Author: 09

  • Alasan Risiko Berinvestasi Aset Kripto

    Jumlah peminat cryptocurrency terbilang menanjak sejak pandemi COVID-19 melanda dunia tahun lalu. Baik investor ritel maupun investor institusi mencoba meraup cuan dari aset digital satu ini.

    Sayangnya, banyak pihak masih berpandangan sinis terhadap cryptocurrency. Sebagian pihak mengatakan ini adalah gelembung spekulasi atau hanyalah “judi” lantaran cryptocurrency “tidak memiliki bentuk fisik” dan terkesan “tidak nyata”.

    Padahal, investor punya alasan tersendiri untuk berinvestasi cryptocurrency. Berikut adalah beberapa contohnya.

    3 Alasan Untuk Investasi Cryptocurrency

    1. Teknologi Blockchain

    Blockchain adalah teknologi yang menghilangkan peran perantara keuangan dalam kegiatannya. Ini memudahkan transaksi seseorang dengan yang lain. 

    Apalagi fungsi teknologi blockchain makin berkembang dengan hadirnya fitur kontrak pintar di beberapa teknologi seperti Ethereum. Fitur tersebut membuka jalan bagi blockchain untuk menyediakan produk-produk perusahaan jasa keuangan seperti pinjaman, asuransi dan simpanan.  Namun bedanya kegiatan tersebut dilakukan secara terdesentralisasi. 

    Oleh karenanya, banyak yang beranggapan bahwa teknologi blockchain bisa memicu revolusi keuangan di masa depan. Ini menguatkan kepercayaan para pendukungnya bahwa cryptocurrency akan semakin memiliki nilai guna di masa depan.

    Berinvestasi di aset kripto adalah cara mereka dalam mendulang cuan sembari mendukung akses jasa keuangan yang lebih mudah di masa depan.

    2. Alat Penyimpan Nilai Alternatif

    Bagi sebagian orang, menggenggam uang fiat adalah hal merugikan. Selain karena persediaannya yang tak terbatas, nilainya semakin lama akan tergerus tingkat inflasi.

    Namun hal ini tidak berlaku bagi cryptocurrency. Beberapa aset kripto memiliki jumlah terbatas sehingga cocok dijadikan sebagai pilihan dalam menyimpan kekayaan (store of value), contohnya adalah Bitcoin. Aset kripto juga tidak memiliki korelasi secara langsung dengan tingkat inflasi.

    Sehingga mereka yang khawatir dengan tingkat inflasi tinggi dan krisis moneter hebat di masa depan bisa menjadikan cryptocurrency sebagai pilihan aset investasinya.

    3. Cara Baik Untuk Melatih Mental dalam “Bermain Uang”

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa pergerakan harga cryptocurrency terbilang kencang. Belum lagi di dalamnya sarat akan kabar burung dan isu yang selalu bikin panik pelaku pasar.

    Namun bagi sebagian orang, saat-saat tersebut merupakan ajang belajar yang baik untuk mengurangi risiko dalam trading dan investasi. Menaruh uang di cryptocurrency adalah kesempatan penggemblengan untuk mengutamakan otak ketimbang emosi dalam mengambil keputusan.

    5 Risiko Investasi Cryptocurrency

    Meski ada alasan untuk menaruh uang di cryptocurrency, terdapat pula bejibun alasan untuk menjauhi aset digital satu ini lantaran risikonya. Berikut ini adalah beberapa risiko investasi cryptocurrency yang nampaknya membuat masyarakat menjauhi kelas aset ini. 

    1. Gejolak Pasar yang Tinggi

    Harga cryptocurrency terus terombang-ambing dan sulit untuk diterka. Kamu pun akan mengalami kesulitan dalam menaksir untung atau rugi dalam berurusan dengan aset satu ini.

    Cryptocurrency data Bitcoin

    Sobat Cuan bisa melihat beberapa contohnya di gambar di atas. Selengkapnya tercatat tujuh peristiwa saat harga Bitcoin terjun bebas:

    Kronologi kejatuhan cryptocurrency Bitcoin

    Tapi, yang namanya risiko tetap dapat dikurangi. Sobat Cuan bisa menekan dampak pergerakan harga aset kripto dengan melakukan diversifikasi aset.

    2. Kejahatan Siber

    Cryptocurrency adalah benda yang berbasis teknologi, sehingga investasi ini sangat rentan mengalami peretasan. Jika hal itu terjadi maka koin kripto yang digenggam investor bisa lenyap dan berujung ke kerugian yang amat dalam.  Investor perlu memastikan reputasi platform cryptocurrency sebelum membenamkan uang ke dalamnya.

    Peretasan bisa terjadi pada tingkat yang terdesentralisasi mencakup:

    Peretasan tingkat protokol: Ini merupakan peretasan yang menyasar platform terdesentralisasi. Dalam aktivitas ini, sang peretas berhasil mengelabui tingkat keamanan jaringan untuk menggondol aset kripto. Kejahatan ini kerap terjadi ketika protokol tersebut sudah mulai diadopsi oleh komunitas kripto namun kode-kode algoritma yang digunakan masih belum berfungsi dengan baik.

    Sebagai contoh, banyak aplikasi DeFi rentan terkena serangan flash loan, yakni serangan di mana sang pelaku memanfaatkan bug di sistem operasi platform tersebut agar bisa meminjam cryptocurrency dari aplikasi DeFi tanpa mengajukan penjaminan terlebih dulu.

    Sementara itu, peretasan di tingkatan sentralisasi terdiri dari:

    1. Peretasan di platform bursa kripto atau broker: Peretas bisa mengelabui sistem keamanan sebuah platform tukar-menukar mata uang kripto atau broker. Contohnya terjadi pada 2014 lalu ketika terungkap bahwa peretas membobol Bitcoin senilai US$460 juta dari Mt. Gox, yang merupakan bursa Bitcoin terbesar di dunia. Peretasan ini bukan terjadi di dalam protokol Bitcoin, melainkan terjadi di institusi yang menggenggam Bitcoin. Maka pemilihan platform kripto adalah hal penting sebelum Sobat Cuan berinvestasi. 
    2. Peretasan di ponsel pintar atau aplikasi: Ponsel pintar sangat rentan diretas oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab. Oleh karenanya, Sobat Cuan perlu meningkatkan standar keamanan ponsel pintar. Hal ini sama pentingnya dengan melindungi akun rekening bank milikmu.

    Aplikasi Pluang selalu memastikan bahwa aset kripto penggunanya selalu aman dari risiko keamanan. Oleh karenanya, Pluang selalu bekerja sama dengan bursa kripto kelas dunia yang mampu menyimpan dan menahan aset kripto pengguna dengan tingkat keamanan yang andal. Seluruh bursa kripto tersebut sudah terdaftar di bawah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

    Untuk mencegah risiko keamanan di dalam aplikasi, Pluang selalu memeriksa faktor keamanan lintas sistem untuk mencegah terjadinya kecurangan. Pluang juga memberlakukan dua lapis otentifikasi (two-layer authentification) ketika pengguna ingin login atau mendaftar di aplikasi Pluang.

    Pluang pun memberlakukan aturan yang ketat untuk melindungi keamanan penggunanya, misalnya memblokir akun pengguna jika salah memasukkan nomor PIN hingga 10 kali.

    3. Waspada Bursa Tipu-Tipu

    Cryptocurrency boleh jadi sedang naik daun. Namun sayangnya, pasti akan ada saja oknum-oknum tak bertanggung jawab yang muncul untuk memanfaatkannya. Caranya adalah dengan merayu investor menaruh uang di platform-platform cryptocurrency bodong.

    Terdapat beberapa contoh praktik penipuan yang bisa terjadi di pasar yang tidak diatur. Ketika Initial Coin Offering (ICO) marak pada 2017, beberapa penerbit koin baru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencuri uang investor bermodus iming-iming imbal hasil investasi yang tak masuk akal.

    Hal seperti ini bisa terjadi lantaran penerbit cryptocurrency tidak diharuskan menyediakan informasi memadai tentang latar belakang aset kripto baru tersebut. Mereka bisa mengabaikan hal tersebut karena tidak ada peraturan yang mengatur tata cara penerbitan koin-koin baru di pasar kripto. Sistem penghimpunan dana publik ini sangat berbeda dibandingkan aturan di pasar modal, di mana perusahaan-perusahaan terbuka wajib membeberkan sejumlah informasi perusahaan sebelum melempar sahamnya ke publik.

    Pada 2017, pengawas pasar modal AS, the US Security and Exchange Commission (SEC), berhasil menghentikan kegiatan ICO sebuah perusahaan rintisan kripto bernama PlexCorps. Penyelidikan SEC menemukan bahwa platform tersebut memberi iming-iming imbal hasil sebesar 13 kali lipat kepada ribuan investor, sehingga kegiatan itu sudah dianggap mengarah ke tindakan penipuan siber dengan janji palsu.

    Ini merupakan pertama kalinya SEC menangkap praktik penipuan di kegiatan ICO.

    4. Pengguna Tidak Bisa Memulihkan Transaksi Nyasar 

    Jagat cryptocurrency memiliki sifat terdesentralisasi dan kegiatan di dalamnya tidak diatur dan diawasi oleh regulator tertentu. Berbeda dengan jasa keuangan, di mana seluruh kegiatannya diawasi dan diregulasi oleh suatu Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Akibatnya, tidak ada satu pun pihak yang mampu mengintervensi ketika terjadi ketidakseimbangan pasar atau tindakan kriminal yang menyebabkan kerugian besar di pasar aset kripto. Selain itu pengguna tidak bisa mencari bantuan ketika melakukan kesalahan transaksi atau mengirimkan aset kripto ke alamat yang salah.

    5. Hambatan Regulasi di Beberapa Negara

    Karena kegiatan cryptocurrency susah diawasi, maka beberapa negara memutuskan untuk melarang atau membatasi aktivitas yang berkaitan dengan aset digital ini.

    Contohnya adalah Cina yang melarang transaksi cryptocurrency sejak tahun 2017. Selain itu, beberapa negara lain pun melarang platform trading cryptocurrency untuk beroperasi dengan dalih bahwa kegiatan berbau aset kripto “tidak sesuai dengan keadaan negara tersebut”.

    Berita pelarangan kripto oleh sebuah negara adikuasa seperti Cina atau AS akan menjadi pemicu pergerakan harga cryptocurrency. Ini dikarenakan kebanyakan permintaan dan penawaran di pasar crypto digerakkan oleh warga negara AS dan Cina.

    Jika Cina melarang seluruh kegiatan berbau cryptocurrency, maka akan ada sebagian besar permintaan aset kripto yang lenyap begitu saja dan harga akan jatuh. Contohnya terjadi pada Juni 2021, ketika penindakan kegiatan kripto di China membuat harga Bitcoin anjlok ke level US$30.000 untuk pertama kalinya sejak awal tahun.

    Sementara itu, di akhir Juli 2021, dewan legislatif AS mengajukan RUU baru untuk menarik pajak dari kegiatan kripto dengan potensi penerimaan sebesar US$28 miliar. RUU itu mewajibkan setiap platform bursa kripto dan perusahaan penyedia pembayaran kripto untuk melaporkan informasi transaksi. Namun kali ini pelaku pasar tidak bereaksi keras terhadap kabar tersebut.



    Sumber : pluang.com

  • Blockchain, Bitcoin, dan Aset Kripto Lainnya

    Pada tahun 2008, sebuah dokumen awal pengembangan Bitcoin (whitepaper) dikirim ke mailing list para kriptografer. Kejadian itu merupakan tonggak awal lahirnya teknologi blockchain dan cryptocurrency pertama di dunia.

    Artikel ini akan menjelaskan konsep-konsep awal tersebut.

    Apa Itu Teknologi Blockchain?

    Blockchain adalah buku besar digital. Sobat Cuan bisa menganggap blockchain sebagai basis data istimewa yang dapat digunakan untuk menyimpan informasi seperti data transaksi yang berisikan tanggal, jam, jumlah, dan pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut.

    Blockchain adalah jaringan. Data-data ini akan diubah menjadi kode (melalui kriptografi) dan setiap blok yang berisikan data akan tersambung dengan blok lain untuk membentuk satu rantai transaksi.

    Blockchain bersifat publik. Blockchain berfungsi sebagai rekaman publik atas suatu aktivitas yang nyata dan telah terjadi. Artinya setiap orang di dalamnya bisa mengakses dan melihat catatan transaksi di dalamnya.

    Transaksi di blockchain tidak dapat disunting. Seluruh transaksi yang berbasis teknologi blockchain relatif aman lantaran pengguna tidak bisa dengan gampang menyunting atau mengubah seluruh catatan transaksi yang ada di dalamnya (melalui sybil attack).

    Blockchain memungkinkan transfer langsung antar perseorangan (peer-to-peer) secara terdesentralisasi. Sebenarnya seluruh fungsi-fungsi blockchain di atas bisa dilakukan oleh basis data biasa. Namun yang umumnya sudah terjadi adalah bahwa basis data dimiliki oleh lembaga atau institusi tertentu.

