Author: 09

  • 11. Fibonacci, Perhitungan Rasio Andalan Para Trader

    11.1 Latar Belakang

    Sobat Cuan pasti tak asing dengan istilah fibonacci. Fibonacci merupakan salah satu indikator populer di kalangan trader

    Pasalnya, fibonacci dapat memberikan sebuah informasi semacam level support/resistance yang tidak dimiliki oleh indikator lainnya.

    Menggunakan fibonacci retracement itu cukup sederhana. Indikator ini menyoroti area di mana pullback mungkin berubah arah menuju tren, membantu mengkonfirmasi titik masuk saat menerapkan strategi trading tren.

    Secara keseluruhan, fibonacci membantu trader dengan mengidentifikasi saat pullback hampir selesai. Dengan memanfaatkan kondisi ini, Anda dapat memperkirakan titik masuk untuk segera mengambil peluang.

    Perhitungan rasio fibonacci menghasilkan angka-angka yang berguna dalam menetapkan level titik masuk dan keluar.

    Meskipun dapat digunakan secara independen, pada dasarnya fibonacci dapat digabungkan dengan indikator lain untuk mendapatkan hasil yang optimal.

    11.1.1 Apa Itu Rasio Fibonacci? 

    Fibonacci adalah serangkaian angka  yang diperoleh dengan menjumlahkan dua angka sebelumnya. 

    Urutan pola tren fibonacci mengikuti deret sebagai berikut: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, dan seterusnya. 

    Pola angka ini dapat membantu menunjukkan area saham berada di level support atau resistance dari pergerakan harga saham.

    11.1.2 Sejarah Fibonacci

    Rasio fibonacci ini awalnya ditemukan oleh Leonardo Fibonacci atau Leonardo da Pisa, seorang matematikawan Italia terkenal. 

    Ia menciptakan deret bilangan Fibonacci dan memperkenalkan sistem penulisan dan perhitungan bilangan Arab ke Eropa.

    Julukannya, Fibonacci, berasal dari kata “Filius Bonacci” yang berarti anak dari Bonacci, nama ayahnya yang lebih dikenal sebagai William Bonacci.

    Dalam bukunya yang terkenal, “Liber Abaci,” Fibonacci menampilkan permasalahan menarik mengenai kelinci beranak-pinak. 

    Dengan pertanyaan sederhana, berapa banyak pasang kelinci yang beranak pinak dalam satu tahun? Fibonacci mengenalkan deret angka khasnya: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, dst.

    Deretan ini memiliki rasio yang terjadi secara alami di bentuk-bentuk di alam dan membentuk dasar dari bilangan Fibonacci.

    Dalam deret tersebut, Fibonacci menemukan rasio yang sering muncul dalam berbagai objek alam, dikenal sebagai Golden Ratio dengan perbandingan 1:1.618 atau 0.618:1.

    Rasio fibonacci ini akhirnya digunakan oleh banyak trader sebagai alat untuk mengidentifikasi area potensial untuk mengambil posisi yang berpeluang mendatangkan keuntungan dalam aktivitas trading mereka.

    11.2 Manfaat Fibonacci Pada Trading Saham

    Investor dapat menggunakan rasio fibonacci untuk membantu menemukan kisaran area yang potensial untuk support dan resistance pada saham.

    Dalam hal ini support merupakan batas bawah, sementara resistance adalah batas atas. 

    Analisis fibonacci biasanya digunakan dengan cara mengambil garis untuk menyatukan dua titik ekstrem (titik tertinggi dan titik terendah) yang terdapat pada grafik harga.

    Kemudian, trader dapat melakukan pembagian jarak vertikal di antara kedua titik tersebut berdasarkan perbandingan fibonacci.

    Selain itu, terdapat beberapa teknik analisis lainnya dari fibonacci yang dapat dimanfaatkan untuk melihat pergerakan saham pada kondisi pasar yang tidak menentu.

    11.3 Cara Kerja Fibonacci dalam Trading

    Sobat Cuan tak perlu menjadi ahli matematika untuk menggunakan Fibonacci dalam trading. Penggunaan rasio fibonacci pada setiap transaksi dapat dilakukan dengan mudah.  Dengan memanfaatkan indikator fibonacci retracement, Sobat Cuan dapat dengan simpel menentukan area yang potensial sebagai support dan resistance.

    Indikator ini sangat berguna ketika pasar sedang mengalami tren, baik itu naik (uptrend) maupun turun (downtrend). Sayangnya, fibonacci retracement kurang efektif jika diterapkan pada pasar yang cenderung bergerak mendatar (sideways).

    Untuk menemukan level-level fibonacci, langkah pertama adalah mengidentifikasi titik-titik tertinggi dan terendah yang memiliki arti penting. Swing high dan swing low adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada titik-titik tersebut.

    Selanjutnya, jarak antara swing high dengan swing low ini menjadi area indikator fibonacci. Jika tren naik, maka titik B berposisi sebagai 0,0% dan titik A sebagai batas 100%.

    Sebaliknya, saat tren sedang menurun, maka titik A berposisi sebagai 0,0% dan titik B sebagai batas 100%.

    Fibonacci NVDA, Sumber: TradingView (2023)

    Seperti contoh pada grafik di atas titik terendah berada pada titik A dan titik tertinggi berada pada titik B. Titik B merupakan wilayah swing high yang menandakan sebelum penurunan.

    Dalam grafik tersebut terlihat jelas bahwa resistance berada pada titik C yang berada pada level fibonacci 61.8%.

    Kemudian, investor dapat menggunakan deret fibonacci lainnya untuk menentukan titik level support dan resistance selanjutnya pada harga saham.

    11.4 Memahami Teknik Analisis Fibonacci

    Teknik analisis Fibonacci tidak bisa digunakan secara terpisah. Saat seorang trader memilih saham, diperlukan kombinasi dengan indikator dan teknik analisis teknikal saham lainnya.

    Berikut beberapa teknik analisis Fibonacci yang perlu dipahami oleh trader pemula.

    11.4.1 Fibonacci Retracement

    Fibonacci retracement digunakan untuk menentukan area di mana harga saham bergerak.

    Beberapa titik menjadi level support dan resistance yang berpotensi memantul ketika mendekat. Untuk menggunakan teknik ini, pertama-tama buatlah gambar pola dengan menghubungkan titik terendah (swing low) ke titik tertinggi (swing high).

    Identifikasi swing high dan swing low. Swing high adalah titik tertinggi sebelum penurunan, sementara swing low adalah titik terendah sebelum kenaikan kembali.

    Level fibonacci retracement melibatkan beberapa rasio, seperti 0,0%, 23,6%, 38,2%, 50%, 61,8%, 78,6%, 100%. 

    Beberapa trader juga menambahkan 50 persen, meski bukan dari angka fibonacci.

    Patokan penting adalah golden ratio, yang dihasilkan dari pembagian angka fibonacci dengan  sebelumnya mendekati 1.618. 

    Jika pembagian angka fibonacci setelahnya dengan angka fibonacci sebelumnya menghasilkan angka mendekati 0.618, itu juga relevan.

    11.4.2 Fibonacci Expansion

    Fibonacci Expansion NVDA, Sumber: TradingView (2024)

    Fibonacci expansion berguna untuk menentukan kapan tren pergerakan harga saham akan berhenti sejenak. Teknik ini membantu trader mengidentifikasi titik harga yang tepat untuk mengambil keuntungan.

    11.4.3 Fibonacci Time

    Fibonacci Time Zone NVDA, Sumber: TradingView (2024)

    Fibonacci time melibatkan pembagian waktu dengan menggunakan garis imajiner vertikal yang membagi pergerakan saham ke dalam zona waktu berdasarkan rasio emas fibonacci.

    Hal ini membantu trader dalam memahami pola waktu dalam pergerakan harga saham.

    11.5 Kesimpulan

    Investasi di pasar saham memang memiliki risiko tinggi karena seringkali mengalami fluktuasi, namun setidaknya fibonacci retracement bisa digunakan sebagai panduan dalam merencanakan strategi trading saham.

    Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah ketika trader terlalu memusatkan perhatian pada waktu yang singkat dan mengabaikan tren jangka panjang. 

    Dalam menerapkan analisis fibonacci, sebaiknya investor juga menggunakan bantuan dari indikator teknikal lainnya.



    Sumber : pluang.com

  • 12. Cara Menggunakan Rasio Fibonacci dalam Trading

    12.1 Latar Belakang

    Dalam artikel sebelumnya, Sobat Cuan sudah dijelaskan tentang apa itu fibonacci, sejarah dan cara kerjanya. 

    Sementara di artikel ini akan menjelaskan bagaimana cara menggunakan rasio fibonacci saat trading

    Sebagai pengingat, rasio fibonacci adalah serangkaian angka  yang diperoleh dengan menjumlahkan dua angka sebelumnya. 

    Urutan pola tren fibonacci mengikuti deret sebagai berikut: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, dan seterusnya. 

    Pola angka ini dapat membantu menunjukkan area saham berada di level support atau resistance dari pergerakan harga saham.

    12.1.1 Sekilas tentang Fibonacci Retracement dan Fungsinya

    Fibonacci retracement merupakan salah satu indikator analisis teknikal yang populer di kalangan trader.

    Ini adalah indikator yang kerap digunakan trader untuk mengidentifikasi rentang pergerakan dan arah pembalikan harga terhadap tren pergerakan sebelumnya.

    Selain itu, indikator ini diigunakan untuk memprediksi level support dan resistance potensial dari harga suatu aset.

    12.2 Cara Menggunakan Fibonacci Retracement

    Cara menggunakan fibonacci retracement untuk menentukan level resistance pun tidak terlalu berbeda dengan cara menentukan level support.

    Bedanya adalah penentuan level resistance dilakukan dengan menghubungkan titik swing high ke swing low.

    Fibonacci retracement merupakan indikator yang bisa digunakan untuk beberapa aset keuangan tertentu, seperti kripto, saham, komoditas, dan pertukaran mata uang asing.

    Berikut langkah-langkah untuk menggunakan fibonacci retracement

    1. Pahami arah pergerakan pasar.
    2. Lihat harga tertinggi dan terendah dari pergerakan harga yang terjadi.
    3. Lakukan analisis.
    4. Tentukan posisi jual atau beli.

    12.2.1 Cara Menentukan Posisi Jual atau Beli

    Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan posisi jual atau beli dengan fibonacci retracement

    Pada pergerakan turun, fibonacci retracement dapat digambarkan dengan menarik garis dari harga tertinggi menuju harga terendah dari trend atau pergerakan harga.  

    Sementara, untuk pergerakan naik trader dapat melakukan hal yang sebaliknya. Kendati, metode ini tidak akan selalu sama antar trader

    Fibonacci NVDA Golder Ratio, Sumber: TradingVIew (2024)

    Ketika membuat gambar, titik pertama yang muncul adalah titik 100%, diikuti oleh titik 0%.

    Tampilan gambar akan tetap seperti itu kecuali jika analis mengubah pengaturan di kolom gaya di tradingview dan mencentang opsi reverse.

    Fibonacci NVDA, Sumber: TradingView (2024)

    Intinya, jika kita menggambarkan pergerakan naik dengan 0% di bagian bawah, maka wilayah di bawah 50% menjadi potensi turun, sementara di atas 50% menjadi potensi terus naik.

    Sebaliknya, jika 0% berada di bagian atas, maka wilayah angka fibonacci di bawah 50% menjadi potensi pergerakan naik, sementara di atas 50% menjadi potensi turun.

