Analisis teknikal adalah teknik yang digunakan investor untuk memprediksi perilaku pasar di masa depan dengan mempelajari data pasar, utamanya data harga dan volume perdagangan, secara historis.
Pada praktiknya, investor dan trader selalu menggunakan analisis teknikal untuk menentukan titik beli dan jual sebuah aset agar cuannya lebih mumpuni. Sobat Cuan bisa mengambil contoh garis support dan resistance di dalam grafik pergerakan harga sebuah aset.
Jika harga sebuah aset menyentuh garis support, maka investor bisa melakukan aksi beli. Sebab, pada titik tersebut, investor lain kemungkinan juga akan memborong aset yang dimaksud karena mereka berharap tren penurunan harga aset (downtrend) akan berhenti. Sementara itu, investor bisa menjual asetnya ketika harga aset menyentuh titik resistance mengingat tren kenaikan harga aset (uptrend) akan terhenti.
Di dalam analisis teknikal, pelaku pasar mengasumsikan bahwa harga aset merupakan cerminan dari seluruh informasi yang sudah diproses oleh sesama pelaku pasar lainnya. Trader menganggap bahwa seluruh informasi tersebut membentuk suatu pola tertentu sehingga mereka gemar memperhatikan grafik harga untuk mengenali pola harga, tren, dan sinyal ketika memutuskan aksi jual dan beli.
Analisis teknikal dapat dibagi menjadi ketiga kategori sebagai berikut:
Pola grafik
Garis support dan resistance
Indikator teknikal (Moving Average, MACD, Relative Strength Index, dan lainnya)
Dengan kata lain, trader yang menjagokan analisis teknikal sama sekali tidak mempertimbangkan aspek finansial dari aset keuangan, cukup berbeda dengan mereka yang mengandalkan analisis fundamental.
1.2 Manfaat Analisis Teknikal
Bagi investor, analisis teknikal adalah pendekatan yang tepat untuk mengukur sentimen keseluruhan pasar. Sebab, analisis teknikal adalah visualisasi atau pendekatan matematis dari aksi jual-beli yang dilakukan pelaku pasar secara keseluruhan. Nah, pelaku pasar lain bisa menggunakan informasi-informasi tersebut untuk memilih keputusan dan mencari potensi cuan dalam trading.
Sehingga, memahami analisis teknikal bukanlah memahami ilmu sulap. Sesuai ucapan terkenal dari Benjamin Graham, “Pasar adalah mesin voting di jangka pendek, namun menjadi mesin penimbang dalam jangka panjang.”
1.3 Bagaimana Cara Memanfaatkan Analisis Teknikal?
Analisis teknikal adalah metode yang berguna untuk memeriksa sentimen pasar dalam jangka pendek. Sehingga, pendekatan ini akan berguna jika Sobat Cuan ingin mencari cuan dari trading jangka pendek.
Namun, kamu tak cukup mengandalkan analisis teknikal semata. Sebab, pendekatan ini banyak kekurangannya. Oleh karenanya, kamu tetap harus mengombinasikan analisis teknikal dan analisis fundamental. Mengapa demikian?
Kamu bisa menggunakan analisis fundamental untuk menentukan aset apa yang perlu dijual atau dibeli. Sementara itu, analisis teknikal digunakan untuk menentukan kapan sebaiknya kamu membeli atau menjual aset tersebut.
Sebagai contoh, harga Bitcoin (BTC) terlihat dalam tekanan dalam waktu yang lama. Kemudian, tiba-tiba muncul satu sentimen pasar utama yang kemudian bikin harga BTC terdongkrak. Nah, dalam situasi ini, kamu tentu tergerak untuk memborong BTC kan?
Namun, kamu tetap tak boleh tergesa-gesa menentukan keputusan. Kamu bisa menggunakan analisis teknikal, yakni dengan melihat grafik harga dan indikator teknikal, agar kamu semakin yakin memborong BTC. Selain itu, kamu juga bisa menggabungkan beberapa analisis teknikal untuk makin teguh menentukan keputusan jual atau beli tersebut.
Analisis teknikal adalah topik yang luas dan terdiri dari beberapa metodologi, bahkan indikator analisis teknikal pun banyak jenisnya. Jika kamu hanya menggunakan satu pendekatan analisis teknikal saja, maka ada beberapa aspek lain di pasar yang tidak bisa kamu tangkap. Sehingga, kamu harus memantapkan analisismu dengan indikator teknikal yang lain agar meminimalisasi risiko dan meningkatkan kesempatan cuanmu.
Analisis teknikal adalah representasi visual dalam bentuk grafik atas harga sebuah aset dan volume perdagangannya antar waktu. Sehingga, sama seperti grafik pada umumnya, seluruh faktor tersebut diwakili di dalam dua sumbu grafik analisis teknikal, yakni sumbu vertikal dan horizontal.
Sumbu vertikal mewakili harga aset atau nilai volume perdagangan sementara sumbu horizontal mewakili faktor waktu. Nah, kedua sumbu tersebut selalu menjadi kunci utama dalam menyusun analisis teknikal apapun bentuknya.
Memang, terdapat beragam grafik analisis teknikal yang bisa dibentuk investor atau trader dengan memanfaatkan kedua sumbu tersebut. Namun, investor biasanya menggunakan kedua sumbu di atas untuk membuat turunan dalam bentuk grafik garis (line chart) dan grafik candlestick.
Apakah arti dan tujuan kedua grafik tersebut? Yuk, simak selengkapnya!
2.1 Line Chart
Line chart adalah grafik dalam bentuk garis yang diciptakan dengan menghubungkan harga aset di periode penutupan yang digunakan di dalam grafik tersebut.
Sebagai contoh, grafik harian adalah garis yang menghubungkan harga-harga penutupan aset setiap hari. Sementara itu, grafik per jam merupakan garis yang menyambungkan harga sebuah aset di setiap jam.
Pelaku pasar biasanya menggunakan line chart untuk memvisualisasikan pergerakan harga aset. Melalui grafik ini, mereka bisa membaca reli dan tren harga sebuah aset dan reaksi pelaku pasar terhadap tren tersebut.
Sobat Cuan bisa menengok contoh line chart di grafik nilai harian indeks S&P 500 antara 2017 hingga 2021 berikut.
Dari grafik tersebut, Sobat Cuan bisa mengetahui kapan tren harga sebuah aset terus meningkat (bull market), menurun (bear market), atau mengalami reli. Grafik ini membantu kamu memahami kondisi pasar yang terjadi saat ini sehingga kamu bisa membuat keputusan investasi yang tepat.
2.2 Candlestick Chart
Candlestick chart adalah grafik yang menunjukkan harga aset tertinggi dan terendah serta harga pembukaan dan penutupan sekaligus di dalam satu rentang periode tertentu. Makanya, bentuknya pun jauh berbeda dengan line chart.
Candlestick chart sendiri melintang vertikal yang terdiri dari dua bagian utama, yakni badan dan “batang” yang menjulang di atas dan bawah. Bagian badan menggambarkan posisi harga aset saat pembukaan dan penutupan, sementara bagian batang menggambarkan titik harga terendah dan tertinggi sepanjang sesi perdagangan.
Agar mempermudah investor melihat arah pergerakan harga, grafik candlestick umumnya memiliki dua warna, yakni hijau dan merah. Grafik candlestick hijau melambangkan bahwa harga aset tengah naik dalam periode tersebut, sementara warna merah melambangkan penurunan harga.
Nah, untuk lebih mudah memahami candlestick, Sobat Cuan bisa menyimak gambar berikut!
[Grafik candlestick saat tren harga naik]
[Grafik candlestick saat tren harga turun]
Seperti apa penjelasan grafik di atas? Simak penjelasannya berikut!
Harga pembukaan (open). Titik ini berada di posisi bawah badan candlestick jika harga aset terpantau terus meningkat. Sebaliknya, titik ini akan berada di posisi atas badan candlestick jika tren harga aset terus melandai.
Harga tertinggi (high). Titik ini terletak di puncak paling atas batang candlestick.
Harga terendah (low). Titik ini terletak di ujung paling bawah batang candlestick.
Harga penutupan (close). Ini merupakan kebalikan dari harga pembukaan. Titik ini akan berada di posisi atas badan candlestick jika harga aset meningkat dan berlaku sebaliknya.
Agar kamu lebih memahami soal grafik candlestick, yuk perhatikan contoh grafik candlestick nilai indeks Nasdaq 100 antara Januari hingga Juli 2021 berikut.
Grafik di atas memperlihatkan warna merah dan hijau secara selang-seling, yang merupakan representasi dari fluktuasi nilai indeks tersebut. Namun, ada kalanya grafik berwarna hijau terus menerus dan ada masanya grafik tersebut berwarna merah secara berurutan. Nah, warna-warna yang muncul secara berentetan tersebut menunjukkan arah pergerakan nilai indeks Nasdaq 100.
Sebagai contoh, sebagian besar badan grafik candlestick berwarna hijau antara Mei hingga Juli, yang mengindikasikan bahwa tren nilai indeks Nasdaq 100 sedang menanjak. Kemudian, beberapa elemen tambahan di badan candlestick tersebut memberikan info tambahan terkait tingkat volatilitas nilai tersebut.
Badan candlestick yang panjang, misalnya, menunjukkan perubahan harga yang ekstrem dari awal hingga akhir sesi perdagangan. Sementara itu, batang candlestick yang panjang menunjukkan seberapa parah harga berfluktuasi dalam rentang waktu tersebut.
Tak hanya itu, pelaku pasar juga bisa meramal arah pasar hanya dengan melihat pola candlestick. Seperti yang terlihat pada grafik di atas, terdapat satu candlestick yang terlihat seperti palu lantaran memiliki badan yang pendek namun dengan batang yang panjang.
Nah, pola tersebut disebut dengan “hammer candlestick”, yakni sebuah pola yang sering dianggap pelaku pasar sebagai pertanda bahwa tren nilai akan berbalik dari menurun menjadi meningkat. Jika terdapat pola seperti itu, maka ada baiknya Sobat Cuan segera masuk ke pasar untuk mendulang cuan.
2.3 Line Charts vs Grafik Candlestick
Kini, kamu sudah memahami line charts dan grafik candlestick. Hanya saja, grafik manakah yang perlu kamu pilih?
Kamu bisa menggunakan line chart untuk membaca kesimpulan singkat mengenai pergerakan harga. Hanya saja, line chart tidak bisa membaca data-data selain data titik harga penutupan.
Sementara itu, grafik candlestick dapat memberikanmu data terkait perjalanan harga sebuah aset di setiap periodenya.
Namun, apapun jenis grafiknya, seluruh grafik trading memiliki rentang waktunya sendiri baik dalam hitungan menit, jam, harian, bulanan, atau tahunan. Sehingga, baik menggunakan line chart atau candlestick, kamu tetap bisa melihat perjalanan harga sebuah aset.
Support: Support adalah level harga di mana harga suatu aset cenderung berhenti jatuh dan bahkan mungkin melambung kembali ke atas.
Hal ini terjadi karena pada harga yang lebih rendah, pembeli lebih cenderung masuk ke pasar dan meningkatkan permintaan sehingga mencegah harga untuk menurun lebih lanjut.
Resistance: Resistance mencerminkan level harga di mana suatu aset cenderung menghentikan gerakannya ke atas dan berpotensi berbalik arah.
Pada harga aset yang lebih tinggi, penjual lebih cenderung memasuki pasar dan menciptakan kelebihan pasokan yang dapat menghambat kenaikan harga lebih lanjut.
Penting untuk dicatat bahwa level support dan resistance bukan hanya hasil dari perhitungan matematis semata. Keduanya juga dipengaruhi oleh sisi psikologis manusia dan sentimen pasar.
Misalnya, ketika suatu aset mendekati level support yang telah mapan, trader yang melewatkan kenaikan harga awal mungkin melihatnya sebagai kesempatan beli. Aliran minat beli ini dapat menciptakan hambatan psikologis bagi penurunan harga lebih lanjut.
Sebaliknya, ketika harga aset mendekati level resistance, trader yang sebelumnya melakukan aksi beli mungkin memutuskan untuk menjual asetnya dan mengambil keuntungan. Keinginan kolektif trader untuk menjual aset pada harga tertentu tersebut dapat menciptakan hambatan psikologis terhadap pergerakan ke atas.
Reaksi pedagang terhadap level ini seringkali menjadi ramalan yang benar-benar terjadi. Semakin banyak peserta yang mengamati dan bertindak berdasarkan level support atau resistance, maka semakin besar pula dampak mereka terhadap pergerakan harga. Oleh karenanya, kedua level ini memiliki peran signifikan di mata komunitas trader.
