Author: 09

  • Langkah Menyusun Anggaran

    Metode Penyusunan Anggaran

    1. Metode 50/30/20

    Metode 50/30/20 adalah salah satu cara bagimu agar pengeluaran bisa tetap sejalan dengan tujuan finansialmu.

    Aturan penganggaran ini akan membantumu mencapai jumlah tabungan yang diinginkan dan menjaga kesehatan finansial meski dengan kondisi finansial terbatas. Selain itu, metode ini juga tidak hanya membantumu untuk membayar tagihan tepat waktu, namun juga bisa menjadi acuan dalam melacak beban-beban dan pendapatanmu.

    Metode penganggaran ini berjudul 50/30/20 karena aturan ini mengharuskan kamu menyisihkan 50% pendapatan untuk kebutuhan dasar, 30% untuk keinginanmu, dan 20% untuk menabung. Yuk, kita bahas satu-satu!

    1. Kebutuhan. Ini mencakup pengeluaran esensial agar kamu bisa bertahan hidup. Misalnya, bayar kontrakan, akomodasi, makanan, ongkos transportasi, serta biaya listrik dan air.
    2. Keinginan. Ini adalah kelompok pengeluaran sekunder, tidak terlalu mendesak, dan ditujukan untuk menopang gaya hidupmu. Contohnya adalah nongkrong di kafe, keanggotaan gym, dan pelesiran saat akhir pekan. Memang, definisi kategori pengeluaran ini tergantung dengan persepsi masing-masing individu. Hanya saja, semakin kecil pengeluaranmu di pos belanja ini, maka kamu bisa semakin cepat untuk membayar utang-utangmu.
    3. Tabungan. Pos anggaran ini terdiri dari tabungan pensiun, produk asuransi saving plan, pembayaran utang, dan dana darurat. Mungkin kamu belum mempersiapkan pos tabungan pensiun jika kamu masih fresh graduate dari kuliah. Tapi, tekanan untuk mempersiapkan simpanan hari tua semakin kentara seiring bertambahnya usia. Jadi, semakin cepat kamu mempersiapkan dana pensiun, maka semakin besar pula manfaat bunga majemuk di dalam investasi hari tuamu.

    Manfaat Menyusun Anggaran 50/30/20

    Aturan 50/30/20 akan memotivasimu untuk mencapai tujuan finansialmu serta membantumu menyusun rencana yang apik dalam meraih impian masa depan. Kamu juga akan terbiasa disiplin dalam mengelola pendapatan sesuai anggaran jika mau melaksanakan metode ini.

    Selain itu, berikut adalah manfaat lain dari menjalankan aturan 50/30/20.

    1. Memberikanmu keleluasaan untuk menabung benda mahal seperti rumah dan mobil.
    2. Menghindari dari kebiasaan boros.
    3. Meningkatkan peringkat kreditmu.
    4. Membantu melunasi utang.
    5. Membantumu agar tidak menggantungkan hidup pada gaji bulanan.

    Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari metode 50/30/20, ada baiknya kamu juga mengikuti langkah-langkah berikut:

    1. Analisa pengeluaranmu. Perhatikan jenis-jenis belanja apa saja yang menguras uangmu. Nah, dari situ, kamu bisa memulai untuk mengurangi belanja-belanja yang dianggap boros.
    2. Cari biaya-biaya tak terduga. Hidup memang tidak lempeng-lempeng aja, Sobat Cuan. Pasti kamu akan menghadapi situasi tak terduga seperti “mengobati” motor ke bengkel atau memperbaiki genteng rumah yang bocor. Nah, karena sifatnya tak terduga, maka kamu juga harus memasukkannya ke penganggaranmu. Caranya, kamu tinggal melihat kalender dan perkirakan kapan biaya-biaya dadakan ini akan timbul. Sehingga, kamu bisa mempersiapkannya dari jauh-jauh hari.
    3. Gabungkan semua sumber pendapatanmu. Penganggaran memang akan mudah jika kamu punya angka pemasukan stabil setiap bulan. Tapi, bukan berarti bahwa mereka yang berpenghasilan tidak tetap akan gagal menjalankan metode ini. Jika kamu adalah salah satu di antaranya, maka yang perlu kamu lakukan adalah menggabungkan seluruh pendapatanmu antar bulan dan hitung reratanya. Kemudian, anggap rerata pendapatan tersebut sebagai tolok ukurmu dalam merencanakan anggaran.

    Contoh Metode 50/30/20

    Berikut adalah tabel contoh penganggaran dengan metode 50/30/20 untuk individu berusia 25 hingga 30 tahun.

    2. Metode Kakeibo

    Metode Kakeibo, atau secara harfiah disebut “buku rekening untuk ekonomi rumah tangga”, adalah metode penganggaran yang dikenal masyarakat Jepang sejak 1904 dan masih dipraktikan hingga sekarang. Aturan penganggaran ini bertujuan agar kamu bisa mengontrol belanjamu sekaligus menabung berapa pun sisa uang yang kamu miliki.

    Dengan metode ini, kamu harus mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran. Pencatatan tersebut bisa dilakukan di awal bulan ketika penghasilan tetapmu sudah mendarat manis di rekening gajianmu.

    Setelahnya, kamu harus menulis secara detail setiap rencana pengeluaran dan membaginya ke dalam empat kategori sebagai berikut:

    1. Pengeluaran primer atau wajib: Belanja ini mencakup biaya sekolah anak, akomodasi, makanan, kesehatan, dan biaya pokok lainnya.
    2. Kebutuhan opsional: Pengeluaran sekunder seperti biaya kongkow.
    3. Biaya hiburan: Misalnya biaya langganan internet, langganan streaming musik, dan sejenisnya.
    4. Uang jaga-jaga: Dana untuk membiayai kebutuhan tak terduga.

    Setelahnya, kamu harus melakukan evaluasi mingguan untuk menilai apakah pengeluaranmu sudah sejalan dengan anggaran yang kamu susun. Selain itu, evaluasi mingguan juga berguna untuk mengetahui sisa uang yang kamu miliki di akhir pekan sebelum disimpan ke tabungan.

    Satu hal seru dari metode ini adalah kamu diminta untuk menyimpan semua struk belanjaan. Sehingga, kamu tidak akan lupa jumlah belanjamu dan tetap bisa melacak (tracking) pengeluaran dengan mudah.



    Sumber : pluang.com

  • Cara Menghitung Kekayaan Bersih

    Sobat Cuan pasti ada yang merasa bahwa penghasilannya saat ini tidak memadai. Di sisi lain, pasti juga ada sebagian Sobat Cuan lainnya yang merasa senang memiliki penghasilan tinggi.

    Namun, berapa pun penghasilanmu, yang terpenting bagimu adalah mampu menghasilkan kekayaan bersih alias net worth yang mumpuni. Lantas, apa sih artinya net worth?

    Net worth adalah patokan untuk mengukur apakah jumlah aset yang kamu miliki lebih besar dari jumlah liability (utang) yang harus dibayar.

    Dalam hal ini, aset adalah kekayaanmu berupa uang tunai, investasi, rekening bank, dana pensiun, rumah, hingga barang pribadi seperti mobil atau perhiasan. Sedangkan komponen utang meliputi pinjaman bank, utang kartu kredit, utang pajak, dan utang lainnya.

    Jika nilai asetmu melebihi jumlah utangmu, maka kamu memiliki kekayaan bersih yang positif. Sebaliknya, jika kamu memiliki utang lebih dari jumlah asetmu, kamu memiliki kekayaan bersih negatif.

    Manfaat Mengetahui dan Menghitung Kekayaan Bersih

    Sobat Cuan pasti sering mendengar kisah di mana seseorang yang bergaji fantastis tiba-tiba harus terpuruk lantaran terlilit utang. Namun, terdapat pula kisah lain tentang seseorang yang punya gaji pas-pasan namun masih bisa bahagia, bebas utang, dan tetap punya harta.

    Nah, kisah di atas mencerminkan pentingnya mengetahui konsep net worth bagi perencanaan keuanganmu. Yakni, memperbaiki kualitas penghasilanmu dan bisa membawamu menuju masa depan yang lebih aman dan nyaman.

    Selain itu, menghitung kekayaan bersih juga dapat membantumu mengukur kesehatan keuanganmu. Sehingga, kamu dapat menjawab “ya” atau “tidak” dengan cepat kala mengambil keputusan finansial, baik itu perkara belanja, menabung, atau investasi.

    Kemudian, manfaat lain mengetahui net worth adalah kemudahan merencanakan strategi keuangan demi mencapai tujuan keuangan utamamu. Akibatnya, kamu nanti bisa semakin gampang menetapkan prioritas-prioritas finansial yang perlu segera kamu penuhi.

    Sebagai contoh, anggap saja kamu berencana menabung Rp10 juta per bulan karena ingin membayar uang DP rumah tiga tahun lagi. Tapi, di saat yang sama, kamu juga masih punya tunggakan utang kartu kredit, anggaplah sebesar Rp80 juta.

    Kamu memahami bahwa utang hanya akan memperburuk kesehatan keuanganmu dan menyunat net worth yang kamu miliki. Maka, kamu tentu akan banting setir tujuan finansialmu dari bayar DP rumah ke melunasi tumpukan utang.

    Memang, mengetahui kekayaan bersih adalah salah satu patokan kesehatan finansialmu. Namun, kamu juga perlu memperhatikan pertumbuhan kekayaan bersih antar waktu. Hanya saja, kamu mungkin bingung dalam menghitungnya. Nah, berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa kamu terapkan untuk menghitung net worth!

    Cara Menghitung Net Worth

    Sobat Cuan, menghitung kekayaan bersih bukanlah hal yang sulit. Kamu hanya perlu meluangkan sedikit waktu, coretan di kertas atau spreadsheet, dan tentunya kalkulator.

    1. Buat Daftar Aset yang Kamu Miliki

    Ambil buku atau buka spreadsheet dan tulis “ASET” di bagian atas daftar asetmu. Kemudian, kamu bisa menuliskan semua nama-nama aset milkmu yang berisikan saldo rekening tabunganmu saat ini, tabungan pensiun, obligasi, kepemilikan saham, rumah, tanah, mobil, dan lain-lain.

    Nah, setelahnya, kamu juga perlu menulis nilai masing-masing aset di sisi kanan nama aset. Beberapa aset ini memiliki nilai yang sangat spesifik dan jelas (seperti laporan bank), sehingga memudahkanmu untuk menghitungnya.

    Namun, untuk aset yang tidak memiliki nilai spesifik, misalnya seperti mobil dan rumah, solusinya adalah dengan membuat perkiraan harga. Jika kamu kesulitan memperkirakannya, maka kamu bisa menggunakan bantuan pihak yang memiliki kemampuan untuk menilai aset tersebut.

    Setelah semuanya terdaftar, tulis “TOTAL” di bagian paling bawah daftar tersebut, lalu jumlahkan angkanya. Kini, kamu sudah mengetahui total asetmu.

    2. Hitung Daftar Utangmu

    Seperti mendaftar aset yang kamu miliki, kamu juga perlu membuka catatanmu atau spreadsheet dan tulis “UTANG” di atasnya.

    Kemudian, catat semua utangmu di bawah sebelah kiri dan nilai utang di sebelah kanan. Patut diingat bahwa utang yang perlu kamu masukkan adalah utang konsumsi pribadimu, seperti pinjaman pribadi, kredit mobil, cicilan rumah, dan sebagainya.

    Setelah menuliskan semua utang, tulis “TOTAL” di bagian bawahnya, lalu jumlahkan semua daftar utang. Nah, “TOTAL” tersebut akan menjadi total utangmu.

    Namun, Sobat Cuan juga perlu memahami bahwa berutang tak selamanya buruk. Kamu bisa berutang asalkan kamu menggunakan uang pinjaman tersebut untuk kegiatan yang produktif misalnya membuka usaha atau membeli aset yang harganya terus naik. Sehingga, kamu bisa membayar cicilan dan bunga utangnya dengan imbal hasil kegiatan produktif tersebut.

