Author: 09

  • 5 Alasan Untuk Berinvestasi di Pasar Saham

    1. Nilai Saham Naik Seiring Pertumbuhan Ekonomi

    Pendapatan masyarakat akan naik ketika perekonomian suatu negara makin tinggi pertumbuhannya. Sehingga, perusahaan-perusahaan bisa menghasilkan barang-barang lebih banyak bagi masyarakat dan mendulang pendapatan lebih banyak. Pertumbuhan pendapatan akan berujung ke kenaikan laba dan pada akhirnya akan mendongkrak nilai dan harga saham perusahaan tersebut. 

    Pada periode setelah Krisis Keuangan Global atau sekitar tahun 2010-2021, perekonomian AS terus tumbuh dengan tingkat 2%-3% per tahun. Pada periode itu, perusahaan Amazon pun meningkatkan penjualannya dari “hanya” US$50 miliar per tahun menjadi US$500 miliar per tahun. Tidak heran bahwa kapitalisasi pasar Amazon bertumbuh 20 kali lipat dari US$80 miliar menjadi US$1,7 triliun. 

    2. Saham Bisa Mengalahkan Kelas Aset Lain

    Saat perekonomian sedang bertumbuh, saham adalah kelas aset dengan kinerja yang mampu mengalahkan seluruh kelas aset tradisional lainnya. Secara naluriah, hal ini disebabkan karena perusahaan-perusahaan bisa beradaptasi secara dinamis terhadap keadaannya dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan pertumbuhan mengagumkan sekarang dan di masa mendatang. Ini merupakan janji yang menarik untuk investor. 

    Sementara itu, kinerja instrumen utang lebih berdasarkan janji perusahaan di masa lampau untuk “secukupnya” saja berkembang supaya ia bisa memenuhi suatu persyaratan atau kewajibannya. Walaupun perusahaan berkembang lebih pesat dari yang diperlukan, pemilik obligasi tidak akan diuntungkan. Sehingga, instrumen utang sama seperti emas, yakni bersifat lebih statis karena dipengaruhi perubahan kondisi makroekonomi dan likuiditas.

    Sebagai contoh, selama 10 tahun terakhir, raksasa teknologi Amerika Serikat termasuk FAATMAN (Facebook, Apple, Amazon, Tesla, Microsoft, Alphabet, dan Netflix) terbilang lincah dalam melakukan ekspansi bisnis, utamanya dari segi peluncuran produk-produk dan teknologi anyar beserta negara tujuan pasarnya.

    Saat kegiatan ekonomi terhenti akibat pandemi COVID-19, kinerja perusahaan-perusahaan teknologi tersebut menikmati pertumbuhan yang mumpuni mengingat seluruh orang membutuhkan produk-produk teknologi akibat kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home). Selama 10 tahun terakhir, indeks S&P 500 dan indeks Nasdaq secara rata-rata naik sebesar 20% dan 40% tiap tahunnya.  

    3. Pelindung Terhadap Inflasi 

    Nilai aset riil akan meningkat seiring kegiatan bank sentral untuk mencetak uang terus menerus. Kenaikan jumlah uang beredar akan memungkinkan investor untuk semakin mengejar aset riil yang penawarannya terbatas. Atau bisa dikatakan juga bahwa terjadi inflasi. 

    Perusahaan penguasa pangsa pasar akan lebih kuat dan bahkan mungkin diuntungkan saat terjadi inflasi. Hal ini disebabkan karena pertama, perusahaan memiliki kendali yang erat dengan pemasok bahan baku dan terhadap pegawainya dan ia dapat menahan kenaikan biaya apabila terjadi inflasi. Kedua, perusahaan tersebut juga lebih mudah membebani kenaikan ongkos produksinya ke konsumen demi menjaga tingkat pendapatannya. Akibatnya, harga sahamnya pun akan terjaga tanpa tergerus dampak inflasi. 

    Sebaliknya, tingkat inflasi tinggi akan menggerus nilai aset-aset moneter termasuk uang tunai dan obligasi. Jika inflasi, misalnya, membuat harga barang-barang naik 10%, maka uang selembar Rp100.000 hanya akan memiliki nilai riil sekitar Rp90.000 tahun depan. 

    4. Potensi Cuan dari Capital Gain dan Dividen

    Korporasi yang mendulang laba dalam satu periode tertentu bisa membagi cuannya ke investor melalui dua cara: Dividen dan capital gain.

    Jika perusahaan memutuskan untuk memberikan laba dalam bentuk dividen ke investor, maka tiap investor akan menerima laba bagiannya dalam bentuk uang tunai sebagai pendapatan dividen.

    Pada umumnya, perusahaan-perusahaan yang bergelut di sektor yang sudah matang, atau industri yang pertumbuhannya telah melambat dibanding industri lain, akan memberikan sebagian besar atau seluruh pendapatannya ke investor. Ini terlihat di perusahaan yang bergerak di sektor kebutuhan pokok, jasa keuangan, dan pertambangan.

    Sebuah perusahaan yang masih bertumbuh akan melihat kenaikan laba. Akibatnya, valuasi perusahaan pun ikut membumbung tinggi dan meningkatkan harga saham. Nah, kenaikan harga saham ini (dibandingkan harga beli investor) adalah capital gain.

    Perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan kuat, seperti saham-saham FAATMAN, cenderung untuk menginvestasikan kembali labanya untuk memperbesar ukuran bisnisnya ketimbang membagikannya ke investor dalam bentuk dividen. Investasi terhadap diri sendiri ini akan menyebabkan kinerja perusahaan terus bertumbuh dan investor yang memiliki saham perusahaan akan mendapatkan cuan bukan dari dividen namun dari nilai saham yang terus naik.

    Pada dasarnya, berinvestasi saham dapat menutupi kekurangan di investasi instrumen utang dan emas. Instrumen utang jangka pendek cenderung memberikan cuan yang sedikit, terdapat bunga dari memegangnya namun harga aset tersebut stabil atau hanya mampu naik tipis. Sementara itu, harga emas mampu naik lebih besar sehingga ada capital gain namun tidak memberikan bunga tetap sama sekali.

    5. Terjangkau

    Setiap investor bisa memulai perjalanan membangun kekayaannya di aplikasi Pluang. Sobat Cuan bisa berinvestasi di saham-saham unggulan pasar modal domestik seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Unilever Indonesia Tbk melalui reksadana saham atau nantinya produk saham indonesia atau saham AS seperti Facebook, Apple, Alphabet, hingga Microsoft yang akan segera diluncurkan di Pluang.

    Di Pluang, investor juga bisa membeli saham tunggal AS dengan kepemilikan paling kecil 0,1 lembar saham! Yuk, segera miliki saham tunggal AS di Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • 7 Risiko Utama Investasi Saham

    Risiko Berkaitan dengan Ekonomi

    1. Risiko Ekonomi

    Perusahaan, konsumen, dan pemerintah adalah para pemain utama dalam perekonomian manapun. Sehingga keadaan perekonomian secara keseluruhan akan mempengaruhi tingkat permintaan agregat terhadap barang dan jasa yang pada akhirnya akan berdampak pada keuntungan perusahaan.

    Sebagai contoh, pandemi COVID-19 yang terjadi di seluruh belahan dunia membuat kegiatan perekonomian terhenti dan memaksa banyak perusahaan untuk akhirnya gulung tikar. Sebaliknya ketika pertumbuhan ekonomi sedang panas dan bertenaga, perusahaan-perusahaan tersebut berpeluang besar untuk mendongkrak labanya.

    2. Risiko Perubahan Kebijakan Makroekonomi

    Risiko ini datang dari perubahan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

    Kebijakan fiskal akan mempengaruhi perusahaan melalui dua cara. Pertama, ukuran anggaran pemerintah sangat mempengaruhi tingkat permintaan dalam suatu ekonomi. Jika pemerintah memperlebar defisit anggarannya (dan belanja pemerintah ditingkatkan lagi melebihi penerimaannya), maka permintaan agregat akan naik. Kedua, keputusan pemerintah untuk mengatur atau mengerek penerimaan pajak dari beberapa sektor ekonomi tertentu.

    Sebagai contoh, jika pemerintah membebankan kenaikan penerimaan pajak dari perusahaan teknologi, maka laba perusahaan sektor yang dimaksud akan menyusut dan mempengaruhi nilai sahamnya.

    Namun, jika peningkatan penerimaan pajak dilakukan bersamaan dengan peningkatan subsidi dalam bentuk subsidi kesehatan dan pendidikan, maka sebaliknya, keputusan ini akan menguntungkan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor tersebut.

    Kebijakan moneter, terutama perubahan tingkat suku bunga acuan, akan mempengaruhi perusahaan karena akan mempengaruhi jumlah uang beredar dalam perekonomian dan tingkat suku bunga pinjaman. Ini akan mempengaruhi kegiatan investasi perusahaan dan kegiatan konsumsi masyarakat.

    Selain mengerti tentang kebijakan suku bunga Bank Indonesia, seorang investor juga perlu memahami perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat mengingat 80% dari seluruh transaksi global dilakukan dalam denominasi Dolar AS

    Risiko Sektor Usaha

    Prospek kinerja sebuah perusahaan tak akan lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi sektor usaha atau industri di mana perusahaan tersebut bergerak. Ini termasuk tingkat persaingan, tingkat pertumbuhan industri, dan juga hubungan perusahaan dengan pemasok bahan baku dan konsumennya.

    Kerangka yang dikemukakan profesor Harvard Business School, Michael Porter, membeberkan lima faktor yang mempengaruhi untung dan buntung dan buntungnya perusahaan yang berasal dari dinamika sektor usahanya.

    1. Daya Tawar dari Pemasok Bahan Baku

    Jika pemasok bahan baku memiliki daya tawar kuat, maka mereka bisa meminta bagian laba yang lebih banyak dari perusahaan “langganan” mereka. Hal ini kerap terjadi ketika sang pemasok memiliki kendali yang luar biasa atas beberapa sumber daya tertentu.

