adalah platform lintas industri yang dibangun di atas jaringan Internet Computer, utamanya untuk mendukung kolaborasi dan penciptaan nilai baru di kalangan pelaku industri benda-benda mewah.

    Orygin menggunakan tanda tangan biometrik yang unik dan nantinya bisa diverifikasi menggunakan jaringan Internet Computer. Seperti dimuat di majalah Forbes dan harian New York Times, Orygin mengombinasikan tanda tangan digital yang unik, tata kelola berbasis token, dan barang mewah secara fisik.



    Sumber : pluang.com

  • Memahami Ekosistem Mina, Jaringan Blockchain Paling Ringan

    Sekilas Mengenai Jaringan Mina

    Mina adalah protokol blockchain yang ringan yang dapat mempertahankan ukurannya hingga 22 kilobyte (kb) saja terlepas dari pertumbuhan penggunaannya. Karakteristik ini memungkinkan Mina untuk memiliki skalabilitas besar dan punya semangat desentralisasi lengkap, namun tetap bisa digunakan meski melalui ponsel pintar saja.

    Mengapa Jaringan Mina Hadir?

    Jaringan Mina hadir karena kapasitas penyimpanan menjelma menjadi masalah kronis di jagat teknologi blockchain.

    Di satu sisi, jaringan blockchain berhasil membuka mata masyarakat bahwa mereka kini bisa mengakses sistem keuangan tanpa perlu otorisasi ke satu lembaga tertentu. Namun, seiring adopsi teknologi blockchain terus bertumbuh, maka kapasitas penyimpanan data-data di dalamnya pun semakin sesak.

    Per Juni 2021, ukuran blockchain Bitcoin saja mencapai 348 Gigabyte (GB) sementara blockchain Ethereum sudah menyimpan data 248 GB di waktu yang sama. Ukuran datanya cukup besar, bukan?

    Beberapa pengembang blockchain sejatinya sudah mengantisipasi masalah tersebut dengan memperbesar ukuran daya penyimpanannya. Sayangnya, ukuran penyimpanan blockchain yang menggembung bikin biaya pengoperasian node semakin mahal.

    Sekadar informasi, node sendiri merupakan teknologi yang menyimpan seluruh data historis blockchain. Sehingga, semakin banyak jumlah node dalam satu jaringan blockchain, maka jaringan tersebut akan membutuhkan lebih banyak daya komputasi dan energi demi menjalankan node-node yang dimaksud.

    Mahalnya biaya operasi node tersebut berpotensi menghalangi pengguna biasa untuk menikmati jaringan blockchain. Sehingga, ada kemungkinan jaringan blockchain hanya akan bisa dinikmati, atau bahkan dikendalikan, oleh pengguna yang bermodal besar dan punya daya komputasi yang perkasa. Ujung-ujungnya, jaringan blockchain tersebut rentan terpapar risiko sentralisasi.

    Jika jaringan blockchain tersentralisasi, maka masalah-masalah lain pun akan datang menghampir. Misalnya, perkara keamanan data pribadi, kelancaran jaringan, ongkos transaksi, kemudahan untuk digunakan, dan kemampuannya untuk terintegrasi dengan jasa keuangan tradisional.

    Nah, jaringan Mina hadir untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas.

    Protokol Mina adalah produk besutan perusahaan komputasi O(1) Labs yang diluncurkan 2017 silam. Jaringan ini diklaim sebagai “jaringan blockchain paling ringan di dunia” yang menggunakan kriptografi zero-knowledge untuk menyelesaikan permasalahan di atas secara berbarengan.

    Namun, kenapa jaringan Mina bisa ringan, padat, dan menyelesaikan semua persoalan blockchain? Nah, hal itu bisa terjadi berkat sistem kriptografinya yang bernama zk-SNARK. Apakah itu?

    Mengenal zk-SNARK, Kunci Efisiensi Mina

    zk-SNARK adalah sistem bukti kriptografi yang dikembangkan profesor Institut Teknologi Massachusetts (MIT) sekaligus penemu Algorand Silvio Micali.

    Sistem tersebut memungkinkan beberapa pihak untuk mengotentikasi informasi milik seseorang. Namun, orang tersebut tidak perlu menyediakan informasi yang dibutuhkan tersebut secara gamblang. Kok bisa?

    Pasalnya, zk-SNARK dapat memverifikasi komputasi apapun, baik mudah maupun kompleks, dengan cara yang sangat efisien.

    Sebagai ilustrasi, jika pengguna menciptakan blok transaksi baru di blockchain, maka ia nantinya akan berhadapan dengan zk-SNARK untuk menentukan benar atau tidaknya pencatatan baru di blockchain tersebut.

    Kemudian, layaknya algoritma konsensus pada umumnya, seluruh node-node di jaringan akan menyimpan data di jaringan blockchain. Namun bedanya, ketika memverifikasi pencatatan data baru di blockchain, sistem zk-SNARK hanya membutuhkan bagian kecil saja dari data historis blockchain tersebut alih-alih menggunakan satu data historis secara keseluruhan.

    Nah, konsep inilah yang sejatinya terdapat di jaringan Mina. Kehadiran zk-SNARK dapat mengurangi kebutuhan daya komputasi secara signifikan demi mendukung skalabilitas jaringan blockchain tersebut. Imbasnya, pengguna bahkan bisa menggunakan ponsel pintar hanya untuk memanfaatkan jaringan Mina.

    Mengupas Konsep Recursive zk-SNARKs di Jaringan Mina

    Secara lebih detail, konsep kriptografi zk-SNARKs nantinya akan membentuk satu rangkaian kriptografi di jaringan Mina bernama Recursive zk-SNARKs. Seperti apa lengkapnya?

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, protokol Mina menggunakan zk-SNARKs untuk menciptakan gambaran kecil (snapshots) dari satu data historis blockchain untuk memvalidasi pencatatan satu blok transaksi baru di dalamnya. Snapshot ini berfungsi memberi gambaran bahwa blok transaksi baru tersebut bersifat “valid mengingat blok-blok sebelumnya pun telah terverifikasi”.

    Jika Mina menciptakan blok transaksi baru, maka blok tersebut akan menciptakan snapshot-nya sendiri dengan menggunakan snapshot sebelum-sebelumnya sebagai latar belakang.

    Kemudian, snapshot yang berasal dari blok transaksi baru tersebut akan digunakan sebagai snapshot latar belakang untuk penciptaan blok transaksi yang akan datang. Sehingga, masing-masing data transaksi bisa saling terkait satu sama lain tanpa menambah beban komputasi di dalam node.

    Nah, snapshot yang saling berkait inilah yang kemudian disebut sebagai konsep Recursive zk-SNARK. Dengan mekanisme ini, pengguna bisa memverifikasi transaksi tanpa harus melibatkan satu data historis yang terdapat di dalam jaringan Mina.

    Hal menarik lainnya dari zk-SNARKS adalah kemampuannya untuk melindungi data pribadi di aplikasi-aplikasi yang berjalan di atas blockchain Mina yang disebut Snapps (SNARK-powered Applications). Aplikasi tersebut bisa melakukannya berkat kehadiran zk-SNARKS, sebuah teknologi yang mampu memverifikasi data-data pengguna tanpa mewajibkan mereka untuk menyetorkan informasi-informasi yang dibutuhkan jaringan.

    Memahami z-SNARKS Melalui Analogi

    Memang, memahami konsep snapshot bisa agak membingungkan. Untuk memudahkannya, mari analogikan snapshot sebagai kartu pos.

    Misalnya, kamu mengirim satu kartu pos bergambar seekor gajah kepada temanmu. Dari kartu pos tersebut, temanmu tentu bisa mengetahui seperti apa kondisi gajah di kartu pos tersebut. Apakah ia berukuran besar? Kecil? Atau malah tidak punya gading?

    Nah, kartu pos tersebut merupakan cerminan dari konsep snapshot di jaringan Mina. Orang lain bisa mengetahui kondisi jaringan tersebut hanya dengan melihat satu bagian data historis transaksi saja.

    Kamu juga bisa memahami cara kerja snapshot di jaringan Mina melalui analogi berikut.

    Bayangkan terdapat seorang ahli geologi yang menemukan lima bongkahan batu di depan matanya (hal ini bisa kamu analogikan dengan blok transaksi di jaringan Mina). Kemudian, sang ahli geologi tersebut ingin memeriksa apakah kelimanya mengandung unsur marbel di dalamnya atau tidak (ibaratkan hal ini dengan validasi transaksi di jaringan Mina).

    Nah, untuk membuktikannya, sang ahli geologi pun “membedah” seluruh batu tersebut dan melaporkan temuannya.

