Author: 09

  • Alasan Mengapa Investasi Emas Sangat Berharga

    Emas telah menjadi simbol kekayaan dan kemakmuran di berbagai peradaban dunia, mulai dari zaman Firaun di Mesir kuno, berbagai dinasti China, hingga Kekaisaran Romawi. Sebenarnya apa yang membuat emas sangat berharga di mata orang?

    Nilai intrinsik komoditas emas diperoleh dari : 

    1. Persediaannya yang terbatas. Tingginya nilai emas dikarenakan jumlah yang tersedia di dunia lebih terbatas dibandingkan sumber daya tidak dapat diperbaharui lainnya. Misalkan emas di seluruh dunia dikumpulkan di satu tempat, komoditas ini hanya bisa mengisi penuh kubus berkapasitas 28 meter kubik saja!
    2. Emas memiliki fungsi estetika dan fungsi industri. Emas adalah salah satu logam paling bercahaya dengan warna yang unik dan cantik. Walaupun perak memiliki kilau serupa, namun kilau perak lambat laun akan terkikis dengan cepat. Tidak ada logam lain yang punya rona indah seperti emas sehingga aset ini memiliki nilai universal dan dicari di mana-mana untuk digunakan sebagai bahan perhiasan dan artefak indah lainnya.

    Emas telah menjadi alat tukar selama berabad-abad lantaran persediaannya yang terbatas dan permintaan yang menanjak. Masyarakat peradaban kuno selalu mencetak koin dari emas sebagai alat tukar. Seiring perkembangan peradaban dan semakin modernnya negara-negara dunia,  banyak pemerintah negara menerbitkan mata uang dalam bentuk kertas yang nilainya kemudian dipatok dan bisa ditukar ke dalam satuan emas tertentu. Ini dikenal sebagai sistem standar emas.

    Sejarah uang sebagai alat tukar memiliki keterkaitan dengan sejarah emas. Selama ribuan tahun, emas dan uang dianggap sama. Baru pada sekitar 50 tahun terakhir, konsep nilai uang dipisahkan dari nilai emas menyusul terjadinya dua peristiwa besar: 

    • Sistem Bretton Woods: Setelah Perang Dunia II, kelompok negara adidaya dunia memutuskan untuk mematok mata uang mereka ke Dolar AS. Sebagai gantinya, Amerika Serikat menetapkan harga Dolar AS pada US$35 per ons emas.
    • Penghapusan standar emas oleh Presiden AS Richard Nixon: Pada tahun 1971, Presiden AS Richard Nixon menghentikan sementara kebijakan yang memungkinkan pemerintahan negara lain untuk menukar Dolar AS mereka menjadi emas. Meski pada awalnya penghentian ini direncanakan hanya sementara, pemerintah Amerika Serikat tidak lagi mencadangkan mata uangnya dengan emas sejak 1971.



    Sumber : pluang.com

  • Investasi Emas Jangka Pendek vs Jangka Panjang

    Secara umum, kamu dapat investasi emas dengan dua cara: Trading jangka pendek atau menabung emas untuk investasi jangka panjang. Apa manfaat keduanya?

    Investasi Jangka Panjang pada Emas

    Menabung emas lebih bergantung pada tren kenaikan harga emas jangka panjang. Di masa depan, harga emas diperkirakan akan terus meningkat lantaran bank sentral di seluruh dunia terus mencetak lebih banyak uang dan mempertahankan suku bunga acuan yang rendah. Sekadar informasi, jumlah produksi emas hanya bertambah kurang dari 1% tiap tahunnya sementara 25% jumlah Dolar AS yang beredar saat ini baru dicetak pada tahun 2020 lalu.

    Investor bisa melancarkan beberapa strategi untuk menabung emas secara efektif, salah satunya adalah dengan metode Dollar Cost Averaging (DCA). Melalui strategi ini, investor membeli emas secara rutin dengan nilai yang sama. 

    Jika kamu membeli emas dalam jumlah sama setiap bulan, maka kamu akan membeli lebih sedikit emas saat harga emas tengah menanjak. Begitu pun sebaliknya, kamu bisa mengumpulkan lebih banyak emas saat harganya sedang turun.

    Lebih penting lagi, DCA akan menumbuhkan kebiasaan yang baik bagimu untuk berinvestasi secara rutin. Kedisiplinan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mendulang untung dari kegiatan investasi dalam jangka panjang.

    Contohnya kamu bisa berketetapan untuk menyisihkan Rp 500.000 dari gajimu untuk menabung emas tiap bulannya. Kamu bisa menerapkan strategi DCA secara otomatis dalam investasi emas di Pluang menggunakan fitur investasi otomatis! Fitur ini memungkinkanmu untuk investasi emas secara otomatis dalam jumlah yang sama setiap bulan atau bahkan setiap minggu. 

    Cara lain untuk investasi emas jangka panjang adalah dengan menjadikannya sebagai alat diversifikasi portofolio.

    Harga emas memiliki korelasi yang rendah dengan kelas aset lainnya, sehingga sang logam mulia ini cocok menjadi aset lindung nilai saat nilai aset lainnya turun. 

    Sebagai contoh, anggap saja kamu berinvestasi emas dengan porsi 20% dari seluruh nilai portofolio sementara 80% sisanya kamu tanamkan di dalam saham. Ketika tren harga saham naik (bullish), kamu mungkin merasa nyaman saja dengan harga emas yang relatif datar dan adem ayem saja. Namun pada saat pasar turun (bearish) misalnya karena krisis keuangan atau pandemi, posisi emas tersebut akan menyelamatkan nilai portofolio secara keseluruhan saat harga-harga saham turun oleh berita negatif. 

    Karena harga emas naik karena terjadinya krisis, maka aset emasmu bisa dijual secara menguntungkan dan dananya kemudian dipakai untuk membeli saham yang harganya sedang “obral”. Nah, aksi memindahkan uang dari satu aset yang harganya naik ke aset lain yang harganya kamu ramal akan naik disebut dengan rotasi.

    Trading Emas

    Di sisi lain,  jual-beli emas secara aktif atau trading membutuhkan pengamatan pasar yang cermat untuk meramal pergerakan harganya dalam jangka pendek.

    Jika kamu ingin mendulang cuan dari trading emas, maka kamu tidak hanya memerlukan pemahaman yang kuat tentang inflasi, suku bunga, dan nilai tukar, namun juga memerlukan pemahaman yang kuat tentang analisis teknikal.

    Apapun pilihanmu, baik investasi jangka panjang atau trading, kamu bisa melakukannya di Pluang! Di Pluang, kamu bisa menikmati spread transaksi emas rendah, pergerakan harga yang real-time, dan membeli emas dengan cukup tiga kali klik saja di ponsel pintarmu!



    Sumber : pluang.com

  • Faktor Pergerakan Harga Emas di Indonesia Seluruh Dunia

    Harga emas global secara resmi ditetapkan dua kali sehari dalam mata uang Dolar AS, yakni pada 10.30 dan 15.30 waktu London, Inggris. Nilai emas tersebut ditetapkan oleh London Bullion Metals Association (LBMA). LBMA merupakan asosiasi dagang yang terdiri dari sekitar 150 perusahaan dari seluruh dunia yang bergerak di rantai penyediaan emas, mulai dari penambang, pemurni (refinery) sampai pedagang.

    2 Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Emas di Indonesia

    1. Suplai dan Permintaan Emas secara Global

    Harga emas, seperti barang atau jasa atau aset lainnya, ditentukan dari penawaran dan permintaan. 

    Penawaran emas terbilang relatif tetap mengingat bukan saja jumlah emas yang dikandung bumi terbatas namun dengan banyaknya pembatasan untuk kegiatan penambangan emas. 

    Sedangkan permintaan akan emas berasal dari lima sumber berikut:

    1. Perhiasan: Emas adalah komponen utama dari sebagian besar perhiasan, misalnya cincin dan kalung
    2. Koin emas dan emas batangan: Emas yang dicetak dalam bentuk koin dan batangan dan yang kemudian diperjualbelikan pedagang emas
    3. Teknologi: Emas merupakan konduktor listrik yang sangat baik dan menjadi bahan baku bagi beberapa benda seperti kabel.
    4. ETF: Emas juga hadir dalam produk investasi berjenis Exchange Traded Funds (ETF) demi memenuhi permintaan investor. Di dalam ETF, setiap Dolar AS yang diinvestasikan ke dalam produk tersebut akan dicadangkan dalam bentuk emas (tentunya setelah dikurangi ongkos pengelolaan). Sehingga, jika investor membeli banyak ETF emas, maka ETF tersebut harus melakukan pencadangan emas yang lebih banyak. Begitu pun sebaliknya, jika investor menjual ETF emas, maka ETF akan melepas cadangan emasnya.
    5. Bank sentral: Bank sentral membeli emas sebagai bagian dari aset cadangan (reserve asset) sebab emas cenderung mempertahankan nilainya terhadap depresiasi mata uang lain. Kepemilikan emas memungkinkan bank sentral untuk mempertahankan nilai tukar mata uangnya sendiri terhadap kemungkinan pelemahan.

    Grafik di bawah ini menunjukkan bagaimana permintaan emas telah berubah sejak 2020.

    Banyak investor memburu emas saat awal pandemi COVID-19 seiring kekhawatiran tentang ketidakpastian ekonomi dan kenaikan inflasi. 

    Namun setelahnya, investor mulai menjauh dari emas setelah kekhawatiran mereka akan inflasi mereda dan melihat keberhasilan reflasi di mana kebijakan moneter dan pemerintah berhasil memperbaiki pertumbuhan ekonomi setelah resesi dan saat yang bersamaan menghindari terjadinya deflasi. Investor mulai berani kembali menggenggam instrumen ekuitas yang lebih berisiko dan melepas emas yang dianggap sebagai aset aman (safe haven).

    Grafik di bawah menunjukkan telah berkurangnya permintaan emas dari investor dan peningkatan permintaan dari sisi konsumen dan bank sentral dibandingkan tahun 2020.