    Sebagai contoh, Starbucks menyediakan hak waralaba kepada distributor lokal yang di Indonesia sekarang dimiliki oleh PT Mitra Adi Perkasa (Tbk) MAP. Dalam perjanjian kerja sama antara kedua perusahaan, Starbucks mengendalikan penggunaan jenama (brand), mengatur pasokan kopi, dan pelatihan bagi pegawai Starbucks di Indonesia. Karena kendali yang cukup unik tersebut, Starbucks juga mampu untuk mengatur pembagian persentase yang lumayan sebagai haknya dalam perjanjian dengan MAP tersebut.

    Sebaliknya dalam platform belanja daring seperti Amazon.com, raksasa e-commerce tersebut memiliki kendali yang kuat atas pemasok yang menjual barang mereka di platform tersebut sehingga pemasok dan penjual biasanya baru menerima pembayaran setelah 90 hari setelah transaksi.

    Tidak ada satu pemasok tertentu yang memiliki posisi yang cukup kuat untuk bisa menawar ketentuan Amazon. Sehingga aturan tersebut memungkinkan Amazon untuk membukukan laba dari konsumen atau pembeli sembari memaksa pemasok untuk mendanai sendiri modal kerjanya.

    2. Daya Tawar Konsumen

    Konsumen produk suatu perusahaan bisa memiliki daya tawar yang kuat melawan sebuah perusahaan jika penjualan perusahaan tersebut sangat tergantung permintaan suatu konsumen tertentu. Contohnya perusahaan Foxconn memiliki satu konsumen yang sangat berkuasa yaitu Apple. Sekitar 200 juta unit iPhone terjual setiap tahunnya dan kekuatan Apple sebagai konsumen besar dari produk Foxconn memungkinkannya untuk meminta syarat-syarat khusus dan naik-turunnya laba Foxconn sangat tergantung dari permintaan produk Apple.

    Kondisi kontras terjadi pada Facebook dan Google. Pengguna kedua platform tersebut justru tidak punya daya tawar yang tinggi ketika menggunakan jasa keduanya. Sehingga baik Facebook dan Google dapat menghasilkan uang yang banyak dengan memonetisasi konten-konten yang dilihat pengguna.  Kedua perusahaan teknologi tersebut dapat mengubah konten (yang mungkin juga diciptakan oleh pengguna) menjadi arus pendapatan mereka tanpa keharusan bagi mereka untuk memberikan kembali sebagian pendapatan tersebut ke konsumen mereka.

    3. Persaingan Usaha

    Sebuah perusahaan akan sulit mengatur harga produknya jika persaingan usaha di sektor yang digelutinya terbilang sengit dan tingkat keuntungannya (profitability) akan terbatas.  Namun jika industri tersebut dikuasai oleh satu pemain yang memonopoli atau beberapa pemain (oligopoli) maka perusahaan penguasa pasar bisa mendulang laba supernormal

    4. Ancaman Pendatang Baru

    Perusahaan pendatang baru yang bertujuan untuk mencuri pangsa pasar yang selama ini dikuasai pemain lama biasanya akan agresif untuk menawarkan produk dengan harga yang jomplang ketimbang milik kompetitornya. Ini akan memaksa pemain lama untuk mengeluarkan biaya lebih dan melakukan investasi lebih untuk mempertahankan posisinya.

    Tapi, tak semua pendatang baru bisa melenggang bebas masuk lantaran hadirnya berbagai hambatan masuk ke pasar (barriers to entry) sektor tertentu.

    Contohnya industri di mana pemerintah memiliki kebijakan untuk memberikan izin usaha hanya ke sedikit pelaku pasar saja. Selain itu, pemain baru mungkin juga mengalami kesulitan untuk menembus pasar karena ongkos produksinya kalah efisien dibanding pemain lama di mana ia hanya bisa menjual barang sedikit sehingga biaya produksi rata-rata masih lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang sudah memiliki nama di industri tersebut.

    5. Ancaman Produk Substitusi

    Sebuah perusahaan akan menikmati profitabilitas yang tinggi jika barang dan jasa yang ditawarkannya memiliki barang dan jasa pengganti (substitusi) yang sedikit.

    Sebagai contoh, hingga saat ini tidak ada sumber energi substitusi yang memiliki manfaat sepadan dengan minyak bumi. Produk substitusi biasanya baru tercipta karena teknologi produksi kian berkembang canggih. Contohnya energi terbarukan (renewable energy) seperti tenaga angin, tenaga surya, dan baterai lithium baru dalam satu dekade terakhir ini bisa menjadi sumber energi yang bisa disandingkan dengan minyak bumi.

    Risiko usaha. Suatu perusahaan bisa dengan sendirinya mengalami risiko yang hanya mempengaruhi perusahaan tersebut misalnya terkena masalah hukum dan penjualan menurun di suatu atau beberapa lini produknya.

    Pergerakan nilai saham juga rentan dipengaruhi risiko pasar dan sama seperti instrumen lainnya di pasar keuangan, harga akan dipengaruhi permintaan dan penawaran. Investor akan menghadapi beberapa risiko berikut ketika berinvestasi di dalam instrumen keuangan atau sekuritas:

    1. Risiko Pasar dan Volatilitas: Pergerakan suatu harga saham sedikit banyak berkorelasi dengan kinerja pasar saham secara keseluruhan. Jika kinerja pasar “loyo”, maka kinerja instrumen sekuritas dengan risiko tinggi kemungkinan besar juga akan ikutan melesu. 
    2. Risiko Timing : Sebagai seorang investor, kamu mungkin saja masuk ke pasar pada saat kinerja pasar sedang tinggi-tingginya. Sehingga jika pasar mengalami koreksi , nilai investasimu juga akan terpengaruh. Dengan kata lain, kamu telah berinvestasi di waktu (timing) yang salah.
    3. Risiko Likuiditas: Dalam hal ini, likuiditas mengacu ke kemampuan, atau seberapa cepat, sebuah aset untuk ditukarkan menjadi uang tunai. Semakin lebar selisih antara harga beli dan harga jual maka pelaku pasar makin membutuhkan lama untuk akhirnya mencapai kesepakatan dan menentukan harga yang dirasakan sesuai untuk saham tersebut. 

    Jika kamu menjual saham berlikuiditas rendah, maka saham tersebut tidak bisa dijual dengan cepat karena terlalu sedikit pemain yang mau dan mampu menampung saham dengan harga dan jumlah yang ingin kamu jual. Sebaliknya jika kamu ingin membeli suatu saham yang jarang diperdagangkan, ada kemungkinan kamu harus rela menunggu lama sebelum terdapat saham yang mau dilepaskan.



    Sumber : pluang.com

  • 3 Jenis Gaya Investasi Saham

    1. Growth

    Saham-saham berkategori growth stocks adalah saham yang kinerjanya diharapkan dapat tumbuh lebih cepat dibanding kinerja pasar saham dan perekonomian secara keseluruhan. Hal ini bisa terjadi mengingat pasar yang menjadi tujuan dari perusahaan tersebut juga lebih besar dari ukuran perusahaan itu (dan pesaingnya yang di sektor sama) dan juga masih terus berkembang. 

    Beberapa contoh saham berkategori growth stocks adalah saham-saham perusahaan teknologi seperti Amazon, Google, Facebook, dan Netflix. Tak heran, sebab hadirnya teknologi komputasi awan dan teknologi mobile mampu membantu mereka untuk menjangkau konsumen secara lebih luas dengan biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan yang memiliki aktivitas bisnis tradisional (brick-and-mortar).

    Perusahaan penerbit growth stocks biasanya jarang membagikan dividen kepada investor. Mereka cenderung melakukan reinvestasi labanya demi menumbuhkan bisnisnya. Sehingga, mereka bisa meraih untung lebih tinggi lagi dan bikin harga sahamnya kian menjulang.

    Perusahaan-perusahaan berkategori growth terbaik adalah perusahaan yang mampu menciptakan dan menerapkan suatu cara yang bisa diterapkan berulang kali tiap kali ia berniat untuk masuk ke pangsa pasar baru. 

    Contoh yang baik adalah Netflix. Perusahaan tersebut tadinya berkecimpung di bisnis penyewaan DVD sebelum akhirnya menggarap bisnis streaming film. Selain itu, Netflix juga awalnya membeli lisensi konten dari rumah produksi lain, seperti Disney, sebelum akhirnya bisa memproduksi kontennya sendiri. Dan sekarang Netflix tak hanya mampu menggaet pelanggan dari Amerika Serikat namun juga dari seluruh dunia.

    Memang kalau dilihat dari pengukuran tradisional, harga-harga saham growth relatif terlihat cukup “mahal” dibandingkan saham-saham yang termasuk dalam value stocks. Acap kali, saham-saham ini pun punya rasio valuasi yang juga tinggi seperti yang ditunjukkan dari rasio harga saham per laba saham (Price to Earning), harga saham per penjualan (Price to Sales), dan harga saham per nilai buku (Price to Book Value).

    Kendati demikian, tingginya nilai saham tersebut disebabkan karena “pertumbuhan” perusahaan tersebut tidak tercermin tahun ini, melainkan baru di tahun-tahun mendatang. Sebuah perusahaan biasanya jarang membukukan laba di tahun pertama lantaran harus menggelontorkan biaya signifikan untuk memasarkan produknya. Namun, bukan berarti perusahaan tersebut tak bernilai.

    Ambil contoh Amazon.com yang baru setelah 14 tahun bisa membukukan laba karena perusahaan terus melakukan reinvestasi arus kasnya setiap tahun untuk mengembangkan usaha. Bahkan, rasio harga saham per laba Amazon selalu tinggi karena perusahaan selalu menawarkan bisnis baru misalnya Alexa, jasa komputasi awan, hingga Amazon Prime Video ke pasar yang beragam

    Gaya Investasi Saham Rasio Price-to-Earning Amazon yang bertumbuh drastis pada 2015 lalu. Sumber: Tradingview

    Harga saham growth stocks juga cukup tinggi apabila disandingkan dengan profitabilitas dan neraca keuangannya yang sekarang. Saat pertumbuhan perusahaan ternyatakan dan perusahaan mampu memanfaatkan peluang itu untuk terus berkembang, maka harga sahamnya tentu akan melonjak.

