Terdapat sebuah peribahasa umum yang berbunyi “tak kenal maka tak sayang” yang artinya kamu tidak mungkin bisa memahami sesuatu jika kamu tak mengenal seluk-beluknya. Nah, hal serupa juga terjadi di kegiatan leverage.
Pihak broker yang mengelola kegiatan leverage biasanya menggunakan istilah-istilah khusus ketika menawarkan jasanya ke investor. Jika sang investor tak memahaminya, maka ia bisa menjadi bingung untuk mengambil keputusan. Alih-alih mendapat untung, sang investor bisa berujung menjadi buntung!
Di samping itu, kamu juga bisa lebih mengerti mengenai konsep dan cara kerja kegiatan leverage jika memahami terma yang berlaku di dalamnya. Oleh karenanya, yuk perhatikan baik-baik istilah berikut!
Ragam Istilah Leverage
1. Margin
Margin adalah jumlah uang yang harus kamu keluarkan untuk membuka posisi dalam leverage. Sederhananya, margin adalah “modal awal” ketika kamu memutuskan terjun ke investasi ini.
Namun, nilai margin tentu berbeda-beda antara satu kegiatan leverage dengan aktivitas lainnya. Hal ini tergantung dengan volatilitas pasar, kondisi likuiditas pasar underlying asset, dan harga underlying asset yang berlaku saat kamu membuka posisi leverage.
Biasanya, broker menggunakan satu indikator bernama rasio margin terhadap ekuitas (margin-to-equity) untuk mengukur tingkat margin yang ia butuhkan ketika mengelola aset bernilai tertentu.
Sebagai contoh, satu perusahaan manajemen investasi ingin mengelola aset bernilai Rp100 juta dan membutuhkan margin sebesar Rp25 juta. Maka, rasio margin-to-equity dari kegiatan tersebut adalah Rp25 juta dibagi Rp100 juta, atau setara 25%.
Namun, jika kamu telah menyetor margin untuk membuka posisi leverage tetapi kegiatan itu belum diproses, maka hal itu kemudian disebut denganPending Margin.
2. Maintenance Margin, Free Margin, dan Buying Power
Maintenance Margin adalah persentase minimum dari jumlah margin disetor yang harus disimpan di dalam saldo margin investor.
Sebagai contoh, Pluang menetapkan Maintenance Margin di level 70%, mengindikasikan bahwa investor setidaknya harus “menjaga” 70% dari total margin yang telah disetornya di dalam akun miliknya.
Lantas, apa sih gunanya ketentuan Maintenance Margin?
Sang investor harus mengikuti ketentuan Maintenance Margin jika ia ingin terus membuka posisi di kegiatan leverage. Pasalnya, Maintenance Margin merupakan indikator bahwa sang investor benar-benar memiliki “bantalan” dana yang mumpuni jika risiko kerugian di kegiatan leverage sedang menanjak.
Dengan kata lain, kehadiran Maintenance Margin bertujuan melindungi investor dan perusahaan manajemen investasi dari kerugian berlebih, yang nantinya juga berkontribusi melindungi ekosistem jasa keuangan secara umum.
Adapun kebalikan dari Maintenance Margin adalah Free Margin, yakni sejumlah margin yang bebas digunakan investor untuk membuka posisi leverage baru. Tingkat Free Margin investor akan berkurang jika ia membuka posisi baru dan akan bertambah jika ia menutup posisinya atau memiliki laba/rugi yang belum terealisasi.
Cara menghitung Free Margin cukup mudah dengan rumus Ekuitas – (Margin + Pending Margin).
Kemudian, terdapat istilah lain bernama Buying Power yang menggambarkan seberapa besar potensi leverage yang bisa kamu raih dengan memanfaatkan sisa Free Margin yang kamu miliki. Cara mengukurnya pun simpel, kamu hanya perlu mengalikan Free Margin-mu dengan daya ungkit leverage maksimal yang ditawarkan sang broker.
Sebagai contoh, kamu memiliki sisa margin Rp5 juta sementara sang manajemen investasi pilihanmu menawarkan daya ungkit exposure atas modalmu maksimal sebesar 2x. Maka, Buying Power yang kamu miliki menjadi Rp10 juta.
3. Margin Level
Margin Level adalah indikator dalam bentuk persentase yang menggambarkan total jumlah uang yang telah kamu gunakan untuk leverage. Untuk mengetahuinya, kamu tinggal membandingkan ekuitas yang kamu miliki dengan margin yang telah kamu keluarkan dengan rumus sebagai berikut: (Ekuitas / (Margin + Pending Margin)) x 100%
Parameter ini bisa memberikan gambaran mengenai persentase jumlah “sisa” margin yang bisa kamu gunakan untuk membuka posisi leverage baru. Semakin tinggi tingkat Margin Level, maka artinya Free Margin yang bisa kamu gunakan masih cukup lapang jika ingin menambah posisi baru.
4. Laba/Rugi Belum Terealisasi, Balance, dan Equity
Ketiga istilah ini mencerminkan “kesehatan” kondisi modalmu pasca melakukan aksi leverage. Sehingga, kamu bisa menentukan keputusan apakah ingin konsisten berkecimpung di kegiatan leverage atau justru harus buru-buru keluar dari situ.
Sebagai langkah awal untuk mengetahuinya, kamu harus menghitung laba/rugi yang belum terealisasi dari kegiatan leverage. Caranya adalah dengan mengurangi harga underlying asset di saat kamu membuka posisi leverage dengan harga underlying asset tersebut pada saat ini. Secara sederhananya, kalkulasi laba/rugi belum terealisasi dapat digambarkan melalui rumus (harga beli x kuantitas produk) – (harga saat ini x kuantitas produk).
Jika hasil kalkulasi itu positif, maka artinya kamu berhasil mendulang laba belum terealisasi. Begitu pun sebaliknya. Kamu akan menerima rugi belum terealisasi jika selisih antara harga aset saat beli dan harga aset saat ini menunjukkan hasil negatif.
Tapi pertanyaannya, kenapa harus ada embel-embel “belum terealisasi” dalam kalkulasi tersebut?
Jawabannya cukup simpel, Sobat Cuan. Kamu masih belum akan beneran menerima hasil laba/rugimu jika posisi leverage-mu masih terbuka. Sehingga, laba/rugi tersebut akan berubah status menjadi “terealisasi”, alias benar-benar kamu terima, jika kamu memutuskan menutup posisi leverage-mu.
Setelah mendapatkan angka laba/rugi belum terealisasi, maka kemudian kamu bisa menghitung Balance, yakni total nilai portofoliomu saat ini.
Cara menghitungnya adalah dengan melihat total margin-mu saat ini dikurangi laba/rugi belum terealisasi dan beban-beban lainnya, termasuk beban overnight fee dan beban transaksi, atau dengan rumus sebagai berikut: (Free Margin + Margin – Laba/Rugi Belum Terealisasi – Beban-beban lain)
Lebih lanjut, kamu juga bisa mengalikan Balance dengan laba/rugi yang belum terealisasi untuk mengukur nilai Equity, yaitu nilai total portofoliomu sesungguhnya yang dihitung sejak kamu melakukan aksi leverage.
Seperti yang telah disinggung di artikel sebelumnya, cuan leverage akan mengalir deras ketika harga aset sedang menanjak. Sebaliknya, aksi leverage justru akan jadi momok ketika harga aset babak belur.
Nah, oleh karenanya, investor sebaiknya melakukan aksi leverage jika yakin bahwa harga sang underlying asset akan memasuki fase uptrend.
Namun pertanyaannya, apa ciri-ciri utama dari tahapan uptrend? Sekadar informasi, syarat utama fase uptrend adalah ketika harga sebuah aset membentuk pola Higher High Higher Low (HH HL), seperti tercermin di ilustrasi di bawah ini!
Contoh pola HH HL
Lebih lanjut, kegiatan leverage di aplikasi Pluang memiliki fitur posisi Buy atau Long yang membantu Sobat Cuan dalam memanfaatkan momentum uptrend demi mendulang cuan optimal. Kendati begitu, kamu tetap disarankan memahami analisis teknikal terlebih dulu agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan di aktivitas satu ini.
2. Perhatikan Kondisi Makroekonomi!
Sama seperti kegiatan investasi di aset lainnya, aspek makroekonomi juga menjadi faktor kunci bagi investor sebelum berkutat di kegiatan leverage.
Sebab, memahami kondisi makroekonomi akan membantu investor untuk memutuskan apakah harus masuk atau keluar dari aktivitas leverage. Di samping itu, mengetahui situasi ekonomi terkini juga bisa membantu investor menenukan saham sektor apa yang perlu di-leverage demi meraih profit yang oke.
Sebagai contoh, jika Sobat Cuan memperhatikan bahwa harga komoditas masih bertengger di puncak, maka tidak ada salahnya kamu mencari peruntungan dengan melakukan leverage atas saham-saham sektor tersebut.
Namun, ketika harga komoditas memuncak, justru Sobat Cuan harus menghindari saham-saham sektor konsumsi. Sebab, hal itu akan membuat biaya bahan baku produksi mereka semakin mahal dan ujungnya menekan profitabilitas sektor tersebut ke depan.
3. Menentukan Batas Stop Loss dan Take Profit
Sebelum melakukan aksi beli dan jual, investor sebaiknya menentukan titik harga tertentu di mana mereka pasti akan membeli suatu aset.
Begitu pun sebaliknya. Pelaku pasar juga harus menentukan titik harga tertentu di mana mereka pasti akan menjual asetnya, baik yang bertujuan untuk membatasi kerugian (stop loss) dan mengambil untung (take profit).
