Author: 09

  • Berpetualang di The Sandbox, Game Kripto Pentolan Jagat Metaverse

    Apa Itu The Sandbox?

    The Sandbox adalah dunia virtual berbasis komunitas yang terdesentralisasi dan terbuka bagi siapa saja. 

    Di dalam The Sandbox, pengguna bisa bersosialisasi dengan pengguna lain, menikmati kegiatan pengisi waktu senggang, berbisnis, dan menghadiri perhelatan secara daring.

    Berbeda dengan platform dunia virtual pada umumnya, The Sandbox memfokuskan dirinya sebagai sarana “play-to-earn” yang mengombinasikan metaverse, gaming, dan platform berbagi konten dengan berbasis teknologi blockchain. 

    Dengan kata lain, alih-alih menjadi satu permainan dengan tema tunggal, jagat The Sandbox berisikan koleksi game-game dan pengalaman yang berbeda-beda. Namun, di saat yang bersamaan, The Sandbox juga memungkinkan penggunanya untuk menciptakan, memiliki, dan memonetisasi aset yang mereka miliki di metaverse. 

    Ya, di dalam The Sandbox, pengguna bisa membeli kavling properti (LAND) atau menciptakan aset (ASSET) di dalamnya untuk kemudian dimonetisasi atau disewakan ke pengguna lainnya.

    Hal ini bisa terjadi karena The Sandbox memungkinkan penggunanya untuk menjadi pemilik sejati dua “benda” tersebut. Dalam hal ini, platform memanfaatkan jaringan Ethereum untuk merekam kepemilikan LAND dan ASSET melalui Non-Fungible Token (NFT).

    Sementara itu, sang pengembang game, Animoca Brands, tidak memiliki wewenang untuk memiliki aset-aset tersebut meski mereka adalah pencipta metaverse The Sandbox.

    Nah, karakteristik inilah yang membuat pengguna The Sandbox tak hanya menjadi pemain game semata, namun juga bertindak sebagai creator.

    Oleh karenanya, tak heran jika banyak jenama kondang yang melakukan eksperimen pemasaran melalui jagat The Sandbox. Salah satunya adalah produsen pakaian olahraga Adidas yang meluncurkan versi metaverse-nya di platform The Sandbox.

    Fakta uniknya, aspek estetika The Sandbox sekilas terlihat mirip dengan game daring populer Minecraft. Ini lantaran The Sandbox memang terinspirasi dari estetika voxels yang digunakan Minecraft.

    Bagaimana The Sandbox Memungkinkan Penggunanya Untuk Berkreasi?

    The Sandbox menyediakan tiga sarana bagi penggunanya agar mereka bisa bebas berinovasi menciptakan pengalaman gaming-nya tersendiri menggunakan LAND yang mereka miliki.

    Tiga sarana itu terdiri dari:

    VoxEdit

    VoxEdit adalah aplikasi editor tiga dimensi yang memungkinkan penggunanya untuk menciptakan ASSET di The Sandbox.

    Dengan menggunakan VoxEdit, pengguna bisa menciptakan gambar dan animasi berbasis grafis voxel dalam bentuk bangunan, avatar, peralatan, kendaraan, dan benda lainnya yang nantinya bisa diduplikasi dalam jumlah banyak.

    Hal ini bisa terjadi karena hasil karya pengguna di VoxEdit nantinya bakal dikonversi ke dalam NFT berstandar ERC-1115.

    Marketplace

    Marketplace The Sandbox adalah wadah bagi antar pemain untuk bertransaksi barang, lokasi, hingga avatar. Selain itu, pengguna juga bisa memanfaatkan lokapasar ini untuk mengujicobakan permainan yang diciptakan oleh pengembang lainnya.

    Game Maker

    Game Maker adalah seperangkat peralatan yang memungkinkan pengguna untuk menciptakan games tiga dimensi (3D) berbasis ASSET, yang mereka ciptakan atau beli di marketplace, di atas LAND yang mereka miliki.

    Konon, aplikasi ini sangat mudah digunakan. Bahkan, creator game awam bisa memanfaatkan peralatan ini menggunakan templates yang sudah ada, sehingga mereka tak perlu punya pengetahuan coding yang mumpuni terlebih dulu untuk mengoperasikannya.

    Mengenal 6 Token Penting The Sandbox

    Aspek ekonomi dari The Sandbox terbilang cukup unik. Pasalnya, pengguna harus menggunakan enam token berbeda untuk menikmati segala fasilitas yang terdapat di jagat virtual tersebut. Apa saja keenam token yang dimaksud?

    SAND

    SAND adalah token utilitas dan mata uang resmi yang berlaku di jagat The Sandbox. Dengan kata lain, pengguna bisa menggunakan SAND sebagai alat tukar di segala transaksi yang berkaitan dengan game ini, seperti membeli LAND, ASSET, perlengkapan, dan mengubah karakter avatar.

    Begitu pun sebaliknya. Pengguna juga bisa mendapatkan hadiah dalam bentuk SAND jika berhasil menyelesaikan misi-misi yang terdapat di dalam kumpulan permainan The Sandbox.

    Lebih lanjut, pengguna juga bisa menggunakan token SAND sebagai “surat suara” saat voting untuk menentukan pengembangan jaringan ke depan dan mengambil keputusan penting di jaringan, misalnya menyepakati proposal peta jalan jaringan. Uniknya, pemilik SAND bisa mewakili suara untuk dirinya sendiri atau justru memilih mendelegasikan hak suaranya ke pemain lain sesuai keinginan mereka.

    Tak ketinggalan, pengguna jika bisa meraih “pendapatan bunga” dalam token SAND baru jika mereka melakukan staking atas token SAND yang mereka miliki.

    Menariknya, The Sandbox menerapkan free capture model dalam “memutar” token SAND. Dalam mekanisme ini, The Sandbox akan mengutip 5% dari seluruh total volume transaksi SAND dan kemudian mendistribusikan setengah di antaranya ke staking pool dan setengah sisanya ke badan yang disebut dengan Foundation.

    Foundation merupakan sebuah lembaga di dalam The Sandbox yang bertugas memberikan dana bantuan bagi para pengembang agar mereka terpacu menciptakan konten dan games berkualitas apik di metaverse tersebut. Sehingga, semakin besar nilai transaksi SAND, maka semakin besar pula peluang Foundation untuk memberikan dana bantuan yang lebih jumbo bagi pengembang.

    LAND

    LAND adalah tanda bukti digital pengguna atas kepemilikan real estate yang terdapat di metaverse The Sandbox. Setiap LAND bersifat unik karena ia adalah token NFT berstandar ERC-721 di dalam blockchain Ethereum.

    LAND merupakan salah satu komponen penting di dalam The Sandbox mengingat kegunaannya yang sangat beragam.

    LAND memungkinkan desainer game dan pengembang untuk menciptakan pengalaman game-nya tersendiri, atau bahkan diorama, menggunakan ASSET yang mereka miliki. Dan seperti yang telah disinggung di atas, pengembang bisa menciptakan pengalaman game-nya sendiri menggunakan perangkat Game Maker.

    Nantinya, pengembang bisa mendulang cuan dengan menyewakan LAND yang mereka miliki ke creator lain atau memonetisasinya untuk meraih cuan. Bahkan, pengguna bisa mengolaborasikan game miliknya di atas LAND dengan game milik creator lain.

    Di sisi lain, pemain bisa bermain game atau menjelajahi diorama yang terdapat di LAND. Beberapa pengembang bahkan tidak memungut “tiket masuk” (free-to-play) jika pengguna ingin menikmati hasil karyanya. Sementara itu, sebagian lainnya memungut biaya bagi pemainnya.

    Di samping itu, pemilik LAND juga bisa mengadakan kontes dan giveaways di atas LAND yang mereka miliki. Sebagai contoh, pemilik LAND bisa menghelat pertandingan di mana pemenangnya bisa mendapatkan ASSET langka dan token SAND.

    Namun, jika Sobat Cuan ingin memperoleh LAND, maka kamu harus mendapatkannya dengan cepat. Sebab, suplai LAND The Sandbox terbatas, yakni hanya sebanyak 166.464 LAND saja

    Sebanyak 74% dari jumlah tersebut, atau setara 123.840 LAND, tersedia untuk dijual. Kemudian, sebanyak 25.926 LAND akan digunakan sebagai cadangan yang bakal dibagikan ke mitra bisnis, creator, dan pemain sebagai rewards. Sementara itu, sisa 16.704 LAND akan menjadi properti pribadi milik The Sandbox.

    Nah, karena suplainya yang terbatas, maka nilai token LAND bisa saja meningkat jika permintaannya membludak di masa depan.

    Karakteristik Unik LAND

    Terdapat beberapa karakteristik yang membuat LAND di The Sandbox bersifat unik.

    Pertama, pengguna bisa menggabungkan beberapa LAND untuk membentuk ESTATES. Di masa depan, sekelompok pengguna bisa menggabungkan beberapa ESTATES untuk membentuk satu wilayah yang lebih luas yang disebut DISTRICTS.

    Kedua, The Sandbox juga memiliki real estate spesial bernama Premium LAND. Kavling tersebut terbilang istimewa lantaran memiliki lokasi strategis, sehingga nilai ekonominya pun terbilang “premium”.

    Premium LAND biasanya berlokasi di sekitar portal hub sosial atau di dekat gerai mitra-mitra The Sandbox. Akibatnya, premium LAND punya potensi untuk dilalui banyak pengguna yang datang melalui portal tersebut. Artinya, jika premium LAND ramai dilewati pengguna lain, maka potensi monetisasinya pun terbilang menggiurkan.

    Di samping itu, semakin ramai kondisi lalu lintas di depan LAND, maka LAND tersebut juga bisa berpotensi menjadi tempat pemasangan iklan yang menjanjikan. Imbasnya, pemilik Premium LAND juga bisa memonetisasi propertinya dengan menyewakannya sebagai sarana periklanan.

    Ketiga, pemilik LAND juga bisa turut serta menjadi bagian tata kelola metaverse The Sandbox. Mereka bisa menggunakan token LAND sebagai surat suara untuk menentukan pengembangan jaringan di masa depan. 

    Mereka juga bisa melakukan staking atas token LAND demi menerima pendapatan pasif dalam bentuk token SAND, atau bahkan mendapatkan token langka GEM dan CATALYST.

    ASSET

    Token ASSET adalah token dengan standar NFT ERC-1155 yang merupakan representasi digital atas seluruh barang-barang dan perlengkapan yang terdapat di jagat The Sandbox.

    ASSET sendiri berfungsi sebagai “pemanis” agar pengguna semakin betah bermain game di atas LAND yang dimiliki para pengembang. Beberapa aset merupakan benda koleksi, sementara sebagian lainnya adalah benda-benda yang bisa dimonetisasi atau diperjualbelikan di Sandbox Marketplace.

    Berikut adalah lima kategori token ASSET:

    1. Entities. Token ASSET ini berfungsi membuat game menjadi lebih hidup. Makanya, token ASSET jenis ini biasanya berbentuk karakter game, misalnya NPC dalam bentuk manusia atau hewan-hewan mulai dari dinosaurus dan ayam.
    2. Equipment. Token ASSET jenis ini berfungsi membantu pemain untuk menyelesaikan misi-misi di dalam game. Contoh token ASSET Equipment antara lain pedang, helm, tameng, dan sarung tangan.
    3. Wearables. Ini merupakan token-token yang bisa membantu pengguna mengubah tampilan avatarnya, misalnya kemeja, celana jeans, topi, bahkan telinga kelinci.
    4. Art. Ini adalah benda-benda yang berfungsi sebagai dekorasi visual sehingga game menjadi terlihat lebih menarik, misalnya adalah lukisan, patung, hingga landmark.
    5. Blocks. Ini adalah benda-benda yang bisa mengubah tampilan atau latar dari sebuah games. Terdapat blocks yang bersifat biasa seperti air, lumpur, atau pasir. Namun, ada pula blocks yang lebih unik seperti air berwarna ungu dan lava berkilau.

    GAME

    Token GAME adalah gabungan antara ASSETS dan bahasa pemrograman yang bertujuan untuk menciptakan pengalaman game yang interaktif.

    Untuk mengaktivasinya, pengguna harus menambahkan token GAME di atas token LAND ketika meracik game-nya di aplikasi Game Maker.

    GEM & CATALYST

    Dua token penting terakhir di The Sandbox adalah GEM dan CATALYST. Keduanya adalah token NFT berstandar ERC-20 yang menentukan nilai sebuah ASSET.

    Misalnya, GEM digunakan untuk menambahkan keunikan dan aspek manfaat atas ASSET yang telah diciptakan. Semakin berguna dan semakin banyak fitur yang terdapat di dalam ASSET, maka semakin berharga pula nilai ASSET tersebut. Sekadar informasi, satu aset bisa memperoleh 25 fitur dari satu token GEM.

    Sementara itu, token CATALYST menentukan tingkatan “banderol” dan kelangkaan suatu ASSET. 

    Saat ini, terdapat empat tingkatan ASSET yang terdiri dari Common, Rare, Epic, dan Legendary. Nah, tingkatan tersebut sangat tergantung dari token CATALYST dan jumlah atribusinya yang terdapat di dalam satu ASSET.

    Pengembang bisa menggunakan token GEM dan CATALYST setelah menciptakan ASSET di perangkat VoxEdit.

    Kelebihan dan Kekurangan The Sandbox

    Berikut adalah keunggulan utama dari The Sandbox

    1. Jaringan kerja sama yang luas. Sejauh ini, The Sandbox telah bermitra dengan 165 jenama terkenal seperti Atari, The Walking Dead, Deadmau5, dan Snopp Dogg.
    2. The Sandbox merupakan salah satu pentolan metaverse berbasis blockchain dan memiliki nilai penjualan lahan sekaligus nilai kapitalisasi pasar yang jumbo.
    3. The Sandbox mudah dioperasikan baik oleh pemain maupun pengembang.
    4. Suplai LAND yang terbatas berpotensi membuat nilainya naik di masa depan.

    Sementara itu, The Sandbox juga memiliki kekurangan seperti

    1. Masih belum sempurna untuk diklaim sebagai produk yang “sudah jadi”.
    2. Rasio pengguna dengan valuasinya cenderung bias.
    3. Harga LAND kini cenderung lebih mahal dibanding platform metaverse lain, sehingga membuat pengguna enggan masuk ke dalamnya.
    4. Punya pangsa pasar yang minim lantaran The Sandbox memfokuskan platformnya bagi komunitas game.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal STEPN, Aplikasi Kripto yang ‘Bayar’ Penggunanya agar Tetap Bugar

    Apa Itu STEPN?

    STEPN adalah aplikasi gaya hidup Web3 dan permainan Non-Fungible Token (NFT) yang dibangun di atas teknologi Social-Fi dan Game-Fi di jaringan Solana.

    STEPN adalah punggawa aplikasi dengan model Move-to-Earn. Dengan kata lain, penggunanya berkesempatan mendapatkan hadiah asal mau bergerak sesuai petunjuk dan instruksi yang tertera di aplikasi STEPN. Karakteristik ini yang membedakan STEPN dengan permainan berbasis kripto lainnya.

    Sumber: STEPN

    STEPN beserta konsep Move-to-Earn yang ia perkenalkan adalah evolusi dari dua teknologi yang sedang populer belakangan ini, yakni realitas tertambah (Augmented Reality) dan permainan Play-to-Earn. Sehingga, konsep permainan STEPN ibarat kombinasi antara permainan Pokemon Go, Strava, dan Axie Infinity.

    Mengapa STEPN Hadir?

    Konsep Move-to-Earn memang terbilang menarik. Sebab, kapan lagi Sobat Cuan dibayar hanya dengan bergerak, misal dengan berjalan kaki atau berlari, bukan?

    Namun pertanyaannya, mengapa STEPN tiba-tiba mencetuskan ide Move-to-Earn tersebut

    Ternyata, jawabannya cukup simpel. STEPN hanya ingin membuat masyarakat termotivasi untuk berolahraga.

    Di kehidupan modern, sebagian besar masyarakat tak punya banyak waktu untuk melakukan aktivitas fisik. Mereka menghabiskan mayoritas waktunya dalam sehari untuk bekerja di depan layar komputer, sebuah aktivitas yang membuat kemampuan fisik seseorang semakin lapuk jika dilakukan terus menerus.

    Sebenarnya, mereka bisa saja mendaftarkan diri untuk berolahraga di pusat kebugaran atau gym. Hanya saja, tak semua pekerja mampu membayar biaya keanggotaan pusat kebugaran setiap bulannya.

    Bayangkan saja, mereka banting tulang mencari uang namun ujung-ujungnya habis hanya demi membayar keanggotaan gym. Bahkan, biaya gym yang mereka keluarkan bisa jadi sia-sia jika mereka tak punya waktu untuk mengunjungi pusat kebugaran. Sebuah pola kehidupan yang bikin garuk-garuk kepala, bukan?

    Namun, bagaimana jadinya jika kondisi tersebut dibalik? Apakah masyarakat akan termotivasi untuk berolahraga jika mereka malah bisa mendulang penghasilan dari kegiatan tersebut? Nah, konsep inilah yang STEPN coba usung melalui proyeknya.

    Melalui aplikasinya, STEPN menciptakan permainan yang menyokong pola hidup sehat dengan memberikan imbalan dalam bentuk token GST dengan jumlah sesuai dengan catatan aktivitas fisik yang dilakukan penggunanya.

    Hanya saja, mereka baru bisa meraih hadiah tersebut jika telah membeli NFT sepatu olahraga (Sneakers) milik STEPN. Sebab, melalui NFT Sneakers, aplikasi bisa leluasa merekam aktivitas jalan kaki, jogging, atau lari yang dilakukan penggunanya.

    Sumber: STEPN

    Pengguna kemudian bisa menggunakan imbalan token GST tersebut untuk meng-upgrade jumlah raihan token-token GST di masa depan atau menjualnya demi mendulang penghasilan ekstra. Seluruh aktivitas tersebut bisa dilakukan di aplikasi STEPN yang berisikan dompet digital, lokapasar, dan penyewaan Sneakers dalam satu pintu.