    12.3 Analisis Fibonacci

    Untuk melakukan analisis, akan digunakan contoh dengan metode atau rasio fibonacci di mana 0% berada di bawah saat menganalisis pergerakan naik.

    Analisis Fibonacci, Sumber: TradingView (2021)

    Dapat terlihat bahwa dalam contoh penggunaan bitcoin, harga naik dari awal Oktober 2020 hingga akhir Januari 2021 setelah melonjak secara signifikan.

    Melalui gambar tersebut, dapat diidentifikasi area yang potensial untuk melakukan pembelian dan juga area di mana sebaiknya mengambil keuntungan atau menutup kerugian.

    Untuk menetapkan target pengambilan keuntungan, analis dapat memanfaatkan fitur fibonacci extension. Namun, karena fibonacci extension tidak selalu terlihat, analis juga dapat melakukan perhitungan secara manual.

    Sebagai contoh, dengan menggunakan titik-titik yang telah disebutkan dan mengalikannya dengan 100%, target dapat ditentukan, misalnya pada level 161,8%.

    Dengan cara ini, analis dapat menetapkan target dengan merujuk pada harga pada level 100%, kemudian mengalikannya dengan 161,8%.

    Sementara itu, untuk menentukan area pembelian, analis dapat fokus pada level di atas 50% untuk mengantisipasi koreksi potensial ke arah tersebut.

    Terakhir, untuk menetapkan lokasi penutupan kerugian, analis dapat memanfaatkan level di bawah 50% untuk mengantisipasi kemungkinan pembalikan arah atau reversal.

    Analisis Fibonacci, Sumber: TradingView (2021)

    Sementara itu, dari contoh kedua, dapat dilihat jika diteruskan dan analis melakukan pembelian di atas area fibonacci 50%, analis mendapatkan keuntungan akibat targetnya sudah tercapai.

    Asal tahu saja, di teori fibonacci, 61,8% adalah area emas.

    Umumnya di daerah tersebut terjadi kelanjutan dari pergerakan awal saat menarik garis Fibonacci.

    Selain itu perlu diingat saat target sudah tercapai ada baiknya analisis dilakukan dari awal kembali sehingga pandangan dapat berubah sesuai kondisi pasar.

    Setelah memahami pergerakan tersebut, seharusnya trader dan analis mana pun sudah dapat menggunakan alat bantu ini dalam analisis.

    Sangat perlu diketahui bahwa Fibonacci Retracement dan Expansion tidak akan selalu benar karena ada faktor lain yang mempengaruhi pergerakan harga.

    Analisis ini harus disandingkan dengan analisis lainnya untuk memperkuat prediksi analis dan trader dalam melihat pergerakan harga.



    Sumber : pluang.com

  • 15. Mengenali dan Melakukan Trading dengan Pola Pembalikan

    15.1  Latar Belakang

    Pola pembalikan atau reversal pattern merupakan aspek fundamental dari analisis teknikal bagi para trader. 

    Pola-pola ini memberikan wawasan penting tentang potensi perubahan tren dan memainkan peran vital dalam strategi trading yang sukses. 

    Sobat Cuan perlu memahami pola pembalikan penting untuk mengidentifikasi titik masuk dan keluar serta memaksimalkan potensi keuntungan.

    Dalam panduan komprehensif ini, kita akan menjelajahi berbagai jenis pola pembalikan, karakteristiknya, dan bagaimana memanfaatkannya secara efektif dalam strategi trading Anda.

    Dalam artikel ini, Sobat Cuan akan memahami soal pola pembalikan, berbagai pola candlestick dan pola grafik yang umumnya dihadapi oleh para trader

    15.1.1 Sekilas tentang Pola Pembalikan

    Pola pembalikan memainkan peran penting dalam analisis teknikal bagi para trader. 

    Pola-pola ini menunjukkan potensi perubahan arah harga suatu aset, menyoroti pergeseran dari tren naik ke tren turun atau sebaliknya. Memahami dan mengenali pola-pola ini merupakan keterampilan penting untuk trading yang sukses.

    Ada beberapa jenis pola grafik pembalikan yang umumnya dikenal oleh para trader

    Pertama, pola head and shoulders, yang terdiri dari puncak (head) dan dua puncak kecil (shoulders), menandakan potensi pembalikan tren. 

    Kedua, double top, yang ditandai dengan dua puncak berturut-turut pada level harga yang serupa, mengindikasikan kemungkinan pembalikan dari tren naik ke tren turun.

     

    Ketiga, rounding bottom yang merupakan pola melengkung yang menunjukkan pergeseran dari tren turun ke tren naik.

    Keempat, pola cup and handle adalah pola pembalikan lainnya yang perlu diperhatikan. Ini menyerupai bentuk cangkir yang diikuti oleh konsolidasi lebih kecil (handle), menandakan potensi pembalikan tren. 

    Terakhir, pola triple bottom terdiri dari tiga dasar berturut-turut pada level harga yang serupa, mengindikasikan potensi pembalikan dari tren turun ke tren naik.

    15.2 Mengenal Lebih Dekat dengan Pola Pembalikan dan Jenisnya

    15.2.1 Apa Itu Pola Pembalikan? 

    Pola Grafik Pembalikan atau Reversal Pattern adalah formasi grafik yang menunjukkan bahwa tren yang sedang berlangsung akan segera berubah arah. 

    Jika pola grafik pembalikan terbentuk selama tren naik, itu mengindikasikan bahwa tren akan berbalik dan harga akan segera turun. 

    Sebaliknya, jika pola grafik pembalikan terlihat selama tren turun, itu menunjukkan bahwa harga akan naik kemudian.

    15.2.2 Jenis-jenis Pola Pembalikan 

    15.2.2.1 Double Top

    Double top adalah pola pembalikan yang terbentuk setelah terjadi pergerakan naik yang panjang. “Top” adalah puncak yang terbentuk ketika harga mencapai suatu level yang tidak dapat ditembus. 

    Setelah mencapai level ini, harga akan sedikit memantul, tetapi kemudian kembali untuk menguji level tersebut lagi.

    15.2.2.2 Double Bottom

    Pola pembalikan Double Bottom adalah pola pembalikan bullish yang biasanya ditemukan pada grafik batang, grafik garis, dan grafik lilin. Pola ini mirip pola double top yang dibalik.

    Sesuai namanya, pola ini terdiri dari dua dasar berturut-turut yang kira-kira sama, dengan puncak moderat di antaranya.

    15.2.2.3 Head and Shoulders

    Pada grafik analisis teknikal, formasi Head and Shoulders terjadi ketika suatu tren pasar berada dalam proses pembalikan, baik dari tren bullish atau bearish, suatu pola khas terbentuk dan diakui sebagai pola pembalikan.

    15.2.2.4 Inverted Head and Shoulders

    Pola Inverted Head and Shoulders merupakan pola dari head and shoulders biasa yang dibalik, berfungsi sebagai sinyal pembalikan yang menandakan akhir dari tren turun.

    Seiring harga bergerak turun, mencapai titik rendah, lalu mengalami kenaikan. Harga kemudian turun ke titik lebih rendah dan kembali naik.

    15.2.2.5 Rising Wedge

    Pola Rising Wedge adalah pola bearish yang dimulai dengan lebar di bagian bawah dan menyempit ketika harga bergerak lebih tinggi dan rentang perdagangan menyempit. Berbeda dengan segitiga simetris, yang tidak memiliki kemiringan definitif dan tidak memiliki kecenderungan bullish atau bearish, rising wedges pasti miring ke atas dan memiliki kecenderungan bearish.

    15.2.2.6 Falling Wedge

    Pola Falling Wedge ditandai dengan pola grafik yang terbentuk ketika pasar membuat harga puncak lebih rendah dari harga puncak sebelumnya dan puncak lebih rendah berikutnya membentuk rentang yang menyempit.

    Pola Falling Wedge umumnya ditemukan pada tren bullish dan awalnya terlihat seperti sebuah reversal yang menjadikan sebuh tren bearish, padahal kondisi bearish ini hanya untuk sesaat dan harga saham siap untuk naik lagi.

    15.2.2.7 Pola Hammer dan Inverted Hammer

    Pola hammer dan inverted hammer adalah pola pembalikan bullish yang menunjukkan potensi pembalikan tren dari tren turun ke tren naik.

    Pola ini terdiri dari tubuh kecil dengan bayangan bawah/atas yang panjang, menyerupai palu. 

    Keberadaan pola hammer menunjukkan bahwa pembeli telah memasuki pasar dan mendorong harga lebih tinggi, yang mungkin menjadi sinyal pergeseran momentum.

    15.2.2.8 Pola Candle Engulfing

    Pola candle engulfing ditandai oleh candle yang lebih besar yang sepenuhnya melibas candle sebelumnya.

    Hal ini menandakan pembalikan dari tren yang sedang berlangsung. Pola bullish engulfing terjadi ketika candle kecil bearish diikuti oleh candle bullish yang lebih besar, mengindikasikan potensi tren naik. 

    Di sisi lain, pola bearish engulfing terjadi ketika candle kecil bullish diikuti oleh candle bearish yang lebih besar, menunjukkan potensi tren turun.

    15.2.2.9 Pola Doji

    Pola doji terbentuk ketika harga pembukaan dan penutupan lilin sangat dekat atau identik, menghasilkan tubuh kecil atau tidak ada tubuh. 

    Ini mencerminkan ketidakpastian di pasar dan dapat menunjukkan potensi pembalikan tren. Pola doji menyarankan bahwa pembeli dan penjual seimbang dan bahwa pergeseran momentum mungkin akan segera terjadi.

    15.2.2.10 Pola Evening Star

    Pola evening star adalah pola pembalikan bearish yang terdiri dari tiga lilin. Dimulai dengan candle bullish besar, diikuti oleh candle kecil dengan celah naik atau turun, dan diakhiri dengan candle bearish besar. 

    Pola ini mengindikasikan potensi pembalikan dari tren naik ke tren turun dan dapat berfungsi sebagai tanda peringatan bagi para trader.

    15.2.2.11 Pola Dark Cloud Cover dan Pola Piercing Line

    Pola dark cloud cover adalah pola pembalikan bearish yang terjadi ketika candle bullish diikuti oleh candle bearish yang dibuka di atas penutupan sebelumnya dan ditutup di bawah titik tengah candle bullish sebelumnya. 

    Pola ini menunjukkan potensi pembalikan dari tren naik ke tren turun dan sebaiknya didekati dengan hati-hati.

    Berbeda dengan dark cloud, pola piercing line adalah pola pembalikan bullish yang terjadi ketika candle bearish diikuti oleh candle bullish yang dibuka di bawah penutupan sebelumnya dan ditutup di atas titik tengah candle bearish sebelumnya. 

    Pola ini mengindikasikan potensi pembalikan dari tren turun ke tren naik dan dapat memberikan kesempatan bagi para trader untuk masuk posisi panjang.

    Dengan mengenali dan memahami pola lilin pembalikan ini, trader dapat mendapatkan wawasan berharga tentang potensi pembalikan tren. 

    Penting untuk dicatat bahwa pola-pola ini sebaiknya digunakan bersama dengan alat analisis teknikal dan indikator lainnya untuk mengonfirmasi sinyal dan meningkatkan akurasi keputusan trading. 

    15.3 Mengoptimalkan Pola Pembalikan dalam Strategi Trading 

    Dalam merancang strategi trading yang berhasil, penggunaan pola pembalikan dapat memegang peran yang sangat penting dalam meningkatkan proses pengambilan keputusan. 