    Sebaliknya, jika sebuah perusahaan tak mampu memanfaatkan pertumbuhan tersebut, maka harga saham growth stocks bisa amblas cukup dalam mengingat kinerja perusahaan ternyata tak sebanding dengan harganya yang mahal. Ini bisa terjadi, misalkan, karena perusahaan tidak mampu bersaing dengan kuat dari pendatang yang baru dan tidak bisa mempertahankan dominasinya.

    Contoh dari kasus ini adalah Nokia dan Apple.

    Pada medio 2000 hingga 2005, Nokia dikenal sebagai pemain utama di pasar ponsel global. Hampir seluruh orang memiliki ponsel Nokia dan tidak ada produsen ponsel lain yang bisa menyamai pesatnya pertumbuhan perusahaan teknologi asal Finlandia tersebut. Saking apiknya kinerja keuangan Nokia, harga sahamnya bahkan pernah menyentuh rekor 55 Euro per lembar di periode tersebut.

    Namun, harga saham Nokia kemudian terjun bebas setelah 2000 lantaran minimnya inovasi produk perusahaan. Harga saham Nokian kian terpukul pada 2005 hingga 2009, ketika Blackberry mencoba menantang dominasi Nokia di pasar ponsel global dengan mengandalkan teknologi mobile internet.

    Harga saham Blackberry pun menyentuh puncaknya pada 2009. Sayangnya, dominasi mereka pun tak bertahan lama karena Apple perlahan menggeser posisi mereka. Kini, Apple, dengan produk-produk iPhone-nya yang terbilang inovatif, masih berjaya di pasar, sementara Nokia dan Blackberry malah lenyap dari peredaran.

    Growth Stocks di Indonesia

    Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menciptakan indeks yang terdiri dari growth stocks yang bernama IDXGrowth30 sehingga investor bisa dengan mudah mengikuti kinerja saham-saham growth di Indonesia. IDXGrowth30 ini terdiri dari 30 saham yang memiliki tren pertumbuhan positif dari segi laba bersih dan pendapatan terutama apabila dibandingkan harga sahamnya, likuiditas transaksi yang cukup, serta kinerja keuangan yang kinclong. 

    Salah satu contoh growth stocks di Indonesia adalah saham-saham bank digital.

    Di awal 2020, investor pasar modal Indonesia keranjingan saham-saham bank mini yang berniat transformasi menjadi bank digital. Nilai saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), misalnya, berhasil terbang lebih dari 5 kali lipat dari Rp3.000 ke Rp16.000 per lembar pada periode tersebut. Hal ini disebabkan oleh antusiasme masyarakat ihwal aplikasi bank digital dan anggapan kuat pelaku pasar bahwa ARTO akan menjadi pemimpin bank digital utama di Indonesia mengingat ARTO adalah bagian dari ekosistem teknologi raksasa Indonesia, GoTo.

    Moncernya kinerja saham ARTO mendorong beberapa perusahaan rintisan berkelas Unicorn untuk menjajal sektor perbankan dengan mengakuisisi bank-bank mini. Kini, pelaku pasar bisa melihat betapa pesatnya pertumbuhan nilai saham seperti PT Bank MNC International Tbk (BABP), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), dan PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA) dalam setahun terakhir. Padahal, fundamental keuangan bank-bank tersebut tidak begitu mumpuni jika dibandingkan empat bank raksasa Indonesia, BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI.

    Pada September 2021, hype tersebut pun bubar setelah tidak ada satu pun bank digital yang mampu menunjukkan perkembangan berarti di kancah bank digital. Makanya, tak heran jika harga saham bank-bank digital amblas sekitar 40% hingga 50% dalam jangka waktu dua hingga tiga pekan saja.

    Di sisi lain, nilai saham ARTO masih tetap kokoh mengingat perusahaan sudah meluncurkan aplikasi dan produk bank digital dengan keandalan mumpuni. Sehingga, nilai sahamnya diharapkan bisa punya pertumbuhan stabil meski investor

    2. Value

    Value investing adalah gaya berinvestasi yang berfokus mencari saham-saham yang harga pasarnya lebih rendah dibanding nilai intrinsiknya. Nilai intrinsik adalah nilai seharusnya dari saham tersebut terutama apabila dilihat dari segi fundamental yang mungkin sekarang sedang berbeda dari yang dihargai pasar. 

    Di dalam value investing, investor akan menempatkan dana di saham-saham yang tengah diobral atau diremehkan oleh pelaku pasar lainnya. Penganut paham value investing percaya bahwa pelaku pasar nantinya akan mulai menyadari nilai sesungguhnya dari saham-saham tersebut dan nantinya mereka pun akan membeli saham tersebut yang mengakibatkan kenaikan harga ke tingkat seharusnya. Seperti yang diungkapkan punggawa value investing Benjamin Graham berikut:

    “Dalam jangka pendek, pasar adalah mesin pemungutan suara. Namun, dalam jangka panjang, pasar adalah mesin penimbang.”

    Pada umumnya, saham-saham value stocks berasal dari perusahaan besar dengan reputasi baik serta memiliki kinerja keuangan yang sudah teruji cemerlang. Mereka biasanya membayar dividen ke investor, sehingga investor bisa mendapatkan untung baik melalui pembayaran dividen atau apresiasi nilai saham. Beberapa contoh value stocks adalah saham-saham milik Bank of America Corporation (BAC), JPMorgan Chase & Co. (JPM), Wells Fargo & Company (WFC).

    Untuk menemukan saham-saham yang sedang murah, investor yang menganut value investing akan menggunakan rasio-rasio berikut sebagai kuncinya:

    1. Rasio harga saham terhadap laba per saham (price-to-earnings atau P/E) yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan tersebut dapat dengan relatif cepat menggunakan labanya untuk “menyamai” nilai sesungguhnya dari harga saham tersebut. Sebagai contoh, satu perusahaan dengan rasio P/E 8 mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut hanya membutuhkan waktu delapan tahun untuk “menyamai” nilai sesungguhnya dari perusahaan tersebut.
    2. Rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan (price-to-book value atau PBV) yang rendah berarti perusahaan tersebut memiliki nilai buku aset yang relatif lebih tinggi dibanding neraca keuangannya. Artinya, jika perusahaan tersebut harus melikuidasi asetnya, maka lebih besar kemungkinannya hasil penjualan aset-aset tersebut bisa menyamai nilai perusahaan tersebut.

    Oleh karenanya, mencari perusahaan dengan rasio valuasi yang rendah adalah cara bagi value investor untuk “balik modal” dalam berinvestasi. Rendahnya harga saham yang dibayar investor akan memberikan mereka marjin keamanan (margin of safety), sehingga mereka tak akan terkapar parah jika hal buruk terjadi di masa depan. Sebab tentu saja membeli saham pas harganya sedang mahal akan membuka kemungkinan lebih lebar bahwa harga saham akan turun sehingga investor menderita kerugian yang tidak sedikit.

    Value Stocks di Indonesia

    BEI juga memiliki satu indeks khusus untuk merangkum kinerja value stocks: IDXValue30. Indeks ini berisikan saham-saham dengan valuasi harga murah yang memiliki likuiditas transaksi dan kinerja keuangan yang baik. Contoh saham value stocks di Indonesia bisa dilihat di tabel berikut!

    gaya investasi saham

    Biasanya, persepsi masyarakat tentang berinvestasi di value stocks adalah berinvestasi di perusahaan-perusahaan top namun dengan valuasi kecil. Nah, valuasi yang kecil tersebut terjadi akibat merosotnya harga saham, yang biasanya disebabkan oleh siklus bisnis yang lesu atau faktor eksternal lainnya.

    Salah satu value stocks terbaik adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Baru-baru ini, valuasi saham perseroan susut dari 1,2 hingga 1,5 kali nilai Price-to-Book menjadi 0,5 kali saja. Hal itu terjadi setelah analis menurunkan peringkat saham BBNI akibat buruknya aset yang dimiliki perseroan dalam dua tahun terakhir.

    Namun, BBNI tidak tinggal diam. Perseroan merombak manajemennya dan memperbaiki produk-produk perbankan serta aset-aset yang dimiliki pada awal 2020. Imbasnya, BBNI pun menorehkan hasil pendapatan yang kuat pada kuartal II dan III 2021 dan bahkan mengalahkan estimasi analis.

    Kini, nilai saham BBNI sudah kembali terdongkrak dengan valuasi yang sudah terkerek ke 0,75 hingga 0,8 kali dari nilai Price-to-Book.

    3. Momentum

    Momentum investing adalah gaya investasi di mana sang investor “latah” mengikuti gerak-gerik investor lainnya dalam menjual atau membeli saham. Atau, dengan kata lain, mengikuti momentum yang sedang heboh saat ini.

    Hal ini cukup bertolak belakang dengan kaum penganut fundamental yang selalu pasang kuda-kuda menanti pergerakan harga jangka panjang. Di dalam momentum investing, investor akan beraksi mengikuti pergerakan harga jangka pendek yang disebabkan oleh aktivitas investor lainnya.

    Kamu perlu memperhatikan beberapa indikator teknikal penting jika kamu ingin melancarkan aksi momentum investingSalah satu indikator yang populer digunakan adalah Moving Average (MA), yakni indikator yang menggambarkan rerata harga penutupan saham dalam satu periode tertentu.

    Untuk lebih mudah memahaminya, Sobat Cuan bisa melihat contoh dari grafik harga saham Tesla berikut ini:

    Dari grafik di atas, Sobat Cuan bisa melihat MA dari saham Tesla selama 30 hari (30-days MA) sejak Desember 2020 hingga September 2021. Jika harganya berada di atas MA, maka tren harga saham Tesla akan meningkat. Sebaliknya, jika harga saham Tesla berada di bawah MA, maka tren harga menunjukkan penurunan.