    Sementara itu, blockchain adalah teknologi yang bersifat desentralisasi. Pengembangnya tidak bisa mengendalikan transaksi antar pengguna. Selain itu, tidak ada satu pemerintahan mana pun yang menguasai dan mengendalikan teknologi blockchain.

    Blockchain adalah jaringan peer-to-peer, sehingga walaupun salah satu node tidak berfungsi dengan baik, maka pengguna lainnya masih bisa berkomunikasi dan menggunakan teknologi tersebut. 

    Node merupakan satu dari dua unsur penting dalam teknologi blockchain, yaitu perangkat dalam suatu jaringan yang bisa menerima dan menyampaikan informasi.

    Miners merupakan unsur penting lainnya dan merupakan nodes yang melakukan pembaharuan atau update dengan menciptakan blok-blok yang berisikan data transaksi sementara nodes melakukan verifikasi seluruh blok transaksi dan yang akan tercatat di dalamnya.

    Pada umumnya seluruh transaksi yang menggunakan teknologi blockchain dilakukan menggunakan alat tukar yang berfungsi layaknya uang fiat di kehidupan nyata. Alat tukar ini umum dikenal sebagai mata uang kripto (cryptocurrency)

    Apa Itu Cryptocurrency?

    Cryptocurrency adalah representasi digital untuk nilai yang bisa digunakan sebagai alat tukar untuk membeli barang dan jasa, satuan unit, atau penyimpan nilai di dalam jaringan blockchain. Layaknya jaringan pembayaran (seperti GoPay) yang memungkinkan penggunanya untuk mengirim uang fiat seperti dana Rupiah ke pengguna lain, jaringan blockchain juga memungkinkan penggunanya untuk saling berkirim cryptocurrency (seperti Bitcoin) satu sama lain.

    Cryptocurrency juga bersifat terdesentralisasi seperti blockchain. Artinya, tidak ada satu otoritas pun yang mengawasi peredaran maupun melakukan intervensi melalui rangkaian kebijakan tertentu.

    6 Manfaat Utama Cryptocurrency

    1. Transfer Kilat Antar Pengguna

    Sebuah kegiatan disebut peer-to-peer jika berjalan tanpa melalui suatu server pusat atau melalui badan perantara tertentu. Serverserver atau peladen-peladen yang menyimpan rekaman data tersebar dan terdesentralisasi, dan rekaman data dibagi dan diusung oleh setiap pengguna yang terhubung dengan jaringan internet.

    2. Transfer Kemana Saja

    Berbeda dengan emas, cryptocurrency bisa dikirim kemana saja dalam hitungan detik. Setiap individu bahkan bisa mengirim cryptocurrency dari mana saja dan ke alamat apa pun yang ingin mereka tuju dengan memanfaatkan ponsel pintar dan jaringan internet.

    3. Biaya Transaksi Rendah

    Biaya pengiriman cryptocurrency bisa dilakukan tanpa biaya namun pengguna memiliki pilihan untuk lebih mempercepat proses transaksi. Penggunaan dompet-dompet Bitcoin biasanya akan menurunkan ongkos transaksi sekitar Rp500 hingga Rp3.000 seberapa besarpun jumlah  jumlah keping Bitcoin yang dikirim.

    Transaksi bersifat tidak dapat diubah. Artinya, pengguna tidak bisa membatalkan transfer cryptocurrency jika ia sudah selesai mengirimnya ke pengguna lain. Bitcoin bisa kembali ke tangan pengirimnya jika sang penerima mau mengirim balik Bitcoin yang sudah diterima.

    4. Transaksi Bisa Dilakukan Pakai Nama Samaran

    Di dalam blockchain, kita bisa melihat seluruh transaksi yang sudah dilakukan seseorang berikut dengan jumlah saldo cryptocurrency yang dimilikinya. Namun, kita tak bisa mengetahui siapa sesungguhnya sosok yang berada di balik transaksi tersebut kecuali ia membeberkan sendiri identitasnya.

    Setiap pengguna Bitcoin bisa memilih untuk menampilkan atau menyembunyikan identitasnya. Meski demikian seluruh transaksi yang dilakukannya tetap akan tercatat di blockchain dan data transaksi bisa terbaca oleh semua orang.

    5. Cryptocurrency Tidak Diatur oleh Pemerintah Atau Lembaga Apapun

    Bitcoin yang memanfaatkan basis data blockchain tidak dikendalikan oleh suatu pihak tertentu, Karena catatan transaksi cryptocurrency bersifat publik, seorang pengguna akan mengalami kesulitan untuk memalsukan transaksi yang terdapat di dalam blockchain.

    Informasi transaksi di dalam blockchain dicatat secara langsung, transparan, dan tersebar di jutaan server atau peladen di dunia ini. Pihak yang memiliki keinginan untuk mengubah atau memalsukan data transaksi itu harus mampu meretas jutaan peladen tersebut dalam waktu bersamaan.

    6. Jumlah Terbatas

    Penawaran jumlah Bitcoin terbatas sampai hanya mencapai 21 juta keping. Sistem penciptaan Bitcoin mengatur supaya laju produksi Bitcoin menurun tiap kisaran empat tahun. Sehingga ini akan mirip dengan dampak apabila deflasi terjadi pada sebuah perekonomian dan harga Bitcoin akan menanjak seiring ketatnya jumlah kepingan Bitcoin antar waktu.

    Konsep ini dikembangkan berdasarkan gagasan bahwa aset digital yang berkualitas baik tidak berada dalam kendali pemerintah atau otoritas moneter. 

    Hal ini berdasarkan pandangan bahwa pemerintahan dikendalikan oleh pihak-pihak korup yang selalu mementingkan kepentingan sendiri. Akibatnya, keputusan mengenai peraturan keuangan suatu negara selalu akan menguntungkan pihak konglomerat.

    Kejadian krisis keuangan pada tahun 2008 mendukung pandangan ini dan menegaskan kelalaian peran pemerintah dalam tugas mereka untuk menjaga kestabilan ekonomi.

    Mengenal Satoshi Nakamoto Penemu Bitcoin

    Cryptocurrency pertama di dunia ini, Bitcoin, diluncurkan pada Januari 2009 oleh Satoshi Nakamoto berdasarkan gagasan-gagasan yang tertuang di dalam whitepaper bertajuk Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System.

    Sebagian besar sifat inti Bitcoin, seperti aspek terdesentralisasi dan persediaan yang terbatas, merupakan tanggapan langsung untuk masalah dan kekurangan mata uang fiat yang terungkap krisis keuangan global pada tahun 2008. Blok transaksi pertama di blockchain Bitcoin, atau dikenal dengan genesis block, memuat referensi-referensi secara gamblang yang menyinggung permasalahan bantuan bank (bailout) hingga kritikan terhadap kebijakan pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing yang dilakukan pemerintah dan otoritas moneter.

    Identitas Satoshi Nakamoto tetap tak terungkap hingga saat ini. Ia dikabarkan memiliki lebih dari 1 juta keping Bitcoin.



    Sumber : pluang.com

  • 2 Strategi Utama Investasi Aset Kripto

    Sama seperti aset keuangan lainnya, terdapat dua pendekatan untuk menganalisa harga cryptocurrency, yakni:

    • Analisis fundamental, yakni analisis yang melibatkan indikator dasar suatu aset seperti nilai intrinsik dan nilai gunanya. Pendekatan ini cenderung berguna bagi investor jangka panjang.
    • Analisis teknikal, yakni analisis grafik dan indikator trading kuantitatif, di mana pergerakan harga dan volume perdagangan dipergunakan untuk mengukur momentum pasar dan volatilitas harga aset. Analisis ini menjadi senjata bagi trader harian yang mampu memahami informasi dalam jumlah banyak dan dapat dengan cepat mengambil keputusan saat sinyal-sinyal trading muncul.

    Baik analisis fundamental dan teknikal bisa dan memang seharusnya digunakan secara bersamaan. Investor jangka panjang bisa mengubah gaya investasinya menjadi trading harian jika pengalaman investasinya sudah semakin banyak dan merelakan waktu lebih lama untuk secara aktif melakukan manajemen resiko terhadap pergerakan harga dalam sehari. 

    Analisis Fundamental Crypto: 3 Cara Untuk Mengevaluasi Nilai Intrinsik Aset Kripto

    Analisis fundamental adalah pendekatan yang dilakukan oleh pelaku pasar untuk menentukan nilai intrinsik dari sebuah aset. Sebuah aset dikatakan memiliki nilai intrinsik jika nilai dasar (underlying) lebih tinggi dari harga pasarnya.

    Analisis fundamental awalnya dimanfaatkan untuk menganalisa pergerakan harga saham dan cara ini ditenarkan begawan saham Warren Buffett. Dengan menggunakan analisis ini, investor dapat memperkirakan nilai saham sebuah perusahaan dengan cara mengalikan nilai pendapatan atau penjualan perusahaan tersebut dengan sebuah faktor pengali yang diperoleh dari tolok ukur (benchmark) di industri perusahaan tersebut.

    Sebagai contoh, jika Google mendapatkan laba US$40 miliar setiap tahun sementara rasio harga terhadap pendapatan (price to earning ratio)  untuk industri yang beranggotakan perusahaan yang berbasis teknologi canggih adalah 30, maka Google seharusnya bernilai lebih dari US$1,2 triliun atau US$40 miliar (earning Google) dikalikan dengan 30 (P/E ratio industri). 

    Hanya saja, menggunakan analisis fundamental di pasar kripto terbilang sulit lantaran cryptocurrency tidak memiliki angka laba sebelum pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) layaknya perusahaan pada umumnya. Oleh karenanya, jika investor ingin melakukan pendekatan analisis fundamental aset kripto, maka ia harus menggunakan teknik lain agar mampu memperkirakan “nilai intrinsik” dari sebuah aset kripto.

    Sejauh ini, pakar aset kripto menggunakan tiga pendekatan dalam analisis fundamental aset kripto: Pendekatan on-chain, pendekatan proyek, dan pendekatan tokenomics.

    Pendekatan Volume On-Chain

    Salah satu cara mengetahui tingkat penggunaan teknologi blockchain suatu cryptocurrency adalah dengan melihat volume transaksi on-chain yang diproses jaringan blockchain tersebut. Data-data tersebut seharusnya tersedia secara bebas karena blockchain terbuka untuk umum. 

    Sobat Cuan bisa menyimak salah satu contoh data transaksi on-chain (data transfer harian token ERC-20 di jaringan Ethereum) pada grafik di bawah ini.

    Data Volume On-Chain ERC-20
    Sumber: Etherscan.io

    Volume on-chain hanyalah satu indikator penggunaan. Banyak transaksi Ethereum terjadi di luar jaringan blockchain tapi di bursa dan aplikasi cryptocurrency, sehingga volume transaksi yang sebenarnya tidak bisa diketahui.

    Walaupun begitu, tetap masih bisa disimpulkan bahwa semakin tinggi penggunaan blockchain maka semakin tinggi pula penggunaan aset blockchain tersebut apalagi dengan adanya efek jaringan (network effect) sehingga harga aset kripto akan meningkat.

    Saat ini terdapat dua cara yang bisa dilakukan investor untuk mengukur tingkat penggunaan teknologi blockchain dan kedalaman network effect dari sebuah cryptocurrency:

    1. Mengukur jumlah dan nilai transaksi: Penurunan aktivitas dan nilai transaksi di dalam jaringan menyiratkan turunnya antusiasme masyarakat terhadap aset kripto tersebut.
    2. Mengukur jumlah alamat aktif/alamat dengan nilai transaksi besar di jaringan. Banyaknya investor aktif dengan posisi kepemilikan cryptocurrency yang juga tinggi menandakan bahwa aset kripto tersebut punya “penggemar setia”. Makin banyak “penggemar setia” akan mendukung kenaikan harga aset kripto.

    Sepanjang kuartal I 2021, jumlah alamat dengan kepemilikan 100 hingga 1.000 keping Bitcoin telah meningkat dari 3,5 juta alamat di awal Januari menjadi 3,9 juta alamat di Maret atau lebih dari 12%. Data tersebut menunjukkan bahwa jaringan blockchain Bitcoin telah diserbu oleh orang kaya dan investor institusi di mana kelompok ini sekarang memiliki posisi dana yang cukup besar di jaringan Bitcoin.

    Kondisi ini bertepatan dengan kenaikan harga Bitcoin dari US$32.000 per keping menjadi US$58.000 sepanjang kuartal I 2021.

    Pendekatan Proyek

    Cara lain untuk menganalisa faktor fundamental cryptocurrency adalah memeriksa teknologinya, sosok-sosok tim pengembangnya, serta unsur tokenomics-nya.

    Untuk melihat aspek-aspek tersebut, Sobat Cuan bisa membaca dokumen yang disebut whitepaper, spesifikasi teknis, serta peta jalan pengembangan teknologi blockchain tersebut ke depan. Dan faktor utama adalah latar belakang sosok-sosok yang mengembangkan teknologi tersebut dan struktur tata kelola teknologi blockchain.

    Cara  ini mirip yang dilakukan perusahaan modal ventura dalam menganalisa sebelum menanamkan dananya ke sebuah perusahaan rintisan atau startup. Berinvestasi aset kripto memang terbilang mirip dengan menanamkan modal ke perusahaan rintisan, sebab baik cryptocurrency dan perusahaan rintisan sama-sama memperkenalkan teknologi baru yang belum tentu akan diadopsi masyarakat.