    Pola-pola ini memberikan wawasan kunci terkait potensi pembalikan tren, memungkinkan Sobat Cuan untuk mengelola waktu titik masuk dan keluar dengan lebih efektif.

    Meskipun demikian, penting untuk memahami kesalahpahaman umum terkait pola pembalikan dan risiko penafsiran yang tidak tepat. Waktu memiliki peran krusial dalam memanfaatkan pola pembalikan dalam strategi trading.

    Dengan mengidentifikasi pola-pola ini sejak dini dan menunggu konfirmasi, Sobat Cuan dapat melakukan transaksi pada harga yang lebih menguntungkan, meningkatkan rasio risiko-reward, serta mengoptimalkan potensi keuntungan. 

    Kombinasi pola pembalikan dengan indikator teknikal dan teknik analisis lainnya menjadi penting untuk meningkatkan akurasi timing.

    Salah satu kesalahpahaman umum terkait pola pembalikan adalah keyakinan bahwa selalu menjamin pembalikan tren.

    Meskipun pola-pola ini mengindikasikan potensi perubahan arah harga, namun mereka tidak selalu dapat diandalkan secara mutlak. Adanya sinyal palsu bisa terjadi, sehingga manajemen risiko yang baik menjadi kunci. 

    Oleh karena itu, penting untuk bersikap hati-hati dan memasukkan pola pembalikan ke dalam strategi trading yang komprehensif.



    Sumber : pluang.com

  • 17. Analisis Volume: Penjelasan & Strategi Indikator

    17.1 Latar Belakang

    Analisis volume adalah cara untuk memahami pergerakan harga sebuah aset dengan melihat jumlah transaksi yang terjadi dalam periode tertentu. 

    Volume dalam pasar saham adalah jumlah terjadinya transaksi jual dan beli dalam jangka waktu tertentu, yang biasanya dihitung per hari.

    Para analis teknikal menggunakan analisis volume sebagai salah satu faktor penentu kesuksesan dalam mengambil keputusan trading. 

    Dengan menganalisis tren volume bersamaan dengan perubahan harga, investor bisa menentukan seberapa penting perubahan harga tersebut.

    Dalam tulisan ini, Sobat Cuan akan memahami poin-poin penting terkait analisis volume. 

    17.2 Cara Membaca Volume Transaksi

    Setiap kali terjadi transaksi antara pembeli dan penjual, itu akan memengaruhi jumlah total volume perdagangan saham yang tercatat di kolom bid dan offer.

    Cara membacanya cukup sederhana. Setiap kali ada satu transaksi, pembeli setuju untuk membeli saham yang ditawarkan oleh penjual dengan harga tertentu.

    Misalnya, Anda memutuskan untuk membeli 100 saham NVDA di harga 694, dan X memutuskan untuk menjual 100 saham NVDA di harga 694. 

    Kecocokan harga dan kuantitas seperti di atas menghasilkan apa yang kita sebut sebagai transaksi perdagangan. Anda dan X bersama-sama telah menciptakan volume 100 saham. Banyak orang cenderung menganggap jumlah volume adalah 200 (100 beli + 100 jual), yang bukan merupakan cara yang tepat untuk melihat volume.

    Contoh berikut ini akan membantu Anda memahami bagaimana volume bertambah pada hari perdagangan biasa:

    Time Buy Quantity Sell Quantity Price Volume Cumulative Volume
    9.30 AM 1000 1000 719 1000 1000
    10.00 AM 600 600 710 600 1600
    10.30 AM 800 800 700 800 2400
    11.00 AM 2000 2000 695 2000 4400
    11.30 AM 300 300 700 300 4700
    12.00 PM 900 900 704 900 5600
    13.00 PM 1000 1000 700 1000 6600
    13.30 PM 3000 3000 690 3000 9600
    14.00 PM 250 250 680 250 9850
    14.30 PM 1250 1250 681 1250 11100

    Pada pukul 9:30 pagi, ada 1000 saham yang diperdagangkan pada harga 719. 30 menit kemudian, 600 saham diperdagangkan pada harga 710. Jika Anda memeriksa volume total untuk hari itu, jumlahnya adalah 1600 (1000 + 600). Demikian juga, 800 saham pada harga 700 diperdagangkan pada pukul 11:30, dan hingga pukul 11:30, volumenya adalah 2400 (1000 + 600 + 800). Begitu seterusnya.

    Bursa pasar akan memantau dan menyediakan data volume perdagangan ini, yang dapat diakses secara gratis atau dengan biaya berlangganan.

    17.2.1 Pentingnya Melakukan Analisis Volume

    Analisis volume melibatkan pemeriksaan perubahan relatif atau absolut volume trading aset untuk memperkirakan pergerakan harga di masa depan. Kebanyakan analis menggunakan volume sebagai cara untuk konfirmasi tren pasar, pertanda mulainya tren bullish, reversal, perubahan tren di pasar, maupun likuiditas.

    Informasi volume itu sendiri tidak terlalu berguna. Sebagai contoh, kita tahu bahwa volume transaksi pada saham NVDA adalah 69,432,802 saham. Jadi, seberapa bergunakah informasi ini jika dibaca secara terpisah? Jika Anda memikirkannya, informasi ini tidak ada manfaatnya dan oleh karena itu sebenarnya informasi mengenai volume tidak berarti apa-apa. Namun, ketika Anda mengaitkan informasi volume hari ini dengan tren harga dan volume sebelumnya, informasi volume menjadi lebih bermakna.

    Pada tabel di bawah ini, Anda akan menemukan ringkasan tentang cara menggunakan volume:

    Harga Saham Volume Ekspektasi Pasar
    Naik Naik Bullish
    Naik Turun Caution – weak hands buying
    Turun Naik Bearish
    Turun Turun Caution – weak hands selling

    *weak hands buying/selling = mengacu pada situasi di mana investor yang mudah dipengaruhi oleh fluktuasi pasar jangka pendek untuk membeli/menjual saham. Kebanyakan dari investor ini tidak memiliki dasar yang kuat mengenai saham yang mereka perjual-belikan.

    Pada baris pertama, dapat dilihat bahwa naiknya harga dengan volume yang meningkat biasanya dilihat sebagai tren yang kuat dan sehat.

    Namun, sebelum kita memahami tabel di atas secara mendetail, pikirkanlah hal ini – kita sedang membahas mengenai ‘peningkatan volume’. Apa yang dimaksud dengan hal ini sebenarnya? Apa titik acuannya?  Apakah ini merupakan peningkatan dari jumlah volume hari sebelumnya atau volume agregat minggu sebelumnya?

    Dalam praktiknya, trader biasanya membandingkan volume hari ini dengan rata-rata volume 10 hari terakhir. Secara umum, aturan praktisnya adalah sebagai berikut:

    1. Volume Tinggi = Volume hari ini > Volume rata-rata 10 hari terakhir

    2. Volume Rendah = Volume hari ini < Volume rata-rata 10 hari terakhir

    3. Volume Rata-rata = Volume hari ini = Volume rata-rata 10 hari terakhir

    Untuk mendapatkan rata-rata 10 hari terakhir, yang perlu Anda lakukan adalah menggambar garis moving average pada bar volume, dan pekerjaan selesai. Tentu saja, anda dapat melihat penjelasan mengenai moving average  pada bab 6. Moving Average: Penjelasan dan Penggunaannya.

    Volume NVDA, Sumber: TradingView (2024)

    Pada grafik di atas, Anda dapat melihat bahwa volume diwakili oleh bar chart (di bagian bawah candlestick). Warna merah dan hijau mengikuti warna pada candlestick di atasnya, warna hijau merepresentasikan turunnya harga, dan warna merah merepresentasikan naiknya harga. Garis biru yang berada di atas grafik volume menunjukkan volume rata-rata 10 hari. Seperti yang Anda perhatikan, semua grafik volume yang berada di atas dan di atas rata-rata 10 hari dapat dianggap sebagai peningkatan volume di mana beberapa aktivitas institusional (atau partisipasi besar) telah terjadi.

    Dengan kata lain, analisis volume membantu investor untuk memahami apakah perubahan harga didukung oleh banyak pedagang (volume tinggi) atau hanya segelintir orang (volume rendah). 

    Volume yang tinggi menunjukkan bahwa perubahan harga lebih mungkin bertahan, sedangkan volume yang rendah bisa menandakan bahwa tren itu tidak memiliki banyak dukungan dan mungkin berbalik arah.

    17.3 Logika di Balik Penggunaan Volume

    Ketika investor institusional melakukan transaksi di pasar, mereka biasanya melakukannya dalam jumlah besar. Ambil contoh The Vanguard Group, Inc., salah satu investor institusional terbesar di Amerika Serikat.

    Jika mereka membeli saham NVDA, mereka tidak akan hanya membeli 500 lembar saham; mereka mungkin akan membeli 500.000 saham atau lebih. Pembelian sebesar itu akan berdampak signifikan pada volume perdagangan dan sering kali menaikkan harga saham. Investor institusional sering dipandang sebagai ‘smart money/uang pintar’ karena kemampuan mereka untuk membuat pergerakan pasar yang terinformasi. Oleh karena itu, mengikuti aktivitas mereka dapat menjadi strategi yang bijak.

    Ketika harga saham dan volume perdagangan meningkat, ini menandakan bahwa pemain besar tertarik pada saham tersebut. Dengan asumsi bahwa smart money cenderung membuat keputusan yang cerdas, hal ini akan menciptakan ekspektasi bullish, sehingga berpotensi menjadi saat yang tepat untuk mempertimbangkan membeli saham.

    Sebaliknya, saat membeli saham, Anda disarankan untuk memastikan bahwa volume perdagangan cukup besar. Ini mengindikasikan bahwa Anda berdagang bersama investor institusional, atau ‘smart money‘.

    Jika anda masih ingat baris pertama dari tabel sebelumnya, inilah alasan dibalik peningkatan harga dan volume yang mengindikasikan sebuah tren bullish yang kuat.

    Menurut Anda, apa yang terjadi jika harga naik tetapi volume menurun, seperti yang ditunjukkan pada baris ke-2 tabel sebelumnya?

    Pertimbangkan hal berikut:

    Karena pelaku pasar sedang banyak membeli.

    • Apakah ada pembeli institusional yang terkait dengan kenaikan harga?

    Kemungkinan besar tidak.

    • Bagaimana Anda tahu bahwa tidak ada transaksi (beli) yang berarti oleh investor institusional?

    Jika mereka membeli, maka volumenya akan meningkat dan tidak menurun.

    • Jadi, apa yang diindikasikan oleh kenaikan harga yang dikaitkan dengan penurunan volume?

    Itu berarti harga naik karena partisipasi ritel yang kecil dan bukan pembelian institusional yang signifikan. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati karena ini bisa menjadi bull trap.

    Selanjutnya, baris ke-3 mengindikasikan bahwa penurunan harga yang disertai dengan peningkatan volume menunjukkan ekspektasi bearish. Mengapa Anda berpikir demikian?

    Penurunan harga mengindikasikan bahwa para pelaku pasar sedang menjual saham. Peningkatan volume menunjukkan adanya transaksi dari smart money.

    Kedua peristiwa yang terjadi bersamaan (penurunan harga + peningkatan volume) mengimplikasikan bahwa smart money sedang menjual saham.

    Mengikuti asumsi bahwa smart money selalu membuat pilihan yang bijak, maka ekspektasinya adalah bearish, dan oleh karena itu, kita harus mempertimbangkan peluang penjualan saham.