    Pergerakan harga emas

    2. Nilai Tukar dolar AS Terhadap Rupiah

    Harga resmi emas adalah dalam mata uang dolar AS. Sehingga, harga emas di negara lain adalah harga emas dalam Dolar AS dikalikan dengan nilai tukar mata uang tersebut saat ini.

    Dengan kata lain, harga emas di Indonesia diturunkan dari harga emas dunia yang dikalikan dengan nilai tukarnya terhadap Dolar AS, seperti ditunjukkan di formula berikut:

    Harga Emas dalam Rupiah = Harga Emas dalam Dolar AS x Nilai Tukar

    Sebagai contoh, jika harga emas dunia berada di level US$2.000 per ons (US$64,45 per gram) dan kurs Rupiah terhadap Dolar AS tercatat Rp14.500 per Dolar AS, maka harga emas di Indonesia seharusnya adalah Rp934.525 per gram.

    Rp934.525 = US$64,45 x Rp14.500

    Di dalam pasar persaingan sempurna, harga emas tidak akan melenceng dari harga ini. Sebab, jika harga emas di Indonesia lebih mahal dibanding harga emas yang dihitung di atas, maka pelaku pasar akan termotivasi melakukan trading arbitrase, yakni kegiatan mendulang cuan dengan memanfaatkan perbedaan harga instrumen di dua pasar yang berbeda.

    Sebagai contoh, anggap saja harga emas di Indonesia menyentuh Rp1 juta per gram ketika harga emas di pasar global tercatat Rp943.525. Hal ini akan memicu investor untuk membeli emas di pasar global dan menjualnya lagi di Indonesia demi mendapatkan untung. Ini akan terus terjadi sampai harga emas di Indonesia turun karena makin banyak yang menjual di Indonesia dan harga emas di pasaran dunia naik karena makin banyak yang membeli emas di pasar ini. Ini terus terjadi sampai tercapainya keseimbangan baru di mana harga pasar dunia dan Indonesia sama. 

    Tentu saja pada praktiknya, harga emas yang sesungguhnya dalam Rupiah mungkin sedikit berbeda dibanding harga emas dunia. Hal ini dikarenakan pedagang emas harus memperhitungkan biaya penyimpanan dan distribusi dan seluruh komponen biaya tersebut akan tercermin ke harga emas. Selain itu, harga emas di Indonesia juga dipengaruhi peraturani kegiatan ekspor dan impor emas.



    Sumber : pluang.com

  • Harga Emas 50 Tahun Terakhir

    Sejarah harga emas dalam 50 tahun terakhir adalah sebagai berikut:

    harga emas

    Tahun 1971

    Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Richard Nixon memutuskan untuk berhenti mematok nilai Dolar AS dengan standar emas, sebuah kebijakan yang dijalankan AS sejak Perjanjian Bretton Woods pada 1944. Melalui sistem Bretton Woods, semua mata uang negara-negara adidaya pasca perang dunia ditautkan ke Dolar AS, sementara Dolar AS dipastikan untuk bisa ditukarkan menjadi emas pada harga US$35 per troy ons.

    Namun pertukaran antara Dolar AS dengan emas menyulitkan negara Paman Sam tersebut dalam usahanya untuk mengendalikan tingkat inflasi yang meradang. Masalah lain muncul dari neraca pembayaran AS yang defisit, dikarenakan pembayaran impor terhadap pihak internasional yang menggunakan AS Dolar sama saja dengan adanya aliran emas yang keluar dari AS. Karena Dolar AS bisa dikonversi dengan nilai tukar yang tetap terhadap emas, maka AS akan “kehilangan” sejumlah emas untuk setiap Dolar yang dikeluarkan demi membiayai impor. Intinya, semakin banyak AS mengimpor barang, maka semakin rendah pula cadangan emasnya.

    Oleh karenanya, Nixon memutuskan untuk melarang penukaran antara Dolar AS dan emas. Langkah ini sebenarnya direncanakan untuk bersifat sementara. 

    Dengan dihilangkannya standar emas, maka bank sentral AS The Federal Reserve (“The Fed”) dan pemerintah AS bebas meningkatkan jumlah uang beredar tanpa batasan.

    Tahun 1980

    Harga emas mencapai rekor tertinggi US$850 per ons akibat melonjaknya permintaan investor akan emas batangan. Hal ini disebabkan oleh reaksi investor akan inflasi tinggi yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak, campur tangan Uni Soviet di Afghanistan, dan dampak dari revolusi Iran. Semua ini menunjukkan bagaimana emas bertindak sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan aset safe haven selama gejolak geopolitik.

    Tahun 1980 -1999

    Tahun 1980 – 1999 pasar emas turun (Bear Market). Selama dua dekade berikutnya, harga emas terus melandai hingga mencapai titik terendah US$254 per ons pada tahun 1999. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh:

    1. Kenaikan persediaan emas. Produksi tahunan emas bertumbuh dua kali lipat akibat turunnya biaya penambangan emas berkat munculnya teknologi baru.
    2. Kebijakan moneter yang hati-hati, inflasi rendah, dan stabilitas geopolitik, yang menyebabkan masyarakat Eropa memilih untuk mencairkan emas mereka menjadi uang tunai untuk membeli kelas aset berisiko.

    Tahun 2008-2011

    Selama Krisis Keuangan Global di mana terjadi krisis utang dan moneter, harga emas naik dari US$700 menjadi US$1.800. Kinclongnya kinerja emas kala itu disebabkan oleh sikap investor yang mempertanyakan kemampuan institusi-institusi keuangan yang penting dalam membayar utang jangka panjangnya (solvabilitas) di mana kegagalan salah satu saja bisa menimbulkan kegagalan secara sistemik. 

    Emas adalah satu-satunya aset safe haven yang tersisa pada masa tersebut. Pasar obligasi telah “membeku” karena para pihak-pihak yang biasanya bertransaksi untuk saling meminjamkan dana tidak mengetahui apakah institusi mereka atau institusi lainnya akan bangkrut atau tidak dan pasar saham kalang kabut melakukan aksi jual yang heboh.

    Harga emasTahun 2012 – 2020

    Tahun 2012 – 2020 Pasar Ekuitas Naik (bull market). Harga instrumen ekuitas mulai meroket setelah ekonomi dunia pulih dari krisis keuangan global. Akibatnya, investor kian getol menempatkan dananya di indeks saham S&P 500 dan menjauhi aset aman. Ini mengakibatkan harga emas terjun bebas 40% dari rekor tertingginya US$1.800 per ons menjadi hanya US$1.050 per ons antara 2012 hingga 2016.

    Seterusnya harga emas bergerak relatif stabil dalam rentang US$1.100 hingga US$1.400 per ons. Harga emas kembali menanjak pada pertengahan 2018 di tengah kekhawatiran terlalu memanasnya perekonomian dan kemungkinan meletusnya harga-harga aset yang menggelembung dan juga karena meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan China.

    harga emas

    Tahun 2020 – Sekarang

    Selama pandemi COVID-19, harga emas melonjak sekitar 37% dari US$1.447 menjadi US$1.985 karena emas kembali melanjutkan peran tradisionalnya sebagai aset safe haven. Investor beralih dari saham ke emas karena khawatir bahwa pemerintah dan bank sentral AS akan mencetak uang yang berlebihan (fiat debasement) dan was-was akan kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang rendah.

    Sejak Juli 2020, investor mulai mengabaikan rasa pesimis akibat pandemi dan kembali memperhatikan nilai instrumen ekuitas. Kenaikan harga saham didorong oleh murahnya utang karena tingkat suku bunga yang diturunkan dan besarnya dana yang dipompa ke pasar oleh bank-bank sentral, peningkatan pendapatan akibat kenaikan jumlah pembayaran transfer dari pemerintah untuk rakyat untuk mengatasi beratnya pandemi, peningkatan valuasi aset, pulihnya permintaan global dan tentu saja dukungan kebijakan moneter longgar dari The Federal Reserve.

    Harga emas



    Sumber : pluang.com

  • Kinerja Emas vs Kelas Aset Lain di 50 Tahun Terakhir

    Bagaimana kinerja emas dibandingkan kelas aset lainnya selama 10/20/50 tahun terakhir? Dalam grafik ini, Sobat Cuan dapat melihat bahwa dalam jangka panjang, kinerja harga emas telah mengungguli kelas aset utama lainnya.

    Kinerja emas

    Kinerja harga emas setara dengan kinerja komoditas dan ekuitas Amerika Serikat sejak pemerintah AS menghapus standar emas. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, kinerja emas secara jelas telah melebihi kinerja saham-saham Amerika Serikat berkat lonjakan harga emas saat krisis keuangan global.



    Sumber : pluang.com

  • Prediksi Harga Emas Di Tahun 2030

    Ada faktor makroekonomi kuat yang dapat mendorong kenaikan harga emas secara nyata dalam 10 tahun ke depan.

    1. Emas Melindungi dari Kenaikan Inflasi yang Tidak Terduga

    Ekonomi global telah membaik setelah pandemi Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi yang kuat terlihat terutama di Amerika Serikat dan Cina sementara Asia Tenggara dengan gigih tetap bertahan dengan baik. Lonjakan permintaan masyarakat menyebabkan inflasi di Amerika Serikat naik mencapai 5% yang dipimpin oleh kenaikan tajam harga komoditas. Selain itu, produsen harus menghadapi kenaikan biaya produksi lantaran ketatnya kondisi pasar tenaga kerja.

    Jika tekanan inflasi menjadi tidak terkendali, maka harga emas bisa semakin berkilau. Ini lantaran harga emas cenderung bergerak bersama dengan laju inflasi.

    Prediksi Harga Emas
    Sumber: Statista

    Pada tahun 2021, para pembuat kebijakan tampaknya puas bahwa tekanan inflasi bersifat sementara dan dapat diatasi dengan kebijakan makroekonomi yang hati-hati. Tetapi jika inflasi meningkat tajam, emas akan sangat diuntungkan karena harga aset riil akan meningkat untuk menyesuaikan.