    3. Kurangi Aset dan Utangmu

    Sekarang, yang perlu kamu lakukan adalah mengurangi total asetmu dan total utangmu. Hasil akhirnya, baik positif atau negatif, akan menjadi nilai kekayaan bersihmu.

    Contoh Perhitungan Kekayaan Bersih

    Sinta adalah seorang karyawan swasta berusia 36 tahun. Saat ini, ia memiliki rumah senilai Rp250 juta dengan skema cicilan dan masih punya sisa utang KPR Rp110 juta. Selain itu, ia juga memiliki mobil seharga Rp120 juta yang sudah terbayar lunas.

    Di luar harta tersebut, Sinta juga memiliki tabungan bank sebesar Rp50 juta dan investasi emas senilai Rp5 juta. Di sisi lain, Sinta masih memiliki utang KTA senilai Rp10 juta.

    Dari keterangan di atas, maka kondisi keuangan Sinta sekarang adalah:

    Dengan melihat tabel di atas, maka total kekayaan bersih Sinta adalah Rp425.000.000 – Rp110.000.000 = Rp315.000.000.

    Kenali Perbedaan Utang Produktif dan Non-Produktif

    Seperti yang sudah disinggung di atas, kamu memang sah-sah aja berutang asalkan untuk kegiatan produktif. Makanya, kamu perlu memilah utang, mana yang disebut utang produktif dan apa saja yang disebut utang non-produktif.

    Utang non-produktif juga biasa dikenal sebagai utang konsumtif. Yakni, segala jenis utang demi membeli barang konsumsi atau gaya hidup, misalnya kredit mobil, ponsel, gadget lain, dan barang-barang hobi. Nilai benda-benda tersebut biasanya tidak mengalami apresiasi setelah kamu melunasi utangnya. Maka dari itu, alangkah baiknya jika utang konsumtif sudah termasuk di 50% pendapatan yang sudah kamu alokasikan untuk biaya kebutuhan hidup.

    Di sisi lain, utang produktif adalah utang yang bisa kamu gunakan untuk meraih pendapatan atau penghasilan. Biasanya, bunga utang produktif jauh lebih kecil dibandingkan dengan utang konsumtif. Selain itu, jangka waktu pelunasannya pun jauh lebih panjang dibanding utang konsumtif. 

    Ketika mengajukan kredit konsumtif, kamu umumnya harus menyerahkan aset sebagai jaminan kredit. Namun, aset yang kamu serahkan harus mengalami apresiasi nilai jangka panjang, misalnya tanah, rumah, dan saham.

    Secara arus kas, utang produktif tidak harus dibayar dalam periode yang sangat cepat. Sebab, kalau kamu bisa memanfaatkan pembayaran pokok dan bunga dengan optimal, maka utang produktif justru bisa menambah kekayaan bersihmu. 

    Hanya saja, Sobat Cuan tidak boleh terlalu agresif dalam mengambil utang produktif, apalagi kalau penghasilanmu tidak bisa menutup angsuran dan bunganya.



    Sumber : pluang.com

  • Mempersiapkan Dana Darurat

    Seperti namanya, dana darurat adalah dana yang bisa kamu manfaatkan ketika situasi genting alias darurat. Kamu perlu mempersiapkan dana ini lantaran kamu pasti akan menemui banyak kejadian tak terduga di masa depan, yang terkadang bahkan bisa menguras kantongmu.

    Sebagai contoh, bayangkan ketika jika sepeda motor kesayanganmu mendadak mogok dan perlu “disembuhkan” di bengkel. Suasana hatimu mungkin akan tenang kalau kamu sudah mempersiapkan dana jaga-jaga. Namun, bagaimana kalau kamu tidak punya uang di rekeningmu? Pasti kamu langsung merasa gelisah, bukan?

    Tetapi, berapa tepatnya dana yang kamu harus tabung untuk dana darurat? Dan apa yang kamu lakukan dengan uang itu? Berikut adalah beberapa hal yang perlu kamu ketahui!

    Kapan Saatnya Kamu Pakai Dana Darurat?

    Kamu harus menggunakan dana darurat hanya ketika kamu terjebak dalam situasi genting. Yakni, sebuah keadaan di mana kamu mau tak mau harus mengeluarkan uang demi menghadapi sebuah kondisi yang tak terduga. Misalnya, biaya memperbaiki ponsel pintar, atau biaya pulang kampung karena orang tuamu sakit keras.

    Di sisi lain, kamu dilarang menggunakan dana darurat hanya untuk membiayai nafsu belanjamu. Misalnya, kamu iri melihat teman-temanmu posting foto liburan mereka di Labuan Bajo di media sosial. Kemudian, karena tak mau kalah, kamu berencana liburan ke Raja Ampat menggunakan dana daruratmu.

    Namun, setiap orang tentu memiliki definisinya masing-masing terkait “situasi darurat”. Nah, area abu-abu inilah yang kadang sering bikin kamu galau. Jadi, kamu perlu berpikir matang-matang sebelum mengeluarkan uangmu.

    Berapa Dana Darurat yang Perlu Kamu Siapkan?

    Secara aturan umumnya, nilai dana darurat yang harus kamu kumpulkan harus setara dengan tiga hingga enam kali gaji bulananmu.

    Memang, jumlah tersebut terdengar cukup besar, apalagi jika kamu baru memulainya. Tapi di sisi lain, angka tersebut bukanlah tolok ukur yang pasti. Terdapat cara lain bagimu untuk menilai kebutuhan dana daruratmu yang diukur berdasarkan dua faktor utama: Seberapa besar ketidakpastian yang akan kamu hadapi dan tingkat kenyamanan pribadimu.

    Semakin besar ketidakpastian dalam kehidupan finansialmu, maka semakin besar pula kebutuhan dana daruratmu.

    Misalnya, jika kamu sudah lama memiliki penghasilan tetap dan tidak memiliki tanggungan, maka menyiapkan dana darurat setara tiga bulan gaji adalah langkah yang tepat. Namun, jika kamu adalah seseorang pekerja lepas atau wiraswasta tanpa penghasilan tetap per bulan, maka ada baiknya kamu mempersiapkan dana darurat setara sembilan bulan rata-rata penghasilanmu per bulan.

    Intinya, persiapkan dana darurat sesuai dengan tingkat kebutuhan dan ketidakpastian yang kamu hadapi di masa depan. Selain itu, kamu harus menyiapkan semua uangmu dalam bentuk tunai agar bisa kamu tarik sewaktu-waktu. Kamu juga perlu memikirkan investasi setelah dana daruratmu terkumpul.

    Cara Mempersiapkan Dana Darurat

    Beberapa orang mungkin memutuskan untuk menabung sebanyak mungkin demi mempersiapkan dana darurat. Tapi, kamu mungkin akan mengabaikan menabung jika kondisi finansialmu cekak. Sehingga, kamu harus putar otak lebih keras dalam mengumpulkan dana darurat.

    Nah, sebelum memikirkan cara mengumpulkan dana darurat di tengah kondisi seret, kamu perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

    1. Jika pasanganmu tidak bekerja, bisakah dia mendapat pekerjaan?
    2. Apakah kamu memiliki asuransi yang layak?
    3. Apakah kamu memiliki rencana cadangan jika kamu kehilangan pekerjaanmu?

    Setelahnya, kamu perlu mengikuti langkah-langkah berikut agar kamu bisa leluasa menabung.

    1. Lunasi utang berbunga tinggi.
    2. Susun anggaran pengeluaran yang pas dengan kondisi dan kebutuhanmu.
    3. Tetapkan target kecil dalam bulan-bulan awal menabung. Kemudian, tambah jumlah tabunganmu per bulan di bulan-bulan berikutnya.

    Di Mana Kamu Bisa Menyimpan Dana Darurat?

    Seperti yang sudah disinggung di atas, kamu harus menyimpan dana daruratmu dalam bentuk uang tunai. Namun, bukan berarti kamu menyimpan uang tersebut di bawah kasur. Simpan uangmu di rekening tabunganmu sehingga kamu bisa menariknya kapanpun yang kamu mau.

    Atau, kamu mungkin bisa menaruh dana daruratmu di beberapa instrumen investasi dengan likuiditas tinggi dan minim risiko, contohnya adalah reksa dana pasar uang.



    Sumber : pluang.com

  • Cara Mengumpulkan Rp100 Juta Pertama

    Semua orang ingin mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin. Dan terkadang, beberapa orang menjadikan Rp100 juta sebagai target kekayaan pertama mereka lantaran dianggap cukup realistis.

    Hanya saja, setiap orang punya latar belakang yang berbeda-beda. Sebagian orang mungkin bisa mencapai hal tersebut dengan mudah, sementara sebagian lainnya harus berjibaku terlebih dulu.

    Nah, mungkin kamu adalah salah satu dari orang-orang tersebut. Tapi, jangan khawatir, Sobat Cuan. Kamu masih bisa mendapatkan uang Rp100 juta pertamamu dengan menabung sejak dini, kok.

    Sekarang, yang perlu kamu lakukan adalah memahami cara menabung yang tepat agar tujuanmu tercapai. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan Rp100 juta pertamamu.

    1. Memiliki Pola Pikir yang Kuat

    Bagi beberapa orang, menabung hingga terkumpul Rp100 juta bukanlah target jangka pendek, melainkan jangka panjang. Sehingga, kamu perlu membekali diri dengan pola pikir yang kuat serta komitmen kokoh untuk menabung.

    Kamu akan berkomitmen teguh untuk menabung jika memiliki tujuan yang juga kuat.

    Ya, tujuan adalah akar dari seluruh perencanaan keuangan. Jika kamu memiliki tujuan yang kuat, maka kamu bisa menentukan strategi dan juga jangka waktu menabung yang juga tepat. Nah, kedua hal itu nantinya juga dapat membantu kamu menyusun penganggaran yang jitu.

    Misalkan, penghasilan kamu hanya berkisar Rp5 juta per bulan, namun kamu ingin menuju Rp100 juta dalam lima tahun. Maka, yang perlu kamu lakukan adalah mengetatkan belanja dan menyisihkan uang Rp2 juta per bulan untuk menabung.

    Memang, menabung adalah sesuatu yang berat. Tapi, kamu perlu menyadari bahwa usahamu pun nantinya akan berbuah manis.

    2. Cermat Melihat Potensi Penghematan

    Setelahnya, kamu harus melihat kesempatan penghematan belanjamu dari segala sisi agar bisa menabung. Misalnya, kamu yang selama ini sering memesan makanan secara daring mungkin ada baiknya mulai mencoba memasak sendiri. Atau, kamu yang biasa berbelanja baju mungkin bisa mencari strategi dalam berburu diskon.

    Meski niatan itu terbilang baik, tapi kamu tetap perlu konsisten dalam menjalankannya, ya!

    3. Kurangi Beban Bungamu

    Kadang, kita senang berbelanja dengan sistem kredit atau cicilan dengan berpikir bahwa barang-barang ini “bisa kamu bayar nanti” ketika gajian. Tapi, jangan terkecoh, Sobat Cuan! Sebab, kebiasaan itu bisa jadi malah membuat kamu buntung lantaran kamu perlu bayar bunga cicilan yang besar tiap bulannya.

    Tak jarang kita membaca pengalaman orang-orang yang sebagian besar gajinya habis untuk melunasi utang. Hal ini pun tentu akan mengacaukan penganggaran dan perencanaan menabungmu. Makanya, selagi ada waktu, kamu perlu segera menyelesaikan utang-utang agar tak terpapar bunga-bunga yang mencekik.

    4. Cari Pekerjaan Sampingan

    Kamu mungkin merasa gajimu saat ini sulit untuk dipakai menabung. Jangankan menabung, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mungkin susah.

