All posts by 09

Perbedaan Menabung di Bank vs Reksadana Berbasis Surat Utang

Berinvestasi di instrumen pasar uang dan menabung di bank memiliki risiko yang mirip. Keduanya adalah bentuk dari simpanan giro di mana kamu memiliki peran yang sama yaitu sebagai pemberi pinjaman untuk bank yang bisa ditarik kapan saja. Meski demikian, tetap saja terdapat perbedaan mendasar antara berinvestasi di instrumen pasar uang dan menabung biasa.

Berinvestasi di reksadana pendapatan tetap juga merupakan kegiatan di mana kamu juga merupakan pemberi pinjaman. 

Mari kita bandingkan kegiatan menabung di bank dengan reksadana yang berdasarkan produk surat utang.

1. Imbal Hasil

X.1 Imbal Hasil (1 Tahun) Standar Deviasi
Rekening Bank (Contoh BCA)    
Tabungan Biasa (saldo di bawah Rp500 juta dan sudah dipotong pajak) 0,03% 0%
Deposito berjangka (minimum periode tabungan 1 bulan dan sudah dipotong pajak)) 2.14% 0%
Reksadana Pasar Uang    
BNI-AM Dana Lancar Syariah 3.95% 0.27%
Reksadana Pendapatan Tetap    
Pinnacle Indonesia Bond Fund 8.52% 2.80%

*standar deviasi mencerminkan total risiko sebuah portofolio investasi (termasuk risiko sistemik atau risiko pasar) dan risiko yang berasal dari portofolio itu sendiri. Semakin tinggi standar deviasi, semakin tinggi pula risiko reksadana tersebut.

Produk tabungan dan deposito perbankan menawarkan tingkat imbal hasil tetap dalam satu jangka waktu tertentu.

Catatan: Dalam artikel ini, perbandingan dengan reksadana saham dikecualikan mengingat saham adalah kelas aset yang berbeda dibandingkan instrumen pendapatan tetap.

2. Risiko

Kamu bisa mendapatkan bunga yang lebih tinggi dari tabungan jika menempatkan dalam deposito berjangka. Sama seperti instrumen pasar uang, deposito bank memiliki risiko durasi yang kecil, atau bahkan tak punya risiko durasi sama sekali. Selain itu, deposito juga memiliki risiko gagal bayar yang rendah, atau bahkan tidak punya sama sekali, sehingga karakteristiknya mirip dengan obligasi pemerintah.

Dana masyarakat di deposito dilindungi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Artinya, jika simpananmu tidak lebih dari Rp2 miliar di bank dan mendapat bunga simpanan lebih rendah atau sama dengan bunga penjaminan LPS, maka pemerintah akan menjamin depositomu meski bank tersebut masuk status gagal bayar.

Di dalam reksadana pasar uang, dana investor ditempatkan di deposito bank yang sama-sama berisiko rendah. Kamu masih bisa mendapatkan hasil lebih tinggi dari reksadana pasar uang dibandingkan deposito. Namun, kalau kamu ingin cuan yang jauh lebih tinggi dari deposito, maka pilihan yang lebih baik bagimu adalah reksadana pendapatan tetap.

Sebab di dalam reksadana pendapatan tetap, Manajer Investasi akan menempatkan dana investor di instrumen utang berjangka panjang yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Namun, keputusan tersebut menimbulkan dua risiko, yakni risiko gagal bayar dan risiko suku bunga (dan risiko durasi karena suku bunga). 

Jika sebagian besar dana investor ditanamkan dalam obligasi pemerintah, maka reksadana pendapatan tetap tersebut memiliki risiko gagal bayar yang lebih rendah (atau bahkan tidak ada sama sekali) mengingat pemerintah pasti akan mampu melunasi utang-utangnya. Sehingga, berinvestasi di reksadana pendapatan tetap yang mayoritas penempatan dananya di obligasi pemerintah punya risiko yang relatif rendah.

Namun, jika manajer investasi menempatkan sebagian besar uang investor di obligasi korporasi, maka investor juga bisa terpapar risiko gagal bayar yang semakin tinggi apabila perusahaan mengalami kesulitan arus kas dan kegagalan usaha sehingga terpaksa gulung tikar dan tidak bisa melunasi utang-utangnya. 

Di samping itu, seluruh instrumen utang jangka panjang rentan terpapar risiko suku bunga (dan juga risiko durasi). Dengan kata lain, kenaikan suku bunga acuan akan menyebabkan harga obligasi merosot dan menciutkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap.

Makanya, memindahkan uang menganggur dari bank ke reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap yang fokus di obligasi pemerintah adalah langkah baik untukmu supaya bisa mendongkrak imbal hasil. Namun, kamu tidak disarankan untuk memindahkan uang menganggur yang aman di bank ke instrumen utang korporasi yang berisiko tinggi.

3. Perpajakan

Di Indonesia, imbal hasil reksadana bukanlah objek pajak. Seluruh NAB yang diterima investor bersifat netto lantaran manajer investasi sudah membayar pajak yang berkaitan dengan kupon obligasi, capital gain dari investasi obligasi, pendapatan bunga deposito bank, dan capital gain dari pergerakan harga saham.

Kepastian itu tertuang di dalam Undang-Undang (UU) Pasar Modal dan UU Pajak Penghasilan.

Pasal 19 UU Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal berbunyi bahwa reksadana dapat berbentuk: a) Perseroan; atau b) Kontrak Investasi Kolektif (KIK). Sementara itu, pasal 4 ayat 3 poin (i) UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan menyebut bahwa reksadana berbentuk KIK dikecualikan dari objek pajak.



Sumber : pluang.com

Investasi Langsung dalam Kelas Aset Vs Investasi di Reksadana

Sobat Cuan mungkin sudah memahami bahwa reksadana adalah sarana bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke beberapa kelas aset tanpa berinvestasi di aset-aset tersebut secara langsung. Namun, pertanyaannya, manakah cara berinvestasi yang baik bagimu? Berinvestasi di kelas aset secara langsung? Atau menggunakan reksadana?

Mungkin pemikiran pertamamu bahwa lebih baik berinvestasi langsung di kelas aset jika kamu pede bahwa kemampuanmu lebih jago ketimbang manajer investasi.

Namun pada dasarnya, ini bukan pertimbangan satu-satunya yang kamu perlu pikirkan. Mungkin pengetahuan investasimu memang mahir, tapi apakah kamu dapat bertransaksi dengan skala ekonomis? 

Nah, dalam hal ini, kamu mungkin harus mengaku kalah dari Manajer Investasi mengingat mereka bisa menciptakan rasio ongkos investasi terhadap nilai aset kelolaan (Asset Under Management) yang lebih rendah darimu. Mereka bisa melakukan hal itu lantaran mengelola dana dalam jumlah yang banyak yang dikumpulkan dari sekian banyak investor. 

Berikut adalah keunggulan investasi reksadana dibandingkan investasi langsung dalam kelas aset.

1. Risk-Adjusted Return Pasar Uang dan Pendapatan Tetap Lebih Baik Melalui Reksadana

Apabila kamu ingin berinvestasi dalam pasar uang dan pendapatan tetap, hampir tidak mungkin bahwa kamu dapat menyaingi kemampuan Manajer Investasi dalam mengelola risiko, tingkat imbal hasil, dan tingkat likuiditas. Surat utang pemerintah atau perusahaan pada umumnya diterbitkan dalam satuan Rp1 miliar per unit obligasinya. Kamu akan kewalahan membangun portofolio terdiversifikasi yang setara dengan manajer investasi, kecuali jika kamu memiliki modal lebih dari Rp30 miliar. Reksadana pendapatan tetap memungkinkan kamu untuk memiliki akses ke pendapatan tetap tanpa terhambat nilai modal awal ini.

Selain itu, menempatkan uang di reksadana pasar uang juga merupakan ide yang lebih baik apabila pilihan alternatif mendulang cuan yang tersisa bagimu selama ini hanyalah dari menabung di bank.

Seperti yang kamu tahu, pendapatan bunga dari bank terbilang mini, bahkan bisa saja kamu tidak mendapatkan pendapatan bunga sama sekali. Ditambah lagi, kamu pun dibebani biaya administrasi yang tinggi, sehingga menabung di bank bisa-bisa bikin kamu rugi. Menurut The Jakarta Post, kamu baru bisa untung dalam menabung jika memiliki saldo di atas Rp15 juta di rekeningmu. Sehingga lebih baik bagimu untuk memarkirkan dana di reksadana pasar uang yang menawarkan imbal lebih tinggi. 

