Category Archives: Domestik

Healing Sejenak, Ini 3 Kafe Suasana Ijo-ijo di Bekasi



Bekasi

Bekasi dikenal sebagai salah satu kota yang terik. Namun, ternyata Bekasi juga memiliki beberapa kafe yang mempunyai nuansa hijau yang adem lho, penasaran?

Bekasi dikenal sebagai kota surganya tempat nongkrong. Pasalnya, banyak sekali spot nongkrong yang bertebaran di Bekasi. Mulai dari saung, restoran, hingga coffee shop.

Bekasi juga dikenal sebagai kota yang terik. Sehingga tidak mudah mencari kafe yang menyajikan pemandangan hijau dan suasana adem. Namun, detikTravel punya beberapa kafe dengan pemandangan hijau di Bekasi yang bisa traveler cobain nih, berikut daftarnya.


1. Kopi Kalean Kebonjati

Kopi Kalean KebonjatiKopi Kalean Kebonjati Foto: Weka Kanaka/detikcom

Salah satu yang paling menarik dan memiliki nuansa adem adalah Kopi Kalean Kebonjati. Berkunjung ke sini, traveler akan disuguhkan sensasi nongkrong di tengah pepohonan jati yang rimbun.

Pemandangan hijau sepanjang mata dapat traveler nikmati lewat pepohonan jati dan juga pematang sawah di sisi kafe.

Lokasinya berkonsep outdoor, namun terdapat pula beberapa spot teduh yang berguna untuk meneduh ketika hujan atau ketika matahari sedang terasa terlalu panas.

Lokasi: Jalan Raya Kali CBL No.1 Muktiwari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi (Dalam Perumahan Green Permata 1)
Buka: 10.00-22.00 WIB (Senin-Jumat), 10.00-23.00 (Sabtu), dan 07.00-22.00 (Minggu)

2. Rumah Toean

Koffie Toean, coffee shop Bekasi rasa BandungKoffie Toean, coffee shop Bekasi rasa Bandung. (Weka Kanaka/detikcom)

Jika mencari kafe dengan nuansa hijau yang berada di dekat pusat kota, mungkin Rumah Toean adalah yang paling tepat. Tempat ini menyuguhkan suasana kafe yang sangat homey dengan nuansa rumah yang tenang dan adem lewat pemandangan hijau dari rerumputan taman dan aneka tumbuhan.

Saking memiliki pemandangan hijau yang adem, tempat ini pun kerap sekali disebut mirip suasana kafe di Bandung.

Rumah Toean memiliki area kafe yang indoor maupun outdoor. Berkunjung ke sini ketika gerimis atau setelah hujan tentunya sangat nyaman dan segar.

Lokasi: Jalan Cemara Raya No.1 Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi.
Buka: 08.00-22.00 WIB (setiap hari).

3. Breezy Cafe Jakarta Escape

Rumah Perubahan Jakarta Escape di Bekasi.Breezy Cafe di Rumah Perubahan Jakarta Escape, Bekasi. (Weka Kanaka/detikcom)

Salah satu cafe yang memiliki nuansa hijau dan menarik disinggahi di Bekasi adalah Breezy Cafe. Cafe ini terletak di dalam wahana wisata Jakarta Escape dan memiliki nuansa modern namun asri.

Jakarta Escape sendiri merupakan wahana wisata yang menyajikan berbagai wisata seperti mini zoo, taman bermain, taman, hingga Breezy Cafe.

Breezy cafe ini kerap kali digunakan untuk nongkrong, kegiatan berbagai komunitas, lomba, hingga WFC. Ketika detikTravel berkunjung ke Jakarta Escape beberapa waktu lalu, terlihat pengunjung yang menikmati kafe yang asri ini dengan berbagai aktivitas tersebut.

Lokasi: Jalan Mabes 2 No.5 Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.
Buka: 07.00-18.00 WIB (setiap hari).

(wkn/wkn)



Sumber : travel.detik.com

Wajah Baru Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari yang Modern



Jombang

Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) mempunyai wajah baru yang lebih segar dan modern. Seperti apa penampakan terbarunya?

Terletak di dalam kawasan pondok pesantren dan wisata ziarah Makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur, MINHA tidak hanya berfungsi sebagai museum yang menyajikan perjalanan sejarah Islam di Indonesia. MINHA juga menjadi sebuah pusat pembelajaran yang mengangkat nilai-nilai toleransi keberagaman budaya Nusantara.

Penanggung Jawab MINHA, Wicaksono Dwi Nugroho, mengatakan MINHA memegang peran penting dalam pelestarian tiga era signifikan dalam sejarah Islam di Indonesia.


“Tiga era itu yaitu era masuknya Islam ke Nusantara, era perjuangan kemerdekaan, serta era pemikiran kebangsaan dari tokoh-tokoh Islam di Indonesia,” kata Wicaksono dalam keterangannya dan dikutip Senin (19/2/2024).

Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ariMuseum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari Foto: (dok. BLU MCB)

Melalui program Resolusi Jihad dan Bulan Gus Dur, MINHA berupaya untuk mengangkat nilai-nilai semangat kebangsaan dalam perspektif toleransi terhadap keberagaman Nusantara.

“Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat terus digali dan diangkat dalam kontribusinya dalam memperkaya khasanah perjalanan dan perkembangan sejarah dan budaya Indonesia,” dia menambahkan.

MINHA telah melakukan penyempurnaan pada ruang pamer dua tokoh besar Islam di Indonesia, yaitu KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Wajah barunya kini sudah bisa dinikmati wisatawan.