    Selain itu, kamu juga perlu memanfaatkan tipe-tipe order lanjutan demi mengontrol waktu masuk dan keluar pasar. Limit order, misalnya, memungkinkan kamu untuk memaksimalkan profit dengan memanfaatkan volatilitas harga aset untuk masuk atau keluar pasar. Sementara itu, stops akan memungkinkan kamu untuk keluar-masuk pasar ketika terdapat pergerakan harga yang signifikan.



    Sumber : pluang.com

  • Lebih Baik Investasi Saham Tunggal, Indeks, Atau Reksa Dana Saham?

    Investor bisa berinvestasi secara murah dan nyaman untuk mendapatkan eksposur dari pasar saham dengan menempatkan uang di reksa dana atau indeks. Pada umumnya, manajer investasi, sebagai pengelola reksa dana, bisa memberikan eksposur terhadap satu kelas aset tertentu ke investor secara lebih efisien ketimbang investor individu.

    Sebagai contoh, Sobat Cuan bisa membeli produk indeks S&P 500 di Pluang untuk mendapatkan eksposur atas kinerja indeks S&P 500 secara keseluruhan daripada membeli masing-masing 500 saham yang terdapat di indeks tersebut. Hal ini juga berlaku di pasar modal dalam negeri. Daripada kamu membeli seluruh 30 saham perusahaan berkapitalisasi pasar di Indonesia, mengapa tidak menaruh uang saja di reksa dana saham, misalnya produk Batavia Dana Saham, di Pluang?

    Lagipula, jika Sobat Cuan menengok grafik di bawah ini, performa indeks IDX30 juga masih sejalan dengan pergerakan saham emiten raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). 

    Tapi, ada beberapa keuntungan yang kamu dapatkan ketika berinvestasi di saham secara langsung!

    Keuntungan Investasi Saham Langsung

    1. Investasi Secara Terkonsentrasi

    Memilih saham-saham pilihanmu sendiri dapat membantumu untuk berkonsentrasi terhadap satu sektor atau perusahaan tertentu, di mana kinerjanya kamu percaya bisa mengungguli performa pasar secara keseluruhan.

    Terdapat beberapa gaya dan prinsip dalam memilih saham. Pengelola dana global (hedge fund) cenderung memilih beberapa saham tertentu saja. Sementara itu, investor yang memusatkan diri untuk menganalisa bagaimana dampak keadaan makroekonomi terhadap saham bisa  memilih saham-saham yang bergerak di sektor yang sangat dipengaruhi kebijakan moneter, misalnya saham perbankan yang tokcer akibat kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing).

    Di sisi lain, momentum investors akan  mengamati pergerakan dan aliran dana ke suatu saham tertentu. Jika dana investor mengalir kencang ke sebuah saham, tentu harga aset tersebut akan menanjak terlepas dari sisi fundamentalnya. 

    Apa pun gaya investasi investor, berinvestasi saham tunggal disertai dengan risiko. Beberapa investor mungkin melakukan diversifikasi portofolio dengan memilih beberapa perusahaan berbeda yang dia rasakan akan menunjukkan kinerja terbaik dan bukan dengan mengatur alokasi portofolio berdasarkan kapitalisasi pasar. 

    2. Punya Kendali Penuh Atas Keluar-Masuk Pasar

    Berinvestasi langsung di saham bisa memberikanmu kendali penuh untuk masuk dan keluar pasar. Ketika melakukan hal ini, kamu mungkin bisa memanfaatkan bantuan seperti tipe-tipe order seperti limits, stops, dan trailing stops demi menentukan titik masuk dan keluar yang benar-benar tepat agar keuntungan maksimal. 

    Sebagai contoh, jika kamu berhasil membeli saham dengan harga 2% lebih baik dibanding yang lain dan menjualnya kembali dengan harga 2% lebih baik dibanding lainnya, maka kamu bisa mendapatkan tambahan imbal 4%. Nilai ini sudah setara dengan rerata imbal hasil indeks S&P 500 selama tiga hingga empat bulan yang terlihat dalam lima tahun terakhir.

    3. Investasi Saham adalah Hal Seru

    Berinvestasi saham adalah hal yang menyenangkan. Layaknya menonton tim olahraga favoritmu bertanding, memantau kinerja perusahaan favoritmu juga bisa menjadi sebuah “hiburan” yang menyenangkan. Keseruan ini tak akan kamu dapatkan jika kamu berinvestasi secara pasif.

    Mengamati pasar saham akan semakin lebih seru jika kamu sudah memilih perusahaan jagoanmu. Banyak investor menikmati proses memilih perusahaan yang mereka yakini akan berjaya di masa depan.

    Risiko Investasi Saham Secara Langsung

    Kendati menyenangkan, namun investasi saham secara langsung memiliki risikonya tersendiri.

    1. Risiko Overtrading dan Mistiming

    Salah satu risiko utama bermain saham secara langsung adalah  terlalu banyak melakukan jual-beli (overtrading) dan melakukan kesalahan dalam menentukan waktu jual-beli saham (mistiming). Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa kamu bisa kehilangan hampir dari sepertiga potensi cuanmu jika kamu melewatkan lima hari terbaik dalam bull run 30 tahun terakhir.

    2. Diversifikasi yang Tidak Optimal

    Jika kamu berinvestasi saham tunggal maka kamu telah memilih untuk menempatkan danamu secara terkonsentrasi dalam beberapa nama saja apabila dibandingkan dengan indeks saham yang mengikuti kinerja banyak perusahaan. Sehingga kamu akan cenderung lebih berisiko dibandingkan reksadana yang alokasinya mengikuti kapitalisasi pasar dalam indeks saham. Ini merupakan kekurangan investasi saham langsung jika dibandingkan investasi reksa dana saham atau investasi indeks, di mana kamu mendapatkan eksposur atas kinerja saham-saham dari sektor beragam.

    Kamu perlu yakin dan percaya bahwa pengetahuan investasimu memang akan memungkinkanmu mendulang imbal hasil yang lebih baik dari kinerja pasar secara keseluruhan dengan mempertimbangkan bahwa kamu telah menanggung risiko yang lebih tinggi dibandingkan pasar. 

    3. Berinvestasi Pakai Emosi

    Bermain saham bisa sangat melelahkan secara psikologis. Terkadang, jika kamu menderita kerugian dari bermain saham, maka kamu akan cenderung bertindak secara tidak rasional.  Misalnya, karena sudah terbakar sebelumnya kamu  jadi enggan berinvestasi padahal pasar akan cerah dan sebaliknya terlalu berapi-api dan malah investasi kebanyakan sesaat sebelum pasar berubah mendung.

    Nah, berinvestasi saham tidak akan terlalu membebani pikiranmu untuk selalu mengatur strategi apabila kamu memilih reksadana saham atau berinvestasi langsung di indeks saham, apalagi jika kamu melancarkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA).

    4. Kesulitan untuk Terus Mengalahkan Kinerja Pasar

    Pada kenyataannya, akan terus sulit untuk selalu terus-menerus mengalahkan kinerja pasar. Sehingga ada baiknya kamu melakukan strategi beli dan tahan (buy-and-hold) terhadap produk indeks saham atau reksadana saham. Ini dikarenakan pasar sekarang lebih cepat dan efisien untuk menyerap kabar sehingga sulit untuk memiliki keunggulan yang bisa mengalahkan pasar sebab harga pasar sekarang akan lebih cepat bereaksi terhadap perkembangan terbaru (priced in).   



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Indeks Saham Utama

    Indeks Saham AS

    Terdapat tiga indeks saham AS yang sangat dikenal oleh kalangan investor yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA), S&P500, dan Nasdaq Composite. 

    Indeks Dow Jones merupakan indeks dari perusahaan-perusahan yang berbasis industri, sementara indeks S&P 500 adalah indeks yang terdiri dari 500 perusahaan berkapitalisasi pasar jumbo yang melantai di bursa AS, dan Nasdaq adalah indeks dari perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di negara Paman Sam tersebut.

    Indeks Saham Indonesia

    Apa saja indeks saham utama di Indonesia?

    1.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

    Indeks Harga Saham Gabungan adalah indeks saham yang mencakup seluruh saham-saham yang diperdagangkan secara publik di Indonesia. Perusahaan yang baru melakukan penawaran umum perdana sahamnya (IPO) juga diikutsertakan ke indeks ini sejak hari pertama.

    Saham-saham yang tercatat di IHSG terbagi ke dalam dua papan, yakni papan utama (main board) dan papan pengembangan (development board). Sementara itu, indeks ini tidak mengikutsertakan saham-saham yang terdapat di papan akselerasi, yang umumnya berisi saham-saham perusahaan rintisan.

    Indeks ini tidak dapat direplikasi mengingat banyaknya saham-saham bervaluasi kecil, tidak likuid, dan saham-saham yang biasanya disebut sebagai “saham tidur”.

    2. LQ45

    LQ45 adalah indeks yang berisi 45 saham berlikuiditas dan punya kapitalisasi pasar tinggi. Perhitungan indeks ini mengikuti metodologi umum indeks saham global lainnya, di mana pembobotan didasarkan pada kapitalisasi pasar serta mengikutsertakan kapitalisasi pasar atas saham-saham yang digenggam investor minoritas (free float). Sebelumnya, LQ45 tidak mengikutsertakan saham-saham berkategori free float.

    LQ45 adalah indeks yang paling banyak dipantau investor lantaran pergerakannya dianggap cerminan dari pergerakan pasar modal Indonesia.

    3. IDX30

    Karakteristik IDX30 mirip seperti indeks LQ45, namun terbilang lebih mini lantaran hanya terdiri dari 30 saham saja. 