    2. Emas Berkinerja Baik Saat Bank Sentral Melonggarkan Kebijakan Moneter

    Harga emas berpotensi meningkat kala bank sentral memberlakukan rezim suku bunga rendah. Ingat bahwa emas adalah instrumen yang tidak menghasilkan pendapatan bunga, maka kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan opportunity cost dalam menggenggam emas. Dengan kata lain, “ongkos” dalam menggenggam emas relatif akan turun ketika suku bunga acuan rendah atau mendekati 0%.

    Kondisi tersebut terjadi selama pandemi COVID-19, di mana The Fed telah menurunkan target kisaran suku bunga acuan Fed Fund Rate mendekati 0%.

    Prediksi Harga Emas

    Di samping itu, harga emas juga bisa kian mantap jika pemerintah negara maju, termasuk AS, berniat mencetak uang lebih banyak.

    Harga aset riil, termasuk emas, seharusnya meningkat ketika pasokan uang melimpah. Sebab, ketika jumlah uang bertambah, maka masyarakat memiliki semakin banyak dana untuk mendapatkan emas.

    Kondisi tersebut terlihat dalam beberapa waktu terakhir, di mana The Fed telah mencetak uang terus menerus dan bahkan menggandakan ukuran neracanya dari sekitar US$3,5 triliun menjadi hampir US$7 triliun dalam waktu yang cepat.

    Prediksi Harga Emas

    Pemerintahan negara-negara di seluruh dunia tampaknya punya sedikit pilihan kebijakan dalam memulihkan perekonomian masing-masing setelah diterjang pandemi COVID-19. Negara-negara ini juga terpaksa berhutang lebih banyak. Kenaikan suku bunga acuan akan membebani mereka dengan pembayaran bunga utang yang lebih tinggi yang pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi karena berkurangnya kemampuan untuk membelanjakan uang untuk barang dan jasa. 

    Kondisi ini juga yang telah dialami kebanyakan pemerintah dan bank sentral selama krisis keuangan global 2007 silam. Saat itu, The Fed untuk pertama kalinya memperkenalkan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), yakni kebijakan di mana The Fed menyuntik lebih banyak uang ke perekonomian dan pasar keuangan dengan mencetak Dolar AS, membeli instrumen keuangan dan juga mematok suku bunga acuan jangka pendek mendekati 0%.

    Hanya saja, kebijakan ini menuai kritik. Beberapa pihak berpendapat bahwa setiap kali The Fed melakukan quantitative easing, maka otoritas moneter itu kian memiliki ruang sempit untuk memangkas suku bunga acuannya jika terjadi krisis lain di masa depan.

    Pada saat krisis keuangan global, The Fed masih memiliki ruang lebih dari 5 persen untuk memangkas suku bunga acuan untuk mendekati 0%.  Namun selama pandemi COVID-19, bank sentral tersebut hanya bisa menyunat suku bunga acuan dari sebelumnya 2 persen menjadi kembali mendekati 0%.

    The Fed juga bimbang untuk menaikkan suku bunga acuan di tengah periode reflasi lantaran beban utang yang kian berat. Akibatnya para pembuat kebijakan moneter tidak memiliki pilihan selain terus mencetak uang demi memulihkan pertumbuhan ekonomi. Selama dua krisis ekonomi besar yang telah terjadi dalam 15 tahun terakhir, neraca The Fed telah tumbuh tujuh kali lipat dari US$1 triliun menjadi hampir US$7 triliun.

    Harga emas telah terus mengekor laju pencetakan uang. Selama pemerintah terus mencetak uang, maka secara teori, harga emas pun akan terus merangkak naik. 

    Gambar di bawah menunjukkan perkembangan harga emas (kiri) dibandingkan dengan total neraca bank sentral Swiss, AS, RRC, Jepang, dan European Union (kanan). 

    Prediksi harga emas

    3. Situasi Geopolitik Jadi ‘Berkah’ bagi Emas

    Harga emas akan diuntungkan ketika AS dan China ‘berperang’ untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia yang paling utama. Ketegangan geopolitik antara kedua negara ini bisa menimbulkan ketidakpastian ekonomi, sehingga pamor emas sebagai aset safe haven akan naik.

    Pandemi COVID-19 hanya membuat persaingan antara AS dan China kian memanas di mana masing-masing berniat melemahkan baik kaitan rantai pasok (supply chain) yang tersambung di antara kedua negara maupun hubungan penting dalam hal lain. Usaha ini bertujuan supaya perekonomian AS dan Cina tidak lagi saling tergantung seperti dulu, terutama dalam perdagangan dunia.  

    Selain itu, salah satu topik yang bikin kancah geopolitik AS kian tegang adalah soal penggunaan Dolar AS dalam transaksi perdagangan global. Beberapa negara adidaya saingan AS menuduh bahwa penggunaan mata uang tersebut hanya menguntungkan negara Paman Sam itu secara sepihak.

    Meskipun AS hanya menyumbang 20% volume perdagangan global, namun 80% dari seluruh transaksi perdagangan dilakukan menggunakan Dolar AS. Pemanfaatan Dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia meningkatkan kekuatan ekonomi AS mengingat hanya bank sentral AS saja, alias The Fed, yang punya wewenang untuk mencetak Dolar AS.

    Oleh karenanya, kalau AS dapat dengan mudah mencetak lebih banyak uang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, negara-negara lain yang juga harus mencetak uang mereka (untuk menggerakkan perekonomian) akan menghadapi resiko pelemahan nilai mata uang yang pada akhirnya akan mengganggu stabilitas ekonomi domestik mereka.

    Beberapa negara sudah melakukan usaha untuk melemahkan faktor Dolar AS ke negara mereka . Rusia sudah mulai menggunakan emas sebagai aset cadangan utama bank sentralnya, sementara China terlihat mendorong penggunaan Yuan dalam perdagangan bilateral dengan mitra dagang utamanya.

    Jika semakin banyak negara melepas ketergantungan terhadap Dolar AS, maka emas bisa diuntungkan karena sang logam mulia ini memang telah menjadi mata uang cadangan yang sudah diterima secara luas. Sejatinya, kondisi ini seperti mengulang sejarah, mengingat emas memang dikenal sebagai mata uang sejak zaman Mesir kuno.

    Seiring kancah politik dunia terbelah ke dalam beberapa kutub, harga emas seharusnya akan terus menunjukkan keperkasaannya di masa depan.



    Sumber : pluang.com

  • 4 Risiko Utama Investasi Emas

    Emas umumnya dikenal sebagai aset investasi jangka panjang yang baik. Namun, seperti aset lainnya, harga emas bisa menurun dalam jangka pendek.

    Jenis-Jenis Risiko Investasi Emas

    Berikut ini adalah faktor-faktor yang bisa mempengaruhi pergerakan harga emas:

    1. Perubahan Suku Bunga

    Harga emas cenderung turun setiap ada kenaikan suku bunga acuan. Apa penyebabnya?

    Emas merupakan instrumen investasi yang tidak memberikan imbal hasil yang teratur. Akibatnya suku bunga yang tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam menggenggam emas.

    Sebagai contoh, anggap bahwa ada seorang investor yang memiliki uang US$1.000. Ia kemudian dihadapkan pada dua pilihan investasi: membeli emas (instrumen yang tidak menghasilkan imbal hasil kecuali jika harganya naik) atau obligasi baru (produk investasi yang memberikan pendapatan bunga secara teratur). Investor ini tentu akan memilih obligasi saat rezim suku bunga tinggi lantaran obligasinya menghasilkan cuan secara teratur dengan imbal yang lebih tinggi dibanding emas.

    2. Perubahan Tingkat Inflasi

    Inflasi adalah faktor berikutnya yang mempengaruhi risiko investasi emas. Ketika inflasi naik secara tidak terduga, harga aset riil, termasuk emas, juga akan naik mengikuti inflasi. Namun, ketika inflasi atau ekspektasi inflasi turun, harga emas pun terseret turun.

    Faktor pertama sudah menjelaskan bahwa harga emas berhubungan dengan tingkat suku bunga nominal. Bersama dengan inflasi, suku bunga nominal bisa digunakan untuk menghitung suku bunga riil yang dijabarkan dalam rumus berikut :

    Suku Bunga Riil  = Suku Bunga Nominal – Inflasi

    Harga emas umumnya naik ketika suku bunga riil rendah. Ini bisa terjadi saat (1) Federal Funds rate atau suku bunga pinjaman semalam antar bank di AS turun (2) bergeraknya penawaran dan permintaan di pasar obligasi yang mengakibatkan menurunnya suku bunga jangka panjang di pasar obligasi atau (3) tingkat inflasi tinggi. 

    Selama pandemi COVID-19, harga emas melonjak 25% lantaran pasar keuangan runtuh dan The Fed mencetak uang dalam jumlah besar. Harga emas kemudian melemah pada kuartal II 2021 saat pelaku pasar mulai melepaskan kekhawatiran akan ancaman inflasi tinggi.

    3. Pergerakan Nilai Tukar Mata Uang

    Harga emas dalam Rupiah akan meningkat jika nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terdepresiasi. Ini lantaran harga emas dunia ditetapkan dalam Dolar AS, sehingga harga emas dalam Rupiah berisiko naik setiap kali kurs Rupiah terhadap Dolar AS melemah.

    4. Spekulasi

    Banyak investor di seluruh dunia secara seksama memantau tingkat suku bunga, inflasi, dan nilai tukar untuk menentukan apa yang akan terjadi pada harga emas. Dengan demikian, pergerakan salah satu faktor tersebut dapat memicu reaksi investor untuk melakukan jual-beli emas. 

    Harga pun bergerak yang kemudian bisa mendorong pelaku pasar lainnya untuk bertindak dan yang seterusnya mengakibatkan pergerakan harga lagi dan pelaku pasar terus bergerak untuk menanggapi perubahan harga. Momentum pergerakan harga bisa semakin tajam mengingat sekarang aliran modal dapat dengan mudah keluar-masuk pasar suatu aset karena terdorong untuk memanfaatkan pergerakan harga.