    Namun, jangan batasi diri, Sobat Cuan! Masih ada potensi pendapatan lain di luar sana yang mungkin masih luput dari pandanganmu.

    Di era internet seperti sekarang, mencari pemasukan bisa dibilang lebih mudah dibanding 20 tahun lalu. Kamu bisa mencari pekerjaan lepas seperti menulis, desain grafis, dan lainnya atau usaha sampingan yang bisa kamu kerjakan di rumah.

    Selain sebagai cara bagimu untuk mendapatakan Rp100 juta pertamamu, memiliki usaha sampingan mungkin juga mampu membantumu mengasah bakat terpendam. Jangan biarkan bakatmu menganggur ya, Sobat Cuan!

    5. Berinvestasi dengan Cermat

    Menabung dengan rutin memang bisa menjadi cara mendapat Rp100 juta pertama dengan jitu. Namun, menabung mungkin membutuhkan waktu yang lama, bahkan bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun.

    Selain itu, nilai Rp100 juta di masa depan juga berbeda saat ini akibat inflasi. Contoh yang nyata mungkin terlihat saat kamu membeli permen. Sepuluh tahun lalu, satu bungkus permen dihargai Rp100, namun kini kamu perlu merogoh Rp500 untuk beli satu permen saja.

    Makanya, yang bisa kamu lakukan selain menabung adalah “mengembakbiakkan” uangmu dengan investasi. Alasannya, investasi memiliki sebuah efek yang disebut dengan bunga majemuk (compound interest), di mana imbal hasil yang kamu dapatkan dari investasi bisa menghasilkan imbal hasil tambahan lagi.

    Kendati demikian, kamu juga perlu berinvestasi dengan cermat. Dengan kata lain, kamu perlu mengelola ekspektasimu dalam berinvestasi dengan mempertimbangkan tujuan, profil risiko, serta strategi investasimu.

    Berapa Lama Waktu yang Diperlukan Untuk Mendapat Rp100 Juta?

    Pertama-tama, kamu harus paham bahwa jangka waktu demi meraih Rp100 juta pertama sangat tergantung dengan pendapatan bulanan dan budget yang kamu siapkan untuk berinvestasi.

    Kamu tak perlu keder duluan jika memang penghasilanmu mini, sebab banyak orang yang memiliki nasib sama sepertimu. Terlebih di Indonesia, upah minimum regional rata-rata berkisar sekitar Rp3 juta hingga Rp4,5 juta tergantung domisili. Tidak ada hal yang instan di dunia ini, semuanya berawal dari jumlah kecil terlebih dulu.

    Agar kamu makin terpacu mengumpulkan Rp100 juta pertamamu, yuk simak ilustrasi berikut:

    Anggap saja pendapatan bulananmu sebesar Rp4 juta per bulan. Jika kamu menggunakan metode 50-30-20, maka kamu akan mengalokasikan 20% pendapatanmu (atau Rp800.000) untuk menabung per bulannya. Sehingga, dengan asumsi bahwa kamu tidak akan menarik dana tersebut dan tidak menaruhnya di instrumen yang bisa memberimu pendapatan bunga, kamu bisa mengumpulkan uang Rp9,6 juta dalam setahun.

    Kemudian, dengan asumsi bahwa kamu tidak mengalami kenaikan pendapatan di tahun-tahun mendatang, maka artinya kamu perlu waktu kira-kira 10 tahun untuk mengantongi Rp100 juta. Waktu yang cukup lama, bukan?

    Tetapi, alur kisah tersebut akan berbeda kalau kamu memutuskan berinvestasi sejak awal. Kamu bisa mendapat Rp100 juta lebih cepat jika kamu mampu “mengembangbiakkan” uang simpananmu di instrumen investasi. Berikut simulasinya dengan bunga dan tanpa bunga.

    Cara mengumpulkan Rp100 Juta



    Sumber : pluang.com

  • Cara Mempersiapkan Pensiun

    Apa yang akan kamu lakukan di masa tua setelah sekian puluh tahun bekerja? Kamu pasti hanya ingin menikmati hidup dan rebahan saja, bukan? Nah, maka dari itu, kamu harus sudah mempersiapkan dana pensiun sejak masa muda agar bisa leha-leha di hari tua.

    Ya, kamu harus mempersiapkan dana pensiun sejak masa muda agar kamu benar-benar tak usah terbebani masalah finansial di usia senja.

    Sebagai gambaran, saat ini usia pensiun rata-rata di Indonesia adalah 57 tahun. Sementara itu, angka harapan masyarakat Indonesia berada dalam rentang 69 hingga 73 tahun, seperti terlihat di grafik di bawah ini.

    Dengan demikian, maka kamu harus punya bekal untuk hidup kira-kira selama 12 hingga 16 tahun setelah resmi menginjak masa pensiun. Waktu yang cukup panjang, bukan?

    Namun, hidupmu kemungkinan tidak akan mulus-mulus saja ketika memasuki usia senja. Tentu saja, kamu akan membutuhkan banyak uang untuk menjaga kesehatanmu. Sayangnya, pengeluaran tersebut mungkin akan membengkakkan beban finansialmu, sehingga kamu benar-benar harus mulai menabung pensiun sedini mungkin.

    Cara Mempersiapkan Dana Pensiun

    Ibarat pepatah “Banyak jalan menuju Roma”, kamu juga memiliki banyak cara untuk mengumpulkan dana pensiunmu. Nah, untuk memudahkanmu memilih cara tepat dalam menimbun dana pensiun, kamu perlu memperhatikan empat faktor berikut:

    1. Tentukan tujuan pensiun. Catat harta apa saja yang kamu ingin simpan di hari tua nanti. Kemudian, di usia berapa kamu ingin pensiun?
    2. Menghitung kalkulasi kasar dana pensiun masa depan dengan formula sebagai berikut: Uang yang Dibutuhkan = (Angka harapan hidup – usia pensiun) x biaya hidup tahunan. Kemudian, kamu perlu menghitung Future Value dari hasil formulasi tersebut untuk menentukan jumlah minimal uang pensiun yang perlu dikumpulkan.
    3. Tentukan cara mengalokasikan dana pensiun secara periodik.
    4. Cari cara untuk proteksi dana pensiunmu.

    Setelah memperhatikan empat poin di atas, kamu hanya tinggal memilih satu atau beberapa opsi dalam mengumpulkan dana pensiun yang paling sesuai dengan tujuan dana pensiunmu. Berikut pilihan opsinya!

    1. Investasi

    Jika kamu ingin mengamankan masa tuamu, maka kamu harus “mengembangbiakkan” dana pensiunmu dengan laju lebih cepat dibanding laju inflasi. Hal ini cukup lumrah, sebab kamu baru bisa memperbaiki daya belimu di masa depan jika kamu mampu mengalahkan laju inflasi.

    Nah, salah satu cara agar uangmu bisa beranak pinak dengan cepat adalah berinvestasi. Dengan investasi, kamu tak hanya mendulang cuan dari dampak bunga majemuk (compound interest) namun juga memetik capital gain dari apresiasi aset yang kamu miliki.

    Kamu bisa berinvestasi di produk reksa dana, obligasi, dan saham untuk mengamankan dana pensiunmu di masa depan. Hanya saja, saham dianggap sebagai instrumen paling mumpuni untuk memupuk dana pensiun lantaran punya tingkat imbal hasil paling mantap dibanding kelas aset lainnya.

    Data Investopedia menyebut nilai saham rata-rata tumbuh 10,1% per tahun antara 1926 hingga 2018. Di sisi lain, obligasi hanya menghasilkan tingkat imbal hasil setengah dari angka tersebut.

    Meski demikian, kamu tetap disarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko investasi serta mengamankan cuanmu. Bahkan, kalau memungkinkan, kamu bisa saja melakukan diversifikasi aset segera ketika memulai berinvestasi. Gunakan usia mudamu untuk berinvestasi secara leluasa, sebab gaya berinvestasimu biasanya akan berubah menjadi “yang pasti-pasti saja” menjelang memasuki masa pensiun.

    Selain itu, pastikan bahwa portofolio investasi dana pensiunmu memiliki unsur pertumbuhan pendapatan dan pemeliharaan modal yang seimbang.

    2. Program Pensiun Swasta

    Selain investasi, kamu juga bisa mempersiapkan uang pensiun melalui produk-produk rencana pensiun yang dirilis perusahaan dana pensiun. Yakni, badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun sesuai amanat Undang-Undang No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.

    Dana pensiun biasanya terbagi dua, yakni dana pensiun pemberi kerja dan dana pensiun lembaga keuangan. Menurut Otoritas Jasa Keuangan, kedua program yang diusung oleh kedua jenis dana pensiun tersebut adalah Program Pensiun Manfaat Pasti atau PPMP (defined benefit) dan Program Pensiun Iuran Pasti atau PPIP (defined contribution).

    Dana pensiun pemberi kerja dikelola oleh perusahaan atau individu yang mempekerjakan karyawan. Mereka akan memungut dana tersebut dari iuran pensiun yang dipotong dari gaji karyawan per bulan. Iuran tersebut biasanya mereka kumpulkan ke produk dana pensiun Jaminan Hari Tua (JHT) yang dikelola Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau melalui Dana Pensiun (dapen) perusahaan masing-masing.

    Sementara itu, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) berisikan produk-produk rencana pensiun yang diterbitkan lembaga jasa keuangan, seperti DPLK bank dan asuransi.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal 3 Lapisan Blockchain

    Scalability Trilemma

    Tapi, sebelum kamu mengenal konsep lapisan blockchain lebih jauh, ada baiknya kamu memahami alasan mengapa layer ini bisa hadir di jaringan blockchain.

    Sekadar informasi, lapisan-lapisan blockchain ini muncul sebagai imbas dari sebuah kondisi yang disebut trilema skalabilitas blockchain (Scalability Trilemma atau Blockchain Trilemma). Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh pendiri Ethereum, Vitalik Buterin.

    Di dalam Scalability Trilemma, pengembang proyek blockchain harus memutar otak demi mengoptimalkan serta menyeimbangkan tiga aspek utama blockchain, yakni desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas.

    Hanya saja, para pengembang tidak bisa mendapatkan ketiganya secara bersamaan. Mereka harus merelakan keandalan satu aspek agar dua aspek lainnya dapat berjalan optimal.

    Sebagai contoh, pengembang tidak mungkin mencapai desentralisasi tinggi, keamanan mumpuni, serta skalabilitas transaksi yang besar dalam waktu bersamaan. Sehingga, mereka terjebak dalam suatu dilema (atau dalam hal ini trilema) untuk memilih satu atau dua properti saja yang ingin mereka maksimalisasi.

    Sebagai gambarannya, Sobat Cuan bisa menengok bagan di bawah ini.

    Sumber: Messari

    Scalability Trilemma sebenarnya tidak jauh berbeda dengan istilah populer yang disebut dengan College Life Trilemma.

    Konon, menurut konsep tersebut, seorang mahasiswa tidak akan bisa mendapat nilai bagus, kehidupan sosial yang asyik, dan tidur yang cukup dalam waktu bersamaan ketika menempuh pendidikan tinggi. Mereka, paling mentok, mungkin hanya akan menikmati maksimal dua dari tiga hal tersebut, seperti yang terlihat di gambar berikut.

    Hanya saja, perihal trilema tersebut tak hanya melanda pengembang blockchain dan bahkan mahasiswa, namun juga teknologi non-blockchain. Sebagai contoh, basis data Amazon atau jaringan Facebook terbilang aman dan punya skalabilitas tinggi, namun keduanya ternyata mencetak skor 0 untuk urusan desentralisasi.

    Mengenal Lapisan Blockchain

    1. Layer 1

    Layer 1 dalam blockchain kerap dikenal sebagai “lapisan implementasi” yang merujuk pada arsitektur blockchain yang sesungguhnya. Lapisan ini merupakan kediaman aset kripto yang terkait dengan blockchain tersebut. Selain itu, aktivitas yang berkaitan dengan fungsionalitas serta mekanisme konsensus juga berlangsung di layer satu ini. Adapun contoh layer 1 blockchain adalah Bitcoin, Ethereum, dan Solana.

