Sudah menjadi hal yang biasa di kalangan trader dalam menggunakan teknik pola grafik sebagai alat untuk melihat pergerakan arah pasar, tak terkecuali trader aset kripto. Pola grafik yang digunakan juga beragam jenisnya, salah satunya adalah Triangle Pattern. Pola ini dianggap bisa memprediksi harga pasar, lho. Penasaran? Berikut informasi selengkapnya!
Apa Itu Triangle Pattern dan Bagaimana Proses Terbentuknya
Triangle Pattern merupakan bagian dari continuation pattern pada analisis teknikal, di mana pola ini menunjukkan apakah suatu tren yang terjadi cenderung berlanjut atau tidak. Pola ini diberi nama triangle dikarenakan bentuknya adalah segitiga, sehingga lebih mudah untuk dibaca dan dipahami.
Segitiga dibentuk saat ujung trendline (garis tren) atas dan bawah bertemu di sisi kanan, sehingga menjadi sebuah sudut yang terlihat sebagai puncak dari segitiga. Trendline atas ditarik dengan menghubungkan titik-titik tertinggi pada grafik, sementara trendline bawah menghubungkan titik-titik terendah.
Trader yang menggunakan pola ini cenderung bertujuan untuk menangkap breakout (pergerakan harga yang menembus level harga tertentu) yang terjadi pada akhir trendline. Dengan pola ini, trader juga dapat lebih mudah mengatur timing yang tepat dan pengambilan keputusan pada saat trading, karena sinyal bullishmaupun bearishlebih mudah teridentifikasi.
3 Jenis Triangle Pattern dan Cara Kerjanya
Triangle Pattern sendiri terdiri dari 3 jenis dengan cara kerja yang berbeda-beda, yaitu:
1. Ascending Triangle
Pola ini terbentuk saat harga menembus trendline atas diikuti dengan volume yang meningkat. Trendline atas harus berbentuk horizontal sebagai resistance, sementara trendline bawah meningkat secara diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa para pembeli meningkatkan tawaran mereka secara sabar dan perlahan.
Akhirnya, para pembeli pasti akan tidak sabar dan bergegas untuk cari aman dengan menawar hingga menembus harga resistance pada trendline atas (breakout), sehingga pembelian akan terus meningkat saat uptrend (pasar bullish). Berkat fenomena cari aman tersebut, trendline atas tidak lagi resistance, tetapi menjadi support.
Di pola AscendingTriangle, tentu pergerakan harga akan menjadi lebih sempit. Akan tetapi, dikarenakan terbentuk pada saat uptrend, maka sentimen pasar akan tetap bullish secara keseluruhan. Selain itu, pola ini juga dianggap sebagai kelanjutan dari tren lama (continuation pattern) dan umumnya digunakan untuk memasuki posisi long.
2. Descending Triangle
Sesuai namanya, pola ini merupakan kebalikan dari Ascending Triangle dan dianggap sebagai pola breakdown (menurun). Pada pola ini, trendline bawah harus horizontal sebagai support, sementara trendline atas menurun secara diagonal dan menyentuh ujung trendline bawah untuk membentuk puncak segitiga.
Saat harga jatuh dan melewati trendline bawah, downtrend akan berlanjut (pasar bearish). Berkat breakdown tersebut, trendline bawah yang tadinya merupakan support berubah menjadi resistance. Sementara itu, para trader akan mengambil ancang-ancang sesaat setelah breakout terjadi.
Karena berlawanan dengan pola sebelumnya, Descending Triangle didominasi oleh sinyal pasar yang bearish sehingga naik-turunnya harga tidak akan terlalu bergejolak. Pola ini juga dianggap sebagai continuation pattern dan umumnya digunakan untuk memasuki posisi short.
3. Symmetrical Triangle
Pola ini terbentuk saat trendline atas menurun secara diagonal bersamaan dengan trendline bawah yang naik secara diagonal dan bertemu membentuk sebuah sudut. Biasanya, pola ini dikembangkan ketika pasar sedang berada di kondisi yang penuh keraguan atau abu-abu.
Di situasi ini, trader akan mengalami kebingungan dalam mengambil langkah, sehingga titik tertinggi dan terendah akan bertemu di puncak segitiga. Akan tetapi, saat trader mulai mengetahui arah mana yang akan dituju, mereka langsung masuk dengan volume yang besar, baik ke atas maupun ke bawah. Di saat ini pula breakout akan terjadi.
Pola Symmetrical Triangle jarang terbentuk secara sempurna, sehingga para trader harus bisa menahan kesabaran sejenak dan mulai masuk setelah melihat sinyal kritis pasar dan arah pergerakan grafiknya. Biasanya, pergerakan harga akan kembali ke arah yang sama seperti arah pada saat sebelum pola terbentuk (continuation pattern).
Tips dalam Menggunakan Triangle Pattern bagi Trader
Jadi, Triangle Pattern berguna untuk melihat apakah suatu tren akan berlanjut atau tidak. Trader juga bisa memanfaatkannya untuk memprediksi arah mana yang akan dituju oleh pasar. Ada beberapa tips yang bisa membantu untuk mengurangi risiko saat trading dengan pola ini, di antaranya:
1. Saat Memasuki Posisi Long dan Short
Saat masuk posisi long dengan Ascending Triangle, Anda dapat menetapkan stop-loss di sekitar titik terendah yang paling baru muncul. Namun, jika ternyata pasar mengarah lebih turun dari titik tersebut, tren berarti sudah memuncak sehingga penjualan akan mendominasi (bearish).
Sebaliknya, saat memasuki short dengan Descending Triangle, Anda dapat menetapkan stop-loss di titik yang mendekati dengan titik tertinggi yang paling baru terjadi. Hal ini akan membantu mengurangi risiko jika ternyata sinyal bullish mendominasi.
2. Menentukan Waktu yang Tepat untuk Keluar
Saat ingin keluar dari pasar, tentu Anda ingin mengantongi profit. Untuk itu, Anda bisa memanfaatkan garis vertikal yang berada di titik pembukaan segitiga dan keluar saat pergerakan harga yang sama telah terjadi. Misalnya, Anda masuk pasar Bitcoin dengan Ascending Triangle yang dibuka di harga $7, maka Anda harus exit setelah harga meningkat sebesar $7 juga agar bisa mendapat cuan.
3. Mengecek Jumlah Volume
Sebagai trader, Anda harus bisa memastikan bahwa sinyal breakout yang ditangkap bukan merupakan sinyal palsu. Caranya dengan mengecek apakah jumlah volume sudah cukup banyak untuk menunjukkan bahwa tren masih akan berlanjut. Jika cenderung kecil, maka ada baiknya Anda menunggu sejenak sebelum masuk ke pasar.
4. Melihat Grafik di Masa Lampau
Sebelum memutuskan untuk entry, Anda harus melihat pergerakan grafik trading aset kripto di masa lampau. Dari sana, Anda dapat melihat Triangle Pattern yang terbentuk sambil mempelajarinya, sehingga saat mencobanya langsung Anda sudah bisa menemukan pola yang berkelanjutan.
Itulah penjelasan mengenai Triangle Pattern beserta tips dalam menggunakannya. Jadi, apakah Anda sudah siap untuk mencobanya langsung? Oh iya, dalam jual-beli aset kripto, pastikan Anda memilih Tokocrypto sebagai exchangeyang terpercaya, ya! Yuk, daftar dan selesaikan KYC di www.tokocrypto.com dan dapatkan informasi menarik lainnya seputar trading dan investasi aset kripto.
Bitcoin telah menjadi perdebatan yang sengit dalam dunia keuangan dan investasi, dipertanyakan apakah cryptocurrency ini benar-benar bisa berperan sebagai penyimpan nilai yang sebanding dengan aset-aset konvensional seperti emas atau properti. Walaupun awalnya diciptakan untuk memfasilitasi transaksi online, banyak yang kini menganggap Bitcoin sebagai potensi penyimpan nilai yang kuat.
Namun, pertanyaannya adalah apakah Bitcoin benar-benar bisa diandalkan dalam peran ini, dan apakah ia dapat mengikuti jejak aset safe-haven tradisional seperti emas dan perak? Dalam artikel ini, kita akan merenungkan argumen yang mendukung dan menentang klaim bahwa Bitcoin adalah penyimpan nilai yang dapat dipercaya, serta dampaknya dalam konteks ekonomi global.
Pendahuluan
Ketika membahas aset safe-haven, emas dan perak mungkin adalah yang pertama terlintas dalam benak kita. Aset-aset ini telah lama diakui sebagai investasi yang aman yang dapat melindungi nilai kekayaan dari turbulensi pasar konvensional.
Namun, pertanyaan muncul mengenai apakah Bitcoin dapat menggantikan peran ini. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi beberapa argumen utama yang mendukung dan meragukan kemampuan Bitcoin sebagai penyimpan nilai atau store of value.
Apa Arti Penyimpan Nilai?
Penyimpan nilai atau store of value adalah suatu bentuk aset yang mampu menjaga nilai intrinsiknya dari waktu ke waktu. Artinya, jika Anda membeli aset penyimpan nilai yang baik hari ini, Anda dapat yakin bahwa nilainya tidak akan merosot dalam jangka waktu yang signifikan. Ketika Anda melihat ke depan, Anda dapat mengharapkan aset tersebut memiliki nilai yang setara atau bahkan lebih tinggi.
Jika Anda berpikir tentang aset safe-haven, emas atau perak mungkin akan menjadi yang pertama kali terlintas dalam benak Anda. Ini adalah pilihan yang masuk akal karena ada beberapa alasan mengapa aset-aset ini secara tradisional dianggap memiliki nilai, yang akan kita bahas dalam waktu dekat.