    Sumber : pluang.com

  • 7 Keuntungan Investasi Emas

    Berikut adalah tujuh keuntungan yang didapat saat investasi emas:

    1. Pelindung Inflasi

    Emas adalah aset lindung nilai yang sangat baik terhadap inflasi. Hal ini bisa terlihat setelah pemerintah AS meninggalkan standar emas sejak 1971 silam.

    Bank sentral AS terus mencetak uang dalam jumlah tak terbatas setelah AS meninggalkan standar emas. Sayangnya, hal ini meningkatkan harga barang dan jasa atau mengakibatkan inflasi dan daya beli uang pun melemah. Namun aset emas mampu mempertahankan nilainya karena kelangkaan persediaannya.

    2. Aset ‘Safe Haven

    Emas adalah aset safe haven. Artinya, investor akan memburu emas sebagai aset aman untuk menyimpan kekayaan mereka saat situasi ekonomi tidak menentu.

    Investor akan mengincar emas tiap kali ada ketidakpastian geopolitik misalnya perang atau kudeta pemerintahan atau bencana alam, lantaran nilainya diakui secara universal di seluruh dunia. 

    Peran emas sebagai tempat yang aman terlihat juga ketika krisis keuangan global terjadi lebih dari satu dekade lalu. Pada saat itu banyak bank dan perusahaan AS mulai menghadapi kebangkrutan dan yang kemudian masalah ini merembet untuk mempengaruhi bank dan perusahaan di seluruh dunia. Ini menyebabkan harga-harga saham turun hampir 50%.

    Keuntungan Investasi Emas

    Ketika terjadi gejolak di pasar keuangan, banyak investor, pelaku bisnis, bank dan bahkan masyarakat menarik uangnya dari pasar saham dan membeli emas. Besarnya permintaan ini menyebabkan harga emas naik sekitar 250% saat krisis keuangan global atau Global Financial Crisis (GFC). 

    Mengapa emas berharga

    3. Lindung Nilai Terhadap Depresiasi Rupiah

    Pada dasarnya, nilai emas ditetapkan dalam denominasi Dolar AS. Maka investasi emas adalah langkah efektif yang bisa dilakukan investor untuk melindungi nilai kekayaannya saat Rupiah melemah terhadap Dolar AS (depresiasi Rupiah terhadap Dolar AS). 

    Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa tahun ini harga emas dalam Rupiah adalah 13 kali harganya pada tahun 2000.

    Keuntungan investasi emas

    Sobat Cuan bisa melihat bahwa harga emas telah melonjak lebih dari 500% saat krisis keuangan tahun 1998, yakni dari sekitar Rp750 ribu per ons menjadi Rp4,8 juta per ons.

    4. Lindung Nilai Terhadap Depresiasi dolar AS

    Investor biasanya “melarikan diri” ke emas setiap kali Dolar AS melemah. Sebab, meski Dolar AS diakui sebagai mata uang cadangan dunia (80% dari semua transaksi perdagangan global menggunakan Dolar AS), emas tetap berperan sebagai mata uang alternatif karena nilainya diakui oleh semua orang di dunia.

    5. Instrumen Diversifikasi Portofolio

    Harga emas cenderung memiliki korelasi yang rendah dengan nilai aset keuangan lainnya seperti saham. Jadi, harga emas cenderung naik ketika nilai saham turun.

    Sobat Cuan bisa melihat kondisi ini saat terjadinya krisis keuangan global 2008 dan pandemi COVID-19 di 2021. Korelasi yang rendah, dan terkadang negatif, antara emas dan aset lainnya memungkinkan investor untuk mengurangi risiko dan menegaskan peran emas sebagai aset diversifikasi yang paling mantap untuk portofolio apapun.

    6. Jumlah Penawaran (Supply) yang Makin Terbatas

    Emas yang belum ditambang memiliki persediaan yang sangat terbatas. Produksi emas juga diperkirakan akan semakin menurun sehingga dari tahun ke tahun, jumlah emas yang ada tidak akan melihat peningkatan sampai 1% lantaran sulitnya membuka tambang emas baru karena kekhawatiran akan dampaknya terhadap lingkungan. 

    7. Permintaan Semakin Banyak dari Negara Berkembang

    Permintaan emas dari negara-negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk banyak seperti Cina, India, dan Indonesia akan terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut dan emas dicari baik untuk tujuan investasi maupun untuk perhiasan.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal 29 Jenis Altcoin di Pluang

    Aplikasi Pluang memiliki 29 cryptocurrency alternatif (altcoin) di dalamnya. Namun, kamu mungkin belum begitu mengenal karakteristik koin-koin tersebut.

    Karena tak kenal adalah pertanda tak sayang, di artikel ini kamu akan mengenal lebih dalam masing-masing dari 29 altcoin baru yang ada di aplikasi Pluang. Seperti apa karakteristik masing-masing koin tersebut?

    Kategori-kategori 29 Cryptocurrency Baru di Aplikasi Pluang

    Demi mempermudah pemahaman kamu, Pluang telah mengelompokkan masing-masing aset kripto baru tersebut sesuai dengan peruntukannya.

    Kategorisasi Cryptocurrency Pluang

    Platform Smart Contract dan Ekosistemnya

    Cardano (ADA): Teknologi Blockchain Proof-of-Stake Generasi Ke-Tiga

    ADA adalah aset kripto yang berasal dari teknologi Cardano, sebuah blockchain berbasis  konsensus proof-of-stake. Blockchain Cardano dikembangkan oleh salah satu pendiri Ethereum pada 2015 dan diluncurkan pada tahun 2017. Seperti Ethereum , teknologi Cardano juga memungkinkan aplikasi smart contract, dan kemampuannya dianggap lebih unggul dibanding pendahulunya tersebut. 

    Dikutip dari dokumen resminya, Cardano adalah platform blockchain proof-of-stake generasi ketiga yang terdesentralisasi dan merupakan “kediaman” dari koin ADA. Platform ini berfokus untuk menjunjung keberlanjutan, transparansi, dan pemrosesan transaksi dalam jumlah yang banyak dengan cepat atau menanggapi masalah scalability. Cardano  adalah proyek open-source yang bertujuan menyediakan infrastruktur yang bersifat inklusif, adil, dan tangguh untuk aplikasi sosial dan keuangan di seluruh dunia. Seluruh teknologi ini didukung oleh Ouroboros, sebuah terobosan baru dalam protokol konsensus proof-of-stake.

    Kamu bisa membeli Cardano dengan meng-klik tautan berikut.

    Tron (TRX): Jaringan Public Chain Tercepat di Dunia

    Tron adalah platform blockchain terdesentralisasi yang didirikan oleh anak didik Jack Ma, Justin Sun, yang bertujuan untuk menciptakan suatu sistem global bebas untuk menyediakan konten hiburan di mana konten dapat dibagi dan didistribusikan dengan biaya yang efisien. 

    Sistem ini bertujuan menggantikan jasa hiburan seperti YouTube dan lainnya melalui perannya sebagai infrastruktur yang terdesentralisasi, di mana pengguna bisa berhubungan langsung dengan creators dan membayar para pencipta ini sesuai konten yang ingin dinikmati.

    Blockchain Tron memiliki satuan unit asli yang disebut TRX. Nilai token-token lain yang diciptakan di atas platform Tron akan diturunkan dari nilai TRX. Seperti dijelaskan di dalam whitepaper-nya, Tron adalah proyek ambisius yang berfokus pada penyediaan internet yang sepenuhnya terdesentralisasi dan infrastruktur yang dibutuhkan.

    Kamu bisa membeli Tron (TRX) dengan meng-klik tautan berikut.

    Ekosistem Binance

    Binance didirikan oleh Cheng Peng Zhao pada Juli 2017 dan kini menjelma sebagai platform tukar-menukar cryptocurrency terbesar di dunia. Platform ini mampu memproses volume transaksi harian tujuh kali lebih banyak dibanding Coinbase. Coinbase sendiri merupakan bursa jual beli crypto yang saham perusahaannya telah tercatat di bursa NASDAQ pada tahun 2021. 

    Binance memiliki technology blockchain-nya sendiri, yaitu Binance Smart Chain, dan mampu menyediakan fasilitas smart contract dengan level setara Ethereum.

    Cryptocurrency utama ekosistem Binance adalah Binance Coin (BNB). Meski demikian, Binance juga meluncurkan beberapa altcoin lainnya yang masing-masing memiliki tujuan tertentu. SXP misalnya, ditujukan untuk infrastruktur pembayaran kartu sementara Pancake Swap, diperuntukkan seperti automated market makers layaknya Uniswap.

    Binance Coin (BNB): Cryptocurrency Motor Penggerak Ekosistem Binance

    BNB adalah aset kripto yang diluncurkan pada 2017 oleh Binance Exchange, sebuah platform tukar-menukar aset kripto di atas blockchain Binance. Aset kripto ini awalnya diciptakan sebagai token utilitas, namun penggunaannya lambat laun kian berkembang.

    Jumlah koin BNB dibatasi sampai 170.532.785 keping saja. Kini, BNB berada di urutan keempat aset kripto paling berharga setelah BTC, ETH, dan USDT.

    BNB bisa digunakan untuk membayar ongkos trading di platform Binance.  Nilai BNB semestinya kian menanjak dengan semakin banyaknya pengguna bergabung ke Binance Exchange.

    Selain itu, seperti kebanyakan cryptocurrency lainnya, BNB bisa digunakan untuk membayar biaya transaksi (gas fees) dalam menggunakan jaringan Binance Smart Chain.

    Jaringan Binance Smart Chain merupakan alternatif dari Ethereum yang dengan fungsi yang serupa. Perbedaan utamanya adalah Ethereum dikendalikan secara terdesentralisasi, sementara validasi transaksi di Binance Smart Chain dikendalikan oleh Binance. Akibatnya Binance masih memiliki sebagian kendali atas BNB, mata uang utamanya.

    Salah satu bentuk kendali Binance atas BNB adalah pengendalian pasokannya, di mana Binance melakukan mekanisme yang disebut coin burn untuk mengurangi jumlah BNB beredar. Dalam reli harga kripto yang terjadi di semester pertama 2021, kabar mengenai coin burn berhasil membuat harga BNB naik hingga di atas US$600 per keping.