    Menariknya, penggunanya bisa menggunakan aplikasi STEPN tanpa perlu memiliki atau punya pengetahuan tentang aset digital apapun. Sehingga, mereka bisa melangkahkan kaki di kancah kripto tanpa perlu capek-capek belajar dan memahami dunia tersebut.

    Bagaimana Cara Dapat Imbalan dari STEPN?

    Sebelum mendulang penghasilan dengan berolahraga menggunakan aplikasi STEPN, pengguna harus mengetahui mekanisme permainan satu ini. Berikut penjelasannya!

    1. Sneakers

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pengguna harus memiliki NFT Sneakers agar aplikasi STEPN bisa mencatat seluruh aktivitas fisik yang dilakukan penggunanya. Hanya saja, maisng-masing Sneakers tersebut memiliki varian berbeda tergantung dari kegiatan olahraga yang dijalankan.

    Kemudian, setiap Sneakers pun membawa misi yang berbeda-beda bagi penggunanya. Jika pengguna gagal mencapai misi tersebut, maka kesempatan mereka untuk mendapat hadiah token akan tertutup rapat.

    Lebih lanjut, berikut adalah misi-misi yang perlu dijalankan pengguna sesuai dengan jenis Sneakers-nya.

    1. Walker (1 hingga 6 kilometer (km) per jam)
    2. Jogger (4 hingga 10 km per jam)
    3. Runner (8 hingga 20 km per jam)
    4. Trainer (1 hingga 20 jm per jam)

    Pengguna bisa membeli NFT Sneakers tersebut menggunakan aset kripto SOL dan BNB di lokapasar yang terdapat di aplikasi STEPN. Biasanya, pemula setidaknya harus membayar US$300 untuk mendapatkan Sneakers dengan kemampuan paling sederhana.

    Namun, jika pengguna ingin memulai STEPN dengan gratis, maka mereka bisa mencoba STEPN secara gratis dalam rentang waktu yang terbatas (free trial).

    Di samping itu, mereka juga bisa menyewa Sneakers dari pengguna lain. Hanya saja, pengguna pun harus rela berbagi penghasilannya dari berolahraga dengan sang penyewa.

    Tampilan membeli Sneakers di lokapasar aplikasi STEPN. Sumber: STEPN

    Jika pengguna doyan dengan hal-hal berbau surpise, maka mereka bisa mendapatkan Sneakers dengan membeli membeli kotak sepatu (Shoeboxes) dari lokapasar di aplikasi STEPN. Shoeboxes sendiri adalah kotak-kotak misteri yang berisikan Sneakers dengan model acak (random).

    Tampilan status kemampuan Sneakers di aplikasi STEPN. Sumber: STEPN

    Lebih lanjut, seperti kebanyakan permainan lainnya, pemain bisa meng-upgrade Sneakers-nya untuk mendapatkan maksimal lima keunggulan tambahan yang terdiri dari:

    1. Quality. Pengguna bisa meningkatkan tingkatan kualitas Sneakers-nya dari level Common, Uncommon, Rare, Epic, hingga Legendary.
    2. Efficiency. Pengguna bisa meningkatkan penghasilan dalam bentuk token GST per “Energy” yang telah dikeluarkan.
    3. Luck. Pengguna bisa meningkatkan kesempatannya untuk mendapatkan hadiah-hadiah acak dalam sebuah sesi olahraga. Hadiah-hadiah tersebut bisa saja berbentuk upgrade yang bisa pengguna manfaatkan atau jual ke lokapasar.
    4. Comfort. Pengguna bisa meningkatkan kepemilikan token tata kelola GMT ketika memasuki level 30 ke atas.
    5. Resilience. Pengguna bisa mengurangi biaya perbaikan Sneakers-nya.

    2. Energy

    Energy adalah unit satuan waktu yang dialokasikan bagi pemain dalam satu sesi Move-to-Earn, di mana satu unitnya setara dengan lima menit. Setiap Sneakers memiliki dua unit Energy, atau setara 10 menit latihan per hari, yang akan diperbarui kembali setiap 24 jam sekali.

    Namun, jika pengguna menghabiskan seluruh Energy yang dimilikinya, maka mereka tidak bisa lagi memiliki kesempatan untuk mendulang token-token hadiah. Sehingga, jika pengguna ingin terus menambah imbalannya, maka ia harus membeli NFT Sneakers ekstra agar unit Energy-nya ikut meningkat. Misalnya, pengguna bisa mendapatkan 4 unit energi, atau setara 20 menit waktu latihan, jika memiliki tiga Sneakers.

    Di samping itu, status kualitas Sneakers juga sangat mempengaruhi jumlah Energy yang dihasilkan.

    Kualitas Sneakers STEPN saat ini dibagi berdasarkan tingkatan Common, Uncommon, Rare, Epic, dan Legendary. Nah, masing-masing tingkatan tersebut menambah 0, 1, 2, 3, dan 4 unit Energy ke dalam Sneakers sang pengguna.

    Sebagai contoh, jika Sobat Cuan memiliki dua Sneakers berkategori Rare dan satu Sneakers dengan level Common, maka kamu akan memiliki total 8 unit Energy yang terdiri dari 4 unit Energy biasa plus bonus 4 unit Energy. Dengan kata lain, kamu bisa mendulang token-token GST dalam 40 menit sesi latihan alih-alih selama 20 menit dengan menggunakan Sneakers biasa.

    Namun, pertanyaan berikutnya, berapa jumlah token GST yang pengguna bisa dapatkan jika menghabiskan unit-unit Energy-nya? Hal itu rupanya sangat tergantung dengan tipe Sneakers yang mereka miliki, seperti tertera di bawah ini:

    1. Walker: 4 GST per 1 unit Energy yang dihabiskan.
    2. Jogger: 5 GST per 1 unit Energy yang dihabiskan.
    3. Runner: 6 GST per 1 unit Energy yang dihabiskan
    4. Trainer: 4 hingga 6 GST per 1 unit Energy yang dihabiskan.

    3. Tiga Mekanisme Anti Kecurangan Bermain STEPN

    Prinsip sportivitas tentu memiliki kaitan erat dengan yang namanya berolahraga. Makanya, STEPN sangat menghindari penggunanya untuk berlaku curang selama permainan berlangsung.

    Untuk mencegah hal tersebut, STEPN memiliki tiga mekanisme pencegahan kecurangan yang terdiri dari:

    1. Memasang data GPS yang tak begitu sensitif.
    2. Mengetatkan pengawasan atas sensor gerak dan data-data catatan kesehatan pengguna.
    3. Mengimplementasikan sistem bernama STEPN’s Anti-Cheating System (SMAC).

    Lebih lanjut, STEPN juga tidak akan segan menghukum akun sang pelaku jika ia ketahuan berlaku curang.

    Ragam Mode Permainan STEPN

    STEPN memungkinkan penggunanya untuk bermain dan mendulang token GST dalam tiga mode berbeda, yakni Solo, Marathon, dan Background.

    1. Mode Solo

    Di mode ini, pengguna bisa berkeliling menggunakan NFT Sneakers untuk mengoleksi token-token GST. Tetapi, ia harus membutuhkan unit-unit Energy untuk melakukannya.

    Di samping itu, jumlah token yang dikumpulkan juga tergantung dengan tipe Sneakers dan fitur-fitur yang dimilikinya, seperti yang telah dijelaskan di atas. Sebagai contoh, jika pengguna memiliki fitur Efficiency, maka ia bisa mendulang lebih banyak token GST per Energy yang “dibakar”.

    Selain itu, jenis token yang diraih pengguna terbilang bervariasi tergantung dengan level yang sudah ia capai.

    Misalnya, pengguna hanya bisa meraih GST jika statusnya masih berada di antara level 0 hingga 29. Namun, ketika memasuki level 30, pengguna bisa memilih untuk terus mendapatkan token GST atau memiliki token GMT, yakni token tata kelola di jaringan STEPN.

    2. Mode Marathon

    Pengguna bisa berpartisipasi dalam ajang marathon yang digelar secara mingguan atau bulanan. Tetapi, mereka harus mendaftar di aplikasi STEPN paling lambat 24 jam sebelum perhelatan itu dimulai.

    Dalam kancah marathon mingguan, pengguna hanya bisa mengikuti satu dari tiga jenis lomba yang disediakan, yakni marathon berjarak tempuh 2,5 km, 5 km, atau 7,5 km. Dengan kata lain, mereka tak bisa mengikuti ketiga-tiganya secara bersamaan.

    Sementara itu, di dalam marathon bulanan, pengguna bisa memilih untuk mengikuti salah satu marathon berjarak tempuh 5 km, 10 km, atau 15 km. Perlu diingat, pengguna tidak bisa memperbaiki Sneakers-nya selama ajang itu berlangsung.

    3. Mode Background

    Melalui mode ini, pengguna bisa meraih token GST berdasarkan data-data kesehatan yang terdapat di gawai meski aplikasi STEPN di ponsel pintarnya tidak diaktifkan. Implikasinya, pengguna bisa mengoleksi penghasilan tanpa harus mengurangi daya tahan dari Sneakers yang dimilikinya.

    Kekuatan dan Kritik Terhadap STEPN

    Kekuatan

    1. Pemain utama dan pertama di sektor Move-to-Earn.
    2. Mengusung konsep unik yang mengombinasikan Social-Fi dan Game-Fi di dalam teknologi blockchain.
    3. Satu-satunya aplikasi game ponsel pintar yang memenangkan ajang Solana Ignition Hackaton.
    4. Disokong investor besar seperti Binance, Solana Capital, DeFi Alliance, MorningStar Ventures, dan Sequoia Capital.
    5. Punya kemitraan kuat dengan Binance, ASICS, dan Alchemy Pay.
    6. Relatif mudah digunakan oleh pengguna yang buta dan awam soal teknologi kripto.
    7. Sebuah teknologi yang tingkat adopsinya benar-benar terlihat di dunia nyata. Jumlah pengguna aktif harian STEPN bahkan sempat menyentuh puncak 400.000 pengguna.
    8. STEPN mengalokasikan sebagian profitnya untuk mengatasi masalah perubahan iklim.

    Kritik

    1. Jumlah pengguna harian masih belum menyentuh titik tertinggi terbarunya. Sehingga, komunitas kripto sangsi ihwal kesinambungan model Move-to-Earn ke depan.
    2. Sosok-sosok di balik STEPN memiliki pengalaman mimim soal kripto. Bahkan, STEPN tak memiliki Chief Technology Officer (CTO) atau desainer ekonomi game.
    3. Pengguna awam harus merogoh kocek dalam untuk membeli NFT Sneakers berkualitas baik.
    4. Harga token cenderung berfluktuasi sehingga indikator Return on Investment (ROI) dari model Move-to-Earn sukar untuk dianalisis.
    5. Pengalaman pengguna (User Experience/UX) milik STEPN terbilang “bapuk” jika dibandingkan aplikasi kebugaran lain seperti Nike Running Club dan Strava.

    Aspek Tokenomics STEPN

    Bagan Tokenomics STEPN. Sumber: STEPN

    STEPN menggunakan tiga token sebagai alat tukar utama di ekosistemnya. Token tersebut terdiri dari:

    1. Solana (SOL)

    Pengguna bisa memanfaatkan token asli dari jaringan Solana ini untuk membeli Sneakers baru.

    2. Green Metaverse Token (GMT)

    GMT adalah token tata kelola di jaringan STEPN. Dengan kata lain, pengguna bisa menggunakannya untuk menentukan pengembangan jaringan dan aplikasi STEPN di masa depan.

    Hanya saja, tak semua pengguna berhak mengantongi token ini. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hanya pengguna yang telah menyentuh level 30 ke atas saja yang berhak memperoleh token tersebut.

    Hal ini dimaksudkan agar hanya pengguna setia STEPN saja yang bisa menentukan masa depan jaringan. Di samping itu, mekanisme tersebut juga diharapkan bisa memacu pengguna untuk terus meningkatkan levelnya.

    Fakta uniknya, token GMT mengalami fase halving, yakni sebuah tahapan di mana jumlah koin baru yang muncul akan berkurang setengah setelah periode tertentu. Dalam kasus GMT, jumlah token baru yang hadir akan berkurang setengah setiap tiga tahun sekali.

    Saat ini, GMT memiliki pasokan maksimal sebanyak 6 miliar keping dengan distribusi sebagai berikut:

    1. 30% dialokasikan untuk ekosistem STEPN.
    2. 30% dialokasikan sebagai hadiah Move-to-Earn bagi pengguna.
    3. 16,3% dialokasikan untuk penjualan secara tertutup.
    4. 14,2% dialokasikan untuk tim pengembang STEPN.
    5. 7% dialokasikan saat penjualan token di Binance Launchpad.
    6. 2,5% dialokasikan untuk dewan penasihat STEPN.

    3. Green Satoshi Token (GST)

    GST adalah token utilitas asli milik STEPN sekaligus token yang bisa diraih pengguna sebagai hadiah setelah melakukan aktivitas fisik, seperti berjalan kaki, jogging, dan berlari.

    Pengguna bisa menggunakan GST untuk menyewa Sneakers, membeli barang-barang di lokapasar, memperbaiki Sneakers, meningkatkan level Sneakers dan aktivitas transaksi lainnya. Sehingga, dengan kata lain, GST bertindak sebagai “mata uang” utama di ekosistem STEPN.

    Berbeda dengan suplai GMT yang terbatas, pasokan GST terbilang membuncah. 

    Namun, beberapa misi di dalam game membutuhkan “pembakaran” GMT atau GST untuk memastikan keseimbangan permintaan dan penawaran kedua token tersebut. Adapun aktivitas yang mengharuskan terjadinya “pembakaran” token terdapat di bagan berikut.

    Daftar kegiatan yang mengharuskan pembakaran token di STEPN. Sumber: STEPN

    STEPN: Sebuah Permainan Revolusioner atau Skema Investasi Bodong?

    Banyak pihak melabeli proyek Play-to-Earn di jagat GameFi sebagai konsep yang berusia seumur jagung, atau bahkan dituduh sebagai bagian dari skema investasi ponzi. Pasalnya, tidak ada satu pun yang percaya bahwa masyarakat bisa menghasilkan uang dari aktivitas yang nilainya sama sekali nihil di dunia nyata.

    Namun, STEPN memilih fokus untuk menciptakan bisnis jangka panjang berdasarkan Tokenomics-nya. Sebagai permulaan, STEPN menggunakan model pemanfaatan dua token, yakni GMT dan GST, yang masing-masing punya fungsi berbeda.

    Pengguna bisa memanfaatkan GST untuk transaksi sehari-hari di ekosistem STEPN, sehingga bisa dibilang permintaan dan penawarannya diharapkan tetap stabil. Implikasinya, sistem Tokenomics STEPN mendorong penggunanya untuk terus “memutar” GST di dalam ekosistem STEPN.  

    Sementara itu, GMT adalah token eksklusif, sehingga pengguna bisa memanfaatkannya sebagai token investasi.

    Hanya saja, STEPN juga punya masalah besar yang mengadang perkembangannya ke depan.

    Seperti yang telah disebutkan di atas, pengguna bisa memanfaatkan GST untuk meningkatkan kemampuannya mendulang token GST yang lebih banyak lagi. Namun, banyak pihak merasa bahwa mekanisme ini akan membawa petaka bagi STEPN di masa depan.

    Selain perkara GST, STEPN juga memiliki masalah serius di dalam NFT Sneakers yang mereka tawarkan.

    Di dalam ekosistem STEPN, pengguna bisa “mencetak” NFT Sneakers terus menerus. Namun, STEPN tidak pernah “membakar” atau membuang Sneakers lama dari ekosistem mereka. Nah, hal ini dianggap bisa menjadi batu sandungan bagi pergerakan harga NFT tersebut ke depan.

    Sehingga, agar bisnis STEPN bisa sukses di jangka panjang, mereka wajib menggaet lebih banyak pengguna yang benar-benar menggunakan tokennya untuk beraktivitas dan “memutarnya” di ekosistemnya alih-alih menjualnya.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Cardano, Blockchain Pertama Berbasis Sains & Kajian Akademis

    Apa Itu Cardano?

    Cardano adalah platform smart contract Proof-of-Stake generasi ketiga sekaligus blockchain pertama yang pengembangannya ditinjau dan dikaji oleh sekelompok insinyur dan ahli kriptografi.

    Jaringan ini mengklaim sebagai teknologi blockchain generasi ke-tiga karena dibangun berdasarkan riset akademis dan menjadi evolusi atas blockchain generasi pertama, yakni Bitcoin, dan generasi kedua, misalnya Ethereum.

    Fakta uniknya, nama Cardano terinspirasi dari ahli matematika zaman renaisains bernama Gerolamo Cardano. Sementara itu, nama token asli jaringan Cardano, ADA, disadur dari nama ahli matematika abad ke-19 yang juga dikenal sebagai programmer komputer pertama bernama Ada Lovelace. 

    Gerolamo Cardano dan Ada Lovelace. Sumber: Wikipedia

     

    Cardano hadir untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi industri blockchain pada umumnya, seperti keamanan jaringan yang kurang kokoh, penyatuan lapisan komputasi dan akuntansi di jaringan, dan mekanisme pemungutan suara berbelit yang kerap bikin macet lalu lintas transaksi di jaringan.

    Cardano mengatasi masing-masing masalah tersebut dengan memanfaatkan ilmu matematika. Tujuannya, agar jaringan Cardano mampu mengimplementasikan sistem keamanan anti peretasan, memisahkan jaringan komputasi dan akuntansi, dan menerapkan sistem voting berskala besar yang tak mengganggu kestabilan jaringan.

    Di samping itu, berbeda dari jaringan lainnya, riset dan tinjauan akademis adalah faktor yang “didewakan” di jaringan Cardano.