3.2 Bagaimana Cara Mengidentifikasi Support dan Resistance dalam Trading?
Setelah “zona” support dan resistance ditetapkan, level tersebut dapat digunakan trader sebagai titik masuk atau keluar dari pasar.
Ketika harga mencapai area support dan resistance sebelumnya, salah satu dari dua hal akan terjadi.
Biasanya, harga akan memantul dan kembali ke level sebelumnya atau harga akan menembus dua area tersebut dan melanjutkan arah berikutnya. Ketika ini terjadi, level resistance sebelumnya maka akan berubah menjadi area support untuk reli harga baru.
Patut diingat bahwa level support dan resistance tidak diwakili oleh satu titik harga yang pasti, tetapi seringkali merupakan sebuah zona atau rentang. Selain itu, level ini juga tidak bersifat tetap lantaran mereka dapat berkembang seiring berubahnya kondisi pasar antar waktu.
Dalam contoh sebelumnya, level support dan resistance ditampilkan sebagai titik harga konstan, yang diwakili garis horizontal statis. Namun, pada kenyataannya, support dan resistance bisa dinamis dan trader bisa menggunakan garis tren dan Moving Average untuk menunjukkan area support dan resistance.
3.3 Cara Menentukan Support dan Resistance
3.3.1 Support Resistance dan Garis Tren
Ketika pasar mengalami tren kuat atau bergerak ke satu arah tertentu, garis tren bisa menjadi indikator support dan resistance yang lebih baik daripada garis horizontal. Setiap kali harga mendekati garis tren support, harga akan cenderung memantul dari garis tersebut dan melanjutkan apresiasi harga.
Seperti tercermin dari contoh di bawah ini, Indeks S&P 500 menunjukkan sentimen bullish jangka menengah.
Selama kurun satu hari atau seminggu, nilainya cenderung berfluktuasi. Melihat hal ini, pasar mungkin bereaksi berlebihan sehingga penjual pun akan masuk ke pasar dan menurunkan nilai indeks tersebut.
Namun secara keseluruhan, pasar tetap bullish dan harga terus memantul dari garis tren support.
3.3.2 Support Resistance dan Moving Average
Level support resistance dapat bersifat dinamis, yaitu mereka tidak perlu ditetapkan pada level harga yang konstan.
Sama seperti garis tren ang dapat berfungsi sebagai area support, Moving Average juga dapat berfungsi sebagai area support dan resistance. Hal ini mengingat Moving Average adalah garis yang terus berubah yang berfungsi untuk “menghaluskan” data harga di masa lalu.
Sumber: Investopedia
Grafik di atas memperlihatkan bahwa Moving Average berfungsi sebagai area support selama tren harga naik, namun berfungsi sebagai area resistance saat tren harga menurun. Para trader biasanya bereksperimen dengan kerangka waktu Moving Average hingga mereka menemukan satu kerangka waktu yang cocok.
3.3.3 Support Resistance serta Pivot Points
Salah satu cara untuk menentukan support resistance adalah melalui penggunaan Pivot Points. Adapun sebuah Pivot Point menunjukkan rata-rata harga kemarin, yang didefinisikan sebagai rata-rata dari harga intrahari terendah dan tertinggi di hari sebelumny serta harga penutupannya.
Berdasarkan Pivot Point ini, trader biasanya akan menciptakan tiga set garis support dan resistance . Kemudian, ia akan membandingkan harga hari ini dengan garis support dan resistance yang didasarkan pada harga “rata-rata” di hari sebelumnya.
Tingkat-tingkat Pivot Point ini dapat digunakan trader sebagai dasar untuk menentukan kapan harus masuk atau keluar dari pasar.
Sebagai contoh, seorang trader mungkin memilih untuk menginstruksikan aksi jual tepat di bawah R1, R2, R3. Jika indikator lain menunjukkan bahwa price action sangat bullish, maka ia mungkin memilih untuk menempatkan lebih banyak order jual di tingkat R3 yang lebih tinggi agar bisa mendapatkan keuntungan lebih.
Sebaliknya, trader yang berpikir bahwa harga mungkin memantul dari tingkat support mungkin memilih untuk menempatkan order beli tepat sebelum tingkat Support S1, S2, S3. Sebagai alternatif, seorang trader yang ingin membatasi risiko depresiasi harga mungkin menempatkan stop-loss tepat setelah S1, S2, S3.
Kamu bisa memanfaatkan Pivot Points dan garis support serta resistance di Aplikasi Pluang.
Untuk menemukannya, kamu hanya perlu mengunjungi salah satu halaman aset manapun di aplikasi Pluang lalu klik tab “Technicals”. Gulirkan layar ke bawah untuk menemukan level support dan resistance serta Pivot Point.
3.3.4 Support dan Resistance serta Fibonacci Retracement
Cara lain untuk menentukan support adalah melalui Fibonacci Retracement dan ekstensinya.
Tingkat Fibonacci dibuat dengan mengambil dua titik signifikan pada grafik, yang biasanya merupakan titik harga tertinggi atau terendah absolut. Sebuah seri tingkat harga kemudian dibuat di antara kedua titik ini yang dapat berfungsi sebagai garis support dan resistance.
Secara lebih detail, garis tersebut akan digambar pada 23,6%, 38,2%, 61,8%, dan 78,6% dari jarak antara titik tertinggi dan terendah harga aset. Trader juga bisa memperhatikan garis 50%, meskipun secara teknis ini bukan didasarkan pada seri angka Fibonacci.
3.4 Strategi Trading apa yang Bisa Digunakan Setelah Menentukan Support dan Resistance
3.4.1 Range Trading
Range Trading adalah strategi yang berkembang di pasar dengan rentang harga yang jelas dan sudah diketahui.
Trader yang menerapkan pendekatan ini mengidentifikasi tingkat support dan resistance tertentu yang terdapat fluktuasi harga aset di dalamnya. Hal ini bertujuan agar trader dapat membeli aset dekat tingkat support dan menjualnya ketika harga aset mendekati tingkat resistance.
Seiring harga aset berayun terus menerus dalam rentang support resistance yang dimaksud, maka trader dapat memanfaatkannya untuk mendulang untung dari kondisi tersebut.
Sebagai contoh, anggap saja sebuah harga saham memiliki tingkat support di US$50 dan tingkat resistance di US$60. Trader yang melakukan Range Trading akan membeli saham ketika mendekati US$50 dan menjualnya ketika mendekati US$60.
Dengan berulang kali masuk dan keluar posisi dalam rentang ini, trader dapat mendapatkan keuntungan dari perilaku harga
3.4.2 Breakout Trading
Breakout Trading adalah strategi trading yang berkutat pada identifikasi momentum kritis ketika harga aset menembus level support atau resistance yang sudah matang.
Ketika Breakout terjadi, hal itu menandakan terjadinya perubahan pada sentimen pasar dan dapat mengarah pada keberlanjutan arah harga aset sesuai dengan arah Breakout-nya. Trader yang menggunakan strategi ini bertujuan untuk memanfaatkan momentum yang dihasilkan oleh Breakout.
Sebagai contoh, bayangkan sebuah skenario di mana pasangan mata uang di pasar valuta asing (currency pair) secara konsisten menghadapi resistance di US$1,20.
Setelah harga melebihi level ini, trader yang menggunakan strategi Breakout Trading akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memasuki posisi beli dengan harapan bahwa harga aset akan bergerak lebih lanjut ke atas. Dengan mengikuti momentum Breakout, trader dapat berpotensi memperoleh cuan yang signifikan.
3.4.3 Trendline Trading
Trendline Trading adalah strategi trading dengan menggambar garis tren di grafik harga untuk mengidentifikasi pola support dan resistance.
Garis tren digambar dengan menghubungkan titik tertinggi atau terendah harga yang berurutan, sehingga memberikan gambaran mengenai lintasan tren yang sedang berlangsung. Trader yang menggunakan strategi ini akan memasuki pasar ketika harga bertautan dengan garis tren, yang sekaligus mengonfirmasi bahwa tren tersebut akan terus berlanjut.
Sebagai contoh, anggap saja bahwa harga sebuah saham mengalami tren naik dengan pergerakan harga yang sering memantul dari garis tren yang terus meningkat.
Melihat kondisi ini, trader yang menggunakan strategi Trendline Trading akan memantau saat harga menyentuh atau memantul dari garis tren. Titik-titik ini berfungsi sebagai sinyal masuk yang potensial dan memungkinkan trader untuk menyelaraskan posisi mereka dengan tren yang sedang berlangsung.
3.5 Tips Praktis Trading dengan Support dan Resistance
3.5.1 Menggunakan Angka Bulat Sesuai dengan Psikologi Trading
Angka bulat, seperti tingkat harga yang berakhir dengan kelipatan 10 atau 100, seringkali berfungsi sebagai support dan resistance utama.
Ada banyak alasan praktis terkait hal tersebut. Salah satunya, banyak trader secara sengaja membulatkan angka ke angka bulat terdekat karena lebih mudah diingat.
Selain itu, banyak institusi melakukan trading di angka bulat seperti US$50,00, bukan di angka seperti misalnya US$50,05. Karena begitu banyak trading yang ditempatkan pada level ini, maka support dan resistance mungkin sangat terjadi pada angka-angka ini.
Untuk memastikan bahwa kamu tidak bersaing dengan orang lain pada level harga pada angka bulat, maka kamu harus melakukan trading sedikit di atas atau di bawah angka tersebut. Misalnya, jika kamu ingin menempatkan order beli saham di US$50,03 maka kamu bisa membelinya di harga US$50,00.
3.5.2 Perhatikan Kekuatan Support atau Resistance
Trader harus mengukur kekuatan level support dan resistance untuk menentukan apakah harga akan memantul dari dua garis tersebut atau justru menembusnya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berikut:
Jumlah “Ujian” Harga: Semakin sering sebuah level harga diuji dan bertahan di satu level tertentu, maka semakin kuat pula level harga tersebut dijadikan sebagai level support atau resistance.
Kekuatan Pergerakan Harga Sebelumnya: Pergerakan yang tajam sebelum harga mencapai level support atau resistance menandakan tekanan beli atau jual yang lebih kuat. Hal ini menekankan pentingnya level tersebut sebagai support atau resistance.
Volume: Volume trading yang lebih tinggi di dekat level support atau resistance menunjukkan ketertarikan pasar yang meningkat. Hal itu pun memperkuat signifikansi kedua level tersebut sebagai support atau resistance.
Jangka Waktu: Level support dan resistance yang bertahan selama jangka waktu yang lebih lama, seperti grafik mingguan atau bulanan, cenderung memiliki pengaruh dan relevansi yang lebih besar.
3.6 Tanya Jawab Seputar Support dan Resistance
3.6.1 Apa yang Dimaksud dengan Support dan Resistance?
Support adalah level harga di mana harga suatu aset cenderung berhenti jatuh dan bahkan mungkin melambung kembali ke atas.
Sementara Resistance mencerminkan level harga di mana suatu aset cenderung menghentikan gerakannya ke atas dan berpotensi berbalik arah.
3.6.2 Apa yang Terjadi Ketika Support dan Resistance Tertembus?
Ketika level support atau resistance tertembus, hal ini menandakan perubahan signifikan dalam sentimen pasar.
Penembusan di atas resistance menunjukkan potensi momentum naik, sementara penembusan harga ke bawah support dapat mengindikasikan potensi tren menurun. Trader sering melihat peristiwa tersebut sebagai peluang untuk masuk atau keluar pasar, tergantung pada arah Breakout dan konfirmasi berdasarkan indikator lainnya.
3.6.3 Bagaimana Menentukan Support dan Resistance yang Kuat?
Kekuatan level support atau resistance dievaluasi berdasarkan sejumlah faktor, yakni jumlah “sentuhan” harga aset terhadap satu tingkat harga tertentu, kekuatan pergerakan harga sebelumnya, volume trading, dan jangka waktu.
3.6.4 Seperti Apa Strategi Trading dengan Support dan Resistance?
Trading berdasarkan support dan resistance melibatkan identifikasi level-level harga penting pada grafik harga. Berikut adalah strategi mudahnya:
Identifikasi Level: Tentukan level support dan resistance yang telah terbentuk menggunakan data harga historis.
Konfirmasi Tren: Analisis tren pasar keseluruhan untuk menyelaraskan strategi trading dengan tren harga yang terjadi saat ini.