    Kamu bisa membeli Binance Coin (BNB) di tautan ini.

    Swipe (SXP): Infrastruktur Pembayaran Kartu bagi Cryptocurrency

    Swipe adalah platform yang menjembatani mata uang fiat dan jagat cryptocurrency dengan Swipe API. Teknologi API tersebut didesain untuk memfasilitasi kartu-kartu pembayaran global yang memanfaatkan token native-nya, yakni SXP.

    Melalui whitepaper-nya, Swipe menjelaskan tujuannya adalah untuk menghubungkan para  jaringan pembayaran terbesar di dunia dengan platform tukar-menukar aset digital sehingga pengguna bisa bertransaksi tanpa hambatan. Swipe memiliki library yang besar untuk API endpoints dan memberikan akses terhadap 70 juta titik transaksi dan lebih dari 130 mata uang fiat dengan memanfaatkan token SXP sebagai ongkos jasa transaksi tersebut.

    Kamu bisa membeli Swipe melalui tautan ini.

    Ekosistem Polkadot

    Polkadot didirikan pada 2016 oleh Gavin Wood, mantan CTO Ethereum, bersama-sama dengan Peter Czaban dan Robert Habermeier. Polkadot menciptakan satu jaringan blockchain yang “bercabang-cabang” yang bertujuan sebagai solusi atas masalah skalabilitas transaksi, sebuah masalah yang terdapat di jaringan Ethereum.

    Karakteristik ini menyebabkan cabang-cabang dari blockchain tersebut bisa diperbarui secara terpisah dari blockchain utamanya.

    Ekosistem Polkadot memiliki 2 altcoin:

    Polkadot (DOT): Protokol Jaringan Web Berkapasitas Besar, Aman, dan Lintas Operasi

    DOT adalah token utama di dalam ekosistem Polkadot. Di dalam whitepaper-nya, Polkadot menggambarkan diri sebagai “jaringan multi-rantai yang heterogen”.

    Secara teori, arsitektur Polkadot yang “bercabang-cabang” memberi peluang bagi ekosistem tersebut untuk tumbuh dengan cepat. Salah satu caranya adalah dengan memperbolehkan cabang-cabang blockchain tersebut untuk menciptakan mekanisme tata kelola tersendiri namun masih memperhatikan mekanisme tata kelola utama di jaringan DOT.

    Ini mirip dengan konsep negara perserikatan, seperti Amerika Serikat. Negara bagian California, misalnya, pemerintahannya akan mengacu pada aturan negara bagian dan juga terhadap aturan federal. Sehingga sistem ekonomi dan tata kelola pemerintahan California akan berbeda dengan negara bagian lainnya.

    Kamu bisa membeli DOT di tautan berikut.

    Kusama (KSM): Jaringan Eksperimen Polkadot

    Kusama adalah versi eksperimen dari Polkadot yang dibangun oleh tim yang sama, dan sifat “coba-coba” ini menjadikan Kusama sebagai “jaringan canary” untuk Polkadot. Dikutip dari panduan resminya, jaringan canary adalah tempat diluncurkan kode yang dirilis lebih awal, tersedia lebih dulu dibanding kode lainnya, dengan keadaan ekonomi yang sebenarnya.

    Kusama adalah jaringan yang didirikan untuk memungkinkan lebih banyak pengambilan resiko dan lebih lincah dibanding Polkadot. Jaringan ini menjadi platform bagi mereka yang ingin melakukan perubahan, inovasi, dan melakukan disruption atau mengubah prinsip-prinsip yang sebelumnya. Makanya, jaringan Kusama dirancang untuk memungkinkan pengembang untuk membawa inovasinya ke operasi blockchain lain (interoperability) dan meningkatkan skala penggunaan tanpa menemui masalah dari segi jumlah dan kecepatan (scalability).

    Kamu bisa membeli Kusama (KSM) di tautan ini.

    Ekosistem Lainnya

    Polygon (MATIC): Internet Blockchain Milik Ethereum

    MATIC adalah token Ethereum yang mendukung jaringan Polygon, sebuah jaringan yang menjadi solusi atas masalah skalabilitas transaksi di jaringan Ethereum. Menurut whitepaper-nya, jaringan Matic akan mengatasi masalah tersebut dengan memungkinkan terjadinya transaksi secara cepat dengan biaya transaksi murah, dengan memanfaatkan Layer 2 sidechains.

    Di samping itu, jaringan ini ingin memberikan pengguna pengalaman yang lebih baik saat menggunakan semua fungsinya dan juga untuk berbagai DApp atau decentralized app, dengan terus berkomitmen terhadap desentralisasi.

    Kamu bisa membeli Polygon (MATIC) di tautan berikut.

    Cosmos (ATOM): Jaringan Internet bagi Blockchain

    Cosmos adalah jaringan terdesentralisasi yang memungkinkan penggunanya untuk tukar-menukar data antar jaringan blockchain yang berbeda, seperti BTC dan USD. Proyek ini memiliki tujuan sebagai “jaringan internet bagi blockchain” yang mampu menyelesaikan masalah skalabilitas transaksi dalam blockchain sehingga transaksi yang banyak bisa diproses dengan cepat dan memungkinkan interoperability supaya blockchain berbeda bisa saling bekerja sama dan bertukar informasi.  ATOM sendiri adalah koin yang mendukung fungsi-fungsi tersebut.

    Di dalam whitepaper-nya, Cosmos diperkenalkan sebagai arsitektur jaringan blockchain baru yang menawarkan jawaban atas seluruh permasalahan blockchain yang sudah ada.

    Kamu bisa membeli Cosmos (ATOM) di tautan ini.

    Koin DeFi

    Decentralized Finance (DeFi) adalah istilah yang diberikan terhadap aplikasi keuangan yang dibangun di atas teknologi blockchain, yang bertujuan untuk membuka akses ekonomi lebih luas kepada semua orang dengan menggantikan peran institusi terpusat.

    Platform DeFi menyediakan ragam jasa keuangan seperti pinjam-meminjam, trading, bursa tukar-menukar aset terdesentralisasi, manajemen aset, dan lain-lain. Di dalam dunia DeFi, seluruh keputusan menyangkut seluruh kegiatan tersebut dilakukan melalui algoritma. Hal ini bertolak belakang di “dunia nyata”, di mana keputusan tentang kelayakan meminjam uang, menyimpan uang, atau investasi dilakukan oleh institusi seperti bank dan perusahaan.

    Setiap platform DeFi memiliki token yang dirancang untuk mendukung operasinya sekaligus menjadi insentif bagi pengguna. Bagi mereka yang tertarik untuk ikut menarik keuntungan dari inovasi marketplace ini, investasi di koin DeFi adalah salah satu cara yang paling baik.

    11 Koin DeFi yang saat ini tersedia di Pluang adalah:

    Ripple (XRP): Aset Digital Terbaik bagi Pembayaran Global

    Aset kripto yang diciptakan oleh Ripple ini bertujuan agar transaksi bisa lebih cepat, efisien, dan punya skala yang lebih besar dibanding aset digital lain dan platform pembayaran lain seperti SWIFT. XRP adalah aset digital asli dari XRP Ledger, sebuah teknologi blockchain yang bersifat open-source dan tidak memerlukan izin, sehingga satu transaksi bisa selesai dalam tiga hingga lima detik saja.

    Penjelasan lengkap tentang Ripple terdapat di dokumen whitepaper berikut.

    Kamu juga bisa membeli Ripple (XRP) di tautan berikut.

    Uniswap (UNI): Automated Market Maker tanpa Penjamin

    Uniswap adalah protokol trading terdesentralisasi yang terkenal karena ia memungkinkan jual-beli token DeFi. Uniswap meningkatkan efisiensi trading dengan memecahkan permasalahan likuiditas, sebuah masalah yang kerap melanda platform DeFi pada umumnya, melalui solusi yang terotomatisasi. Platform Uniswap memiliki satu token asli bernama UNI.

    Dalam versi terbaru whitepaper-nya, Uniswap diperkenalkan sebagai platform automated market maker tanpa penjamin yang diimplementasikan untuk Mesin Virtual Ethereum (Ethereum Virtual Machine/EVM). Uniswap memiliki slogan yakni “Tukarkan, dapatkan balas jasa, dan bangun portofolio di atas platform trading kripto terbesar di Ethereum”.

    Kamu bisa membeli Uniswap di tautan ini.

    Stellar (XLM): Jaringan Terbuka untuk Menyimpan dan Memindahkan Uang

    Stellar adalah jaringan terbuka atau platform yang memfasilitasi semua transaksi aset digital, atau representasi dari segala bentuk uang. Ini dapat dilakukan secara cepat dan murah karena blockchain Stellar mampu memproses antara 1.000 hingga 5.000 transaksi per detik.

    Seperti tertulis di dalam situs resminya, Stellar menganggap dirinya sebagai jaringan terbuka untuk menyimpan dan memindahkan uang. Tujuannya agar semua sistem keuangan dunia bisa bekerja bersama dalam satu jaringan.

    Kamu bisa membeli Stellar di tautan berikut.

    Aave (AAVE): Protokol Likuiditas

    AAVE adalah salah satu protokol DeFi yang terbesar dan tertua di jagat kripto. Platform ini memungkinkan pengguna untuk memberi pinjaman atau meminjam berbagai jenis cryptocurrency menggunakan suku bunga tetap maupun variabel.

    Protokol Aave menggunakan strategi pool-based. Menurut whitepaper-nya, Aave mengatakan bahwa strategi tersebut mengubah sistem yang umum di kancah DeFi sebelumnya yakni strategi pembiayaan peer-to-peer, atau sistem yang menghubungkan langsung antara kreditur dengan debitur seperti ETHLend.

    Di dalam strategi pool-based, penghimpunan dana dari berbagai sumber akan memungkinkan pinjaman nantinya bisa langsung diberikan kepada pihak yang membutuhkan tanpa perlu memasangkan pihak peminjam dan pemberi pinjaman secara invididual.  Alhasil, platform ini memungkinkan pinjaman instan dengan memperhatikan jenis himpunan dana yang telah dikumpulkan platform tersebut.