Jika kamu ingin dapat cuan yang lebih mantap, kamu bisa memilih berinvestasi di reksadana pendapatan tetap. Ini pilihan yang bisa diambil apabila kamu siap menunggu lebih dari satu hari kerja saat kamu memutuskan untuk mencairkan reksadana pendapatan tetap.

Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi akan mengalokasikan dana investor ke instrumen utang jangka panjang. Semakin panjang tenor instrumen utang, maka risiko durasi pun akan semakin tinggi. Perusahaan penerbit harus menawarkan kupon yang lebih tinggi untuk mempermanis obligasinya sehingga aset tersebut mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih baik.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, investor individu dengan modal investasi di bawah Rp30 miliar tidak mampu melakukan diversifikasi aset dan mencapai skala ekonomis yang setara dengan manajer investasi. Investasi langsung di obligasi hanya mampu dilaksanakan orang super kaya, investor institusi dan manajer investasi. 

Memindahkan dana dari rekening bank ke reksadana pendapatan tetap dan pasar uang adalah cara mudah bagimu untuk meningkatkan imbal hasil dengan sedikit saja kenaikan risiko. Yang perlu diingat adalah memastikan bahwa kas cadangan tetap cukup di saldo tabunganmu untuk menutupi kebutuhan tiga hingga lima hari ke depan karena pencairan reksa dana membutuhkan beberapa hari kerja.

Pluang telah bekerja sama dengan PT UOB Asset Management untuk menciptakan reksadana pasar uang dan pendapatan tetap eksklusif di aplikasi Pluang. Melalui produk reksadana ini, tim UOB akan menempatkan dana investor di deposito bank, obligasi pemerintah, dan obligasi terbitan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang dipercaya bisa membantu investor meningkatkan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return).

2. Reksadana Saham Lebih Efisien Ketimbang Investasi Saham

Hal ini bisa terjadi karena manajer investasi bisa menciptakan skala ekonomis tinggi dalam melakukan riset dan trading. Mereka bisa melakukannya karena mereka memiliki tim riset dan analis dengan jam terbang tinggi untuk meneliti semua aspek dari pasar saham. Dengan reksadana saham, kamu bisa mendapatkan eksposur ke beberapa nama di pasar saham secara murah tanpa banyak pemikiran dan tenagamu sendiri dibandingkan kamu sendiri yang terjun ke pasar saham dan memilah-milah saham dan sektor.

3. Reksadana Saham Pasif Sebagai Sarana ‘Diversifikasi Murah’

Reksadana “pasif” atau produk Exchange-Traded Fund (ETF) mungkin adalah jalan termurah (dan termudah) bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke pasar saham. 

Investor bisa berinvestasi di reksadana yang nilainya mengikuti kinerja indeks saham (index tracking fund) jika mereka ingin mendapatkan eksposur dari performa pasar secara menyeluruh. Salah satu contohnya adalah produk  BNI-AM Indeks IDX30 di mana komposisi reksadana akan terus mengikuti pembobotan nilai kapitalisasi saham yang bebas diperdagangkan untuk umum (free float market capitalization).

4. Reksadana ‘Aktif’ Berfokus Untuk Mengalahkan Kinerja Pasar Modal

Dalam mengelola reksadana yang dikelola secara aktif, manajer investasi berfokus untuk menempatkan dana investor di perusahaan-perusahaan dan sektor ekonomi spesifik. Tujuannya, agar kinerjanya bisa mengalahkan performa pasar modal secara keseluruhan. Dalam mengelola reksadana “aktif”, manajer investasi akan menggabungkan analisis teknikal dan fundamental untuk “memilih pemenangnya”.

Biasanya, “pemenang” tersebut adalah saham-saham terbitan perusahaan berkinerja baik namun harga sahamnya lebih rendah dibanding potensi sesungguhnya. Manajer investasi yakin bahwa pertumbuhan nilai saham-saham tersebut mampu mengalahkan rata-rata kinerja pasar modal di masa depan.

Mending Investasi Saham Tunggal atau Reksadana Saham?

Kapan membeli saham tunggal adalah pilihan baik untukmu?

Kamu bisa membeli saham tunggal jika kamu senang membaca perkembangan terkini soal perusahaan, mengikuti pergerakan pasar harian, dan yakin bahwa informasi yang kamu cerna bisa membawamu mendulang cuan yang lebih baik dari rata-rata imbal hasil di pasar modal. Ibaratnya, bagimu mengamati harga saham sebuah perusahaan adalah hal yang seru layaknya menyerap semua kabar dan informasi tim olahraga favorit.

Membeli saham-saham tunggal juga memungkinkanmu untuk fokus menaruh uang di suatu industri atau perusahaan yang tertentu dan terus menyeimbangkan komposisi portofolio sesuai dengan kabar terbaru dan keputusanmu sehingga kamu memiliki kendali penuh atas investasimu.

Kapan membeli reksadana saham adalah pilihan baik untukmu?

Pada umumnya, jika kamu mencari produk investasi yang kinerjanya mengikuti performa indeks saham, kamu bisa berinvestasi di reksadana yang mengikuti indeks saham. Selain itu, berinvestasi di reksadana indeks seharusnya menjadi sumber diversifikasi yang murah bagimu ketimbang membeli saham tunggal. Sebab, kamu tentu memerlukan portofolio berukuran besar agar bisa melakukan diversifikasi secara efisien.

Namun kamu juga bisa berinvestasi di reksadana saham jika kamu yakin bahwa strategi investasi milik manajer investasi tertentu bisa mengantarmu mendulang cuan. Menaruh dana di produk tersebut bisa menjadi cara efisien bagimu untuk melancarkan strategi tersebut dibanding menirunya. Terlebih, kamu pasti perlu melaksanakan riset yang dalam sebelum bisa meniru strategi sang manajer investasi tersebut.



Sumber : pluang.com

3 Strategi Mudah Investasi Reksadana

Sobat Cuan bisa memanfaatkan produk reksadana Pluang untuk memperkuat portofolio investasimu. Berikut adalah tiga strateginya!

1. Strategi Dollar Cost Averaging 

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi terbaik bagi investor awam ketika baru memulai investasi di reksadana. Taktik DCA bukan saja memupuk kebiasaan baik dalam berinvestasi namun juga memberikan kesempatan bagi investor untuk mengumpulkan aset saat harganya sedang turun. Kebiasaan menyisihkan dana secara rutin adalah batu pijakan yang baik untuk semua strategi investasi jangka panjang. 

Jika kamu adalah investor pemula, maka kamu bisa melakukan strategi DCA dengan berinvestasi ke beberapa produk reksadana. Salah satu strategi yang bisa memaksimalkan imbal adalah dengan mengalokasian sebagian dari gaji bulananmu, misalnya sekitar 20%, ke berbagai produk reksadana.

Bahkan, kamu pun bisa memilih untuk lebih agresif berinvestasi reksadana dengan menempatkan sebagian besar gaji bulanan misalnya 70% namun ke produk reksadana yang berisiko lebih rendah, seperti reksadana pasar uang dan pendapatan tetap. Kamu bisa menaruh 30% sisanya di rekening bank untuk keperluanmu sehari-hari. 

2. Pindahkan Tabungan Bank ke Reksadana UOBAM Dana Membangun Negeri di Pluang

Kamu pasti menyimpan uangmu di bank karena menganggap bahwa ini memudahkanmu untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Namun dengan perencanaan anggaran yang matang, kamu akan semakin mengatur belanja dan pengeluaran dengan cermat yang akhirnya menghasilkan lebih banyak dana menganggur di rekening bank.

Uang yang diparkir di tabungan perbankan hanya memberikan imbal hasil yang sangat kecil. Daripada memarkirkan dana nganggur di rekening bank, mengapa kamu tidak menyimpannya saja di reksadana pendapatan tetap UOBAM Dana Membangun Negeri (UDARI) di Pluang? Kamu bisa membandingkan tingkat efektif pengembalian satu tahun yang sudah dipengaruhi bunga majemuk atau Annual Percentage Yield (APY) dari reksadana UDARI dibandingkan dengan deposito serta tabungan melalui tabel di bawah ini:

Source: Bank Indonesia (per July 2021); UOBAM (per September 2021).