    Kemudian, anggap saja penemuannya bikin geger komunitas sains dan membuat koleganya di seluruh dunia (ibaratkan hal ini dengan validator transaksi di jaringan Mina) ingin melihat temuan tersebut. Sayangnya, mereka tidak bisa melihat kelima batu langka tersebut karena terhalang ongkos penerbangan yang mahal (ibaratkan hal ini dengan biaya untuk mengoperasikan dan memvalidasi node).

    Lantas, apakah solusi yang bakal diambil sang ahli geologi untuk membuktikan temuannya? Ya, ia akan mengambil foto masing-masing batu tersebut untuk kemudian dikirimkan ke kolega-koleganya.

    Agar temuannya terkesan meyakinkan, sang ahli geologi pun mengambil foto kedua yang menampilkan batu lainnya, plus foto pertama sebagai latar belakang fotonya. Begitu pun selanjutnya. Ia akan memasukkan foto kedua dan batu lainnya ke dalam frame ketika mengambil foto ketiga batu-batu tersebut.

    Namun, meski telah mengambil banyak foto bebatuan tersebut, sang ahli geologi memilih untuk mengirimkan foto terakhir yang menampilkan batu-batu tersebut dan memiliki latar belakang satu foto yang menunjukkan tumpukan foto-foto sebelumnya. Sehingga, foto terakhir terlihat seperti objek tiga dimensi yang berada di dalam objek dua dimensi.

    Nah, proses ini terbilang mirip dengan Recursive z-SNARKS, di mana pengguna bisa melihat kondisi jaringan blockchain secara keseluruhan hanya dengan satu kepingan informasi saja.

    Bagaimana Cara Kerja Mina?

    Jaringan blockchain Mina terdiri dari tiga fungsi atau nodes. Yuk, mari bahas satu per satu!

    3 Jenis Node Mina

    1. Node Validator

    Node validator berfungsi untuk memvalidasi transaksi dan menambahkan blok transaksi baru ke jaringan Mina.

    Sama seperti jaringan blockchain berbasis Proof of Stake lainnya, setiap node bisa terpilih menjadi validator jika pemiliknya melakukan staking aset kripto.

    Semakin banyak aset kripto yang mereka staking, maka semakin besar pula kesempatan mereka untuk terpilih sebagai produsen blok transaksi. Nantinya, pemilik node bisa mendapatkan imbalan (rewards) sebagai balas jasa atas partisipasi mereka dalam memvalidasi transaksi di jaringan Mina.

    2. SNARK Workers

    SNARK Workers adalah pihak-pihak yang menghasilkan zk-SNARK untuk memverifikasi transaksi di setiap blok transaksi baru di jaringan Mina. Produsen blok transaksi kemudian bisa melelang zk-SNARK mereka di sebuah lokapasar khusus SNARK bernama SNARKetplace.

    Jika zk-SNARKS mereka disetujui pengguna, maka mereka akan mendapat imbalan sebesar porsi tertentu dari biaya penambahan blok transaksi baru.

    SNARK Workers mesti menjaga harga zk-SNARK miliknya secara kompetitif mengingat produsen blok transaksi ingin menjaga biaya transaksinya seefisien mungkin.

    3. Node Arsip

    Node arsip di jaringan Mina bertugas untuk menjaga data-data blockchain secara asli dan tidak mengalami proses dekompresasi. Ini merupakan basis data cadangan yang memuat sejarah transaksi di jaringan tersebut.

    Memahami Proses Transaksi di Mina

    Proses transaksi di jaringan Mina tak akan berjalan dengan node-node yang disebut Full Node.

    Full Node sendiri merupakan node independen di jaringan blockchain yang mampu memverifikasi seluruh transaksi dan menggambarkan situasi jaringan saat ini.

    Pada teorinya, setiap node, terlepas dari apakah node tersebut terlibat di produksi blok atau tidak, merupakan Full Node di jaringan Mina. Sehingga, seluruh pengguna di jaringan blockchain Mina bisa melakukan verifikasi transaksi berkat konsep recursive z-SNARK yang hanya membutuhkan memori sekian ratus bytes saja.

    Namun, seperti apa detail proses transaksi di jaringan Mina? Yuk, simak penjelasannya berikut!

    1. Pengguna Mina menginisiasi transaksi yang langsung menuju mempool, yakni sebuah dokumentasi yang berisikan transaksi-transaksi yang belum terkonfirmasi.
    2. Snarkers akan mengambilalih dokumentasi tersebut untuk membuat SNARKS.
    3. Produsen blok transaksi akan memilih dan mengumpulkan transaksi-transaksi tersebut ke dalam sebuah blok. Caranya adalah dengan memilah-milah mempool untuk melihat transaksi apa saja yang paling menguntungkan.
    4. Produsen blok transaksi memilih SNARK dengan melihat nilai lelang yang paling murah.
    5. SNARK kemudian diikutsertakan ke dalam penciptaan blok transaksi. Setelahnya, blok tersebut ditambahkan ke data-data transaksi yang sudah ada sebelumnya (chain). Agar ukuran memori transaksi terbilang rendah, maka transaksi yang sudah melalui proses SNARK sebelum-sebelumnya akan dikeluarkan dari chain.
    6. Produsen blok transaksi kemudian akan melakukan pemuktahiran protokol zk-SNARKS.
    7. Blok transaksi tersebut resmi menjadi bagian blockchain Mina.

    Keunggulan dan Kritik Terhadap Mina

    Berikut adalah keunggulan yang terdapat di jaringan Mina:

    1. Jaringan blockchain yang ringkas dan padat.
    2. Ukuran blockchain yang ringan mengindikasikan bahwa skalabilitasnya cukup tinggi dan semua orang bisa memasuki jaringan tersebut, sehingga fungsi desentralisasinya tetap terjaga.
    3. Solusi zk-SNARK menjamin bahwa seluruh informasi dapat diverifikasi meski informasinya tersembunyi.
    4. Jaringan Mina didukung oleh deretan investor kawakan seperti:
      1. MetaStable Capital
      2. Polychain Capital
      3. Multicoin Capital
      4. Serial entrepreneur Naval Ravikant
      5. Coinbase board member Fred Ehrsam
      6. Andrew Keys dari ConsenSys Capital
      7. Charlie Noyes dari Paradigm
    5. Jaringan Mina dimiliki Mina Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang menyediakan dukungan dan bantuan dana kepada kontributor protokol Mina. Dewan pimpinan yayasan ini terdiri dari mantan direktur eksekutif ZCash Foundation, Josh Cincinnati, punggawa Slow Ventures, Jill Carlson, dan CEO O(1) Labs, Evan Shapiro.

    6. Mina Foundation telah bekerja sama dengan Ethereum Foundation untuk memboyong teknologi zk-SNARK ke jaringan Ethereum, yang sekaligus menjembatani jaringan Mina dan Ethereum.

    Kendati demikian, terdapat pula kritikan yang disematkan ke jaringan Mina, yakni:

    1. Mina adalah jaringan blockchain baru, sehingga ekosistem dan aplikasinya masih terbatas. Selain itu, tak ada jaminan bahwa ekosistem Mina akan terus berkembang mengingat ketatnya kompetisi antara jaringan blockchain lapis 1 lainnya.
    2. Mina bisa dibilang sebagai salah satu blockchain yang paling menjadi buah bibir sepanjang 2021. Bahkan, bisa dibilang, hype Mina terlalu digembor-gemborkan.
    3. Token native-nya, MINA, memiliki tingkat inflasi tinggi di beberapa tahun pertama pasca peluncurannya.
    4. Komunitas kripto masih meragukan kemampuan jaringan dalam menyelesaikan trilema blockchain lantaran keandalan skalabilitasnya masih lebih rendah dibanding lapisan blockchain lapis 1 lainnya. Namun, hal ini mungkin terjadi karena Snarkers membutuhkan waktu untuk menciptakan ZK proofs dan menawarkan hal tersebut ke produsen blok. Selain itu, waktu finalisasi transaksi juga terbilang lama, bahkan bisa mencapai 15 konfirmasi alias setara 60 menit demi mencapai progress validasi transaksi 99,9%.
    5. Terdapat perdebatan mengenai apakah Mina benar-benar memecahkan masalah yang terjadi pada blockchain-blockchain pendahulunya. Sebab, meski jaringan blockchain lainnya berukuran “tidak ringan”, namun di sisi lain, biaya penyimpanan makin murah dan internet makin cepat dari hari ke hari.

    Apa yang Membuat Jaringan Mina Unik

    1. Jaringan Blockchain yang Gampang Diakses Kini dan Nanti

    Protokol blockchain lain terbilang cukup berat, sehingga mereka membutuhkan perantara untuk menjalankan node-nya. Namun, hal itu tidak terjadi di jaringan Mina.