    Kamu bisa membeli AAVE dengan mengunjungi tautan ini.

    Maker (MKR): Token Penjaga Nilai Token Lain

    Maker adalah salah satu token Ethereum yang bertujuan untuk menjaga nilai DAI, sebuah token Ethereum lainnya, dengan nilai stabil di kisaran US$1. Setiap pemilik token Maker memiliki hak suara untuk menentukan perubahan yang akan dipasang di protokol Maker.

    Di dalam whitepaper-nya, protokol Maker diperkenalkan sebagai sistem Multi-Collateral Dai (MCD) milik MakerDAO.

    Kamu bisa membeli Maker (MKR) melalui tautan berikut.

    Compound (COMP): Protokol Pasar Uang

    Compound adalah protokol DeFi yang memungkinkan pengguna untuk memperoleh pendapatan bunga dari menggenggam aset kripto. Platform ini bertujuan untuk menciptakan pasar kripto yang likuid dengan menetapkan suku bunga yang dibentuk sesuai dengan algoritma. Algoritma tersebut mampu menghasilkan suku bunga pasar secara real-time, sehingga pengguna bisa melakukan aktivitasnya tanpa terpengaruh perbedaan nilai antar waktu.

    Whitepaper Compound mengklaim dirinya sebagai “protokol pasar uang”.

    Kamu bisa membeli Compound (COMP) melalui tautan berikut.

    Sushiswap (SUSHI): Organisasi yang Dibentuk Komunitas dalam Memecahkan Isu Likuiditas

    SUSHI adalah token Ethereum yang mendukung Sushiswap, sebuah platform tukar-menukar cryptocurrency dan automated market maker di atas Ethereum.

    Seperti dijelaskan di dalam whitepaper-nya, SushiSwap adalah platform tukar-menukar aset kripto terdesentralisasi dan merupakan produk pertama milik Sushi. Platform ini juga merupakan lembaga non-kustodian, sehingga Sushiswap tidak akan menggenggam token-token milik pengguna jika mereka ingin melakukan trading atas token-token tersebut.

    Sushiswap memungkinkan pengguna tukar-menukar aset kripto dengan azas kepercayaan dan peer-to-peer, di mana likuiditasnya disokong oleh token-token milik pengguna lain. Alhasil, proyek-proyek baru bisa mudah terhubung dengan pasar mereka asal beberapa entitas mau menyediakan likuditas yang dimaksud.

    Kamu bisa membeli Sushiswap di sini.

    Synthetix (SNX): Protokol Likuiditas Produk Derivatif Kripto

    SNX adalah protokol DeFi yang memberikan eksposur on-chain terhadap aset kripto dan non-kripto. Platform ini memungkinkan pengguna untuk tukar-menukar aset “sintetis” yang likuid secara otonom.

    Synthetix lahir berbarengan dengan Maker, Compound, dan Uniswap kala terjadi koreksi pasar kripto besar-besaran pada 2018 lalu. Menurut situs resminya, Synthetix adalah protokol bagi produk derivatif yang likuid.

    Kamu bisa membeli Synthetix (SNX) di tautan berikut.

    Yield Finance (YFI): Modal Ventura Terdesentralisasi

    YFI adalah token Ethereum yang berasal dari platform yearn.finance. Platform ini bertujuan untuk memudahkan investasi proyek DeFi dan sektor-sektor lain secara lebih luas.

    Seperti dijelaskan di dalam whitepaper-nya, YFI adalah modal ventura terdesentralisasi. Platform ini berupaya menciptakan ekosistem DeFi yang bebas bunga ketika pengembang menciptakan produk-produk DeFi mengingat pendanaannya berasal dari komunitas kripto. Platform ini juga akan membagikan keuntungan bagi mereka yang telah mengkontribusikan dananya untuk produk-produk tersebut.

    Kamu bisa membeli Yield Finance (YFI) melalui tautan berikut.

    Curve (CRV): Platform Tukar-Menukar Likuiditas di Jaringan Ethereum

    Curve adalah platform tukar-menukar stablecoins yang menggunakan Automated Market Maker untuk menjaga likuiditasnya. Perkembangan platform ini memiliki kemiripan dengan fenomena DeFi, di mana pertumbuhan penggunanya meningkat drastis sejak semester II 2020.

    Sesuai informasi di whitepaper-nya, CRV adalah token yang digunakan baik untuk menjaga tata kelola maupun satuan nilai kepemilikan di Curve.

    Kamu bisa membeli Curve (CRV) di tautan berikut.

    Balancer (BAL): Automated Market Maker di Protokol DeFi

    BAL adalah token Ethereum yang menyokong protokol Balancer, salah satu Automated Market Makers yang populer di kancah kripto. Protokol ini memungkinkan semua orang untuk menambah likuiditas ke trading pools sembari mendulang biaya trading dengan besaran yang bisa diatur sendiri.

    Menurut whitepaper-nya, BAL adalah manajer portofolio non-penjamin, penyedia likuiditas, dan penyensor harga.

    Balancer mengubah konsep tentang manajer investasi. Sebab, alih-alih pengguna membayar manajer investasi untuk menyeimbangkan portofolionya, pengguna malah bisa mengutip ongkos trading dari traders yang tengah menyeimbangkan portofolionya dengan strategi arbitrage. Yakni, strategi di mana investor bisa mendulang untung dengan membeli aset kripto di satu platform dan menjualnya dengan harga lebih mahal di platform lain.

    Kamu bisa membeli Balancer (BAL) di tautan berikut.

    Non-Fungible Tokens (NFT)

    Non-Fungible Tokens merujuk pada aset digital yang punya karakteristik unik.

    Istilah fungible memiliki arti bahwa nilai suatu benda bisa tergantikan dengan benda lain yang memiliki satuan serupa, contohnya uang. Sebab dua lembaran uang Rp100.000 tentu tidak memiliki perbedaan satu sama lain lantaran keduanya punya nilai dan fungsi yang sama.

    Namun, kondisi serupa tidak dimiliki oleh benda seperti lukisan, karena satu lukisan dengan lukisan lainnya terbilang unik. Sehingga, keduanya tidak dapat ditukarkan satu sama lain.

    Karakteristik serupa terdapat di dalam token NFT. Beberapa contoh NFT antara lain karya seni kripto, benda-benda koleksi, benda-benda game, produk finansial, dan lain-lain.

    Theta (THETA): Jaringan Streaming Video Berbasis Teknologi Blockchain

    THETA adalah jaringan yang disokong teknologi blockchain yang ditujukan untuk streaming video. Adapun tujuan Theta adalah untuk mendesentralisasi layanan streaming video, pengiriman data, dan pemrosesan data, sehingga layanan video itu bisa dinikmati secara efisien dan adil bagi seluruh pelakunya.

    Konsep Theta mirip seperti versi desentralisasi dari YouTube, di mana pengguna terinsentif untuk menonton dan membagikan konten, sementara content creators bisa mendulang pendapatan dari situ.

    Seperti tertuang di whitepaper-nya, Theta memungkinkan pengguna untuk menonton konten video dan mendapatkan imbalan berupa token jika mereka membagikan video itu ke pengguna lain. Sama seperti model ekonomi sharing lainnya, pengguna bisa memanfaatkan sisa bandwitdth-nya dan secara sukarela membagikannya ke pengguna lain demi mendapatkan imbalan berupa token. 

    Kamu bisa membeli Theta (THETA) di tautan berikut.

    Sandbox (SAND): Platform Game Desentralisasi yang Dibangun oleh Pemain

    The Sandbox adalah game dunia virtual berbasis teknologi blockchain yang memungkinkan pemain untuk mendulang cryptocurrency di tengah game. Dengan memadukan organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) dan NFT, Sandbox menciptakan platform bagi komunitas game baru yang terus berkembang.

    Di dalam whitepaper-nya, Sandbox menyatakan bahwa mereka bertujuan untuk mendisrupsi produksi game seperti Minecraft dan Roblox. Caranya adalah dengan menyediakan creators hak kepemilikan terhadap produk-produk besutannya dalam betuk NFT. Selain itu, Sandbox juga memberi imbalan dalam bentuk token utiliitas bernama SAND atas partisipasi mereka.

    Kamu bisa membeli Sandbox (SAND) di tautan berikut.

    Enjin (ENJ): Cryptocurrency paling Berguna untuk Bermain Game

    ENJ adalah alat pelindung nilai digital yang bertujuan agar individu, bisnis, dan perusahaan dalam menggunakan NFT. ENJ juga merupakan token gaming yang disetujui oleh regulator Jepang. Menurut whitepaper-nya, ENJ adalah cryptocurrency paling berguna dalam bermain game.

    Kamu bisa membeli Enjin (ENJ) di tautan berikut.

    Koin dan Token Infrastruktur

    Kategori ini berisikan token dan koin yang punya peran di dalam membangun infrastruktur desentralisasi dengan memanfaatkan teknologi blockchain secara spesifik. Makanya, penggunaan masing-masing token juga terbilang spesifik, seperti LINK yang berfungsi untuk memverifikasi “kebenaran”, FIL yang berfungsi menciptakan sistem penyimpanan dokumen desentralisasi, dan GRT yang berfungsi menciptakan mesin pencari berbasis teknologi blockchain.

    Chainlink (LINK): Teknologi Oracle Blockchain untuk Smart Contract Hibrida

    Chainlink didirikan pada 2017 oleh Sergey Nazarov sebagai jaringan oracle yang terdesentralisasi. Artinya, jaringan ini memungkinkan smart contract di atas blockchain digunakan untuk menangkap situasi di dunia nyata.

    Sebagai contoh, misalnya seseorang ingin menciptakan platform pertaruhan pertandingan olahraga secara terdesentralisasi. Di mana, masing-masing penggunanya bisa bertaruh atas hasil pertandingan basket NBA.