Dari tabel di atas, Sobat Cuan bisa melihat bahwa kemungkinan tingkat imbal hasil reksadana pendapatan tetap UDARI sebesar 6% hingga 12% per tahun. Sedangkan, jika kamu menabung di deposito, maka kamu menerima pendapatan bunga yang pasti, namun kisarannya hanya 2,68% hingga 2,75% per tahun. Kamu bahkan hanya akan menerima pendapatan bunga sebesar 0,5% hingga 0,68% per tahun jika menempatkan dana di tabungan.

Anggaplah kamu berinvestasi Rp10 juta di reksadana UDARI dan tiap bulannya menambah Rp 1 juta ke dalam aset tersebut selama 5 tahun. Lantas, berapa nilai uangmu di tahun ke-lima? Dan bagaimana perbandingannya jika kamu malah menaruhnya di tabungan atau deposito?

Kamu bisa menemukan jawabannya di grafik berikut untuk melihat bagaimana efek majemuk untuk ketiga pilihan di atas.

Setelah tahun kelima, nilai reksadana pendapatan tetap akan mencapai Rp 98 juta berkat efek majemuk. Ini lebih tinggi dibandingkan di tabungan atau deposito di mana simpananmu hanya akan “berkembang” menjadi Rp71 juta dan Rp77 juta.

Bahkan, jika kamu rutin berinvestasi di UDARI selama 25 tahun mendatang, dengan asumsi tingkat imbal yang sama selama 25 tahun,  maka uangmu bisa berkembang mendekati Rp2 miliar! Di sisi lain, menaruh uang  di tabungan dan deposito selama periode waktu yang sama hanya akan menghasilkan dana di kisaran Rp200 juta hingga Rp400 juta saja.

Dana yang kamu tempatkan di UOBAM Dana Membangun Negeri akan dialokasikan di obligasi pemerintah dan obligasi yang diterbitkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang umumnya cenderung berisiko lebih rendah dibanding obligasi korporat. Namun perlu kamu perhatikan bahwa jika kamu ingin mencairkan reksadana UOBAM Dana Membangun Negeri, maka diperlukan dua-tiga hari kerja bursa (jadi di luar Sabtu-Minggu dan hari libur bersama) sebelum dana tersebut masuk ke rekeningmu.

3. Diversifikasi dengan Murah

Strategi berikutnya adalah menggunakan reksadana sebagai produk diversifikasi portofoliomu.

Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah menentukan porsi alokasi aset di dalam portofoliomu. Berikut contoh target alokasi aset yang bisa diambil seorang investor pemula  yang memiliki profil risiko moderat:

Anggaplah kamu memiliki uang Rp10 juta untuk investasi. Kamu bisa menempatkan Rp2,5 juta di reksadana pendapatan tetap UDARI di Pluang dan membenamkan Rp1,5 juta sisanya di reksadana saham Batavia Dana Saham. Dengan demikian kamu telah dengan cepat dan efisien sudah menyusun 40% dari portofoliomu yang terdiri dari pendapatan tetap (fixed income) dan saham Indonesia (IDX equity).

Bahkan kamu bisa lebih lagi mengembangkannya dan juga melakukan diversifikasi secara murah ke kelas aset lain misalnya berinvestasi yang mengikuti kinerja aset saham di Amerika Serikat dengan produk S&P 500 Index di Pluang. 

Berinvestasi reksadana adalah cara mudah dan kilat untuk mendapatkan eksposur terhadap satu kelas aset tertentu. Di samping itu, menempatkan uang di reksadana akan bikin kamu leluasa untuk fokus mengamati kinerja beberapa aset yang tengah kamu gandrungi. Misalnya jika kamu sangat tertarik akan kripto namun juga ingin memiliki eksposur terhadap saham Indonesia. Dengan memilih reksa dana seperti Batavia Dana Saham, kamu sekarang lebih bebas untuk meluangkan waktu untuk aktif mengamati nama-nama jagoanmu di dunia kripto yang mungkin kamu rasa bisa naik harganya 10 kali namun tetap menikmati kinerja di dunia saham.



Sumber : pluang.com

Biaya-Biaya Investasi Reksadana

Seperti investasi lain pada umumnya, terdapat beberapa biaya dalam proses investasi reksadana. Secara umum, terdapat dua jenis biaya reksadana yang dapat dibedakan menurut pihak yang menanggung biaya tersebut: Biaya yang ditanggung reksadana dan biaya yang ditanggung oleh investor.

Biaya yang Ditanggung Reksadana

Beberapa jenis biaya yang harus dibayar wadah reksadana terdiri dari:

  1. Biaya manajemen
    Manajer Investasi dan timnya akan mengenakan investor sejumlah biaya sebagai balas jasa pengelolaan dana. Beberapa produk bisa dikenakan biaya transaksi lebih tinggi dibandingkan produk lainnya. 
  2. Biaya kustodian
    Selanjutnya adalah biaya yang dikenakan oleh bank kustodian. Bank kustodian berfungsi dalam pengurusan administrasi, penjagaan serta tempat penitipan aset yang dimiliki oleh reksa dana tersebut. Lembaga ini hadir untuk memastikan bahwa dana investor tetap aman dalam situasi apapun. Sehingga, misalkan jika Manajer Investasi (MI) terpaksa tutup dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk memindahkan dana investornya ke MI lain, maka aset dan himpunan dana investor dipastikan akan tetap aman karena dititipkan ke bank kustodian.
  3. Biaya audit tahunan reksadana
    Karena reksa dana dipasarkan terbuka untuk masyarakat umum,  maka kinerjanya harus diaudit oleh auditor independen. Manajer Investasi wajib merilis laporan keuangan reksadana yang telah diaudit ini setiap tahunnya.
  4. Biaya penggunaan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST).
    Investor biasanya menggunakan indikator NAB per unit sebagai acuan untuk menentukan harga sebuah produk reksadana. NAB per unit biasanya ditampilkan secara netto, alias sudah dikurangi oleh beban-beban di atas, sehingga investor sudah membayar biaya-biaya tersebut secara tidak langsung mengingat seluruh komponen sudah diikutsertakan di dalam NAB reksadana.

Investor menggunakan indikator Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit sebagai acuan harga suatu reksadana. NAB per unit biasanya ditampilkan secara bersih alias sudah dikurangi oleh beban-beban di atas, sehingga investor sudah membayar biaya-biaya tersebut secara tidak langsung.

Apabila Sobat Cuan tertarik untuk melihat seberapa besar komponen biaya-biaya reksadana terhadap total aset kelolaan atau Asset Under Management (AUM), maka kalian bisa menemukannya dalam fund fact sheet reksadana.

Biaya yang Ditanggung Investor

Biaya-biaya yang perlu ditanggung investor meliputi:

  1. Biaya pembelian (subscription fee)
    Biaya subscription adalah biaya yang dikenakan kepada investor ketika membeli sebuah produk reksadana. Nilai biaya subscription di Indonesia rata-rata sebesar 0% hingga 5% dari setiap pembelian unit penyertaan reksadana, tergantung kebijakan masing-masing perusahaan aset manajemen. Pengenaan biaya ini ditujukan untuk mendorong investor untuk melakukan investasi dalam jangka panjang (bukan jangka pendek) agar mendapatkan imbal hasil optimal.
  2. Biaya penjualan (redemption fee)
    Investor juga akan dibebankan biaya ketika ia ingin menjual produk reksadananya. Rata-rata biaya redemption di Indonesia berkisar antara 0% hingga 3% dari setiap penjualan unit penyertaan reksadana. Pengenaan biaya ini juga ditujukan supaya investor melakukan investasi dalam jangka panjang (bukan jangka pendek) agar mendapatkan imbal hasil optimal. Beberapa Manajer Investasi meniadakan biaya penjualan apabila investor sudah melewati waktu yang cukup lama sejak pembelian. 
  3. Biaya perbankan yang berkaitan dengan transaksi reksadana.

Seluruh biaya yang ditanggung investor dalam investasi reksadana adalah ongkos yang timbul akibat kegiatan jual-beli unit reksadana. Kendati demikian, investor yang berinvestasi reksadana di Pluang tak perlu khawatir, sebab mereka bisa melakukan transaksi pembelian dan penjualan reksadana tanpa dibebankan biaya apapun.