“Ruang pamer KH. Hasyim Asy’ari kini menampilkan informasi tentang kiprahnya beserta koleksi asli dan informasi tentang Fatwa Jihad yang relevan dengan sejarah pertempuran 10 November di Surabaya. Sementara ruang pamer Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dibuat sebagai informasi bagi para peziarah untuk mengetahui lebih lanjut sisi humanis dari figur Gus Dur,” ujar Wicaksono.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Tengger Ciut, Lahan yang Terlarang di Cirebon



Cirebon

Selain warganya pantang jualan nasi, desa Slangit di Cirebon masih menyimpan sebuah mitos lain. Ada lahan yang terlarang untuk dimanfaatkan warga. Kenapa?

Di desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon ada banyak mitos yang dipercayai oleh warga setempat. Larangan untuk berjualan nasi bagi warganya adalah salah satunya.

Di desa Slangit, ada satu mitos lagi yang dipercaya oleh masyarakat setempat, yaitu sebuah lahan yang konon tidak boleh digunakan atau dimanfaatkan oleh siapapun.


Warga desa setempat mengenal lahan ‘terlarang’ itu dengan nama Tengger Ciut. Lokasinya berada di antara area persawahan yang ada di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.

Hingga kini, lahan tersebut tidak ada yang memanfaatkan dan hanya dibiarkan begitu saja. Kondisinya hanya dipenuhi oleh rumput maupun tanaman liar.

Adi Sucipto (55), salah seorang warga setempat mengatakan, tengger ciut merupakan sebuah lahan milik pemerintah desa setempat. Lahan tersebut memiliki luas sekitar 2,4 Hektare.

“Tanahnya (lahan tengger ciut statusnya) punya desa. Luasnya kurang lebih 2,4 Hektare,” kata Adi di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, belum lama ini.

Sepintas, tidak ada yang aneh dari lahan tersebut. Namun, tidak ada padi ataupun sayuran yang ditanam di lahan tersebut. Padahal, di sekitarnya banyak lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk menanam padi maupun sayuran-sayuran.

Adi yang pernah menjabat sebagai perangkat Desa Slangit itu mengatakan, lahan tersebut sebenarnya sempat beberapa kali digunakan untuk berbagai keperluan. Seperti digunakan untuk membangun rumah, dipakai sebagai lapangan olahraga, hingga dimanfaatkan untuk mendirikan kandang ternak milik warga.

Namun, penggunaan lahan tersebut selalu tidak berlangsung lama. Berbagai keanehan selalu muncul ketika lahan tersebut mulai digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat.

Tengger Ciut di Desa Slangit Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.Tengger Ciut di Desa Slangit Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ony Syahroni/detikJabar

Seperti contohnya ketika lahan tersebut digunakan untuk membangun rumah. Saat menempati rumah yang dibangun di atas lahan tersebut, para penghuninya pun selalu mengalami kejadian-kejadian aneh.

“Sekitar tahun 1970-an di lahan itu pernah dibangun rumah khusus untuk orang tidak mampu. Tapi apa yang terjadi. Selama menempati rumah itu banyak gangguan-gangguan gaib. Akhirnya mereka ngga kuat,” kata Adi.

Pernah Jadi Lapangan Bola, Banyak yang Cedera

Selain itu, berbagai kejadian juga kerap muncul ketika lahan tersebut dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai lapangan sepak bola. Selama digunakan, tidak jarang ada pemain yang mengalami cedera maupun luka.

“Lahan itu pernah dicoba juga digunakan untuk lapangan sepak bola. Dan sama, banyak kejadian juga. Sering ada yang keseleo dan patah tulang. Akhirnya tidak digunakan lagi,” kata Adi.

Pernah Juga untuk Kandang Kerbau

Selanjutnya beragam peristiwa di luar nalar pun sering terjadi ketika lahan yang dikenal dengan nama Tengger Ciut itu digunakan untuk mendirikan kandang peternakan kerbau milik warga.

“Di Desa Slangit itu dulu ada peternak kerbau. Kalau jaman dulu kan sebelum ada traktor, membajak sawah itu masih pakai kerbau. Jadi dulu di Desa Slangit itu banyak peternak kerbau. Dan waktu itu oleh desa difasilitasi (lahan),” kata dia.

“Jadi (pemerintah) desa mempersilakan para peternak kerbau (menggunakan lahan). Gratis. Di lahan itu juga, namanya Tengger Ciut,” ucap Adi menambahkan.

Setelah digunakan untuk mendirikan kandang peternakan kerbau, berbagai kejadian aneh pun sering terjadi. Para peternak kerap mendapati kerbau milik mereka yang keguguran.

“Kalau bahasa sini sih kerbaunya itu runtuh. Kalau bahasa Indonesianya itu kerbaunya keguruan. Pokoknya banyak kejadian-kejadian tidak normal,” kata dia.

Akibat banyaknya kejadian-kejadian aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan logika di Tengger Ciut, hingga kini tidak ada yang memanfaatkan lahan tersebut. Saat ini, lahan itu hanya dibiarkan begitu saja.

Kondisinya pun terlihat banyak ditumbuhi oleh rumput maupun berbagai tanaman liar lainnya. Warga desa hanya menggunakan lahan tersebut sebagai tempat menggembala hewan ternak maupun mengambil rumput.

“Sekarang (Tengger Ciut) paling dimanfaatkan buat gembala (hewan ternak) atau buat ngambil rumput aja. Kalau itu nggak apa-apa,” kata Adi.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Peninsula Island, Destinasi Wisata Low Budget untuk Berburu Spot Foto Estetik



Badung

Ingin berburu spot foto estetik di Bali? Peninsula Island menjadi destinasi yang tak boleh dilewatkan. Pulau kecil di wilayah ITDC, Nusa Dua ini memiliki pemandangan yang indah dan cantik.

Traveler pasti sudah tak asing dengan wilayah Nusa Dua, Bali. Kawasan yang terkenal elit ini ternyata memiliki pulau kecil bernama Peninsula Island. Peninsula Island merupakan sebuah pulau yang berlokasi di kawasan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, Bali.