Entry dan Exit: Pertimbangkan membeli di dekat support dalam tren naik dan menjual di dekat resistance saat tren turun. Pasang order stop-loss tepat di luar level ini untuk manajemen risiko.
Indikator Konfirmasi: Gunakan indikator teknikal seperti Moving Average, garis tren, dan pola candlestickuntuk memvalidasi strategi trading yang potensial.
3.6.5 Apa Faktor Psikologis di Balik Support dan Resistance?
Level support dan resistance adalah buah dari psikologis pelaku pasar.
Support mencerminkan level harga di mana trader akan masuk ke pasar, sehingga harga aset pun kemungkinan tidak akan terjatuh lebih dalam lagi. Saat harga aset mendekati level support, trader akan membeli aset karena mungkin telah melewatkan kesempatan beli di masa lalu.
Sebaliknya, resistance adalah tingkat harga di mana trader kemungkinan akan menjual asetnya, sehingga mencegah harga aset untuk meningkat lebih lanjut.
Pada skenario ini, trader akan segera menjual asetnya ketika harga aset mendekati level resistance karena mereka melewatkan kesempatan jual di masa lampau.
Perilaku kolektif pelaku pasar tersebut mempengaruhi dinamika pergerakan harga, sehingga support dan resistance adalah hal yang esensial bagi analisis pasar.
3.6.6 Bagaimana Cara Trading Menggunakan Support dan Resistance di Pluang?
Kamu dapat memanfaatkan Pivot Point dan level support dan resistance di aplikasi Pluang dengan mengunjungi halaman aset mana pun dan klik tab “Technicals”.
Di bagian “Support dan Resistance”, kamu akan menemukan Pivot Points dan level support dan resistance terkait.
Contoh Fitur Support dan Resistance dan Pivot Point di Pluang
Cara lain untuk mengakses fitur support dan resistance di Pluang adalah dengan mengklik fitur grafik teknikal.
Kamu tinggal mengunjungi ke halaman aset manapun dan klik ikon grafik teknikal (yang diwakili oleh satu garis merah dan garis hijau) yang terletak di sisi paling kanan dari keterangan waktu pada grafik harga.
Setelah itu, kamu akan mendarat di laman TradingView dan bisa melihat seluruh indikator teknikalnya. Hal ini akan memungkinkanmu untuk menggambar garis support, menggambar Moving Average, dan menunjukkan Fibonacci Retracement.
Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!
Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!
Grafik candlestick membentuk dasar utama analisis teknikal untuk trading. Pasalnya, gabungan grafik candlestick bisa memberikan gambaran bagi investor terkait satu pola tertentu, yang terjadi akibat interaksi antara pembeli dan penjual di pasar aset.
Pola candlestick memang banyak jumlahnya. Tapi, pola-pola tersebut umumnya menunjukkan dua tren pasar utama: Bullish dan bearish. Apakah itu?
Pola bullish mengindikasikan bahwa harga aset kemungkinan akan terus menanjak, sementara pola bearish menunjukkan bahwa harga aset akan terus melandai. Hanya saja, grafik candlestick tidak selalu jitu dalam meramal pergerakan tren harga aset ke depan mengingat pola candlestick hanya sebatas memberi sinyal-sinyal bagi tren tersebut.
Di bawah ini, Sobat Cuan bisa mempelajari delapan jenis pola candlestick yang umum digunakan oleh trader. Delapan pola ini terdiri dari empat pola candlestick bullish dan empat pola candlestick bearish.
14.1 Mengenal Pola Candlestick
14.1.1 Pola Candlestick Bullish
Pola bullish umumnya muncul setelah harga aset terpantau terus melandai, yang mengindikasikan bahwa harga sudah mulai terdongkrak setelah melorot dalam jangka waktu tertentu. Pola-pola ini biasanya menjadi sinyal bagi pelaku pasar untuk melakukan aksi beli sebelum nantinya mendulang cuan dari pergerakan harga aset ke depan.
1. Hammer
Pola candlestick hammer terjadi ketika terdapat satu “lilin” yang memiliki badan pendek namun memiliki batang bagian bawah yang menjuntai. Hal ini mencerminkan bahwa pelaku pasar tengah getol melakukan aksi beli dan ujungnya meningkatkan harga aset. Lilin candlestick pola hammer biasanya berwarna hijau, namun kadang bisa juga berwarna merah. Jika lilin tersebut berwarna hijau, maka terdapat sinyal bullish yang kuat di pasar.
2. Bullish Engulfing
Pola bullish engulfing terjadi ketika candlestick hijau memiliki badan yang lebih besar dibanding candlestick merah yang berada di samping kirinya. Hal ini mengindikasikan bahwa sesi perdagangan hari tersebut punya nilai pembukaan yang lebih kecil dibanding hari sebelumnya, namun kondisi market terbilang tengah bullish sehingga harga menanjak.
3. Morning Star
Sobat Cuan bisa menerka pola candlestick morning star dari tiga lilin yang berderet, seperti yang terlihat dari gambar di atas.
Lilin pertama memiliki badan yang panjang dan berwarna merah. Sementara itu, lilin kedua memiliki badan kecil dan berwarna merah dan lilin ketiga berwarna hijau dengan badan yang panjang.
Nah, dalam hal ini, Sobat Cuan perlu memperhatikan lilin kedua, di mana selisih antara harga pembukaan dan penutupan makin menyempit sebelum. Lilin candlestick inilah yang kemudian disebut dengan bintang pagi (morning star) karena dianggap memberi harapan bahwa harga bisa kembali menanjak setelah melorot dalam jangka waktu tertentu. Hal ini juga mengindikasikan bahwa tekanan jual investor sudah mereda dan menjadi sinyal bull market ke depan.
4. Three White Soldiers
Pola ini tercermin dari candlestick berwarna hijau dengan badan lilin yang panjang dan batang kecil yang muncul secara tiga kali berturut-turut. Hal ini mengindikasikan bahwa sesi perdagangan, yang tercermin dari masing-masing candlestick hijau tersebut, punya harga pembukaan dan penutupan yang terus meningkat. Nah, pelaku pasar biasanya mengasosiasikan pola tersebut dengan pola bullish yang kuat karena sedang terjadi aksi beli yang deras.
14.1.2 Pola Candlestick Bearish
Pola candlestick bearish biasanya terbentuk setelah harga aset meningkat dan menjadi sinyal bahwa pelaku pasar ogah mendorong harga aset tersebut lebih tinggi lagi. Hal tersebut bikin pelaku pasar pesimistis untuk melakukan aksi beli dan akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi jual, dan ujungnya bikin harga aset melorot.
1. Hanging Man
The hanging man versi bearish dari pola hammer di pola bullish. Bahkan, bentuknya pun sama seperti pola hammer. Bedanya, ia terjadi setelah harga aset menunjukkan pola menanjak (uptrend). Di samping itu, pola tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar tengah getol melancarkan aksi jual pada saat itu meski mereka sejatinya masih bisa mendorong harga aset lebih tinggi lagi.
2. Bearish Engulfing
Pola bearish engulfing terjadi di ujung pola uptrend. Dan sama seperti bullish engulfing pattern, pola ini terlihat dari tiga lilin yang berderet, di mana lilin kedua berada di antara dua lilin yang memiliki badan yang panjang. Pola ini mengindikasikan bahwa pergerakan harga menanjak mulai melambat dan pola harga akan segera memasuki bearish.
Umumnya, semakin kecil ukuran lilin kedua, maka semakin besar pula tren ini akan terjadi.
3. Evening Star
The evening star pun mirip dengan the morning star. Tetapi, kali ini, pola tersebut muncul setelah harga aset terus menanjak. Pola ini memberi sinyal bahwa pola harga akan berubah dari bullish menjadi bearish. Sinyal ini semakin kuat ketika badan lilin ketiga (yang berwarna merah) lebih besar dari lilin kedua.
4. Three Black Crows
Pola three black crows terjadi ketika tiga candlestick merah muncul secara berturut-turut, di mana nilai pembukaan dan penutupan di masing-masing lilinnya terus melandai. Pola ini menandai bahwa pelaku pasar tengah melakukan aksi jual yang kuat, sehingga harga aset terus tertekan. Biasanya, pelaku pasar menginterpretasikan pola ini sebagai awal mula dari tren harga bearish.
14.2 Bagaimana Cara Menggunakan Pola Candlestick?
Sobat Cuan perlu ingat bahwa kamu tidak bisa hanya mengandalkan pola candlestick semata untuk melihat tren pergerakan harga ke depan. Kamu juga perlu menggunakan informasi dan indikator lain untuk mempertajam analisismu. Mengapa demikian?
Kini, keandalan pola-pola candlestick dianggap semakin menurun sebab pola harga yang tercermin di candlestick diduga telah dimanipulasi oleh perusahaan hedge fund dan program-program komputernya. Praktik umumnya, para perusahaan ini menggantungkan asa pada eksekusi kilat berbasis pola candlestick untuk mendulang cuan yang lebih mantap ketimbang investor ritel dan manajer investasi biasa. Sehingga, analisis yang dilakukan dua pihak yang disebut belakangan ini bisa tidak semakin valid.
Selain itu, tidak ada strategi sempurna dalam trading. Semuanya perlu dilakukan dengan analisis yang berdasarkan komponen yang bejibun. Nah, dalam hal ini, Sobat Cuan bisa menggunakan pola candlestick untuk mengukur kondisi psikologis pasar.
13.1 Bagaimana Cara Memilih Kerangka Waktu Trading yang Tepat?
Investor kawakan mungkin sudah bisa menentukan kerangka waktunya sendiri dalam analisis teknikal. Hanya saja, investor pemula mungkin masih kewalahan dalam melakukan hal tersebut.
Tapi, jangan sedih, Sobat Cuan! Sebab, kamu bisa mengetahui cara memilih kerangka waktu dalam analisis teknikal secara mudah melalui langkah berikut!
Pertama, kamu harus ingat bahwa tidak ada satu kerangka waktu tertentu yang dianggap terbaik dalam melakukan analisis teknikal. Hal itu, tentu saja, tergantung dengan gaya trading-mu.
Gaya trading sendiri sangat tergantung dengan seberapa faktor. Misalnya, berapa lama waktumu dalam menggenggam aset tersebut atau seberapa sering kamu meluangkan waktumu untuk melakukan trading. Nah, gunakan faktor-faktor ini ketika memilih kerangka waktu trading yang cocok.
Sebagai contoh, anggap saja kamu adalah trader yang bisa menolerir volatilitas harga yang cepat dan punya banyak waktu luang dalam melakukan trading. Sehingga, kamu bisa memilih kerangka waktu yang pendek ketika trading karena bisa cepat mengambil keputusan dengan cepat.
Sebaliknya, kerangka waktu yang panjang dipilih oleh pelaku pasar yang senang “berkawan” dengan waktu. Kelompok pelaku pasar seperti ini biasanya tidak mau, atau justru enggan, memantau grafik harga dalam periode yang lama.
Sebagai rangkuman, berikut adalah pilihan kerangka waktu yang digunakan trader berdasarkan karakteristiknya masing-masing.
Trader jangka panjang. Trader golongan ini bisa menggunakan time frame harian, mingguan, atau lebih panjang lagi. Grafik tersebut bisa memberikan trader perspektif jangka panjang mengenai pergerakan harga asing. Kelebihannya, trader tak perlu memantau pasar atau sering-sering memeriksa grafik harga. Sehingga, mereka bisa memiliki banyak waktu untuk menentukan keputusan trading dan tidak terpengaruh oleh distorsi harga jangka pendek. Namun kekurangannya, mereka tidak bisa cepat-cepat mendulang cuan ketika pasar tengah bergejolak.
Trader jangka pendek. Mereka biasanya menggunakan grafik 30 menit, grafik per jam, atau grafik per dua jam atau enam jam sebagai bahan analisis mereka. Kelebihannya, trader jangka pendek bisa menangkap beberapa kesempatan trading dengan cepat ketimbang trader jangka panjang. Selain itu, mereka juga bisa menghindari dampak kerugian jangka panjang dalam trading. Namun kekurangannya, trader jangka pendek harus menanggung biaya trading yang lebih besar dari trader jangka panjang.
Trader intrahari (intraday). Mereka biasanya menggunakan grafik trading per menit lantaran bisa memperlihatkan dinamika harga dengan cepat. Sehingga, mereka bisa masuk dan keluar pasar di hari yang sama. Kelebihannya, mereka bisa menemukan banyak kesempatan trading dalam sehari. Sementara itu, kekurangannya, mereka harus membayar ongkos trading yang lebih mahal dan cenderung bereaksi berlebihan terhadap distorsi pasar dan sinyal-sinyal palsu.