Berikut adalah tabel mengenai komponen biaya di setiap produk reksadana di aplikasi Pluang:

Biaya Produk Reksadana Pasar Uang di Pluang

Jenis Biaya UOB Dana Rupiah (Eksklusif di Pluang) Batavia Dana Kas Maxima Bahana Dana Likuid BNI-AM Dana Lancar Syariah
Biaya Manajer Investasi Maks. 2,25% Maks. 2% Maks. 2% Maks. 1%
Biaya Kustodian Maks. 0,15% Maks. 0,125% Maks. 0,25% Maks. 0,15%

Biaya Produk Reksadana Saham & Campuran di Pluang

Jenis Biaya Reksadana Saham   Reksadana Campuran  
  Batavia Dana Saham Batavia Dana Saham Syariah Syailendra Balanced Opportunity Fund BNI-AM Dana UGM Progressive fund
Biaya Manajer Investasi Maks. 3% Maks. 3% Maks. 2,5% Maks. 2,99%
Biaya Kustodian Maks. 3% Maks. 0,2% Maks. 0,25% Maks. 0,25%

Biaya Setiap Produk Reksadana Pendapatan Tetap Di Pluang

Jenis Biaya UOB Dana Membangun Negeri (Eksklusif di Pluang) Batavia Dana Obligasi Ultima Pinnacle Indonesia Bond Fund BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara Syailendra Pendapatan Tetap Premium Bahana MES Syariah BNI-AM Ardhani Pendapatan Tetap Syariah
Biaya Manajer Investasi Maks. 2.5% Maks. 2% Maks. 2% Maks. 1,5% Maks. 2% Maks. 4% Maks. 1,5%
Biaya Kustodian Maks. 0.15% Maks. 0,125% Maks. 0,25% Maks. 0,09% Maks 0,15% Maks 0,25% Maks 0,15%

Mengapa Beberapa Reksadana Membebankan Biaya Tinggi?

Reksadana akan membebankan biaya yang lebih tinggi kepada investor jika mereka merasakan bisa meningkatkan imbal hasil atau imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return). Hal ini terjadi bukan saja di industri reksa dana namun sikap ini juga terlihat di industri lain yang bergerak dalam jasa pengelolaan dana investasi. 

Ini umumnya terlihat pada reksadana yang dikelola secara aktif (actively managed investment fund), di mana dana investor secara aktif dikelola dengan memilih beberapa perusahaan atau sektor yang diyakini akan menunjukkan hasil lebih tokcer dan mengalahkan kinerja pasar secara keseluruhan. Perusahaan manajemen investasi menyatakan bahwa untuk memperoleh hasil tersebut, mereka membutuhkan kerja keras, keahlian dan proses analisis yang lebih cermat dengan mengumpulkan lebih banyak data dan keterangan. Sehingga mereka memerlukan untuk mengeluarkan biaya yang lebih tinggi  untuk “memilah-milah” instrumen yang berkinerja mumpuni tersebut, yang akan kemudian diteruskan ke investor.

Sebagai contohnya, Sobat Cuan bisa menyimak tabel di bawah ini. Perlu dicatat bahwa rasio beban (expense ratio) = (biaya manajemen + biaya kustodian) / rata-rata Nilai Aktiva Bersih reksadana dalam setahun.

Perbandingan Biaya Produk Reksadana

per 31 Agustus 2021

Nama Reksadana Rasio Beban Imbal Hasil 1 Tahun Imbal Hasil 3 Tahun
Batavia Dana Obligasi Ultima 1.38 6.63 22.39
BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara 1.28 1.54 11.27



Sumber : pluang.com

Produk Reksadana Apa Saja yang Ada di Pluang?

Sobat Cuan bisa menemukan dan memilih 15 produk reksadana di Pluang. Berikut adalah 15 produk reksadana yang disusun berdasarkan jenis-jenisnya!

Produk Reksadana di Aplikasi Pluang

Reksadana Saham

  1. Batavia Dana Saham
  2. Batavia Dana Saham Syariah 

Sobat Cuan bisa membaca penjelasan masing-masing produk berikut nilai kelolaannya, dan kinerjanya selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir (per 31 Agustus 2021) dalam tabel berikut:

Reksadana Saham di Pluang

Nama Produk Penjelasan Nilai Dana Kelolaan (AUM) Return 1 Tahun Return 3 Tahun Return 5 Tahun
Batavia Dana Saham Reksa dana yang dikelola secara aktif dengan fokus pada saham-saham unggulan dan berkapitalisasi pasar besar (lebih dari 50%) di IHSG. Pemilihan tema dan sektor untuk dana ini disesuaikan dengan dinamika serta perkembangan pasar terkini. Rp6,15 triliun 7.44 -9.07 0.17
Batavia Dana Saham Syariah Reksa dana yang dibentuk dan dikelola sesuai dengan prinsip syariah. Dana investor hanya ditempatkan pada saham yang ada di Daftar Efek Syariah yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional. Selain itu, investasi juga berfokus pada saham-saham Syariah unggulan dan memiliki fundamental kuat. Rp134 miliar 1.02 -15.48 -22.31

Reksadana Pendapatan Tetap

  1. UOBAM Dana Membangun Negeri (eksklusif hanya di Pluang)
  2. Batavia Dana Obligasi Ultima 
  3. Pinnacle Indonesia Bond Fund
  4. BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara
  5. Syailendra Pendapatan Tetap Premium
  6. Bahana MES Syariah
  7. BNI-AM Ardhani Pendapatan Tetap Syariah

Sobat Cuan bisa membaca penjelasan masing-masing produk berikut nilai kelolaannya, dan kinerjanya selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir (per 31 Agustus 2021) dalam tabel berikut:

Nama Produk Penjelasan Nilai Dana Kelolaan (AUM) Return 1 Tahun Return 3 Tahun Return 5 Tahun
UOBAM Dana Membangun Negeri Reksa dana yang dikelola secara aktif dan fokus pada instrumen surat utang pemerintah dan surat utang Badan Usaha Milik Negara berkualitas tinggi. Rp24 miliar
Batavia Dana Obligasi Ultima Reksa dana yang dikelola secara aktif di mana 70% penempatan dana di obligasi pemerintah dan sisanya di obligasi korporasi, sehingga potensi imbal hasilnya menarik dan berlikuiditas tinggi. Strategi pengelolaan portofolio dialokasikan ke obligasi bertenor pendek (3-4 tahun) dan porsi portofolio dinamis mengikuti perkembangan pasar. Rp729 miliar 6.63 22.39  
Pinnacle Indonesia Bond Fund Reksa dana yang dikelola secara aktif dengan alokasi ke obligasi dan deposito. Untuk obligasi, 80% penempatan dana condong ke obligasi pemerintah dan sisanya ke infrastruktur. Sementara kriteria untuk pasar uang/deposito adalah bank dengan rasio pinjaman bermasalah (NPL) kurang dari 3%. Rp62 miliar 8.39 32.84
BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara Reksa dana yang dikelola aktif dengan alokasi ke surat utang korporat jangka pendek (rata-rata 2-3 tahun) agar nilai return dan NAB stabil. Seluruh return reksa dana seutuhnya milik investor dan sebagian biaya pengelolaannya didedikasikan untuk pengembangan pendidikan di Universitas Indonesia. Rp95 miliar 1.54 11.27
Syailendra Pendapatan Tetap Premium Reksa dana yang dikelola aktif dan fokus pada obligasi korporasi berjangka pendek dan berperingkat tinggi dari sektor telekomunikasi, bahan baku, dan finansial, sehingga memiliki volatilitas rendah dan menghasilkan return yang lebih tinggi dibanding obligasi negara. Selain itu, 0 hingga 15% dana juga dialokasikan ke ekuitas pendorong yang merupakan saham New Economy (contoh: finansial, teknologi, media, e-commerce, dll). Rp409,57 miliar 5.88 35.44
Bahana MES Syariah Reksa Dana ini dikelola secara aktif di mana 94% alokasi dana ditempatkan ke obligasi negara syariah/sukuk dan 6% pada deposito bank BUKU 3. Rp90,69 miliar 7.09 31.38
BNI-AM Ardhani Pendapatan Tetap Syariah Reksa dana ini dikelola secara aktif dan menghasilkan return yang didasarkan pada prinsip-prinsip investasi syariah. Dana dialokasikan ke Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang tidak memiliki risiko gagal bayar (default). Dengan durasi portofolio rata-rata lebih dari 5 tahun, return yang dihasilkan lebih optimal bagi investor jangka menengah dan jangka panjang. Rp125 miliar 9.56 40.71  

*Angka return berdasarkan data kinerja historis yang dihitung dari tanggal peluncuran produk reksadana tersebut.