    Mina memiliki ukuran jaringan yang ringan, sehingga semua orang bisa saling terhubung secara peer-to-peer, bersinkronisasi, dan memverifikasi seluruh catatan transaksi di dalamnya.

    Selain itu, jaringan Mina juga dibangun di atas proof kriptografi yang berukuran konsisten. Sehingga, blockchain Mina bisa tetap mudah diakses meski skalanya mengembang.

    2. Jaringan yang Benar-Benar Mengedepankan Desentralisasi

    Dengan jaringan Mina, semua orang yang terkoneksi dengan jaringan tersebut bisa memvalidasi transaksi. Sebab, seperti yang disinggung di atas, semua node yang berpartisipasi di jaringan Mina layak menyandang status Full Node.

    Nah, desain Mina yang demikian mengindikasikan bahwa penggunanya bisa ikut serta secara penuh di dalam algoritma konsensus proof-of-stake dan memiliki akses ke jaringan blockchain yang aman dan anti sensor.

    3. Memiliki Aplikasi Terdesentralisasi yang Menjamin Keamanan Data Pribadi

    Saat ini, pengguna kripto tak punya alternatif selain menyerahkan data pribadinya ketika ingin menggunakan sebuah aplikasi. Namun, aplikasi terdesentralisasi di jaringan Mina alias Snapps)tidak akan menyimpan data pribadi penggunanya, seperti yang sudah disebutkan di atas.

    4. Menghubungkan Jagat Kripto dengan Dunia Nyata

    Protokol blockchain lainnya tidak berinteraksi dengan internet, sehingga kemanfaatannya pun terbatas. Tetapi, Snapps yang berada di atas jaringan Mina bisa berinteraksi dengan situs apapun dan, bahkan, bisa mengakses data riil untuk kepentingan jaringannya.

    Nah, implikasinya, pengembang bisa memanfaatkan informasi beneran ketika melakukan komputasi dan menentukan keputusan yang bakal mengubah cara mereka bekerja dan hidup. Tentu saja, hal ini dilakukan tanpa harus menginvasi atau menggunakan data-data pribadi yang sensitif.

    Contoh Kasus Penggunaan Jaringan Mina

    Tapi, seperti apa sih contoh penggunaan jaringan Mina yang benar-benar bisa dimanfaatkan pengguna awam? Nah, berikut adalah contoh kasus penggunaan jaringan Mina!

    1. Bayangkan kamu bisa melakukan pembayaran tanpa perantara langsung di ponsel pintar atau perambanmu.
    2. Bayangkan kamu bisa memperbaiki skor kreditmu untuk meminjam dana tanpa harus mengumbar penghasilanmu atau data historis utangmu.
    3. Bayangkan kamu bisa berpartisipasi di sebuah sistem voting di mana semua orang tak bisa melihat hasil suaramu tetapi mereka bisa memverifikasi hasilnya.
    4. Bayangkan kamu bisa memberikan data identitasmu ke penyedia otentikasi tunggal alih-alih menyerahkannya ke ratusan perusahaan.
    5. Bayangkan seluruh wirausaha di seluruh benua bisa mengembangkan produk berbasis kripto yang terintegrasi langsung ke sistem pembayaran tradisional tanpa dihalangi keribetan, biaya mahal, dan izin dari pihak ketiga.
    6. Bayangkan seluruh platform DeFi, exchange terdesentralisasi, dan lokapasar keuangan berjalan di atas jaringan yang murah dan privasi data pribadi yang terjamin.

    Nantinya, Mina akan berfokus pada tiga hal yang bisa menjembatani dunia nyata dengan dunia kripto. Tiga hal tersebut adalah:

    1. Keamanan Data Secara End-to-End yang Terjamin

    Pengguna bisa mengakses jasa on-chain tanpa harus mengorbankan kerahasiaan data pribadinya. Alih-alih, mereka bisa menggunakan Mina untuk mengakses data daringnya dan membuktikan bahwa mereka bisa memenuhi syarat-syarat yang diberikan oleh masing-masing Snapps yang beroperasi di atasnya.

    Sebagai contoh, Snapps Mina saat ini bisa terhubung ke pemberi skor kredit, yang bisa membuktikan bahwa rating kredit seseorang berada di bawah atau atas ambang batas tertentu. Dengan cara ini, pengguna Snapps tak perlu cemas untuk memberikan datanya ke lebih dari satu penyedia jasa saja.

    2. Web Oracle yang Bebas Diakses

    Dengan Snapps, pengembang dapat memanfaatkan data dunia nyata yang bersifat privat dan terverifikasi ketika mengembangkan aplikasinya. Mereka bisa mengikutsertakan informasi apapun yang tersedia secara publik di internet.

    Mereka juga bisa mengakses, menggunakan, dan memproteksi data-data sensitif hanya dengan membagikan proof yang relevan.

    3. Sistem Login Internet Tunggal

    Pengguna bisa mengakses situs internet apapun secara privat tanpa harus menciptakan akun baru dan menyerahkan data pribadi mereka ke banyak perusahaan internet.

    Alih-alih, mereka bisa mengakses seluruh situs tersebut dengan login sekali saja di jaringan Mina. Selain itu, tidak ada penyedia jasa tersentralisasi yang bisa menghalangi login mereka.

    Aspek Tokenomics MINA

    Seperti yang telah dijelaskan di atas, jaringan Mina memiliki satu token asli bernama MINA. Suplai asli MINA awalnya berjumlah 1 miliar keping. Namun, jaringan Mina tidak membatasi suplai dari token tersebut.

    Token ini bermanfaat sebagai rewards bagi pengguna jaringan dan alat satuan pembayaran di jaringan Mina.

    Jika digunakan sebagai insentif, maka tingkat reward efektif MINA didasarkan pada tingkat staking yang dilakukan pengguna tersebut. Semakin besar token MINA yang di-staking, maka nilai reward-nya akan semakin jumbo.

    Kemudian, uniknya, pengguna bisa mendapatkan reward dengan nilai setara dengan inflasi token jika ia melakukan staking 100% token MINA kelolaannya.

    Adapun tolok ukur inflasi yang digunakan adalah 12% untuk dua tahun pertama dan akan menyesuaikan ke angka 1% setiap enam bulan sekali setelahnya. Nantinya, tingkat inflasi MINA akan stabil di angka 7% setiap tahun.

    Nah, dengan demikian, jika pengguna melakukan 100% staking MINA miliknya, maka ia akan mendapat imbalan 12% untuk dua tahun pertama. Kemudian, ia akan menerima tingkat imbalan 7% setiap tahunnya.

    Hanya saja, jaringan Mina nantinya menargetkan bahwa tingkat imbalan yang akan diterima pengguna akan meningkat jika mereka menurunkan persentase total MINA yang di-staking.

    Sebagai contoh, jika pengguna melakukan staking 50% MINA miliknya alih-alih 100%, maka tingkat imbalan yang akan ia terima akan berlipat dari 12% ke 24% di tahun pertama. Sehingga, jika merujuk pada tingkat inflasi di atas, maka tingkat imbalan yang diterima akan menjadi 14% alih-alih 7%.

    Hal lainnya, beberapa peserta di jaringan Mina juga akan mengunci tokennya berdasarkan waktu. Artinya, token mereka akan disimpan dalam jangka periode tertentu dan dijadwalkan menerima reward yang sudah ditentukan sebelumnya.

    Nah, agar pengguna jaringan Mina mau mengunci tokennya berdasarkan jangka waktu tertentu, jaringan Mina biasanya menawarkan tingkat imbalan staking bernilai dua kali lipat lebih besar dari biasanya. Imbalan jumbo ini berhak dinikmati baik oleh produsen blok transaksi maupun delegator yang terlibat di dalam jaringan Mina.



    Sumber : pluang.com

  • Menjelajahi Solana, Sang Jaringan Pembunuh Ethereum

    Mengenal Jaringan Solana

    Solana adalah jaringan lapisan 1 blockchain berbasis teknologi smart contract yang berniat menjadi “pembunuh Ethereum”. Uniknya, jaringan ini memanfaatkan delapan inovasi blockchain, misalnya sistem timestamp bernama Proof of History yang digadang bisa memproses 65.000 transaksi per harinya, plus beberapa inovasi lainnya.

    Kemudian, berbeda dengan platform smart contract lain seperti Ethereum dan Polkadot, jaringan Solana bisa mencapai tingkat skalabilitas mumpuni hanya di blockchain lapisan 1 saja tanpa harus mendelegasikan sebagian beban transaksinya ke blockchain lapisan kedua.

