Author: 16

  • Rekor Buruk Altcoin Pecah: 13 Bulan Dijual Terus, Total -$209 Miliar

    Tekanan jual di pasar altcoin dilaporkan mencapai level paling ekstrem dalam lima tahun terakhir. Data cumulative buy/sell difference untuk altcoin (di luar Bitcoin dan Ethereum) menunjukkan angka -$209 miliar, menandakan arus jual bersih yang terus menumpuk dalam 13 bulan terakhir di pasar spot exchange terpusat (CEX).

    Angka tersebut kontras dengan kondisi pada Januari 2025, ketika metrik yang sama berada di kisaran mendekati nol. Pada periode itu, permintaan masih relatif seimbang dengan suplai, atau dengan kata lain, aksi beli masih mampu mengimbangi tekanan jual. Namun setelahnya, tren bergerak satu arah: arus jual bersih terus melebar hingga menembus -$209 miliar.

    Tekanan Saat Bitcoin Lemah

    Dilaporkan Crypto Quant, tekanan ini terjadi di tengah pelemahan harga Bitcoin. BTC saat ini berada di sekitar $68.800, turun jauh dari rekor tertinggi lebih dari $125.000 yang dicapai pada Oktober 2025. Pelemahan aset utama tersebut dinilai ikut memperburuk sentimen risiko, terutama untuk altcoin yang cenderung lebih sensitif terhadap penurunan likuiditas dan perubahan selera pasar.

    Kondisi ini juga disebut memperlihatkan perubahan perilaku pelaku pasar. Aktivitas investor ritel dinilai melemah, sementara “smart money” disebut telah melakukan rotasi, meninggalkan sebagian besar altcoin. Pada saat yang sama, tidak terlihat indikasi akumulasi altcoin oleh institusi dalam skala besar, sehingga pasar kehilangan katalis pembelian yang biasanya mampu menahan tekanan jual.

    Pasar Sudah Sampai Bottom?

    Meski demikian, angka -$209 miliar tidak otomatis mengonfirmasi bahwa pasar telah mencapai dasar (bottom). Data tersebut lebih menggambarkan satu hal: minat beli melemah dan pembeli tidak cukup hadir untuk menyerap suplai yang terus masuk ke order book.

    Dalam konteks pasar spot CEX, tren ini dipandang bukan sekadar koreksi jangka pendek, melainkan fase jual bersih yang berlangsung terus-menerus selama 13 bulan. Dengan kondisi permintaan yang belum pulih, tekanan jual altcoin berpotensi tetap menjadi faktor dominan dalam jangka menengah, sembari pelaku pasar menunggu apakah likuiditas dan risk appetite bisa kembali masuk ke segmen altcoin.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kondisi ekstrem ini menunjukkan kelelahan penjual (seller exhaustion). Meskipun menyakitkan dalam jangka pendek, secara historis level ekstrem seperti ini memberikan rasio risk/reward yang menarik.

    Baca juga: Waspada! 3 Altcoin Ini Bisa Picu Likuidasi Rp50 Triliun Lebih Minggu Ini


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • XRP Terancam Turun ke $1? Aksi Jual Whale Picu Pertarungan Sengit

    Harga XRP kembali berada di bawah tekanan setelah mengalami penolakan tajam di area resistance $1,67 pada 15 Februari. Sejak gagal menembus level tersebut, XRP telah turun sekitar 13% dan kini bergerak di bawah tekanan jual yang meningkat dalam 24 jam terakhir.

    Penurunan ini bukan sekadar koreksi biasa. Data teknikal dan on-chain menunjukkan adanya distribusi dari investor besar (whale), sementara pemegang jangka panjang berusaha menyerap suplai tersebut untuk mencegah pelemahan lebih dalam.

    Analisis Teknikal XRP

    Secara teknikal, XRP bergerak dalam pola rising wedge sejak awal Februari. Pola ini umumnya bersifat bearish karena menunjukkan kenaikan harga yang makin melemah dalam rentang tren yang menyempit. Jika breakdown terjadi, pola tersebut mengindikasikan potensi koreksi hingga sekitar 26%.

    Dilaporkan BeInCrypto, sinyal pelemahan sudah terlihat sebelumnya melalui bearish divergence antara harga dan Relative Strength Index (RSI). Saat harga membentuk puncak yang lebih rendah, RSI justru mencetak puncak lebih tinggi. Divergensi ini menandakan momentum kenaikan tidak didukung kekuatan beli yang solid.

    Pada 15 Februari, XRP sempat menyentuh $1,67, tetapi membentuk candle dengan sumbu atas panjang, menandakan tekanan jual agresif. Sejak saat itu, harga terus melemah dan kini mendekati batas bawah pola rising wedge, meningkatkan risiko breakdown.

    Data on-chain memperlihatkan bahwa wallet besar menjadi faktor utama di balik tekanan jual ini. Wallet yang memegang antara 100 juta hingga 1 miliar XRP mengurangi kepemilikan sekitar 10 juta XRP. Sementara itu, kelompok whale dengan kepemilikan 10 juta hingga 100 juta XRP melepas sekitar 40 juta XRP tambahan.

    Sentimen Holder

    Secara total, hampir 50 juta XRP, senilai sekitar $75 juta pada harga saat ini, dilepas ke pasar selama reli terakhir. Distribusi ini berkontribusi pada kegagalan harga mempertahankan momentum kenaikan.

    Di sisi lain, pemegang jangka panjang mulai meningkatkan akumulasi. Indikator Hodler Net Position Change menunjukkan kenaikan kepemilikan dari sekitar 127 juta XRP menjadi 150 juta XRP dalam beberapa hari terakhir, atau naik sekitar 17%. Namun, skala akumulasi ini masih jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan pembelian awal Februari yang mencapai lebih dari 337 juta XRP.