    Layer 1 blockchain biasanya tidak sempurna lantaran mengalami Scalability Trilemma. Misalnya, blockchain tersebut boleh jadi punya sifat desentralisasi dan keamanan mumpuni, namun skalabilitasnya cukup terbatas.

    Biasanya, jaringan blockchain memang fokus untuk mengokohkan aspek desentralisasi dan keamanan terlebih dulu di awal ketimbang aspek skalabilitasnya. Ini lantaran kedua aspek tersebut sulit untuk dibangun ketika blockchain tersebut resmi diluncurkan.

    Makanya, tak heran jika jaringan blockchain yang sudah ada (existing) punya skalabilitas yang belum bisa menampung arus pertukaran data berukuran global. Kalau pun mereka mau berkonsentrasi di aspek skalabilitas di awal, maka mereka harus merelakan keandalan aspek desentralisasi dan keamanannya.

    Agar pengembang terlepas dari perkara Scalability Trilemma, maka mereka harus memasang jaringan blockchain layer ke-dua. Apakah itu?

    2. Layer 2

    Jaringan blockchain layer ke-dua biasanya dikenal sebagai solusi lapis kedua atau protokol blockchain yang berlokasi di luar blockchain aslinya (off-chain). Jaringan blockchain ini adalah protokol yang berdiri di atas jaringan blockchain layer 1 dan menjadi solusi atas masalah skalabilitas di blockchain lapisan pertama.

    Secara umum, layer blockchain pertama akan membagi “beban” skalabilitasnya ke layer blockchain kedua. Nantinya, lapisan blockchain kedua akan memproses transaksi yang seharusnya menjadi “beban” layer blockchain pertama. Implikasinya, skalabilitas blockchain bisa meningkat dan ongkos transaksi bisa lebih murah.

    Namun, Sobat Cuan juga perlu memahami bahwa blockchain layer ke-dua ini tidak hanya merujuk pada jaringan off-chain yang mengurusi aspek skalabilitas semata. Sebab, julukan layer ke-dua blockchain juga merujuk pada seluruh protokol atau jaringan yang berfungsi membenahi masalah interoperabilitas atau menambah fitur-fitur lainnya di atas jaringan blockchain utama.

    Selain itu, kehadiran blockchain layer kedua cukup penting, karena:

    1. Membuka kesempatan bagi blockchain untuk melakukan fungsi dan manfaat lain. Misalnya, game blockchain.
    2. Mengurangi ongkos jaringan sehingga menarik minat masyarakat untuk menggunakannya.
    3. Pembaruan terkait masalah skalabilitas blockchain tidak akan mengikis keandalan desentralisasi dan keamanan jaringan layer 1.

    Adapun contoh-contoh jaringan blockchain lapisan kedua, dalam hal ini yang terdapat di jaringan Ethereum, antara lain:

    Analogi Jalan Tol

    Sobat Cuan pasti saat ini bertanya-tanya: Mengapa jaringan blockchain harus repot-repot punya lapisan kedua untuk mengurus skalabilitas semata? Bukannya masalah itu beres dengan menambah kapasitas transaksi blockchain layer pertama saja?

    Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari simak analogi jalan tol berikut.

    Coba anggap jaringan blockchain layer pertama sebagai jalur jalan tol utama, di mana seluruh kendaraan besar, baik truk maupun bus, melaju di atasnya. Kemudian, bayangkan jika tiba-tiba jumlah kendaraan di atasnya membludak. Pasti jalur utama tersebut akan semakin padat dan laju masing-masing kendaraannya akan melambat, bukan?

    Sehingga, untuk mengatasi hal tersebut, pengelola jalan tol bisa saja menambah jalur baru atau bahkan membangun jalan tol baru sekaligus. Sayangnya, hal ini terbilang sulit. Sebab, proses konstruksinya tentu akan bikin jalan tol utama menjadi macet. Bahkan, pengeloia jalan tol bisa saja menghancurkan bangunan-bangunan di samping jalan tol tersebut untuk menambah jalur baru.

    Sehingga, solusi yang tepat untuk mengurai kemacetan di jalan tol tersebut adalah dengan membangun sistem transportasi terpisah. Misalnya, membangun jaringan Moda Raya Terpadu atau menambah armada transportasi publik. Dengan demikian, maka solusi lalu lintas di jalan tol tersebut dapat diselesaikan dengan efisien.

    Nah, analogi tersebut juga berlaku bagi jaringan blockchain lapis pertama ketika mengurai masalah kepadatan transaksi di atasnya.

    3. Layer 3

    Selain layer 1 dan layer 2, terdapat pula layer blockchain ke-tiga. Lapisan ini memungkinkan aplikasi terdesentralisasi (dApps) bisa beroperasi di atas jaringan blockchain. Lapisan ini juga mencakup aplikasi-aplikasi atau platform yang dibangun di atas bloockchain.

    Pada jaringan Ethereum, contoh jaringan blockchain lapis ketiga adalah

    4. Layer 0

    Kini, kamu telah mengenal ketiga lapisan blockchain. Tapi, tahukah kamu bahwa terdapat satu lapisan blockchain lainnya yang fokus pada aspek interoperabilitas, yakni kemampuan blockchain untuk berbagi informasi antara satu dengan lainnya?

    Ya, lapisan tersebut bernama layer 0. Lapisan tersebut pun hanya ada di sistem blockchain Polkadot.

    Lantas, kenapa sih Polkadot disebut sebagai layer 0 blockchain? Sesuai namanya, jaringan tersebut bersemayam di bawah jaringan blockchain utama (layer 1) dan berfungsi menghubungkan beberapa layer blockchain menjadi satu blockchain besar.

    Berbeda dengan Ethereum yang memiliki desain blockchain tunggal, Polkadot memiliki beberapa blockchain berbeda (parachain) yang terhubung ke satu blockchain utama (relay chain). Intinya, jaringan relay chain Polkadot bertindak sebagai hub utamanya sementara layer 1, misalnya Ethereum dan Bitcoin, sebagai cabang-cabangnya. Sobat Cuan bisa memahaminya lebih lanjut melalui gambar berikut.

    Blockchain layer 0 punya kekuatan luar biasa lantaran bisa menopang keandalan aspek skalabilitas dan interoperabilitas blockchain dengan menghubungkan beberapa blockchain yang masing-masingnya punya keunggulan dan manfaat tertentu.

    Sebagai contoh, satu chain bisa dioptimalisasi untuk manajemen identitas, sementara chain lainnya punya manfaat sebagai jaringan penyimpan data. Karena mereka semua terhubung dengan layer 0, maka masing-masing chain tersebut bisa berkomunikasi dan berbagi data antara satu sama lain.

    Masa Depan Layer 0

    Sungguh canggih kan, Sobat Cuan? Meski terdengar futuristik, banyak pihak mengatakan bahwa Polkadot hanya permulaan dari teknologi layer 0 blockchain. Masih banyak lagi manfaat layer 0 blockchain yang mungkin saja akan terungkap di masa depan.

    Nah, di bawah ini, Sobat Cuan bisa menyimak beberapa skenario masa depan manfaat teknologi blockchain, yang mungkin bisa disokong oleh lapisan 0 blockchain.

    1. Setiap kontrak di teknologi smart contract Ethereum bisa tersambung dengan jaringan Bitcoin.
    2. Pertukaran koin Cardano (ADA) dan Shiba Inu (SHIB) lintas blockchain menggunakan smart contract tanpa membutuhkan platform exchange tersentralisasi.
    3. Teknologi Oracle tunggal yang dapat mengumpan data harga ke beberapa lapisan 1 blockchain dalam waktu bersamaan.

    Adapun detail mengenai jaringan Polkadot beserta cara kerjanya sebagai blockchain-nya blockchain dapat kamu temukan di tautan berikut!



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Ekosistem Ethereum

    Ethereum adalah jaringan blockchain yang bertujuan untuk menjadi “komputer dunia”. Jaringan ini menyambungkan komputer-komputer di seluruh dunia ke satu platform bersama. Sehingga, jaringan tersebut bisa membangun satu ekosistem komputer virtual besar yang bisa menopang operasi beberapa aplikasi, seperti aplikasi jasa keuangan seperti jasa pinjam-meminjam, urun dana, dan platform exchange, asuransi, dan game.

    Jadi, secara umum, jaringan Ethereum memungkinkan masyarakat untuk menciptakan aplikasi piranti lunak di gawainya masing-masing.

    Tentang Ethereum

    Sebagai jaringan blockchain pada umumnya, Ethereum adalah buku besar publik terdesentralisasi yang digunakan untuk memverifikasi dan mencatat transaksi. Dalam jaringan tersebut, pengguna bisa menciptakan, meluncurkan, dan memonetisasi rangkaian aplikasi yang berjalan di atasnya. Adapun ragam aplikasi yang berada di jaringan Ethereum disebut sebagai aplikasi terdesentralisasi (dApps).

    Jaringan Ethereum juga menjadi alat untuk memproduksi token. Yakni, satuan unit digital yang punya fungsi tertentu sesuai dengan keinginan penciptanya. Standar penciptaan token ERC20, yang umum digunakan untuk menciptakan token yang bisa dipertukarkan (fungible), dan ERC271, standar penciptaan Non-Fungible Token (NFT), kini telah menjadi standar token di kancah kripto.

    Jaringan blockchain Ethereum memiliki aset kripto sendiri bernama Ether (ETH) dan bahasa pemrograman yang independen bernama Solidity. Sebagai aset kripto, ETH kini menempati peringkat ke-dua aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar setelah Bitcoin (BTC) per Januari 2022. Pengguna Ethereum umumnya menggunakan ETH sebagai alat tukar resmi di atas jaringan tersebut.

    Keunggulan dan Kritik Terhadap Ethereum

    Berikut adalah keunggulan jaringan Ethereum

    1. Platform smart contract paling aktif di jagat kripto.
    2. Memiliki ekosistem terbesar dan paling beragam.
    3. Memiliki jumlah pengembang yang banyak di ekosistem tersebut.
    4. Menjadi platform smart contract paling aman.

    Namun, terdapat pula kritik yang dialamatkan ke jaringan Ethereum, di antaranya adalah:

    1. Biaya transaksi yang terbilang tinggi ketika frekuensi transaksi ramai di jaringan tersebut.
    2. Operasinya masih berdasarkan algoritma konsensus Proof of Work yang dinilai tidak ramah lingkungan.

    Apa Keunikan Ethereum?

    Ethereum menjadi pelopor jaringan blockchain yang bisa mengeksekusi smart contract, sehingga meningkatkan nilai guna teknologi smart contract yang memang sudah ada sebelumnya.

    Smart contract merupakan program komputer yang dapat mengeksekusi beberapa kegiatan secara otomatis untuk memenuhi kesepakatan antara beberapa pihak di internet. Program ini didesain untuk mengurangi keterlibatan pihak perantara di dalam penyusunan kontrak antara kedua belah pihak. Akibatnya, biaya transaksi bisa semakin efisien dan transaksi di jaringan tersebut bisa semakin andal.

    Menurut salah satu pendiri Ethereum Gavin Wood, jaringan Ethereum didesain untuk menjadi “satu komputer untuk seluruh dunia” yang bisa membuat program-program di dalamnya menjadi kokoh, anti-sensor, dan tidak rentan terhadap kecurangan. Keunggulan tersebut muncul lantaran jaringan Ethereum berjalan di atas jaringan node publik yang dijalankan secara global.

    Selain sebagai platform eksekusi smart contract, jaringan blockchain Ethereum juga bisa menjadi “rumah” untuk aset kripto lainnya yang disebut dengan token. Token-token tersebut disusun berdasarkan satu standar penciptaan yang diberi nama standar ERC-20.