13.2 Multi-Time Frame Analysis
Salah satu strategi dalam memilih kerangka waktu dalam trading adalah melihat beberapa time frame dalam waktu bersamaan. Nah, strategi ini biasa disebut dengan multi-time frame analysis.
Multi-time frame analysis adalah proses dalam melihat pergerakan aset di periode yang berbeda-beda. Tujuannya, agar trader bisa melihat pergerakan harga aset secara umum dengan menggunakan time frame jangka panjang. Namun, mereka bisa memilih titik keluar-masuk pasar dengan membaca time frame jangka pendek untuk mendulang cuan sesegera mungkin.
Trader biasanya menggunakan teknik analisis ini ketika trading valuta asing, pasar saham, hingga aset kripto. Mereka umumnya menggunakan time frame 1 menit untuk kerangka waktu paling pendek dan time frame satu bulan untuk time frame jangka panjang.
Indikator trading adalah alat analisis yang digunakan para investor dan trader untuk mengambil keputusan dalam perdagangan keuangan.
Dengan menggunakan sejumlah data harga historis, indikator ini membantu mengidentifikasi pola, tren, dan potensi pembalikan pasar.
Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam tentang apa itu indikator trading dan bagaimana mereka dapat membantu membimbing keputusan dalam dunia keuangan yang dinamis.
5.1.1 Apa Itu Indikator Trading?
Indikator trading adalah formula matematis yang diterapkan pada data harga saham, mata uang, atau aset keuangan lainnya.
Tujuan utamanya adalah membantu trader memahami arah pergerakan pasar dan mengidentifikasi peluang perdagangan yang potensial.
Indikator ini dapat memberikan sinyal beli atau jual, memberikan pandangan tentang kekuatan tren, dan membantu mengidentifikasi kondisi pasar yang overbought atau oversold.
5.1.2 Fungsi Umum Indikator Trading
Tujuan umum dari indikator teknikal adalah membantu memonitor kondisi pasar. Tanpa adanya indikator, mungkin akan sulit untuk menentukan apakah pasar sedang berada dalam tren bearish atau bullish, memilih posisi apa yang harus dibuka, dan kapan waktu yang tepat untuk membuka posisi.
Dengan menggunakan indikator, Sobat Cuan dapat lebih mudah melihat tren pasar yang sedang berlangsung, memungkinkan untuk menentukan apakah akan membuka posisi buy atau sell.
Indikator juga membantu mengidentifikasi kekuatan dari tren tersebut, apakah tren tersebut masih akan berlanjut atau mungkin sudah mencapai titik jenuh.
Tren yang kuat menunjukkan bahwa harga kemungkinan akan bergerak ke satu arah untuk periode yang cukup lama, memberikan peluang untuk meraih potensi profit.
Sebaliknya, Sobat Cuan dapat menghindari tren yang lemah dan kondisi pasar jenuh karena pergerakan harga dalam situasi tersebut rentan berbalik arah sebelum menghasilkan keuntungan.
Selain fungsi-fungsi di atas, indikator teknikal juga memudahkan dalam menentukan area support dan resistance. Area support dan resistance ini dapat menjadi acuan untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk membuka posisi buy atau sell.
5.1.3 Bagaimana Indikator Trading Digunakan?
Indikator trading digunakan untuk menciptakan strategi perdagangan yang lebih informasional.
Trader menggunakan indikator ini untuk mengkonfirmasi keputusan perdagangan, mengidentifikasi peluang, dan mengelola risiko.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak ada indikator tunggal yang sempurna, dan kombinasi beberapa indikator sering digunakan untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi.
5.1.4 Jenis-jenis Indikator Trading
Ada lima indikator trading yang sering digunakan oleh para ahli.
Pertama, moving averages (MA). Ini merupakan indikator yang menghitung rata-rata harga selama periode waktu tertentu. MA membantu mengidentifikasi tren dan memberikan sinyal pembalikan potensial.
Kedua, relative strength index (RSI). Indikator ini mengukur kecepatan dan perubahan harga dengan skala 0-100. RSI memberikan informasi tentang apakah suatu aset dianggap overbought atau oversold.
Ketiga, bollinger bands (BB). Indikator ini membantu mengukur volatilitas pasar dan menunjukkan sejauh mana harga telah bergerak dari nilai statistiknya.
Keempat, moving average convergence divergence (MACD). MACD yaitu indikator yang menyediakan sinyal tentang perubahan arah dan kekuatan tren, dengan membandingkan dua moving averages.
5.2 Mengenal Jenis Indikator Trading
Dalam latar belakang sudah dijelaskan mengenai apa itu indikator trading, sebuah kalkulasi matematis berdasarkan tren harga atau volume perdagangan sebuah aset secara historis.
Dengan kata lain, melalui indikator ini, trader bisa menerjemahkan grafik harga dan volume perdagangan sebuah aset ke angka-angka tertentu dan menentukan keputusan trading berdasarkan data-data tersebut.
Ada beragam jumlah indikator trading. Namun dalam tulisan ini, Sobat Cuan akan memahami lima indikator trading.
5.2.1 Moving Averages (MA)
Moving average (MA) merupakan sebuah indikator yang digunakan untuk menggambarkan rata-rata harga penutupan suatu aset di pasar selama periode waktu tertentu.
Umumnya, trader menghitung MA sebagai sarana untuk membantu mereka mengidentifikasi arah pergerakan harga suatu aset dalam rentang waktu tertentu.
Trader umumnya memanfaatkan dua tipe MA, yaitu:
Simple Moving Average (SMA): Ini adalah nilai rata-rata dari seluruh titik harga aset dalam suatu periode tertentu.
Angka ini dihitung dengan menjumlahkan seluruh harga penutupan pada titik-titik tertentu dan kemudian dibagi dengan jumlah titik harga yang terdapat pada grafik.
Date
Close
5 Day Moving Average
29-Aug-2022
161
30-Aug-2022
159
31-Aug-2022
157
1-Sep-2022
158
2-Sep-2022
156
6-Sep-2022
155
158
7-Sep-2022
156
157
8-Sep-2022
154
156
9-Sep-2022
157
156
12-Sep-2022
163
156
13-Sep-2022
154
157
Exponential Moving Average (EMA): Jenis MA ini memberikan bobot lebih besar pada harga aset yang lebih baru, membuat EMA menjadi lebih responsif terhadap pergerakan harga terkini di pasar. Untuk menghitung EMA dapat menggunakan rumus berikut:
EMAHari ini = (Harga penutupan saham hari ini * α) + (EMAKemarin * (1 – α))
α merupakan konstanta dari exponential smoothing dimana nilai α dapat dihitung dengan rumus berikut:
α = [Smoothing factor/(Periods + 1)]
Smoothing factor = Meskipun ada banyak pilihan yang dapat digunakan, pilihan yang paling umum adalah 2
Periods = Merupakan banyaknya data yang digunakan untuk menghitung rerata
Biasanya, trader menggunakan MA dengan periode lima, 10, 20, 50, 100, dan 200 hari. Penggunaan kerangka waktu yang lebih pendek umumnya diterapkan oleh trader yang berfokus pada perdagangan jangka pendek, karena MA dalam kerangka waktu ini lebih cepat menanggapi perubahan harga dibandingkan dengan MA berkerangka waktu panjang.
Di sisi lain, trader jangka panjang cenderung menggunakan MA dengan kerangka waktu yang lebih lama.
5.2.2 Relative Strength Index (RSI)
RSI diakui sebagai salah satu indikator paling akurat dalam perdagangan kripto. Selain Moving Average (MA), RSI juga dianggap sebagai indikator terbaik untuk menilai momentum perubahan harga bitcoin.
Bagi trader dengan fokus jangka pendek, RSI dengan periode 5 atau 7 hari menjadi pilihan, sementara bagi trader jangka panjang, mereka dapat memilih periode 21 atau 30.
RSI juga memiliki peran penting dalam melihat tren dan divergensi, memberikan sinyal pembalikan tren kepada para trader.
Indikator ini beroperasi dalam skala osilator dengan rentang nilai antara 0 hingga 100. Ketika pembacaan berada di bawah 30, disebut sebagai kondisi oversold, sementara di atas 70 dianggap sebagai kondisi overbought.
RSI NVDA, Sumber: TradingView (2024)
5.2.3 Bollinger Bands (BB)
Bollinger Bands (BB) diakui sebagai indikator trading yang sangat akurat dan berperan sebagai alat untuk mengambil keuntungan.
Indikator ini terdiri dari dua garis tren standar deviasi yang diplot bersama dengan tren Simple Moving Average (SMA) dari suatu aset.
Dalam hal ini, garis tengah indikator BB memiliki fungsi untuk menunjukkan level overbought dan oversold, memberikan informasi mengenai volatilitas, serta menampilkan tren harga sebagai referensi bagi trader dalam pengambilan keuntungan.
Dalam daftar indikator trading, tidak ada indikator yang sempurna dan cocok untuk semua kondisi pasar. Pemilihan indikator lebih merupakan masalah preferensi trader, disesuaikan dengan gaya trading dan kondisi pasar aset yang diperdagangkan.
Trader dapat mengkombinasikan beberapa indikator untuk mengkonfirmasi sinyal yang muncul dalam rentang waktu tertentu. Namun, ia memberi peringatan bahwa penggunaan terlalu banyak indikator dapat membuat trader merasa terlalu dibanjiri informasi dan kesulitan dalam pengambilan keputusan.
5.2.4 Moving Average Convergence Divergence (MACD)
MACD diidentifikasikan sebagai salah satu indikator trading forex yang paling akurat dalam mengkonfirmasi sinyal jual dan beli. Indikator ini terdiri dari histogram dan rata-rata pergerakan harga secara eksponensial.
MACD sebagai indikator terbaik untuk trading forex, berperan sebagai alat konfirmasi tren yang sangat populer dan bermanfaat. Menurut informasi yang dikutip dari Elearn Markets, ketika terjadi divergensi reguler antara MACD dan harga aset kripto, hal tersebut menunjukkan pembalikan harga, sementara divergensi tersembunyi (hidden divergence) mengindikasikan kelanjutan tren.
5.3 Kesimpulan
Dalam dunia keuangan yang kompleks, indikator trading adalah alat yang sangat berharga untuk membimbing keputusan perdagangan.
Namun, sangat penting untuk memahami bahwa mereka bukanlah jaminan keberhasilan dan harus digunakan sebagai bagian dari strategi perdagangan yang komprehensif.
Menggabungkan pengetahuan tentang indikator trading dengan pemahaman mendalam tentang pasar keuangan adalah kunci untuk menjadi trader yang sukses.
Stochastic Oscillator adalah indikator momentum yang membandingkan nilai penutupan sebuah aset di satu titik waktu tertentu dengan rentang pergerakannya dalam periode waktu yang spesifik.
Indikator ini mencerminkan bahwa momentum pergerakan harga aset akan terus berubah-ubah sebelum akhirnya pergerakan harga aset tersebut benar-benar berganti haluan. Nah, oleh karenanya, pelaku pasar biasanya menggunakan indikator ini untuk memprediksi perubahan tren harga aset.
Sama seperti RSI, indikator ini bertujuan untuk mencari sinyal jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold) dengan rentang nilai antara 0 hingga 100. Tingkat senstivitas indikator ini terhadap pergerakan harga aset yang sebenarnya sangat tergantung dengan kerangka waktu yang digunakan atau hasil Moving Average dari harga aset.
Adapun grafik Stochastic Oscillator terdiri dari dua garis, di mana satu garis menggambarkan nilai oscillator sebenarnya di setiap sesi perdagangan sementara garis lainnya merupakan refleksi atas Simple Moving Average (SMA) selama tiga hari ke belakang. Karena pergerakan harga selalu mengikuti momentum, maka persilangan antara dua garis tersebut sering dianggap sebagai sinyal bahwa tren harga akan berubah.
Secara umum, kondisi overbought akan terjadi jika kedua garis tersebut berada di atas nilai 80. Sementara itu, kondisi oversold terjadi jika keduanya berada di bawah nilai 20.
Hanya saja, keterangan-keterangan tersebut tidak selalu mengindikasikan bahwa tren harga aset benar-benar berganti arah. Sebab, pada kenyataannya, kedua garis tersebut bisa berada di zona overbought atau oversold dalam jangka waktu lama jika trennya benar-benar kuat.