    Atau, saat memutuskan untuk menjual, pastikan volumenya cukup besar. Ini berarti Anda juga ikut menjual bersama para smart money.



    Sumber : pluang.com

  • 19. Keterbatasan dan Kritik terhadap Analisis Teknikal

    13.1 Latar Belakang

    Analisis teknikal adalah pendekatan untuk memahami pergerakan harga di pasar keuangan. Asumsi dasarnya mencakup ide bahwa pasar mencerminkan semua informasi, harga bergerak dalam tren, dan sejarah memiliki kecenderungan untuk berulang. Seringkali analisis fundamental lebih andal dalam memprediksi aliran informasi dan hasil. Kombinasi analisis teknikal dan fundamental dalam investasi seringkali dilakukan di kalangan trader untuk analisis yang lebih holistik dan informatif.

    13.2 Definisi Analisis Teknikal

    Analisis teknikal adalah analisis pergerakan harga di pasar atau instrumen tertentu selama periode waktu tertentu, yang dapat berkisar dari jangka pendek hingga jangka panjang, untuk mengungkapkan tren harga.

    Sentimen dan perilaku investor menentukan harga ditetapkan pada titik pertemuan permintaan dan penawaran pada setiap waktu tertentu.

    Untuk melakukan analisis ini, seseorang tidak perlu mengetahui instrumen atau pasar secara mendalam. Meski demikian, investor membutuhkan data dari instrumen atau pasar yang diperdagangkan secara bebas. 

    Hal ini karena pergerakan harga mencerminkan perilaku investor dan dapat mengungkapkan waktu terbaik untuk membeli atau menjual bagi investor. 

    13.2.1 Indikator dalam Analisis Teknikal

    Sebelum melakukan analisis teknikal, investor harus fokus pada beberapa indikator, yaitu tren harga, osilator, moving averages, dan pola grafik. 

    Selain itu, indikator lain yang harus diperhatikan yaitu indikator momentum dan volume, serta resistance dan support level

    Dampak dari supply dan demand terhadap perubahan harga, volume, dan implied volatility diperiksa menggunakan indikator-indikator analisis teknikal. 

    Analisis ini beroperasi dengan asumsi ketika dikombinasikan dengan aturan investasi atau perdagangan yang sesuai, aktivitas perdagangan historis dan perubahan harga sekuritas dapat berfungsi sebagai prediktor dari pergerakan harga sekuritas di masa depan.

    13.2.2 Asumsi Analisis Teknikal

    Teori analisis tersebut didasarkan pada tiga asumsi berikut:

    13.2.2.1 Pasar mencerminkan semua informasi: 

    Analis percaya bahwa dampak dari semua faktor, mulai dari fundamental hingga psikologi pasar yang lebih luas sudah dimasukkan ke dalam harga saham.

    13.2.2.2 Harga bergerak dalam tren:

    Menurut analis, harga akan menunjukkan tren bahkan dalam pergerakan pasar yang tidak seragam dan ini tidak tergantung pada time frame yang digunakan.

    13.2.2.3 Sejarah berulang:

    Menurut analis teknis, sejarah kemungkinan besar akan terulang. Hal ini dikaitkan dengan psikologi pasar yang biasanya dapat diprediksi yang mempengaruhi harga secara berulang.

    13.3 Kritik pada Analisis Teknikal

    Banyak kritik yang menyatakan bahwa asumsi analisis tersebut tidak selalu akurat karena sejarah tidak selalu berulang dengan sendirinya. Studi pola harga dianggap tidak berguna karena sejarah tidak selalu mengikuti pola yang sama. 

    Kritik lain mencakup pandangan bahwa analisis itu hanya efektif dalam beberapa kasus dan sering kali terpenuhi karena ramalan yang terjadi secara kebetulan.

    Selain itu, analisis ini terbatas pada pemahaman tren pasar dan kurang mampu menyelidiki instrumen atau industri secara mendalam. Keberhasilannya tergantung pada pergerakan pasar tertentu, lebih tepatnya saat pasar mulai bergerak dalam suatu arah.

    Analisis teknikal cenderung tidak dapat memprediksi hasil yang lebih luas dan kompleks. Keterbatasannya dalam memahami instrumen dan industri secara mendalam dapat membuat analisis fundamental lebih relevan dalam meramalkan aliran informasi dan hasil.

    Dalam menghadapi kompleksitas pasar, menggabungkan analisis tersebut dengan analisis fundamental dapat menjadi pendekatan yang lebih holistik dan informatif.

    13.4 Kesimpulan

    Secara umum, analisis teknikal dan fundamental memiliki kelebihan dan kekurangan. Trader harus menilai toleransi risiko dan jangka waktu investasi mereka.

    1. Investor jangka panjang biasanya menggunakan analisis fundamental untuk mengevaluasi harga perusahaan saat ini terhadap nilai intrinsiknya. 
    2. Di sisi lain, investor dan trader jangka pendek sering kali lebih menyukai analisis teknikal untuk mengeksploitasi pergerakan harga jangka pendek.

    Menggabungkan kedua analisis itu bisa sangat menguntungkan dalam strategi investasi Anda.



    Sumber : pluang.com

  • 1. Limit Order – Cara Menggunakan Limit Order di Aplikasi Pluang

    Hi Sobat Cuan! Capek harus memantau setiap pergerakan harga? Suka deg-degan deg-degan tiap liat market kripto nggak karuan? Untungnya, Pluang telah mengadakan Limit Order untuk menolong kamu dengan hal tersebut! Simak selengkapnya untuk memahami cara menggunakan Limit Order di aplikasi Pluang!

    1.1 Mengenal Limit Order di Aplikasi Pluang

    Limit Order adalah salah satu tipe Advanced Order yang pengguna bisa manfaatkan pada saat trading Kripto maupun Saham AS. Berlaku buat pesanan beli maupun jual, dengan Limit Order pengguna bisa menentukan harga maksimum yang mereka bersedia untuk bayar pada saat pembelian aset kripto atau harga minimum yang pengguna bersedia untuk diterima saat menjual aset kripto atau Saham AS mereka; harga ini dikenal sebagai Limit Price.

    Catatan: Ilustrasi pembelian dan penjualan aset kripto dengan menggunakan Limit Order

    Apa saja yang perlu ditentukan pada saat membuat Limit Order? Untuk sebuah Limit Order ada beberapa hal penting yang pengguna perlu menentukan pada saat membuat ordernya di aplikasi Pluang:

    • Limit Price: harga maksimum yang pengguna bersedia untuk bayar untuk pemesanan beli atau harga minimum yang pengguna bersedia untuk menerima untuk pemesanan jual.
    • Jumlah pembelian/penjualan: kuantitas aset yang ingin dibeli atau dijual secara nilai Rupiah atau per unit aset.

    Selain itu, ada beberapa hal yang Sobat Cuan perlu diperhatikan mengenai Limit Order:

    Limit Order untuk Kripto:

    • Kamu dapat menetapkan Limit Price di maksimal 50% lebih rendah dari harga pasar saat ini untuk pemesanan beli atau maksimal 50% lebih tinggi untuk pemesanan jual.
    • Untuk menempatkan Limit Order, nilai pesanan harus seminimalnya Rp10.000. Untuk nilai maksimal, bisa ditemukan di halaman Biaya Dan Batas Transaksi Kripto.
    • Limit Order yang terbuat akan berlaku selama 90 hari.

    Limit Order untuk Saham AS:

    • Untuk menempatkan Limit Order, nilai pesanan harus seminimalnya 1 unit saham dan tidak ada batas maximum.
    • Kamu perlu menentukan jam trading dimana kamu ingin ordernya di eksekusikan. Ada dua pilihan untuk hal ini:
      • Hanya Jam Reguler: dimana order hanya akan tereksekusi di dalam jam perdagangan biasa saja
      • Termasuk Jam Pre-Market: dimana order bisa tereksekusi di dalam jam perdagangan biasa atau jam Pre-Market
    • Kamu perlu menentukan masa berlaku order limit yang terpasang. Ada dua opsi:
      • Day: dimana order akan berlaku selama 1 hari perdagangan
      • GTC (Good Till Canceled): dimana order akan aktif untuk 30 hari hingga order tersebut tereksekusi atau kamu batalkan.

    1.2 Cara Membuat Limit Order di Aplikasi Pluang

    Untuk Kripto, Sobat Cuan bisa simak video ini untuk memahami cara membuat pesanan Limit Order:

    Catatan: Aplikasi dalam video menggunakan tampilan yang lama

    Untuk Saham AS, Sobat Cuan bisa simak artikel Bagaimana cara membeli Saham AS di Pluang ini untuk memahami cara membuat pesanan Limit Order 

    1.3 Skenario seperti apa yang tetap untuk memanfaatkan Limit Order? 

    Untuk skenario beli, Limit Order bisa dimanfaatkan untuk menambah kendali pada aset saat entry ke sebuah trade sehingga harga beli aset tersebut sesuai preferensi, strategi dan toleransi risiko Kamu.

    Sebagai contoh, Sobat Cuan sebagai trader ingin membeli Bitcoin (BTC) dan pada saat ini harga pasar koin tersebut Rp650.000.000 per unit. Hasil dari analisa kamu menunjukkan bahwa secara makro dan jangka waktu panjang, BTC berpotensi untuk terus menaik. Sesuai dengan strategi dan toleransi risiko kamu, kamu hanya ingin membeli koin BTC jika harga pasar menurun ke Rp648.000.000 per unit. Dengan Limit Order, kamu bisa membuat pesanan Buy Limit Order dan menentukan Limit Price di Rp648.000.000. Dengan ini, pesanan kamu hanya akan tereksekusi jika harga pasar menurun ke harga Rp648.000.000. Sehingga, Sobat Cuan dapat mengoptimalkan entry kamu sesuai strategi trading kamu dengan menggunakan Limit Order.

    Selain dari skenario beli, Sell Limit Order bisa di tempatkan untuk melindungi keuntungan dari posisi yang masih terbuka.

    Sebagai contoh, Sobat Cuan sebagai trader memiliki Bitcoin (BTC) yang kamu beli pada saat harga pasar Rp620.000.000 per unit. Dalam mengantisipasi kenaikan harga, kamu ingin mengamankan keuntungan trade tersebut apabila harga pasar naik ke Rp649.000.000 per unit. Dengan Limit Order, kamu bisa membuat pesanan Sell Limit Order dengan Limit Price di Rp649.000.000. Maka, pesanan jual kamu hanya akan tereksekusi jika harga pasar naik ke harga Rp649.000.000. Sesuai contoh, Sobat Cuan dapat mengoptimalkan take profit strategi kamu.

    Cara penggunaan Limit Order yang kita bahas diatas dapat diaplikasikan ke strategi Sobat Cuan saat trading Kripto maupun Saham AS. Sesuai contoh-contoh ini, Limit Order dapat dimanfaatkan untuk menambah kendali pada saat membuat pesanan beli maupun jual melalui penentuan harga beli maupun jual yang sesuai dengan strategi dan toleransi risiko kamu. Untuk informasi dan pertanyaan lebih lanjut, kamu dapat menghubungi layanan 24 jam Pluang Care melalui menu live-chat, email di tanya@pluang.com atau hotline di (021) 8063 0065 pada hari Senin s/d Jumat pukul 09.00 – 18.00 WIB. Kamu juga bisa menyimak tanya jawab umum mengenai fitur Crypto Advanced Orders di halaman Pertanyaan Umum Tentang Crypto Advanced Order dan menyimak artikel Bagaimana cara membeli Saham AS di Pluang untuk informasi lebih lanjut mengenai Saham AS

    Baca juga:



    Sumber : pluang.com

  • 2. Stop Order – Cara Menggunakan Stop Order di Aplikasi Pluang

    Hi Sobat Cuan! Suka ketinggalan momentum kalau trading kripto? Merasa kesusahan untuk membatasi kerugian di pasar yang volatile? Tenang saja, Pluang merilis Stop Orders buat mengatasi itu semua. Simak selengkapnya untuk memahami cara menggunakan Stop Order di aplikasi Pluang!