    Baca juga: XRP Jatuh ke $1,42, Tapi Whale Belum Menjual, Sinyal Apa?

    Saat ini, level $1,26 menjadi area kunci. Data cost basis menunjukkan lebih dari 442 juta XRP dibeli di kisaran $1,27–$1,28. Zona ini berpotensi menjadi support kuat karena banyak investor berada di titik impas dan cenderung mempertahankan posisi mereka.

    Jika XRP mampu bertahan di atas $1,26, peluang stabilisasi terbuka. Namun, penutupan candle 12 jam di bawah garis tren rising wedge dan level $1,26 dapat memicu penurunan lanjutan menuju $1,16 hingga $1,06. Dalam skenario tersebut, level psikologis $1 kembali menjadi target utama.

    Tekanan Bearish

    Sebaliknya, untuk meredam tekanan bearish, XRP perlu merebut kembali $1,48 sebagai resistance terdekat. Penembusan di atas $1,67 akan membatalkan pola rising wedge dan mengindikasikan kembalinya dominasi pembeli.

    Untuk saat ini, arah pergerakan XRP masih ditentukan oleh pertarungan antara whale yang mendistribusikan suplai dan pemegang jangka panjang yang mencoba menahan tekanan jual. Pergerakan harga dalam beberapa sesi ke depan akan menjadi penentu apakah XRP mampu bertahan atau justru mendekati level $1.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, pertarungan antara distribusi whale dan akumulasi HODLer saat ini berada di titik kritis. Jika support kuat di level ,26 (cost basis utama) jebol, XRP berisiko terkoreksi lebih dalam menuju area ,00 sesuai proyeksi teknikal. Reclaim di atas ,48 diperlukan untuk membatalkan narasi bearish jangka pendek.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ORCA Meledak 50% Sehari, Ada Red Flag yang Bikin Investor Waspada

    Token Orca (ORCA) mengejutkan pasar setelah mencatat lonjakan harga sekitar 50% dalam 24 jam terakhir. Kenaikan ini terjadi tanpa adanya pengumuman besar terkait pengembangan proyek, sehingga reli tersebut dinilai lebih dipicu oleh meningkatnya minat investor dibandingkan faktor pembaruan protokol.

    Meski demikian, lonjakan harga tajam dalam waktu singkat kerap membawa risiko tinggi. Pergerakan agresif seperti ini biasanya menarik modal spekulatif dan meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek.

    Data on-chain ORCA

    Data on-chain menunjukkan reli ORCA didorong oleh aksi beli yang kuat di pasar spot. Saldo ORCA di exchange turun drastis, dengan hampir 1 juta token ditarik dari exchange hanya dalam satu hari. Dengan harga saat ini sekitar US$1,23, akumulasi tersebut setara dengan nilai lebih dari US$1,23 juta.

    Dilaporkan BeInCrypto, penurunan suplai di exchange menjadi sinyal meningkatnya keyakinan investor karena semakin sedikit token yang tersedia untuk dijual. Aksi akumulasi ini disebut sebagai yang terbesar sepanjang tahun ini untuk ORCA. Selain itu, indikator utilitas juga menunjukkan adanya permintaan organik. Total value locked (TVL) USDC di Orca dilaporkan naik 100% secara tahunan hingga mendekati US$90 juta.

    Baca juga: Harga ORCA Hari Ini: Reli 25%, Volume Perdagangan Tembus $63 Juta

    Indikator Net Unrealized Profit and Loss (NUPL) turut memperkuat sinyal bahwa tekanan jual mulai melemah. Data terbaru menunjukkan kondisi “loss saturation” atau titik ketika kerugian yang belum terealisasi sudah terlalu tinggi sehingga investor cenderung berhenti menjual. Pola serupa sempat terjadi pada Maret 2025, ketika ORCA mencatat reli sekitar 119% setelah periode penurunan panjang.

    Saat ini ORCA diperdagangkan di kisaran US$1,214 setelah naik sekitar 51,7% dalam sehari. Token sempat menyentuh level tertinggi harian di US$1,421 sebelum terkoreksi kembali ke bawah US$1,256, mengindikasikan adanya aksi ambil untung awal.

    Analisis Teknikal ORCA

    Secara teknikal, ORCA masih bertahan di atas level Fibonacci retracement 61,8% yang menjadi area support penting. Jika harga mampu bertahan di zona ini, peluang reli lanjutan menuju US$1,421 tetap terbuka. Apabila breakout terjadi, target berikutnya berada di sekitar US$1,603.

    Namun, potensi pembalikan arah tetap tinggi. Jika tekanan jual meningkat, penurunan di bawah US$1,126 bisa menjadi sinyal melemahnya struktur bullish. Dalam kondisi tersebut, ORCA berpotensi turun ke US$1,025, bahkan kembali menembus US$1,000 menuju area US$0,945.

    Di sisi lain, muncul juga sinyal risiko yang menjadi perhatian pasar. Laporan Rugcheck Risk Analysis menyoroti bahwa fitur Mint Authority pada wallet pemilik masih aktif. Kondisi ini secara teknis memungkinkan penerbitan token baru di luar suplai yang ada.

    Potensi ke Depan

    Meski beberapa proyek mempertahankan mint authority untuk kebutuhan teknis seperti mekanisme lintas chain, isu ini tetap memunculkan kekhawatiran terkait transparansi dan tata kelola, terutama karena Orca beroperasi dalam struktur DAO. Jika kontrol suplai masih berada di satu wallet, hal tersebut dapat memicu pertanyaan terkait keamanan dan kepercayaan investor.