Contoh area Stop Loss dan Take Profit
Namun, investor harus menentukan dua titik tersebut sebelum melakukan aksi apapun di kegiatan leverage dengan berbasiskan analisis teknikal dan fundamental.
Hal ini dianggap penting lantaran aksi leverage menyimpan risiko volatilitas yang tinggi. Jika investor tidak buru-buru memasang titik kerugiannya, maka mereka bisa didera rugi besar ketika harga aset yang mereka koleksi terjun bebas.
Selain itu, memasang titik stop loss dan take profit di awal diharapkan bisa mencegah investor dari bersikap rakus dan gelap mata ketika harga aset tengah melonjak.
1. Potensi Penurunan Nilai Portofolio yang Lebih Besar
Dunia investasi memiliki pepatah terkenal berbunyi high risk, high return. Pepatah itu pun rupanya berlaku juga di dalam kegiatan leverage.
Memang, kamu berkesempatan mendulang cuan berkali lipat sesuai dengan daya ungkit exposure aset kegiatan leverage tersebut. Namun, konsekuensinya, kamu juga bisa buntung berkali-kali lipat jika situasi pasar sedang tak mendukung.
Sehingga, kamu benar-benar harus mempersiapkan mental dan kecukupan dana yang kuat sebelum benar-benar melakukan aktivitas leverage.
2. Munculnya Risiko ‘Margin Calls’
Berbeda kegiatan investasi tentu berbeda pula aturan mainnya. Nah, khusus di kegiatan leverage, kamu mungkin tidak dapat melanjutkan aksi leverage jika kamu terjebak dalam situasi yang bernama margin calls.
Secara sederhananya, margin calls adalah situasi ketika posisi ekuitasmu setara atau kurang dari 70% dari nilai selisih antara nilai “asli” aset yang kamu genggam dengan nilai aset pasca leverage (margin).
Biasanya, sang investor menghadapi kondisi margin calls jika harga aset yang kamu leverage terjun hingga nilai yang paling tidak setara dengan 70% dari total ekuitasmu. Jika itu terjadi, maka kamu tak bisa membuka posisi leverage baru meski kamu masih tetap bisa menjualnya.
Namun, kamu tak perlu khawatir jika terperangkap dalam margin calls. Sebab, yang perlu kamu lakukan adalah kembali menyetor modal kepada broker hingga rasio ekuitasmu terhadap margin (margin level) mencapai 100%.
Jika kamu enggan mengambil langkah tersebut, kamu juga bisa memilih untuk menjual posisi leverage-mu hingga margin level kembali naik ke 100%.
3. Risiko Likuidasi Paksa
Kondisi margin calls bisa semakin kronis jika kamu membiarkannya berlarut-larut. Pasalnya, kamu nantinya akan masuk ke dalam situasi baru yang bernama likuidasi paksa (forced liquidations).
Likuidasi paksa adalah kondisi di mana sang investor harus pasrah melihat posisi leverage-nya dijual secara otomatis lantaran gagal menjaga margin level-nya. Broker mesti melakukan hal tersebut demi mengembalikan margin level sang investor untuk lolos dari margin calls.
Pluang akan memberlakukan likuidasi paksa jika margin level investor turun di bawah 30% agar margin level investor bisa kembali ke angka 70%.
4. Risiko Jebakan Psikologis
Sobat Cuan harus waspada jika tak siap mental berkecimpung di kegiatan leverage. Sebab, kamu bisa terjerumus ke jebakan psikologis yang tentunya bisa membuatmu boncos parah.
Ketika melakukan leverage, kamu awalnya pasti senang karena merasa “memiliki” jumlah aset yang lebih besar dari modal yang kamu setor. Dengan kata lain, kamu merasa berhasil mendapatkan tambahan aset secara “gratis” dengan ekspektasi cuan sesuai daya ungkit aksi leverage-mu.
Namun, justru di situlah letak jebakannya. Karena kamu merasa bisa menambah aset secara “gratis” dengan mudah, maka kamu berpotensi akan terus menerus menggelontorkan dana ke aktivitas leverage.
Sayangnya, aksi tersebut akan menjadi bumerang jika kondisi pasar tiba-tiba berubah mendung. Kamu pun akan sukar mengelak dari kerugian yang teramat dalam.
Oleh karenanya, yang perlu kamu lakukan adalah tetap mengambil keputusan dengan kepala dingin. Kamu perlu menyadari sejak awal bahwa kegiatan leverage adalah aksi yang berisiko tinggi sehingga kamu tak boleh mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.
Bagaimana Cara Memitigasi Risiko Kegiatan Leverage?
Risiko seharusnya tidak menjadi batu sandungan bagimu untuk bergulat di kegiatan leverage. Sebab faktanya, semua instrumen investasi pun memiliki risikonya masing-masing. Sehingga, yang perlu kamu lakukan adalah bersikap cekatan dalam mengatasinya.
Di bawah ini adalah beberapa langkah mitigasi risiko leverage yang bisa kamu lakukan!
1. Tentukan Rencana Investasi!
Karena leverage adalah kegiatan berisiko, maka kamu tak boleh ongkang-ongkang kaki saja. Kamu harus menentukan strategi leverage seperti kapan saatnya kamu melakukan aksi beli, aksi jual, atau bahkan keluar dari pasar secara permanen.
Kamu juga harus rajin membaca riset dan menambah pengetahuan tentang leverage agar kamu punya alasan kuat ketika menentukan di titik harga aset berapa kamu akan membeli dan menjual posisimu.
Selain itu, kamu juga harus menentukan tujuan investasi dan rencana cadangan jika aksi leverage-mu tak sesuai harapan.
2. Kenali Profil Risiko Sendiri!
Mengenali profil risiko adalah hal paling mendasar yang mesti dilakukan seluruh investor. Sebagai contoh, jika kamu adalah individu yang tak tahan dengan perubahan nilai portofolio secara drastis, maka ada baiknya kamu menambah ilmu soal leverage atau menghindari aktivitas ini dengan total.
Di samping itu, kamu juga harus menentukan batas risiko aksi leverage yang sekiranya masih bisa kamu toleransi. Tak ketinggalan, kamu juga perlu memahami risiko yang muncul ketika kamu mengambil satu langkah saja di kegiatan leverage.
Kemudian, kamu juga bisa memulai dengan modal minimal yang ditetapkan broker jika kamu ingin sekadar coba peruntungan di aktivitas ini.
3. Tentukan Batas Kerugian yang Kamu Toleransi
Meraih cuan dari kegiatan leverage bakal bisa menjadi mimpi indah buatmu. Namun, ketiban rugi dari aktivitas ini malah bisa membuatmu tak tidur nyenyak di malam hari.
Nah, agar perkara tersebut tak mengusik hidupmu, maka kamu harus menentukan nilai kerugian spesifik yang maksimal bisa kamu iklaskan.
Misalnya, kamu rela rugi Rp5 juta dalam aktivitas leverage, tapi kerugian kamu saat ini sudah mencapai Rp4,9 juta. Sehingga, ada baiknya kamu segera menjual posisimu agar tak mendera kerugian lebih berat yang bisa bikin kamu mengalami mimpi buruk di malam hari.
4. Tetap Investasi Pakai ‘Uang Dingin’
Aksi leverage punya risiko yang besar, sehingga kamu tak boleh berinvestasi di dalamnya menggunakan biaya hidupmu sehari-hari atau dana darurat!
Potensi cuan dari aksi leverage memang menggiurkan. Tapi, hal tersebut jangan sampai bikin kamu gelap mata. Tetap berinvestasi sesuai kemampuanmu dan tentunya menggunakan uang yang memang sudah kamu alokasikan untuk berinvestasi.
5. Jangan Lupa Diversifikasi Aset!
Diversifikasi adalah kunci utama dalam memitigasi risiko tidak hanya di kegiatan leverage, namun di semua kegiatan investasi.
Dengan melancarkan diversifikasi aset, kamu setidaknya tidak akan merugi hebat ketika aksi leverage-mu gagal berbuah manis. Ini lantaran kamu menempatkan danamu di aset lain yang, mungkin saja, punya performa lebih cetar dibanding posisi leverage-mu.
Pluang sebelumnya sudah membeberkan konsep dan cara-cara jitu diversifikasi dengan lengkap di artikel berikut.
Optimism adalah jaringan blockchain lapis dua untuk Ethereum yang berbasis teknologi Optimistic Rollups untuk memanngkas jumlah dan waktu transaksi di jaringan Ethereum.
Jaringan Optimism hadir untuk mengatasi masalah skalabilitas yang selama ini menjerat jaringan Ethereum. Sebagaimana diketahui, Ethereum kini menjelma menjadi jaringansmart contract utama di kancah kripto. Namun, pamor Ethereum yang terus meningkat membuat kemampuan skalabilitas transaksi di jaringan tersebut semakin lama semakin mandek.
Alhasil, durasi proses transaksi jaringan Ethereum semakin lama dan biaya transaksinya pun semakin mahal. Nah, untuk mengatasi masalah tersebut, Optimism pun hadir dengan membantu pemrosesan transaksi di Ethereum melalui jaringan yang terpisah dari jaringan utama Ethereum.
Dalam membantu proses transaksi Ethereum, Optimism menggunakan sebuah teknik bernama Optimistic Rollups. Mekanisme ini memungkinkan jaringan Optimism untuk membebankan biaya transaksi yang jauh lebih efisien ketimbang di jaringan Ethereum.
Perbandingan biaya transaksi Optimism dengan jaringan lapis 2 Ethereum lain. Sumber: l2fees.info
Selain punya biaya transaksi murah, jaringan Optimism juga meringankan beban Ethereum dalam hal penyimpanan data transaksi. Implikasinya, kehadiran Optimism dapat mengurangi beban pemrosesan transaksi dan dapat mengurangi biaya transaksi Ethereum (gas fees) dalam jangka panjang.