Ciri-ciri Penyimpan Nilai yang Baik
Untuk memahami apa yang membuat suatu aset dikatakan sebagai penyimpan nilai yang baik, mari kita terlebih dahulu lihat apa yang membuat suatu aset tidak cocok sebagai penyimpan nilai. Ketika Anda ingin menyimpan sesuatu dalam jangka waktu yang panjang, aset tersebut harus tahan lama.
Mari ambil contoh makanan. Buah seperti apel dan pisang memiliki nilai intrinsik karena manusia membutuhkan nutrisi untuk bertahan hidup. Ketika makanan langka, jenis barang-barang ini akan menjadi sangat berharga. Namun, makanan tidak dapat dianggap sebagai penyimpan nilai yang baik karena nilainya akan cepat merosot jika disimpan dalam waktu yang lama, karena makanan akan membusuk.
Tetapi bagaimana dengan sesuatu yang memiliki nilai intrinsik dan tahan lama? Pertimbangkan pasta kering sebagai contoh. Pasta kering memiliki masa pakai yang lebih baik dalam jangka panjang, tetapi bahkan ini tidak dapat dijamin akan tetap mempertahankan nilai. Pasta diproduksi secara murah dan bahan baku selalu tersedia. Sehingga, jika terdapat kelebihan pasokan pasta di pasaran, nilai pasta yang beredar akan menurun karena penawaran melebihi permintaan. Oleh karena itu, untuk menjaga nilai, suatu aset juga harus menjadi langka.
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa mata uang fiat seperti dolar, euro, atau yen adalah cara yang baik untuk menyimpan kekayaan karena mereka dapat mempertahankan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Namun, sebenarnya, mata uang fiat merupakan penyimpan nilai yang buruk karena daya beli mereka cenderung menurun seiring berjalannya waktu. Hal ini terjadi karena pemerintah dapat mencetak lebih banyak uang, yang menyebabkan inflasi, yaitu naiknya harga barang dan jasa. Inflasi sering kali disebabkan oleh pencetakan uang berlebihan oleh pemerintah.
Sebagai contoh, bayangkan Anda memiliki 25% dari total pasokan uang senilai $100 miliar, sehingga Anda memiliki $25 miliar. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah memutuskan untuk mencetak tambahan $800 miliar untuk merangsang ekonomi. Akibatnya, bagian Anda tiba-tiba hanya bernilai sekitar 3%. Ini disebabkan oleh adanya penambahan uang beredar, sehingga wajar jika bagian Anda kehilangan daya beli yang dimilikinya sebelumnya.
Lemahnya daya beli dari waktu ke waktu.
Seperti yang telah kita diskusikan sebelumnya, produksi dollar tidaklah mahal. Skenario yang diilustrasikan di atas bisa terjadi dalam hitungan hari. Dalam konteks penyimpan nilai yang baik, sangat sulit untuk membanjiri pasar dengan unit baru. Dengan kata lain, nilai investasi Anda akan mengalami penurunan yang sangat lambat, atau bahkan tidak sama sekali.
Jika kita ambil emas sebagai contoh, kita tahu bahwa pasokannya sangat terbatas. Kita juga menyadari bahwa emas merupakan komoditas yang sangat sulit untuk ditambang. Oleh karena itu, meskipun terjadi lonjakan permintaan, tidak mungkin untuk segera mencetak lebih banyak emas. Sebaliknya, emas harus diekstraksi dari tanah terlebih dahulu sebelum dapat digunakan. Walaupun ada peningkatan permintaan, pasokan emas tidak dapat ditingkatkan secara signifikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Argumentasi yang Mendukung Bitcoin Sebagai Penyimpan Nilai
Sejak awal perkembangan Bitcoin, para pendukungnya telah menganggapnya sebagai “emas digital” daripada sekadar mata uang digital biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, narasi ini semakin ditekankan oleh banyak penggemar Bitcoin.
Tesis yang mendukung Bitcoin sebagai penyimpan nilai berpendapat bahwa cryptocurrency ini merupakan salah satu aset paling stabil yang pernah ada. Para pendukung tesis ini meyakini bahwa Bitcoin adalah cara terbaik untuk menyimpan kekayaan agar tidak mengalami depresiasi seiring berjalannya waktu.
Meskipun Bitcoin dikenal karena volatilitasnya yang tinggi, mungkin terasa agak tidak masuk akal bahwa banyak orang menganggapnya sebagai penyimpan nilai, terutama jika kita mempertimbangkan fluktuasi besar yang pernah terjadi dalam sehari. Namun, bahkan dengan semua kekurangannya, cryptocurrency ini tetap menjadi salah satu aset dengan performa terbaik hingga saat ini. Mengapa begitu banyak yang memuji Bitcoin sebagai penyimpan nilai?
Faktor Kelangkaan
Salah satu argumen paling kuat dalam mendukung tesis Bitcoin sebagai penyimpan nilai adalah kelangkaannya. Seperti yang pernah dibahas dalam artikel kami yang berjudul “Apa Itu Bitcoin?”, tidak akan pernah ada lebih dari 21 juta Bitcoin di dunia ini. Protokol Bitcoin memastikan hal ini melalui aturan yang tidak dapat diubah.
Cara satu-satunya untuk menciptakan Bitcoin baru adalah dengan melalui proses penambangan, yang dapat disamakan dengan menambang emas. Namun, berbeda dengan pengeboran bumi, penambang Bitcoin harus memecahkan teka-teki kriptografi menggunakan kekuatan komputasi untuk mendapatkan Bitcoin baru.
Seiring berjalannya waktu, imbalan bagi penambang berkurang dalam sebuah peristiwa yang dikenal sebagai “halving”. Seperti yang bisa ditebak, halving berarti membagi dua imbalan yang diberikan kepada penambang. Pada awal perkembangan Bitcoin, sistem memberikan 50 BTC sebagai imbalan kepada penambang yang berhasil memvalidasi sebuah blok. Setelah halving pertama, jumlah ini berkurang menjadi 25 BTC. Halving berikutnya memangkas imbalan menjadi 12,5 BTC, dan seterusnya hingga mencapai 6,25 Bitcoin per blok. Proses ini akan berlanjut selama 100 tahun mendatang hingga semua Bitcoin yang telah direncanakan masuk ke dalam peredaran.
Untuk memberikan perbandingan dengan contoh mata uang fiat yang telah disebutkan sebelumnya, bayangkan jika Anda membeli 25% dari pasokan Bitcoin, yaitu sekitar 5.250.000 Bitcoin, beberapa tahun yang lalu. Saat Anda mendapatkan Bitcoin ini, Anda tahu bahwa persentase kepemilikan Anda akan tetap sama karena tidak ada entitas yang mampu menambahkan lebih banyak Bitcoin ke dalam sistem ini.
Tidak ada campur tangan dari pemerintah atau lembaga pengatur tradisional, dan ini adalah salah satu fitur yang menjadi perdebatan, yang akan kita bahas lebih lanjut. Dengan demikian, jika Anda membeli dan menyimpan (atau “HODL”) 25% dari pasokan maksimum pada tahun 2010, Anda akan tetap memiliki persentase yang sama sampai hari ini.
Desentralisasi
Anda mungkin berpikir, “Ini perangkat lunak open-source, saya bisa menyalin kodenya dan menciptakan versi saya sendiri dengan tambahan 100 juta koin.” Tentu, Anda teknis bisa melakukannya. Bayangkan saja Anda membuat klon dari perangkat lunak Bitcoin, melakukan beberapa modifikasi, dan menjalankannya sebagai node.
Semuanya terlihat bagus, tetapi ada satu masalah besar: node Anda tidak akan bisa terhubung dengan node lain di jaringan Bitcoin. Dalam hal ini, ketika Anda mencoba mengubah parameter perangkat lunak, anggota jaringan Bitcoin akan mengabaikan Anda. Anda akan “forked” (cabang jalan), dan program yang Anda jalankan tidak akan dianggap sebagai Bitcoin di mana pun.
Ini serupa dengan mengambil gambar Mona Lisa dan mengklaim bahwa sekarang ada dua Mona Lisa. Anda mungkin dapat meyakinkan diri sendiri bahwa ada dua Mona Lisa, tetapi meyakinkan orang lain adalah tugas yang sangat sulit!
Kami telah mencatat adanya sistem tata kelola dalam Bitcoin yang diciptakan oleh setiap pengguna yang menjalankan perangkat lunaknya. Satu-satunya cara protokol dapat diubah adalah jika mayoritas pengguna setuju dengan perubahan tersebut.
Mengajak mayoritas pengguna untuk setuju untuk menambah pasokan koin adalah tugas yang sangat sulit karena Anda pada dasarnya meminta mereka untuk mengurangi nilai kepemilikan mereka sendiri. Saat ini, bahkan fitur yang dianggap tidak penting bisa memerlukan bertahun-tahun untuk mencapai konsensus di seluruh jaringan.
Seiring dengan pertumbuhan jaringan, upaya untuk mengajukan perubahan akan semakin sulit. Karena itu, pemegang Bitcoin cukup yakin bahwa pasokannya akan tetap terbatas. Meskipun Bitcoin adalah produk manusia, sifat desentralisasi jaringannya membuatnya bertindak lebih seperti sumber daya alam daripada kode yang bisa diubah semau-maunya.
Sifat Uang yang Baik
Pendukung tesis Bitcoin sebagai penyimpan nilai juga berpendapat bahwa Bitcoin bukan hanya harta digital yang langka, tetapi juga memiliki sifat-sifat uang yang telah diterima selama berabad-abad.