    4. MSCI Indonesia

    Indeks ini biasa digunakan investor asing dan manajemen investasi di Indonesia lantaran menggunakan pembobotan kapitalisasi pasar free float. Sistem ini sudah digunakan indeks MSCI sebelum diikuti oleh LQ45 pada 2019.

    5. Indeks Saham Syariah

    Terdapat dua indeks saham syariah yang dikenal investor di pasar modal Indonesia, yakni Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII).

    ISSI memiliki karakteristik serupa dengan IHSG namun hanya berisikan saham-saham yang mengikuti aturan ekonomi Islam. Misalnya, indeks ini tidak memasukkan saham-saham perusahaan kasino, rokok, minuman keras, dan korporasi yang mendulang laba dari bunga. Selain itu, perusahaan yang punya rasio utang terhadap aset di atas 45% dan porsi pendapatan non-syariah di atas 10% juga tidak diikutsertakan ke dalam indeks ini.

    Sementara itu, JII adalah indeks berisikan 30 saham syariah dengan fundamental baik dan likuiditas tinggi.



    Sumber : pluang.com

  • Lebih Baik Investasi Saham Domestik atau Saham Global? Atau Keduanya?

    Alasannya sederhana. Dengan melakukan diversifikasi saham Indonesia dan saham global terutama saham AS, maka kamu sedang berupaya untuk menekan risiko sekaligus meningkatkan potensi cuanmu. Sehingga, yang kamu perlu lakukan bukanlah memilih salah satu di antara keduanya, namun mencari keseimbangan portofolio yang tepat dari kedua pasar modal tersebut.

    Alasan Pentingnya Investasi di Pasar Saham AS

    Berinvestasi di pasar saham AS adalah langkah penting bagi investor. Sebab, AS adalah kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Selain itu, 80% transaksi di dunia dilakukan dalam denominasi Dolar AS.

    1. Pasar Modal AS Adalah Pasar Modal Tercanggih di Dunia

    Pasar modal di Amerika Serikat menawarkan berbagai instrumen keuangan yang canggih , memiliki kapitalisasi pasar jumbo, dan merupakan tempat tercatatnya perusahaan-perusahaan paling bernilai di dunia.  

    2. Mendapatkan Eksposur ke Sektor-Sektor Tertentu

    Berinvestasi di pasar saham AS tidak hanya memungkinkan kamu untuk mengakses investasi ke lingkup geografis yang berbeda, namun juga memperluas cakupan ke sektor usaha yang istimewa seperti sektor teknologi. 

    Seperti terlihat di diagram berikut, indeks saham AS didominasi oleh sektor teknologi dan kesehatan (42%). Sementara itu, indeks saham Indonesia “dikuasai” oleh saham-saham sektor jasa keuangan.

    3. Imbal Hasil Kinclong

    Indeks saham utama AS, seperti S&P 500 dan Nasdaq 100, memiliki tingkat pengembalian di kisaran 20% hingga 40% per tahun selama  lima tahun terakhir ini. Kinerja tersebut mengalahkan cuan yang dihasilkan oleh perusahaan private equity dan pengelola investasi global (hedge fund).

    Tingginya pertumbuhan nilai indeks saham tersebut didorong oleh performa cemerlang perusahaan monopoli data, misalnya Facebook, Google, Amazon, Apple, dan Microsoft. Mereka berhasil menjelma menjadi perusahaan bernilai triliunan Dolar AS dengan pendapatan tokcer serta posisi pasar yang tak terkalahkan.

    Sobat Cuan bisa melihat kinerja S&P 500 dan Nasdaq 100 melalui grafik berikut.

    4. Eksposur ke Aset Berdenominasi Dolar AS

    Dolar AS adalah aset cadangan (reserve asset) bagi beberapa negara di dunia. Bahkan, 80% transaksi di dunia ini dilakukan dengan Dolar AS.

    Alasan Pentingnya Investasi di Pasar Saham Indonesia

    Kesimpulannya, membeli saham global akan memberikanmu akses diversifikasi aset berdasarkan geografi, mata uang, dan sektor. Namun, apa alasan utama bagimu untuk tetap menempatkan dana di pasar modal domestik?

    1. Potensi Pertumbuhan yang Mantap

    Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia dan dengan demografinya sekarang yang kebanyakan merupakan usia muda dan siap masuk masa produktif, memiliki suatu keunggulan dibandingkan Amerika Serikat. Artinya, secara rata-rata, perusahaan Indonesia punya kesempatan bertumbuh lebih baik di masa depan.

    2. Keunggulan Tuan Rumah

    Karena Sobat Cuan berada di Indonesia, tentu saja investasi di Indonesia akan memberikan keunggulan bagimu. Kamu lebih mengenal perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia karena kamu memang menjadi pelanggan sehari-hari dari perusahaan tersebut. Sehingga, kamu mengetahui apa pun kondisi yang terjadi di lapangan dan langsung bisa memberikan pandangan yang akan terjadi terhadap pergerakan nilai sahamnya. Meski memang, hal itu bukan menjadi jaminan kalau kamu bisa mendulang untung dengan berinvestasi di saham-saham domestik.

    Ada pepatah terkenal dari Warren Buffet yang mengatakan, “Berinvestasilah terhadap perusahaan yang kamu kenal dan jangan berinvestasi terhadap sesuatu yang belum kamu mengerti”. 

    3. Mengurangi Risiko Mata Uang 

    Apabila kamu berinvestasi di pasar saham indonesia, tentu saja semua transaksi menggunakan Rupiah dan kamu tidak perlu pusing untuk mengonversinya terhadap mata uang lain seperti Dolar AS.

    Dalam melakukan konversi mata uang, tentu saja ada risiko volatilitas dan pasar karena nilai mata uang bergerak sesuai dengan kondisi makroekonomi yang susah diprediksi setiap harinya. Namun, dengan berinvestasi dengan mata uang yang sama, maka kamu setidaknya sedikit terbebas dari risiko pasar dari pergerakan mata uang.

    4. Diversifikasi Bisa Meningkatkan Kinerja Portofolio Kamu

    Memiliki berbagai instrumen investasi akan memberikan perlindungan terhadap portfolio kamu. Ketika ada satu kelas aset yang kamu genggam bikin kamu merugi, tentu di sisi lain terdapat juga kelas aset yang mencatat kinerja positif. Jadi, ketika kondisi tidak sesuai dengan harapanmu, investasi yang kamu miliki masih bisa memiliki kinerja yang positif. 

    Warren Buffet juga pernah berkata, “Never put your investment in One Basket”. Memang, ada sebagian orang yang suka memiliki portfolio yang terkonsentrasi karena ada harapan bahwa aksi tersebut bisa mengantar mereka mendulang cuan yang lebih baik dari portofolio terdiversifikasi. Namun, kalau kamu tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus asetmu, hal ini bisa menjadi masalah.



    Sumber : pluang.com

  • 3 Cara Valuasi Saham

    1. Discounted Cash Flows

    Metode ini, secara teori, adalah metode yang cukup ekstensif dalam menilai sebuah perusahaan. Metode perhitungan ini pun sering diajarkan di perguruan tinggi. Di dalam perhitungan ini, aset apapun adalah nilai saat ini (present value) dari nilai arus kasnya di masa depan.

    Sebagai contoh, anggap sebuah perusahaan membayar US$100 kepada investor setiap tahun selama 10 tahun. Maka, secara kasat mata, nilai perusahaan tersebut seharusnya sebesar US$1.000 (US$100 x 10 tahun). Namun, pada kenyataannya, nilai perusahaan akan lebih rendah dari US$1.000, mungkin di kisaran US$800 hingga US$900.

    Hal ini bisa terjadi karena nilai arus kas sebesar US$100 di tahun ke-10 tidak akan sama dengan nilai US$100 di tahun pertama. Sebab, nilai uang akan tergerus inflasi. Selain itu, terdapat faktor ketidakpastian di mana investor kemungkinan tidak menerima arus kas di tahun ke-10.

    Investor akan membutuhkan informasi yang banyak sebelum menentukan nilai sebuah perusahaan menggunakan discounted cash flows. Metode ini terbilang cukup teknis dan membutuhkan bantuan spreadsheet atau komputer untuk menghitungnya.

    Namun, pada praktiknya, investor bisa melakukan valuasi saham menggunakan rasio-rasio keuangan penting. Salah satunya adalah rasio harga saham terhadap laba per saham (Price-to-earning ratio atau rasio P/E).

    2. Rasio Harga Saham Terhadap Laba per Saham

    Memanfaatkan rasio P/E adalah cara yang praktis untuk mengukur nilai sebuah perusahaan. Dalam metode ini, yang dimaksud dengan harga adalah harga saham sementara laba adalah laba per saham yang dihitung dari laba sesudah pajak dibagi dengan jumlah saham perusahaan.

    Rasio ini menunjukkan berapa tahun yang dibutuhkan perusahaan untuk membayar aset tersebut dari labanya . Sebagai contoh, jika rasio P/E sebuah perusahaan adalah 20, berarti perusahaan tersebut tiap tahunnya menghasilkan laba setara dengan 5% dari nilai asetnya.

    Investor kadang menggunakan rasio P/E untuk mengukur daya tahan sebuah perusahaan. Semakin tinggi angka rasio P/E sebuah perusahaan, maka semakin kuat pula kemampuan perusahaan tersebut melindungi keunggulan bersaingnya (competitive advantage).

    Sebagai contoh, kedai kopi kaki lima atau bisnis kecil lainnya mungkin memiliki rasio P/E 3 kali lipat. Sementara itu, rasio P/E perusahaan sektor teknologi rata-rata berada di angka 30 hingga 40 kali.

    Nilai rasio yang tinggi ini menandakan bahwa perusahaan seperti Google, Facebook, dan Amazon memiliki “keunggulan tersendiri” (economic moat) sehingga mereka bisa bertahan 30 tahun dengan kondisi bisnis saat ini. Di sisi lain, bisnis kecil-kecilan, secara realistis, mungkin hanya akan berdiri selama tiga tahun saja.