Oleh karenanya, pelaku pasar perlu memperhatikan interaksi antara kedua garis tersebut dengan pergerakan harga aset yang sebenarnya untuk mencari petunjuk tentang perubahan tren harga aset ke depan.
Contoh Stochastic Oscillator
Salah satu penggunaan penting Stochastic Oscillator adalah melihat divergensi antara kedua indikator oscillator dengan pergerakan harga aslinya. Sobat Cuan bisa melihat contohnya di grafik Stochastic Oscillator Bitcoin (BTC) dengan rentang waktu satu hari berikut!
Pada grafik di atas, garis biru menunjukkan nilai oscillator sebenarnya sementara garis merah mewakili SMA BTC dalam tiga hari terakhir.
Ketika harga aset mencapai titik tertinggi terbarunya sementara garis oscillator terlihat menyentuh titik terendah terbarunya ketika tren sedang bullish, maka kondisi itu bisa disebut sebagai divergensi negatif (negative divergence). Peristiwa ini merupakan sinyal bahwa tren harga akan berubah, sehingga pelaku pasar harus bersiap diri menghadapi risiko ke depan.
Namun, jika harga aset mencapai titik terendah terbarunya sementara kedua garis oscillator terus mencetak nilai tertinggi terbarunya saat kondisi pasar sedang bearish, maka hal tersebut bisa disebut sebagai divergensi positif (positive divergence). Kondisi tersebut menjadi pertanda bahwa masa-masa bearish akan segera lenyap dan berganti menjadi tren bullish, seperti terlihat di grafik berikut.
16.1.2 Commodity Channel Index (CCI)
Indikator CCI membandingkan posisi harga saat ini dengan rerata harganya dalam satu rentang waktu tertentu.
Sama seperti indikator oscillator lainnya, indikator CCI menentukan titik overbought atau oversold dari pergerakan harga sebuah aset. Nilai CCI terbilang tinggi jika harga aset saat ini lebih tinggi dibanding reratanya dalam satu periode waktu terentu. Di sisi lain, nilai CCI relatif akan lebih rendah jika harga saat ini berada di bawah harga reratanya dalam rentang waktu yang spesifik.
Indikator ini berbentuk garis yang berfluktuasi dalam rentang di atas atau di bawah nilai 0, yang sekaligus menunjukkan teritori positif atau negatif.
Sering kali, atau mungkin 75% dari kejadian pada umumnya, nilai CCI bergerak dalam rentang -100 hingga +100. Namun, nilai CCI bisa saja bertengger di luar kedua titik nilai tersebut, yang biasanya mengindikasikan bahwa pergerakan harga sedang sangat lemah atau sangat kuat.
Ketika garis CCI bergerak dari teritori negatif menuju nilai di atas 100, maka itu menjadi pertanda bahwa tren harga aset tersebut akan meningkat. Pada titik tersebut, traders bisa ancang-ancang melakukan aksi beli jika memang kenaikan garis CCI diikuti oleh pelemahan singkat harga aset sebelum kemudian reli kencang.
Konsep yang sama juga berlaku untuk menerka tren harga menurun. Ketika garis CCI longsor dari teritori positif menuju angka -100, maka downtrend kemungkinan akan terjadi. Pelaku pasar bisa menggunakan peristiwa ini sebagai pertanda untuk menjual asetnya atau mendulang cuan dari short trading.
Pergerakan harga setiap aset punya rentang CCI yang berbeda. Namun biasanya, garis CCI selalu berada dalam bentangan -100 hingga +100. Bahkan, tidak menutup kemungkinan nilai CCI bisa mencapai titik ekstrem -200 hingga +200 atau -300 hingga +300.
Contoh CCI
Untuk mengetahui aplikasi CCI, Sobat Cuan bisa menyimak grafik CCI atas pergerakan harga BTC dalam rentang satu hari berikut!
Grafik di atas menunjukkan bahwa kondisi oversold terjadi ketika nilai CCI berada di bawah nilai -300 (titik A). Posisi ini memberi sinyal bagi para traders untuk segera melakukan aksi jual.
Nah, Sobat Cuan bisa melihat kondisi sebaliknya di grafik berikut!
Ketika garis CCI mendekati nilai +300 (pada titik B), maka situasi ini bisa dianggap sebagai kondisi overbought. Alhasil, trader harus mengantisipasi potensi tren penurunan harga setelah timbulnya peristiwa tersebut.
Sama seperti Stochastic Oscillator, indikator CCI juga bisa dimanfaatkan untuk melihat divergensi.
Ketika harga aset mencapai titik tertinggi terbarunya sementara garis CCI terlihat menyentuh titik terendah terbarunya ketika tren sedang bullish, maka kondisi itu bisa disebut sebagai divergensi negatif (negative divergence). Ini bisa menjadi sinyal bahwa tren harga akan segera berubah.
Namun, jika harga aset mencapai titik terendah terbarunya sementara garis CCI terus mencetak nilai tertinggi terbarunya saat kondisi pasar sedang bearish, maka hal tersebut bisa disebut sebagai divergensi positif (positive divergence). Traders bisa memanfaatkan kondisi tersebut untuk melakukan aksi jual.
16.1.3 The Price Rate of Change (ROC)
Indikator berikutnya adalah the Price Rate of Change (ROC). Ini adalah indikator teknikal berdasarkan momentum yang mengukur persentase perubahan antara harga aset saat ini dengan harga aset di masa lampau.
Pelaku pasar biasanya juga menggunakan indikator ROC untuk mengukur tingkat overbought atau oversold. Namun bedanya, pelaku pasar juga memeriksa tingkat ROC berapakah yang menyebabkan tren harga berbalik arah di masa lalu. Dalam hal ini, pelaku pasar akan mencari nilai spesifik ROC, baik positif maupun negatif, yang bertepatan dengan titik perubahan harga aset di masa silam.
Indikator ini digambarkan dalam bentuk garis yang nilainya bergerak di atas atau di bawah 0. Tren harga yang membaik biasanya tercermin dari kenaikan garis ROC ke teritori positif alias di atas 0. Sehingga, pelaku pasar biasanya mengaitkan kondisi tersebut dengan aksi borong di pasar.
Begitu pun sebaliknya. Tren harga yang memburuk akan terlihat dari garis ROC yang terus melempem ke teritori negatif. Pelaku pasar biasanya menganggap hal tersebut sebagai cerminan aksi jual di pasar.
Ketika ROC terlihat mencapai nilai-nilai ekstrem, pelaku pasar harus meningkatkan kewaspadaannya akan perubahan tren pergerakan harga. Jika memang pergerakan harga aset tersebut mengonfirmasi sinyal yang diberikan ROC, maka pelaku pasar harus segera melakukan trading.
Contoh ROC
Sama seperti indikator oscillator lainnya, ROC juga kerap dimanfaatkan sebagai indikator yang bisa memberi sinyal perubahan tren harga di masa depan melalui divergensi. Dalam ROC, divergensi terjadi ketika arah pergerakan harga aset berbeda dengan arah pergerakan garis ROC.
Sobat Cuan bisa memahami maksud di atas melalui grafik ROC Bitcoin dalam rentang 1 hari berikut!
Grafik di atas menunjukkan bahwa garis ROC terus mencetak nilai terendah baru sementara harga BTC terus mencetak harga tertinggi barunya. Kondisi yang disebut divergensi negatif ini semestinya bikin pelaku pasar mengantisipasi pelemahan harga di masa yang akan datang.
Di sisi lain, divergensi positif terjadi ketika harga aset terus menuju nilai terendah terbarunya meski garis ROC mencetak nilai tertinggi baru. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar bisa mempertimbangkan untuk melakukan aksi beli karena tren harga akan menguat sebentar lagi. Sobat Cuan bisa menengok contohnya di grafik berikut.
16.1.4 Average Directional Movement Index (ADX)
ADX adalah indikator yang digunakan pelaku pasar untuk mengukur kekuatan tren pergerakan harga secara keseluruhan. Indikator ini dihitung berdasarkan Moving Average dari satu rentang harga aset tertentu pada satu rentang waktu tertentu. Pelaku pasar bisa memanfaatkan ADX untuk trading aset apapun, mulai dari saham, emas, kripto, reksa dana, hingga kontrak berjangka.
ADX terdiri dari beberapa tingkatan nilai dari 0 hingga 100 yang kerap digunakan pelaku pasar untuk mengidentifikasi tren yang paling kuat dan paling menghasilkan cuan ketika trading. Selain itu, nilai-nilai tersebut juga memberi petunjuk bagi pelaku pasar untuk menentukan apakah harga aset bergerak dalam sebuah tren atau tidak.
Indikator ADX sendiri digambarkan dalam bentuk garis tunggal yang tidak menuju arah tertentu dan bergerak di antara 0 hingga 100. Jika garis ADX berada di atas 25, maka pelaku pasar bisa melancarkan strategi trading berdasarkan tren. Namun, jika nilai ADX di bawah 25, maka pelaku pasar perlu menjauhi strategi tersebut.
Secara lebih rinci, berikut adalah tingkatan nilai yang umum berlaku di dalam ADX.
Contoh ADX
Sobat Cuan bisa melihat contoh ADX melalui garis ADX Bitcoin dalam rentang satu hari berikut!
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, nilai ADX di atas 25 menunjukkan penguatan tren harga aset. Namun, ketika harga BTC menciptakan nilai tertinggi baru dan garis ADX terus mencetak nilai terendah baru, maka tren penguatan harga BTC perlahan-lahan menjadi lemah. Nah, kondisi inilah yang disebut sebagai divergensi negatif (negative divergence) di dalam ADX.
Secara umum, divergensi bukanlah sinyal atas pembalikan tren harga aset. Hal itu justru merupakan peringatan bahwa momentum tren tengah berubah. Sehingga, pelaku pasar bisa memanfaatkan hal tersebut untuk memperketat stop-loss atau menarik sebagian cuannya.
Di samping itu, seperti yang telah disinggung sebelumnya, garis ADX tidak mengarah ke satu titik tertentu. Sehingga, jika nilai ADX berada di atas 25, maka ada kemungkinan tren harga aset malah bisa jadi terus melemah. Sobat Cuan bisa menengok contohnya di grafik berikut!
Grafik di atas menunjukkan bahwa ketika harga Bitcoin terus mencetak harga terendah terbarunya dan nilai terendah baru garis ADX lebih tinggi dari sebelumnya, maka tren pelemahan harga Bitcoin semakin melemah. Pelaku pasar bisa membaca sinyal ini sebagai pertanda bahwa momentum tren kemungkinan akan berubah.
16.1.5 Ultimate Oscillator (ULTOSC)
Ultimate Oscillator adalah indikator teknikal yang dikembangkan untuk mengukur momentum harga aset di beberapa kerangka waktu tertentu.
Indikator berisikan pembobotan atas rata-rata pergerakan harga aset di tiga kerangka waktu yang berbeda, biasanya dalam tujuh, 14, dan 28 sesi perdagangan, dan punya volatilitas ringan. Namun, indikator ini memberikan sinyal-sinyal trading yang lebih sedikit jika dibandingkan indikator oscillator lain yang bergantung pada satu kerangka waktu saja.
Dalam menggunakan indikator tersebut, trader biasanya menangkap sinyal jual dan beli dari hasil divergensi. Tetapi, divergensi milik ULTOSC terbilang lebih sedikit dibandingkan indikator oscillator lainnya karena ULTOSC disusun di atas kerangka waktu yang berbeda-beda.
Indikator ULTOSC digambarkan ke dalam sebuah garis yang bergerak antara nilai 0 hingga 100. Mirip seperti indikator RSI, level oversold terjadi ketika garis melintang di bawah level 30 sementara level overbought terjadi ketika garis ULTOSC menembus di atas level 70.
Contoh ULTOSC
Sinyal trading muncul ketika harga aset bergerak berlawanan arah dengan indikator ULTOSC. Namun, pelaku pasar perlu memperkuat keputusan trading mereka berdasarkan tiga karakteristik berikut.
Divergensi bullish mesti sudah terbentuk. Ini adalah kondisi di mana harga aset terus mencetak nilai terendah terbarunya, namun titik terendah baru indikator ULTOSC menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.
Nilai terendah pertama ULTOSC harus di bawah 30. Hal ini mengindikasikan bahwa divergensi bergerak dari teritori oversold dan kemungkinan besar akan mengerek harga aset ke depan.
Garis ULTOSC mesti menjulang di atas divergensi tinggi, yakni titik tertinggi di antara dua nilai terendah dari divergensi tersebut.