    Investor yang tidak memiliki keahlian teknis (dalam hal ini biasanya dalam dunia programming atau komputer atau teknologi) lebih mengalami kesulitan untuk menentukan aset kripto mana yang akan sukses atau gagal. Dengan kata lain, berinvestasi di cryptocurrency memiliki kemiripan berinvestasi di perusahaan teknologi baru.

    Pendekatan Tokenomics

    Melalui pendekatan ini pelaku pasar mencoba menganalisa permintaan dan penawaran aset kripto menggunakan indikator-indikator yang sering dipakai dunia  keuangan. Misalnya, perubahan nilai kapitalisasi pasar, volume trading, dan jumlah persediaan cryptocurrency tersebut.

    Setiap aset kripto biasanya memiliki struktur tata kelolanya sendiri yang mengatur kebijakan masing-masing dalam menentukan jumlah kepingan koin yang tersedia atau bisa dikatakan kebijakan moneternya. 

    Apabila jumlah pasokan cryptocurrency dibatasi dalam jumlah tetap atau bahkan menurun, maka kenaikan permintaan akan mendorong peningkatan harga Sebaliknya, jika pengembang koin kripto tiba-tiba merilis sebuah koin dalam jumlah yang besar, muncul kemungkinan bahwa harganya akan anjlok. 

    Mekanisme penawaran dan skema distribusi sebuah cryptocurrency merupakan faktor utama yang mempengaruhi harga aset kripto.

    Analisis Teknikal Cryptocurrency

    Berbeda dengan analisis fundamental, analisis teknikal berguna untuk memperkirakan tren harga cryptocurrency ke depan berdasarkan harga dan datanya di masa lalu. 

    Analisis teknikal berdasarkan prinsip bahwa keadaan psikologis pasar menciptakan pola dan tren grafik yang sering menyebabkan mispricing di mana harga pasar tidak mencerminkan nilai fundamental aset.  Pelaku pasar bisa memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendulang cuan melalui aktivitas jual-beli secara aktif atau trading.

    Memahami indikator analisis teknikal memang terbilang rumit dengan begitu banyak pola, cara dan indikator. Namun, terdapat dua indikator analisis teknikal dasar yang sangat berguna bagi trader pemula, yakni garis tren dan level support dan resistance.

    Sobat Cuan akan memahami keduanya di artikel ini. Tetapi, kamu bisa mempelajari lebih jauh tentang analisis teknikal lainnya di tautan berikut.

    1. Garis Tren

    Trend Line Cryptocurrency

    Garis tren (Trend lines) adalah indikator bermanfaat yang menunjukkan arah tren harga cryptocurrency ke depan.

    Tren naik ditunjukkan dengan semakin meningkatnya titik tertinggi seiring waktu. Begitu pun sebaliknya, tren melemah ditunjukkan oleh semakin menurunnya titik terendah seiring waktu. Dengan memahami garis tren, maka pelaku pasar aset kripto tak perlu panik dengan volatilitas harga singkat.

    Namun, membaca tren bisa cukup rumit. Suatu tren bisa berlangsung dalam jangka panjang, menengah, atau pendek. Ada kalanya juga pergerakan harga cryptocurrency tidak menunjukkan pergerakan berarti, atau biasa disebut pergerakan sideways.

    2. Level Support dan Resistance

    Level support dan resistance adalah dua kunci utama dalam melihat permintaan dan penawaran koin.

    Support adalah level harga di mana tren harga yang menurun akan berhenti sementara. Pada titik harga tersebut, pemain pasar masuk untuk mengumpulkan aset karena tertarik akan harganya yang dirasakan murah. Peningkatan permintaan pada titik tersebut akan menyebabkan harga memantul kembali dan pasar melakukan rebound .

    Titik support menjadi zona  genting dalam menentukan apakah tren akan berlanjut. Jika pada pergerakan berikutnya, harga aset malah turun melewati garis support-nya, maka ada kemungkinan harga aset akan melanjutkan tren pelemahan.

    Salah satu contoh level support bisa terlihat pada grafik UNI/USDT berikut. Harga UNI terlihat menyentuh area level support di posisi US$14 tiga kali sebelum akhirnya UNI menguat.

    Contoh level support

    Sementara itu, resistance adalah level harga di mana tren meningkat tiba-tiba berhenti. Pada saat itu, trader sedang melakukan aksi ambil untung mengingat harga asetnya tengah moncer. 

    Sama seperti support, resistance akan menjadi titik penting untuk menaksir apakan tren kenaikan akan terus berlangsung. Jika harga cryptocurrency menembus level resistance, maka trader bisa berharap bahwa harga aset bisa terus melejit. 

    Untuk memahami level resistance, Sobat Cuan bisa menengok grafik TRON/USDT berikut. Titik harga US$0,0825 dianggap sebagai level resistance, atau harga ‘langit-langit’, karena mewakili area grafik di mana kenaikan harga aset telah terhenti.

    Namun, pada Agustus, harga TRON berhasil menembus level resistance dan melejit setelahnya.

    Contoh Level Resistance

    Mending Mana? HODL atau Trading Cryptocurrency?

    Kini, Sobat Cuan telah mengetahui tentang analisis teknikal dan fundamental aset kripto. Namun, kamu mungkin bertanya-tanya, apakah lebih baik untuk:

    1. Investasi jangka panjang dan “HODL” (menahan) cryptocurrency. Melalui pendekatan ini, kamu tidak begitu peduli dengan pergerakan harga dalam jangka pendek dan memilih menggenggam cryptocurrency dengan harapan bahwa harga aset kripto akan meningkat dalam jangka panjang.

      Jika kamu memilih jalan ini, maka artinya kamu punya pandangan yang cukup optimistis dengan harga aset kripto masa depan. Investor kripto jangka panjang umumnya percaya bahwa menempatkan uang di cryptocurrency lebih menguntungkan dibanding uang fiat karena jumlah penawaran aset kripto  terbatas. Selain itu, mereka percaya bahwa permintaan aset kripto akan meledak di masa depan karena teknologi blockchain akan menjadi tulang punggung infrastruktur finansial dunia.

      Jika kamu percaya dengan strategi ini, maka satu teknik investasi yang bisa kamu gunakan adalah meminjamkan atau melakukan staking cryptocurrency milikmu. Dengan cara ini kamu bisa menerima imbal  2% hingga 3% per tahun, belum termasuk keuntungan saat harga kripto naik. Teknik ini disebut HODL, sebuah istilah yang diturunkan dari meme kripto di mana seorang investor salah mengetik “hold” menjadi “HODL”. HoDL merupakan singkatan dari “Hold on for Dear Life”. Kesalahan pengetikan ini kemudian diabadikan ke dalam meme-meme baru, seperti meme berikut:HODLKesalahan pengetikan ini kemudian diabadikan ke dalam meme-meme baru, seperti meme berikut:

      Jika kamu tertarik untuk melakukan strategi “beli dan tahan” Bitcoin dan Ethereum, Pluang bisa membantumu mendulang cuan hingga 3,5% per tahun melalui produk PluangCuan.

    2. Trading cryptocurrency menggunakan analisis teknikal. Jika kamu sanggup merelakan waktu tiap hari untuk sering mempelajari grafik harga aset kripto dan rajin membaca berita,  maka  kamu dapat memulai secara aktif dalam pasar. Trading membutuhkan komitmen waktu yang tinggi dan kemampuan untuk bertindak cepat untuk menanggapi berbagai macam kabar, karena itu tidak disarankan untuk investor yang pemula dan tidak berpengalaman untuk langsung terjun seperti ini. Terlebih lagi mengingat persaingan dan dihadapkan trader lain yang berpengalaman dan trader yang memanfaatkan algoritma.

      Investor baru biasanya mulai dengan melakukan HODL kemudian baru pelan-pelan mencoba melakukan trading berdasarkan analisanya sendiri. Namun ada juga yang lebih memilih untuk menggunakan analisis fundamental untuk menentukan jumlah uang yang sebaiknya dialokasikan dan analisis teknikal akan dipergunakan untuk menentukan waktu masuk atau keluar pasar.

      Tentu saja tidak mungkin seseorang selalu memusatkan perhatian mereka ke layar komputer dan pergerakan pasar untuk mencari informasi harga. Karena itu penting bagi day trader untuk memanfaatkan tipe-tipe order yang lebih canggih. Salah satu contohnya adalah limit order, sebuah fitur yang memungkinkan trader untuk memaksimalkan harga jual dan meminimumkan harga beli ketika pasar kripto bergejolak. Selain itu, trader juga bisa memanfaatkan stop order, sebuah fitur yang memungkinkan trader untuk masuk atau keluar dari sebuah posisi ketika momentum pasar menyebabkan harga aset kripto bergerak kencang, baik ke arah melemah atau menguat.

    Masing-masing pendekatan memiliki kegunaan tersendiri yang tergantung atas keadaan pasar dan pengalamanmu sendiri. Jika kamu baru memulai berinvestasi, maka pendekatan jangka panjang berbasis analisis fundamental akan menjadi pilihan baik untukmu.

    Seiring pengalamanmu meningkat, atau kamu percaya bisa membaca arah pergerakan pasar, maka kamu bisa menggunakan analisis teknikal dan memanfaatkan tipe order lanjutan demi menciptakan strategi trading yang sesuai dengan sudut pandangmu.



    Sumber : pluang.com

  • Apakah Aset Kripto Legal di Indonesia?

    Kebijakan pemerintah adalah hal sensitif bagi mata uang kripto. Beberapa pihak masih sangsi dengan sahnya transaksi aset kripto karena melihat bahwa aset ini masih berusia relatif muda  dan memiliki pergerakan harga yang tinggi. 

    Hal ini juga terlihat di Indonesia. Banyak kabar miring mengenai legalitas aset kripto di tanah air membuat sebagian masyarakat masih menjauhi aset satu ini. 

    Lantas, bagaimana posisi cryptocurrency di mata peraturan Indonesia?

    Legalitas Cryptocurrency di Indonesia

    1. Apakah Cryptocurrency Legal Sebagai Investasi/Aset Trading?

    Jawabannya adalah ya.

    Perdagangan Aset Kripto disahkan pada September 2018, ketika Kementerian Perdagangan menyetujui perdagangan Bitcoin (BTC) dan aset kripto sebagai komoditas. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), yang bertindak sebagai regulator perdagangan komoditas dalam negeri, kemudian menyusun regulasi aset kripto dan blockchain di dalam negeri.

    Hal itu kemudian dimuat  ke dalam Peraturan Bappebti No. 5/2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka. Aturan lebih jelasnya bisa Sobat Cuan unduh di sini.

    Peraturan tersebut dilengkapi setahun kemudian melalui Peraturan Bappebti No. 7/2020 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

    Jika aturan sebelumnya mengatur dasar-dasar trading aset kripto, aturan yang baru ini menjabarkan 229 jenis aset kripto yang dapat diperdagangkan secara legal di Indonesia. Beleid ini dibutuhkan demi melindungi investor Indonesia dari penipuan trading aset kripto.

    Agar lebih jelas, Sobat Cuan bisa baca aturannya di sini.

    Segala aktivitas transaksi kripto di Pluang diawasi dan juga diregulasi di bawah aturan BAPPEBTI.

    2. Apakah Cryptocurrency Sah Sebagai Alat Tukar?

    Jawabannya adalah tidak.

    Meskipun tukar menukar aset kripto sah di Indonesia, namun Bank Indonesia masih tidak mengenali kripto sebagai alat pembayaran.

    Hal itu ditegaskan dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Adapun pasal 1 beleid tersebut mengatakan, “mata uang adalah uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Rupiah.”

    Hal ini adalah salah satu masalah besar dalam adopsi kripto yang lebih luas. Selain itu, banyak bank yang enggan membuka rekening terkait perdagangan kripto, dan masih banyak informasi yang salah mengenai sifat mata uang kripto.

    Namun, beberapa pelaku usaha secara terbatas sudah mulai menerima pembayaran kripto, di antaranya:

    1. ESO Trans Digital: ESO Trans Digital adalah platform pembayaran dan transaksi yang memanfaatkan teknologi blockchain dan NFC. Pengguna dapat membayar barang dan jasa dengan kripto melalui Kode QR dan opsi pembayaran lainnya.
    2. Nobi: Nobi adalah platform tabungan blockchain yang bisa dimanfaatkan penggunanya untuk menyetor, menyimpan, dan staking aset kripto untuk mendapatkan hadiah di aplikasi selulernya.
    3. Teknologi BCS: Teknologi BCS adalah perusahaan konsultan yang bergerak di bidang pembangunan proyek blockchain. Perusahaan menerima pembayaran kripto untuk layanannya.

    Beberapa pihak memperkirakan bahwa pemerintah pada akhirnya akan mengubah klasifikasi aset kripto dari komoditas menjadi aset digital. Apalagi, Bank Indonesia sendiri juga sudah berencana untuk merilis mata uang rupiah digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC).

    3. Apakah Ada Regulasi Soal Perpajakan Cryptocurrency di Indonesia?

    Jawabannya adalah ada.