Reksadana Pasar Uang

  1. UOBAM Dana Rupiah (eksklusif hanya di Pluang)
  2. Batavia Dana Kas Maxima
  3. Bahana Dana Likuid
  4. BNI-AM Dana Lancar Syariah

Sobat Cuan bisa membaca penjelasan masing-masing produk berikut nilai kelolaannya, dan kinerjanya selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir (per 31 Agustus 2021) dalam tabel berikut:

Reksadana Pasar Uang Di Pluang

Nama Produk Penjelasan Nilai Dana Kelolaan (AUM) Return 1 Tahun Return 3 Tahun Return 5 Tahun
UOBAM Dana Rupiah Reksa dana yang dikelola secara aktif dengan fokus penempatan 80% dana di deposito perbankan dan instrumen surat utang berkualitas tinggi. Rp16 miliar
Batavia Dana Kas Maxima Reksa dana yang dikelola secara aktif di mana 50% penempatan dana di deposito bank-bank berkinerja baik dan 50% di obligasi bertenor di bawah 1 tahun (mayoritas obligasi pemerintah dan obligasi korporasi peringkat AAA). Namun, porsi penempatan dana berubah mengikuti dinamika pasar. Kombinasi pilihan alokasi aset dan tenor pendek membuat potensi return-nya menarik serta likuiditas tinggi. Rp7,08 triliun 3.44% 4.76% 4.95%
Bahana Dana Likuid Reksa dana ini dikelola secara aktif di mana 90% alokasi dana ditujukan ke deposito bank kategori BUKU 2 & 3. Sementara obligasi yang dipilih adalah obligasi dengan peringkat minimal single-A. Rp5,45 triliun 3.71% 15.93% 29.88%
BNI-AM Dana Lancar Syariah Reksa dana ini dikelola secara aktif dan diawasi Dewan Pengawas Syariah. Seluruh portofolio ditempatkan pada instrumen pasar uang syariah dari bank-bank syariah besar yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan sukuk dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun, yang juga memiliki rating tinggi untuk meminimalkan risiko. Dengan kualitas portofolio yang baik, BNI-AM Lancar Syariah dapat memberikan return yang stabil dan optimal serta pencairan dana yang cepat bagi investor. Rp260 miliar 4.12% 15.28% 27.92%

Reksadana Campuran

  1. Syailendra Balanced Opportunity Fund
  2. BNI-AM UGM Progressive Balanced

Sobat Cuan juga bisa membaca penjelasan produk reksadana, nilai dana kelolaannya, dan kinerjanya selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir (data per 31 Agustus 2021).

Reksadana Campuran di Pluang

Nama Produk Penjelasan Nilai Dana Kelolaan (AUM) Return 1 Tahun Return 3 Tahun Return 5 Tahun
Syailendra Balanced Opportunity Fund Reksa dana campuran yang dikelola secara aktif dan berfokus pada sektor New Economy, yaitu sektor yang fokus pada pertumbuhan digital atau adaptasi teknologi baru (finansial, teknologi, media, e-commerce, dll). Reksa dana ini juga memiliki fleksibiltas tinggi (~2-75%) untuk alokasi antar kelas aset ekuitas, pendapatan tetap, dan pasar uang. Untuk meminimalkan volatilitas, SBOF juga berinvestasi pada obligasi korporasi jangka pendek yang memiliki peringkat yang bagus, serta pada pasar uang. Rp206,82 miliar 40.18% 40.28% 42.79%
BNI-AM UGM Progressive Balanced Reksa dana yang dikelola aktif di mana dana ditempatkan di berbagai kelas aset seperti saham, obligasi, dan pasar uang. Sebagian biaya manahemen didedikasikan untuk pengembangan pendidikan di Universitas Gajah Mada. Kelebihan reksa dana ini adalah fleksibilitas untuk menyeimbangkan alokasi antar aset. Rp31 miliar 9.21% 26.69% 34.23%

Kenapa Pluang Menawarkan Pilihan Produk Reksadana Terbatas?

Pluang percaya bahwa diversifikasi merupakan hal yang penting dan perlu dilakukan dalam investasi. Diversifikasi umumnya dicapai dengan memperoleh eksposur dari beberapa kelas aset, bukan dari kepemilikan beberapa produk reksadana yang semuanya diisi kelas aset yang sama. 

Di Indonesia, produk reksadana bisa menempatkan dana investor di tiga kelas aset: instrumen pasar uang (instrumen utang jangka pendek), instrumen pendapatan tetap (instrumen utang jangka panjang), dan saham. Penting  untuk memiliki beberapa pilihan dalam tiap kelas aset agar investor bisa mendapatkan akses ke aset-aset yang memiliki perbedaan sifat dalam tiap kelas aset. 

Sebagai contoh, di dalam investasi instrumen pendapatan tetap, investor akan mendulang manfaat maksimal jika mereka dapat mempertimbangkan pilihan baik untuk surat utang berisiko rendah (misalnya obligasi pemerintah berperingkat tinggi) maupun  instrumen utang korporasi (dengan peringkat utang yang lebih rendah) yang memiliki risiko gagal bayar lebih tinggi namun juga menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. 

Pluang merasa bahwa investor cukup memilih sekitar 5 produk reksa dana dengan gaya yang berbeda dan mereka sudah bisa menangkap secara penuh spektrum risiko dan imbal hasil dalam tiap kelas aset.

Terlalu banyak pilihan produk reksadana bukanlah hal yang baik bagi investor. Sebagai contoh, jika investor diberikan daftar yang berisi 40 jenis reksadana pendapatan tetap, belum tentu ini akan menguntungkan si investor. Sebaliknya, dia malah ujung-ujungnya semakin bingung dan menghabiskan waktu untuk memilih mana yang dirasakan terbaik di antara 40 produk reksadana yang berada dalam kelas aset yang sama. 

Lebih parahnya lagi, investor akan terjebak dalam “diversifikasi semu” karena ia merasa memiliki produk dengan nama yang berbeda. Namun pada dasarnya jenis aset yang ia miliki secara fundamental memiliki kesamaan dan penambahan produk tidak akan mendongkrak imbal hasil atau  mengurangi risiko investasinya. Portofolio seorang investor yang memiliki 100 produk reksadana namun semuanya merupakan pendapatan tetap tentu tidak bisa dibilang telah terdiversifikasi jika dibandingkan portofolio lain yang mencakup pendapatan tetap, emas, dan saham.

Jebakan  “diversifikasi semu” merupakan hal yang Pluang ingin cegah. Oleh karenanya, Pluang telah memilih secara cermat dan teliti  produk reksa dana yang kami tawarkan supaya dapat memberikan cukup pilihan namun agar SobatCuan juga tetap bisa fokus untuk melakukan diversifikasi portofolio. 



Sumber : pluang.com

Cara Berinvestasi Reksadana Efektif di Aplikasi Pluang

Aplikasi Pluang memungkinkan kamu untuk mendapatkan eksposur terhadap berbagai jenis kelas aset (emas, instrumen pendapatan tetap, instrumen pasar uang, pasar modal, dan aset kripto) secara praktis, murah, dan efektif.

Langkah pertama: Tentukan target untuk alokasi aset. Berdasarkan riset Pluang, portofolio investasi dengan profil risiko moderat dapat terlihat seperti ini:

Langkah kedua: Tentukan kelas aset mana saja yang ingin kamu kelola secara langsung. Misalnya, aset-aset yang ingin kamu pilih dan kelola secara aktif versus aset-aset mana saja yang ingin kamu serahkan ke manajer investasi.

Langkah ketiga: Gunakan produk reksadana di Pluang untuk mendapatkan eksposur ke instrumen pendapatan tetap dan saham domestik, seperti yang diperlihatkan di gambar berikut.

 

Ketika kamu berinvestasi di instrumen pendapatan tetap, maka kamu harus menentukan tingkat risiko yang siap diterima. Kamu bisa memilih reksadana pendapatan tetap dari Pluang dan PT UOB Asset Management, UOB Dana Membangun Negeri (UDARI), jika lebih menyukai reksadana berisiko rendah karena reksadana ini mengalokasikan dana dalam obligasi milik BUMN.

Namun, jika kamu tetap nyaman dengan resiko yang lebih tinggi , maka kamu bisa memilih reksadana yang memiliki penempatan dana lebih banyak dalam instrumen utang korporasi berimbal hasil tinggi. Contohnya adalah Pinnacle Indonesia Bond Fund. 

Di sisi lain, kamu juga bisa memilih reksadana saham yang cocok dengan tujuan serta gaya berinvestasimu. Di Pluang, kamu bisa memilih dua produk reksadana saham unggulan, yakni Batavia Dana Saham dan Batavia Dana Saham Syariah.