Emas telah digunakan sebagai bentuk uang dalam peradaban sejak ditemukannya. Ada beberapa alasan mengapa emas menjadi pilihan. Kami telah membahas sifat tahan lama dan kelangkaannya sebelumnya. Meskipun sifat-sifat ini membuatnya menjadi aset yang baik, belum tentu menjadikannya uang yang baik. Untuk menjadi uang yang baik, suatu aset juga harus memiliki sifat sepadan, portabilitas, dan dapat dibagi.
Kesepadanan
Kesepadanan atau fungibilitas berarti bahwa unit-unit aset tersebut tidak dapat dibedakan satu sama lain. Dengan emas, dua koin emas satu ons yang sama akan memiliki nilai yang sama. Hal ini juga berlaku untuk saham dan uang tunai. Anda tidak perlu khawatir tentang unit mana yang Anda simpan – semuanya akan memiliki nilai yang sama jika jenisnya sama.
Sifat sepadan Bitcoin mungkin agak diperdebatkan. Idealnya, tidak masalah unit Bitcoin mana yang Anda miliki; 1 BTC = 1 BTC. Namun, hal yang membuatnya sedikit rumit adalah bahwa setiap unit Bitcoin dapat ditelusuri kembali ke transaksi sebelumnya. Beberapa kasus telah terjadi di mana bisnis atau entitas mem-blacklist dana yang mereka yakini terkait dengan aktivitas kriminal, meskipun pemilik Bitcoin tidak memiliki pengetahuan tentang sejarah dana tersebut karena menerima Bitcoin tersebut setelahnya.
Apakah ini penting? Sebenarnya, tidak terlalu penting. Ketika Anda membayar dengan uang tunai, baik Anda maupun pedagang tidak tahu sejarah transaksi uang tersebut, dan tidak ada konsep riwayat transaksi. Uang baru tidak memiliki nilai yang lebih tinggi dari uang yang pernah digunakan.
Namun, dalam skenario terburuk, Bitcoin yang memiliki riwayat transaksi lebih lama dapat dijual dengan harga sedikit lebih rendah daripada Bitcoin yang relatif baru. Tergantung pada sudut pandang Anda, hal ini bisa menjadi ancaman besar bagi Bitcoin atau tidak perlu dicemaskan. Untuk saat ini, Bitcoin secara fungsional memiliki sifat sepadan, meskipun ada beberapa insiden di mana Bitcoin dibekukan karena riwayat yang mencurigakan.
Portabilitas
Portabilitas berarti seberapa mudah Anda dapat mengangkut aset tersebut. Misalnya, membawa $10.000 dalam uang kertas pecahan $100 atau minyak senilai $10.000 memerlukan upaya dan biaya yang berbeda.
Mata uang yang baik harus memiliki faktor bentuk yang mudah diangkut, sehingga memungkinkan setiap orang untuk melakukan pembayaran barang dan jasa dengan mudah.
Emas telah lama dikenal karena portabilitasnya. Koin emas standar saat ini memiliki nilai sekitar $1.500. Karena kecil kemungkinannya Anda akan melakukan pembelian senilai satu ons emas penuh, denominasi yang lebih kecil tidak memakan banyak tempat.
Bitcoin, pada kenyataannya, lebih unggul daripada emas dalam hal portabilitas. Bahkan, Bitcoin sama sekali tidak memiliki tampilan fisik. Anda dapat menyimpan triliunan dolar dalam bentuk Bitcoin di dalam perangkat keras seukuran telapak tangan.
Memindahkan satu miliar dolar dalam bentuk emas (yang saat ini akan berat lebih dari 20 ton) akan memerlukan usaha besar dan biaya yang signifikan. Bahkan dengan uang tunai, Anda perlu membawa palet-palet uang kertas $100. Namun, dengan Bitcoin, Anda dapat mengirim jumlah yang sama ke mana saja di dunia ini dengan biaya kurang dari satu dolar.
Dapat Dibagi
Kualitas penting lainnya dari mata uang adalah sifatnya yang dapat dibagi, artinya kemampuan untuk membaginya menjadi unit yang lebih kecil. Dalam hal ini, emas memungkinkan Anda untuk memotong koin emas satu ons menjadi dua koin setengah ons. Meskipun Anda mungkin kehilangan sedikit nilai premi karena merusak desain koin, nilai emasnya tetap sama. Anda dapat terus memotong unit setengah ons tersebut menjadi denominasi yang lebih kecil.
Sifat dapat dibagi juga merupakan salah satu keunggulan Bitcoin. Meskipun hanya ada 21 juta koin Bitcoin, masing-masing unit terdiri dari 100 juta unit yang lebih kecil, yang dikenal sebagai satoshi. Ini mempermudah pengguna untuk melakukan transaksi dengan fleksibilitas tinggi, karena mereka dapat menentukan jumlah yang akan dikirim hingga delapan desimal. Kemampuan ini memungkinkan investor kecil untuk berpartisipasi dengan mudah dalam pasar Bitcoin.
Penyimpan Nilai, Media Pertukaran, dan Satuan Hitung
Tentangan dan persepsi beragam mengenai peran Bitcoin saat ini. Ada yang menganggapnya hanya sebagai alat pembayaran sederhana, yaitu alat untuk memindahkan uang dari titik A ke titik B. Namun, pandangan ini bertentangan dengan gagasan bahwa Bitcoin seharusnya dianggap sebagai penyimpan nilai.
Para pendukung gagasan Bitcoin sebagai penyimpan nilai berpendapat bahwa Bitcoin harus melalui serangkaian tahap sebelum dapat dianggap sebagai mata uang utama. Saat ini, Bitcoin masih berada di tahap koleksi, dilihat sebagai aset yang fungsional dan aman, tetapi belum diterima secara luas. Mayoritas pengguna Bitcoin saat ini masih terdiri dari para penggemar dan spekulan.
Namun, tahap selanjutnya adalah menjadi penyimpan nilai yang dianggap oleh beberapa orang telah tercapai. Pada tahap ini, Bitcoin tidak digunakan secara luas dalam transaksi sehari-hari, karena konsep hukum Gresham, yang berpendapat bahwa uang buruk akan mengusir uang yang baik. Dengan kata lain, jika seseorang memiliki pilihan antara dua jenis mata uang, mereka lebih cenderung menghabiskan mata uang yang dianggap buruk dan menyimpan yang dianggap baik. Sebagian besar pemegang Bitcoin memilih untuk menyimpannya (atau “HODL”) karena mereka percaya bahwa kripto ini akan mempertahankan nilainya di masa depan.
Namun, jika jaringan Bitcoin terus berkembang dan diterima lebih luas, likuiditas akan meningkat, dan harga akan menjadi lebih stabil. Dengan stabilitas yang semakin kuat, insentif untuk menyimpan Bitcoin dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan kemungkinan akan berkurang. Sebagai hasilnya, Bitcoin mungkin digunakan lebih banyak dalam transaksi sehari-hari sebagai media pertukaran yang kuat.
Dengan peningkatan penggunaan tersebut, harga Bitcoin akan menjadi lebih stabil. Pada tahap akhir, Bitcoin dapat menjadi satuan hitung, digunakan untuk menentukan harga aset lainnya. Sebagai contoh, jika Anda saat ini menghargai satu galon minyak seharga $4, di masa depan yang diharapkan, Anda akan menghitung nilainya dalam satuan Bitcoin.
Jika Bitcoin berhasil mencapai ketiga peran moneter ini, para pendukungnya melihatnya sebagai standar baru yang dapat menggantikan mata uang yang saat ini berlaku.
Kritik terhadap Bitcoin sebagai penyimpan nilai
Ada juga pandangan kritis terhadap gagasan Bitcoin sebagai “emas digital,” baik dari kalangan penggemar Bitcoin maupun skeptis terhadap mata uang kripto.
Bitcoin sebagai uang digital
Pendukung gagasan Bitcoin sebagai alat pembayaran mengacu pada white paper Bitcoin sebagai panduan awal. Mereka berpendapat bahwa Bitcoin seharusnya digunakan dalam transaksi. Dalam judulnya saja sudah tertera: “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System” (Sistem Pembayaran Elektronik Peer-to-Peer Bitcoin).
Argumen ini menyatakan bahwa nilai Bitcoin hanya ada ketika orang menggunakannya dalam transaksi. Dengan menyimpannya, Anda sebenarnya tidak berkontribusi pada adopsi Bitcoin – bahkan dapat merusaknya. Jika Bitcoin tidak diakui secara luas sebagai alat pembayaran, maka nilainya lebih didasarkan pada spekulasi daripada utilitas.
Perbedaan pandangan ini menyebabkan perpecahan dalam komunitas Bitcoin pada tahun 2017. Sebagian kecil pengguna Bitcoin ingin meningkatkan kapasitas blok untuk mengurangi biaya transaksi. Karena meningkatnya penggunaan jaringan, biaya transaksi menjadi sangat tinggi, terutama merugikan pengguna dengan transaksi bernilai rendah. Jika biaya transaksi rata-rata mencapai $10, maka pengeluaran $3 untuk membeli barang yang sama akan terasa mahal.
Jaringan yang bercabang tersebut sekarang dikenal sebagai Bitcoin Cash. Sementara jaringan Bitcoin asli mengadopsi SegWit, yang meningkatkan kapasitas blok dan memungkinkan pengembangan Lightning Network, yang bertujuan untuk memfasilitasi transaksi berbiaya rendah melalui jalur terpisah.