    Pemerintah secara resmi mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 0,1% hingga 0,2% untuk pembelian aset mata uang digital alias kripto per 1 Mei 2022. Ketentuan itu tertuang di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 68 tahun 2022 tentang PPN dan Pajak Penghasilan (PPh) atas Transaksi Perdagangan Aset Kripto.

    Aturan itu juga menjelaskan bahwa penjual aset kripto dibebankan Pajak Penghasilan (PPh) 22 dengan tarif 0,1% dari nilai transaksi aset kripto. Namun, penjual aset kripto akan dikenakan tarif PPh 22 0,2% jika penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik bukan merupakan pedagang fisik aset kripto.

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • 7 Faktor yang Mempengaruhi Harga Aset Kripto

    Seperti aset finansial, pergerakan harga crypto ditentukan oleh posisi permintaan dan penawarannya. Berikut adalah tujuh faktor yang mempengaruhi naik-turun harga aset kripto.

    Dari sisi penawaran, faktor yang mempengaruhi pergerakan harga aset kripto adalah:

    1. Kebijakan Moneter dan Tokenomics

    Salah satu faktor terpenting yang menentukan pergerakan harga cryptocurrency adalah besar persediaan aset kripto tersebut. Adapun tata kelola mengenai persediaan aset kripto di pasaran disebut sebagai kebijakan moneter, sementara dampaknya terhadap investor kripto disebut sebagai tokenomics.

    Banyak protokol dan koin punya tata kelola tersendiri untuk menentukan jumlah aset kripto yang beredar. Hal tersebut bisa diputuskan melalui cara yang demokratis (melakukan pemungutan suara berdasarkan jumlah kepemilikan aset kripto) atau metode yang lebih terpusat di mana terdapat dewan khusus yang mengendalikan tata kelola persediaan aset kripto.

    Beberapa organisasi memilih untuk “membakar” koinnya untuk mengurangi jumlah koin beredar, salah satunya adalah Binance terhadap Binance Coin. Setiap kuartal, Binance membeli kembali (buyback) BNB menggunakan laba yang telah dihimpun dan kemudian menghancurkan atau “membakar” BNB. Peristiwa ini disebut coin burn.

    Alhasil, jumlah BNB yang beredar semakin sedikit. Binance berencana untuk melakukan kebijakan tersebut sampai 100 juta keping BNB “terbakar”. Dampak pembakaran koin ini tercermin di dalam pergerakan harga BNB, seperti yang ditunjukkan pada grafik berikut.

    Coin Burn BNB

    Grafik di atas memperlihatkan bahwa harga BNB menanjak dan menyentuh titik US$600 pada April 2021, alias bertepatan dengan coin burn yang ke-15. Pada bulan itu, Binance membakar 1.099.888 keping BNB bernilai US$595,31 juta. Nilai ini merupakan pembakaran koin terbesar yang dilakukan Binance.  

    2. Ongkos Produksi

    Sama seperti kegiatan pertambangan barang logam, aksi crypto mining pun membutuhkan biaya “penambangan”.

    Di bitcoin mining, misalnya, penambang membutuhkan modal besar untuk membeli komputer dengan daya pemrosesan yang mumpuni. Para penambang membutuhkan piranti keras dengan spesifikasi kompleks karena mereka harus memecahkan teka-teki algoritma yang rumit untuk menerima upah mereka dalam bentuk keping Bitcoin.

    Sayangnya, kegiatan tersebut juga membutuhkan daya listrik yang cukup besar. Riset Universitas Cambridge di awal 2021 menunjukkan bahwa penambangan Bitcoin di seluruh dunia menggunakan listrik sampai 121,36 Terawatt-Hour (TWh) dalam setahun, lebih besar dibandingkan konsumsi listrik Argentina di periode yang sama.

    Seluruh komponen-komponen biaya tersebut pun tercermin ke dalam penentuan harga Bitcoin.

    Sementara itu, faktor yang mempengaruhi permintaan cryptocurrency terdiri dari:

    3. Permintaan Terhadap Teknologi Blockchain

    Permintaan satu aset kripto akan melonjak jika komunitas kripto banyak memanfaatkan teknologi blockchain yang merupakan rumah dari cryptocurrency tersebut. Ini terjadi lantaran biaya penggunaan blockchain dibayar menggunakan cryptocurrency asli blockchain tersebut. Sehingga permintaan cryptocurrency akan sejalan dengan meningkatnya penggunaan blockchain.

    Ada berbagai macam alasan mengapa komunitas kripto mengerubungi satu teknologi blockchain tertentu. Biasanya tiga alasan utamanya adalah skalabilitas transaksi yang lebih baik dibanding teknologi blockchain lainnya, munculnya fitur-fitur baru, serta rendahnya biaya transaksi dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

    4. Adopsi Massal dari Investor Ritel dan Institusi

    Meningkatnya penggunaan koin secara besar-besar akan menyebabkan kenaikan harga yang kencang. Ini mengingat sebagian besar cryptocurrency memiliki persediaan terbatas, sehingga kenaikan permintaan tentu akan mengerek harganya.

    Hanya saja, untuk bisa diadopsi massal, cryptocurrency harus punya manfaat jelas di dunia nyata misalnya bisa digunakan sebagai alat pembayaran sehari-hari.

    Cryptocurrency seperti Bitcoin sudah diadopsi oleh investor institusi sebagai instrumen penyimpan kekayaan. Makanya, harganya sempat meningkat dan menembus titik US$60.000 per keping pada awal 2021. Di samping itu, El Salvador juga berencana menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi di negara tersebut.

    Sementara itu, pola adopsi cryptocurrency oleh investor ritel membentuk kurva berbentuk lonceng, seperti yang diperlihatkan di gambar berikut. Baru 150 juta individu di dunia yang menggenggam aset kripto. Jika dibandingkan dengan jumlah populasi dunia yang di atas 6 miliar jiwa, maka bisa dibilang bahwa adopsi cryptocurrency di dunia masih dalam tahap awal.

    Bell Shaped Curve Cryptocurrency

    Baik investor ritel dan institusi mulai melirik nilai jangka panjang dari cryptocurrency. Kenaikan harga beberapa aset kripto yang pesat di 2021 menjadi bukti bahwa derasnya permintaan dari investor institusi dan ritel makin terus meningkatkan permintaan dan harga kripto. 

    Di samping penawaran dan permintaan, kondisi makroekonomi global juga punya peranan kuat dalam mempengaruhi pergerakan harga aset kripto.

    5. Inflasi Mata Uang atau Penurunan Nilai Mata Uang Fiat

    Harga aset kripto, terutama koin yang memiliki kegunaan yang jelas, seharusnya meningkat di tengah langkah bank sentral global yang terus mencetak uang dan menerapkan rezim suku bunga rendah.

    Hal ini bisa terjadi lantaran karakteristik pasokan uang fiat bertolak belakang dengan cryptocurrency. Persediaan aset kripto terbilang terbatas, sehingga masyarakat seharusnya beralih ke instrumen ini apabila jumlah uang fiat yang beredar semakin banyak.

    Penting untuk diingat bahwa Bitcoin tercipta untuk menanggapi pencetakan uang fiat secara besar-besaran, yang saat itu dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia untuk menanggulangi krisis keuangan global. Langkah ini kemungkinan akan terus berulang di setiap resesi ekonomi di mana pemangku kebijakan tidak mempunyai pilihan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi selain memangkas suku bunga acuan atau mencetak lebih banyak uang. 25% dari Dolar AS yang beredar sekarang ini dicetak pada 2020 lalu.

    Di samping itu, pemilik aset kripto juga kini berkesempatan untuk mendulang cuan dari kegiatan menabung aset kripto dengan memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari menabung di bank konvensional. Kini, hal tersebut bisa terlaksana seiring maraknya penggunaan aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi). Imbal hasil yang tinggi dan persediaan yang ketat membuat aset kripto bermanfaat sebagai pelindung nilai kekayaan dari gerusan inflasi yang diakibatkan pencetakan uang.

    Di aplikasi Pluang, Sobat Cuan juga bisa mendulang cuan hanya dengan menabung Bitcoin dan Ethereum menggunakan fitur PluangCuan. Kamu bisa mendapatkan imbal hasil sebesar 3,5% per tahun jika menabung lebih dari 0,001 ETH atau 0,0005 Bitcoin. Yuk, kunjungi tautan berikut untuk informasi lebih lanjut.

    6. Regulasi Pemerintah

    Serangkaian regulasi pemerintah bisa mempengaruhi permintaan maupun penawaran dari aset kripto. Kondisi ini bisa terjadi lantaran pemerintah punya wewenang untuk mengatur, mengenakan pajak, atau bahkan melarang kegiatan cryptocurrency, yang biasanya akan menurunkan harga aset kripto.

    Investor kripto Indonesia tidak hanya perlu paham soal regulasi kripto di Indonesia, namun juga mengamati bagaimana dua negara adikuasa, China dan AS, mengatur kegiatan kripto di negara masing-masing.

    Pada Mei 2021, otoritas China menerbitkan peringatan mengenai trading dan pertambangan aset kripto. Setelahnya, otoritas China dilaporkan mengadakan pertemuan dengan bank-bank besar sembari menegaskan bahwa institusi perbankan di China tidak boleh terlibat dalam transaksi cryptocurrency.

    Gestur otoritas China tersebut membuat harga Bitcoin longsor dari titik rekornya di kisaran US$65.000 menjadi di bawah US$30.000 per keping. Sikap tersebut juga menurunkan tingkat kapasitas pertambangan kripto di China mengingat negara tirai bambu itu mengambil porsi 50% dari hash rate Bitcoin dunia.

    Amerika Serikat mengesahkan kegiatan tukar menukar aset kripto di bursa kripto, namun bukan sebagai alat tukar resmi. Dewan legislatif AS telah berulang kali ingin mengatur aset kripto karena khawatir bahwa kehadiran mata uang ini dapat mengganggu dominasi Dolar AS di kancah ekonomi global dan dampak aset kripto apabila dipegang dalam jumlah yang besar oleh individu dan institusi. 

    Pemerintahan AS di bawah Joe Biden sedang mempertimbangkan untuk mengutip pajak dari kegiatan kripto untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur AS seperti yang dituangkan di dalam RUU Pendanaan Infrastruktur.

    Indonesia mengesahkan perdagangan aset kripto pada September 2018, ketika Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa Bitcoin dan aset kripto lain termasuk komoditas. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), badan di bawah Kementerian Perdagangan yang mengatur perdagangan komoditas domestik, kemudian mempersiapkan serangkaian peraturan untuk mengatur aktivitas blockchain dan aset kripto di Indonesia.

    7. Momentum

    Terakhir, seperti pasar keuangan lainnya, harga aset kripto ditentukan oleh spekulasi. Masing-masing trader ritel, investor institusi, dan lembaga pengelola investasi global (hedge fund) memiliki pandangan berbeda mengenai kondisi pasar dan perbedaan ini bisa mempengaruhi harga aset kripto.

    Pergerakan harga di pasar aset kripto bisa sangat cepat dan lebar. Hal ini terjadi karena banyak trader yang memanfaatkan algoritma dalam tukar menukar aset kripto. Jika harga kripto menembus satu titik tertentu, maka sistem algoritma akan mengeksekusi aksi jual atau beli. Aksi ini selanjutnya akan menjadi pemicu bertindaknya trader lain di mana tindakan mereka ini kemudian juga akan mempengaruhi lagi pergerakan pelaku pasar lainnya.

    Karena pelaku pasar cenderung kesulitan untuk menilai harga aset kripto melalui aspek fundamental, perhatian kemudian diarahkan oleh isu dan berita yang menghebohkan atau seruan-seruan membeli atau menjual oleh pendukung aset kripto. Misalnya, harga aset kripto bisa jumpalitan ketika influencer aset kripto, seperti punggawa Tesla Elon Musk, mengunggah cuitan atau membuat meme tentang cryptocurrency di akun Twitter-nya.

    Kenapa Harga Aset Kripto Sangat Bergejolak?

    1. Pasar digerakkan oleh narasi. Cryptocurrency tidak menghasilkan imbal hasil layaknya instrumen ekuitas yang memiliki data pendapatan dan laba. Nilai aset kripto tidak bisa ditaksir melalui pendekatan pasar modal biasa seperti melalui kinerja keuangan perusahaan atau indikator fundamental tradisional semisal rasio harga saham terhadap pendapatan (price to earning ratio). Yang terjadi adalah, harga aset kripto sangat dipengaruhi oleh narasi atau kabar-kabar tertentu. Misalkan kenaikan harga cryptocurrency 2020 silam yang sangat cepat didorong oleh cuitan Elon Musk di Twitter beserta pandangannya soal aset kripto.
    2. Volume trading di bursa aset kripto tidak dapat diukur, sementara data ukuran on-chain tidak bisa menjelaskan kondisi pasar kripto sebenarnya. Pasar kripto dibentuk dari jaringan platform bursa dan penyedia yang beragam bukan dari satu bursa yang terpusat. Akibatnya, masing-masing platform bursa aset kripto memiliki harga aset kripto yang berbeda-beda satu sama lain. Dengan kata lain, cryptocurrency tidak memiliki satu harga tunggal. Ini berbeda dengan pasar modal konvensional, di mana data harga dan volume sekuritas yang diperdagangkan jelas sesuai dengan aktivitas di bursa saham.
      Investor juga mengalami kesulitan mengukur volume trading aset kripto karena data volume on-chain dari sebuah cryptocurrency tidak mencerminkan total data trading yang terjadi di seluruh platform bursa aset kripto.
    3. Momentum dan volatilitas terjadi kala pasar merespons algoritma tradingSecara teori, harga cryptocurrency antar platform trading kripto tidak berbeda jauh satu sama lain akibat hadirnya perdagangan berbasis algoritma di dalamnya. Namun, pada kenyatannya, penggunaan algoritma untuk trading bisa membuat harga bergerak drastis. Misalnya, penurunan harga sebuah aset kripto akan memicu aksi “jual” jika trader memasang aksi jual otomatis di level harga tersebut. Sayangnya, peristiwa itu juga akan dibaca pelaku pasar lain sebagai aksi jual, sehingga trader lainnya akan ikut latah dengan menjual aset kriptonya.