    2.1 Mengenal Stop Order di Aplikasi Pluang

    Stop Order adalah salah satu tipe Advanced Order yang pengguna bisa dimanfaatkan pada saat trading Kripto maupun Saham AS. Berlaku buat pesanan beli maupun jual, pengguna bisa memicu transaksi beli ataupun jual jika harga pasar aset mencapai harga titik tertentu, yang dikenal sebagai “Stop Price”. 

     

    Catatan: Ilustrasi pembelian dan penjualan aset kripto dengan menggunakan Stop Order

    Apa saja yang perlu ditentukan pada saat membuat Stop Order? Untuk Stop Order ada dua hal penting yang pengguna perlu menentukan pada saat membuat ordernya di aplikasi Pluang:

    • Stop Price: harga yang ditentukan oleh pengguna dimana pesanan hanya akan tereksekusi jika harga pasar mencapai atau melampaui Stop Price ini.
    • Jumlah pembelian/penjualan: kuantitas aset yang ingin dibeli atau dijual secara nilai Rupiah atau unit aset.

    Selain itu, ada beberapa hal yang Sobat Cuan perlu diperhatikan mengenai Stop Order

    Stop Order untuk Kripto:

    • Untuk menempatkan Stop Order, nilai pesanan harus seminimalnya R10.000. Untuk nilai maksimal, bisa ditemukan di halaman Biaya Dan Batas Transaksi Kripto.
    • Setiap Stop Order ada risiko Slippage. Risiko slippage, adalah potensi perbedaan antara Stop Price yang ditentukan penggunaan dan harga eksekusi sebenarnya.
    • Stop Order yang terpasang akan berlaku selama 90 hari.

    Stop Order untuk Saham AS:

    • Untuk menempatkan Limit Order, nilai pesanan harus seminimalnya 1 unit saham dan tidak ada batas maximum.
    • Kamu perlu menentukan jam trading dimana kamu ingin ordernya di eksekusikan. Ada dua pilihan untuk hal ini:
      • Hanya Jam Reguler: dimana order kamu hanya akan tereksekusi di dalam jam perdagangan saja
      • Termasuk Jam Pre-Market: dimana order kamu bisa tereksekusi di dalam jam perdagangan biasa atau jam Pre-Market
    • Kamu perlu menentukan masa berlaku order limit yang terpasang. Ada dua opsi:
      • Day: dimana order akan berlaku selama 1 hari perdagangan
      • GTC (Good Till Canceled): dimana order akan aktif untuk 30 hari hingga order tersebut tereksekusi atau kamu batalkan.

    2.2 Cara Membuat Stop Order di Aplikasi Pluang

    Untuk Kripto, Sobat Cuan bisa simak video ini untuk memahami cara membuat pesanan Stop Order

    Catatan: Aplikasi dalam video menggunakan tampilan yang lama

    Untuk Saham AS, Sobat Cuan bisa simak artikel Bagaimana cara membeli Saham AS di Pluang ini untuk memahami cara membuat pesanan Stop Order 

    2.3 Skenario seperti apa yang tetap untuk memanfaatkan Stop Order?

    Untuk skenario beli, Stop Order bisa dimanfaatkan untuk memicu entry kepada sebuah trade dimana, misalnya, investor mengantisipasi keuntungan dari perubahan harga.

    Sebagai contoh, Sobat Cuan sebagai trader sedang memantau kripto Ethereum (ETH) dan pada saat ini, harga pasar koin tersebut berada di sekitar Rp45.000.000 per unit. Sesuai analisa, Kamu mengantisipasikan harga ETH akan melewati resistance level ini. Oleh kerana itu, Kamu ingin masuk ke pasar untuk menangkap potensi pergerakan naik yang didorong oleh momentum. Untuk melaksanakan strategi ini, Kamu bisa membuat Buy Stop Order dan menentukan Stop Price sedikit di atas resistance level, misalnya pada harga Rp47.000.000. Dengan konfigurasi ini, pesanan beli akan tereksekusi pada saat harga pasar mencapai atau melewati Stop Price Rp47.000.000. Jika harga tidak mencapai Rp47.000.000, pesanan beli kamu tidak akan dieksekusi dan jika harga pasar tidak mencapai Stop Price yang telah ditentukan sehingga 90 hari*, maka ordermu akan menjadi kadaluarsa.

    *Catatan: Untuk Kripto Stop Order, pesanan akan berlaku untuk 90 hari. Untuk Stop Order di Saham AS, ordermu akan kadaluarsa sesuai dengan masa berlaku yang kamu tentukan pada saat membuat Stop Ordernya

    Selain dari skenario pembelian, Stop Order bisa ditempatkan untuk membatasi kerugian dari sebuah trade jika pasar sedang menurun.

    Sebagai contoh, Sobat Cuan sebagai trader memiliki kripto Ethereum (ETH) yang kamu beli pada saat harga pasar Rp48.000.000 per koin. Dalam mengantisipasi potensi untuk penurunan pasar, Kamu ingin membuat order Sell Stop Order untuk membatasi kerugian dari trade yang sedang berlaku. Sesuai strategi dan toleransi risiko kamu, kamu ingin memicu pesanan untuk jual ETH jika harga menurun ke Rp46.500.000 atau lebih rendah. Untuk mengatasi ini, Kamu bisa membuat Sell Stop Order dengan Stop Price seharga Rp46.500.000dimana jika harga pasar menurun ke Rp46.500.000 atau lebih rendah, ini akan memicu pesanan jual sehingga membantu kamu meminimalkan kerugian.

    Cara penggunaan Stop Order yang kita bahas diatas dapat diaplikasikan ke strategi Sobat Cuan saat trading Kripto maupun Saham AS. Sesuai contoh-contoh ini, Stop Order bisa dimanfaatkan untuk memicu transaksi beli maupun jual jika harga pasar sebuah aset mencapai awat melewat level tertentu. Untuk informasi dan pertanyaan lebih lanjut, kamu dapat menghubungi layanan 24 jam Pluang Care melalui menu live-chat, email di tanya@pluang.com atau hotline di (021) 8063 0065 pada hari Senin s/d Jumat pukul 09.00 – 18.00 WIB. Kamu juga bisa menyimak tanya jawab umum mengenai fitur Crypto Advanced Orders di laman Pertanyaan Umum Tentang Crypto Advanced Order dan menyimak artikel Bagaimana cara membeli Saham AS di Pluang untuk informasi lebih lanjut mengenai Saham AS.

    Baca juga:



    Sumber : pluang.com

  • 3. Stop-Limit Order – Cara Menggunakan Stop-Limit Order di Aplikasi Pluang

    Hi Sobat Cuan! Bingung nyari jalan tengah antara menangkap momentum yang tepat dan mengendalikan harga beli? Cobalah Stop-Limit Order di aplikasi Pluang! Sesuai namanya, tipe order ini adalah kombinasi dari Stop Order dan Limit Order dimana pengguna bisa mengoptimalkan entry maupun exit lewat pengendalian harga beli atau jual dan kriteria dimana transaksi akan terpicu. Simak selengkapnya untuk memahami cara menggunakan Stop-Limit Order di aplikasi Pluang!

    3.1 Mengenal Stop-Limit Order di Aplikasi Pluang

    Stop-Limit Order adalah kombinasi dari dua tipe order, yaitu Stop Order dan Limit Order yang memungkinkan pengguna untuk mengendalikan eksekusi perdagangan dengan lebih presisi. Dalam Stop-Limit Order, pengguna menentukan dua harga, yaitu Stop Price dan Limit Price. Ketika harga pasar mencapai atau melewati Stop Price, pesanan akan menjadi Limit Order yang aktif, dan akan terisi pada Limit Price yang ditetapkan atau harga yang lebih baik. Dengan menggunakan Stop-Limit Order, pengguna dapat menghindari risiko slippage karena mereka dapat membatasi harga eksekusi pesanan mereka, sambil tetap memanfaatkan keuntungan dari gerakan harga yang diantisipasi. Namun, perlu diingat bahwa eksekusi pesanan tidak dijamin terjadi jika harga pasar tidak mencapai Stop Price yang ditetapkan oleh pengguna. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk memahami risiko dan mempertimbangkan kondisi pasar dengan cermat sebelum menggunakan tipe order ini.

     

    Catatan: Ilustrasi pembelian dan penjualan aset kripto dengan menggunakan Stop-Limit Order

    Apa saja yang perlu ditentukan pada saat membuat Stop Order?
    Untuk Stop Order ada dua parameter penting yang pengguna perlu menentukan pada saat membuat ordernya di aplikasi Pluang:

    • Stop Price: harga yang ditentukan oleh pengguna dimana pesanan hanya akan diaktifkan jika harga pasar mencapai atau melampaui Stop Price ini.
    • Limit Price: harga maksimum atau minimum yang pengguna bersedia kamu bayar atau terima untuk sebuah aset.
    • Jumlah pembelian/penjualan: kuantitas aset yang ingin dibeli atau dijual secara nilai Rupiah atau unit aset.

    Apa saja yang perlu ditentukan pada saat membuat Stop Order? Selain itu, ada beberapa hal yang Sobat Cuan perlu diperhatikan mengenai Stop-Limit Order

    Stop-Limit Order Untuk Kripto:

    • Untuk menempatkan Stop-Limit Order, nilai pesanan harus seminimalnya R10.000. Untuk nilai maksimal, bisa ditemukan di halaman Biaya Dan Batas Transaksi Kripto.
    • Stop-Limit Order yang terpasang akan berlaku selama 90 hari.

    Stop-Limit Order untuk Saham AS:

    • Untuk menempatkan Stop-Limit Order, nilai pesanan harus seminimalnya 1 unit saham dan tidak ada batas maximum.
    • Kamu perlu menentukan jam trading dimana kamu ingin ordernya di eksekusikan. Ada dua pilihan untuk hal ini:
      • Hanya Jam Reguler: dimana order kamu hanya akan tereksekusi di dalam jam perdagangan saja
      • Termasuk Jam Pre-Market: dimana order kamu bisa tereksekusi di dalam jam perdagangan biasa atau jam Pre-Market
    • Kamu perlu menentukan masa berlaku order limit yang terpasang. Terdapat dua opsi:
      • Day: dimana order akan berlaku selama 1 hari perdagangan
      • GTC (Good Till Canceled): dimana order akan aktif untuk 30 hari hingga order tersebut tereksekusi atau kamu batalkan.

    3.2 Cara Membuat Stop-Limit Order di Aplikasi Pluang

    Untuk Kripto, Sobat Cuan bisa simak video ini untuk memahami cara membuat pesanan Stop-Limit Order:

    Catatan: Aplikasi dalam video menggunakan tampilan yang lama

    Untuk Saham AS, Sobat Cuan bisa simak artikel Bagaimana cara membeli Saham AS di Pluang ini untuk memahami cara membuat pesanan Stop-Limit Order.