    Saham Google diperdagangkan dengan rasio P/E di kisaran 30 kali. Sehingga, jika laba Google tiba-tiba melompat sebesar 20% (mungkin dari bisnis YouTube yang dimiliki Google), maka pelaku pasar akan memandang bahwa angka pertumbuhan itu sebagai kemajuan bisnis yang tetap bisa dipertahankan selanjutnya. Jika tidak ada perubahan dari faktor lain,  pertumbuhan laba tersebut sepatutnya juga mendongkrak harga saham Google sebesar 20%.

    Namun, pada kenyataannya, nilai rasio P/E berubah-ubah antar waktu dan dipengaruhi oleh sentimen investor. Sebagai contoh, jika pemerintah Amerika Serikat dan pemerintahan lain memutuskan untuk meregulasi dan menaikkan setoran pajak dari perusahaan teknologi, maka investor akan mempertimbangkan risiko tersebut dan menurunkan rasio P/E yang layak sekarang hanya  di angka 20 hingga 25 kali. Hal ini akan bikin harga saham perusahaan teknologi anjlok 20% hingga 30%.

    Berikut ini adalah rasio P/E saham-saham Indonesia berdasarkan sektornya.

     

    Berikut adalah rasio P/E saham-saham AS berdasarkan sektornya

    3. Alternatif Selain Rasio P/E

    Rasio P/E merupakan indikator yang bagus untuk melakukan valuasi saham. Hanya saja, investor terkadang menggunakan metode pengukuran lainnya.

    Rasio EV/EBITDA

    Sama seperti rasio P/E, rasio EV/EBITDA mengukur nilai perusahaan relatif terhadap labanya. Tetapi, kali ini pengukurannya cukup berbeda lantaran menggunakan variabel nilai perusahaan (Enterprise Value atau EV) dan laba sebelum pajak, beban bunga, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA).

    Sebelum melangkah lebih lanjut, Sobat Cuan perlu memahami konsep akuntansi bahwa Aset = Utang + Ekuitas. Nah, variabel EV yang dimaksud adalah hasil total nilai dari utang + ekuitas. Variable ini berbeda dengan rasio P/E, di mana harga saham hanya mempertimbangkan faktor ekuitas semata.

    Lebih lanjut, di dalam metode ini, laba perusahaan tercermin dalam variabel EBITDA. Sebab, EBITDA dianggap mencerminkan arus kas sebenarnya dari sebuah perusahaan ketimbang variabel laba setelah pajak yang digunakan dalam kalkulasi rasio P/E.

    Pada umumnya, rasio EV/EBITDA dianggap sebagai metode pengukuran valuasi saham yang lebih baik dibandingkan rasio P/E. Ini lantaran rasio EV/EBITDA mampu menunjukkan nilai sesungguhnya dari perusahaan. Di sisi lain, rasio P/E bisa dipengaruhi oleh pemanfaatan utang-utang yang dimanfaatkan perusahaan. Oleh karenanya, rasio EV/EBITDA diangap lebih baik dalam mengukur kinerja bisnis sebuah perusahaan.

    Kamu bisa melihat tabel di bawah ini untuk melihat contoh pemanfaatan rasio EV/EBITDA antara saham sektor telekomunikasi Indonesia berikut.

    Dari tabel di atas, kamu bisa membaca bahwa rata-rata rasio EV/EBITDA saham sektor telekomunikasi Indonesia di angka 15,64. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memiliki rasio EV/EBITDA sebesar 5,24 kali, atau di bawah angka rata-rata, sementara saham PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) punya rasio EV/EBITDA di atas angka rata-rata yakni 48.

    Berdasarkan data tersebut, kita bisa mengatakan bahwa saham TLKM berada di bawah nilai sesungguhnya (undervalued). Di sisi lain, kita juga bisa menganggap valuasi saham FREN kemahalan (overvalued) karena memiliki rasio EV/EBITDA di atas angka rata-rata.

    Namun, pada kenyataannya, rasio ini bukanlah satu-satunya ukuran untuk menilai valuasi saham atau perusahaan. Investor juga perlu mempertimbangkan faktor lainnya, misalnya pendapatan, tingkat utang, dan tingkat profitabilitas perusahaan, yang menjadi penyebab kenapa harga saham sebuah perusahaan seolah-olah kemahalan.

    Kembali ke tabel. Kita lihat saham TLKM memiliki rasio P/E dua kali lipat dibandingkan rasio P/E PT Indosat Tbk (ISAT).

    Ini dikarenakan Indosat memiliki tingkat utang terhadap ekuitas (debt-to-equity) yang lebih tinggi atau leverage sehingga rasio P/E Indosat sangat peka terhadap perubahan laba sekecil apapun. Jadi, ketika terdapat pertumbuhan laba positif sekecil apapun, maka rasio P/E ISAT bisa langsung amblas. Hal ini membuat valuasi saham TLKM terlihat lebih mahal dibanding ISAT.

    Namun, jika dilihat dari kacamata rasio EV/EBITDA, valuasi antara kedua saham ternyata tak berbeda jauh, yakni 5,24 dibandingkan dengan 4,46.

    Rasio PEG (Price/Earnings-to-Growth Ratio)

    Beberapa perusahaan yang bergelut di industri yang sama bisa menggunakan variasi lain dari rasio P/E untuk mengukur valuasi sahamnya. Langkah ini dilakukan karena perusahaan yang punya rasio P/E tinggi cenderung memiliki pertumbuhan yang sama-sama cemerlang.

    Terlebih, investor biasanya akan rela menanamkan uang lebih di saham-saham perusahaan yang kinerjanya tengah bertumbuh. Nah, untuk menangkap faktor “pertumbuhan” tersebut, investor biasanya menggunakan rasio PE/G. Yakni, membagi rasio P/E dengan tingkat pertumbuhan perusahaan tersebut (G)

    Perhitungan ini akan memberikan valuasi yang lebih besar untuk suatu perusahaan yang memiliki pertumbuhan lebih besar.

    Sebagai gambarannya, Sobat Cuan bisa melihat tabel berikut:

    Tabel di atas menunjukkan bahwa Apple memiliki rasio P/E lebih tinggi dibandingkan Cisco. Namun, jika dilihat menggunakan rasio PEG, maka rasio PEG Apple berada di angka 1,54 sementara rasio PEG Cisco di angka 3,64.

    Sementara itu, rasio PEG industri perusahaan teknologi AS ada di angka 2. Berdasarkan data tersebut, maka rasio PEG Apple berada di bawah rata-rata sektor teknologi AS meski rasionya P/E miliknya cukup tinggi.

    Dengan demikian, maka kita bisa menilai bahwa Apple memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi yang “membenarkan” angka rasio P/E Apple yang tinggi.

    Sementara itu, di Indonesia, kita bisa membandingkan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA).

    Selama ini, Unilever dikenal sebagai perusahaan barang-barang konsumsi yang memiliki reputasi baik serta jenama yang kuat. Namun, pertumbuhan perusahaan melambat dalam beberapa waktu terakhir, dan bahkan sempat mencetak pertumbuhan negatif, gara-gara pelemahan daya beli masyarakat. Sehingga, kita bisa mengelompokkan bisnis UNVR sebagai bisnis yang sudah “jenuh”.

    Di sisi lain, ASSA memiliki fokus bisnis di penyewaan mobil dan lelang mobil bekas. Namun, baru-baru ini, perusahaan meluncurkan bisnis logistik bernama AnterAja. AnterAja melayani konsumen marketplace Tokopedia dan kini menikmati pertumbuhan volume logistik yang luar biasa.

    Dari tabel di atas, Sobat Cuan bisa melihat bahwa rasio P/E UNVR lebih rendah dibanding ASSA. Tapi, UNVR terus mengalami penurunan penjualan dan laba bersih.

    Di sisi lain, pertumbuhan penjualan ASSA mencapai lebih dari 50% dan sukses mencetak pertumbuhan laba bersih tiga digit. Jika dilihat dari rasio PEG, maka ASSA dianggap sebagai perusahaan yang lebih menarik dibanding UNVR.

    Rasio-Rasio Lainnya

    Investor juga menggunakan rasio lainnya dalam mengukur valuasi saham. Biasanya, ukuran ini tergantung sesuai jenis industrinya.

    Untuk melakukan valuasi atas saham perusahaan industri padat modal, seperti bank atau industri manufaktur, investor biasanya menggunakan rasio P/BV. Yakni, rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan.

    Contohnya bisa kamu temukan di tabel perbandingan saham-saham emiten perbankan Indonesia berikut:

    Tabel di atas menunjukkan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memiliki rasio PBV tertinggi karena bisa mempertahankan profitabilitasnya selama pandemi COVID-19. Selain itu, bank swasta tersebut juga punya modal lebih tinggi dibanding bank lainnya dengan CAR senilai 24,20.

    Sementara itu, saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) memiliki rasio PBV di bawah rata-rata dan mampu menjaga tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE) di tahun lalu. Hanya saja, ia memiliki rasio kecukupan modal (CAR) dan kapitalisasi pasar yang kecil. Harga BJBR menarik, namun jika ia dibandingkan dengan bank-bank lain yang seukurannya dan lebih kecil dari BCA. 

    Investor juga bisa menggunakan indikator rasio harga saham terhadap nilai penjualan (Price-to-Sales atau rasio P/S) untuk mengukur valuasi perusahaan yang berkecimpung di industri yang tengah berkembang dan bahkan belum membukukan laba sama sekali.

    Perhitungan ini berguna untuk mengukur nilai saham perusahaan teknologi, utamanya yang bertumbuh cepat, sudah mulai mencatat pendapatan namun masih belum menunjukkan profitabilitas jika diukur menggunakan indikator tradisional. Lumrah saja, sebab biaya operasional mereka tinggi karena perlu menggelontorkan investasi yang deras demi menumbuhkan ukuran perusahaan.

    Sebagai contohnya, Sobat Cuan bisa melihat perbandingan perusahaan teknologi AS berikut.