    4 Langkah dalam Menghadapi Volatilitas Harga di Pasar Kripto

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pergerakan harga yang cepat dan tinggi atau volatilitas pasar adalah alamiah dalam pasar kripto. Harga aset kripto bisa naik-turun dalam sekejap, sehingga Sobat Cuan harus terbiasa jika ingin menginjakkan kaki ke jagat kripto.

    Berikut adalah empat strategi yang bisa kamu terapkan dalam menghadapi fluktuasi harga aset kripto.

    1. Tentukan Toleransi Kerugianmu

    Sebagai contoh, kamu mungkin masih bisa mentolerir kerugian jika harga Bitcoin terjun 50%. Sehingga, kamu masih akan menggenggam Bitcoin jika harganya anjlok, misalnya, 40% dari US$30.000 ke US$18.000. Namun, kamu akan segera melepas Bitcoin-mu jika persentase penurunan harganya melebihi 50%.

    2. Diversifikasi Aset Kripto

    Untuk mendulang imbal hasil kripto yang optimal, kamu perlu menempatkan uang di berbagai jenis cryptocurrency. Salah satu strategi yang cukup mudah adalah dengan menempatkan 33.3% portofolio aset kripto di Bitcoin, 33.3% di Ethereum, dan sisanya di altcoin yang lain. Dengan cara ini, maka 66.7% portofolio berisikan aset dengan nilai kapitalisasi terbesar dan paling likuid dalam kelas aset cryptocurrency.

    3. Ambil Untung Kemudian Investasi di Kelas Aset Lain

    Kamu akan mendulang cuan jika menjual aset kriptomu di harga yang tinggi. Setelahnya, kamu bisa menggunakan cuan tersebut untuk melakukan diversifikasi di kelas aset lain misalnya emas, reksa dana pendapatan tetap, atau saham.

    Memang, aset-aset ini terlihat tidak menarik ketika harga aset kripto sedang turun. Namun ini merupakan pemikiran yang baik untuk memanfaatkan harga yang sedang tinggi dan keuntunganmu yang sudah tercapai di kripto untuk membukukan keuntungan dan diversifikasi ke kelas aset yang lain.

    4. Lakukan Strategi Dollar Cost Averaging

    Harga aset kripto bisa sangat fluktuatif, sehingga merupakan pemikiran yang baik jika kita memilih untuk melakukan investasi dengan jumlah yang sama dan secara rutin. Strategi yang dikenal dengan Dollar Cost Averaging ini akan mengurangi risiko timing dalam berinvestasi, yakni risiko di mana kamu menyusun portfolio aset kriptomu dengan harga mahal atau menjualnya di harga yang murah.

    Dengan strategi ini, kamu akan mendapatkan keping-keping cryptocurrency dalam jumlah banyak saat harganya turun. Nah, jika ternyata tren harga cryptocurrency itu tengah menanjak, maka kamu bisa berhasil mendapatkan aset kripto yang dimaksud dengan harga yang lebih murah.

    Cara termudah untuk melakukan Dollar Cost Averaging adalah dengan mengalokasikan suatu persentase pendapatan per bulan misalnya sebesar 30%, untuk berinvestasi kripto secara rutin.

    Kini, kamu bisa melakukan Dollar Cost Averaging di Pluang dengan memanfaatkan fitur Pluang Autoinvest. Fitur ini memungkinkan kamu untuk berinvestasi kripto rutin secara mingguan atau bulanan. Yang kamu perlu lakukan adalah menjadwalkan investasi otomatis sehari setelah tanggal gajian agar kamu bisa membangun kebiasaan investasi yang baik. Kenali lebih jauh fitur Autoinvest di sini.

    Di samping itu, penting bagimu untuk tidak mementingkan emosi ketika bermain dengan aset kripto.Ingatlah bahwa trader yang berpengalaman juga masih sering termakan perasaan Fear of Missing Out (FOMO) dan berujung pada membeli aset di harga yang tinggi dan sebaliknya panik menjual langsung asetnya karena takut harga anjlok.

    Volatilitas bisa menggoyangkan mental investor, termasuk investor paling ahli sekalipun. Seperti petinju kawakan Mike Tyson pernah lontarkan: “Semua orang merasa memiliki rencana, namun rencana itu gagal ketika mulut mereka ditinju”.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Bitcoin, Ethereum, dan Altcoin

    Jenis cryptocurrency terbilang banyak. Berdasarkan data Coinmarketcap per 3 Agustus 2021, terdapat hampir 6.000 aset kripto yang terdapat di dunia ini.

    Namun, terdapat tiga jenis cryptocurrency yang Sobat Cuan perlu pahami ketika mempelajari jagat kripto: Bitcoin, Ethereum, dan koin alternatif yang disebut Altcoin.

    Bitcoin (BTC)

    Bitcoin adalah cryptocurrency pertama dan pelopor inovasi dari segala macam aset kripto yang hadir setelahnya. Berikut adalah fitur-fitur inti yang dimiliki Bitcoin.

    1. Persediaan terbatas, hanya 21 juta keping. Tidak seperti uang fiat, misalnya Dolar AS yang bisa dicetak oleh bank sentral AS The Fed, persediaan Bitcoin terbilang tetap berkat algoritma yang dimilikinya. Imbalan bagi penambang Bitcoin (block rewards) pun ikut merosot setengah setelah mereka selesai menambang 210.000 blok transaksi, yang biasanya terjadi setiap empat tahun sekali, dalam fenomena yang disebut sebagai halvening. Sejauh ini, sudah terdapat empat kali halvening sejak Bitcoin diluncurkan 2009 silam.
    2. Aman. Sejauh ini, tidak ada seorang pun yang mampu meretas jaringan blockchain Bitcoin. Untuk bisa meretasnya, sang peretas perlu mengumpulkan 51% dari seluruh kekuatan hash di jaringan blockchain atau dikenal dengan nama serangan Sybil (Sybil Attack). Jika peretas sukses melakukan serangan tersebut, maka mereka bisa memvalidasi transaksi ilegal mereka di teknologi blockchain.
      Namun, kini risiko serangan tersebut hampir tidak mungkin terjadi mengingat keping-keping Bitcoin telah terdistribusi secara luas. Hal ini merupakan contoh dari efek jaringan (network effect), di mana kualitas sebuah produk akan semakin baik seiring banyaknya orang mengadopsi produk tersebut.
    3. Punya likuiditas dan kapitalisasi pasar terbesar di antara seluruh cryptocurrency. Sebagai aset kripto pertama dan populer, tak heran jika Bitcoin punya kapitalisasi pasar terbesar di jagat kripto. Kapitalisasi pasar Bitcoin sempat menyentuh di atas US$1 triliun dan selalu mengambil porsi 30% dari seluruh kapitalisasi pasar cryptocurrency. Biasanya, kondisi tersebut menandakan bahwa Bitcoin adalah koin yang sering berpindah tangan (likuid) dan memiliki fluktuasi harga lebih rendah dibanding aset kripto lainnya.
      Karena karakteristik tersebut, Bitcoin bisa diturunkan ke dalam produk derivatif misalnya kontrak opsi, kontrak berjangka, dan produk lainnya. Bitcoin juga bisa disebut sebagai aset yang gampang dipertukarkan (reserve asset) di golongan aset kripto. Contohnya, investor hanya perlu menempatkan uang di Bitcoin hanya untuk mendapatkan eksposur dari keseluruhan pasar aset kripto.

    Namun, Bitcoin juga punya beberapa kelemahan, di antaranya:

    1. Skalabilitas transaksi rendah. Teknologi blockchain Bitcoin hanya bisa memproses 4,6 transaksi per detik, sementara perusahaan pembayaran VISA bisa memproses lebih dari 1.700 transaksi di rentang waktu yang sama. Kondisi tersebut membuat Bitcoin sulit dijadikan sebagai medium pembayaran.
    2. Tidak dilengkapi fitur smart contract. Sebagai pelopor cryptocurrency, teknologi blockchain Bitcoin hanya mampu digunakan untuk transfer nilai. Sehingga, ia tidak punya fungsi lain yang dibutuhkan pengguna agar bisa mengeksekusi smart contract.
    3. Boros energi. Di dalam operasinya, blockchain Bitcoin menggunakan algoritma konsensus yang disebut Proof-of-Work, di mana masing-masing penambang saling berkompetisi untuk memecahkan teka-teki kriptografi atau soal matematika demi memvalidasi transaksi dan mendapatkan imbalan berupa kepingan Bitcoin. Sayangnya, kegiatan itu membutuhkan energi listrik yang besar, bahkan jumlahnya setara dengan kebutuhan listrik Finlandia setiap tahunnya.

    Ethereum

    Bitcoin boleh saja didapuk sebagai pionir cryptocurrency dan menyandang status sebagai koin terpopuler. Namun, tetap saja teknologinya masih memiliki beberapa kekurangan. Untuk menutup kekurangan tersebut, Vitalik Buterin menciptakan teknologi Ethereum pada 2013 silam.

    Dikutip dari whitepaper-nya, Ethereum bertujuan untuk membangun sebuah “Kontrak Pintar bagi Generasi Mendatang dan Menjadi Platform Aplikasi Desentralisasi“.

    Beberapa manfaat Ethereum antara lain:

    1. Menekankan posisi sebagai platform. Ketika Bitcoin bertujuan menjadi mata uang yang bisa digunakan sebagai medium pembayaran, Ethereum memilih untuk menjadi platform yang dapat mengatur smart contract, sebuah fitur yang mampu meningkatkan kegunaan teknologi blockchain. Sebagai analoginya, Sobat Cuan bisa membayangkan bahwa Ethereum adalah platform blockchain yang berfungsi layaknya App Store atau Android App Store, sementara Bitcoin memiliki karakteristik layaknya komoditas seperti emas atau aset penyimpan nilai lainnya. Untuk penjelasan lebih mudahnya lagi, Sobat Cuan juga bisa menyimak contoh berikut. Anggap saja kamu ingin menciptakan aplikasi yang memungkinkan penggunanya untuk bertaruh mengenai hasil pertandingan olahraga, misalnya final liga basket NBA. Kamu tidak bisa membuat aplikasi itu di atas jaringan Bitcoin. Namun, dengan menggunakan Ethereum, kamu bisa menciptakan aplikasi berbasis smart contract, di mana penggunanya bisa bertaruh sebelum pertandingan itu dimulai. Ketika pertandingan itu selesai, smart contract kemudian akan memanfaatkan teknologi bernama oracle, seperti Chainlink (LINK), untuk memindai situs yang menamplikan hasil pertandingan final NBA, misalnya ESPN.com, dalam mencari pemenang liga tersebut. Setelah hasil pertandingan tersebut diverifikasi, teknologi smart contract kemudian akan memberikan hadiah kepada pengguna yang telah menebak pemenang final liga NBA dengan jitu.Karena karakteristik tersebut, Ethereum bisa menciptakan ekosistem aplikasi, di mana masing-masing aplikasi tersebut punya cryptocurrency-nya tersendiri dan seluruhnya berjalan di atas teknologi Ethereum.
    2. Menekankan pada kecepatan transaksi. Teknologi blockchain Bitcoin menekankan pada keamanan ketimbang kecepatan transaksi. Ethereum mampu memproses banyak transaksi kurang dari 20 detik (dengan asumsi tanpa ada hambatan), sementara Bitcoin membutuhkan 10 menit untuk melakukan hal serupa.
    3. Persediaan koin tidak terbatas. Jumlah Bitcoin di dunia ini terbatas hanya 21 juta keping saja. Di sisi lain, jumlah pasokan Ethereum tidak dibatasi sama sekali. Meski demikian, laju produksi keping-keping ETH baru terus menurun antar periode.

    Karena kegunaan dan manfaatnya, pengguna jaringan Ethereum dan jaringan ERC-20 telah meningkat drastis antar tahun. Bahkan, di 2021, jumlah penggunanya telah melebihi rekor yang dicetak sebelumnya pada 2018.