Sekarang kamu telah memiliki eksposur dalam saham Indonesia dan pendapatan tetap namun kamu bisa lebih santai karena aset ini dalam pengelolaan Manajer Investasi. Ini akan memberikan kamu lebih banyak waktu untuk memperhatikan investasi di kelas aset yang kamu kelola secara “aktif”, seperti aset kripto dan saham-saham global.



Sumber : pluang.com

Risiko Reksadana Pendapatan Tetap dan Pasar Uang

Produk di pasar uang dan pendapatan tetap adalah bentuk dari instrumen utang. Keduanya merupakan bentuk janji peminjam untuk melunasi bunga pinjaman dan pokok hutang kepada sang pemberi pinjaman.

Meski berkarakteristik serupa, namun reksadana pasar uang dan pendapatan tetap memiliki satu perbedaan mendasar. Yakni, tenor atau jangka waktu jatuh tempo instrumen utang yang digunakan sebagai aset dasarnya (underlying asset).

Di dalam reksadana pasar uang, manajer investasi mengalokasikan dana di instrumen utang dengan masa tenggat di bawah satu tahun. Sedangkan di reksadana pendapatan tetap, manajer investasi akan menempatkan dana di instrumen obligasi yang jatuh tempo setelah 1, 3, 5, 7, 10, dan 20 tahun kemudian.

Karena memiliki tenggat waktu yang lebih lama, maka obligasi atau instrumen pendapatan tetap memiliki risiko lebih tinggi dibanding instrumen jangka pendek yang di pasar uang. 

Berikut ini adalah beberapa risiko yang terkait dengan investasi di instrumen utang.

Risiko Investasi Instrumen Utang

1. Risiko Kredit atau Risiko Gagal Bayar

Ketika berinvestasi di instrumen pendapatan tetap atau obligasi, investor akan memperoleh pembayaran bunga yang tetap secara rutin sampai waktu jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo, sang investor akan kembali dibayarkan pokok investasinya.

Tetapi terdapat resiko bahwa si penerbit obligasi tidak selalu patuh terhadap jadwal pembayaran bunga ataupun pokok pinjaman. Bahkan bisa jadi sang penerbit surat utang tidak sanggup membayar bunga dan pokok pinjamannya sama sekali. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai risiko gagal bayar.  

Investor bisa menaksir kemungkinan gagal bayar dari sebuah obligasi dengan melihat peringkat utang sang obligor. Laporan peringkat utang korporasi diterbitkan setiap bulan atau triwulan oleh suatu lembaga pemeringkat utang seperti Standard & Poor dan Moody’s. Lembaga ini memberikan penilaian mereka akan kemampuan suatu perusahaan untuk membayar suatu jenis obligasi yang mereka terbitkan. Semakin baik peringkatnya, maka semakin kecil pula risiko gagal bayar yang dihadapi investor.

2. Risiko Suku Bunga

Risiko suku bunga adalah kemungkinan kerugian investasi yang disebabkan oleh perubahan tingkat suku bunga, misalnya tingkat suku bunga acuan di pasar atau suku bunga acuan resmi seperti Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate. Risiko ini timbul lantaran tingkat suku bunga memiliki hubungan terbalik dengan harga obligasi.  

Jika tingkat suku bunga di pasar menanjak, maka tingkat imbal hasil suatu obligasi akan menjadi kurang menarik. Ini memicu investor yang memilikinya untuk menjual obligasi tersebut yang mengakibatkan harganya turun. 

Penurunan harga akan terus terjadi sampai harganya dirasakan cukup rendah bagi investor lain yang bersedia masuk untuk menampung penjualan tersebut. Investor baru ini menganggap di tingkat harga baru yang lebih murah ini, obligasi dan kupon bunganya tersebut sekarang telah menghasilkan tingkat imbal hasil yang kembali menarik dan telah menyesuaikan dengan penanjakan suku bunga di pasar.

3. Risiko Durasi

Durasi kerap dikaitkan dengan kepekaan atau sensitivitas harga obligasi terhadap setiap 1% perubahan suku bunga acuan. Sehingga, durasi bisa dikatakan sebagai bagian dari risiko suku bunga acuan.

Dengan asumsi tidak ada perubahan faktor lainnya, maka semakin panjang waktu jatuh tempo obligasi, semakin tinggi pula risiko durasi obligasi tersebut. Artinya, instrumen surat utang tersebut akan lebih peka terhadap perubahan suku bunga acuan dibanding instrumen surat utang bertenor pendek.

Hal ini bisa kita mengerti secara naluriah. Jika suku bunga acuan meningkat, maka harga suatu obligasi yang masih berkewajiban membayar bunga selama 10 tahun lagi akan melihat harga obligasi itu turun lebih besar dibandingkan obligasi lain yang sebentar lagi akan membayar bunga terakhirnya dan akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

4. Risiko Likuiditas

Likuiditas merujuk pada kemampuan sebuah aset untuk cepat dicairkan menjadi uang tunai. Untuk mencairkan instrumen sekuritas yang kurang likuid, investor biasanya harus menjual instrumen tersebut pada harga yang lebih rendah dibandingkan nilai seharusnya.

Obligasi adalah aset yang diterbitkan dengan denominasi tinggi di mana hanya investor bermodal besar seperti investor institusi yang mampu membelinya. Kebanyakan investor ini lebih senang menggenggamnya hingga jatuh tempo (maturity). 

Namun, jika investor ingin menjualnya, ia harus menemukan pembeli yang juga bermodal besar yang menyukai jenis obligasi tersebut dari segi resiko, jangka waktu, dan aspek lainnya. Sehingga apabila sang penjual terdesak waktu dan terpaksa cepat menjual obligasinya, ada resiko bahwa ia harus menerima harga yang lebih rendah dibandingkan nilai seharusnya dari obligasi tersebut.

5. Risiko Reinvestasi

Risiko ini merujuk pada kondisi di mana investor tidak bisa menggunakan pendapatan kupon obligasi untuk diinvestasikan lagi di instrumen yang memberikan imbal hasil yang sama (atau secara ideal, pada tingkat yang lebih tinggi). 

Memang seperti kita lihat di penjelasan risiko suku bunga sebelumnya, penurunan suku bunga seharusnya bisa meningkatkan harga obligasi. 

Namun penurunan suku bunga acuan juga akan melemahkan efek majemuk (compounding) dari investasi yang dijalankan, karena dana dari kupon yang diterima dari obligasi tersebut sekarang hanya dapat diinvestasikan pada tingkat suku bunga yang lebih rendah. 

Tingkat Risiko Reksadana Instrumen Utang dibandingkan Tingkat Pengembaliannya

Kita sudah mengenal lima risiko instrumen utang: risiko kredit, risiko suku bunga, risiko durasi, risiko likuiditas, risiko reinvestasi. Namun risiko apakah yang dianggap punya tingkat “bahaya” lebih tinggi? Sobat Cuan bisa mengetahuinya melalui grafik di bawah ini.

Sumber: PIMCO

Gambar di atas menunjukkan bahwa risiko gagal bayar (default risk) adalah risiko dengan kadar “ancaman” tinggi sedangkan risiko suku bunga (interest rate risk) bisa dianggap “lebih lunak”.  Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, risiko durasi adalah bagian dari risiko suku bunga yaitu risiko yang ditanggung investor saat menggenggam aset-aset berpendapatan tetap yang berjangka panjang.

Sekarang mari kita bandingkan tingkat imbal hasil aset berisiko rendah (investasi pasar uang jangka pendek) dengan tingkat imbal hasil aset berisiko tinggi seperti obligasi korporat dengan imbal hasil tinggi (high yield corporate debt). Obligasi yang terakhir ini biasanya disebut sebagai junk bonds atau “obligasi rongsokan”. 

Potensi laba dari sebuah instrumen akan semakin tinggi seiring kenaikan risikonya. Namun ini bukan suatu hal yang 100% pasti.

Dapatkan Eksposur yang Tepat ke Pasar Uang dan Pendapatan Tetap di Pluang

Pada umumnya, investor individu yang tidak memiliki dana mencapai US$10 juta (atau sekitar Rp140 miliar) tidak memiliki cukup modal atau pintu untuk berinvestasi di pasar obligasi secara langsung dan mereka juga kesulitan untuk mendulang untung maksimal dari instrumen pasar uang. Untungnya, Pluang sekarang telah membuka jalan sehingga semakin banyak investor individu mampu berinvestasi di keduanya!