    Namun, kenapa jaringan yang didirikan oleh mantan insinyur Qualcomm, Intel, dan Dropbox di akhir 2017 ini disebut sebagai “pembunuh Ethereum”?

    “Pembunuh Ethereum” adalah julukan bagi proyek-proyek blockchain yang punya impian untuk menyalip Ethereum sebagai pemain utama platform smart contract sejagat.

    Awalnya, komunitas kripto tak benar-benar serius menganggap julukan tersebut lantaran belum ada bukti bahwa eksistensi Ethereum akan menghadapi ancaman nyata. Namun, pada pertengahan 2021, mereka perlahan percaya bahwa dominasi Ethereum sepertinya bakal segera terkalahkan oleh platform lain, utamanya oleh jaringan Solana.

    Nah, pamor Solana yang meroket sebagai pemain utama kancah smart contract terjadi berkat sistem yang bernama Proof of History. Apakah itu?

    Mengenal Proof of History, Ciri Khas Jaringan Solana

    Proof of History adalah “jam terdesentralisasi” alias sumber waktu tunggal dan terpercaya di jaringan blockchain, yang didesain untuk mengatasi masalah inkonsistensi pencatatan waktu transaksi. Namun, apa alasan Solana memanfaatkan sistem tersebut?

    Asal tahu saja, salah satu masalah dari jaringan blockchain yang terdesentralisasi adalah keterangan waktu yang buram. Dalam artian, jaringan blockchain terdiri dari ribuan komputer yang saling terhubung satu sama lain untuk memverifikasi transaksi, namun masing-masing dari mereka menggunakan sistem waktunya sendiri dan tidak punya satu standar waktu yang digunakan.

    Alhasil, masing-masing validator kemudian harus berkomunikasi lagi antara satu sama lain hanya demi menyepakati waktu transaksi yang digunakan sebelum memverifikasi transaksi dan memproduksi blok transaksi baru. Namun imbasnya, waktu verifikasi transaksi pun semakin lamban dan justru membuat arus transaksi di jaringan blockchain menjadi macet.

    Sayangnya, masalah ini semakin parah seiring komputer yang terhubung di jaringan blockchain tumbuh dari angka ribuan menjadi jutaan. Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa jaringan Bitcoin dan Ethereum hanya mampu menghasilkan blok transaksi baru masing-masing selama 10 menit dan 15 detik.

    Nah, Proof of History hadir untuk memecahkan masalah tersebut.

    Dalam sistem ini, seluruh validator di dalam jaringan Solana menggunakan jam kriptografi untuk tetap update dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di jaringan tersebut. Akibatnya, masing-masing validator tak perlu lagi berkomunikasi satu sama lain untuk mencatat waktu transaksi yang dikehendaki. Sehingga, waktu verifikasi dan validasi transaksi di jaringan Solana bisa menjadi lebih cepat.

    Untuk mempermudah pemahamanmu mengenai Proof of History, yuk simak analogi berikut.

    Coba bayangkan jaringan blockchain sebagai taman bermain Disneyland, sementara proses transaksi di dalamnya sebagai cara untuk masuk ke lokasi tersebut.

    Ketika Disneyland mengawali jam operasinya, pengelola taman bermain tersebut tentu akan membariskan pengunjung sesuai urutan agar semua orang bisa antre untuk masuk ke dalamnya. Untuk menentukan pengunjung yang bisa masuk ke Disneyland paling awal, petugas gerbang  akan saling berkoordinasi satu sama lain terkait hal tersebut lewat radio.

    Nah, hal itulah yang sejatinya terjadi di dalam jaringan blockchain normal, seperti Ethereum. Namun, Solana punya mekanisme berbeda ketika mempersilakan pengunjung memasuki “taman bermainnya”.

    Dalam hal ini, jaringan Solana memiliki mesin cetak tiket di setiap gerbangnya. Setiap tiket mencantumkan keterangan waktu yang terdiri dari jam, menit, dan detik ketika sang pengunjung tiba di gerbang tersebut.

    Nantinya, setiap pengunjung akan memasuki taman bermain Solana sesuai waktu yang termuat di dalam tiket tersebut. Oleh karenanya, setiap pengunjung tidak bisa begitu saja masuk ke Solana jika waktu yang tercantum di tiketnya lebih lambat dibanding pengunjung lainnya.

    Hal di atas merupakan analogi yang sangat simpel atas sistem Proof of History. Jaringan Solana mencatat keterangan waktu setiap transaksi secara real-time, sehingga jaringan bisa terus memproses transaksi secara terus menerus tanpa perlu menunggu konfirmasi atas transaksi sebelumnya.

    Apa Keunikan Jaringan Solana?

    Hanya saja, keunikan jaringan Solana sejatinya bukan hanya terdapat di sistem Proof of History semata.

    Seperti yang telah dijelaskan di atas, Solana memanfaatkan delapan inovasi jaringan blockchain agar bisa memproses 65.000 transaksi per detik dan waktu penciptaan blok transaksi sebesar 400ms. Nah, kedelapan inovasi inilah yang menjadi daya tarik utama jaringan Solana ketimbang jaringan lainnya.

    Delapan inovasi blockhain tersebut terinspirasi dari optimalisasi performa piranti lunak. Maklum, hal ini tak terlepas dari latar belakang tim pendiri jaringan yang bergulat di bidang teknologi piranti lunak.

    Lebih lanjut, dengan berbekal inovasi tersebut, jaringan Solana tak perlu bergantung dengan “pecahan blockchain” atau solusi blockchain lapisan kedua untuk menjaga kecepatan dan skalabilitas transaksinya.

    Selain Proof of History, lantas apa saja inovasi-inovasi blockchain yang terdapat di jaringan Solana? Yuk, temukan jawabannya berikut!

    1. Tower BFT

    Jaringan Solana menggunakan algoritma konsensus bernama Tower Byzantine Fault Tolerance (BFT). Melalui algoritma ini, validator di jaringan Solana bisa melakukan verifikasi dan validasi transaksi dengan memanfaatkan sinkronisasi waktu yang diproses oleh sistem Proof of History.

    Adapun manfaat Tower BFT adalah demi mengurangi banyaknya arus informasi dan kemacetan transaksi di jaringan Solana. Lho, kok bisa? Untuk memahaminya, mari simak konsep Tower BFT berikut.

    Setiap kali node di dalam jaringan melakukan pemungutan suara terkait satu fork, maka pemungutan suara tersebut terbatas pada satu jangka waktu hash tertentu yang disebut dengan slot. Kemudian, jaringan akan kembali ke kondisi semula (rollback point) setiap 400 ms.

    Namun, setiap voting yang terjadi setelahnya kemudian akan memasuki rollback point setelah prosesnya memakan waktu dua kali lipat lebih lama dibanding voting sebelumnya.

    Sebagai contoh, anggap saja setiap validator telah melakukan pemungutan suara 32 kali dalam 12 detik terakhir. Nah, voting 12 detik yang lalu tersebut akan memiliki timeout sebesar 400ms. Tetapi, jika validator melakukan voting setelahnya, maka timeout-nya akan memakan waktu 800ms kemudian.

    2. Turbine

    Dalam jaringan blockchain lain, data terkait setiap blok transaksi baru akan dikirimkan oleh node utama ke node-node lain yang terdapat di jaringan tersebut. Kemudian, node-node tersebut akan menyimpan salinan blok transaksi baru tersebut di perangkatnya masing-masing.

    Namun, aktivitas ini akan memakan waktu dan daya seiring berkembangnya kepadatan jaringan blockchain tersebut. Nah, untuk mengatasi hambatan yang dimaksud, Solana menggunakan protokol distribusi blok transaksi yang disebut dengan Turbine.

    Turbine akan memecah data blok transaksi ke beberapa paket-paket data yang lebih mini, di mana masing-masingnya berukuran maksimal 64kb saja, untuk kemudian didistribusikan ke node-node lainnya. Setelah itu, paket-paket data ini nantinya akan diteruskan kembali ke node-node lainnya hingga seluruh pihak di dalam jaringan tersebut menggenggam data blok transaksi baru.

    Sejauh ini, node utama di jaringan Solana akan menghasilkan 2.000 paket data, masing-masing sebesar 64kb, jika ukuran data transaksi tersebut berukuran 128 MB.

    Seluruh 2.000 paket data itu kemudian akan ditransmisikan ke validator-validator berbeda. Setiap validator tersebut lantas akan mengirimkan kembali paket-paket data tersebut ke regu-regu node lainnya, masing-masing berisi 200 nodes, yang dijuluki neighborhood. Setiap neighborhood lalu bertanggung jawab untuk mengirimkan sebagian datanya ke tingkatan neighborhood yang lebih kecil.