    Jaringan Ethereum saat ini memiliki lebih dari 280.000 token yang diciptakan sesuai standar ERC-20. Bahkan, 40 di antaranya berhasil masuk jajaran 100 aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Beberapa contohnya antara lain USDT, LINK, dan BNB.

    Mengapa Aplikasi Harus Dikembangkan di Atas Ethereum?

    Lantas, mengapa para pengembang perlu menciptakan aplikasinya di atas Ethereum meski mereka bisa membangun aplikasi-aplikasi tersebut menggunakan komputer biasa? Nah, jawabannya cukup simpel, Sobat Cuan. Yuk, simak penjelasannya!

    Jika pengembang menjalankan aplikasi di jaringan komputer biasa, maka operasional aplikasi tersebut akan ikut berhenti jika komputer mereka padam atau digondol maling. Nah, untuk mencegah hal tersebut, pengembang perlu menyambungkan komputernya dengan dua, 10, atau bahkan ratusan komputer lain sehingga mereka bisa saling menyangga satu sama lain.

    Agar jaringannya lebih aman lagi, pengembang bisa menempatkan komputer-komputer tersebut di sebuah ruangan dengan tingkat pengamanan tinggi dan anti maling. Sehingga, aplikasi tersebut bisa tetap beroperasi meski terjadi bencana alam atau musibah lainnya.

    Sayangnya, pengembang tentu membutuhkan modal besar hanya untuk mengamankan aplikasinya dengan cara seperti di atas. Sebagai solusinya, mereka bisa memanfaatkan jaringan Ethereum yang terhubung dengan jutaan komputer di seluruh dunia.

    Apalagi, hampir semua orang bisa terhubung ke jaringan komputer asal tipe komputernya sesuai. Bahkan, komputer tercanggih di dunia sekali pun bisa menopang jalannya operasional sebuah aplikasi asal ia terhubung ke jaringan internet.

    Sementara itu, bagi pemilik komputer di seluruh dunia, mereka bisa membantu para pengembang untuk menjaga kesinambungan operasional aplikasinya dengan “meminjamkan” daya pemrosesan komputernya ke pengembang melalui jaringan Ethereum. Sebagai imbalannya, para pemilik komputer bisa mengutip tarif dari para pengembang.

    Mengapa Ethereum Lebih Baik Dibanding Teknologi Penyimpanan Awan?

    Banyak pengembang menjalankan aplikasinya di teknologi penyimpanan awan (cloud storage), seperti di Amazon Web Service (AWS) atau Google Cloud Computer Services. Dengan menggunakan jasa tersebut, mereka hanya tinggal membayar tarif ke penyedia layanan untuk mengakses beberapa komputer sekaligus.

    Penyedia layanan memiliki berbagai kantong pusat data seantero dunia. Sehingga, hal itu bisa menjadi jaminan bahwa aplikasi para pengembang tetap dapat online 99,9% setiap saat meski dunia tengah gonjang-ganjing. Nah, pengembang bisa memilih aktivitas ini sebagai opsi yang efisien untuk meningkatkan keandalan aplikasinya ketimbang membeli banyak komputer dalam waktu bersamaan.

    Namun masalahnya, para pengembang jadi terlalu mengandalkan keandalan aplikasinya ke para penyedia layanan tersebut. Sikap ini sebenarnya sah-sah saja. Tetapi, hal ini bisa berkembang jadi musibah jika penyedia layanan berulah.

    Sebagai contoh, AWS pernah mengambil alih piranti lunak open-source yang terhubung ke peladennya (servers) pada 2019 silam dan memaksa penggunanya untuk membayar tarif ketika menggunakan piranti lunak tersebut.

    Nah, kejadian di atas tak akan terulang jika pengembang mempercayakan keandalan aplikasinya ke jaringan Ethereum. Sebab, jaringan ini tidak dimiliki siapa pun dan tidak ada satu otoritas pun yang mampu bikin kacau jaringan tersebut.

    ETH dan Julukan “Minyak Digital”

    Seperti yang telah disinggung di atas, jaringan Ethereum memiliki koin native yakni ETH. Komunitas kripto pun kini menyematkan status “minyak digital” ke ETH, layaknya Bitcoin yang menyandang julukan “emas digital”. Apa alasannya?

    Sobat Cuan mungkin sepakat bahwa minyak bumi adalah sumber energi utama di dunia ini. Minyak bumi yang diolah menjadi bahan bakar atau petrokimia menunjukkan bahwa komoditas tersebut memungkinkan masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas. Sehingga, bisa dibilang bahwa minyak bumi bernilai berharga karena bisa mendorong manusia untuk melakukan banyak kegiatan.

    Nah, hal serupa juga terjadi di Ethereum. Jika minyak bumi menyimpan potensi kekuatan energi yang besar, maka Ethereum dianggap memiliki potensi tenaga komputasi yang luar biasa.

    Komunitas kripto memandang Ethereum sebagai jaringan berharga karena bisa mengakomodasi berbagai macam kegiatan di atasnya. Sementara itu, mereka menganggap ETH sebagai representasi dari akses mudah masyarakat ke jaringan komputer di seluruh dunia dan kemampuan untuk menjalankan program-program di atasnya.

    Analogi mudahnya, sebuah mobil bisa berjalan jika terdapat bahan bakar di dalamnya. Sementara itu, komputer bisa melakukan berbagai macam aktivitas jika kita “memberi tenaga” ke jaringan Ethereum dalam bentuk ETH.

    Pemilik komputer bisa mendapatkan bayaran dalam bentuk ETH ketika “meminjamkan” daya pemrosesan komputernya ke pengembang aplikasi melalui jaringan Ethereum. Begitu pun sebaliknya. Pengembang harus membayar menggunakan ETH untuk bisa mengakses jaringan komputer dunia.

    Laju permintaan ETH yang lebih kencang dari suplai ETH di pasar bisa mengerek nilai ETH ke depan. Hal itu serupa dengan harga BBM saat ini yang tentu saja berkali-kali lipat lebih tinggi dibanding 100 tahun lalu.

    Ekosistem Ethereum

    Berikut ini adalah daftar ekosistem Ethereum

    Layer 2 (Scaling) Solutions

    1. Polygon (formerly Matic)
    2. Arbitrum
    3. Optimism
    4. Truebit Protocol

    Decentralised Exchanges (DEX)

    1. Uniswap
    2. Sushiswap
    3. 1inch Protocol
    4. Balancer

    Credit Markets

    1. Aave
    2. Maker
    3. Compound

    Launchpad

    1. DAO Maker
    2. Polkastarter
    3. PAID Network
    4. Launchpool

    Gaming/Metaverse

    1. Axie Infinity
    2. Mana

    NFTs (PFP – Profile Picture)

    1. Cryptopunks
    2. Bored Ape Yacht Club/Mutant Ape Yacht Club
    3. Pudgy Penguins
    4. CyberKongz
    5. Cool Cats

    NFTs (Generative Art)

    1. Artblocks (Chrome Squiggles, Fidenza, Meridian, Ecumenopolis)
    2. The Blocks of Art
    3. GEN.ART



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Ekosistem Polkadot

    Jaringan Polkadot ditujukan untuk menjadi jaringan blockchain dari beberapa jaringan blockchain lainnya, yang disebut parachain, yang didesain sesuai tujuannya masing-masing. Karena parachains tersebut punya fungsi masing-masing, maka operasinya terbilang lebih efisien sehingga skalabilitas jaringan pun terbilang lebih mantap.

    Karena satu parachain terhubung dengan parachain lain, maka masing-masing di antaranya bisa berbagi data antara satu dengan lainnya. Hal ini memungkinkan masing-masing parachain punya sifat interoperabilitas yang tinggi dengan sesamanya.

    Sejarah Polkadot

    Polkadot diciptakan oleh salah satu penemu dan mantan Chief Technology Officer (CTO) Ethereum Gavin Wood pada 2016. Setahun kemudian, ia mendirikan Web3 Foundation, yakni lembaga yang fokus pada riset dan pengembangan teknologi web terdesentralisasi, termasuk Polkadot.

    Versi pertama Polkadot meluncur pada 2019 dengan nama Kusama, yakni sebuah jaringan ujicoba (canary network) Polkadot. Jaringan Kusama berfungsi sebagai ajang pembuktian keandalan teknologi Polkadot dengan insentif ekonomi yang nyata.

    Polkadot mencatat blok awal, alias blok genesis, pada Mei 2020 menggunakan algoritma konsensus Proof-of-Authority. Namun, jaringan ini kemudian beralih memanfaatkan jaringan Proof-of-Stake sebulan setelahnya.

    Parachains pertama bernama Rococo hadir di jaringan Polkadot pada Desember 2020. Parachain Rococo didesain untuk menguji proses algoritma konsensus parachain sekaligus mengukur keandalan interaksi antar parachain.

    Adapun parachain berikutnya hadir di Polkadot pada November 2021, sementara parachain di Kusama hadir lima bulan sebelumnya.

    Mengapa Polkadot Unik?

    Untuk memahami kekuatan jaringan Polkadot, Sobat Cuan perlu memahami konsep “jaringan blockchain yang terdiri dari blockchain” yang menjadi semangat utama dari jaringan Polkadot.

    Berbeda dengan Ethereum dan jaringan blockchain lapisan 1 lainnya, Polkadot memiliki banyak parachain yang terhubung ke satu blockchain utama, yang umum disebut dengan Relay Chain.

    Tapi, mengapa Polkadot memilih sistem jaringan bercabang-cabang seperti ini? Jawabannya, agar jaringan Polkadot memiliki fungsi interoperabilitas dan skalabilitas yang mumpuni. Berikut penjelasannya!

    1. Punya Fungsi Interoperabilitas Mumpuni

    Fungsi interoperabilitas, alias kemampuan satu jaringan untuk berbagi sumber daya dengan jaringan lain, memang dimiliki oleh jaringan lain, misalnya Ethereum. Namun, fungsi interoperabilitas Polkadot dianggap lebih canggih karena terdiri dari parachain yang masing-masing memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Sehingga, komunitas kripto bisa terus menciptakan inovasi-inovasi teknologi berbasis smart contract baru di atas jaringan tersebut.

    Nah, sistem interoperabilitas Polkadot ini sejatinya memecahkan masalah yang selama ini dihadapi oleh jaringan blockchain yang mengedepankan smart contract.

    Sekadar informasi, penggunaan platform smart contract terbilang booming sepanjang 2021. Apalagi, komunitas kripto pun getol mencari alternatif jaringan Ethereum setelah jaringan gas fees jaringan tersebut semakin mahal seiring waktu. Alhasil, mereka pun merangsek ke jaringan seperti Binance Smart Chain, Solana, Avalanche, hingga Fantom.

    Meski adopsi smart contract terbilang marak, terdapat satu sisa masalah yang dihadapi oleh seluruh jaringan tersebut. Yakni, kurangnya fungsi interoperabilitas di antara mereka. Dengan kata lain, masing-masing platform berbasis smart contract yang berdiri di atas jaringan tersebut tidak bisa berkomunikasi atau berbagi informasi satu sama lain.

    Sebagai analogi, Sobat Cuan bisa mengibaratkan kondisi blockchain saat ini dengan perangkat komputer sebelum internet. Memang, komputer tersebut terbilang canggih karena bisa melakukan segala hal. Namun, nilai guna komputer-komputer tersebut terbilang terbatas karena tidak terhubung dengan internet. Bayangkan jika mereka terhubung dengan internet, tentu komputer tersebut bisa digunakan untuk berinovasi dan menciptakan peluang bisnis baru, kan?

    Nah, Polkadot ingin menempatkan diri sebagai jaringan “internet” yang menghubungkan masing-masing komputer tersebut. Sehingga, potensi teknologi blockchain di masa depan bisa terbuka lebar. Bahkan, bukan tidak mungkin teknologi blockchain akan melahirkan inovasi baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

    2. Skalabilitas Teruji

    Salah satu keunikan Polkadot lainnya adalah skalabilitas jaringan yang andal. Hal ini terjadi karena jaringan Polkadot menghubungkan beberapa jaringan blockchain sekaligus, di mana masing-masing jaringannya punya maksud dan tujuan yang khusus.