Pluang bermitra dengan PT UOB Asset Management (UOBAM) dalam menawarkan dua produk reksadana yang fokus ke instrumen utang. Dua reksadana ini bertujuan membantu investor dalam mendapatkan eksposur langsung terhadap kelas aset “instrumen pasar uang” dan “instrumen pendapatan tetap”.

Dua produk reksadana yang dikembangkan Pluang dan UOBAM terdiri dari:

  1. UOB Dana Rupiah (UDARU): Kelolaan dana akan ditempatkan di instrumen utang jangka pendek dengan potensi imbal hasil antara 3% hingga 5% per tahun.
  2. UOB Dana Membangun Negeri (UDARI): Kelolaan dana akan ditempatkan di obligasi pemerintah dan obligasi terbitan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mengingat obligasi tersebut bertenor panjang dan memiliki risiko durasi yang lebih besar dari pasar uang, maka reksadana ini bertujuan untuk mencapai imbal hasil 6% hingga 12% per tahun.

Pluang menjalin kerja sama yang erat dengan tim dari UOBAM untuk mengurangi resiko sampai serendah mungkin sehingga mampu meningkatkan tingkat imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return) di kedua produk reksadana tersebut. 

Pluang dan UOBAM berupaya mencegah terjadinya risiko kredit dengan menempatkan dana investor hanya di deposito perbankan, obligasi pemerintah, dan surat utang BUMN dengan kinerja mumpuni, sehingga produk ini akan memiliki risiko relatif lebih rendah dibandingkan dengan imbal hasilnya.

Reksadana lainnya yang memiliki fokus di obligasi pemerintah adalah Pinnacle Indonesia Bond Fund dan Batavia Dana Obligasi Ultima. 

Apabila kamu ingin memiliki alokasi yang lebih besar dalam obligasi korporasi yang punya risiko dan imbal hasil yang lebih tinggi, maka kamu bisa berinvestasi BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara (dengan penekanan pada utang jangka pendek perusahaan) atau Syailendra Pendapatan Tetap Premium (alokasi dana hingga 20% di instrumen saham). Semua produk ini bisa kamu peroleh di Pluang!



Sumber : pluang.com

7 Alasan Berinvestasi Reksadana

Apa saja keuntungan berinvestasi di reksa dana? Nah, Sobat Cuan bisa menemukan jawabannya di artikel ini. Baca sampai habis, ya.

1. Manajer Investasi yang Berpengalaman

Pengetahuan dan pengalaman sangat penting saat akan berinvestasi. Investor pemula yang masih belajar mungkin perlu jam terbang yang tinggi jika ingin mendulang cuan lebih besar.

Tak perlu khawatir jika kamu ingin berinvestasi di reksadana. Sebab, ada Manajer Investasi berpengalaman yang akan mengelola dana investasi kamu.

Manajer investasi memiliki tim riset dan data yang akan menunjang mereka dalam mengambil keputusan investasi. Tentunya, keputusan yang akan mereka ambil tetap dalam koridor yang disepakati denganmu saat membeli produk reksadana tersebut.

Sobat Cuan perlu ingat bahwa manajer investasi sangat berperan penting agar kamu bisa mendulang cuan reksadana. Sebab itu, teliti dulu track record MI sebelum memutuskan membeli suatu produk reksadana, ya!

2. Mendapatkan Eksposur Diversifikasi Aset

Dalam mengelola dana investor melalui produk reksadana, manajer investasi biasanya akan mengalokasikannya ke lebih dari satu jenis instrumen investasi. Sebagai contoh, di dalam reksadana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), manajer investasi akan menempatkan dana masyarakat di 30 saham milik perusahaan lintas sektor.

Karakteristik reksadana tersebut akan bikin investor mendapat eksposur dari diversifikasi. Seperti yang sudah dijelaskan di serial Investing 101, diversifikasi memungkinkan investor untuk meraih imbal hasil tinggi per unit risikonya. Dalam hal ini, investor bisa menggunakan reksadana sebagai cara murah untuk diversifikasi aset ketimbang berinvestasi di beragam aset secara terpisah. Sebab, manajer investasi akan lebih mudah melakukan diversifikasi menggunakan kumpulan uang yang banyak.

Diversifikasi akan membuka jalan bagimu untuk mendulang laba melalui berbagai cara. Misalnya, ketika kinerja satu perusahaan atu kelas aset tengah terpukul, maka kamu bisa menyeimbangkan kembali imbal hasilmu dan mengurangi risiko volatilitas harga dengan diversifikasi.

3. Produk Reksadana Punya Skala Ekonomis Tinggi

Reksadana memiliki skala yang lebih besar dibanding investasi ritel. Manajer investasi bisa menyebar biaya investasinya dengan menebar dana ke beberapa aset sekaligus. Manajer investasi juga bisa mendapatkan biaya riset yang murah dan eksekusi jual-beli aset yang lebih baik.

Sehingga, investasi reksadana biasanya memiliki ongkos rendah, karena rasio biaya per aset milik manajer investasi pasti lebih kecil dibanding rasio biaya per aset milik investor individu.

4. Likuiditas Tinggi – Khususnya Obligasi

Sebagian besar produk reksadana sangat likuid. Artinya, cukup mudah bagi Sobat Cuan untuk melakukan jual-beli unit yang dimiliki. Kemudahan ini menjadikan reksadana cocok dijadikan instrumen investasi sesuai tujuannya, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

5. Modal Kecil (Mulai dari Rp10.000)

Ini adalah alasan investasi reksadana yang paling utama. Reksadana dijual dalam bentuk unit Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang harganya beragam. Jadi, dengan anggaran berapapun, kamu bisa tetap berinvestasi di produk ini.

Kamu juga bisa memilih untuk menginvestasikan danamu sekaligus atau dicicil sesuai dengan kemampuan. Sesuaikan dengan dompetmu ya, Sobat Cuan!

6. Membangun Kebiasaan Baik

Reksadana merupakan cara yang tercepat untuk melakukan diversifikasi dan bisa menjadi salah satu langkah awalmu untuk membangun portofolio dan membangun kebiasaan baik untuk berinvestasi. Perencanaan investasi yang baik seharusnya bisa membantumu mempersiapkan masa depan.

Terdapat dua cara umum dalam berinvestasi di reksa dana. Yang pertama adalah investasi lump sum, di mana sang investor menempatkan seluruh dananya sekaligus. Cara lainnya adalah dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA).

Kedua strategi di atas sama-sama bisa digunakan untuk memaksimalkan cuan di reksadana selama strategi tersebut sesuai dengan rencanamu. Hal ini tentunya harus dilakukan dengan perencanaan dan analisis yang mumpuni berdasarkan informasi produk reksadana yang akan dibeli.

7. Aman dan Dilindungi Regulasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selalu melakukan pengawasan ketat terhadap manajer investasi yang mengelola tiap produk reksadana di Indonesia. Karenanya, kamu tidak perlu ragu akan tingkat keamanan produk yang ini.



Sumber : pluang.com

Bagaimana Cara Membaca Fund Fact Sheet?

Untuk menilai kinerja sebuah produk reksadana, seorang investor wajib memahami cara membaca dokumen yang dinamakan fund fact sheet. Dokumen ini berisikan informasi mulai dari fakta-fakta penting terkait kinerja sebuah produk reksadana hingga gaya pengelolaan dana yang dilakukan sang manajer investasi.

Apa Itu Fund Fact Sheet?

Secara garis besar, fund fact sheet adalah laporan yang diterbitkan manajer investasi terkait kinerja sebuah produk reksadana, informasi portofolio, dan jumlah dana kelolaannya (Asset Under Management). Seluruh informasi dalam laporan ini bisa membantumu dalam memilih produk reksadana yang tepat.

Informasi Penting dan Istilah Fund Fact Sheet

Hal pertama yang perlu kamu perhatikan ketika membuka fund fact sheet adalah kecocokan karakteristik produk reksadana tersebut dengan tujuan investasimu. Selain itu, kamu perlu memastikan bahwa risiko produk reksadana itu sesuai dengan profil risikomu. 

Misalkan saja apabila tujuan investasimu adalah untuk mengumpulkan pundi-pundi pensiun tapi di saat yang bersamaan kamu tidak mau khawatir bahwa nilainya akan terkikis. Kamu bisa menggunakan keterangan dalam fund fact sheet untuk mencari poin-poin yang penting apakah produk tersebut sesuai dengan niatmu ini. Kamu juga bisa mempertimbangkan keterangan Manajer Investasi mengenai mudahnya pencairan dan kinerja reksa dana ini supaya investasimu tepat sasaran. 