Keunggulan tersebut sukses membuat Optimism menjadi jaringan solusi lapis dua Ethereum terpopuler kedua setelah Arbitrum. Tak heran jika kini Optimism memiliki token terkunci (Total Value Locked) sebesar US$1 miliar di dalamnya.
Mengenal Teknologi Optimistic Rollups
Seperti disinggung di atas, Optimism bergantung pada teknik pemrosesan transaksi bernama Optimistic Rollups. Namun, seperti apa detail dari mekanisme tersebut?
Secara sederhananya, Optimism akan menggabungkan beberapa transaksi di jaringan Ethereum menjadi satu kelompok transaksi. Satu paket transaksi itu kemudian akan dicatat di jaringan Optimism. Kemudian, bukti-bukti transaksi tersebut akan “dioper” kembali ke jaringan Ethereum.
Sistem tersebut tak hanya mampu mengurangi jumlah transaksi dan menurunkan biaya transaksi di jaringan Ethereum, namun juga menciptakan biaya transaksi yang jauh lebih efisien di jaringan Optimism. Sebab, lantaran Optimism menggabungkan beberapa transaksi menjadi satu grup, maka satu biaya transaksi bisa dibagi-bagi terhadap seluruh transaksi yang terdapat di kelompok tersebut.
Ilustrasi sederhana tentang Optimistic Rollups. Sumber: Ethereum Foundation’s Kyle Charbonnet
Lebih lanjut, mekanisme tersebut dijuluki Optimistic Rollups karena seluruh pemrosesan kelompok-kelompok transaksi di jaringan Optimism “secara optimistis” diasumsikan valid sampai mereka dinyatakan tidak sah. Asumsi ini dapat menghemat waktu transaksi mengingat masing-masing transaksi individu tak perlu mengirimkan validitas transaksinya lantaran hal itu bisa dilakukan secara kelompok.
Namun pertanyaannya, bagaimana cara mengetahui keabsahan transaksi jika seluruh pemrosesan transaksi di Optimism diasumsikan valid?
Nah, untuk menjawab hal ini, validators di jaringan Optimism akan menghabiskan waktu sepekan untuk memeriksa satu paket transaksi jika mereka merasa ada data transaksi yang mencurigakan. Selama rentang waktu tersebut, setiap validator bisa “menggugat” keabsahan satu transaksi dengan menyampaikan bukti kecurangan (fraud proof) yang biasanya mengacu dari data-data yang sudah ada di jaringan Optimism.
Di samping itu, fakta menariknya, jaringan Optimism hanya bertugas untuk mengeksekusi transaksi. Sementara itu, urusan validasi dan aspek keamanan transaksi tetap dilakukan oleh jaringan Ethereum. Oleh karenanya, kehadiran jaringan Optimism tidak merusak semangat keamanan transaksi via desentralisasi yang dimiliki jaringan Ethereum.
Perbedaan Optimism dengan Jaringan Lapis 2 Ethereum Lainnya
Selain jaringan Optimism, terdapat pula beberapa jaringan lapis dua lainnya yang membantu mengatasi isu skalabilitas di jaringan Ethereum. Namun, apa perbedaan jaringan-jaringan tersebut dengan Optimism?
1. Optimism vs Arbitrum
Kesamaan antara Optimism dan Arbitrum
Validators diberikan insentif melalui staking aset kripto ETH untuk bersikap jujur.
Memiliki mekanisme pemrosesan transaksi yang mirip. Bahkan, terdapat kabar mengatakan bahwa Arbitrum mengubah source code milik Optimism ketika mengembangkan jaringannya.
Keduanya memilikinode penuh (full nodes), mengumpulkan transaksi di jaringan Ethereum, dan memiliki validator yang mengawasi aktivitas jaringan.
Kedua jaringan memperbolehkan aplikasi terdesentralisasi untuk memilih validatornya sendiri. Akibatnya, validasi transaksi bisa dilakukan secara mandiri tanpa harus disetujui oleh seluruh node yang ada di jaringan. Hal ini bisa mengurangi komunikasi antar node dan ujungnya meningkatkan frekuensi pemrosesan transaksi.
Perbedaan Optimism dan Arbitrum
Kedua jaringan memiliki resolusi sengketa yang berbeda. Arbitrum menyelesaikan sengketa di luar jaringan melalui beberapa tahapan dan akan mengirimkan hasil akhirnya sebagai sebuah transaksi. Sementara itu, Optimism menyelesaikan hal tersebut menggunakan fraud proof dan diselesaikan di dalam jaringan.
Optimism memiliki biaya transaksi yang lebih tinggi dibanding Arbitrum karena mekanisme penyelesaian sengketa transaksi yang berbeda.
Optimism menyediakan verifikasi instan sementara Arbitrum menggunakan sistem validasi yang berlapis-lapis.
Arbitrum menggunakan Arbitrum Virtual Machine sementara Optimism “hanya” punya kompatibilitas dengan Ethereum Virtual Machine.
2. Optimistic Rollups vs ZK-Rollups
Jaringan lapis dua Ethereum memiliki dua mekanisme untuk menggabungkan transaksi ke dalam satu kelompok, yakni Optimistic Rollups dan ZK-Rollups. Meski keduanya berfungsi memindahkan proses transaksi ke luar jaringan utama, metode yang digunakan keduanya untuk verifikasi transaksi sangat berbeda.
Di satu sisi, Optimistic Rollups menganggap bahwa seluruh transaksi adalah valid sehingga jaringan tak perlu melakukan proses kalkulasi yang berat. Selain itu, mekanisme ini juga mampu memindahkan kelompok transaksi ke jaringan utama tanpa memverifikasi validitas transaksinya.
Di sisi lain, ZK-Rollups mewajibkan setiap paket transaksi untuk melalui tes validitas setelah dipindahkan dari jaringan utama ke jaringan lapis dua. Karena validasi transaksi dilakukan di jaringan lapis dua, maka jaringan utama dapat mengurangi beban proses validasi transaksi dan ujungnya dapat menekan biaya transaksi.
Masing-masing sistem tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut ringkasannya!
Optimistic Rollup lebih dipilih untuk mengeksekusi smart contract sementara ZK-Rollup digunakan untuk transaksi yang lebih simpel.
Optimistic Rollup punya waktu penyelesaian sengketa selama sepekan sementara ZK-Rollups mampu menyelesaikan masalah tersebut dalam satu menit.
Teknologi Optimistic Rollups tidak serumit ZK-Rollups.
Biaya transaksi di Optimistic Rollups lebih mahal dibanding jaringan lapis 2 yang memanfaatkan ZK-Rollups.
3. Optimism vs Polygon
Jaringan Polygon sebenarnya bukan jaringan solusi lapis dua seperti Optimism. Polygon adalah sidechain jaringan Ethereum yang berjalan secara paralel dengan jaringan Ethereum. Sehingga, berbeda dengan Optimism, jaringan Polygon tidak menggantungkan aspek keamanannya ke jaringan Ethereum.
Polygon menggunakan mesin virtual yang sama seperti di jaringan Ethereum. Akibatnya, pengguna bisa lebih mudah untuk melakukan alih daya (outsource) smart contract di jaringan Polygon.
Hal ini sejatinya bisa memberikan kemudahan bagi para pengembang aplikasi terdesentralisasi. Hanya saja, beberapa pengguna Polygon mengeluhkan lamanya periode transfer. Selain itu, keandalan keamanan blockchain Polygon pun disebut-sebut dikuasai oleh segelintir pihak tertentu.
Kelebihan dan Kritik Terhadap Jaringan Optimism
Sama seperti jaringan lainnya, jaringan Optimism punya keunggulan dan kelemahan yang sering menjadi sasaran kritik komunitas kripto.
Keunggulan
Memiliki biaya transaksi rendah.
Salah satu punggawa jaringan solusi lapis dua Ethereum.
Jaringan memiliki perkembangan pesat dibanding pesaingnya.
Didukung oleh aplikasi terdesentralisasi Ethereum terbesar. Ekosistem Optimism memiliki 100 aplikasi terdesentralisasi di dalamnya.
Bisa meringankan beban transaksi Ethereum.
Didukung oleh investor kondang seperti Andreessen Horowitz, Paradigm, dan IDEO CoLab Ventures.
Jaringan sengaja didesain sesimpel mungkin sehingga tim pengembang Optimism bisa fokus dalam menciptakan fitur baru. Di samping itu, setiap baris-baris kode juga ditulis secara sederhana untuk meminimalisasi kehadiran bugs yang tak diinginkan.
Kritik Terhadap Optimism
Punya sifat sentralisasi lebih kuat dibanding Ethereum. Hal ini mengingat Optimism punya wewenang untuk menangguhkan aktivitas jaringan atau memprioritaskan beberapa validator.
Tim Optimism juga masih memiliki kuasa atas teknologi yang bertanggung jawab menciptakan blok transaksi di jaringan. Namun, hal ini dapat dimaklumi karena proyek Optimism terbilang seumur jagung.
Aspek Tokenomics Optimism
Jaringan Optimism memiliki token asli bernama OP yang umumnya digunakan sebagai tata kelola. Dengan kata lain, anggota komunitas Optimism bisa menggunakan token OP untuk berpartisipasi di The Optimism Collective, yakni sistem tata kelola dua tingkat yang terdiri dari Token House dan Citizens’ House. Apa bedanya?
Token House adalah lembaga tata kelola yang mengatur keputusan teknis seperti pembaruan piranti lunak. Sementara itu, The Citizen’s House adalah lembaga yang menentukan keputusan pendanaan bagi barang publik di jaringan Optimism.