    Sebagai analogi, anggap saja terdapat seorang guru yang merangkum catatan-catatan pelajarannya di dalam satu kertas. Kemudian, ia menggunting catatan tersebut ke beberapa bagian dengan ukuran yang sama.

    Setelah itu, sang guru kemudian akan membagikan potongan catatan tersebut ke seorang siswa yang duduk di bangku paling depan. Kemudian, siswa tersebut akan menyalin catatan tersebut dan kemudian menyerahkannya ke teman sebangkunya jika telah selesai menulis catatan pelajaran yang dimaksud. Aktivitas itu akan terjadi berulang kali sampai semua siswa di kelas bisa menyalin catatan pelajaran sang guru.

    3. Gulf Stream

    Di dalam jaringan Solana, setiap validator sudah mengetahui urutan-urutan node utama yang akan diproses. Nah, agar validasi transaksi bisa dengan cepat berpindah dari satu node utama ke node utama berikutnya, jaringan Solana memanfaatkan sistem yang bernama Gulf Stream.

    Dengan Gulf Stream, klien dan validator di jaringan Solana bisa meneruskan transaksi ke node utama, bahkan sebelum waktu validasinya tiba. Sehingga, validator bisa mengeksekusi transaksi terlebih dulu, mengurangi waktu konfirmasi, dan mengurangi kapasitas memori mempools, yakni lokasi penyimpanan transaksi-transaksi yang belum terkonfirmasi atau tertunda di jaringan blockchain.

    4. Sealevel

    Sealevel adalah mesin pemroses transaksi yang didesain untuk memaksimalkan skalabilitas transaksi antar Graphic Processing Unit (GPU) dan perangkat penyimpanan komputer (Solid-state Drive/SSD) secara paralel.

    Saat ini, hanya jaringan Solana saja yang mampu mengeksekusi transaksi secara paralel, hal itu tentu saja berkat kehadiran Sealevel. Dengan inovasi tersebut, Solana bisa memproses ribuan smart contract secara paralel alih-alih memprosesnya secara satu per satu.

    Sebagai gambaran, di jaringan blockchain lain, setiap smart contract akan membaca atau menulis data melalui transaksi. Namun, jika pengguna menjalankan beberapa smart contract secara sekaligus melalui kegiatan transaksi yang berjumlah banyak, maka pengguna rentan terpapar risiko data error lantaran ia menyunting data yang sama di waktu bersamaan.

    Untungnya, jaringan Solana memiliki inovasi Sealevel. Teknologi ini bisa menelusuri seluruh transaksi yang tidak tumpang tindih yang terjadi di satu blok transaksi. Sehingga, pengguna bisa mengeksekusi seluruh smart contract tersebut secara paralel.

    5. Pipeline

    Pipeline adalah aktivitas optimisasi pemrosesan validasi transaksi di jaringan Solana di komputer pengguna. Proses pipeline terjadi ketika terdapat data yang perlu diproses jaringan secara berurutan, namun masing-masing data tersebut tersimpan di perangkat komputer yang berbeda-beda.

    Dalam jaringan Solana, sistem pemrosesan transaksinya (Transaction Processing Unit/TPU) akan mengambil data dalam bentuk paket-paket kecil dari tingkatan kernel, yakni penghubung piranti lunak aplikasi dengan perangkat keras komputer. Data-data tersebut kemudian akan diverifikasi di tingkatan GPU, disimpan di CPU, dan kemudian dicatat lagi di level kernel.

    6. Cloudbreak

    Cloudbreak adalah sebuah inovasi yang didesain untuk mengoptimalisasi memori SSD ketika pengguna memproses transaksi. Dengan kata lain, setiap memori penyimpanan di piranti lunak akan mendapatkan ekstra kapasitas memori secara on-chain.

    Namun, mengapa Solana membutuhkan inovasi ini?

    Sekadar informasi, setiap blockchain tentu membutuhkan skalabilitas komputasi yang besar. Namun, hal tersebut akan menyusutkan kapasitas daya penyimpanan, yang pada akhirnya akan menghambat kecepatan transaksi di jaringan Solana.

    Nah, oleh karenanya, Solana menggunakan Cloudbreak untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sehingga, pengguna bisa memproses transaksi dengan lebih cepat sekaligus menambah pemrosesan beberapa data secara sekaligus.

    7. Archivers

    Dalam kapasitas penuhnya, Solana diproyeksikan untuk memproses data seberat 1 Gigabyte (GB) per detik alias 4 juta GB, atau 4 Petabytes, data per tahun. Sebagai gambaran, ukuran data tersebut setara dengan flashdisk berukuran 1GB yang dijejali ke 368 lapangan bola. Ukuran data yang cukup besar bukan?

    Nah, untuk bisa menampung kapasitas data tersebut, Solana melepas beban penyimpanan data validator ke sebuah jaringan berisi nodes disebut archivers.

    Di jaringan Solana, data-data akan dipecah ke dalam beberapa bagian dan kemudian akan diproteksi melalui kodifikasi. Kemudian, para archivers akan menyimpan pecahan-pecahan data tersebut.

    Namun, setelah itu, jaringan akan meminta para archivers untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar menyimpan data yang seharusnya mereka simpan. Hal ini dilakukan demi menjaga keamanan data yang berada di jaringan Solana.

    Selain itu, mereka yang terlibat sebagai archivers tidak berpartisipasi di dalam konsensus.

    Aspek Tokenomics SOL

    Jaringan Solana memiliki satu token utilitas asli bernama SOL. Token tersebut punya tiga manfaat utama, di antaranya:

    1. Staking. Pengguna Solana bisa melakukan stake atas SOL mendukung kelancaran jaringan. Sebagai imbalannya, mereka bisa meraih imbal hasil (rewards). Selain itu, pengguna juga perlu melakukan staking SOL demi menjadi node.
    2. Biaya transaksi. SOL digunakan sebagai alat tukar ketika bertransaksi di jaringan Solana. Selain itu, kadang token SOL dibakar demi menstabilkan biaya transaksi di jaringan melalui mekanisme perubahan permintaan dan penawaran.
    3. Tata kelola. Token SOL digunakan untuk menentukan pengembangan jaringan Solana ke depan.

    Kelebihan dan Kritik Terhadap Jaringan Solana

    Kelebihan

    1. Salah satu jaringan blockchain yang punya waktu proses transaksi tercepat.
    2. Salah satu blockchain utama yang benar-benar menjadi penantang Ethereum.
    3. Didukung oleh delapan teknologi blockchain sehingga Solana mampu memproses 65.000 transaksi per detik.
    4. Ekosistem Solana saat ini tengah berkembang dengan pesat.
    5. Didukung oleh pentolan jagat kripto dan penemu FTX, Sam Bankman-Fried.
    6. Disokong oleh investor kawakan, misalnya:
      1. Andreessen Horowitz
      2. Polychain Capital
      3. Alameda Research
      4. Multicoin Capital
      5. Foundation Capital
      6. Blocktower Capital
      7. Rockaway Ventures.

    Kritik

    1. Jaringan Solana sering padam beberapa kali. Jaringan bahkan tercatat mengalami down sebanyak empat kali antara September 2021 hingga Januari 2022.
    2. Meski jaringan Solana memiliki inovasi yang menjanjikan, namun sebagian besar di antaranya masih belum diujicobakan.
    3. Banyak pihak berpendapat bahwa jaringan Solana belum memecahkan masalah trilema blockchain sama sekali. Pasalnya, jaringan Solana dianggap mengorbankan semangat desentralisasi dan keamanan jaringan demi meraih skalabilitas transaksi yang oke.
    4. Distribusi token buruk mengingat sebagian besar token mengalir ke “orang dalam” dan modal ventura.

    Mengulik Kelemahan Jaringan Solana

    Meski berhasil naik daun sepanjang 2021 sebagai pesaing Ethereum, namun jaringan Solana tak lepas dari berbagai kontroversi terkait aspek fundamental teknologinya. Nah, berikut adalah tiga kecacatan fundamental di jaringan Solana yang selalu menjadi sorotan komunitas kripto.

    1. Jaringan Solana Sering ‘Down’, Ada Apa?

    Seperti yang disebut di atas, salah satu kelemahan Solana paling utama adalah seringnya jaringan dalam mengalami down. Berikut adalah daftar pemadaman mendadak yang pernah terjadi di jaringan Solana sejak September 2021.

    1. 14 September 2021: Solana mengalami pemadaman jaringan selama 17 jam setelah Grape Protocol meluncurkan Initial Dex Offering (IDO) yang kemudian disusupi oleh bots.
    2. 10 Desember 2021: Jaringan Solana mengalami serangan DDos.
    3. 4 Januari 2022: Jaringan Solana padam selama empat jam
    4. 3 Februari 2022: Jaringan Wormhole, yang menjadi jembatan antara jaringan Solana dan Ethereum, dibajak dan menimbulkan kerugian US$320 juta.