Agar kamu tak bingung dengan penjelasan di atas, yuk tengok contohnya di grafik ULTOSC Bitcoin dalam rentang 15 menit berikut!
Dari grafik di atas, Sobat Cuan bisa melihat bahwa harga aset terendah di titik B lebih rendah dari titik harga terendah di titik A. Di saat yang bersamaan, titik terendah garis ULTOSC di titik D juga ternyata lebih tinggi dari level terendah sebelumnya, yakni titik C. Kondisi ini sesuai dengan syarat pertama sinyal trading seperti tertera di atas.
Selain itu, titik C juga berada di bawah level 30, persis sama seperti poin ke-dua karakteristik di atas.
Kemudian, kamu juga bisa melihat bahwa titik ULTOSC tertinggi setelah poin D terlihat melampaui poin E. Nah, di titik inilah kamu bisa melakukan aksi beli.
Lantas, bagaimana caranya kamu bisa menerima sinyal untuk melakukan aksi jual? Sama seperti sinyal aksi beli, terdapat tiga syarat yang perlu dipenuhi sebelum kamu melakukan aksi beli.
Divergensi bearish mesti sudah terbentuk. Ini adalah kondisi di mana harga aset terus mencetak nilai tertinggi terbarunya, namun titik terendah baru indikator ULTOSC menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.
Nilai tertinggi pertama ULTOSC harus di atas 70. Hal ini mengindikasikan bahwa divergensi bergerak dari teritori overbought dan kemungkinan besar akan menyeret harga aset turun ke depan.
Garis ULTOSC mesti tenggelam di bawah divergensi rendah, yakni titik terendah di antara dua nilai tertinggi dari divergensi tersebut.
Contohnya bisa kamu lihat di grafik ULTOSC BTC dengan rentang 1 hari berikut!
Harga tertinggi aset yang berada di titik B lebih tinggi dari titik tertinggi sebelumnya, yakni di titik A. Di saat yang bersamaan, titik terendah garis ULTOSC di titik D juga ternyata lebih rendah dari level tertinggi sebelumnya, yakni titik C yang berada di atas level 70.
Kemudian, kamu bisa melihat bahwa garis ULTOSC terendah di TITIK E. Nah, ketika garis ULTOSC berikutnya menyentuh level yang sama setelah titik D, maka kamu bisa melakukan aksi jual.
Moving Average (MA), yaitu garis yang kita dapat dari perhitungan harga sebelum hari ini, yang mana garis tersebut menampilkan pergerakan harga rata-rata dari suatu saham dalam suatu rentang waktu tertentu.
Misalnya dalam rentang 5 hari (1 minggu), 20 hari (1 bulan), 60 hari (3 bulan), maupun 120 hari (6 bulan). Sebab itu dapat dikatakan moving average 60 berarti pergerakan harga 3 bulan ke belakang.
Menggunakan MA merupakan cara ampuh untuk mengukur momentum serta memastikan tren, termasuk menentukan support area dan resistance area. MA adalah indikator lagging yang bereaksi terhadap peristiwa yang sudah terjadi.
Indikator ini tidak kita gunakan sebagai alat untuk memprediksi harga ke depan, melainkan kita gunakan untuk memastikan dan menganalisis tren harga saham.
Meski terdengar rumit, namun MA sebenarnya merupakan alat penting dalam analisis teknikal yang digunakan oleh para trader.
Dalam artikel ini, Sobat Cuan juga akan memahami tiga jenis rata-rata bergerak yang sering digunakan yaitu: Simple Moving Average (SMA), Weighted Moving Average (WMA), Exponential Moving Average (EMA).
6.1.1 Apa Itu Moving Average?
Moving Average adalah indikator yang membantu trader memahami tren dalam pergerakan harga.
Mereka meratakan fluktuasi harga dan membantu dalam memprediksi tren yang mendasarinya. Penggunaannya sudah diterapkan sejak 1829 dalam menghitung rata-rata tingkat kematian.
Dalam dunia analisis teknikal, MA menjadi sangat penting dan dapat ditemukan dalam berbagai perangkat lunak.
Meskipun umumnya digunakan dalam trading, konsep rata-rata bergerak juga diterapkan dalam Analisis Seri Waktu dan Pengolahan Sinyal Digital.
6.1.2 Konsep Dasar Moving Average
Pada dasarnya, konsep MAdigunakan untuk mengetahui seberapa jauh harga saham dari trennya, dengan menghitung rata-rata harga suatu saham.
Dengan menggunakan rentang waktu yang berbeda-beda, seorang trader dapat menganalisis tren pergerakan harga suatu saham. Umumnya rentang waktu yang biasa digunakan oleh trader adalah 5 hari, 10 hari, 50 hari, 100 hari, dan 200 hari.
Perhatikan tabel di bawah ini
Date
Close
5 Day Moving Average
29-Aug-2022
161
30-Aug-2022
159
31-Aug-2022
157
1-Sep-2022
158
2-Sep-2022
156
6-Sep-2022
155
158
7-Sep-2022
156
157
8-Sep-2022
154
156
9-Sep-2022
157
156
12-Sep-2022
163
156
13-Sep-2022
154
157
Tabel di atas menghitung moving average 5 hari dari saham AAPL. 5 baris pertama belum memiliki nilai moving average dikarenakan untuk menghitung moving average 5 hari, kita harus lebih dahulu memiliki nilai saham selama minimal 5 hari.
6.1.3 Penggunaan Moving Average
Penerapan yang paling umum dari MA yaitu untuk mengidentifikasi arah tren dan untuk menentukan garis support dan resistance.
Adapun fungsinya adalah sebagai berikut:
Untuk mengidentifikasi tren harga saham.
Untuk mengetahui pembalikan arah tren.
Untuk menentukan support level dan resistance.
6.2 Mengenal MA Lebih Dalam
6.2.1 Penjelasan tentang Moving Average
Moving average merupakan salah satu indikator analisis teknikal yang sangat digemari oleh para trader dan investor.
Tujuan dari indikator ini adalah memberikan petunjuk mengenai arah tren harga suatu aset di masa mendatang kepada para pelaku pasar.
Proses pengamatan indikator ini dilakukan dengan melihat rerata pergerakan harga suatu aset dalam rentang waktu tertentu, biasanya menggunakan kerangka waktu harian.
Rerata pergerakan harian tersebut kemudian dibandingkan dengan rerata pergerakan harga pada hari-hari sebelumnya, memberikan kemampuan kepada investor dan trader untuk menganalisis tren pergerakan harga secara lebih terperinci.
Selain memberikan gambaran mengenai tren pergerakan harga, MAjuga bermanfaat mengurangi dampak fluktuasi harga yang bersifat acak atau sembrono dalam jangka pendek.
Hal ini penting karena seringkali, pelaku pasar dapat keliru dan terjebak dalam mengambil keputusan investasi ketika menghadapi fluktuasi harga yang terlihat tidak terduga.
6.2.2 Cara Membaca Moving Average
Dalam menganalisis arah pergerakan harga suatu aset dengan menggunakan moving average, investor dan trader umumnya menentukan posisi support dan resistance.
Secara sederhana, posisi support merujuk pada titik terendah dalam pergerakan harga suatu aset dalam periode tertentu, sementara posisi resistance mengacu pada titik tertinggi.
Meskipun demikian, karena titik support dan resistance menggunakan data historis, keduanya dianggap sebagai indikator yang agak lambat (lag indicator). Semakin besar rentang waktu yang digunakan, semakin besar pula keterlambatan data yang terjadi.
Sebagai contoh, moving average selama 200 hari akan memiliki keterlambatan data yang lebih signifikan dibandingkan yang 20 hari. Umumnya, investor dan trader lebih sering menggunakan moving average 50 hari dan 200 hari karena memberikan sinyal pergerakan harga yang lebih akurat.
MA dapat disesuaikan sesuai preferensi masing-masing trader dan investor. Mereka memiliki fleksibilitas untuk memilih rentang waktu dengan pilihan umum seperti 15, 20, 30, 50, 100, dan 200 hari. Semakin kecil rentang waktu yang digunakan, semakin responsif indikator tersebut terhadap perubahan harga dalam jangka pendek, dan sebaliknya.
Perbedaan tujuan antara trading dan investasi juga mempengaruhi pemilihan rentang waktu moving average.
Trader jangka pendek cenderung menggunakan indikator tersebut dengan rentang waktu pendek, sementara investor jangka panjang lebih memilih moving average berjangka waktu lebih panjang.
Membaca moving average relatif mudah. Moving average yang naik menandakan tren harga sedang naik, sering kali dikonfirmasi oleh bullish crossover ketika moving average jangka pendek melintasi di atas moving average jangka panjang.
Sebaliknya, jika indikator itu menurun menunjukkan bahwa harga aset sedang turun, biasanya terkonfirmasi melalui bearishcrossover ketika moving average jangka panjang melintasi di atas jangka pendek.
Moving Average AAPL, Sumber: TradingView (2023)
Gambaran tersebut dapat dilihat pada grafik harga saham AAPL, dimana moving average 10 hari ditandai dengan warna merah dan moving average 200 hari ditandai dengan warna biru. Fase bearish terjadi saat garis turun melintasi garis biru, dan sebaliknya.
Selain sebagai alat untuk melihat tren, kalkulasi MAjuga menjadi dasar untuk analisis teknikal lainnya, seperti moving average convergence divergence (MACD).
6.3 Jenis-jenis Moving Average
Moving average yaitu indikator yang biasa kita pakai dalam analisis teknikal. Indikator ini cukup populer di antara para trader. Ada banyak versi yang biasa investor gunakan sebagai indikator analisis teknikal.
Pertama, Simple Moving Average (SMA). Kedua, Weighted Moving Average (WMA). Ketiga, Exponential Moving Average (EMA)
Cara menggunakan ketiga jenis moving average tersebut mirip satu sama lain.
Namun yang membedakan dari semua jenisnya adalah pola hitungan rata-ratanya yang memberatkan suatu nilai periode tertentu dengan bobot yang berbeda.
Misalnya apabila pada SMA hanya menggunakan rata-rata biasa, WMA dan EMA menggunakan sistem pembobotan, sehingga dari pembobotan ini dapat menghasilkan nilai rata-rata yang berbeda.
Jadi, bisa kita simpulkan perbedaannya ada pada tingkat sensitivitas yang masing-masing indikator tersebut berikan terhadap harga saham.
6.3.1 Simple Moving Average
Simple Moving Average (SMA) merupakan salah satu indikator paling terkenal dan simpel yang sering digunakan oleh trader.
Ini adalah bentuk paling simpel dari MA. Indikator ini dihitung dengan menggunakan rerata aritmatika dari salah satu set nilai tertentu.
Dengan kata lain, serangkaian data aset digabungkan dulu bersama-sama untuk kemudian dibagi dengan harga aset di set tertentu tersebut.
Keunggulan SMA terletak pada kesederhanaannya, di mana semua data memiliki bobot yang sama.
Misalnya, jika kita mempertimbangkan SMA 10 hari, setiap hari memiliki pengaruh yang setara dalam perhitungan.
6.3.1.1 Kaitannya dengan Osilator Momentum
SMA juga memiliki kaitan dengan Osilator Momentum. Perubahan dalam SMA selama suatu periode setara dengan osilator momentum dari periode yang sama, dibagi panjang periode.
Dengan kata lain, jika SMA menunjukkan kenaikan, itu berarti harga saat ini lebih tinggi dibandingkan beberapa hari sebelumnya, dan sebaliknya.
6.3.1.2 SMA Bertingkat
Menggunakan hasil SMA sebagai input untuk SMA lain menghasilkan output yang lebih halus, disebut sebagai kaskade.
Proses ini dapat menciptakan pola yang mirip dengan fungsi Gaussian, memberikan gambaran yang lebih jelas.
6.3.2 Exponential Moving Average (EMA)
Exponential Moving Average (EMA) adalah jenis MA yang memberikan bobot lebih ke harga terbaru agar analisisnya lebih responsif dengan informasi-informasi baru.
Untuk menghitung EMA, investor harus menghitung simple moving average terlebih dulu dalam rentang waktu tertentu.
Kemudian, untuk memberi bobot kepada EMA, investor akan mengalikannya dengan faktor pengali (multiplier), di mana rumusnya adalah sebagai berikut, dimana multiplier ditulis sebagai α :
α= [Smoothing factor/(Periods + 1)]
Smoothing factor = Meskipun ada banyak pilihan yang dapat digunakan, pilihan yang paling umum adalah 2
Periods = Merupakan banyaknya data yang digunakan untuk menghitung rerata
Sebagai contoh, untuk 20 hari moving average, maka faktor pengalinya adalah [2/(20+1)]= 0,09.