    Sebagai contoh, jaringan Polkadot memiliki parachain yang khusus mengurus keuangan terdesentralisasi, serta jaringan yang mengurus gaming. Seluruhnya terhubung dengan relay chain, sehingga masing-masing di antaranya bisa bertukar data dan informasi. Hal ini cukup berbeda dengan Ethereum, di mana satu jaringan utamanya mengurus berbagai kepentingan dalam waktu bersamaan.

    Sebagai analogi, anggap bahwa jaringan Polkadot sebagai sebuah perusahaan yang dikelola secara profesional. Logikanya, perusahaan tersebut tentu harus berisikan karyawan yang masing-masing punya keahlian beragam daripada merekrut satu pegawai yang serba bisa namun punya hasil kerja yang b aja, kan?

    Di bawah ini, Sobat Cuan bisa menengok contoh-contoh pemanfaatan jaringan blockchain Polkadot ke depan:

    1. Aktivitas smart contract di Ethereum bisa terhubung dengan sistem pembayaran di jaringan Bitcoin.
    2. Pertukaran antar blockchain dari ADA dengan SHIBA menggunakan smart contract tanpa membutuhkan platform exchange tersentralisasi.
    3. Satu oracle bisa menyalurkan data harga ke beberapa jaringan lapis 1 blockchain di waktu bersamaan.

    Keunggulan dan Kelemahan Polkadot

    Sama seperti jaringan blockchain pada umumnya, jaringan Polkadot pun punya keunggulan dan kelemahan sebagai berikut:

    Keunggulan

    1. Menjadi solusi yang menghubungkan satu blockchain dengan blockchain lainnya.
    2. Memecahkan masalah interoperabilitas dan skalabilitas yang dialami blockchain lain.
    3. Pembaruan sistem tanpa memerlukan fork.
    4. Salah satu sistem jagoan firma modal ventura.

    Kritik

    1. Biaya operasi parachain terbilang mahal.
    2. Masih banyak pertanyaan belum terungkap terkait penawaran koin perdana (Initial Coin Offering) dan identitas investor awal.

    Bagaimana Cara Kerja Polkadot?

    Sesuai dengan informasi di atas, Polkadot adalah jaringan yang terdiri atas parachains dengan algoritma Proof of Stake dan terhubung melalui satu ekosistem bernama relay chain.

    Istilah-istilah ini mungkin membingungkan, tapi tidak ada salahnya jika kita memahaminya plus cara kerjanya lebih lanjut.

    1. Relay Chain

    Relay chain adalah jaringan utama Polkadot dan bertanggung jawab atas keamanan, konsensus, hingga fungsi interoperabilitas seluruh jaringan yang berada di atasnya. Jaringan utama ini memang didesain untuk punya fungsi seminimal mungkin, utamanya demi mengamankan dan mengoordinasi seluruh parachain di atasnya.

    Seluruh validator jaringan Polkadot melakukan staking di atas Relay Chain menggunakan koin native yang disebut DOT. Para validator tersebut mengonfirmasi transaksi yang datang dari seluruh parachain.

    2. Parachains

    Parachains adalah lapisan 1 blockchain yang berdiri dan beroperasi secara mandiri, namun tetap terhubung ke jaringan Relay Chain. Setiap parachain punya fungsi dan tujuan yang spesifik, bahkan punya desain, fungsi, dan tata kelola yang berbeda satu sama lain.

    Dengan terhubung ke Relay Chain, parachains berbagi aspek keamanan dengan jaringan utama Polkadot tanpa perlu membentuk komunitas validatornya tersendiri. Selain itu, dengan terhubung ke jaringan utama, masing-masing jaringan bisa tukar-menukar data tanpa hambatan.

    Wood sendiri menganalogikan Polkadot sebagai sebuah kantor dan parachains adalah karyawan. Masing-masing karyawan tentu punya tugas dan tanggung jawab masing-masing. Namun, mereka mengoordinasikan kerja mereka satu sama lain dalam rapat rutin di Relay Chain.

    3. Parathreads

    Parathreads adalah parachains yang terhubung ke Polkadot dengan model “bayar langsung pakai” (pay as you go). Mereka memiliki hambatan masuk yang minim bagi blockchain dan bahkan tidak mengharuskan jaringan blockchain tersebut untuk terhubung ke jaringan utama secara terus menerus.

    4. Bridges

    Bridges adalah parachain khusus yang memungkinkan blockchain dan aplikasi di atas Polkadot untuk terhubung dan berkomunikasi dengan jaringan eksternal lapisan 1 lainnya seperti Ethereum dan Bitcoin.

    Apa Gunanya Koin DOT

    Koin DOT punya tiga fungsi utama yang terdiri sebagai berikut:

    1. Staking demi menjaga keandalan operasi dan keamanan jaringan.
    2. Mengikat parachain kepada jaringan utama Polkadot.
    3. Menjaga tata kelola sistem Polkadot

    Bagaimana Nasib Kusama?

    Seperti yang telah disinggung di atas, Kusama adalah jaringan canary dari Polkadot. Yakni, jaringan uji coba yang ditawarkan ke segelintir pengguna agar proyek-proyek inovatif mereka bisa terealisasi dengan cepat. Selain itu, jaringan Kusama juga menandai persiapan Web3 Foundation dalam meluncurkan jaringan Polkadot.

    Nama “canary” berasal dari jenis burung yang dulu sering “dikirim” penambang batu bara untuk mengukur kadar gas beracun di lokasi tambang batu bara. Nah, konsep ini serupa dalam blockchain, di mana ujicoba canary adalah cara bagi pengembang untuk memvalidasi keandalan piranti lunak bagi sekelompok orang saja.

    Kusama dikenal sebagai jaringan blockchain yang “liar dan cepat”. Dalam artian, jaringan ini cocok bagi pengembang untuk mewujudkan ide-ide gila dengan memanfaatkan teknologi blockchain.

    Seperti yang dijelaskan di atas, Kusama diluncurkan pada 2019 dengan arsitektur dan inovasi yang mirip dengan Polkadot. Namun, tata kelola Kusama berbeda dengan Polkadot lantaran jaringan Kusama menggunakan token native-nya yang diberi nama KSM. Nah, lantas, bagaimana nasib Kusama setelah Polkadot meluncur?

    Kini, masing-masing Polkadot dan Kusama telah berkembang secara independen sesuai dengan arahan masing-masing komunitasnya. Selain itu, segala pembaruan sistem di Polkadot pun kemungkinan besar akan diujicobakan di Kusama terlebih dulu. Sehingga, sistem Kusama tidak tersisihkan begitu saja.

    Meski berawal sebagai jaringan ujicoba, Kusama kini punya pangsa pasarnya sendiri. Beberapa pengembang memutuskan untuk membangun proyeknya di Kusama karena biayanya terbilang lebih efisien ketimbang Polkadot, namun punya fungsi fundamental yang sama.

    Sebagai analogi, anggap saja Polkadot adalah iPhone 13 Pro sementara Kusama adalah iPhone 13. Keduanya memang punya cara kerja dan aspek fundamental yang sama, namun beberapa pihak berpikir bahwa iPhone 13 Pro punya fungsi yang berlebihan dan tak begitu dibutuhkan segelintir penggunanya.

    Selain itu, beberapa pengembang pun betah “tinggal” di Kusama karena proyek-proyek mereka tidak butuh tingkat keamanan dan stabilitas yang jitu seperti di Polkadot. Misalnya adalah Kilt, yakni sebuah proyek yang meluncur di Kusama namun tak punya niatan untuk menapak Polkadot.

    Kendati demikian, proyek-proyek “level tinggi” dan punya nilai transaksi tinggi tetap minggat ke jaringan Polkadot.

    Ke depan, jaringan Kusama bisa fokus pada proyek-proyek yang membutuhkan teknologi Polkadot namun tidak begitu membutuhkan tingkat keamanan yang mumpuni. Beberapa contohnya adalah proyek gaming, jejaring sosial, dan aplikasi distribusi konten. Selain itu, hanya proyek penting saja yang mampu memiliki parachain baik di Polkadot dan Kusama.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Ekosistem Avalanche

    Avalanche adalah jaringan smart contract lapisan pertama yang punya niat menjadi “pembunuh Ethereum”, alias rival terberat Ethereum sebagai jaringan blockchain yang fokus dalam pemanfaatan fitur smart contract.

    Jaringan ini juga bermimpi ingin menjadi platform jasa keuangan berbasis internet yang memfasilitasi aplikasi keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi) dan mampu menyokong pasar keuangan tradisional bersenjatakan proses transaksi cepat, yakni 4.500 transaksi per detik, dan finalisasi transaksi hanya di bawah tiga detik saja,

    Sistem ini juga memungkinkan penggunanya untuk memodifikasi jaringan blockchain privat dan publik, sehingga pengguna bisa menciptakan aset pintar digital yang bisa disesuaikan dengan regulasi masing-masing negara.

    Bagaimana Perbedaan Avalanche dengan Kompetitornya?

    Apa Kelebihan Avalanche?

    1. Proses Transaksi Tinggi

    Menurut sang pengembang Ava Labs, jaringan ini mampu memproses 4.500 transaksi per detik, lebih tinggi dibanding Bitcoin dan Ethereum.

    2. Penyelesaian Transaksi Cepat

    Jaringan Avalanche mampu memproses transaksi di bawah tiga detik saja.

    3. Memiliki Fungsi Interoperabilitas yang Mumpuni

    Sama seperti Polkadot, Avalanche adalah jaringan blockchain yang memiliki “cabang-cabang” blockchqain yang lain. Sehingga, masing-masing blockchain di dalamnya bisa saling berkomunikasi dan mendukung kinerja satu sama lain.

    4. Kecocokan Sistem dengan Ethereum

    Kelebihan ini memungkinkan pengembang untuk memindahkan aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang dikembangkan di Ethereum ke jaringan Avalanche.

    5. Kemampuan untuk Membangun Jaringan Blockchain Khusus

    Avalanche memungkinkan individu dan organisasi untuk memasang jaringan blockchain-nya sendiri dengan regulasinya masing-masing.

    6. Tahan Terhadap Serangan 51%

    Jaringan Avalanche memiliki sistem keamanan yang unik, di mana validasi transaksi harus disepakati minimal oleh 80% penggunanya. Nah, ambang batas ini lebih besar ketimbang skema yang berlaku di blockchain lain, khususnya Bitcoin dan Ethereum, yakni sebesar 51%. Sehingga, jaringan Avalanche tahan terhadap serangan 51%.

    Kritik

    1. Distribusi Token yang Tidak Merata

    Sejumlah 80% token aslinya, yakni AVAX, dimiliki oleh tim Avalanche dan digunakan sebagai imbalan staking.

    2. Skalabilitas Transaksi yang Belum Terbukti

    Jaringan Avalanche terbilang baru dibanding Ethereum. Sehingga, nilai ongkos transaksinya bisa cukup tinggi meski utilisasi jaringan AVAX terbilang rendah.

    Adopsi dan Penggunaan Avalanche

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengguna bisa memanfaatkan jaringan Avalanche untuk membangun aplikasi DeFi dan beragam dApps lainnya. Tapi seberapa besar kepercayaan pengembang untuk membangun DeFi dan dApps di atas jaringan ini?

    Nah, Sobat Cuan bisa mengukurnya menggunakan indikator Total Value Locked (TVL), yakni angka yang menunjukkan total token yang tersimpan di dalam sebuah jaringan penyedia smart contract.

    Lantas, bagaimana nilai TVL dari jaringan yang meluncur tahun lalu tersebut? Sobat Cuan bisa menyimaknya di tabel berikut!