    Mungkin kamu berpikir bahwa pemadaman jaringan selama beberapa jam tidak akan menjadi masalah besar.

    Hanya saja, Solana bukanlah situs internet biasa. Jaringan ini berisikan 100 aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang seluruhnya menggantungkan hidup dari protokol Solana. Sehingga, jika jaringan Solana down, maka dampak negatifnya juga akan dirasakan ribuan pengguna dApps tersebut. Misalnya, pengguna tidak bisa melikuidasi aset kriptonya yang dikunci di aplikasi-aplikasi tersebut.

    Tak hanya itu, namun nilai SOL juga bakal terjun bebas jika jaringan Solana terpantau offline

    Lantas, apa sebenarnya biang keladi yang menyebabkan jaringan Solana byar-pet berulang-ulang kali? Yuk, tengok alasannya secara lebih dekat.

    a. Sistem Proof of History Terbilang Masih ‘Cacat’

    Seluruh serangan di jaringan Solana, kecuali serangan di Wormhole, dipercaya bermula dari kelemahan fundamental di sistem Proof of History. Mengapa demikian?

    Jaringan blockchain lainnya, misalnya Ethereum, menggunakan sistem algoritma non-deterministic ketika menghasilkan satu blok transaksi baru. Adapun sistem non-deterministic adalah proses penciptaan blok transaksi yang bisa menghasilkan output berbeda meski data-data input-nya terbilang sama.

    Sistem penciptaan blok baru ini digadang punya aspek keamanan kuat dan punya sikap anti-sensor yang tinggi. Sebab, penggunanya tidak bisa memprediksi siapa saja yang bakal menghasilkan blok transaksi berikutnya. Sehingga, jika ada pengguna iseng yang ingin bikin sistem blockchain tersebut byar-pet, maka ia harus benar-benar menyerang sistem blockchain tersebut secara utuh.

    Di sisi lain, Solana menggunakan sistem Proof of History, sebuah sistem yang punya mekanisme penciptaan blok baru yang bersifat deterministic. Namun, karena sistem ini memberi nomor urutan transaksi sesuai keterangan waktunya, maka beberapa pihak pun bisa memprediksi siapa-siapa saja produsen blok berikutnya di jaringan Solana.

    Sehingga, jika terdapat oknum tak bertanggung jawab yang ingin membuat runyam satu jaringan Solana, maka ia akan melancarkan aksinya ke node-node utama transaksi tersebut alih-alih terhadap seluruh jaringan Solana.

    Dengan kata lain, mereka yang punya niat jahat bisa membuat down jaringan Solana dengan mudah. Sebab, mereka bisa memadamkan jaringan Solana hanya dengan menyerang 100 produsen blok berikutnya alih-alih menyerang keseluruhan satu jaringan Solana!

    Nah, kelemahan inilah yang mungkin membuat sistem Proof of History tidak dicontoh oleh jaringan lain. Namun, mengingat sistem Proof of History adalah bagian fundamental dari blockchain Solana, maka pemadaman jaringan sepertinya akan tetap terjadi kecuali jika sang pengembang mengubah cara kerja blockchain Solana.

    b. Teknologi Solana Tidak Didukung Riset Akademis yang Mumpuni

    Semua inovasi teknologi Solana, termasuk sistem Proof of History, adalah terobosan anyar di kancah blockchain. Sayangnya, inovasi-inovasi tersebut tidak didukung oleh kajian-kajian akademis yang cukup kuat.

    Hal tersebut sejatinya bukan menjadi perhatian utama bagi sang pengembang blockchain. Namun, mengingat jaringan Solana yang padam berkali-kali, maka isu ini bisa berkembang menjadi sekumpulan masalah yang cukup serius di masa depan, di antaranya adalah:

    1. Jaringan blockchain lain enggan menyalin dan mengadopsi sistem Proof of History ke protokolnya masing-masing. 
    2. Minimnya ketertarikan akademis menjadi indikasi bahwa peneliti-peneliti jaringan blockchain tidak menemukan Proof of History sebagai subjek penelitian yang menarik.
    3. Jika tidak ada penelitian akademis terkait Proof of History, maka kelemahan-kelemahan di jaringan Solana malah tidak bisa diperbaiki di masa depan. Dengan kata lain, kecacatan di jaringan Solana akan tetap ada tanpa ada yang bisa mengatasinya.

    Lembaga Grayscale Investment juga mengkategorikan perkara minimnya riset akademis ini sebagai risiko potensial dari jaringan Solana.

    “Mekanisme konsensus Solana menggunakan teknologi blockchain anyar yang masih belum umum digunakan dan bahkan mungkin belum berfungsi seperti sesuai yang diinginkan. Mungkin ada beberapa kecacatan kriptografi yang berada di protokol Solana, termasuk kelemahan yang bisa mempengaruhi fungsi dari jaringan Solana, sehingga protokol tersebut sangat rentan terkena serangan,” jelas Grayscale Investment.

    2. Distribusi Token Tidak Berpihak Pada Pengguna

    Selain masalah pemadaman jaringan, komunitas kripto juga menyoroti pembagian token SOL yang dianggap kurang adil. Sebab, sebagian besar token tersebut mengalir deras ke “orang dalam” serta perusahaan modal ventura.

    Sobat Cuan bisa membandingkan distribusi awal token Solana dengan jaringan blockchain utama lainnya. Kamu bisa melihat bahwa sistem distribusi SOL terbilang bermasalah dan bahkan lebih buruk dibanding kompetitornya yang lain.

    Padahal, distribusi token di jaringan blockchain terbilang penting karena dua alasan utama, yakni:

    1. Desentralisasi. Agar jaringan blockchain menjadi sukses, maka ia harus menerapkan semangat desentralisasi yang kuat. Semangat itu pun harus tercermin ke pembagian token yang terdapat di dalamnya. Bayangkan, jika satu entitas (misalnya perusahaan modal ventura) memiliki token lebih banyak dibanding para pengguna jaringan, maka mereka akan punya kekuatan besar yang bisa mengontrol seisi jaringan tersebut.
    2. Mencegah pihak-pihak tertentu untuk memanipulasi harga token SOL. Bayangkan jika token dikuasai oleh segilintir kelompok tertentu. Mereka bisa saja memanipulasi harga token dan kemudian “membuang” tokennya ke investor ritel jika misinya sudah selesai.

    3. Klaim Solana Soal Kecepatan Transaksi Jadi Tanda Tanya Besar

    Seperti yang dijelaskan di atas, Solana diperkirakan bisa memproses 65.000 transaksi per detik. Namun, ternyata klaim tersebut tidak sepenuhnya benar. Kok bisa?

    Usut punya usut, kecepatan transaksi 65.000 per detik tersebut ternyata juga mencakup jumlah suara validator yang mengambil porsi 90% dari jumlah transaksi tersebut. Sementara itu, transaksi “benerannya” justru hanya 10% dari angka tersebut, alias sekitar 6.500 transaksi per detik saja.

    Nah, biasanya, blockchain lain menggunakan kecepatan transaksi “beneran” ini untuk mengukur kecepatan transaksi asli di jaringannya. Namun, entah kenapa, Solana lebih menggemborkan kecepatan transaksi di protokolnya dengan ikut menghitung suara yang dihasilkan jaringan validator.

    Jadi, apakah Solana secara teknis bisa memproses 65.000 transaksi? Ya.

    Namun, apakah klaim itu keliru? Itu juga benar. Klaim tersebut terdengar seperti Solana hanya fokus ke hype dan pemasaran semata alih-alih membiarkan teknologinya membuktikan sendiri keandalannya.

    Selain keliru tentang klaim kecepatan transaksi, komunitas kripto juga menyoroti kekeliruan klaim Solana soal suplai tokennya. Hal tersebut termuat secara lengkap di sini.



    Sumber : pluang.com

  • Apa Saja Kegunaan NFT?

    Mengenal Pemanfaatan NFT

    Kancah NFT memang baru berusia seumur jagung, sehingga tak ada seorang pun yang memprediksi potensi penuh dari aset digital satu ini di masa depan.

    Kendati demikian, NFT saat ini ternyata sudah dimanfaatkan untuk beberapa hal, yang mungkin sejatinya masih belum bisa dicerna pemikiran masyarakat awam pada umumnya.

    Berikut adalah kilasan mengenai potensi masa depan NFT plus pemanfaatan NFT oleh masyarakat saat ini

    1. Aset Gaming dan Metaverse

    Saat ini, banyak pihak yang tak henti-hentinya memuja metaverse.