Namun, saat ini Lightning Network masih belum sempurna. Transaksi Bitcoin konvensional lebih mudah dipahami, sementara manajemen saluran dan kapasitas Lightning Network memerlukan pemahaman yang lebih dalam. Pertanyaannya adalah apakah desainnya dapat disederhanakan atau apakah terlalu rumit untuk diadopsi secara luas.
Karena permintaan akan kapasitas blok yang terus meningkat, biaya transaksi on-chain juga meningkat, terutama pada saat jam sibuk. Oleh karena itu, ada argumen bahwa tanpa peningkatan ukuran blok, Bitcoin dapat kehilangan utilitasnya sebagai alat pembayaran.
Tidak ada Nilai Instrinsik
Untuk banyak orang, perbandingan antara Bitcoin dan emas terdengar agak absurd. Sejarah emas adalah bagian integral dari peradaban manusia selama ribuan tahun. Meskipun peran emas telah berkurang sejak dihapusnya standar emas, tetap merupakan aset safe haven klasik.
Berbeda dengan Bitcoin, yang tidak memiliki nilai intrinsik di luar jaringannya. Anda tidak dapat menggunakan Bitcoin sebagai konduktor listrik atau membuatnya menjadi perhiasan yang mengkilap. Bitcoin mungkin mencerminkan beberapa sifat emas seperti penambangan dan persediaan yang terbatas, tetapi tetap merupakan aset digital.
Secara keseluruhan, semua mata uang bergantung pada keyakinan bersama; dolar memiliki nilai karena pemerintah dan masyarakat mengakui nilainya. Emas memiliki nilai karena dipercayai oleh banyak orang. Bitcoin juga bergantung pada keyakinan, tetapi masih kurang dikenal oleh masyarakat umum. Oleh karena itu, seringkali perlu menjelaskan dengan panjang lebar apa itu Bitcoin kepada banyak orang yang belum mengenalnya.
Volatilitas dan Korelasi
Bagi mereka yang memiliki Bitcoin pada tahap awal, pengalaman mereka mungkin sangat berbeda. Bitcoin dikenal dengan volatilitas yang tinggi dan perubahan harganya yang sulit diprediksi. Dalam hal fluktuasi harga, emas dan perak jauh lebih stabil dibandingkan dengan Bitcoin. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat ini, Bitcoin mungkin belum sepenuhnya berfungsi sebagai penyimpan nilai.
Selain itu, korelasi Bitcoin dengan pasar tradisional juga perlu dipertimbangkan. Meskipun beberapa orang mungkin menyebutnya sebagai “tidak berkorelasi” dengan aset lain, belum ada bukti pasti bahwa Bitcoin akan tetap stabil saat aset lain mengalami penurunan nilai.
Tulip Mania dan Beanie Babies
Beberapa kritikus juga menggunakan analogi seperti Tulip Mania dan Beanie Babies untuk meragukan klaim bahwa Bitcoin adalah penyimpan nilai yang baik. Meskipun analogi ini mungkin lemah, mereka mengingatkan kita pada bahaya gelembung yang bisa meledak.
Dalam kasus Tulip Mania dan Beanie Babies, investor berbondong-bondong untuk membeli barang-barang yang mereka anggap langka dengan harapan mendapatkan keuntungan. Namun, gelembung meledak ketika investor menyadari bahwa mereka telah menilai barang-barang tersebut terlalu tinggi.
Meskipun analogi ini memiliki perbedaan signifikan dengan Bitcoin, seperti keterbatasan pasokan, masih mungkin bahwa investor akan menilai Bitcoin terlalu tinggi di masa depan, yang dapat menyebabkan gelembung.
Penutup
Bitcoin memiliki sebagian besar sifat penyimpan nilai, termasuk pasokan yang terbatas dan desentralisasi yang relatif tinggi. Ini juga dapat digunakan untuk menyimpan dan mentransfer nilai.
Namun, apakah Bitcoin akan berhasil sebagai penyimpan nilai atau tidak masih harus diuji seiring waktu. Kemungkinan akan ada dua arah, di mana Bitcoin akan menggantikan mata uang fiat dalam situasi gejolak ekonomi, atau tetap digunakan oleh kelompok minoritas. Ini adalah masa depan yang akan menentukan.
CEO Binance, Changpeng Zhao, menekankan kehati-hatian di pasar yang bergejolak karena dunia kripto menunggu peristiwa Bitcoin halving. Pasar kripto sangat menantikan Bitcoin halving pada tahun 2024, yang menandai peristiwa penting bagi industri kripto yang lebih luas.
Sementara itu, Binance, pemain utama di dunia kripto, memulai hitungan mundur halving di halaman muka website mereka, sehingga menekankan pentingnya acara tersebut. Selain itu, Zhao berbagi wawasan dari halving di masa lalu, mengakui tantangan dalam memprediksi hasil di masa depan.
Dikutip Coingape, menurut CEO Binance, halving Bitcoin sering kali menimbulkan kegembiraan, diskusi, dan harapan besar dalam dunia kripto. Hal ini ditandai dengan antisipasi, spekulasi, dan pandangan positif secara keseluruhan di kalangan pendukung Bitcoin. Namun, CZ memperingatkan bahwa fase pasca-halving jarang terjadi kenaikan harga dua kali lipat dalam semalam, yang dapat membingungkan mereka yang memperkirakan lonjakan tiba-tiba.
Secara historis, tahun setelah Bitcoin halving telah menyaksikan kripto ini mencapai sejumlah titik tertinggi sepanjang masa (ATH) dalam hal harga. Sementara itu, pola ini sering kali memicu retrospeksi, karena orang-orang bertanya-tanya tentang apa yang menjadi pendorong di balik lonjakan yang luar biasa ini.
CZ menunjukkan bahwa ingatan manusia sering mengabaikan hubungan antara halving dan lonjakan harga, sehingga menimbulkan spekulasi tentang lonjakan yang tidak terduga ini.
Menariknya, tahun setelah halving menghadirkan narasi yang berbeda, yaitu suksesi ATH pada harga Bitcoin. Saat komunitas berhasil melewati keraguan awal pasca halving, mereka merenungkan apa yang mendorong tren bullish ini.
Meskipun wawasan CZ memberikan gambaran sekilas tentang pola historis, dia menekankan bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan, terutama di dunia kripto yang bergejolak.
Pemeriksaan CZ terhadap peristiwa Bitcoin halving berkisar pada sejarah harganya dan faktor psikologis yang mempengaruhi sentimen pasar. Peristiwa halving menghasilkan antisipasi dan sensasi, yang menyebabkan volatilitas karena sentimen positif dan negatif bersaing untuk mendominasi.
Sementara itu, pelaku pasar mencermati kinerja Bitcoin, di tengah meningkatnya kekhawatiran di pasar. Pada saat penulisan, harga Bitcoin diperdagangkan pada US$ 27.094 turun 2.01% selama 24 jam terakhir. Namun, selama 12 bulan terakhir, kripto telah menghasilkan keuntungan sebesar 43,48%, menunjukkan meningkatnya minat terhadap kripto setelah jatuhnya pasar.
Sementara itu, ketika hitungan mundur halving Bitcoin muncul di beranda Binance, wawasan CZ menawarkan gambaran sekilas tentang dinamika emosional dan harga yang kompleks dari peristiwa penting ini. Meskipun harapan dan spekulasi mungkin tinggi, penting untuk bersiap menghadapi perjalanan ini dan memahami bahwa kesabaran sering kali menjadi kunci dalam dunia kripto.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan industri aset kripto di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. OJK mencatat hingga Agustus 2023, investor aset kripto di Indonesia mencapai 17,8 juta.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan capaian tersebut mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia masih menunjukkan tren peminatan terhadap aset kripto.
“Pertumbuhan jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia ini terus meningkat dari semula 11,2 juta orang atau investor pada akhir 2021, telah meningkat menjadi 16,7 juta (investor) pada akhir 2022 yang lalu. Dan data terakhir per Agustus 2023, tercatat kembali tumbuh menjadi 17,8 juta investor,” kata Hasan seperti dikutip Antara, Rabu (11/10).
Transaksi Aset Kripto
Hasan Fawzi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto merangkap Anggota DK OJK. Sumber: Antara.
Lebih lanjut, Hasan mengungkap nilai transaksi kripto yang terus menunjukkan adanya penurunan. OJK mencatat pada pada 2021, nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai angka yang cukup tinggi sebesar Rp 859,4 triliun.
Tapi, pada 2022 nilai transaksi tersebut menurun drastis menjadi Rp 296,66 triliun, hingga per Juli 2023 total transaksi kripto terus menurun hingga mencapai Rp 75,81 triliun.
“Penurunan ini kita harapkan juga cerminan dari semakin memahaminya (masyarakat) akan profil risiko dari aset kripto ini di kalangan para investor yang bertransaksi di aset kripto,” jelas Hasan.
Terlepas dari rendahnya transaksi aset kripto, Hasan memproyeksikan bahwa jumlah investor aset kripto di Indonesia akan terus bertumbuh. Ia meyakini aset kripto masih mempunyai potensi dan daya tarik tersendiri bagi investor dalam negeri.
Arah Kebijakan OJK
Dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK September 2023, Senin (9/10), Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara menjelaskan ada 6 fokus kebijakan OJK, yang salah satunya dalam rangka penguatan dan pengembangan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) dan Aset Keuangan Digital (IAKD) dan sebagai wujud quick wins atas implementasi UUP2SK.
Adapun berikut penjabaran kebijakan OJK secara lengkap:
OJK sedang menyusun Masterplan dan Roadmap Bidang IAKD termasuk aset kripto.