Token OP pertama kali didistribusikan secara publik melalui skema airdrop pada 31 Mei 2022. Peristiwa ini juga menandai airdrop terbesar dalam sejarah kancah kripto.
Di samping itu, dari 4,29 miliar token OP yang sudah didistribusikan, suplai token OP rencananya akan meningkat dengan laju 2% per tahunnya.
Berikut adalah platform terdesentralisasi yang mendukung jaringan Optimism. Seluruh platform tersebut terbagi ke dalam tiga kategori yakni platform exchange terdesentralisasi, jaringan jembatan, dan protokol pinjam meminjam.
Ekosistem di dalam Optimism. Sumber: Coinmarketcap
1. Platform Exchange Terdesentralisasi (DEX)
Uniswap
Uniswap adalah platform DEX dengan nilai Total Value Locked terbesar di Optimism. Uniswap juga dikenal sebagai salah satu platform DEX yang menyediakan trading dengan model Automated Market Maker (AMM). Selain hadir di Optimism, Uniswap juga tersedia di Arbitrum, Polygon, dan Ethereum.
Curve Finance
Curve adalah DEX yang berfokus dalam penukaran stablecoins dan merupakan platform DEX terbesar yang mendukung jaringan Optimism.
ZipSwap
ZipSwap (ZIP) adalah platform DEX yang menjanjikan biaya transaksi rendah untuk kegiatan penukaran token.
Perpetual Protocol
Perpetual Protocol (PERP) adalah protokol DEX yang fokus pada trading perpetuals dan kontrak berjangka. Alih-alih trading melalui skema order book seperti di lembaga investasi konvensional, pelaku pasar bisa melakukan trading secara on-chain.
2. Jaringan Jembatan Optimism
Synapse
Synapse (SYN) adalah jaringan jembatan yang menghubungkan Optimism ke jaringan blockchain lapis satu seperti Ethereum. Aspek keamanan Synapse didukung oleh validator yang berasal dari berbagai golongan dan ditenagai oleh token asli bernama SYN.
Hop Exchange
Hop Exchange (HOP) menghubungkan jaringan lapis dua seperti Optimism dan Arbitrum dengan Ethereum. Melalui jaringan ini, pengguna bisa melakukan transfer token antar jaringan secara instan tanpa perlu menunggu berhari-hari.
3. Protokol Pinjam Meminjam
Aave
Aave (AAVE) adalah protokol pasar uang dan pinjam-meminjam yang memungkinkan penggunanya untuk meminjam atau “menabung” beragam aset kripto. Saat ini, Aave dikenal sebagai salah satu platform keuangan terdesentralisasi paling populer sejagat.
Stargate Finance
Stargate Finance (STG) merupakan protokol likuiditas yang memungkinkan penggunanya untuk transfer aset antar blockchain dan mengakses kolam likuiditas dengan proses yang mudah.
dForce
dForce (DF) dikenal sebagai platform keuangan desentralisasi “satu pintu” lantaran menyediakan jasa pinjam-meminjam, trading, staking, dan jasa lainnya. Saat ini, dForce memiliki integrasi antar protokol dan mampu menjembatani aktivitas antar jaringan untuk memperluas adopsinya.
Velodrome
Velodrome Finance (VELO) adalah protokol penyedia likuiditas di jaringan Optimism. Jaringan ini bertujuan untuk memiliki likuiditasnya secara mandiri dan memastikan interoperabilitas yang baik antara protokol keuangan desentralisasi di ekosistem Optimism.
QiDao
QiDao (QI) adalah protokol pinjam-meminjam kripto yang membebankan bunga nol persen untuk kredit stablecoins.
Aplikasi Pluang kini menghadirkan kegiatan leverage bagi penggunanya. Melalui fitur baru ini, Sobat Cuan bisa meningkatkan kemampuan “daya beli” atas saham AS yang harganya diramal bakal terus menanjak. Sehingga, kamu berkesempatan mendulang profit yang lebih baik.
Aktivitas leverage di aplikasi Pluang memiliki daya ungkit exposure aset mencapai dua kali lipat. Artinya, Pluang akan meningkatkan kemampuan daya beli kamu untuk membeli saham sebesar dua kali lipat dari modal awal yang disetor.
Sebagai contoh, anggap saja Tuan A memiliki dana US$100. Dana tersebut ternyata setara dengan satu lembar saham perusahaan ABC, sehingga Tuan A bisa saja menggunakan modal itu untuk membeli satu lembar saham perusahaan yang dimaksud.
Namun, jika Tuan A menggunakan dana US$100 tersebut untuk aktivitas leverage di Pluang, maka Pluang akan membantu meningkatkan daya beli asetnya sebanyak dua kali lipat.
Akibatnya, hanya dengan modal awal US$100, Tuan A berkesempatan untuk mengantongi dua lembar saham perusahaan ABC senilai US$200. Sebagai catatan, modal awal sebesar US$100 disebut sebagai margin dan US$100 sisanya “dipinjam” Tuan A sebagai leverage.
Kemudian, anggap saja harga saham tersebut naik menjadi US$110 per lembar. Maka, keuntungan belum terealisasi Tuan A menjadi US$20, bukan lagi US$10. Namun, Tuan A juga bisa mendera kerugian US$20 jika harga saham tersebut turun menjadi US$90.
Nah, di aplikasi Pluang, kamu bisa memanfaatkan fitur leverage terhadap produk saham AS.
Terdapat 600+ pilihan saham AS dan ETF yang bisa digunakan untuk trading dengan leverage di Pluang.
Syarat Memanfaatkan Aktivitas Leverage di Pluang
Pengguna Pluang harus memenuhi dua syarat berikut sebelum bisa memanfaatkan aktivitas leverage di Pluang.
Pertama, Sobat Cuan baru bisa memanfaatkan fitur leverage jika sudah menyelesaikan proses verifikasi dasar (Know Your Customer/KYC) untuk berinvestasi saham AS.
Kedua, pastikan kamu memiliki saldo yang cukup untuk berinvestasi Leverage. Jika kamu memiliki saldo yang tidak cukup untuk berinvestasi, maka kamu bisa melakukan top up terlebih dulu melalui beragam kanal pembayaran.
Jika kamu merasa telah memenuhi dua syarat tersebut, maka kamu bisa mengunduh aplikasi Pluang versi terbaru untuk menikmati fitur leverage.
Bagaimana Cara Memulai Leverage di Pluang?
Cara memulai transaksi produk leverage di Pluang sejatinya serupa dengan membeli aset-aset yang ditawarkan seperti produk aset kripto atau saham AS. Berikut langkah yang harus diperhatikan untuk memulai perjalanan pembelian aset leverage di Pluang!
1. Mengakses Produk Leverage
Kamu bisa membuka aplikasi Pluang dan menuju ke halaman Eksplor. Di dalam “Saham AS”, ketuk kategori “Leverage” untuk melihat pilihan saham yang diperdagangkan dengan fitur Leverage.
Berikut adalah simulasi mengakses fitur leverage jika kamu ingin memperbesar potensi cuan dari saham Alibaba (BABA).
Contoh Mengakses Produk Leverage di Pluang
Dari contoh di atas, Sobat Cuan bisa mulai memanfaatkan fitur leverage dengan minimum pembelian saham 0,1 lembar. Jika kamu klik tombol “Buy”, maka Pluang akan mengarahkanmu ke menu yang berisi mengenai simulasi dan ringkasan mengenai cara kerja leverage.
2. Top Up pada Akun Leverage
Setelah merampungkan proses di atas, kamu perlu melakukan top up sebelum bisa melakukan transaksi leverage.
Karena produk ini berbeda dengan investasi saham AS non-leverage, maka kamu harus top up dana untuk kegiatan leverage di dompet khusus bernama USD Margin. Dengan kata lain, kamu tidak bisa melakukan transaksi leverage jika belum mengisi saldo pada dompet tersebut. Pasalnya, hanya melalui dompet inilah kamu bisa meningkatkan eksposur saham sebesar dua kali lipat.
Terdapat dua cara yang bisa dilakukan untuk mengisi dompet USD Margin. Pertama, kamu bisa mengonversikan langsung saldo Rupiah di wallet Pluang ke dompet USD Margin. Kedua, kamu juga bisa memindahkan saldo dalam bentuk Dollar AS di aplikasi Pluang ke dompet USD Margin.
Sobat Cuan bisa menemukan contoh top up wallet USD margin, baik dari saldo Rupiah atau saldo Dollar AS, melalui ilustrasi berikut!
Tahapan Top Up USD Margin dari Saldo RupiahTahapan Top Up USD Margin dari Saldo Dolar AS.
Setelah proses ini selesai, maka kamu bisa langsung melakukan transaksi leverage di aplikasi Pluang. Berikut caranya!
Bagaimana Cara Transaksi Leverage di Aplikasi Pluang?
1. Melakukan Transaksi Leverage
Setelah selesai melakukan top up, kamu dapat memilih saham yang eksposurnya ingin kamu ungkit melalui leverage.
Kamu tinggal kembali ke halaman Saham Amerika untuk memilih saham tersebut. Setelahnya, kamu dapat menentukan besaran saham yang ingin kamu beli dengan minimal pembelian 0,1 lembar saham.
Sobat Cuan dapat menyimak ilustrasi proses transaksi leverage dari awal hingga akhir melalui contoh leverage menggunakan saham BABA berikut!
Contoh membeli saham leverage di aplikasi Pluang
Dari contoh di atas, terlihat bahwa sang pengguna ingin membeli lima lembar saham BABA dengan total US$350. Jika Sobat Cuan memperhatikan menu peninjauan pesanan (review order) dengan seksama, maka kamu akan menemukan fiturExit Strategy di dalamnya. Kamu dapat memanfaatkan fitur ini untuk menentukan titik Stop Loss dan Take Profit yang kamu inginkan.