    Hingga saat ini, investor disarankan memantau perkembangan terkait klarifikasi governance Orca, sekaligus mewaspadai potensi volatilitas lanjutan setelah reli besar yang terjadi secara mendadak.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, meskipun data on-chain menunjukkan permintaan riil dan fundamental yang membaik, muncul bendera merah terkait “Mint Authority” yang masih aktif pada dompet pemilik.

    “Hal ini menimbulkan risiko tata kelola dan potensi dilusi suplai. Investor perlu berhati-hati terhadap volatilitas tinggi dan memastikan kontrol DAO atas fungsi pencetakan token,” jelasnya.

    Baca Juga: Harga Orca Melonjak Usai Salip Raydium, Apa yang Terjadi?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dana Rp3 Triliun Masuk Exchange, SOL Terancam Anjlok ke $67

    Solana (SOL) masih berada dalam tekanan kuat seiring memburuknya kondisi pasar kripto secara keseluruhan. SOL melanjutkan tren turun selama beberapa pekan terakhir, mencerminkan melemahnya kepercayaan investor. Data on-chain terbaru menunjukkan peningkatan suplai yang mengarah ke exchange, memunculkan sinyal kapitulasi yang terakhir kali terlihat pada 2022.

    Berdasarkan data, sekitar 2,35 juta SOL telah berpindah ke wallet exchange dalam 17 hari terakhir. Dengan harga saat ini, jumlah tersebut setara dengan sekitar US$202 juta atau lebih dari Rp3 triliun. Lonjakan suplai ini meningkatkan likuiditas sisi jual dan memperkuat tekanan bearish di pasar.

    Cadangan Solana

    Dilaporkan BeInCrypto, meningkatnya cadangan SOL di exchange biasanya menjadi sinyal negatif karena memudahkan pelaku pasar melakukan aksi jual dalam jumlah besar. Meski aliran deposit aktif di jaringan Solana mulai melambat setelah sempat melonjak di awal bulan, saldo SOL di exchange tetap menunjukkan akumulasi yang tinggi, mengindikasikan tekanan jual masih belum mereda.

    Di sisi valuasi, indikator MVRV Pricing Bands menunjukkan Solana saat ini diperdagangkan di bawah zona “Extreme Lows”. Kondisi ini terjadi ketika rasio Market Value to Realized Value (MVRV) berada di bawah 0,8 dalam periode tertentu. SOL tercatat berada di bawah level tersebut selama 26% sesi perdagangan terbaru, menandakan fase undervaluation yang cukup panjang.

    Peristiwa serupa terakhir terjadi pada Mei 2022. Setelah itu, harga Solana sempat mengalami tekanan berkepanjangan selama sekitar 17 bulan sebelum akhirnya mencatat pemulihan yang signifikan. Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan saat ini bisa menjadi fase penurunan lanjutan, bukan sekadar koreksi jangka pendek.

    Baca Juga: Solana Terancam Jebol US$100, Investor Jangka Panjang Mulai Mundur

    Analisis Harga SOL

    Saat ini SOL diperdagangkan di kisaran US$86. Harga masih tertahan di bawah resistance US$90, sementara support utama berada di area US$81. Jika SOL gagal bertahan dan menembus support tersebut, pasar berpotensi menguji level support berikutnya di sekitar US$67.

    Namun, apabila SOL mampu menembus kembali US$90 dan keluar dari garis tren turun, hal tersebut dapat menjadi sinyal perbaikan teknikal. Dalam skenario bullish, momentum berpeluang membawa SOL naik menuju US$105, sekaligus melemahkan tekanan bearish yang saat ini mendominasi pasar.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, meskipun arus keluar besar mengkhawatirkan, level MVRV ekstrem rendah ini secara historis merupakan zona akumulasi bagi investor institusional.

    “Jika harga bertahan di atas support 1, tekanan jual dari bursa kemungkinan besar akan mereda seiring tercapainya titik jenuh jual,” jelasnya.

    Baca juga: Tokcer! Token GHOST Melonjak Usai Isyarat Integrasi Solana


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasokan Ethereum di Binance Langka, Sinyal Harga Bakal Meroket?

    Suplai Ethereum (ETH) di Binance dilaporkan turun ke titik terendah sejak Agustus 2024.

    Data on-chain terbaru menunjukkan berkurangnya cadangan ETH di bursa terbesar dunia tersebut, sebuah indikator yang kerap diasosiasikan dengan potensi tekanan jual yang melemah dan meningkatnya kecenderungan investor untuk menyimpan aset dalam jangka panjang.

    Menurut laporan Cryptoquant pada Rabu (18/2), fenomena ini memicu optimisme baru di kalangan pelaku pasar, terutama di tengah konsolidasi harga ETH dalam beberapa pekan terakhir.

    Baca Juga: Ethereum Dihantam Likuidasi Terbesar Sejak 2021! Apa Dampaknya?

    Apa Arti Penurunan Suplai ETH di Bursa?

    Dalam analisis on-chain, suplai aset kripto yang tersimpan di bursa sering digunakan sebagai indikator sentimen pasar.

    Ketika investor memindahkan aset mereka dari bursa ke dompet pribadi (self-custody), hal ini biasanya menandakan niat untuk menyimpan (holding) daripada menjual dalam waktu dekat.

    Sebaliknya, peningkatan suplai di bursa umumnya mengindikasikan potensi tekanan jual karena aset lebih siap untuk diperdagangkan.