Kemudian untuk menghitung exponential moving average, dapat menggunakan rumus berikut:
EMAHari ini= (Harga penutupan saham hari ini * α) + (EMAKemarin * (1 – α))
Perhatikan tabel di bawah ini
Date
Close
5 Day EMA
29-Aug-2022
161
30-Aug-2022
159
31-Aug-2022
157
1-Sep-2022
158
2-Sep-2022
156
6-Sep-2022
155
158
7-Sep-2022
156
157
8-Sep-2022
154
156
9-Sep-2022
157
157
12-Sep-2022
163
159
13-Sep-2022
154
157
Tabel di atas menghitung exponential moving average 5 hari dari saham AAPL di mana nilai α adalah 0,33. Lima baris pertama belum memiliki nilai exponential moving average karena harus lebih dahulu memiliki nilai saham selama minimal 5 hari. Kemudian untuk nilai EMA yang pertama kita bisa menggunakan rumus simple moving average
Komunitas trader lebih sering memilih EMA karena respons yang lebih cepat terhadap perubahan harga, dan EMA juga umum digunakan dalam pembuatan indikator teknis.
6.3.3 Mengenal Lebih Dekat Weighted Moving Average (WMA)
Weighted Moving Average (WMA) menggunakan bobot linear dalam perhitungannya, memberikan penekanan lebih besar pada data terbaru.
WMA juga memiliki hubungan dengan SMA, di mana perubahan WMA dapat dijelaskan sebagai perbedaan antara harga dan SMA yang digeser, dibagi (panjang + 1)/2.
6.3.3.1 WMA dan Regresi Linier
Mungkin mengejutkan, namun dengan kondisi tertentu, WMA dan SMA dapat digunakan untuk menghitung regresi linier sederhana dari harga.
Ini memberikan dimensi analisis tambahan bagi trader yang ingin mendalami strategi trading mereka.
Dengan memahami esensi dari konsep SMA, EMA, dan WMA, Sobat Cuan dapat meraih pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana menggunakan rata-rata bergerak untuk mendukung keputusan investasi.
Semakin dalam pemahaman, semakin besar pula keuntungan yang dapat diperoleh dalam merancang strategi trading yang efektif.
6.4 Sekilas Tentang MACD
Moving Average Convergence Divergence (MACD) merupakan indikator dalam analisis teknikal yang menunjukkan hubungan antara dua moving average dalam tren harga aset.
Jadi, apa manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan indikator MACD? MACD digunakan oleh para trader untuk memahami kapan harga aset tersebut akan mengalami pergerakan bullish atau bearish.
Ditemukan oleh Gerard Appel pada 1979, MACD telah menjadi pilihan utama bagi trader di seluruh dunia selama bertahun-tahun.
Popularitasnya disebabkan oleh kemudahannya dan fleksibilitasnya, memungkinkan penggunaannya untuk menganalisis tren dan momentum.
Oleh karena itu, MACD sering diadopsi oleh trader yang beroperasi di berbagai pasar, termasuk saham, obligasi, komoditas, dan valuta asing.
6.4.1 Jenis MACD
Trader biasanya mengenal dua jenis MACD dalam analisis teknikal, yakni crossover dan divergence.
Crossover adalah seni melihat tren garis MACD jika dibandingkan garis sinyalnya. Sebuah harga aset akan memasuki zona bearish jika garis MACD melintang di bawah garis sinyal. Artinya, trader harus segera melepas asetnya.
Divergence adalah suatu kondisi di mana garis MACD membentuk titik tertinggi dan terendah yang berseberangan dengan titik tertinggi dan terendah harga aset tersebut.
Kondisi bullish akan tercipta jika dua posisi terendah di garis MACD berkorespondensi dengan dua garis terbawah di harga aset.
Kinerja aset investasi, khususnya instrumen pasar modal, tentu tidak bisa lepas dari faktor makroekonomi. Bahkan, investor bisa dibilang harus memperhatikan makroekonomi sebagai faktor esensial dalam menganalisis kinerja pasar modal. Nah, lantas, apa sih pengertian makroekonomi?
Investopedia menyebut, makroekonomi adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku ekonomi secara luas atau agregat. Sementara itu, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed menerangkan bahwa makroekonomi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antar pelaku ekonomi namun melalui kacamata yang lebih besar. Makanya, tak heran jika beberapa contoh pembahasan makroekonomi mencakup pertumbuhan ekonomi hingga tingkat pengangguran yang terdapat di satu wilayah.
Mengapa Kamu Perlu Mempelajari Makroekonomi Ketika Berinvestasi?
Kondisi makroekonomi suatu wilayah merupakan cerminan atas “tingkat kesehatan” ekonomi wilayah tersebut. Nah, kondisi itu tentu juga akan berpengaruh ke daya tarik beberapa instrumen investasi dan nantinya bisa membantumu untuk menentukan keputusan investasi ke depan.
Misalnya, kamu mendengar kabar bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diramal tumbuh signifikan tahun ini. Berita tersebut seharusnya memacumu untuk membenamkan dana di pasar modal. Mengapa demikian?
Ketika pertumbuhan ekonomi terbilang mumpuni, masyarakat akan terdorong untuk terus meningkatkan permintaan barang dan jasa. Nah, kondisi tersebut nantinya bisa mendongkrak kinerja keuangan para emiten pasar modal, sehingga harga sahamnya juga berpotensi membaik di masa depan. Melihat kesempatan ini, tentu Sobat Cuan pasti akan berminat untuk terjun ke pasar modal, bukan?
Tapi, makroekonomi tak hanya mempengaruhi kinerja instrumen pasar modal saja lho, Sobat Cuan. Naik-turunnya harga emas, aset kripto, bahkan Dolar AS pun sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, misalnya inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Makanya, bisa dibilang bahwa makroekonomi tak hanya penting untuk melihat kesehatan ekonomi suatu wilayah semata namun juga membawa dampak ke instrumen investasi. Bahkan, ada kalanya kinerja instrumen investasi justru mencerminkan kondisi ekonomi suatu wilayah. Sebagai contoh, analis kadang menggunakan angka indeks pasar modal untuk mengukur level kesehatan satu negara tertentu.
Mengenal Arus Lingkar Pendapatan
Di dalam mempelajari makroekonomi, Sobat Cuan pun perlu memahami arus lingkar pendapatan (circular flow of income) yang merupakan dasar utama ilmu makroekonomi. Tujuannya, tentu agar logika ekonomimu semakin tajam.
Circular flow of income sendiri adalah diagram yang menunjukkan perputaran uang serta barang dan jasa antara dua atau lebih pelaku ekonomi di dalam masyarakat. Selain itu, diagram ini juga mencerminkan bahwa masing-masing pelaku ekonomi ternyata saling terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil interaksi itu nantinya bisa diturunkan ke dalam indikator-indikator makroekonomi, misalnya pertumbuhan ekonomi.
Konsep diagram ini cukup sederhana, Sobat Cuan. Misalnya, jika kamu mendapat gaji karena bekerja untuk satu perusahaan, maka artinya perusahaan tersebut telah mengeluarkan belanja (expenditure) untukmu sementara kamu mendapat pendapatan (income).
Nah, gaji tersebut tentu akan kamu gunakan konsumsi, bukan? Sehingga arus uangmu nantinya akan kembali mengalir ke produsen barang dan jasa. Dalam hal ini, maka kamu telah mengeluarkan belanja (expenditure) bagi para produsen tersebut sementara sang perusahaan akan menerima pendapatan usaha (income). Berikut adalah contoh diagramnya!
Siapa saja sih pelaku-pelaku ekonomi tersebut? Dan apa saja peran mereka masing-masing di dalam ekonomi? Yuk, simak bersama!
Jenis Pelaku Ekonomi
1.Korporasi
Korporasi adalah pihak yang memproduksi barang dan jasa ke masyarakat dan menerima uang sebagai imbal baliknya. Di sisi lain, mereka juga membayar faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan dalam bentuk uang sewa, gaji, bunga, dan dividen/laba ke pelaku ekonomi lainnya.
2. Rumah Tangga
Selain menjadi konsumen barang dan jasa, rumah tangga juga menjadi penyedia faktor produksi bagi korporasi contohnya adalah tanah, kapital, dan kewirausahaan. Pihak ini menerima pendapatan dalam bentuk uang sewa, gaji, bunga, dan dividen/laba.
3. Pemerintah
Sebagai lembaga yang mendistribusi pendapatan masyarakat, pemerintah akan mengutip pajak baik dari korporasi maupun rumah tangga. Nantinya. pemerintah akan meredistribusi penerimaan perpajakan tersebut ke masyarakat dalam bentuk subsidi, infrastruktur, program jaminan sosial, dan pelayanan publik lainnya.
4. Sektor Asing
Sektor asing adalah sektor eksternal yang mengubah kondisi ekonomi suatu negara dari ekonomi tertutup menjadi ekonomi terbuka melalui kegiatan ekspor-impor dan arus modal. Pemerintah bisa mengatur keluar-masuk keterlibatan sektor asing di dalam ekonomi domestik melalui kebijakan perdagangan seperti bea masuk, kuota impor, dan regulasi non-moneter lainnya.
5. Sektor Finansial
Sektor jasa keuangan, yang terdiri dari bank dan institusi lainnya, menyediakan jasa pinjam-meminjam bagi pelaku ekonomi lainnya.
Jika masyarakat, korporasi, dan pemerintah punya sisa pendapatan, maka mereka akan menaruhnya di produk tabungan perbankan. Nah, perbankan akan menggunakan tabungan tersebut untuk memberikan pembiayaan bagi korporasi demi mengekspansi usahanya atau ke masyarakat untuk membantu konsumsi mereka.
Mengenal Konsep Permintaan Agregat
Seluruh aktivitas di circular flow of income nantinya akan tercermin ke dalam satu istilah yang disebut permintaan agregat alias permintaan secara keseluruhan. Permintaan agregat adalah total permintaan barang dan jasa yang dihasilkan di dalam satu ekonomi di satu level harga tertentu dan dalam satu rentang waktu khusus.
Dalam jangka panjang, permintaan agregat akan setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) jika level harganya sama. Namun pada kenyataannya, kalkulasi permintaan agregat menggunakan basis harga nominal sementara perhitungan PDB menggunakan harga riil, yakni harga nominal yang telah dikurangi tingkat inflasi.
Seperti apa rumus menghitung permintaan agregat?
Y = C + I + G + (X – M)
Berikut keterangannya:
Y = Pengeluaran agregat / permintaan agregat. C = Konsumsi barang dan jasa. I = Investasi di barang modal, misalnya mesin, pabrik, peralatan berat, dan lainnya. G = Pengeluaran pemerintah atas barang dan jasa. X = Nilai ekspor M = Nilai impor.
Sobat Cuan perlu ingat bahwa uang dari suatu negara akan mengalir ke negara importir jika ia mengimpor barang. Oleh karenanya, pendapatan di ekonomi domestik akan berkurang dan bikin permintaan agregat menyusut. Makanya, variabel M pada rumus di atas menjadi faktor pengurang.
Mengenal Konsep Penawaran Agregat
Penawaran agregat adalah lawan permintaan agregat, yang bisa dimaknai sebagai total penawaran barang dan jasa yang dihasilkan di satu ekonomi pada satu level harga tertentu di dalam rentang waktu yang spesifik.
Pada jangka pendek, penawaran agregat sangat responsif terhadap perubahan harga. Sebab, selama jangka waktu tersebut, kapasitas produksi produsen barang dan jasa terbilang terbatas sementara mereka juga tidak bisa membangun pabrik baru atau memasang teknologi untuk menambah produksi dalam semalam saja. Sehingga, kalau pun mereka ingin menambah produksi, mereka bisa meminta pekerjanya untuk lembur.
Namun, penawaran jangka panjang tidak akan begitu sensitif terhadap perubahan harga dalam jangka panjang. Sebab, ekonomi akan terus menjaga kondisi lapangan kerja penuh, sehingga nantinya pertumbuhan ekonomi akan dipengaruhi oleh faktor jangka panjang seperti kapital dan produktivitas.
Untuk memastikan ekonomi terus bergerak lancar, pemerintah harus mengelola ekonomi yurisdiksinya melalui serangkaian kebijakan dan regulasi, baik dari kebijakan moneter atau kebijakan fiskal. Selain itu, regulasi dan kebijakannya juga disusun agar sejalan dengan visi dan misi pemerintah ke depan.