Peninsula Island memiliki luas sekitar 7,4 hektar yang didominasi dengan karang, tanaman bunga, dan pepohonan. Meskipun berada di kawasan ITDC, Peninsula Island tetap terbuka untuk umum, loh.

Peninsula Island buka setiap hari mulai pukul 06.00-22.00 WITA. Berlibur ke Peninsula Island nggak akan bikin kantong bolong. Traveler yang berkunjung ke pulau ini tidak dikenakan biaya tiket masuk, alias gratis. Hanya perlu membayar biaya parkir dengan harga Rp 5.000 (Tergantung jenis kendaraan).

Penasaran dengan daya tarik dan aktivitas menarik di Peninsula Island? Yuk simak pembahasan dari detikTravel.

Daya Tarik Peninsula Island

Pulau yang satu ini memiliki banyak daya tarik. Terutama untuk traveler yang mencari spot foto estetik dan instagramable.

1. Taman Bunga Kembang Kertas

Favorit wisatawan yang berkunjung ke Peninsula Island adalah taman bunga kembang kertas yang berwarna ungu. Taman ini biasanya ramai dikunjungi oleh wisatawan, terutama ketika musim mekar tiba.

Banyak wisatawan yang berkunjung ke Peninsula Island hanya untuk berfoto dengan latar belakang tanaman bunga ini.


2. Spot Sunset

Traveler yang ingin berburu sunset di Pulau Dewata. Peninsula Island menjadi salah satu opsi yang sip untuk menikmati sunset di sore hari. Pulau ini memiliki spot sunset yang epik, lengkap dengan debur ombak dan pemandangan taman yang indah.

3. Jogging Track dan Lapangan

Baru menginjakkan kaki di Peninsula Island, traveler akan disambut dengan hamparan rumput hijau yang luas dengan tugu Patung Arjuna dan Krisna. Lapangan hijau ini sering dimanfaatkan sebagai lokasi piknik atau hanya sekedar bersantai bersama keluarga.

Lapangan ini dikelilingi oleh jogging track. Pagi dan sore hari menjadi waktu favorit pengunjung untuk berolahraga di lapangan ini.

Aktivitas Menarik di Peninsula Island

Berbagai kegiatan rekreasi dapat traveler lakukan di Peninsula Island. Berikut rekomendasi aktivitas dari detikTravel.

1. Piknik

Peninsula Island memiliki lapangan rumput hijau yang luas. Sip banget untuk traveler yang ingin piknik di sini. Traveler juga bisa mengajak anak-anak untuk bermain di lapangan ini. Jangan lupa membawa makanan, minuman, dan tikar alas duduk ya!

2. Jogging

Di pinggir lapangan terdapat jogging track yang bisa traveler gunakan untuk jogging. Pemandangan yang disajikan saat jogging pun tak main-main. Traveler bisa melihat pepohonan dan ditemani dengan suara ombak.

3. Berburu Spot Foto

Berbicara soal spot foto, di Peninsula Island traveler tak akan kehabisan spot foto yang estetik dan instagramable. Ada patung Arjuna dan Krisna di lapangan dan taman bunga kembang kertas yang sering menjadi spot favorit wisatawan.

4. Menikmati Sunset

Aktivitas terakhir yang tak boleh traveler lewatkan adalah menikmati keindahan sunset Bali di Peninsula Island. Di sini terdapat beberapa tempat duduk untuk menikmati sunset. Traveler juga bisa menikmati sunset dari tepi pantai.

Demikian ulasan mengenai Peninsula Island. Tiket masuk gratis, banyak spot foto, dan spot nyunset pula. Jangan lewatkan berkunjung ke Peninsula Island ya traveler!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Gunung Paling Angker di Jawa Timur yang Terkenal dengan Cerita Mistisnya


Jakarta

Ada banyak gunung yang berdiri kokoh di Jawa Timur. Beberapa di antaranya menjadi gunung favorit bagi para pendaki. Di sisi lain, sejumlah gunung itu dikenal angker dengan berbagai kisah mistis yang disimpannya.

Cerita-cerita mistis sebagian dialami oleh orang yang mendaki gunung tersebut. Ada juga mitos dan legenda yang beredar serta diyakini masyarakat sekitar gunung-gunung itu.

Lantas, ada gunung apa saja yang terkenal angker di Jawa Timur?


7 Gunung Paling Angker di Jawa Timur

Berikut sejumlah gunung di Jawa Timur yang terkenal dengan cerita mistisnya.

Gunung Arjuno pascaterbakar yang pendakiannya masih ditutup hingga pergantian tahun.Foto: Muhajir Arifin/detikJatim)

1. Gunung Arjuno

Gunung Arjuno merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Timur. Puncaknya yang disebut Puncak Ogal Agil berada di ketinggian 3.399 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Secara administratif, Gunung Arjuno terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Gunung ini menjadi langganan pendakian dengan tiga jalurnya, yakni Lawang, Tretes, dan Batu.

Sepanjang jalur pendakian, kamu akan menemukan berbagai peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singasari. Dari mitos yang beredar, petilasan tersebut dijaga penunggunya yang dikenal dengan Bambang Wisanggeni.

Petilasan itu juga jadi spot orang-orang yang bertapa. Konon, mereka yang melakukan tapa di sana bisa menghilang.

Tak jarang, para pendaki di Gunung Arjuno pernah mengalami hal mistis. Menurut salah satu cerita, saat terdengar alunan gamelan dan suara ramai-ramai berarti tandanya kamu memasuki Pasar Setan.

Dikenal juga kawasan Alas Lali Jiwo di gunung ini. Kabarnya, lokasi tersebut merupakan sarang makhluk halus dan jin. Pendaki yang memiliki niat jahat bisa di tersesat jika berada di sana.

Kawah Gunung KeludFoto: Fariz Ilham Rosyidi/d’traveler

2. Gunung Kelud

Gunung Kelud termasuk gunung api aktif yang ada di Jawa Timur. Lokasi tepatnya masuk ke Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang.