    Sebelum mengintegrasikan teknologi anyar, Cardano menyusun kerangka kerja berbasis riset yang kemudian akan diperiksa secara kolektif oleh sekelompok pakar yang terdiri dari ahli filsafat, sosiolog, psikolog, dan pakar game theory. Karakteristik ini tentunya membantu Cardano lebih yakin mengembangkan jaringannya plus token miliknya, ADA, di masa depan.

    Namun, kadang hal ini bisa menjadi bumerang bagi Cardano. Sebab, ketika Cardano sibuk melakukan riset, ternyata pesaingnya justru memanfaatkan momentum tersebut untuk mengembangkan ekosistemnya.

    Sebagai contoh, meski Cardano didirikan 2017 lalu, ia baru berani meluncurkan smart contract pada September 2021. Hanya saja, dalam rentang waktu tersebut, ternyata Ethereum sudah lebih dulu bertengger sebagai jawara di kancah platform smart contract. Bahkan, niatan Cardano pun disalip Solana meski ia baru meluncur tiga tahun setelah Cardano berdiri.

    Dari kasus tersebut, komunitas kripto bisa belajar bahwa perusahaan teknologi yang sukses selalu mengedepankan “gerak cepat” ketimbang bersikap perfeksionis. Hal ini dapat dimaklumi mengingat perkembangan teknologi juga bergerak secara kilat.

    Selain itu, inovasi teknologi yang baik bukan sekadar menyangkut fitur dan sistem semata, namun juga tingkat adopsi tinggi. Masing-masing inovasi teknologi yang hadir juga harus buru-buru menciptakan ekosistemnya sendiri agar tingkat adopsi massalnya mumpuni.

    Mengenal Sosok & Lembaga Di Balik Teknologi Cardano

    Sekilas, cara kerja Cardano terlihat lebih kompleks dibanding jaringan lainnya. Hal ini tentu bikin Sobat Cuan penasaran tentang tokoh-tokoh penting dan organisasi yang membantu aspek operasional jaringan ini.

    Charles Hoskinson

    Charles Hoskinson adalah co-founder Cardano yang merupakan wirausaha asal Amerika Serikat sekaligus salah satu pendiri awal jaringan Ethereum.

    Menurut beberapa sumber, Hoskinson membangun Cardano setelah berselisih paham dengan pendiri Ethereum lainnya, Vitalik Buterin.

    Konon, kala itu, Hoskinson berharap Ethereum bisa menjadi perusahaan yang berfokus pada laba dan mau menerima kucuran dana dari perusahaan modal ventura. Sayangnya, Buterin malah tetap menginginkan Ethereum sebagai organisasi nirlaba.

    Meski Hoskinson adalah otak utama di balik Cardano, ia bukanlah pemilik atau pemegang kebijakan utama di jaringan tersebut. Justru, terdapat beberapa pemangku kebijakan dengan fungsi berbeda-beda yang terlibat di dalam proyek ini. Apa saja?

    Cardano Foundation

    Lembaga ini adalah badan nirlaba yang bermarkas di Zug, Swiss yang bertujuan untuk menstandarisasi, melindungi, dan mempromosikan teknologi Cardano. Dengan kata lain, lembaga ini menjadi “penjamin” utama atas keberhasilan proyek sekaligus aspek keamanan Cardano.

    Makanya, institusi ini bekerjasama secara aktif dengan pemerintah dan badan otoritas lainnya. Tak ketinggalan, ia juga bertanggung jawab untuk menyusun kerja sama dengan beberapa perusahaan dan proyek open-source relevan lainnya.

    IOHK

    IOHK adalah perusahaan riset dan pengembangan blockchain yang didirikan Hoskinson dan Jeremy Wood. Perusahaan ini berfokus pada pembangunan solusi-solusi teknologi agar tercipta inklusi finansial yang lebih baik.

    IOHK melancarkan aksi riset dan pengembangan jaringan Cardano dengan menggandeng beberapa perguruan tinggi ternama dunia.

    Emurgo

    Emurgo adalah perusahaan blockchain asal Jepang sekaligus firma modal ventura.

    Cardano mendirikan Emurgo, yang merupakan perusahaan “saudara” IOHK, untuk mengintegrasikan, mengembangkan, dan menyokong kegiatan bisnis yang ingin memanfaatkan teknologi blockchain dan komputasi milik Cardano.

    Kekuatan dan Kritik Terhadap Cardano

    Kekuatan

    1. Blockchain pertama yang dikembangkan secara akademik, berdasarkan data-data, dan berbasis riset serta tinjauan para ahli.
    2. Cardano digadang sebagai blockchain yang paling banyak diriset dalam ekosistem kripto saat ini. Bahkan, karena hal ini, Cardano sampai-sampai dijuluki sebagai “koin profesor”.
    3. Perkembangan Cardano didukung oleh 90 whitepapers, jauh lebih banyak dibanding blockchain lain yang membutuhkan di bawah lima eksemplar whitepapers.
    4. Implementasi aspek akademis yang kental di jaringan membuat Cardano bisa fokus menyediakan aspek keamanan dan keberlangsungan jaringan yang baik.
    5. Memiliki teknologi smart contract yang lebih toleran terhadap kesalahan dibanding Ethereum.
    6. Token-token Cardano diciptakan di atas infrastruktur yang sama seperti ADA. Hal ini berbeda dibanding jaringan Ethereum, di mana token-token yang tercipta di atasnya berasal dari smart contract. Akibatnya, aspek keamanan token-token Cardano serupa dengan ADA. Tak heran jika kemudian token-token Cardano dijuluki sebagai “token kelas atas”.
    7. Cardano memiliki misi untuk menyasar negara-negara berkembang yang didera korupsi, masalah birokrasi, dan kurangnya akses ke jasa keuangan.
    8. Cardano berharap jaringan blockchain-nya bisa digunakan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Misalnya, memverifikasi akses masyarakat untuk mendapatkan hak atas air bersih dan menciptakan sistem pemungutan suara yang transparan di sistem demokrasi.
    9. Cardano Foundation bekerja sama dengan Coinfirm agar patuh dengan prinsip anti pencucian uang yang diinisiasi Financial Action Task Force (FATF) dan 6AMLD. Ini membuat Cardano gampang menjalin kerja sama berbasiskan kerangka regulasi anti pencucian uang dengan beberapa perusahaan.
    10. Cardano memiliki kemitraan yang unik dan kuat, misalnya:
      1. Kemitraan dengan pemerintah Ethiopia untuk menyediakan nomor identitas sekolah berdasarkan blockchain kepada siswa-siswa. Hal ini memungkinkan institusi pendidikan Ethiopia untuk menyimpan dan mencatat seluruh prestasi akademik mereka di blockchain Cardano.
      2. Perusahaan reforestasi global Veritree menggunakan blockchain Cardano untuk mencatat jumlah pohon yang sudah berhasil ditanam kembali.
      3. DISH Network mengintegrasikan dirinya dengan Cardano untuk menyediakan jasa data digital bagi para pelanggannya.
      4. Perusahaan e-sports Rival menggunakan Cardano untuk membantu mencetak dan mendistribusikan NFT ke penggunanya.

    Kritik

    1. Cardano membutuhkan proses pengembangan paling lama dibanding pesaingnya.
    2. Punya porsi pangsa pasar yang lebih kecil dibanding jaringan lainnya lantaran Cardano kewalahan membangun ekosistemnya sendiri.
    3. Ethereum, melalui pembaruan jaringan The Merge, akan mengikutsertakan mekanisme Proof-of-Stake yang bisa menjadi kompetitor sengit Cardano.
    4. Sistem peninjauan ahli yang diimplementasikan Cardano kadang memicu masalah lain. Sebab, Cardano jadi lebih senang melakukan riset terhadap perkembangan baru di jaringan alih-alih mengujicobakannya ke pengguna.
    5. Proses pengembangan jaringan yang lama membuatnya tidak menarik di mata perusahaan modal ventura.

    Aspek Tokenomics ADA

    Seperti yang telah dijelaskan di atas, ADA adalah koin utilitas asli di jaringan Cardano. Artinya,  ADA digunakan sebagai nilai tukar resmi dalam melakukan transaksi dan sebagai aset yang bisa di-staking oleh validator, mirip seperti token ETH di jaringan Ethereum.

    Namun, hingga saat ini, koin ADA sejatinya tak memiliki daya guna dan nilai yang pasti lantaran jaringan Cardano sendiri saat ini masih dalam tahap pengembangan. Sehingga, pergerakan harga ADA lebih banyak ditentukan oleh spekulasi atas potensinya di masa depan.

    Lebih lanjut, jaringan Cardano memiliki suplai terbatas, yakni 45 miliar keping saja.

    Sebanyak 25,92 miliar keping telah dijual pada saat penawaran koin perdananya. Sehingga, saat ini masih tersisa sekitar 19 miliar ADA yang siap “ditambang” di jaringan Cardano.

    Teknologi Cardano dan koin ADA memang terlihat “canggih” dan menarik ya, Sobat Cuan. Namun, bagaimana sih cara kerja teknologi satu ini? Yuk, simak di artikelnya berikutnya di tautan berikut!



    Sumber : pluang.com

  • Membedah Isi Teknologi Cardano

    Mengenal Komponen di Teknologi Cardano

    Cardano didirikan berbasis data-data dan kajian akademis yang teliti. Makanya, sang pengembang pun tak main-main dalam membangun arsitektur jaringan Cardano.

    Salah satu keseriusan tersebut bisa Sobat Cuan perhatikan di struktur jaringan utama blockchain Cardano.

    Blockchain lain boleh saja memiliki satu jaringan utama. Namun, Cardano justru memanfaatkan dua lapisan jaringan utama di dalamnya, yakni Cardano Settlement Layer (CSL) dan Cardano Computation Layer (CCL).

    Melalui dua jaringan tersebut, Cardano ingin menghindari masalah macetnya proses transaksi yang kerap berujung pada kenaikan biaya transaksi, seperti dialami jaringan lainnya. Dengan kata lain, hadirnya perbedaan antara jaringan khusus transaksi dan komputasi di dalam tubuh Cardano memungkinkan jaringan tetap bisa menjalankan fungsi tata kelolanya tanpa mengganggu jalannya transaksi.

    Di samping itu, Cardano juga punya beberapa jaringan ekstra (sidechains) yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antar kedua lapisan.

    Arsitektur jaringan seperti demikian memudahkan Cardano melaksanakan soft fork ketimbang jaringan lainnya. Di jaringan Ethereum, misalnya, implementasi soft fork terbilang sukar lantaran tidak ada perbedaan mencolok antar lapisan-lapisan jaringannya.

    Lantas, seperti apa penjelasan detail masing-masing lapisan jaringan tersebut?

    1. Cardano Settlement Layer (CSL)

    CSL adalah lapisan jaringan yang bertindak sebagai lokasi di mana pemilik token bisa menerima dan mengirim ADA dengan biaya transaksi minim. Proses pencatatan transaksinya mirip seperti sistem digital buku besar (ledger) akuntansi, layaknya Bitcoin, namun dilengkapi dengan fungsi-fungsi khas jaringan Cardano.

    2. Cardano Computational Layer (CCL)

    CCL merupakan sekumpulan protokol yang menjalankan fungsi smart contract, memastikan aspek keamanan jaringan, dan memungkinkan operasi fitur penting lainnya di jaringan. Sehingga, bisa dibilang bahwa CCL adalah tulang punggung utama jaringan Cardano.

    3. Ouroboros Praos Protocol

    Di samping itu, algoritma konsensus Proof-of-Stake khas Cardano yang bernama Ouroboros pun terletak di jaringan CCL.

    Menariknya, Ouroboros menggunakan ilmu matematika untuk menyokong aspek keamanannya. Fakta unik lainnya, seluruh aktivitas yang memanfaatkan algoritma konsensus ini wajib ditinjau oleh para pakar Cardano.

    Mekanisme konsensus Ouroboros juga berbeda dibanding jaringan lain yang memanfaatkan sistem serupa. Sekadar informasi, algoritma konsensus Ouroboros dianggap “aman” jika 51% dari total “pemegang suaranya” dikendalikan oleh entitas yang bertanggung jawab. Syarat ini lebih rendah dibanding protokol Proof-of-Stake lain yang mematok angka 67%.

    Lebih lanjut, proses validasi blok transaksi di Ouroboros menggunakan sistem finalisasi berdasarkan probabilitas.

    Sistem ini justru mirip seperti algoritma konsensus Proof-of-Work mengingat mayoritas jaringan berbasis Proof-of-Stake selalu menggunakan sistem finalisasi berbasis suara absolut.

    Namun, ciri khas ini membuat validasi transaksi di jaringan Cardano terbilang lebih efisien dibanding jaringan lainnya. Sebab, Ouroboros hanya membutuhkan sebagian kecil pemegang token ADA yang sedang online untuk memvalidasi transaksi untuk mewakili seluruh validator resmi.

    Hal ini bisa terjadi lantaran Ouroboros memungkinkan masing-masing pemilik token ADA untuk menunjuk beberapa perwakilannya demi memvalidasi satu aktivitas transaksi. Imbasnya, penciptaan blok transaksi baru menjadi lancar meski beberapa validator sedang offline.

    Bahkan, nantinya konsensus Ouroboros bisa melakukan validasi transaksi dengan durasi kilat melalui sebuah pembaruan konsensus bernama Hydra.

    4. Epochs dan Slots

    Protokol Ouroboros membagi waktu transaksi berdasarkan satuan bernama Epochs. Kemudian, masing-masing Epochs akan “dicincang” kembali menjadi satuan lebih kecil bernama Slots.

    Dalam Cardano, satu blok transaksi diharapkan bisa tercipta dalam kurun satu Slot atau setara dengan 20 detik. Untuk memimpin jalannya transaksi, jaringan akan memilih pemimpin Slot (Slot Leaders), yang kesempatan untuk dipilihnya didasarkan atas jumlah koin ADA yang mereka miliki

    Agar proses pemilihan Slot Leaders lepas dari unsur kecurangan, jaringan Cardano mengimplementasikan sistem pemilihan acak, mirip seperti sistem “hompimpa” dengan melempar koin. Setelah terpilih, setiap Slot Leaders nantinya hanya akan berhak memverifikasi satu blok transaksi saja.

    5. Haskell

    Haskell adalah bahasa pemrograman dengan derajat toleransi kesalahan tinggi yang digunakan di jaringan Cardano. Bahasa pemrograman ini memang jarang digunakan di industri blockchain, namun cukup marak digunakan oleh kalangan akademisi.

    Haskell juga memungkinkan terjadinya verifikasi menggunakan ilmu matematika. Sehingga, tak heran ia digadang sebagai salah satu bahasa pemrograman yang paling aman dengan mekanisme verifikasi yang cukup kokoh.

    Oleh karenanya, bahasa pemrograman Haskell diharapkan bisa memperkuat aspek keamanan dan infrastruktur aplikasi terdesentralisasi, yang kadang berisikan aset kripto senilai miliaran Dolar AS, di atas jaringan Cardano.

    Menjelajahi Peta Jalan Cardano

    Cardano adalah sebuah jaringan yang diharapkan bisa terus berevolusi ke depan. Oleh karenanya, ia pun membagi tahapan perkembangannya menjadi lima fase, di mana setiap fasenya berfokus pada pemasangan fungsi spesifik di jaringan Cardano.

    Uniknya, nama setiap masing-masing fase tersebut terinspirasi dari nama-nama ahli ilmu pengetahuan yang punya sumbangsih besar ke bidangnya masing-masing.

    Lantas, seperti apa penjelasan lengkap masing-masing tahapan pengembangan Cardano?

    1. Tahapan Byron (Era Pembangunan Pondasi Cardano)

    Tahapan Byron diambil dari nama Lord Byron, ayah dari ahli matematika Ada Lovelace. Seperti dijelaskan di artikel sebelumnya, Ada Lovelace merupakan inspirasi dari nama token asli Cardano bernama ADA.

    Dalam fase ini, Cardano berfokus menciptakan arsitektur jaringan dan mengujicobakan fungsi-fungsi dasar Cardano agar jaringan bisa berjalan dengan lancar.

    Selain itu, di tahapan Byron, Cardano juga melancarkan upaya untuk menggaet komunitasnya sendiri. Oleh karenanya, tak heran jika tahapan Byron dimulai September 2017, bertepatan dengan peluncuran versi pertama Cardano.

    Di tahapan ini, Cardano sudah memungkinkan penggunanya untuk menjual dan membeli ADA di sekumpulan jaringan yang ditenagai algoritma konsensus Ouroboros. Di fase yang sama, Cardano juga meluncurkan dompet digital Daedalus dan Yoroi, yang masing-masing diluncurkan oleh IOHK dan Emurgo.

    Sepanjang tahapan Byron, Cardano juga melakukan listing ADA di platform exchange kripto. Setelah seluruh kegiatan itu rampung, fase Byron pun selesai di 2020 dan Cardano kemudian resmi memasuki fase Shelley.

    2. Tahapan Shelley (Era Desentralisasi)

    Fase Shelley adalah tahapan di mana Cardano meluncurkan jaringan utamanya dan memulai upaya desentralisasi di dalamnya. Dengan jumlah pengguna yang lebih banyak ketimbang era Byron, fase Shelley diharapkan bisa meningkatkan aspek keamanan dan performa jaringan Cardano.

    Nama Shelley sendiri diambil dari penulis buku bergenre horor Frankenstein, Mary Shelley. Pemilihan nama ini cukup unik lantaran mencerminkan ambisi Cardano untuk menciptakan jaringan yang beroperasi secara otonom, mirip seperti makhluk rekayasa Frankenstein.

    Cardano memulai fase Shelley pada 29 Juli 2020 lalu yang ditandai dengan aktivasi algoritma konsensus Proof-of-Stake dan penawaran program staking ke penggunanya.

    Di dalam tahapan ini, Cardano juga memungkinkan pemilik ADA untuk mendelegasikan tugasnya sebagai validator ke pengguna lainnya.

    Jaringan juga membuat sistem baru di mana semua pemilik ADA bisa menciptakan “kolam dana ADA”. Mereka bisa menggunakan ADA yang berasal dari “kolam” tersebut untuk membayar imbalan bagi pihak-pihak yang mewakili mereka dalam proses validasi transaksi.