    Tabel di atas menunjukkan bahwa rasio P/S Hubspot terbilang 30,26, berada di atas rerata rasio P/S sektor teknologi AS yakni 38,69.

    Namun, kita tidak dapat melihat rasio P/E Hubspot karena perusahaan masih melaporkan rugi bersih. Dalam hal ini, yang bisa kita lakukan untuk melakukan valuasi saham Hubspot adalah dengan melihat rasio P/S.

    Di sisi lain, rasio P/S Salesforce berada di angka 11,07, sama-sama di atas rerata rasio P/S sektor teknologi AS. Rasio P/S Salesforce juga lebih kecil dibanding Hubspot. Kondisi itu bisa menjadi indikasi awal bahwa valuasi saham Salesforce lebih baik dibanding Hubspot.

    Namun, dalam kasus ini, investor tak bisa mengandalkan rasio P/S semata. Jika diteliti lebih lanjut, ternyata pertumbuhan pendapatan Hubspot lebih baik dibandingkan Salesforce, seperti terlihat di tabel berikut. Sehingga ini merupakan salah satu alasan untuk menerima rasio Hubspot yang lebih tinggi.



    Sumber : pluang.com

  • 6 Faktor Mempengaruhi Harga Saham

    1. Kinerja Perusahaan

    Harga saham sebuah perusahaan tentu saja dipengaruhi tentang kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan yang tingkat labanya tumbuh dengan kecepatan yang tak terduga akan melihat harga sahamnya meroket.

    Sebuah perusahaan akan merilis laporan keuangan mereka setiap kuartalnya. Sebelum laporan itu dirilis, para analis (dan investor) akan memperkirakan laba perusahaan tersebut dan pasar akan mulai bergerak untuk menyesuaikan harga terhadap pandangan mereka. Nah, setelah laporan keuangan keluar dan menunjukkan bahwa laba perusahaan melebihi perkiraan, maka harga sahamnya akan melonjak. Begitu pun sebaliknya, harga saham akan jatuh jika gagal memenuhi harapan tersebut.

    Sebuah perusahaan hidup di ekosistem luas yang mencakup sektor industri yang digelutinya, keadaan makroekonomi, dan tentu saja perkembangan pasar modal. Maka, tak heran jika harga saham juga ikut dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di ketiga faktor tersebut.

    Adapun faktor makroekonomi yang mempengaruhi kinerja perusahaan, dan kemudian mempengaruhi harga saham, mencakup tren ekonomi dan bunga kredit. Berikut penjelasannya.

    2. Tren Ekonomi

    Tingkat permintaan agregat dalam sebuah perekonomian akan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk meningkatkan labanya. Selain itu, nilai sebuah saham juga tergantung oleh naik-turun suku bunga acuan. Suku bunga acuan yang rendah akan menarik lebih banyak investor yang bersedia membeli saham-saham tersebut. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa indeks saham di dunia sekarang ini terus mencetak rekor, karena mereka mekar saat tingkat suku bunga sekarang berada di titik terendah dalam 60 tahun terakhir.

    3. Tingkat Bunga Kredit

    Ketika bunga kredit tengah melandai, maka investor cenderung meminjam uang dari bank untuk kemudian diinvestasikan di pasar saham. Akibatnya, harga saham-saham pun ikut terkerek naik.

    Biasanya, nilai bunga kredit yang rendah ini juga diikuti oleh tingkat likuiditas yang tinggi.

    Sebagai contoh, pada 2020 lalu, bank sentral AS The Fed menurunkan suku bunga acuannya (Federal Funds Target Rate) menjadi 0,00 – 0,25% sembari mencetak Dolar AS senilai hampir US$3 triliun, atau sekitar 20% dari Produk Domestik Bruto (PDB) AS. Mayoritas uang cetakan baru ini mengalir langsung ke pasar modal karena masyarakat AS menginvestasikan uang bantuan stimulusnya di pasar yang tengah berkembang. Kenaikan likuiditas ini mendongkrak nilai S&P 500 dan Nasdaq ke rekor tertingginya.

    Di sisi lain, pihak perbankan akan meminta balik pinjaman yang telah disalurkan jika terjadi kepanikan pasar. Hal ini akan berimbas ke keringnya likuiditas di pasar saham. Sementara itu, mereka yang telah meminjam uang untuk berinvestasi saham dipaksa untuk melikuidasi asetnya demi melunasi pinjaman perbankan. Aksi jual ini mengakibatkan harga saham bisa tenggelam secara mendadak. Penggunaaan hutang untuk berinvestasi keuangan cenderung mengakibatkan harga saham untuk terjun bebas secara tiba-tiba saat kepanikan melanda. 

    Selain itu, seperti aset finansial pada umumnya, pergerakan harga saham juga dipengaruhi oleh faktor-faktor pasar seperti berikut

    4. Permintaan dan Penawaran

    Seperti barang dan jasa kebanyakan, nilai saham juga ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran. 

    Nilai sebuah perusahaan di jangka panjang memang akan sesuai dengan laba yang ditorehkannya. Namun, di jangka pendek, terdapat alasan lain mengapa beberapa pelaku pasar berniat membeli atau menjual saham di luar prospek kerjanya ini. 

    Contohnya pada saat harga saham produsen mobil listrik Tesla meroket menjadi salah satu dari 10 perusahaan top di AS. Akibatnya pengaruh saham Tesla dalam indeks saham lebih besar dan para Manajer Investasi yang mengelola reksadana indeks harus mengubah proporsi portofolio mereka untuk menyesuaikan dengan proporsi indeks. Harga pun makin meningkat karena permintaan “susulan” dari Manajer Investasi ini.  

    5. Likuiditas dan Aliran Dana

    Harga saham juga dipengaruhi oleh derasnya aliran dana yang masuk ke pasar modal. Terkadang, berita atau kehebohan pasar bisa memicu masuknya dana ke satu saham tertentu.

    Sebagai contoh, di awal 2021 lalu, investor ritel yang merupakan bagian dari forum internet Reddit mulai memborong saham Gamestop. Aktivitas tersebut bikin harga saham perusahaan jaringan toko game tersebut melesat lebih tinggi dibanding nilai fundamentalnya.

    Komunitas Reddit yang mendukung saham ini beradu dengan para lembaga pengelola investasi global (hedge fund) yang menganggap harga Gamestop kemahalan dan berniat untuk menekan harga saham perusahaan melalui short selling. Akibatnya, harga saham Gamestop pun bergerak naik-turun terus menerus.

    Short selling adalah aktivitas di mana trader mengambil cuan dari sebuah saham jika mereka beranggapan bahwa nilainya akan terus melorot. Beberapa pasar keuangan tertentu memungkinkan pelaku pasar meminjam saham kepunyaan pihak lain untuk kemudian dijual . Jika harga saham berhasil ditekan turun, maka pelaku pasar tersebut bisa membeli saham dengan harga yang murah kemudian mengembalikannya ke pihak yang meminjamkan. Dalam aktivitas ini, pelaku pasar yang pertama akan mendapat cuan dari selisih antara nilai penjualan saham yang dipinjamnya dengan nilai pembelian saham yang lebih murah tersebut.

    6. Kesepakatan Bisnis

    Perusahaan cenderung akan mengakuisisi perusahaan lain jika mereka yakin bahwa aksi korporasi tersebut bisa menopang pertumbuhan bisnisnya dengan cepat. Makanya, tak heran jika perusahaan pengakuisisi akan membeli saham korporasi incarannya dengan harga lebih mahal (harga premium) dibanding harga pasarnya saat ini.

    Ketika kesepakatan tersebut marak terjadi, maka pasar modal akan menjadi “kepanasan”. Rasio valuasi perusahaan lain yang bergerak di sektor yang sama dengan perusahaan yang diakuisisi, akan melesat. Hal ini disebabkan oleh antisipasi pelaku pasar bahwa merger dan akusisisi baru di sektor itu masih akan terus terjadi karena kekuatan baru perusahaan yang telah melakukan akuisisi tersebut memaksa perusahaan pesaingnya untuk mencari cara supaya mereka bisa bertahan.



    Sumber : pluang.com

  • Mengapa Harga Saham Sulit Diramal?

    Secara umum, pasar modal menyerap informasi secara efisien. Artinya, seluruh informasi yang diketahui pasar baik positif maupun negatif telah dipertimbangkan dan pada akhirnya dicerminkan oleh harga saham. 

    Misalnya, jika perusahaan X mengungkapkan perhitungan bahwa mereka akan bisa meningkatkan laba mereka lebih besar dari perkiraan awal, investor akan bergerak untuk membeli saham sebagai tanggapan atas informasi baru ini. Setelah dampak berita baik ini sudah dicerna atau “priced in” oleh pasar, maka harga saham tersebut akan lebih tenang dan stabil. Investor yang ketinggalan kereta harus mencari alasan lain jika ingin ikut memegang saham itu karena dia akan terpaksa membeli di harga yang lebih mahal. 

    Ketika realisasi atas laba perusahaan X ternyata melebihi, atau lebih rendah, dari ekspektasi, maka harga saham pun bisa naik-turun secara signifikan.

    Nah, karenanya, maka informasi orang dalam (insider information) adalah kejahatan di pasar saham. Biasanya, insider information ini berisi kabar mengenai aksi akuisisi yang dilakukan oleh satu perusahaan.

    Contoh berita akuisisi di Indonesia adalah kabar niatan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) untuk membeli PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Harga SUPR langsung melompat dari Rp7.025 per lembar menjadi Rp12.075 per lembar, alias 72%, hanya tiga hari setelah kabar itu mencuat.

    Baik TOWR dan SUPR adalah perusahaan penyedia menara telekomunikasi di Indonesia. TOWR memiliki 21.500 menara, sementara SUPR memiliki 6.400 menara. Keduanya meminjamkan menara-menara tersebut kepada provider telekomunikasi seperti Telkomsel, Indosat, XL, dan Tri.