    “Penurunan suplai bursa adalah indikator on-chain bullish klasik. Jika permintaan meningkat sementara suplai di bursa tetap rendah, ini menciptakan kelangkaan yang dapat memicu kenaikan harga,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Dengan suplai ETH di Binance kini berada di level terendah dalam hampir satu tahun, pasar mulai berspekulasi mengenai kemungkinan fase akumulasi yang lebih luas.

    Binance Sebagai Barometer Likuiditas Global

    Sebagai bursa kripto dengan volume perdagangan terbesar secara global, Binance sering dijadikan barometer likuiditas pasar.

    Pergerakan suplai ETH di platform ini dapat mencerminkan dinamika yang lebih luas.

    Penurunan cadangan di Binance bisa disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk aksi investor institusional yang memindahkan ETH ke cold wallet untuk penyimpanan jangka panjang.

    Aktivitas staking meningkat, terutama pasca implementasi mekanisme proof-of-stake Ethereum. Hal ini memicu lonjakan penggunaan DeFi dan aplikasi layer-2 yang memerlukan pemindahan aset keluar dari bursa.

    Dengan semakin berkembangnya ekosistem Ethereum, mulai dari staking hingga tokenisasi aset dunia nyata, permintaan terhadap ETH sebagai aset utilitas terus meningkat.

    Efek Kelangkaan dan Dinamika Permintaan

    Secara teori ekonomi, harga ditentukan oleh interaksi antara suplai dan permintaan.

    Ketika suplai yang tersedia untuk diperdagangkan menurun sementara permintaan tetap atau meningkat, potensi kenaikan harga menjadi lebih besar.

    Dalam konteks Ethereum, beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan permintaan antara lain pertumbuhan sektor DeFi, peningkatan adopsi layer-2, integrasi Real World Assets (RWA), dan potensi arus masuk ETF berbasis ETH di beberapa yurisdiksi.

    Jika tren penurunan suplai di bursa ini bertahan dan disertai peningkatan volume pembelian, skenario bullish dapat semakin kuat.

    Apakah Ini Awal Fase Akumulasi?

    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Rabu, 18 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Rabu, 18 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Penurunan suplai di bursa sering kali muncul menjelang fase kenaikan harga signifikan di siklus sebelumnya. Namun, penting untuk dicatat bahwa indikator on-chain tidak berdiri sendiri.

    Faktor eksternal seperti kondisi makroekonomi, kebijakan suku bunga global, serta pergerakan Bitcoin masih memiliki pengaruh besar terhadap sentimen pasar secara keseluruhan.

    Meskipun demikian, kombinasi antara suplai bursa yang menyusut dan fundamental jaringan yang terus berkembang memberikan dasar yang lebih solid bagi narasi bullish Ethereum dibanding sekadar spekulasi jangka pendek.

    Risiko yang Perlu Diperhatikan

    Meski indikator suplai menunjukkan sinyal positif, volatilitas pasar kripto tetap tinggi.

    Lonjakan harga yang terlalu cepat tanpa dukungan volume yang kuat dapat memicu koreksi tajam. Selain itu, pergeseran suplai tidak selalu berarti pengurangan tekanan jual permanen.

    Dalam kondisi pasar tertentu, investor bisa saja memindahkan aset kembali ke bursa untuk merealisasikan keuntungan.

    Karena itu, investor disarankan untuk memantau kombinasi indikator lain seperti volume perdagangan, open interest derivatif, serta data arus masuk dan keluar bursa secara keseluruhan.

    Baca Juga: Ethereum Masuk Opportunity Zone, Sinyal Rebound?

    Turunnya suplai Ethereum di Binance ke level terendah sejak Agustus 2024 menjadi salah satu sinyal on-chain paling menarik dalam beberapa bulan terakhir.

    Secara historis, kondisi ini kerap mendahului fase kenaikan harga, terutama jika diiringi peningkatan permintaan.

    Apakah ini awal dari reli baru Ethereum? Jawabannya akan sangat bergantung pada keseimbangan suplai dan permintaan dalam beberapa pekan ke depan.

    Namun satu hal jelas: indikator kelangkaan mulai menguat, dan pasar tengah mencermati setiap pergerakan ETH dengan lebih serius.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tren RWA: Altcoin Utilitas Mulai Mandiri dari Bitcoin

    Kapitalisasi pasar sektor Real World Assets (RWA) di blockchain tercatat melonjak empat kali lipat sejak Februari 2023, menurut laporan Coin-Turk pada Rabu (18/2).

    Pertumbuhan agresif ini mempertegas bahwa integrasi antara keuangan tradisional dan teknologi blockchain bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan transformasi struktural yang sedang berlangsung.

    Lonjakan tersebut juga memicu spekulasi bahwa sejumlah altcoin utilitas mulai menunjukkan tanda-tanda decoupling atau pelepasan korelasi dari Bitcoin, yang selama ini menjadi barometer utama pergerakan pasar kripto.

    “Divergensi pasar semakin nyata; altcoin dengan fundamental kuat seperti Ethereum, Solana, dan Chainlink mulai mengukir narasi sendiri di luar volatilitas Bitcoin,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Baca Juga: Stablecoin vs Altcoin Apa Bedanya? Pelajari Perbedaannya Sebelum Membeli

    RWA Jadi Motor Pertumbuhan Baru

    RWA merujuk pada tokenisasi aset dunia nyata, seperti obligasi pemerintah, surat utang korporasi, saham, komoditas, hingga instrumen pasar uang—ke dalam bentuk token di blockchain.

    Model ini memungkinkan penyelesaian transaksi yang lebih cepat, transparan, dan efisien dibanding sistem tradisional.

    Sejak awal 2023, sektor ini mengalami pertumbuhan eksponensial.