    3. Tahapan Goguen (Era Implementasi ‘Smart Contract’)

    Fase Goguen adalah tahapan di mana Cardano mulai menginstalasi teknologi smart contract di dalamnya agar komunitas kripto bisa mengembangkan aplikasi terdesentralisasi di atas jaringan Cardano. Hal ini diharapkan dapat menambah nilai guna Cardano selain sebagai jaringan blockchain biasa semata.

    Dalam tahapan ini, Cardano juga memungkinkan interoperabilitas smart contract miliknya dengan smart contract milik jaringan lain meski keduanya memiliki bahasa pemrograman berbeda.

    Fase Goguen, yang namanya diambil dari ahli komputer AS Joseph Goguen, dimulai pada September 2021 lalu.

    4. Tahapan Basho (Era Peningkatan Skalabilitas Jaringan Cardano)

    Di dalam fase ini, Cardano berniat mengoptimalisasi skala jaringan agar protokol Cardano bisa mudah berinteraksi dengan jaringan lainnya.

    Untuk menuju hal tersebut, Cardano akan melancarkan dua aksi penting selama tahapan yang namanya terinspirasi dari penyair Jepang Matsuo Bashõ tersebut.

    Pertama, Cardano akan memperkenalkan jaringan ekstra (sidechains) bernama Hydra 2 yang bisa digunakan untuk “memecah-mecah” transaksi demi mengurangi kepadatan lalu lintas transaksi tanpa perlu mengorbankan aspek keamanan jaringan.

    Kedua, Cardano akan meluncurkan standar pencatatan transaksi baru yang sesuai dengan standar saat ini, yakni UTXO, demi memudahkan aspek interoperabilitasnya.

    5. Tahapan Voltaire (Era Tata Kelola)

    Melalui fase Voltaire, Cardano ingin memperkenalkan sistem pemungutan suara yang lebih transparan dan adil, di mana setiap pemilik token benar-benar punya hak untuk menentukan masa depan jaringan Cardano.

    Jika tahapan ini selesai, maka Cardano dianggap sudah memiliki sifat desentralisasi penuh. Sehingga, IOHK pun tak akan ragu menyerahkan kepemilikan jaringan Cardano ke komunitasnya.

    Fakta uniknya, nama Voltaire diambil dari penulis Perancis abad 17 yang kala itu getol menyuarakan kebebasan hak sipil dan kerap disebut sebagai salah satu pionir utama Revolusi Perancis. Semangat Voltaire tersebut dianggap senada dengan tujuan Cardano di tahapan pengembangan akhir ini.

    Sekilas Tentang Fitur Cardano Masa Depan

    Komponen Cardano yang berbasiskan ilmu pengetahuan tersebut terdengar kompleks ya, Sobat Cuan.

    Kendati demikian, Cardano ternyata tidak lelah untuk terus berinovasi. Berikut adalah contoh inovasi yang tengah dikembangkan Cardano untuk menopang keandalan jaringan di masa depan!

    1. Plutus. Ini adalah bahasa pemrograman yang diharapkan bisa meningkatkan daya guna smart contract saat ini dengan memanfaatkan bahasa pemrograman Haskell.
    2. Marlow. Ini merupakan bahasa pemrograman khusus tingkat tinggi yang digunakan untuk membangun kontrak-kontrak finansial di atas Plutus. Bahasa pemrograman ini memungkinkan pelaku bisnis dan keuangan yang awam ilmu kripto bisa menciptakan smart contract di jaringan Cardano.
    3. Extended UTXO (EUTXO). Ini adalah teknologi anyar yang memungkinkan penyederhanaan penciptaan smart contract dengan memecah eksekusinya ke dalam beberapa transaksi.
    4. Rekening bank terdesentralisasi. Rencananya, Cardano akan menghimpun token ADA yang disetor pemiliknya ke dalam satu dompet digital, mirip seperti rekening bank terdesentralisasi. Nantinya, rekening ini akan dikendalikan oleh seluruh pemegang token ADA, di mana dana di dalamnya bakal dialokasikan untuk pengembangan proyek Cardano di masa depan.

    Apakah Cardano Benar-Benar Lebih Baik dari Ethereum?

    Secara kasat mata, Cardano dan Ethereum memiliki tujuan dan keinginan sama, yakni menjadi pemimpin platform smart contract sejagat. Namun, masing-masing platform tetap punya masalah tersendiri.

    Di satu sisi, Ethereum memiliki masalah skalabilitas transaksi, sebuah momok yang selama ini ditakutkan punggawa Cardano Charles Hoskinson.

    Untungnya, masalah tersebut bakal terpecahkan setelah Ethereum mengimplementasikan algoritma konsensus Proof-of-Stake di pembaruan jaringan teranyarnya. Bahkan, dengan ukuran ekosistem yang besar, Ethereum digadang bisa memiliki skalabilitas dan aspek keamanan yang lebih mantap ketimbang Cardano.

    Sementara, di sisi lain, karakteristik Cardano yang mengedepankan riset dan tinjauan akademis membuat proses pengembangannya jadi lama. Ujungnya, ia pun kewalahan menyalip dominasi Ethereum dalam jangka waktu dekat.

    Intinya, Ethereum dan Cardano punya keunggulannya masing-masing. Namun, agar Sobat Cuan mampu melihat perbedaan di antara keduanya, berikut ringkasan distingsi antara Ethereum dan Cardano!

    Mengenal Anggota Ekosistem Cardano

    Terdapat beberapa aplikasi menarik yang dibangun di atas jaringan Cardano, berikut contohnya!

    1. SundaeSwap

    SundaeSwap adalah platform exchange terdesentralisasi pertama yang meluncur di atas jaringan Cardano. Melalui platform ini, pengguna di ekosistem Cardano bisa melakukan tukar-menukar token dan mendapatkan likuiditas.

    Platform ini memperkenalkan model distribusi token yang unik bernama Initial Stake Pool Offering (ISO atau ISPO), yang mirip seperti kombinasi antara airdrop dan penawaran umum koin perdana (ICO).

    2. MELD

    MELD adalah platform pinjam-meminjam aset kripto. Dengan kata lain, platform ini memungkinkan penggunanya untuk mengakses pendanaan dan “menabung” di jaringan Cardano.

    Pada November 2021, MELD mengumumkan telah menggaet pendanaan baru sebesar US$1 miliar dalam bentuk ADA yang dijadikan bagian dari ISPO.

    3. OccamFi

    OccamFi adalah launchpad perdana di jaringan Cardano. Melalui platform ini, penggunanya bisa berinvestasi di token-token tertentu sebelum mereka benar-benar dilempar ke pasaran.

    4. CNFT

    CNFT merupakan lokapasar Non-Fungible Token (NFT) terbesar di jaringan Cardano. Namun, CNFT nantinya akan memiliki “teman” lokapasar lainnya bernama Fiborite, sebuah platform NFT besutan Emurgo.

    4. Pavia

    Pavia adalah proyek Metaverse pertama di jaringan Cardano. Meski memang tahap pengembangannya baru seumur jagung, namun fans berat metaverse sudah ngebet ingin membeli lahan di dalamnya. Bahkan, beberapa di antaranya rela merogoh kocek hingga 60.000 keping ADA untuk membeli satu kavling tanah di Pavia!



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Zilliqa, Punggawa Teknologi ‘Sharding’ dengan Kemampuan ‘Amazing’

    Apa Itu Zilliqa?

    Zilliqa adalah platform blockchain berbasis smart contract dan sistem algoritma konsensus Proof-of-Work yang berniat menjadi pesaing jaringan Ethereum, atau umum dikenal sebagai “Pembunuh Ethereum”. 

    Untuk mencapai tujuan tersebut, jaringan mendongkrak tingkat skalabilitas transaksinya dengan memanfaatkan satu mekanisme yang disebut Sharding. Bahkan, fakta uniknya, Zilliqa adalah jaringan blockchain publik pertama yang memanfaatkan teknologi tersebut!

    Lantas pertanyaannya, kenapa jaringan fokus pada peningkatan skalabilitas transaksi? 

    Seperti yang Sobat Cuan ketahui, jaringan blockchain populer seperti Ethereum dan Bitcoin kini mengalami masalah skalabilitas. Yakni, sebuah kondisi di mana pemrosesan transaksi di jaringan berjalan sangat lambat lantaran kapasitasnya sudah terlalu padat. 

    Masalah ini muncul gara-gara membludaknya pengguna di satu jaringan blockchain tidak kunjung diimbangi dengan kenaikan ukuran jaringannya. Implikasinya, proses transaksi di jaringan menjadi lelet dan biaya transaksi semakin mahal. 

    Memang, beberapa blockchain memilih untuk tidak terlalu peduli dengan isu tersebut. Namun, jika masalah skalabilitas itu dibiarkan berlarut-larut, maka pengguna dan komunitas kripto jadi malas menciptakan inovasi di jaringan tersebut.

    Nah, Zilliqa tak ingin masalah yang sama melanda jaringannya. Sebab, Zilliqa beranggapan bahwa optimalisasi skalabilitas transaksi bakal membuka potensi ekonomi yang lebih besar lagi.

    Tak tanggung-tanggung, dengan beramunisikan skalabilitas mumpuni, Zilliqa bahkan juga berangan-angan ingin menjadi pusat semesta kancah ekonomi terdesentralisasi dan kegiatan ekonomi kreatif.

    Mengenal Sharding: Keunikan Utama Jaringan Zilliqa

    Alasan Zilliqa Menggunakan Sharding

    Seperti yang telah disinggung di atas, Zilliqa adalah blockchain pertama yang menggunakan teknologi Sharding untuk menciptakan skalabilitas transaksi yang mantap. Tapi, apa alasan utama jaringan memanfaatkan mekanisme itu?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Sobat Cuan perlu kilas balik ke pangkal masalah utama jaringan blockchain, yakni trilema blockchain.

    Penjelasan trilema blockchain sudah dikupas dengan lengkap di artikel berikut. Namun, secara sederhananya, konsep trilema blockchain menekankan bahwa satu jaringan tidak dapat mencapai aspek desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas di saat yang bersamaan. Akibatnya, pengembang harus merelakan satu dari tiga hal tersebut saat mengembangkan sebuah jaringan.

    Sejauh ini, pengembang blockchain memang lebih memilih mengorbankan aspek skalabilitas agar memiliki aspek keamanan dan desentralisasi yang unggul. 

    Hanya saja, masalah skalabilitas bisa berubah menjadi “penyakit kronis” seiring meningkatnya jumlah pengguna jaringan. Hal itu juga bisa mempersulit jaringan untuk mencapai konsensus dalam memvalidasi transaksi.

    Nah, sebagai salah satu jaringan blockchain, Zilliqa pun menghadapi trilema serupa. 

    Di satu sisi, Zilliqa menggunakan algoritma konsensus Proof-of-Work demi mengoptimalisasi aspek keamanan dan desentralisasi di jaringan. Sehingga, Zilliqa harus pasrah memiliki aspek skalabilitas transaksi yang tak optimal dibanding kedua faktor tersebut.

    Hanya saja, Ziliqa tak mau terjebak di perkara skalabilitas transaksi. Alhasil, Zilliqa perlu memutar otak agar bisa lolos dari perkara tersebut. Nah, sebagai solusinya, Zilliqa pun akhirnya keluar dengan mekanisme pencatatan transaksi bernama Sharding.

    Sharding adalah proses di mana jaringan memecah-mecah data blockchain ke kepingan-kepingan informasi yang berukuran lebih mini (shards) untuk kemudian didistribusikan, divalidasi, dan disimpan oleh beberapa komputer berbeda (nodes).

    Setelah itu, masing-masing komputer akan kembali mengirimkan shard ke jaringan utama untuk kemudian digabungkan dengan shard dari nodes lainnya. 

    Nah, dengan mekanisme ini, maka beban komputasi jaringan diharapkan bisa berkurang dan jaringan bisa memproses transaksi berukuran besar dengan lebih mudah.

    Bagaimana Cara Kerja Sharding?

    Hanya saja, kapasitas Sharding yang dilakukan Zilliqa tentu bergantung kepada ukuran jaringannya saat ini.

    Secara teori, memang tidak ada batasan terkait jumlah transaksi yang mampu diproses Zilliqa per detiknya. Tetapi, secara praktiknya, kemampuan pemrosesan transaksi jaringan bakal terbatas jika hanya ada sedikit nodes yang berpartisipasi di dalamnya.

    Sobat Cuan bisa menyimak penjelasan berikut untuk memahami lebih detail kondisi di atas.

    Ketika menjalankan Sharding, Zilliqa akan membagi data transaksi ke dalam beberapa kelompok, atau umum disebut shard, yang beranggotakan 600 nodes untuk setiap kelompoknya. Nantinya, tiap-tiap kelompok akan memproses transaksi di jaringan Zilliqa dengan porsi yang adil antara satu dengan lainnya.

    Sebagai contoh, jika jaringan Zilliqa saat ini memiliki 2.400 nodes, maka akan terdapat empat shards di jaringan. Sehingga, setiap shard akan bertanggung jawab untuk memproses 25% dari transaksi di jaringan tersebut.

    Kemudian, anggap saja Zilliqa kemudian memiliki 3.000 nodes di jaringannya. Maka, jumlah shards yang terdapat di jaringan akan berkembang menjadi lima shards, sehingga masing-masing shard bertanggung jawab memproses 20% dari data transaksi di jaringan.

    Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa beban pemrosesan jaringan akan semakin ringan jika semakin banyak nodes yang berpartisipasi. Begitu pun sebaliknya.

    Bagan sederhana tentang proses Sharding. Sumber: Zilliqa

    Lebih lanjut, masing-masing shard akan memproses bagian transaksinya ke dalam sebuah blok transaksi mikro bernama microblocks. Nantinya, masing-masing microblock akan digabungkan dengan microblock yang berasal dari shard lainnya dalam sebuah proses yang disebut DS Epoch.

    Di dalam setiap proses DS Epoch, beberapa nodes nantinya akan dipilih secara acak untuk menjadi anggota sebuah badan yang disebut DS Committee, yakni lembaga yang mengatur tata kelola shards secara umum.

    Dengan kata lain, lembaga itu akan menentukan nodes apa saja yang akan tergabung ke dalam satu shard dan jenis transaksi apa saja yang bisa diproses oleh masing-masing shard.

    Setelah proses DS Epoch berakhir, maka DS Committee akan merangkai seluruh blok mikro dari setiap shard menjadi satu kesatuan utuh untuk kemudian dicatat kembali ke blockchain utama.

    Perbedaan Sharding Zilliqa dengan Ethereum 2.0

    Zilliqa memang jadi jaringan pertama yang menggunakan Sharding. Kendati begitu, Sharding sejatinya sudah lama hadir di kancah kripto meski memang mekanisme ini tak sepenuhnya dimanfaatkan jaringan blockchain.

    Oleh karenanya, tak heran jika terdapat jaringan selain Zilliqa yang berniat menggunakan mekanisme Sharding, salah satunya adalah Ethereum 2.0. 

    Namun, mekanisme Sharding kedua jaringan tersebut terbilang berbeda. Di satu sisi, Ethereum 2.0 menggunakan mekanisme State Sharding sementara Zilliqa menggunakan Network Sharding. Lantas, apa perbedaannya?

    State Sharding

    State Sharding adalah proses Sharding di mana seluruh data transaksi jaringan dipecah-pecah dan didistribusikan ke nodes dan shards yang terdapat di jaringan.

    Proses ini memungkinkan nodes berkomunikasi satu sama lain tanpa “menindih” hasil verifikasi di blok transaksi sebelumnya. Akibatnya, jaringan diharapkan bisa menggunakan daya penyimpanan (storage) yang lebih sedikit ketika memproses satu transaksi.

    Di satu sisi, tingkat skalabilitas State Sharding lebih tinggi dibanding Network Sharding. Namun, di sisi lain, State Sharding membutuhkan jumlah data mentah yang lebih banyak dibanding Network Sharding sebelum terpencar ke nodes yang terdapat di dalamnya.

    Sehingga, jika terdapat satu gangguan dalam proses transaksi, maka masalah tersebut bisa berisiko membengkak jadi kegagalan jaringan total.

    Network Sharding

    Sementara itu, Network Sharding adalah proses pemecahan data transaksi ke dalam beberapa shards tanpa perlu mengikutsertakan catatan data jaringan secara keseluruhan. 

    Nantinya, masing-masing nodes di dalam shards bisa memproses dan memvalidasi transaksi secara paralel. Meski demikian, setiap node tetap harus menyimpan satu salinan data blockchain secara utuh.

    Network Sharding memungkinkan setiap shards untuk mengalami pengurangan beban komputasi seiring perkembangan ukuran jaringan. Implikasinya, proses validasi transaksi bisa berjalan secepat kilat.

    Meski demikian, tentu akan ada kelemahan untuk setiap keungguklan. Dalam hal ini, kelemahan Network Sharding adalah daya penyimpanan setiap nodes yang mungkin terbatas.

    Sobat Cuan mungkin menyadari bahwa daya penyimpanan setiap komputer terbilang berbeda-beda.  Kapasitas komputer yang terlalu kecil tentu akan susah memproses ukuran transaksi yang lebih besar ketika ukuran pengguna jaringan semakin menggembung. Akibatnya, ada kemungkinan komputer berdaya jumbo akan muncul sebagai penguasa proses transaksi di jaringan. 

    Namun, hal tersebut tentu akan menyalahi semangat desentralisasi, sebuah prinsip yang sangat “didewakan” di industri blockchain. Nah, atas alasan itu, saat ini Zilliqa pun tengah mengkaji perpindahan dari Network Sharding menjadi State Sharding di masa depan.

    Mengenal 2 Faktor Pendukung Sharding Zilliqa

    Agar proses Sharding berjalan maksimal, Zilliqa pun memanfaatkan dua “pendukung” di jaringannya, yakni practical Byzantine Fault Tolerance (pBFT) dan Scilla. Berikut penjelasannya!