    Tapi semakin efisien pasar dalam menyerap kabar, maka investor pun kian susah dalam memilih saham unggulannya. Sebab, mereka makin sulit mendulang untung ketika kabar baik atau kabar buruk sudah dicerna pasar (priced in). 

    Terdapat beberapa hedge fund yang memanfaatkan teknologi algoritma seperti kecerdasan rekayasa atau Artificial Intelligence yang bisa melakukan hal seperti memantau kabar di Twitter dan juga melakukan transaksi jual-beli lebih cepat dibanding manusia. Alhasil, di zaman sekarang, proses penetapan harga telah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. 

    Analis dan manajer investasi ulung perlu menggabungkan informasi-informasi layaknya mozaik. Bagi mereka, satu keping informasi (yang tentunya bisa didapatkan secara resmi) tidak bisa menjelaskan sebuah kondisi tertentu. Sehingga, mereka harus mengumpulkan dan menyusun banyak informasi serta petunjuk yang mungkin luput dari perhatian investor pada umumnya.

    Makanya, dibanding susah-susah mengumpulkan informasi di pasar, investor lebih baik menempatkan dana di indeks yang dihitung berdasarkan pembobotan kapitalisasi pasar saham di dalamnya. Dengan demikian, mereka bisa melakukan diversifikasi dengan biaya efisien dibanding memilih saham tunggal.

    Untuk mendulang imbal hasil yang lebih baik di pasar modal, Sobat Cuan harus percaya diri bahwa investor lain akan setuju dengan pandangan pasarmu yang sekarang (atau informasi milikmu yang belum diketahui investor lainnya) belum dicerna oleh investor lainnya. Pelaku pasar bisa saja kurang bereaksi terhadap informasi tertentu atau sebaliknya malah terlalu berlebihan. Namun, reaksi mereka nantinya akan muncul dengan cara yang tak bisa diprediksi.

    Seperti yang pernah dijelaskan di Investing 101, walau mungkin saja bisa mengalahkan pasar dalam jangka pendek namun dalam jangka panjang investor akan kewalahan untuk terus berhasil mengantongi informasi-informasi yang belum terlihat dan mempertahankan kemenangannya.



    Sumber : pluang.com

  • Apa Itu Perencanaan Keuangan?

    Perencanaan keuangan adalah aksi dalam mengelola keuanganmu agar kamu bisa mencapai tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga, hidup kamu nantinya akan merasa aman dari rentetan ketidakpastian yang bakal terjadi di masa depan.

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa kebutuhan finansialmu akan bertambah seiring usiamu bertambah. Hanya saja, terdapat banyak ketidakpastian seperti ketidakpastian ekonomi, politik, bahkan hingga pandemi global yang bakal menghambatmu dalam memenuhi kebutuhan. Sehingga, merencanakan keuangan sedari dini adalah langkah bijak agar kamu bisa mencapai tujuan finansial secara mulus.

    Selain itu, terdapat beberapa alasan mendasar kenapa melakukan perencanaan keuangan sangatlah bermanfaat untuk masa depan kamu.

    Manfaat Perencanaan Keuangan

    1. Bantuan Pensiun dari Kantor dan Pemerintah Terbatas

    Saat ini, mungkin kamu masih bisa menggantungkan hidup dari gaji bulananmu atau bantuan pemerintah. Hal itu lumrah saja, mengingat kamu masih berusia produktif.

    Namun, situasi tersebut akan berbeda ketika kamu menginjak usia pensiun.

    Memang, pemerintah dan lembaga jasa keuangan punya program pensiun agar kamu bisa menikmati masa tua dengan tenang. Namun, hasilnya tidak akan optimal dalam membiayai hidupmu nantinya.

    Investasi yang kurang optimal, atau krisis ekonomi yang disebabkan oleh faktor eksternal, bisa mempengaruhi kinerja investasi yang sudah kamu simpan bertahun-tahun. Apalagi, terdapat pula inflasi tinggi yang bisa menggerogoti nilai investasimu. Hal ini, tentu saja, akan menyebabkan nilai investasi kamu akan berkurang di masa depan.

    Sobat Cuan mungkin sadar bahwa kamu akan semakin rentan terpapar penyakit dan hal-hal tak terduga lainnya seiring bertambahnya usia. Akibatnya, pengeluaran kesehatanmu mungkin akan membengkak di masa depan. Memang, semuanya bisa teratasi jika kamu menggenggam polis asuransi kesehatan, tetapi manfaat yang kamu terima juga akan disesuaikan ketika kamu memasuki masa pensiun.

    Selain itu, beberapa perusahaan juga membayar uang pensiunmu secara di muka (lump sum), sehingga kamu bakal tidak punya pemasukan rutin setiap bulannya. Apalagi kalau kamu tidak pernah memiliki pengalaman dalam berinvestasi, bisa-bisa nilai investasi yang sudah kamu kumpulkan justru malah berkurang karena kamu gagal mendapatkan pendapatan bulanan dari investasimu yang dikumpulkan bertahun-tahun lamanya.

    2. Mau Merepotkan Anak Saat Hari Tua Nanti?

    Kamu yang sudah menikah, atau sudah memiliki anak, mungkin terpikir untuk menghabiskan masa tuamu bersama anak dan cucu. Niatan itu terdengar baik dan memungkinkan, apalagi jika hubunganmu dengan anakmu dekat dan hangat.

    Namun, jika kamu ingin melakukan hal tersebut, maka kamu tidak boleh sekadar numpang hidup dengan mereka! Kamu harus menyadari bahwa anakmu sudah memiliki kehidupan sendiri, yang juga sama-sama butuh biaya besar. Sehingga, ada baiknya kamu jangan membebani mereka ketika kamu menginjak masa-masa pensiun.

    Kamu harus paham bahwa mempersiapkan dana pensiun untuk dirimu sendiri juga merupakan bukti cintamu pada anak. Biarkan mereka merawatmu di masa tua tanpa perlu terbebani dengan kebutuhan finansialmu.

    3. Semakin Cepat Persiapan Dana Pensiun, Semakin Besar Uangmu di Hari Tua

    Terdapat sebuah peribahasa yang mengatakan bahwa “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”. Nah, perumpamaan serupa juga terjadi dalam berinvestasi.

    Jika kamu berinvestasi sejak dini, maka kamu akan mengakumulasi tingkat imbal hasil yang lebih besar ketimbang berinvestasi menjelang usia pensiun. Sebab, kamu tak hanya menikmati imbal investasimu, namun juga mengantongi hasil bunga majemuk dengan nilai lebih besar.

    Sebagai gambaran, anggaplah kamu berniat pensiun di usia 60. Nah, menurutmu, apakah uangmu akan lebih banyak saat kamu memulai berinvestasi di usia 25 tahun atau 30 tahun? Tentu semakin cepat kamu berinvestasi, semakin besar kesempatan kamu bisa ongkang-ongkang kaki di hari tua.

    Selain itu, imbal atas investasi dini yang kamu lakukan bisa kamu putar lagi ke instrumen investasi lain. Sehingga, akumulasi investasimu terus meningkat sekaligus memudahkanmu untuk diversifikasi aset.

    Memahami Piramida Finansial

    Nah, untuk melakukan perencanaan keuangan yang mumpuni, Sobat Cuan juga perlu memahami piramida finansial (financial pyramid). Piramida finansial adalah visualisasi yang mewakili tahapan-tahapan yang perlu kamu lakukan demi meraih kebebasan finansial. Layaknya piramida pada umumnya, piramida finansial memiliki lapisan berjenjang dari dasar hingga puncak.

    Lantas, apa saja lapisan-lapisan piramida finansial tersebut?

    1. Lapisan 1: Pengelolaan Arus Kas

    Dalam perencanaan keuangan, pengelolaan arus kas menjadi tahapan awal dan paling esensial. Dalam hal ini, kamu harus punya arus kas stabil agar bisa bertahan hidup serta memiliki dana proteksi, yang mencakup dana darurat; dana untuk bayar utang; dan dana asuransi, sebelum menyisihkan uang untuk kepentingan lainnya.

    2. Lapisan 2: Proteksi Harta

    Jika arus kasmu terbilang aman, maka hal yang perlu kamu lakukan adalah melindungi hartamu. Salah satunya adalah dengan menabung.

    Kamu perlu memilah-milah tabungan sesuai dengan kebutuhan finansialmu. Misalkan, kamu bisa membagi simpanan menjadi tabungan membeli rumah, membeli kendaraan, dan uang pensiun.

    3. Lapisan 3: Membangun Portofolio Kekayaan

    Setelah simpananmu memadai, dan kamu sudah jago mengelola arus kas, barulah kamu bisa mulai membangun portofolio investasimu.

    Pastikan aktivitas investasimu tidak mengganggu neraca keuanganmu sehari-hari. Memang sih, tidak ada salahnya berinvestasi dalam instrumen seperti saham, surat utang, kripto dan sebagainya. Tapi, pastikan dulu kebutuhanmu saat ini hingga tua nanti terpenuhi dengan baik.

    4. Lapisan 4: Menjaga Kekayaanmu

    Nah, ini adalah tahapan di mana kemandirian finansialmu dimulai. Di tahap ini, kamu tak hanya menyimpan uang untuk situasi darurat, tapi menyisihkan uang untuk pendidikan anakmu, perawatan jangka panjang, atau mungkin bersenang-senang dengan uang hasil jerih payahmu.

    5. Lapisan 5: Meninggalkan Warisan

    Kalau kamu sudah memiliki cukup harta untuk diwariskan ke anak cucu, maka selamat! Kamu sudah menduduki puncak piramida ini. Dalam tahap ini, kamu mungkin hanya tinggal bersantai dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih.

    Tertarik juga untuk nyantai di hari tua? Makanya, mulai perencanaan keuanganmu sekarang dengan investasi. Apalagi dengan berinvestasi di Pluang! Di Pluang, kamu bisa berinvestasi di emas, indeks saham AS, aset kripto, dan reksa dana hanya dalam satu aplikasi!



    Sumber : pluang.com