Berikut adalah tampilan menu Exit Strategy jika kamu menekan fitur tersebut di menu peninjauan pesanan.
Tampilan Fitur Exit Strategy
Pluang menyarankan kamu untuk menentukan titik Stop Loss dan Take Profit terlebih dahulu sebelum memfinalisasi transaksi leverage lantaran tingginya risiko kegiatan ini, seperti yang dibahas di artikel sebelumnya.
Setelah mengonfirmasi Exit Strategy, kamu akan diarahkan ke menu konfirmasi persetujuan untuk dikenakan overnight fee. Untuk memahami konsep overnight fee, Sobat Cuan bisa menyimak artikel berikut.
Setelahnya, kamu bisa meneruskan proses transaksi seperti contoh di atas hingga muncul konfirmasi mengenai keberhasilan transaksi.
2. Cara Memantau Portofolio untuk Melihat Performa Leverage
Setelah selesai melakukan transaksi, kamu tentunya ingin memantau perkembangan aktivitas leverage-mu, kan? Nah, kamu bisa menemukannya dengan kembali membuka menu wallet USD Margin di aplikasi Pluang.
Melalui halaman ini, kamu mampu melihat dua poin krusial dalam kegiatan leverage yakni laba/rugi belum terealisasi serta margin bebas yang kamu miliki.
Berikut adalah ilustrasi contoh melihat isi halaman pemantauan kinerja leverage di menu wallet USD Margin!
Contoh Menu Pemantauan Kinerja Leverage
Pada tampilan paling atas wallet USD Margin di aplikasi Pluang, kamu bisa memantau tiga indikator yakni margin bebas (free margin), daya ungkit eksposur leverage, dan daya beli yang kamu miliki (buying power).
Pada tampilan tersebut, kamu bisa memantau jumlah margin bebas alias jumlah dana yang telah kamu top up ke wallet USD Margin yang masih bisa kamu investasikan. Dengan kata lain, Margin bebas akan berkurang saat kamu membuka posisi baru dan bertambah ketika kamu menutup posisi atau mengantongi laba/rugi belum terealisasi.
Contoh di atas menunjukkan bahwa sang pengguna memiliki “sisa” dana “menganggur” sebesar US$25 di dompet USD Margin, sehingga ia hanya bisa berinvestasi di leverage maksimal sebesar US$25 untuk saat ini. Karena Pluang menyediakan tambahan eksposur sebanyak dua kali, maka “daya beli” aset yang ia miliki tercatat sebesar US$50, alias dua kali lipat dari margin bebasnya.
Nilai margin bebas tentu akan bertambah jika ia melakukan top up ke wallet USD Margin. Misalnya, sang pengguna memutuskan top up sebesar US$100 sehingga margin bebasnya akan menjadi US$125. Dengan demikian, maka buying power sang pengguna akan menjadi US$250.
Bahkan, nilai margin bebas tersebut bisa lebih tinggi lagi jika ia telah “mencairkan” laba belum terealisasi. Implikasinya, nilai buying power pengguna tersebut juga akan menjadi lebih besar.
Setelah itu, jika kamu scroll halaman wallet USD Margin ke bawah, maka kamu akan menemukan catatan indikator lainnya seperti margin level, mainenance margin, dan laba/rugi belum terealisasi.
Sekadar pengingat, margin level adalah indikator dalam bentuk persentase yang menggambarkan total jumlah uang yang telah kamu gunakan untuk leverage. Semakin tinggi tingkat margin level, maka artinya margin bebas yang bisa kamu gunakan masih cukup lapang jika ingin menambah posisi leverage baru.
Dalam contoh di atas, sang pengguna memiliki rasio Margin Level sebesar 114,29%. Dengan kata lain, total nilai ekuitasmu tercatat 1,14 kali lipat dari jumlah dana yang telah ia gelontorkan untuk membuka posisi leverage. Nah, oleh karenanya, ia masih memiliki margin bebas yang cukup jika ingin menambah posisi leverage baru.
Kemudian, di bawah indikator margin level, kamu bisa melihat indikator maintenance margin, yakni persentase minimum dari jumlah margin disetor yang harus selalu “siap sedia” di wallet USD Margin. Dalam hal ini, Pluang menetapkan maintenance margin di level 70%, mengindikasikan bahwa investor setidaknya harus “menjaga” 70% dari total margin yang telah disetor di dalam akun miliknya.
Nah, setelah itu, kamu bisa memantau indikator paling penting yakni laba/rugi belum terealisasi. Seperti yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya, laba/rugi belum terealisasi menunjukkan performa saham yang telah kamu beli. Laba/rugi tersebut akan berubah status menjadi “realisasi” ketika kamu menutup posisi leverage-mu.
3. Simulasi Perubahan Kinerja Leverage Ketika Harga Saham Naik Atau Turun
Kamu kini telah mengetahui indikator penting dalam memantau kinerja leverage-mu. Namun, pertanyaan berikutnya, apa yang akan terjadi pada menu pemantauan portofolio leverage jika harga saham naik atau turun?
Nah, dengan masih menggunakan contoh saham BABA, Sobat Cuan dapat melihat contoh perubahan tampilan menu peninjauan kinerja leverage ketika harga sahamnya naik di bawah ini!
Contoh Tampilan Menu Wallet USD Margin Saat Harga Saham BABA Naik
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa sang investor menyetor modal awal sebesar US$175,(seperti terlihat di indikator margin) untuk membeli 2,5 unit saham BABA senilai US$70 per lembarnya. Kemudian, harga saham BABA ternyata meningkat dari US$70 ke US$75, atau 7,1%.
Setelah mengetahui hal ini, sang investor kemudian tinggal memeriksa nilai laba/rugi belum terealisasi yang ia kantongi.
Tanpa menggunakan fitur leverage, sang pengguna semestinya memperoleh laba/rugi belum terealisasi sebesar US$12,5, yang dihitung dari kenaikan harga saham sebesar US$5 dikali 2,5 unit saham. Namun, karena ia memanfaatkan leverage dengan daya ungkit eksposur sebesar dua kali lipat, maka nilai laba/rugi belum terealisasi yang tertera di tampilan tersebut menjadi US$25.
Begitu pun sebaliknya. Jika harga saham BABA turun, misalnya menjadi US$65 per lembar, maka nilai laba/rugi belum terealisasi akan menjadi -US$25.
Pasalnya, tanpa leverage, sang pengguna semestinya memperoleh rugi belum terealisasi sebesar US$12,5. Tetapi, ruginya membengkak menjadi US$25 karena ia memanfaatkan leverage dengan daya ungkit eksposur dua kali lipat. Sobat Cuan bisa melihat contohnya melalui tampilan berikut!
Contoh Tampilan Menu Wallet USD Margin Saat Harga Saham BABA Turun
Bagaimana Cara Menjual Aset Leverage di Aplikasi Pluang?
Ketika kamu sudah meraih laba atau menyentuh kerugian yang kamu targetkan di awal, kamu bisa melakukan aksi jual secara langsung di aplikasi Pluang.
Sama halnya dengan menjual aset lainnya di aplikasi Pluang, kamu dapat mengaksesnya melalui halaman aset Saham Amerika, kemudian klik aset yang kamu miliki, lalu tekan tombol jual yang tertera. Namun, aksi ini tidak diperlukan jika kamu sudah memasang exit strategy dan menyentuh harga yang kamu tentukan.
Pasca penjualan berhasil, kamu akan melihat perbedaan harga saham saat membeli dan menjual. Angka tersebut akan menjadi keuntungan atau kerugian yang sudah terealisasi dan akan masuk ke dompet Margin USD milikmu.
Berikut adalah ilustrasi proses penjualan aset leverage di Pluang!
Cara Menjual Aset Leverage di Aplikasi Pluang
Cara Memitigasi Risiko Leverage di Aplikasi Pluang
1. Pastikan Margin Level Di Atas 30%
Seperti yang sudah diketahui, leverage adalah aktivitas berisiko tinggi. Adapun dua risiko yang patut dihindari investor dalam kegiatan ini adalah terjebak pada situasi margin call dan stop out.
Margin call, atau panggilan margin, adalah sebuah panggilan bagi para investor ketika margin level sang investor turun dibawah 70%. Nantinya, Pluang akan mewanti-wanti kondisi ini melalui notifikasi kepada pengguna.
Contoh Notifikasi Margin Call di Aplikasi Pluang
Ketika investor mendapatkan margin call, maka Pluang akan menghentikan penambahan posisi leverage baru secara otomatis sebelum margin level sang investor kembali di angka 100% atau keluar dari situasi margin call.
Kamu tak usah panik jika terperangkap dalam situasi tersebut. Terdapat dua hal yang bisa kamu lakukan yakni:
Menambah top up dana ke dompet USD Margin untuk menaikkan margin level kembali ke angka 100%. Kamu dapat melakukan strategi ini dengan cara mentransfer dana kamu dari saldo Dollar AS atau saldo Rupiah dari wallet Pluang.
Jual posisi terbuka leverage-mu hingga perbandingan ekuitas terhadap margin kamu kembali 100%.
Sementara itu, stop out adalah situasi ketika margin level-mu menembus di bawah level 30%. Pada kondisi ini, Pluang akan menghentikan aktivitas trading leverage sang investor dengan menjual asetmu secara otomatis hingga margin level kembali mencapai 70%.
Nantinya, kamu akan menerima notifikasi melalui email dan push notification (PN) ketika posisimu terjual.