     

    Namun kini, Ethereum tengah mengalami masalah yang disebut dengan kemacetan jaringan (network congestion) dan ongkos transaksi yang kian mahal. Karena biaya penggunaan jaringan Ethereum (yang dikenal dengan gas fees) dibayar menggunakan ETH, maka kenaikan harga koin itu secara otomatis juga akan mengerek biaya transaksi di jaringan tersebut. Seluruh masalah tersebut akan terselesaikan jika nanti organisasi Ethereum telah memperbarui jaringan menjadi Ethereum 2.0.

    Altcoins

    Perilisan Ethereum telah menginspirasi komunitas kripto untuk merilis koin dan token lainnya. Seluruh aset digital ini kemudian dianggap sebagai alternatif dari cryptocurrency pertama, yakni Bitcoin, sehingga mereka kemudian dinamakan sebagai altcoins. Karena altcoins adalah koin selain Bitcoin, maka Ethereum pun secara otomatis juga masuk ke dalam golongan altcoins.

    Altcoin hadir dalam berbagai bentuk dan menyediakan banyak fungsi. Beberapa koin memiliki ambisi besar seperti Ethereum, sementara koin lainnya memiliki fungsi khusus. Bahkan, beberapa koin malah memanfaatkan infrastruktur yang disediakan oleh koin lainnya. Sebagai contoh, platform tukar-menukar cryptocurrency terdesentralisasi seperti Uniswap memanfaatkan blockchain ERC-20 milik Ethereum dan bertindak selayaknya aplikasi di atas jaringan Ethereum. Kondisi ini mirip seperti sebuah aplikasi Android yang berada di atas Google Playstore.

    Meski tidak ada cara yang baku untuk mengkategorikannya, jenis-jenis altcoin bisa dikelompokkan sesuai fungsi dan ekosistemnya. Sobat Cuan bisa menuju tautan berikut untuk mengenal lebih jauh 29 Altcoins yang ada di aplikasi Pluang.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Berbagai Macam Gaya Berinvestasi

    Investor memiliki gaya tersendiri dalam berinvestasi. Berikut adalah ragam contoh gaya investasi yang sering dilakukan investor, baik investor pemula maupun kawakan.

    1. Analisis Fundamental vs Analisis Teknikal

    Investor biasanya menggunakan dua pendekatan untuk menganalisis instrumen finansial, yakni analisis fundamental dan analisis teknikal.

    Analisis fundamental: Analisis fundamental digunakan untuk menentukan nilai intrinsik dari sebuah aset sehingga kamu bisa memanfaatkan kesempatan apabila pasar menilai berbeda dari perkiraanmu. Kamu bisa mendulang cuan dengan membeli aset saat harga pasar lebih murah dibanding nilai intrinsiknya lalu menjualnya kembali saat pelaku pasar kembali menyadari nilai sesungguhnya dari aset tersebut.

    Penganut paham analisis fundamental (alias kaum fundamentalis) percaya bahwa mereka bisa memanfaatkan data-data perusahaan yang terbuka untuk umum, seperti laporan keuangan dan neraca perusahaan, untuk menentukan nilai saham atau instrumen lain yang diterbitkan perusahaan tersebut. Caranya adalah dengan melihat arus kas, profitabilitas, rasio atau indikator penerimaan perusahaan tersebut.

    Kaum fundamentalis percaya bahwa pada akhirnya harga pasar sebuah aset akan sesuai dengan nilai yang dianggap pantas, namun pasar membutuhkan waktu untuk menyerap kabar dan informasi untuk menilai secara tepat. Sehingga pemegang prinsip ini akan bersikap sabar setelah berhasil membeli aset pada harga yang dirasakan murah dan menunggu sampai pasar pada akhirnya juga menyerap informasi dengan benar dan mendorong harga pasar ke atas.

    Analisis teknikal: Melalui analisis ini, investor mencoba melihat celah untuk masuk atau keluar pasar menggunakan data historis atau pola pergerakan sebuah harga aset di masa lampau. Analisis ini berbeda dengan analisis fundamental, yang berfokus mencari celah cuan dari perbedaan harga pasar dan nilai intrinsik sebuah aset.

    Penganut analisis teknikal percaya bahwa aspek psikologis mendorong pemain pasar untuk bertindak mengikuti suatu pola jual-beli aset yang dapat dikenali. Misalnya menjual aset saat harga menyentuh level resistance supaya memastikan balik modal dan membukukan laba. 

    Investor tidak boleh memasukkan harga beli aset sebagai komponen dalam menentukan harga jual aset mereka. Sebab, harga beli aset merupakan sunk cost, suatu pengeluaran yang sudah terjadi dan tidak dapat dipulihkan kembali ketika seseorang mengambil keputusan bisnis. Hanya saja, banyak investor tidak suka untuk mengakui kerugiannya dan biaya ini merupakan hal yang sering mempengaruhi waktu masuk atau keluar pasar.

    Kedua jenis analisis tersebut sama-sama memiliki manfaat dalam berinvestasi. Analisis teknikal terutama berguna di pasar kripto lantaran pergerakan harganya lebih dipengaruhi oleh momentum dan banyak pemain pasar yang memakai algoritma dalam trading. Trader seperti ini akan bergerak mengikuti sinyal trading yang bersumber dari analisis teknikal dan selanjutnya tindakan mereka itu akan menciptakan gaung yang memastikan pola dan tren benar-benar tercipta. Pasar kripto benar-benar pasar yang cocok untuk analisis teknikal. 

    Di sisi lain, manajer dana internasional (hedge fund) memanfaatkan analisis fundamental ketika akan menempatkan dananya. Namun, mereka juga menggunakan trading berbasis analisis teknikal ketika ingin masuk atau keluar pasar.

    2. Investasi Jangka Panjang vs Trading Harian

    Layaknya bertanding catur atau basket, berinvestasi juga membutuhkan strategi yang bermacam-macam. Beberapa strategi fokus dalam membeli aset dasar (underlying asset) dan menyimpannya sampai harga meningkat dan membiarkan waktu bekerja untuk menghasilkan efek majemuk. Sementara itu, strategi lainnya mengharuskan kamu untuk masuk dan keluar pasar dan berseluncur di atas gelombang volatilitas harga dan momentum menerjang pasar.

    Terdapat dua gaya berinvestasi utama yang bisa dibedakan dari lamanya memegang aset.

    1. Beli dan Tahan (investasi jangka panjang). Kebanyakan aset akan melihat peningkatan harga seiring berjalannya waktu (walau memang mungkin kenaikan tersebut hanya untuk menyesuaikan dengan tingkat inflasi).

    Investor jangka panjang akan mencari aset yang nilainya berpotensi menanjak untuk memperoleh imbal hasil yang wajar untuk kelas aset tersebut. Berkat dampak bunga majemuk, kenaikan nilai investasi ini tetap akan signifikan bahkan jika si investor telah membeli aset tersebut pada saat harganya sedang di atas. Investor dengan gaya seperti ini tidak akan menunggu sampai pasar koreksi besar-besaran jika dia sudah memiliki strategi jangka panjang.  

    Ini terlihat dari gambar di bawah, bahwa jika kamu masuk ke pasar saham di tahun 2007, setahun sebelum pasar jatuh karena krisis keuangan global, sekarang investasi kamu tetap menunjukkan kenaikan yang luar biasa sekitar 200%.

    2. Trading harian. Dalam melakukan trading harian, kamu biasanya akan menjual dan membeli aset berdasarkan analisis teknikal. Misalnya, tren dan pola yang terlihat pada grafik dan indikator kuantitatif berdasarkan harga, volume perdagangan, dan kecepatan pergerakan harga.

    Investor pemula sebaiknya menggunakan strategi “beli dan tahan” untuk mengambil manfaat dari efek bunga majemuk. Investor awam memang memerlukan kesabaran dan disiplin dalam menjalankan strategi ini. Namun, jika strategi ini dijalankan dengan tepat, mereka akan memperoleh rerata tingkat imbal hasil yang mumpuni dalam jangka panjang.

    Selanjutnya semakin banyak pengalaman dan pembelajaran dari memegang aset dan semakin tinggi keberanian untuk meningkatkan jumlah yang dialokasikan untuk aset-aset tersebut, investor bisa memulai mencari ekstra cuan dengan trading. Portfolio kemudian bisa dikembangkan dengan tujuan ini di mana investor mencari waktu yang menarik atau “nama” yang menarik untuk secara aktif diperjualbelikan. 

    Trading bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, seru, dan menguntungkan. Hanya saja, trading sudah dipastikan memiliki risiko lebih tinggi. Jika kamu masih baru coba-coba, sebaiknya dimulai dengan nama aset yang lebih stabil dan banyak dikenal untuk menyesuaikan kemampuan kamu mengatur langkah di tengah pergerakan pasar. Trading secara serius sebaiknya baru dilakukan jika kamu sudah menguasai ilmu-ilmu dasar trading.

    Gaya Investasi Lainnya

    Berikut ini adalah gaya investasi lain yang biasanya dipraktikkan investor.

    Value investing. Strategi investasi ini berfokus dalam mencari aset yang memiliki harga pasar lebih rendah dibanding nilai buku atau nilai intrinsiknya. Dengan kata lain, mereka yang melakukan strategi ini selalu memilih saham atau aset yang “diremehkan” oleh pelaku pasar lainnya.

    Sebagai contoh, saham perusahaan tambang seperti BHP memiliki tingkat imbal hasil 10% bersamaan dengan kenaikan harga komoditas. Namun, harga saham perusahaan tersebut runtuh ketika kegiatan ekonomi terhenti akibat pandemi. Tingkat imbal hasil naik menjadi 15% karena investor sekarang memerlukan modal lebih sedikit untuk membeli saham tersebut dibandingkan sebelum pandemi. 

    Seorang value investor akan membeli saham tersebut dengan tujuan untuk memperoleh dividen BHP sekaligus menunggu naiknya harga ke tingkat normal dan modalnya yang awal bekerja untuk meningkatkan kekayaannya.  

    Growth investing. Strategi investasi ini mencari perusahaan yang memiliki keunggulan pasar yang tinggi dibandingkan pesaingnya yang memungkinkan mereka bertahan saat pasar lesu. Keunggulan ini biasanya dari nilai merek yang kuat (contoh : Nike), perusahaan teknologi yang memiliki beragam hak paten (contoh: Google), dan perusahaan yang punya ekosistem produk kuat dan digemari banyak orang (contoh: Apple), atau mungkin gabungan dari semuanya. 

    “Daya tahan” ini membuat kinerja keuangan perusahaan-perusahaan itu terus bertumbuh dan meningkatkan pendapatan, laba dan arus kas di masa depan. Perusahaan itu mungkin sekarang sedang tidak menghasilkan laba bersih namun masa depannya harus yang sangat menjanjikan. 

    Contohnya adalah Nike. Produsen sepatu ini sukses memasarkan produknya secara global di dekade 1980-an setelah jenamanya menguat akibat menggunakan bintang basket NBA Michael Jordan sebagai duta sepatu sneakers besutannya. Alhasil, pendapatan Nike langsung melesat di beberapa negara.

    Sementara itu, perusahaan teknologi yang memonopoli data seperti Google, Facebook, Amazon, Microsoft, dan Apple selalu punya jalan untuk membuat konsumennya setia menggunakan produk dan jasa mereka, dan bahkan bisa memonetisasinya atau menjadikannya sumber laba, tanpa mengenakan biaya ke konsumen. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki skala ekonomis besar dan akibatnya juga bisa mendulang imbal hasil yang terus meningkat.

    Momentum investing. Ini adalah strategi investasi di mana investor membeli aset yang permintaannya tengah tinggi dan menahannya dalam jangka pendek sebelum menjualnya kembali saat harga memuncak. Investor biasanya latah mengikuti tindakan investor lain dengan membeli aset yang harganya tengah naik, namun langsung buru-buru keluar dari pasar sebelum tren harganya berbalik arah. Oleh karenanya, strategi ini cocok bagi investasi jangka pendek.

    Seiring meningkatnya penggunaan teknologi oleh dunia keuangan, pemanfaatan algoritma juga kian marak digunakan untuk trading dan memasang posisi dalam berinvestasi. Nah, kegiatan ini disebut dengan trading berbasis algoritma (algorithmic trading).

    Di dalam algorithmic trading, investor memanfaatkan kode-kode pemrograman untuk melakukan jual-beli aset yang memiliki harga tidak sesuai dengan nilai intrinsiknya. Aktivitas trading seperti ini banyak dilakukan oleh orang pintar sekelas ilmuwan nuklir dan ahli matematika untuk menganalisa pergerakan harga yang terjadi bahkan di tingkatan peristiwa sekecil mungkin (quantum level). Sebagai contoh, James Simons, pendiri hedge fund paling menguntungkan sejagat Renaissance Technologies, dulunya adalah seorang matematikawan yang pernah mendapat penghargaan. Kini, kekayaan Simons ditaksir US$25,4 miliar.

    Para investor kawakan biasanya memiliki keahlian dalam satu jenis gaya investasi namun mereka mampu menyesuaikan gaya investasinya berdasarkan situasi pasar.



    Sumber : pluang.com

  • Investasi Untuk Pemula

    Sobat Cuan pasti sering mendengar ajakan berinvestasi untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak di masa depan. Apalagi, kini banyak sekali influencer berseliweran memamerkan hasil investasi mereka di media sosial.