    3.3 Skenario seperti apa yang tetap untuk memanfaatkan Stop-Limit Order?

    Untuk pesanan beli, salah satu skenario dimana Stop-Limit Order bisa dimanfaatkan adalah jika pengguna ingin mengoptimalkan entry mereka ke subah trade dan mengantisipasi adanya Pullback.

    Minalnya Sobat Cuan telah melakukan analisis mendalam terhadap kripto Solana (SOL) dimana saat ini harga pasar koin tersebut adalah Rp1.650.000 per unit dan menunjukkan tren naik. Namun Sobat Cuan percaya bahwa begitu harga mencapai resistance level di Rp1.700.000, akan terjadi penurunan harga sementara, yang dikenal sebagai Pullback, dimana harga akan ditemu dengan support level di Rp1.600.000 sebelum kembali ke tren naik. Sobat Cuan ingin memasuki pasar hanya pada saat pullback ini untuk memaksimalkan keuntungan dari pergerakan naik selanjutnya yang diantisipasikan.

    Maka, Sobat Cuan bisa menggunakan Stop-Limit Order untuk mencapai tujuan ini. Sobat Cuan menetapkan Stop Price sebesar Rp1.700.000 dan Limit Price sebesar Rp1.600.000. Jika harga pasar mencapai Stop Price Rp1.700.000, pesanan beli akan menjadi aktif sebagai Limit Order dengan harga maksimum Rp1.600.000. Dengan demikian, Sobat Cuan dapat memasuki pasar pada harga yang lebih rendah sesuai dengan proyeksinya, sambil tetap mengendalikan harga eksekusi dengan presisi menggunakan Limit Order.

    Selain untuk pembelian, Stop Order bisa ditempatkan untuk mengamankan keuntungan dari sebuah trade jika pasar sedang menurun.

    Sebagai contoh, Sobat Cuan memiliki kriptoSolana (SOL) yang dibeli pada harga pasar Rp1.350.000 per koin, dan saat ini harga pasar telah naik menjadi Rp1.750.000 per koin. Sobat Cuan ingin mengamankan keuntungan tersebut dengan menjual koin ABC jika harga turun kembali ke Rp1.650.000 per koin.

    Dengan menggunakan Stop-Limit Order, Sobat Cuan menetapkan Stop Price sebesar Rp1.650.000 dan Limit Price sebesar Rp1.600.000. Jika harga pasar turun dan mencapai atau melewati Stop Price $280, pesanan jual akan aktif sebagai Limit Order dengan harga minimum Rp1.650.000. Dengan demikian, Sobat Cuan dapat menjual koin SOL dengan harga yang diinginkan atau yang lebih baik, mengamankan keuntungan dari trade tersebut tanpa harus terjebak dalam pergerakan harga yang tidak diinginkan.

    Cara penggunaan Stop Order yang kita bahas diatas dapat diaplikasikan ke strategi Sobat Cuan saat trading Kripto maupun Saham AS. Sesuai contoh-contoh ini, Stop-Limit Order dapat dimanfaatkan untuk memicu Limit Order pada saat harga pasar  harga pasar sebuah aset mencapai awat melewat level tertentu. Untuk informasi dan pertanyaan lebih lanjut, kamu dapat menghubungi layanan 24 jam Pluang Care melalui menu live-chat, email di tanya@pluang.com atau hotline di (021) 8063 0065 pada hari Senin s/d Jumat pukul 09.00 – 18.00 WIB. Kamu juga bisa menyimak tanya jawab umum mengenai fitur Crypto Advanced Orders di laman Pertanyaan Umum Tentang Crypto Advanced Order dan menyimak artikel Bagaimana cara membeli Saham AS di Pluang untuk informasi lebih lanjut mengenai Saham AS.

    Baca juga:



    Sumber : pluang.com

  • 1. Memahami Risiko dalam Investasi

    1.1 Latar Belakang

    Investasi dalam aset apapun dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan pemasukan dan bisa mengembangkan kekayaan dalam jangka panjang.

    Namun, sama seperti instrumen investasi lain, instrumen investasi pastinya memiliki risiko yang perlu investor perhatikan. 

    1.1.1 Sekilas tentang Investasi 

    Investasi merupakan pengelolaan keuangan dengan maksud untuk mengembangkan dana atau meningkatkan kekayaan.

    Ada berbagai macam jenis investasi, termasuk emas, reksadana, deposito, obligasi, saham, properti, dan lain sebagainya. Apapun pilihan instrumen yang akan Sobat Cuan ambil, penting untuk memahami risiko investasi sebelum memulai.

    Walaupun terdapat risiko dalam investasi, manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan pengelolaan keuangan ini juga signifikan. Beberapa di antaranya melibatkan:

    1. Menjamin kestabilan keuangan di masa depan.
    2. Aset investasi dapat menghasilkan pendapatan tambahan sebagai sumber penghasilan tetap.
    3. Mengurangi risiko terjebak dalam hutang dengan lebih fokus pada penyaluran dana untuk tabungan atau investasi.
    4. Menghindari risiko tekanan keuangan yang dapat muncul.
    5. Menyediakan jaminan finansial bagi keluarga di masa mendatang.

    Investasi dianggap sebagai bagian integral dari perencanaan keuangan jangka panjang yang krusial untuk membangun masa depan finansial. Oleh karena itu, meskipun terdapat risiko, sebaiknya tetap alokasikan sebagian penghasilan demi meraih keuntungan dari kegiatan investasi.

    1.2 Jenis-jenis Risiko dalam Investasi

    Sobat Cuan akan memahami 7 jenis risiko investasi dengan lebih detail untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya hal tersebut di masa depan.

    Berikut tiga jenis risiko dalam investasi: 

    1.2.1 Risiko Pasar (Market Risk)

    Risiko pasar, yang juga dikenal sebagai risiko sistematis, adalah potensi kerugian akibat fluktuasi harga instrumen keuangan yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti pergeseran ekonomi, perkembangan politik, atau bencana alam. Jenis risiko ini memengaruhi semua sekuritas di pasar atau kelas aset tertentu dan tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi.

    1. Harga Aset: Perubahan harga aset (contohnya saham) dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kinerja perusahaan, tren industri, kondisi ekonomi, dan sentimen investor. Harga saham dapat berubah-ubah, dan risiko pasar muncul dari ketidakpastian pergerakan harga ini. Harga aset yang menurun dapat mengakibatkan kerugian modal yang diakibatkan penjualan aset dengan harga lebih rendah dibandingkan harga beli.
    2. Suku Bunga: Perubahan suku bunga memengaruhi nilai aset berpendapatan tetap seperti obligasi. Ketika suku bunga naik, harga obligasi turun, dan sebaliknya. Risiko suku bunga ini berdampak pada investor perorangan dan institusi yang memegang obligasi dalam portofolio mereka.
    3. Nilai Tukar: Untuk bisnis yang beroperasi di berbagai negara atau investor yang memiliki aset asing, pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi imbal hasil secara signifikan. Fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi nilai investasi dan keuntungan dari perdagangan internasional.
    4. Harga Komoditas: Perusahaan yang terlibat dalam produksi, distribusi, atau konsumsi komoditas terpapar risiko harga komoditas. Risiko ini muncul dari volatilitas harga komoditas seperti minyak, emas, produk pertanian, dan logam, yang berdampak pada pendapatan dan biaya.

    Risiko pasar melekat pada investasi dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, investor dapat mengelola risiko ini melalui diversifikasi, lindung nilai, dan strategi manajemen risiko lainnya untuk mengurangi dampak pergerakan pasar yang merugikan pada portofolio mereka.

    1.2.2 Risiko Kredit (Credit Risk)

    Risiko kredit, yang juga dikenal sebagai risiko gagal bayar, adalah risiko dimana peminjam atau pihak lawan akan gagal memenuhi kewajiban keuangan mereka, seperti membayar kembali pinjaman atau memenuhi perjanjian kontrak. Risiko ini lazim terjadi pada aktivitas peminjaman dan investasi dimana satu pihak memberikan kredit kepada pihak lain.

    1. Lembaga Pemberi Pinjaman: Bank, credit unions, dan lembaga keuangan lainnya menghadapi risiko kredit saat mereka meminjamkan uang kepada individu, bisnis, atau lembaga lain. Jika peminjam gagal membayar pinjaman mereka, lembaga pemberi pinjaman dapat mengalami kerugian.
    2. Investor Obligasi: Investor obligasi terpapar risiko kredit saat mereka berinvestasi dalam obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau perusahaan. Jika penerbit obligasi gagal membayar, pemegang obligasi mungkin tidak menerima pembayaran bunga atau jumlah pokok seperti yang dijanjikan.
    3. Risiko Counterparty: Dalam transaksi derivatif dan transaksi keuangan lainnya, risiko counterparty mengacu pada risiko bahwa pihak lain yang terlibat dalam transaksi tidak akan memenuhi kewajibannya. Risiko ini sangat signifikan terutama pada aset derivatif yang diperdagangkan di luar bursa atau over the counter (OTC), di mana tidak ada lembaga kliring sentral.

    Manajemen risiko kredit mencakup penilaian kelayakan kredit peminjam atau counterparty dan penerapan strategi untuk mengurangi potensi kerugian. Pemberi pinjaman dan investor sering menggunakan skor kredit, laporan keuangan, dan indikator lainnya untuk mengevaluasi risiko kredit. Mereka juga dapat menggunakan derivatif kredit, seperti credit default swap, atau melakukan hedging untuk melindungi nilai aset dari potensi kerugian akibat gagal bayar.

    1.2.3 Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

    Risiko likuiditas adalah risiko bahwa investor atau entitas tidak dapat menjual aset dengan cukup cepat untuk mencegah kerugian atau untuk mengakses dana saat dibutuhkan. Risiko ini muncul dari kemungkinan memburuknya kondisi pasar atau kurangnya pelaku pasar yang bersedia membeli aset pada harga yang wajar.

    1. Kondisi Pasar: Risiko likuiditas dapat meningkat pada periode financial stress dimana kondisi pasar tidak menentu atau bahkan kondisi pasar yang menurun pasar ketika ada kekurangan likuiditas secara umum di pasar. Selama periode ini, investor mungkin merasa kesulitan untuk menjual aset dengan cepat tanpa mengurangi harga jual secara signifikan.
    2. Faktor Spesifik Aset: Beberapa aset secara inheren kurang likuid dibandingkan yang lain. Contohnya, properti dan beberapa jenis sekuritas mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk dijual daripada aset yang sangat likuid seperti saham. Kurangnya likuiditas ini dapat meningkatkan risiko kerugian jika kebutuhan untuk menjual muncul secara tiba-tiba.
    3. Dampak pada Harga: Ketika likuiditas rendah di pasar, penjual mungkin terpaksa menerima harga yang lebih rendah untuk menarik pembeli. Hal ini dapat mengakibatkan penjualan aset kurang dari nilai fundamentalnya, yang menyebabkan kerugian.

    Manajemen risiko likuiditas mencakup antara lain menjaga keseimbangan antara aset yang mudah dikonversi menjadi uang tunai dan aset yang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi namun kurang likuid.

    Diversifikasi, mempertahankan cadangan kas yang memadai, dan memantau kondisi pasar merupakan strategi umum untuk memitigasi risiko likuiditas. Anda juga bisa fokus pada investasi yang likuid, prioritaskan aset dengan likuiditas lebih tinggi, seperti saham berkapitalisasi besar dan ETF/reksa dana yang diperdagangkan secara aktif. 

    1.2.4 Risiko Solvabilitas (Solvability Risk)

    Risiko solvabilitas adalah risiko bahwa sebuah organisasi, baik itu perusahaan atau entitas lain, dapat menghadapi kesulitan keuangan atau kebangkrutan karena ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban keuangannya.