Secara lebih lengkap, berikut adalah informasi penting di dalam fund fact sheet yang perlu dipahami investor.

1. Nilai Aktiva Bersih (NAB)

NAB adalah jumlah total nilai investasi yang dikelola dalam satu produk reksa dana atau jumlah kekayaan bersih reksadana tersebut. NAB dihitung setiap hari atau setiap periode tertentu berdasarkan harga pasar atas aset-aset dalam portofolio reksadana setelah dikurangi dengan beban-beban seperti biaya pengelolaan, biaya kustodian, dan pajak.

2. Unit Penyertaan (UP)

Unit penyertaan adalah satuan kepemilikan dalam reksadana.

Nilai satu unit bisa diketahui dengan membagi angka NAB reksadana dengan total unit penyertaan produk reksa dana sehingga menghasilkan nilai NAB/UP. Nah, nilai NAB/UP tersebut adalah harga satu unit reksadana yang kamu genggam.

Perihal cuan dan rugimu dalam investasi reksadana dapat kamu hitung dari perubahan angka NAB/UP. Sehingga, kamu harus perhatikan indikator tersebut dengan seksama.

3. Kinerja Produk Reksadana

Kamu juga bisa melihat kinerja reksadana secara historis dalam fund fact sheet. Biasanya, manajer investasi menggunakan rentang periode 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau sepanjang tahun yang berjalan (year-to-date).

Memang, kinerja historis tidak selalu mencerminkan prospek sebuah produk reksadana. Tapi, kamu setidaknya bisa mengetahui kinerjanya dengan menyimak data historis tersebut.

4. Kinerja Pembanding

Agar kamu lebih mudah menilai kinerja sebuah produk reksadana, manajer investasi biasanya akan membandingkan performa produk reksadana tersebut dengan suatu tolok ukur atau produk sejenis lainnya di dalam fund fact sheet.

5. Alokasi Investasi dan Portofolio Pilihan Manajer Investasi

Manajer investasi juga membeberkan informasi tentang  alokasi dan proporsi pengelolaan dana menurut jenis instrumen dan efek.  Informasi ini merupakan keterangan paling penting di antara seluruh fakta-fakta yang ditampilkan di dalam fund fact sheet.

Kamu bisa mencocokkan informasi tersebut dengan tujuan investasimu sebelum memilih reksadana tersebut. Dengan mengetahui alokasi dan proporsi aset yang dimiliki reksadana tersebut, kamu bisa memperkirakan bagaimana sekiranya kinerjanya di masa depan dan di berbagai macam skenario perekonomian. Sekali lagi, pilihlah yang sesuai dengan tujuanmu, Sobat.

Risiko yang Ditampilkan di Dalam Fund Fact Sheet

Profil risiko keseluruhan reksa dana tersebut juga akan digambarkan di mana tingkat risiko tergantung dari jenis reksa dana tersebut. 

Namun secara umum, terdapat beberapa risiko yang terdapat di semua produk reksa dana.

Adapun risiko umum yang disebut di dalam fund fact sheet adalah:

  1. Penurunan nilai NAB/UP.
  2. Likuiditas.
  3. Perubahan alokasi efek dan nilai investasi.
  4. Faktor makroekonomi dan regulasi perpajakan.

Selain itu, menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 23 Tahun 2016 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif, sebuah produk reksadana bisa dilikuidasi dan dibubarkan apabila dana kelolaan reksa dana tersebut kurang dari Rp10 miliar selama 120 hari kerja bursa berturut-turut. Likuidasi juga bisa dilakukan jika Manajer Investasi mangkir dari aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Cara Menghitung Harga per Unit Reksadana

Sebuah manajer investasi menghimpun dana dari investor untuk kemudian diinvestasikan ke beberapa aset, misalnya saham dan obligasi. Sebagai gantinya, mereka menerbitkan unit penyertaan reksadana yang mewakili kepentingan para investor.

Sebagai contoh, anggap reksadana ABC sudah mengumpulkan dana investor US$1 juta, menggunakannya untuk berinvestasi di kelas aset yang telah disepakati dalam kontrak dan menerbitkan 1.000 unit penyertaan.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, nilai dari sebuah unit reksadana bisa dihitung dengan membagi NAB produk reksadana (atau senilai US$1 juta) dengan jumlah unit penyertaannya (1.000 unit). Dalam hal ini, maka harga satu unit reksadana ABC adalah US$1.000.

Harga/Unit = Nilai Aktiva Bersih / Total Unit Penyertaan

= $1,000,000 / 1,000 Units

= $1,000 / unit

Cara Menghitung Imbal Hasil Reksadana

Untuk menghitung imbal hasil reksadana, kamu perlu menentukan harga beli rata-rata atau biaya rata-rata per satu unit produk reksadana tersebut.

Melanjutkan contoh di atas, anggap saja kamu membeli lima unit reksadana ABC dengan harga US$1.000 per unitnya. Ternyata, saat ini kinerja pasar modal sedang dahsyat, sehingga nilai NAB produk reksadana ABC melesat 50%.

Sehingga, total hasil yang kamu dapatkan dengan modal US$5.000 adalah:

           Hasil = (Harga per unit reksadana sekarang – rata-rata harga beli) * unit penyertaan 

= (US$1.500 -US$1.000) *5

= US$2.500

Kamu juga bisa menghitung tingkat imbal hasilmu dalam bentuk persentase sebagai berikut:

Tingkat Imbal Hasil = (Total Hasil / Total Investasi) * 100%

                                = US$2.500/ (5*US$1.000) * 100%

                                = (0,5) * 100%

                                = 50%

Kamu juga bisa menggunakan rumus yang sama untuk menghitung total imbal hasil dalam kasus-kasus yang lebih rumit, misalnya pembelian beberapa unit suatu reksadana di mana masing-masing unitnya punya harga berbeda. Menghitung biaya rata-rata per unit reksadana akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan spreadsheet seperti di Excel.



Sumber : pluang.com

Apa Itu Pasar Modal?

Pasar modal adalah istilah yang diberikan kepada gabungan pasar utang dan pasar saham. Dengan kata lain, pasar ini berfungsi sebagai tempat di mana perusahaan bisa menambah pendanaan dari umum.

Sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mengembangkan usahanya dapat mencari dana segar untuk melaksanakan niatnya ini melalui dua cara: Meminjam uang dari investor dengan menjanjikan suatu imbal yang telah disepakati sebagai gantinya atau menjual kepemilikan perusahaannya dalam bentuk saham, atau dikenal juga sebagai ekuitas.

Sebenarnya, terdapat berbagai jenis instrumen sekuritas dengan sifat yang berada di antara instrumen utang dan saham. Namun, untuk saat ini, lebih gampang bagi Sobat Cuan untuk membagi pasar modal ke dalam dua kategori, yaitu instrumen utang dan saham saja.

Apa itu Saham? Dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Saham mewakili kepemilikan atas sebuah perusahaan. Nilai kepemilikan tersebut didasarkan atas “sisa” nilai perusahaan tersebut setelah seluruh hutangnya terlunasi.

Sebagai contoh, anggap sebuah jaringan toko bakmi mampu menjual bermangkok-mangkok bakmi sehingga menghasilkan penjualan senilai US$1 juta selama 20 tahun. Kehebatan si toko bakmi adalah dia mampu mematok margin 50% dari nilai penjualannya, atau untung sebesar US$ 500 ribu per tahun. Sehingga nilai bisnis itu secara cepat bisa diperhitungkan telah mencapai US$10 juta dalam 20 tahun.

Namun, untuk melebarkan sayap bisnisnya dan mencapai hasil tersebut, sang pemilik sebelumnya perlu meminjam uang US$3 juta dari bank. Sehingga ia harus menyerahkan sebagian labanya untuk pembayaran hutang dan pada akhirnya nilai ekuitas (atau saham-saham) perusahaan tercatat US$7 juta. Sebab, nilai tersebut adalah “sisa” nilai bisnis perusahaan setelah dikurangi utang perusahaan yang telah dilunasi.

Apabila pemilik saham telah menerbitkan 100 lembar saham untuk mewakili total kepemilikan perusahaan tersebut maka kita bisa menghitung berapa nilai yang diwakili tiap lembar. Setiap saham akan bernilai US$70.000 yang didapatkan dari membagi US$7 juta dengan 100 lembar saham.



Sumber : pluang.com