Namun, dalam era ekonomi global seperti ini, setiap ekonomi satu negara terhubung dengan negara lain. Sehingga, kondisi makroekonomi global tentu akan berdampak ke ekonomi satu negara tertentu.
Kebijakan moneter adalah rangkaian kebijakan dan strategi untuk mengendalikan jumlah pasokan uang beredar di dalam satu lingkup ekonomi. Strategi ini dilancarkan oleh bank sentral, sehingga tak heran jika masing-masing negara di dunia ini memiliki bank sentralnya masing-masing. Sebagai contoh, bank sentral Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) sementara bank sentral Amerika Serikat bernama Federal Reserve atau biasa disebut The Fed.
Dalam melancarkan kebijakan moneter, bank sentral umumnya melakukan tiga strategi umum yang terdiri dari mengubah suku bunga acuan, melaksanan kebijakan pasar terbuka, dan mengubah ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM). Seperti apa mekanisme masing-masing strategi tersebut? Berikut penjelasannya!
Mengenal Ragam Strategi Kebijakan Moneter Umum
1. Instrumen Suku Bunga Acuan
Seluruh strategi kebijakan moneter bank sentral memiliki satu tujuan akhir. Yakni, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi negaranya tetap kokoh dan bisa menopang kualitas hidup masyarakat.
Namun terkadang, bank sentral perlu mengendalikan pertumbuhan ekonomi yang terlalu kencang. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang kebablasan akan meningkatkan permintaan agregat dan berujung pada inflasi yang meradang.
Jika tingkat inflasi terlalu tinggi, maka biaya untuk melakukan bisnis dan biaya hidup akan meningkat. Sehingga, dalam jangka panjang, inflasi bisa menyebabkan ketimpangan kekayaan dan pelemahan daya beli masyarakat.
Nah, untuk mengendalikan laju inflasi yang terlampau tinggi, bank sentral akan melakukan intervensi moneter dalam bentuk mengerek suku bunga acuannya. Kenaikan suku bunga acuan akan mendongkrak suku bunga tabungan dan simpanan. Akibatnya, masyarakat cenderung memilih untuk menabung uangnya dan mengurungkan niat untuk konsumsi. Alhasil, permintaan barang dan jasa merosot, kecepatan perputaran uang ikut melorot, dan inflasi pun dapat dibendung.
Namun, bank sentral akan menurunkan suku bunga acuannya jika mereka merasa bahwa pertumbuhan ekonomi terlalu rendah.
Suku bunga acuan yang melandai akan menurunkan bunga pinjaman, sehingga masyarakat jadi malas menyimpan uang di bank dan akan tergugah untuk konsumsi. Di saat yang sama, dunia usaha akan terpacu untuk mengambil kredit usaha demi memanfaatkan bunga pinjaman yang rendah. Jika dua kondisi tersebut terjadi, maka pertumbuhan ekonomi negaranya bisa semakin mumpuni.
2. Operasi Pasar Terbuka
Operasi pasar terbuka adalah satu kebijakan moneter di mana bank sentral melakukan jual-beli instrumen surat berharga di pasar uang. Kebijakan ini bertujuan untuk menambah dan mengurangi jumlah uang beredar untuk mencapai target tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang diinginkan bank sentral.
Di Indonesia, BI melakukan operasi pasar terbuka dengan memperjualbelikan instrumen surat berharga seperti obligasi, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) di pasar uang. Sementara itu, di AS, The Fed biasanya memperjualbelikan instrumen surat utang jangka pendek milik pemerintah AS dan instrumen sejenis lainnya.
Bank sentral bisa mengurangi jumlah uang beredar (tight money policy) dengan menjual surat berharganya jika ingin meredam inflasi. Namun, mereka bisa menambah jumlah uang beredar di masyarakat (easy money policy) jika ingin menstimulasi pertumbuhan ekonomi.
3. Ketentuan Giro Wajib Minimum
Giro Wajib Minimum (GWM) adalah kebijakan bank sentral lainnya demi mengatur peredaran uang di masyarakat. Dalam kebijakan ini, bank sentral mewajibkan perbankan untuk menyimpan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam jumlah tertentu di rekening giro yang dikelola bank sentral.
Bank sentral bisa menaikkan tingkat GWM jika ingin mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat. Sebab, kenaikan GWM akan mengurangi likuiditas perbankan, sehingga penyaluran kredit mereka pun ikut berkurang.
Sebaliknya, jika bank sentral ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, maka mereka bisa menurunkan tingkat GWM. Nilai GWM yang susut akan bikin perbankan punya likuiditas lebih untuk menyalurkan kredit. Akibatnya, tingkat konsumsi masyarakat dan investasi semakin subur dan bikin pertumbuhan ekonomi kian gesit.
Memahami Kebijakan Moneter Ekspansif dan Kontraktif
Kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif adalah dua jenis “paket” kebijakan moneter yang bisa dilakukan bank sentral untuk mencapai target-target ekonomi yang diinginkan.
Secara sederhana, kebijakan moneter ekspansif adalah menstimulasi kredit dengan menurunkan suku bunga acuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, di kebijakan moneter kontraktif, bank sentral akan mengerek suku bunga acuan untuk menurunkan penyaluran kredit masyarakat, sehingga inflasi akan melandai.
Secara teori ekonomi, kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif dijelaskan pada kurva berikut.
Gambar di atas menunjukkan bahwa pasokan uang yang bisa disalurkan sebagai kredit (simbol S) bergerak dari S0 ke S1 ketika bank sentral melaksanakan kebijakan moneter ekspansif. Hasilnya, titik keseimbangan antara suplai dan permintaan uang akan berada di titik E1. Nah, kurva tersebut menjelakan bahwa penurunan tingkat suku bunga acuan akan meningkatkan jumlah uang yang bisa disalurkan untuk kredit.
Begitu pula sebaliknya. kebijakan moneter kontraktif bank sentral akan mengurangi suplai uang yang bisa disalurkan sebagai kredit sebagai imbas dari kenaikan suku bunga acuan.
Namun, konsep kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif mulai berubah setelah dunia dilanda krisis ekonomi 2008 silam.
Kala itu, The Fed menetapkan suku bunga acuan 0% untuk memulihkan ekonomi AS di tengah krisis tersebut. Sayangnya, upaya tersebut gagal, sehingga otoritas moneter tersebut mengambil kebijakan moneter yang tidak biasa. Yakni, membeli obligasi pemerintah AS dan aset lainnya dalam jumlah jumbo untuk meningkatkan pasokan uang di masyarakat. Nah, kebijakan yang kemudian dikenal sebagai quantitative easing ini pun diikuti oleh bank sentral lainnya seperti Uni Eropa, Inggris Raya, dan Jepang.
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, kemudian ikut melakukan quantitative easing pada 2020 ketika pandemi COVID-19 melanda dunia.
Pada saat itu, Indonesia melakukan quantitative easing dengan membeli surat berharga pemerintah senilai Rp400 triliun sebelum akhir 2020 dalam sebuah kebijakan yang disebut dengan burden-sharing program. Namun, BI dan pemerintah sepakat untuk memperpanjang program tersebut pada 2021 dan 2022. Adapun BI membeli surat berharga pemerintah senilai Rp215 triliun di 2021 dan Rp224 triliun di 2022.
BI dan pemerintah mengambil kebijakan tersebut setelah merasa bahwa bank mungkin ogah menggenjot penyaluran kredit pada saat pandemi lantaran risiko gagal bayarnya juga cukup tinggi. Implikasinya, BI pun bakal kewalahan untuk menerjemahkan rentetan kebijakan moneternya ke kegiatan ekonomi riil.
Makanya, pemerintah pun “nekat” mengambil alih fungsi intermediasi perbankan dengan memompa perputaran uang melalui program bantuan sosial hingga bantuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Apa Itu Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal adalah segudang langkah yang diambil pemerintah dalam membelanjakan penerimaan negara, termasuk pajak, demi meningkatkan kemakmuran masyarakat. Dengan kata lain, kebijakan fiskal adalah jurus-jurus pemerintah untuk mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) demi mencapai target-target ekonomi yang diinginkan, seperti stabilitas harga dan ekonomi, tingkat lapangan kerja penuh, pemerataan pembangunan, dan lain-lain.
Sama seperti sebuah perusahaan, sebuah negara tentu bisa mendulang “keuntungan” atau “rugi” di dalam neracanya. Kondisi “untung” terjadi jika penerimaan negara, baik dalam bentuk pajak non-pajak, melebihi jumlah belanjanya. Begitu pun sebaliknya.
Kemudian, indikasi “rugi” sebuah negara akan tercermin dari posisi APBN yang defisit, sementara “untung” tercermin dari kondisi APBN yang surplus. Jika posisi APBN terbilang “besar pasak daripada tiang”, maka pemerintah perlu menarik utang untuk menutupi selisih belanja dan penerimaan tersebut.
Sama seperti kebijakan moneter, kebijakan fiskal terdiri dari dua jenis, yakni kebijakan fiskal ekspansif dan kontraktif.
Pemerintah akan menerapkan kebijakan fiskal ekspansif jika ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di dalam langkah tersebut, pemerintah akan menurunkan tarif pajak dan menggenjot belanja negara demi menjaga daya beli masyarakat dan menstimulasi ekonomi. Biasanya, pemerintah akan melakukan kebijakan ini di tengah resesi ekonomi dan tingkat pengangguran tinggi.
Di sisi lain, pemerintah bisa menempuh kebijakan fiskal ekspansif jika ingin menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang “kebablasan” atau meredam inflasi. Pemerintah dapat mencapai tujuan tersebut dengan mengerek tarif pajak dan juga memangkas belanja pemerintah.
Mengenal 2 Kunci Utama Kebijakan Fiskal: Pajak dan Belanja Pemerintah
Dari penjelasan di atas, Sobat Cuan pasti menyadari bahwa pajak dan belanja pemerintah adalah dua kunci utama dari kebijakan fiskal. Ya, pemerintah biasanya hanya akan “mengutak-atik” dua instrumen tersebut kita tengah menavigasi kebijakan fiskal untuk negaranya. Mengapa demikian?
Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa pajak memiliki beragam jenis, misalnya Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Pajak atas Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Jika tarif pajak tersebut diturunkan, maka kamu akan terpacu untuk mengonsumsi barang dan jasa, bukan?
Nah, hal tersebut wajar saja, Sobat Cuan, mengingat penurunan tarif pajak akan meningkatkan porsi pendapatan yang bisa kamu gunakan untuk konsumsi. Jika kamu getol mengonsumsi barang dan jasa, maka aktivitasmu bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi nantinya. Begitu pun sebaliknya. Tarif pajak yang meningkat akan bikin masyarakat malas konsumsi. Ujung-ujungnya, pertumbuhan ekonomi pun akan melambat.
Sementara itu, dengan mengatur nilai belanjanya, pemerintah bisa mengerek atau menyusutkan nilai Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah akan menggelontorkan belanja dalam bentuk gaji PNS, bantuan sosial, subsidi, hingga infrastruktur jika ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan tersebut tidak hanya mampu menambah nilai PDB, namun juga menimbulkan kondisi yang disebut efek pengganda perekonomian. Sebagai contoh, belanja subsidi tentunya tidak akan mengerek nilai belanja pemerintah semata, namun juga memperbaiki tingkat konsumsi warga yang kurang mampu.
Hanya saja, masing-masing golongan masyarakat tentu menerima dampak yang berbeda dari implementasi kebijakan fiskal suatu negara. Hal tersebut sangat bergantung dengan orientasi politik dan tujuan yang ingin dicapai pemangku kebijakan.
Misalnya, kebijakan pemangkasan tarif pajak mungkin hanya akan berpengaruh terhadap golongan kelas menengah yang biasanya menjadi golongan masyarakat terbesar di suatu negara. Sementara itu, ketika kantong negara kempis di tengah upaya pertumbuhan ekonomi, golongan masyarakat tersebut pun mungkin akan menjadi sasaran pertama kebijakan kenaikan tarif pajak.
Begitu pun dengan kebijakan belanja negara. Belanja infrastruktur pemerintah mungkin hanya akan berdampak ke beberapa pihak tertentu, misalnya perusahaan jasa konstruksi dan ribuan tenaga kerja konstruksi. Namun, ketika pemerintah berniat membangun stasiun antariksa, kebijakan tersebut mungkin hanya akan dinikmati oleh segelintir orang saja.