    Beberapa pendorong utama antara lain masuknya institusi besar ke pasar tokenisasi obligasi; permintaan terhadap produk yield berbasis aset riil; efisiensi settlement lintas negara; dan regulasi yang semakin jelas di sejumlah yurisdiksi.

    Pertumbuhan empat kali lipat ini menandakan bahwa blockchain mulai berfungsi sebagai lapisan infrastruktur finansial, bukan sekadar instrumen spekulatif.

    Ethereum, Solana, dan Chainlink Memimpin

    Dalam ekosistem RWA, sejumlah jaringan blockchain dan infrastruktur pendukung memainkan peran krusial.

    Ethereum menjadi platform dominan untuk penerbitan token berbasis RWA berkat kematangan smart contract dan ekosistem DeFi yang luas.

    Solana menawarkan kecepatan tinggi dan biaya transaksi rendah, menjadikannya alternatif menarik untuk tokenisasi skala besar.

    Sementara itu, Chainlink menyediakan layanan oracle yang menghubungkan data dunia nyata dengan smart contract—elemen penting dalam memastikan validitas aset yang ditokenisasi.

    Ketiganya mulai menunjukkan pola pergerakan harga yang tidak selalu mengikuti arah Bitcoin, terutama saat terjadi arus masuk modal spesifik ke sektor RWA.

    Tanda-Tanda Decoupling dari Bitcoin

    Selama bertahun-tahun, altcoin cenderung bergerak selaras dengan Bitcoin. Namun, pertumbuhan utilitas riil melalui RWA membuka kemungkinan perubahan struktur pasar.

    Beberapa indikator yang mendukung perubahan arah pasar menuju decoupling dapat dilihat dari aktivitas on-chain yang meningkat di jaringan layer-1 non-Bitcoin.

    Penanda lainnya dipertegas dengan TVL (Total Value Locked) sektor RWA yang terus bertumbuh; arus modal institusional lebih terfokus pada use-case spesifik; hingga diversifikasi produk keuangan berbasis blockchain.

    Jika tren ini berlanjut, altcoin dengan fundamental kuat berpotensi memiliki katalis pertumbuhan independen, terlepas dari volatilitas jangka pendek Bitcoin.

    Implikasi bagi Investor Kripto

    Lonjakan RWA menunjukkan bahwa pasar kripto mulai memasuki fase yang lebih matang dan berbasis utilitas nyata.

    Investor kini dihadapkan pada dua pendekatan utama, yakni menjadikan Bitcoin sebagai aset lindung nilai digital dan indikator makro pasar; atau mengalokasikan sebagian portofolio ke altcoin utilitas yang mendapat manfaat langsung dari adopsi institusional.

    Meski demikian, penting dicatat bahwa dalam kondisi pasar ekstrem, Bitcoin masih sering menjadi penggerak sentimen global.

    Decoupling bukan berarti pemisahan total, melainkan pengurangan ketergantungan struktural.

    Awal Era Baru Pasar Kripto?

    Pertumbuhan RWA yang konsisten memperlihatkan bahwa integrasi TradFi dan blockchain semakin meluas.

    Jika tren ini berlanjut, pasar kripto berpotensi mengalami pergeseran dari siklus spekulatif menuju siklus berbasis fundamental dan adopsi nyata.

    Divergensi antara Bitcoin dan altcoin utilitas bisa menjadi ciri khas fase baru ini, di mana performa proyek ditentukan oleh utilitas, inovasi, dan arus modal institusional, bukan semata-mata sentimen makro.

    Baca Juga: 5 Altcoin Terbaik dengan Utilitas Nyata Berdasarkan Pendapatan Jaringan

    Kapitalisasi pasar RWA yang melonjak empat kali lipat sejak Februari 2023 menandai babak baru dalam evolusi industri kripto. Ethereum, Solana, dan Chainlink berada di garis depan transformasi ini.

    Potensi decoupling dari Bitcoin semakin terbuka, terutama jika adopsi institusional terus meningkat.

    Namun, investor tetap perlu mencermati dinamika makro dan pergerakan BTC sebagai indikator sentimen global.

    Apakah ini awal siklus kripto berbasis fundamental? Pasar tampaknya mulai bergerak ke arah tersebut.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • MYX Finance Anjlok 70% dan Masuk Zona Oversold, Koreksi Berlanjut?

    Token MYX Finance tengah menjadi sorotan pasar kripto setelah mengalami penurunan tajam lebih dari 70% sejak 8 Februari, menurut laporan BeInCrypto pada Rabu (18/2).

    Penurunan agresif ini membawa MYX untuk pertama kalinya dalam sejarah ke wilayah oversold, sebuah kondisi teknikal yang sering kali diasosiasikan dengan potensi pantulan harga (rebound).

    Namun, dinamika terbaru menunjukkan bahwa situasi MYX tidak sesederhana pola oversold klasik.

    Data terbaru juga mengungkapkan bahwa korelasi MYX terhadap Bitcoin meningkat menjadi +0,47, menandakan bahwa pergerakan MYX kini semakin selaras dengan arah BTC yang saat ini cenderung stagnan dan lemah.

    Baca Juga: 3 Altcoin Ini Potensi Listing di Binance pada Oktober 2025, Termasuk MYX dan MNT

    MYX Tertekan 70%: Apa yang Terjadi?

    Sejak awal Februari, tekanan jual terhadap MYX meningkat drastis.

    Koreksi lebih dari 70% dalam waktu relatif singkat menunjukkan adanya distribusi besar-besaran, baik dari investor jangka pendek maupun spekulan yang keluar dari posisi mereka.

    Masuknya MYX ke zona oversold berarti indikator momentum seperti RSI (Relative Strength Index) telah berada di bawah ambang batas normal (biasanya di bawah 30).