2. Menentukan Titik Jual dan Beli Sebelum Bertransaksi
Sebelum bertransaksi leverage, kamu harus memastikan keputusanmu sudah sesuai analisis baik dari sisi fundamental maupun teknikal. Hal ini diperlukan agar kamu terhindar dari stop out.
Setelah kamu menganalisis saham yang ingin dibeli, pastikan kamu menggunakan fitur exit strategy, sebelum pembelian. Fitur ini akan membantumu untuk tidak memantau pasar secara terus menerus dan melatihmu disiplin akan rencana trading yang sudah kamu tentukan di awal.
Kamu sebenarnya bisa menentukan titik jual dan beli melalui analisis teknikal, misalnya seperti menentukan titik support dan resistance dari harga suatu aset. Jika kamu tak punya arah dalam mempelajari analisis teknikal, maka kamu dapat mempelajarinya dengan menyimak artikel ini.
Selain itu, kamu dapat melihat beberapa chart patternyang menarik untuk membantumu mendapatkan keuntungan maksimal.
Sudah siap berinvestasi leverage di aplikasi Pluang?
Secara definisi, diversifikasi di dalam dunia investasi adalah aksi investor untuk menyusun portofolio dengan beragam aset dengan tingkat risiko yang berbeda diiringi dengan kurun waktu dan periode yang juga berbeda. Hal ini sesuai dengan pepatah terkenal di dunia investasi, yakni don’t put your eggs in one basket atau jangan menaruh semua telur di satu keranjang.
Apa Pentingnya Diversifikasi?
Dalam ilmu investasi, diversifikasi adalah sebuah langkah yang diperlukan seorang investor untuk dapat memitigasi risiko investasi. Dengan kata lain, sang investor tidak akan mendera kerugian teramat sangat ketika kinerja salah satu asetnya terjerumus begitu dalam.
Sebagai contoh, jika isi portofolio sang investor hanya berkisar di sektor teknologi atau aset kripto saja di 2022, maka sudah pasti imbal hasil yang mereka dapatkan tumbuh negatif. Makanya, untuk mencegah nilai portofolionya dari kiamat, investor wajib hukumnya menyeimbangkan portofolionya dengan aset-aset lain yang memiliki risiko lebih rendah atau memiliki performa lebih baik dari aset-aset lainnya.
Di samping meminimalisasi risiko, diversfikasi juga dibutuhkan investor untuk memaksimalkan cuan yang mereka serok dari berinvestasi.
Asal tahu saja, kunci sukses untuk berinvestasi sebenarnya adalah menyeimbangkan tingkat kenyamanan risiko tergantung periodenya. Sebagai contoh, jika investor terlalu ngebet berinvestasi secara konservatif di waktu muda, maka pertumbuhan investasinya tidak akan cukup untuk melampaui tingkat inflasi dan tidak akan cukup untuk pensiun. Sementara itu, ia akan terpapar risiko buntung yang terlampau tinggi jika ia terlalu agresif dalam berinvestasi.
Nah, oleh karenanya, seorang investor perlu menyeimbangkan tingkat risiko dan potensi cuannya melalui diversifikasi. Terlebih, beberapa hasil penelitian akademik menunjukkan bahwa portofolio yang terdiversifikasi mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih mantap dengan risiko yang rendah dalam jangka panjang. Kendati demikian, patut diingat bahwa diversifikasi juga tidak menjamin keuntungan dalam berinvestasi.
Mengenal Macam-macam Diversifikasi
Secara umum, konsep diversifikasi adalah mengombinasikan satu aset dengan aset lain di dalam portofolio. Kadang, investor pemula selalu mengaitkan konsep ini dengan “mencomblangkan” satu kelas aset dengan kelas aset lainnya, misalnya instrumen saham dengan emas.
Namun, konsep diversifikasi yang sebenarnya tidak hanya sebatas memasangkan satu kelas aset dengan aset lainnya. Berikut adalah konsep-konsep diversifikasi lainnya selain berdasarkan kelas aset!
Diversifikasi dalam satu kelas aset tertentu. Sobat Cuan perlu memahami bahwa tingkatan risiko di dalam satu kelas aset bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, saham teknologi tentu punya risiko volatilitas yang berbeda dibanding saham sektor konsumsi. Bahkan, satu saham teknologi pun memiliki risiko yang berbeda dengan saham teknologi lainnya. Oleh karenanya, investor bisa melakukan diversifikasi antar instrumen di satu kelas aset sebagai batu pijakan dalam melakukan diversifikasi.
Diversifikasi berdasarkan batas geografis. Tak dapat dipungkiri bahwa situasi ekonomi dan ukuran kapitalisasi pasar yang terjadi di satu negara mempengaruhi kinerja aset yang diterbitkan di dalamnya. Makanya, pertumbuhan indeks saham AS dan saham Indonesia, misalnya, terbilang berbeda. Nah, kondisi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan investor untuk menebar risiko investasinya.
Diversifikasi berdasarkan mata uang. Kekuatan mata uang sebuah negara pun bisa digunakan sebagai dasar diversifikasi. Pasalnya, seorang investor dapat mengeruk untung investasi yang jumbo dari instrumen aset berdenominasi mata uang negara tersebut. Sebagai contoh, ketika nilai tukar Dolar AS menguat melawan Rupiah, maka investor ada baiknya memfokuskan portofolionya di saham AS lantaran cuannya akan bernilai mantap jika dikonversikan ke mata uang Rupiah.
Sobat Cuan sudah memahami macam-macam konsep diversifikasi di artikel sebelumnya. Namun, di antara semua konsep yang ada, konsep diversifikasi berdasarkan kelas aset terbilang paling mudah untuk dijalankan investor pemula.
Nah, dalam konteks tersebut, investor sejatinya bisa menyusun strategi diversifikasi di dalam portofolionya berdasarkan empat kelas aset utama seperti berikut!
4 Kelas Aset Pembentuk Diversifikasi
1. Saham dan Aset Kripto
Saham dan aset kripto menjadi pilihan utama bagi mereka yang memiliki gaya investasi agresif. Kedua kelas aset ini memiliki kesempatan bagi investor untuk memberikan return yang fantastis dalam jangka waktu panjang. Sehingga, investor yang memang mengincar cuan jumbo ada baiknya menitikberatkan portofolionya di kedua aset tersebut.
Hanya saja, Sobat Cuan patut menyadari bahwa kesempatan keuntungan yang tinggi pasti disertai risiko yang sama-sama besar. Hal ini pun sesuai konsep umum yang terkenal di dunia investasi, yakni high risk high return. Makanya, investor wajib melancarkan penilaian dan analisis yang teliti sebelum benar-benar memfokuskan portofolionya di aset-aset berisiko tersebut.
2. Obligasi
Obligasi adalah instrumen surat utang dan memiliki imbal hasil rutin dalam bentuk kupon. Karakteristik ini menjadikan obligasi memiliki risiko volatilitas yang lebih rendah dibanding dua aset berisiko yang telah dijabarkan sebelumnya, yakni saham dan aset kripto.
Oleh karenanya, investor dapat menggunakan obligasi sebagai bantalan untuk mencegah portofolio sang investor dari fluktuasi harga aset kripto dan saham yang tak terduga.
Tapi, investor umumnya memanfaatkan instrumen ini hanya demi meminimalisasi risiko saja, bukan sebagai motor penggerak cuan yang paling utama. Pasalnya, investasi surat utang dianggap tidak memberikan imbal hasil yang fantastis.
3. Reksa Dana
Reksa Dana adalah “wadah” yang diciptakan manajer investasi untuk menghimpun dana masyarakat untuk kemudian diinvestasikan ke dalam instrumen seperti saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Nah, karena seluruh koleksi aset di dalam sebuah reksa dana sudah dikurasi oleh manajer investasi, maka investor sepatutnya tak perlu khawatir dengan risiko yang muncul dari produk investasi satu ini. Apalagi, manajer investasi tentu sudah memiliki penilaian tersendiri mengenai risiko yang bakal mereka ambil ketika mengelola reksa dana.
Kendati demikian, investasi reksa dana bukan berarti bebas dari risiko. Sebelum menempatkan dana di produk tersebut, investor sebaiknya berkaca kembali pada profil risikonya. Sebab, beberapa reksa dana pun memiliki risiko yang cukup tinggi seperti reksa dana saham.
4. Komoditas
Bagi investor, komoditas adalah kelas aset yang spesial. Pasalnya, mereka menganggap bahwa komoditas adalah pilihan terbaik jika ingin menjaga nilai portofolionya dari kikisan inflasi.
Hal ini bisa terjadi lantaran nilai komoditas pasti akan selalu menanjak antar waktu seiring suplainya yang makin terbatas. Di samping itu, beberapa komoditas pun memiliki keunggulan lain, misalnya tidak mudah mengalami korosi sehingga unsur kemuliaannya saat ini masih akan tetap sama 100 tahun mendatang.
Adapun salah satu komoditas yang dianggap memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas. Makanya, tak heran jika investor kerap menyerbu emas ketika inflasi dirasa akan mengganas atau ketika situasi ekonomi bersifat tidak pasti.
Bagaimana Metode Diversifikasi Kelas Aset yang Terbaik?
Sejatinya, tidak ada cara terbaik bagi investor untuk melakukan diversifikasi melainkan menyesuaikan dengan tingkat profil risikonya. Hal ini pun sesuai dengan riset lembaga perencanaan keuangan Fidelity.
Lembaga tersebut melakukan eksperimen terhadap dua komposisi portofolio yang berbeda. Pada portofolio pertama, sebanyak 60% dialokasikan terhadap saham AS, 25% di saham internasional, dan 15% sisanya ke obligasi. Sementara pada portofolio kedua, Fidelity membagi alokasi asetnya sebesar 49% di saham AS, 21% di saham internasional, 25% di obligasi, dan 5% di investasi jangka pendek.