    Beberapa sosok-sosok cemerlang di dunia, seperti punggawa Facebook Mark Zuckerberg, menganggap bahwa metaverse adalah masa depan dunia. Selain itu, Greyscale juga mendapuk metaverse sebagai potensi bisnis bernilai US$1 triliun setelah penggunanya meningkat 10 kali lipat antara Januari hingga Juli 2021.

    Sobat Cuan memang tak perlu mempercayai pendapat tersebut sepenuhnya. Tapi, kamu juga tak bisa menafikkan fakta bahwa game digital seperti Axie Infinity ternyata dimainkan oleh 2 juta pengguna di seluruh dunia dan kini punya valuasi sebesar US$3 miliar. Tentu saja, jutaan pemain tersebut telah membeli aset digital di jagat Axie Infinity dalam bentuk NFT. Potensi ekonomi yang cukup besar, bukan?

    Nah, di dalam kancah metaverse, NFT dan teknologi blockchain adalah dua motor utamanya. Sebab, di dalam metaverse, nilai tukar resminya berbentuk mata uang kripto sementara asetnya hadir dalam bentuk NFT. Tapi, mengapa dua hal tersebut dimanfaatkan di metaverse?

    Seperti yang Sobat Cuan ketahui, semua yang terjadi di jagat kripto memiliki semangat desentralisasi. Sehingga, alat tukar dan asetnya pun tidak boleh dikendalikan atau diatur oleh satu entitas tertentu.

    Dari segi alat tukar, misalnya, sirkulasi uang fiat tentu diatur dan dikendalikan oleh bank sentral. Dengan sifat yang demikian, maka uang fiat tak cocok digunakan sebagai alat tukar resmi di dunia metaverse. Sehingga, metaverse tentu akan memilih menggunakan mata uang kripto sebagai alat tukar resminya.

    Hal yang sama juga berlaku untuk kepemilikan aset di metaverse. Sebab, bentuk desentralisasi dari aset di jagat maya, tentu saja, adalah NFT.

    Selain itu, kehadiran NFT di game digital pun sejatinya membantu pemain untuk memiliki item-item yang tak bisa mereka miliki sebelumnya.

    Kelebihan tersebut, ternyata, merupakan solusi atas salah satu isu paling “kronis” dari permainan game digital Web2. Yakni, ketidakmampuan pemainnya untuk benar-benar memiliki item-item game tersebut meski mereka sudah menghabiskan sekitar US$40 miliar per tahun untuk berbelanja aset game virtual.

    Hal ini terjadi lantaran perusahaan pengembang permainan virtual masih menguasai kepemilikan atas benda-benda tersebut. Padahal, pemainnya sudah menggelontorkan uang yang tak sedikit untuk membeli item-item game yang dimaksud.

    Kondisi tersebut tentu akan merugikan pemain jika game Web2 tiba-tiba berhenti beroperasi secara mendadak. Sebagai contoh, jika Roblox tiba-tiba berhenti beroperasi esok hari, maka seluruh aset game Roblox yang dimiliki sang gamer akan berpotensi ikut hilang tanpa jejak di saat yang sama.

    Nah, kondisi mengenaskan itu tak akan terjadi jika para pemain game tersebut juga mampu memiliki item game virtual yang sudah dibeli untuk dirinya sendiri. Caranya, pengembang game perlu memanfaatkan NFT sebagai representasi kepemilikan benda-benda yang dimaksud.

    Di samping itu, kehadiran NFT juga mengubah paradigma umum mengenai game digital.

    Setelah kemunculan NFT, banyak pengembang menciptakan game berdasarkan aset-aset yang telah dimiliki oleh para pemainnya. Misalnya, anggap saja Sobat Cuan kini mampu membeli lahan virtual, memasang avatar, skins, artefak, dan lain-lain yang sebelumnya tidak bisa dimiliki di game tradisional.

    Nah, potensi tersebut bisa mengubah kekayaanmu di game yang selama ini kamu anggap fana menjadi kekayaan “nyata” yang benar-benar bisa dimanfaatkan di kegiatan ekonomi normal.

    Lebih lanjut, salah satu kesempatan paling seru dari Web3 adalah integrasi antara protokol dan token di dalamnya.

    Sobat Cuan mungkin sudah melihat hal ini di jagat decentralized finance (DeFi), di mana masing-masing protokolnya dibangun di atas protokol DeFi yang sudah ada. Hal tersebut ternyata terbukti membawa inovasi-inovasi baru terkait pemanfaatan jaringan blockchain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

    Hal serupa ternyata digadang juga bisa terjadi di industri metaverse dan gaming. Siapa tahu, nantinya akan ada inovasi-inovasi baru terkait pemanfaatan NFT di sektor tersebut. Saat ini, Loot dan ekosistem yang berada di sekitarnya sudah menjadi pionir atas hal yang dimaksud.

    2. Seni

    Salah satu masalah terbesar dari industri seni adalah kehadiran barang bajakan dan bukti kepemilikan yang tidak jelas. Untungnya, masalah tersebut bisa terpecahkan oleh kehadiran NFT dan blockchain. Sebab, NFT memungkinkan karya seni, beserta data historisnya, tersimpan di jaringan blockchain selamanya.

    Selain itu, kehadiran NFT juga memungkinkan seniman untuk mendapatkan royalti jika karya seninya dijual kembali oleh seorang kolektor ke kolektor lainnya. Adapun sebelumnya, seniman tidak bisa memungut royalti atas penjualan karya seni fisik ciptaannya yang terjadi di pasar sekunder.

    Kemudian, pemanfaatan NFT di kancah seni juga melahirkan satu cabang seni rupa dua dimensi baru bernama seni generatif. Seni generatif merupakan satu bidang seni di mana karya-karyanya dihasilkan dari proses algoritma pemrograman yang sebelumnya sudah diprogram oleh sang artis. Sobat Cuan bisa melihat salah satu contohnya melalui lukisan Fidenza karya Tyler Hobbs di bawah ini.

    Proses penciptaan karya seni generatif pun terbilang cukup menarik. Ketika sang kolektor melakukan mints atas satu karya seni digital, maka algoritma pemrograman tersebut akan dioperasikan demi menghasilkan karya tersebut. Hasil akhir karya seni tersebut akan “dibungkus” dalam bentuk NFT dan akan dikirimkan langsung ke sang kolektor.

    Uniknya, tidak ada seorang pun yang tahu hasil akhir karya seni dari algoritma tersebut hingga karya seni tersebut benar-benar rampung. Makanya, banyak yang menggemari hasil karya seni generatif karena hasil akhirnya terbilang mengejutkan. Hasil akhir yang tidak bisa ditebak ini juga menjadi daya tarik utama dari karya-karya seni generatif.

    Banyak orang beranggapan bahwa karya seni generatif saat ini, khususnya yang diciptakan oleh seniman kawakan, akan menjadi benda-benda bernilai sejarah yang signifikan di masa depan. Ibaratnya, benda-benda ini akan memiliki status yang kurang lebih sama dengan karya lukisan milik Leonardo da Vinci atau Vincent van Gogh di masa depan.

    Pelaku pasar utama yang memanfaatkan NFT untuk karya seni terdiri dari Art Blocks, The Blocks of Art, dan GEN.ART

    3. Musik

    Banyak pihak memprediksi bahwa pemanfaatan NFT untuk seni musik akan berkembang, seperti layaknya industri seni rupa dua dimensi. Pasalnya, baik di kancah seni rupa maupun seni musik, penciptanya selama ini hanya memperoleh royalti yang kecil atas karya yang mereka ciptakan.

    Beberapa musisi seperti Shawn Mendes, Grimes, dan Snoop Doggs telah menjejaki NFT sebagai cara bagi mereka untuk memonetisasi musik sekaligus berinteraksi dengan penggemarnya. Sementara itu, band rock Kings of Leon masih belum nyaman merilis album dalam bentuk NFT, namun mereka sangat antusias saat mengetahui bahwa karya seninya dalam bentuk NFT diputar di luar angkasa.

    NFT karya musik juga menjadi satu aset kelas baru bagi investasi. Hal ini memungkinkan pencipta karya musik untuk membagi pendapatan royalti lagunya dan memungkinkan masyarakat awam untuk berinvestasi dalam menciptakan lagu atau meluncurkan musisi baru.

    Dalam kancah NFT musik, Audius dan Opulous adalah pemimpin pasarnya.

    4. Event dan Penjualan Tiket

    Seiring perkembangan zaman, penjualan dan percetakan tiket event, baik musik maupun pameran, pun bergeser dari tiket fisik menjadi tiket digital. Bahkan, kini NFT pun dipergunakan untuk mendukung digitalisasi tiket tersebut.