    Pengguna tersebut nanti bisa menciptakan smart contract di Ethereum di mana semua orang bisa bertaruh atas hasil pertandingan tersebut menggunakan cryptocurrency.

    Ketika final pertandingan NBA sudah selesai, maka sebuah oracle seperti Chainlink bisa melakukan ping atas situs seperti ESPN.com, Google News, dan lain-lain untuk mengonfirmasi hasil pertandingan yang dimaksud. Setelah hasil pertandingannya terkonfirmasi, hasil taruhan akan dibayarkan ke pemenang taruhan dikurangi beberapa biaya.

    Melalui teknologi oracle terdesentralisasi, Chainlink memungkinkan teknoiogi blockchain untuk berinteraksi dengan data eksternal, peristiwa, atau metode pembayaran. Hal ini memberikan informasi-informasi di luar teknologi blockchain, yang dibutuhkan smart contract, untuk menjadi kekuatan dominan di dalam penyediaan kesepakatan digital.

    Menurut whitepaper-nya, Chainlink adalah evolusi dari jaringan oracle terdesentralisasi.

    Kamu bisa membeli Chainlink (LINK) melalui tautan berikut.

    The Graph (GRT): Teknologi API bagi Masa Depan Terdesentralisasi

    The Graph adalah protokol terdesentralisasi yang ditujukan untuk menata data blockchain dan membuatnya gampang diakses semua orang. Teknologi ini juga dikenal sebagai Google bagi blockchain dan menjadi motor penggerak bagi beberapa aplikasi DeFi.

    Seperti yang tertera di dalam dokumentasinya, jaringan The Graph memungkinkan pengembang untuk membangun aplikasi tanpa peladen (serverless) yang berjalan di atas infrastruktur publik.

    Kamu bisa membeli The Graph (GRT) melalui tautan berikut.

    Filecoin (FIL): Jaringan ‘Brankas’ Data Terdesentralisasi yang Menyimpan Data Penting

    FIL adalah cryptocurrency yang menjadi motor penggerak Filecoin, sebuah jaringan penyimpan data terdesentralisasi. Melalui Filecoin, penggunanya bisa menyimpan, mengunduh, dan menjadi penyedia informasi digital. Sifatnya yang terdesentralisasi memperkuat integritas lokasi data, sehingga pengguna bisa mengunduh data-data asli (tanpa sensor) dengan mudah.

    Di dalam whitepaper-nya, Filecoin mengubah teknologi awan penyimpan (cloud storage) menjadi pasar algoritma yang berjalan di atas blockchain.

    Filecoin juga memiliki token asli yang sama-sama bernama Filecoin. Pengguna bisa mendapatkan koin tersebut jika menyediakan kapasitas penyimpanan datanya ke pengguna lain. Dengan kata lain, Filecoin ibarat versi desentralisasi dari Dropbox atau Google Drive

    Kamu bisa membeli Filecoin (FIL) di tautan berikut.

    Token Meme

    Dogecoin (DOGE): Mata Uang Internet yang Menyenangkan dan Bersahabat

    DOGE diciptakan sebagai alternatif “lucu-lucuan” dari cryptocurrency tradisional. Koin ini didasarkan atas meme internet “Doge” yang terkenal dan menampilkan anjing Shiba Inu sebagai logonya.

    Punggawa Tesla Elon Musk mengatakan bahwa DOGE adalah cryptocurrency favoritnya. Seperti dijelaskan di dalam whitepaper-nya, DOGE menganggap dirinya sebagai mata uang internet yang menyenangkan dan bersahabat.

    Kamu bisa membeli Dogecoin (DOGE) di tautan berikut.

    ur welcome pic.twitter.com/e2KF57KLxb

    — Elon Musk (@elonmusk) February 4, 2021

     

    Cryptocurrency Lainnya

    Litecoin (LTC): Mata Uang Digital Open Source Peer-to-Peer

    Litecoin diluncurkan pada akhir 2011 oleh mantan insinyur Google dan Coinbase, Charlie Lee. Teknologi ini bertujuan dalam memberikan fasilitas pembayaran yang cepat, aman, dan murah dengan mengungkit karakteristik unit dari teknologi blockchain. Litecoin juga memiliki persediaan maksimum 84 juta keping.

    Menurut whitepaper-nya, Litecoin adalah sarana transaksi yang melengkapi kehadiran Bitcoin. Namun, karena Litecoin punya fungsi yang sama dengan Bitcoin, maka blockchain-nya tidak memiliki fitur smart contract seperti Ethereum.

    Kamu bisa membeli Litecoin (LTC) di tautan ini.

    Basic Attention Token (BAT): Token Baru bagi Industri Periklanan Digital

    BAT adalah token berbasis Ethereum yang terintegrasi dengan Brave, sebuah peramban berbasis privasi. Token ini digunakan sebagai sarana pembayaran ketika pengguna ingin memasang iklan digital di Brave melalui Brave Ads. Menurut whitepaper-nya, BAR diperkenalkan sebagai periklanan digital berbasis teknologi blockchain.

    Cara kerja BAT mirip dengan versi desentralisasi dari Google Chrome. Biasanya, pemasang iklan membayar biaya ke Google demi memasang iklan. Namun, di dalam BAT, setiap pemasang iklan justru membayar token BAT kepada pengguna yang melihat iklan tersebut.

    Kamu bisa membeli token BAT melalui tautan berikut.

    Nano (NANO): Jaringan Cryptocurrency Terdistribusi Tanpa Biaya

    Nano adalah cryptocurrency yang “ringan” dan sebuah platform pembayaran yang membutuhkan sumber daya minimum sehingga seluruh transaksi di dalamnya bisa diproses tanpa biaya. Teknologi ini didesain untuk menjadi platform pembayaran tercepat, sehingga sebagian besar transaksi bisa dilakukan dalam, atau kurang, dari 1 detik saja.

    Whitepaper-nya menyebut bahwa Nano adalah jaringan cryptocurrency terdistribusi tanpa biaya.

    Kamu bisa membeli Nano (NANO) di tautan berikut.

    Membandingkan Kapitalisasi Pasar Cryptocurrency Utama

    Kapitalisasi pasar cryptocurrency saat ini sekitar US$2 triliun, atau setara dengan kapitalisasi pasar saham perusahaan teknologi seperti Amazon, Apple, Microsoft, dan Google.

    Jika dilihat secara lebih rinci, kapitalisasi pasar Bitcoin mengambil 45% dari total kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan. Sementara itu, Ethereum mengambil porsi 20% dan 35% sisanya dikuasai oleh deretan altcoin.

    Dalam segmen altcoin, cryptocurrency yang menggenggam porsi kapitalisasi pasar terbesar digenggam oleh Binance, Cardano, dan Ripple, di mana masing-masing koin memiliki kapitalisasi pasar di antara US$50 miliar hingga US$70 miliar. Posisi itu setara dengan ukuran perusahaan rintisan seperti Uber, GoTo, Grab, atau Coinbase.

    Dengan menempatkan dana di 30 altcoin yang ada di aplikasi Pluang, artinya kamu sudah berinvestasi di 80% dari seluruh kapitalisasi pasar aset kripto secara keseluruhan. Sebagai gambaran, berikut adalah adata kapitalisasi pasar aset kripto secara real-time.





    Sumber : pluang.com

  • Kinerja Kripto Sebagai Kelas Aset

    Cryptocurrency memang menghasilkan imbal hasil yang luar biasa. Namun, pergerakan harganya terbilang cukup tinggi sehingga risikonya pun terbilang tinggi.

    Berikut adalah gambaran kinerja Bitcoin sebagai kelas aset.

    Pergerakan Harga Bitcoin Tahun ke Tahun

    Meskipun Bitcoin debut dengan harga US$0 per keping pada 2009, ia mulai diperdagangkan di kisaran US$0,0008 hingga akhirnya mencapai US$0,08 di bulan Juli 2010. Harga Bitcoin menembus US$65.000 per keping pada semester pertama 2021. 

    Sudah jelas jika kamu membeli Bitcoin sejak awal dan menggenggamnya hingga saat ini, kamu tentu sudah menjelma menjadi sultan kripto.

    Harga Bitcoin

    Hingga Agustus 2021, tingkat imbal hasil Bitcoin selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir terbilang cukup luar biasa.

    Harga Bitcoin

    Meski pertumbuhan tersebut terlihat cukup menakjubkan, namun Sobat Cuan perlu ingat bahwa Bitcoin juga telah mengalami koreksi harga sebesar 30% hingga 50% yang terjadi pada masa naik-naiknya dari tahun 2016 hingga 2018 silam. Sehingga, meski kamu telah menjalankan strategi beli dan simpan yang dianggap cukup menguntungkan, kamu tetap harus menyiapkan mental untuk kemungkinan bahwa nilai portofolio kripto bisa anjlok setengahnya.

    Harga Bitcoin

    2009-2016: Adopsi Awal Bitcoin

    Di tahun-tahun pertama kemunculannya, harga Bitcoin melejit ke posisi US$800 per keping seiring banyaknya pihak yang mulai mengadopsi Bitcoin. Jika kamu membeli Bitcoin di periode tersebut, tentu kamu kini sudah bergelimang cuan. Tapi, membeli satu keping Bitcoin sebelum 2014 dan 2015 terbilang sulit karena tidak ada bursa tukar-menukar kripto yang bisa diakses oleh investor ritel.

    Di periode awal kemunculannya, banyak pihak meragukan apakah teknologi blockchain benar-benar bisa bisa diadopsi secara massal dan mempertanyakan apakah Bitcoin benar-benar akan berharga. Bahkan pada 22 Mei 2010, seseorang membeli dua pizza dengan menghabiskan 10.000 Bitcoin, yang jika dikonversi dengan harganya saat ini bernilai hampir US$500 juta!

    22 Mei sekarang dikenal sebagai Hari Pizza Bitcoin.

    2017: Bitcoin Mengalami Bitcoin Bubble

    Pada Desember 2017, harga Bitcoin telah meningkat 20 kali lipat dalam waktu setahun, seperti ditunjukkan di grafik bawah ini. Dalam periode ini, cryptocurrency menemukan momentumnya dan makin banyak orang yang menerima aset ini. Puncaknya adalah saat ledakan kegiatan Initial Coin Offering di tahun yang sama.