Rancangan POJK dan ketentuan pelaksanaan di ITSK dalam rangka mengembangkan inovasi di sektor keuangan dan memberikan kepastian hukum kepada Penyelenggara ITSK juga sedang disusun, yang mencakup ketentuan terkait fungsi pengembangan, perizinan, pengawasan dan pengenaan sanksi dengan dukungan bimbingan teknis dari lembaga internasional dan otoritas negara lain.
OJK sedang mengembangkan Digital Innovation Center sebagai innovation hub dan penguatan fungsi Regulatory Sandbox dalam mendorong inovasi, produk, layanan, dan aktivitas baru berbasis teknologi di sektor jasa keuangan.
Selain itu, OJK senantiasa berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk pelaksanaan pengaturan dan pengawasan:
OJK berkoordinasi dengan Bappebti terkait peralihan tugas pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto sebagaimana diatur dalam UU P2SK. Proses yang dilakukan saat ini yaitu melakukan pendalaman mekanisme pengaturan, perizinan, dan pengawasan aset kripto secara berkelanjutan.
OJK berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam rangka membahas pelaksanaan pengaturan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan ITSK sesuai dengan ruang lingkup kewenangan masing-masing sebagaimana diatur dalam UU P2SK. Hal yang dilakukan antara lain memetakan cross-cutting issue dalam hal koordinasi dan harmonisasi kebijakan dan pengaturan aset kripto.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Analis aset kripto terkenal, Michaël van de Poppe berbicara tentang Bitcoin (BTC) dan berbagi level kritisnya. Poppe yakin tren naik Bitcoin akan datang dalam waktu dekat.
Bitcoin, aset kripto terbesar di dunia, diperdagangkan pada US$ 27.076 pada saat artikel ini ditulis dan sedang bersiap untuk tren kenaikan yang signifikan, menurut analiskripto terkenal Michaël van de Poppe.
Meskipun altcoin menghadapi kemunduran, Bitcoin telah berhasil mempertahankan tingkat dukungan yang signifikan, menurut analis.
Titik Level Kritis Bitcoin
Dikutip Bitcoin Sistemi, Van de Poppe menyarankan bahwa jika Bitcoin naik di atas US$ 28.000, jalan menuju US$ 35.000-US$ 40.000 dapat dibuka. Analis berpendapat bahwa kenaikan mungkin dimulai dalam skenario ini.
#Bitcoin holding crucial level of support, while #Altcoins getting hammered.
If Bitcoin is able to break back above $28,000, the thesis to $35,000-40,000 might become real.
Yields & Dollar showing weakness due to the War. A positive number from CPI can definitely assist.
Menurut analis tersebut, perang yang sedang berlangsung antara Israel dan Palestina telah menyebabkan melemahnya imbal hasil obligasi dan dolar AS. Namun, Van de Poppe berpendapat angka positif dari Indeks Harga Konsumen (CPI) dapat memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan. CPI di AS akan diumumkan pada hari Kamis (12/10) dinihari.
Analis berpendapat bahwa US$ 27.100 dan US$ 27.300 dapat bertindak sebagai titik terendah sebelum kenaikan. Namun, ia menyatakan bahwa jika wilayah ini hilang, level US$ 26.300 dapat ditargetkan.
Van de Poppe memperkirakan kuartal terakhir tahun 2023 akan menjadi kuartal yang meningkat.
Analisis Harga Bitcoin
Harga BTC telah terjebak di antara rata-rata pergerakan 50 hari dan 200 hari pada grafik harian, dengan rata-rata pergerakan pertama terletak di sekitar US$ 27.000 dan yang terakhir di dekat level US$ 28.000.
Saat ini sedang menguji ulang level dukungan US$ 27.500, dan terobosan dapat menyebabkan penurunan lebih lanjut ke rata-rata pergerakan 50 hari dalam jangka pendek. Di sisi lain, rebound bullish dan penembusan di atas rata-rata pergerakan 200 hari akhirnya dapat membuka jalan bagi pasar untuk menargetkan zona resistensi kritis US$ 30.000 sekali lagi.
Melihat jangka waktu 4 jam, level support US$ 27.500 tampaknya berada di ambang penembusan. Indikator RSI juga menunjukkan nilai di bawah 50%, menunjukkan bahwa momentum kini menguntungkan penjual dalam jangka waktu ini.
Jika terjadi penembusan bearish, area US$ 26.000 akan menjadi target pertama, diikuti oleh zona US$ 25.000, yang dapat dianggap sebagai pilihan terakhir pembeli. Oleh karena itu, keadaan BTC saat ini tidak terlihat baik, dan mungkin akan terjadi kehancuran.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Bitcoin dan Model Stock to Flow telah menjadi dua konsep yang menarik perhatian dunia keuangan selama beberapa tahun terakhir. Bitcoin,aset kripto yang pertama kali diperkenalkan oleh individu misterius bernama Satoshi Nakamoto pada tahun 2009, telah menjadi pusat perbincangan di kalangan investor, ahli keuangan, dan bahkan masyarakat umum.
Sementara itu, Model Stock to Flow adalah sebuah teori yang telah muncul sebagai alat penting untuk menganalisis nilai Bitcoin dalam jangka panjang. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi kedua konsep ini dan bagaimana keduanya berhubungan dalam menggambarkan masa depan aset kripto paling terkenal di dunia saat ini.
Apa itu Model Stock to Flow?
Secara sederhana, Model Stock to Flow (SF atau S2F) adalah cara untuk mengukur persediaan sumber daya tertentu. Rasio Stock to Flow menghitung jumlah sumber daya yang tersimpan dalam cadangan dibagi dengan jumlah yang diproduksi setiap tahunnya. Model ini umumnya diterapkan pada sumber daya alam.
Sebagai contoh, mari kita pertimbangkan emas. World Gold Council memperkirakan bahwa sekitar 190.000 ton emas telah ditambang hingga saat ini. Jumlah ini dapat dianggap sebagai “stock” (persediaan). Sementara itu, sekitar 2.500 hingga 3.200 ton emas ditambang setiap tahunnya, yang kita sebut sebagai “flow” (arus). Rasio Stock to Flow dapat dihitung dengan membagi jumlah persediaan dengan jumlah arus.
Semakin tinggi rasio Stock to Flow, semakin sedikit pasokan baru yang memasuki pasar setiap tahunnya. Oleh karena itu, aset dengan rasio Stock to Flow yang tinggi cenderung mempertahankan nilai mereka dalam jangka panjang. Di sisi lain, barang konsumsi dan komoditas industri biasanya memiliki rasio Stock to Flow yang rendah karena mereka dikonsumsi dan habis.
Penting untuk dicatat bahwa tingginya rasio Stock to Flow tidak selalu berarti suatu aset akan berharga. Sebagai contoh, emas memiliki rasio Stock to Flow yang tinggi, bukan karena langkanya emas, tetapi karena produksi tahunannya relatif kecil dibandingkan dengan persediaan yang ada.
Berapa Rasio Stock to Flow Emas?
Secara historis, emas telah memiliki rasio Stock to Flow tertinggi dibandingkan dengan logam mulia lainnya. Sebagai ilustrasi, jika kita membagi total persediaan emas (190.000 ton) dengan produksi tahunan (3.200 ton), kita akan mendapatkan rasio Stock to Flow sekitar 59. Artinya, dibutuhkan sekitar 59 tahun untuk menambang jumlah emas yang setara dengan persediaan saat ini.
Namun, perlu diingat bahwa angka-angka ini adalah perkiraan dan bisa berubah seiring waktu. Faktor seperti peningkatan teknologi tambang atau penemuan deposit baru dapat memengaruhi rasio ini.
Sementara emas memiliki rasio Stock to Flow yang tinggi, Bitcoin juga memiliki karakteristik yang menarik dari segi model ini. Model Stock to Flow Bitcoin telah menjadi topik pembicaraan yang semakin mendalam di kalangan komunitas kripto dan analis keuangan.
Bitcoin adalah aset yang diketahui memiliki persediaan yang terbatas, dengan jumlah total yang akan pernah ada adalah 21 juta bitcoin. Dengan keterbatasan ini, banyak yang mempertimbangkan Bitcoin sebagai “digital gold” (emas digital) dengan rasio Stock to Flow yang tinggi, yang mungkin akan memengaruhi nilai jangka panjangnya.
Dalam artikel ini, kita akan menyelidiki lebih lanjut tentang Model Stock to Flow Bitcoin dan bagaimana konsep ini memainkan peran penting dalam memahami nilai aset kripto yang revolusioner ini.
Stock to Flow dan Bitcoin
Memahami konsep Stock to Flow dalam konteks Bitcoin bisa menjadi kunci untuk menangkap esensi aset kripto ini. Model ini menganggap Bitcoin sebagai komoditas yang langka, serupa dengan emas atau perak.
Emas dan perak telah lama diakui sebagai penyimpan nilai atau store of value. Dalam teori ekonomi, keduanya dianggap mampu mempertahankan nilai dalam jangka panjang karena kelangkaannya dan produksi yang terbatas. Lebih lanjut, penambahan pasokan mereka ke pasar sangat sulit dilakukan dalam waktu singkat.
Pendukung konsep Stock to Flow percaya bahwa Bitcoin memiliki karakteristik yang sama. Bitcoin adalah langka, mahal untuk diproduksi, dan memiliki batasan maksimum pasokan sebanyak 21 juta koin. Selain itu, laju penciptaan pasokan Bitcoin diatur oleh protokol, yang membuatnya sangat dapat diprediksi. Konsep “Bitcoin halving” juga dikenal, di mana jumlah pasokan baru yang masuk ke dalam sistem dipangkas menjadi setengahnya setiap 210.000 blok, sekitar setiap empat tahun.