    Namun, apa untungnya membeli tiket sebuah acara dalam bentuk NFT? Untuk memahaminya, mari simak ilustrasi berikut.

    Bayangkan jika Sobat Cuan ingin datang ke konser band Coldplay. Karena Coldplay adalah grup musik yang cukup kondang, tak heran jika banyak fans yang ingin menonton konser mereka. Hanya saja, para penggemar tersebut mungkin akan berujung membeli tiket palsu atau terjebak penipuan saking ngebetnya menonton penampilan band asal Inggris tersebut.

    Nah, masalah itu bisa terpecahkan jika tiket konser yang dimaksud dijual dalam bentuk NFT. Pasalnya, oknum-oknum tak bertanggungjawab akan kesulitan untuk memalsukan tiket-tiket konser tersebut mengingat satu NFT dengan NFT lain bersifat tak identik,.

    Kemudian, terdapat manfaat lain yang bisa didapatkan fans jika mereka membeli tiket Coldplay dalam bentuk NFT, yakni:

    1. Mendapatkan tiket dengan desain grafis ala Coldplay berkualitas tinggi dibanding tiket fisik.
    2. Bisa dikoleksi sebagai memorabilia yang, bisa saja, bernilai tinggi di masa depan. Apalagi, bentuk tiket digital tidak akan kusam dimakan waktu lantaran tersimpan di dompet-dompet kripto.
    3. NFT bisa digunakan untuk membeli kudapan atau minuman di dalam event.
    4. Jika Sobat Cuan membeli tiket NFT premium alias VIP, maka kamu bisa mengakses backstage Coldplay atau mendapatkan akses eksklusif ke cendera mata digital yang jumlahnya terbatas.
    5. Tiket NFT membuka peluang bisnis baru. Sama seperti penggunaan NFT di belantika musik, masyarakat tidak hanya sekadar menjadi penonton konser Coldplay. Namun, mereka juga menjadi “pemegang saham” atas konser tersebut. Sehingga, mereka berkemungkinan untuk memperoleh keuntungan konser Coldplay meski dalam persentase kecil.
    6. Tiket dalam bentuk NFT tersebut bisa digunakan oleh masyarakat untuk menentukan lagu apa saja yang harus diputar Coldplay atau menentukan konsep konser yang seharusnya Coldplay mainkan saat perhelatan itu berlangsung. Hal ini menjadi mungkin lantaran tiket dalam bentuk NFT tersebut memungkinkan masyarakat untuk menjadi bagian dari Decentralised Autonomous Organization (DAO) konser Coldplay.
    7. Berkat kehadiran smart contracts, hasil penjualan tiket NFT konser Coldplay bisa didistribusikan secara merata. Misalnya, 40% dari pendapatan tersebut untuk membayar Coldplay, sementara sisanya digunakan untuk membayar kru panggung, tata panggung, tata cahaya, dan pihak lain yang terlibat dalam konser tersebut.

    Terdapat beberapa perusahaan yang mulai menggeluti konsep ini. Salah satunya adalah klub basket Dallas Mavericks yang menerbitkan NFT sebagai hadiah kepada pengunjung pertandingan mereka. Selain itu, terdapat pula Sony dan AMC yang memberikan NFT kepada beberapa pembeli pertama tiket film Spiderman.

    5. Komunitas NFT dan Identitas Digital

    Lebih lanjut, NFT juga bisa menjadi benda yang mempersatukan satu orang dengan orang lain untuk bergabung ke dalam satu organisasi atau komunitas tertentu. Sehingga, masing-masing individu bisa saling bertemu dengan individu lain yang memiliki kepercayaan, visi, atau kegemaran yang sama.

    Nah, NFT bagi kepentingan komunitas sudah dimanfaatkan oleh pengusaha AS, Gary Vaynerchuck. Ia menerbitkan NFT bernama VeeFriends NFT yang bisa digunakan pemiliknya untuk mengakses VeeCon dan bertemu Vaynerchuck secara langsung dan eksklusif.

    6. Fesyen

    Dewasa ini, masyarakat semakin sering menghabiskan waktu secara daring. Oleh karenanya, jangan heran jika mereka tak hanya membeli barang-barang fisik, namun juga semakin banyak mengoleksi barang-barang digital di masa depan.

    Lagipula, akan muncul kecenderungan di mana masyarakat juga akan mengoleksi versi digital dari benda-benda yang mereka sudah miliki dalam bentuk fisik.

    Sebagai ilustrasi, bayangkan jika Sobat Cuan membeli sepasang sepatu Air Jordan.

    Sepatu tersebut tentu bakal membuatmu berpenampilan lebih kece di dunia nyata. Hanya saja, sepatu mahal tersebut tak bisa membuatmu tampil penuh gaya di kancah metaverse. Solusinya? Tentu saja kamu akan membeli sepasang sepatu Air Jordan yang baru, namun dalam versi digital.

    Melihat fenomena tersebut, beberapa jenama fesyen tersohor kini juga menyediakan versi NFT dari produk-produk besutannya, yang penjualannya acapkali dipaketkan dengan versi fisik dari produk-produk fesyen tersebut.

    Salah satu contoh jenama yang memanfaatkan NFT adalah rumah adibusana Dolce & Gabbana. Pada September 2021, Dolce & Gabbana menjual satu koleksi busana berisikan sembilan setel pakaian, plus versi NFT dari koleksi tersebut, yang diberi nama “Collezione Genesi” dengan harga US$5,7 juta.

    Sama seperti yang terjadi di kancah musik dan event, NFT juga bisa membuka jalan baru bagi perancang busana untuk memonetisasi karyanya dengan lebih baik dan memungkinkan masyarakat untuk berinvestasi langsung di industri fesyen.

    7. Digitalisasi Barang-Barang Fisik Lainnya

    Seiring bergesernya aktivitas dunia ke ranah digital, maka bukan tidak mungkin jika kepemilikan aset fisik masyarakat akan terwakili secara daring dalam bentuk NFT. Berikut adalah beberapa contohnya.

    a. NFT DeFi

    Jika masyarakat memiliki aset fisik yang didigitalisasi dalam bentuk NFT, maka mereka bisa menggunakannya sebagai agunan dalam meminjam aset kripto di platform DeFi.

    Agar memudahkan pemahamanmu, bayangkan jika kamu bisa meminjam uang dari Aave dengan mengajukan agunan berupa CryptoPunk. Bagaimana jika kamu terjebak dalam situasi gagal bayar? Nah, berkat teknologi smart contract, CryptoPunk milikmu akan dikirimkan secara otomatis ke platform DeFi yang bertindak sebagai kreditur.

    b. NFT untuk Menyimpan Identitas dan Data Pribadi

    Banyak pihak beranggapan bahwa Web2 telah gagal dalam mengelola data pribadi penggunanya. Sebagai buktinya, kamu tentu sering mendengar kasus di mana seorang atau beberapa oknum tak dikenal sukses membobol keamanan database web2 dan membocorkan data-data pribadi penggunanya, seperti informasi pribadi, identitas, dan kata sandi, ke internet.

    Bahkan, faktanya, jumlah orang yang datanya belum “dicolong” akan melebihi jumlah orang yang sudah pernah menjadi korban pembocoran data di masa depan. Kondisi ini tentu akan menjadi ladang bisnis menggiurkan bagi oknum-oknum yang punya niatan jahat.

    Untungnya, hal itu diharapkan tak akan terjadi di jaringan Web3.

    Di jaringan tersebut, pengguna memiliki kontrol penuh atas data-datanya masing-masing yang tersimpan di dunia maya. Dengan kata lain, Web3 tak memiliki database tersentralisasi, sehingga memangkas kemungkinan beberapa pihak untuk membajak atau menjual data-data pribadi penggunanya.

    Selain itu, data-data yang tersimpan di Web3 bakal memiliki sifat interoperabilitas di masa depan. Artinya, Sobat Cuan bisa menyimpan sebagian data pribadimu ke dalam NFT. Selain itu, kamu juga bisa membatasi beberapa situs tertentu untuk melihat data pribadimu secara keseluruhan.

    Bahkan, ada kemungkinan history di akun mesin pencarian dan preferensimu di beberapa aplikasi juga bakal memiliki sifat interoperabilitas.

    Sebagai contoh, bayangkan kamu menggunakan dua platform streaming, Netflix dan Disney+. Kemudian, history tontonan beserta rekomendasi filmmu di Netflix bisa kamu pindahkan seluruhnya ke akun Disney+ milikmu jika kamu login menggunakan data yang sama. Keren banget kan, Sobat Cuan?



    Sumber : pluang.com