    Harga Bitcoin

    Salah satu tantangan pertama di dalam adopsi Bitcoin adalah keharusan untuk membayar satu keping Bitcoin menggunakan Dolar AS agar sesuai dengan aturan identitas dan Know Your Customer di AS yang ketat.

    Kelahiran stablecoins seperti Tether – aset kripto yang nilainya dipatok terhadap Dolar AS – membuka celah bagi meledaknya aksi trading cryptocurrency. Dalam hal ini, organisasi seperti Tether Corp menerima simpanan dalam bentuk dolar AS dan menerbitkan aset kriptonya sendiri yang disebut USDT. Munculnya Tether berhasil mengerek volume transaksi karena penyelesaian transaksi kripto membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, jauh lebih cepat dibanding transaksi uang fiat yang membutuhkan dua hingga lima hari kerja.

    Dalam sebuah studi yang dirilis pada 2019 lalu, dua profesor University of Texas John Griffin dan Amin Shams mengatakan bahwa kenaikan volume transaksi kripto saat itu disebabkan oleh ulah bandar kripto atau biasa disebut whales yang membeli USDT dalam jumlah banyak.

    Melihat kondisi ini, pelaku pasar menduga bahwa aset kripto memang tengah digandrungi, sehingga mereka ikut membeli cryptocurrency dalam jumlah yang besar.

    2018: ‘Musim Dingin’ bagi Harga Kripto Selepas Booming ICO

    Saat masa-masa tenarnya ICO, pelaku pasar memiliki antusiasme yang berlebihan terhadap aset kripto. Mereka berharap bahwa harga aset kripto terus menanjak dan alasan berinvestasi mereka banyak karena FOMO (khawatir ketinggalan)  dan sikap ini mempercepat kenaikan harga aset kripto dan semakin membuat orang merasa harus masuk kripto.

    Harga Bitcoin kemudian terjungkal 83,12% ke kisaran US$3.200 per keping saat antusiasme pasar yang berlebihan mereda pada tahun 2018.  Kenaikan harga yang gila-gilaan telah menarik perhatian pengawas AS yaitu The Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan US Department of Justice atas kemungkinan terjadinya manipulasi harga Bitcoin setahun terakhir.

    Harga Bitcoin

    CFTC juga memeriksa Bitfinex, sebuah platform kripto yang berafiliasi dengan Tether Corp dan USDT, yang diduga telah mempermainkan harga Bitcoin.

    2020: Jatuh Bangun Harga Bitcoin di Tengah Pandemi

    Harga Bitcoin terjatuh hampir sebesar 70% saat pandemi COVID-19 pertama menerjang dunia. Namun, setelah investor melihat dampak dari aksi bank sentral AS yang mencetak uang dalam jumlah banyak (quantitative easing), harga Bitcoin kemudian terus naik ke posisi US$65.000 per keping.

    Selama pandemi COVID-19, harga Bitcoin dan aset kripto lainnya jatuh berbarengan dengan kelas aset berisiko atau risk-on asset seperti saham. Pelaku pasar diliputi rasa ketidakpastian mengenai seberapa parah pandemi COVID-19 dan kemampuannya menghentikan perekonomian.

    Ketidakpastian tersebut memicu pelaku pasar untuk melakukan aksi jual besar-besaran di seluruh kelas aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman. Harga Bitcoin turun 70% dari US$12.000 ke US$4.000, sementara harga emas hanya melemah sebentar di awal pandemi.

    Harga aset berisiko mulai membaik setelah ketidakpastian mulai mereda dan terlihat bahwa bank sentral AS , the Federal Reserve, dan bank sentral lainnya merencanakan mencetak lebih banyak uang dan menurunkan tingkat suku bunga acuan untuk memulihkan ekonomi.

    Investor menyadari bawah nilai komoditas yang bersifat langka, seperti emas atau cryptocurrency, seharusnya meningkat ketika bank sentral terus mencetak uang fiat. Bahkan beberapa investor yang tangkas berpandangan bahwa aset kripto memiliki fungsi penyimpan kekayaan yang lebih baik ketimbang emas.

    Emas merupakan aset yang tidak memberikan bunga, nilainya lebih tergantung pergerakan harga yang naik, susah untuk dipindahkan dan disimpan secara fisik. Sebaliknya investor bisa memindahkan aset kripto, termasuk Bitcoin, ke protokol desentralisasi dan mulai mendulang imbal hasil cukup dalam waktu 10 menit saja.

    Para manajer dana investasi global (hedge fund) kawakan seperti Stanley Druckenmiller, Paul Tudor Jones, dan Mike Novogratz pun ikut menyuarakan dukungannya terhadap aset kripto. Bahkan, pengelola hedge fund terbesar sejagat Bridgewater, Ray Dalio, menyebut Bitcoin sebagai sebuah “penemuan yang luar biasa”.

    Pecinta blockchain, investor ritel, dan investor institusi kemudian menyerbu pasar kripto dan membuat harga Bitcoin melonjak 13 kali lipat dari harga sebelum pandemi sebesar US$4.000 menuju rekor tertingginya US$65.000 per keping

    Perbandingan Tren Harga Bitcoin Terhadap Aset Lain

    Meski pergerakan harga Bitcoin naik-turun, kinerja Bitcoin sebagai aset investasi bisa diadu dengan dengan instrumen lainnya. Malahan Bitcoin berhasil mengungguli kelas aset lainnya seperti emas dan S&P 500. Perbandingan lebih detail bisa dilihat di grafik berikut.

    3 Alasan Mengapa Harga Bitcoin Bisa Menembus US$500.000 di 2030

    Meski tak ada seorang pun yang mampu meramalkan harganya, Bitcoin disebut-sebut bisa  menyentuh nilai kapitalisasi pasar sebesar US$10 triliun atau setara dengan emas. Apa alasannya?

    1. Mengetatnya Pasokan Bitcoin Akibat Halvening

    Produksi Bitcoin baru sangat tergantung dengan imbalan (rewards) yang diberikan kepada penambang. Namun, jumlah imbalan tersebut dikurangi setengahnya dalam kurun waktu kisaran empat tahun sampai seluruh 21 juta keping Bitcoin selesai ditambang. Adapun hingga saat ini, penambang sudah berhasil menambang 18 juta keping Bitcoin.

    Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa harga Bitcoin selalu terapresiasi setelah halvening selesai dilakukan.

    Bitcoin Halvening

    2. Meningkatnya Partisipasi Investor Ritel

    Sejak Maret 2020, jumlah investor ritel yang membenamkan dana di pasar modal dan aset kripto terus berkembang karena mereka terpaksa berdiam diri dan bekerja dari rumah. Akses masyarakat terhadap aplikasi investasi kripto pun makin terbuka lebar di seluruh belahan dunia, bukan sebatas penduduk Amerika Serikat saja namun di seluruh dunia.

    Di Indonesia, Pluang adalah satu dari aplikasi “generasi baru” teknologi finansial pertama yang menawarkan aset kripto terhadap investor ritel dalam negeri.

    3. Makin Diterima oleh Institusi

    Permintaan akan Bitcoin akan terus meningkat jika investor institusi makin menggunakannya sebagai instrumen investasi. Ini tentu saja akan meningkatkan harga Bitcoin ke depan.

    Tren ini sudah terlihat di 2021, di mana konglomerat seperti Elon Musk dan Michael Saylor sudah memasukkan Bitcoin dalam portofolio investasi di perusahaan mereka yakni Tesla dan Microstrategy.

    Menurut data Bitcoin Treasuries per 6 Agustus, korporasi global telah menggenggam 389.958 keping Bitcoin, atau 2,08% dari jumlah Bitcoin yang beredar saat ini yang sebanyak 18,77 juta keping.

    2 Risiko Utama Harga Bitcoin 10 Tahun Mendatang

    1. Aturan Pemerintah

    Permintaan Bitcoin akan menanjak jika pemerintah menerbitkan kebijakan yang mendukung penggunaan cryptocurrency secara massal. Salah satu contohnya ditunjukkan oleh El Salvador yang telah mengesahkan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi di negara Amerika Tengah tersebut di Juni 2021.

    Namun, permintaan Bitcoin akan melandai jika pemerintah bersikap ketat terhadapnya. Salah satunya ditunjukkan oleh Cina. Pemerintah negara tirai bambu tersebut telah menganggap segala hal yang berkaitan dengan cryptocurrency, misalnya penawaran koin perdana, sebagai tindakan ilegal sejak 2017.

    Terlepas dari itu, semakin banyak negara terlihat lebih terbuka dan berniat mengikuti jejak El Salvador untuk memakai Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi, salah satunya adalah Paraguay.

    2. Dominasi Teknologi Token Lainnya

    Bitcoin boleh jadi didapuk sebagai cryptocurrency pertama. Namun kini banyak koin alternatif yang menawarkan fungsi yang lebih unggul ketimbang Bitcoin.

    Argumen utama mengenai betapa berharganya Bitcoin terletak pada permintaan dan penawarannya, yang didasarkan pada kepercayaan bahwa Bitcoin bernilai lantaran sifatnya yang langka.

    Namun, dengan 6.000 lebih altcoin yang beredar di pasar, sebagian pihak malah memandang bahwa Bitcoin sebenarnya tidak langka. Mereka memandang bahwa terdapat 6.000 protokol lain yang bisa melakukan hal yang sama atau bahkan lebih unggul dibandingkan Bitcoin. 

    Kelompok fans garis keras Bitcoin (Bitcoin maximalist) mempercayai bahwa Bitcoin bisa menjadi “aset utama” atau “emas”nya dunia kripto. Pendapat ini berdasarkan kapitalisasi pasar dan likuiditas dari Bitcoin sekarang yang memungkinkan Bitcoin untuk  diturunkan ke dalam instrumen derivatif dan merupakan daya tarik Bitcoin selain dari manfaat teknologinya.



    Sumber : pluang.com