Menurut mitos, jika ada orang yang melihat manusia berkepala kerbau maka jadi tanda bahwa gunung ini akan meletus. Konon, makhluk tersebut adalah Lembusura.

Berdasarkan legenda juga, keris milik Mpu Gandring dikubur di dalam Gunung Kelud. Keris itu diyakini mempunyai kekuatan magis yang mampu mempengaruhi orang untuk berbuat kejahatan.

3. Gunung Kawi

Gunung Kawi berada di Kabupaten Malang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar. Gunung ini terkenal sebagai tempat untuk mencari pesugihan.

Misteri Gunung Kawi dikaitkan dengan makam yang disakralkan di sana. Kabarnya, itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi tokoh yang mempunyai kekuatan magis.

Di sekitar makam tumbuh pohon dewandaru yang diyakini keramat. Berdasarkan catatan detikJatim, apabila orang yang bertapa di bawah pohon itu kejatuhan buah, daun atau benda lain lalu dibawa pula maka ia akan menjadi kaya raya. Karena itu, lokasi pohon ini berada kerap menjadi tempat ritual pesugihan.

Sejumlah aktivits pengunjung wisata saat liburan Nataru di Gunung Bromo, Selasa (26/12/2023).Foto: M Rofiq

4. Gunung Bromo

Gunung Bromo juga termasuk gunung berapi aktif di wilayah timur Pulau Jawa itu. Gunung ini secara administratif terletak di empat kabupaten; Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.

Konon, ada pasir hisap yang mampu menenggelamkan siapapun dan apapun ke dalamnya di sekitar gunung ini. Lokasi pasir hisap ini kabarnya hanya diketahui oleh para sesepuh suku Tengger.

Selain itu, keberadaan kerajaan gaib yang dipercaya sebagai kediaman dewa-dewa ajaran Hindu diyakini ada di Gunung Bromo ini.

5. Gunung Raung

Gunung Raung adalah gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur. Dengan ketinggian 3.344 mdpl, gunung ini memiliki empat puncak: Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan Puncak Sejati.

Saat mendaki Gunung Raung, kamu akan menemukan banyak pos peristirahatan untuk bermalam sejenak. Kisah mistis menyelimuti sebagian pondokan tersebut.

Menurut arsip detikJatim, di pondok Demit akan terdengar suara kerumunan orang bak di pasar. Suara itu bisa terdengar pada malam-malam tertentu.

Selain itu, ada juga pos yang dinamakan pondok Mayit. Di sana kabarnya pernah ditemukan mayat yang tinggal kerangka dan tidak bisa dikenali. Mayat itu kemudian di kubur di sekitar pos tersebut.

Mitos lainnya tentang Gunung Raung yakni kerajaan macan putih yang dipimpin oleh Pangeran Tawangulun. Menurut pengakuan pendaki, ada yang pernah melihat kerajaan itu di malam Jumat kliwon.

Pengunjung melihat kawah dari kaldera Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (4/5/2023). TWA Ijen yang telah ditetapkan sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGG) itu ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara saat liburan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/tom.Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

6. Gunung Ijen

Gunung Ijen tergolong pula gunung berapi aktif. Lokasinya ada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso.

Gunung ini dikenal angker dengan adanya black spot di jalur menuju TWA Kawah Ijen Banyuwangi. Kawasan black spot itu rawan kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa.

Suara gamelan juga konon sering terdengar di salah satu black spot bernama Sengkan Saleh atau Sengkan Gandrung. Menurut legenda yang beredar dikutip dari catatan detikcom, dulunya pernah terjadi kecelakan rombongan gandrung di tanjakan Sengkan Gandrung tersebut

7. Gunung Wilis

Gunung Wilis berada di enam perbatasan kabupaten di Jawa Timur, yakni Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, dan Kediri. Ketinggian gunung ini mencapai 2.563 mdpl.

Mitos yang beredar mengenai Gunung Wilis berkaitan dengan keberadaan ular raksasa tak kasat mata, sosok putri Kerajaan Mataram yang memakai pakaian khas, serta lelaki berwajah hitam menyerupai monyet.

Bukan hanya itu, di gunung ini dipercaya terdapat goa gaib yang terletak di bawah puncak gunung bagian barat.

Nah, itu dia sederet gunung paling angker di Jawa Timur yang terkenal dengan berbagai cerita mistisnya. Kalau kamu, berani nggak mendaki ke gunung-gunung di atas?

(azn/fds)



Sumber : travel.detik.com

Seger Banget! Nyunset di Tepi Sawah Sambil Berenang di Taroo Ubud



Gianyar

Taroo Ubud, restoran cantik yang bernuansa “paddy pool and lounge” bukan sekadar tempat makan. Restoran yang satu ini menawarkan beragam aktivitas, lengkap dengan spot foto dan pemandangan sunsetnya yang cantik.

Resmi dibuka pada 12 Mei 2023, Taroo Ubud bisa sekaligus menjadi tempat traveler bersantai sambil berenang di kolam renang air hangat. Indra, general manager Taroo Ubud, menjelaskan bahwa nama Taroo berasal dari kata “Kalpataru” yang bermakna peneduh bagi semua orang yang berkunjung ke restoran ini.

Taroo Ubud memiliki konsep indoor dan outdoor yang cocok untuk berbagai aktivitas pengunjung.

“Nama Taroo ini berasal dari nama pohon Kalpataru. Dengan mengambil nama Taroo ini kita ingin menjadi peneduh bagi semua pengunjung yang datang. Kita punya dua konsep yaitu indoor dan outdoor. Kalau di indoor biasanya untuk meeting, kalau outdoor cocok untuk berbagai venue event,” kata Indra dalam perbincangan dengan detikTravel.