    Practical Byzantine Fault Tolerance (pBFT)

    Sejatinya, pBFT adalah mekanisme konsensus yang otomatis memvalidasi satu transaksi jika dua pertiga dari total 600 nodes di satu shards sudah sepakat untuk membentuk microblock. Jika microblock tersebut sudah tercatat di blok transaksi final, maka blok tersebut bakal menjadi rujukan atas informasi yang terdapat di blok transaksi sebelumnya.

    Namun pertanyaannya, mengapa Zilliqa memanfaatkan konsensus ini jika sebelumnya sudah memanfaatkan algoritma konsensus Proof of Work?

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Zilliqa menggunakan Proof of Work demi meningkatkan aspek keamanannya. Tetapi, sistem Proof of Work Zilliqa berbeda dengan sistem Proof of Work di jaringan Bitcoin. Sebab, di jaringan Zilliqa, sistem Proof of Work tak bisa digunakan untuk mencapai konsensus dan memvalidasi transaksi lantaran fungsinya hanyalah untuk mengidentifikasi nodes.

    Nah, oleh karenanya, Zilliqa kemudian menggunakan sistem Proof of Work hanya untuk mengenali komputer-komputer yang jadi validator transaksi di jaringan. Kemudian, komputer-komputer tersebut nantinya akan memfinalisasi pencatatan transaksi di jaringan menggunakan model konsensus pBFT.

    Dengan sistem ini, jaringan Zilliqa bisa terhindar dari Sybil Attack, yakni bentuk peretasan di mana satu oknum tak bertanggung jawab bisa menduplikasi satu identitas demi mempengaruhi proses pengambilan keputusan di jaringan. Kemudian, di saat bersamaan, jaringan pun bisa memproses transaksi dengan kilat.

    Scilla

    Scilla adalah bahasa pemrograman yang digunakan Zilliqa untuk menciptakan smart contract.

    Uniknya, bahasa pemrograman ini hanya digunakan di jaringan Zilliqa. Keunikan lainnya, Scilla juga mewajibkan komunitas untuk meninjau seluruh smart contract yang dihasilkan sebelum benar-benar dirilis ke publik.

    Hal ini dimaksudkan agar aspek keamanan smart contract Zilliqa sudah sesuai dengan standar yang berlaku. Imbasnya, smart contract Zilliqa nantinya punya aspek keamanan mumpuni agar bisa diadopsi secara luas dan aman.

    Nah, keunggulan ini menjadikan Scilla sebagai bahasa smart contract pertama di jagat kripto yang melibatkan keputusan komunal di dalamnya.

    Penjelasan singkat fitur Scilla. Sumber: Zilliqa

    Di samping itu, berikut adalah keunggulan dari bahasa pemrograman Scilla:

    1. Scilla memiliki alat analisis statis yang bisa memeriksa bugs di smart contract sebelum diluncurkan.
    2. Scilla memiliki pustaka sendiri mengenai standar operasinya. Sehingga, pengguna Scilla tak perlu bergantung terhadap pustaka pemrograman eksternal.
    3. Bahasa pemrograman ini membedakan komponen operasional dan komputasi, sehingga bisa menghindari peretasan organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) atau Parity.

    Kelemahan & Kritik Terhadap Zilliqa

    Berikut adalah keunggulan utama jaringan Zilliqa:

    1. Blockchain publik pertama yang memanfaatkan Sharding.
    2. Punya sisi skalabilitas yang unik dibanding “pembunuh Ethereum” lainnya.
    3. Didesain dengan baik plus punya pemrograman yang aman.

    Sementara itu, kekurangan jaringan Zilliqa adalah:

    1. Jumlah pengguna aktif dan Total Value Locked (TVL) yang masih kecil.
    2. Sejauh ini baru berhasil menggaet pendanaan berjumlah sedikit.
    3. Pengembang membutuhkan waktu untuk belajar bahasa pemrograman Zilliqa yang lumayan asing.
    4. Tidak cocok dengan Ethereum Virtual Machine (EVM). Sehingga, aplikasi yang tercipta dari jaringan ini tidak dapat dimanfaatkan di jaringan Ethereum.
    5. Kemampuan skalabilitasnya di masa depan diragukan mengingat banyak jaringan sudah “jaga jarak” dengan algoritma konsensus Proof of Work.

    Aspek Tokenomics Zilliqa

    Layaknya jaringan blockchain lainnya, Zilliqa memiliki aset kripto asli yang digunakan sebagai alat pembayaran di jaringannya bernama ZIL.

    ZIL memiliki total suplai sebanyak 21 miliar keping dan punya empat kegunaan utama, yakni:

    1. Sebagai insentif bagi penambang.
    2. Sebagai imbal hasil dari kegiatan staking, yang saat ini memiliki tingkat imbalan 6% per tahun.
    3. Sebagai alat pembayaran bagi biaya transaksi jaringan.
    4. Memiliki token bernama gZIL yang bisa digunakan sebagai “surat suara” dalam tata kelola jaringan. Dengan gZIL, pengguna bisa menyetujui beragam pembaruan yang bakal diimplementasi di jaringan Zillica. Sejauh ini, gZIL memiliki suplai tetap 722.000 keping dan hanya bisa didapat dengan proses staking.

    Menurut whitepaper-nya, Zilliqa berniat untuk menambang 80% dari total suplai ZIL dalam empat tahun dan akan menambang sisa 20% di enam tahun berikutnya. Dengan kata lain, maka seluruh ZIL diperkirakan akan selesai ditambang pada 2027 mendatang.

    Lebih lanjut, mirip seperti Bitcoin, nilai hadiah penambangan (block reward) Zilliqa juga akan menurun setiap 10 tahun sekali. 

    Namun, jaringan Zilliqa memastikan bahwa nilai block reward tidak akan jatuh drastis setelah penambangan beberapa blok rampung. Dengan demikian, maka tingkat hash rate jaringan akan tetap stabil seiring penurunan reward antar waktu.

    Mengenal Ekosistem Zilliqa

    Dengan berbekal teknologi Sharding yang terkesan inovatif, tentu Sobat Cuan penasaran mengenai penghuni dari jagat ekosistem Zilliqa, bukan?

    Anggota ekosistem Zilliqa. Sumber: Zilliqa

    Nah, berikut adalah beberapa contoh produk di ekosistem Zilliqa yang tentunya menarik untuk kamu selami lebih jauh lagi.

    1. Metaverse Metapolis

    Metapolis adalah sebuah platform metaverse yang mengambil konsep unik yakni metaverse as a service (MaaS). Dengan demikian, protokol ini memungkinkan penggunanya untuk membangun dunia virtual sesuai apa yang mereka inginkan.

    Metapolis, yang punya arti “kota Meta” dalam bahasa Yunani tersebut, didesain sebagai platform berbasis “perpanjangan realita” (Extended Reality/XR), alias perpaduan dari teknologi realitas berimbuh (Augmented Reality/AR) dan realitas maya (Virtual Reality/VR). 

    Uniknya, Zilliqa merupakan satu-satunya jaringan blockchain lapisan 1 yang memiliki platform MaaS yang terintegrasi dengan teknologi XR.

    Tidak seperti platform metaverse lain yang memaksa penggunanya untuk merogoh dalam kantongnya demi mengaksesnya, Metapolis malah memungkinkan penggunanya untuk menginjakkan kaki di metaverse dengan biaya yang cukup terjangkau. Meski demikian, fitur Metapolis tak kalah menarik dibanding kancah metaverse lainnya, lho!

    Di dalam Metapolis, pengguna bisa memanfaatkan bangunan yang bisa didesain mandiri untuk menciptakan pengalaman metaverse-nya sendiri, seperti membuat toko digital, menyewakan real estatnya, dan menyediakan pengalaman-pengalaman lainnya. 

    Tak hanya itu, Metapolis juga menyediakan sarana interaksi bagi penggunanya dalam bentuk NFT, lokapasar, play-to-earn, manekin digital, papan periklanan, dan lain-lain.

    Lebih lanjut, meski berbiaya murah, Metapolis ternyata juga mampu menyediakan kualitas visual yang mumpuni. 

    Asal tahu saja, Metapolis dibangun menggunakan tiga pilar teknolgi utama, yakni mesin penciptaan game tiga dimensi bernama Unreal Engine, teknologi pengembangan game antar platform Unity, dan prosesor unggul Nvidia Omniverse. Pemanfaatan ketiga teknologi ini memungkinkan Metapolis untuk menampilkan grafis yang terkesan nyata dan memungkinkan pengguna untuk berinteraksi melalui kegiatan sosial, permainan, dan lokapasar.

    Intinya, melalui Metapolis, mereka yang berkantong cekak bisa mengakses dunia virtual berkualitas tinggi tanpa hambatan berarti.

    Hal ini juga bisa membantu bisnis skala kecil untuk mengekspansi bisnisnya ke ranah digital melalui pemanfaatan Non-Fungible Token (NFT) dan menjangkau akses pasar yang lebih luas lagi. Pasalnya, bisnis skala kecil bisa memanfaatkan Metapolis sebagai “ajang uji coba” berbiaya murah sebelum mereka benar-benar nyemplung ke ranah digital.

    Masa depan Metapolis juga terlihat menjanjikan. Tim pengembang Metapolis mengatakan telah menghimpun pendapatan di muka sebesar US$2 juta dari beberapa klien seperti waralaba eSports asal Swedia Ninjas in Pyjamas dan tim eSports Indonesia RRQ.

    2. LunarCrush

    LunarCrush adalah platform analisis sosial di kancah aset kripto yang paling ngetop sejagat.

    Dalam operasinya, LunarCrush menghimpun sentimen umum yang tergambar di ratusan hingga ribuan unggahan media sosial untuk kemudian disimpulkan dalam format yang mudah dicerna. Saking unggulnya platform ini, sarana exchange kripto papan atas Coinbase bahkan ikut memanfaatkan jasa LunarCrush.

    LunarCrush memiliki token utilitas asli bernama LUNR.

    3. XCAD Network

    XCAD Network adalah sarana yang memfasilitasi content creator untuk memaksimalkan monetisasi kontennya melalui tokenisasi. Implikasinya, pemirsa setia konten milik content creator tersebut bisa mendapatkan reward dalam bentuk token dan ikut menentukan isi serta substansi konten milik sang creator berikutnya.

    Pemengaruh media sosial dengan jumlah pengikut jumbo seperti MrBeast dan KSI merupakan pengguna sekaligus investor dari XCAD Network.

    4. HG Exchange

    HG Exchange menggunakan Zilliqa untuk meningkatkan aspek keamanan penciptaan smart contract-nya, sekaligus mendapatkan skalabilitas transaksi yang mumpuni, ketika melakukan tokenisasi aset-aset berharga.

    5. Xfers

    Xfers bermitra dengan Zilliqa untuk menyediakan fasilitas transaksi pembayaran global stablecoin, seperti XSGD dan XIDR, yang cepat dan aman.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Stablecoins, Aset Kripto dengan Nilai Stabil Antar Waktu

    Apa Itu Stablecoins?

    Stablecoins adalah salah satu jenis aset kripto yang punya nilai tetap antar waktu.

    Dengan kata lain, karakteristik tersebut berbeda dengan aset kripto lainnya yang punya nilai berfluktuatif. Hal ini bisa terjadi lantaran nilai Stablecoins selalu ditautkan dengan nilai aset lain, seperti mata uang fiat, portofolio mata uang (basket of currencies), atau komoditas.

    Di samping itu, kehadiran Stablecoins juga dijaminkan oleh sebuah aset dasar (underlying asset) agar nilainya bisa stabil.

    Sebagai contoh, Stablecoin Tether (USDT) disokong oleh nilai Dolar AS dengan perbandingan 1:1. Artinya, nilai 1 USDT harus setara dengan US$1 apapun kondisi dan waktunya. Perbandingan itu juga mengindikasikan bahwa perusahaan penerbitnya, Tether, harus menjaminkan setiap 1 keping USDT di dalam sirkulasinya menggunakan dolar AS dengan nilai US$1.

    Saat ini, kancah kripto memiliki 200 jenis Stablecoins. Masing-masing koin tersebut bersifat fleksibel layaknya aset digital biasa namun punya tingkat kestabilan harga layaknya mata uang fiat.

    Tipe-tipe Stablecoins

    Terdapat empat jenis Stablecoins yang hilir mudik di jagat kripto yang dibagi berdasarkan jenis aset yang dijaminkan, yakni berdasarkan mata uang fiat (Fiat-collateralized Stablecoins), berdasarkan nilai komoditas (Commodity-collateralized Stablecoins), berdasarkan aset kripto lain (Crypto-collateralized Decentralized Stablecoins), dan berbasarkan algoritma.

    Lantas, bagaimana penjelasan masing-masing jenis Stablecoins tersebut?

    1. Fiat-Collateralized Stablecoins

    Jenis Stablecoins ini menggunakan cadangan mata uang fiat, atau aset setara kas, untuk mempertahankan nilainya. Hanya saja, Stablecoins tersebut memiliki sifat sentralisasi lantaran koin-koin ini diterbitkan dan dikelola oleh sebuah organisasi, seperti perusahaan, bank, dan bahkan pemerintah. 

    Biasanya, penerbit Stablecoins menjaminkan cadangan Dolar AS miliknya demi menjaga kestabilan nilai Stablecoins satu ini. Posisi cadangan mata uang fiat yang dimiliki lembaga penerbit Stablecoins wajib menjalani proses audit oleh kantor akuntan publik (KAP) independen agar tercipta sistem tata kelola yang baik dan melindungi pemiliknya dari risiko finansial.

    2. Commodity-Collateralized Stablecoins

    Nilai Stablecoins terkadang tidak harus ditautkan dengan mata uang fiat semata. Sebab faktanya, terdapat beberapa Stablecoins yang mendasarkan nilainya dengan komoditas, misalnya Tether Gold dan Pax Gold yang menggunakan emas dan indeks emas sebagai underlying asset-nya.

    Berbeda dengan Stablecoins berbasis mata uang fiat, Stablecoins tipe ini memungkinkan penggunanya untuk menukar keping-keping koin tersebut dengan emas atau komoditas lainnya.

    3. Crypto-Collateralized Stablecoins

    Stablecoins jenis ini menggunakan penjaminan aset berupa aset kripto lainnya agar nilainya tetap ajek.

    Namun, mengingat nilai aset kripto yang lebih bergejolak dibanding mata uang fiat, maka Stablecoins ini biasanya punya nilai cadangan yang lebih besar (overcollateralized) dibanding nilai Stablecoins sesungguhnya. Hal ini dimaksudkan agar nilai Stablecoins bisa tetap stabil di tengah kondisi pasar kripto yang bergejolak.

    Sebagai contoh, Stablecoin DAI milik MakerDAO mendasarkan nilainya pada Dolar AS dengan rasio penjaminan 150%. Dengan kata lain, 1 DAI yang berada di pasar disokong oleh ETH atau aset kripto lainnya dengan nilai 1,5 kali lipat lebih besar dibanding nilai satu keping DAI.

    Fakta menariknya, Stablecoins jenis ini masih terbilang anak bawang di kancah kripto. Selain itu, penerbitannya tidak didukung oleh satu lembaga tertentu, namun dikelola oleh konsensus antar pengguna yang berpartisipasi di jaringan Stablecoins tersebut.

    4. Algorithmic Stablecoins

    Terakhir, terdapat pula Stablecoins yang mempertahankan kestabilan nilainya menggunakan sistem manipulasi suplai berbasiskan algoritma. Bahasa sederhananya, jumlah suplai Stablecoins jenis ini bisa dimanipulasi secara otomatis menggunakan teknologi smart contract tergantung kondisi pasar saat itu.

    Konsep Stablecoins berbasis algoritma memang terbilang membingungkan secara kasat mata. Namun, Sobat Cuan bisa menyimak ilustrasi sederhana berikut demi memahami Stablecoins jenis ini.

    Anggap saja nilai sebuah Stablecoins berbasis algoritma tengah anjlok. Menyadari hal itu, teknologi smart contract milik Stablecoins tersebut akan mengurangi jumlah koin beredar untuk menciptakan kelangkaan pasokan. Dan sesuai hukum ekonomi, menipisnya pasokan tentu akan kembali mengerek harga koin tersebut.

    Mekanisme itu terbilang masih baru dan belum terbukti mampu menjaga nilai Stablecoins secara sinambung. Apalagi, nilai Stablecoins tersebut tidak disokong oleh cadangan aset tertentu, sehingga risikonya pun terbilang tinggi.

    Contoh kasus yang menggambarkan tingginya risiko Stablecoins berbasis algoritma terjadi pada Mei 2022, di mana nilai Stablecoins milik jaringan Terra, TerraUSD (UST), ambles lebih dari 60% gara-gara nilai aset kripto yang menjadi underlying asset-nya, Terra (LUNA), terjun bebas lebih dari 80%.

    Mengapa Stablecoins Penting?

    Karakteristik Stablecoins yang berbeda dibanding aset kripto lainnya memang terdengar menarik ya, Sobat Cuan. Namun pertanyaannya, kenapa sih komunitas kripto butuh koleksi koin satu ini?

    Jawabannya cukup simpel. Stablecoins ternyata menyimpan daya guna tinggi karena ia punya nilai yang ajek namun masih menyimpan fungsi-fungsi utama teknologi blockchain.

    Lantas, seperti apa kegunaan Stablecoins?

    Keuangan Terdesentralisasi (Decentralized Finance)

    Stablecoins adalah unsur krusial dalam kancah keuangan terdesentralisasi (decentralized finance/DeFi). Pasalnya, pengguna DeFi membutuhkan Stablecoins sebagai alat tukar yang tahan gejolak untuk bertransaksi satu sama lain, misalnya pinjam-meminjam dan penyediaan likuiditas.

    Kegiatan Pinjam-Meminjam Kripto

    Dalam kegiatan pinjam-meminjam aset kripto, kreditur bisa meminjamkan Stablecoins miliknya untuk mendulang pendapatan bunga layaknya kegiatan menabung di bank konvensional.