Hasilnya, portofolio pertama memberikan imbal hasil 9,8% per tahunnya. Sementara itu, portofolio kedua menghasilkan return yang tidak beda jauh, yakni 9%.
Hasil Perbandingan Portofolio Fidelity. Sumber: Fidelity
Eksperimen itu membuktikan bahwa dampak diversifikasi yang optimal sangat tergantung dengan toleransi risiko sang investor dan pilihan kelas aset yang digunakan. Tak lupa, diversifikasi juga harus disesuaikan dengan tujuan investasi sang investor sejak awal. Toh, pada akhirnya, investor akan memetik buah terlepas dari kombinasi diversifikasi yang dipilihnya
Memperkenalkan Pockets, Sarana Diversifikasi Aset Unggulan Pluang
Diversifikasi aset adalah hal yang penting dilakukan investor. Namun, investor pemula mungkin akan kesulitan dalam mencampuradukkan beragam aset-aset di dalam portofolionya. Hal itu bisa terjadi karena sang investor belum memiliki ilmu investasi yang mumpuni atau justru malah keblinger setelah melihat banyaknya ragam pilihan aset yang bisa ia pilih.
Untungnya, investor tidak akan kebingungan lagi dalam melakukan diversifikasi jika mereka berinvestasi melalui aplikasi Pluang. Pasalnya, Pluang memiliki fitur bernama Pockets!
Pockets adalah sebuah fitur di mana investor dapat menjadi seorang manajer investasi mandiri. Fitur Pockets memungkinkan Sobat Cuan untuk berinvestasi di satu koleksi aset tertentu yang sesuai dengan keinginan dan selera risikomu. Dengan kata lain, hanya dengan menaruh uang sekali saja, maka kamu bisa memiliki beragam aset di waktu bersamaan!
Di samping itu, fitur ini juga memungkinkan Sobat Cuan untuk meminimalisasi risiko investasi dengan berinvestasi langsung di beragam aset secara sekaligus. Sehingga, kamu tak akan merugi terlalu dalam jika kinerja salah satu aset kelolaanmu tengah melandai.
Menariknya, seluruh koleksi aset tersebut dikurasi langsung oleh tim Pluang. Sebagai contoh, jika kamu ingin berinvestasi di saham sektor teknologi top AS namun bingung dalam memilih saham jagoanmu, maka kamu bisa berinvestasi di Pockets yang berisikan saham-saham raksasa teknologi di Pluang hanya dengan menaruh uang sekali saja! Seru sekali, bukan?
Tak hanya itu, kamu juga berkesempatan menciptakan Pockets versimu sendiri yang berisikan kumpulan saham AS pilihanmu.
Bagaimana Cara Menggunakan Fitur Pockets?
1. Cara Berinvestasi di Koleksi Aset Pilihan Pluang
Untuk berinvestasi anti ribet melalui fitur Pockets, Sobat Cuan tinggal mengklik ikon Pockets di halaman utama (homepage) aplikasi Pluang.
Selain itu, kamu juga bisa menemukan fitur tersebut dengan mengklik tombol search di menu halaman utama. Setelah itu, kamu tinggal memilih koleksi aset di dalam sejumlah Pockets yang telah disusun Pluang. Dari situ, kamu bisa mengincar koleksi aset yang sesuai dengan tujuanmu dalam berinvestasi.
Contohnya, kamu bisa memilih Pockets yang berisi saham-saham perusahaan yang rajin membagikan dividen jika kamu ingin mengincar pendapatan rutin. Namun, di sisi lain, kamu juga bisa menempatkan dana di Pockets yang memuat saham-saham growth stocks jika mengincar pertumbuhan yang tinggi.
Agar kamu tak penasaran, yuk simak beberapa jenis Pockets yang telah disusun tim Pluang di aplikasi Pluang berikut ini!
1. Hello, California!
Pockets ini berisikan saham perusahaan FAANG yang memimpin sektor teknologi di dunia. Dengan kata lain, kamu bisa membeli saham Meta Platforms ($META), Apple ($AAPL), Amazon ($AMZN), Alphabet atau Google ($GOOG) dan Netflix ($NFLX) secara sekaligus hanya dengan menempatkan uang sekali saja.
Produk ini pun dianggap cocok untuk kalian yang ingin memiliki eksposur di perusahaan teknologi tanpa kesulitan cap cip cup dalam menentukan saham perusahaan mana yang harus digenggam.
2. The Tech Giants
Sedikit berbeda dengan Hello, California!, The Tech Giants berisikan saham-saham teknologi AS yang berfokuskan untuk menyokong transformasi digital di dunia. Perusahaan yang terlibat dalam Pockets The Tech Giants antara lain Adobe ($ADBE), Intel ($INTC), Microsoft ($MSFT) dan Nvidia ($NVDA).
3. The Kings of Wall Street
Untuk pilihan yang lebih konservatif, Pluang menyediakan The Kings of Wall Street yang beranggotakan saham-saham perusahaan jasa keuangan global seperti Visa ($V) dan JP Morgan Chase & Co ($JPM).
4. The Scene Stealers
Jika kamu mempercayai bahwa dunia media dapat terus berkembang kedepannya, kamu dapat berinvestasi di The Scene Stealers yang berisi saham Disney ($DIS), Spotify ($SPOT), dan AMC Entertainment Holdings ($AMC). Selain itu, saham perusahaan telekomunikasi, yang selama ini dianggap penyokong sektor media seperti AT&T ($T) termasuk ke dalam Pockets ini.
5. The Big Bites
Pockets ini berisikan perusahaan penyedia makanan dan minuman yang mendominasi pasar dan memiliki karakteristik saham defensif. Oleh karenanya, pilihan Pockets ini cocok dipilih oleh investor yang cenderung pesimistis dengan pertumbuhan ekonomi. Adapun saham perusahaan yang termasuk dalam Pockets ini di antaranya adalah McDonald’s ($MCD), Coca-Cola ($KO) dan Starbucks ($SBUX).
2. Cara Berinvestasi di Fitur Pockets Menggunakan Kurasi Aset Mandiri
Berinvestasi di Pockets pilihan Pluang adalah pilihan jitu bagi investor pemula. Namun, fitur ini pun tak terbatas bagi investor awam saja. Sebab, mereka yang sudah mahir dalam investasi juga bisa mengurasi koleksi asetnya secara mandiri melalui fitur Pockets.
Sebagai contoh, investor A berinvestasi rutin di aplikasi Pluang dengan membeli saham Alibaba ($BABA), Apple ($AAPL) dan Exxon Mobil ($XOM) setiap bulannya. Dengan fitur Pockets, investor A dapat membuat “Investor A Pockets” yang beranggotakan saham-saham tersebut.
Selain itu, melalui fitur Pockets, kamu tidak hanya bisa mengatur jenis-jenis saham yang ingin digenggam namun juga bisa mengatur pembobotan masing-masing saham di dalam portofoliomu yang sesuai dengan modal awal yang kamu miliki.
Sebagai contoh, Investor A berencana berinvestasi rutin sebesar US$500 setiap bulannya yang akan dialokasikan ke tiga saham. Akhirnya, investor A pun memilih mengalokasikan 40% saham dana tersebut ke saham Apple sebesar 40%, saham Alibaba sebesar 30%, dan saham ExxonMobil sebesar 30%.
Namun, investor A merasa kesulitan untuk mengalokasikan dana tersebut ke masing-masing saham sesuai porsi yang ia inginkan secara manual. Nah, dalam hal ini, sang investor bisa mengalokasikan dana tersebut ke fitur Pockets agar pembobotannya bisa dilakukan oleh Pluang secara otomatis.
Selain memudahkan proses pembobotan alokasi aset, fitur Pockets juga memudahkan investor untuk menghitung performa Pockets yang telah ia ciptakan. Agar lebih mudah dicerna, yuk simak ilustrasi di bawah ini!
Pada 1 Maret 2023, Investor A telah menaruh US$500 pada “Investor Pockets A”. Lima hari setelahnya, atau 6 Maret 2023, nilai saham $BABA dan $XOM berhasil naik 2%. Sayangnya, saham $AAPL justru terkoreksi sebesar 1%.
Dengan kata lain, total nilai “Investor Pockets A” berhasil meningkat sebesar US$6 akibat performa apik $BABA dan $XOM. Hanya saja, nilai Pockets-nya justru terbebani dengan kinerja payah $AAPL sebesar US$2. Alhasil, secara keseluruhan, performa “Investor Pockets A” berhasil bertumbuh sebesar 0,8% atau US$4.
Bagaimana, Sobat Cuan? Fitur Pockets terlihat seru, bukan? Yuk, nikmati serunya diversifikasi aset menggunakan fitur Pockets!
Waktu adalah yang terpenting dalam dunia investasi. Namun, sebagai seorang investor, mereka kadang sulit menentukan kapan saat yang tepat untuk mulai berinvestasi.
Padahal, secara teorinya, investasi harus dimulai sedini mungkin agar investor bisa menuai hasilnya dengan optimal di masa depan. Makanya, jika Sobat Cuan tertarik menggunakan fitur Pockets, maka kamu bisa memanfaatkannya kapan saja!
Lagipula, seluruh koleksi aset yang disusun Pluang di dalam Pockets juga telah disesuaikan dengan tingkat profil risiko masing-masing investor. Dengan demikian, tak ada alasan bagi Sobat Cuan untuk menunda menggunakan fitur Pockets.
Lantas, sejauh apa fitur Pockets bisa mengakomodasi profil risiko masing-masing investor? Yuk, simak selengkapnya di sini!