Taroo Ubud memiliki satu buah stage yang dipercantik dengan tiga patung “Cili” berukuran raksasa. Indra menjelaskan patung ini melambangkan Dewi Sri sebagai Dewi Kemakmuran.

Taroo Ubud, restoran instagramable di Ubud, BaliTaroo Ubud, restoran instagramable di Ubud, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Nggak cuma stage, Taroo Ubud menyediakan fasilitas kolam renang yang berbeda dari restoran lainnya. Di sini traveler bisa berenang di kolam air panas dengan pemandangan hamparan sawah yang hijau.

“Kita punya kolam renang juga dengan konsep yang berbeda, di sini kolam renang kita adalah kolam air hangat. Kita menggunakan natural treatment menggunakan garam, jadi nggak pakai chemical,” ujar Indra.

Jika tak ingin berenang, traveler bisa bersantai di beanbag yang berbatasan langsung dengan sawah. Pemandangan akan semakin indah ketika matahari mulai terbenam. Cantik banget deh!


Aktivitas Seru di Taroo Ubud

Nggak cuma bersantap saja, di restoran ini traveler bisa mendapatkan banyak aktivitas seru. Bean Bag di tepi sawah cocok untuk traveler yang ingin ngechill dan bersantai sambil menunggu matahari terbenam. Jika datang bersama keluarga traveler bisa berendam dan berenang di kolam renang air hangat.

Untuk mencoba berenang di sini traveler bisa mencoba pool package, sudah lengkap dengan makanan, minuman, dan towels. Harga pool package mulai dari Rp 300 ribu untuk 4 orang, Rp 400 ribu untuk 4 orang, dan Rp 1 juta untuk 6 orang.

Jika traveler tak mau mengambil pool package namun ingin tetap berenang, traveler bisa membayar biaya towel sebesar Rp 50 ribu untuk dewasa dan Rp 25 ribu untuk anak-anak.

Taroo Ubud juga menyediakan aktivitas hiburan, salah satunya adalah free class salsa dance. Free class salsa diadakan setiap hari Minggu mulai pukul 17.00 hingga 20.00 WITA. Jadi traveler bisa langsung belajar salsa dengan dua instruktur.

Setiap hari Jumat traveler bisa menyaksikan fire dance selama 15 menit. Untuk hari Sabtu Taroo Ubud punya DJ dan karaoke. Taroo Ubud juga terbuka untuk traveler yang ingin mengadakan meeting, gathering, dan wedding vanue. Traveler juga bisa mengadakan romantic dinner di tepi sawah, hanya di Taroo Ubud.

Fasilitas

Tak hanya viewnya yang juara, Taroo Ubud juga menyediakan berbagai fasilitas untuk pengunjung yang datang. Fasilitas yang ada seperti tempat parkir yang luas, kolam renang air hangat, stage, shower, toilet, dan ruang ganti. Semua fasilitas yang disediakan tentu mendukung traveler untuk berenang di paddy pool.

Varian Menu Taroo Ubud dan Harganya

Kurang lengkap rasanya jika berkunjung ke Taroo Ubud namun tidak mencoba menu andalan dari restoran yang satu ini. Taroo Ubud hadir dengan berbagai menu, baik menu nusantara maupun western.

Indra menyebut menu makanan andalan dari Taroo Ubud adalah Nasi Goreng Jadul dan Sate Maranggi. Nasi goreng jadul disajikan lengkap dengan sambal ebi yang menambah kenikmatan dari menu yang satu ini.

Taroo Ubud, restoran instagramable di Ubud, BaliTaroo Ubud, restoran instagramable di Ubud, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

“Kebetulan disini saya pesan menu Nasi Goreng Jadul. Pas nyobain rasanya emang beda sih, sambal ebinya enak banget, apalagi di makan dengan view sawah dan sunset. Nikmat deh,” ujar Gusti, salah satu pengunjung Taroo Ubud.

Kalau dari segi minuman, Taroo Ubud punya menu andalan bernama Taroo Breeze dan Frozen Melon Daiquiri. Rasa manis dari buah-buahan berpadu dengan kesegaran dari soda, cocok banget untuk ngechill di tepi sawah.

Harga menu di Taroo Ubud dibanderol dengan harga yang beragam dan tentu ramah di kantong. Untuk menu makanan dan minuman dibanderol mulai harga Rp 40 ribu hingga Rp 150 ribu.

Lokasi dan Jam Operasional Taroo Ubud

Taroo Ubud berlokasi di Jalan Rapuan, MAS, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Untuk sampai ke Taroo Ubud traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh sekitar 45 menit atau 19 kilometer.

Taroo Ubud buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 23.00 WITA. “Kita fleksibel kalau ada yang reservasi atau buat kegiatan sampai malam, asal diinformasikan sejak awal agar kami bisa persiapkan,” ujar Indra.

Tak perlu takut kehabisan tempat, traveler bisa melakukan reservasi terlebih dahulu melalui akun instagram @tarooubud. Jika melakukan reservasi dalam jumlah besar, traveler bisa melakukan reservasi H-1 kegiatan. Taroo Ubud memiliki kapasitas 165 orang dan setiap harinya bisa dikunjungi sekitar 250 pengunjung.

Mau ngechill di tepi sawah sambil berenang di air hangat. Semuanya ada di Taroo Ubud. Lengkap dengan menu yang nikmat. Jangan lupa mengabadikan momen di setiap spot foto yang instagramable ya!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

3 Mitos Menyeramkan Gunung Bawakaraeng, Pendaki Wajib Tahu!



Gowa

Gunung Bawakaraeng di Gowa ternyata diselimuti oleh mitos yang menyeramkan. Bagi para pendaki yang ingin ‘menaklukkan’ gunung ini, wajib tahu mitosnya ya!

Gunung Bawakaraeng merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki di Gowa, Sulawesi Selatan. Terletak di Kecamatan Tinggimoncong, gunung ini tersusun dari batuan vulkanik yang terbentuk dari pendinginan magma ketika berbentuk lava di permukaan bumi.