    Sebagai contoh, pengguna platform Aave bisa menabung Stablecoins seperti USDT, USDC, dan DAI dan bisa meraih pendapatan bunga antara 1% hingga 20% tergantung jenis koinnya. Nantinya, dana tabungan tersebut bisa disalurkan dalam bentuk pinjaman kepada debitur yang membutuhkan.

    Di sisi lain, debitur bisa menggunakan Stablecoins sebagai jaminan kredit terdesentralisasi ketika meminjam aset kripto tertentu, seperti ETH dan Stablecoins lainnya.

    Penyediaan Likuiditas

    Penyedia likuiditas bisa menyediakan Stablecons ke kolam likuiditas (liquidity pools) yang dimiliki platform exchange terdesentralisasi. Sebagai contoh, pengguna yang memasok ke kolam likuiditas di platform Uniswap bisa mendulang pendapatan dalam bentuk sebagian kecil biaya trading jika terdapat seseorang yang melakukan trading atas Stablecoin tersebut.

    Manfaat Stablecoins

    Karakteristik Stablecoins yang memili nilai ternyata memberikan manfaat bagi komunitas kripto seperti berikut.

    1. Tempat Bernaung bagi Investor dari Gejolak Aset Kripto

    Ciri khas nilai Stablecoins yang tetap membuat banyak pelaku pasar menjadikannya sebagai aset aman (safe haven) dan pelindung kekayaan kala kondisi pasar kripto mengalami gejolak.

    2. Mengurangi Biaya Trading

    Trader kripto kerap menggunakan Stablecoins ketika membeli atau menjual aset kripto lainnya. Pasalnya, beberapa platform exchange tidak membebankan biaya ketika mereka ingin mengonversi Stablecoins ke aset kripto lainnya, begitu pun sebaliknya.

    Di samping itu, trader juga bisa membeli Stablecoins untuk menyimpan “dananya” di ekosistem kripto dengan lebih mudah. Implikasinya, mereka pun bakal lebih gampang untuk melakukan limit order dan metode trading lainnya ketika harga aset kripto jungkat-jungkit.

    3. Transaksi Cepat dan Tanpa Batas

    Masyarakat bisa mengirim Stablecoins melalui teknologi blockchain dan tanpa melintasi bank atau lembaga perantara keuangan lainnya. Nah, hal tersebut tentu akan membuat biaya transaksi lintas batas menjadi lebih cepat dan efisien.

    4. Transparan

    Transaksi Stablecoins berjalan di atas blockchain publik. Artinya, semua orang yang terlibat di dalamnya bisa mengawasi dan melihat seluruh transaksi yang ada di dalamnya. 

    Keunggulan ini tidak terdapat di jasa keuangan konvensional, di mana data terkait arus keluar-masuk dana yang masuk ke lembaga tersebut tersimpan di catatan yang hanya bisa diakses beberapa pihak.

    5. Stablecoins Siap Diadopsi Bank Sentral Global

    Ternyata, beberapa bank sentral dunia tengah melirik mekanisme Stablecoins untuk menciptakan versi digital dari mata uangnya masing-masing, atau kerap disebut dengan Central Bank Digital Currencies (CBDC).

    Contohnya adalah China dan Inggris. Kedua negara tersebut tengah menjajaki penggunaan teknologi blockchain sebagai unsur penting dari kebijakan moneter menyusul tingginya adopsi teknologi dan internet dalam kegiatan transaksi sehari-hari.

    Risiko Stablecoins

    Hanya saja, sama seperti aset lainnya, Stablecoins juga memiliki risikonya tersendiri seperti tercantum di bawah ini.

    1. Tidak Bersifat Desentralisasi

    Meski sifat asli aset kripto adalah desentralisasi, Stablecoins ternyata tidak memiliki karakteristik seperti demikian. Pasalnya, underlying asset atas sebuah Stablecoins tentu perlu disimpan dan dijamin oleh sebuah lembaga tertentu.

    Hanya saja, hal ini menimbulkan masalah baru, yakni hanya satu lembaga saja yang berhak mengelola dan memiliki mayoritas Stablecoins. Aspek tersebut, tentu saja, menyalahi prinsip desentralisasi yang jadi semangat dasar aset kripto.

    2. Kurangnya Transparansi Soal Penjaminan Aset Stablecoins

    Karena sifat Stablecoins yang tersentralisasi, komunitas kripto jadi tak bisa mengawasi kondisi aktual penjaminan aset atas satu Stablecoin tertentu. Sebagai contoh, Tether sempat menghadapi tuntutan hukum lantaran nilai Stablecoin miliknya, USDT, dituduh tidak disokong oleh Dolar AS dengan rasio penjaminan 1:1.

    Selain itu, munculnya Stablecoins jenis baru seperti Stablecoins berbasis algoritma, plus kasus yang menimpa UST dan LUNC seperti yang telah dijelaskan di atas, juga membuat komunitas kripto mempertanyakan aspek penjaminan Stablecoins.

    3. Minim Regulasi

    Meski banyak bank sentral yang berencana mengadopsi mekanisme Stablecoins dalam CBDC, kehadiran aset kripto satu ini sejatinya tak lepas dari kritik regulator.

    Kebanyakan, mereka mempertanyakan aspek keamanan Stablecoins di tengah pesatnya adopsi koin ini di sistem keuangan secara umum. Musababnya, apalagi kalau bukan minimnya regulasi yang mengatur penggunaan dan tata kelola Stablecoins.

    Nah, karena masih dihujani kritik, Stablecoins dianggap masih jauh dari adopsi di dunia nyata.

    Mengenal Stablecoins Populer

    Kapitalisasi pasar Stablecoins per Agustus 2022, di mana USDT (garis biru muda) menjadi penguasa pasarnya. Sumber: CoinGecko

    Seperti yang dijelaskan di atas, terdapat lebih dari 200 Stablecoins yang wara-wiri di kancah kripto. Namun, beberapa di antaranya punya popularitas tinggi dan memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Berikut adalah beberapa contohnya!

    1. Tether (USDT)

    Rilis: November 2014

    Perusahaan Penerbit: Tether Limited, British Virgin Islands

    Blockchain: Omni, Ethereum, Tron, EOS, Liquid

    Situs Resmi: Tether

    Tether (USDT) adalah Stablecoins paling kondang. Nilai kapitalisasi pasarnya yang besar, plus usianya yang cukup tua, membuat komunitas kripto menganggapnya sebagai Stablecoins yang paling dipercaya di pasar kripto.

    USDT dioperasikan oleh Tether Limited, sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan induk platform exchange kripto Bitfinex bernama iFinex. Selain itu, Tether juga menjadi lembaga yang bertanggung jawab untuk menciptakan dan menjaminkan masing-masing token USDT dengan rasio penjaminan 1:1.

    Awalnya, Tether menyebut bahwa setiap USDT disokong oleh Dolar AS sebesar US$1. Namun belakangan, perseroan mengatakan telah menambah aset lain sebagai underlying asset, seperti terlihat di tabel berikut.

     

    Aset cadangan Tether per September 2022. Sumber: Tether

     

    2. Binance Stablecoin (BUSD)

    Rilis: September 2019

    Perusahaan Penerbit: Binance, Paxos

    Blockchain: BNB

    Situs Resmi: BUSD

    Binance USD adalah Stablecoins berbasis Dolar AS dengan rasio penjaminan 1:1. Koin ini diterbitkan oleh platform exchange kripto ngetop Binance yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi finansial Paxos.

    3. Circle/Coinbase Stablecoin (USDC)

    Rilis: Oktober 2018

    Perusahaan Penerbit: Coinbase, Circle

    Blockchain: Ethereum, Solana, Avalanche, TRON, Algorand, Stellar, Flow, and Hedera

    Situs Resmi: USDC

    USDC adalah Stablecoins besutan perusahaan platform exchange kripto pesaing sengit Binance, Coinbase, bekerja sama dengan perusahaan pembayaran Circle.

    Koin ini memang dikenal konsisten dalam menjaga kesetaraan nilainya dengan Dolar AS dengan rasio penjaminan 1:1. Bahkan, beberapa firma akuntansi global top sudah memverifikasi konsistensi rasio tersebut.

    4. Dai (DAI)

    Rilis: December 2017

    Perusahaan Penerbit: Maker Ecosystem Growth Holdings, Inc.

    Blockchain: Ethereum

    Situs Resmi: Maker DAO

    DAI adalah Stablecoins berkategori crypto-collateralized rilisan platform Maker.

    Meski Maker menjadi perusahaan penerbit koin ini, urusan tata kelola dan penerbitan DAI sebenarnya dilakukan oleh MakerDAO. Yakni, komunitas desentralisasi yang berisikan pemilik token MKR di jaringan Maker. Sehingga, proses tata kelola dan pengendalian suplai Stablecoins tersebut bersifat transparan dan anti-sensor.

    DAI mentautkan nilainya terhadap Dolar AS dengan rasio 1:1 dengan cara mengunci aset kripto di teknologi smart contract protokol Maker. Namun, mekanisme ini memiliki risiko tersendiri. Nilai tukar DAI terhadap Dolar AS bisa saja terjun bebas jika smart contract tersebut mengalami peretasan.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Kadena, Platform Proof-of-Work dengan Skalabilitas Jagoan

    Apa Itu Kadena?

    Kadena adalah jaringan blockchain lapis 1 dengan algoritma konsensus Proof-of-Work.

    Berbeda dengan jaringan Proof-of-Work lain yang selalu didera masalah skalabilitas dan pemborosan energi, jaringan Kadena justru memiliki tingkat skalabilitas, atau kapasitas pemrosesan transaksi, yang sangat tinggi meski dengan penggunaan energi yang sangat efisien.

    Kadena memperoleh keunggulan tersebut berkat arsitektur jaringan miliknya yang disebut Chainweb.

    Secara sederhana, Chainweb adalah inovasi Kadena dalam “memecah-mecah” sebuah blockchain ke dalam beberapa keping (shards) data untuk kemudian disimpan di beberapa komputer (node) yang berbeda-beda. Melalui metode ini, Kadena bisa mengurangi beban komputasi jaringan dan memproses transaksi bervolume besar.

    Dengan demikian, Kadena tetap menyimpan fungsi keamanan jaringan mumpuni yang didapat dari algoritma konsensus Proof-of-Work namun sekaligus mampu memiliki skalabilitas transaksi dan efisiensi energi di waktu yang sama. Keistimewaan tersebut sukses menarik minat perusahaan jasa keuangan, kesehatan, dan asuransi untuk memanfaatkan jaringan Kadena.

    Di samping itu, Kadena juga memiliki jaringan blockchain lapisan kedua bernama Kuro, yakni sebuah jaringan yang memungkinkan penggunanya untuk bertransaksi secara privat. Kedua jaringan tersebut dibangun di atas bahasa pemrograman asli Kadena bernama Pact.

    Bagaimana Cara Kerja Kadena?

    Untuk memahami cara kerja Kadena, Sobat Cuan juga perlu mengenal tiga komponen di dalam arsitektur jaringan Kadena yang terdiri dari Chainweb, Kuro, dan Pact. Yuk, kenalan lebih jauh dengan masing-masing komponen tersebut!

    1. Chainweb

    Chainweb adalah sebuah konstruksi teknologi blockchain yang menjadi keistimewaan jaringan Kadena. Melalui Chainweb, Kadena mampu melakukan dua kegiatan penting yang disebut sharding dan braiding di dalam jaringannya sehingga Kadena mampu memproses jaringan berskala tinggi namun dengan penggunaan energi yang terbatas.

    Lebih uniknya lagi, proses sharding dan braiding ternyata tidak ditemui di dalam arsitektur jaringan berbasis Proof-of-Work lainnya. Namun pertanyaannya, apa sih arti proses sharding dan braiding?

    Sharding merujuk pada proses “mencincang” satu blokchain menjadi beberapa jaringan berukuran lebih kecil. Masing-masing pecahan jaringan ini bisa beroperasi secara paralel meski saling terhubung satu sama lain. Nah, masing-masing pecahan jaringan tersebut kemudian disebut sebagai peer chain.

    Sementara itu, braiding adalah mekanisme yang memungkinkan Kadena untuk menyimpan referensi dari blok transaksi sebelumnya yang terdapat di satu peer chain ke dalam satu blok transaksi baru yang terdapat di peer chain berbeda.

    Supaya Sobat Cuan tidak bingung dalam memahami dua hal tersebut, mari simak ilustrasi berikut.

    Dalam jaringan Proof-of-Work pada umumnya, skala transaksi yang bisa diproses jaringan sangat tergantung dengan jumlah blockchain-nya. Sebagai contoh, jika satu blockchain Bitcoin mampu memproses lima transaksi per detik, maka dua blockchain Bitcoin bisa memproses 10 transaksi per detik. Begitu pun seterusnya.

    Namun melalui skema Chainweb, setiap tambahan blockchain wajib mengikutsertakan hash dari transaksi sebelumnya sekaligus hash dari transaksi sebelumnya yang berada di chain yang berbeda. Sehingga, tambahan chain baru menggunakan Chainweb akan memiliki kapasitas penyimpanan yang lebih besar dibanding blockchain lain pada umumnya.

    Sayangnya, mekanisme tersebut memunculkan masalah baru. Ternyata, kapasitas penyimpanan data Kadena tentu akan cepat habis jika masing-masing chain menyimpan hash yang berasal dari chain lainnya. Jika itu terjadi, maka kapasitas pemrosesan transaksi Kadena bakal bersifat terbatas.

    Situasi tersebut bisa diibaratkan seperti ilustrasi di bawah ini.

    Nah, demi menghindari masalah terbatasnya kapasitas penyimpanan, Kadena pun memangkas beberapa “hubungan” antara satu chain dengan beberapa chain lainnya.

    Memang, sebagai hasilnya, satu chain belum pasti akan berhubungan langsung dengan chain lainnya. Namun, masing-masing di antara mereka pasti ujungnya akan saling berhubungan lantaran semua chain tersebut tetap saling terkoneksi meski harus melalui chain perantara terlebih dulu, seperti yang tercermin di ilustrasi berikut.

    Hanya saja, skema ini juga tak lepas dari permasalahan baru. Meski skalabilitas transaksi di jaringan kini terbilang mantap, namun waktu tunggu pemrosesan transaksi sekarang menjadi lebih lama lantaran verifikasi transaksi harus dioper dari chain pertama hingga terakhir, seperti yang tercermin dari gambar di atas.

    Hal ini tidak akan menjadi masalah jika hanya ada lima chain di jaringan. Namun, perkara itu bisa berubah jadi sakit kronis jika terdapat 100 chain di jaringan tersebut. Alhasil, jika Kadena terus membiarkan kondisi seperti demikian, maka jaringan akan mengalami kemacetan dan membubungkan biaya transaksi.

    Nah, demi menghindari masalah tersebut, Kadena pun menambah tambahan chain sebagai “jalan pintas” bagi chain pertama untuk menyerahkan proses transaksinya ke chain-chain berikutnya. Harapannya, Kadena bisa memproses transaksi berjumlah jumbo dengan durasi yang lebih cepat.

    Kondisi tersebut tercermin jelas dari ilustrasi berikut yang menggambarkan arsitektur awal jaringan Kadena di awal peluncurannya berisikan 10 chain.

    Kemudian, pada 20 Agustus 2020, jaringan Kadena melakukan fork sehingga chain yang berpartisipasi di dalam Chainweb bertambah dari 10 menjadi 20 chain, seperti tergambar dalam bagan berikut.

    2. Kuro

    Selain mengembangkan jaringan utamanya, Kadena juga mengembangkan jaringan blockchain lapis dua yang disebut sebagai Kuro. Kadena diketahui mengembangkan Kuro sebelum meluncurkan platform smart contract publiknya.

    Melalui Kuro, penggunanya bisa melakukan 8.000 transaksi per detik yang diproses oleh 500 node, sehingga teknologi ini sangat cocok dimanfaatkan oleh badan usaha atau entitas bisnis berskala besar yang membutuhkan transaksi privat berskala jumbo.

    Adapun keunggulan yang dimiliki Kuro dibanding blockchain privat lainnya antara lain terdiri dari:

    1. Deteksi bug secara otomatis melalui sistem verifikasi resmi.
    2. Menggunakan kode pemrograman yang mudah diakses dan dimengerti oleh programmer dan pelaku bisnis.
    3. Memungkinkan penggunanya untuk meningkatkan kualitas smart contract secara fleksibel sesuai kebutuhan bisnisnya.
    4. Memungkinkan penggunannya untuk mengintegrasikan jaringan Kuro dengan database miliknya.

    Salah satu perusahaan yang menggunakan teknologi Kuro adalah perusahaan rintisan di bidang aplikasi jasa kesehatan bernama Rymedi, yang memanfaatkan Kuro untuk mengumpulkan data-data terkait produk kesehatan menggunakan teknologi blockchain.

    3. Pact

    Pact adalah bahasa smart contract yang khusus digunakan dan dikembangkan oleh jaringan Kadena. Dengan demikian, baik Chainweb maupun Kuro dibangun berdasarkan bahasa pemrograman tersebut.

    Pact didesain untuk memperbaiki kecacatan yang terdapat di bahasa pemrograman Ethereum, Solidity, khususnya masalah kerentanan terhadap serangan-serangan siber.

    Adapun keistimewaan Pact dibanding bahasa pemrograman blockchain lain adalah

    1. Mudah dibaca oleh mereka yang awam soal ilmu komputer.
    2. Mudah untuk dipahami dan digunakan.
    3. Mampu mendeteksi bug secara otomatis.
    4. Mengimplementasikan verifikasi penuh (Full Formal Verification) terhadap proses identifikasi pengguna, sehingga aspek keamanan jaringan terbilang prima.
    5. Menampilkan notifikasi jika terdapat error.
    6. Mendukung interoperabilitas dengan bahasa pemrograman lain.
    7. Membantu penggunanya untuk memiliki kontrol penuh atas akses-akses data personal.

    Keunggulan dan Kritik Atas Jaringan Kadena

    Sama seperti jaringan blockchain lainnya, Kadena pun memiliki kelebihan dan kelemahannya tersendiri seperti berikut!