Total Pasokan BTC yang Ditambang (%) dan Subsidi Blok (BTC).
Mereka yang mempercayai model ini berpendapat bahwa kombinasi semua faktor ini menciptakan aset digital yang langka dan sangat cocok untuk mempertahankan nilai dalam jangka panjang. Selain itu, mereka menunjukkan adanya hubungan statistik yang kuat antara Stock to Flow dan nilai pasar Bitcoin. Proyeksi model ini memperkirakan bahwa harga Bitcoin akan terus meningkat seiring berkurangnya rasio Stock to Flow.
Penerapan model Stock to Flow ke dalam Bitcoin sering dikaitkan dengan PlanB, seorang analis terkenal, dan artikelnya yang berjudul “Modeling Bitcoin’s Value with Scarcity.”
Bagaimana dengan Rasio Stock to Flow Bitcoin?
Saat ini, pasokan Bitcoin yang beredar mencapai sekitar 18 juta bitcoin, dengan tambahan pasokan baru sekitar 0,7 juta bitcoin per tahun. Pada saat penulisan, rasio Stock to Flow Bitcoin berada di sekitar angka 25. Namun, setelah halving berikutnya yang terjadi pada Mei 2020, rasio ini diproyeksikan akan meningkat menjadi angka 50-an.
Grafik di bawah ini menunjukkan hubungan historis antara rata-rata pergerakan selama 365 hari dari Stock to Flow Bitcoin dengan harganya. Grafik juga menandai momen-momen Bitcoin halving pada sumbu vertikal.
Kelemahan Model Stock to Flow
Meskipun Model Stock to Flow menawarkan pendekatan menarik dalam mengukur kelangkaan, penting untuk menyadari bahwa model ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhitungkan. Seperti banyak model lainnya, Model Stock to Flow hanya sekuat asumsi yang mendasarinya.
Model ini bergantung pada asumsi bahwa kelangkaan, seperti yang diukur oleh model, akan secara otomatis mendorong nilai suatu aset. Namun, ada penentang Model Stock to Flow yang berpendapat bahwa model ini gagal jika Bitcoin tidak memiliki atribut atau kegunaan lain selain kelangkaan pasokannya.
Kelangkaan emas, produksi yang dapat diprediksi, dan likuiditas global telah menjadikannya sebagai penyimpan nilai yang relatif stabil jika dibandingkan dengan mata uang fiat yang sering mengalami devaluasi.
200 hari Moving Average dari 180 hari Volatilitas Bitcoin. Sumber: Coinmetrics.io.
Model Stock to Flow juga mengasumsikan bahwa volatilitas Bitcoin akan secara bertahap menurun seiring waktu. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa Bitcoin telah dikenal dengan fluktuasi harganya yang signifikan. Volatilitas mungkin akan menurun dalam perspektif makro, namun Bitcoin terus diperdagangkan di pasar yang bebas sejak awal, di mana harga dipengaruhi oleh tindakan pengguna, pedagang, dan spekulan.
Kombinasi antara likuiditas yang relatif rendah dan partisipasi aktor pasar ini dapat membuat Bitcoin lebih rentan terhadap lonjakan volatilitas yang tiba-tiba, dan model ini mungkin tidak dapat memprediksi atau menjelaskan fenomena tersebut.
Selain itu, faktor-faktor eksternal, seperti peristiwa tak terduga dalam ekonomi (dikenal sebagai “Black Swan events”), juga dapat mengganggu kinerja model ini. Penting untuk diingat bahwa data historis tidak dapat mengantisipasi atau menjelaskan peristiwa yang tidak dapat diprediksi.
Kesimpulan
Model Stock to Flow memberikan pandangan yang menarik dalam mengukur hubungan antara pasokan dan produksi suatu aset, dan biasanya diterapkan pada logam mulia dan komoditas. Beberapa orang bahkan berpendapat bahwa konsep ini dapat berlaku untuk Bitcoin, memandangnya sebagai sumber daya digital yang langka. Berdasarkan analisis ini, Bitcoin memiliki potensi sebagai aset penyimpan nilai dalam jangka panjang.
Namun, perlu diingat bahwa setiap model memiliki keterbatasan dan tergantung pada asumsi yang digunakan. Selain itu, Bitcoin masih relatif baru dalam dunia finansial, dan model-model seperti Stock to Flow mungkin memerlukan lebih banyak data historis untuk memastikan keakuratannya. Selama perjalanan Bitcoin berlanjut, akan terus ada perdebatan dan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas dan relevansi Model Stock to Flow dalam mengukur nilai dan kelangkaan aset ini.
Aset kripto Polygon (MATIC) diproyeksikan untuk mengalami peningkatan hingga 8% selama pekan kedua bulan Oktober 2023. Selain MATIC, ada beberapa altcoin lain yang juga menunjukkan potensi serupa. Apa saja altcoin tersebut?
Dalam episode terbaru seri “Sinyal NGOBRAS,” yang dipresentasikan oleh Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur akan mengulas berbagai aset kripto yang menarik perhatian para pelaku pasar selama pekan ini. Beberapa altcoin yang akan menjadi sorotan meliputi Fantom (FTM), ApeCoin (APE), Solana (SOL), dan beberapa lainnya.
Fyqieh akan membimbing kita lebih dalam ke dalam analisis teknis, sambil tetap mempertimbangkan faktor-faktor fundamental yang mungkin memengaruhi kinerja aset digital yang sedang menjadi pusat perhatian. Selain itu, dia akan mengeksplorasi perkembangan terbaru dalam dunia aset digital dan teknologi blockchain yang akan menjadi topik utama dalam diskusi kami.
Daftar kripto yang potensi alami kenaikan pekan ini. Sumber: Tokocrypto.
Namun, penting untuk diingat bahwa dalam dunia investasi, terutama di pasar kripto yang dikenal dengan tingkat volatilitasnya yang tinggi, bijaksana untuk selalu meluangkan waktu untuk melakukan analisis dan penelitian yang mendalam.
Keputusan investasi yang bijak harus selalu didasarkan pada riset yang mendalam dan pemahaman yang komprehensif tentang kondisi pasar.
Jika Anda ingin mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang analisis mendalam mengenai aset kripto yang berpotensi mengalami kenaikan signifikan dalam seminggu ini, Anda dapat menonton video lengkapnya di bawah ini:
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.
Coin Mixing dan CoinJoin merupakan dua konsep penting dalam ekosistem aset kripto, terutama Bitcoin, yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat privasi dan anonimitas dalam transaksi.
Bitcoin sering digambarkan sebagai uang digital, tetapi perbandingan ini perlu dicermati. Ketika Alice membayar Bob dengan sepuluh dolar tunai, Bob tidak memiliki informasi mengenai asal usul uang tersebut. Begitu Bob memberikannya kepada Carol, Carol tidak dapat melacaknya kembali ke Alice.
Bitcoin, di sisi lain, memiliki sifat yang lebih transparan. Riwayat setiap koin yang pernah digunakan (terutama output transaksi yang belum terpakai atau Unspent Transaction Output/UTXO) dapat dengan mudah dilihat oleh siapa saja. Ini mirip dengan mencatat jumlah dan nama pihak yang terlibat dalam setiap transaksi yang tercatat.
Dalam upaya untuk menjaga privasi penggunanya, Bitcoin memungkinkan pengguna untuk menggunakan alamat-alamat publik anonim. Namun, privasi ini belum optimal. Seiring perkembangan analisis blockchain yang semakin canggih, identifikasi pemilik alamat menjadi lebih efisien seiring waktu. Selain itu, pihak-pihak tertentu yang berkepentingan dalam menganalisis blockchain dapat mengungkapkan identitas pengguna mata uang kripto. Untuk mengatasi masalah ini, berbagai teknik pengaburan tautan transaksi telah dikembangkan selama bertahun-tahun.
Apa Itu Coin Mixing?
Secara umum, Coin Mixing adalah istilah yang merujuk kepada tindakan yang mengaburkan asal usul dana dan menukarnya dengan dana lainnya. Dalam konteks mata uang kripto, coin mixing biasanya terkait dengan layanan yang disediakan oleh pihak ketiga. Penyedia layanan ini mengambil koin dari pengguna (biasanya dengan sedikit biaya) dan mengembalikan koin yang tidak dapat dilacak kembali ke koin yang sebelumnya dikirimkan oleh pengguna. Layanan semacam ini juga dikenal dengan sebutan tumbler atau mixer.
Namun, keamanan dan anonimitas dalam layanan sentralisasi semacam ini sering menjadi perdebatan. Pengguna tidak memiliki jaminan bahwa dana mereka akan dikembalikan oleh mixer, atau bahwa koin yang dikembalikan tidak mengandung cacat atau jejak yang dapat diikuti. Selain itu, penggunaan mixer seringkali dapat mencatat alamat IP dan alamat Bitcoin oleh pihak ketiga. Akibatnya, pengguna sering harus menyerahkan kendali penuh atas dana mereka dengan harapan mendapatkan kembali koin yang tidak memiliki hubungan dengan transaksi sebelumnya.
Pendekatan yang lebih menarik muncul dalam bentuk transaksi CoinJoin, yang memberikan tingkat penyangkalan yang lebih masuk akal (plausible deniability). Dengan kata lain, setelah keluar dari proses CoinJoin, tidak ada bukti yang dapat menghubungkan pengguna dengan transaksi mereka sebelumnya. Sebagian besar solusi CoinJoin juga memberikan opsi desentralisasi kepada para pengguna. Meskipun mungkin terdapat koordinator yang terlibat, pengguna tidak perlu menyerahkan pengawasan penuh atas dana mereka.