Memiliki ketinggian 2.840 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung ini menyimpan sejumlah mitos yang melegenda dan dipercayai oleh masyarakat setempat, serta para pendaki.


Apa saja mitos-mitos tersebut? Simak ya!

1. Hantu Noni yang Kerap Memperlihatkan Diri di Pos 3

Dilansir dari Jurnal Universitas Hasanuddin, Gunung Bawakaraeng menyimpan legenda hantu yang sering disebut dengan nama hantu Noni.

Masyarakat setempat mempercayai Noni adalah sebuah panggilan bagi seorang wanita berparas cantik yang mirip wanita Belanda.

Terdapat beberapa versi cerita soal hantu Noni. Menurut kisahnya, Noni merupakan seorang wanita yang meninggal karena gantung diri di salah satu pohon yang terletak di pos tiga pendakian gunung Bawakaraeng.

Cerita yang paling umum di masyarakat, Noni dikisahkan merupakan seorang pendaki wanita yang rutin mendaki bersama kekasihnya sekitar tahun 1980-an. Noni kemudian diduga mengakhiri hidupnya lantaran sakit hati kepada sang kekasih di sebuah pohon yang masih berdiri kokoh di pos 3.

Cerita hantu Noni yang melegenda bermula saat masyarakat melihat Noni turun dari gunung seorang diri dengan wajah yang pucat dan sesekali melotot walau terdiam.

Hal tersebut kemudian membuat warga heran, karena Noni dikenal sebagai sosok yang periang dan ramah. Beberapa hari kemudian, warga yang sedang mencari kayu di dalam hutan menemukan Noni tewas tergantung di dahan besar pohon di pos tiga.

Warga akhirnya mengetahui, sosok yang mereka temui merupakan arwah Noni yang bergentayangan. Kisah Noni yang bergentayangan di pos 3 terus menjadi cerita turun temurun yang terus terdengar di kalangan pendaki.

Sejumlah pendaki mengaku pernah melihat langsung hantu Noni. Mitos keramat soal hantu Noni kemudian terus berkembang di kalangan masyarakat dan juga para pendaki.

2. Pasar Setan Anjaya

Cerita mistis yang populer di kalangan pendaki gunung Bawakaraeng adalah pasar setan yang bernama Pasar Anjaya. Masyarakat setempat menyebut Pasar Anjaya adalah pasar hantu atau tempat berkumpulnya jin.

Cerita mistis ini berlokasi di sebuah tanah lapang yang terletak di antara Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang. Ketika diamati, lokasi tempat pasar hantu tersebut memang terlihat berbeda.

Hal ini lantaran tempat tersebut dikelilingi pepohonan, namun ada titik menunjukkan tidak satupun pohon yang tumbuh. Konon para pendaki disarankan untuk tidak mendirikan tenda di lokasi Pasar Anjaya.

Apabila pendaki nekat mendirikan tenda di Pasar Anjaya, maka mereka akan mendengar suara keramaian pasar hingga cerita aneh yang tidak bisa dijelaskan akal sehat.

3. Ritual Naik Haji di Gunung Bawakaraeng

Melansir dari Jurnal Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, ritual ibadah haji Bawakaraeng merupakan sebuah ritual yang dipercayai oleh sebagian masyarakat Desa Lembanna.

Masyarakat yang mempercayai ritual tersebut biasanya melaksanakannya dengan cara mendaki gunung Bawakaraeng pada saat hari raya Idul Adha.

Pelaksanaannya pun tak berbeda dengan ibadah Haji yang terdapat tawaf, sa’i hingga wukuf. Namun, masyarakat yang melaksanakan ibadah tersebut berpandangan, bahwa mereka naik ke puncak Gunung Bawakaraeng dalam niat melakukan ritual Haji yang sama seperti di Tanah Suci Mekkah.

Warga yang melaksanakan ritual tersebut membawa beberapa sesajen seperti gula merah, kelapa, daun sirih dan juga pinang. Mereka juga turut melepas hewan ternak seperti ayam dan kambing.

Istilah Haji Bawakaraeng kemudian heboh di kalangan masyarakat. Pada tahun 80-an, terjadi tragedi di puncak Gunung Bawakaraeng dimana tragedi itu telah memakan banyak korban jiwa.

Masyarakat pun menilai ritual tersebut sebagai aktivitas melenceng dari syariat Islam. Para pelaku yang sering melaksanakan ritual tersebut sering disebut Haji Bawakaraeng. Namun, mereka merasa sangat dirugikan dengan adanya penamaan label Haji Bawakaraeng.

Tidak hanya itu, masyarakat sekitar Gunung Bawakaraeng dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada Haji Bawakaraeng. Masyarakat percaya, bahwa haji seharusnya dilaksanakan di Mekkah, bukan di puncak Gunung Bawakaraeng.

Selain itu, ada juga masyarakat yang mempersepsikan Gunung Bawakaraeng sebagai tempat sakral, suci dan yang indah bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan spiritual.

Pemerintah setempat mengatakan dengan bijak bahwa ritual tersebut merupakan sebuah kesalahpahaman yang terlanjur mengakar ke masyarakat, karena belum ada yang mampu membuktikan adanya ritual haji di Gunung Bawakaraeng.

——-

Artikel ini telah naik di detikSulsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ubud Water Palace Juara Spot Foto Instagramable di Tengah Kolam Teratai



Ubud – Mau berlibur ke Ubud? Wajib berkunjung ke Ubud Water Palace. Ada spot foto cantik nan instagramable di tengah kolam teratai. Sip dan estetik banget deh!

Ubud menjadi salah satu destinasi liburan yang tak pernah sepi dari wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Daerah yang satu ini menyajikan keindahan alam dan seni budaya Bali yang masih kental.