    Dan berikut adalah platform DeFi dengan nilai TVL terbesar di atas jaringan Avalanche.

    Apa yang Membuat Avalanche Unik?

    Sejak awal, Avalanche didesain untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat di jaringan Ethereum. Bahkan, pendiri Ethereum Vitaik Buterin pernah memuji protokol Avalanche lantaran dianggap cukup menarik. “Saya merasa bahwa menyandingkan Avalanche di tingkat legitimasi yang sama dengan Bitcoin adalah sikap yang adil,” ujarnya.

    Lantas apa saja sih keunikan Avalanche yang bikin Buterin sampai terpana?

    1. Protokol Konsensus Avalanche

    Setiap blockchain membutuhkan protokol konsensus untuk memvalidasi transaksi yang berada di dalamnya. Nah, validasi transaksi ini membutuhkan “kesepakatan” alias konsensus dari semua pengguna yang terhubung ke jaringan tersebut untuk menyepakati atau menolak transaksi yang akan dicatat di blockchain tersebut.

    Umumnya, kancah teknologi blockchain mengenal dua jenis konsensus: Konsensus Klasik (1980-an) dan Nakamoto (2009). Apakah itu?

    Konsensus protokol klasik menggunakan sistem voting yang melibatkan seluruh pengguna di jaringan tersebut demi memastikan bahwa seluruh komputer yang terhubung di dalamnya bisa mencapai kesepakatan bersama.

    Sistem ini biasanya memiliki pimpinan yang ditunjuk untuk memimpin jalannya proses pengambilan keputusan. Proses ini kemudian diikuti oleh komunikasi antar pengguna berulang kali hingga mencapai kesepatakan yang diinginkan. Nah, finalisasi transaksi bisa terjadi jika sekian persen tertentu dari jumlah node di dalam jaringan tersebut menyetujui transaksi yang dimaksud.

    Namun, kelemahan dari tipe protokol konsensus ini adalah tidak kokohnya jaringan ketika terjadi pertukaran kesepakatan antar node. Selain itu, protokol ini juga bikin skalablitas jaringan kian menyusut lantaran sebagian besar kapasitas jaringan akan dimanfaatkan untuk komunikasi antar pengguna.

    Adapun contoh dari konsensus protokol klasik bersama dengan Proof of Stake adalah Practical Byzantine Fault Tolerance (PBFT) dan Cosmos Tendermint.

    Sementara itu, konsensus protokol Nakamoto diciptakan oleh pencetus Bitcoin, Satoshi Nakamoto.

    Berbeda dengan konsensus protokol klasik, sistem protokol ini tidak membutuhkan proses voting. Namun sebagai gantinya, sistem ini mengharuskan penambang untuk memecahkan teka-teki kriptografi untuk menciptakan blok transaksi baru. Dengan kata lain, konsensus ini tidak membutuhkan komunikasi seluruh pengguna hanya untuk memvalidasi satu transaksi di dalamnya.

    Contoh utama dari protokol konsensus ini adalah konsensus Proof of Work di jaringan Bitcoin. Kalau Sobat Cuan tertarik mempelajarinya, yuk klik tautan berikut!

    Tapi, selain kedua protokol konsensus tersebut, terdapat pula protokol Avalanche yang dianggap sebagai “gebrakan baru” protokol konsensus blockchain. Sebab, sistem ini menggabungkan fitur kecepatan finalisasi transaksi milik konsensus protokol klasik dengan keandalan dan skalabilitas yang tinggi dari konsensus Nakamoto.

    Untuk mengetahui cara kerja sistem konsensus Avalanche, yuk simak penjelasannya melalui analogi berikut!

    Coba bayangkan sekelompok orang di dalam satu ruangan yang sedang berembuk menentukan menu makan siang mereka. Kemudian, anggaplah mereka hanya punya dua pilihan menu makan siang, sate padang atau ayam geprek.

    Pada saat itu, beberapa orang mungkin lebih memilih sate padang sementara sisanya memilih ayam geprek. Namun, karena mereka tengah lapar, maka mereka mau tak mau harus satu suara dalam memilih satu menu untuk disantap bersama-sama.

    Dalam protokol konsensus klasik, mereka akan menunjuk satu orang yang ditugaskan untuk meminta pendapat masing-masing orang yang ada di dalamnya. Sementara itu, setiap orang di sana tentu menunggu giliran untuk ditanya, “Mau makan sate padang? Atau ayam geprek?’.

    Namun, dalam konsensus Avalanche, sekelompok orang akan bertugas untuk menanyakan pilihan makan siang ke semua orang secara acak. Jika lebih dari setengahnya mengatakan sate padang, orang tersebut akan berpikir, “Baik, sepertinya kebanyakan orang ingin makan sate padang, sehingga saya pun ikut pilih sate padang.” Ini dapat diartikan bahwa mereka akhirnya mengadopsi pilihan dari mayoritas suara.

    Demikian pula, jika mayoritas orang memilih ayam geprek, orang tersebut akan memilih ayam geprek sebagai pilihan finalnya.

    Semua orang akan mengulangi proses ini, di mana semakin banyak orang akan memilih preferensi yang sama di setiap putarannya. Hal ini terjadi lantaran jawaban mayoritas biasanya akan bertambah seiring meningkatnya jumlah responden. Setelah aktivitas ini usai, maka mereka akan mencapai konsensus dan memutuskan satu opsi yang disetujui oleh semua orang.

    Nah, dari analogi di atas, bisa diketahui bahwa Avalanche memperkenalkan pemungutan suara subsampel (berulang dan acak), dan opini setiap orang di dalam jaringan untuk mencapai konsensus dengan cepat dan terukur.

    Apakah Sobat Cuan sudah memahami analogi di atas? Sekarang, yuk kita ganti analogi orang dengan validator dan node, sementara sate padang dan ayam geprek sebagai keputusan mereka dalam menerima dan menolak transaksi.

    Dalam konsensus Avalanche, pada setiap putarannya, setiap validator secara acak memilih node X dari seluruh jaringan untuk meminta pilihan mereka. Adapun seleksi node didasarkan atas jumlah koin yang disimpan masing-masing pengguna di dalam jaringan tersebut.

    Kemudian, setiap validator diminta untuk merespons keputusan pilihan mereka. Jika mayoritas tanggapan berbeda dengan node yang bertanya, maka validator akan memperbarui pilihan keputusannya sendiri. Kemudian, ia akan merespons node lain dengan pilihan keputusan yang baru.

    Sekadar informasi, setiap validator adalah pembuat keputusan yang independen. Selain itu, tidak ada sosok yang memimpin dalam pemilihan ini layaknya konsensus klasik. Aktivitas ini akan terus berlanjut sampai jaringan mencapai keputusan yang disepakati oleh konsensus.

    Saat ini, Avalanche menggunakan dua protokol konsensus yang berbeda, Snowman dan Avalanche. Terdapat pula protokol ketiga yang disebut dengan Frosty, meski kini masih dalam tahap pengembangan.

    Snowman memiliki kemampuan untuk menyusun sejarah transaksi dengan rapi, yang sejatinya memang dibutuhkan untuk teknologi smart contract. Sementara itu, Avalanche punya kemampuan untuk mengatur pencatatan transaksi secara runut, namun hanya sebagian saja. Sehingga, pengguna bisa melakukan transaksi secara lebih cepat karena satu chain transaksi tidak perlu harus terkait dengan chain lainnya.

    2. Punya 3 Sistem Blockchain: X-Chain, C-Chain, dan P-Chain

    Avalanche tidak sama seperti Etherum yang mengadopsi “satu jaringan blockchain untuk semua”. Sebab, Avalanche menggunakan tiga jaringan blockchain yang masing-masing beroperasi dengan protokol konsensus tersendiri dan disesuaikan dengan tujuannya.

    Exchange Chain (X-Chain)

    X-Chain bertindak sebagai platform desentralisasi yang membuat dan memperdagangkan aset digital pintar dengan regulasi yang dapat dimodifikasi, misalnya aset digital tersebit tidak dapat diperdagangkan sampai besok atau hanya dapat dikirim ke warga negara Indonesia.

    X-Chain memungkinkan siapa pun untuk membuat dan mencetak aset digital pintar seperti stablecoins, utility tokens, NFT’s, wrapped tokens, ekuitas dan token lain di luar aset digital aslinya yakni AVAX.

    Platform Chain (P-Chain)

    Platform Chain atau P-Chain adalah rantaian metadata pada ekosistem Avalanche yang berfungsi untuk mengkoordinasikan validator, melacak subnet aktif, dan memungkinkan pembuatan subnet baru.

    Contract Chain (C-Chain)

    C-Chain didekasikan khusus untuk menyalin segala kegiatan yang terdapat di kontrak pintar (smart contract) jaringan lainnya. Nah, jaringan ini cukup kompatibel dengan Ethereum, sehingga aplikasi yang berjalan di atas Ethereum seperti OpenSea dan CryptoPunks bisa dioperasikan di atas Avalanche.

    Kedua blockchain Avalanche, P-Chain dan C-Chain, sudah diproteksi dengan konsensus Snowman sehingga bisa menopang skala kegiatan yang besar di atas smart contract. Sementara itu, X-Chain diproteksi dan dioptimalkan dengan konsensus DAG Avalanche, yakni protokol aman dan andal yang mampu memfinalisasi transaksi dalam hitungan detik saja.

    Dengan membagi arsitektur Avalanche menjadi 3 blockchain, Avalanche dapat mengoptimalisasi fleksibilitas, kecepatan, dan keamanan transaksi tanpa membebani aspek lainnya di dalam jaringan tersebut. Hal ini menjadikannya platform blockhain yang sangat andal untuk digunakan oleh perusahaan maupun masyarakat umum.

    Jadi, kesimpulannya adalah:

    1. X-Chain bertujuan untuk membuat dan menukarkan aset.
    2. P-Chain bertujuan untuk koordinasi dengan validator dan membuat subnet.
    3. C-Chain bertuuan untuk eksekusi kontrak EVM dan smart contracts.

    3. Merupakan Blockchain dari Blockchain (Subnet)

    Avalanche adalah jaringan blockchain yang terdiri dari banyak blockchain lainnya yang berupa ribuan subnet. Jaringan-jaringan tersebut memiliki fungsi interoperabilitas heterogen, sehingga siapa pun dapat membuat aplikasi blockchain-nya sendiri namun masih mendapat keuntungan dari konsensus Avalanche. 

    Nah, sifat tersebut serupa dengan jaringan Polkadot (DOT) dan Cosmos (ATOM), tetapi dengan fitur yang berbeda seperti yang tertera di artikel ini.

    4. Fokus pada DeFi (Internet of Finance)

    Avalanche dibangun untuk melayani pasar keuangan, baik platform keuangan tredesentralisasi (DeFi) dan maupun jasa keuangan tradisional.

    Avalanche bisa memfasilitasi transaksi aset digital dengan mudah melalui kumpulan aturan khusus yang kompleks, sehingga pengelolaan dan perdagangan aset bisa mengikuti regulasi yang sudah ditetapkan. Adapun aset yang bisa ditransaksikan di dalam platform di atas jaringan Avalanche adalah saham, obligasi, instrumen utang, tokenisasi real estat, dan lain-lain.

    Perusahaan juga dapat membuat subnet mereka sendiri dengan tujuan untuk menyesuaikan kegiatan mereka dengan regulasi yang berlaku di masing-masing negara.

    5. Suplai Token Terbatas

    Salah satu penggerak harga token adalah suplainya yang terbatas. Tidak seperti Ether (ETH) dan token kripto lainnya yang jumlah koinnya terus bertambah dan tak terbatas, token Avalanche AVAX hanya memiliki total suplai sebanyak 720 juta keping saja.

    Setengah dari total suplai Avalanche, atau 360 juta token, dicetak saat peluncurannya, sementara sisanya digunakan sebagai hadiah untuk staking. Seperti Bitcoin (BTC), jumlah hadiah yang tersedia akan terus menurun hingga jumlah token yang beredar akan setara dengan jumlah total suplainya.