Apa Itu CoinJoin?
Konsep transaksi CoinJoin awalnya diajukan oleh pengembang Bitcoin, Gregory Maxwell, pada tahun 2013. Dalam proposalnya, ia memberikan penjelasan singkat tentang bagaimana transaksi CoinJoin dapat dibentuk dan bagaimana tingkat privasi yang signifikan dapat dicapai tanpa mengubah protokol Bitcoin.
Pada dasarnya, CoinJoin melibatkan penggabungan input dari berbagai pengguna ke dalam satu transaksi tunggal. Sebelum kita bahas bagaimana dan mengapa hal ini dilakukan, mari kita lihat struktur dasar dari sebuah transaksi Bitcoin.
Transaksi Bitcoin terdiri dari input dan output. Ketika seorang pengguna ingin melakukan transaksi, mereka memilih Unspent Transaction Output (UTXO) sebagai input, menentukan output, dan menandatangani input tersebut. Penting untuk dicatat bahwa setiap input ditandatangani secara independen, dan pengguna memiliki kemampuan untuk mengatur beberapa output yang berpindah ke alamat yang berbeda.
Ilustrasi CoinJoin. SUmber: Binance Academy.
Misalnya, jika kita mengamati sebuah transaksi yang menggunakan empat input (masing-masing bernilai 0,2 BTC) dan dua output (0,7 BTC dan 0,09 BTC), ada beberapa asumsi yang dapat dibuat. Pertama, kita melihat adanya pembayaran, dimana pengirim mengirim salah satu output ke penerima dan mengembalikan sejumlah uang ke dirinya sendiri. Karena empat input digunakan, output yang lebih besar mungkin untuk penerima. Perlu diperhatikan bahwa terdapat biaya sebesar 0,01 BTC yang diberikan kepada penambang.
Asumsi lain yang dapat dibuat adalah bahwa setiap input ditandatangani secara independen. Ini berarti bahwa transaksi dapat melibatkan hingga empat pihak yang berbeda yang menandatangani input. Inilah prinsip dasar yang membuat proses CoinJoin menjadi efektif dalam menjaga privasi transaksi pengguna.
Bagaimana CoinJoin Beroperasi?
Cara kerja CoinJoin adalah kolaborasi antara banyak pihak untuk membuat satu transaksi bersama. Setiap peserta memberikan input dan output yang mereka inginkan. Karena semua input digabungkan dalam transaksi tunggal, sulit untuk mengidentifikasi dengan pasti output mana yang dimiliki oleh setiap peserta. Mari kita perhatikan diagram berikut:
Ilustrasi cara kerja CoinJoin. SUmber: Binance Academy.
Dalam contoh ini, ada empat peserta yang ingin mengaburkan jejak transaksi mereka. Mereka berkoordinasi melalui koordinator atau saling berkomunikasi untuk menyepakati input dan output yang akan mereka masukkan dalam transaksi.
Koordinator akan mengumpulkan semua informasi ini, menyusunnya menjadi transaksi, dan meminta setiap peserta untuk menandatanganinya sebelum disiarkan ke jaringan. Setelah ditandatangani, transaksi tidak dapat diubah lagi, menjaga agar koordinator tidak dapat menyalahgunakan dana peserta.
Transaksi ini berfungsi sebagai kotak hitam untuk mencampurkan koin. Perlu dicatat bahwa dalam proses ini, kita efektif mengganti UTXO yang ada dengan yang baru. Satu-satunya tautan yang ada antara UTXO lama dan yang baru adalah transaksi itu sendiri. Namun, dengan semakin banyaknya input dan output, sulit untuk mengidentifikasi siapa yang memiliki apa. Paling-paling, kita hanya dapat menduga bahwa salah satu peserta telah memberikan salah satu input dan mungkin menjadi pemilik output yang dihasilkan.
Namun, ini juga tidak dapat dipastikan dengan pasti. Dalam melihat transaksi di atas, siapa yang dapat mengatakan apakah ada empat peserta yang berbeda atau hanya satu orang yang mengirim dana ke empat alamatnya sendiri? Atau mungkin dua orang yang melakukan dua pembelian terpisah dan mengembalikan uang ke alamat masing-masing? Ataukah empat orang yang mengirimkan dana kepada peserta baru atau mengembalikannya ke diri mereka sendiri? Kita tidak memiliki jawaban pasti.
Privasi Melalui Penyangkalan
Fakta bahwa CoinJoin bisa diterapkan telah menggoyahkan metode analisis transaksi yang digunakan. Kita bisa menyimpulkan bahwa CoinJoin telah terjadi dalam banyak kasus, namun tetap tidak dapat memastikan siapa pemilik output-nya. Dengan semakin populerinya metode ini, asumsi bahwa semua input dimiliki oleh satu pengguna semakin tidak relevan. Ini merupakan lompatan besar dalam meningkatkan privasi di seluruh ekosistem kripto.
Dalam contoh sebelumnya, kita mengatakan bahwa transaksi memiliki sekumpulan anonimitas dari empat pihak – pemilik output bisa jadi salah satu dari empat peserta yang terlibat. Semakin tinggi tingkat anonimitas yang dihasilkan, semakin sulit bagi pihak luar untuk melacak transaksi kembali ke pemilik aslinya. Untungnya, implementasi CoinJoin yang baru-baru ini tersedia memudahkan pengguna untuk menggabungkan input mereka dengan yang lain, memberikan tingkat penyangkalan yang tinggi. Bahkan ada transaksi yang melibatkan 100 orang peserta baru-baru ini.
Kesimpulan
Alat untuk mencampur koin merupakan tambahan penting bagi pengguna yang serius mengenai privasi. Berbeda dengan usulan peningkatan privasi lainnya (seperti Transaksi Konfidensial), metode ini kompatibel dengan protokol saat ini.
Bagi mereka yang mempercayai integritas dan metodologi pihak ketiga, layanan mixing mungkin menjadi pilihan yang mudah. Bagi yang lebih memilih alternatif non-kustodian yang dapat diverifikasi, CoinJoin bisa menjadi pilihan yang lebih unggul.
Proses ini bisa dilakukan oleh pengguna dengan tingkat keahlian teknis yang cukup, atau dengan menggunakan perangkat lunak yang menyederhanakan mekanismenya. Banyak alat semacam itu telah tersedia dan semakin populer, karena pengguna semakin peduli terhadap privasi mereka.
Tulip Mania dianggap oleh banyak individu sebagai episentrum dari gelembung finansial pertama yang pernah tercatat dalam sejarah manusia, sejarah yang konon terjadi sekitar abad ke-17. Sebelum kita merenung apakah Tulip Mania dapat benar-benar disebut sebagai gelembung finansial, ada baiknya kita menjelajahi narasi yang paling umum dan mendeklarasikan peristiwa ini sebagai sebuah gelembung.
Gelembung Tulip Mania
Tulip Mania terjadi di tanah Belanda pada masa keemasan perdagangan. Dengan keuntungan dari perdagangan internasional dan ekspansi perdagangan yang besar, Belanda saat itu menikmati pendapatan per kapita tertinggi di seluruh dunia.
Kemakmuran ekonomi ini membantu banyak individu meraih kekayaan dan kemakmuran, yang memungkinkan pasar untuk mengejar barang-barang mewah. Dalam konteks ini, salah satu barang yang paling diminati adalah bunga tulip, khususnya yang memiliki variasi unik yang membuatnya lebih menarik daripada bunga biasa. Bunga-bunga eksklusif ini dengan cepat menjadi fenomena, menarik perhatian semua orang karena warna dan pola yang tak biasa.
Harga tulip ini bervariasi tergantung pada variasinya, dan dalam beberapa kasus, melebihi penghasilan rata-rata pekerja atau bahkan harga rumah. Peningkatan harga ini kemudian diperkuat oleh pasar berjangka, di mana harga tulip bisa terus meningkat tanpa bunga tersebut harus benar-benar ditransaksikan.
Namun, pasokan tulip mulai melimpah ketika banyak petani beralih ke penanaman bunga tulip, menyebabkan gelembung ini meletus pada tahun 1637 dalam waktu singkat, hanya dalam seminggu. Sebagian berpendapat bahwa wabah penyakit pes juga ikut andil karena pembeli tidak lagi muncul pada lelang, yang memperburuk penurunan harga.
Meskipun catatan keuangan yang akurat sulit ditemukan untuk periode tersebut, sejarawan tidak yakin apakah Tulip Mania adalah penyebab langsung dari kebangkrutan, tetapi kerugian besar dialami oleh investor yang terlibat dalam perdagangan kontrak tulip.
Tulip Mania sering dijadikan contoh klasik gelembung yang pecah. Narasi yang umum menyatakan bahwa keserakahan dan kepanikan menggerakkan harga tulip melampaui batas rasional. Meskipun ada yang bijak dan keluar dari pasar pada waktunya, banyak yang terlambat dan panik menjual saat harga turun drastis, menyebabkan kerugian besar bagi investor dan pelaku usaha terkait.
Serupa dengan Tulip Mania, sering terdengar klaim bahwa Bitcoin dan mata uang digital lain mengikuti pola yang sama. Namun, perbandingan ini seringkali mengabaikan perbedaan signifikan antara dunia finansial abad ke-17 dan zaman modern yang memiliki jumlah pemain yang jauh lebih banyak.