Jika berlibur ke Ubud, traveler tak akan kehabisan destinasi wisata cantik dan kental akan unsur budaya Bali. Satu tempat yang sip untuk traveler pecinta foto adalah Ubud Water Palace atau Pura Taman Kemuda Saraswati.

Pura Taman Kemuda Saraswati dalam bahasa Bali berarti “pura dengan sumber air suci”. Pura ini didedikasikan untuk Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan. Tjokorda Gde Ngoerah adalah sosok pendiri Ubud Water Palace atau Pura Taman Kemuda Saraswati.

Ubud Water Palace menawarkan suasana yang menenangkan. Yang tak boleh dilewatkan adalah spot foto cantik yang dikelilingi oleh kolam dengan bunga Teratai yang menawan.

Daya tarik utama dari Ubud Water Palace adalah keindahan arsitektur bangunan Bali yang kental. Dipercantik dengan ukiran kayu dan batu bata merah. Bangunan pura yang khas menjadikan tempat yang satu ini semakin estetik. Nuansa artistik berpadu dengan aura spiritual yang kental, membuat pura ini jadi spot favorit wisatawan.

Ubud Water PalaceUbud Water Palace 9Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Setiap harinya Ubud Water Palace bisa dikunjungi sekitar 200 hingga 300 wisatawan. Untuk masuk ke Ubud Water Palace traveler akan dikenakan biaya tiket. Wisatawan asing dikenakan biaya tiket sebesar Rp 50 ribu untuk dewasa dan Rp 35 untuk anak-anak. Wisatawan lokal dikenakan biaya tiket sebesar Rp 25 ribu untuk dewasa dan Rp 15 ribu untuk anak-anak.

Dengan membayar tiket masuk traveler sudah mendapatkan beberapa fasilitas, seperti sarung, kimono, dan ikat kepala yang wajib digunakan. “Untuk pengunjung yang sudah membayar tiket masuk akan mendapatkan fasilitas sarung, kimono, dan ikat kepala. Pengunjung bisa berkeliling di dalem sepuasnya,” ujar Jero, penjaga tiket Ubud Water Palace.

Saat traveler memasuki kawasan pura, akan disambut dengan kolam Teratai yang cantik di sisi kanan dan kiri jalan. Pancuran air akan mengiringi langkah traveler memasuki area pura. Ubud Water Palace memiliki 3 spot foto.

Favorit pengunjung adalah spot foto di panggung utama. Tersedia dua kursi dengan hiasan ukiran khas Bali bak raja dan ratu. Pengunjung diperbolehkan duduk dan mengambil foto di kursi ini. Tentu dengan latar belakang gapura (candi bentar) khas Bali.

Di sisi kanan dan kiri panggung utama, traveler juga bisa menemukan spot foto yang sama, lengkap dengan kursi kayu berukiran khas Bali. Pancuran air memperindah spot foto traveler di Ubud Water Palace.

Pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke dalam pura, karena hanya diperuntukan bagi umat Hindu untuk beribadah.

Memiliki letak yang strategis, Ubud Water Palace atau Pura Taman Kemuda Saraswati berlokasi di Jalan Kajeng, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Aksesnya pun mudan dijangkau karena dekat dengan Puri Ubud dan Pasar Seni Ubud. Ubud Water Palace buka setiap hari mulai pukul 09.00 – 17.30 WITA.

Demikian penjelasan mengenai Ubud Water Palace. Jadi, tertarik untuk berkunjung ke sana? Siapkan kamera dan pose terbaikmu!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ada Kampoeng Prabowo di Toraja Utara



Toraja

Warga di Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel) mengubah nama wilayahnya menjadi Kampoeng Prabowo. Seperti apa kisahnya?

detikSulsel mengunjungi Kampoeng Prabowo di Siguntu, Desa Nonongan, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Toraja Utara, Kamis (22/2/2024). Kampoeng Prabowo hanya berjarak kurang lebih 8 km dari Kota Rantepao. Kampung tersebut berada di atas bukit kecil dan untuk menjangkaunya bisa menggunakan motor dan mobil.

Kampung Prabowo terbilang asri, udaranya sejuk dan segar. Pengunjung bakal disambut deretan rumah adat Toraja atau biasa disebut Tongkonan bernama Tongkonan Siguntu. Diperkirakan rumah itu berumur lebih dari 50 tahun. Nah, salah satu Tongkonan di sana merupakan milik Prabowo Subianto.


Salah seorang keluarga Tongkonan Siguntu Avip Tallulembang mengatakan Tongkonan itu saksi sejarah diangkatnya Prabowo Subianto sebagai anggota keluarga dari Tongkonan Siguntu pada Desember 2011 lalu. Sehingga, kata dia, Tongkonan itu secara tidak langsung milik Prabowo Subianto.

“Di Tongkonan Siguntu inilah tempat Pak Prabowo diangkat menjadi anak dari orang tua kami yakni Johanes Palayuk Tallulembang dan Agnes Datu Sarungallo, ya jadi memang Tongkonan ini secara tidak langsung milik pak Prabowo juga karena sudah menjadi bagian keluarga kami,” kata Avip.

Avip menceritakan pada Desember 2011, Prabowo Subianto menghadiri upacara Rambu Solo atau pesta kematian ibu mertua mantan Ketua Gerindra Sulsel Andi Rudiyanto Asapa yakni Agnes Datu Sarungallo. Di sanalah Prabowo diberi gelar adat Taruk Langi’ dan diangkat menjadi salah satu keluarga rumpun keluarga Tongkonan Siguntu.

Nama Taruk Langi’ untuk Prabowo bermakna tunas dari langit. Nama itu diambil dari salah satu nama nenek buyut dari rumpun keluarga Tongkonan Siguntu.