Pockets Berdasarkan Selera Risiko Investor
1. Investor dengan Selera Risiko Tinggi
Jika Sobat Cuan adalah investor bertipe agresif atau memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi, maka kamu dapat mempertimbangkan untuk memasukkan seluruh portofolio mereka ke dalam saham AS atau aset kripto. Namun, demi meminimalisasi risikonya, kamu pun dapat memperbanyak porsi saham AS dibandingkan dengan aset kripto. Hal ini dikarenakan saham AS telah berdiri lebih dari 100 tahun sementara usia aset kripto terbilang masih seumur jagung.
Selain itu, Sobat Cuan yang punya profil risiko agresif pun bisa menitikberatkan portofolionya di lini saham growth stocks. Sekadar informasi, pasar modal AS mengenal dua jenis saham, yakni value stocks dan growth stocks. Untuk lebih lengkapnya, Soba Cuan dapat membaca perbedaannya di sini.
Kecenderungan tipe investor ini kebanyakan adalah investor Gen-Z atau millennial yang umumnya masih merintis usaha atau karier mereka. Kecenderungan tipe investor ini pun yang belum menaruh seluruh aset mereka secara besar dalam portofolio investasi.
2. Investor dengan Selera Risiko Moderat
Investor dengan selera risiko moderat adalah investor yang berani mengambil risiko lebih kecil dibandingkan high risk tetapi lebih besar jika dibandingkan investor low risk. Tidak ada tolok ukur yang pasti untuk mengukur risiko yang diinginkan. Tetapi, mereka yang bergolongan investor berisiko moderat adalah tipe investor yang tidak terlalu agresif.
Untuk tipe investor ini, kamu dapat menggabungkan proporsional yang seimbang dimulai dari growth stock 25%, value stock 25%, aset kripto 25% dan emas 25%.
3. Investor dengan Selera Risiko Rendah
Kontradiktif dengan high risk investor, tipe ini lebih mengutamakan keamanan portofolio mereka dibandingkan meraih imbal hasil fantastis. Dengan kata lain, profil investor ini mementingkan volatilitas yang rendah dan kestabilan imbal hasil.
Beberapa aset pilihan dengan volatilitas rendah adalah value stocks atau emas. Namun, dengan memiliki portofolio tipe ini, rata-rata return yang didapatkan setiap tahunnya bisa dibawah 7% per tahun atau hanya untuk menutupi tingkat inflasi yang terus bertumbuh seiring waktu.
Menarik sekali, bukan? Yuk, segera nikmati fitur Pockets di aplikasi Pluang sekarang!
Setiap individu tentunya memiliki tujuan berinvestasi yang berbeda. Alhasil, tujuan ini akan berpengaruh terhadap durasi waktu seorang investor dalam berinvestasi. Secara umum, terbagi beberapa durasi waktu yakni:
Long Term Investment: Investasi dalam bentuk jangka panjang, biasanya berdurasi lebih dari 10 tahun. Tipe investasi seperti ini mengharuskan seorang investor untuk menerima resiko untuk menimba hasil investasi yang besar. Selain itu, diperlukan juga kesabaran untuk menunggu hasil investasi tersebut berbuah. Namun, perlu diingat bahwa investasi jangka panjang lebih menguntungkan jika kita memiliki dana yang cukup besar agar hasil penungguan tersebut sepadan.
Mid/Medium Term Investment: Investasi dalam bentuk jangka waktu menengah, biasanya berdurasi 2-10 tahun. Tipe investasi ini sangatlah cocok untuk aset seperti saham, reksadana maupun aset investasi yang memiliki risiko menengah.
Short Term Investment: Investasi jangka pendek memakan waktu dari hitungan hari sampai kurang dari 2 tahun. Ciri-ciri investasi jangka pendek adalah instrumen yang memiliki return tinggi dan mudah dikonversi menjadi kas. Biasanya, investasi tipe jangka pendek cocok dengan instrumen saham maupun aset kripto. Hal ini dikarenakan volatilitas yang cukup tinggi sehingga dapat memberikan return yang maksimal bagi investornya.
Gaya investasi mana yang lebih menguntungkan?
Sejatinya, semua gaya investasi memiliki keuntungan dan kelebihan masing-masing.
Jika kalian tidak memiliki waktu yang banyak dalam menganalisa dan memiliki dana yang jumbo, tentu investasi dalam jangka waktu menengah atau panjang adalah pilihan yang tepat. Modal tentunya memiliki peranan penting dalam berinvestasi karena keuntungan dalam berinvestasi berbentuk persentase. Mengutip dari Fidelity, keuntungan dalam berinvestasi di pasar saham secara tahunan berada di 13,8%. Jika kalian memiliki modal hanya Rp1 Juta, maka akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp138 ribu dalam waktu satu tahun jika berinvestasi di pasar modal. Berbeda dengan seorang investor yang memiliki dana Rp100 Juta untuk berinvestasi, dirinya dapat meraup Rp13,8 Juta dalam waktu 1 tahun.
Lantas, jika kamu adalah seseorang yang aktif dalam dunia investasi, short term investment akan lebih menguntungkan. Hal ini dikarenakan seorang short term investor dapat memanfaatkan setiap momentum yang ada dan lebih mengutamakan analisis teknikal. Sejatinya, berinvestasi dalam jangka waktu pendek memiliki risiko yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan psikologi seorang investor turut mengambil alih dalam mengambil keputusan. Mengutip dari Balancemoney, rata-rata day trader yang sukses akan meraup 20% dalam sebulan. Jika kamu memiliki Rp1 Juta, makan dalam bulan depan akan mengantongi Rp1,2 Juta. Lantas, jika memang trader tersebut dapat konsisten setiap bulannya, dan tidak menarik uangnya alias compounding, maka investasi yang dari Rp1 Juta tersebut akan menjadi Rp8,9 Juta dalam 1 tahun.
Bagaimana cara memaksimalkan keuntungan dalam investasi jangka pendek?
Dengan durasi yang cenderung pendek, Sobat Cuan dapat memaksimalkan trading dengan cara menggunakan dana yang lebih besar untuk menggaet persentase keuntungan kecil. Sebagai informasi, rata-rata pergerakan indeks saham AS seperti S&P500 di 1% per hari nya. Dengan 20 hari kerja dan persentase kenaikan indeks di 50% dan seorang investor tersebut dapat mengambil potensi keuntungan sebesar 10% dalam 1 bulan. Jika berkaca pada rata-rata keuntungan day trader dari survey Balancemoney di 20% per bulan, tentu saja trader tersebut memakai fasilitas leverage.
Saat ini, Pluang baru saja mengeluarkan fitur Day Trade leverage dimana membantu Sobat Cuan untuk meraup keuntungan lebih besar daripada fitur leverage biasa. Perbedaan utama dari fitur leverage biasa sendiri adalah opsi kelipatan leverage yang biasanya di 2x menjadi 4x. Hanya saja, perbedaan lainnya adalah pengguna tidak dapat memegang posisi nya lebih dari 1 hari perdagangan.
Bagaimana Cara Kerja Day Trade leverage?
Sebelum Sobat Cuan memulai perdagangan Day Trade leverage, Sobat Cuan wajib membayar 25% dari margin yang dimiliki atau yang dikenal sebagai 4x leverage. Sebagai contoh, saham ABC diperdagangkan di US$100/saham dan Sobat Cuan ingin membeli 1 lembar saham ABC. Dalam menggunakan fitur Day Trade leverage, Sobat Cuan hanya memerlukan US$25 sebagai initial margin.
Margin adalah elemen terpenting dalam menggunakan leverage dimana jika margin Sobat Cuan jatuh ke level 70%, maka akan terjadinya event margin call. Lantas, jika margin tersebut jatuh ke 30%, posisi Sobat Cuan akan otomatis dilikuidasi oleh sistem. Untuk lebih mudahnya, yuk simak ilustrasi berikut!
Ilustrasi dibawah menggambarkan jika Sobat Cuan memiliki US$30 pada akun USD Margin dan ingin membeli 1 lembar saham ABC dengan 4x Leverage.
Risiko Menggunakan Day Trade Leverage
Meskipun penggunaan Day Trade leverage tampak menguntungkan, Sobat Cuan tetap harus mempertimbangkan segala risiko yang ada dalam penggunaan fitur ini. Yuk, simak beberapa risiko yang harus siap kalian hadapi sebelum menggunakan fitur Day Trade leverage!
1. Meningkatkan probabilitas kerugian dalam persentase besar
Meskipun penggunaan fitur leverage ini dapat melipatgandakan keuntungan, fitur ini juga dapat meningkatkan tingkat kerugian kalian. Jika rencana trading kalian tidak sesuai ekspektasi atau trading plan di awal, kekalahan ini dapat membawa kerugian sampai terlikuidasi. Alhasil, trader harus siap atas kerugian ini. Agar tidak sampai terlikuidasi, Sobat Cuan dapat mengatasinya dengan menentukan level Stop loss dan Take Profit sebelum mengeksekusi saham pilihannya.
2. Margin Call dan Force Liquidation
Day Trade leverage mengharuskan Sobat Cuan untuk memaintain 70% dari ekuitas pada akun USD Margin agar tidak terjadi margin call. Jika posisi Sobat Cuan tidak sesuai dengan trading plan di awal, maka dapat menyebabkan penurunan yang cukup drastis atas margin level yang dimiliki. Alhasil, Sobat Cuan harus melakukan top up atau menutup posisi sebelum terjadi Force liquidation.
3. Batasan Waktu
Risiko utama dalam trading harian tentunya adalah waktu. Hal ini dikarenakan seorang trader harus memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan dan eksekusi secara cepat. Selain itu, tekanan pada psikologi trader akan diuji saat trading harian dimana akan meningkatkan tekanan yang merujuk ke sifat impulsif.