    Namun, apa pengertian investasi sesungguhnya? Apakah investasi sama seperti kegiatan menyimpan uang? Terlebih lagi apakah investasi itu sama dengan kegiatan spekulasi?

    Apa Itu Investasi?

    Investasi adalah kegiatan menempatkan dana di sebuah “benda” yang kita sebut dengan aset dengan tujuan bahwa aset tersebut akan naik nilainya di masa depan. Aset bisa memberikan imbal hasil, misalnya ketika kita menerima pendapatan bunga atas tabungan kita dari bank. Atau kita juga bisa mendulang laba dari modal kita atau capital gain ketika harga aset yang digenggam meningkat. Capital gain adalah keuntungan yang kamu dapatkan ketika menjual aset dengan harga lebih tinggi dibanding harga belinya, seperti ketika kamu menjual saham ketika harganya naik. 

    Terdapat beragam kelas aset mulai dari emas, aset kripto, saham, hingga reksa dana pendapatan tetap. Setiap kelas aset ini menawarkan kemungkinan imbal pendapatan dan kenaikan harga yang berbeda.

    Apakah Investasi Sama Dengan Menabung?

    Investasi adalah menempatkan dana dalam instrumen aset. Menabung adalah kegiatan menyimpan uang di tempat aman. Baik investasi maupun menabung adalah kegiatan menyisihkan uang untuk kebutuhan di masa mendatang.

    Ketika masyarakat berbicara mengenai menabung, mereka biasanya merujuk kegiatan menempatkan uang di rekening bank. Dana ini biasanya hanya memperoleh imbal hasil yang kecil atau bahkan tidak sama sekali. Akibatnya nilai simpanan bisa tergerus oleh inflasi di mana daya beli jumlah yang ditabung akan melemah karena harga barang terus meningkat. The Jakarta Post memperkirakan bahwa seorang pemilik rekening yang jumlah tabungannya kurang dari US$1.000, atau Rp14,5 juta tidak akan mendapatkan keuntungan sama sekali dari simpanannya dikarenakan biaya-biaya bank untuk rekening tersebut. 

    Di lain sisi, investasi merujuk pada kegiatan untuk mencari cuan yang lebih tinggi. Kita memahami bahwa laba ini biasanya juga disertai dengan resiko yang lebih tinggi dibandingkan menabung biasa. Namun pada jangka panjang, berinvestasi pada aset seperti saham, obligasi, emas, dan aset kripto akan memberikan imbal hasil melebihi laju inflasi dan juga dibandingkan imbal hasil menabung di bank yang biasanya berkisar di antara 0 hingga 1%. 

    Intinya, menabung adalah kegiatan yang bertujuan untuk menjaga uangmu. Di sisi lain, investasi bertujuan untuk mengembangkan uangmu. Berikut adalah perbedaan lebih lanjut menabung dan investasi.



    Sumber : pluang.com

  • 4 Konsep Utama Investasi Yang Perlu Diketahui

    Terdapat empat konsep utama yang perlu diketahui investor dalam berinvestasi sebagai berikut:

    1. Bunga Majemuk

    Kamu mungkin pernah mendengar konsep bunga majemuk (compound interest) atau imbal hasil majemuk (compound returns). Menurut konsep ini, kita akan memperoleh pendapatan bunga dari investasi awal kita di mana pendapatan bunga itu akan menghasilkan pendapatan bunga berikutnya dan bunga akan terus menghasilkan bunga sehingga cuan yang kamu dapatkan bisa tumbuh secara eksponensial.

    Sebagai contoh, anggap saja kamu berinvestasi Rp10 juta dan membiarkannya tumbuh selama 30 tahun. Berapa nilai uang yang bisa kamu dapatkan pada akhir periode tersebut dengan asumsi imbal hasil 5%, 10% atau 15%? Jawabannya bisa kamu temukan di grafik berikut:

    Dari gambar di atas, kamu bisa melihat bahwa perubahan tingkat bunga majemuk yang relatif kecil akan menghasilkan perubahan yang besar terhadap nilai pokok investasi setelah 30 tahun. Nilai akhir portofolio investasi dengan tingkat imbal hasil 15% sekitar 14 kali lipat dari portofolio yang memiliki tingkat imbal hasil 5%.

    Kondisi di atas mencerminkan aturan pertama dari konsep keuangan: Waktu adalah sahabat terbaik saat aset berkembang sebab penghitungan bunga majemuk memungkinkan imbal yang berlipat.

    Sobat Cuan bisa menggunakan aturan 72 (Rule of 72) untuk melihat dampak dari bunga majemuk terhadap nilai pokok investasi. Dengan menggunakan aturan ini, kamu akan mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk menggandakan investasimu.

    Sebagai contoh, anggap kamu berinvestasi di satu aset yang memiliki imbal hasil 10% per tahun. Maka, kamu perlu berinvestasi di aset tersebut selama 7,2 tahun agar nilai pokok investasi menjadi dua kali lipat, seperti dijelaskan di dalam rumus berikut:

     

    Jika ingin menggandakan uang dalam tiga tahun saja maka kamu harus menempatkan dana di instrumen yang memiliki tingkat imbal hasil 24% per tahun.

    Sobat Cuan bisa melihat rata-rata pertumbuhan nilai kelas-kelas aset utama dalam 10 tahun terakhir pada grafik di bawah ini. Terlihat bahwa di luar aset kripto, global equities atau saham-saham global yang memiliki kinerja paling paling tokcer dibandingkan kelas aset lainnya.

    Dengan rerata imbal hasil 20,2% per tahun, kamu bisa menggandakan uangmu hanya dalam 3,6 tahun jika menempatkan dana di saham global. Atau dengan kata lain, uang US$1 bisa menjadi $2 setelah 3,6 tahun dan akan menjadi $4 setelah 7,2 tahun dari awal investasi dan menjadi $8 setelah 10,8 tahun dari pertama kali $1 ditanamkan.

    Bitcoin dan aset kripto lainnya telah mencetak imbal hasil yang mencengangkan namun 10 tahun yang lalu aset ini masih penuh ketidakpastian dan diragukan kemampuan bertahannya. Baru beberapa tahun terakhir inilah aset kripto diperhitungkan sebagai kelas aset investasi. 

    2. Risiko

    Kamu mungkin pernah mendengar istilah “Tidak ada makan siang gratis” . Konsep ini berlaku di dunia keuangan, di mana potensi cuan yang lebih besar datang bersama dengan risiko yang lebih  tinggi.

    Risiko adalah ketidakpastian akan hasil akhir yang diperkirakan dari sebuah kejadian tertentu. Misalnya investor yang telah menanam modal awal dalam sebuah perusahaan mungkin berpikir bahwa nilai perusahaan tersebut saat penawaran perdana sahamnya ke umum akan mencapai US$1 miliar. Namun saat para analis saham menilai perusahaan tersebut, angka yang mereka dapatkan berada dalam rentang US$500 juta hingga US$1,5 miliar. 

    Semakin lebar rentang hasil akhir yang mungkin didapatkan maka semakin tinggi pula resiko investasi tersebut. 

    Contoh lain adalah apabila kamu memutuskan membeli obligasi pemerintah bertenor satu tahun (akan jatuh tempo setelah satu tahun) senilai Rp1 juta yang menjanjikan imbal hasil 5%. Mengingat investasi obligasi pemerintah tidak berisiko tinggi, maka kamu pasti akan mendapatkan imbal hasil di angka tersebut. Dengan kata lain, di luar kejadian bahwa pemerintah RI akan bangkrut, nilai investasi tidak akan berkembang menjadi Rp1,06 juta atau sebaliknya melorot menjadi Rp1,04 juta, kamu hanya akan memperoleh 1,05 juta saat jatuh tempo. Hasil akhir yang didapatkan sangat dapat diperkirakan.

    Sebaliknya jika kamu menaruh dana tersebut di aset kripto, investasi sebesar Rp1 juta tersebut bisa menjelma antara Rp100.000 hingga Rp10 juta.  Besar kemungkinan bahwa harga aset kripto yang kamu genggam tidak akan bernilai Rp1 juta lagi di masa depan, sehingga membenamkan dana di aset tersebut bisa dikatakan sebagai investasi yang “lebih berisiko”.

    Semua investor sangat khawatir dengan risiko jatuhnya nilai portofolio. Jika nilainya habis terhapus maka kita telah kehilangan modal untuk berinvestasi selanjutnya. Dan jika kamu menarik 50% pokok investasi pertamamu, maka kamu akan membutuhkan tingkat imbal hasil 100% dari sisa yang ditanamkan agar investasi balik modal. 

    Hanya saja meraih tingkat imbalan 100% adalah hal yang sukar. Karenanya investor cenderung bersikap bukan saja menghindari risiko (risk-averse) namun juga menghindari kerugian (loss-averse) ketika berinvestasi.

    3. Diversifikasi

    Jika kamu pernah mendengar perkataan “Jangan taruh seluruh telurmu di satu keranjang”, maka maksud kalimat itu adalah diversifikasi.

    Dalam berinvestasi, diversifikasi adalah aksi menempatkan dana di beberapa aset yang nilainya akan meningkat saat nilai aset lain dalam portfolio tersebut menurun. Sebagai contoh pada saat krisis keuangan global lebih dari satu dekade lalu,  harga emas meroket dan harga saham sebaliknya terjun bebas. Investor berebutan untuk melepas saham dan menukarnya untuk aset-aset yang dianggap aman (safe haven).

    Jadi, jika kamu berinvestasi di emas dan saham pada saat itu, maka penurunan nilai portofolio mu tidak akan sedalam ketika kamu berinvestasi di saham saja.

    Pada dasarnya, berinvestasi bertujuan untuk mencapai “keseimbangan” yang baik antara kelas-kelas aset utama: emas, instrumen berpendapatan tetap, aset kripto, dan ekuitas (baik saham global seperti Facebook maupun saham domestik seperti BCA). Hasil penelitian akademik menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, portofolio yang terdiversifikasi mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang lebih rendah bagi investor. 

    Sobat Cuan bisa menengok diagram portofolio di bawah ini untuk memahami konsep diversifikasi. Di dalam portofolio ini, sang investor telah menempatkan 35% dananya di aset-aset dengan sifat “bertahan”, yakni emas dan instrumen berpendapatan tetap, yang kinerjanya diharapkan tetap moncer kala suku bunga menurun.

    Di saat bersamaan, sang investor juga membenamkan 65% investasinya di instrumen saham. Ia memilih untuk mengalokasikan sebagian besar dananya di pasar saham Amerika Serikat (S&P 500) ketimbang pasar saham domestik (IDX) di sini dengan rasio 50%:15%.

    Alasannya adalah karena saham-saham AS adalah salah satu kelas aset dengan kinerja mumpuni. Rerata tingkat imbal hasilnya mencapai 17% hingga 18% per tahun dalam lima tahun terakhir, yang didorong oleh kuatnya kinerja perusahaan-perusahaan yang memiliki monopoli data seperti Facebook.

    Pada contoh di atas sang investor telah lebih mengikuti gaya diversifikasi klasik 60:40 yang populer yaitu 60% dana di saham dan 40% di instrumen obligasi. Bagaimanakah bentuk portofolio yang sesuai jika sang investor berniat mengikutsertakan aset kripto di dalamnya?

    Sebagai sebuah kelas aset, cryptocurrency memiliki pertumbuhan nilai yang mantap sejak Bitcoin diluncurkan 2009 silam. Kendati demikian, banyak investor yang masih belum paham ihwal seluk beluk aset kripto, sehingga mereka memilih untuk menjauh dari aset digital tersebut lantaran ketar-ketir dengan volatilitas harganya.

    Di bawah ini, Sobat Cuan bisa melihat imbal hasil portofolio sang investor jika ia menyisihkan 5% hingga 20% portofolionya untuk aset kripto.

    Berdasarkan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun (CAGR) sejak September 2011 hingga September 2021

    Gambar di atas menunjukkan bahwa investor bisa meningkatkan imbal hasil untuk tingkat resiko tertentu atau menaikkan imbal hasil yang telah disesuaikan resiko (risk-adjusted returns), dengan melakukan diversifikasi. Portofolio yang memiliki 10% dan 20% investasi dalam aset kripto memberikan imbal hasil masing-masing 2,2 dan 2,3 kali untuk setiap unit risikonya. Unit risiko dihitung berdasarkan volatilitas harganya dalam setahun (annualized volatility).

    Sobat Cuan bisa melihat bahwa diversifikasi bisa dilakukan pada beberapa tingkatan misalnya diversifikasi antar kelas aset (apakah saya memiliki cukup saham untuk menyeimbangkan emas saya?) dan diversifikasi di dalam satu kelas aset tertentu (apa sajakah industri perusahaan yang saya miliki sahamnya?) .  Lebih lanjut, diversifikasi juga bisa dilakukan berdasarkan batas geografis (saham AS versus saham Indonesia) dan berdasarkan mata uang (Dolar AS versus Rupiah). Diversifikasi sebaiknya dilakukan dalam beberapa lapisan. 

    Untungnya, kini kamu bisa melakukan berbagai macam gaya diversifikasi di aplikasi Pluang!