    Dalam banyak kasus, kondisi ini sering diikuti oleh relief rally karena tekanan jual mulai jenuh. Namun, penting dicatat bahwa oversold tidak selalu berarti harga akan langsung berbalik arah.

    Dalam tren bearish kuat, aset dapat bertahan di zona oversold dalam waktu yang lama sebelum benar-benar menemukan titik dasar (bottom).

    Korelasi dengan Bitcoin Meningkat

    Salah satu perkembangan penting adalah naiknya korelasi MYX dengan Bitcoin menjadi +0,47. Angka ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari pergerakan MYX kini dipengaruhi oleh arah BTC.

    Korelasi positif yang meningkat ini membawa implikasi ganda. Jika Bitcoin berhasil rebound, MYX berpotensi ikut terdorong naik. Namun jika Bitcoin tetap stagnan atau melemah, tekanan terhadap MYX bisa berlanjut.

    Saat ini, Bitcoin sendiri masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah.

    Hal ini membuat peluang rebound MYX menjadi lebih kompleks, karena katalis internal mungkin tidak cukup kuat tanpa dukungan pasar secara keseluruhan.

    Level Kunci: $0,68 Jadi Penentu

    Menurut analisis teknikal, MYX perlu merebut kembali level $0,68 untuk membatalkan narasi bearish yang saat ini mendominasi.

    Level tersebut dipandang sebagai resistance penting sekaligus area psikologis yang dapat mengubah struktur tren jangka pendek.

    Jika harga gagal menembus dan bertahan di atas $0,68, maka skenario bearish masih tetap dominan.

    Dalam kondisi tersebut, potensi penurunan lanjutan tetap terbuka, terutama jika sentimen pasar kripto secara umum memburuk.

    Sebaliknya, penembusan kuat disertai volume tinggi di atas level tersebut dapat menjadi sinyal awal pembalikan tren (trend reversal).

    Oversold: Peluang atau Perangkap?

    Dalam sejarah pasar kripto, zona oversold sering menjadi area akumulasi strategis bagi investor berani risiko tinggi.

    Namun, perlu diingat bahwa MYX belum memiliki rekam jejak panjang untuk dijadikan referensi historis yang kuat.

    Berbeda dengan aset mapan yang telah melalui beberapa siklus pasar, token yang relatif baru cenderung lebih rentan terhadap volatilitas ekstrem dan pergerakan spekulatif.

    Selain itu, meningkatnya korelasi dengan Bitcoin menunjukkan bahwa faktor makro pasar kini lebih dominan dibanding faktor spesifik proyek MYX itu sendiri.

    Prospek Jangka Pendek MYX

    Dalam jangka pendek, arah MYX akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu pergerakan Bitcoin dan sentimen pasar kripto global; serta kemampuan harga mempertahankan area support terbaru dan merebut kembali level $0,68.

    “Meskipun oversold biasanya memicu rebound, korelasi tinggi dengan Bitcoin yang lemah meningkatkan risiko penurunan lanjutan. MYX perlu merebut kembali level $0,68 untuk membatalkan narasi bearish, ” kata Tim Research Tokocrypto.

    Jika BTC kembali menunjukkan kelemahan, MYX berisiko mengalami tekanan tambahan meskipun berada di zona oversold.

    Namun, jika terjadi rotasi modal ke altcoin atau rebound pasar secara luas, MYX bisa menjadi salah satu token dengan potensi pantulan signifikan mengingat penurunannya yang sangat dalam.

    Baca Juga: 5 Token IDO Teratas di Binance Wallet: MYX Finance Meroket 66%

    MYX Finance kini berada di persimpangan penting. Penurunan 70% sejak 8 Februari membawa token ini ke wilayah oversold untuk pertama kalinya, membuka peluang rebound teknikal.

    Namun, meningkatnya korelasi dengan Bitcoin yang sedang lemah meningkatkan risiko penurunan lanjutan. Level $0,68 menjadi batas krusial untuk membatalkan skenario bearish.

    Investor dan trader disarankan untuk memperhatikan volume perdagangan, pergerakan Bitcoin, serta respons harga di sekitar resistance kunci sebelum mengambil keputusan, mengingat volatilitas MYX yang masih sangat tinggi.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Turun ke $67.447, Melemah 1,6%

    Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di zona merah, menurut laporan Tokocrypto pada Rabu (18/2).

    Berdasarkan data terbaru, harga Bitcoin hari ini tercatat di level $67.447,48 per BTC, turun sekitar 1,6% dalam 24 jam terakhir.

    Koreksi ini memperpanjang tekanan jangka pendek yang masih membayangi aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut.

    Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di kisaran $1,348 miliar dengan volume perdagangan 24 jam mencapai $33,67 miliar.

    Sementara itu, jumlah suplai beredar tercatat sebesar 19,99 juta BTC, atau sekitar 95,20% dari total maksimum suplai 21 juta BTC.

    Baca Juga: Short Bitcoin Paling Ekstrem! Sinyal Reversal Besar Kembali Muncul?

    Pergerakan Harga 24 Jam: BTC Bergerak Fluktuatif

    Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi di $68.660,40 sebelum akhirnya terkoreksi ke area terendah harian di $66.615,28.

    Saat ini, harga bergerak relatif stabil di kisaran $67 ribu setelah sempat mencatat kenaikan tipis 0,42% dalam satu jam terakhir.

    Namun, secara keseluruhan tren jangka pendek masih menunjukkan tekanan bearish ringan.

    Dalam tujuh hari terakhir, BTC turun sekitar 1,1%, mengindikasikan belum adanya momentum kuat untuk pembalikan arah secara signifikan.