    Bagi investor ritel, memahami risiko solvabilitas sangat penting karena secara langsung berdampak pada kesehatan dan stabilitas keuangan perusahaan tempat mereka berinvestasi. Berikut ini penjelasan mengenai poin-poin pentingnya:

    1. Definisi Risiko Solvabilitas: Risiko solvabilitas berkaitan dengan kemampuan organisasi untuk tetap bertahan secara finansial dalam jangka panjang. Risiko ini muncul ketika suatu entitas tidak memiliki sumber daya keuangan yang diperlukan untuk memenuhi kewajibannya, seperti melunasi utang, memenuhi biaya operasional, atau memenuhi komitmen kontrak.
    2. Dampak terhadap Investor: Bagi investor ritel, risiko solvabilitas sangat penting karena kesehatan keuangan perusahaan dalam portofolio investasi mereka secara langsung memengaruhi nilai investasi mereka. Jika sebuah perusahaan menghadapi masalah solvabilitas, hal ini dapat menyebabkan penurunan harga saham, potensi kebangkrutan, dan risiko kerugian bagi investor.
    3. Pertimbangan Arus Kas: Pernyataan tersebut secara khusus menyebutkan risiko kehabisan uang tunai. Arus kas adalah indikator penting dari kemampuan organisasi untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Investor ritel harus memperhatikan laporan arus kas perusahaan untuk menilai likuiditas dan kemampuannya memenuhi kebutuhan keuangan yang mendesak.
    4. Due Diligence: Investor ritel perlu melakukan uji tuntas menyeluruh terhadap kesehatan keuangan perusahaan yang mereka pertimbangkan untuk investasi. Ini termasuk menganalisis laporan keuangan, tingkat utang, dan posisi arus kas untuk mengukur risiko solvabilitas setiap investasi.

    Singkatnya, bagi investor ritel, menyadari dan mengevaluasi risiko solvabilitas sangat penting untuk membuat keputusan investasi yang tepat. Hal ini melibatkan penilaian kekuatan keuangan perusahaan, memahami kemampuan mereka untuk memenuhi kewajiban, dan menggabungkan strategi mitigasi risiko untuk melindungi portofolio investasi secara keseluruhan.

    1.2.5 Risiko Non-Keuangan (Non-Financial Risk)

    Risiko non-keuangan adalah risiko yang timbul dari faktor-faktor selain fluktuasi pasar keuangan atau risiko kredit. Risiko-risiko ini dapat berdampak signifikan terhadap operasi, reputasi, dan kesehatan keuangan organisasi. Berikut adalah beberapa contoh risiko non-keuangan:

    1. Settlement Risk: Risiko ini muncul dalam transaksi di mana salah satu pihak menyerahkan aset atau dana, tetapi pihak lawan gagal melakukannya. Hal ini dapat terjadi pada berbagai transaksi keuangan, termasuk perdagangan sekuritas dan transaksi valuta asing.
    2. Risiko Hukum: Risiko hukum timbul dari potensi kerugian akibat tindakan hukum, tuntutan hukum, atau sanksi peraturan. Hal ini dapat mencakup risiko tuntutan hukum, tindakan penegakan hukum, atau perselisihan kontrak. Risiko hukum dapat timbul dari berbagai sumber, seperti ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dokumentasi hukum yang tidak memadai, atau perubahan standar hukum.
    3. Risiko Regulasi: Risiko hukum dan risiko regulasi adalah konsep yang saling terkait namun berbeda dalam manajemen risiko. Risiko regulasi secara khusus mengacu pada risiko kerugian finansial atau kerusakan reputasi yang diakibatkan oleh pelanggaran hukum, peraturan, atau standar industri. Perubahan peraturan atau pengawasan regulasi juga dapat menimbulkan risiko bagi bisnis. Risiko regulasi lebih difokuskan pada risiko yang terkait dengan kepatuhan terhadap peraturan dan potensi konsekuensi dari ketidakpatuhan, seperti denda, penalti, atau kerusakan reputasi.
    4. Risiko Akuntansi: Risiko akuntansi mengacu pada potensi kesalahan atau kesalahan penyajian data dalam pelaporan keuangan. Hal ini dapat diakibatkan oleh kesalahan dalam praktik akuntansi, kecurangan, atau kesalahan interpretasi standar akuntansi.
    5. Risiko Pajak: Risiko pajak muncul dari potensi konsekuensi pajak yang merugikan karena perubahan undang-undang perpajakan, perhitungan pajak yang salah, atau kegagalan untuk mematuhi peraturan perpajakan.
    6. Risiko Model: Risiko model adalah risiko kerugian finansial akibat kesalahan atau keterbatasan dalam model keuangan yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Risiko ini dapat disebabkan oleh ketidakakuratan asumsi, input data, atau desain model.
    7. Tail Risk: Tail Risk mengacu pada risiko kejadian ekstrem atau tak terduga yang berada di luar ekspektasi normal. Peristiwa ini sering disebut sebagai peristiwa “black swan“, dimana peristiwa ini dapat memiliki dampak yang signifikan pada pasar keuangan dan bisnis.
    8. Risiko Operasional: Risiko operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses, sistem, atau manusia internal yang tidak memadai atau gagal, atau dari kejadian eksternal. Risiko ini mencakup risiko yang terkait dengan teknologi, kesalahan manusia, penipuan, dan bencana alam.

    Memitigasi risiko non-finansial adalah aspek penting dari manajemen risiko yang efektif bagi investor. Risiko non-finansial dapat mencakup berbagai faktor, termasuk masalah lingkungan, sosial, tata kelola (ESG), peristiwa geopolitik, perubahan peraturan, dan banyak lagi. 

    1.2.6 Prinsip Mitigasi Risiko 

    Dalam hal ini, prinsip-prinsip mitigasi risiko non-finansial juga dapat diterapkan pada investor ritel. Meskipun beberapa strategi, lebih sering dikaitkan dengan investor institusional, investor ritel masih dapat mengadopsi banyak dari prinsip-prinsip ini untuk mengelola risiko non-keuangan secara efektif. Investor ritel dapat menerapkan prinsip-prinsip mitigasi risiko dengan:

    1. Diversifikasi: Menyebarkan investasi ke berbagai aset untuk mengurangi eksposur terhadap risiko non-keuangan tertentu.
    2. Due Diligence: Melakukan riset terhadap investasi yang potensial dengan menggunakan informasi yang tersedia, seperti laporan keuangan, dan ESG rating.
    3. Integrasi ESG: Mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola sebuah perusahaan saat membuat keputusan investasi.
    4. Tetap Update: Terus mengikuti perkembangan peristiwa global, perubahan peraturan, dan tren pasar.
    5. Pemantauan Aktif: Tinjau dan kaji ulang portofolio investasi Anda secara teratur untuk mengelola risiko secara proaktif.
    6. Kepatuhan Hukum: Memastikan investasi mematuhi peraturan yang relevan.

    Sesuaikan pendekatan Anda berdasarkan pengetahuan, sumber daya, dan toleransi risiko, dan apabila memungkinkan, mintalah panduan dari penasihat keuangan atau manfaatkan platform yang menyediakan informasi mengenai risiko non-keuangan.

    1.3 Cara Mengelola Risiko dalam Investasi

    Risiko selalu merupakan bagian dari investasi, sehingga investor dapat mengambil beberapa strategi untuk mengelola risiko dan membuat keputusan investasi yang bijak. 

    Berikut adalah beberapa metode untuk mengatasi risiko dalam investasi:

    1.3.1 Pahami Profil Risiko

    Dalam melakukan investasi, penting bagi investor untuk memahami profil risiko mereka terlebih dahulu. 

    Dengan mengetahui profil risiko, investor dapat menentukan apakah aset yang dipilih sesuai dengan preferensi risiko mereka. Terdapat tiga kategori profil risiko, yaitu:

    1.3.1.1 Konservatif

    Profil risiko konservatif mencirikan investor yang lebih fokus pada kestabilan dan keamanan dana daripada mencari keuntungan nilai investasi.

    1.3.1.2 Moderat

    Profil risiko moderat melibatkan investor dengan tingkat toleransi risiko yang seimbang antara potensi keuntungan dan kerugian.

    1.3.1.3 Agresif

    Profil risiko agresif merujuk pada investor yang cenderung mengambil risiko tinggi dalam melakukan investasi.

    1.3.2 Diversifikasi Portofolio

    Diversifikasi merupakan strategi kunci untuk mengurangi risiko dalam investasi. Dengan menyebar investasi pada berbagai aset yang berbeda, potensi kerugian keseluruhan portofolio dapat ditekan. 

    Investor dapat melakukan diversifikasi dengan berinvestasi di berbagai industri, menggabungkan saham, crypto, obligasi, dan instrumen investasi lain dalam portofolio mereka sesuai dengan profil risiko masing-masing investor.

    1.3.3 Riset yang Mendalam

    Melakukan riset mendalam (due diligence) menjadi kunci untuk membuat keputusan investasi yang lebih cerdas. Lakukan analisis menyeluruh terhadap perusahaan atau saham yang akan diinvestasikan.

    Tinjau laporan keuangan, lakukan analisis fundamental, dan ikuti berita terkini yang dapat memengaruhi harga saham. Riset yang cermat sebelum melakukan investasi dapat membantu investor menghindari potensi risiko dan mengelola investasinya secara lebih efektif.

    Investasi saham dan kripto memiliki potensi keuntungan yang besar tetapi juga membawa risiko tinggi (high risk high return). Dengan memahami jenis risiko, penyebabnya, dan cara mengatasinya, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih bijak.

    1.3.4 Penggunaan Stop, Limit, & Stop-Limit Order

    Menggunakan stop order, limit order, dan stop-limit order adalah alat penting untuk manajemen risiko dalam berinvestasi. Jenis-jenis order ini membantu investor ritel mengimplementasikan instruksi spesifik untuk membeli atau menjual aset pada harga yang telah ditentukan, sehingga mereka dapat mengelola potensi kerugian dan mengontrol titik masuk dan keluar.

    Berikut penjelasan mengenai setiap jenis order dan bagaimana mereka berkontribusi pada manajemen risiko:

    1. Stop Order: Stop order terutama digunakan untuk membatasi potensi kerugian. Contohnya, order sell-stop yang ditempatkan di bawah harga pasar saat ini dapat terpicu jika nilai aset menurun, sehingga membantu investor meminimalkan kerugian dengan keluar dari posisi.
    2. Limit Order: Limit order digunakan untuk mengontrol titik masuk atau keluar dengan memastikan bahwa order dieksekusi pada tingkat harga tertentu. Hal ini membantu investor menghindari perubahan harga yang tidak terduga dan memastikan bahwa mereka hanya masuk atau keluar dari posisi pada harga yang menguntungkan.
    3. Stop-Limit Order: Stop-limit order digunakan untuk mengontrol titik masuk dan keluar, memberikan presisi tambahan. Order ini dapat sangat berguna selama kondisi pasar yang bergejolak dengan memungkinkan investor untuk menetapkan level tertentu di mana mereka ingin order mereka dieksekusi.

    1.3.4.1 Contoh

    1. Stop Order

    Seorang investor memiliki saham yang saat ini diperdagangkan di harga US$50 dan menempatkan sell-stop order di harga US$45. Jika harga saham turun menjadi US$45 atau di bawahnya, order tersebut menjadi market order, dan saham tersebut dijual pada harga pasar yang berlaku.