    Keunggulan

    1. Kadena adalah blockchain Proof-of-Work pertama yang punya skalabilitas kuat, keunggulan yang jarang dimiliki oleh protokol sejenis.
    2. Didukung oleh tim berpengalaman. Kadena didirikan oleh mantan pemimpin proyek blockchain JP Morgan Stuart Popejoy dan mantan anggota pengawas aset kripto di otoritas pasar modal Amerika Serikat (AS) (The Securities and Exchange Commission) Will Martino. Di samping itu, Kadena juga berisikan sosok-sosok kunci yang sempat bekerja di perusahaan raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google.
    3. Pengguna bisa mendapatkan refund atas biaya transaksi dari kolam likuiditas yang dikelola oleh komunitasnya demi menarik minat pengguna baru.
    4. Memperoleh kucuran dana dari beberapa investor beken seperti Multicoin Capital, Susquehanna International Group (SIG), dan SV Angel.

    Kelemahan

    1. Sirkulasi koin asli Kadena, KDA, masih terbilang minim.
    2. Masih memiliki ekosistem yang kecil dibanding kompetitornya.
    3. Komunitas kripto masih membandingkan keunggulan Proof-of-Work milik Kadena dengan mekanisme Proof-of-Stake yang sama-sama mampu meningkatkan skalabilitas jaringan dan hemat energi. Akibatnya, komunitas kripto kini khawatir bahwa platform Proof-of-Work akan menemui senjakala dalam waktu dekat.
    4. Hanya mampu menggaet pendanaan minim jika dibandingkan pesaingnya.

    Aspek Tokenomics Kadena

    Jaringan Kadena memiliki satu token utilitas asli bernama KDA yang memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai rewards bagi penambang, alat pembayaran biaya transaksi dan daya komputasi di jaringan Kadena, dan sebagai surat suara bagi anggota komunitas Kadena untuk menentukan masa depan jaringan ke depan.

    Adapun alokasi distribusi KDA tergambar dalam bagan berikut.

    Secara keseluruhan, KDA memiliki total suplai sekitar 1 miliar keping yang dirilis KDA secara bertahap.

    Sesuai gambar di atas, mayoritas atau 70% dari total suplai KDA dialokasikan sebagai rewards bagi penambang. Rencananya, seluruh KDA dari aktivitas tersebut akan habis ditambang dalam kurun 120 tahun mendatang.

    Kemudian, alokasi KDA terbanyak kedua akan ditujukan bagi cadangan platform (platform reserve), yakni sebuah wadah himpunan dana yang dibangun Kadena.

    Sekadar informasi, Kadena membangun platform reserve untuk membayar hal-hal yang berkaitan dengan operasional proyek Kadena seperti asuransi, verifikasi smart contract, sumber dana bagi refund biaya transaksi, dan sumber pembiayaan utama bagi proyek-proyek baru Kadena ke depan.

    Lebih lanjut, sebanyak 6% dan 3% dari total pasokan KDA didistribusikan masing-masing kepada investor Kadena dan pihak-pihak yang membantu peluncuran proyek Kadena.

    Mengenal Ekosistem Kadena

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Kadena memang masih memiliki ekosistem yang mini. Kendati demikian, bukan berarti isi ekosistem Kadena terbilang membosankan. Ternyata, meski baru berusia seumur jagung, ekosistem Kadena memiliki beberapa proyek-proyek yang terbilang menarik seperti berikut.

    1. Gas Station

    Dalam kancah blockchain, Kadena merupakan salah satu blockchain pertama yang memperkenalkan konsep “pom bensin” (gas station) kripto. Gas Stations sendiri merupakan rekening yang digunakan untuk membayar refund atas biaya yang dikeluarkan penggunanya ketika mengeksekusi smart contract.

    Kadena mencetuskan ide ini agar penggunanya bisa menggunakan aplikasi terdesentralisasi di jaringan Kadena tanpa harus menukarkan aset kriptonya dengan KDA terlebih dulu. 

    2. Kadena DAO

    Jaringan Kadena juga memiliki organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) bernama Dao.init. Organisasi ini diharapkan akan mengambil peranan besar dalam mendukung aspek desentralisasi Kadena ke depan seiring perkembangan ekosistem jaringan.

    DAO tersebut memiliki dua tujuan utama. Pertama, organisasi ini memungkinkan komunitas Kadena untuk menyampaikan aspirasi terkait perkembangan ekosistem Kadena ke depan. Kedua, DAO tersebut bisa menjadi wadah terciptanya proses desentralisasi ketika Kadena berencana menambah fitur baru di masa depan.

    3. Kaddex

    Kaddex adalah platform exchange terdesentralisasi yang urusan tata kelolanya dilakukan oleh sebuah DAO tersendiri. Kaddex juga memiliki token tersendiri bernama KDX yang berfungsi baik sebagai token tata kelola dan utilitas di platform tersebut.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Moonbeam, Platform Pionir Penciptaan Aplikasi Lintas Jaringan

    Apa Itu Moonbeam?

    Moonbeam adalah platform smart contract yang memungkinkan aplikasi terdesentralisasi yang dibangun di atas jaringan Ethereum untuk beroperasi di atas jaringan Polkadot. Hal ini bisa terjadi lantaran Moonbeam merupakan salah satu “cabang” jaringan Polkadot yang disebut sebagai parachain.

    Keistimewaan ini menjadikan Moonbeam sebagai salah satu proyek pionir yang mengusung konsep interoperabilitas antar jaringan blockchain.

    Ringkasan Moonbeam. Sumber: Moonbeam

    Jaringan Moonbeam dikembangkan oleh lembaga nirlaba bernama Moonbeam Foundation. Namun, Moonbeam merupakan buah karya dari CEO PureStake bernama Derek Yoo. PureStake sendiri adalah perusahaan pengembangan teknologi yang sempat membangun perangkat pengembangan bagi jaringan Algorand.

    Dalam melebarkan sayap aktivitas Moonbeam, Yoo juga dibantu oleh COO PureStake Stefan Mehlhorn yang sebelumnya sempat malang melintang di perusahaan teknologi seperti Samsung Pay, Candibell Inc, dan LoopPay.

    Mereka mendirikan jaringan Moonbeam setelah proyek rintisan tersebut menjadi salah satu pemenang awal lelang parachain Polkadot pada Desember 2021.

    Mengapa Moonbeam Hadir?

    Namun kehadiran Moonbeam memunculkan satu pertanyaan: Apa sih pentingnya menjalankan aplikasi terdesentralisasi Ethereum di atas jaringan Polkadot?

    Ternyata, Moonbeam menciptakan platform ini agar pengembang aplikasi terdesentralisasi bisa mendapatkan keunggulan jaringan Ethereum dan Polkadot secara bersamaan.

    Terkadang, pengembang ingin mengaplikasikan fitur-fitur smart contract lengkap yang hanya terdapat di jaringan Ethereum ke aplikasinya. Sayangnya, mereka selalu didera masalah kemacetan proses transaksi atau tingginya biaya transaksi ketika membangun aplikasi di atas jaringan Ethereum. 

    Oleh karenanya, salah satu solusi yang bisa mereka lakukan adalah “memindahkan” pengembangan aplikasinya ke jaringan smart contract lain, salah satunya Polkadot.

    Namun, pertanyaan barunya, mengapa pengembang memilih jaringan Polkadot? Jawabannya, Polkadot memiliki satu fitur khas bernama multichain di dalam jaringannya.

    Sobat Cuan bisa memahami lebih jauh mengenai seluk beluk teknologi Polkadot dan manfaat multichain di artikel berikut. Tetapi intinya, arsitektur jaringan Polkadot yang “bercabang-cabang” memungkinkan satu proyek aplikasi terdesentralisasi di Polkadot untuk menggunakan dua jaringan berbeda di saat bersamaan, di mana masing-masing jaringan tersebut bisa berinteraksi satu sama lain.

    Nah, dalam konteks Moonbeam, platform ini memungkinkan pengembang aplikasi di jaringan Ethereum untuk mengoperasikan aplikasinya yang berbasis bahasa pemrograman khusus Ethereum, Solidity, di ekosistem Polkadot. Imbasnya, pengembang bisa menempatkan aplikasinya yang dibangun di Ethereum ke jaringan Polkadot tanpa harus mengubah atau menulis kembali kode-kode pemrogramannya. 

    Selain itu, pengembang juga tidak perlu memindahkan asetnya dari jaringan Ethereum ke jaringan Polkadot. Tak ketinggalan, proyek-proyek Moonbeam bisa bekerja dengan harmonis bersama pemrograman aplikasi antarmuka (API) web3 Ethereum dan Ethereum Virtual Machine (EVM).

    Sebenarnya, selain memanfaatkan teknologi multichain Polkadot, pengembang aplikasi terdesentralisasi bisa memanfaatkan jaringan jembatan (bridge chain) ketika ingin melakukan fungsi interoperabilitas antara satu jaringan dengan jaringan lain.

    Hanya saja, menggunakan bridge chain ternyata cukup ribet. Pengembang aplikasi harus memindahkan asetnya di jaringan sebelumnya ke jaringan jembatan untuk kemudian “diubah” (wrapped) ke aset yang berlaku di jaringan baru.

    Hal ini rupanya membuat bridge chain menjadi target menggiurkan bagi beberapa oknum yang ingin mencuri aset kripto benrilai jumbo. Salah satu kasusnya terjadi pada Maret 2022, ketika aset kripto senilai US$650 juta raib dari jaringan bridge chain Ronin Network dan membuat peristiwa itu dikenang sebagai peretasan kripto terbesar sepanjang sejarah.

    Mengenal Jaringan Anggota Ekosistem Moonbeam

    Saat ini, terdapat empat jaringan yang menjadi anggota ekosistem Moonbeam, yakni:

    1. Moonbeam.
    2. Moonriver. Ini adalah jaringan uji coba (canary) Moonbeam yang dibangun di atas jaringan canary Polkadot bernama Kusama. Platform yang memanfaatkan teknologi serupa dengan Moonbeam ini digunakan oleh pengembang untuk mencoba kode-kode pemrograman baru sebelum digunakan di jaringan Moonbeam.
    3. Moonrock. Ini adalah jaringan uji coba (testnet) bagi Moonriver dan Moonbeam yang juga bertindak sebagai parachain di jaringan uji coba Polkadot bernama Rococo.
    4. Moonbase Alpha. Ini adalah parachain uji coba milik PureStake yang memungkinkan pengembang untuk mengetes kecocokan fitur-fitur Ethereum di jaringan Moonbeam.

    Bagaimana Cara Kerja Moonbeam?

    Menjejak Kembali Konsep Parachain

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Moonbeam adalah salah satu jaringan parachain Polkadot. Sobat Cuan bisa memahami lebih lanjut mengenai konsep parachain di artikel berikut.

    Namun intinya, parachain sendiri merupakan jaringan blockchain lapisan pertama yang bisa beroperasi secara paralel dengan parachain lainnya sekaligus berkomunikasi dengan jaringan utama Polkadot. Tujuannya, agar proyek yang berada di parachain tersebut bisa mengimplementasikan fitur dan manfaat parachain lain sekaligus mendapatkan eksposur terhadap ukuran komunitas yang lebih besar.

    Setiap parachain memiliki fungsi, desain, token, dan tata kelolanya sendiri. Tetapi, ia tetap menikmati tingkat keamanan tinggi yang disediakan oleh jaringan utama Polkadot dan tak perlu membangun komunitas validator transaksinya sendiri.

    Pendiri Polkadot Gavin Wood mengibaratkan proses tersebut seperti kegiatan bekerja di kantor. Ia mengumpamakan parachain sebagai karyawan yang memiliki tanggung jawab tersendiri dan masing-masing “karyawan” tersebut akan melakukan rapat di jaringan utama Polkadot untuk mengoordinasikan pekerjaan mereka.

    Lebih lanjut, setiap proyek yang ingin menjadi anggota parachain Polkadot harus melalui proses lelang. Kemudian, anggota komunitas Polkadot akan menentukan apakah proyek tersebut berhak menghuni parachain Polkadot atau tidak.

    Jika mereka mendukung salah satu proyek untuk menjadi parachain, maka mereka akan “mengunci” token DOT miliknya di slot lelang yang dihuni sang calon proyek tersebut. Dalam kasus Moonbeam, sebanyak 200.000 anggota komunitas Polkadot telah “mengunci” lebih dari 35 juta keping DOT miliknya di slot lelang Moonbeam sebagai bentuk sokongan atas proyek tersebut.

    Bagaimana Cara Kerja Moonbeam?

    Dalam ekosistem Polkadot, finalisasi proses transaksi tetap dilakukan oleh validator yang berada di jaringan Polkadot. Namun, produksi blok transaksi di jaringan parachain tetap dilakukan oleh komputer-komputer (node) yang khusus berpartisipasi di dalamnya.

    Dalam hal ini, jaringan parachain akan mengirimkan blok transaksinya ke validator melalui pengepul (collators) catatan transaksi. Kemudian, validator akan menentukan apakah blok-blok transaksi yang berasal dari pengepul tersebut sudah valid dan bisa dicatat di jaringan utama Polkadot.

    Untuk lebih memahami mekanisme tersebut, Sobat Cuan bisa menyimak alur proses transaksi Moonbeam melalui ilustrasi berikut.

    Dalam konteks Moonbeam, protokol akan mengumpulkan catatan aktivitas transaksi di jaringan dan menyerahkannya ke collators yang ditentukan berdasarkan sistem konsensus Nimbus. Operator yang ingin bertindak sebagai collators juga wajib mengunci minimal 100.000 token asli Moonbeam, GLMR, di jaringan Moonbeam.

    Setelah itu, collators kemudian akan menyerahkan catatan-catatan tersebut ke validator untuk diverifikasi. Apabila validator sudah selesai memvalidasi transaksi, mereka akan menyerahkan kembali hasil kerjanya ke jaringan utama Polkadot. Jika hasil validasi transaksi itu tidak valid, maka jaringan utama Polkadot berhak menolak pengajuan pencatatan transaksi dari Moonbeam.

    Manfaat Platform Moonbeam bagi Pengembang

    Ringkasan Ekosistem Moonbeam beserta Manfaatnya. Sumber: Moonbeam

    Memang, Moonbeam bukanlah satu-satunya platform yang menawarkan interoperabilitas antara jaringan Ethereum dengan jaringan lainnya. Namun, Moonbeam menawarkan beberapa manfaat yang mungkin tidak bisa didapatkan pengembang aplikasi dari platform lainnya. Berikut adalah beberapa manfaat tersebut!

    1. Ekosistem yang Terus Berkembang

    Komunitas Moonbeam saat ini memiliki lebih dari 100 protokol dan integrasi jaringan. Namun, angka tersebut bakal terus menggembung seiring waktu. Moonbeam bisa memperbesar ukuran komunitasnya lantaran telah mengintegrasikan API, oracles, aplikasi terdesentralisasi, keuangan terdesentralisasi, hingga dompet web3 ke dalam jaringannya.

    Bahkan, pengembang di jaringan Ethereum juga bisa memanfaatkan jaringan Moonbeam sebagai gerbang untuk meningkatkan aspek interoperabilitasnya dengan parachain-parachain lain di jaringan Polkadot. Sehingga, pengembang Ethereum bisa memperluas cakupan pasarnya dan menggaet pengguna baru dengan lebih mudah.

    2. Memiliki Kompatibilitas dengan EVM

    Pengembang yang mengembangkan aplikasi berbasis bahasa pemrograman Solidity yang berjalan di atas Ethereum Virtual Machine (EVM) bisa memindahkannya ke Moonbeam tanpa perlu mengubah kode-kode pemrogramannya. Sebagai manfaatnya, pengembang bisa menikmati hal-hal berikut:

    1. Pengembang bisa menekan waktu dan ongkos untuk memindahkan smart contract-nya antar jaringan.
    2. Pengembang bisa mengakses berbagai perangkat, seperti Hardhat, Metamask, dan Waffle, untuk menciptakan aplikasi dengan sifat interoperabilitas tinggi.
    3. Pengguna aplikasi platform Moonbeam bisa mengakses dompet hingga bentuk integrasi lain yang terdapat di jaringan Polkadot.
    4. Dompet, alamat, hingga tanda tangan smart contract pengembang di jaringan Ethereum tetap akan valid di platform Moonbeam.

    3. Memiiliki Kompatibilitas dengan Substrate

    Substrate adalah kerangka kerja modular blockchain yang dimanfaatkan bagi pengembang untuk membangun blockchain yang sesuai dengan kebutuhannya menggunakan komponen daur ulang yang disebut Pallet. Kerangka kerja ini menggunakan bahasa pemrograman Rust dan paling banyak digunakan pengembang ketika membangun parachain di jaringan Polkadot.

    Karena Moonbeam juga dibangun berdasarkan kerangka kerja ini, maka aplikasi yang terintegrasi dengan jaringan Moonbeam bisa menerima manfaat dari jaringan Polkadot dan Ethereum secara bersamaan.

    Di samping itu, pengembang juga bisa menggunakan perangkat yang punya kompatibilitas dengan Substrate yang biasanya dimanfaatkan di Ethereum, seperti dompet, front-end development libraries, dan block explorers, di jaringan Moonbeam

    4. Integrasi dengan Jaringan Lainnya

    Beberapa jaringan jembatan telah terintegrasi dengan Moonbeam, seperti cBridge dan Multichain Swap Protocol, sehingga Moonbeam bisa memindahkan asetnya ke jaringan blockchain lain melalui jaringan jembatan tersebut dengan mudah.

    5. Bahasa Smart Contract yang Mudah Dipahami

    Meski Solidity adalah bahasa pemrograman utama di dalamnya, Moonbeam tetap mendukung bahasa pemrograman lain yang cocok dengan bytecode EVM.

    6. Keunggulan Sebagai Salah Satu Parachain Pertama Polkadot

    Sebagai salah satu parachain pertama yang menghuni Polkadot, Moonbeam bisa dibilang “mencuri start” dalam hal pengintegrasian aplikasi terdesentralisasi dan protokol yang terintegrasi dengan jaringan Polkadot. Makanya, tak heran jika proyek kripto terkenal seperti Chainlink hingga Sushiswap telah menjalin kerja sama dengan Moonbeam.