    Tekanan Bulanan Masih Signifikan

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 18 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 18 Februari 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas, performa Bitcoin dalam 30 hingga 90 hari terakhir menunjukkan koreksi yang cukup dalam:

    • 30 hari: turun 27,02%
    • 60 hari: turun 23,51%
    • 90 hari: turun 26,90%

    Penurunan bulanan yang cukup besar ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi atau koreksi setelah reli besar sebelumnya.

    Meskipun begitu, Bitcoin tetap mempertahankan statusnya sebagai aset kripto paling dominan dengan posisi peringkat #1 berdasarkan kapitalisasi pasar.

    Kapitalisasi Pasar dan Likuiditas Masih Solid

    Meski mengalami tekanan harga, fundamental pasar Bitcoin masih terbilang kuat dari sisi likuiditas. Volume perdagangan harian di atas $33 miliar menunjukkan aktivitas pasar tetap tinggi.

    Kapitalisasi pasar terdilusi penuh (Fully Diluted Valuation/FDV) saat ini berada di angka $1,417 triliun, mencerminkan potensi valuasi maksimal jika seluruh 21 juta BTC telah beredar.

    Dengan suplai yang semakin mendekati batas maksimal, narasi kelangkaan (scarcity narrative) Bitcoin tetap menjadi salah satu faktor jangka panjang yang menopang optimisme investor institusional maupun ritel.

    Analisa Teknikal: Area Kunci yang Perlu Dipantau

    Secara teknikal, area $66.600 menjadi support jangka pendek yang krusial karena menjadi titik terendah dalam 24 jam terakhir.

    Jika level ini berhasil dipertahankan, Bitcoin berpotensi kembali mencoba menembus resistance di area $68.600 hingga $70.000.

    Namun, apabila tekanan jual berlanjut dan harga turun di bawah $66.600, maka potensi koreksi lebih dalam ke area psikologis $65.000 terbuka lebar.

    Pergerakan 1 jam terakhir yang menunjukkan kenaikan tipis bisa menjadi sinyal awal stabilisasi, tetapi konfirmasi tren baru tetap membutuhkan peningkatan volume beli yang lebih signifikan.

    Sentimen Pasar dan Outlook Jangka Pendek

    Perlu diketahui, kondisi pasar kripto saat ini masih cenderung berhati-hati.

    Investor tampak menunggu katalis baru, baik dari sisi makroekonomi global, kebijakan suku bunga, maupun arus dana institusional melalui ETF dan instrumen investasi lainnya.

    Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin kemungkinan masih akan bergerak sideways di rentang $66.000–$69.000 sambil mencari arah yang lebih jelas.

    Bagi trader jangka pendek, volatilitas ini bisa menjadi peluang trading, sementara bagi investor jangka panjang, fase koreksi seperti ini sering dipandang sebagai periode akumulasi strategis.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Turun 2,3% ke $68.685, Ada Apa?

    Analisa harga BTC hari ini menunjukkan Bitcoin berada di level $67.447 dengan koreksi 1,6% dalam 24 jam terakhir.

    Meski tekanan jangka pendek masih terasa, likuiditas pasar tetap kuat dan fundamental suplai terbatas terus menjadi daya tarik utama.

    Level support di $66.600 dan resistance di sekitar $68.600–$70.000 menjadi area penting yang perlu dipantau.

    Arah pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada sentimen pasar global dan arus modal ke sektor kripto.

    Investor disarankan tetap mengelola risiko dengan bijak, mengingat volatilitas Bitcoin yang masih relatif tinggi dalam beberapa bulan terakhir.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Pi Network Naik 8% ke $0,188 Saat BTC Turun, Sinyal Altseason?

    Harga Pi Network (PI) hari ini mencatatkan kenaikan signifikan dalam 24 jam terakhir, melonjak 8,31% ke level $0,188.

    Kenaikan ini terbilang impresif karena terjadi di tengah tekanan pasar kripto yang lebih luas, di mana Bitcoin (BTC) justru terkoreksi 2,12% dan total kapitalisasi pasar kripto turun sekitar 1,6%.

    Pergerakan yang berlawanan arah dengan Bitcoin ini menunjukkan bahwa PI sedang mencetak “alpha,” istilah yang digunakan untuk menggambarkan performa aset yang mengungguli pasar secara keseluruhan. Lantas, apa yang mendorong reli ini?

    Baca Juga: Harga Pi Network Melejit 27%, Tembus $0,195! Picu Euforia Baru?

    Rotasi Modal ke Altcoin Jadi Pendorong Utama

    Kenaikan harga Pi Network kali ini bukan didorong oleh kabar fundamental spesifik dari proyeknya, melainkan oleh dinamika makro pasar kripto: rotasi modal dari Bitcoin ke altcoin.

    Indikator Altcoin Season Index dari CoinMarketCap tercatat naik 8,82% dalam 24 jam terakhir dan melonjak 32,14% dalam sepekan.

    Kenaikan indeks ini mengindikasikan bahwa semakin banyak altcoin yang mengungguli Bitcoin dalam periode tertentu, sebuah ciri klasik fase awal “altcoin season”.

    Ketika investor mulai mencari imbal hasil lebih tinggi di luar Bitcoin, altcoin dengan volatilitas dan potensi spekulatif tinggi seperti Pi Network sering kali menjadi sasaran utama.

    Artinya, reli PI lebih mencerminkan perubahan sentimen risiko (risk-on) di kalangan trader dibandingkan adanya pembaruan fundamental besar dari jaringan tersebut.

    Volume Perdagangan Naik 18%, Konfirmasi Minat Beli

    Pergerakan harga Pi Coin (PI/USDT) pada Rabu, 18 Februari 2026. Sumber: CoinMarketCap.
    Pergerakan harga Pi Coin (PI/USDT) pada Rabu, 18 Februari 2026. Sumber: CoinMarketCap.