    Selain memang punya suplai yang terbatas, sirkulasi token AVAX juga semakin menipis lantaran Avalanche juga “membakar” token setiap AVAX digunakan sebagai biaya transaksi. Dengan kata lain, token AVAX akan dibakar setiap terjadinya transaksi, membuat atau mencetak aset, pembuatan blockchain, dan subnet. Sehingga, nilai AVAX akan loncat jika jumlah token yang dibakar melebihi jumlah token yang dicetak.

    6. Minim Hambatan Untuk Jadi Validator Avalanche

    Saat ini, pengguna Avalanche hanya perlu melakukan staking sebanyak 2.000 AVAX untuk menjadi validator transaksi. Maka dari itu, AVAX adalah salah satu blockchain yang memiliki paling banyak validator untuk mengamankan jaringannya.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Ekosistem Polygon

    Salah satu janji aset kripto adalah untuk membuat sistem finansial yang terbuka dan gratis. Fasilitas ini telah disediakan oleh aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan kebanyakan platform keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang berada di atas jaringan Ethereum.

    Namun, para pengembang aplikasi tersebut menghadapi masalah biaya jaringan mahal di Ethereum. Namun, masalah tersebut bisa selesai jika mereka “pindah rumah” ke satu jaringan baru yang disebut Polygon.

    Seperti apa karakteristik jaringan tersebut? Yuk, simak bersama!

    Apa Itu Polygon?

    Jaringan Polygon adalah solusi blockchain lapisan kedua (layer 2) yang dibangun di atas jaringan Ethereum, yang merupakan jaringan blockchain lapis 1.

    Jaringan lapis kedua adalah kerangka kerja atau protokol sekunder yang dibangun diatas sistem blockchain utama, atau dikenal sebagai lapis 1. Kehadiran protokol ini bertujuan untuk menjadi solusi atas leletnya kecepatan transaksi dan rendahnya skalabilitas transaksi yang dihadapi jaringan kripto.

    Dalam konteks Polygon, jaringan tersebut hadir untuk mengatasi hambatan transaksi di jaringan Ethereum, mulai dari masalah skalabilitas, tata kelola komunitas, hingga kecepatan transaksi. Di samping itu, Polygon juga muncul sebagai solusi atas mahalnya biaya transaksi di jaringan Ethereum yang kini berada di kisaran US$14 hingga US$263 per transaksi.

    Polygon mengatasi rentetan masalah tersebut dengan memanfaatkan solusi sidechain baru dan teknologi off-chain. Dengan teknologi off-chain tersebut, pengguna Ethereum dapat melakukan transaksi dan interaksi smart contract di luar jaringan Ethereum. Jika kegiatan tersebut rampung, maka mereka dapat mendokumentasikan kembali seluruh aktivitas yang dimaksud ke blockchain utama Ethereum.

    Di samping itu, pengembang dapat memanfaatkan Polygon untuk membuat jaringan interoperable blockchain sesuai atribut yang diinginkan. Tak ketinggalan, pengembang juga dapat menyesuaikan jaringan blockchain dengan berbagai macam modul baru untuk membuat blockchain independen dengan fungsi yang diinginkannya.

    Nah, solusi bejibun yang ditawarkan Polygon tersebut dapat mengurangi beban pemrosesan data Ethereum, sehingga waktu dan biaya transaksi di Ethereum jadi lebih efisien. Oleh karenanya, koneksi Polygon jelas menjadi bukti bahwa ia adalah blockchain lapis kedua Ethereum. Bahkan, Polygon sendiri mengklaim dirinya sebagai “internet blockchain Ethereum” lantaran fungsinya yang mumpuni.

    Menariknya, Polygon bukan hanya solusi penskalaan dasar seperti pendahulunya, jaringan Matic. Selain itu, Polygon awalnya hanyalah kerangka kerja yang fokus menangani kekurangan jaringan Ethereum.

    Jadi, intinya, jaringan Polygon adalah kerangka kerja komprehensif yang dapat dioperasikan dan berfungsi memperbaiki keandalan jaringan blockchain Ethereum.

    Cara Kerja Polygon Matic

    Dalam menjalankan fungsinya, Polygon membagi proses kerjanya ke dalam empat tahapan (layer), yakni Ethereum layer, Polygon networks layer, execution layer, dan security layer. Seperti apa penjelasannya? Yuk, perhatikan dengan seksama ya, Sobat Cuan!

    Proses kerja paling awal disebut sebagai Ethereum layer, yang sekaligus menjadi tahapan paling signifikan di arsitektur Polygon. Pada layer ini, Polygon akan menampilkan kumpulan rancangan smart contracts yang akan “dipasang” di jaringan Ethereum. Smart contracts tersebut adalah motor penggerak atas aktivitas seperti finalisasi transaksi, komunikasi dua arah antara Ethereum dan Polygon, serta staking.

    Menariknya, tahapan security layer juga akan berjalan secara paralel dengan proses Ethereum layer. Proses security layer nantinya juga akan ikut meningkatkan keandalan aspek keamanan di jaringan Ethereum.

    Setelahnya, Polygon akan memproses data-data dari Ethereum ke dua tahapan lanjutan yang tak kalah penting, yakni Polygon networks layer dan execution layer.

    Di dalam Polygon networks layer, komunitas pengguna jaringan Polygon akan melakukan konsensus untuk memvalidasi, atau bahkan bisa memblokir, permintaan transaksi di jaringan tersebut. Jika sudah disepakati, maka transaksi bisa berlanjut ke tahapan execution layer.

    Execution layer sendiri adalah proses eksekusi smart contracts menjadi dApps menggunakan Ethereum Virtual Machine (EVM). Polygon memiliki banyak “jaringan sampingan” (sidechain), di mana masing-masingnya memiliki EVM aktif. Nah, keunggulan inilah yang memungkinkan eksekusi smart contract di Polygon lebih cepat dengan biaya yang jauh lebih efiisen dibanding eksekusi di jaringan Ethereum.

    Untuk lebih jelasnya, yuk simak perbandingan biaya-biaya jaringan di Polygon dengan Ethereum berikut!

    Apa Itu Polygon

    Kegunaan Polygon

    Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, jaringan Polygon berfungsi untuk mendukung skalabilitas penciptaan dApps di jaringan Ethereum. Tapi, selain itu, kenapa pengembang dApps perlu mengembangkan aplikasinya di jaringan Polygon?

    Ternyata, proyek-proyek yang dikembangkan di Polygon bisa memiliki kemampuan untuk berkomunikasi satu sama lain plus dengan blockchain Ethereum. Keunggulan tersebut menjadikan Polygon sebagai jaringan potensial yang mampu mengantar masing-masing platform dApps untuk saling bertukar nilai dan punya fungsi interoperabilitas.

    Nah, hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat serta mengakselerasi inovasi dApps ke depan. Oleh karenanya, Polygon diramal bisa menjadi jembatan penghubung antara blockchain-blockchain berbeda di masa depan. Sehingga, seluruh blockchain tersebut dapat saling menyokong satu sama lain di dalam satu ekosistem yang lebih luas.

    Pada dasarnya, Polygon ingin mengembangkan sebuah hub yang bisa menghubungkan jaringan blockchain berbeda-beda sembari mengatasi masalah yang mendera masing-masin jaringan tersebut. Bahkan, di masa depan, Polygon tidak menutup kemungkinan untuk digunakan di ekosistem ekonomi yang lebih terbuka, yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara lancar.

    Apa yang Membuat Polygon Unik?

    Polygon telah berevolusi menjadi fondasi teknologi yang menjanjikan dan memungkinkan proyek-proyek di dalamnya punya fungsi interoperabilitas yang andal dengan jaringan blockchain lainnya. Keunggulan ini ibarat menjadi obat bagi “penyakit kronis” Ethereum, yakni perkara skalabilitas.

    Namun, selain itu, masih banyak lagi keunggulan Polygon dibanding jaringan lainnya, seperti dijelaskan di tabel berikut!

    Apa Itu Polygon

    Salah satu “nilai jual” Polygon yang bisa menarik minat komunitas kripto adalah kompatibilitasnya dengan EVM. Akibatnya, pengembang yang terbiasa mengembangkan aplikasi di jaringan Ethereum tidak akan kagok ketika beralih menggunakan jaringan Polygon.

    Selain itu, Polygon juga menggunakan model keamanan bersama. Hanya saja, masing-masing proyek di dalamnya tidak wajib menambah lapisan keamanan tersebut lantaran fitur ini bersifat pilihan. Namun, skalabilitas mereka juga tak akan terganggu jika mereka memilih meningkatkan kualitas keamanannya.

    Di samping itu, pengembang juga bisa memanfaatkan Polygon untuk mengembangkan platform bersifat fleksibel dan menggabungkan segala jenis solusi yang ada. Salah satu proyek terkenal yang menggunakan teknologi Polygon adalah Aavegotchi, sebuah game DeFi yang mengolaborasikan Non-Fungible Tokens (NFTs) dengan platform pinjam-meminjam terdesentralisasi EasyFi.

    Nah, beberapa keunikan tersebut menjadikan Polygon sebagai alternatif terbaik dalam urusan pengembangan dApps ketimbang teman sepantarannya, Cosmos.

    Sekadar informasi, Cosmos memanfaatkan teknologi WASM-based virtual machine dalam memproses smart contract menjadi dAppss. Namun, teknologi itu dinilai tidak punya level keamanan yang andal seperti Polygon dan dikenal agak ribet untuk dioperasikan.

    Bagaimana Polygon Menentukan Masa Depan Ethereum?

    Komunitas kripto kerap berdebat soal kemungkinan jaringan Polygon untuk menyalip popularitas Ethereum. Padahal, Polygon justru berfungsi sebagai penyanggan Ethereum.

    Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa jaringan Ethereum telah berkembang pesat sebagai platform penciptaan aplikasi terdesentralisasi. Melalui berbagai aplikasi tersebut, pengguna bisa berhubungan dengan dunia virtual, membeli karya seni digital, atau melakukan transaksi pinjam meminjam.

    Namun, meningkatnya aktivitas tersebut akan membuat proses transaksi di atas jaringan Ethereum gampang mandek. Sehingga, biaya transaksi di Ethereum pun semakin mahal. Untungnya, terdapat jaringan Polygon yang mampu menyelesaikan masalah tersebut. Ia menawarkan solusi atas ketidakandalan skalabilitas Ethereum dengan memanfaatkan teknologi yang dapat mempercepat, mengurangi kompleksitas, dan menurunkan biaya transaksi di jaringan Ethereum.

    Intinya, kehadiran Polygon tidak perlu memaksa Ethereum untuk memodifikasi jaringannya. Sesuai dengan namanya, Polygon menawarkan kerangka kerja yang lebih sederhana, namun fleksibel untuk pengembangan jaringan Ethereum. Sehingga, Polygon dapat mendukung Ethereum untuk mengekspansi jaringannya dengan ukuran, efisiensi, kegunaan, dan keamanan yang lebih baik. 

    Perkembangan Terakhir Polygon

    Baru-baru ini, Polygon mengumumkan akan berkolaborasi dengan Seven Seven Six, sebuah perusahaan modal ventura besutan salah satu pendiri Reddit Alexis Ohanian, untuk berinvestasi sebesar US$200 juta di proyek yang menggabungkan kecanggihan teknologi Web3 dengan media sosial.

    Investasi tersebut akan menambah panjang daftar portofolio pendanaan Ohanian. Sebelumnya, Ohanian juga menjadi investor awal Coinbase, Patreon dan juga OpenDoor.

    Perusahaan yang dimilikinya, Seven Seven Six, juga memiliki kepemilikan di Sky Mavis, pengembang platform gim Axie Infinity, dan beberapa perusahaan teknologi terkemuka lainnya.



    Sumber : pluang.com