    2. Limit Order

    Seorang investor ingin membeli saham yang diperdagangkan pada harga US$50, namun hanya jika harga turun menjadi US$48. Investor tersebut menempatkan buy-limit order pada harga $48, memastikan bahwa ia hanya akan membeli saham tersebut pada atau di bawah harga yang ditentukan.

    3. Stop-Limit Order

    Seorang investor memiliki sebuah saham di harga US$60 dan menempatkan sell-stop-limit order dengan harga stop di US$55 dan harga limit di US$54,50. Jika saham turun ke US$55, limit order untuk menjual akan terpicu, namun hanya akan dieksekusi pada harga US$54,50 atau lebih baik.

    1.3.4.2 Pertimbangan Manajemen Risiko:

    1. Stop order dan stop-limit order mungkin tidak menjamin eksekusi pada harga yang ditentukan selama pergerakan pasar yang cepat, memungkinkan terjadinya price slippage.
    2. Investor harus mewaspadai potensi perbedaan harga, terutama selama perdagangan setelah jam kerja (after hour trading), di mana harga eksekusi mungkin berbeda secara signifikan dari harga stop atau limit.

    Investor ritel harus mempertimbangkan dengan cermat toleransi risiko, kondisi pasar, dan tujuan investasi mereka saat menggunakan jenis-jenis order di atas. Investor dianjurkan untuk selalu mendapatkan informasi tentang mekanisme spesifik dan potensi keterbatasan yang terkait dengan setiap jenis order untuk menerapkan strategi manajemen risiko secara efektif.

    1.3.5 Peninjauan Portofolio

    Peninjauan portofolio secara teratur adalah praktik penting bagi investor ritel, yang melibatkan evaluasi sistematis untuk memastikan keselarasan dengan tujuan keuangan dan kondisi pasar. Komponen-komponen utamanya meliputi:

    1. Frekuensi: Tentukan jadwal yang konsisten untuk peninjauan, biasanya setiap tiga bulan atau setiap tahun.
    2. Evaluasi performa: Menilai performa portofolio secara keseluruhan terhadap tujuan dan tolok ukur.
    3. Penilaian Risiko: Mengevaluasi profil risiko, memastikan keselarasan dengan toleransi risiko dan jangka waktu investasi.
    4. Alokasi Aset: Meninjau dan menyeimbangkan kembali portofolio untuk mempertahankan alokasi aset yang diinginkan.
    5. Analisis Aset Individual: Menganalisis faktor fundamental dan teknikal yang mempengaruhi kepemilikan tertentu.
    6. Biaya-biaya: Memeriksa biaya-biaya terkait untuk memastikan kesesuaiannya dengan nilai investasi.
    7. Pendapatan dan Dividen: Menilai penghasilan pendapatan dari aset, memastikan aset tersebut memenuhi kebutuhan keuangan.
    8. Kondisi Pasar: Pertimbangkan faktor ekonomi dan pasar yang lebih luas dalam pengambilan keputusan.
    9. Pertimbangan Pajak: Mengevaluasi implikasi pajak dan mempertimbangkan strategi yang hemat pajak.
    10. Tinjauan Tujuan Keuangan: Tinjau kembali tujuan keuangan dan sesuaikan strategi berdasarkan perubahan situasi.
    11. Dokumentasi: Menyimpan catatan rinci tentang tinjauan, mendokumentasikan perubahan dan alasan untuk referensi di masa mendatang.

    Peninjauan rutin membantu investor membuat keputusan yang tepat, beradaptasi dengan kondisi yang berubah, dan memastikan portofolio mereka tetap selaras dengan tujuan jangka panjang.

    1.4 Kesimpulan

    Meskipun risiko investasi tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, pemahaman dan pengelolaan yang baik dapat membantu investor mengatasi potensi kerugian. 

    Dengan memanfaatkan strategi diversifikasi, penelitian menyeluruh, dan pendidikan berkelanjutan, investor dapat meminimalisir dampak risiko pada portofolio mereka.



    Sumber : pluang.com

  • 2. Toleransi Risiko, Definisi dan Faktor Pentingnya

    2.1 Latar Belakang

    Toleransi risiko adalah elemen penting dalam berinvestasi karena ini mencerminkan kesediaan investor untuk menerima fluktuasi hasil investasi. Memahami toleransi risiko seseorang membantu dalam menentukan sejauh mana mereka dapat menangani perubahan signifikan dalam nilai investasi mereka.

    Contohnya, penurunan drastis nilai investasi saham secara tiba-tiba dapat menyebabkan kepanikan dan pengambilan keputusan yang buruk, seperti menjual aset di waktu yang salah, yang mengakibatkan kerugian. Menilai toleransi risiko membantu investor menghindari reaksi seperti itu dengan memandu mereka memilih investasi yang sesuai dengan tingkat kenyamanan mereka, yang pada akhirnya menghasilkan keputusan investasi yang lebih tepat dan sesuai.

    2.2 Memahami Toleransi Risiko

    Semua investasi melibatkan sejumlah risiko, dan mengetahui tingkat toleransi risiko membantu investor merencanakan seluruh portofolio mereka, menentukan bagaimana mereka berinvestasi. 

    2.2.1 Jenis Investor Berdasarkan Toleransi Risiko

    Berdasarkan seberapa besar risiko yang dapat mereka toleransi, investor diklasifikasikan sebagai agresif, moderat, dan konservatif.

    1. Investor Agresif: Investor agresif adalah mereka yang siap menanggung risiko yang tinggi demi peluang keuntungan yang lebih besar. Mereka cenderung untuk berinvestasi dalam instrumen keuangan yang memiliki volatilitas tinggi, seperti saham individual atau dana investasi yang berfokus pada pertumbuhan.
    2. Investor Moderat: Investor moderat memiliki tingkat sedang dalam menoleransi risiko. Mereka cenderung mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan keamanan investasi. Biasanya, mereka akan melakukan alokasi aset yang seimbang antara instrumen berisiko lebih tinggi dan instrumen yang lebih stabil, seperti campuran saham dan obligasi.
    3. Investor Konservatif: Investor konservatif adalah mereka yang cenderung menghindari risiko besar dan lebih memilih untuk melindungi modal mereka. Mereka biasanya akan berinvestasi dalam instrumen yang lebih stabil dan konservatif, seperti obligasi pemerintah atau reksa dana pasar uang.

    2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi

    1. Horison Waktu (Time Horizon): Ini merujuk pada jangka waktu yang tersedia bagi investor untuk mencapai tujuan investasi mereka. Semakin panjang horison waktu, semakin besar risiko yang bisa ditoleransi. Investor dengan horison waktu yang lebih panjang cenderung dapat menanggung risiko lebih tinggi karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk pulih dari kerugian jangka pendek.
    2. Tujuan Keuangan: Tujuan investasi seseorang juga memengaruhi toleransi risiko. Jika tujuan investasi adalah untuk pertumbuhan jangka panjang, investor mungkin lebih bersedia menanggung risiko. Namun, jika tujuan investasi adalah untuk mempertahankan modal atau pendapatan tetap, toleransi risiko mungkin lebih rendah.
    3. Pengalaman dan Pengetahuan Keuangan: Tingkat pengalaman dan pengetahuan keuangan seseorang juga dapat mempengaruhi toleransi risiko. Investor yang lebih berpengalaman dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pasar keuangan cenderung memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi karena mereka dapat membuat keputusan investasi yang lebih terinformasi.
    4. Kondisi Keuangan Pribadi: Kondisi keuangan pribadi, seperti pendapatan, tabungan, dan tanggungan keuangan, juga dapat mempengaruhi toleransi risiko seseorang. Orang yang memiliki keadaan keuangan yang stabil mungkin lebih bersedia menanggung risiko daripada orang yang berada dalam situasi keuangan yang lebih rentan.
    5. Kepribadian dan Sikap Mental: Faktor psikologis seperti kepribadian dan sikap mental terhadap risiko juga berperan. Beberapa orang secara alami lebih cenderung mengambil risiko, sementara yang lain lebih konservatif dalam pendekatan investasi mereka.

    Memahami faktor-faktor ini dapat membantu investor menentukan toleransi risiko mereka dan memilih strategi investasi yang sesuai dengan profil mereka.

    2.2.3 Mengapa Toleransi Risiko Sangat Penting?

    Toleransi risiko Anda memainkan peran krusial dalam rencana Anda untuk mengembangkan uang Anda tanpa harus merasa stres setiap hari.

    Jika Anda tidak memiliki ketahanan terhadap risiko kehilangan pokok Anda, bahkan sementara, Anda harus puas dengan investasi berisiko rendah dan imbal hasil yang lebih rendah yang menyertainya.

    Investasi dengan potensi keuntungan lebih tinggi seringkali datang dengan potensi penurunan mendalam atau kerugian langsung yang lebih tinggi.

    Dengan pemahaman tentang toleransi risiko Anda, Anda dapat membuat strategi investasi yang membantu Anda menyeimbangkan kekhawatiran volatilitas dengan potensi keuntungan yang lebih besar.

    2.2.4 Bagaimana Toleransi Risiko Bekerja? 

    Siapa pun bisa memiliki toleransi risiko yang tinggi saat harga aset sedang naik. Namun, waktu terbaik untuk benar-benar menilai toleransi risiko Anda adalah ketika pasar sedang turun.

    Berkaca pada pengalaman Maret 2020, saat pasar anjlok. Angka pengangguran melonjak. Dunia menghadapi tingkat ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya, bertanya-tanya apakah Covid-19 akan menghancurkan ekonomi.

    Saat itu, bagaimana toleransi risiko Sobat Cuan? Apakah bisa bertahan melewati masa-masa sulit itu? Jika menjual saham selama kepanikan, toleransi risiko cenderung rendah. Atau apakah Sobat Cuan bersedia berinvestasi lebih untuk memanfaatkan aksi jual pasar? Jika demikian, toleransi risiko tinggi, dan itu bermanfaat bagi Sobat Cuan saat pasar saham mencapai rekor tertinggi pada 2021.

    2.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Toleransi Risiko

    Toleransi risiko adalah kemampuan seseorang untuk menerima dan bertahan terhadap risiko dalam berinvestasi. Toleransi risiko ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:

    1. Jangka waktu investasi: Semakin lama jangka waktu investasi, semakin besar risiko yang bisa diambil. Hal ini karena seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk memulihkan kerugian jika terjadi.
    2. Tujuan investasi: Jika tujuan investasi adalah untuk mendapatkan keuntungan besar dalam jangka pendek, maka toleransi risiko harus tinggi. Namun, jika tujuan investasi adalah untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang, maka toleransi risiko bisa lebih rendah.
    3. Usia: Semakin muda usia seseorang, maka toleransi risikonya cenderung lebih tinggi. Hal ini karena seseorang yang masih muda memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja dan mengumpulkan kembali dana jika terjadi kerugian.
    4. Ukuran portofolio: Semakin besar ukuran portofolio, maka toleransi risikonya cenderung lebih tinggi. Hal ini karena seseorang memiliki lebih banyak dana untuk menanggung kerugian.
    5. Tingkat kenyamanan: Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda-beda dalam menghadapi risiko. Ada orang yang lebih suka mengambil risiko tinggi untuk mendapatkan keuntungan besar, ada juga orang yang lebih suka menghindari risiko.

    2.4 Kesimpulan

    Sebelum memulai perjalanan investasimu, pahamilah tingkat toleransi risikomu. Dengan mengetahui toleransi risiko, Sobat Cuan dapat memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan.



    Sumber : pluang.com