    Di sisi lain, kenaikan harga PI juga didukung oleh lonjakan volume perdagangan harian sebesar 18,09% menjadi $26,9 juta.

    Peningkatan volume ini penting karena memberikan validasi bahwa kenaikan harga didorong oleh aktivitas beli yang nyata, bukan sekadar pergerakan tipis akibat likuiditas rendah.

    Selain itu, Coinmarketcap mencatat bahwa dalam sepekan terakhir PI telah mencatatkan kenaikan impresif sebesar 36,56%.

    Momentum mingguan yang kuat ini menunjukkan bahwa reli saat ini kemungkinan merupakan kelanjutan tren naik jangka pendek, bukan hanya short squeeze sesaat.

    Secara teknikal, struktur harga menunjukkan bahwa level $0,17 kini menjadi area support krusial. Level ini sebelumnya berfungsi sebagai zona konsolidasi sebelum harga melanjutkan kenaikan.

    Prospek Jangka Pendek: Uji Resistance $0,20

    Dalam jangka pendek, arah pergerakan PI sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni keberlanjutan rotasi modal ke altcoin dan kemampuan harga bertahan di atas support $0,17.

    Jika rotasi ke altcoin terus berlanjut dan sentimen pasar tetap risk-on, maka PI berpotensi menguji ulang resistance psikologis di kisaran $0,20.

    Level ini menjadi target terdekat yang akan menentukan apakah reli bisa berlanjut ke fase kenaikan berikutnya.

    Namun, jika harga gagal mempertahankan support $0,17, maka risiko koreksi ke area $0,16 terbuka lebar.

    Koreksi tersebut bisa semakin dalam apabila Bitcoin kembali melemah tajam atau Altcoin Season Index berbalik turun.

    Risiko: Ketergantungan pada Sentimen Makro

    Meski pergerakan PI terlihat bullish, perlu dicatat bahwa reli ini sangat bergantung pada dinamika makro pasar kripto, bukan pada katalis internal proyek.

    Jika Bitcoin kembali menguat dan menarik likuiditas dari altcoin, atau jika sentimen pasar berubah menjadi risk-off, maka altcoin dengan volatilitas tinggi seperti PI berpotensi mengalami koreksi lebih tajam.

    Dalam fase rotasi modal, aset yang naik cepat juga cenderung terkoreksi cepat ketika arus dana berbalik arah.

    Baca Juga: Harga Pi Network Naik ke $0,176, Upgrade Jaringan dan Ultah Mainnet

    Kenaikan harga Pi Network sebesar 8,31% ke $0,188 mencerminkan kuatnya arus rotasi modal ke altcoin di tengah pelemahan Bitcoin.

    Lonjakan volume 18% dan momentum mingguan +36,56% memperkuat struktur bullish jangka pendek.

    Namun, reli ini bersifat kondisional. Selama harga mampu bertahan di atas $0,17 dan Altcoin Season Index terus meningkat, peluang uji resistance $0,20 tetap terbuka. Sebaliknya, kehilangan support kunci bisa memicu koreksi ke area $0,16.

    Bagi trader dan investor, fokus utama saat ini adalah memantau kekuatan rotasi altcoin dan dinamika Bitcoin, karena dua faktor tersebut akan menentukan apakah reli Pi Network berlanjut atau justru mulai kehilangan tenaga.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Kripto Hari Ini 18 Februari 2026: Menanti Risalah FOMC

    Menjelang rilis risalah FOMC, pasar kripto hari ini Rabu, (18/2) bergerak dinamis dengan sejumlah altcoin mencatat lonjakan signifikan. CYBER memimpin reli dengan kenaikan 30% ke level $0,73 pada Rabu (18/2), disusul STEEM yang naik 25% ke $0,0655 dan ORCA yang menguat 18% hingga $1,234.

    Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya spekulasi jangka pendek menjelang katalis makro penting dari The Fed. Lihat lebih lengkap di bawah ini:

    Daftar Altcoin Potensial Hari Ini Jelang Risalah FOMC

    • CYBER meroket 30% ke level $0.73 hari ini, Rabu (18/2).
    • STEEM naik 25%, kini diperdagangkan $0,0655.
    • ORCA melesat 18% hingga menyentuh $1,234.

    Reli Bitcoin Mereda,Analis Sebut Waktunya Serok

    • BTC anjlok 22%, kinerja kuartalan terburuk sejak 2018.
    • Naik 9% picu risiko jatuh akibat pasar terlalu bullish.
    • Support $66rb; tembus berisiko ke $58rb, batal jika lewati $79rb.

    Deposit & Trade $AT PART 2! Rebut Hadiah Rp400 JUTA

    3 Altcoin yang Patut Diperhatikan di Pekan Ketiga Februari 2026

    • Arbitrum berisiko jatuh ke $0,0944 jika gagal tembus $0,1447.
    • Injective tetap bearish di bawah $3,662 mengekor Bitcoin.
    • Bitcoin Cash incar $609,8 jika mampu tembus $574,1.

    Risalah FOMC Besok: Reli atau Guncangan bagi Kripto?

    • Risalah Januari picu volatilitas kripto seiring pergeseran ekspektasi suku bunga.
    • Sinyal hawkish tekan Bitcoin, isyarat dovish angkat Altcoin.
    • CPI 2,4% dan proyeksi Maret pengaruhi arah suku bunga Fed 2026.

    Baca juga: Riset Kripto 9-13 Feb 2026: Bitcoin Berdarah, AI Berpesta!!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com