“Jadi pada ceritanya begini, sebelum upacara Rambu Solo atau upacara kematian mama kami Agnes Datu Sarungallo, Pak Prabowo mengonfirmasi mau hadir, karena kebetulan kakak saya dr Filicitas Tallulembang atau istri dari Andi Rudiyanti Asapa lumayan dekat dengan Pak Prabowo,’ kata dia.

“Nah, setelah kami dengar beliau mau hadir, langsung usulkan dengan keluarga besar untuk menjadikan Prabowo sebagai keluarga kami. Dipilih lah nama Taruk Langi’ untuk pak Prabowo, maknanya tunas dari langit, itu adalah nama nenek moyang kami,” dia menambahkan.

Avip menyebut nama Taruk Langi’ diberikan kepada Prabowo Subianto sesuai dengan karakter Ketua Umum Partai Gerindra itu. Menurutnya, pribadi Prabowo sebagai prajurit dan ksatria, sehingga dinilai sebagai manusia yang unggul atas pemberian Tuhan.

“Nama Taruk Langi’ untuk pak Prabowo sangat cocok menggambarkan karakter beliau sebagai salah satu prajurit terbaik Indonesia. Tunas dari langit artinya seseorang yang unggul dari langit yang diturunkan Tuhan,” kata dia.

Avip menambahkan pihak keluarga menjadikan Tongkonan Siguntu sebagai kampung Prabowo sebagai tanda terima kasih yang telah bersedia menjadi salah satu keluarga Tongkonan Siguntu. Dia pun sangat yakin Prabowo tidak akan melupakan kampung halamannya sendiri di Toraja Utara.

“Ini sebagai apresiasi dan rasa terima kasih kami kepada pak Prabowo, karena waktu itu sudah bersedia menjadi keluarga kami. Kami yakin pak Prabowo tidak akan lupa kampung halamannya di sini, semoga beliau bisa menyempatkan diri untuk berkunjung jika sudah terpilih jadi Presiden nanti,” kata dia.

***

Artikel ini sudah lebih dulu tayang di detikSulsel. Selengkapnya klik di sini.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Ubud Water Palace hingga Punya Air Suci dengan Taman Teratai



ubud – Pura Taman Kemuda Saraswati atau Ubud Water Palace atau istana Air Ubud dibangun dengan perencanaan matang. Taman teratai tidak muncul begitu saja.

Ubud Water palace merupakan pura, tempat ibadah bagi umat Hindu Bali di Ubud dengan nama lain Pura Taman Kemuda Saraswati. Pura itu didedikasikan untuk Dewi Saraswati yang merupakan dewi pembelajaran, sastra dan seni Hindu. Pura Taman Kemuda Saraswati dalam bahasa Bali berarti “pura dengan sumber air suci”.

Pura Taman Kemuda Saraswati adalah pura yang istimewa karena arsitekturnya yang khas lengkap dengan kolam teratai yang menjadi daya tarik utama. Nuansa artistik berpadu dengan aura spiritual yang kental, membuat pura ini jadi spot favorit wisatawan.

Tak hanya estetik, ternyata di balik keindahan Pura Taman Kemuda Saraswati terdapat kisah sejarah yang mengiringi pura itu.

Cikal bakal pembuatan pura itu diperkirakan sekitar tahun 1946, sedangkan pembangunan Pura Taman Kemuda Saraswati diperkirakan dimulai pada tahun 1951 dan selesai pada tahun 1952. Pada tahun 1951, dilangsungkan upacara “Maligia”, dilanjutkan dengan upacara “Pamungkah” tahun 1953, dan upacara “Piodalan” tahun 1960.

Tjokorda Gde Ngoerah adalah sosok pendiri atau founder dari Pura Taman Kemuda Saraswati. Lahir di Puri Saren Kauh Ubud pada tahun 1856 dan wafat pada tahun 1967. Segala detail terkait Pura Taman Kemuda Saraswati, telah dituangkan dalam karya sastranya yang berjudul “Kakawin Rajendra Prasad”.

Dalam mendirikan Pura Taman Kemuda Saraswati, Tjokorda Gde Ngoerah dibantu oleh I Gusti Nyoman Lempad dalam perancangan arsitektur pura. Dalam penciptaan arsitektur pura ini, Nyoman Lempad memadukan keindahan arsitektur dengan budaya dan spiritual yang mendalam.

Keindahan Pura Taman Kemuda Saraswati memikat sejumlah pemimpin negara, di antaranya presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno, juga presiden pertama India, Rajendra Prasad.

Traveler yang berkunjung ke Pura Taman Kemuda Saraswati atau Ubud Water Palace akan disambut dengan candi bentar yang merupakan gerbang masuk ke areal pura. Masuk lebih ke dalam lagi, traveler akan menemukan Bale Patok yang konon dipergunakan sebagai tempat untuk melipur lara.

Setelah memasuki dan melewati bangunan Bale Patok, dapat dilihat keindahan Pura Taman Kemuda Saraswati, dimana di tengah telaga nya ada jembatan yang merupakan jalan menuju ke dalam pura.

Di sekeliling jembatan penghubung yang menuju ke Pura Taman Kemuda Saraswati, dapat traveler temui beberapa pancuran air dan bunga Teratai yang indah.

Spot utama dan yang paling favorit dari Ubud Water Palace ini adakah Kori Agung. Terdapat tiga Kori Agung yang merupakan pintu masuk utama ke dalam pura. Kemegahan Kori Agung terlihat dari berbagai ukiran yang begitu indah dan detail.

Traveler yang ingin berfoto di Kori Agung sudah disediakan dua kursi kayu lengkap dengan ukiran khas Bali berwarna emas.

Di balik arsitektur khas Bali yang kental, ternyata ada cerita menarik dari Pura Taman Kemuda Saraswati atau Ubud Water Palace. Bagi traveler yang ingin mencoba destinasi bersejarah dengan arsitektur dan spot instagramable, Pura Taman Kemuda Saraswati adalah pilihan yang sip.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com