    Di Pluang, kamu bisa membangun portofolio yang telah terdiversifikasi secara global hanya dalam satu aplikasi saja. Pilihan asetmu tidak terbatas pada reksa dana saham Indonesia dan emas namun kamu bisa lebih luas berinvestasi dalam pasar ekuitas global dan aset kripto. Dengan menempatkan investasimu di dalam satu aplikasi, maka kamu akan lebih mudah untuk memantau dan memahami tingkat imbal hasil yang diperoleh. Selain itu, melakukan diversifikasi dalam satu tempat aplikasi akan menghemat waktumu!

    4. Dollar Cost Averaging

    Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi di mana investor secara teratur menempatkan sejumlah uang tertentu untuk meningkatkan kepemilikan suatu aset. 

    Sebagai contoh, misalkan seorang investor memutuskan untuk mengalokasikan uang US$3.000 per tahun dari tahun 2016 sampai 2021. Aset yang dipilih adalah produk S&P 500 di Pluang dan dia berketetapan untuk melakukan ini setiap tanggal 30 Juni.  Lantas berapa nilai portofolionya dari strategi Dollar Cost Averaging ini?

    Pertama, kita bisa melihat pergerakan harga indeks S&P 500 di Pluang.

    Dollar Cost Averaging

    Berdasarkan data harga tersebut, berapa jumlah unit indeks S&P 500 yang bisa kamu beli di Pluang menggunakan uang US$3.000 setiap tahunnya? Jawabannya ada di tabel berikut.

     

    Manfaat utama dari strategi Dollar Cost Averaging adalah saat tren harga yang meningkat,  kamu bisa membeli aset dengan harga rata-rata yang relatif lebih rendah.  Berinvestasi dengan nilai yang sama secara rutin akan memungkinkan kamu untuk membeli lebih banyak saat harga sedang murah. Begitu pun sebaliknya, kamu akan membeli aset lebih sedikit ketika harganya sedang menanjak.

    Selain itu, kamu pun bisa memupuk sikap disiplin dalam berinvestasi dengan menerapkan strategi Dollar Cost Averaging. Aspek terpenting dari investasi adalah kebiasaan disiplin dan membiarkan waktu yang mengerjakan selanjutnya. 

    Kamu bisa melakukan strategi Dollar Cost Averaging di aplikasi Pluang dengan memanfaatkan fitur auto-invest. Dengan fitur tersebut, kamu bisa menjadwalkan investasimu secara rutin dan otomatis berdasarkan harian, mingguan, atau bulanan. Pluang menyarankan kamu untuk berinvestasi rutin di tanggal gajian sehingga kamu bisa mendulang imbal hasil maksimal sebelum kamu menggunakan uang tersebut.



    Sumber : pluang.com

  • Kelas Aset yang Terdapat di Aplikasi Pluang

    Aplikasi Pluang menyediakan akses investasi terhadap empat jenis kelas aset. Walaupun ada banyak kelas aset yang lain (misalnya properti), Pluang percaya bahwa empat jenis kelas aset yang terpilih secara cermat ini sudah memungkinkan Sobat Cuan untuk mencapai tujuan investasi. Kamu bisa menciptakan portofolio pilihan yang terdiversifikasi secara global yang berisi kombinasi aset-aset terbaik dari pasar Indonesia maupun pasar internasional.  

    1. Saham dan Ekuitas Global 

    Saham-saham global yang dimaksud adalah saham-saham yang diterbitkan perusahaan kelas dunia, terutama yang berkantor pusat di Amerika Serikat (AS).

    Negara adidaya tersebut merupakan tuan rumah dari pasar modal terbesar dan terdalam di dunia dengan banyaknya pilihan aset keuangan dari perusahaan terkemuka dan berbagai produk canggih yang tersedia. 

    Total kapitalisasi pasar dari  500 perusahaan terbesar AS (yang juga dikenal sebagai perusahaan-perusahan yang termasuk anggota indeks S&P 500) tercatat hampir mencapai US$30 triliun.  Di sisi lain, nilai kapitalisasi pasar 30 perusahaan terbesar Indonesia hanya sebesar US$600 miliar. Bisa terlihat bahwa kapitalisasi pasar modal AS berukuran 50 kali lebih besar dibanding pasar modal Indonesia.

    Lebih pentingnya lagi, pasar saham AS memiliki konsentrasi yang kuat dalam sektor teknologi. Bahkan total kapitalisasi pasar dari 10 perusahaan teknologi teratas AS sudah mencakup US$16 triliun sendiri. Sementara pasar modal Indonesia kebanyakan diisi oleh saham sektor komoditas, pertambangan, dan perbankan..

    Pluang memungkinkan Sobat Cuan untuk berinvestasi di saham-saham global melalui produk S&P 500 dan Nasdaq 100 Index, di mana masing-masing indeks memiliki komponen sebesar 40% hingga 100% dalam perusahaan global yang bergerak di sektor teknologi. 

    2. Reksa Dana

    Reksa dana adalah “wadah” himpunan dana masyarakat yang kemudian bisa diinvestasikan di kelas-kelas aset tertentu seperti pasar uang, instrumen pendapatan tetap, dan ekuitas. Reksa dana bukanlah sebuah kelas aset, namun adalah salah satu cara bagi investor untuk berinvestasi dalam kelas aset tertentu.

    Himpunan dana tersebut dikumpulkan dan dikelola oleh lembaga yang dikenal sebagai Manajer Investasi (MI). MI akan mengelola himpunan dana tersebut dengan menempatkannya di aset seperti saham, obligasi, dan pasar uang. Sebagai gantinya, investor akan dikenakan biaya pengelolaan dana (management fee) dari MI tersebut. 

    Banyak investor memilih produk reksa dana karena uang mereka dikelola secara profesional. Manajer investasi memiliki keahlian dan kecakapan dalam mengelola dana, sehingga mereka mampu mendulang imbal hasil yang lebih baik dibanding investor individu.

    Investor bisa menggunakan reksa dana untuk berinvestasi di kelas aset berikut:

    1. Pasar Uang: Instrumen utang jangka pendek (seperti deposito berjangka) dengan tenor atau jatuh tempo kurang dari 1 tahun.
    2. Instrumen Pendapatan Tetap atau Obligasi: Instrumen utang jangka panjang baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta. Umumnya, obligasi pemerintah bebas dari risiko gagal bayar (default risk) atau dengan kata lain pemerintah diasumsikan tidak memiliki risiko kredit dan berkemampuan penuh melunasi obligasinya. Akibatnya bunga yang ditawarkan juga relatif rendah sebab obligasi pemerintah memiliki resiko yang rendah. Jika ingin mendapatkan imbal hasil yang lebih mantap, MI harus menempatkan dananya di obligasi korporat. Perusahaan penerbit obligasi harus memberikan pemanis bunga yang lebih tinggi sebab risiko kredit perusahaannya juga lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi pemerintah (lebih mungkin perusahaan dalam suatu negara gagal dibandingkan negara itu sendiri). Ini sesuai dengan konsep investasi yang sudah kita pahami di mana kemungkinan risk yang lebih tinggi harus diimbangi dengan kemungkinan return yang lebih tinggi. Atau dengan kata lain, apabila suatu instrumen pendapatan tetap menawarkan imbal lebih tinggi menandakan lebih tingginya resiko dari instrumen tersebut.
    3. Ekuitas: Ini adalah aset berbentuk saham-saham tunggal yang diterbitkan perusahaan. Manajer Investasi akan menempatkan himpunan dana investor ke portofolio saham. Jika dana tersebut dikelola secara aktif (actively managed fund), maka manajer investasi akan mencoba membeli aset pada harga rendah dan menjualnya ketika harganya sedang tinggi (buy low and sell high) demi mengalahkan rerata imbal hasil di pasar modal. 

    Pluang memungkinkan Sobat Cuan untuk berinvestasi di reksa dana pasar uang melalui produk UOB Dana Rupiah (UDARU)

    Kamu juga bisa berinvestasi reksa dana pendapatan tetap dengan UOB Dana Membangun Negeri (UDARI), di mana dana kelolaan akan dialokasikan dalam obligasi pemerintah dan surat utang milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang cenderung memiliki risiko gagal bayar rendah. Karakteristik tersebut diharapkan bisa menopang UDARI untuk mendulang imbal hasil yang maksimal dari instrumen pendapatan tetap dibandingkan kemungkinan resikonya. 

    Klik di sini untuk investasi di UDARU dan UDARI.

    Logam mulia satu ini sudah dikenal sebagai alat tukar sejak peradaban Mesir kuno. Emas juga dikenal sebagai alat penyimpan kekayaan dan bahkan masih dikenal dan dipergunakan sebagai uang oleh manusia sampai sekitar 50 tahun lalu.

    Sebagai aset investasi, harga emas cenderung meningkat seiring waktu. Hal ini disebabkan karena persediaan emas terbatas sementara jumlah uang beredar terus bertambah. Dengan kata lain, semakin banyak uang yang dicetak bank sentral, maka nilai aset riil seperti emas akan terus meningkat.

    Di samping itu, emas memainkan peranan penting sebagai instrumen diversifikasi di segala portofolio. Sebab emas cenderung menguat saat kinerja instrumen keuangan lainnya memburuk. Dengan kata lain, emas memiliki karakteristik lindung nilai atau berfungsi sebagai hedge, yakni kemampuan untuk berkinerja baik di kala performa aset lainnya tengah ambruk.

    Salah satu contohnya bisa dilihat saat krisis keuangan global yang terjadi lebih dari satu dekade lalu. Kala itu, harga emas naik hampir dua kali lipat sementara kinerja aset saham dan obligasi terjun bebas.  Dengan karakteristik lindung nilai ini, terlihat jelas bahwa setiap portofolio investasi seharusnya bisa mendapat manfaat dari memasukkan emas.

    Saat ini, Pluang menyediakan produk emas digital yang sudah memiliki izin Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan seluruh transaksinya dijamin oleh PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero). Sobat Cuan bisa menjual dan membeli emas 24 jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu, mencicil pembelian emas, menarik emas digital dalam bentuk fisik, dan mengirimkan emas ke teman-temanmu.

    Beli emas Pluang di sini.

    Aset kripto (cryptocurrency) adalah perwakilan digital dari nilai dan berfungsi sebagai alat tukar demi mendapatkan barang dan jasa dalam jaringan blockchain. Fungsi lainnya dalam blockchain adalah satuan unit dan alat penyimpan nilai.  Dengan kata lain, cryptocurrency juga bisa disebut sebagai mata uang digital.

    Terdapat ribuan cryptocurrency bertebaran di jagat maya, namun kategori aset kripto yang perlu kamu ketahui sebagai investor antara lain:

    1. Bitcoin: Aset kripto pertama yang memungkinkan pengguna untuk bertransaksi langsung satu sama lain melalui basis data yang tidak terpusat  (peer-to-peer)
    2. Ethereum: Platform smart contract yang memungkinkan dibangunnya aplikasi terdesentralisasi (dApps)
    3. Altcoin:  Aset kripto selain Bitcoin. Di dalam kategori ini termasuk token yang dapat berfungsi di tingkatan platform dalam sebuah ekosistem (contoh : Ethereum) sampai token yang hanya diperuntukkan untuk aplikasi tertentu.

    Aset kripto adalah salah satu kelas aset dengan kinerja paling mumpuni dalam satu dekade terakhir. Ini disebabkan oleh meledaknya ketertarikan dan keriuhan menyambut teknologi ini dan kepercayaan akan kemampuan blockchain untuk merubah masa depan dunia. Ibaratnya revolusi yang akan datang dari blockchain sama dengan revolusi yang dimungkinkan terjadi sejak pertama kalinya teknologi internet hadir. 

    Aset kripto memiliki karakteristik yang mirip dengan emas dan komoditas lainnya, misalnya sama-sama memiliki keterbatasan persediaan. Namun, di saat yang bersamaan, sifat aset kripto juga mirip dengan saham-saham perusahaan teknologi. Kedua aset tersebut akan melihat harganya naik dengan pemakaian lebih luas teknologi di belakangnya. Dan kegunaan teknologi ini pun akan semakin tinggi seiring meningkatnya jumlah pemakai dan meluasnya penggunaan (network effect). 

    Baik investor muda maupun investor pemula memandang aset kripto sebagai komponen diversifikasi yang penting di dalam portofolio modern. Ini mirip dengan sikap dan pandangan investor dari Generasi X namun terhadap emas, di mana sang logam mulia dianggap sebagai instrumen diversifikasi penting di dalam portofolio tradisional.

    Keduanya, baik aset kripto dan emas, adalah instrumen lindung nilai yang ampuh melawan inflasi dan penurunan nilai mata uang fiat. Hanya saja, harga aset kripto lebih cepat naik-turun dibanding emas. 

    Di Pluang, Sobat Cuan bisa mendapatkan Bitcoin, Ethereum, dan 29 altcoin lainnya seperti Cardano, Binance Coin, dan Polkadot dalam satu aplikasi saja. Di samping itu, kamu juga bisa mendulang imbal hasil hingga 3,5% per tahun hanya dengan menabung Bitcoin dan Ethereum di Pluang Cuan.



    Sumber : pluang.com