    7. Mengatasi Masalah yang ada di Ethereum

    Status Ethereum sebagai punggawa platform smart contract membuatnya ramai dijejali pengembang yang ingin menciptakan aplikasi terdesentralisasi di dalamnnya. Akibatnya, mereka pun harus mencari tempat “bernaung” lain yang punya fitur sama dengan Ethereum namun dengan lalu lintas jaringan yang lebih sepi.

    Nah, sebagai solusinya, mereka bisa “pindah rumah” ke platform Moonbeam. Sebab, selain menyediakan fitur-fitur yang kompatibel dengan jaringan Ethereum, mereka pun bisa menciptakan aplikasinya dengan cepat dan biaya yang lebih efisien.

    Bahkan, jika pengembang mau memanfaatkan Moonbeam, maka mereka juga bisa menikmati manfaat atas integrasi Moonbeam dengan protokol lainnya. Sebagai contoh, Moonbeam telah menjalin kerja sama dengan platform penghimpun data berbasis blockchain (oracle) The Graph, sehingga pengembang bisa menggunakan data milik The Graph ketika membangun aplikasinya.

    Siapa Pihak yang Diuntungkan Atas Platform Moonbeam?

    Kehadiran platform Moonbeam sejatinya menguntungkan empat kelompok pengguna yang terdiri dari:

    1. Pengembang proyek berbasis Ethereum. Pasalnya, mereka bisa menghindari masalah di jaringan Ethereum, seperti perkara skalabilitas dan biaya transaksi, ketika menciptakan aplikasi terdesentralisasi.
    2. Pengembang proyek berbasis Polkadot. Aplikasi Polkadot yang tak memiliki fungsi smart contract bisa meningkatkan kualitas aplikasinya melalui platform Moonbeam.
    3. Pengembang aplikasi yang ingin mengembangkan produk yang beroperasi secara lintas jaringan. Pengembang bisa menggunakan Moonbeam untuk menciptakan aplikasi terdesentralisasi yang mampu beroperasi di dua jaringan berbeda.
    4. Komunitas kripto. Mereka yang beraktivitas di banyak jaringan blockchain bisa memanfaatkan Moonbeam untuk menghubungkan aset-asetnya.

    Keunggulan dan Kritik Terhadap Moonbeam

    Sama seperti jaringan blockchain lainnya, platform Moonbeam punya keunggulan dan kelemahannya tersendiri. Berikut penjelasannya.

    Keunggulan Moonbeam

    1. Solusi terhadap permasalahan jaringan blockchain pada umumnya, yakni masalah interoperabilitas.
    2. Moonbeam tidak memiliki pesaing langsung. Kendati demikian, terdapat beberapa platform yang menawarkan jasa serupa namun tidak identik dengan Moonbeam.
    3. Didukung oleh lembaga Web3 yang disokong dengan jumlah dana hibah yang melimpah.
    4. Didukung oleh pendanaan kuat yang berasal dari pemain penting kancah kripto seperti Binance Labs, Coingecko Ventures, ParaFi Capital, KR1, dan HashKey.
    5. Merupakan parachain pertama yang berfungsi di Polkadot.
    6. Didukung kuat oleh komunitas Polkadot.

    Kritik

    1. Perkembangannya sangat tergantung dengan pertumbuhan ekosistem Polkadot. Akibatnya, Moonbeam bisa gagal berkembang jika hanya ada sedikit anggota komunitas kripto yang tertarik menggunakan Polkadot.
    2. Pengembang aplikasi berbasis Ethereum masih belum tertarik memanfaatkan platform Moonbeam lantaran mereka lebih doyan menggunakan jaringan lapis 2 Ethereum seperti Arbitrum dan Optimism.
    3. Suplai token yang tak terbatas.

    Aspek Tokenomics Moonbeam

    Platform Moonbeam memiliki token asli yang disebut dengan Glimmer (GLMR) yang digunakan sebagai pembayaran transaksi, pembayaran eksekusi smart contract, dan insentif bagi collators.

    Saat ini, Moonbeam sendiri tidak membatasi jumlah pasokan GLMR di pasar. Malahan, Moonbeam menargetkan tingkat pertumbuhan penerbitan token sebesar 5% per tahun dengan distribusi sebagai berikut:

    1. 1% didistribusikan bagi collators aktif.
    2. 1,5% dibagikan kepada wadah himpunan dana (Treasury) Moonbeam.
    3. 2,5% disebar kepada delegators, yakni pengguna yang melakukan staking atas GLMR dan menyediakan energi bagi collators.

    Selain itu, GLMR juga bisa digunakan oleh komunitas Moonbeam untuk menentukan arah pengembangan platform tersebut di masa depan.

    Secara lebih detail, dalam hal tata kelola jaringan, pengguna bisa menggunakan GLMR sebagai “surat suara” untuk menyetujui proposal pengembangan Moonbeam, menentukan prioritas pengembangan proyek Moonbeam ke depan, serta memilih anggota dewan pengawas Moonbeam. Seluruh pengembangan proyek di dalam protokol tersebut harus ditentukan melalui referendum.

    Jika referendum itu disetujui, maka Moonbeam akan memberikan jeda waktu antara tanggal persetujuan hingga tanggal eksekusi. Hal ini dimaksudkan agar anggota komunitas Moonbeam yang tak setuju dengan hasil referendum itu bisa meninggalkan jaringan sementara mereka yang mendukung bisa mengunci tokennya selama rentang waktu tersebut.

    Selain itu, ciri khas aspek Tokenomics GLMR adalah hadirnya “pembakaran” biaya transaksi. Saat ini, Moonbeam mengimplementasikan kebijakan untuk “membakar” 80% ongkos transaksinya dan mengirimkan sisanya ke wadah himpunan dana milik Moonbeam.



    Sumber : pluang.com

  • Apa Itu Leverage dan Bagaimana Cara Kerjanya?

    Sekilas Pandang tentang Leverage

    Leverage adalah sebuah instrumen yang didesain untuk meningkatkan eksposur para investor terhadap suatu aset, di mana investor dapat membeli saham dua kali lebih banyak tanpa perlu membayar penuh harga saham tersebut.

    Sejatinya, ketika seorang investor memakai leverage dalam trading, mereka akan memiliki daya beli aset yang lebih besar dari uang yang mereka miliki.

    Namun, apa alasan aktivitas leverage hadir di pasar?

    Sobat Cuan tentu sadar bahwa masing-masing investor punya modal awal berbeda-beda dalam berinvestasi. Ada pelaku pasar bermodal cekak, namun ada pula yang menggelontorkan modal awal secara jor-joran.

    Hanya saja, pelaku pasar bermodal kecil tentunya tak memiliki kesempatan cuan yang sama dengan mereka yang berkantong tebal. Keterpautan tersebut bahkan kian kentara ketika situasi pasar sedang cerah, di mana pelaku pasar bermodal cekak mendulang cuan lebih mini ketimbang mereka yang menggelontorkan modal awal jumbo.

    Nah, sebagai solusinya, mereka yang bermodal kecil tersebut bisa memanfaatkan aktivitas leverage untuk memaksimalkan cuan di tengah kondisi tersebut.

    Melalui leverage, pelaku pasar bisa memperluas keterpaparannya (exposure) di pasar modal dengan modal awal yang lebih sedikit. Dengan kata lain, leverage memungkinkan investor untuk memiliki posisi investasi dengan nilai lebih tinggi dari modal awalnya.

    Memahami Cara Kerja Leverage

    Meski terdengar menjanjikan, leverage bukanlah bagian dari skema investasi bodong. Pasalnya, perusahaan manajemen investasi top dunia juga menawarkan aktivitas tersebut ke pelanggannya lantaran cara kerjanya cukup jelas dan transparan.

    Ketika mengelola aktivitas leverage, perusahaan manajemen investasi tidak berupaya menggembungkan modal awal yang disetor investor, melainkan hanya memperluas cakupan exposure-nya. Oleh karenanya, aktivitas leverage yang benar harus “dibangun” di atas satu aset dasar (underlying asset) tertentu, misalnya saham, obligasi, mata uang, dan komoditas.

    Nantinya, perusahaan manajemen investasi akan meningkatkan kemampuan membeli investor atas underlying asset tersebut ke investor ketika menjalankan aksi leverage. Nah, aksi inilah yang menyebabkan exposure investor di pasar instrumen aset bisa lebih besar meski dengan modal yang lebih kecil.

    Contoh Konsep Leverage

    Agar lebih memahami konsep leverage, Sobat Cuan bisa menyimak ilustrasi berikut.

    Perusahaan manajemen investasi A menawarkan aktivitas leverage 2x berbasis saham berkode ABC kepada investor. Hal itu bisa diartikan bahwa perusahaan A optimistis bisa menambah exposure terhadap saham tersebut sebanyak dua kali lipat dibanding modal awal yang disetor investor.

    Di saat yang sama, harga saham ABC saat ini diperdagangkan di harga Rp1 juta per lembarnya. Sehingga, jika investor juga memiliki modal awal sebesar Rp1 juta, maka ia akan berkesempatan mengantongi dua lembar saham ABC bernilai Rp2 juta jika menempatkan uang di kegiatan leverage yang dimaksud.

    Sobat Cuan perlu menyadari bahwa dari saham bernilai Rp2 juta tersebut, Rp1 juta merupakan saham ABC yang dibayarkan investor sementara Rp1 juta sisanya disebut sebagai margin, yakni selisih antara jumlah modal “sebenarnya” dengan nilai posisi yang tercatat di portofolio.

    Adapun perhitungan untung dan buntung kegiatan leverage tersebut sangat tergantung dengan pergerakan nilai saham ABC. Dalam kasus ini, anggap saja nilai saham ABC naik menjadi Rp1,2 juta per lembar. 

    Jika sang investor membeli saham secara langsung, maka ia semestinya hanya mendulang cuan sebesar Rp200.000. Namun, mengingat sang investor memanfaatkan leverage perusahaan A, maka profit yang ia hasilkan akan menjadi Rp400.000 lantaran aktivitas tersebut punya daya ungkit exposure dua kali lebih besar dari modal aslinya.

    Mekanisme yang sama juga berlaku ketika nilai saham ABC turun. Misalnya, ketika nilai saham itu turun menjadi Rp800.000 per lembar, maka sang investor akan didera kerugian sebesar Rp400.000 alih-alih sebesar Rp200.000.

    Tabel Simulasi Leverage
    Tabel Simulasi Leverage

    Mengenal Konsep Daily Leverage Fee

    Ketika menjejakkan kaki di kegiatan leverage, investor nantinya akan dibebani dua jenis biaya, yakni modal awal disetor dan daily leverage fee (overnight fee), yakni biaya yang timbul ketika investor memutuskan menggunakan leverage dan “menginapkan” aset yang ia miliki selama lebih dari satu hari di perusahaan pialang.

    Daily leverage fee muncul lantaran aktivitas transaksi leverage tetap berjalan meski jam perdagangan underlying asset-nya sudah usai. Sehingga, investor leverage yang memasang posisi lebih dari sehari tidak bisa mengelak dari tambahan biaya satu ini. 

    Oleh karenanya, Sobat Cuan yang tertarik membenamkan dana di aktivitas leverage perlu memahami perhitungan overnight fee tersebut.

    Sebagai contoh, seorang investor membeli 10 lembar saham Alibaba (BABA) di aplikasi Pluang sebesar US$100 dengan harga penutupan US$100 di akhir perdagangan Senin. 

    Ketika investor masih menggenggam saham tersebut setelah penutupan bursa dan memutuskan menahannya selama dua malam ke depan, atau hari Rabu, maka ia otomatis akan dibebani overnight fee setiap malamnya. Saat ini, Pluang mematok tarif overnight fee 0,022% per malamnya.

    Kemudian, anggap saja harga saham Alibaba ditutup di US$120 di Selasa, maka sang investor bakal membayar overnight fee malam pertama sebesar US$0,22 alias 0,022% dari harga penutupan saham Alibaba di hari Senin dan malam kedua sebesar US$0,26 alias 0,022% dari harga penutupan saham Alibaba di hari Selasa. 

    Jika harga saham Alibaba ternyata turun menjadi US$110 per lembar di hari Rabu dan investor masih menahan posisi hingga hari Kamis, ia harus membayar overnight fee sebesar US$0,24 di malam ketiga.

    Hari

    Jumlah Saham

    Total Pembelian

    Overnight Fee %

    Overnight Fee

    Senin

    10

    $1,000

    0.022%

    $0.215

    Selasa

    10

    $1,200

    0.022%

    $0.258

    Rabu

    10

    $1,100

    0.022%

    $0.237

    Jumlah

    $0.710

    Aturan Leverage di Indonesia

     

    Pemerintah Indonesia sudah mengakui keabsahan transaksi leverage di dalam negeri.

    Dalam beleid tersebut, Indonesia mengakui kontrak berjangka sebagai suatu bentuk kontrak standar untuk membeli atau menjual Komoditi dengan penyelesaian kemudian sebagaimana ditetapkan di dalam kontrak yang diperdagangkan di Bursa Berjangka.

    Adapun Komoditi, menurut UU tersebut, adalah barang, jasa, hak dan kepentingan lainnya, dan setiap derivatif dari komoditi, yang dapat diperdagangkan dan menjadi subjek Kontrak Berjangka, Kontrak Derivatif Syariah, dan/atau Kontrak Derivatif lainnya.

    Nah, beberapa contoh produk kontrak berjangka keuangan yang diakui adalah saham, obligasi, suku bunga, dan valuta asing.

     

    Apakah Pluang Menyediakan Leverage?

    Pluang menyediakan aktivitas leverage berbasis produk saham Amerika Serikat (AS) dengan daya ungkit exposure mencapai dua kali lipat. Namun, Sobat Cuan baru bisa memanfaatkan kegiatan ini jika telah melakukan proses verifikasi dasar (KYC) dan punya saldo yang cukup untuk memasang posisi leverage.



    Sumber : pluang.com

  • Manfaat Investasi Leverage

    Manfaat Investasi dengan Skema Leverage

    1. Membuka Potensi Cuan Lebih Menawan

    Dengan melakukan leverage, kamu berpeluang mendulang laba dengan posisi lebih besar, dan tentunya sesuai dengan daya ungkit leverage tersebut.

    Namun, kamu baru bisa ketiban “durian runtuh” tersebut asal didukung dua faktor penting. Pertama, kondisi pasar yang tengah kondusif atau bullish. Kedua, instrumen yang menjadi aset dasar aktivitas leverage (underlying asset) benar-benar berkualitas dan memiliki fundamental baik.

    Pluang sendiri menggunakan saham perusahaan top Amerika Serikat (AS) seperti Amazon, Meta Platforms, dan Google sebagai underlying asset leverage di aplikasinya. Saham-saham tersebut selama ini dikenal sebagai raksasa teknologi dengan pertumbuhan nilai yang kuat dalam beberapa tahun terakhir.

    2. Komponen Biaya Lebih Efisien

    Seperti yang telah dijelaskan di artikel sebelumnya, investor hanya memerlukan modal awal dan membayar overnight fee ketika memanfaatkan kegiatan leverage. Komponen biaya tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan ketika investor memutuskan berinvestasi di suatu aset secara langsung.

    3. Bikin Investor ‘Pede’ Masuk ke Aset Berkualitas

    Setiap investor tentu punya keinginan mengoleksi aset-aset berkualitas dan terbaik di kelasnya. Dalam artian, aset tersebut memiliki prospek jangka panjang yang baik disertai dengan aspek fundamental yang apik.

    Hanya saja, terkadang harga aset tersebut punya nilai yang terbilang premium, yang ujungnya membuat investor ragu-ragu untuk memborong aset-aset tersebut.

    Namun, melalui aktivitas leverage, investor berkesempatan untuk “seolah-olah” mendapatkan kesempatan untuk mengoleksi aset berkualitas dengan jumlah yang lebih besar tanpa perlu merogoh modal awal bernilai jumbo. Keunggulan leverage ini bisa membuat investor lebih percaya diri untuk berinvestasi di aset-aset berkelas tinggi dan berharga selangit.

    4. Membuka Peluang Diversifikasi Aset Lebih Lebar

    Dengan memanfaatkan leverage, kamu jadi punya kesempatan lebih luas untuk melakukan diversifikasi aset. Lho, kok bisa? 

    Nah, agar lebih jelas memahaminya, mari simak ilustrasi berikut.

    Anggap saja kamu memiliki dana Rp10 juta. Kemudian, kamu ingin sekali menempatkan dana tersebut di saham perusahaan ABC yang dibanderol Rp5 juta per lembar.

    Namun, di waktu yang sama, kamu juga disuguhi penawaran broker K yang optimistis bisa melakukan leverage saham ABC dengan daya ungkit leverage 2x.

    Berkaca pada kondisi di atas, kamu bakal dihadapkan pada dua opsi. 

    Pertama, kamu bisa menghabiskan uangmu dengan membeli langsung dua saham ABC secara normal. Tapi konsekuensinya, kamu tak akan lagi memiliki dana sisa yang bisa kamu manfaatkan untuk berinvestasi di aset lainnya.

    Untungnya, kamu masih punya opsi kedua, yakni melakukan leverage saham ABC dengan modal Rp5 juta tetapi punya kekuatan exposure yang sama dengan dua lembar saham ABC. Nah, jika kamu mengambil opsi ini, maka kamu bakal punya sisa uang nganggur sebesar Rp5 juta yang bisa kamu gunakan untuk berinvestasi dan mendulang cuan di aset lainnya.

    Apalagi, kesempatan kamu untuk melakukan diversifikasi aset bakal lebih gampang di Pluang! Sebab, selain menyediakan leverage saham AS, Pluang juga menyediakan emas digital, aset kripto, dan reksa dana hanya dalam satu aplikasi dan mulai dari Rp10.000 saja!



    Sumber : pluang.com