Perbedaan Utama
Salah satu perbedaan mencolok antara tulip dan Bitcoin adalah potensi sebagai sarana penyimpan nilai. Tulip memiliki sifat yang umum dan tidak dapat dijamin variasi dan penampilan bunganya hanya dengan melihat bijinya. Penjual harus menanam tulip dan berharap mendapatkan bunga dengan karakteristik yang sama seperti yang mereka harapkan, terutama jika mereka membayar lebih untuk varietas warna yang langka.
Selain itu, mengirim tulip juga sulit karena perlu sarana pengiriman yang tepat dan biaya tambahan. Tulip juga tidak cocok sebagai alat pembayaran karena sulit dibagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa merusak tanaman tersebut. Selain itu, bunga tulip mudah dicuri, yang membuatnya sulit dijaga.
Di sisi lain, Bitcoin adalah mata uang digital yang dapat ditransfer melalui jaringan global peer-to-peer. Mata uang ini didasarkan pada teknologi kriptografi yang membuatnya sangat aman dan tahan terhadap penipuan. Bitcoin tidak dapat disalin atau dihancurkan, dan dapat dibagi menjadi pecahan kecil dengan mudah.
Lebih lanjut, Bitcoin sangat langka, dengan jumlah total hanya 21 juta unit. Meskipun mata uang digital memiliki risiko tersendiri, mengikuti prinsip-prinsip keamanan yang baik dapat membuat aset Anda lebih aman.
Pada tahun 2006, ekonom Earl A. Thompson mengemukakan argumen dalam artikel berjudul “The Tulipmania: Fact or Artifact?” (Tulipmania: Fakta atau Artefak?) bahwa Tulip Mania sebenarnya lebih terkait dengan konversi implisit, regulasi pemerintah, kontrak tulip, dan opsi kontrak daripada kegilaan pasar. Thompson berpendapat bahwa peristiwa Tulip Mania tidak dapat dengan tepat disebut sebagai gelembung karena “gelembung memerlukan harga yang melebihi nilai dasarnya,” yang mungkin tidak terjadi dalam kasus ini.
Tahun berikutnya, Anne Goldgar menerbitkan buku berjudul “Tulipmania: Money, Honor, and Knowledge in the Golden Age of the Netherlands” (Tulipmania: Uang, Kehormatan, dan Pengetahuan pada Zaman Keemasan Belanda), yang mengumpulkan banyak bukti bahwa cerita populer tentang Tulip Mania mungkin lebih mitos daripada kenyataan. Berdasarkan penelitian yang mendalam, Goldgar berpendapat bahwa kenaikan dan runtuhnya gelembung tulip mungkin tidak sebesar yang dipersepsikan, dan dampak ekonomi yang diakibatkannya mungkin lebih terbatas daripada yang diperkirakan. Dia juga menekankan bahwa jumlah individu yang terlibat dalam pasar tulip relatif sedikit.
Kesimpulannya
Terlepas dari apakah Tulip Mania benar-benar merupakan gelembung finansial atau tidak, membandingkannya dengan Bitcoin (atau mata uang digital lainnya) menjadi kurang relevan. Peristiwa ini terjadi hampir empat abad yang lalu, dalam konteks sejarah yang sangat berbeda, dan bunga tulip tidak dapat dibandingkan dengan mata uang digital yang didukung oleh teknologi kriptografi.
Salah satu peristiwa penting yang sering terjadi dalam dunia kripto adalah token unlock. Momen itu berhasil mencuri perhatian, karena kripto, atau aset digital, juga telah menjadi topik yang sangat penting dalam dunia finansial modern. Selain Bitcoin, ada ribuan altcoin lainnya yang dapat ditemukan di pasar kripto.
Token unlock adalah saat ketika token kripto yang sebelumnya terkunci menjadi tersedia untuk diperdagangkan atau digunakan.
Pekan ini, kita akan melihat 28 altcoin yang melaksanakan token unlock. Ini adalah peristiwa penting dalam kehidupan proyek kripto, dan investor sering mengawasi dengan cermat untuk melihat apa yang terjadi dengan harga dan stabilitas proyek-proyek ini.
Daftar Token Unlock
Mari kita lihat daftar altcoin yang akan mengalami token unlock dalam pekan ini (9-16 Oktober 2023) yang dilaporkan Bitcon Sistemi:
Tokocrypto (TKO) Nilai Pasar: US$ 36,02 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 4,50 juta (12,51% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 9 Oktober 2023, 10:00 WIB
WiFi Map (WIFI) Nilai Pasar: US$ 3,27 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,28 juta (39,24% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 9 Oktober 2023, 10:00 WIB
Myria (MYRIA) Nilai Pasar: US$ 753,25 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,29 juta (0,00% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 9 Oktober 2023, 10:00 WIB
Immutable (IMX) Nilai Pasar: US$ 672,51 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 10,54 juta (1,57% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 9 Oktober 2023, 15:00 WIB
KAP Games (KAP) Nilai Pasar: US$ 5,37 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 5,19 juta (97,05% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 9 Oktober 2023, 10:00 WIB
STEPN (GMT) Nilai Pasar: US$ 180,83 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 13,29 juta (7,34% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 9 Oktober 2023, 14:00 WIB
ECOx (ECOX) Nilai Pasar: US$ 17,01 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 6,98 juta (41,02% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 10 Oktober 2023, 01:00 WIB
Sipher Nilai Pasar: US$ 5,28 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,09 juta (20,64% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 10 Oktober 2023, 10:00 WIB
ChainGPT (CGPT) Nilai Pasar: US$ 10,06 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 2,20 juta (21,82% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 10 Oktober 2023, 18:00 WIB
Internet Computer (ICP) Nilai Pasar: US$ 1,37 miliar Jumlah Pembukaan Token: US$ 10,17 juta (0,74% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 11 Oktober 2023, 10:00 WIB
Wilder World (WILD) Nilai Pasar: US$ 51,43 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,01 juta (1,96% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 11 Oktober 2023, 10:00 WIB
BitMEX (BMEX) Nilai Pasar: US$ 26,93 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 5,00 juta (18,57% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 11 Oktober 2023, 10:00 WIB
Cripco (IP3) Nilai pasar: – Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,18 juta Tanggal: 11 Oktober 2023, 10:00 WIB
Aptos (APT) Nilai Pasar: US$ 1,26 miliar Jumlah Pembukaan Token: US$ 23,95 juta (1,90% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 12 Oktober 2023, 10:00 WIB
Fracton Protocol (FT) Nilai pasar: – Jumlah Pembukaan Token: US$ 3,86 juta Tanggal: 12 Oktober 2023, 10:00 WIB
Games for a Living (GFAL) Nilai Pasar: US$ 32,20 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 5,90 juta (18,34% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 13 Oktober 2023, 10:00 WIB
DappRadar (RADAR) Nilai Pasar: US$ 5,06 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,08 juta (21,29% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 13 Oktober 2023, 15:00 WIB
Sweat Economy (SWEAT) Nilai Pasar: US$ 62,37 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 5,70 juta (9,14% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 13 Oktober 2023, 16:00 WIB
UXD Protocol Token (UXP) Nilai Pasar: Data tidak tersedia Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,36 juta (3,36% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 14 Oktober 2023, 10:00 WIB
RSS3 Nilai Pasar: US$ 40,26 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 2,08 juta (5,17% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 14 Oktober 2023, 10:00 WIB
Biconomy (BICO) Nilai Pasar: US$ 153,61 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 5,14 juta (3,34% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 14 Oktober 2023, 15:00 WIB
Artificial Liquid Intelligence (ALI) Nilai Pasar: US$ 55,87 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 4,05 juta (7,25% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 14 Oktober 2023, 15:00 WIB
Nakamoto Games (NAKA) Nilai Pasar: US$ 45,89 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,18 juta (Piyasa Değeri’nin 2,56%) Tanggal: 15 Oktober 2023, 15:00 WIB
Zebec (ZBC) Nilai Pasar: US$ 33,35 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 2,52 juta (7,55% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 15 Oktober 2023, 15:00 WIB
BitDAO (BIT) Nilai pasar: – Jumlah Pembukaan Token: US$ 76,58 juta Tanggal: 15 Oktober 2023, 10:00 WIB
Nym (NYM) Nilai Pasar: US$ 61,30 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,52 juta (2,48% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 15 Oktober 2023, 11:00 WIB
Sidus Nilai Pasar: US$ 21,88 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 1,18 juta (Piyasa Değeri’nin 5,38%) Tanggal: 15 Oktober 2023, 10:00 WIB
CyberConnect (CYBER) Nilai Pasar: US$ 53,95 juta Jumlah Pembukaan Token: US$ 5,56 juta (10,29% dari Kapitalisasi Pasar) Tanggal: 16 Oktober 2023, 01:00 WIB
Penting untuk diingat bahwa token unlock dapat memiliki dampak yang signifikan pada harga dan likuiditas altcoin tersebut. Investor dan pengguna kripto perlu memantau perkembangan ini dan mempertimbangkan risikonya sebelum terlibat dalam perdagangan atau investasi dalam altcoin yang terkait.
Selain itu, pastikan untuk memeriksa situs web resmi proyek-proyek ini dan sumber berita kripto yang terpercaya untuk informasi terbaru tentang token unlock dan perkembangan terbaru dalam dunia kripto. Keselamatan dan kebijaksanaan dalam berinvestasi selalu menjadi hal yang sangat penting dalam dunia kripto yang dinamis ini.
Demikianlah daftar 28 altcoin yang akan melaksanakan token unlock pekan ini. Semoga artikel ini membantu Anda tetap terinformasi tentang perkembangan terbaru dalam dunia kripto. Tetap waspada dan bijak dalam menjalani perjalanan Anda di dunia kripto yang penuh tantangan ini.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.